EFISIENSI SELEKSI SAPI PERAH FRIES HOLLAND BERDASARKAN LINGKAR DADA, BOBOT BADAN DAN UMUR. Dwi Wahyu Setyaningsih

dokumen-dokumen yang mirip
Hubungan Antara Umur dan Bobot Badan...Firdha Cryptana Morga

PARAMETER GENETIK BOBOT BADAN DAN LINGKAR DADA PADA SAPI PERAH

Moch. Makin, dan Dwi Suharwanto Fakultas Peternakan Universitas Padjadjaran

ESTIMASI NILAI HERITABILITAS BERAT LAHIR, SAPIH, DAN UMUR SATU TAHUN PADA SAPI BALI DI BALAI PEMBIBITAN TERNAK UNGGUL SAPI BALI

EVALUASI PEJANTAN FRIES HOLLAND DENGAN METODE CONTEMPORARY COMPARISON DAN BEST LINEAR UNBIASED PREDICTION

KESIMPULAN DAN SARAN. Kesimpulan. Hasil estimasi heritabilitas calving interval dengan menggunakan korelasi

ESTIMATION OF GENETIC PARAMETERS, GENETIC AND PHENOTYPIC CORRELATION ON MADURA CATTLE. Karnaen Faculty of Animal Husbandry University of Padjadjaran

KORELASI GENETIK DAN FENOTIPIK ANTARA BERAT LAHIR DENGAN BERAT SAPIH PADA SAPI MADURA Karnaen Fakultas peternakan Universitas padjadjaran, Bandung

PERBANDINGAN DUA METODE PENDUGAAN PRODUKSI SUSU SAPI PERAH BERDASARKAN CATATAN SEBULAN SEKALI

Korelasi Genetik dan Fenotipik Produksi Susu Laktasi Pertama dengan Daya Produksi Susu Sapi Fries Holland

SELEKSI PEJANTAN BERDASARKAN NILAI PEMULIAAN PADA SAPI PERANAKAN ONGOLE (PO) DI LOKA PENELITIAN SAPI POTONG GRATI PASURUAN

EVALUASI GENETIK PRODUKSI SUSU SAPI FRIES HOLLAND DI PT CIJANGGEL-LEMBANG

Respon Seleksi Domba Garut... Erwin Jatnika Priyadi RESPON SELEKSI BOBOT LAHIR DOMBA GARUT PADA INTENSITAS OPTIMUM DI UPTD BPPTD MARGAWATI GARUT

Simulasi Uji Zuriat pada Sifat Pertumbuhan Sapi Aceh (Progeny Test Simulation for Growth Traits in Aceh Cattle)

PENGGUNAAN TAKSIRAN PRODUKSI SUSU DENGAN TEST INTERVAL METHOD (TIM) PADA EVALUASI MUTU GENETIK SAPI PERAH DI BBPTU SAPI PERAH BATURRADEN

KOMPARASI ESTIMASI PENINGKATAN MUTU GENETIK SAPI BALI BERDASARKAN SELEKSI DIMENSI TUBUHNYA WARMADEWI, D.A DAN IGN BIDURA

HASIL DAN PEMBAHASAN. Gambar 4. Lokasi BBPTU-SP Baturraden, Purwokerto

PENGARUH KETINGGIAN TEMPAT DAN SISTEM PEMELIHARAAN TERHADAP KORELASI GENETIK BOBOT LAHIR DENGAN BOBOT DEWASA SAPI BALI

Penyusunan Faktor Koreksi Produksi Susu Sapi Perah

ESTIMASI POTENSI GENETIK SAPI PERAH FRIESIAN HOLSTEIN DI TAURUS DAIRY FARM, CICURUG, SUKABUMI

PENDUGAAN NILAI RIPITABILITAS DAN DAYA PRODUKSI SUSU 305 HARI SAPI PERAH FRIES HOLLAND DI PT. ULTRA PETERNAKAN BANDUNG SELATAN (UPBS)

E. Kurnianto, I. Sumeidiana, dan R. Yuniara Fakultas Peternakan Universitas Diponegoro, Semarang ABSTRAK

III OBJEK DAN METODE PENELITIAN Sistem Pemeliharaan Domba di UPTD BPPTD Margawati

ESTIMASI OUTPUT SAPI POTONG DI KABUPATEN SUKOHARJO JAWA TENGAH

PERFORMANS PERTUMBUHAN DAN BOBOT BADAN SAPI PERAH BETINA FRIES HOLLAND UMUR 0-18 Bulan

Animal Agriculture Journal 4(2): , Juli 2015 On Line at :

PERFORMA REPRODUKSI SAPI DARA FRIESIAN-HOLSTEIN PADAPETERNAKAN RAKYAT KPSBU DAN BPPT SP CIKOLE DI LEMBANG

PENDAHULUAN. pangan hewani. Sapi perah merupakan salah satu penghasil pangan hewani, yang

Gambar 1. Produksi Susu Nasional ( ) Sumber: Direktorat Jenderal Peternakan (2011)

Gambar 1. Grafik Populasi Sapi Perah Nasional Sumber: Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan (2011)

SISTEM BREEDING DAN PERFORMANS HASIL PERSILANGAN SAPI MADURA DI MADURA

I. PENDAHULUAN. Sapi perah merupakan salah satu penghasil protein hewani, yang dalam

KAJIAN KEPUSTAKAAN. kebutuhan konsumsi bagi manusia. Sapi Friesien Holstein (FH) berasal dari

BIRTH WEIGHT, WEANING WEIGHT AND LINEAR BODY MEASUREMENT OF ONGOLE CROSSED CATTLE AT TWO GROUP PARITIES ABSTRACT

PENDAHULUAN. dari sapi betina yang telah melahirkan. Produksi susu merupakan salah satu aspek

II. TINJAUAN PUSTAKA. Sapi perah FH berasal dari Belanda bagian utara, tepatnya di Provinsi Friesland,

PENDUGAAN NILAI PEMULIAAN PUYUH PEJANTAN BERDASARKAN BOBOT BADAN KETURUNANNYA PADA PUYUH (Coturnix coturnix japonica)

ESTIMASI HERITABILITAS SIFAT PERTUMBUHAN DOMBA EKOR GEMUK DI UNIT HERITABILITY ESTIMATION OF GROWTH TRAITS OF FAT TAILED SHEEP AT UNIT

Korelasi Genetik Pada Sifat Pertumbuhan Sapi Aceh di Kecamatan Indrapuri Provinsi Aceh

