PERGULATAN MANUSIA MENCARI TUHAN

dokumen-dokumen yang mirip
Modul 3 OBYEK DAN METODE PENELITIAN PSIKOLOGI AGAMA

C. TOPIK :TEORI SOSIAL TENTANG AGAMA

MANUSIA DAN AGAMA KOMPETENSI DASAR

RELIGI. Oleh : Firdaus

AGAMA: FENOMENA UNIVERSAL

BAB II TELAAH TEORITIS ANIMISME DALAM MASYARAKAT. Nusak Dengka, dan makna perayaan Limbe dalam masyarakat tersebut.

Ota Rabu Malam. Musik Ritual. Disusun oleh Hanefi

I.PENDAHULUAN. kebiasaan-kebiasaan tersebut adalah berupa folklor yang hidup dalam masyarakat.

Teori Evolusi Kebudayaan

D I A N K U R N I A A N G G R E T A, S. S O S, M. S I 1

Pendidikan Agama Islam

Konsep Ketuhanan Dalam Islam

BAB I KONSEP KETUHANAN DALAM ISLAM. Tujuan bab : Setelah membaca bab ini anda diharapkan dapat menjelaskan konsep ketuhanan dalam Islam

BAB I PENDAHULUAN. Seorang manusia sebagai bagian dari sebuah komunitas yang. bernama masyarakat, senantiasa terlibat dengan berbagai aktifitas sosial

2. Macam-Macam Norma. a. Norma Kesusilaan

DOSEN PENGASUH DRS. AFRIDA, H.HUM NIP

KONSEP KETUHANAN DALAM ISLAM

dianut oleh sekelompok suku atau sub-suku ataupun gabungan beberapan suku;

KONSEP KETUHANAN DALAM ISLAM

lambang dan Citra citra Rakyat (PERSETIA. 1992), hlm.27 6 Scn 3, hlm

Saifullah, S. Ag., M. Ag NIP

BAB IV PEMBAHASAN DATA PENELITIAN. A. Kepercayaan Masyarakat Terhadap Pohon, Jembatan dan Makam Keramat

Indonesia merupakan masyarakat majemuk dengan beragam etnis, Bahasa dan budaya Suku 300 Etnik Bahasa pulau

BAB III TENTANG EVOLUSI AGAMA MENURUT E.B TYLOR. E.B.Tylor termasuk tokoh yang beraliran klasik. Dia mendapatkan

BAB I PENDAHULUAN. prasejarah. Pada zaman yunani kuno misalnya, sudah mulai mempertanyakan

BAB II TEORI-TEORI TENTANG AGAMA

Gagasan tentang Tuhan yang dibentuk oleh sekelompok manusia pada satu generasi bisa saja menjadi tidak bermakna bagi generasi lain.

BAB I PENDAHULUAN. 1 Lihat sila pertama dalam Dasar Negara Indonesia: Pancasila

Berkenalan dengan Kitab Wahyu DR Wenas Kalangit

Keimanan pada Wujud Ilahi

BAB II AGAMA DALAM PRESPEKTIF FILOSOFIS

BAB 1 PENDAHULUAN. 1.1.Latar belakang Masalah. Kehidupan kelompok masyarakat tidak terlepas dari kebudayaannya sebab kebudayaan ada

BAB II TEORI-TEORI ASAL MULA AGAMA. agama. Agama ada pada dasarnya merupakan aktualisasi dari kepercayaan

Para rasul dan orang-orang Kristen yang mula-mula menganggap kedatangan Kristus kedua kali adalah pengharapan yang penuh bahagia (Tit.

BAB I PENDAHULUAN. Masyarakat Jawa pada umumnya masih melestarikan kepercayaan terhadap

TEORI MUNCULNYA RELIGI (Tinjaun Antropologis terhadap Unsur Kepercayaan dalam Masyarakat)

MANUSIA DAN KETUHANAN

BAB II AGAMA: PENGERTIAN, SEJARAH, KLASIFIKASI

Dr. Munawar Rahmat, M.Pd.

BAB I PENDAHULUAN. Musik dipergunakan untuk memuja dewa-dewi yang mereka percaya sebagai. acara-acara besar dan hiburan untuk kerajaan.

TALIM MADANI #12 IMAN KEPADA ALLAH (PERBEDAAN MALAIKAT DAN MANUSIA)

BAB IV ANALISA DAN REFLEKSI TEOLOGI

BAB I PENDAHULUAN. keberagaman budaya, suku, ras, agama dan lain-lain. Keberagaman yang dimiliki

BAB 2 PENDAHULUAN PENDAHULUAN PENDAHULUAN DEFINISI AGAMA DEFINISI AGAMA. Manusia dan Agama (IDA 102) 1/10/2013. Maruwiah Ahmat 1

Pdt. Gerry CJ Takaria

BAB I PENDAHULUAN. sekali. Selain membawa kemudahan dan kenyamanan hidup umat manusia.

