BAB III LIGHTNING ARRESTER
|
|
|
- Sugiarto Lesmana
- 9 tahun lalu
- Tontonan:
Transkripsi
1 BAB III LIGHTNING ARRESTER 3.1 Pendahuluan Gangguan tegangan lebih yang mungkin terjadi pada Gardu induk dapat disebabkan oleh beberapa sumber gangguan tegangan lebih. Perlindungan terhadap gangguan tegangan lebih akibat sambaran petir pada sistem tenaga listrik mencakup perlindungan Gardu induk serta perlindungan hantaran udara. Pemasangan peralatan perlindungan yang dipasang pada saluran udara dimaksud untuk mencegah atau membatasi besarnya gelombang berjalan yang memasuki Gardu Induk. Peralatan proteksi ini berfungsi untuk melindungi peralatan tenaga listrik dengan cara membatasi surja tegangan lebih yang dating dan mengalirkan ke tanah. Berhubung dengan fungsinya tersebut, maka peralatan proteksi harus dapat menahan tegangan 50 Hz untuk waktu yang tak terbatas dan harus melewati surja arus ke tanah dengan tidak merusaknya. Selain itu, sebuah alat 30
2 31 pelindung yang baik harus mempunyai rasio yang tinggi, dalam pengertian perbandingan antara tegangan maksimum yang diperbolehkan pada waktu pelepasan dan tegangan sistem 50 Hz maksimal yang dapat ditahan sesudah pelepasn terjadi. peralatan peralatan proteksi untuk melindungi peralatan Gardu Induk dari tegangan lebih adalah sela batang ( Rod Gap ), sela sekring ( Fuse Gap ), sela control ( Control Gap ), arrester jenis ekspulsi ( Type Lightning Arrester ), dan arrester Janis katup ( Valve Type Lightning Arrester). 3.2 Sela Batang Sela batang merupakan alat pelindung surja yang paling sederhana tetapi paling kuat dan kokoh. Sela batang ini jarang digunakan pada rangkaian yang penting karena tidak dapat memutuskan arus susulan. Artinya jika percikan karena tegangan lebih, api (arc) timbul terus meskipun tegangan lebihnya sudah tidak ada. Oleh sebab itu rangkaian harus diputuskan terlebih dahulu untuk menghentikan percikan api tersebut. Karena hal tersebut, maka sela batang ini digunakan sebagai pelindung cadangan dalam hal arrester dilepaskan dari saluran karena kerusakan atau sebab lain. Keuntungan dari sela batang ialah bentuknya yang sederhana, mudah dibuat dan kuat (rugged). Cacadnya ialah bahwa sekali terjadi percikan karena tegangan lebih api ( arc ) timbul terus meskipun tegangan lebihnya sudah tidak ada, oleh karena itu sirkuit harus diputuskan terlebih dahulu untuk menghentikan percikan api tersebut. Kecuali itu tegangan gagalnya naik lebih tinggi dari pada isolasi yang dilindunginya untuk gelombang berwaktu pendek sehingga diperlukan sela yang sempit untuk gelombang yang curam.
3 32 Oleh karena itu sela batang dapat dipakai untuk perlindungan cadangan ( back up protection ), atau dalam kombinasi dengan CB ( circuit breaker ) yang mempunyai kecepatan menutup kembali ( sesudah dibuka ) yang tinggi (high speed reclose operation ). Sekarang sela batang masih dipakai terutama guna melindungi CB (circuit breaker ) dalam keadaan terbuka terhadap pukulan petir. Gambar 3.1 Sela Batang Sela batang ini biasanya dipasang pada : Bushing isolator pada tranformator Pada isolator hantaran udara berupa tanduk api (arcing horn) Pemutus daya ( circuit breaker ) Meskipun sela batang sangat murah dan sederhana, sela ini mempunyai batasan batasan dalam dalam penggunaanya :
4 33 Sela batang tidak berfungsi jika gelombang dating mempunyai tegangan yang curam Sela batang tidak bias memutuskan arus susulan. Sela batang bias meleleh akibat energi panas dengan temperature tinggi yang dilepaskan melalui bunga api. 3.3 Sela Sekring Sela sekring adalah sela batang yang dihubungkan secara seri dengan sekring dengan sekring yang digunakan untuk mengiterupsikan arus susulan ( power follow current ) sehingga sirkuit breaker tidak perlu membuka. Sela sekring mempunyai karakteristik tembus yang sama dengan sela batang. Meskipun sela sekring ini menghindarkan adanya pemutusan rangkaian sebagai akibat percikan, sela sekring tetap memerlukan penggantian dan perawatan sekring yang telah dipakai. 3.4 Sela Kontrol Sela control ( control gap ) terdiri dari dua buah sela yang diatur sedemikian rupa hingga karakteristiknya mendekati sela bola yang ditinjau dari segi lengkung volt waktunya mempunyai karakteristik lebih baik dari sela batang. Sela ini dapat dipakai bersama atau tanpa sekring meskipun ia dapat dipakai sebagai perlindungan cadangan atau sekunder, ia dianggap sekelas dengan sela batang.
5 Lightning Arrester Lightning Arrester adalah alat proteksi peralatan sistem tenaga listrik terhadap arus listrik, yang berfungsi sebagai alat yang dapat memby-pass ke ground, pada keadaan normal, lightning arrester akan bersifat sebagai isolator dan bila timbul surja Petir akan berfungsi sebagi penghantar/konduktor. Setelah surja itu hilang lightning arrester harus dengan cepat kembali bersifat isolator, sehingga circuit braker (CB) tidak sempat membuka. Lightning arrester ini tidak sama dengan sela batang maupun protection tube, karena arrester bisa memutuskan arus susulan sehingga tidak menggangu sistem secara keseluruhan. Pemakaianya pada sistem tenaga listrik bolak balik. 3.6 Jenis Arrester Lingkup arrester luas, mulai dari penggunaan elektronika hingga pada sistem transmisi tegangan tinggi maupun ekstra tinggi, lightning arrester pada sistem transmisi secara umum dapat dikelompokan sebagai berikut : Arrester Jenis Ekspulsi Atau Tabung Pelindung Arrester jenis ini pada prinsipnya terdiri dari A. Dinding tabung yang terbuat dari bahan yang mudah menghasilkan gas jika dialiri listrik.
6 35 B. Sela batang ( external series gap ) yang biasanya diletakan pada isolator porselin, untuk mencegah arus mengalir dan membakar fiber pada tegangan jala jala setelaj gangguan diatasi. C. Sela pemutus bunga api yang diletakan di dalam tabung, salah satu elektroda dihubungkan ke tanah. Pada waktu tegangan surja melewati sela batang dan sela bunga api, maka impedansi tabung akan menjadi rendah sehingga arus surja akan mengair ke tanah. Arus yang mengalir akan membakar fiber dan menghasilkan gas yang bergerak cepat ke arah lubang pembuangan di bagian bawah arrester. Tekanan gas ini akan mematikan bunga api pada saat arus melalui titik nol pertamanya. Waktu pemadaman busur api ini hanya atau 1 cycle sehingga RRV ( Rate of Recovering Voltage ) lebih lambat dari rate of rise kekuatan dielektrit dari isolasi. Beda waktu ini cukup pendek untuk dibaca oleh rele pendukung. Sehingga circuit breaker tetap bekerja ( tertutup ) dan pelayanan daya tidak terganggu. Setelah api padam, sistem kembali ke keadaan normal. Arrester ini digunakan untuk melindungi trafo distribusi bertegangan 3-15 kv, tetapi belum memadai untuk melindungi trafo daya. selain itu digunakan juga pada saluran transmisi untuk mengurangi besar tegangan surja petir yang masuk ke gardu induk.