Nena Hilmia Fakultas Peternakan Universitas Padjadjaran

KAJIAN KEPUSTAKAAN. Menurut Blakely dan Bade (1992), bangsa sapi perah mempunyai

HUBUNGAN ANTARA UKURAN-UKURAN TUBUH DENGAN BOBOT BADAN DOMBOS JANTAN. (Correlation of Body Measurements and Body Weight of Male Dombos)

Peta Potensi Genetik Sapi Madura Murni di Empat Kabupaten di Madura. Nurgiartiningsih, V. M. A Bagian Produksi Ternak Fakultas Peternakan UB, Malang

PEMULIABIAKAN PADA SAPI PERAH

PENDUGAAN HERITABILITAS, KORELASI GENETIK DAN KORELASI FENOTIPIK SIFAT BOBOT BADAN PADA SAPI MADURA

PERBANDINGAN PERFORMA PRODUKSI SAPI PERAH FRIES HOLLAND IMPOR DENGAN KETURUNANNYA (Studi Kasus di PT. UPBS Pangalengan)

KAJIAN KEPUSTAKAAN. Sapi perah secara umum merupakan penghasil susu yang sangat dominan

Seleksi Awal Calon Pejantan Sapi Aceh Berdasarkan Berat Badan

Ripitabilitas dan MPPA Sapi Perah FH di BBPTU HPT Baturraden...Deriany Novienara

Faktor Koreksi Lama Laktasi Untuk Standarisasi Produksi Susu Sapi Perah

KAJIAN KEPUSTAKAAN. Sapi perah termasuk kedalam famili Bovidae dan ruminansia yang

EFEKTIVITAS SELEKSI DIMENSI TUBUH SAPI BALI INDUK WARMADEWI, D.A, IGL OKA DAN I N. ARDIKA

ESTIMASI NILAI PEMULIAAN DAN MOST PROBABLE PRODUCING ABILITY SIFAT PRODUKSI SAPI ACEH DI KECAMATAN INDRAPURI PROVINSI ACEH

HASIL DAN PEMBAHASAN. (BBPTU-HPT) Baturraden merupakan pusat pembibitan sapi perah nasional yang

I PENDAHULUAN. pedesaan salah satunya usaha ternak sapi potong. Sebagian besar sapi potong

TINJAUAN PUSTAKA. Pemeliharaan Sapi Pedet

KEMAJUAN GENETIK SAPI LOKAL BERDASARKAN SELEKSI DAN PERKAWINAN TERPILIH

BAHAN DAN METODE. Tempat dan Waktu Penelitian. Bahan dan Alat. Metode Penelitian

I PENDAHULUAN. Susu merupakan salah satu hasil ternak yang tidak dapat dipisahkan dari

PERBEDAAN FENOTIPE PANJANG BADAN DAN LINGKAR DADA SAPI F1 PERANAKAN ONGOLE (PO) DAN SAPI FI SIMPO DI KECAMATAN SUBAH KABUPATEN SAMBAS

PEMANFAATAN CATATAN TEST DAY (HARI UJI) PADA EVALUASI MUTU GENETIK SAPI PERAH DI PT. TAURUS DAIRY FARM. Universitas Padjadjaran

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Sapi yang menyebar di berbagai penjuru dunia terdapat kurang lebih 795.

Pengaruh Pembedaan Kualitas Konsentrat pada Tampilan Ukuran-Ukuran Tubuh dan Kosumsi Pakan Pedet FH Betina Lepas Sapih

LABORATORIUM PEMULIAAN DAN BIOMETRIKA FAKULTAS PETERNAKAN UNIVERSITAS PADJADAJARAN JATINANGOR 2009

BIRTH WEIGHT AND MORPHOMETRIC OF 3 5 DAYS AGES OF THE SIMMENTAL SIMPO AND LIMOUSINE SIMPO CROSSBREED PRODUCED BY ARTIFICIAL INSEMINATION (AI) ABSTRACT

Evaluasi Penerapan Aspek Teknis Peternakan pada Usaha Peternakan Sapi Perah Sistem Individu dan Kelompok di Rejang Lebong

BAB I PENDAHULUAN I.1.

Estimasi Nilai Heritabilitas Sifat Kuantitatif Sapi Aceh

PENGARUH BANGSA PEJANTAN TERHADAP PERTUMBUHAN PEDET HASIL IB DI WILAYAH KECAMATAN BANTUR KABUPATEN MALANG

PEMERIKSAAN INTERAKSI GENETIK DAN LINGKUNGAN DARI DAYA PEWARISAN PRODUKSI SUSU PEJANTAN FRIESIAN-HOLSTEIN

EVALUASI PRODUKSI SUSU BULANAN SAPI PERAH FRIES HOLLAND DAN KORELASINYA DENGAN PRODUKSI TOTAL SELAMA 305 HARI DI BBPTU-HPT BATURRADEN

EVALUASI PERFORMA PRODUKSI SUSU SAPI PERAH FRIESHOLLAND (FH) KETURUNAN SAPI IMPOR (Studi Kasus di PT. UPBS, Pangalengan, Jawa Barat)

PEWARISAN SIFAT PRODUKSI SUSU PEJANTAN FH IMPOR PADA ANAK BETINANYA DI BBPTU BATURRADEN

PERFORMA PRODUKSI SUSU DAN REPRODUKSI SAPI FRIESIAN-HOLSTEIN DI BPPT-SP CIKOLE LEMBANG SKRIPSI YUNI FITRIYANI

BAB I PENDAHULUAN. Susu merupakan salah satu produk peternakan yang berperan dalam

ANALISIS BAHAYA dan KONTROL TITIK KRITIS

PENGARUH BANGSA PEJANTAN TERHADAP PRODUKTIVITAS PEDET SAPI POTONG HASIL INSEMINASI BUATAN

TINJAUAN PUSTAKA. penting diberbagai agro-ekosistem, karena memiliki kapasitas adaptasi yang

KAJIAN KEPUSTAKAAN. Berasal dari Belanda dan mulai dikembangkan sejak tahun 1625 (Makin, 2011). Sapi FH memiliki karakteristik sebagai berikut :

Peternakan Tropika Journal of Tropical Animal Science

II. TINJAUAN PUSTAKA A.

Estimasi Parameter Genetik Induk Babi Landrace Berdasarkan Sifat Litter Size dan Bobot Lahir Keturunannya

Pengembangan Sistem Manajemen Breeding Sapi Bali

PENDAHULUAN. kebutuhan susu nasional mengalami peningkatan setiap tahunnya.

KAJIAN KEPUSTAKAAN. sangat besar dalam memenuhi kebutuhan konsumsi susu bagi manusia, ternak. perah. (Siregar, dkk, dalam Djaja, dkk,. 2009).

