BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1 Hasil Pengumpulan Data Setelah melakukan observasi melalui beberapa sumber diperoleh data yang akan dimodelkan dalam ontologi DSS MP-ASI. Tabel 4.1 menunjukkan daftar data yang diperoleh dari berbagai sumber. Tabel 4.1. Hasil pengumpulan data No. Sumber Data 1. Ontologi MP-ASI (Athiyah, 2014) Resep makanan Usia bayi Rasa Tekstur Cara olah Bahan 2. Ontologi Nutrisi Anak (Sari, 2014) Nutrisi 3. Pedoman Umum Pemberian makanan pendamping air susu ibu (MP-ASI) lokal tahun 2006, Depkes RI. 2006.a Cookbook Healthy Food for Baby and Toodler Australia tahun 2014 4. https://ndb.nal.usda.gov/ndb/search/li st http://nutritiondata.self.com/ E-book Fruit and Vegetable Chart Amerika tahun 2003 5. http://www.webmd.com/ Pedoman RDA-AI Vitamin Element 2013 Malnutrisi Penyebab malnutrisi Resep makanan Nutrisi bahan makanan per 100 gr Treatment rekomendasi MP-ASI malnutrisi dengan
4.2 Hasil Integrasi Ontologi MP-ASI dan Nutrisi Anak 4.2.1 Mereview Pemodelan Ontologi MP-ASI dan Nutrisi Anak Pada tahap ini diketahui bahwa sebelumnya sudah pernah ada ontologi dengan domain resep MP-ASI dan ontologi dengan domain nutrisi anak. Oleh karena itu, dalam penelitian ini kedua ontologi dikaji kembali untuk membentuk ontologi DSS MP-ASI baru yang mengandung informasi kedua ontologi tersebut tanpa menghilangkan value yang ada di dalamnya. Hasil review yang didapatkan dari pemodelan ontologi MP-ASI dan nutrisi anak adalah : a. Diperoleh data konsep (class) untuk digunakan kembali sebagai konsep (class) yang akan membangun ontologi DSS MP-ASI. - Konsep dari model ontologi MP-ASI adalah Bahan_Makanan, Bumbu, Cara_Olah, Jenis_Makanan, Kandungan_Gizi, Nama_Resep, Rasa_Makanan, Tekstur_Makanan, dan Usia_Bayi. - Konsep dari model ontologi nutrisi anak adalah food, food_sources, malnutrition, malnutrition_caution, nutrient, nutrient_function, dan person. b. Diperoleh data properti untuk memberikan makna terhadap konsep yang dibuat. - Properti dari model ontologi MP-ASI adalah hasbahanmakanan, hasbumbu, hascaraolah, hasnamaresep, hasrasa, hasresep, hastekstur, hasusia, isbumbuof, iscaraolahof, isforusia, iskandungangiziof, isnamaresepof, israsaof, isresepof, dan isteksturof. - Properti dari model ontologi nutrisi anak adalah has_caution, has_function, has_source, is_caution_of, dan is_function_of. c. Diperoleh data instance yang merepresentasikan setiap konsep yang digunakan. 4.2.2 Integrasi Class dan Subclass Penentuan class dan subclass dilakukan berdasarkan pemodelan ontologi MP-ASI dan nutrisi anak. Hasil integrasi class dan subclass yang dilakukan adalah :
a. Mengintegrasikan class Bahan_Makanan dengan class food. Integrasi dilakukan karena konsep yang dibangun memiliki kesamaan. Pada class Bahan_Makanan terdapat informasi mengenai bahan makanan yang bisa digunakan atau diolah menjadi MP-ASI. Sedangkan pada class food terdapat informasi mengenai bahan makanan yang bisa diketahui kandungan nutrisinya. Oleh karena itu, kedua class diintegrasikan sebagai class foodsource yang berisi informasi bahan makanan yang bisa diolah menjadi MP-ASI dan dapat diketahui kandungan nutrisinya. b. Mengintegrasikan class Bumbu untuk dimasukkan sebagai subclass flavor dalam class foodsource. Integrasi dilakukan karena bumbu juga merupakan bahan makanan yang diperlukan untuk membuat MP-ASI. c. Mengintegrasikan class Kandungan_Gizi dengan class nutrient menjadi class nutrient. Integrasi dilakukan karena kedua class tersebut mengandung informasi yang sama yaitu informasi mengenai jenis nutrisi. d. Mengintegrasikan class Usia_Bayi dan class person menjadi class babyage. Pada class Usia_Bayi terdapat informasi