HUKUM, POLITIK DAN ETIKA. Oleh :

dokumen-dokumen yang mirip
PELANGGARAN ETIK DAN HAK PRIBADI DALAM KASUS KODE ETIK DI MAHKAMAH KONSTITUSI

UPAYA PEMBERANTASAN KORUPSI DI INDONESIA Oleh Putri Maha Dewi, S.H., M.H

TENTANG PENYIDIK PEGAWAI NEGERI SIPIL DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA WALIKOTA SURABAYA,

Hukum Progresif Untuk Pemberantasan Korupsi

BAB I PENDAHULUAN. Pancasila dan Undang-Undang Dasar Hal ini dapat dibuktikan dalam Pasal

2.1 Pengertian Supremasi Hukum

BAB I PENDAHULUAN. masyarakat, sehingga harus diberantas 1. hidup masyarakat Indonesia sejak dulu hingga saat ini.

PERATURAN REKTOR INSTITUT TEKNOLOGI SEPULUH NOPEMBER NOMOR

BAB I PENDAHULUAN. (rechtsstaat), tidak berdasarkan atas kekuasaan belaka (machtsstaat). Indonesia

RINGKASAN PERMOHONAN PERKARA Nomor 48/PUU-XV/2017 Pembubaran Ormas yang bertentangan dengan Pancasila Dan Undang-Undang Dasar Negara Tahun 1945

BAB I PENDAHULUAN A. LATAR BELAKANG MASALAH. Indonesia merupakan salah satu negara yang sedang berkembang. Sebagai

BAB IV. A. Bantuan Hukum Terhadap Tersangka Penyalahgunaan Narkotika. Dalam Proses Penyidikan Dihubungkan Dengan Undang-Undang

BAB I. Negara Indonesia yang diproklamasikan pada tanggal 17 Agustus telah menyatakan diri sebagai negara berdasarkan atas hukum.

PERATURAN LEMBAGA PERLINDUNGAN SAKSI DAN KORBAN NOMOR 1 TAHUN 2009 TENTANG KODE ETIK DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

filsafat meliputi ontologi, epistemologi, dan aksiologi. Adapun filsafat hukum merupakan kajian terhadap hukum secara menyeluruh hingga pada tataran

BAB I PENDAHULUAN. Indonesia adalah negara hukum yang memiliki konstitusi tertinggi dalam

HAK DAN KEWAJIBAN WARGA NEGARA. Modul ke: 06Teknik. Fakultas. Yayah Salamah, SPd. MSi. Program Studi MKCU

VISI, MISI, TUJUAN, SASARAN, STRATEGI DAN KEBIJAKAN

KESEPAKATAN PEMUKA AGAMA INDONESIA

PERATURAN PEMERINTAH PENGGANTI UNDANG-UNDANG NOMOR 2 TAHUN 1998 TENTANG KEMERDEKAAN MENYAMPAIKAN PENDAPAT DI MUKA UMUM PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

I. PENDAHULUAN. Negara Indonesia adalah negara hukum ( rechtstaats), maka setiap orang yang

RANCANGAN PERATURAN DAERAH PROVINSI JAWA BARAT NOMOR 20 TAHUN TENTANG PENYIDIK PEGAWAI NEGERI SIPIL DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

PEDOMAN POKOK NILAI-NILAI PERJUANGAN YAYASAN LBH INDONESIA DAN KODE ETIK PENGABDI BANTUAN HUKUM INDONESIA

BAB I PENDAHULUAN. menentukan secara tegas bahwa Negara Indonesia adalah negara hukum. Prinsip

PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 9 TAHUN 1998 TENTANG KEMERDEKAAN MENYAMPAIKAN PENDAPAT DI MUKA UMUM

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 28 TAHUN 1999 TENTANG PENYELENGGARAAN NEGARA YANG BERSIH DAN BEBAS DARI KORUPSI, KOLUSI, DAN NEPOTISME

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 8 TAHUN 2011 TENTANG PERUBAHAN ATAS UNDANG-UNDANG NOMOR 24 TAHUN 2003 TENTANG MAHKAMAH KONSTITUSI

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 28 TAHUN 1999 TENTANG PENYELENGGARA NEGARA YANG BERSIH DAN BEBAS DARI KORUPSI, KOLUSI DAN NEPOTISME

BAB I PENDAHULUAN. unsur yang diatur dalam Pasal 1868 Kitab Undang-Undang Hukum Perdata. 1. Dibuat dalam bentuk ketentuan Undang-Undang;

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 8 TAHUN 2011 TENTANG PERUBAHAN ATAS UNDANG-UNDANG NOMOR 24 TAHUN 2003 TENTANG MAHKAMAH KONSTITUSI

d. Hak atas kelangsungan hidup. Setiap anak berhak atas kelangsungan hidup, tumbuh, dan Berkembang.