PENCAPAIAN BOBOT BADAN IDEAL CALON INDUK SAPI FH MELALUI PERBAIKAN PAKAN

EVALUASI KEUNGGULAN GENETIK SAPI PERAH BETINA UNTUK PROGRAM SELEKSI [Evaluation of Dairy Cow Genetic Superiority for Selection Program]

SELEKSI YANG TEPAT MEMBERIKAN HASIL YANG HEBAT

Perbandingan Hasil Uji Performans Calon Induk (Heifer) Sapi Aceh dengan Metode Indeks Seleksi (IS) dan Nilai Pemuliaan (NP)

MATERI DAN METODE Lokasi dan Waktu Materi Prosedur

PERFORMANS SAPI BALI INDUK SEBAGAI PENYEDIA BIBIT/BAKALAN DI WILAYAH BREEDING STOCK BPTU SAPI BALI

PENGARUH PENGGUNAAN PROBIOTIK PADA COMPLETE FEED TERHADAP KUANTITAS DAN KUALITAS PRODUKSI SUSU SAPI PERAH LAKTASI

UJI PRODUKSI SUSU SAPI FRIESIEN HOLSTEIN KETURUNAN PEJANTAN IMPOR DI BBPTU-HPT BATURRADEN

ANALISIS NILAI PEMULIAAN (BREEDING VALUE) PANJANG BADAN TERNAK SAPI PO

EFISIENSI RELATIF SELEKSI CATATAN BERULANG TERHADAP CATATAN TUNGGAL BOBOT BADAN PADA DOMBA PRIANGAN (Kasus di SPTD - Trijaya, Kuningan, Jawa Barat)

PENDUGAAN PARAMETER GENETIK DANKOMPONEN RAGAM SIFAT PERTUMBUHAN PADA BANGSA BABI YORKSHIRE

Karakteristik Kuantitatif Sapi Pasundan di Peternakan Rakyat... Dandy Dharma Nugraha KARAKTERISTIK KUANTITATIF SAPI PASUNDAN DI PETERNAKAN RAKYAT

TINJAUAN PUSTAKA Sapi Perah Friesian Holstein Peternakan Sapi Perah

STATUS REPRODUKSI DAN ESTIMASI OUTPUT BERBAGAI BANGSA SAPI DI DESA SRIWEDARI, KECAMATAN TEGINENENG, KABUPATEN PESAWARAN

PERFORMANS REPRODUKSI SAPI BALI DAN SAPI PO DI KECAMATAN SUNGAI BAHAR

Transkripsi:

1 EFISIENSI SELEKSI SAPI PERAH FRIES HOLLAND BERDASARKAN LINGKAR DADA, BOBOT BADAN DAN UMUR Dwi Wahyu Setyaningsih ABSTRACT The objectives of this research were to estimate genetic parameter values of growth, reproduction and production traits and to make efficient selection method for FH Crossbred based on that traits. The method used to estimate heritability (h ) of chest girth, body weight, the first insemination age, the first calving age and the first lactation milk yield resulted from progeny testing and genetic correlation was paternal half sibs correlation method and Completely Randomized Design One Way Layout model. The results showed that good h estimates for selection standards were: (1) Chest girth of 5 mo, 0.55 ± 0.5, () the first lactation milk yield, 0.46 ± 0.37; (3) Bode weight of 6 mo, 0.37 ± 0.39; (4) the first calving age, 0.17 ± 0.5; and (5) the first insemination age, 0.15 ± 0.4. The good genetic correlation estimates for selection were: (1) Chest girth of 4 mo and the first lactation milk yield, 0.78 ± 0.46, () Body weight of 6 mo and the first lactation milk yield, 0.50 ± 1.04; and (3) Body weight of 6 mo and the first calving age, 0.48 ± 1.45. In conclusion, h which can be used for standard of selection were chest girth of 5 mo and the first lactation milk yield. Heritabilitas and genetic correlation didn't fulfill qualification for marling selection efficiency method. As minimal alternative for field selection program, phenotypic correlation can be used between: (1) Chest girth of 4 mo and body weight of 4 mo; () Chest girth of 1 mo and body weight of 1 mo; (3) Body weight of 10 mo and the first calving age; (4) Chest girth of 4 mo and the first lactation milk yield; (5) Body weight of 6 mo and the first calving age; and (6) Chest girth of 6 mo and the first lactation milk yield. Chest girth at 4 mo can be used for the first lactation milk yield selection based on phenotype of the calves. Keywords: Heritability, Genetic Correlation, Phenotypic Correlation, Fries Holland Crossbred, selection efficiency PENDAHULUAN Produktivitas suatu populasi sapi perah salah satunya tercermin pada kemampuannya menghasilkan produksi susu dalam kurun waktu tertentu. Produktivitas ternak merupakan hasil pengaruh genetik dan lingkungan terhadap produksi. Produktivitas dapat ditingkatkan melalui upaya perbaikan mutu genetik dengan meningkatkan frekuensi gen-gen yang berhubungan dengan sifat repro-

duksi, sifat pertumbuhan dan sifat produksi serta upaya memberi kondisi lingkungan yang dibutuhkan bagi penampilan maksimal dari potensi genetik yang dimiliki. Perbaikan mutu genetik dilakukan dengan menggunakan tetua yang mempunyai genetik unggul. Keunggulan genetik dicerminkan dari kemampuannya untuk mewariskan sifat kepada keturunannya atau dinyatakan dan nilai heritabilitasnya. Ternak unggul dapat diupayakan melalui seleksi langsung (direct selection) dan seleksi tidak langsung (indimet selection) terhadap kelompok induk atau calon induk yang bertujuan untuk menghasilkan produksi susu tinggi. Seleksi. tidak langsung membutuhkan informasi tentang korelasi genetik dan phenotip. Secara eksterior sifat-sifat fisik pada bagian tubuh tertentu yang dimiliki seekor sapi perah menentukan tipe perah. Tipe perah yang baik menentukan kapasitas produksi yang dihasilkan. Sapi perah produksi tinggi mempunyai kapasitas tubuh panjang dan dalam. Blakely dan Bade (1991) menyatakan bahwa kapasitas tubuh menggambarkan kapasitas paru-paru dan jantung serta kemampuannya untuk menampung badan pakan yang dibutuhkan untuk produksi susu. Peternakan sapi perah yang ada di Jawa. Timur, Jawa Tengah dan Jawa Barat umumnya masih merupakan peternakan rakyat dengan manajemen tradisional. Kerja sama antara peternak dan pelaksana program pemulia sangat penting. Suyono (1996) mengemukakan bahwa hasil recording produksi susu di Jawa Tengah kurang akurat karena sampel yang diambil secara random dari laporan lapangan sangat beragam. Salah satu contoh kasus dalam proses pemilihan induk sapi di Jawa Timur yang dicatat (1995 1996) lebih banyak yang tidak mempunyai keterangan asal usul tetuanya (Wirjono, 1996). Hal ini tidak lepas dari faktor skala usaha, pengetahuan peternak maupun sarana dan prasarana yang mendukung dalam pemeliharaan ternak. Adanya keterbatasan tersebut, maka dibutuhkan suatu terobosan untuk pelaksanaan program-program seleksi. Pelaksanaan seleksi memerlukan parameter genetik untuk sifat yang diseleksi. Di peternakan tradisional belum terdapat adanya nilai parameter genetik. Seleksi dengan tujuan produksi susu yang biasanya dilakukan secara langsung membutuhkan biaya besar, tenaga banyak dan waktu lama. Seleksi secara dini dengan keakuratan yang tinggi sebagai langkah untuk meningkatkan efisiensi usaha. Penelitian ini bertujuan untuk : 1. mengestimasi nilai parameter genetik sifat lingkar dada, bobot badan, umur saat IB pertama, umur beranak pertama dan produksi susu laktasi pertama.

