BAB IV ANALISIS IMPLEMENTASI DAN DATA CHECKING

dokumen-dokumen yang mirip
BAB II DASAR TEORI 2.1 Pengertian Batas Darat

Bab IV ANALISIS. 4.1 Hasil Revisi Analisis hasil revisi Permendagri no 1 tahun 2006 terdiri dari 2 pasal, sebagai berikut:

Bab III KAJIAN TEKNIS

PENETAPAN DAN PENEGASAN BATAS WILAYAH DESA KAUMAN KECAMATAN KARANGREJO PROPINSI JAWA TIMUR

ANALISIS KETELITIAN DATA PENGUKURAN MENGGUNAKAN GPS DENGAN METODE DIFERENSIAL STATIK DALAM MODA JARING DAN RADIAL

MENGGAMBAR BATAS DESA PADA PETA

BAB IV PENGOLAHAN DATA

MENTERI DALAM NEGERI REPUBLIK INDONESIA PERATURAN MENTERI DALAM NEGERI REPUBLIK INDONESIA NOMOR 141 TAHUN 2017 TENTANG PENEGASAN BATAS DAERAH

BAB 3 PENGOLAHAN DATA DAN HASIL. 3.1 Data yang Digunakan

BAB 1 PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang

URGENSI PENETAPAN DAN PENEGASAN BATAS LAUT DALAM MENGHADAPI OTONOMI DAERAH DAN GLOBALISASI. Oleh: Nanin Trianawati Sugito*)

PERATURAN DAERAH KABUPATEN MUARA ENIM NOMOR 11 TAHUN 2007 TENTANG PENETAPAN DAN PENEGASAN BATAS DESA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

MENTERI DALAM NEGERI REPUBLIK INDONESIA

BUPATI PURBALINGGA PROVINSI JAWA TENGAH

2012, No Batas Daerah di Darat

INFORMASI GEOSPASIAL UNTUK PEMETAAN BATAS DAERAH 1) Kol. Drs. Cpt. Suyanto 2)

MENTERI DALAM NEGERI REPUBLIK INDONESIA,

PEDOMAN PENEGASAN BATAS DAERAH

BAB I PENDAHULUAN I.1. Latar belakang

MENTERI DALAM NEGERI REPUBLIK INDONESIA

MENTERI DALAM NEGERI REPUBLIK INDONESIA

LAMPIRAN PERATURAN MENTERI DALAM NEGERI REPUBLIK INDONESIA NOMOR 45 TAHUN 2016 TENTANG PEDOMAN PENETAPAN DAN PENEGASAN BATAS DESA

CORPORATE SOCIAL RESPONSIBLE

BUPATI PURWOREJO PERATURAN DAERAH KABUPATEN PURWOREJO NOMOR: 9 TAHUN 2012 TENTANG PEDOMAN PENETAPAN DAN PENEGASAN BATAS DESA

MENTERI DALAM NEGERI REPUBLIK INDONESIA

Bab I Pendahuluan. I.1 Latar Belakang

BAB III PELAKSANAAN PENELITIAN

MENTERI DALAM NEGERI REPUBLIK INDONESIA

MENTERI DALAM NEGERI REPUBLIK INDONESIA

Gambar 1. prinsip proyeksi dari bidang lengkung muka bumi ke bidang datar kertas

PERATURAN DAERAH KABUPATEN PURBALINGGA NOMOR 27 TAHUN 2012 TENTANG PEDOMAN PENETAPAN DAN PENEGASAN BATAS DESA DI KABUPATEN PURBALINGGA

MENTERI DALAM NEGERI REPUBLIK INDONESIA

Gubernur Jawa Barat PERATURAN GUBERNUR JAWA BARAT NOMOR : 44 Tahun 2012 TENTANG PEDOMAN PENETAPAN DAN PENEGASAN BATAS DESA DI JAWA BARAT

BAB III IMPLEMENTASI PEDOMAN PENETAPAN DAN PENEGASAN BATAS DAERAH PADA PENETAPAN DAN PENEGASAN BATAS KABUPATEN BANDUNG

Bab III Pelaksanaan Penelitian

MODUL 3 REGISTER DAN DIGITASI PETA

PENGENALAN GPS & PENGGUNAANNYA

PENGENALAN GPS & PENGGUNAANNYA

MODUL 2 REGISTER DAN DIGITASI PETA

BAB IV ANALISIS 4.1 Analisis Persiapan

PERATURAN DAERAH KABUPATEN SERUYAN NOMOR 24 TAHUN 2006 TENTANG PENETAPAN BATAS DESA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI SERUYAN,

2016, No Indonesia Nomor 2514); 3. Undang-Undang Nomor 6 Tahun 2014 tentang Desa (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2014 Nomor 7, Tamba

PERATURAN BADAN INFORMASI GEOSPASIAL NOMOR 12 TAHUN 2017 TENTANG PEDOMAN PEMETAAN WILAYAH MASYARAKAT HUKUM ADAT DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

MENTERI DALAM NEGERI REPUBLIK INDONESIA

PENGENALAN GPS & PENGGUNAANNYA Oleh : Winardi & Abdullah S.

