ISOLASI JAMUR ENDOFIT DAUN BELUNTAS (PLUCHEA INDICA (L.) LESS)

dokumen-dokumen yang mirip
IDENTIFIKASI METABOLIT SEKUNDER DAN UJI AKTIVITAS ANTIBAKTERI ISOLAT JAMUR ENDOFIT DAUN BELUNTAS (PLUCHEA INDICA (L.) LESS.)

III. METODE PENELITIAN

BAB III METODE PENELITIAN. eksplorasi dengan cara menggunakan isolasi jamur endofit dari akar kentang

II. MATERI DAN METODE PENELITIAN

BAHAN DAN METODE. Pertanian Universitas Sumatera Utara, Medan dengan ketinggian tempat + 25

bio.unsoed.ac.id III. METODE PENELITIAN

III. MATERI DAN METODE

BAB III METODE PENELITIAN

III. METODE PENELITIAN. dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Lampung dari bulan Januari sampai

OLEH Burhanuddin Taebe Andi Reski Amalia Sartini

III. METODE PENELITIAN. Penelitian ini dilakukan pada bulan Januari-Maret 2014 di Laboratorium

Prosiding Seminar Nasional Kefarmasian Ke-1

III. METODE PENELITIAN. Penelitian dilaksanakan pada Oktober 2011 sampai Maret 2012 di Rumah Kaca

BAB III METODE PENELITIAN

bio.unsoed.ac.id MATERI DAN METODE PENELITIAN A. Materi, Lokasi dan Waktu Penelitian 1. Materi Penelitian 1.1. Bahan Penelitian

BAB III BAHAN DAN METODE. Penelitian dilakukan dari 2 Juni dan 20 Juni 2014, di Balai Laboraturium

III BAHAN DAN METODE PENELITIAN. Bahan yang digunakan pada penelitian ini adalah sebagai berikut :

III. METODE PENELITIAN. Persiapan alat dan bahan yang akan digunakan. Pembuatan media PDA (Potato Dextrose Agar)

III. METODE PENELITIAN. Penelitian ini dilaksanakan di Laboratorium Botani, Jurusan Biologi, Fakultas

Koloni bakteri endofit

LAMPIRAN. Lampiran 1. Alur Kerja Isolasi Bakteri Endofit dari Batang dan Akar Tanaman Dara metode Radu & Kqueen (2002) yang dimodifikasi

METODE PENELITIAN. Penelitian dilaksanakan pada bulan Agustus sampai Februari 2014.

BAB III METODE PENELITIAN. Rancangan penelitian yang digunakan adalah rancangan penelitian

AKTIVITAS ANTIMIKROBA EKSTRAK DAUN BUNGUR (LANGERSTROEMIA SPECIOSA (L.) PERS)

BAB III METODE PENELITIAN. A. Jenis Penelitian. Jenis penelitian ini adalah penelitian non-eksperimental dengan pendekatan

ISOLASI DAN KARAKTERISASI KAPANG ENDOFIT PADA. BATANG DAN DAUN GINGSENG JAWA (Talinum paniculatum) SKRIPSI

BAHAN DAN METODE. Penelitian dilaksanakan di Laboratorium Penyakit Tumbuhan Jurusan Proteksi

III. MATERI DAN METODE

BAB III METODE PENELITIAN

BAB III METODE PENELITIAN. deskriptif. Data yang diperoleh disajikan secara deskriptif kualitatif meliputi

Lampiran 1. Lokasi pengambilan sampel tanah diperakaran Cabai merah (Capsicum annum) di Desa Kebanggan, Sumbang, Banyumas

KARAKTERISTIK DAN AKTIVITAS ANTIBAKTERI YOGHURT SARI BUAH SIRSAK (Annona muricata L.) TERHADAP BAKTERI FLORA USUS

LAMPIRAN. Lampiran 1. Foto Lokasi Pengambilan Sampel Air Panas Pacet Mojokerto

BAB III METODELOGI PENELITIAN

BAB III METODE PENELITIAN. Penelitian dilakukan berdasarkan metode Experimental dengan meneliti

MATERI DAN METODE. Kasim Riau yang beralamat di Jl. HR. Soebrantas KM 15 Panam, Pekanbaru.