3. membuat suatu metode seleksi yang efisien untuk sapi PFH berdasarkan lingkar dada, bobot badan, umur saat IB pertama dan umur beranak pertama. Parameter genetik yang diperoleh dalam penelitian ini bisa. dijadikan patokan seleksi. Seiring dengan bertambahnya umur, efisiensi seleksi sapi perah PFH berdasar lingkar dada umur lahir sampai umur 1 bulan, bobot lahir sampai umur 1 bulan, umur IB pertama dan umur beranak pertama semakin tinggi. MATERI DAN METODE Materi Penelitian Penelitian ini dilaksanakan dengan mengambil data lingkar dada, bobot badan, umur saat IB pertama, umur beranak pertama dan produksi susu laktasi pertama anak betina basil uji. progeny di Balai Inseminasi Buatan. Singosari Malang pada bulan Agustus 1999. Data 409 ekor anak betina berasal dari 5 pejantan PH. Data yang diperoleh tersebar di beberapa daerah di Jawa yaitu: Jawa Timur, Jawa Tengah dan Jawa Barat. Metode Penelitian Metode penelitian yang digunakan adalah studi kasus dengan mengambil data pertumbuhan, reproduksi dan produksi anak betina hasil uji progeny. Analisa Data Produksi susu dikoreksikan ke umur setara dewasa, dua kali pemerahan dan 10 bulan laktasi (x,me,305) dengan menggunakan metode koreksi yang biasa digunakan oleh. Departemen Pertanian Amerika Serikat (United State of Departement Agriculture) (Legates & Warwick, 1979). Nilai heritabilitas (h) lingkar dada, bobot badan, umur saat lb pertama, umur beranak pertama dan produksi susu laktasi pertama diduga dengan menggunakan metode hubungan saudara tiri sebapak (parental half sibs correlation), jumlah anak per pejantan tidak sama dengan Rancangan Acak Lengkap pola searah (Completely Randomized Design One way layout) (Becker, 1975). Model Statistik,dengan model tetap (feed model), parameter τ adalah tetap. αik Στ i i = 0 Model lineamya adalah : Y = μ + α + e ik Dimana μ rataan. populasi, adalah pengaruh pejantan e ke-i dan ik adalah standar deviasi yang berasal dari lingkungan dan genetik yang tidak terkontrol dari setiap individu dalam kelompok pejantan. Estimasi heritabilitas: 4σs h s = σ + σ Tiap pejantan mengawini beberapa induk dan tiap induk menghasilkan satu progeny. s w i ik

4 Pengukuran dari progeny betina. Jumlah progeny untuk tiap pejantan tidak sama (unequal numbers of progeny per sire) atau (unbalanced design). Rata-rata jumlah anak betina tiap pejantan (k) dihitung berdasarkan rumus: 1 Σ ni k = n S 1 n Galat baku h yang diduga dengan metode saudara tiri sebapak didasarkan pada rumus: { ( n 1)(1 t) [1 + ( s. e. h = 4 [ k ( n S)( s Keterangan: k : koefisien untuk rata-rata jumlah anak dalam pejantan n : jumlah total anak betina progeny S : jumlah pejantan t : korelasi dalam kelas dari anggota-anggota dalam keluarga yang sama. Korelasi genetik dan phenotip diantara dua sifat bisa diperoleh dengan metode yang sama seperti menduga keragaman genetik. X sebagai simbol untuk sifat satu dan Y simbol untuk sifat yang lain. Hal ini diasumsikan bahwa perkawinan dalam di suatu populasi tidak ada (nol). Rumus umum estimasi korelasi: cov xy r = σ x σ y Korelasi genetik : rp = rg = 4σ 4cov S S ( x) 4 Korelasi Phenotip : cov W σ S ( y) + cov ( σ + σ )( σ + σ W ( x) S ( y) W ( y) S ( y) Untuk mengetahui hubungan secara phenotip nyata atau tidak dilakukan uji t (Segel, 1997) t = r x hitung n - 1- r Galat baku korelasi genetik (Beker, 1975). s.e.rg = varrg Salah satu cara mencapai efisiensi seleksi menggunakan respon korelasi. Respon seleksi antara dua sifat yang berkorelasi dapat dinyatakan sebagai berikut: Cr 1 = i h 1 h rg σ Keterangan: Cr 1 : respon seleksi sifat ke- terhadap seleksi yang dilakukan pada sifat ke-1 i : perbedaan seleksi dalam simpangan baku h 1 dan h : akar dan angka pewarisan sifat ke-1 dan ke- rg : korelasi genetik antara sifat ke-1 dengan sifat ke- σ p p : simpangan baku pheno- S )