BAB III PELAKSANAAN PENELITIAN

sensing, GIS (Geographic Information System) dan olahraga rekreasi

BAB III TEKNOLOGI LIDAR DALAM PEKERJAAN EKSPLORASI TAMBANG BATUBARA

ANALISIS PENGARUH TOTAL ELECTRON CONTENT (TEC) DI LAPISAN IONOSFER PADA DATA PENGAMATAN GNSS RT-PPP

NOMOR 24 TAHUN 2016 TENTANG D E N G A N R A H M A T T U H A N Y A N G M A H A E S A

PENGGUNAAN TEKNOLOGI GNSS RT-PPP UNTUK KEGIATAN TOPOGRAFI SEISMIK

BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA

Tugas 1. Survei Konstruksi. Makalah Pemetaan Topografi Kampus ITB. Krisna Andhika

BAB IV ANALISIS PENELITIAN

PENGUKURAN GROUND CONTROL POINT UNTUK CITRA SATELIT CITRA SATELIT RESOLUSI TINGGI DENGAN METODE GPS PPP

BAB III PELAKSANAAN PENELITIAN

MENTERI DALAM NEGERI REPUBLIK INDONESIA

MENTERI DALAM NEGERI REPUBLIK INDONESIA

PROSEDUR OPERASIONAL STANDAR PENGELOLAAN DATA DAN INFORMASI GEOSPASIAL INFRASTRUKTUR

Bab III Pelaksanaan Penelitian. Penentuan daerah penelitian dilakukan berdasarkan beberapa pertimbangan, diantaranya adalah :

PENENTUAN POSISI DENGAN GPS UNTUK SURVEI TERUMBU KARANG. Winardi Puslit Oseanografi - LIPI

HASIL DAN PEMBAHASAN. Pembuatan Tampilan 3D DEM SRTM

DAFTAR ISI ii KATA PENGANTAR

BAB III PEMANFAATAN SISTEM GPS CORS DALAM RANGKA PENGUKURAN BIDANG TANAH

Departemen Teknik Geomatika, FTSLK-ITS Sukolilo, Surabaya 60111, Indonesia Abstrak

MENTERI DALAM NEGERI REPUBLIK INDONESIA

Bab I Pendahuluan I.1. Latar Belakang

PEMERINTAH KABUPATEN EMPAT LAWANG

Bab II TEORI DASAR. Suatu batas daerah dikatakan jelas dan tegas jika memenuhi kriteria sebagai berikut:

BUPATI MAJENE PERATURAN DAERAH KABUPATEN MAJENE NOMOR 8 TAHUN 2012 TENTANG PENETAPAN DAN PENEGASAN BATAS DESA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

BAB I PENDAHULUAN I-1

BAB III METODOLOGI PENELITIAN. Metode Penelitian merupakan cara ilmiah untuk mendapatkan data yang valid

BAB III PENGOLAHAN DATA ALOS PRISM

BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

PELATIHAN PENGGUNAAN GLOBAL POSITIONING SYSTEM DAN SURFER SEBAGAI MEDIA DIGITAL DALAM PEMBELAJARAN GEOGRAFI GURU- GURU SMP SE-KECAMATAN NUSA PENIDA

BAB 3 PEMBAHASAN START DATA KALIBRASI PENGUKURAN OFFSET GPS- KAMERA DATA OFFSET GPS- KAMERA PEMOTRETAN DATA FOTO TANPA GPS FINISH

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

Aplikasi GPS RTK untuk Pemetaan Bidang Tanah

STUDI IMPLEMENTASI PEDOMAN PENETAPAN DAN PENEGASAN BATAS DAERAH (Studi kasus Kabupaten Bandung)

Mengapa proyeksi di Indonesia menggunakan WGS 84?

PENENTUAN POSISI DENGAN GPS

PERANAN STRATEGIS PETADALAM PENETAPAN BATAS WILAYAH DESA

BAB III METODE PENGUKURAN

2015, No Undang-Undang Nomor 4 Tahun 2009 tentang Pertambangan Mineral dan Batubara (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2009 Nomor 4,

PETA TERESTRIAL: PEMBUATAN DAN PENGGUNAANNYA DALAM PENGELOLAAN DATA GEOSPASIAL CB NURUL KHAKHIM

PEMETAAN JARINGAN JALAN KAWASAN PERKOTAAN TONDANO

BAB III DESKRIPSI TEMPAT PLA DAN PELAKSANAAN PLA

2014, No tentang Batas Daerah Kabupaten Halmahera Tengah dengan Kabupaten Halmahera Selatan Provinsi Maluku Utara; Mengingat : 1 Undang-Undang

Transkripsi:

BAB IV ANALISIS IMPLEMENTASI DAN DATA CHECKING 4.1 ANALISIS IMPLEMENTASI Dari hasil implementasi pedoman penetapan dan penegasan batas daerah pada penetapan dan penegasan Kabupaten Bandung didapat beberapa analisis tentang penetapan dan penegasan batas daerah Kabupaten Bandung. Analisis dilakukan sesuai dengan setiap tahapan penetapan dan penegasan batas daerah sesuai dengan PPBD. 4.1.1 Analisis Penetapan Batas Daerah Pada proses analisis penetapan batas daerah sesusai dengan pedoman penetapan dan penegasan batas daerah di Kabupaten Bandung ada tiga tahapan yaitu: 1. Penelitian dokumen batas Dokumen batas adalah dasar hukum dalam melakukan penetapan dan penegasan posisi batas. Pada penentuan posisi batas kabupaten Bandung dasar hukum berdasarkan undang-undang yang jelas sehingga dalam pelaksanaan penetapan dan penegasan batas daerah dapat dilaksanakan. Undang-undang No.14 tahun 1950 tentang pembentukan daerah di propinsi jawa barat. Pada undang-undang ini tidak diberikan list koordinat titik-titik garis batas Kabupaten Bandung. Peta batas Kabupaten Bandung ini dideliniasi secara kartometrik di atas peta skala 1:25000 berdasarkan Undang-Undang no.14 tahun 1950 dimana Undang-undang ini tidak menyebutkan secara pasti dengan berupa koordinat batas. Deliniasi ini berdasarkan kecamatan, kelurahan/desa yang berbeda pemerintahannya. Pada peta rupabumi ini ditetapkan secara-bersama-sama dengan kedua belah pihak. Pada tahap penelitian dokumen batas Kabupaten Bandung ini sesuai dengan Pedoman Penetapan dan Penegasan Batas Daerah(PPBD). 2. Penentuan peta dasar Dalam penetapan peta dasar untuk penetapan dan penegasan batas daerah kabupaten Bandung menggunakan peta dasar rupabumi digital dengan skala 1:25.000 sehingga 59