BAB I. Dalam kehidupan bernegara yang semakin komplek baik mengenai. masalah ekonomi, budaya, politik, keamanan dan terlebih lagi masalah

PEDOMAN KOMITE DISPLIN DOSEN FAKULTAS EKONOMI & BISNIS

MENTERIPERHUBUNGAN REPUBLIK INDONESIA

BAB II POLITIK HUKUM NASIONAL DI INDONESIA. A. Definisi dan Ruang Lingkup Politik Hukum

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Indonesia sebagai negara hukum berdasarkan Pancasila dan UUD

POKOK-POKOK PIKIRAN RUU APARATUR SIPIL NEGARA TIM PENYUSUN RUU TENTANG APARATUR SIPIL NEGARA

KODE ETIK PENYELENGGARA NEGARA SEBAGAI UPAYA PENEGAKAN ETIKA BAGI PENYELENGGARA NEGARA

BUPATI BANDUNG BARAT PROVINSI JAWA BARAT

BUPATI GROBOGAN PROVINSI JAWA TENGAH RANCANGAN PERATURAN DAERAH KABUPATEN GROBOGAN NOMOR TAHUN 2015 TENTANG

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 8 TAHUN 2011 TENTANG PERUBAHAN ATAS UNDANG-UNDANG NOMOR 24 TAHUN 2003 TENTANG MAHKAMAH KONSTITUSI

Hukum Dalam Arti Sempit

PENEGAKAN HUKUM. Oleh: H. Budi Mulyana, S.IP., M.Si

Ringkasan Putusan.

Dr. Mudzakkir, S.H., M.H Dosen Hukum Pidana Fakultas Hukum Universitas Islam Indonesia

KABUPATEN WAY KANAN PROVINSI LAMPUNG PERATURAN DEWAN PERWAKILAN RAKYAT DAERAH KABUPATEN WAY KANAN NOMOR 02 TAHUN 2015 TENTANG

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Indonesia merupakan Negara hukum, hal ini telah dinyatakan dalam

KODE ETIK PENGAWAS PERIKANAN, PENYIDIK PERIKANAN DAN AWAK KAPAL PENGAWAS PERIKANAN TYPE SPEED BOAT

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 8 TAHUN 2011 TENTANG PERUBAHAN ATAS UNDANG-UNDANG NOMOR 24 TAHUN 2003 TENTANG MAHKAMAH KONSTITUSI

BAB 1 PENDAHULUAN. Kehidupan bangsa Indonesia tidak bisa luput dari masalah hukum yang

BAB I PENDAHULUAN. dengan pemerintah. Prinsip negara hukum menjamin kepastian, ketertiban dan

2017, No Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2014 tentang Pemilihan Gubernur, Bupati, dan Walikota menjadi Undang-Undang (Lembaran Negara Republik In

BAB I PENDAHULUAN. Ketentuan Pasal 184 ayat (1) Kitab Undang-Undang Hukum Acara Pidana

RANCANGAN KESIMPULAN/KEPUTUSAN

RINGKASAN PUTUSAN. Darmawan, M.M Perkara Nomor 13/PUU-VIII/2010: Muhammad Chozin Amirullah, S.Pi., MAIA Institut Sejarah Sosial Indonesia (ISSI), dkk

BAB I PENDAHULUAN. terjadi di dalam masyarakat. Tindakan-tindakan eigenrichting/perbuatan main

A. Kronologi pengajuan uji materi (judicial review) Untuk mendukung data dalam pembahasan yangtelah dikemukakan,

2017, No tentang Kode Etik Pegawai Badan Keamanan Laut; Mengingat : 1. Undang-Undang Nomor 5 Tahun 2014 tentang Aparatur Sipil Negara (Lembara

PROVINSI JAWA BARAT DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI KARAWANG,