7 36 Gambar 3.2 Arrester Ekspulsi Kerugian dari lightning arrester jenis ekspulsi adalah : 1. Arus yang sangat besar akan menyebabkan fiber habis terbakar dan arus yang terlalu kecil tidak cukup untuk menghasilkan gas pada tabung untuk mematikan bunga api. 2. Setiap lightning arrester bekerja permukaan tabung akan rusak karena terbakar Arrester Jenis Katup Pada dasarnya lightning arrester ini terdiri dari dua buah unsur, yaitu : sela api ( spark gap ) dan tahanan tak linier atau tahanan kran ( valve resistor ) yang keduanya dihubungkan secara seri. Batas atas dan batas bawah dari tegangan percikan ditentukan oleh tegangan sistem maksimum dan oleh tingkat isolasi peralatan yang
8 37 dilindungi. Sebenarnya arrester ini terdiri dari tiga unsur, yaitu sela api, tahanan non linier dan sistem pengaturan atau pembagi tegangan. ( Gradling system ). Arrester jenis ini dinamakan valve arrester, sebab impedansinya dapat mengatur sendiri untuk aliran arus dan tegangan terbatas. Perbadaan utama kedua type expiltion dan valve yaitu untuk valve besarnya arus dibatasi oleh arrester itu sendiri dan tidak tergantung pada kapasitas sistem. Sedangkan tipe expultion ditentukan oleh karakteristik sistem, dari sini terlihat bahwa arrester type valve mempunyai tingkat pengaman yang lebih tinggi. Arrester jenis ini ummunya dipakai untuk melindungi alat-alat yang mahal pada rangkaian, biasanya dipakai untuk melindungi trafo daya. Arrester katup ini dibagi menjadi empat jenis, yaitu sebagai berikut. : A. Arrester Katup Jenis Gardu Pemakaiannya secara umum pada gardu induk besar untuk melindungi alat-alat yang mahal pada rangkaian mulai dari 2,4-287 kv. Gambar 3.3 Arrester Katup Jenis Gardu
9 38 B. Arrester Katup Jenis Saluran Arrester jenis saluran lebih murah dari arrester gardu. Arrester jenis saluran ini dipakai pada sistem tegangan kv. C. Arrester Katup Jenis Distribusi Seperti namanya arrester ini digunakan untuk melindungi transformator pada saluran distribusi. Arrester jenis ini dipakai pada peralatan dengan tegangan volt. D. Arrester Katup Jenis Gardu untuk Mesin mesin Arrester jenis gardu ini khusus untuk melindungi mesin-mesin berputar. Pemakaiannya untuk tegangan 2,4-15 kv. Prinsip kerjanya arrester ini terdiri dari dua unsur sela api ( spark gap ) dan tahanan tak linier atau tahanan kran ( valve resistor ). Keduanya dihubungkan secara seri, batas atas dan bawah dari tegangan percik ditentukan oleh tegangan sistem maksimum dan oleh tingkat isolasi peralatan yang dilindungi. Seringkali persoalan ini dapat dipecahkan hanya dengan mengetrapkan cara cara khusus pengaturan tegangan ( voltage control ) oleh karena itu sebenarnya arrester ini terdiri dari tiga unsur : sela api, tahanan kran atau tahanan katup dan sistem pengaturan atau pembagian tegangan ( granding sistem ). Setelah diutarakan bila persoalan nya hanya tidak melindungi isolasi terhadap bahaya kerusakan karena gangguan dengan tidak memperdulikan akibat terhadap pelayanan, maka cukup dipakai sela batang yang memungkinkan terjadinya percikan pada waktu tegangan dalam keadaan bahaya.
10 39 Dalam hal ini tegangan sistem bolak balik akan tetap mempertahankan busur api sampai pemutus bebannya dibuka dengan menyambung sela api ini dengan sebuah tahanan, maka apinya dapat dipadamkan. Tetapibila tahananya mempunyai sebuah harga tetap, maka jatuh tegangannya menjadi besar. Pengecilan tahanan berlangsung cepat sekali yaitu selama tegangan lebih mencapai harga puncaknya. Tegangan lebih dalam hal ini mengakibatkan penurunan drastis dari pada tahanan sehingga jatuh tegangannya dibatsi meskipun arusnya besar Arrester Jenis Seng Oksida Arrester seng oksida yang disebut juga metal oxide arrester (MOA) merupakan arrester yang tidak memiliki sela seri, terdiri dari satu atau lebih unit yang kedap udara, yang masing masing berisikan blok-blok tahanan katup sebagai elemen aktif dari arrester. Pada dasarnya prinsip kerja arrester ini sama dengan arrester katup. Karena arrester ini tidak memiliki tahanan sela seri, maka arrester ini sangat bergantung pada tahanan yang ada dalam arrester itu sendiri. Apabila terkena petir, tahanan arrester akan langsung turun sehingga menjadi konduktor dan mengalir petir ke bumi. Namun setelah petir lewat, tahanan kembali naik sehingga bersifat isolator.
11 40 Gambar 3.4 Arrester seng oksida 3.7 Prinsip Kerja Arrester Alat pelindung yang paling sempurna adalah arrester, pada pokoknya arrester terdiri dari dua unsur : sela api ( spark gap ) dan tahanan tak linier atau tahanan kran. Keduanya dihubungkan secara seri batas atas dan batas bawah dari tegangan percikan ditentukan oleh tegangan sistim maksimum dan tingkat isolasi peralatan yang dilindungi. Bila persoalannya hanya melindungi isolasi terhadap bahaya kerusakan karena gangguan tidak memperdulikan akibatnya.
12 41 Dalam hal ini tegangan sistim bolak balik akan tetap mempertahankan busur api sampai pemutus bebannya dibuka. Dengan menyambung sela api ini dengan sebuah tahanan mungkin apinya dapat dipadamkan. Tetapi bila tahanannya mempunyai sebuah harga tetap maka jatuh tegangannya menjadi besar sekali sehingga maksud untuk meniadakan tegangan lebih tidak terlaksana. Oleh sebab itu dipakailah tahanan kran yang mempunyai sifat khusus bahwa tahanannya kecil sekali bila tegangannya dan arusnya besar. Proses pengecilan tahanan berlangsung cepat sekali yaitu selama yaitu selama tegangan lebih mencapai harga puncak puncaknya, tegangan lebih dalam hal ini mengakibatkan penurunan drastis daripada tahanan sehingga jatuh tegangannya dibatasi meskipun arusnya besar.
13 42 Gambar 3.5 Spark Gap Bila tegangan-lebih habis dan tegangan normal tinggal, tahanannya naik lagi sehingga arus susulannya ini akhirnya dimatikan oleh sela api pada waktu tegangan sistimnya mencapai titik nol yang pertama sehingga alat ini bertindak sbagai sebuah keran yang menutup arus. Dari sini didapatkan nama tahanan kran. Karakteristik arus tegangan dari tahanan kran pada Gambar 3.6.
14 43 Gambar 3.6 Arus tahanan dari tegangan kran Keterangan Gambar 3.6 = arus surja = arus susulan V = tegangan dasar = tegangan gagal sela = tegangan sisa a = arus menaik b = arus menurun 1,2 = tahanan linier 3 = tahanan tidak linier
15 44 Pada arrester modern pemadaman arus susulan yang cukup besar ( A) dilakukan dengan bantuan medan magnet. Dalam hal ini, maka baik ampiltudo maupun lamanya arus susulan dapat dikurangi dan pemadamannya dapat dilakukan sebelum tegangan sistem mencapai harga nol. 3.8 Karakteristik Arrester Arrester dipakai untuk menetapkan BIL, maka karakteristiknya perlu diketahui dengan jelas, sebagai berikut: 1. Mempunyai tegangan dasar (rated) 50 c/s yang tidak boleh dilampaui. 2. Mempunyai karakteristik yang dibatasi oleh tegangan ( voltage limiting) bila dilalui oleh berbagai macam petir 3. Mempunyai batas termis. Sudah jelas bahwa arrester adalah sebuah peralatan tegangan dan mempunyai dasar rating (rating) tegangan, maka ia tidak boleh dikenakan tegangan yang melebihi dasar ini, baik dalam keadaan normal maupun dalam keadaan hubung singkat, sebab arrester ini menjalankan fungsinya harus menanggung tegangan sistim normal dan tegangan transien 50 c/s. karakteristik pembatas tegangan impulsdari arrester adalah harga yang dapat ditahannya pada terminalnya bila menyalurkan arus tertentu, harga ini dapat berubah dengan besarnya arus. Karakteristik ini harus dapat dikenal pada waktu singkat, misalnya pada waktu terjadi percikan pada sela bila arrester mulai bekerja (dengan adanya surja), sebelum arusnya mengalir
16 45 Ciri ketiga yang dulu kurang mendapat perhatian cukup adalah batas termisnya yaitu kemampuan untuk melalukan arus surja yang berwaktu lama atau terjadi berulang ulang, misalnya surja hubung tanpa menaikan suhunya. Meskipun kemampuan arrester untuk menyalurkan arus sudah mencapai ampere, tetapi kemampuannya untuk melalukan surja hubung, terutama bila sauran menjadi panjang dan berisi tenaga besar adalah hal lebih penting lagi. Berhubungan dengan hal hal diatas, maka agar supaya tekanan (stresses) pada isolasi dapat dibuat serendah mungkin, suatu sistem perlindungan tegangan lebih perlu memenuhi persyaratan sebagai berikut : 1. Dapat melepaskan tegangan lebh ke tanah tanpa menyebabkan hubung singkat ke tanah ( saturated ground fault ) 2. Dapat memutus arus susulan 3. Mempunyai tingkat perlindungan ( protection level ) yang rendah artinya tegangan percikan sela dan tegangan pelepasannya rendah. Karakteristik pelindung daripada arrester sudah dikenal sejak tahun 1937 dan sesuai dengan perbaikan perbaikan yang dialaminya mengalami perubahan perubahan. Yang menonjol dalam perubahan ini ialah bahwa perbandingan perlindungannya (protective ratio) konstan dalam seluruh jangkauan (range) tegangannya, berarti bahwa tegangan gagal sela dan tegangan pelapasan maksimumnya sebanding dengan tegangan dasarnya untuk suatu bentuk surja tertentu.