peta dasar yang dipilih sesuai dengan Pedoman Penetapan dan Penegasan Batas Daerah(PPBD). 3. Pembuatan peta batas kartometrik Pada tahap pembuatan peta batas kartometrik ini, titik-titik pilar batas dibuat di peta rupabumi skala 1:25.000 dan proses pembuatan peta batas dapat menurunkan dari peta yang sudah ada. Pada pembuatan peta batas kartometrik Kabupaten Bandung ini menurunkan dari Undang-Undang Pembentukan Daerah dimana pada Undang- Undang itu cakupan daerahnya dari Propinsi, Kabupaten, Kecamatan dan Desa. Pada batas Kabupaten Bandung ini proses deliniasi pada peta rupabumi skala 1:25.000 dan deliniasi batas ini dibuktikan dengan rencana pemasangan pilar batas dengan koordinat pendekatan dari peta rupabumi tersebut. Jadi pada pembuatan peta batas kartometrik ini sesuai dengan spesifikasi teknis dalam pembuatan peta batas secara kartometrik. 60

4.1.2 Analisis Penegasan Batas Daerah Dalam penegasan batas suatu daerah, peran geodesi sangat dibutuhkan karena menyangkut soal penentuan posisi pilar batas di permukaan bumi.gambar 4.1 dibawah ini merupakan alur untuk melakukan penegasan batas. Ada Dasar Hukum - Staatblad - Nota Residen - UU Pembentukan Daerah - Peraturan Perundangan Kesepakatan yang ada dan peta kesepakatan batas wilayah. Tanda batas wilayah: - Batas alam - Batas buatan manusia Pelacakan Pemasangan dan Pengukuran Tanda Batas Pemetaan Batas Wilayah Tidak Ada / Belum Jelas Mencari kesepakatan mengenai batas wilayah yang bersangkutan Ratifikasi Batas Wilayah Gambar 4.1 Alur Penegasan Batas Daerah Dalam implementasi penetapan dan penegasan batas daerah sesuai dengan diagram diatas alur penegasan batas daerah adalah adanya dasar hukum yang pasti untuk melakukan penetapan dan penegasan batas daerah. Dan bila tidak adanya dasar hukum maka akan ada kesepakatan batas dari pihak daerah yang berbatasan. Analisis tahap penegasan batas daerah Kabupaten Bandung yaitu : 1. Tahap Penelitian Dokumen Batas Dokumen batas pada kabupaten Bandung ini berupa Undang-undang dan peraturan perundangan sehingga pelaksanaan penegasan ini mempunyai dasar hukum. Berita Acara penelitian dokumen batas tidak ada tapi dokumen batas sudah dengan jelas yaitu Undang-undang No 14 tahun 1950. Pelaksanaan penelitian dokumen batas kabupaten Bandung sesuai dengan Pedoman Penetapan dan Penegasan Batas Daerah(PPBD) seperti tahap penelitian dokumen pada tahap penetapan batas daerah. 61

2. Tahap Pelacakan Batas Tahap pelacakan ini dibuktikan dengan adanya berita acara pelacakan pilar batas kabupaten yang ditandatangani oleh kedua belah pihak pada daerah yang berbatasan dan Sekretaris daerah Kabuten Bandung telah mengundang untuk melakukan pelacakan berdasar surat No surat 005/294/Binpenum dengan rencana kerja untuk melakukan pelacakan pilar batas Kabupaten Bandung. Proses pelacakan pilar batas Kabupaten Bandung sesuai dengan tahap pelacakan yang terdapat pada Pedoman Penetapan dan Penegasan Batas Daerah(PPBD). 3. Tahap Pemasangan Pilar Batas Daerah Setelah melakukan pelacakan, tim penegasan batas daerah dari kabupaten Bandung melakukan sosialisasi terhadap pemasangan patok sementara untuk pilar batas kabupaten Bandung pada pemerintah setempat. Untuk setiap patok batas sementara kabupaten Bandung selanjutnya dilakukan pemasangan pilar batas dengan spesifikasi pilar( bentuk dan ukuran) tipe B yaitu untuk tipe pilar batas kabupaten. Pemasangan pilar batas daerah Kabupaten Bandung dibuktikan dengan berita acara pemasangan pilar batas yang disetujui dan ditandatangi oleh pemerintah daerah setempat(kepala desa dan camat). Tahap pemasangan pilar batas Kabupaten Bandung sesuai dengan tahap pemasangan yang terdapat pada Pedoman Penetapan dan Penegasan Batas Daerah(PPBD). 4. Tahap Penentuan Posisi Pilar Batas dan Pengukuran Garis Batas Penggunaan Alat Untuk mendapat ketelitian PBU/PABU +15 cm dan PBA/PABA + 25 cm,penggunaan alat harus menggunakan GPS tipe geodetik. Penggunaan alat pada penentuan posisi Pilar Batas Utama(PBU) pada Kabupaten Bandung ini sesuai dengan Pedoman Penetapan dan Penegasan Batas Derah(PPBD). Lama pengamatan dan panjang baseline Pada tahap penentuan posisi pilar batas peralatan yang dipergunakan adalah receiver GPS type Geodetik merk Leica 500,dengan menggunakan sinyal dua frekwensi. 62