WALIKOTA JAMBI PROVINSI JAMBI PERATURAN DAERAH KOTA JAMBI NOMOR 6 TAHUN 2017 TENTANG PEJABAT PENYIDIK PEGAWAI NEGERI SIPIL

PEMERINTAH KABUPATEN LAMONGAN PERATURAN DAERAH KABUPATEN LAMONGAN NOMOR 4 TAHUN 2013 TENTANG PENYIDIK PEGAWAI NEGERI SIPIL DI KABUPATEN LAMONGAN

dengan aparatnya demi tegaknya hukum, keadilan dan perlindungan harkat dan martabat manusia. Sejak berlakunya Undang-undang nomor 8 tahun 1981

Mata Kuliah Kewarganegaraan HAK DAN KEWAJIBAN WARGANEGARA

RINGKASAN PERBAIKAN PERMOHONAN PERKARA Registrasi Nomor : 74/PUU-IX/2011 Tentang Pemberlakuan Sanksi Pidana Pada Pelaku Usaha

Oleh: DUSKI SAMAD. Dekan Fakultas Tarbiyah dan Keguruan IAIN Imam Bonjol

BAB I PENDAHULUAN. Pertama, hal Soerjono Soekanto, 2007, Sosiologi Suatu Pengantar, Jakarta: Raja Grafindo Persada, Cetakan

Prinsip Dasar Peran Pengacara

I. PENDAHULUAN. seluruh bangsa di negeri ini. Sebagai lembaga pemerintah yang melaksanakan kekuasaan negara

PERATURAN MENTERI PEKERJAAN UMUM NOMOR: 04/PRT/M/2006 TENTANG KODE ETIK AUDITOR INSPEKTORAT JENDERAL DEPARTEMEN PEKERJAAN UMUM

PERATURAN MENTERI KEHUTANAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR : P. 11/Menhut-II/2011 TENTANG PEDOMAN KODE ETIK PEGAWAI NEGERI SIPIL KEMENTERIAN KEHUTANAN

RINGKASAN PUTUSAN. Perkara Nomor 17/PUU-V/2007 : Henry Yosodiningrat, SH, dkk

Bagian Tiga Nilai-nilai Dasar dan Nilai-nilai Operasional Pasal 5

I. PENDAHULUAN. hukum, untuk itu advokat menjalankan tugas profesinya demi tegaknya keadilan berdasarkan

A. Penerapan Bantuan Hukum terhadap Anggota Kepolisian yang. Perkembangan masyarakat, menuntut kebutuhan kepastian akan

Urgensi Pemimpin Daerah Yang Bersih Guna Mewujudkan Good Governance Oleh: Achmadudin Rajab *

2017, No Sipil (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2004 Nomor 142); 3. Peraturan Presiden Nomor 47 Tahun 2015 tentang Kementerian Penday

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. Indonesia merupakan negara berkembang yang dari waktu ke waktu

PENJELASAN ATAS UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 26 TAHUN 2000 TENTANG PENGADILAN HAK ASASI MANUSIA

BAB I PENDAHULUAN. Perbuatan tersebut selain melanggar dan menyimpang dari hukum juga

TENTANG KODE ETIK PEGAWAI NEGERI SIPIL

BAB V PENUTUP. A. Simpulan

SUBSTANSI DAN KONTEN NILAI DASAR, KODE ETIK DAN KODE PERILAKU ASN

NOMOR 4 TAHUN 2012 TENTANG PENYIDIK PEGAWAI NEGERI SIPIL DAERAH KABUPATEN BANYUWANGI DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI BANYUWANGI,

KODE ETIK DAN DISIPLIN UNIVERSITAS MUHAMADIYAH

Transkripsi:

HUKUM, POLITIK DAN ETIKA Oleh : Iwan Darmawan, SH., MH. (Dekan Fakultas Hukum Universitas Pakuan Mahasiswa Program Doktor Ilmu Hukum Pascasarjana Universitas Indonesia) Perseteruan Polisi dan KPK terus berlanjut dan semakin memanas, manuver-manuver dari elit politik serta pihak-pihak lainnya semakin menambah krusial dan rumit persoalan tersebut. Hukum yang semestinya harus menjadi panglima dalam mengatur berbagai persoalan, kini semakin mudah diintervensi politik, dan tanpa rasa malu dan sungkan elit-elit politik mengumbar syahwatnya demi kepentingan dan tujuan dari kroni atau dari golongannya. Etika yang seharusnya menjadi dasar dalam berperilaku dan menjadi ukuran moralitas dari seseorang, kini semakin luntur dan bias akibat pertikaian hukum dan politik. Penegak hukum yang semestinya harus berdiri kokoh, dengan pedang keadilan ditangannya menebas siapa saja yang memang terbukti bersalah tanpa kompromi, tanpa pandang bulu, dan tanpa kepentingan. Di negara manapun yang sudah maju dan beradab, hukum dipegang dan dijalankan dengan

