III. METODE PENELITIAN

dokumen-dokumen yang mirip
METODE PENELITIAN. Pengukuran Besaran Elektrik Laboratorium Teknik Elektro Terpadu Jurusan

BAB II IMPEDANSI SURJA MENARA DAN KAWAT TANAH

II. TINJAUAN PUSTAKA

BAB III PELINDUNG SALURAN TRANSMISI. keamanan sistem tenaga dan tak mungkin dihindari, sedangkan alat-alat

Studi Pengaruh Lokasi Pemasangan Surge Arrester pada Saluran Udara 150 Kv terhadap Tegangan Lebih Switching

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

Proteksi Terhadap Petir. Distribusi Daya Dian Retno Sawitri

Dasman 1), Rudy Harman 2)

SISTEM PROTEKSI TERHADAP TEGANGAN LEBIH PADA GARDU TRAFO TIANG 20 kv

Sela Batang Sela batang merupakan alat pelindung surja yang paling sederhana tetapi paling kuat dan kokoh. Sela batang ini jarang digunakan pad

BAB I PENDAHULUAN. dibangkitkan oleh sebuah sistem pembangkit perlu mengalami peningkatan nilai

STUDI KARAKTERISTIK TRANSIEN LIGHTNING ARRESTER PADA TEGANGAN MENENGAH BERBASIS PENGUJIAN DAN SIMULASI

PEMODELAN PERLINDUNGAN GARDU INDUK DARI SAMBARAN PETIR LANGSUNG DI PT. PLN (PERSERO) GARDU INDUK 150 KV NGIMBANG-LAMONGAN

BAB III METODOLOGI PENELITIAN

SIMULASI DAN ANALISIS PENGARUH TEGANGAN LEBIH IMPULS PADA BELITAN TRANSFORMATOR DISTRIBUSI 20 KV

STUDI TEGANGAN LEBIH IMPULS AKIBAT PENGGUNAAN KONFIGURASI MIXED LINES (HIGH VOLTAGE OVERHEAD-CABLE LINES) 150 KV

2 BAB II TINJAUAN PUSTAKA

FAKTOR - FAKTOR YANG MEMPENGARUHI RESPON TRANSIEN PEMBUMIAN GRID

DAMPAK PEMBERIAN IMPULS ARUS TERHADAP KETAHANAN ARRESTER TEGANGAN RENDAH

STUDI PERENCANAAN SISTEM PERLINDUNGAN PETIR EKSTERNAL DI GARDU INDUK 150 KV NEW-TUREN

BAB II KAJIAN PUSTAKA

L/O/G/O RINCIAN PERALATAN GARDU INDUK

II. TINJAUAN PUSTAKA. (updraft) membawa udara lembab. Semakin tinggi dari permukaan bumi, semakin

BAB III PROTEKSI SALURAN UDARA TEGANGAN MENENGAH (SUTM) TERHADAP SAMBARAN PETIR

KOORDINASI ISOLASI. By : HASBULLAH, S.Pd., MT ELECTRICAL ENGINEERING DEPT. FPTK UPI 2009

TINJAUAN PUSTAKA. shielding tiang penangkal dan kawat pada gardu induk. Adapun tujuan dari sistem

DAFTAR ISI PUSPA LITA DESTIANI,2014

STUDI PENGARUH KONFIGURASI 1 PERALATAN PADA SALURAN DISTRIBUSI 20 KV TERHADAP PERFORMA PERLINDUNGAN PETIR MENGGUNAKAN SIMULASI ATP/EMTP

Studi Analisis Gangguan Petir Terhadap Kinerja Arrester Pada Sistem Distribusi Tegangan Menengah 20 KV Menggunakan Alternative Transient Program (ATP)

OPTIMASI PELETAKKAN ARESTER PADA SALURAN DISTRIBUSI KABEL CABANG TUNGGAL AKIBAT SURJA PETIR GELOMBANG PENUH

Analisis Pengaruh Resistansi Pentanahan Menara Terhadap Terjadinya Back Flashover