AGAMA dan PERUBAHAN SOSIAL. Oleh : Erna Karim

Khatamul Anbiya (Penutup Para Nabi)

BAB V. Penutup. GKJW Magetan untuk mengungkapkan rasa syukur dan cinta kasih karena Yesus

BAB I PENDAHULUAN. Sebelum masuknya agama-agama besar dunia ke Indonesia, masyarakat

BAB II PENGENALAN TERHADAP TUHAN

BAB II KAJIAN PUSTAKA. tentang nilai religius dalam novel Suluk Abdul Jalil Perjalanan Ruhani Syaikh Siti

Ahli Sejarah menjelaskan agama dalam hubungan kejadian-kejadian yang dihasilkan kepercayaan dari dulu sampai sekarang.

BAB I. Aaditama, 1998), hlm Nasruddin Razak, Dienul Islam, (Bandung: PT. Al-Ma arif, 1989), hlm. 15

PENDIDIKAN KEWARGANEGARAAN

MATERI USBN SEJARAH INDONESIA. 6. Mohammad Ali : Sejarah adalah berbagai bentuk penggambaran tentang pengalaman kolektif di masa lampau

Secara bahasa, kata AGAMA berasal dari bahasa sangsekerta yang berarti TIDAK PERGI, tetap di tempat.

FILSAFAT KETUHANAN (Sebuah Pengantar) Kompetensi Kuliah : Memahami Tuhan Yang Maha Esa dan Ketuhanan (Filsafat Ketuhanan)

BAB V ANALISA DATA. A. Upacara Kematian Agama Hindu Di Pura Krematorium Jala Pralaya

BAB I PENDAHULUAN. Islam adalah agama yang ajaran-ajarannya diwahyukan Tuhan kepada

Kedudukan Tauhid Dalam Kehidupan Seorang Muslim

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang Penelitian

BAB I PENDAHULUAN. Indonesia adalah salah satu negara yang dilihat dari letak geografis

BAB I PENDAHULUAN. berbagai upacara ritual yang bersifat magis, adat istiadat maupun hiburan.

BAB I PENDAHULUAN. masyarakat pesisir pantai barat. Wilayah budaya pantai barat Sumatera, adalah

SOSIOLOGI AGAMA INTERELASI AGAMA DENGAN BUDAYA. Disusun oleh : Arif Setiawan

Modul 7 PERKEMBANGAN JIWA AGAMA PADA USIA DEWASA

Pdt. Gerry CJ Takaria

B. TOPIK PENDEKATAN SOSIOLOGI TERHADAP AGAMA

KALIGRAFI EKSPRESI ARTISTIK PERADABAN ISLAM

Pendidikan Agama Katolik

BAB II TINJAUAN PUSTAKA DAN PENELITIAN YANG RELEVAN

PANCASILA PANCASILA DAN AGAMA. Nurohma, S.IP, M.Si. Modul ke: Fakultas FASILKOM. Program Studi Sistem Informasi.

BAB I PENDAHULUAN. khususnya dalam kehidupan manusia. Pada masa-masa sekarang musik ini telah

I. PENDAHULUAN. agama-agama asli (agama suku) dengan pemisahan negeri, pulau, adat yang

SEKOLAH TINGGI MANAJEMEN INFORMATIKA DAN KOMPUTER AMIKOM YOGYAKARTA

BAB II URAIAN TEORITIS. dengan musik. Gerakan-gerakan itu dapat dinikmati sendiri, pengucapan suatu

BAPA SURGAWI BERFIRMAN KEPADA SAUDARA

BAB I PENDAHULUAN UKDW

KESINAMBUNGAN AGAMA-AGAMA

BAB I PENDAHULUAN. terhadap kehidupan individu dan masyarakat, bahkan terhadap segala gejala alam.

BAB I PENDAHULUAN. masyarakat. Kebudayaan Indonesia sangat beragam. Pengaruh-pengaruh

BAB I PENDAHULUAN. Jangan ada padamu allah lain di hadapan-ku. 1

BAB II KERANGKA TEORI

ALLAH, UNIVERSALITAS, DAN PLURALITAS

Universitas Sumatera Utara

BAB I PENDAHULUAN. Metode keilmuan adalah suatu cara dalam memperoleh pengetahuan yang berupa

BAB I PENDAHULUAN. yang terdapat pada tujuh unsur kebudayaan universal. Salah satu hal yang dialami

BAB V PENUTUP. 1. Konsep Tuhan Dalam Perspektif Agama Islam, Kristen, Dan Hindu. berbilang tidak bergantung pada siapa-siapa melainkan ciptaan-nyalah

INTERAKSI KEBUDAYAAN

E. KOMPETENSI INTI DAN KOMPETENSI DASAR PENDIDIKAN AGAMA BUDDHA DAN BUDI PEKERTI SDLB TUNADAKSA

BAB I PENDAHULUAN. bukan sekedar jumlah penduduk saja, melainkan sebagai suatu system yang

BAB II TINJAUAN PUSTAKA, KONSEP DAN LANDASAN TEORI. beberapa buku, skripsi yang isinya relevan dengan judul penelitian ini.