usia bayi yang masih membutuhkan MP-ASI yaitu usia 6 24 bulan. Sedangkan pada class person terdapat data usia bayi yaitu 6 24 bulan dan data usia anak- anak dari usia 2 13 tahun. Pada penelitian DSS MP-ASI yang akan dibangun akan difokuskan pada bayi yang masih berusia 6 24 bulan, sehingga data usia anak- anak dari model ontologi nutrisi anak tidak digunakan. Class dan subclass lain pada model ontologi MP-ASI dan nutrisi anak tidak diintegrasikan karena class maupun subclass tersebut bersifat unique. Integrasi dilakukan dengan memberikan istilah bahasa Inggris pada setiap class dan subclass yang dibangun, akan tetapi class dan subclass terkait sudah diberikan properti untuk mendefiniskan dalam bahasa Indonesia. Gambar 4.1 menunjukkan class pada model ontologi MP-ASI, gambar 4.2 menunjukkan class pada model ontologi nutrisi anak, dan gambar 4.3 menunjukkan hasil integrasi class pada model ontologi DSS MP-ASI. Deskripsi informasi atas class yang digunakan pada model ontologi DSS MP-ASI ditunjukkan oleh tabel 1 pada lampiran 1. Penggunaan kembali class dan subclass tersebut adalah: a. Class Cara_Olah menjadi class makingprocess b. Class Jenis_Makanan menjadi class foodtype c. Class Nama_Makanan menjadi class food
d. Class Rasa_Makanan menjadi class taste e. Class Tekstur_Makanan menjadi class texture f. Class malnutrition g. Class malnutrition_caution menjadi class malnutritioncaution h. Class nutrient_function menjadi class nutrientfunction Gambar 4.1. Class dan subclass pada model ontologi MP-ASI Gambar 4.2. Class dan subclass pada model ontologi nutrisi anak
Gambar 4.3. Hasil integrasi class dan subclass pada model ontologi DSS MP-ASI 4.2.3 Integrasi Object Property Class Object Property akan membantu pengembang untuk memberikan relasi antara dua konsep, sehingga object property memiliki konsep asal (domain) dan konsep tujuan (range). Integrasi object property yang dilakukan adalah : a. Menggabungkan properti dari model ontologi MP-ASI dan model ontologi nutrisi anak, sehingga properti yang terbentuk adalah : - hascaraolah >< caraolahof - hasrasa >< rasaof - hastekstur >< teksturof - hasusia menjadi hasresep >< isforusia menjadi resepfor - has_caution menjadi hasefek >< is_caution_of menjadi efekof - has_function menjadi hasfungsi >< is_function_of menjadi fungsiof b. Memodifikasi beberapa object property menjadi properti yang lain. - hasbahanmakanan >< bahanmakananof - hasbumbu >< bumbuof - haskandungangizi >< kandungangiziof c. Menghilangkan properti yang tidak digunakan pada model ontologi DSS MP- ASI
- hasnamaresep >< isnamaresepof - has_source d. Menambahkan properti baru untuk mengintegrasikan kedua ontologi. Properti baru yang ditambahkan dilakukan untuk memberikan makna atas integrasi model ontologi yang dilakukan. Properti yang ditambahankan ialah hastreatment dengan inverse treatmentof. Properti tersebut digunakan untuk memberikan relasi bahwa suatu tipe malnutrisi tertentu bisa diobati dengan suatu resep MP-ASI. Gambar 4.4 menunjukkan object property dari model ontologi MP-ASI dan nutrisi anak, sedangkan gambar 4.5 menunjukkan hasil integrasi object property pada ontologi DSS MP-ASI. Tabel 4.2 menunjukkan deskripsi dari setiap properti yang dipakai dalam model ontologi DSS MP-ASI. Gambar 4.4. Object property model ontologi MP-ASI (kiri) dan nutrisi anak (kanan) Gambar 4.5. Hasil integrasi object property model ontologi DSS MP-ASI