Lamanya pengamatan satelit dilaksanakan 6 jam di base station dan 1 jam yang dipasang di pilar batas sebagai rover dengan epoch data 30 detik, dimana menurut Pedoman Penetapan dan Penegasan batas Daerah(PPBD) untuk panjang baseline 10-20 km, lama pengamatan GPS 1 jam Dengan lama pengamatan dan panjang baseline GPS untuk setiap titik pilar batas Kabupaten Bandung ke titik base yang dilakukan oleh tim batas daerah Kabupaten Bandung sesuai dengan spesifikasi lama pengamatan dan panjang baseline Pedoman Penetapan dan Penegasan Batas Derah(PPBD).Baseline-baseline yang terbentuk seperti gambar 4.2 dibawah ini. Gambar 4.2 Baseline-baseline yang terbentuk pada kabupaten Bandung 63

Metode Penentuan Posisi Titik Pilar Batas Metode penentuan posisi titik pilar batas Kabupaten Bandung dengan menggunakan metode radial dimana titik yang akan diketahui koordinat ialah titik pilar batas daerah dengan diikatkan pada titik ikat yang telah diketahui koordinatnya. Metode penentuan posisi titik pilar batas Kabupaten Bandung ini sesuai dengan spesifikasi penentuan posisi pada Pedoman Penetapan dan Penegasan Batas Derah(PPBD) Software Pengolahan Data Pengolahan data pengamatan GPS yang dilakukan oleh tim batas daerah Kabupaten Bandung menggunakan software komersial Ski-Pro 3.0 dimana pada PPBD pengolahan data GPS dapat menggunakan software komersial sehingga pada teknis pengolahan data sesuai dengan PPBD. Sistem Koordinat Hasil Pengolahan Data Sistem koordinat hasil pengolahan sesuai dengan Pedoman Penetapan dan Penegasan batas Daerah(PPBD) berupa koordinat geodetik(lintang,bujur,tinggi) dan koordinat proyeksi UTM(Easting,Northing,tinggi). Standar Deviasi Koordinat Pengolahan Data Pada hasil pengolahan data GPS, hasil berupa koordinat geodetik(lintang,bujur, tinggi) dan UTM(E,N,tinggi) dengan memberikan nilai standar deviasi untuk setiap komponen koordinatnya tetapi pada pengolahan data GPS yang dilakukan oleh tim batas daerah Kabupaten Bandung tidak memberikan nilai standar deviasi untuk setiap komponen koordinatnya sehingga tidak bisa diketahui nilai ketelitian dari setiap komponennya dan tidak sesuai dengan Pedoman Penetapan dan Penegasan batas Daerah(PPBD). 5. Tahap Pembuatan Peta Batas Pada tahap pembuatan peta batas kabupaten Bandung ini dilakukan dengan beberapa tahap pengerjaan yaitu: 64

1.Persiapan 2. Proses Validasi Kartografi Pemilihan Layer dan Penggabungan Data dalam Data Digital Proses Cropping data dan Editing Pembuatan Frame Peta dan Overlay Ke Peta Batas Wilayah Cekplot dan pengecekan Kontrol Qualitas Data Dalam Format Data Frehand Tahap pembuatan peta batas Kabupaten Bandung dalam format digital sehingga mempermudah pengerjaan pembuatan peta batas dengan menggunakan peta rupabumi digital 1:25000. Peta batas Kabupaten Bandung yang dihasilkan menggunakan peta rupabumi digital dimana datum yang digunakan DGN95, ellipsoid referensi WGS84 dengan sistem proyeksi Transverse Mercator dengan skala 1:100000 dengan ukuran standar peta A0. Peta batas yang dihasil oleh tim batas daerah Kabupaten Bandung sesuai dengan spesifikasi peta batas daerah pada Pedoman Penetapan dan Penegasan Batas Derah(PPBD). Secara keseluruhan proses implementasi penetapan dan penegasan batas daerah Kabupaten Bandung dalam tabel 4.1 dibawah ini. 65

Tabel 4.1 Rangkuman kesesuaian implementasi penetapan dan penegasan pada Kabupaten Bandung dengan PPBD Spesifikasi Pada Pedoman Penetapan dan Penegasan Batas Daerah(PPBD) Penetapan Batas Daerah 1.Penelitian Dokumen Batas Peraturan pembentukan daerah Berita Acara Penelitian dokumen batas Implementasi Pada Kabupaten Bandung Sesuai Tidak Sesuai Undang-Undang No.14 tahun 1950 tentang Pembentukan daerah 2.Penentuan Peta Dasar skala yg digunakan skala 1:25000, skala tipikal pada PPBD skala 1:100000 datum datum DGN 95(WGS 84) sistem proyeksi peta Transverse Mercator UTM (Universal Transverse sistem grid Mercator) tidak ada berita acara penelitian dokumen batas 3.Pembuatan Peta Batas daerah Kartometrik Peta dasar yang digunakan Peta Rupabumi Digital Digital dengan mendigit garis pada Proses pembuatan(digital/grafis) peta dasar Detail yang digambarkan(lokasi pilar batas,jaringan jalan,perairan dan Skala peta 1 :25000 dapat detail yang menonjol lainnya menggambarkan unsur yang detail Digitasi pada peta Rupabumi skala Digitasi batas pada peta dasar 1:25000 dengan layer-layer 66