RESUME. MATA KULIAH STUDI ISLAM BAB I s.d. BAB VI. oleh: Muhammad Zidny Naf an ( / TI 1C)

BAB IV CAWAN DAN SLOKI DALAM PERJAMUAN KUDUS. istilah orang Jawa wong jowo iku nggoning semu artinya orang Jawa itu peka

BAB IV PERBANDINGAN PANDANGAN ANTARA ISLAM DAN KRISTEN TENTANG PELESTARIAN LINGKUNGAN HIDUP

BAB I PENDAHULUAN. yang memiliki lingkungan geografis. Dari lingkungan geografis itulah

KEMERDEKAAN VANG BARU

KONSEP KETUHANAN DALAM ISLAM

Transkripsi:

PERGULATAN MANUSIA MENCARI TUHAN Taslim HM. Yasin Fakultas Ushuluddin IAIN Ar-Raniry Kopelma Darussalam, Kota Banda Aceh, 23111 ABSTRAK Sejauh ini telah banyak para ahli memusatkan perhatiannya kepada asal usul kepercayaan manusia. Dari studi itu muncul dua teori besar. Teori pertama, berpandangan bahwa kepercayaan manusia berawal dari percaya kepada Tuhan banyak dan akhirnya kepada Tuhan satu. Teori kedua berpendapat bahwa kepercayaan manusia yg mula-mula adalah percaya kepada Tuhan Satu (Monotheisme) Kata Kunci: Manusia, Tuhan A. Pendahuluan Para ahli Sejarah Agama beranggapan bahwa agamaagama dunia merupakan gerakan-gerakan yang telah berkembang berdasarkan pada komunitas-komunitas historis. Jadi asumsiasumsi terakhir dari setiap agama sudah barang tentu dipengaruhi oleh keputusan dari komunitas manusia dalam situasi historis dan budaya tertentu. Namun demikian, asumsi dari setiap agama itu harus mengikuti analisis-analisis kritis ilmiah yang telah dibangun

Taslim HM. Yasin oleh para ahli. Kesulitan yang dihadapi adalah asumsi metodologi yang digunakan masih merupakan produk Barat yang seolah-olah kerangka rujukan satu-satunya dan objektif dalam studinya terhadap agama. Bahkan ada ahli yang memperhatikan agama-agama Timur berangkat dengan menggunakan pertanyaan atau pendekatan Barat. Memang penekanan Timur terletak pada penghayatan yang langsung terhadap totalitas atau esensi dari realitas mutlak sangat dipengaruhi oleh masyarakat Timur yang ada. Kenyataan menunjukkan bahwa para ahli Barat dengan keterkaitan mereka denga konseptualisasi, cenderung untuk menginterpretasikan fenomena agama bukan Barat itu dan berusaha untuk menerapkannya terhadap fenomena-fenomena agama di Timur. Adanya perbedaan antara ahli agama Barat dan ahli agama Timur semakin kelihatan, terutama dalam hal penggunaan metodologi dalam studinya terhadap agama-agama. Ada pandangan bahwa para ahli Barat-lah yang pertama-tama menemukan agama-agama Timur sebagai salah satu kajian akademik. Hal ini ditambah lagi banyak sarjana-sarjana dari Timur yang melanjutkan studi atau dilatih di Universitasuniversitas di Barat. 1 Diperlukan ketelitian didalam menghampiri agamaagama, terutama sekali Islam, dalam hal penggunaan metodologi yang masih merupakan produk Barat, seperti yang dikhawatirkan oleh Noeng Muhadjir bahwa sarjana Barat dalam studinya terhadap Islam berangkat dari pendekatan Antropologi. Oleh karena itu diperlukan ketelitian dan kecermatan didalam menerapkan suatu metode, hal ini diperlukan untuk menghindari kesalah-pahaman tentang suatu agama ataupun kepercayaan yang telah dianut dan berkembang dalam masyarakat. B. Perdebatan tentang Asal Usul Agama Menurut Mukti Ali ada beberapa istilah yang berkembang dalam kajian masalah agama. Di Indonesia, dengan menyebut istilah agama sudah cukup dipahami bahwa yang dimaksud ialah agama di Indonesia, yaitu Islam, Kristen Katolik, Kristen Protestan, Hindu, Budha dan Kong Fu Tzu. Istilah religi tidak begitu berkembang di Indonesia, sedang istilah din dan millah 358 SUBSTANTIA, Vol. 11 Nomor 2, Oktober 2009