17 46 Tegangan gagal sela, disebut juga tegangan percikan pada frekuensi sistim 50 c/s harus mempunyai harga yang tinggi untuk mengurangi seminimum mungkin pelepasan yang disebabkan oleh adanya hubung singkat ke tanah dan surja hubung. Di dalam tabel yang dimasukan sebagai tegangan percikan ialah tegangan percikan pada muka gelombang untuk surja yang mempunyai kecuraman muka 100 kv/µs/12 kv arrester yang diterangkan dalam standar amerika. Tegangan pelepasan disebut juga tegangan sisa (residual) atau jatuh tegangan IR adalah tegangan antara terminal terminal arrester bila sedang melalukan arus surja. Yang dimasukan dalam tabel biasanya ialah tegangan sisa untuk surja arus 10 x 20µs yang besarnya dan A. Tabel 3.1 perbandingan sela gagal untuk Swedia Tegangan Dasar Arrester * (kv) Tegangan Sela Gagal **) (kv) Tegangan Pelapasan (sisa)***) (kv)
18 Tabel 3.2 perbandingan sela gagal untuk Perancis Tegangan Nominal Arrester (kv) Tegangan Sela Gagal **) (kv) Tegangan Pelapasan (sisa) (kv)
19 48 Tabel 3.3 perbandingan sela gagal untuk Amerika Tegangan Dasar Arrester IR pada A *) (kv) Tegangan Sela Gagal **) * (kv) (1940) (1955) (kv)
20 Kegagalan sela yang dipengaruhi oleh kecuraman tegangan yang datang menentukan tegangan pelepasan permulaan pada arrester. Jatuh tegangan pada elemen kran yang tergantung pada kecuraman dan besarnya arus surja menentukan tegangan arrester pada waktu pelepasan.
21 50 Gambar 3.7 Berubahnya tegangan pelepasan terhadap besar dan kecepatan naiknya arus surja 3.9 Parameter parameter Dalam Arrester Ada beberapa parameter dalam arrester yang perlu diketahui sebagai berikut : Arus pelepasan nominal ( Nominal Discharge Current ) Arus pelepasan dengan harga puncak dan bentuk gelombang tertentu yang digunakan untuk menentukan kelas dari arrester yang sesuai dengan kemampuannya melewatkan arus. Untuk gelombang berjalan yang datang dari saluran, arus pelepasan dalam arrester ditentukan oleh tegangan maksimum yang diteruskan oleh isolasinya, oleh
22 51 ompedansi surja pada kawat, dan oleh karakterisrik dari arrester, dapat dilukiskan dengan persamaan sebagai berikut : Iα=.(3.1) Dimana : Iα = Arus pelepasan arrester (ka/µs) E = Besarnya tegangan surja yang datang (Kv/µs) Eα = Tegangan terminal arrester (Kv) Z = Impedansi surja (Ω) Dengan kecuraman gelombangnya :..(3.2) kelas arrester : Menurut IEC, bentuk pelepasan arus gelombang adalah 8µs/ 20 us dengan Kelas arus 10 ka Untuk perlindungan gardu induk yang besar dengan frekuensi sambaran petir yang cukup tinggi dengan tegangan sistem diatas 70 kv Kelas arus 5 ka Untuk tegangan sistem dibawah 40 kv
23 52 Kelas arus 2,5 ka Untuk gardu gardu kecil dengan tegangan sistem dibawah 22 kv, dimana pemakaian kelas 5 ka tidak ekonomis lagi. Kelas arus 1,5 ka Untuk melindungi trafo trafo kecil di daerah daerah pedalaman Tegangan Pengenal Lightning Arrester Untuk menentukan tegangan pengenal arrester dapat menggunakan rumus : = ( V kerja arrester x koefisien pentanahan ) x 110 %..(3.3) Dimana, Ea : Tegangan pengenal arrester V kerja arrester : Tegangan sistem Koefisien pentanahan : 0.8 untuk sistem yang ditanahkan langsung : 1.0 untuk sistem yang tidak ditanahkan langsung Tegangan Frekuensi Jala Jala (power frequensi spark over voltage) Arrester tidak boleh bekerja pada gangguan tegangan lebih dalam amplitude yang rendah karena dapat membahayakan sistem. Untuk alasan ini maka ditentukan tegangan frekuensi jala jala minimum. Menurut standar IEC tegangan frekuensi jala jala minimum adalah :
24 53 1,5 X tegangan pengenal arrester...(3.4) Tegangan Percikan Impuls Maksimum (Maximum Impuls Spark Over Voltage) Tegangan gelombang impuls tertinggi yang terjadi pada terminal arrester sebelum arrester bekerja. Hal ini menunjukan jika tegangan puncak surja petir yang datang mempunyai harga yang lebih tinggi atau sama dengan tegangan percikan maksimum dari arrester, maka arrester tersebut akan bekerja memotong surja petir dan mengalirkannya ke tanah Tegangan Sisa (Residual Voltage) Tegangan yang timbul diantara terminal arrester pada saat arus petir mengalir ke tanah. Tegangan sisa dari suatu arrester tertentu tergantung pada kecuraman gelombang yang datang ( dalam A/µs ) dan amplitude dari arus pelepasan. Untuk harga arus pelepasan yang lebih tinggi maka tegangan sisa ini tidak akan naik lebih tinggi lagi. Hal ini disebabkan karena karakteristik tahanan yang tidak linier dari arrester. Umumnya tegangan sisa tidak akan melebihi TID ( Tingkat Isolasi Dasar ) atau BIL ( Basic Insulation Level ) dari peralatan yang dilindungi Arus Pelepasan Maksimum (Maximum Discharge Current) Arus surja maksimum yang dapat mengalir melalui arrester sebelum tembusnya sela seri tanpa merusak atau merubah karakteristik dari arrester Kordinasi Isolator
25 54 Kordinasi isolator didefinisikan antara kemampuan peralatan peralatan listrik dan rangkaian listrik dari satu pihak dan alat alat proteksi di lain pihak yang dihubungkan sedemikian rupa sehingga isolasi dari peralatan peralatan tersebut terlindung dari bahaya tegangan lebih. Secara keseluruhan isolasi peralatan harus dikoordinasikan sedemikian rupa sehingga menjamin peralatan tersebut tetap aman ketika terjadi gangguan tegangan lebih. Koordinasi isolasi yang baik akan menjamin bahwa isolasi peralatan akan mampu menahan tegangan kerja sistem yang normal dan tidak normal yang mungkin terjadi pada sistem. Masalah koordinasi isolasi pada sistem tenaga menyangkut : 1. Penentuan tingkat isolasi dari isolasi hantaran 2. Menentukan Tingkat Isolasi Dasar (TID) dari peralatan 3. Pemilihan dan letak arrester Penentuan Tingkat Isolasi Hantaran Penentuan isolasi dari hantaran harus mempertimbangkan kemungkinan terjadinya tegangan lebih petir, tegangan lebih swithing dan tegangan lebih frekuensi jala jala. Isolasi hantaran udara harus cukup tinggi untuk mencegah terjadinya kegagalan yang disebabkan oleh tegangan lebih switching dan tegangan lebih frekuensi jala-jala dengan memperhatikan pengaruh lingkungan atau alam yang dapat menurunkan tegangan tembus dari isolator
26 55 1. Usaha Penanggulangan Terhadap Sambaran Petir Langsung Diantara tegangan lebih akibat petir, sambaran langsung pada rel suatu gardu induk atau saluran transmisi dekat kepada gardu induk merupakan bahaya besar terhadap gardu induk. Lagi pula sangat sukar mengamankan gardu induk itu sepenuhnya dengan menggunakan arrester. Sambaran langsung itu memang sangat kecil, tetapi jika terjadi keruakan yang ditimbulkan sangat hebat sekali. Oleh karena itu gardu gardu yang penting dan saluran saluran di dekatnya harus diamankan terhadap sambaran langsung dengan mengadakan perlindungan yang cukup dengan kawat tanah dan pengtanahan yang rendah 2. Usaha Penanggulangan Terhadap Gelombang Yang Datang Dari Saluran Penanggulangan terhadap gelombang petir yang memasuki gardu induk dari saluran transmisi dilakukan dengan mengamankan peralatan terhadap tegangan lebih itu dengan menggunakan arrester dan dengan memberikan kepada peralatan itu kekuatan isolasi terhadap tegangan impuls yang lebih besar dari tingkatan pengamanan arrester Menentukan Tingkat Isolasi Dasar (TID) Dari Peralatan Pada Gardu Induk Berdasarkan pada kesepakatan komite bersama AIEE IEC NEMA, Tingkat Isolasi Dasar (TID) didefinisikan sebagai berikut : tingkat isolasi dasar adalah suatu tingkat referensi yang dinyatakan dalam tegangan puncak dengan standar gelombang dari 1,2 x 50µs, sehingga isolasi dari peralatan peralatan listrik
27 56 mempunyai karakteristik tahanan impuls sama atau lebih tinggi dari isolasi dasar tersebut. Sebagian besar peralatan di Gardu Induk sperti trafo, pemutus daya, saklar pemisah, trafo arus, trafo tegangan dibuat dengan tingkat isolasi yang sama kecuali tarafo yang kadang kadang diproduksi dengan isolasi yang rendah dengan alas an ekonomis dan trafo umumnya dilindungi langsung oleh arrester. Peralatan peralatan ayang terletak di luar daerah lindung arrester akan di berikan TID satu tingkat lebih tinggi. pada umumnya tingkat isolasi dari peralatan di gardu seperti pemutus daya, busbar, saklar pemisah, trafo pengukuran mempunyai TID 10% lebih tinggi dari TID trafo Pemilihan Dan Letak Lightning Arrester Untuk penyederhanaan dalam pemilihan arrester ditetukan terlebih dahulu langkah langkah yang diperlukan : 1. Menentukan besarnya tegangan lebih satu phasa ke tanah atau tegangan lebih lain sebagai akibat kerja sistem yang tidak normal pada lokasi dimana arrester dipasang. 2. Membuat perkiraan besarnya tegangan arrester (Eα). 3. Memilih arus impuls yang diperkirakan akan dilepas melalui arrester. 4. Menentukan tegangan pelepasan maksimum ( tegangan kerja, tegangan sisa ) dari arrester untuk arus impuls dan jenis penangkap petir yang dipilih.
