KOMPOSISI VEGETASI PADA KAWASAN HUTAN LINDUNG NANGA-NANGA PAPALIA KELURAHAN ANDUONOHU KOTA KENDARI. Oleh: Zulkarnain dan Sahindomi Bana 1) ABSTRACT

dokumen-dokumen yang mirip
KEANEKARAGAMAN JENIS MERANTI (SHORE SPP) PADA KAWASAN HUTAN LINDUNG GUNUNG AMBAWANG KABUPATEN KUBU RAYA PROPINSI KALIMANTAN BARAT

III. METODE PENELITIAN. Penelitian ini dilakukan di Bukit Gunung Sulah Kelurahan Gunung Sulah

III. METODE PENELITIAN. Penelitian ini dilakukan di blok Hutan Pendidikan Konservasi Terpadu Tahura

STUDI KEANEKARAGAMAN JENIS KANTONG SEMAR

KEANEKARAGAMAN JENIS VEGETASI PADA KAWASAN HUTAN LINDUNG GUNUNG AMBAWANG KABUPATEN KUBU RAYA PROVINSI KALIMANTAN BARAT

IV. METODE PENELITIAN

ANALISIS VEGETASI PADA KAWASAN HUTAN DESA DI DESA NANGA YEN KECAMATAN HULU GURUNG KABUPATEN KAPUAS HULU

KEANEKARAGAMAN JENIS DAN POTENSI TEGAKAN PADA KAWASAN HUTAN LINDUNG GUNUNG RAYA KABUPATEN KETAPANG KALIMANTAN BARAT

BAB III METODE PENELITIAN

METODOLOGI. Lokasi dan Waktu

III. METODE PENELITIAN. Penelitian dilakukan juni sampai dengan Juli 2013 di zona pemanfaatan terbatas,

KEANEKARAGAMAN JENIS KANTONG SEMAR (Nepenthes SPP) DALAM KAWASAN HUTAN LINDUNG GUNUNG SEMAHUNG DESA SAHAM KECAMATAN SENGAH TEMILA KABUPATEN LANDAK

METODE PENELITIAN. Lokasi dan Waktu Penelitian

BAB III METODE PENELITIAN. Taman Nasional Baluran, Jawa Timur dan dilakasanakan pada 28 September

KOMPOSISI TEGAKAN SEBELUM DAN SESUDAH PEMANENAN KAYU DI HUTAN ALAM

BAB IV METODOLOGI 4.1 Waktu dan Tempat Penelitian 4.2 Bahan dan Alat 4.3 Metode Pengambilan Data Analisis Vegetasi

:!,1G():5kr'W:5. JURnAl EKOlOGI DAn SAlns ISSN : ISSN : VOLUME 01, No: 01. Agustus 2012

KEANEKARAGAMAN JENIS KANTONG SEMAR (Nepenthes spp) KAWASAN HUTAN LINDUNG GUNUNG AMBAWANG DESA KAMPUNG BARU KECAMATAN KUBU KABUPATEN KUBU RAYA

Analisis Vegetasi Hutan Alam

BAB IV METODE PENELITIAN

METODE PENELITIAN. Penelitian dilaksanakan pada bulan Januari hingga April 2014 di Kawasan

METODE PENELITIAN. Penelitian tentang analisis habitat monyet ekor panjang dilakukan di hutan Desa

KEANEKARAGAMAN JENIS BAMBU (Bambusodae) DALAM KAWASAN HUTAN AIR TERJUN RIAM ODONG DUSUN ENGKOLAI KECAMATAN JANGKANG KABUPATEN SANGGAU

METODE PENELITIAN. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Maret sampai Agustus 2014.

BAB III METODE PENELITIAN. menggunakan metode transek belt yaitu dengan menarik garis lurus memanjang

Gambar 2 Peta lokasi penelitian.

BAB III METODE PENELITIAN

BAB III METODE PENELITIAN. Jenis penelitian yang digunakan bersifat deskriptif kuantitatif. Pengamatan

ANALISIS VEGETASI EKOSISTEM HUTAN MANGROVE KPH BANYUMAS BARAT

II. TINJAUAN PUSTAKA. Pada tahun 1924 kawasan hutan Way Kambas ditetapkan sebagai daerah hutan

BAB III METODOLOGI PENELITIAN

3 METODE PENELITIAN. Waktu dan Lokasi

BAB III METODE PENELITIAN

Struktur Dan Komposisi Vegetasi Mangrove Di Pulau Mantehage

Asrianny, Arghatama Djuan. Laboratorium Konservasi Biologi dan Ekowisata Unhas. Abstrak

III. METODE PENELITIAN

BAB II KAJIAN PUSTAKA

STRUKTUR DAN KOMPOSISI TEGAKAN HUTAN DI PULAU SELIMPAI KECAMATAN PALOH KABUPATEN SAMBAS KALIMANTAN BARAT

B III METODE PENELITIAN. ada di di Taman Hutan Raya (Tahura) Ngurah Rai Denpasar Bali di Taman Hutan Raya (Tahura) Ngurah Rai Denpasar Bali.

III. METODE PENELITIAN. Penelitian telah dilaksanakan pada bulan Januari sampai Febuari 2015 di kanan

ANALISIS VEGETASI STRATA SEEDLING PADA BERBAGAI TIPE EKOSISTEM DI KAWASAN PT. TANI SWADAYA PERDANA DESA TANJUNG PERANAP BENGKALIS, RIAU

Keanekaragaman Jenis dan Pola Distribusi Nepenthes spp di Gunung Semahung Kecamatan Sengah Temila Kabupaten Landak

KEANEKARAGAMAN VEGETASI DI HUTAN LINDUNG GUNUNG SEMAHUNG DESA SAHAM KECAMATAN SENGAH TEMILA KABUPATEN LANDAK

KEANEKARAGAMAN JENIS BAMBU DI HUTAN KOTA KELURAHAN BUNUT KABUPATEN SANGGAU Bamboo Species Diversity In The Forest City Bunut Sanggau District

BAB III. METODE PENELITIAN

BAHAN DAN METODE Tempat dan Waktu Bahan dan Alat Metode Penelitian

BAB III METODE PENELITIAN

STRUKTUR KOMUNITAS MANGROVE DI DESA MARTAJASAH KABUPATEN BANGKALAN

4 METODE PENELITIAN. Lokasi dan Waktu Penelitian

BAB III METODELOGI PENELITIAN. Timur. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Desember 2016.