Penegasan Batas Daerah 1.Penelitian Dokumen Batas Dasar hukum :staatsblad, nota residen,undang-undang pembetukan daerah Undang-Undang No.14 tahun 1950 tentang Pembentukan daerah Berita acara penelitian dokumen batas Tidak ada berita acara penelitian dokumen batas 2.Pelacakan Dokumen Batas Pelaksanaan pelacakan BAKOSURTANAL Dengan kesepakatan yang dilakukan pada tahap sosialisasi Penentuan garis batas sementara antara kabupaten yang berbatasan berdasarkan penentuan garis batas sementara dilacak di lapangan, penentuan posisi pilar batas ditetapkan bersama-sama antar Penentuan garis batas di lapangan pemerintah kecamatan Berita acara yang ditandatangi oleh Berita Acara pemerintah daerah yang berbatasan 3.Pemasangan Pilar Titik Batas jenis pilar untuk pilar kabupaten Bentuk dan ukuran pilar yitu pilar tipe B Kerapatan pilar 3 km Kriteria pemasangan pilar Berita Acara Pemasangan Berita acara yang ditandatangi oleh pemerintah daerah yang berbatasan Pada beberapa titik kurang sesuai dengan kriteria pemasangan pilar batas karena masih ada yang berada di bawah pohon, sangat sekali dengan tembok rumah. 67

4.Penentuan Posisi Pilar Batas dan Pengukuran Garis Batas Standar ketelitian pada laporan tidak diberikan nilai dari standar deviasi setiap komponen koordinat tipe geodetik dual frekuensi merk Penggunaan Alat Leica 500 untuk baseli 10-20 km pengamatan Lama pengamatan dan panjang baseline 1 jam metode radial dengan diikatkan ke Metode penentuan posisi pilar titik sementara Software yang digunakan untuk pengolahan data Ski-Pro 3.0 Koordinat geodetik(lintang, bujur,tinggi ellipsoid) dan Sistem Koordinat pilar batas koordinat UTM(x,y) 5.Pembuatan Peta Batas Peta batas daerah berdasarkan : penurunan/kompilasi dari peta-peta yang sudah ada atau Peta rupabumi skala 1:25000 pemetaan terestris atau pemetaan fotogrametri Skala peta 1:25000 Sesuai dengan spesifikasi bisa Format peta dilihat pada lampiran 68

4.2 ANALISIS DATA CHECKING Analisis data checking dilakukan untuk melihat perbandingan hasil koordinat yang diolah tim batas daerah Kabupaten Bandung dengan hasil pengolahan yang dilakukan oleh sendiri. Tim kabupaten bandung mengolah data GPS batas Kabupaten Bandung menggunakan software komersial Ski-Pro 3.0 sedangkan pengolahan yang dilakukan sendiri menggunakan software komersial Ski-Pro 2.1. Perbandingan hasil pengolahan data dalam sistem koordinat UTM dimana hasil pengolahan data diselisihkan. Hasil pengolahan sendiri dengan Ski-Pro 2.1 dapat dilihat pada tabel 4.2. Tabel 4.2 Hasil pengolahan dengan mengunakan Ski-Pro 2.1 oleh sendiri point E N H sd E sd N sd H Keterangan PABU001 760382,769 9214952,785 1504,120 0,012 0,002 0,013 PBU003 760522,237 9215622,127 1492,545 0,001 0,001 0,011 PBU004 760868,271 9215402,899 1534,576 0,001 0,002 0,007 PABU005 766964,106 9216539,236 1407,902 0,001 0,001 0,002 PABU006 766859,420 9216809,193 1397,795 0,001 0,001 0,002 PABU007 767145,804 9216862,731 1389,819 0,001 0,000 0,002 PABU008 767441,964 9217906,246 1321,363 0,001 0,000 0,001 PBU009 767518,594 9218526,389 1421,507 0,000 0,000 0,001 PABU010 768982,890 9220295,212 1379,734 0,745 0,600 1,330 pengolahan tidak resolve PABU011 769391,020 9220178,276 1330,914 0,002 0,004 0,011 PBU012 770136,674 9220152,008 1279,749 0,002 0,001 0,005 PBU013 771819,257 9219823,595 1439,292 0,001 0,001 0,002 PABU014 772081,025 9219721,359 1328,675 0,001 0,001 0,001 PABU015 773718,816 9219197,951 1360,563 0,001 0,001 0,003 PABU016 773503,916 9220596,509 1317,566 0,001 0,001 0,002 PABU017 774085,331 9221447,313 1152,364 0,001 0,000 0,002 PABU018 774185,595 9222565,465 1034,018 0,001 0,001 0,002 PBU019 773417,665 9223465,709 998,011 0,001 0,001 0,002 PABU020 772830,564 9225703,788 776,926 0,001 0,002 0,004 PBU021 774180,949 9225992,929 955,604 0,001 0,001 0,002 PBU022 774598,548 9226740,539 1019,589 0,001 0,001 0,003 PBU023 774646,018 9227203,243 1075,467 0,001 0,001 0,002 PBU028 779637,126 9231998,070 707,414 0,000 0,000 0,000 PBU029 778741,804 9232702,482 703,022 0,001 0,000 0,002 PBU030 778740,084 9233149,209 730,929 0,000 0,000 0,001 PBU031 778056,318 9235832,648 764,546 0,001 0,001 0,004 PBU032 778098,094 9238587,820 764,290 0,001 0,001 0,003 PBU033 782028,412 9243286,099 998,481 0,001 0,001 0,002 PABU034 783207,318 9240447,590 855,475 0,001 0,001 0,003 PABU035 783154,029 9239782,677 824,549 0,002 0,002 0,003 PABU036 783776,752 9239103,587 823,954 0,003 0,001 0,006 PABU037 784785,941 9240235,175 862,259 0,001 0,001 0,002 PABU038 785274,163 9240742,586 882,547 0,002 0,001 0,004 69