Pergulatan Manusia Mencari Tuhan dikenal di kalangan umat Islam. Istilah religi, dilihat dari segi akar dan kata religo, berarti mengikat, menjalin. Jadi religi menekankan segi adanya ikatan dengan Yang Maha Kuasa, sementara agama menekankan segi adanya pengaturan atau ajaran yang datang dari Yang Maha Kuasa. Adapun din, yang berarti keyakinan dan keimanan, kadang-kadang senada dengan dana yang berarti mengikat. Kata millah lebih menunjukan kepada religious community, sekalipun juga mempunyai pengertian religion, creed, faith, confession, denomination. Pendapat senada juga dikemukakan oleh Johnson yang menyatakan bahwa defining religion is a difficult task because religion is so complex. Selalu agama merupakan masalah yang komplek, tipe agama juga bermacammacam. Oleh karena itu usaha membuat definisi agama yang mencakup seluruhnya selalu akan mengalami kesulitan. Sekalipun demikian, usaha mendapatkan pengertian dan pemahaman tentang agama secara umum tetap selalu diupayakan. 2 Dari berbagai pengertian yang telah dikemukakan oleh banyak sarjana, jelas sekali bahwa apa yang disebut agama, tidak dapat dilepaskan dari adanya kepercayaan terhadap Tuhan, yang oleh para ilmuan disebut dengan kekuatan yang menguasai alam dan kehidupan manusia. Oleh karena itu, hal yang sangat mendasar dalam membicarakan masalah agama adalah adanya keimanan terhadap Tuhan Yang Maha Kuasa. Unsur utama agama adalah adanya kepercayaan dari keimanan terhadap Tuhan. Kepercayaan terhadap kehidupan sesudah mati, sekalipun esensial dalam agama, kepercayaan terhadap Malaikat, Nabi dan Rasul, Kitab Suci dan lain sebagainya, adalah tindak lanjut dari kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Kuasa. Dengan demikian dapat dikatakan tidak mungkin ada agama tanpa Tuhan, sekalipun dari sudut keilmuan terbukti bahwa manusi mungkin mencari atau menemukan Tuhan tanpa melalui agama. Dari sudut keilmuan setiap agama pasti memiliki: (1) Sistem kepecayaan terhadap Tuhan; (2) Sistem upacara perilaku keagamaan; (3) Sistem aturan yang mengatur tata cara dan perilaku hubungan antara Tuhan dan manusia, antara manusia dengan manusia. Dari segi yang pertama akan terlihat pola agama yang monoteis, polities, pantheis, dan sebagainya. Dari sini timbul kajian tentang pemahaman terhadap sifat-sifat Tuhan dan SUBSTANTIA, Vol. 11 Nomor 2, Oktober 2009-359

Taslim HM. Yasin hubungannya dengan alam dan manusia; kajian tentang buktibukti adanya Tuhan dan usaha pemahaman manusia. Dari aspek kedua, lahir beberapa pemikiran keagamaan, pengalaman perilaku keagamaan, pengalaman dalam rangka ibadah, ketaatan, pengabdian, pengorbanan, zikir dan pikir, dan sebagainya, dan jika dilihat dari aspek yang ketiga akan terdapat kitab suci dan teks-teks keagamaan, fungsi agama, pranata agama, sejarah agama, dan lain sebagainya. Sejak kapan agama muncul dalam kehidupan manusia agaknya masih perlu penegasan. Kajian agama dari aspek Antropologi dengan teori evolusinya, aspek empiriknya, data peninggalan keagamaan, dan muncul berbagai variasi dalam kajian agama yang berusaha menerapkan konsep dan teori ilmiah tertentu terhadap agama, menambah kesulitan kapan agama itu muncul. Berbagai teori Antropologi berpegang pada adanya perkembangan dalam agama, mulai dari agama primitive hingga perkembangan yang terakhir dan sempurna. Ada juga yang merinci bahwa perkembangan dalam agama itu hanya terjadi dalam masalah sistem tata upacara dan sistem aturan saja, sementara sistem kepercayaan tidak mengalami perkembangan sebab sejak semula agama muncul dalam kehidupan manusia dengan pandangan yang monoteis. Pandangan-pandangan lain seperti dinamisme, animisme, henoteisme, katenoteisme dan politeisme, merupakan proses degenerasi dari pandangan monoteisme. Dalam analisis E.B. Tylor bahwa animisme dianggap sebagai asal usul agama. Hal ini dia dasarkan pada hasil penelitiannya bahwa manusia telah percaya kepada jiwa. Mengapa manusia sederhana itu menyadari tentang adanya jiwa atau roh, dikarenakan yang tampak dan dialaminya sebagai berikut: 1. Peristiwa hidup dan mati Bahwa adanya hidup karena adanya gerak dan gerak itu terjadi karena adanya jiwa. Selama jiwa itu ada dalam tubuh maka nampak tubuh itu bergerak, apabila jiwa itu lepas dari tubuh berarti mati dan tubuh tidak bergerak lagi. 360 SUBSTANTIA, Vol. 11 Nomor 2, Oktober 2009