Sebagian besar hutan rawa gambut di Indonesia mengalami penyusutan. Hutan rawa gambut di Riau tersebar pada lima bentang alam yang masih

METODOLOGI PENELITIAN

STUDI KEANEKARAGAMAN JENIS VEGETASI DI AREAL CALON KEBUN BENIH (KB) IUPHHK-HA PT. KAWEDAR WOOD INDUSTRY KABUPATEN KAPUAS HULU

BAB III METODELOGI PENELITIAN. Penelitian ini dilakukan pada bulan Januari 2017 hingga bulan Februari

POTENSI EKOLOGI MANGROVE TINGKAT POHON DAN PANCANG PULAU KABAENA KABUPATEN BOMBANA SULAWESI TENGGARA

PENYUSUN : TIM KONSULTAN PT. DUTA POLINDO CIPTA 1. M. Sugihono Hanggito, S.Hut. 2. Miftah Ayatussurur, S.Hut.

KEBERADAAN RAMIN (GONYSTYLUS BANCANUS (MIQ.) KURZ) DI KAWASAN HUTAN LINDUNG AMBAWANG KECIL KECAMATAN TELUK PAKEDAI KABUPATEN KUBU RAYA

KERAGAMAN JENIS ANAKAN TINGKAT SEMAI DAN PANCANG DI HUTAN ALAM

BAB III METODE PENELITIAN

Proses Pemulihan Vegetasi METODE. Waktu dan Tempat Penelitian

INVENTARISASI TEGAKAN TINGGAL WILAYAH HPH PT. INDEXIM UTAMA DI KABUPATEN BARITO UTARA KALIMANTAN TENGAH

BAB III METODE PENELITIAN. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Januari 2017 s/d bulan Februari 2017


BAB V HASIL DAN PEMBAHASAN

AGRIPLUS, Volume 22 Nomor : 02 Mei 2012, ISSN

SEBARAN POHON PAKAN ORANGUTAN SUMATERA (Pongo abelii. Lesson,1827.) MENGGUNAKAN APLIKASI SISTEM INFORMASI GEOGRAFIS SKRIPSI

ANALISIS VEGETASI DAN PENDUGAAN CADANGAN KARBON DI KAWASAN HUTAN CAGAR ALAM LEMBAH HARAU KABUPATEN 50 KOTA SUMATERA BARAT

ABSTRACT STRUCTURE AND COMPOSITION OF THE VEGETATION IN HEPANGAN AGROFORESTRY SYSTEM AT GUMAY ULU AREA LAHAT DISTRICT SOUTH SUMATERA

GARIS-GARIS BESAR PROGRAM PENGAJARAN (GBPP) I. KULIAH

III. METODE PENELITIAN

INVENTARISASI DAN ANALISIS HABITAT TUMBUHAN LANGKA SALO

I. PENDAHULUAN. Taman nasional adalah kawasan pelestarian alam yang mempunyai ekosistem asli

BAB IV PROFIL VEGETASI GUNUNG PARAKASAK

III. METODE PENELITIAN. Penelitian ini dilakukan pada bulan Maret 2015 bertempat di kawasan sistem

BAB III BAHAN DAN METODE PENELITIAN

ANALISA VEGETASI TEGAKAN HUTAN DI AREAL HUTAN KOTA GUNUNG SARI KOTA SINGKAWANG

1. PENDAHULUAN. Indonesia memiliki hutan tropis yang luas dan memiliki keanekaragaman hayati yang

BAB III METODE PENELITIAN

DINAMIKA PERMUDAAN ALAM AKIBAT PEMANENAN KAYU DENGAN SISTEM SILVIKULTUR TEBANG PILIH TANAM INDONESIA (TPTI) MUHDI, S.HUT., M.SI NIP.

KEANEKARAGAMAN JENIS TUMBUHAN KAYU PUTIH DI DAERAH WANGGALEM, TAMAN NASIONAL WASUR, PAPUA

SUKSESI JENIS TUMBUHAN PADA AREAL BEKAS KEBAKARAN HUTAN RAWA GAMBUT (Succesion of plant at the area of peat swamp forest ex-burnt)

BAB V HASIL DAN PEMBAHASAN

KEANEKARAGAMAN JENIS TUMBUHAN TINGKAT POHON PADA HUTAN ADAT GUNUNG BERUGAK DESA MEKAR RAYA KECAMATAN SIMPANG DUA KABUPATEN KETAPANG

Lampiran 2. Peta sebaran pohon pakan orangutan jantan dan betina dewasa (Jenggot dan Minah) berdasarkan ketinggian pohon (m dpl)

STRUKTUR DAN KOMPOSISI VEGETASI DI AREAL PETAK UKUR PERMANEN (PUP) PT. KAWEDAR WOOD INDUSTRY KABUPATEN KAPUAS HULU

BAB III METODOLOGI PENELITIAN

BAB III METODE PENELITIAN. Jenis penelitian yang digunakan adalah penelitian deskriptif. Metode

PERBANDINGAN STRUKTUR DAN KOMPOSISI VEGETASI KAWASAN RAJAMANTRI DAN BATUMEJA CAGAR ALAM PANANJUNG PANGANDARAN, JAWA BARAT

SEBARAN POPULASI PULAI (ALSTONIA SCHOLARIS) DI KAWASAN HUTAN KOTA GUNUNG SARI SINGKAWANG. Tubel Agustinus Dilan, Wiwik Ekyastuti, Muflihati.

ANALISIS KERAPATAN TEGAKAN DI KAWASAN TAMAN NASIONAL BALURAN BERBASIS QUANTUM-GIS

BAB III METODE PENELITIAN. Penelitian ini dilaksanakan pada Januari 2017 selama kurun waktu satu

Tabel 9. Sebaran Penutupan Lahan Di Wilayah KPHP Gularaya 2,91 0,003 9,19 0,008 43,23 0,037 56,11 0, ,62 0, ,69 377,25 0, ,70 0,545

BAB I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang

METODE PENELITIAN. Lokasi dan Waktu Penelitian

III. METODE PENELITIAN. Desa Pesawaran Indah ini merupakan salah satu desa yang semua penduduknya

STUDI HABITAT PELANDUK

BAB III METODE PENELITIAN. analisa Indeks Keanekaragaman (H ) Shannon Wienner, Indeks Dominansi (D)

BAB III METODE PENELITIAN. 3.1 Rancangan Penelitian Penelitian ini bersifat deskriptif kuantitatif dengan menggunakan metode