5 tip sifat ke- HASIL DAN PEMBAHASAN Keragaman Data Berdasarkan hasil penelitian, jumlah anak betina yang sedikit cenderung mempunyai koefisien keragaman lingkar dada, bobot badan, umur saat IB pertama, umur beranak pertama dan produksi susu laktasi pertama cukup besar. Keragaman selain dipengaruhi jumlah data, yang paling besar karena pengaruh lingkungan dan manajemen. Hal ini disebabkan dengan bertambahnya umur, pengaruh lingkungan semakin meningkat dan pengaruh induk semakin berkurang. Lingkungan yang beragam berpengaruh pada tingkat keseragaman potensi genetiknya. Meskipun keragaman cukup tinggi namun pola pertumbuhan yang dicerminkan dari bobot badan tiap bulan dan lingkar dada mempunyai kecenderungan pertumbuhan normal. Umur saat dilakukan IB pertama mempunyai keragaman yang besar 19,0% dengan rerata sekitar 18 bulan. Umur ini sesuai dengan standar pelaksanaan perkawinan dalam progeny. Sapi perah dikawinkan pertama kali harus berumur di atas 15 bulan (Anonymous, 1991). Umur saat 1B pertama selain genetik ditentukan pula oleh lingkungan terutama manajemen pemberian pakan. Hafez (1993) menyatakan bahwa sapi perah dara dapat mengalami umur pubertas terhambat bila ransum yang diberikan tidak mencukupi gizinya. Rerata umur beranak pertama adalah 8,49 bulan dengan koefisien keragaman,90%. Moore, Kennedy dan Schaeffer (199) melaporkan bahwa umur beranak pertama sapi FH sekitar 9 bulan. Namun laporan penelitian di BPT HMT Baturaden, diperoleh umur beranak pertama sebesar 33,61 ± 5,16 bulan (Anonymous, 1993). Perbedaan umur beranak dipengaruhi oleh bangsa, pertumbuhan ternak, umur pubertas, manajemen maupun lama kebuntingan ternak. Data produksi susu sebelum dianalisis, lebih dahulu dikoreksi ke (x,me,305). Koreksi dilakukan untuk mengurangi pengaruh lingkungan terhadap produksi susu sehingga dapat menutupi keragaman yang disebabkan oleh faktor genetik. Kelemahan dari koreksi ini adalah masih digunakannya kepustakaan luar negeri, dalam hal ini adalah USA. Faktor koreksi disusun berdasarkan atas data sapi di Amerika Serikat. Kelemahan tersebut tidak bisa dihindarkan karena belum adanya kepustakaan yang disusun berdasarkan atas data di Indonesia, sedangkan data yang diperoleh dalam penelitian ini belum cukup untuk menyusun faktor koreksi sendiri. Produksi susu laktasi pertama yang telah dikoreksi didapatkan rerata sebesar 4674,15 kg. Hardjosubroto (1993) mendapatkan rerata

6 produksi susu FH di Java Timur sebesar 569,46 kg per laktasi. Berdasarkan beberapa laporan tersebut menunjukkan bahwa waktu dan tempat di samping mutu genetik dapat mempengaruhi rerata produksi susu. Heritabilitas Hasil estimasi nilai h yang baik untuk sifat lingkar dada, bobot badan, umur saat IB pertama, umur beranak pertama dan produksi susu laktasi pertama disajikan pada Tabel 1. Tabel 1. Estimasi nilai h lingkar dada, bobot badan, umur saat IB pertama, umur beranak pertama dan produksi susu laktasi pertama. Sifa t U n h s e h LD 5 66 0,55 0,5 BB 4 85 0,30 0,35 BB 6 78 0,37 0,39 IB - 101 0,15 0,4 I UB - 101 0,17 0,5 P - 150 0,46 0,37 Keterangan : N : anak betina h : heritabilitas LD : lingkar dada IB I : umur saat IB pertama LIB : umur beranak pertama P : produksi susu laktasi pertama U : umur (bulan) s e h : standart error heritabilitas BB : bobot badan Heritabilitas Lingkar Dada Estimasi nilai h lingkar dada umur 5 bulan sebesar 0,55 dengan galat baku 0,5, seperti tampak pada Tabel 1. Pada umur 5 bulan ternak sudah melewati periode menyusu. Pada periode ini banyak terjadi kematian pada pedet dan pertumbuhan pedet sering terhambat. Tingkat kematian pedet di bawah umur tiga bulan mencapai 0% (Bath, Dickinson, Tucker dan Appleman (1991). Williamson dan Payne (1993) menyatakan bahwa kematian pedet dapat mencapai 45%, terutama disebabkan oleh kesalahan program pemberian pakan, stress dan penyakit. Setelah periode menyusu, ternak mengalami lepas sapih dan biasanya dilakukan seleksi dengan melakukan pengukuran - pengukuran bagian tubuh tertentu sebagai parameter seleksi. Hasil estimasi h lingkar dada umur 5 bulan ini berbeda dari basil penelitian Hagger. dan Hofer (1991) yang memperoleh nilai h lingkar dada pada sapi. Swiss Brounvieh dan Simental yang masing-masing adalah 0,36 dengan galat baku 0,0 dan 0,9 dengan galat baku 0,03. Nilai h ini dikategorikan tinggi sesuai dengan pendapat Pane (1993) dan Hardjosubroto (1994) bahwa nilai h dikategorikan tinggi bila nilainya besar dan 0,30. Nilai estimasi h ini berbeda dengan yang dikemukakan Warwick dkk. (1990) bahwa nilai h bentuk tubuh sekitar 0,15 sampai 0,30.

7 Sifat lingkar dada umur 5 bulan ini dapat digunakan dalam pelaksanaan seleksi. Sifat yang mempunyai nilai h sedang sampai tinggi, seleksi untuk memperbaiki mute genetik ternak lebih cepat. Heritabilitas Bobot Badan Berdasar Tabel 1, nampak bahwa basil estimasi nilai heritabilitas bobot badan umur 4 bulan dan umur 6 bulan diperoleh nilai estimasi sebesar 0,30 dengan galat baku 0,35 dan 0,37 dengan galat baku 0,39. Pada umur 4 bulan dan umur 6 bulan merupakan umur-umur yang biasa. dilakukan seleksi yaitu masa. lepas sapih dan sudah melewati masa kritis. Hasil estimasi nilai h bobot badan umur 4 bulan dan 6 bulan masih mempunyai tingkat kesalahan yang cukup besar karena galat baku bernilai lebih dari heritabilitasnya. Warwick dkk. (1990) memberikan kisaran h bobot dewasa sapi perah sebesar 0,30 sampai 0,50. Bobot badan dikategorikan sebagai sifat yang mempunyai nilai h tinggi. Noor (1996) menyatakan bahwa h bernilai sedang sampai tinggi sangat tepat untuk meningkatkan mutu genetik ternak dengan seleksi individu. Masa lepas sapih sampai pubertas banyak dipengaruhi oleh umur maupun bobot sapih. Bobot dan umur penyapihan berbeda-beda tergantung pada ukuran, tingkat pertumbuhan dan kecepatan ternak. Williamson dan Payne (1993) mengemukakan bahwa pedet di daerah tropis disapih umur 3 sampai 6 bulan. Bobot sapih tergantung pada kemampuan tumbuh anak yang sifatnya bawaan di samping kemampuan induk untuk membesarkan anakanaknya. Perbedaan umur penyapihan akan berpengaruh terhadap pertumbuhan masa lepas sapih sampai dewasa. Heritabilitas Umur Saat IB Pertama Sifat-sifat reproduksi tergolong sifat yang mempunyai daya pewarisan rendah. Warwick dkk. (1990) mengemukakan bahwa umur dewasa kelamin sapi perah berkisar antara 0,10 sampai 0,0. Berdasarkan hasil penelitian pada Tabel 1, umur saat IB pertama diperoleh nilai estimasi h 0,15 ± 0,4. Estimasi h umur saat IB pertama diperoleh nilai dengan galat baku lebih besar. Hal ini dimungkinkan karena keragaman data yang terlalu besar. Keragaman disebabkan perbedaan tercapainya umur pubertas karena faktor genetik maupun faktor lingkungan. Pubertas dapat lebih dini atau lebih lambat tergantung pada bangsa ternak, species dan faktor pakan. Di peternakan rakyat sulit memperoleh catatan umur pubertas pertama sebagai pendekatan digunakan catatan umur 1B pertama. Pubertas merupakan salah satu faktor yang berpengaruh terhadap umur saat IB pertama di samping deteksi berahi. Heritabilitas Umur Beranak