BAB IV MENENTUKAN KAPASITAS LIGHTNING ARRESTER

Analisa Perancangan Gardu Induk Sistem Outdoor 150 kv di Tallasa, Kabupaten Takalar, Sulawesi Selatan

EVALUASI ARRESTER UNTUK PROTEKSI GI 150 KV JAJAR DARI SURJA PETIR MENGGUNAKAN SOFTWARE PSCAD

BAB III LIGHTNING ARRESTER

Vol.3 No1. Januari

ANALISIS ARUS TRANSIEN PADA SISI PRIMER TRANSFORMATOR TERHADAP PELEPASAN BEBAN MENGGUNAKAN SIMULASI EMTP

BAB IV ANALISA DAN PEMBAHASAN

Kata Kunci Proteksi, Arrester, Bonding Ekipotensial, LPZ.

STUDI KARAKTERISTIK TRANSIEN LIGHTNING ARRESTER PADA TEGANGAN MENENGAH BERBASIS PENGUJIAN DAN SIMULASI

JURNAL TEKNIK POMITS Vol. 1, No. 1, (2012) 1-6 1

III. METODOLOGI PENELITIAN. Penelitian ini akan dilakukan di bawah konduktor Gardu Induk Teluk Betung

BAB III TEORI DASAR DAN DATA

LEMBAR JUDUL LEMBAR PENGESAHAN

Penentuan Nilai Impedansi Pembumian Elektroda Batang Tunggal Berdasarkan Karakteristik Response Impuls

Kata Kunci Pentanahan, Gardu Induk, Arus Gangguan Ketanah, Tegangan Sentuh, Tegangan Langkah, Tahanan Pengetanahan. I. PENDAHULUAN

BAB III LIGHTNING ARRESTER

Oleh: Dedy Setiawan IGN SatriyadiI H., ST., MT. 2. Dr. Eng. I Made Yulistya N., ST., M.Sc

PEMELIHARAAN DAN PERTIMBANGAN PENEMPATAN ARRESTER PADA GARDU INDUK 150 KV PT. PLN (PERSERO) P3B JB REGION JAWA TENGAH DAN DIY UPT SEMARANG

Analisa Rating Lightning Arrester Pada Jaringan Transmisi 70 kv Tomohon-Teling

PENGGUNAAN ATP DRAW 3.8 UNTUK MENENTUKAN JUMLAH GANGGUAN PADA SALURAN TRANSMISI 150 kv AKIBAT BACKFLASHOVER

Studi Pengaman Tegangan Lebih pada Saluran Kabel Tegangan Tinggi 150kV yang Dilindungi oleh Arester Surja

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA

ANALISIS PERLINDUNGAN TRANSFORMATOR DISTRIBUSI YANG EFEKTIF TERHADAP SURJA PETIR. Lory M. Parera *, Ari Permana ** Abstract

Vol.12.No.1. Februari 2012 Jurnal Momentum ISSN : X

BAB II LANDASAN TEORI

SISTEM PROTEKSI TERHADAP SAMBARAN PETIR LANGSUNG (DIRECT STRIKE) KE GARDU INDUK. Sudut Lindung. Menara Transmisi Dan Gardu Induk

BAB III SISTEM PROTEKSI DAN ANALISA HUBUNG SINGKAT

Analisis Kinerja Lightning Arester Pada Jaringan Transmisi 150 kv Sistem Minahasa Khususnya Pada Penyulang Kawangkoan - Lopana

BAB II DASAR TEORI. 2.1 Isolator. Pada suatu sistem tenaga listrik terdapat berbagai bagian yang memiliki

I Gusti Ngurah Satriyadi Hernanda, ST. MT Dr. Eng. I Made Yulistya Negara, ST. M.Sc