BAB III METODE PENELITIAN. Penelitian ini di lakukan di Laboratorium Kultur Jaringan Tumbuhan Jurusan

BAB III METODE PENELITIAN

BAB III METODE PENELITIAN. Biologi, Fakultas Sains dan Teknologi, Universitas Airlangga Surabaya dan

BAB III METODE PENELITIAN. Nazir (1999: 74), penelitian eksperimental adalah penelitian yang dilakukan

BAB III METODE PENELITIAN. kentang varietas Granola Kembang yang diambil dari Desa Sumberbrantas,

III. BAHAN DAN METODE. Penelitian ini dilaksanakan di Laboratorium Penyakit Tumbuhan dan Kebun

Uji Efek Antibakteri Jamur Endofit Akar Bakau Rhizophora stylosa Terhadap Bakteri Staphylococcus aureus dan Escherichia coli

bio.unsoed.ac.id METODE PENELITIAN A. Materi, Lokasi dan Waktu Penelitian

III. METODOLOGI PENELITIAN. Penelitian ini dilakukan pada bulan Juni sampai Desember 2013 dengan tahapan

III. BAHAN DAN METODE. Penelitian dilaksanakan di Laboratorium Penyakit Tumbuhan Fakultas Pertanian

BAHAN DAN METODE. Pengambilan sampel tanaman nanas dilakukan di lahan perkebunan PT. Great

MATERI DAN METODE. Mikrobiologi (PEM) Fakultas Pertanian dan Peternakan Universitas Islam Negeri

II. MATERI DAN METODE PENELITIAN. 1.Materi, Lokasi dan Waktu Penelitian

II. MATERI DAN METODE PENELITIAN

BAB III METODE PENELITIAN. Jenis percobaan pada penelitian ini adalah penelitian eksperimental,

BAB III METODE PENELITIAN

III. METODE PENELITIAN. Penelitian ini dilakukan di Laboratorium Mikrobiologi Jurusan Biologi

IV. KULTIVASI MIKROBA

III. METODE PENELITIAN. Penelitian dilaksanakan di Laboratorium Penyakit Tumbuhan Jurusan

III. BAHAN DAN METODE. Tanaman, serta Laboratorium Lapang Terpadu, Fakultas Pertanian, Universitas

BAB III METODE PENELITIAN. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif dengan 2

III. METODOLOGI PENELITIAN. Penelitian ini telah dilaksanakan pada bulan Agustus 2013 sampai Febuari 2014

BAB III METODE PENELITIAN. dan eksperimen dengan cara mengisolasi dan identifikasi mikroba endofit dari

BAB III METODE PENELITIAN. Jurusan Biologi Fakultas Sains dan Teknologi Universitas Islam Negeri Maulana

BAHAN DAN METODE. Kasa Fakultas Pertanian Universitas Sumatera Utara, Medan dengan ketinggian tempat

III. BAHAN DAN METODE. Penelitian dilakukan di Laboratorium Penyakit Tanaman, Fakultas Pertanian,

METODE PENELITIAN. Penelitian ini dilakukan di Laboratorium Mikrobiologi Jurusan Biologi Fakultas

III. METODE PENELITIAN. Penelitian ini dilaksanakan di Laboratorium Botani, Fakultas Matematika dan Ilmu

BAB III METODE PENELITIAN

LAMPIRAN Lampiran 1. Pembuatan Medium Potato Dextrose Agar (PDA) (Fardiaz,1993).

III. BAHAN DAN METODE. Penelitian ini dilaksanakan di Laboratorium Bioteknologi Fakultas Pertanian

ISOLASI JAMUR ENDOFIT DAN PRODUKSI METABOLIT SEKUNDER ANTIOKSIDAN DARI DAUN PACAR (Lawsonia inermis L.)

III. BAHAN DAN METODE PENELITIAN. Penelitian Laboratorium dilaksanakan di Laboratorium Agroteknologi,

BAB III METODE PENELITIAN. untuk mengisolasi Actinomycetes dan melihat kemampuannya dalam

II. MATERI DAN METODE

No Nama Alat Merk/Tipe Kegunaan Tempat 1. Beaker glass Pyrex Tempat membuat media PDA

BAB III METODE PENELITIAN. Penelitaian ini di lakukan di Laboratorium Kultur Jaringan Tumbuhan

BAB III METODE PENELITIAN. Penelitian ini dilakukan di laboratorium Kultur Jaringan Tumbuhan Jurusan