Pergulatan Manusia Mencari Tuhan 2. Peristiwa mimpi Bahwa ketika manusia itu tidur atau pingsan ia mengalami mimpi dimana tubuh itu diam dan masih ada gerak (nafas), tetapi ia tidak sadar karena sebagian dari jiwanya terlepas dan gentayangan ke tempat lain, sehingga jiwa yang terlepas itu bertemu dengan jiwa yang lain, baik jiwa manusia yang masih hidup atau yang sudah mati, mungkin juga dengan jiwa makhluk yang lain. Kemudian setelah jiwa itu kembali ke dalam tubuh maka ia menjadi sadar, ingat dan bergerak kembali. Demikian menurut Tylor manusia yang masih sederhana telah menyadari tentang adanya jiwa, yang bersemayam dalam tubuh yang menyebabkan manusia itu hidup dan ada jiwa yang sudah lepas dari tubuh sudah mati. Apabila tubuh sudah mati, karena tubuh sudah membusuk, tubuh sudah hancur tidak utuh lagi, tubuh sudah di kubur ke dalam tanah, tubuh sudah dibakar menjadi abu, maka jiwanya sudah tidak ada lagi. Jiwa yang sudah lepas dari tubuh itu gentayangan tanpa wujud di alam sekitar, jiwa-jiwa inilah yang dikatakan roh-roh halus atau spirit yang disebut jin atau hantu dan sebagainya. Roh-roh halus itu terdapat pada kayu-kayu besar, di sungai-sungai, di lautan, dihutan rimba, pada bangunan rumah tua atau rumah kosong atau di kuburan (keramat) dan di tempattempat lain yang dikatakan angker. Sebagaimana kehidupan manusia begitu pula halnya dengan roh-roh halus ada yang baik dan ada yang jahat, ada yang melindungi kehidupan manusia dan ada yang selalu menggoda dan mengganggu kehidupan manusia. Bahkan pada tubuh manusia yang lemah karena menderita sakit, atau pada anak-anak yang berperilaku aneh dapat kemasukan roh-roh halus (kesurupan). Agar roh-roh halus itu tidak mengganggu kehidupan manusia, dan kepadanya dapat dimintakan bantuan, maka karena kemampuan manusia itu terbatas, merasa rendah diri atau takut, manusia merasa wajib menghormatinya, memelihara dan melayaninya, dan meminta perlindungan kepadanya. Dengan demikian terjadilah hubungan antara manusia dan roh-roh halus, yang dilakukannya dengan cara dan upacara keagamaan. Misalnya dengan penyampaian sajian (sajen) pembacaan mantera SUBSTANTIA, Vol. 11 Nomor 2, Oktober 2009-361

Taslim HM. Yasin atau do a-do a, dengan perapian membakar kemenyan, dengan membuat api unggun, bernyanyi-nyanyi suci dan melakukan taritarian dan bunyi-bunyian suci, dan sebagainya. Menurut Tylor kepercayaan manusia sederhana terhadap jiwa (latin: anima) di alam sekitarnya itulah yang disebut Animisme yang merupakan asal mula agama, yang kemudian berkembang menjadi Dinamisme, Politheisme dan akhirnya Monotheisme. Dengan demikian Animisme ini adalah paham kepercayaan manusia tentang adanya jiwa, yang meliputi hal-hal berikut: a. Bahwa di dunia itu tidak ada benda yang tidak berjiwa, kesemuanya itu hidup karena ada jiwa; b. Bahwa yang terpenting adalah jiwa dan bukan benda (materi) karena tan pa jiwa maka semuanya akan mati; c. Bahwa mahluk yang tidak berwujud itu ada, yang disebut jin, atau hantu dan lainnya, yang terdapat dimana-mana; d. Bahwa matahari, bulan, bintang-bintang, bergerak dan bercahaya karena mempunyai jiwa. 3 Oleh karena tidak semua manusia mempunyai kemampuan untuk berhubungan, bergaul dan berbicara dengan rohroh halus, maka muncullah manusia yang mampu untuk itu, yang disebut dukun-dukun, orang-orang keramat, orang-orang suci, para ahli sihir dan lainnya. Menurut R.R.Marett apa yang dikemukakan oleh Tylor tentang Animisme itu mendapat kecaman dari sarjana lainnya, terutama mengenai kesadaran manusia tentang jiwa, apakah manusia dalam kehidupan masyarakat yang masih sederhana sudah mampu berpikir tentang adanya jiwa. R.R. Marett seorang sarjana Antropologi Inggris di dalam bukunya The Threshold of Religion (1990), setelah 36 tahun teori Animisme berkembang, berpendapat bahwa bagi masyarakat yang budayanya masih sangat sederhana belum mungkin dapat berpikir dan menyadarinya tentang adanya jiwa. Jadi katanya pokok pangkal dari perilaku keagamaan bukanlah kepercayaan terhadap roh-roh halus, melainkan timbul karena perasaan rendah diri manusia terhadap berbagai gejala dan peristiwa yang dialami manusia dalam hidupnya. Karena manusia itu lemah, tidak mampu mengimbangi atau merasa kagum terhadap gejala atau peristiwa yang luar biasa yang melebihi dari kekuatan dirinya dan atau 362 SUBSTANTIA, Vol. 11 Nomor 2, Oktober 2009

