Hukum Progresif Untuk Pemberantasan Korupsi
|
|
|
- Yandi Muljana
- 8 tahun lalu
- Tontonan:
Transkripsi
1 1 Hukum Progresif Untuk Pemberantasan Korupsi Oleh: Husni Mubarak* I Pendahuluan Korupsi di Indonesia telah menjadi penyakit utama yang hinggap di dalam tubuh bangsa ini. Sebagian birokrat di pemerintahan, politisi, kepala daerah, hingga aparat penegak hukum pernah ada yang terlibat kasus tindak pidana korupsi. Korupsi di Indonesia hadir dalam berbagai sektor kehidupan: dari pendidikan, kesehatan, pembangunan infrastruktur dan lain-lain. Menurut (alm) Prof. Satjipto Rahardjo (Satjipto Rahardjo, 2010: 89), korupsi di Indonesia pada tahun 1950-an masih dapat dimasukkan ke dalam kategori awal, sedangkan sekarang ini barangkali sudah berada pada tahap menuju yang terakhir. Melihat kenyataan tersebut, korupsi telah mengakar di Indonesia sejak zaman orde lama dulu hingga masa reformasi sekarang. Saat ini, indeks persepsi korupsi Indonesia yang dirilis oleh Transparency International tahun 2011 menunjukkan Indonesia meraih skor 3.0. Dimana nilai 0 adalah negeri yang sangat korup dan nilai 10 adalah negeri yang bersih dari korupsi. Lalu, Indonesia menempati posisi 100 dari 183 negara yang diukur (Liputan 6 SCTV, 9 Desember 2011). Korupsi memang sudah merusak kehidupan bangsa Indonesia ini. Dampak yang dirasakan dari korupsi memang tidak dirasakan secara langsung, tetapi pelan-pelan bisa membunuh masyarakat dan bangsa ini. Dampak dari korupsi bisa terhadap akses layanan kesehatan dan pendidikan yang belum bisa dirasakan oleh orang miskin maupun ada kisah tentang jembatan yang roboh. Korupsi itu ibarat benalu yang selalu menghisap uang rakyat dan negara. Korupsi di Indonesia tidak terjadi dengan sendirinya dan hanya dilakukan oleh individu-individu. Korupsi di Indonesia juga terjadi secara berjamaah oleh sekelompok orang. Lalu, korupsi juga bukan hanya menyangkut masalah penyelewengan uang negara saja, melainkan lebih kompleks lagi. Pelayanan publik yang berbelit-belit dan tidak maksimal hasilnya juga merupakan sebuah bentuk korupsi (Satjipto Rahardjo, 2010: 51). Budaya suap-menyuap di pengadilan juga merupakan perbuatan korupsi.
2 2 Setelah reformasi, upaya pemberantasan korupsi dimulai dengan membentuk lembaga-lembaga anti korupsi. Pertama, Indonesia pernah mempunyai lembaga yang bernama Tim Gabungan Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi (TGPTPK) yang akhirnya dibatalkan status hukumnya oleh Mahkamah Agung melalu judicial review (Satjipto Rahardjo, 2010: 187). Hal ini jelas sangat disayangkan sekali. Niat dan upaya pemberantasan korupsi melalui lembaga tersebut gagal dilaksanakan. Selain TGPTPK, berdiri juga Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) yang berdiri hingga sekarang. Lalu ada Pengadilan Tindak Pidana Korupsi (Tipikor): pengadilan khusus untuk terdakwa kasus tipikor. Terjadi masalah dalam pengadilan ini: banyak terdakwa dibebaskan oleh hakim di Pengadilan Tipikor. Kasus terakhir adalah dibebaskannya terdakwa korupsi kasus jalan tol Semarang-Solo di Pengadilan Tipikor Semarang (Detiknews, 9 Januari 2012). Sudah banyak terjadi masalah korupsi di Indonesia dan upaya penegakan hukum yang seharusnya diharapkan oleh masyarakat untuk memberantas penyakit ini ternyata juga lemah dalam penindakan. Terkadang masyarakat dibuat kecewa oleh aparat penegak hukum. Pengadilan sebagai tempat masyarakat berharap; tempat dimana keadilan dapat terwujud. Yang terjadi adalah, pengadilan berubah menjadi pasar yang memperdagangkan putusan pengadilan (Satjipto Rahardjo, 2010: 90). Padahal, tujuan dari hukum itu sendiri adalah untuk keadilan dan menciptakan ketertiban dan juga keseimbangan dalam masyarakat (Sudikno Mertokusumo, 2010: 99). Untuk itu, diperlukan model penegakan hukum yang progresif untuk memberantas korupsi yang sudah kronis ini. Dibutuhkan kesadaran kolektif antara aparat penegak hukum dan juga masyarakat untuk bahu-membahu memberantas korupsi. Paradigma hukum progresif sendiri itu adalah bahwa hukum untuk manusia, bukan manusia untuk hukum (Satjipto Rahardjo, 2010: 61). Gagasan hukum progresif adalah untuk membebaskan dari cara berhukum yang selama ini terjadi. Dalam konteks pemberantasan korupsi, hukum progresif membantu kita untuk menegakkan keadilan secara penuh dan membebaskan bangsa Indonesia dari bahaya korupsi. Selain hukum progresif, upaya pemberantasan korupsi juga harus masuk dalam ranah pendidikan. Korupsi sudah semestinya menjadi musuh bersama bagi bangsa ini. Sejak kecil, anak-anak Indonesia telah didik dan diberikan pemahaman bahwa korupsi adalah perbuatan yang sangat jahat, keji, dan sifatnya melanggar hak-hak orang lain. Pendidikan anti korupsi