28 57 5. Menentukan tingkat ketahanan tegangan impuls gelombang penuh dari peralatan yang akan dilindungi. 6. Memastikan bahwa tegangan kerja arrester berada dibawah TID peralatan dengan faktor perlindungan yang cukup. 7. Menentukan jarak perlindungan antara arrester dengan peralatan yang akan dilindungi. Tabel 3.4 jarak maksimum antar arrester beragam tingkat tegangan Tegangan Nominal (kv) BIL (kv) Daya pengenal arrester Jarak maksimum yang di izinkan 80 % 90% 100% Untuk menentukan tegangan arrester terdapat 2 hal yang harus diperhatikan yaitu:
29 58 1. ketahanan arrester terhadap frekuensi kerja yaitu terutama pada saat terjadi gangguan satu fasa ke tanah, tegangan fasa yang tidak terganggu akan naik tergantung sistem pentanahannya. 2. Didasarkan pada pengaman terhadap alat yang diamankan, apa yang disebut sebagai savety margin Penempatan Arrester Pada Gardu Induk Gandul 150 Kv Arrester yang berfungsi sebagai pengaman terhadap tegangan lebih dari sambaran petir secara langsung maupun secara induksi harus dapat mengamankan peralatan utama pada instalasi gardu induk seperti transformator, pemutus tegangan, trafo arus, trafo tegangan, peralatan untuk sistem informasi pada GI (wafe trap) serta peralatan lainnya. Penempatan arrester harus dirancang sedemikian rupa sehingga peralatan tenaga listrik yang diamankan (dilindungi) pada gardu induk terhadap tegangan lebih akibat sambaran petir tidak mengalami kerusakan. Gambar 3.8 konstruksi pemasangan arrester pada gardu induk gandul
30 59 Gardu induk gandul 150 kv merupakan salah satu jenis gardu induk tipe konvensional yaitu gardu yang terdiri dari semua instalasi peralatan gardunya (switch yard ) dipasang pada lapangan terbuka. Keuntungan menggunakan gardu induk tipe konvensional adalah bersifat fleksibel. Pemeliharaan pada setiap peralatan dapat dilakukan dengan mudah, sedangkan kerugian menggunakan gardu induk tipe konvensional adalah lahan yang lebih luas dan lebih sering mengalami gangguan Jarak Maksimum Arrester meskipun yang paling baik adalah menenpatkan arrester sedekat mungkin dengan alat yang dilindungi, tetapi dalam praktiknya kadang kadang hal ini tidak dimungkinkan. Jika jarak itu terlalu jauh, tegangan abnormal yang sampai pada terminal dari peralatan akan lebih tinggi dari pada tegangan pelepasan arrester. Gambar 3.9 Jarak tansformator dan arrester
31 60 Hubungan antara tegangan terminal dari alat yang dilindungi dan jarak dari arrester adalah sebagai berikut: = + 2.µ.x/ v.(3.5) Dimana : = Tegangan terminal dari peralatan yang dilindungi (kv) = Tegangan pelepasan dari arrester (kv) µ = Kecuraman gelombang dari gelombang yang datang (Kv/µs) V = Kecepatan rambat gelombang yang datang (m/µs) X = Jarak dari arrester ke alat yang dilindungi (m) Kegagalan Arrester Pada keadaan normal arrester harus berfungsi sebagai isolator, tetapi dalam keadaan gangguan ( terjadinya tegangan lebih ) maka arrester dengan secepat mungkin akan berfungsi sebagai konduktor untuk mem by pass tegangan lebih yang timbul dan mampu memutus arus susulan yang terjadi maka dengan secepat mungkin arrester berfungsi kembali sebagai isolator. Kegagalan arrester untuk mengalirkan tegangan lebih ketanah akan mengakibatkan rusaknya peralatan pada gardu induk. Beberapa faktor yang
32 61 mengakibatkan gagalnya arrester bekerja untuk mengamankan peralatan tegangan lebih yaitu : 1. Tahanan pada arrester 2. Tabung arrester 3. Tegangan dasar maximum 4. Penurunan tingkat isolator
Sela Batang Sela batang merupakan alat pelindung surja yang paling sederhana tetapi paling kuat dan kokoh. Sela batang ini jarang digunakan pad
23 BAB III PERALATAN PROTEKSI TERHADAP TEGANGAN LEBIH 3.1 Pendahuluan Gangguan tegangan lebih yang mungkin terjadi pada Gardu Induk dapat disebabkan oleh beberapa sumber gangguan tegangan lebih. Perlindunga
BAB III LIGHTNING ARRESTER
BAB III LIGHTNING ARRESTER 3.1 Pengertian Istilah Dalam Lightning Arrester Sebelum lebih lanjut menguraikan tentang penangkal petir lebih dahulu penyusun menjelaskan istilah atau definisi yang akan sering
BAB II TINJAUAN PUSTAKA
BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Umum Lightning Arrester merupakan alat proteksi peralatan listrik terhadap tegangan lebih yang disebabkan oleh petir atau surja hubung (switching surge). Alat ini bersifat
TUGAS PAPER MATA KULIAH SISTEM PROTEKSI MENENTUKAN JARAK PEMASANGAN ARRESTER SEBAGAI PENGAMAN TRAFO TERHADAP SAMBARAN PETIR
TUGAS PAPER MATA KULIAH SISTEM PROTEKSI MENENTUKAN JARAK PEMASANGAN ARRESTER SEBAGAI PENGAMAN TRAFO TERHADAP SAMBARAN PETIR Yang dibimbing oleh Slamet Hani, ST., MT. Disusun oleh: Nama : Daniel Septian
PEMAKAIAN DAN PEMELIHARAAN ARRESTER GARDU INDUK 150 KV UNGARAN PT. PLN (PERSERO) APP SEMARANG
PEMAKAIAN DAN PEMELIHARAAN ARRESTER GARDU INDUK 150 KV UNGARAN PT. PLN (PERSERO) APP SEMARANG Taruna Miftah Isnain 1, Ir.Bambang Winardi 2 1 Mahasiswa dan 2 Dosen Jurusan Teknik Elektro, Fakultas Teknik,
PEMELIHARAAN DAN PERTIMBANGAN PENEMPATAN ARRESTER PADA GARDU INDUK 150 KV PT. PLN (PERSERO) P3B JB REGION JAWA TENGAH DAN DIY UPT SEMARANG
PEMELIHARAAN DAN PERTIMBANGAN PENEMPATAN ARRESTER PADA GARDU INDUK 150 KV PT. PLN (PERSERO) P3B JB REGION JAWA TENGAH DAN DIY UPT SEMARANG Wahyu Arief Nugroho 1, Hermawan 2 1 Mahasiswa dan 2 Dosen Jurusan
BAB III PELINDUNG SALURAN TRANSMISI. keamanan sistem tenaga dan tak mungkin dihindari, sedangkan alat-alat
BAB III PELINDUNG SALURAN TRANSMISI Seperti kita ketahui bahwa kilat merupakan suatu aspek gangguan yang berbahaya terhadap saluran transmisi yang dapat menggagalkan keandalan dan keamanan sistem tenaga
Abstrak. 1.2 Tujuan Mengetahui pemakaian dan pemeliharaan arrester yang terdapat di Gardu Induk 150 kv Srondol.