PABU039 786344,376 9242171,472 981,420 0,001 0,001 0,003 PABU040 787851,019 9241024,692 902,514 0,001 0,001 0,002 PABU041 789030,778 9242206,532 1016,142 0,001 0,001 0,002 PABU042 789875,428 9240622,534 859,332 0,002 0,001 0,003 PABU043 791095,324 9241420,935 901,273 0,116 0,040 0,060 PABU044 792656,605 9242659,427 997,692 0,002 0,002 0,006 PABU045 793506,556 9243543,280 1046,706 0,004 0,007 0,022 PABU046 794150,546 9243995,159 1088,714 0,003 0,004 0,006 PABU047 797324,400 9244283,477 1234,835 0,001 0,001 0,003 PABU048 797224,978 9243583,114 1498,132 0,001 0,001 0,002 PABU049 799265,268 9243653,677 1340,925 0,001 0,000 0,002 PABU050 801255,673 9243863,720 1439,292 0,001 0,001 0,001 PABU051 802294,035 9244824,097 1544,263 0,001 0,001 0,003 PABU052 802582.826 9244750.892 1579.828 0.009 0.013 0.027 PABU053 798902,950 9248293,695 1476,954 0,002 0,004 0,011 PBU054 796570,570 9248316,023 1512,766 1,138 0,080 0,156 PABU055 792865,725 9250705,342 1489,710 0,002 0,001 0,005 PABU056 790446,773 9250838,408 1681,305 0,003 0,002 0,008 PABU057 789495,692 9251558,273 1812,136 0,001 0,001 0,004 PBU058 787927,599 9251957,063 2090,245 0,001 0,001 0,002 PBU059 787519,409 9252303,221 2096,288 0,121 0,016 0,033 PBU060 784044,776 9254055,279 1753,295 0,110 0,015 0,041 PABU061 776434,067 9254654,381 793,419 0,001 0,001 0,003 PABU062 775112,488 9254847,643 739,511 0,001 0,001 0,003 PABU063 773570,871 9256591,530 675,091 0,001 0,001 0,002 PABU064 767975,116 9258916,363 444,426 0,001 0,001 0,003 PABU065 762606,541 9259849,663 149,456 0,001 0,001 0,002 PABU066 755170,601 9247910,863 249,878 0,001 0,001 0,002 PABU067 756854,678 9244621,113 294,925 0,000 0,000 0,000 PABU068 757034,496 9243159,984 263,637 0,000 0,000 0,000 PABU069 741926,591 9228552,346 540,526 0,004 0,003 0,010 PABU070 741498,398 9227831,838 515,335 0,001 0,001 0,003 pengolahan tidak resolve pengolahan tidak resolve pengolahan tidak resolve pengolahan tidak resolve 70

Gambar 4.3 dibawah ini data pengamatan satelit titik pilar batas yang ambuguitas fase tidak bisa resolve(terpecahkan) PABU010 PBU043 PBU54 PBU059 PBU060 Gambar 4.3 Data Pengamatan satelit 71

Tabel 4.4 Selisih hasil koordinat pengolahan sendiri dan tim batas Kabupaten Bandung Point E N H PABU001 0.645-0.190 0.133 PBU003 51.219-10.904-2.494 PBU004-0.021 0.027 0.009 PABU005-0.003-0.001 0.017 PABU006-0.014-0.036 0.040 PABU007-0.001 0.000 0.000 PABU008-0.002 0.000 0.000 PBU009-0.001 0.000 0.000 PABU010 2.725 4.834 9.892 PABU011-0.662-0.111-0.071 PBU012 4.695 1.059 1.134 PBU013-0.002 0.000 0.000 PABU014-0.001 0.000 0.000 PABU015-0.001 0.000 0.000 PABU016-0.002 0.000 0.001 PABU017-0.002 0.000 0.000 PABU018-0.002 0.000 0.000 PBU019-0.002 0.000 0.000 PABU020-0.020-0.004 0.010 PBU021-0.002 0.000 0.000 PBU022 0.120 0.581 9.751 PBU023 0.183 0.550 9.733 PBU028-0.001 0.000 0.000 PBU029-0.001 0.000 0.000 PBU030-0.001 0.000 0.000 PBU031-0.001 0.000 0.000 PBU032 0.003-0.018-0.002 PBU033 0.004 0.008-0.006 PABU034 0.004 0.014-0.009 PABU035 0.017 0.032 0.006 PABU036 0.002 0.019-0.009 PABU037 0.001 0.016 0.000 PABU038-0.003 0.014 0.004 Point E N H PABU039-0.003 0.007-0.002 PABU040 0.000-0.001 0.000 PABU041 0.000-0.001 0.000 PABU042 0.080-0.006 0.023 PABU043-0.457 0.007-0.466 PABU044 0.012 0.007-0.006 PABU045 0.007 0.002 0.011 PABU046-0.017 0.016 0.026 PABU047 0.012 0.016 0.024 PABU048-0.008 0.003-0.013 PABU049-0.022 0.003-0.009 PABU050-0.038 0.004 0.008 PABU051-0.028 0.001-0.011 PABU052 0.016 0.010-0.042 PABU053 0.060 0.096 0.039 PBU054 0.888 0.441-0.315 PABU055-0.005-0.010 0.000 PABU056 0.015-0.016 0.057 PABU057 0.005-0.007 0.011 PBU058-0.001 0.001-0.001 PBU059-0.151-0.009 0.015 PBU060 0.017-0.013-0.014 PABU061 0.001 0.000 0.000 PABU062 0.001 0.000 0.000 PABU063 0.001 0.000 0.000 PABU064 0.001 0.000 0.000 PABU065 0.008-0.007 0.013 PABU066 0.003-0.005 0.002 PABU067 0.002 0.000 0.000 PABU068 0.001 0.002-0.001 PABU069-0.013-0.001 0.014 PABU070-0.007-0.002 0.000 Perbedaan antara koordinat hasil pengolahan Ski-Pro 3.0 oleh tim batas daerah Kabupaten Bandung dan koordinat hasil pengolahan Ski-Pro 2.1 oleh sendiri yang cukup besar disebabkan pada pengolahan data yang dilakukan oleh sendiri pada titik PABU 010, PABU043, PBU054, PBU059,PBU060 terdapat pengolahan data yang ambiguitasnya tidak dapat dipecahkan disebabkan data pengamatannya GPS kurang bagus.untuk titik pilar yang ambiguitas fase tidak bisa resolve(terpecahkan), hasil 72