KOMPOSISI JENIS SEMAI DAN PANCANG DI HUTAN ALAM TROPIKA SEBELUM DAN SESUDAH PEMANENAN KAYU

BAB I PENDAHULUAN. dalam Ilmu Ekologi dikenal dengan istilah habitat. jenis yang membentuk suatu komunitas. Habitat suatu organisme untuk

Transkripsi:

57 KOMPOSISI VEGETASI PADA KAWASAN HUTAN LINDUNG NANGA-NANGA PAPALIA KELURAHAN ANDUONOHU KOTA KENDARI Oleh: Zulkarnain dan Sahindomi Bana 1) ABSTRACT This study aims to determine the level of diversity and composition of vegetation in the protected forest area of Nanga-Nanga Anduonohu of District Papalia Kendari, conducted from August to October 2009. Method of determining the location using a purposive sampling transect placement of sample locations intentionally set. Placement plot examples berpetak line method (combination of lines and squares). In this study uses descriptive analysis based on quantitative and qualitative data collected at the research location. The results showed that the Protected Forest Nanga-Nanga Papalia in Kelurahan Anduonohu has a diverse plant composition with the amount of very varied types, which found 67 plant species are clustered in 33 families, with family Myrtaceae is the largest number of species. Some species with importance value index (IVI) in the highest, ie to the level of the tree Castanopsis buruana, to levels that Cleistantus sumatranus pole, stake levels of Jambu-jambu sp2 (Syzigium sp2) for the seedling level of Cleistanthus sumatranus is the greatest type of role in the community Protected Forest vegetation in Nanga-Nanga Papalia, so the loss of these species will greatly affect the balance of the forest ekosisitem. Index of species diversity in protected forest Nanga-Nanga Anduonohu of District Papalia criteria considered in abundance are.. Key words: level of diversity, protected forest, vegetation composition. PENDAHULUAN Salah satu kawasan hutan yang berada di Kota Kendari yang mempunyai nilai strategis adalah hutan Nanga-Nanga Papalia. Secara hukum kawasan lindung Nanga-Nanga ditetapkan oleh Menteri Kehutanan melalui keputusan No.639/Kepts/um/9/1982 pada tanggal 1 September 1982. Kemudian dilakukan perubahan melalui Keputusan Menteri Kehutanan No. 426/Kepts-II/1997 pada tanggal 30 Juli 1997 tentang penetapan kawasan hutan lindung Nanga-Nanga sebagai kawasan hutan tetap dengan fungsi lindung dan hutan produksi. Kawasan hutan ini membentang dan melingkari Kota Kendari Provinsi Sulawesi Tenggara, yang keberadaannya tak hanya menjadi ciri khas Kota Kendari, yaitu sebagai bagian sabuk pengaman namun juga berfungsi sebagai daerah tangkapan air. Secara Administrasi kelurahan Anduonohu merupakan salah satu kelurahan yang di dalamnya terdapat kawasan hutan lindung Nanga-Nanga Papalia. Kawasan tersebut perlu mendapat perhatian, mengingat terus meningkatnya tekanan terhadap kawasan tersebut yang diakibatkan oleh aktivitas-aktivitas penebangan liar, penambangan batu dan perubahan penutupan hutan menjadi lahan kebun. Tekanan terhadap hutan ini bahkan telah sampai pada daerah-daerah yang termasuk dalam kawasan hutan lindung yang merupakan wilayah yang seharusnya berfungsi sebagai daerah perlindungan dan pengawetan. Fenomena ini tentunya memberi pengaruh negatif terhadap kawasan tersebut dalam peranannya sebagai fungsi perlindungan dan sistem penyangga kehidupan, hilangnya kekayaan alam mulai dari keanekaragaman hayatinya hingga keindahan alamnya, dan berpotensi besar menyebabkan hilangnya spesies-spesies endemik yang merupakan aset yang tidak ternilai harganya. Gambaran di atas mengindikasikan perlunya upaya pelestarian untuk menjaga fungsi dan potensinya melalui pengelolaan yang baik. Salah satu indikator kelestarian suatu kawasan hutan dapat dilihat dari tingkat kestabilan komunitas hutan tersebut. yaitu kemampuan suatu komunitas untuk menjaga dirinya tetap stabil meskipun ada gangguan 1 ) Staf Pengajar Pada Jurusan Kehutanan Fakultas Pertanian Universitas Haluoleo, Kendari. 57

58 terhadap komponen-komponennya. Stabil atau tidaknya suatu komunitas sangat ditentukan oleh tingkat keanekaragaman spesies yang ada pada komunitas tersebut. Semakin tinggi tingkat keanekaragaman spesies berarti semakin stabil komunitas tersebut karena interaksi spesies yang terjadi dalam komunitas itu sangat tinggi atau memiliki kompleksitas yang tinggi (Soegianto, 1994 dalam Indriyanto, 2007). Berdasarkan uraian-uraian yang telah dikemukakan di atas maka perlu untuk dilakukan penelitian mengenai Komposisi Vegetasi Pada Kawasan Hutan Lindung Nanga- Nanga Papalia di Kelurahan Anduonohu Kota Kendari, yang diharapkan mampu memberikan masukan guna penentuan kebijakan pengelolaan Hutan Lindung Nanga-Nanga ke depan. METODE PENELITIAN Penelitian ini dilaksanakan di Kawasan Hutan Lindung Nanga-Nanga Papalia Kelurahan Anduonohu Kota Kendari Propinsi Sulawesi Tenggara, pada bulan Agustus sampai Oktober 2009. Instrumen yang digunakan dalam membantu proses pengambilan data dalam penelitian ini terdiri dari : tali rafia, alat tulis menulis, meteran, Tallysheet, kompas, pita meter, buku petunjuk identifikasi pohon, peralatan pembuatan herbarium, GPS dan peta RBI lembar lokasi penelitian. Populasi dalam penelitian ini adalah semua jenis vegetasi pada semua tingkatan vegetasi, yang terdapat di hutan lindung Nanga- Nanga Papalia Kelurahan Anduonohu Kota Kendari. Adapun sampel dalam penelitian ini adalah jenis vegetasi yang diukur meliputi semua tingkatan vegetasi yang terdapat dalam plot atau petak pengamatan. Tingkatan vegetasi yang dimaksud dikelompokkan sebagai berikut : Tingkat pohon (trees) yaitu individu yang mempunyai diameter batang lebih dari 20 cm, Tingkat tiang (poles) yaitu individu yang mempunyai diameter batang lebih dari 10 cm tetapi lebih kecil dan atau sama dengan 20 cm, Tingkat sapihan (saplings) yaitu individu yang mempunyai diameter batang lebih dari 1 cm tetapi lebih kecil dan atau sama dengan 10 cm, Tingkat semai (sedling) yaitu individu yang mempunyai diameter batang lebih kecil dari atau sama dengan 1 cm atau sejak perkecambahan sampai tinggi 1,5 meter. Bentuk desain sampel yang akan digunakan dalam penelitian ini adalah bentuk garis berpetak atau transek berpetak, yang merupakan perpaduan antara bentuk transek dan petak. Di dalam transek (jalur) dibuat petak berukuran 20 x 20 meter untuk pengamatan pohon, l0 x l0 meter untuk pengamatan tiang, 5 x 5 meter untuk pengamatan pancang dan 2 x 2 meter untuk pengamatan semai. Desain plot pengamatan dapat dilihat pada Gambar 1. 10m 2m 5m A 100m D C 100m 20m B Gambar 1. Desain jalur pengamatan vegetasi Keterangan gambar : A : Plot pengamatan untuk tingkatan pohon (berukuran 20 x 20 meter) B : Plot pengamatan untuk tingkatan tiang (berukuran 10 x 10 meter) C : Plot pengamatan untuk tingkatan pancang (berukuran 5 x 5 meter) D : Plot pengamatan untuk tingkatan semai (berukuran 2 x 2 meter)