PEMELIHARAAN DAN ANALISA PENEMPATAN ARRESTER PADA GARDU INDUK 150 KV SRONDOL PT. PLN (PERSERO) P3B JB APP SEMARANG BC SEMARANG Guntur Pradnya Pratama 1, Ir. Tejo Sukmadi 2 1 Mahasiswa dan 2 Dosen Jurusan
EVALUASI ARRESTER UNTUK PROTEKSI GI 150 KV JAJAR DARI SURJA PETIR MENGGUNAKAN SOFTWARE PSCAD
EVALUASI ARRESTER UNTUK PROTEKSI GI 150 KV JAJAR DARI SURJA PETIR MENGGUNAKAN SOFTWARE PSCAD Sapari, Aris Budiman, Agus Supardi Jurusan Teknik Elektro Fakultas Teknik Universitas Muhammadiyah Surakarta
Vol.3 No1. Januari
Studi Penempatan Arrester di PT. PLN (Persero) Area Bintaro Badaruddin Jurusan Teknik Elektro, Fakultas Teknik, Universitas Mercu Buana JL. Raya Meruya Selatan, Kembangan, Jakarta, 11650 Telepon: 021-5857722
BAB II LANDASAN TEORI
BAB II LANDASAN TEORI 2.1. KLASIFIKASI DAN BESARNYA TEGANGAN ABNORMAL Meskipun tidak ada standart tertentu dari tegangan abnormal yang disebabkan oleh gangguan surya yang harus ditanggulangi dalam proteksi
II. TINJAUAN PUSTAKA
II. TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Landasan Teori A. Fenomena Petir Proses awal terjadi petir disebabkan karena adanya awan bermuatan di atas bumi. Pembentukan awan bermuatan disebabkan karena adanya kelembaban
BAB 8 ALAT PENGAMAN JARINGAN DISTRIBUSI
BAB 8 ALAT PENGAMAN JARINGAN DISTRIBUSI A. Pendahuluan Alat pengaman atau pelindung adalah suatu alat yang berfungsi melindungi atau mengamankan suatu sistem penyaluran tenaga listrik dengan cara membatasi
SISTEM PROTEKSI RELAY
SISTEM PROTEKSI RELAY SISTEM PROTEKSI PADA GARDU INDUK DAN SPESIFIKASINYA OLEH : WILLYAM GANTA 03111004071 JURUSAN TEKNIK ELEKTRO FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS SRIWIJAYA 2015 SISTEM PROTEKSI PADA GARDU INDUK
L/O/G/O RINCIAN PERALATAN GARDU INDUK
L/O/G/O RINCIAN PERALATAN GARDU INDUK Disusun Oleh : Syaifuddin Z SWITCHYARD PERALATAN GARDU INDUK LIGHTNING ARRESTER WAVE TRAP / LINE TRAP CURRENT TRANSFORMER POTENTIAL TRANSFORMER DISCONNECTING SWITCH
BAB I PENDAHULUAN. gelombang berjalan juga dapat ditimbulkan dari proses switching atau proses
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Pembangkit listrik pada umumnya dihubungkan oleh saluran transmisi udara dari pembangkit menuju ke pusat konsumsi tenaga listrik seperti gardu induk (GI). Saluran transmisi
KOORDINASI ISOLASI. By : HASBULLAH, S.Pd., MT ELECTRICAL ENGINEERING DEPT. FPTK UPI 2009
KOORDINASI ISOLASI By : HASBULLAH, S.Pd., MT ELECTRICAL ENGINEERING DEPT. FPTK UPI 2009 KOORDINASI ISOLASI (INSULATION COORDINATION) Koordinasi Isolasi : Korelasi antara daya isolasi alat-alat dan rangkaian
MAKALAH SEMINAR KERJA PRAKTEK
MAKALAH SEMINAR KERJA PRAKTEK Pemeliharaan Arrester GI dan GIS 150 kv PT. PLN (PERSERO) UPT Semarang PT. PLN (PERSERO) P3B REGION JATENG & DIY, UPT Semarang Jimy harto S. 1, Abdul Syakur 2 Jurusan Teknik
BAB IV MENENTUKAN KAPASITAS LIGHTNING ARRESTER
37 BAB IV MENENTUKAN KAPASITAS LIGHTNING ARRESTER 4.1 Data-Data Peralatan Adapun penelitian ini dilakukan pada peralatan-peralatan yang terdapat di Panel distribusi STIP Marunda dengan data-data peralatan
BAB III SISTEM PROTEKSI DAN ANALISA HUBUNG SINGKAT
23 BAB III SISTEM PROTEKSI DAN ANALISA HUBUNG SINGKAT 3.1. Sistem Proteksi SUTT Relai jarak digunakan sebagai pengaman utama (main protection) pada SUTT/SUTET dan sebagai backup untuk seksi didepan. Relai
BAB III SISTEM PROTEKSI JARINGAN DISTRIBUSI
BAB III SISTEM PROTEKSI JARINGAN DISTRIBUSI 3.1 Umum Sebaik apapun suatu sistem tenaga dirancang, gangguan pasti akan terjadi pada sistem tenaga tersebut. Gangguan ini dapat merusak peralatan sistem tenaga
BAB III TEORI DASAR DAN DATA
BAB III TEORI DASAR DAN DATA 3.1. MENENTUKAN JARAK ARRESTER Analisis data merupakan bagian penting dalam penelitian, karena dengan analisis data yang diperoleh mampu memberikan arti dan makna untuk memecahkan
DAMPAK PEMBERIAN IMPULS ARUS TERHADAP KETAHANAN ARRESTER TEGANGAN RENDAH
DAMPAK PEMBERIAN IMPULS ARUS TERHADAP KETAHANAN ARRESTER TEGANGAN RENDAH Diah Suwarti Sekolah Tinggi Teknologi Nasional Yogyakarta Jln. Babarsari No 1, Sleman, Yogyakarta [email protected] Intisari Arester
BAB II STRUKTUR JARINGAN DAN PERALATAN GARDU INDUK SISI 20 KV
BAB II STRUKTUR JARINGAN DAN PERALATAN GARDU INDUK SISI 20 KV 2.1. UMUM Gardu Induk adalah suatu instalasi tempat peralatan peralatan listrik saling berhubungan antara peralatan yang satu dengan peralatan
PENENTUAN LETAK OPTIMUM ARRESTER PADA GARDU INDUK (GI) 150 kv SIANTAN MENGGUNAKAN METODE OPTIMASI
PENENTUAN LETAK OPTIMUM ARRESTER PADA GARDU INDUK (GI) 150 kv SIANTAN MENGGUNAKAN METODE OPTIMASI Ringga Nurhaidi 1), Danial 2), Managam Rajagukguk 3) Jurusan Teknik Elektro Fakultas Teknik Universitas
BAB I PENDAHULUAN 1.1 LATAR BELAKANG
BAB I PENDAHULUAN 1.1 LATAR BELAKANG Jaringan distribusi adalah bagian dari sistem tenaga lsitrik yang paling dekat dengan pelanggan. Ditinjau dari volume fisiknya jaringan distribusi pada umumnya lebih
OPTIMASI JARAK MAKSIMUM PENEMPATAN LIGHTNING ARRESTER SEBAGAI PROTEKSI TRANSFORMATOR PADA GARDU INDUK. Oleh : Togar Timoteus Gultom, S.