Pergulatan Manusia Mencari Tuhan kekuatan yang pernah dialaminya, sehingga kekuatan itu bersifat supernatural. Menurut Marett kepercayaan terhadap adanya yang supernatural itu sudah ada sejak sebelum manusia menyadari adanya roh-roh halus (animisme). Oleh karenanya teori Marett ini sering dikatakan pula prae-animisme. Pemikiran J.G. Frazer berbeda dengan pemikiran E.B. Tylor tentang asal usul agama. Dia berpandangan bahwa kepercayaan manusia yang pertama bersifat magic.manusia itu dalam memecahkan berbagai masalah dalam kehidupannya dengan menggunakan akal dan sistem pengetahuan. Akal manusia itu terbatas, semakin rendah budaya manusia semakin kecil dan terbatas kemampuan akal pemikiran dan pengatahuannya dikarenakan ketidak mampuannya menggunakan akal dan pikirannya untuk memecahkan permasalahan, maka ia menggunakan magic (Yunani: magela) atau ilmu gaib atau ilmu sihir. Magic itu adalah tanggapan hidup berbagai masyarakat bangsa, sejak zaman purba maupun sekarang masih ada. Orang memperkirakan bahwa para ahli magic itu dengan mantera, jimat dan upacara yang dilakukannya dapat menguasai atau mempengaruhi alam sekitarnya, sehingga dengan cara-cara yang tidak lazim baik yang bernyawa maupun yang tidak bernyawa dapat dipengaruhinya. Menurut Frazer pada mulanya manusia itu hanya menggunakan magic untuk mengatasi masalah yang berada di luar batas kemampuan akalnya, kemudian dikarenakan ternyata usahanya dengan magic tidak berhasil maka mulailah ia percaya bahwa alam semesta ini didiami oleh para mahluk halus, roh-roh halus yang lebih berkuasa daripadanya. Seterusnya ia mulai mencari hubungan dengan mahluk-mahluk halus itu, sehingga dengan demikian timbullah agama (religi). Jadi perbedaan antara magic dan agama adalah jika magic merupakan suatu sistem sikap dan perilaku manusia untuk mencapai maksud dan tujuannya dengan menggunakan kekuatan gaib yag ada dalam alam, sedangkan agama (religi) adalah suatu sistem sulap dan perilaku manusia untuk mencapai maksud dan tujuannya dengan bersandar atau menyerah diri pada kemauan dan kekuasaan makhluk halus yang menepati alam. SUBSTANTIA, Vol. 11 Nomor 2, Oktober 2009-363

Taslim HM. Yasin Dilihat dari maksud dan tujuannya, maka magic atau magi itu dapat dibedakan antara Magi Putih dan Magi Hitam. Dikatakan magi putih kalau maksud dan tujuannya baik, sebaliknya jika maksud dan tujuannya buruk, maka disebut Magi Hitam. Sampai sekarang magi itu masih ada seperti yang disebut Shamanisme yang terdapat di kalangan penduduk pribumi Eskimo, Oceania, Afrika dan suku Lap dan yang disebut Voodooime (voodoo) pada suku-suku pribumi di Amerika. Dalam mempelajari magic itu dari segi Antropologi perlu diperhatikan antara lain sebagai berikut: 1. Siapa orang yang melaksanakan atau memimpin pelaksanaan acara dan upacara magic itu; 2. Bagaimana cara dan upacara magic itu dilakukan dan ditempat yang bagaimana; 3. Alat-alat apa saja yang digunakannya melakukan upacara itu, dan bagaimana caranya menggunakannya; 4. Ucapan atau kata-kata apa yang digunakannya dalam membaca mantera, atau do a dan sebagainya; 5. Jika diramu bahan obat, dari bahan apa dan bagaimana cara meramunya, dan untuk pengobatan apa. Kalau E.B. Tylor menyatakan bahwa agama berasal dari animisme, Frazer dari Magic, maka W. Schmidt lebih menekankan bahwa kepercayaan manusia yang pertama adalah bersifat mono-theisme.maksudnya adalah kepercayaan terhadap adanya satu Tuhan, sesungguhnya bukan penemuan baru tetapi juga sudah tua. Pendapatnya ini sebenarnya berasal dari pendapat ahli sastra Inggris A. Lang, yang meramunya dari berbagai kesusastraan rakyat dari berbagai bangsa di dunia dalam bentukbentuk dongeng yang melukiskan adanya tokoh Dewa Tunggal. Bahwa di berbagai suku bangsa bersangkutan sudah ada kepercayaan terhadap adanya satu Dewa yang merupakan dan dianggap Dewa tertinggi yang mencipta alam semesta dan seluruh isinya, serta sebagai penjaga ketertiban alam dan kesusilaan. 4 Menurut A. Lang contoh dari suku bangsa yang percaya terhadap adanya tokoh Dewa tertinggi itu terdapat pada masyarakat yang masih rendah tingkat budayanya di Australia, di kepulauan Andaman dan pada beberapa suku penduduk pribumi di Amerika utara. Jadi dalam berbagai hal terbukti bahwa kepercayaan pada satu Tuhan bukan karena adanya pengaruh 364 SUBSTANTIA, Vol. 11 Nomor 2, Oktober 2009