AKTIVITAS ANTIBAKTERI SARI BUAH BELIMBING WULUH (Averrhoa bilimbi Linn.) TERHADAP BAKTERI PSEUDOMONAS AERUGINOSA DAN STAPHYLOCOCCUS EPIDERMIDIS

BAB III METODE PENELITIAN. faktorial yang terdiri dari dua faktor dengan 4 kali ulangan. Faktor pertama adalah

BAB III METODE PENELITIAN. Rancangan penelitian yang digunakan adalah rancangan penelitian

BAB III METODE PENELITIAN. dan tingkat kerusakan dinding sel pada jamur Candida albicans merupakan penelitian

BAHAN DAN METODE Tempat dan Waktu Bahan Peremajaan Aktinomiset dari Kultur Penyimpanan Perbanyakan Sclerotium rolfsii dari Kultur Penyimpanan

Prosiding Seminar Nasional Kefarmasian Ke-1

III. BAHAN DAN METODE. Penelitian ini dilaksanakan di Laboratorium Penyakit Tanaman dan Laboratorium

BAB III METODE PENELITIAN. Penelitian ini dilakukan di laboratorium Plant Physiology and Culture

BAB III METODE PENELITIAN. tertentu, tidak adanya perlakuan terhadap variabel (Nazir, 2003).

MODUL 1 PENGENALAN ALAT LABORATORIUM MIKROBIOLOGI

III. METODE PENELITIAN. Penelitian dilaksanakan pada bulan November sampai Desember 2011

BAHAN DAN METODE Tempat dan Waktu Penelitian Bahan dan Alat Metode Penelitian Pra-pengamatan atau survei

BAHAN DAN METODE Waktu dan Tempat Bahan dan Alat Metode Penelitian Penyediaan Isolat Fusarium sp. dan Bakteri Aktivator

METODELOGI PENELITIAN. Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Udayana untuk

II. MATERI DAN METODE PENELITIAN. agar, arang, NaOH, HCl dan akuades. spirtus, timbangan analitik, beker gelas, LAF vertikal.

BAB III METODE PENELITIAN. lengkap (RAL) pola faktorial yang terdiri dari 2 faktor. Faktor pertama adalah variasi

BAB III METODE PENELITIAN

BAHAN DAN METODE. Penelitian ini dilaksanakan di Laboratorium Penyakit Tumbuhan dan di halaman

BAB III METODE PENELITIAN

III. BAHAN DAN METODE

III. BAHAN DAN METODE. Penelitian ini dilaksanakan di Laboratorium Ilmu Penyakit Tanaman Fakultas

BAHAN DAN METODE Tempat dan Waktu . Bahan dan Alat Metode Penelitian Survei Buah Pepaya Sakit

III. BAHAN DAN METODE. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Juli sampai dengan Desember 2014.

Transkripsi:

ISOLASI JAMUR ENDOFIT DAUN BELUNTAS (PLUCHEA INDICA (L.) LESS) Jessie Elviasari, Rolan Rusli, Adam M. Ramadhan Laboratorium Penelitian dan Pengembangan FARMAKA TROPIS Fakultas Farmasi Universitas Mulawarman, Samarinda, Kalimantan Timur email: jessie_viasari@yahoo.com ABSTRAK Tanaman memiliki 1 sampai 4 jenis jamur yang hidup berasosiasi dengan tumbuhan sebagai jamur endofit. Jamur endofit merupakan jamur yang tumbuh pada bagian tanaman yaitu terdapat pada bagian jaringan akar, batang, dan daun. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengisolasi dan mengetahui ciri secara makroskopik dan mikroskopik jamur endofit yang terdapat pada daun beluntas. Penelitian dilakukan dengan mengisolasi jamur endofit dari daun beluntas menggunakan medium Potato Dextrose Agar Chloramphenicol (PDAC), kemudian dilakukan pemurnian pada jamur endofit serta mengkarakterisasi isolat jamur endofit. Hasil penelitian adalah diperoleh tiga isolate jamur endofit yang tumbuh pada daun beluntas, yaitu isolat jamur endofit hitam 1, isolat jamur endofit hitam 2, dan isolat jamur endofit putih. Kata Kunci: Jamur endofit, isolasi, beluntas (Pluchea indica (L.) Less.) PENDAHULUAN Slogan back to nature atau kembali ke alam, kerena memiliki kandungan metabolit sekunder atau senyawa aktif, yang berakibat pada semakin berkurangnya sumber daya alam tanaman tersebut disebabkan adanya eksploitasi bagian tanaman sebagai tanaman obat yang terus meningkat. Salah satu langkah mengurangi eksploitasi adalah dengan mengisolasi jamur endofit pada bagian tanaman tersebut, karena dapat memproduksi senyawa aktif seperti pada tanaman tersebut. Strobel dan Daisy (2003) memperkirakan paling tidak ada 1 sampai 4 jenis jamur yang hidup berasosiasi dengan tumbuhan sebagai jamur endofit yang bersifat culturable (bisa ditumbuhkan pada kondisi artifisial). Mikroba endofit merupakan mikroorganisme yang tumbuh dalam jaringan tumbuhan. Mikrobia endofit ini memiliki potensi yang besar dalam pencarian sumber-sumber obat baru. Hal ini karena mikroba merupakan suatu organisme yang mudah untuk ditumbuhkan, memiliki siklus hidup yang pendek, dan dapat menghasilkan jumlah senyawa bioaktif dalam jumlah besar dengan metode fermentasi (Agusta, A., 2009). Dengan demikian potensi ini dapat dikembangkan dengan isolasi jamur endofit, khusunya pada jaringan daun beluntas karena daun beluntas memiliki senyaawa aktif yang dapat berkhasiat dalam mengatasi gangguan pencernaan, skrofuloderma, stomakik, diaforetik, antipiretik dan rematik. Oleh karena itu, dalam penelitian ini dilakukan isolasi dan karakterisasi jamur endofit yang terdapat pada daun beluntas. METODE PENELITIAN Bahan Bahan yang diteliti adalah daun beluntas (Pluchea indica (L.) Less.). Untuk sterilisasi permukaan daun beluntas digunakan alkohol 70% dan NaOCl 5,25%. Medium yang digunakan adalah Potato Dextrose Agar/ PDA (Merck, 1.10130.0500) yang ditambahkan kloramfenikol selanjutnya 126

disebut Potato Dextrose Agar Cholramphenicol (PDAC). Bahan yang digunakan untuk uji mikroskopik yaitu gliserin, kertas saring dan methylene blue. Peralatan Peralatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah timbangan analitik, autoklaf, inkubator, cawan petri, erlenmeyer, gelas kimia, spoit injeksi, hot plate, bisturi, Laminar Air Flow, mikroskop kamera dan alat penunjang lainnya. Prosedur a. Isolasi Jamur Endofit Teknik isolasi jamur endofit ini dilakukan dengan metode tanam langsung. Selama pengerjaan isolasi dilakukan di dalam LAF (Laminar Air Flow) dalam kondisi steril. Sampel daun beluntas dicuci dengan air mengalir terlebih dahulu. Selanjutnya dilakukan sterilisasi permukaan sampel dengan cara direndaman sampel dalam alkohol 70% selama 1 menit, kemudian direndam dalam NaOCl 5,25% selama 3 menit dan direndam kembali dalam alkohol 70% selama 30 detik. Jaringan daun dibuka dengan cara dilakukan pengikisan permukan daun menggunakan pisau steril, kemudian dipotong dengan ukuran ± 1 1 cm. Masing-masing potongan sampel diletakkan pada permukaan medium PDAC (Potato Dextrose Agar Chloramphenicol) yang telah memadat dengan posisi bagian jaringan daun menempel pada medium, dalam satu cawan petri berisi 3 potongan sampel. Diinkubasi selama 7-14 hari pada suhu 25 C. b. Pemurnian Jamur Endofit Pemurnian dilakukan untuk memisahkan koloni jamur endofit hingga diperoleh isolat jamur endofit. Koloni jamur yang tumbuh di sekeliling sampel daun beluntas dimurnikan berdasarkan morfologi makroskopik yang dapat diamati dari warna serta pertumbuhan koloni jamur. Diambil jamur endofit menggunakan ose, kemudian diinokulasikan dalam medium PDAC. Diinkubasi selama 5-7 hari pada suhu 25 C, jika pada saat pengamatan ditemukan pertumbuhan koloni yang berbeda secara makroskopis maka dipisahkan kembali hingga diperoleh isolat murni. c. Karakterisasi Isolat Jamur Endofit Karakterisasi isolat jamur endofit dengan melakukan pengamatan ciri-ciri makroskopik dan mikroskopik. Karakterisasi secara makroskopik ini dilakukan dengan pengamatan isolat jamur endofit yang telah murni meliputi warna koloni, warna sebalik koloni, bentuk atas, elevasi, tepi dan diameter koloni. Karakterisasi secara mikroskopik ini dilakukan pengamatan menggunakan preparat isolat jamur endofit melalui mikroskop. Terdapat dua jenis metode mikroskopik yaitu metode mikroskopik langsung. Metode mikroskopik langsung dilakukan dengan meneteskan methylen blue yang telah diinokulasikan isolat jamur endofit dan diamati menggunakan mikroskop. Sedangkan metode mikroskopik tidak langsung dilakukan dengan cara diinokulasikan isolat jamur endofit di atas medium PDA yang ada di object glass dan dibuat dalam kondisi lembab dengan gliserin yang ditetesi pada kertas saring sebagai pelapis cawan petri, kemudian diinkubasi selama 3-5 hari pada suhu 25 C, selanjutnya diamati menggunakan mikroskop. HASIL DAN PEMBAHASAN a. Isolasi Jamur Endofit Isolasi jamur endofit dari tanaman yang berbeda ataupun dari bagian tanaman yang berbeda tetapi dari satu tumbuhan inang memiliki jenis isolat jamur yang berbeda. Isolasi jamur endofit terlebih dahulu dilakukan sterilisasi permukaan sampel sebelum ditanamkan dalam medium. Sterilisasi permukaan sampel dilakukan dengan cara merendam sampel dalam alkohol 70%, kemudian 127