59 Variabel yang diukur dalam penelitian ini meliputi kerapatan; menggunakan persamaanpersamaan: K = Jumlah individu Luas seluruh petak contoh Kerapatan spesies ke-i KR-i = x 100% Kerapatan seluruh spesies Frekuensi dan frekuensi relatif dihitung dengan rumus: F = Jumlah petak contoh ditemukannya suatu spesies Jumlah seluruh petak contoh Frekuensi spesies ke-i FR-i = x 100% Frekuensi seluruh spesies Dominansi dan Dominansi Relatif Luas basal area C = Luas seluruh petak contoh Penutupan spesies ke-i CR-i = x 100% Penutupan seluruh spesies Indeks Nilai Penting dihitung dengan rumus: INP-i = KR-i + FR-i + CR-i Untuk memperkirakan tingkat keanekaragaman spesies, digunakan persamaan Indeks Keanekaragaman Shanon atau Shanon index of general diversity: Jika H >3 maka tingkat keanekaragaman melimpah tinggi; H 1-3 maka tingkat keanekaragaman melimpah sedang dan H <1 maka tingkat keanekaragaman sedikit atau rendah. Data yang diperoleh di lapangan di tabulasi untuk menghitung besaran dari variabel komposisi vegetasi yakni kerapatan, kerapatan relatif, frekuensi, frekuensi relatif, dominansi, dominansi relatif dan indeks nilai penting serta variabel tingkat keanekaragaman vegetasi. disajikan dalam bentuk tabel dan grafik. Untuk selanjutnya di analisis dengan Analisis deskriptif kualitatif maupun kuantitatif yang memaparkan dan mendeskripsikan data penelitian yang disajikan dalam bentuk tabel dan diagram. Datadata numerik di kompilasi untuk melihat sebaran data, jumlah dan nilai rata-rata, dari seluruh variabel yang digunakan dalam penelitian ini. HASIL DAN PEMBAHASAN Rekapitulasi jenis vegetasi Berdasarkan hasil pencacahan pada lokasi penelitian, terkoleksi sebanyak 1959 spesimen yang terkelompok dalam 67 jenis tumbuhan yang tergolong dalam 33 famili. Dengan rincian seperti pada Tabel 1. H = Indeks Shanon-Whiener n 1 = Nilai penting dari tiap spesies N = Total nilai penting

60 Tabel 1. Rekapitulasi jenis-jenis vegetasi yang di temukan di lokasi penelitian No. Nama lokal Nama latin Famili Jml indv 1 Jambu-jambu Syzygium acuminatissimum Myrtaceae 70 2 Jambu-jambu 2 Syzygium sp. 2 Myrtaceae 115 3 Jambu-jambu 3 Syzygium sp.3 Myrtaceae 1 4 Jambu-jambu 4 Syzigium sp.4 Myrtaceae 1 5 Jambu-jambu daun lebar Kjelbergiodendron celebicum Myrtaceae 5 6 Kayu besi Metrosideros petiolata Myrtaceae 72 7 Kolaka Syzygium sp. 1 Myrtaceae 92 8 Nona Iwoi Syzygium lineatum Myrtaceae 14 9 Pondo Syzygium cinnamomea Myrtaceae 37 10 Ruruhi Syzygium subglauca Myrtaceae 78 11 Makaranga daun lebar Macaranga gigantean Euphorbiaceae 11 12 Nogoai Cleistanthus sumatranus Euphorbiaceae 192 13 Umbana Malotus sp Euphorbiaceae 8 14 Umera Macaranga celebica Euphorbiaceae 4 15 Pondo anyurung Actinodaphne multiflora Lauraceae 38 16 Pondo kuning Cinnamomum subavenium Lauraceae 12 17 Raha-raha waio Cryptocarya infectoria Lauraceae 6 18 Rambutan hutan Litsea firma Lauraceae 19 19 Beringin Ficus binjamina Moraceae 3 20 Cempedak Artocarpus integra Moraceae 2 21 Huhubi Artocarpus dadak Moraceae 2 22 Petiole panjang Paratocarpus venenosa Moraceae 2 23 Kopi-Kopi Nauclea sp Rubiaceae 4 24 Lobani Timonius celebicus Rubiaceae 8 25 Mirip tolihe Rubiaceae spp Rubiaceae 3 26 Tolihe Gardenia anisophylla Rubiaceae 57 27 Betau Calophyllum soulattri Clusiaceae 10 28 Mandula Garcinia tetrandra Clusiaceae 48 29 Raha-raha getah kuning Garcinia celebica Clusiaceae 18 30 Daun kecil tunggal Diospyros buxifolia Ebenaceae 26 31 Diospiros lotin Diospyros lolin Ebenaceae 100 32 Lawaru Diospyros ellipticifolia Ebenaceae 2 33 Mirip aglaila Archidendron pauciflorum Fabaceae 4 34 Eha Castanopsis buruana Fabaceae 75 35 Pololi Lithocarpus cf. pseudomolucca Fabaceae 2 36 Mangga hutan Buchanania sp Anacardiaceae 90 37 Mirip Ketapang Semecarpus cuneiformis Anacardiaceae 6 38 Apu 2 Popowia pisocarpa Annonaceae 5 39 Ngawe putih Cananga odorata Annonaceae 134 40 Batu-batu Pternandra caerulescens Melastomataceae 11 41 Mirip Batu-batu Medinilla sp. Melastomataceae 3 42 Horsfielda Horsfieldia glabra Myristicaceae 2 43 Raha-raha knema sp Myristicaceae 6 44 Daun kecil majemuk Guioa cf. diplopetala Sapindaceae 37 45 Kuma Planchonella firma Sapotaceae 72 46 Kuma 2 Palaquium luzoniense Sapotaceae 15 47 Terculiaceae Sterculiacae sp Sterculiacae 6