Pergulatan Manusia Mencari Tuhan agama Kristen dan Islam. Malahan kata A Lang pada bangsabangsa yang tingkat kebudayaannya terhadap satu Tuhan terdesak oleh pengaruh kepecayaan terhadap makhluk-makhluk halus, dewa-dewa alam, hantu-hantu dan sebagainya. Jadi kata A Lang sebenarnya kepercayaan terhadap Dewa tertinggi itu sudah sangat tua dan mungkin merupakan bentuk agama yang tertua. Apa yang dikemukakan A Lang itu kemudian diolah lebih lanjut oleh W. Schmidt, yang bukan saja merupakan tokoh Antropologi, tetapi juga sebagai pendeta Katolik. Ia pernah menjadi Guru Besar di perguruan tinggi di Australia, kemudian di Swis, dalam rangka mendidik para calon pendeta penyiar agama Katholik dari organisasi Societas Verbi Davini. Hal mana bagi W. Schmidt sesuai dengan ajaran agama yang dianutnya di mana agama itu berasal dari Titah Tuhan yang diturunkan kepada manusia sudah ada sejak adanya manusia di muka bumi. Jadi sejak masyarakat manusia masih rendah tingkat budayanya memang sudah ada Uroffenbarung atau Titah Tuhan yang murni, sehingga kepercayaan Urmonotheismus yaitu kepercayaan yang asli dan bersih dari berbagai khurafat, memang sudah sejak zaman purba dimana tingkat budaya masyarakat masih sangat sederhana. Hanya karena tangan-tangan manusialah yang menyebabkan kepercayaan kepada Tuhan Yang Maha Esa itu menjadi rusak, dipengaruhi oleh berbagai bentuk pemujaan kepada makhluk-makhluk halus, kepada roh-roh dan dewa-dewa, yang diciptakan oleh akal pikiran manusia sendiri. Durkheim salah seorang filosof dan sosiolog Prancis menyatakan bahwa pada masyarakat yang masih sederhana tingkat budayanya belum mungkin dapat menyadari dan memahami tentang Jiwa yang berada dalam tubuh manusia yang hidup dan jiwa yang sudah lepas dari tubuh menjadi roh-roh halus dari orang yang sudah mati. Menurut Durkheim bahwa dasar-dasar dari adanya agama itu adalah sebagai berikut: a. Bahwa yang menjadi sebab adanya dan berkembangnya kegiatan keagamaan pada manusia sejak ia berada di muka bumi adalah dikarenakan adanya suatu getaran jiwa yang menimbulkan emosi keagamaan. Timbulnya getaran jiwa itu dikarenakan rasa sentimen kemasyarakatan, yaitu suatu keterikatan dalam perasaan kemasyarakatan berupa rasa cinta, rasa bakti, dan lainnya di SUBSTANTIA, Vol. 11 Nomor 2, Oktober 2009-365

Taslim HM. Yasin dalam kehidupan masyarakatnya; b. Rasa sentimen kemasyarakatan itulah yang menyebabkan timbulnya emosi keagamaan, sebagai pangkal tolak dari sikap tindak dan perilaku keagamaan. Sikap perilaku keagamaan itu tidak selamanya berkobar dalam hati nurani manusia, oleh karenanya ia harus diperlihara dan dikobarkan agar tidak menjadi lemah dan tanpa semangat. Salah satu cara mengobarkan sentimen kemasyarakatan itu ialah dengan mengadakan pertemuan-pertemuan yang sangat besar; c. Emosi keagamaan yang timbul karena rasa sentiment kemasyarakatan itu membutuhkan adanya maksud dan tujuan. Tujuan yang bagaimanakah sifatnya yang menyebabkan adanya daya tarik dari emosi keagamaan itu, bukanlah sifatnya yang luar biasa, aneh, megah, ajaib, menarik dan sebagainya, tetapi ialah adanya tanggapan umum dari masyarakat pendukungnya. Misalnya karena adanya peristiwa kebutuhan yang dialami dalam sejarah kehidupan masyarakat di masa lampau menarik perhatian banyak orang dalam masyarakat itu. Tujuan yang menjadi objek emosi keagamaan itu juga mempunyai fungsi sebagai pemelihara emosi keagamaan, misalnya dianggap sakral dan bersifat keramat yang berhadapan dan berlawanan dengan objek yang tidak ritual value, yang lain yang tidak bernilai keagamaan; d. Objek yang sacral biasanya merupakan lambang dari masyarkat misalnya pada suku-suku pribumi di Australia yang menjadi objek yang sakral berupa sejenis binatang, tumbuh-tumbuhan atau benda tertentu yang disebut Totem. Adanya totem berupa sejenis binatang atau benda tertentu menggambarkan yang jelas apa yang berada dibelakang sebagai sendi dari totem itu, ialah adanya suatu kelompok masyarakat (klen) yang menjadi pendukungnya. Menurut Durkheim pengertian tentang emosi keagamaan dan sentimen kemasyarakatan sebagaimana dikemukakan di atas adalah pengertian dasar yang merupakan inti dari setiap agama. Sedangkan kegiatan berhimpunnya masyarakat, kesadaran terhadap tujuan atau abjek yang sakral yang bertentangan dengan sifat duniawi (profane) serta totem sebagai perlambang masyarakat, adalah bertujuan untuk mempertahankan kehidupan emosi keagamaan dan sentimen kemasyarakatan. Untuk memenuhi tujuan tersebut maka dilaksanakan bentuk upacara, kepercayaan dan mythology (ilmu tentang cerita -cerita kuno). 366 SUBSTANTIA, Vol. 11 Nomor 2, Oktober 2009