3 3 harus dilakukan sejak dini dan semestinya mata kuliah anti korupsi diajarkan di sekolahsekolah dan perguruan tinggi di Indonesia. II Permasalahan 1. Di tahun 2011 terjadi permasalahan terhadap kinerja Pengadilan Tipikor daerah. Pengadilan Tipikor Daerah tersebut lahir atas dasar hukum. Undang-Undang Pengadilan Tindak Pidana Korupsi Nomor 46 Tahun Saat ini telah ada 33 Pengadilan Tipikor di tiap provinsi di Indonesia. Hakim yang bertugas di pengadilan ini terdiri atas hakim karier dan hakim ad hoc yang diseleksi oleh Mahkamah Agung. Permasalahan terjadi: banyak hakim di Pengadilan Tipikor yang mempunya track record yang buruk. Menurut laporan majalah Tempo (14-20 November 2011), seorang hakim ad hoc di Pengadilan Tipikor Bandung yang bernama Ramlan Comel pernah menjadi terdakwa korupsi di Pekanbaru, Riau tahun Saat ini, ketika dia menjadi Hakim Tipikor di kota Bandung, dia membebaskan dua terdakwa kasus korupsi: Bupati Subang, Eep Hidayat dan Walikota Bekasi, Mochtar Mohamad. Selain di Bandung, bebasnya terdakwa juga terjadi di Pengadilan Tipikor daerah yang lain. Di Jakarta, hakim tipikor membebaskan Mieke Hanriett Bambang, Sekretarus Gubernur Bank Indonesia Burhanuddin Abdullah yang didakwa menyembunyikan dokumen aliran dana Yayasan Pendidikan BI senilai Rp 100 miliar. Di Bandung, tiga terdakwa yang menjabat sebagai kepala daerah tingkat kabupaten/kota divonis bebas. Di Surabaya, 21 terdakwa divonis bebas dan di Samarinda, terdapat 14 terdakwa yang bebas. Terakhir di Semarang, 1 orang terdakwa bebas (Detiknews, 9 Januari 2012). 2. Indeks Persepsi Korupsi (IPK) Indonesia di tahun 2004 adalah 2.0 dan di tahun 2010 meningkat menjadi 2.8 (Denny Indrayana, 2011: ). Lalu di tahun 2011 IPK Indonesia menjadi 3.0 (Liputan 6 SCTV, 9 Desember 2011). Hal ini menunjukkan bahwa Indonesia memang masih belum terbebas dari korupsi, tetapi ada upaya untuk pemberantasan korupsi. Kenaikan IPK Indonesia dari tahun 2004 hingga tahun 2011
4 4 wajib kita berikan apresiasi terhadap pemerintah dan aparat penegak hukum. Namun, kita jangan cepat puas. Kapan kita bisa mengejar IPK melebihi angka 8 atau bisa mengejar Singapura yang memiliki IPK 9.3 dari ukuran 10 untuk negeri yang terbebas dari korupsi? Oleh karena itu, mulai saat ini upaya pemberantasan korupsi harus benar-benar dilakukan secara kolektif oleh seluruh elemen bangsa Indonesia seperti yang dicita-citakan (alm) Prof. Satjipto Rahardjo (Satjipto Rahardjo, 2010: ). III Pembahasan Masalah 1. Dalam menegakkan hukum, ada tiga unsur yang harus diperhatikan: kepastian hukum, keadilan hukum, dan kemanfaatan hukum (Sudikno Mertokusumo, 2010: 207). Kepastian dalam pemberantasan korupsi telah diatur dalam Undang-Undang yang terkait dengan masalah tindak pidana korupsi. Selain kepastian hukum, hal yang harus diperhatikan adalah unsur keadilan dan kemanfaatan. Putusan hakim harus bersifat adil dan tercipta unsur kemanfataan agar masyarakat puas terhadap putusan hakim tersebut. Hukum adalah untuk manusia, jadi hukum harus memberikan manfaat untuk manusia banyak. Seharusnya kita tidak mendengar lagi berita tentang bebasnya terdakwa tindak pidana korupsi apabila hakim yang memimpin jalannya persidangan itu benar-benar menjadi hakim yang progresif dan mengutamakan keadilan. Hakim diharapkan dapat menemukan hukum atas suatu peristiwa secara tepat. Penemuan hukum adalah proses pembentukan hukum oleh hakim atau petugas-petugas hukum yang diberi tugas melaksanakan hukum terhadap peristiwa-peristiwa konkret (Sudikno Mertokusumo, 2010: 210). Dalam penemuan hukum, hakim boleh tunduk terhadap undang-undang dan juga bisa sedikit melenceng dari undang-undang semata yang biasanya digunakan metode interpretasi atau penafsiran hukum (Sudikno Mertokusumo, 2010: ). Sumber hukum selain undang-undang ada yang dinamakan sebagai yurisprudensi. Menurut (alm) Prof. Sudikno Mertokusumo, yurisprudensi adalah ajaran hukum atau doktrin yang dimuat dalam putusan pengadilan. Yurisprudensi merupakan produk yudikatif yang berisi kaidah atau peraturan hukum yang mengikat pihak-pihak yang bersangkutan atau terhukum (Sudikno Mertokusumo, 2010: 146).