61 Tabel 1. Lanjutan No. Nama lokal Nama latin Famili Jml indv 48 Bawah daun coklat Geunsia cinnamomea Verbenaceae 3 49 Vitex Vitex quinata Verbenaceae 2 50 Palem hutan Palmaceae sp2 Palmaceae 21 51 Kayu cina Podocarpus neriifolius Podocarpaceae 51 52 Kasu rano Xanthophyllum tenuipetalum Polygalaceae 25 53 Daun tunggal gerigi Helicia serrata Proteaceae 17 54 Hokio Prunus arborea Rosaceae 1 55 Micromellum Micromelum pubescens Rutaceae 2 56 Dysoxylum Dysoxylum alliaceum Meliaceae 3 57 Eleocarpus Elaeocarpus ovalis Elaeocarpaceae 44 58 Tawahuko Gnetum gnemon Gnetaceae 42 59 Bintangur Calophyllum inophyllum Guttiferaceae 34 60 Sisio Cratoxylon formosum Hypericaceae 3 61 Platea latifolia Platea latifolia Icacinaceae 2 62 Puta Barringtonia reticulate Lecythidaceae 20 63 Kaliandra Leguminoceae sp. Leguminoceae 26 64 Mirip mangga Tabernaemontana cf. remota Apocynaceae 40 65 Leseoha Santiria laevigata Burseraceae 19 66 Apu Gironniera subaequalis Ulmaceae 60 67 Kulahi Fragrea fragran Loganiaceae 16 Jumlah 33 1959 Sumber : Data primer setelah diolah, 2009. Tabel 5 menunjukkan bahwa kawasan hutan lindung Nanga-Nanga Papalia di Kelurahan Anduonohu, terdapat komunitas tumbuhan yang tersusun atas 67 spesies yang terkelompok dalam 33 Famili yang menyebar ke dalam 4 tingkatan vegetasi (pohon, tiang, pancang dan semai), dengan Myrtaceae sebagai famili dengan jumlah spesies terbanyak di temukan di lokasi penelitian yaitu 10 spesies, kemudian diikuti oleh famili-famili Euphorbiaceae, Lauraceae, Moraceae, dan Rubiaceae masing-masing dengan 4 anggota spesies. Kondisi diatas menunjukkan bahwa famili Myrtaceae merupakan famili yang mempunyai individu dengan daya toleransi dan adaptasi yang paling tinggi terhadap faktor lingkungan di lokasi penelitian, kemudian diikuti oleh famili-famili Euphorbiaceae, Lauraceae, Moraceae, dan Rubiaceae. Hal di atas terkait dengan pendapat yang dikemukakan oleh Indriyanto (2006) bahwa penyebaran tipe ekosistem hutan hujan tropis meliputi pulaupulau Sumatra, Kalimantan, Sulawesi, Jawa, Nusa Tenggara, Irian dan beberapa pulau di Maluku misalnya di pulau Taliabu, Mangole, Mandioli, Sanan, dan Obi, yang didominasi oleh spesies-spesies pohon anggota famili Dipterocarpaceae, Myrtaceae, Lauraceae, Myristicaceae, dan Ebenaceae, serta pohonpohon anggota genus Agathis, Kompasia, dan Dyera. Berdasarkan tingkatan vegetasinya maka rekapitulasi komposisi jenis vegetasi pada setiap tingkatan, dapat dilihat pada Tabel 2. Tabel 2. Rekapitulasi jumlah vegetasi pada setiap tingkatan vegetasi No Tahun 2009 Tingkat Jumlah Jumlah vegetasi jenis individu 1 Pohon 32 428 2 Tiang 41 224 3 Pancang 50 760 4 Semai 41 547 Jumlah 1959 Sumber : Data primer setelah diolah, 2009

62 Tabel 2 menunjukkan bahwa tingkatan pancang merupakan tingkatan yang tersusun oleh jumlah individu dan jumlah jenis yang terbanyak. Hal ini diduga karena tingkat pohon dan tiang umumnya berada pada strata teratas/stratum A (A-storey), yang bersifat intoleran atau tidak suka terhadap adanya naungan, sehingga setiap individu selalu bersaing untuk menguasai ruang dan agar tidak terlindungi, akibatnya sangat jarang ditemukan tingkatan pohon dan tiang yang tumbuh rapat dalam luasan tertentu, karena menghindari terjadinya saling menaungi. Berbeda dengan tingkat pancang dan semai yang relatif lebih toleran terhadap naungan sehingga mampu tumbuh lebih rapat di bawah tegakan pohon dan tiang. Selain itu hal ini juga diperparah dengan adanya fenomena penebangan liar yang banyak terjadi, dimana target utama penebangan umumnya individu-individu pohon dan tiang yang mempunyai diameter yang relatif besar. Komposisi vegetasi Berdasarkan hasil perhitungan terhadap data yang telah dikumpulkan di lokasi penelitian, maka rekapitulasi hasil analisis kuantitatif pada semua tingkatan, disajikan pada Tabel 3. Tabel 3. Rekapitulasi hasil perhitungan data pada semua tingkat vegetasi Vegetasi Kerapatan (Indv Ha -1 ) Frekuensi Dominansi (M 2 Ha -1 ) Indeks Nilai Penting H Tertinggi Terendah Tertinggi Terendah Tertinggi Terendah Tertinggi Terendah 0.04m 2 Nilai 40,97 0.69 0.50. 0,03 416 Ha -1 52,6 80.00% 1.21 P Cleistanthus Metrosideros Metrosideros Artocarpus Castanopsis Syzigium Castanopsis Syzigium sp4 O sumatranus petiolata, petiolata dadak, buruana sp4 buruana H O N Syzigium sp5 Syzygium lineatum Macaranga gigantea Syzigium sp5 T I A N G P A N C A N G J e n i s Nilai 88,89 2,78 0.50. 0,03 55.35 0.02 62.06 1,03 1.41 Cleistanthus Prunus Cleistantus Prunus Cleistantus Podocarpus Cleistantus Podocarpus sumatranus arborea sumatranus arborea sumatranus neriifolius sumatranus neriifolius Pternandra Pternandra Prunus caerulescens caerulescens arborea Podocarpus Podocarpus Macaranga neriifolius neriifolius gigantea Cryptocarya infectoria J e n i s Syzygium lineatum Macaranga gigantea Cryptocarya infectoria Nilai 800 11,11 0.75 0,03 63.32 0.0004 34.12 0.36 1.5 J e n i s Cleistanthus sumatranus Sterculiaceae spp. Castanopsis buruana Geunsia cinamomea Palmaceae sp2 Buchanani Sterculiaceae a sp. spp. Syzygium Castanopsis sp2 buruana Geunsia cinamomea Palmaceae sp2 Syzigium sp2 Geuncia Syzigium sp2 Dysoxylum cinamomea alliaceum Castanopsis buruana Geunsia cinnamomea Sterculiaceae spp.