OPTIMASI JARAK MAKSIMUM PENEMPATAN LIGHTNING ARRESTER SEBAGAI PROTEKSI TRANSFORMATOR PADA GARDU INDUK Oleh : Togar Timoteus Gultom, S.T, MT ABSTRAK Tegangan lebih adalah tegangan yang hanya dapat ditahan
ARESTER SEBAGAI SISTEM PENGAMAN TEGANGAN LEBIH PADA JARINGAN DISTRIBUSI TEGANGAN MENENGAH 20KV. Tri Cahyaningsih, Hamzah Berahim, Subiyanto ABSTRAK
86 Jurnal Teknik Elektro Vol. 1 No.2 ARESTER SEBAGAI SISTEM PENGAMAN TEGANGAN LEBIH PADA JARINGAN DISTRIBUSI TEGANGAN MENENGAH 20KV Tri Cahyaningsih, Hamzah Berahim, Subiyanto ABSTRAK Tegangan lebih adalah
BAB III LANDASAN TEORI
BAB III LANDASAN TEORI 3.1 Sistem Distribusi Tenaga Listrik Sistem Tenaga Listrik adalah sistem penyediaan tenaga listrik yang terdiri dari beberapa pembangkit atau pusat listrik terhubung satu dengan
BAB II LANDASAN TEORI
BAB II LANDASAN TEORI 2.1 Pengertian Saluran Transmisi Sistem transmisi adalah suatu sistem penyaluran energi listrik dari satu tempat ke tempat lain, seperti dari stasiun pembangkit ke substation ( gardu
BAB II TINJAUAN PUSTAKA
BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Sistem Distribusi 1 Bagian dari sistem tenaga listrik yang paling dekat dengan pelanggan adalah sistem distribusi. Sistem distribusi adalah bagian sistem tenaga listrik yang
BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA
BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Distributed Generation Distributed Generation adalah sebuah pembangkit tenaga listrik yang bertujuan menyediakan sebuah sumber daya aktif yang terhubung langsung dengan jaringan
SISTEM PROTEKSI TERHADAP TEGANGAN LEBIH PADA GARDU TRAFO TIANG 20 kv
Rahmawati, Sistem Proteksi Terhadap Tegangan Lebih Pada Gardu Trafo SISTEM PROTEKSI TERHADAP TEGANGAN LEBIH PADA GARDU TRAFO TIANG 20 kv Yuni Rahmawati, S.T., M.T., Moh.Ishak Abstrak: Gangguan tegangan
Analisa Rating Lightning Arrester Pada Jaringan Transmisi 70 kv Tomohon-Teling
e-jurnal Teknik Elektro dan Komputer (201) 1 Analisa Rating Lightning Arrester Pada Jaringan Transmisi 70 kv Tomohon-Teling M. S. Paraisu, F. Lisi, L. S. Patras, S. Silimang Jurusan Teknik Elektro-FT.
BAB III DASAR TEORI.
13 BAB III DASAR TEORI 3.1 Pengertian Cubicle Cubicle 20 KV adalah komponen peralatan-peralatan untuk memutuskan dan menghubungkan, pengukuran tegangan, arus, maupun daya, peralatan proteksi, dan control
III. METODE PENELITIAN
III. METODE PENELITIAN A. Tempat Penelitian Penelitian tugas akhir ini dilakukan di Gardu Induk 150 KV Teluk Betung Tragi Tarahan, Bandar Lampung, Provinsi Lampung. B. Data Penelitian Untuk mendukung terlaksananya
Protection on Electrical Power System. Hasbullah Bandung, Juni 2008
Protection on Electrical Power System Hasbullah Bandung, Juni 2008 Latar Belakang Saluran tenaga listrik merupakan bagian sistem tenaga listrik yang sering mengalami gangguan Gangguan yang terjadi dapat
BAB II TINJAUAN PUSTAKA
5 BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Gardu Induk Gardu induk adalah alat penghubung listrik dari jaringan transmisi ke jaringan distribusi primer yang kontruksinya dapat dilihat pada gambar 2.1. Gardu Induk merupakan
BAB II GANGGUAN TEGANGAN LEBIH PADA SISTEM TENAGA LISTRIK
BAB II GANGGUAN TEGANGAN LEBIH PADA SISTEM TENAGA LISTRIK 2.1 Umum Pada dasarnya suatu gangguan ialah setiap keadaan sistem yang menyimpang dari normal. Gangguan yang terjadi pada waktu sistem tenaga listrik
BAB II TINJAUAN PUSTAKA. c. Memperkecil bahaya bagi manusia yang ditimbulkan oleh listrik.
6 BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Sistem Proteksi Sistem proteksi merupakan sistem pengaman yang terpasang pada sistem distribusi tenaga listrik, trafo tenaga transmisi tenaga listrik dan generator listrik.
Instalasi Listrik MODUL III. 3.1 Umum
MODUL III Instalasi Listrik 3.1 Umum Instalasi listrik system distribusi terdapat dimana mana, baik pada system pembangkitan maupun pada system penyaluran (transmisi/distribusi) dalam bentuk instalasi
Analisa Koordinasi Isolasi Peralatan di Gardu Induk Teling 70 kv
Jurnal Teknik Elektro dan Komputer Vol. 7 No. 2 (2018) ISSN : 2301-8402 151 Analisa Koordinasi Isolasi Peralatan di Gardu Induk Teling 70 kv Brando Alexsander R, Lily S Patras, Fielman Lisi Teknik Elektro
BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Indonesia merupakan negara dengan iklim tropis. Dengan letak geografis Indonesia yang dikelilingi oleh lautan, maka Indonesia berpeluang untuk memiliki kerapatan petir
STUDI PENGARUH KONFIGURASI 1 PERALATAN PADA SALURAN DISTRIBUSI 20 KV TERHADAP PERFORMA PERLINDUNGAN PETIR MENGGUNAKAN SIMULASI ATP/EMTP
STUDI PENGARUH KONFIGURASI 1 PERALATAN PADA SALURAN DISTRIBUSI 20 KV TERHADAP PERFORMA PERLINDUNGAN PETIR MENGGUNAKAN SIMULASI ATP/EMTP Oleh : Augusta Wibi Ardikta 2205.100.094 Dosen Pembimbing : 1. I
BAB II LANDASAN TEORI ANALISA HUBUNG SINGKAT DAN MOTOR STARTING
BAB II LANDASAN TEORI ANALISA HUBUNG SINGKAT DAN MOTOR STARTING 2.1 Jenis Gangguan Hubung Singkat Ada beberapa jenis gangguan hubung singkat dalam sistem tenaga listrik antara lain hubung singkat 3 phasa,
BAB 2 KLASIFIKASI JARINGAN DISTRIBUSI
KLASIFIKASI JARINGAN DISTRIBUSI 11 BAB 2 KLASIFIKASI JARINGAN DISTRIBUSI A. Pendahuluan Sistem jaringan distribusi tenaga listrik dapat diklasifikasikan dari berbagai segi, antara lain adalah : 1. Berdasarkan
Analisa Perancangan Gardu Induk Sistem Outdoor 150 kv di Tallasa, Kabupaten Takalar, Sulawesi Selatan
JURNAL DIMENSI TEKNIK ELEKTRO Vol. 1, No. 1, (2013) 37-42 37 Analisa Perancangan Gardu Induk Sistem Outdoor 150 kv di Tallasa, Kabupaten Takalar, Sulawesi Selatan Samuel Marco Gunawan, Julius Santosa Jurusan
BAB IV PERHITUNGAN DAN PETUNJUK UMUM UNTUK PEMILIHAN PENGENAL ARRESTER
BAB IV PERHITUNGAN DAN PETUNJUK UMUM UNTUK PEMILIHAN PENGENAL ARRESTER 4.1 Hasil penelitian 1. Waktu Percikan arester Gambar 4.1 Grafik waktu percik arrester berdasarkan penelitian 2. Simulasi diagram
BAB II LANDASAN TEORI
BAB LANDASAN TEOR. Gangguan Pada Sistem Tenaga Listrik Gangguan dapat mengakibatkan kerusakan yang cukup besar pada sistem tenaga listrik. Banyak sekali studi, pengembangan alat dan desain sistem perlindungan
STUDI ANALISA SISTEM KOORDINASI ISOLASI PERALATAN DI GARDU INDUK 150 KV NEW-TUREN
TUGAS AKHIR - RE 1599 STUDI ANALISA SISTEM KOORDINASI ISOLASI PERALATAN DI GARDU INDUK 150 KV NEW-TUREN RIO WIBISONO NRP 2201 109 023 Dosen Pembimbing Ir.Soedibyo, MMT. I Gusti Ngurah Satriyadi H, S.T,
STUDI KARAKTERISTIK TRANSIEN LIGHTNING ARRESTER PADA TEGANGAN MENENGAH BERBASIS PENGUJIAN DAN SIMULASI
Proseding Seminar Tugas Akhir Teknik Elektro FTI-ITS, Oktober 2013 1 STUDI KARAKTERISTIK TRANSIEN LIGHTNING ARRESTER PADA TEGANGAN MENENGAH BERBASIS PENGUJIAN DAN SIMULASI Bangkit Wahyudian Kartiko, I
BAB IV DATA DAN PEMBAHASAN. panasbumi Unit 4 PT Pertamina Geothermal Energi area Kamojang yang. Berikut dibawah ini data yang telah dikumpulkan :
BAB IV DATA DAN PEMBAHASAN 4.1 Data yang Diperoleh Dalam penelitian ini menggunakan data di Pembangkit listrik tenaga panasbumi Unit 4 PT Pertamina Geothermal Energi area Kamojang yang telah dikumpulkan
OPTIMASI PELETAKKAN ARESTER PADA SALURAN DISTRIBUSI KABEL CABANG TUNGGAL AKIBAT SURJA PETIR GELOMBANG PENUH
OPTIMASI PELETAKKAN ARESTER PADA SALURAN DISTRIBUSI KABEL CABANG TUNGGAL AKIBAT SURJA PETIR GELOMBANG PENUH Yuni Rahmawati, ST* Abstrak: Untuk menganalisis besar tegangan maksimum yang terjadi pada jaringan
BAB II LANDASAN TEORI 2.1 Sistem Distribusi Tenaga Listrik
BAB II LANDASAN TEORI 2.1 Sistem Distribusi Tenaga Listrik Energi listrik disalurkan melalui penyulang-penyulang yang berupa saluran udara atau saluran kabel tanah. Pada penyulang distribusi ini terdapat