BAB III LANDASAN TEORI

EVALUASI SISTEM PENTANAHAN TRANSFORMATOR DAYA 60 MVA PLTGU INDRALAYA

PEMAKAIAN DAN PEMELIHARAAN ARRESTER GARDU INDUK 150 KV UNGARAN PT. PLN (PERSERO) APP SEMARANG

BAB II LANDASAN TEORI

Analisis Perbandingan Shielding Gardu Induk Menggunakan Model Electrogeometric

TUGAS PAPER MATA KULIAH SISTEM PROTEKSI MENENTUKAN JARAK PEMASANGAN ARRESTER SEBAGAI PENGAMAN TRAFO TERHADAP SAMBARAN PETIR

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang

PENENTUAN LETAK OPTIMUM ARRESTER PADA GARDU INDUK (GI) 150 kv SIANTAN MENGGUNAKAN METODE OPTIMASI

SIMULASI PENENTUAN NILAI TAHANAN PENTANAHAN MENARA TRANSMISI 150 KV TERHADAP BACKFLASHOVER AKIBAT SAMBARAN PETIR LANGSUNG

BAB II LANDASAN TEORI. Suatu sistem tenaga listrik terdiri dari tiga bagian utama : pusat-pusat

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB II TEORI DASAR GANGGUAN PETIR

BAB III METODE PENELITIAN

BAB 8 ALAT PENGAMAN JARINGAN DISTRIBUSI

DASAR SISTEM PROTEKSI PETIR

ANALISIS SAMBARAN PETIR PADA TIANG TRANSMISI DENGAN MENGGUNAKAN METODE LATTICE

Abstrak. 1.2 Tujuan Mengetahui pemakaian dan pemeliharaan arrester yang terdapat di Gardu Induk 150 kv Srondol.

STUDI PERENCANAAN KOORDINASI RELE PROTEKSI PADA SALURAN UDARA TEGANGAN TINGGI GARDU INDUK GAMBIR LAMA - PULOMAS SKRIPSI

PROSES DAN SISTEM PENYALURAN TENAGA LISTRIK OLEH PT.PLN (Persero)

BAB IV DATA DAN PEMBAHASAN. Dalam penelitian ini menggunakan data plant 8 PT Indocement Tunggal

BAB II LANDASAN TEORI

PERALATAN KOPLING POWER LINE CARRIER

PERTEMUAN VIII SISTEM PER UNIT DAN DIAGRAM SEGARIS

LAPORAN AKHIR GANGGUAN OVERLOAD PADA GARDU DISTRBUSI ASRAMA KIWAL

LAPORAN MINGGUAN OJT D1 MINGGU XIV. GARDU INDUK 150 kv DI PLTU ASAM ASAM. Oleh : MUHAMMAD ZAKIY RAMADHAN Bidang Operator Gardu Induk

ARESTER SEBAGAI SISTEM PENGAMAN TEGANGAN LEBIH PADA JARINGAN DISTRIBUSI TEGANGAN MENENGAH 20KV. Tri Cahyaningsih, Hamzah Berahim, Subiyanto ABSTRAK

BAB I PENDAHULUAN. fenomena partial discharge tersebut. Namun baru sedikit penelitian tentang

ANALISIS GANGGUAN PETIR AKIBAT SAMBARAN LANGSUNG PADA SALURAN TRANSMISI TEGANGAN EKSTRA TINGGI 500 kv

STUDI PENGARUH KORONA TERHADAP SURJA TEGANGAN LEBIH PADA SALURAN TRANSMISI 275 kv

BAB II DASAR TEORI. hari. Jumlah hari guruh yang terjadi pada suatu daerah dalam satu tahun disebut

ANALISIS PENGARUH DIAMETER DAN PANJANG ELEKTRODA PENTANAHAN ARESTER TERHADAP PERLINDUNGAN TEGANGAN LEBIH

BAB III PERENCANAAN INSTALASI SISTEM TENAGA LISTRIK

Analisa Koordinasi Isolasi Peralatan di Gardu Induk Teling 70 kv

PERENCANAAN SISTEM TRANSMISI TENAGA LISTRIK

MAKALAH OBSERVASI DISTRIBUSI LISTRIK di Perumahan Pogung Baru. Oleh :