8 Pertama Estimasi nilai h umur beranak pertama yang ditampilkan pada Tabel 1 bernilai 0,17 ± 0,5. Penyimpangan nilai estimasi h dimungkinkan pula karena keragaman yang disebabkan selain genetik, umur kebuntingan, umur pubertas, faktor manajemen dan lingkungan maupun interaksi di antara keduanya. Umur beranak mempunyai nilai h sebesar 0,15 sampai 0,17 (Anonymous, 199). Heritabilitas Produksi Susu Laktasi Pertama Tabel 1 menunjukkan bahwa produksi susu laktasi pertama diperoleh nilai estimasi h sebesar 0,46 dengan galat baku 0,37. Jairath, Hayes dan Cue (1995) di Quebec Daby Herd Analysis Service mendapatkan nilai estimasi h produksi susu per hari pada laktasi pertama sapi FH sebesar 0,3. Perbedaan nilai h disebabkan lokasi, waktu dan cuplikan data yang berbeda. Nilai pendugaan h untuk suatu sifat yang sama akan bervariasi dalam suatu. populasi ternak tertentu tergantung kepada lingkungan ternak berada. Nilai h yang tinggi memungkinkan untuk dijadikan kriteria dalam melaksanakan seleksi. Hal ini disebabkan h yang tinggi diharapkan dapat mewariskan sifat produksi susu pada keturunannya dengan tingginya kemajuan genetik yang dicapai sehingga seleksi akan efektif. Produksi susu selain oleh lingkungan dipengaruhi pula oleh hereditas, pakan, masa laktasi, waktu sekresi, interval pemerahan, ukuran tubuh, siklus berahi, kebuntingan, periode kering dan penyakit. Penampilan produksi susu seekor sapi perah lebih banyak ditentukan oleh lingkungan yang berinteraksi dengan kondisi fisiologis ternak daripada faktor genetik semata. Kemampuan produksi susu sapi perah 30% dipengaruhi oleh faktor genetik dan 70% dipengaruhi oleh lingkungan (Anonymous, 1991). Hal ini karena sifat produksi mempunyai. heritabilitas tergolong rendah (Warwick dkk. 1990) Tabel. Estimasi nilai h, korelasi genetik dan korelasi phenotip di antara lingkar dada,bobot badan dan produksi susu laktasi pertama. Sifat Umur (bulan) n rg s e rg rp s e rp LD-BB 4 85 1,00,81 0,93* 1,00 LD-BB 1 4 1,90-0,84* 11,60 LD-P 4 101 0,78 0,46 0,1* 0,51 LD-P 6 105 0,13 1,09 0,1* 6,35 BB- UB 6 36 0,48 1,45-0,41* 3,38

9 BB- 10 7-1,39 - -0,51* 0,97 UB BB-P 6 37 0,50 1,04-0,3 - Keterangan: n : jumlah anak betina rg : korelasi genetik s e rg : standart error korelasi genetik rp : korelasi phenotip s e rp : standart error korelasi P phenotip * : nilai yang nyata setelah diuji dengan uji t BB: bobot badan UB: umur beranak pertama LD: lingkar dada : produksi susu laktasi pertama Korelasi Beberapa Sifat Korelasi genetik dan phenotip di antara sifat lingkar dada, bobot badan, umur IB pertama, umur beranak pertama dan produksi susu laktasi pertama disajikan pada Tabel. Korelasi antara Lingkar Dada dengan Bobot Badan Berdasarkan Tabel, diperoleh basil korelasi genetik lingkar dada umur 4 bulan dengan bobot badan umur 4 bulan sebesar 1,00 dengan galat Baku,81. Nilai ini secara biologis tidak mungkin karena banyak faktor yang mempengaruhi. Berdasar Tabel, korelasi phenotip lingkar dada umur 4 bulan dengan bobot badan umur 4 bulan dan lingkar dada umur 1 bulan dengan bobot badan umur 1 bulan memberikan gambaran bahwa secara phenotip ternak pada umur 4 bulan dan 1 bulan mempunyai lingkar dada yang semakin besar akan diikuti pula oleh besarnya bobot badan ternak umur 4 bulan dan 1 bulan. Meskipun dalam hal ini tidak lepas dari pengaruh faktor lingkungan. Tapi korelasi phenotip ini bisa digunakan sebagai alternatif terkecil dalam melakukan seleksi. Pada umur 4 bulan rumen dan retikulum mulai berkembang karena pemberian hijauan dan konsentrat serta dihentikannya pemberian susu. Pedet setelah umur 4 bulan mengkonsumsi hay sebagai makanan utama di samping semi drying grass. Berfungsinya rumen dan retikulum akan berpengaruh pada besarnya kapasitas perut dan selanjutnya berpengaruh pada bobot badan (Anonymous, 1991). Umur 1 bulan merupakan umur pubertas bagi sapi perah, seperti yang dikemukakan Hafez (1993), bahwa rataan umur pubertas betina dengan tingkat nutrisi rendah di antara 10 sampai 1 bulan. Pada umur mendekati pubertas tingkat