5 5 Dalam konteks penegakan hukum dan pemberantasan korupsi, putusan hakim harus berdasarkan undang-undang dan juga penafsiran atas undang-undang tersebut serta yurisprudensi. Diharapkan putusan hakim tersebut benar-benar berkualitas dan mempunyai efek jera bagi para koruptor. Semoga akan semakin banyak hakim yang berpikiran progresif untuk pemberantasan korupsi di Indonesia. Semoga tidak ada lagi hakim yang membebaskan terdakwa korupsi. Yurisprudensi yang dimiliki hakim harus dimanfaatkan sebaik-baiknya. Jika banyak hakim-hakim yang progresif dan mempunyai keberanian untuk menegakkan hukum secara tegas dan adil, niscaya terjadi kemajuan hukum di Indonesia dan upaya pemberantasan korupsi tidak jalan ditempat. Lalu, bukan mustahil Indonesia akan terbebas dari korupsi suatu saat nanti. Menurut (alm) Prof. Satjipto Rahardjo, dalam sejarah kemajuan-kemajuan dalam hukum tidak dicapai melalui menjalankan hukum yang biasa-biasa saja melainkan melalui keberanian menempuh langkah rule breaking yang visioner (Satjipto Rahardjo, 2010: 169). Jadi, penegakan hukum yang progresif wajib dilakukan dan hal ini dimulai dari keberanian hakim dan juga aparat penegak hukum yang lain. 2. Ketika kita melihat Indeks Persepsi Korupsi (IPK) yang dipaparkan diatas, setidaknya Indonesia dalam kurun waktu sekitar 7 tahun telah mengalami peningkatan skor. Saat ini, skor IPK kita harus ditingkatkan kembali. Oleh karena itu, hal ini menjadi tugas bersama bagi bangsa Indonesia untuk bersama-bersama membersihkan negeri ini. Kita sebagai anak bangsa, jangan hanya mengutuk gelap, mari pula kita nyalakan cahaya. Semangat individual harus kita hapuskan sejenak dan membangun semangat baru yang lebih kolektif dan progresif. Dari masyarakat biasa hingga aparat penegak hukum saling bahu-membahu dalam rangka menciptakan Indonesia yang terbebas dari korupsi. Mengutip pernyataan (alm) Prof. Satjipto Rahardjo: kultur kolektif secara progresif akan membebaskan kita dari praksis liberal dan berani menempuh cara lain demi menolong bangsa ini dari kehancuran karena praktik korupsi yang sudah meluas (Satjipto Rahardjo, 2010: 134). IV Simpulan
6 6 Korupsi yang terjadi di Indonesia telah mengalami fase yang sangat akut atau kronis. Jika hal ini dibiarkan saja, kita tinggal menunggu kehancuran negeri ini saja. Tentu kita tidak ingin negeri ini hancur. Untuk itu, diperlukan langkah-langkah yang progresif untuk membersihkan Indonesia dari bahaya korupsi. Penegakan hukum yang benar, tegas, adil, dan progresif adalah alat utama untuk perang terhadap koruptor dan korupsi. Selain itu, dibutuhkan pula dukungan masyarakat agar program pemberantasan korupsi ini dapat berjalan dengan lancar dan berhasil. Membangun kesadaran kolektif adalah penting sekali. Selain penindakan terhadap orang-orang yang terlibat kasus korupsi, penting pula menciptakan iklim pencegahan agar orang-orang tidak melakukan korupsi. Sistem-sistem yang masih korup di Indonesia dalam segala lini kehidupan juga harus dihapuskan; diganti dengan sistem yang menjunjung tinggi integritas, moralitas, dan kejujuran. Gagasan ini harus dipikirkan betul dan diterapkan. Pendidikan anti korupsi sejak dini juga harus dikembangkan. Sejak kecil, anak Indonesia telah diajarkan untuk hidup jujur. Jika gagasan-gagasan tersebut dapat diwujudkan, maka suatu saat nanti akan ada cahaya terang di Indonesia. Negeri ini akan terbebas dari penyakit yang selama ini menjadi benalu: korupsi. Mungkin sepuluh atau dua puluh tahun lagi. Sekarang kita hanya bisa berharap, bertindak, dan juga berdoa untuk keselamatan bangsa dan negara ini. Indonesia sedang berada dalam proses untuk meraih cahaya terang tersebut. Tetap optimis untuk Indonesia yang lebih baik. *Husni Mubarak adalah mahasiswa Fakultas Hukum Universitas Diponegoro (FH Undip) dan tulisan ini adalah tugas akhir dalam mata kuliah Bahasa Indonesia di FH Undip semester 1.
7 7 Daftar Pustaka Denny, Indrayana Indonesia Optimis. Jakarta: BIP. Satjipto, Rahardjo Penegakan Hukum Progresif. Jakarta: Kompas. Sudikno, Mertokusumo Mengenal Hukum: Suatu Pengantar. Yogyakarta: Universitas Atmajaya. Artikel Pengadilan Korupsi, Majalah Tempo, November Internet Bahaya Laten Korupsi, Liputan 6 SCTV, 9 Desember 2011, Pengadilan Tipikor Semarang Bebaskan Terdakwa Korupsi Kasus Jalan Tol, Detiknews, 9 Januari 2012
BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. Salah satu masalah besar yang dihadapi masyarakat pada saat ini
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Salah satu masalah besar yang dihadapi masyarakat pada saat ini adalah masalah di bidang hukum, khususnya masalah kejahatan. Hal ini merupakan fenomena kehidupan masyarakat
UPAYA PEMBERANTASAN KORUPSI DI INDONESIA Oleh Putri Maha Dewi, S.H., M.H
1 UPAYA PEMBERANTASAN KORUPSI DI INDONESIA Oleh Putri Maha Dewi, S.H., M.H A. LATAR BELAKANG Pemerintah sangat menjunjung tinggi perlindungan hukum bagi setiap warga negaranya, sehingga diperlukan pemantapan-pemantapan
INDEKS PERSEPSI KORUPSI INDONESIA 2017Survei Di Antara Pelaku Usaha. Survei di antara Pelaku Usaha 12 Kota di Indonesia
INDEKS PERSEPSI KORUPSI INDONESIA 2017Survei Di Antara Pelaku Usaha Survei di antara Pelaku Usaha 12 Kota di Indonesia 2012 2013 2014 2015 2016 SKOR 32 PERINGKAT 118 SKOR 32 PERINGKAT 114 SKOR 34 PERINGKAT
BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. Indonesia merupakan negara berkembang yang dari waktu ke waktu
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Indonesia merupakan negara berkembang yang dari waktu ke waktu mengalami perkembangan diberbagai bidang. Perkembangan yang diawali niat demi pembangunan nasional tersebut
BAB I PENDAHULUAN. reformasi berjalan lebih dari satu dasawarsa cita- cita pemberantasan
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Salah satu alasan mendasar terjadinya reformasi tahun 1998 karena pemerintahan waktu itu yaitu pada masa orde baru telah terjadi Korupsi, Kolusi dan Nepotisme
BAB I PENDAHULUAN. sebagai extraordinary crime atau kejahatan luar biasa. penerapannya dilakukan secara kumulatif.