Analisa Sambaran Petir Terhadap Kinerja Arrester pada Transformator Daya 150 kv Menggunakan Program ATP

BAB III PERANCANGAN ALAT

NASKAH PUBLIKASI EVALUASI KEAMANAN PADA SISTEM PENTANAHAN GARDU INDUK 150 KV JAJAR. Diajukan oleh: HANGGA KARUNA D JURUSAN TEKNIK ELEKTRO

SISTEM PROTEKSI RELAY

Transkripsi:

III. METODE PENELITIAN A. Tempat Penelitian Penelitian tugas akhir ini dilakukan di Gardu Induk 150 KV Teluk Betung Tragi Tarahan, Bandar Lampung, Provinsi Lampung. B. Data Penelitian Untuk mendukung terlaksananya penelitian ini maka diperlukan berbagai macam data peralatan yang terdapat pada Gardu Induk Teluk Betung. Data peralatanperalatan tersebut antara lain: 1. Data Menara Transmisi Bahan tiang : Besi Galvanis Tinggi menara : 31 m Jenis Konduktor : ACSR Diameter konduktor : 240 mm 2 Inom konduktor : 645 A 2. Data Kawat Tanah Tipe konduktor Diameter Tinggi tiang kawat tanah : Tembaga : 1,3 cm : 18 m

21 3. Data Kawat Fasa Tipe konduktor Diameter : Aluminium : 3 cm 4. Data Sistem Pentanahan Menara Jenis sistem pentanahan : Driven rod empat batang konduktor Panjang konduktor : 5 m Diameter konduktor : 1,3 cm Resistivitas tanah : 50 Ωm Jarak antara konduktor (S1) : 10 m Jarak antara konduktor (S2) : 10 2 m Tahanan rata-rata : 2,3Ω 5. Data Isolator Saluran Bahan isolator Jumlah Panjang rentengan BIL : Kaca, Keramik : 11 piring isolator : 1,606 m : 750 KV 6. Data Lightning Arrester Manufacturer : BOWTHORPE EMP LIMITED MBA 4-150 Frequency : 50 Hz 7. Data Current Transformer Manufacturer : GEC ALSTHOM BALTEAU QDR 170 Standard : IEC 185 Nominal voltage : 150 kv Highest system voltage : 170 kv

22 Frequency BIL : 50 Hz : 750 kv 8. Data Voltage Transformer Manufacturer : GEC ALSTHOM BALTEAU CCV 170 Standard : IEC 186 Nominal voltage : 150 kv Highest system voltage : 170 kv Frequency : 50 Hz BIL : 750 kv 9. Data Transformator Daya Manufacturer : UNINDO Rated voltage in KV : 150 KV Rated current : 161,7/230,9 Connection : star Rated power frequency : 275 KV withstand voltage Rated lightning impulse withstand : 750 KV voltage 1,2/50 mikro-sec

23 C. Prosedur Penelitian Penelitian ini dilakukan dengan perhitungan untuk menghitung nilai variabel yang akan dimasukkan pada simulasi dan selanjutnya dilakukan simulasi menggunakan software Alternative Transiens Program (ATP). ATP merupakan sistem program universal yang digunakan untuk simulasi digital terhadap gejala fenomena transien serta sifat elektromekanis dalam sistem tenaga elektrik. Dengan program digital ini, jaringan yang kompleks dan sistem kontrol dapat disimulasikan [12]. Software ATP dipilih untuk penelitian ini karena ATP memiliki fitur-fitur yang lengkap untuk simulasi tegangan lebih transien, namun dengan sistem operasi user yang tidak terlalu kompleks dan data yang dimasukkan dalam program simulasi dapat menggunakan data yang real sehingga hasil yang didapat akan lebih mendekati keadaan yang sebenarnya. ATP memiliki kemampuan pemodelan yang luas dan fitur penting tambahan selain perhitungan transien. ATP memprediksi variabel kepentingan dalam jaringan tenaga listrik sebagai fungsi waktu, biasanya dimulai oleh beberapa gangguan. ATP memiliki banyak model termasuk motor, transformator, surja arrester, saluran transmisi, dan kabel. MODELS (bahasa simulasi) pada ATP ditujukan sebagai bahasa deskripsi yang didukung oleh serangkaian alat simulasi untuk representasi dan studi tentang sistem varian waktu. Sebagai tujuan umum pemrograman, MODELS dapat digunakan untuk hasil simulasi pengolahan baik dalam domain frequency atau dalam domain waktu.

