Penyakit Virus Ebola

dokumen-dokumen yang mirip
KEPUTUSAN MENTERI KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR HK.02.02/MENKES/405/2014 TENTANG

PENYELIDIKAN KEJADIAN LUAR BIASA DI GIANYAR. Oleh I MADE SUTARGA PROGRAM STUDI ILMU KESEHATAN MASYARAKAT FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS UDAYANA 2015

2014 AEA International Holdings Pte. Ltd. All rights reserved. 1

BAB III PEMBAHASAN. Ebola. Setelah model terbentuk, akan dilanjutkan dengan analisa bifurkasi pada

PEDOMAN KEWASPADAAN UNIVERSAL BAGI PETUGAS KESEHATAN

BAB 1 PENDAHULUAN. kepercayaan, kita dihadapkan lagi dengan sebuah ancaman penyakit dan kesehatan,

1. ASPEK BIOLOGI MORFOLOGI VIRUS EBOLA:

Pedoman Surveilans dan Respon Kesiapsiagaan Menghadapi Middle East Respiratory Syndrome Corona Virus (MERS-COV) untuk Puskesmas di Kabupaten Bogor

BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA KEMENTERIAN KESEHATAN. Wabah. Penyakit. Penanggulangannya.

Swine influenza (flu babi / A H1N1) adalah penyakit saluran pernapasan yang disebabkan oleh virus Orthomyxoviridae.

INFO TENTANG H7N9 1. Apa virus influenza A (H7N9)?

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. peningkatan angka kejadian, tidak hanya terjadi di Indonesia juga di berbagai

FLU BURUNG AVIAN FLU BIRD FLU. RUSDIDJAS, RAFITA RAMAYATI dan OKE RINA RAMAYANI

Jika tidak terjadi komplikasi, penyembuhan memakan waktu 2 5 hari dimana pasien sembuh dalam 1 minggu.

MACAM-MACAM PENYAKIT. Nama : Ardian Nugraheni ( C) Nifariani ( C)

KUESIONER PENELITIAN

BAB I PENDAHULUAN. Peningkatan populasi manusia dan globalisasi menyebabkan perpindahan manusia

I. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

PERANCANGAN DAN INTEGRASI SITEM PCM ANALYSIS PENCEGAHAN TERHADAP VIRUS ZIKA. Oleh: Rika Puspitasari Rangkuti

Demam sekitar 39?C. Batuk. Lemas. Sakit tenggorokan. Sakit kepala. Tidak nafsu makan. Muntah. Nyeri perut. Nyeri sendi

PENDAHULUAN. zoonoses (host to host transmission) karena penularannya hanya memerlukan

AVIAN INFLUENZA. Dr. RINALDI P.SpAn Bagian Anestesi/ICU Rumah Sakit Penyakit Infeksi Prof.DR.Sulianti Saroso

Kanker Serviks. 2. Seberapa berbahaya penyakit kanker serviks ini?

BAB 1 PENDAHULUAN. Penyakit demam berdarah dengue (DBD) sampai saat ini merupakan

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Penelitian. Penyakit infeksi dengue adalah penyakit yang disebabkan oleh virus

ASUHAN KEPERAWATAN PASIEN DENGAN DEMAM CHIKUNGUNYA Oleh DEDEH SUHARTINI

Frequent Ask & Questions (FAQ) MERS CoV untuk Masyarakat Umum

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang

Pedoman Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Virus Ebola

BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang

BAB 1 : PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang Indonesia adalah negara berkembang yang berada pada periode triple

Anjing Anda Demam, Malas Bergerak dan Cepat Haus? Waspadai Leptospirosis

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Penyakit infeksi dan penyakit menular merupakan masalah yang masih dihadapi oleh negara-negara berkembang.

BAB 1 PENDAHULUAN. Peraturan Kesehatan Internasional/International Health Regulation (IHR) tahun

PANDUAN PRATIKUM KESEHATAN INTERNASIONAL DAN KARANTINA

BAB I PENDAHULUAN. oleh virus dan bersifat zoonosis. Flu burung telah menjadi perhatian yang luas

BAB I PENDAHULUAN. Peningkatan kasus infeksi human immunodeficiency virus (HIV) dan

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang

Mengapa disebut sebagai flu babi?