Tabel 4.2. Deskripsi hasil integrasi object property No Object Property Domain Range 1. hascaraolah food makingprocess 2. caraolahof makingprocess food 3. hasefek malnutritioncaution malnutrition 4. efekof malnutrition malnutritioncaution 5. hasfungsi nutrition nutrientfunction 6. fungsiof nutrientfunction nutrition 7. haspenawar malnutrition food 8. penawarof food malnutrition 9. hasrasa food taste 10. rasaof taste food 11. hasresep babyage food 12. resepfor food babyage 13. hastekstur food texture 14. teksturof texture food 15. hastipe food foodtype 16. tipeof foodtype food 4.2.4 Integrasi Data Property Class Data property digunakan untuk memberikan hubungan antara dua buah konsep yang memiliki keterangan tambahan setelahnya. Agar data property bisa digunakan dengan baik, maka diperlukan bantuan annotation property sebagai penghubung properti dengan individu yang terkait. Integrasi properti yang dilakukan adalah : a. Menggunakan kembali properti yang diperlukan - Properti has_nutrient menjadi mengandungnutrisi untuk mendefinisikan kadar nutrisi yang dikandung oleh bahan makanan per 100 gr. - Properti needs_nutrient menjadi membutuhkannutrisi untuk mendefiniskan kadar nutrisi yang harus dipenuhi bagi bayi per hari. b. Menghilangkan properti yang tidak digunakan - Properti has_energy
- Properti has_normal_length - Properti has_normal_weight - Properti has_old - Properti needs_energy - Properti hasbulan c. Membuat properti baru yang diperlukan dalam model ontologi DSS MP-ASI - Properti kandungannutrisi untuk mendefiniskan kadar nutrisi yang terkandung pada setiap resep MP-ASI. - Properti memerlukanbahan sebagai modifikasi dari object property hasbahanmakanan untuk mendefinikan ukuran bahan makanan yang diperlukan untuk membuat suatu resep MP-ASI. - Properti menghindari_bahan untuk mendefinisikan bahan makanan yang tidak diinginkan dalam resep MP-ASI. d. Membentuk annotation property yang diperlukan - Properti data_memerlukanbahan untuk menghubungkan properti memerlukanbahan dengan instance dari class food dengan class foodsource. - Properti data_membutuhkannutrisi untuk menghubungkan properti membutuhkannutrisi dengan instance dari class babyage dengan class nutrition. - Properti data_mengandungnutrisi untuk mengubungkan properti mengandungnutrisi dengan instance dari class foodsource dengan class nutrition. - Properti data_makanan_nutrisi untuk menghubungkan properti kandungannutrisi dengan instance dari class food dengan class nutrition. - Properti data_menghindari_bahan untuk menghubungkan properti menghindari_bahan dengan instance dari class food dengan class foodsource. - Mengambil properti has_indonesian_term dari model ontologi nutrisi anak menjadi properti mempunyai_istilah_indonesia untuk memberikan definisi bahasa Inggris yang dipakai ke dalam bahasa Indonesia.
Gambar 4.6 menunjukkan data property yang dipakai dalam model ontologi MP-ASI dan nutrisi anak. Sedangkan gambar 4.7 menunjukkan data property yang dipakai pada model ontologi DSS MP-ASI. Tabel 4.3 menunjukkan properti dan individu yang terkait. Gambar 4.6. Data property model ontologi MP-ASI (kiri) dan nutrisi anak (kanan) Gambar 4.7. Hasil integrasi data property pada model ontologi DSS MP-ASI Tabel 4.3. Data property pemodelan ontologi DSS MP-ASI No. Nama Properti Annotasi Range 1. memerlukanbahan data_memerlukanbahan foodsource 2. membutuhkannutrisi data_membutuhkannutrisi nutrition 3. mengandungnutrisi data_mengandungnutrisi nutrition 4. kandungannutrisi data_makanan_nutrisi nutrition 5. menghindari_bahan data_menghindari_bahan foodsource 4.2.5 Integrasi Instance Pada tahap ini dilakukan penggabungan individu yang ada pada ontologi MP-ASI dan ontologi nutrisi anak. Pada umumnya semua individu pada model ontologi MP-ASI dan nutrisi anak akan digunakan kembali pada model ontologi