konsisten dan penuh tanggungjawab, karena hanya hukumlah yang memiliki kekuatan mengikat dan menentukan norma serta sanksi, terhadap siapapun yang melanggar dan berakibat hancurnya kepentingan hukum (rechts belangs). Saat ini kita disuguhkan tontonan di semua media tentang dilematis dan sinkretis antara hukum, politik dan etika, yang sebenarnya satu sama lain memiliki kekuatan dan bergaining untuk mengontrol satu sama lain demi terciptanya dan terjaminnya penegakan hukum yang lebih baik, adil dan objektif. Hukum sebagai Panglima Prof. Mochtar Kusumaatmadja menyatakan bahwa hukum itu sebagai panglima. Pendapat Prof. Mochtar Kusumaatmadja tersebut sangatlah benar, artinya semua aspek dalam kehidupan ini harus diatur oleh hukum. Ahli hukum juga seorang filosof Romawi bernama Cicero berkata Ubi societas ibi ius artinya disitu ada masyarakat disitu ada hukum. Hukum yang tegak dan ditaati adalah gambaran masyarakat yang sudah beradab. Sebaliknya hukum yang tidak tegak dan tidak ditaati menggambarkan masyarakat yang masih barbar. Hukum harus ditempatkan sebagai panglima, agar segala sesuatu berdasarkan hukum yang menjamin adanya ketertiban, kenyamanan dan keamanan keamanan. Hans Kelsen dengan teorinya hukum murni (the fure theory of law) intinya menekankan bahwa hukum itu harus dijaga kemurniannya yaitu berpegang pada norma atau kaedah yang sudah ditentukan, hukum tidak boleh diintervensi oleh anasiranasir non yuridis seperi politik, sosial, ekonomi dan sebagainya. Hal ini dimaksudkan agar hukum benar-benar dijadikan pegangan, dan barangsiapa yang melanggarnya maka dapat dikenakan sanksi. Dalam kasus yang bergulir saat ini, nampak sekali hukum kehilangan esensinya, hukum tidak menampakkan sifat kepanglimaannya, hukum begitu mudah ditempatkan dibawah kepentingan orang-orang tertentu dan golongan-golongan tertentu, padahal sepertinya hukum harus selalu menempatkan kepentingan masyarakat banyak (umum). Rudolf Von Ihering menyatakan bahwa individu-individu harus tunduk pada hukum yang mengedepankan kepentingan umum, dan siapa-siapa saja individu yang tidak mau tunduk pada kepentingan umum, dia harus berhadapan dengan hukum pidana, agar individu tersebut akhirnya tunduk pada kepentingan umum. Jika dalam perseteruan antara Polisi dan KPK, dalam penyelesaiannya lebih cenderung bermuatan politis, maka kita sudah berasumsi, hukum sudah rontok di negeri ini, karena idealnya polemik yang terjadi