BAB III LANDASAN TEORI
BAB III LANDASAN TEORI 3.1 PENGERTIAN Berdasarkan IEV (International Electrotechnical Vocabulary) 441-14-20 disebutkan bahwa Circuit Breaker (CB) atau Pemutus Tenaga (PMT) merupakan peralatan saklar /
BAB IV RELAY PROTEKSI GENERATOR BLOK 2 UNIT GT 2.1 PT. PEMBANGKITAN JAWA-BALI (PJB) MUARA KARANG
BAB IV RELAY PROTEKSI GENERATOR BLOK 2 UNIT GT 2.1 PT. PEMBANGKITAN JAWA-BALI (PJB) MUARA KARANG 4.1 Tinjauan Umum Pada dasarnya proteksi bertujuan untuk mengisolir gangguan yang terjadi sehingga tidak
BAB II TRANSFORMATOR DAYA DAN PENGUBAH SADAPAN BERBEBAN. Tenaga listrik dibangkitkan dipusat pusat listrik (power station) seperti
6 BAB II TRANSFORMATOR DAYA DAN PENGUBAH SADAPAN BERBEBAN 2.1 Sistem Tenaga Listrik Tenaga listrik dibangkitkan dipusat pusat listrik (power station) seperti PLTA, PLTU, PLTD, PLTP dan PLTGU kemudian disalurkan
PEMELIHARAAN LIGHTNING ARRESTER (LA) PADA GARDU INDUK KRAPYAK 150 KV PT. PLN (PERSERO) P3B JAWA BALI APP SEMARANG. Abstrak
PEMELIHARAAN LIGHTNING ARRESTER (LA) PADA GARDU INDUK KRAPYAK 150 KV PT. PLN (PERSERO) P3B JAWA BALI APP SEMARANG Airlangga Avryansyah Akbar. 1, Ir.Agung Warsito, DHET. 2 1 Mahasiswa dan 2 Dosen Jurusan
BAB II TINJAUAN PUSTAKA
BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Pengertian Gardu Induk Gardu Induk merupakan suatu instalasi yang terdiri dari sekumpulan peralatan listrik yang disusun menurut pola tertentu dengan pertimbangan teknis, ekonomis
BAB III LANDASAN TEORI
15 BAB III LANDASAN TEORI Tenaga listrik dibangkitkan dalam Pusat-pusat Listrik seperti PLTA, PLTU, PLTG, PLTP dan PLTD kemudian disalurkan melalui saluran transmisi yang sebelumnya terlebih dahulu dinaikkan
ANALISIS PERLINDUNGAN TRANSFORMATOR DISTRIBUSI YANG EFEKTIF TERHADAP SURJA PETIR. Lory M. Parera *, Ari Permana ** Abstract
ANALISIS PERLINDUNGAN TRANSFORMATOR DISTRIBUSI YANG EFEKTIF TERHADAP SURJA PETIR Lory M. Parera *, Ari Permana ** Abstract Pemanfaatan energi listrik secara optimum oleh masyarakat dapat terpenuhi dengan
SALURAN UDARA TEGANGAN MENENGAH (SUTM) DAN GARDU DISTRIBUSI Oleh : Rusiyanto, SPd. MPd.
SALURAN UDARA TEGANGAN MENENGAH (SUTM) DAN GARDU DISTRIBUSI Oleh : Rusiyanto, SPd. MPd. Artikel Elektronika I. Sistem Distribusi Merupakan system listrik tenaga yang diawali dari sisi tegangan menengah
Politeknik Negeri Sriwijaya
BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Transformator Daya Transformator merupakan peralatan listrik yang berfungsi untuk menyalurkan daya/tenaga dari tegangan tinggi ke tegangan rendah atau sebaliknya. Transformator
BAB II LANDASAN TEORI. Suatu sistem tenaga listrik terdiri dari tiga bagian utama : pusat-pusat
BAB II LANDASAN TEORI 2.1. Saluran Transmisi ( 1, 5, 7 ) Suatu sistem tenaga listrik terdiri dari tiga bagian utama : pusat-pusat pembangkit listrik, saluran-saluran transmisi, dan sistem-sistem distribusi.
Studi Pengaruh Lokasi Pemasangan Surge Arrester pada Saluran Udara 150 Kv terhadap Tegangan Lebih Switching
Studi Pengaruh Lokasi Pemasangan Surge Arrester pada Saluran Udara 150 Kv terhadap Tegangan Lebih Switching Media Riski Fauziah, I Gusti Ngurah Satriyadi, I Made Yulistya Negara Jurusan Teknik Elektro
BAB 2 GANGGUAN HUBUNG SINGKAT DAN PROTEKSI SISTEM TENAGA LISTRIK
BAB 2 GANGGUAN HUBUNG SINGKAT DAN PROTEKSI SISTEM TENAGA LISTRIK 2.1 PENGERTIAN GANGGUAN DAN KLASIFIKASI GANGGUAN Gangguan adalah suatu ketidaknormalan (interferes) dalam sistem tenaga listrik yang mengakibatkan
ANALISIS PENYEBAB KEGAGALAN KERJA SISTEM PROTEKSI PADA GARDU AB
ANALISIS PENYEBAB KEGAGALAN KERJA SISTEM PROTEKSI PADA GARDU AB 252 Oleh Vigor Zius Muarayadi (41413110039) Jurusan Teknik Elektro, Fakultas Teknik, Universitas Mercu Buana Sistem proteksi jaringan tenaga
BAB II LANDASAN TEORI
BAB II LANDASAN TEORI 2.1. Relai Proteksi Relai proteksi atau relai pengaman adalah susunan peralatan yang berfungsi untuk mendeteksi atau merasakan adanya gangguan atau mulai merasakan adanya ketidak
GROUNDING SISTEM DALAM DISTRIBUSI TENAGA LISTRIK 20 KV
GROUNDING SISTEM DALAM DISTRIBUSI TENAGA LISTRIK 20 KV Ahmad Yani Program Studi Sistem Komputer, Universitas Dian Nusantara [email protected] ABSTRACT: In paper grounding system at 20 KV electrical
PROSES DAN SISTEM PENYALURAN TENAGA LISTRIK OLEH PT.PLN (Persero)
PROSES DAN SISTEM PENYALURAN TENAGA LISTRIK OLEH PT.PLN (Persero) Oleh : Hery Setijasa Staf Pengajar Jurusan Teknik Elektro Politeknik Negeri Semarang Jl Prof Sudarto,SH Tembalang Semarang 50275 Abstrak
BAB II JARINGAN DISTRIBUSI TENAGA LISTRIK. Pusat tenaga listrik umumnya terletak jauh dari pusat bebannya. Energi listrik
BAB II JARINGAN DISTRIBUSI TENAGA LISTRIK 2.1. Umum Pusat tenaga listrik umumnya terletak jauh dari pusat bebannya. Energi listrik yang dihasilkan pusat pembangkitan disalurkan melalui jaringan transmisi.
Proteksi Terhadap Petir. Distribusi Daya Dian Retno Sawitri
Proteksi Terhadap Petir Distribusi Daya Dian Retno Sawitri Pendahuluan Sambaran petir pada sistem distribusi dapat menyebabkan kerusakan besar pada kabel overhead dan menyuntikkan lonjakan arus besar yang
BAB II LANDASAN TEORI
BAB II LANDASAN TEORI 2.1. Sistem Distribusi Tenaga Listrik Sistem tenaga listrik adalah kumpulan atau gabungan dari komponenkomponen atau alat-alat listrik seperti generator, transformator, saluran transmisi,
BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Petir atau halilintar merupakan gejala alam yang biasanya muncul pada musim hujan dimana di langit muncul kilatan cahaya sesaat yang menyilaukan yang beberapa saat
BAB III METODE PENELITIAN. Pada prinsipnya penelitian ini bertujuan untuk mengetahui
32 BAB III METODE PENELITIAN Pada prinsipnya penelitian ini bertujuan untuk mengetahui apakah minyak sawit (palm oil) dapat digunakan sebagai isolasi cair pengganti minyak trafo, dengan melakukan pengujian
BAB I PENDAHULUAN. Desain isolasi untuk tegangan tinggi (HV) dimaksudkan untuk
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Desain isolasi untuk tegangan tinggi (HV) dimaksudkan untuk melindungi saluran dari adanya tegangan lebih akibat surja hubung dan surja petir. Untuk tegangan
BAB III SISTEM PROTEKSI DENGAN RELAI JARAK. terutama untuk masyarakat yang tinggal di kota-kota besar. Kebutuhan tenaga
BAB III SISTEM PROTEKSI DENGAN RELAI JARAK 3.1. Umum Tenaga listrik merupakan suatu kebutuhan pokok dalam kehidupan manusia, terutama untuk masyarakat yang tinggal di kota-kota besar. Kebutuhan tenaga
BAB III PROTEKSI SALURAN UDARA TEGANGAN MENENGAH (SUTM) TERHADAP SAMBARAN PETIR
BAB III PROTEKSI SALURAN UDARA TEGANGAN MENENGAH (SUTM) TERHADAP SAMBARAN PETIR 3.1 Konsep Dasar Sistem Tenaga Listrik Suatu system tenaga listrik secara sederhana terdiri atas : - Sistem pembangkit -
BAB II LANDASAN TEORI
BAB II LANDASAN TEORI 2.1. Sistem Jaringan Distribusi Sistem Tenaga listrik di Indonesia tersebar dibeberapa tempat, maka dalam penyaluran tenaga listrik dari tempat yang dibangkitkan sampai ke tempat
BAB II TINJAUAN PUSTAKA
5 BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Dasar-Dasar Sistem Proteksi 1 Sistem proteksi adalah pengaman listrik pada sistem tenaga listrik yang terpasang pada : sistem distribusi tenaga listrik, trafo tenaga, transmisi
BAB II KARAKTERISTIK PEMUTUS TENAGA
BAB II KARAKTERISTIK PEMUTUS TENAGA 2.1 Fungsi Pemutus Tenaga Pemutus tenaga (PMT) adalah saklar yang dapat digunakan untuk menghubungkan atau memutuskan arus atau daya listrik sesuai dengan ratingnya.