63 Tabel 3. Lanjutan Vegetasi Kerapatan (Indv Ha -1 ) Frekuensi Dominansi (M 2 Ha -1 ) Indeks Nilai Penting H Tertinggi Terendah Tertinggi Terendah Tertinggi Terendah Tertinggi Terendah Nilai 588.89 11,10 0.47 0,03 17 0.64 1.4 Cleistanthus MetrosideroCananga Metrosideros Cleistanthus Metrosideros sumatranus s petiolata odorata petiolata sumatranus petiolata Syzigium Syzygium Syzygium sp3 sp3 sp3 S Cryptocarya infectoria E Calophyllum M soulattri Xanthophyllu A m sp Cinnamomu I m subavenium Sterculiacae sp Syzygium lineatum Sumber: Data Primer Setelah diolah, 2009 J e n i s Tabel 3 menunjukkan bahwa untuk parameter kerapatan nilai tertinggi pada tingkat pohon, tiang, pancang dan semai ditemukan pada jenis Cleistantus sumatranus. Hal ini mengindikasikan bahwa jenis-jenis inilah yang banyak ditemukan di lokasi penelitian, meskipun belum dapat memberikan informasi yang tepat mengenai tingkat penyebaran dari jenis-jenis tersebut. Hasil ini juga menunjukkan bahwa dari 67 spesies ditemukan di lokasi penelitian, jenis Cleistantus sumatranus merupakan spesies yang mempunyai jumlah individu terbanyak diantara spesies-spesies yang lain, atau dapat pula dikatakan jenis tersebut memiliki pola penyesuaian yang besar serta merupakan penciri umum komunitas tumbuhan pada lokasi studi. Fachrul (2007), bahwa banyaknya individu dan jenis tumbuhan dapat ditaksir atau dihitung. Apabila banyaknya individu tumbuhan dinyatakan per satuan luas, maka itu disebut kerapatan (density). Nilai kerapatan ini dapat menggambarkan bahwa jenis dengan nilai kerapatan tinggi memiliki pola penyesuaian yang besar. Kerapatan terendah untuk tingkat pohon ditemukan pada jenis Metrosederos petiolata dan Sizigium sp5, tingkat tiang ditemukan pada jenis Prunus arborea, Ptemandra caerulescens, Podocarpus nerifolius dan Cryptocarya infectoria, pada tingkat pancang ditemukan pada jenis Sterculiaceae spp, Castanopsis buruana, Geunsia cinamomea dan Palmacea sp2 sedangkan pada tingkat semai kerapatan terendah ditemukan pada jenis Metrosideros petiolata dan Syzigium sp3. Dari gambaran di atas diketahui bahwa jenis-jenis tersebut memiliki kemampuan yang rendah dalam proses persaingan di dalam masyarakat hutan, baik itu terjadi persaingan antara individu dari satu jenis atau dari berbagai jenis untuk memenuhi kebutuhan hidupnya dalam hal cahaya, ruang tumbuh, oleh tajuktajuk di atas lantai hutan, hara mineral, air tanah oleh akar di bawah lantai hutan. Kerapatan total vegetasi untuk tingkatan pohon diperoleh nilai 297,22 indv ha -1. tingkatan tiang, 622,22 indvh ha -1 tingkatan pancang 8444,44 indv ha -1 dan tingkatan semai sebesar 6077.78 indv ha -1. Berdasarkan Baku Mutu Lingkungan (Kepmen KLH No 02 tahun 1988), maka untuk parameter tingkat kerapatan vegetasi tingkatan pohon pada lokasi penelitian tergolong dalam kategori Sangat Rapat, yang mengindikasikan Banyaknya jumlah Individu vegetasi yang ditemukan pada lokasi penelitian.