1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Korupsi merupakan perbuatan yang melanggar hukum. Korupsi sudah berkembang di lingkungan eksekutif, legislatif dan yudikatif. Hal ini jelas sangat merugikan
BAB I PENDAHULUAN. Tindak pidana korupsi yang diikuti dengan Tindak pidana pencucian uang
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Tindak pidana korupsi yang diikuti dengan Tindak pidana pencucian uang yang terjadi dewasa ini telah terjadi secara meluas di segala segi kehidupan birokrasi negara
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Salah satu agenda reformasi yang dicanangkan oleh para reformis adalah memberantas Korupsi, Kolusi dan Nepotisme (KKN). Pada waktu digulirkannya reformasi ada suatu
RESUME PERMOHONAN PERKARA Nomor 016/PUU-IV/2006 Perbaikan 11 September 2006
RESUME PERMOHONAN PERKARA Nomor 016/PUU-IV/2006 Perbaikan 11 September 2006 I. PARA PEMOHON Prof. DR. Nazaruddin Sjamsuddin sebagai Ketua KPU PEMOHON I Prof. DR. Ramlan Surbakti, M.A., sebagai Wakil Ketua
BAB I PENDAHULUAN. kasus korupai yang terungkap dan yang masuk di KPK (Komisi. korupsi telah merebak ke segala lapisan masyarakat tanpa pandang bulu,
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Tindak pidana korupsi merupakan salah satu bentuk kejahatan yang belakangan ini cukup marak di Indonesia, hal ini dapat dilihat dari banyaknya kasus korupai
DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,
UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 20 TAHUN 2001 TENTANG PERUBAHAN ATAS UNDANG-UNDANG NOMOR 31 TAHUN 1999 TENTANG PEMBERANTASAN TINDAK PIDANA KORUPSI DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK
BAB 11 PENGHORMATAN, PENGAKUAN, DAN PENEGAKAN
BAB 11 PENGHORMATAN, PENGAKUAN, DAN PENEGAKAN ATAS HUKUM DAN HAK ASASI MANUSIA Hak asasi merupakan hak yang bersifat dasar dan pokok. Pemenuhan hak asasi manusia merupakan suatu keharusan agar warga negara
RANCANGAN UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR... TAHUN... TENTANG PENGADILAN TINDAK PIDANA KORUPSI DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA
RANCANGAN UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR... TAHUN... TENTANG PENGADILAN TINDAK PIDANA KORUPSI DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : a. bahwa negara Republik
I. PENDAHULUAN. Secara etimologis kata hakim berasal dari arab hakam; hakiem yang berarti
I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Kekuasaan kehakiman merupakan kekuasaan yang diharapkan mampu memberikan kedamaian pada masyarakat saat kekuasaan negara seperti eksekutif dan kekuasaan legislatif hanya
Pola Pemberantasan Korupsi Sistemik
Pola Pemberantasan Korupsi Sistemik Modul ke: Korupsi sistemik susah diberantas karena sudah menyebar kemana-mana Fakultas PSIKOLOGI Dra. Yuni Astuti, MS. Program Studi Psikologi S1 POLA PEMBERANTASAN
Oleh : Wahyu Beny Mukti Setiyawan (Dosen Fakultas Hukum Universitas Islam Batik Surakarta) Hp :
URGENSI PEMBENTUKAN PENGADILAN TINDAK PIDANA KORUPSI UNTUK PEMBERANTASAN KORUPSI SECARA PROGRESIF DALAM MASA TRANSISI DEMOKRASI DI INDONESIA SEBAGAI UPAYA MENUJU KEMAJUAN BANGSA YANG SESUNGGUHNYA Oleh
KAITAN EFEK JERA PENINDAKAN BERAT TERHADAP KEJAHATAN KORUPSI DENGAN MINIMNYA PEMBANGUNAN INFRASTRUKTUR DAN PENYERAPAN ANGGARAN DAERAH
KAITAN EFEK JERA PENINDAKAN BERAT TERHADAP KEJAHATAN KORUPSI DENGAN MINIMNYA PEMBANGUNAN INFRASTRUKTUR DAN PENYERAPAN ANGGARAN DAERAH I. Pendahuluan. Misi yang diemban dalam rangka reformasi hukum adalah
Executive Summary. PKAI Strategi Penanganan Korupsi di Negara-negara Asia Pasifik
Executive Summary P emberantasan korupsi di Indonesia pada dasarnya sudah dilakukan sejak empat dekade silam. Sejumlah perangkat hukum sebagai instrumen legal yang menjadi dasar proses pemberantasan korupsi
BAB I PENDAHULUAN. melakukan penyidikan tindak pidana tertentu berdasarkan undang- undang sesuai