NaOCl 5,25% dan terakhir direndam kembali dalam alkohol 70%. Proses sterilisasi permukaan untuk dapat menjamin sterilitas permukaan sampel dari kontaminasi organisme. Sampel yang telah disterilisasi permukaanya kemudian dibuka jaringan daun dan ditempelkan pada medium yang telah memadat. Medium yang digunakan saat isolasi yaitu medium PDA yang ditambahkan dengan kloramfenikol (PDAC), hal ini dilakukan untuk menekan pertumbuhan bakteri yang kemungkinan ikut tumbuh saat isolasi. Hasil dari isolasi jamur endofit pada ketiga replikasi setelah dilakukan pengamatan selama 2 minggu dapat dilihat pada Gambar 1. a b c Gambar 1. Jamur Endofit dari daun beluntas (Pluchea indica (L.) Less.) setelah inkubasi selama 2 minggu, (a) Replikasi pertama, (b) Replikasi kedua, (c) Replikasi ketiga. Jamur endofit yang tumbuh di sekeliling daun beluntas dimurnikan hingga memperoleh isolat jamur endofit. Pemisahan ini berdasarkan warna dan pola pertumbuhan koloni jamur dan ditumbuhkan kembali dalam medium PDAC yang baru. Berdasarkan Gambar 1, hasil isolasi pada replikasi pertama secara makroskopik dalam satu cawan terlihat jamur yang tumbuh pada masingmasing daun memiliki warna dan pola pertumbuhan yang berbeda. Jamur yang akan diisolasi yaitu jamur dengan koloni berwarna putih, hal ini dikarenakan jamur yang tumbuh di sekeliling daun lainnya sama seperti jamur pada replikasi kedua yaitu berwarna hitam. Pada replikasi kedua dan ketiga berdasarkan pengamatan secara makroskopik dalam satu cawan hanya terdapat satu jenis jamur endofit yang tumbuh dalam satu cawan. Jamur endofit yang tumbuh pada replikasi kedua dan ketiga memiliki warna yang sama yaitu berwarna hitam, tetapi memiliki pola pertumbuhan yang berbeda sehingga dapat disimpulkan bahwa jamur endofit yang tumbuh pada replikasi kedua dan replikasi ketiga berbeda. b. Karakterisasi Isolat Jamur Endofit Isolat jamur endofit dari daun beluntas yang telah murni selanjutnya dikarakterisasi untuk melihat ciri-ciri jamur secara makroskopik dan mikroskopik. Hasil isolasi jamur endofit dari daun beluntas dapat dilihat pada Gambar 2. 128