64 Untuk variabel frekuensi nilai tertinggi untuk tingkatan pohon ditunjukkan oleh jenis Metrosideros petiolata dengan nilai frekuensi 0.50, tingkat tiang. Kondisi ini memberikan gambaran pada tingkatan pohon, jenis tersebut mampu menyebar 50% per hektar kawasan atau dapat pula disimpulkan bahwa, jenis inilah yang penyebarannya paling luas pada lokasi penelitian dengan tingkat kemunculan yang tinggi atau ditemukan pada 18 plot pengamatan dari total 36 plot yang dibuat dalam penelitian ini. Pada tingkatan tiang nilai frekuensi tertinggi ditunjukkan oleh jenis Cleistantus sumatranus dengan nilai 0.5. Pada tingkat pancang frekuensi tertinggi ditemukan pada jenis Buchanania sp dan Syzigium sp2 dengan nilai 0.75 dan untuk tingkat semai ditunjukkan oleh jenis Canaga odorata dengan nilai 0,45. Jika faktor lingkungan pada wilayah studi diketahui, maka dapat dikatakan jenis-jenis tersebut mempunyai tingkat penyebaran yang luas dan memiliki kemampuan adaptasi yang paling tinggi terhadap faktor lingkungan dibandingkan spesies lainnya. Hasil ini juga menunjukkan kapasitas reproduksi dan kemampuan adaptasi yang tinggi dari jenisjenis tersebut dalam berbagai kondisi lingkungan yang berbeda pada lokasi penelitian, baik itu sekitar sungai, punggung bukit, maupun di atas bukit. Hal ini sejalan dengan pendapat yang dikemukakan oleh Fachrul (2007), yang menyatakan bahwa Frekuensi dipakai sebagai parameter vegetasi yang dapat menunjukkan distribusi atau sebaran jenis tumbuhan dalam ekosistem. Nilai yang diperoleh dapat pula untuk menggambarkan kapasitas reproduksi dan kemampuan adaptasi serta menunjukkan jumlah sampling unit yang mengandung jenis tumbuhan tertentu. Sedangkan nilai frekuensi terendah untuk tingkat pohon ditemukan pada jenis Artocarpus dadak, Syzigium lineatum, Macaranga gigantea dan Syzigium sp5, pada tingkat tiang ditunjukkan oleh jenis-jenis Prunus arborea, Ptemandra caerulescens, Podocarpus nerifolius, Syzigium lineatum, Macaranga gigantea dan Cryptocarya infectoria. Pada tingkatan pancang frekuensi terendah ditemukan pada jenis Sterculiaceae spp, Castanopsis buruana, Geunsia cinamomea dan Palmaceae sp2, Sedangkankan pada tingkat semai ditemukan pada jenis Metrosideros petiolata, Syzigium sp3, Cryptocarya infectoria, Calophyllum soulatri, Xalthophyllum sp, Cinnamomum subavenium, Sterculiaceae sp dan Syzigium lineatum. Ini mengindikasikan bahwa jenis-jenis tersebut merupakan spesies yang penyebarannya terbatas yang juga berarti mempunyai kemampuan adaptasi yang rendah terhadap kondisi lingkungan pada lokasi penelitian. Indriyanto (2006) mengemukakan, apabila pengamatan dilakukan pada petak-petak contoh, makin banyak petak contoh yang di dalamnya ditemukan suatu spesies, berarti makin besar frekuensi spesies tersebut. Sebaliknya, jika makin sedikit petak contoh yang di dalamnya ditemukan suatu spesies, makin kecil frekuensi spesies tersebut. Dengan demikian, sesungguhnya frekuensi tersebut dapat menggambarkan tingkat penyebaran spesies dalam habitat yang dipelajari, meskipun belum dapat menggambarkan tentang pola penyebarannya. Spesies organisme yang penyebarannya luas akan memiliki nilai frekuensi perjumpaan yang besar, begitu pula sebaliknya. Untuk variabel dominansi, pada tingkatan pohon nilai tertinggi ditunjukkan oleh jenis Castanopsis buruana yaitu 416 m 2 /ha, pada tingkat tiang ditemukan pada jenis Cleistantus sumatranus dengan nilai 55.35 m 2 ha -1 dan pada tingkatan pancang nilai dominansi tertinggi ditemukan pada jenis Syzigium sp2 dengan nilai 63.32 m 2 ha -1. Ini mengindikasikan bahwa jenisjenis di atas menempati ruang tumbuh yang paling besar pada lokasi penelitian. Dengan indikator dominansi di atas maka dapat disimpulkan bahwa jenis jenis tersebut merupakan spesies yang menguasai kawasan hutan pada lokasi studi, yang mempengaruhi dan melaksanakan kontrol terhadap komunitas dengan cara besarnya ukuran maupun pertumbuhannya yang dominan. Fachrul (2007), mengemukakan bahwa dominansi menyatakan suatu jenis tumbuhan utama yang mempengaruhi dan melaksanakan kontrol terhadap komunitas dengan cara banyaknya jumlah jenis, besarnya ukuran maupun pertumbuhannya yang dominan. Suatu

65 jenis tumbuhan yang mampu melaksanakan kontrol atas aliran energi yang terdapat dalam komunitas dinamakan ekologi dominan. Parameter vegetasi dominan nilainya dapat diketahui dari nilai basal area dan penutup (cover). Hasil Perhitungan Indeks Nilai Penting, nilai terbesar untuk tingkatan pohon ditemukan pada jenis Castanopsis buruana yakni 52,62, pada tingkat tiang yaitu Cleistantus sumatranus yaitu 62.06, pada tingkat pancang ditemukan pada jenis Syzigium sp2 dengan nilai sebesar 34.12 dan pada tingkat semai nilai INP terbesar ditemukan pada jenis Cleistantus sumatranus dengan nilai INP 17. Ini menunjukkan bahwa secara umum Jenis-jenis di atas merupakan jenis yang paling besar peranannya dalam komunitas tumbuhan dan paling besar pengaruhnya terhadap kestabilan ekosistem pada lokasi studi, sehingga terganggunya jenis-jenis tersebut dapat berpengaruh besar terhadap ekosistem secara keseluruhan. Besarnya pengaruh jenis tersebut terhadap ekosistem disebabkan karena jenis-jenis tersebut mempunyai jumlah individu yang banyak yang ditandai oleh kerapatan yang tinggi. Juga mempunyai kemampuan adaptasi dan tingkat penyebaran yang luas yang ditandai dengan frekuensi yang tinggi, serta mempunyai tingkat penguasaan yang besar dalam ekosistem yang ditandai dengan nilai dominansi yang besar, sehingga menghasilkan nilai INP yang besar. Nilai penting suatu jenis memberikan gambaran besarnya sumberdaya lingkungan yang dimanfaatkan oleh jenis tersebut dalam pertumbuhannya. Semakin tinggi kemampuan suatu jenis memanfaatkan sumberdaya lingkungannya selama pertumbuhannya dari tingkatan anakan sampai pohon, semakin dominan kehadirannya dimasa yang akan datang. Ini juga memberikan gambaran besarnya pengaruh penguasaan jenis dalam habitatnya. Untuk jenis-jenis yang tergolong dalam INP terendah, pada tingkat pohon ditemukan pada jenis Syzigium sp4, pada tingkat tiang ditemukan pada jenis Podocarpus neriifolius, Prunus arborea dan macaranga gigantea, pada tingkat pancang ditemukan pada jenis Dysoxylum alliaceum, Castanopsis buruana, Geunsia cinamomea dan Sterculiaceae spp, dan pada tingkat semai INP terendah ditemukan pada jenis Metrosideros petiolata dan Syzigium sp3. Ini mengindikasikan bahwa jenis-jenis tersebut merupakan jenis yang kritis karena disusun oleh kerapatan, frekuensi, dan dominansi yang kecil, yang berarti jenis-jenis tersebut sangat potensial untuk hilang dari ekosistem tersebut jika terjadi gangguan karena jumlahnya yang sangat sedikit dalam ekosistem tersebut. Oleh karenanya eksploitasi terhadap jenis-jenis ini perlu dihindarkan untuk menjaga dan melindungi eksistensi vegetasi tersebut dalam ekosistem. Hasil perhitungan tingkat keanekaragaman vegetasi pada lokasi penelitian menunjukkan, untuk tingkat pohon diperoleh indeks keanekaragaman sebesar 1.21, tingkat tiang sebesar 1.41, pada tingkat pancang sebesar 1.5 dan pada tingkat semai diperoleh nilai indeks keanekaragaman sebesar 1.4. Berdasarkan kriteria yang dikemukakan oleh Shannon- Wiener, maka tingkat keanekaragaman pada semua tingkatan vegetasi di lokasi penelitian termasuk dalam kriteria melimpah sedang. Berdasarkan Baku Mutu Lingkungan (Kepmen KLH No 02 tahun 1988) dalam Fandeli (2000), maka untuk parameter Heterogenitas (H ) pada lokasi penelitian tergolong dalam kategori Sedang. Hasil di atas memberikan gambaran bahwa komunitas tumbuhan pada semua tingkatan vegetasi di penelitian, disusun oleh jumlah spesies (jenis) yang relatif banyak dengan kelimpahan pada setiap spesies, sama atau hampir sama. Hal ini karena tingkat keanekaragaman jenis di suatu daerah tidak hanya ditentukan oleh banyaknya jenis, tetapi juga oleh banyaknya individu dari setiap jenis. Sebaliknya jika komunitas itu disusun oleh sangat sedikit spesies, dan jika hanya sedikit saja spesies yang dominan, maka keanekaragaman jenisnya rendah. Indeks keragaman juga mengindikasikan bahwa komunitas tumbuhan untuk tingkatan pada wilayah relatif kurang stabil atau spesies yang ada di dalamnya mulai terganggu. Ini semakin diperkuat dengan fenomena yang terjadi di lapangan dimana banyak ditemukan bekasbekas penebangan dan tunggak-tunggak kayu hasil penebangan liar. Hal ini tentu sangat