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Salah satu unsur penegak hukum yang diberi tugas dan wewenang melakukan penyidikan tindak pidana tertentu berdasarkan undang- undang sesuai Pasal 30 ayat 1(d)
BAB 1V ANALISIS PEMBERATAN HUKUMAN YANG DILAKUKAN ARTIDJO ALKOSTAR DALAM MEMUTUS SUATU PERKARA KORUPSI
1 BAB 1V ANALISIS PEMBERATAN HUKUMAN YANG DILAKUKAN ARTIDJO ALKOSTAR DALAM MEMUTUS SUATU PERKARA KORUPSI A. Analisis Putusan Angelina Sondakh tentang Tindak Pidana Korupsi Hasil persidangan, hakim dalam
RANCANGAN UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR... TAHUN... TENTANG PENGADILAN TINDAK PIDANA KORUPSI DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA
RANCANGAN UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR... TAHUN... TENTANG PENGADILAN TINDAK PIDANA KORUPSI DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : a. bahwa negara Republik
KOLUSI MERUSAK MORAL BANGSA
KOLUSI MERUSAK MORAL BANGSA EKA MUHAMAD NUR ROSID / 11.12.5992 KELOMPOK: I (KEADILAN) PROGRAM STUDI: PENDIDIKAN PANCASILA JURUSAN: SISTEM INFORMASI DOSEN: MOHAMMAD IDRIS.P, DRS, MM LATAR BELAKANG MASALAH
MEMAHAMI UNTUK MEMBASMI BUKU SAKU UNTUK MEMAHAMI TINDAK PIDANA KORUPSI
MEMAHAMI UNTUK MEMBASMI BUKU SAKU UNTUK MEMAHAMI TINDAK PIDANA KORUPSI MEMAHAMI UNTUK MEMBASMI BUKU SAKU UNTUK MEMAHAMI TINDAK PIDANA KORUPSI KOMISI PEMBERANTASAN KORUPSI REPUBLIK INDONESIA MEMAHAMI UNTUK
BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Keuangan negara sebagai bagian terpenting dalam pelaksanaan
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Keuangan negara sebagai bagian terpenting dalam pelaksanaan pembangunan nasional yang pengelolaannya diimplemantasikan dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja
bebas murni oleh pengadilan. Sementara itu vonis hukuman bagi pelaku IL di Indonesia selama ini bervariasi, yaitu antara 1 bulan sampai dengan 9
123 IX. PEMBAHASAN UMUM Praktek Illegal logging (IL) atau pembalakan liar yang terjadi di semua kawasan hutan (hutan produksi, hutan lindung, dan hutan konservasi) merupakan salahsatu kejahatan di sektor
BAB V KESIMPULAN DAN SARAN. Fokus penelitian ini adalah mengenai gambaran praktik-praktik tindak pidana korupsi
130 BAB V KESIMPULAN DAN SARAN A. Kesimpulan Fokus penelitian ini adalah mengenai gambaran praktik-praktik tindak pidana korupsi dan film ini sebagai media kampanye anti korupsi dengan sumber data yang
BAB I PENDAHULUAN. terkait kasus-kasus korupsi yang dilakukan pejabat dan wakil rakyat.
BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah Korupsi merupakan hal yang tidak asing lagi terdengar di telinga rakyat Indonesia. Sepuluh tahun belakangan ini korupsi menjadi isu yang selalu panas dan tidak
LEMBARAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA No.155, 2009 (Penjelasan Dalam Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5074)
LEMBARAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA No.155, 2009 (Penjelasan Dalam Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5074) UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 46 TAHUN 2009 TENTANG PENGADILAN TINDAK
AMANAT KETUA MAHKAMAH AGUNG RI PADA HARI JADI MAHKAMAH AGUNG KE Agustus 2014
KETUA MAHKAMAH AGUNG REPUBLIK INDONESIA AMANAT KETUA MAHKAMAH AGUNG RI PADA HARI JADI MAHKAMAH AGUNG KE 69 19 Agustus 2014 Dengan Thema : DENGAN SEMANGAT PEMBARUAN KITA CIPTAKAN PERADILAN BERBASIS PELAYANAN
DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,
UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 20 TAHUN 2001 TENTANG PERUBAHAN ATAS UNDANG-UNDANG NOMOR 31 TAHUN 1999 TENTANG PEMBERANTASAN TINDAK PIDANA KORUPSI DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK
BAB I PENDAHULUAN. negara hingga saat ini masih menjadi permasalahan utama pemerintah Indonesia.