DSS MP-ASI. Seperti yang sudah dibahas pada poin 4.2.2 terjadi integrasi class person dengan class Usia_Bayi menjadi class babyage yang berisi knowledge usia bayi 6-24 bulan. Knowledge usia bayi yang diberikan berupa range usia dari 6-8 bulan, 9-11 bulan, dan 12-24 bulan. Bentuk ini dipilih karena bagi bayi dengan range usia tersebut memiliki kebutuhan nutrisi yang sama setiap harinya, jenis makanan yang bisa diberikan, tekstur makanan, dan bahan makanan yang boleh diberikan juga memiliki kesamaan. Hasil integrasi individu bisa dilihat pada tabel a.2 lampiran a. 4.2.6 Validasi Integrasi Ontologi MP-ASI dan Nutrisi Anak Hasil integrasi ontologi MP-ASI dan nutrisi anak telah mendapatkan validasi dari dokter ahli gizi dan dokter spesialis anak. Dengan kata lain, informasi yang tersedia dalam aplikasi DSS MP-ASI berbasis pemodelan ontologi dapat diterima secara medis dan sesuai dengan ketentuan dalam pemberian MP-ASI dengan memperhatikan kandungan nutrisi bagi bayi usia 6 24 bulan. Hasil validasi dapat dilihat pada lampiran b. 4.3 Implementasi DSS Berbasis Pemodelan Ontologi 4.3.1 Pembuatan Aplikasi Hasil implementasi DSS berbasis pemodelan ontologi setelah melalui dua tahap adalah : a. Penentuan Kriteria Kriteria digunakan sebagai parameter untuk memproses pembuatan keputusan. Berdasarkan pemodelan ontologi MP-ASI dan nutrisi anak sebelumnya, serta setelah berkonsultasi dengan dokter ahli gizi dan dokter spesialis anak, maka diputuskan bahwa kriteria yang digunakan adalah sebagai berikut : 1) Usia bayi Usia bayi dijadikan kriteria yang harus ada untuk mendapatkan rekomendasi resep MP-ASI karena jenis makanan yang bisa dicerna dan nutrisi yang dibutuhkan oleh anak dengan usia 6 bulan, 8 bulan, dan 12 bulan berbeda- beda. 2) Bahan Makanan 1 dan Bahan Makanan 2 Bahan makanan menjadi kriteria selanjutnya untuk menyesuaikan bahan makanan yang tersedia terutama yang disukai oleh anak. Hal ini
dikarenakan dalam pemberian MP-ASI bahan makanan harus yang sehat, memiliki rasa dan tampilan fisik yang masih segar. User bisa memilih dua jenis bahan makanan yang paling diminati atau disukai oleh sang buah hati. 3) Malnutrisi Malnutrisi adalah kriteria terakhir yang diberikan pada DSS MP-ASI berbasis pemodelan ontologi. Jika anak tidak mengidap malnutrisi maka sistem akan menampilkan semua resep makanan sesuai dengan kriteria usia bayi, bahan makanan, dan rasa. Namun, jika anak menderita suatu malnutrisi maka sistem akan memfilter makanan dan memberikan rekomendasi makanan sesuai dengan kebutuhan nutrisi anak untuk mengatasi gangguan malnutrisi tersebut. b. Penerapan SWRL Pengolahan data informasi dalam DSS untuk menghasilkan alternatif resep MP-ASI menggunakan teknik SWRL. Rule yang diberikan adalah : Kondisi : Jika bayi (?babyage) memiliki malnutrisi (?malnutrition) Maka bayi (?babyage) memiliki resep MP-ASI (?food) Resep MP-ASI (?food) memerlukan bahan (?memerlukanbahan) Bayi (?babyage) alergi terhadap bahan makanan (?menghindari_bahan) SWRL Instance rule : MP-ASIRecommendation(?M) usia bayi (?babyage) hasmalnutrisi (?malnutrition) hastreatment (?food) hasrasa (?taste) memerlukan bahan (?memerlukanbahan) menghindari bahan (?menghindari_bahan) Instance rule diberikan dengan mempertimbangkan kriteria yang sudah ditetapkan. MP-ASI akan diberikan kepada bayi sebagai langkah penanganan khusus dengan kondisi apakah bayi mengidap malnutrisi atau tidak. MP-ASI yang direkomendasikan juga akan menyesuaikan dengan bahan makanan yang diinginkan ada dalam resep dan bahan makanan yang tidak diinginkan. Contoh hasil penerapan teknik SWRL setelah dibuat instance rules untuk mendapatkan hasil rekomendasi DSS MP-ASI dapat dilihat pada tabel a.3 lampiran a. Hasil pembangunan aplikasi yang diimplementasikan pada bahasa pemrograman java dan menggunakan pengolah ontologi JENA APACHE 2.7.8 memiliki dua fitur utama yaitu halaman nutrisi bahan makanan dan halaman