10 pertumbuhan biasanya menurun (Taylor, 1991). Penurunan pertumbuhan ini berpengaruh terhadap pertumbuhan lingkar dada dan bobot badannya. Korelasi antara Lingkar Dada dengan Produksi Susu Laktasi Pertama Korelasi antara lingkar dada dan produksi susu laktasi pertama disajikan pada Tabel. Korelasi genetik lingkar dada umur 4 bulan dan 6 bulan dengan produksi susu laktasi pertama masing-masing bernilai 0,78 ± 0,46 dan 0,13 ± 1,08. Korelasi genetik ukuran tubuh dengan produksi susu mempunyai nilai rendah (+) atau (-) (Warwick dkk. 1990). Tinggi rendahnya korelasi dipengaruhi oleh genetik, lingkungan maupun interaksi di antara keduanya. Korelasi phenotip lingkar dada umur 4 bulan dan umur 6 bulan dengan produksi susu laktasi pertama diperoleh nilai rendah positif, masing-masing sebesar 0,1 ± 0,51 dan 0,1 ± 6,8. Korelasi tersebut setelah diuji dengan uji t hasilnya nyata meskipun galat bakunya lebih besar dari nilai korelasinya. Galat baku yang lebih besar menunjukkan keragaman yang besar. Lingkar dada ada hubungan dengan produksi susu karena lingkar dada mempengaruhi kapasitas perut. Pada tipe perah besar perut sangat penting karena untuk konsumsi pakan berupa hijauan. Blakely dan Bade (1991) menyatakan bahwa kapasitas tubuh menggambarkan kapasitas paru-paru dan jantung serta kemampuannya untuk menampung bahan pakan yang dibutuhkan untuk. produksi susu. Lingkar dada umur bulan dengan produksi susu laktasi pertama berkorelasi genetik -0,0 dengan galat baku 0,91. Hasil ini kemungkinan karena keragaman lingkar dada yang besar akibat perbedaan pengaruh induk dan. pedet masih dalam masa kritis. Korelasi antara Bobot Badan dengan Umur Beranak Pertama Korelasi phenotip bobot badan umur 6 bulan dengan umur beranak pertama dan bobot badan umur 10 bulan dengan umur beranak pertama bernilai negatif sebesar 0,41 ± 3,38 dan 0,51 ± 11,97. Hal ini berarti keragaman dari kedua sifat yang berkorelasi cukup besar. Secara phenotip menggambarkan bahwa bobot badan semakin tinggi umur beranak pertama semakin pendek. Umur beranak pertama dipengaruhi oleh dewasa tubuh dan dewasa. kelamin. Semakin cepat tercapai bobot tertentu, dewasa tubuh semakin cepat. Umur beranak pertama dipengaruhi oleh cepat atau lambatnya umur saat pubertas. Semakin cepat tercapai pubertas maka umur beranak pertama makin pendek. Wijono dkk. (1994) menyatakan bahwa faktor pertumbuhan dan pertambahan bobot badan mulai

11 lepas sapih hingga fase dara lebih menentukan pengawalan umur pubertas. Korelasi antara Bobot Badan dengan Produksi Susu Laktasi Pertama Korelasi genetik antara bobot badan umur 6 bulan dengan produksi susu laktasi pertama sebesar 0,50 ± 1,04, sedangkan korelasi phenotip bernilai 0,3 ±,06 setelah diuji dengan uji t, korelasi phenotip tidak nyata. Schmidt, Van Vleck dan Hutjens (1988) mengemukakan bahwa induk yang lebih besar mempunyai jaringan sekretori ambing susu lebih besar dan sistem pencernaan yang lebih besar. Metode Seleksi Berdasarkan nilai heritabilitas lingkar dada, bobot badan, umur saat IB pertama, unsur beranak pertama dan produksi susu laktasi pertama dan korelasi genetik di antara sifat lingkar dada, bobot badan, umur saat IB pertama, umur beranak pertama dan produksi susu laktasi pertama tidak bisa dilanjutkan ke analisis respon seleksi sehingga tidak didapatkan suatu model seleksi dan tidak bisa memilih metode yang efisien untuk seleksi. Hal ini karena h dan korelasi genetik dari beberapa sifat mempunyai galat baku yang lebih besar dari nilai heritabilitasnya ataupun korelasi genetiknya. Keragaman di antara sifat lingkar dada, bobot badan, umur saat IB pertama, umur beranak pertama maupun produksi susu laktasi pertama terlalu besar. Keragaman ini banyak sekali yang mempengaruhi terutama untuk kondisi peternakan rakyat dengan manajemen yang kurang memadai. Penelitian ini meskipun tidak didapatkan model seleksi, dalam rangka seleksi yang berdasar sifat lingkar dada, bobot badan, umur saat IB pertama dan umur beranak pertama sebagai alternatif seleksi dilapang bisa menggunakan korelasi phenotip di antara sifat tersebut. Penelitian ini memperoleh estimasi nilai korelasi phenotip lingkar dada umur 4 bulan dengan bobot badan umur 4 bulan sebesar 0,93 ± 0,18. Korelasi phenotip lingkar dada umur 1 bulan dengan bobot badan umur 1 bulan sebesar 0,84 ± 11,60, korelasi phenotip lingkar dada umur 4 bulan dengan produksi susu laktasi pertama. sebesar 0,1 ± 0,51 dan korelasi phenotip lingkar dada umur 6 bulan dengan produksi susu laktasi pertama sebesar 0,1 ± 6,8, bobot badan umur 6 bulan dengan umur beranak pertama sebesar 0,41 ± 3,38 dan bobot badan umur 10 bulan dengan umur beranak pertama sebesar 0,51 ± 0,97. Bila dilihat dari nilai korelasi phenotip didapatkan suatu gambaran bahwa ternak yang mempunyai lingkar dada besar akan mempunyai bobot badan yang tinggi dan produksi susu juga tinggi. Phenotip suatu ternak