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Isu korupsi, suap, pencucian uang, dan semua bentuk penggelapan uang negara hingga saat ini masih menjadi permasalahan utama pemerintah Indonesia. Para aparatur
Pemberantasan Korupsi : Antara Asset Recovery dan Kurungan Bd Badan. Adnan Topan Husodo Wakil Koordinator ICW Hotel Santika, 30 November 2010
Pemberantasan Korupsi : Antara Asset Recovery dan Kurungan Bd Badan Adnan Topan Husodo Wakil Koordinator ICW Hotel Santika, 30 November 2010 1 Tren Global Pemberantasan Korupsi Korupsi sudah dianggap sebagai
UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 46 TAHUN 2009 TENTANG PENGADILAN TINDAK PIDANA KORUPSI DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA
UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 46 TAHUN 2009 TENTANG PENGADILAN TINDAK PIDANA KORUPSI DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang: a. bahwa negara Republik Indonesia
Pidana Korupsi di Indonesia Oleh Frans Simangunsong, S.H., M.H. Dosen Fakultas Hukum Universitas Surakarta
Pidana Korupsi di Indonesia Oleh Frans Simangunsong, S.H., M.H. Dosen Fakultas Hukum Universitas Surakarta A. Latar Belakang Saat ini, kewenangan untuk merumuskan peraturan perundang undangan, dimiliki
SALAH PERSEPSI SOAL KORUPSI
SALAH PERSEPSI SOAL KORUPSI Oleh: ANATOMI MULIAWAN Dosen Fakultas Hukum Universitas Indonusa Esa Unggul ABSTRAK Pemberantasan korupsi merupakan isu yang sedang hangat di Indonesia. Rasanya semua media
Trio Hukum dan Lembaga Peradilan
Trio Hukum dan Lembaga Peradilan Oleh : Drs. M. Amin, SH., MH Telah diterbitkan di Waspada tgl 20 Desember 2010 Dengan terpilihnya Trio Penegak Hukum Indonesia, yakni Bustro Muqaddas (58), sebagai Ketua
BAB 10 PENGHORMATAN, PENGAKUAN, DAN PENEGAKAN ATAS HUKUM DAN HAK ASASI MANUSIA
BAB 10 PENGHORMATAN, PENGAKUAN, DAN PENEGAKAN ATAS HUKUM DAN HAK ASASI MANUSIA A. KONDISI UMUM Penghormatan, Pengakuan, dan Penegakan atas Hukum dan Hak Asasi Manusia (HAM) di dalam tahun 2005 mencatat
Sambutan Presiden RI - Pembukaan KNPK dan Peluncuran Program Jaga, Jakarta, 1 Desember 2016 Kamis, 01 Desember 2016
Sambutan Presiden RI - Pembukaan KNPK dan Peluncuran Program Jaga, Jakarta, 1 Desember 2016 Kamis, 01 Desember 2016 SAMBUTAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA PEMBUKAAN KONFERENSI NASIONAL PEMBERANTASAN KORUPSI
FENOMENA KORUPSI SEBAGAI PATOLOGI SOSIAL DI INDONESIA Disusun oleh : Ashinta Sekar Bidari S.H., M.H.
FENOMENA KORUPSI SEBAGAI PATOLOGI SOSIAL DI INDONESIA Disusun oleh : Ashinta Sekar Bidari S.H., M.H. A. LATAR BELAKANG Indonesia adalah Negara Hukum. Sebagai Negara hukum, maka kepentingan mayarakat banyak
UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 46 TAHUN TENTANG PENGADILAN TINDAK PIDANA KORUPSI DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA
UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 46 TAHUN 2009 2009 TENTANG PENGADILAN TINDAK PIDANA KORUPSI DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : a. bahwa negara Republik Indonesia
BAB I PENDAHULUAN. Dalam Pembukaan Undang-Undang Dasar (UUD) 1945 dirumuskan demikian:
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Dalam Pembukaan Undang-Undang Dasar (UUD) 1945 dirumuskan demikian: pemerintah Negara Indonesia yang melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah
DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,
UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 20 TAHUN 2001 TENTANG PERUBAHAN ATAS UNDANG-UNDANG NOMOR 31 TAHUN 1999 TENTANG PEMBERANTASAN TINDAK PIDANA KORUPSI DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK
UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 20 TAHUN 2001 TENTANG
UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 20 TAHUN 2001 TENTANG PERUBAHAN ATAS UNDANG-UNDANG NOMOR 31 TAHUN 1999 TENTANG PEMBERANTASAN TINDAK PIDANA KORUPSI DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK
BAB I PENDAHULUAN. Indonesia. Adanya korupsi di berbagai bidang menjadikan cita-cita demokrasi
1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Korupsi masih menjadi masalah mendasar di dalam berjalannya demokrasi di Indonesia. Adanya korupsi di berbagai bidang menjadikan cita-cita demokrasi menjadi terhambat.
PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,
UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 20 TAHUN 2001 TENTANG PERUBAHAN ATAS UNDANG-UNDANG NOMOR 31 TAHUN 1999 TENTANG PEMBERANTASAN TINDAK PIDANA KORUPSI DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK
BAB II IDENTIFIKASI DATA
BAB II IDENTIFIKASI DATA 2.1. Definisi Buku Saku Secara umun buku adalah kumpulan kertas tercetak dan terjilid berisi informasi yang dapat dijadikan salah satu sumber dalam proses belajar dan membelajarkan.
BAB I PENDAHULUAN. siapa pun berpotensi untuk melakukan kecurangan. Seperti yang kita ketahui bahwa
BAB I PENDAHULUAN I.1. Latar Belakang Penelitian Kecurangan merupakan hal yang serius dan menjadi perhatian saat ini, karena siapa pun berpotensi untuk melakukan kecurangan. Seperti yang kita ketahui bahwa
Kuasa Hukum Prof. Dr. Yusril Ihza Mahendra, S.H., M.Sc., dkk, berdasarkan surat kuasa khusus tanggal 2 Maret 2015.