24 TACS (Transien Analysis of Control Systems) adalah modul simulasi untuk analisis domain waktu sistem kontrol yang awalnya dikembangkan untuk simulasi kontrol HVDC konverter. Untuk TACS, digunakan sistem diagram blok kontrol. Interface antara jaringan listrik dan TACS dilakukan dengan pertukaran sinyal seperti node tegangan, saklar arus, resistansi variasi waktu serta tegangan dan sumber arus. Kemampuan untuk modul program TACS and MODELS memungkinkan pemodelan sistem kontrol dan komponen dengan karakteristik nonlinear seperti busur api dan korona. Sistem dinamis tanpa jaringan listrik juga dapat disimulasikan dengan menggunakan pemodelan sistem kontrol TACS dan MODELS. Gambar 3.1. berikut ini akan memperlihatkan tampilan pada software ATP. Gambar 3.1. Main Window ATP [12]

25 Gangguan simetris atau tidak simetris dapat dibuat, seperti surja petir dan beberapa jenis operasi switching. Model pada ATP terdiri dari komponen sebagai berikut : element R,L,C, saluran transmisi, dan kabel, resistansi nonlinear dan induktansi, transformator, surge arrester, saklar, dioda, thyristor, triacs, mesin sinkron 3 fasa. Adapun prosedur dalam penelitian ini yaitu : 1. Penyiapan Data-Data dan Spesifikasi Peralatan Data-data yang diperlukan dalam penelitian ini adalah konfigurasi menara transmisi, sistem pentanahan, isolator saluran, data kawat konduktor, BIL peralatan pada Gardu Induk 150 KV Teluk Betung, serta data spesifikasi setiap peralatan yang terdapat pada switchyard Gardu Induk 150 KV Teluk Betung. 2. Perhitungan Parameter Saluran Perhitungan yang akan dilakukan adalah sebagai berikut : a. Impedansi Surja Menara Impedansi surja menara dihitung menurut rumus-rumus Sargent dan Daveniza [7] : Gambar 3.2. Menara Jenis A [5]

26 Gambar 3.3. Menara Jenis B [5] Gambar 3.4. Menara Jenis C [5] Pada Gambar 3.2. diperlihatkan penampang menara pada menara jenis A. Impedansi surja menara untuk menara jenis A : * + Pada Gambar 3.3. diperlihatkan penampang menara pada menara jenis B. Impedansi surja menara untuk menara jenis B :

27 Dimana : = 60 ln( ) + 90 ( ) - 60 = 60 ln( ) + 90 ( ) - 60 Pada Gambar 3.4. diperlihatkan penampang menara pada menara jenis C. Impedansi surja menara untuk menara jenis C : = 60 [ln ( ) Dimana : = Impedansi surja menara, ohm = Tinggi menara, meter = Impedansi dengan ketebalan menara,ohm = Impedansi dengan jarak antar kaki menara,ohm = Jarak kawat antar menara, meter Jenis menara dan perhitungan yang digunakan pada penelitian ini adalah menara jenis A karena menara transmisi yang digunakan merupakan SUTT 150 kv dengan data menara seperti yang terdapat pada lampiran. b. Menghitung Impedansi Surja Kawat Tanah Untuk 1 Kawat Tanah Zg = 60...3.4. c. Perhitungan Nilai Koefisien a Pada Puncak Menara Untuk Gelombang Datang Dari Dasar Menara a =...3.5.