1 umumnya merupakan suatu gabungan dari faktor genetik dan faktor lingkungan dari individu. Warwick dkk. (1990) menyatakan bahwa phenotip adalah kenampakan luar atau sifat-sifat lain dari suatu individu yang dapat diamati atau dapat diukur. Dengan demikian phenotip bisa menggambarkan juga bagaimana genetik ternak tersebut. Phenotip yang baik mengindikasikan genetik yang unggul bila didukung faktor lingkungan yang baik. KESIMPULAN DAN SARAN Kesimpulan Heritabilitas yang bisa digunakan sebagai parameter genetik adalah lingkar dada sapi PFH umur 5 bulan sebesar 0,55 ± 0,5 dan produksi susu laktasi pertama sebesar 0,46 ± 0,37. Dalam penelitian ini tidak diperoleh suatu metode seleksi. yang efisien untuk meningkatkan produksi susu. Sebagai alternatif seleksi di lapang bisa menggunakan korelasi phenotip. Korelasi phenotip lingkar dada umur 4 bulan dengan bobot badan umur 4 bulan sebesar 0,93 ± 1,00, lingkar dada umur 1 bulan dengan bobot badan umur 1 bulan sebesar 0,84 ± 1,60, lingkar dada umur 4 bulan dengan produksi susu laktasi pertama sebesar 0,1 ± 0,51, lingkar dada umur 6 bulan dengan produksi susu laktasi pertama sebesar 0,1 ± 6,35, bobot badan umur 6 bulan dengan umur beranak pertama sebesar 0,41 ± 3,38 dan bobot badan umur 10 bulan dengan umur beranak pertama sebesar 0,51 ± 0,97. Keenam korelasi tersebut mempunyai hubungan yang nyata secara phenotip. Saran Lingkar dada umur 4 bulan bisa digunakan sebagai alternatif memilih sapi yang berproduksi tinggi pada laktasi berdasarkan phenotipenya. Manajemen pencatatan dan sistem seleksi sapi. PFH di pusat pembibitan maupun di peternakan rakyat perlu diperbaiki. DAFTAR PUSTAKA Anonymous. (1991) Manual Progeny Test. Japan International Cooperation Agency (JICA) Dirjen Peternakan.. (199) Artificial Insemination Manual For Cattle. Association of Livestock Tachnology.. (1993) Perbandingan Kecermatan Nilai Heritabilitas Per Laktasi dengan Nilai Heritabilitas Rata-Rata Catatan Berulang pada Sapi Fries Holland. Laporan Penelitian. Lembaga Penelitian Universitas Pajajaran. Bandung.. (1995) Manual on Dairy Farming. Cooperative Centre Den Mark. Gabungan Koperasi Susu Indonesia Korda Jaws Timur. Indonesia Bath, D.L., Dickinson, F.N.,

13 Tucker, H.A dan Appleman, RD. (1991) Dairy Cattle : Principles, Practices, Problems, Profits. 3 rd ed. Lea dan Febiger Philadelphia. Becker, W.A. (1975) Manual Quantitative Genetics. 3 rd ed. Published by Program in Genetics Washington State University Pullman, Washington 99163. Blakely, J dan Bade, D.H. diterjemahkan oleh Srigandono, B (1991) Ilmu Peternakan. Edisi ke - 4. Gadjah Mada University Press, Yogyakarta. Hafez, E.S.E. (1993) Reproduction in Farm Animals. 6 th ed. Lea and Febiger, Philadelphia. Hagger, C dan Hofer, A. (1991) Phenotypic and Genetic Relationships Between Wither Height, Heart Girth and Milk Yield in the Swiss Braunvieh and Simmental Breeds. Journal Livestock Production Science. Vol 8. Hardjosubroto, W. (1993) Analisis Progeny Test untuk Menghitung Nilai Pemuliaan Pejantan. Buletin Peternakan Vol.17.. (1994) Aplikasi Pemuliabiakan Ternak di Lapangan. Penerbit PT Gramedia Widiasarana Indonesia, Jakarta. Jairath, L.K., Hayes, J.F dan Cue, R.I. (1995) Correlations Between First Lactation and Lifetime Performance Traits of Canadian Holstein. Journal of Dairy Science. Vol.78. No.. Lasley, J.E. (1978) Genetics of Livestock Improvement. Prentice-Hall, Inc. Englewood Cliffs, New Jersey. Legates, J.E dan Warwick, E.J. (1979) Breeding and Improvement of Farm Animal. 7 th ed. McGraw- Hill Book Co. New York. Moore, R.K, Kennedy, B.W., Schaeffer, L.R dan Moxley, J.E., (199) Relationships Between Age and Body Weight at Calving, Feed Intake, Production, Days Open, and Selection Indexes. Journal of Dairy Science. Vol. 75. No.1. Murkherjee, D.P dan Banerjee, G.C. (1980) Genetics and Breeding of Farm Animal. Oxford & IBH Publishing Co. Calcuta, Bombay, New Delhi. Noor, RR. (1996) Genetika Ternak. Penebar Swadaya. Jakarta. Pane, I. (1993) Pemuliaan Ternak Sapi. PT. Gramedia Pustaka Utama, Jakarta. Schmidt, G.H., Van Vleck, L.D dan Hutjens, M.F. (1988) Principles of Dairy Science. nd ed. Prentice- Hall.Inc.A. Division of Simon and Schuster Englewood Cliffs, New Jersey 0763. United State of America. Siegel, S. (1997) Statistik Non Parametrik untuk Ilmu-

14 Ilmu Sosial. PT. Gramedia Pustaka Utama. Suryono. (1996) Recording Sapi Perah di Jawa Tenah. Dalam Prosiding Pertemuan Teknis Evaluasi Rekording Sapi Perah untuk Produksi calon Pejanan Unggul Lokal. Balai INseminasi Buatan Singosari-Malang, Dirjen Peternakan, Deptan. Taylor, R.E. (1991) Scientfic Farm Animal Production (An Introduction to Animal Sciene). Macmillan Pusblishing Company New York, Maxwell Macmillan Canada, Inc. Toronto, Maxwell Macmillan International New York Oxford Singapore Sydney. Warwick, I.J., Astuti, M.J dan Hardjosubroto, W. (1990) Pemuliaan Ternak. Gajah Mada University Press, Yogyakarta. Wijono, D.B., Aryogi, Pamungkas, D., dan affandhy, L. (1994) Tampilan Etrus Pertama Sapi Perah Dara Berdasarkan Umur dan Berat Badan. Dalam Prosiding Pertemuan Teknis evaluasi Sapi Perah untuk Produksi Calon Pejantan Unggul Lokal. Balai Inseminasi Buatan Singosari-Malang, Dirjen eternakan. Jakarta. Williamson, G dan Payne. Diterjemahkan oleh: Darmadja, D. SGN. 1993) Pengantar Peternakan di Daerah Tropis. Cetakan ke -3. Gadjah Mada University Press. Yogyakarta. Wirjono, P.B. (1996) Evaluasi Recording Sapi Perah di Jawa Timur Tahun 1995. Dalam Prosiding Pertemuan teknis Evaluasi Rekording Sapi Perah untuk Produkisi calon Pejantan Unggul Lokal. Balai Inseminasi Buatan Singosari-Malang, Dirjen Peternakan, Deptan

15.