RINGKASAN PERMOHONAN Perkara Nomor 42/PUU-XIII/2015 Syarat Tidak Pernah Dijatuhi Pidana Karena Melakukan Tindak Pidana Yang Diancam Dengan Pidana Penjara 5 (Lima) Tahun Atau Lebih Bagi Seseorang Yang Akan
ANOMALI PEMBERANTASAN KORUPSI DAN UPAYA PENYELAMATAN KERUGIAN NEGARA DI NTB
Solidaritas Masyarakat untuk Transparansi (SOMASI) People s Solidarity for Transparency ----------------------------- CATATAN PEMBERANTASAN KORUPSI TAHUN 2014: JILID I ANOMALI PEMBERANTASAN KORUPSI DAN
HUKUM, POLITIK DAN ETIKA. Oleh :
HUKUM, POLITIK DAN ETIKA Oleh : Iwan Darmawan, SH., MH. (Dekan Fakultas Hukum Universitas Pakuan Mahasiswa Program Doktor Ilmu Hukum Pascasarjana Universitas Indonesia) Perseteruan Polisi dan KPK terus
Penghormatan dan Penegakan Hukum dan Hak Asasi Manusia
XVIII Penghormatan dan Penegakan Hukum dan Hak Asasi Manusia Pasal 1 ayat (3) Bab I, Amandemen Ketiga Undang-Undang Dasar 1945, menegaskan kembali: Negara Indonesia adalah Negara Hukum. Artinya, Negara
Nama : ALEXANDER MARWATA
Nama : ALEXANDER MARWATA 1. Pengadilan adalah tempat seseorang mencari keadilan. Pengadilan bukan tempat untuk menjatuhkan hukuman. Meskipun seorang Terdakwa dijatuhi hukuman penjara hal itu dalam rangka
I. PENDAHULUAN. Negara Indonesia adalah negara hukum ( rechtstaats), maka setiap orang yang
I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Negara Indonesia adalah negara hukum ( rechtstaats), maka setiap orang yang melakukan tindak pidana harus mempertanggungjawabkan perbuatannya melalui proses hukum.
I. PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Korupsi merupakan tindakan yang dapat menimbulkan kerugian bagi keuangan
I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Korupsi merupakan tindakan yang dapat menimbulkan kerugian bagi keuangan Negara, Tindak pidana ini tidak hanya dilakukan oleh pemerintahan pusat melainkan telah
BAB I PENDAHULUAN. (rechtsstaat), tidak berdasarkan atas kekuasaan belaka (machtsstaat). Indonesia
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Negara Indonesia adalah Negara yang berdasarkan atas hukum (rechtsstaat), tidak berdasarkan atas kekuasaan belaka (machtsstaat). Indonesia menerima hukum sebagai
UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 46 TAHUN TENTANG PENGADILAN TINDAK PIDANA KORUPSI DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA
UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 46 TAHUN 2009 2009 TENTANG PENGADILAN TINDAK PIDANA KORUPSI DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : a. bahwa negara Republik Indonesia
BAB I PENDAHULUAN. buruk bagi perkembangan suatu bangsa, sebab tindak pidana korupsi bukan
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Korupsi merupakan salah satu tindak pidana yang mempunyai akibat buruk bagi perkembangan suatu bangsa, sebab tindak pidana korupsi bukan saja merugikan keuangan
Penanganan Politik Uang oleh Bawaslu Melalui Sentra Gakkumdu
Pusat Penelitian Badan Keahlian DPR RI Gd. Nusantara I Lt. 2 Jl. Jend. Gatot Subroto Jakarta Pusat - 10270 c 5715409 d 5715245 m [email protected] BIDANG HUKUM KAJIAN SINGKAT TERHADAP ISU AKTUAL DAN
Sambutan Pengantar Presiden RI pada Dialog dengan LSM Pegiat Anti Korupsi, Jakarta, 25 Januari 2012 Rabu, 25 Januari 2012
Sambutan Pengantar Presiden RI pada Dialog dengan LSM Pegiat Anti Korupsi, Jakarta, 25 Januari 2012 Rabu, 25 Januari 2012 SAMBUTAN PENGANTAR PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA PADA ACARA DIALOG PRESIDEN REPUBLIK
UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 20 TAHUN 2001 TENTANG PERUBAHAN ATAS UNDANG-UNDANG NOMOR 31 TAHUN 1999
UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 20 TAHUN 2001 TENTANG PERUBAHAN ATAS UNDANG-UNDANG NOMOR 31 TAHUN 1999 TENTANG PEMBERANTASAN TINDAK PIDANA KORUPSI DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK
RINGKASAN PERMOHONAN PERKARA Nomor 17/PUU-XIII/2015 Upaya Hukum Peninjauan Kembali (PK) terhadap Putusan Hukuman Mati
RINGKASAN PERMOHONAN PERKARA Nomor 17/PUUXIII/2015 Upaya Hukum Peninjauan Kembali (PK) terhadap Putusan Hukuman Mati I. PEMOHON a. Perkumpulan Masyarakat Anti Korupsi Indonesia (Pemohon I) b. Lembaga Pengawasan
BAB IV KEWENANGAN KEJAKSAAN DALAM PERKARA TINDAK PIDANA KORUPSI. A. Perbedaan Kewenangan Jaksa dengan KPK dalam Perkara Tindak
BAB IV KEWENANGAN KEJAKSAAN DALAM PERKARA TINDAK PIDANA KORUPSI A. Perbedaan Kewenangan Jaksa dengan KPK dalam Perkara Tindak Pidana Korupsi Tidak pidana korupsi di Indonesia saat ini menjadi kejahatan
BAB 1 PENDAHULUAN. diperlukan demi menyelamatkan kelangsungan hidup bangsa dan negara kesatuan
BAB 1 PENDAHULUAN A. Latar Belakang Sejak awal 1990- an telah berkembang berbagai macam wacana tentang desentralisasi pemerintah di Indonesia. Dari berbagai wacana, pemerintah Habibie kemudian sampai pada
Pertama-tama, perkenanlah saya menyampaikan permohonan maaf dari Menteri Luar Negeri yang berhalangan hadir pada pertemuan ini.