rekomendasi MP-ASI. Halaman nutrisi bahan makanan akan memberikan user informasi lengkap mengenai kadar nutrisi yang terkandung pada bahan makanan setiap 100 gr. Sedangkan halaman rekomendasi MP-ASI akan memberikan user informasi mengenai menu MP-ASI apa saja yang paling cocok dengan kebutuhan nutrisi bayi. Tabel 4.4 menunjukkan user interface halaman nutrisi bahan makanan dan tabel 4.5 menunjukkan user interface halaman rekomendasi pada aplikasi DSS MP-ASI berbasis pemodelan ontologi. Tabel 4.4. User interface halaman nutrisi bahan makanan aplikasi DSS MP- ASI No. Hasil UI 1. Input bahan yang ingin diketahui kandungan nutrisi : Kandungan nutrisi yang ada pada beras merah :
Tabel 4.5. User interface halaman rekomendasi aplikasi DSS MP-ASI No. Hasil 1. Input kriteria yang diberikan user : Hasil rekomendasi MP-ASI sesuai kriteria yang diberikan user : 4.3.2 Validasi Aplikasi DSS MP-ASI Hasil implementasi DSS berbasis pemodelan ontologi telah mendapatkan validasi dari dokter ahli gizi dan dokter spesialis anak. Hasil validasi menyatakan bahwa informasi yang diberikan oleh aplikasi sudah memenuhi kebutuhan standar para orang tua untuk memberikan rekomendasi resep MP-ASI sesuai kebutuhan nutrisi bayi. Input dan output aplikasi sudah benar dan sesuai dengan ketentuanketentuan yang perlu diperhatikan dalam memberikan rekomendasi MP-ASI. 4.4 Hasil Pengujian DSS Berbasis Pemodelan Ontologi Pengujian usability terhadap aplikasi DSS MP-ASI berbasis pemodelan ontologi dilakukan melalui dua tahap. Tahap pertama, aplikasi diujicobakan kepada dokter ahli gizi dan dokter spesialis anak untuk mengevaluasi input dan output dari segi ilmu kedokteran. Tahap kedua, aplikasi diujicobakan kepada masyarakat umum. 4.4.1 Pengujian oleh Pakar Pengujian oleh pakar mendapatkan hasil resume mengenai aplikasi DSS MP-ASI. Pakar akan mencoba menjalankan aplikasi, kemudian memberikan
tanggapan mengenai aplikasi DSS MP-ASI. Resume yang diberikan adalah bahwa aplikasi sudah bagus. Tampilan, fitur, dan langkah- langkah yang perlu dijalankan sederhana sehingga tidak membingungkan dan mudah dipahami. Penggunaan warna dan gambar tidak berlebihan sehingga tidak mengganggu kenyamanan pengguna. Secara keseluruhan aplikasi layak untuk dipublikasikan dan diujicobakan kepada masyarakat umum. 4.4.2 Pengujian Oleh User Pengujian usability aplikasi DSS MP-ASI oleh user dilakukan dengan metode kuisoner. User/ responden akan mencoba menjalankan aplikasi kemudian menjawab setiap pertanyaan yang ada pada kuisoner. Responden yang sudah diseleksi seperti yang sudah dijelaskan pada pembahasan 3.4.2 akan memilih salah satu opsi yang diberikan. Merujuk pada tabel 3.2 hasil penilaian user terhadap aplikasi DSS MP-ASI ditunjukkan oleh tabel 4.6. Tabel 4.6. Penilaian user terhadap aplikasi DSS MP-ASI R/K R1 R2 R3 R4 R5 R6 R7 R8 R9 R10 L1 5 4 4 4 5 4 4 4 4 3 L2 3 4 4 3 3 4 3 3 4 4 Rata- rata Learnability 3.6 E1 4 4 3 3 5 4 3 3 3 3 E2 3 4 4 4 4 4 5 4 5 3 E3 4 4 4 3 5 4 4 4 4 5 Rata- rata Efficiency 3.87 Er1 5 4 4 4 3 4 4 4 4 5 Er2 4 4 5 4 4 5 4 3 4 4 Rata- rata tidak adanya Error 4.5 M1 5 4 4 4 4 4 5 4 4 5 M2 4 4 5 4 4 5 4 3 4 4 Rata- rata Memorability 4.0 S1 4 4 4 3 4 4 5 4 4 3 S2 3 4 5 3 5 4 5 5 4 4 Rata- rata Satisfaction 4.05 Tingkat Usability 4.004
Dari tabel 4.6 menunjukkan bahwa aplikasi bisa diterima oleh masyarakat karena 70% responden memberikan nilai tinggi 4 dan 5. Hal ini membuktikan bahwa aplikasi DSS MP-ASI dapat memberikan informasi mengenai resep MP- ASI yang bisa diberikan kepada bayi mereka sesuai dengan kebutuhan nutrisi bayi.