Pergulatan Manusia Mencari Tuhan Ketiga unsur ini menentukan bentuk lahir dari suatu agama di dalam masyarakat tertentu, yang menunjukan ciri-ciri perbedaan yang nyata dari berbagai agama di dunia. Tylor, satu abad yang lalu telah mendefinisikan agama sebagai satu kepercaya dalam bentuk spiritual. Sejumlah ahli Antropologi social modern sudah kembali kesuatu perluasan definisi agama dalam pengembangan kehidupan sosial masyarakat terhadap manusia biasa atau kekuatannya. Ahli lainnya mengikuti Durkheim, telah berusaha menemukan beberapa nilai khusus tentang kesucian yang mengatasi agama dan kepercayaan duniawi. 5 Pandangan yang paling tegas mengenai asal-usul kepercayaan umat manusia datang dari Muhammad Abduh. Menurutnya kepercayaan manusia yang pertama sekali adalah bersifat tauhid yaitu percaya kepada adanya satu Tuhan dan tidak mengalami evolusi. Yang mengalami evolusi adalah wahyu yang diberikan oleh Allah kepada para nabi-nya, dari satu nabi kepada nabi yang lain. Rasul-rasul yang terdahulu adalah rasulrasul nasional, diberi wahyu sesuai dengan kecerdasan masyarakat dan zaman yang diajarinya. Demikianlah, maka proses wahyu itu berkembang. Ada kalanya seorang nabi itu diutus hanya untuk waktu sesaat, ada pula hanya untuk satu kaum, hingga akhirnya sempurnalah wahyu itu dalam risalah yang diberikan kepada nabi Muhammad SAW. Nabi Muhammad adalah nabi yang paling akbhir, nabi universal untuk seantaro umat manusia dan seluruh zaman. Jadi, harus diingat bahwa Muhammad Abduh dalam pandangannya mengenai Tuhan sama sekali tidak menggunakan teori evolusionisme. Percaya kepada satu Tuhan tidak pernah mengalami perubahan. Artinya sejak semula dari tauhid tetap tauhid. 6 C. Kesimpulan Sejak dari awal sudah dapat diduga bahwa menghampiri asal usul agama dengan menggunakan pendekatan Antropologi akan banyak mendapat kesulitan dan tantangan terutama datang dari para teolog. Hal ini desebabkan, pendekatan Antropologi mengedepankan bahwa segala sesuatu mengalami perkembangan dari keadaan yang sederhana kearah perkembangan yang lebih SUBSTANTIA, Vol. 11 Nomor 2, Oktober 2009-367

Taslim HM. Yasin sempurna. Agama, bagi mereka, adalah satu aspek saja dari kebudayaan manusia yang tunduk kepada hukum alam, samadengan lembaga atau pranata sosial lainnya. Kurang tepat kalau pendekatan Antropologi dijadikan satu-satunya dasar dalam studinya tentang asal usul agama, terutama dalam usahanya untuk menyelidiki Yang Maha Agung. Di samping hal ini bersifat ghaib, tetapi juga pendekatan Antropologi tidak akan mampu menyelami hakikat yang sesungguhnya atas kebesaran dan kesucian Yang Maha Agung tersebut. Untuk itulah maka para teolog menolak pendekatan Antropologi dalam kaitan menentukan asal usul kepercayaan umat manusia yaitu dari politheisme menuju monotheisme. Bagi para teolog umat manusia sejak dari awal sudah percaya kepada adanya Tuhan yang satu. Catatan Akhir 1970, hal.7 1 H.A. Mukti Ali, Asal-Usul Agama, Yayasan Nida, Yogyakarta, 2 H.A.Mukti Ali, Agama dan Masyarakat, Sunan Kalijaga Press, Yogyakarta, 1993, hal. 494. 3 Abbas Mahmoud Al-Akkad, Ketuhanan Sepanjang Ajaran Agama dan Pemikiran Manusia, Bulan Bintang, Jakarta, 1981, hal.21 4 H.Hilman, Antropologi Agama, Citra Aditya, Bandung, 1993, hal.16-38. 5 Syamsuddin Abdullah, Ilmu Agama, Yogyakarta, 1971, hal.2-6. 6 H.A.Mukti Ali, Ilmu Perbandingan Agama, Yayasan Nida, Yogyakarta, 1970, hal.25-27. 368 SUBSTANTIA, Vol. 11 Nomor 2, Oktober 2009