PAPARAN WAKIL MENTERI LUAR NEGERI NILAI STRATEGIS DAN IMPLIKASI UNCAC BAGI INDONESIA DI TINGKAT NASIONAL DAN INTERNASIONAL PADA PERINGATAN HARI ANTI KORUPSI SEDUNIA JAKARTA, 11 DESEMBER 2017 Yang terhormat
2018, No Pengadilan Tinggi diberi kewenangan untuk memeriksa, mengadili dan memutus perkara tindak pidana pemilu; c. bahwa dengan berlakunya ke
No.452, 2018 BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA MA. Penyelesaian Tindak Pidana Pemilihan dan Pemilihan Umum. Pencabutan. PERATURAN MAHKAMAH AGUNG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 1 TAHUN 2018 TENTANG TATA CARA PENYELESAIAN
B. RUMUSAN MASALAH C. TUJUAN
BAB I Pendahuluan A. Latar belakang Korupsi di Indonesia telah menjamur di berbagai segi kehidupan. Dari Instansi tingkat desa, kota, hingga pemerintahan, bisa di bilang korupsi sudah memnbudaya di Indonesia.
BAB I PENDAHULUAN. masyarakat, sehingga harus diberantas 1. hidup masyarakat Indonesia sejak dulu hingga saat ini.
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Pembangunan nasional bertujuan mewujudkan manusia dan masyarakat Indonesia seutuhmya yang adil, makmur, sejahtera dan tertib berdasarkan Pancasila dan Undang-Undang
BAB I PENDAHULUAN. tertinggi terhadap aturan yang bersifat positif. Hukum juga menjadi tolak ukur segala
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Indonesia adalah Negara hukum (Recht staat) yang memberikan ruang tertinggi terhadap aturan yang bersifat positif. Hukum juga menjadi tolak ukur segala persoalan yang
BAB I PENDAHULUAN. penetapan status tersangka, bukanlah perkara yang dapat diajukan dalam
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Pengajuan permohonan perkara praperadilan tentang tidak sahnya penetapan status tersangka, bukanlah perkara yang dapat diajukan dalam sidang praperadilan sebagaimana
BAB I PENDAHULUAN. Political Economic and Risk Consultancy (PERSC), Transparency
BAB I PENDAHULUAN BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Political Economic and Risk Consultancy (PERSC), Transparency International Index, Corruption Perception Index, Global Competitiveness Index, Grey
Pidato Presiden - Menjelang HUT ke-71 RI pada Sidang Tahunan MPR, Jakarta, 16 Agustus 2016 Selasa, 16 Agustus 2016
Pidato Presiden - Menjelang HUT ke-71 RI pada Sidang Tahunan MPR, Jakarta, 16 Agustus 2016 Selasa, 16 Agustus 2016 PIDATO PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA MENJELANG HARI ULANG TAHUN KE-71 REPUBLIK INDONESIA
Eksistensi KPK Dalam Memberantas Tindak Pidana Korupsi Oleh Bintara Sura Priambada, S.Sos., M.H. Dosen Fakultas Hukum Universitas Surakarta
Eksistensi KPK Dalam Memberantas Tindak Pidana Korupsi Oleh Bintara Sura Priambada, S.Sos., M.H. Dosen Fakultas Hukum Universitas Surakarta A. Latar Belakang Hukum sebagai kumpulan peraturan atau kaedah
ANOTASI UNDANG-UNDANG BERDASARKAN PUTUSAN MAHKAMAH KONSTITUSI
ANOTASI UNDANG-UNDANG BERDASARKAN PUTUSAN MAHKAMAH KONSTITUSI UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 30 TAHUN 2002 TENTANG KOMISI PEMBERANTASAN TINDAK PIDANA KORUPSI DAFTAR ANOTASI Halaman 1. Sejak Rabu,
BAB I PENDAHULUAN. sedang dihadapi oleh Indonesia saat ini, karena korupsi merupakan sebuah
BAB I PENDAHULUAN 1.1 LATAR BELAKANG Tindak korupsi merupakan salah satu masalah yang paling krusial yang sedang dihadapi oleh Indonesia saat ini, karena korupsi merupakan sebuah kegiatan yang menyimpang
PENDIDIKAN KEWARGANEGARAAN. Dosen PJMK : H. Muhammad Adib. Essay Bebas (Pentingnya Pendidikan Anti Korupsi Sejak Dini)
PENDIDIKAN KEWARGANEGARAAN Dosen PJMK : H. Muhammad Adib Essay Bebas (Pentingnya Pendidikan Anti Korupsi Sejak Dini) OLEH: NADHILA WIRIANI (071211531003) DEPARTEMEN KOMUNIKASI FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN
BAB I PENDAHULUAN A. LATAR BELAKANG MASALAH. Indonesia merupakan salah satu negara yang sedang berkembang. Sebagai
BAB I PENDAHULUAN A. LATAR BELAKANG MASALAH Indonesia merupakan salah satu negara yang sedang berkembang. Sebagai negara yang sedang berkembang Indonesia perlu melaksanakan pembangunan di segala bidang
I. PENDAHULUAN. tinggi (Katz, dalam Moeljarto 1995). Pembangunan nasional merupakan
I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Pembangunan dirumuskan sebagai proses perubahan yang terencana dari suatu situasi nasional yang satu ke situasi nasional yang lain yang dinilai lebih tinggi (Katz, dalam
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Dede Iyan Setiono, 2013
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Indonesia merupakan negara hukum yang demokratis, namun perilaku korupsi semakin meluas yang dilakukan secara terorganisir dan sistematis memasuki seluruh aspek