a1 a2 b1 b2 c1 c2 Gambar 2. Isolat Jamur Endofit daun beluntas (Pluchea indica (L.) Less.). Diperoleh tigas isolat jamur endofit, yaitu (a1) Isolat Jamur Endofit Putih, (a2) hasil pengamatan Mikroskopik Isolat Jamur Endofit Putih, (b1) Isolat Jamur Endofit Hitam 1, (b2) hasil Pengamatan Mikroskopik Isolat Jamur Endofit Hitam 1, (c1) Isolat Jamur Endofit Hitam 2, dan (c2) hasil Pengamatan Mikroskopik Isolat Jamur Endofit Hitam 2. Berdasarkan Gambar 2 dapat dilihat hasil isolasi jamur endofit dari daun beluntas (Pluchea indica (L.) Less.) diperoleh tiga isolat jamur endofit yaitu isolat jamur endofit putih, isolat jamur endofit hitam 1 dan isolat jamur endofit hitam 2. Pengamatan makroskopik pada isolat jamur endofit putih yang tumbuh pada medium PDA koloni berwarna putih seperti kapas dan sebalik koloni juga berwarna putih. Dilihat dari atas berbentuk bulat, elevasi halus dan dengan tepi koloni timbul. Hari ketiga setelah inokulasi diameter koloni mencapai 1,8 cm dan diameter koloni dapat mencapai 5 cm pada hari ketujuh. Hasil pengamatan mikroskopik isolat jamur endofit putih memiliki hifa aseptat dan hialin, hifa berbentuk stolon, sporangiospora, sporangium dan sporangiofor. Pada isolat jamur endofit hitam 1 yang tumbuh pada medium PDA koloni awalnya berwarna putih, lama-kelamaan bagian dasar koloni warna berubah menjadi hitam dengan ujung konidia berwarna putih dan sebalik koloni berwarna hitam. Dilihat dari atas 129

bentuk konsentrik, elevasi lebat dan dengan tepi tumbuh ke dalam media. Hari ketiga setelah inokulasi diameter koloni mencapai 3,4 cm dan diameter koloni dapat mencapai 6 cm pada hari ketujuh. Hasil pengamatan mikroskopik isolat jamur endofit hitam 1 memiliki hifa yang berseptat dan hialin, bentuk hifa rhizoid, dan memiliki konidiospora yang berbentuk bulat.pada isolat jamur endofit hitam 2 yang tumbuh pada medium PDA koloni berwarna hitam dan sebalik koloni juga berwarna hitam. Dilihat dari atas bentuk menyebar tidak teratur, elevasi halus dan dengan tepi timbul. Hari ketiga setelah inokulasi diameter koloni mencapai 1,5 cm dan diameter koloni dapat mencapai 3 cm pada hari ketujuh. Hasil pengamatan mikroskopik isolat jamur endofit hitam 2 memiliki hifa aseptat dan hialin, hifa berbentuk rhizoid, dan memiliki konidiospora dengan bentuk elips. KESIMPULAN Hasil isolasi jamur endofit dari daun beluntas (Pluchea indica (L.) Less.) diperoleh tiga isolat jamur endofit yaitu isolat jamur endofit putih, isolat jamur endofit hitam 1 dan isolat jamur endofit hitam 2. DAFTAR PUSTAKA 1. Ardiansyah. 2003.Aktivitas Antimikroba Ektrak Daun Beluntas (Pluchea indica L.) dan Stabilitas Aktivitasnya Pada Berbagai Konsentrasi Garam dan Tingkat ph. Jurnal Teknol dan Industri Pangan. XIV.(2). 90-97. 2. Strobel, G. A., and B. Daisy. 2003. Bioprospecting for Microbial Endhophytes and Their Natural Products. Microbiology and Molecular Biology Review. 67. (4). 419-502. 3. Agusta, Andria. 2009. Biologi dan Kimia Jamur Endofit. ITB. Bandung. 4. Dalimartha, Setiawan. 1999. Atlas Tumbuhan Obat Indonesia Jilid I. Trubus Agriwidya. Jakarta. 5. Sugijanto, N. E., G. Indrayanto, N. C. Zaini. 2004. Isolasi dan Determinasi Berbagai Jamur Endofit dari Tanaman Aglaia elliptica, Aglaia eusideroxylon, Aglaia odorata dan Aglaia odoratissima. Jurnal Penelitian Medika Eksakta.5. (2). 49-60. 130