koordinat pengolahan sendiri merupakan hasil pengolahan berulang-ulang kali dengan strategi pengolahan yang berbeda. Pada titik pilar PABU 001, PBU 003, PABU 011, PBU 012, PBU 022 dan PBU 023 pengolahan datanya ambiguitasnya terpecahkan sehingga didapatkan nilai koordinat dengan standar deviasi yang kecil. Standar deviasi untuk PBU/PABU adalah +15 cm,sehingga untuk titik pilar batas PABU 001, PBU 003, PABU 011, PBU 012, PBU 022,PBU 023 dengan ketelitian dibawah +15 cm maka hasil koordinat yang diolah sendiri memenuhi toleransi. Untuk titik pilar PABU 001, PBU 003, PABU 011, PBU 012, PBU 022,dan PBU 023 yang pengolahan data dengan ambiguitas fase terpecahkan, diolah kembali dengan menggunakan software komersial lainnya yaitu TGO(Trimble Geomatics Office). Pengolahan dengan TGO(Trimble Geomatics Office) untuk membandingkan hasil koordinat pengolahan data, dengan begitu bisa diprediksi hasil koordinat mana yang salah. Hasil pengolahan data dengan software TGO pada tabel di bawah ini : Tabel 4.5 Hasil pengolahan data dengan memakai TGO(Trimble Geomatics Office) Point E N H sd E sd N sd H PBU001 760382.813 9214952.828 1503.889 0.035 0.014 0.052 PBU003 760521.674 9215622.100 1492.872 1.391 0.289 0.779 PABU011 769391.021 9220178.212 1331.112 0.170 0.030 0.123 PBU012 770135.714 9220152.024 1278.893 0.116 0.028 0.070 PBU022 774598.693 9226741.006 1029.306 0.005 0.004 0.011 PBU023 774646.113 9227203.751 1085.215 0.003 0.002 0.005 Tabel 4.6 Selisih hasil koordinat TGO(Trimble Geomatics Office) dengan hasil koordinat tim batas daerah Kabupaten Bandung Point E N H PBU001-0.722 0.219-0.251 PBU003-51.7822 10.878 2.8205 PABU011 0.6953 0.1196 0.2778 PBU012-5.6552-1.0426-1.9902 PBU022 0.0097-0.0629-0.0241 PBU023-0.0413-0.0212 0.0098 73

Tabel 4.7 Selisih hasil koordinat TGO(Trimble Geomatics Office) dengan hasil koordinat Ski-Pro 2.1 oleh sendiri Point E N H PBU001-0.077 0.029-0.118 PBU003-0.563-0.026 0.327 PABU011 0.033 0.009 0.207 PBU012-0.96 0.016-0.856 PBU022 0.13 0.519 9.727 PBU023 0.142 0.529 9.743 Hasil koordinat pengolahan titik PBU003,PABU011,PBU012,PBU022,PBU023 dengan strategi pengolahan iono free float, code only, phase pada tabel 4.5 dibawah ini: Tabel 4.8 Hasil pengolahan dengan strategi pengolahan iono free float, code only, phase Point E N h sd E sd N sd h Keterangan PBU003 760522.111 9215621.859 1491.848 0.056 0.049 0.310 code only PBU003 760521.898 9215622.153 1492.933 0.053 0.046 0.096 phase only PBU003 760521.568 9215621.985 1492.448 0.583 0.388 1.347 float PBU003 760522.245 9215614.229 1494.912 0.327 0.309 1.081 spp PABU011 769391.288 9220178.768 1332.169 0.031 0.029 0.090 code only PABU011 769390.442 9220178.204 1330.340 0.099 0.015 0.028 phase only PABU011 769391.710 9220178.259 1332.591 0.352 0.048 0.236 float PABU011 769388.665 9220182.720 1318.433 0.190 0.153 0.431 spp PBU012 770136.644 9220152.470 1280.237 0.055 0.027 0.119 code only PBU012 770141.3646 9220153.0619 1280.9080 0.0319 0.0132 0.0305 phase only PBU012 768822.138 9214592.646 1282.995 0.000 0.000 0.000 float PBU012 770135.409 9220156.973 1281.007 0.447 0.290 1.208 spp PBU022 774598.0741 9226740.7290 1020.6590 0.0204 0.0188 0.0450 code only PBU022 774598.5477 9226740.5394 1019.5893 0.0012 0.0012 0.0030 phase only PBU022 774598.7572 9226740.4927 1019.8322 0.0295 0.0068 0.0271 float PBU022 774599.9724 9226744.5843 1031.6444 0.2202 0.2406 0.6214 spp PBU023 774645.8755 9227202.9241 1075.5918 0.0100 0.0072 0.0260 code only PBU023 774646.0183 9227203.2432 1075.4673 0.0006 0.0005 0.0017 phase only PBU023 774645.9792 9227203.2142 1075.5231 0.0123 0.0026 0.0049 float PBU023 774645.0186 9227205.6215 1067.8428 0.1905 0.1775 0.5135 spp Selisih hasil pengolahan dengan strategi pengolahan iono free float, code only, phase only dan SPP(Single Point Positioning) dengan pengolahan yang dilakukan dengan metode differensial pada pengolahan sendiri, tim batas dan TGO. Perbedaan hasil tersebut seperti pada tabel 4.8 74