28 d. Menghitung Koefisien Pantulan b Pada Puncak Menara b = a 1...3.6. e. Menghitung Tegangan Puncak Menara E = s = arus kilat, ka...3.7. f. Perhitungan nilai Koefisien d Pada Dasar Menara Untuk Gelombang Datang Dari Puncak Menara d = R = Tahanan Kaki Menara, ohm...3.8. g. Menghitung Tegangan Pada Isolator perhitungan dilakukan dengan diagram tangga : Vi = e o { (1- K) T + d {{ T 2 ( )}+ (b-ka) (T - + d 2 b [{T - 2( )} + (b Ka)( T ) + d 3 b 2 [{[{T - 2( )}+ (b - Ka)( T )}...3.9. h. Perhitungan Lompatan Api Balik V 50% = (K 1 + ) x 10 3 kv...3.10. Dimana : K 1 = 0,4 W = 0,71 W W = Panjang rentengan isolator, meter = waktu lompatan api isolator, mikro-det

29 i. Penentuan Rating Arrester Setiap arrester memiliki beberapa hal yang diperlukan untuk menentukan rating arrester. Pada tugas akhir ini akan dibahas beberapa hal yang dapat digunakan sebagai pertimbangan penentuan rating arrester untuk gardu induk Teluk Betung. Hal yang menjadi penentuan rating arrester tersebut adalah tegangan pengenal arrester, arus pelepasan kerja arrester. Di bawah ini akan dijelaskan tegangan pengenal arrester dan arus kerja arrester dengan dimasukkan nilai parameternya. 1. Tegangan Pengenal Arrester Untuk mencari besar nilai tegangan pengenal diperlukan untuk mengetahui tegangan tertinggi sistem dan koefisien pentanahan. Sistem yang digunakan diketanahkan secara efektif melalui arrester dan tidak melampaui 80% dari tegangan sistem. Sehingga diperoleh nilai tegangan pengenal arrester sebagai berikut [19] : Uc = Tegangan sistem x 1,1 x koefisien pentanahan = 150 x 1,1 x 0,8 = 132 kv 2. Arus Kerja Arrester Beberapa hal yang diperlukan untuk mengetahui arus kerja dari arrester yang akan digunakan adalah tegangan tembus isolator (Ud), tegangan kerja arrester (Ua), serta besar nilai impedansi surja (Zt) [19]. Untuk besar tegangan tembus isolator dapat dilihat pada lampiran A, sebesar 1320,4 kv. Besar tegangan kerja arrester

30 yang digunakan sebesar 454 kv. Serta besar nilai impedansi surja pada lampiran A diperoleh 141,27 Ω. Sehingga : Ia = = = 15,47 ka j. Perhitungan Tegangan Terminal Transformator [7] T T = 1,15 3. Pembuatan Simulasi Saluran Transmisi dan Gardu Induk Teluk Betung Setelah mendapatkan data dan spesifikasi peralatan maka data-data tersebut akan diolah dan selanjutnya akan dilakukan pemodelan menggunakan software ATP dimana hasil dari pemodelan tersebut selanjutnya akan dianalisis. Pemodelan yang dibuat adalah menara transmisi, kawat fasa, kawat tanah, arrester serta peralatan gardu induk. a. Menara Transmisi Menara transmisi dimodelkan sebagai saluran dimana harga impedansi surjanya tergantung dari penampang menara tersebut. Model menara transmisi yg digunakan pada simulasi ini adalah menggunakan LCC atau Line Constant, Cable Constant. Gambar 3.5. dibawah ini menunjukkan pemodelan menara pada simulasi ATP [11] :