66 disayangkan mengingat fungsi kawasan tersebut yang kawasan hutan lindung. KESIMPULAN DAN SARAN Komposisi tumbuhan pada kawasan hutan lindung Nanga-Nanga Papalia Kelurahan Anduonohu, tersusun atas 67 spesies yang terkelompok dalam 33 famili, dengan Myrtaceae sebagai famili dengan jumlah spesies terbanyak, kemudian diikuti oleh famili-famili Euphorbiaceae, Lauraceae, Moraceae dan Rubiaceae. Beberapa jenis dengan Indeks Nilai Penting tertinggi yakni untuk tingkat pohon jenis Castanopsis buruana, tingkatan tiang jenis Cleistantus sumatranus, tingkatan pancang jenis Syzigium sp2 dan tingkat semai jenis Cleistanthus sumatranus, merupakan jenis-jenis yang mempunyai peranan yang besar dalam menjaga kestabilan ekosistem sehingga terganggunya jenis-jenis tersebut akan berpengaruh besar terhadap ekosistem Indeks keanekaragaman jenis di Hutan Lindung Nanga-Nanga Papalia Kelurahan Anduonohu termasuk dalam kategori melimpah sedang. Oleh karenanya perlu adanya upaya untuk menjaga kelestarian vegetasi yang ada di hutan lindung Nanga-Nanga Papalia Kelurahan Anduonohu agar keanekaragaman jenis dapat terjaga. DAFTAR PUSTAKA Anonim, 1992. Manual Kehutanan. Badan Penelitian dan Pengembangan Kehutanan. Departemen Kehutanan. Republik Indonesia. Arief, A., 1994. Hutan, Hakekat Dan Pengaruhnya Terhadap Lingkungan. Yayasan Obor Indonesia. Jakarta. Departemen Kehutanan RI. Undang-undang Nomor 41 Tahun 1999 Tentang Kehutanan. Jakarta Djadjapertjunda, Sadikin., 2002. Hutan Dan Kehutanan Indonesia Dari Masa Ke Masa. UI Press. Jakarta. Fachrul, M., 2007. Metode Sampling Bioekologi. Bumi Aksara, Jakarta. Gendon, R dan Hidayat, W. 1983. Pengantar Kehutanan. Balai Latihan Kehutanan. Ujung Pandang. Hardjowigeno, S., 1993. Klasifikasi Tanah dan Pedogenesis. Akademika Presindo. Jakarta Husch B., 1987. Perencanaan Inventarisasi Hutan. Universitas Indonesia press. Jakarta. Indriyanto, 2006. Ekologi Hutan. Jakarta. Bumi Aksara, Junus, 1984. Dasar-Dasar Urnurn Ilmu Kehutanan. Hutan dan Fungsi Hutan. Badan Kerjasama Perguruan Tinggi Indonesia Bagian Timur. Lembaga Penerbitan Unhas. Kershaw, K.A., 1964. Quantitative an Dynamic Plant Ecology. Second Edition Butter dan Tanner, London. Marsono, Dj. 2004. Konservasi sumberdaya alam dan lingkungan hidup. P enerbit BIGRAF publishing bekerjasama dengan sekolah tinggi tekhnik lingkungan YLH. Yogyakarta Mueller-Dombois dan H., Ellenberg. 1974. Aims and Methods of Vegetasion Ecology. United State America. Odum, E. HLM., 1993. Dasar-Dasar Ekologi. Terjemahan oleh Tjahjono Pamulardi, B., 1993. Hukum Kehutanan Dan Pembangunan Bidang Kehutanan. PT RajaGrafindo Persada. Jakarta. Polunin, 1990. Pengantar Geografi Tumbuhan dan Beberapa Ilmu Serumpun. Oerjemahan Gembong Trjosoepomo,). Gajah Mada University Press. Yogyakarta. Soerianegara, dan Indrawan, A. 1973. Ekologi Hutan Indonesia. Departemen Manajemen Hutan. Fakultas Kehutanan. Institut Pertanian Bogor. Bogor.