Tabel 4.9 Selisih hasil koordinat dengan hasil pengolahan sendiri, tim batas, dan TGO PBU003 Selisih dengan Ski-Pro2.1 Selisih dengan tim batas selisih dengan TGO strategi E N H E N H E N H code -0.127-0.267-0.697-51.346 10.637 1.797 0.436-0.241-1.024 phase -0.339 0.026 0.388-51.558 10.930 2.882 0.224 0.052 0.061 float -0.669-0.142-0.097-51.888 10.763 2.396-0.106-0.115-0.424 SPP 0.007-7.898 2.367-51.212 3.006 4.860 0.570-7.872 2.040 PABU011 Selisih dengan Ski-Pro2.1 Selisih dengan tim batas selisih dengan TGO strategi E N H E N H E N H code 0.299 0.565 1.264 0.961 0.675 1.335 0.266 0.556 1.057 phase -0.546 0.001-0.565 0.116 0.112-0.494-0.579-0.008-0.772 float 0.721 0.056 1.686 1.383 0.167 1.757 0.688 0.047 1.479 SPP -2.323 4.516-12.472-1.661 4.627-12.401-2.356 4.508-12.679 PBU012 Selisih dengan Ski-Pro2.1 Selisih tim batas selisih pengolahan TGO strategi E N H E N H E N H code -0.030 0.462 0.488-4.725-0.597-0.647 0.930 0.446 1.344 phase 4.691 1.054 0.024-0.005-0.005 0.024 5.651 1.038 2.015 float 0.376 0.510 0.675-4.319-0.548-1.315 1.336 0.494 0.675 SPP -1.265 4.965 0.770-5.961 3.907 0.123-0.305 4.949 2.113 PBU022 Selisih dengan Ski-Pro2.1 Selisih dengan tim batas selisih dengan TGO strategi E N H E N H E N H code -0.489 0.241 1.081-0.609-0.340 1.081-0.619-0.277-8.646 phase -0.015 0.052 0.011-0.135-0.530 0.011-0.145-0.467-9.716 float 0.194 0.005 0.254 0.074-0.576 0.254 0.064-0.514-9.473 SPP 1.409 4.097 12.066 1.289 3.515 12.066 1.279 3.578 2.339 PBU023 Selisih dengan Ski-Pro2.1 Selisih dengan tim batas selisih dengan TGO strategi E N H E N H E N H code -0.096-0.298 0.120-0.279-0.848-9.613-0.238-0.827-9.623 phase 0.047 0.021-0.004-0.136-0.529-9.737-0.095-0.508-9.747 float 0.008-0.008 0.052-0.175-0.558-9.682-0.134-0.537-9.691 SPP -0.953 2.400-7.629-1.136 1.850-17.362-1.095 1.871-17.372 Pada titik PBU001,PBU003, PABU011,PBU012 selisih koordinat antara hasil pengolahan tim batas Kabupaten Bandung lebih besar dibanding dengan selisih antara pengolahan dengan TGO(Trimble Geomatics Office) dengan hasil koordinat dengan Ski- Pro 2.1 seperti pada tabel 4.4 dan tabel 4.5 dan dilakukan pengolahan pada Ski-Pro 2.1 75

dengan strategi pengolahan iono free float, code only, phase only dan SPP(Single Point Positioning) didapatkan perbedaan hasil koordinat tiap strategi pengolahan dimana hasil pengolahan dengan Ski-Pro 2.1 lebih baik dibanding dengan pengolahan yang dilakukan oleh tim batas dan TGO (Trimble Geomatics Office). Jadi untuk titik PBU001,PBU003, PABU011 dan PBU012 koordinat yang benar adalah koordinat yang dilakukan oleh sendiri. Pada titik PBU022, PBU023 perbedaan selisih koordinat hasil pengolahan tim batas Kabupaten Bandung lebih kecil dibandingkan dengan hasil koordinat yang diolah Ski- Pro 2.1 oleh sendiri. Dengan melakukan pengolahan data dengan strategi pengolahan iono free float, code only, phase only dan SPP(Single Point Positioning) pada Ski-Pro 2.1 didapatkan hasil pengolahan Ski-Pro 2.1 lebih baik daripada pengolahan yang dilakukan tim batas dan TGO (Trimble Geomatics Office). Penyebab perbedaan hasil koordinat pengolahan data yang cukup besar disebabkan oleh data hasil pengamatan yang kurang bagus, strategi pengolahan data yang berbeda untuk setiap titik pilar batas, perbedaan software pengolahan data, dan kesalahan titik kontrol sementara untuk mengukur setiap titik pilar batas Kabupaten Bandung. Data GPS batas daerah Kabupaten Bandung yang tidak dapat sehingga tidak bisa diolah untuk kontrol kualitas hasil pengolahan data oleh tim batas daerah Kabupaten Bandung dan dibandingkan nilai koordinatnya yaitu titik pilar batas kabupaten Bandung pada PBU 002,PBU024, PBU025, PBU026, PBU027. Kontrol kualitas titik base Rancabali Pada laporan disebutkan koordinat titik rancabali yang diolah oleh tim batas Kabupaten Bandung : X= -1890046.541 Y=6041767.798 Z= -789249.209 Dan hasil pengolahan yang dilakukan didapatkan hasil X= -1890046.4630 Y=6041767.711 Z= -789249.197 Perbedaan titik Rancabali adalah X = 0.0783 Y= -0.0869 Z= 0.0120 dengan hasil pengolahan sendiri. Jadi titik base rancabali bukan penyebab perbedaan koordinat yang besar pada PBU001 dan PBU003. 76