Dasman 1), Rudy Harman 2)
PENGARUH TAHANAN KAKI MENARA SALURAN TRANSMISI 150 KV TERHADAP TEGANGAN LEBIH TRANSIENT AKIBAT SURJA PETIR DENGAN MENGGUNAKAN ELEKTROMAGNETIC TRANSIENTS PROGRAM (EMTP) (GI KILIRIANJAO GI MUARO BUNGO )
BAB II GARDU INDUK 2.1 PENGERTIAN DAN FUNGSI DARI GARDU INDUK. Gambar 2.1 Gardu Induk
BAB II GARDU INDUK 2.1 PENGERTIAN DAN FUNGSI DARI GARDU INDUK Gardu Induk merupakan suatu instalasi listrik yang terdiri atas beberapa perlengkapan dan peralatan listrik dan menjadi penghubung listrik
BAB II TINJAUAN PUSTAKA
BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Umum Lightning Arrester yang biasanya disingkat dengan LA sering disebut juga penangkal petir, adalah alat pelindung bagi peralatan sistem tenaga listrik dari gangguan tegangan
BAB III PENGAMANAN TRANSFORMATOR TENAGA
41 BAB III PENGAMANAN TRANSFORMATOR TENAGA 3.1 Pengamanan Terhadap Transformator Tenaga Sistem pengaman tenaga listrik merupakan sistem pengaman pada peralatan - peralatan yang terpasang pada sistem tenaga
Kelompok 7 : 1. Herianto A S Purba 2. Winner 3. Elman
Kelompok 7 : 1. Herianto A S Purba 2. Winner 3. Elman Bagan dari letak komponen gardu induk KOMPONEN KOMPONEN GI Bagian dari gardu induk yang di jadikan sebagai peletakan komponen utama. Bagian yang berfungsi
BAB II GAS INSULATED SWITCHGEAR ( GIS ) GIS yang sekarang telah menggunakan Gas SF6 ( Sulfur Hexafluoride )
BAB II GAS INSULATED SWITCHGEAR ( GIS ) 2.1 SEJARAH GIS GIS yang sekarang telah menggunakan Gas SF6 ( Sulfur Hexafluoride ) sebagai media isolasi, menjadikannya sebagai sebuah teknologi yang maju dan telah
BAB III. CIRCUIT BREAKER DAN FUSE (SEKERING)
BAB III. CIRCUIT BREAKER DAN FUSE (SEKERING) 3.1. Circuit Breaker Circuit breaker seperti halnya sekering adalah merupakan alat proteksi, walaupun circuit breaker dilengkapi dengan fasilitas untuk switching.
BAB IV SISTEM PROTEKSI GENERATOR DENGAN RELAY ARUS LEBIH (OCR)
27 BAB IV SISTEM PROTEKSI GENERATOR DENGAN RELAY ARUS LEBIH (OCR) 4.1 Umum Sistem proteksi merupakan salah satu komponen penting dalam system tenaga listrik secara keseluruhan yang tujuannya untuk menjaga
BAB II LANDASAN TEORI
BAB II LANDASAN TEORI 2.1 Pengertian Instalasi Listrik Instalasi listrik adalah saluran listrik beserta gawai maupun peralatan yang terpasang baik di dalam maupun diluar bangunan untuk menyalurkan arus
LAPORAN AKHIR PEMELIHARAN GARDU DISTRIBUSI
LAPORAN AKHIR PEMELIHARAN GARDU DISTRIBUSI Oleh: OFRIADI MAKANGIRAS 13-021-014 KEMENTRIAN RISET TEKNOLOGI DAN PENDIDIKAN TINGGI JURUSAN TEKNIK ELEKTRO POLITEKNIK NEGERI MANADO 2016 BAB I PENDAHULUAN 1.1
BAB IV ANALISA DAN PEMBAHASAN
BAB IV ANALISA DAN PEMBAHASAN 4.1 Pengumpulan Data Dari hasil data yang di peroleh saat melakukan penelitian di dapat seperti pada table berikut ini. Tabel 4.1 Hasil penelitian Tahanan (ohm) Titik A Titik
LANDASAN TEORI Sistem Tenaga Listrik Tegangan Menengah. adalah jaringan distribusi primer yang dipasok dari Gardu Induk
II LANDASAN TEORI 2.1. Sistem Tenaga Listrik Tegangan Menengah Sistem Distribusi Tenaga Listrik adalah kelistrikan tenaga listrik mulai dari Gardu Induk / pusat listrik yang memasok ke beban menggunakan
Kata Kunci Proteksi, Arrester, Bonding Ekipotensial, LPZ.
PERANCANGAN SISTEM PROTEKSI PETIR INTERNAL PADA CONDOTEL BOROBUDUR BLIMBING KOTA MALANG Priya Surya Harijanto¹, Moch. Dhofir², Soemarwanto ³ ¹Mahasiswa Teknik Elektro, ² ³Dosen Teknik Elektro, Universitas
BAB II LANDASAN TEORI
BAB II LANDASAN TEORI 2.1 Sistem Proteksi Pada suatu sistem tenaga listrik, meliputi pelayanan umum, industri, komersil, perumahan maupun sistem lainnya, mempunyai maksud yang sama yaitu menyediakan energi
BAB II GARDU TRAFO DISTRIBUSI
BAB II GARDU TRAFO DISTRIBUSI II.1 Umum Gardu trafo distribusiberlokasi dekat dengan konsumen. Transformator dipasang pada tiang listrik dan menyatu dengan jaringan listrik. Untuk mengamankan transformator
LAPORAN AKHIR PEMELIHARAAN KABEL TANAH TERHADAP GANGGUAN HUBUNG SINGKAT
LAPORAN AKHIR PEMELIHARAAN KABEL TANAH TERHADAP GANGGUAN HUBUNG SINGKAT Oleh : Brayen pontoh NIM : 13-021-020 KEMENTRIAN RISET TEKNOLOGI DAN PENDIDIKAN TINGGI JURUSAN TEKNIK ELEKTRO POLITEKNK NEGERI MANADO
BAB II PEMBAHASAN. Makin besar suatu sistem kelistrikan, maka makin besar pula peralatan proteksi
BAB II PEMBAHASAN II.1. Gambaran Masalah Penggunaan proteksi dalam bidang kelistrikan mencakup segi yang luas. Makin besar suatu sistem kelistrikan, maka makin besar pula peralatan proteksi yang digunakan.
PENGUJIAN TEGANGAN TEMBUS KARPET INTERLOCKING PT. BASIS PANCAKARYA LAPORAN
PENGUJIAN TEGANGAN TEMBUS KARPET INTERLOCKING PT. BASIS PANCAKARYA LAPORAN Disusun oleh : SWITO GAIUS AGUSTINUS SILALAHI PROGRAM STUDI TEKNIK ELEKTRO DEPARTEMEN TEKNIK ELEKTRO DAN TEKNOLOGI INFORMASI FAKULTAS
TUGAS MAKALAH INSTALASI LISTRIK
TUGAS MAKALAH INSTALASI LISTRIK Oleh: FAKULTAS TEKNIK JURUSAN TEKNIK ELEKTRO PRODI S1 PENDIDIKAN TEKNIK ELEKTRO UNIVERSITAS NEGERI MALANG Oktober 2017 BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Seiring jaman