31 Gambar 3.5. Model Menara Transmisi b. Kawat Tanah Kawat tanah sering disebut juga sebagai kawat perisai (shielding wire) yang ditempatkan diatas kawat fasa pada sebuah saluran transmisi. Semakin dekat jarak antara kawat tanah dan kawat fasa maka akan semakin baik tingkat perlindungan. Pada Gambar 3.6. dibawah ini menunjukkan bentuk pemodelan kawat tanah pada simulasi ATP [3] : Gambar 3.6. Model Kawat Tanah c. Kawat Fasa Pada saluran ganda tiga fasa terdapat dua konduktor paralel per fasa dan arus antara kedua konduktor terbagi rata. Gambar 3.7. dibawah ini menunjukkan bentuk pemodelan kawat fasa pada simulasi ATP [3] : Gambar 3.7. Model Kawat Fasa

32 d. Sistem Pentanahan Sistem pentanahan menara yang digunakan di Gardu Induk 150 KV Teluk Betung adalah sistem driven rod empat batang konduktor. Pada Gambar 3.8. menunjukkan sistem pentanahan driven rod empat batang konduktor. S 1 S 2 Gambar 3.8. Sistem Pentanahan Driven Rod Empat Batang Konduktor Dari gambar 3.8. dapat dilihat empat batang konduktor dengan panjang, dimana setiap konduktor memiliki radius dan ditanam tegak lurus dalam tanah, sehingga tahanan ( ), induktansi ( ), dan kapasitansi ( ) pada konduktor adalah [9] : ( ) ( ) [ ]

33 Dimana : = permitivitas relatif tanah = resistivitas tanah, ohm-meter = jarak antara dua buah konduktor, meter Gambar 3.9. dibawah ini menunjukkan bentuk pemodelan pentanahan menara pada simulasi ATP : Gambar 3.9. Model Pentanahan Menara e. Arrester Untuk pemodelan dari lightning arrester pada ATP digunakan model dari standar IEEE WG.3.4.11 tahun 1992 seperti Gambar 3.10. berikut ini : Gambar 3.10. Model Arrester 4. Analisis dan Pembahasan Setelah simulasi rangkaian dilakukan dengan menggunakan software ATP selanjutnya hasil dari simulasi akan dianalisis dan kemudian diambil kesimpulan dari hasil analisis dan pembahasan tersebut.

34 D. Diagram Segaris Sederhana Gardu Induk Untuk membuat pemodelan dari sebuah saluran transmisi dan gardu induk maka diperlukan mengetahui diagram segaris terlebih dahulu. Pada gambar 3.11. dibawah ini menunjukkan diagram segaris sederhana dari sebuah gardu induk : LA Gambar 3.11. Diagram Segaris Gardu Induk Keterangan : a. Saklar Pembumian (ES) b. Saklar Pemisah (DSB, DSL), berfungsi untuk memutus dan menutup rangkaian yang arusnya rendah. c. Transformator Arus (CT), berfungsi untuk pengukuran arus yang besarnya ratusan ampere dan arus yang mengalir dalam jaringan tegangan tinggi. d. Circuit Breaker (CB), berfungsi untuk memutuskan dan menutup jaringan tanpa menyebabkan kerusakan pada pemutus daya. k. Lightning Arrester (LA), berfungsi sebagai pelindung sehingga tegangan lebih surja petir tidak melebihi batas isolasi. f. Transformator Daya (TD)

35 E. Alur Penelitian Mulai Pengumpulan data-data awal : spesifikasi menara, konduktor saluran, isolator, sistem pentanahan menara, arrester [B] Perhitungan pentanahan menara (R, L, C), Perhitungan dari parameter saluran : Zt, Zg, a, b, E, d, Vi Pembuatan model simulasi menara transmisi dan Gardu Induk menggunakan software ATP Masukkan nilai saluran transmisi dan peralatan pada Gardu Induk pada software ATP Simulasi dengan ATP Hasil keluaran pada software ATP Perhitungan Jarak antara Arrester dan Transformator Analisa dan Pembahasan Kesimpulan Selesai Keterangan Alur Penelitian : [B] : Data spesifikasi dapat dilihat pada subbab B. Data Penelitian pada bab ini.