antara Polisi dan KPK harus diselesaikan melalui ranah hukum, dengan tetap menghormati asas equility before the law (semua sama di depan hukum) dan asas praduga tak bersalah (presumtion of innouncen) Konfigurasi Hukum dan Politik Perseteruan antara hukum dan politik, sebenarnya sudah menjadi bagian yang tak terpisahkan dalam kehidupan manusia, bagitu juga dalam kehidupan di masyarakat, bangsa dan negara. Namun demikian, meski politik memiliki energi yang lebih besar berupa kekuasaan, kepentingan, uang dan kelezatankelezatan duniawi lainnya, tetaplah politik itu harus tunduk pada hukum, karena sifat hukum harus dapat mengatur dan memaksa agar tidak terjadi pelanggaran hukum. Talcott Parson, berpendapat dalam sistem sosial terdapat beberapa subsistem-subsistem antara lain sistem hukum, sistem politik, sistem ekonomi, sistem sosial dan sistem-sistem lainnya. Diantara sistem-sistem itu, sistem politik memiliki energi lebih besar, oleh karena itu sistem politik begitu mudah mengendalikan sistem-sistem lainnya. Menurut Talcott Parson, sistem hukum memiliki informasi tinggi berbicara keadilan dan kebenaran, tetapi sayang selalu kalah oleh politik yang memilikienergi lebih besar, maka hukumpun selain harus berbicara keadilan dan kebenaran, hukumpun harus memiliki energi yang lebih besar, agar hukum bisa memiliki energi yang lebih besar maka hukum harus didukung oleh kekuatan-kekuatan murni yang tidak melanggar hukum antara lain kekuatan rekyat (lexs populis), Budaya hukum (legal culture), Undang-undang yang berkualitas (legal substantif), dan aparat hukum yang berani, jujur dan tidak korup ( legal structure). Prof. Satjipto Rahardjo dengan teorinya hukum progresif, berpendapat bahwa hukum itu harus progresif menjunjung keadilan dan kebenaran, menurutnya kepastian peraturan itu belum menjamin adanya kepastian hukum, jika Undang-undang yang dibuat tidak berdasarkan rasa keadilan masyarakat. Prof. Mahfud MD berpendapat di negara yang demokratis, semestinya harus berlaku hukum yang responsif, mendengarkan aspirasi rakyat, karena hanya di negara yang otoriter hukum itu bersifat menindas dan tidak responsif berpihak pada rakyat. Dalam konteks perseteruan Polisi dan KPK yang sedang bergulir dewasa ini, Presiden Jokowi hendaknya bisa membaca situasi dan kondisi secara cermat dengan tetap berpijak pada hukum yang berlaku serta mendengar juga aspirasi masyarakat banyak. Dalam situasi dilematis seperti ini, Jokowi diuji

kenegarawanannya yang sejatinya negarawan sekelas presiden harus mempu memperjuangkan kepentingan umum dan kemaslahatan rakyat banyak, bukan sabaliknya berpihak pada orang-orang tertentu atau golongan-golongan tertentu, apalagi kehilangan integritas leadershipnya karena tekanan dan pengaruh pihak-pihak tertentu yang berkepentingan bukan untuk kepentingan umum. Etika diambang kehancuran Carut marut hukum, serta kegaduhan politik, yang mengganggu stabilitas bangsa dan negara, serta tontonan selebrita politik di media massa, harus diarahkan dan ditekankan kepada perjuangan dalam penegakan hukum yang benar, sesuai undang-undang yang berlaku serta rasa keadilan masyarakat, jangan sampai ada penegakan hukum yang tidak benar dijustifikasi oleh masyarakat sebagai kebenaran, oleh karena itu lembaga-lembaga hukum yang ada, baik Polisi, KPK, Jaksa, Hakim dan lembaga-lembaga hukum lainnya harus peka dan waspada, agar hukum tidak dipelintir oleh rezim yang tidak bertanggungjawab, hukum harus dikontrol oleh siapapun yang menghormati keadilan, kebenaran dan ketidakberpihakan, kecuali berpihak kepada kepentingan umum dan kemaslahatan bangsa dan negara. Etika harus ditegakkan, dijalankan, dan dijadikan contoh keteladanan sikap dan perilaku yang luhur, kesatria, dan mulia. Socrates berpendapat manusia yang sudah belajar etika dan kebaikan maka sebenarnya harus secara otomatis berbuat baik. Pandangan Socrates ini, tentu saja benar adanya, karena siapapun yang sudah mengetahui akan yang benar dia tidak berbuat salah, begitu juga sebaliknya, jika menusia sudah memahami yang salah, maka dia akan melakukan yang benar. Penutup Negeri ini mau menjadi negara hukum yang sebenarnya, atau negara hukum yang hanya kamuplase saja, tergantung kita semua yang menjalankan dan memiliki negeri ini, oleh karena itu sudah seyogyanya Presiden, Penegak Hukum, Elit Politik, Aparatur Negara, dan semua elemen masyarakat harus menaati

hukum yang berlaku, begitu juga penegak hukum harus benar-benar menegakkan hukum, sehingga masyarakat mencontoh dari keteladanan penegak hukum itu, bukan sebaliknya merendahkan dan tidak menghargai hukum, karena ulah aparat dan penegak hukum yang tidak bertanggungjawab.