BAB I PENDAHULUAN. tikus. Manusia dapat terinfeksi oleh patogen ini melalui kontak dengan urin

MANAJEMEN TERPADU BALITA SAKIT MODUL - 2 PENILAIAN DAN KLASIFIKASI ANAK SAKIT UMUR 2 BULAN SAMPAI 5 TAHUN

Etiology dan Faktor Resiko

KEPUTUSAN MENTERI KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 311/MENKES/SK/V/2009 TENTANG

BAB II TINJUAN PUSTAKA

BAB 1 PENDAHULUAN. selalu diusahakan peningkatannya secara terus menerus. Menurut UU No.36 Tahun 2009 tentang kesehatan, dalam pasal 152

Gangguan Zika dan Upaya Menuju Indonesia Sehat

PERATURAN MENTERI KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 59 TAHUN 2016 TENTANG PEMBEBASAN BIAYA PASIEN PENYAKIT INFEKSI EMERGING TERTENTU

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 82 TAHUN 2000 TENTANG KARANTINA HEWAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

Penyebab, gejala dan cara mencegah polio Friday, 04 March :26. Pengertian Polio

BAB I PENDAHULUAN. kronik dan termasuk penyakit hati yang paling berbahaya dibandingkan dengan. menularkan kepada orang lain (Misnadiarly, 2007).

BAB I. Leptospirosis adalah penyakit zoonosis, disebabkan oleh

I. PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang. Demam Berdarah Dengue (DBD) merupakan salah satu penyakit infeksi

Virus herpes merupakan virus ADN dengan rantai ganda yang kemudian disalin menjadi marn.

TAMBAHAN LEMBARAN NEGARA RI

BAB 1 PENDAHULUAN. di Indonesia yang cenderung jumlah pasien serta semakin luas. epidemik. Data dari seluruh dunia menunjukkan Asia menempati urutan

SITUASI PENDERITA DBD DI KABUPATEN GARUT 1 JANUARI S.D.17 MARET 2009

BAB I PENDAHULUAN. Penyakit Demam Berdarah Dengue (DBD) dalam beberapa tahun terakhir

BAB I PENDAHULUAN UKDW. DBD (Nurjanah, 2013). DBD banyak ditemukan didaerah tropis dan subtropis karena

Bagian XIII Infeksi Nosokomial

PERATURAN MENTERI KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 949/MENKES/SK/VIII/2004 TENTANG

Deteksi Antibodi Terhadap Virus Avian Influenza pada Ayam Buras di Peternakan Rakyat Kota Palangka Raya

BAB 1 PENDAHULUAN. Di era reformasi, paradigma sehat digunakan sebagai paradigma

CARA MENGATASI GIGITAN ULAR

BAB I PENDAHULUAN. negara berkembang termasuk Indonesia (Depkes RI, 2007). dan balita. Di negara berkembang termasuk Indonesia anak-anak menderita

BAB 1 PENDAHULUAN. Sasaran pembangunan milenium (Millennium Development Goals/MDGs)

KEJADIAN LUAR BIASA (KLB)

PENJELASAN ATAS PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 47 TAHUN 2014 TENTANG PENGENDALIAN DAN PENANGGULANGAN PENYAKIT HEWAN

BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

ANALISIS KESTABILAN DAN PROSES MARKOV MODEL PENYEBARAN PENYAKIT EBOLA

BAB I PENDAHULUAN. infeksi yang masih menjadi masalah kesehatan masyarakat dunia. Tuberculosis menyebabkan 5000 kematian perhari atau hampir 2 juta

1. BAB I PENDAHULUAN

EFEKTIVITAS EKSTRAK ETANOL DAUN RAMBUTAN (Nephelium lappaceum L.)TERHADAP KEMATIAN LARVA NYAMUK Aedes aegypti INSTAR III

*37679 PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA (PP) NOMOR 82 TAHUN 2000 (82/2000) TENTANG KARANTINA HEWAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

PENGAMBILAN, PENGEMASAN DAN PENGIRIMAN SPESIMEN MERS-CoV dan EBOLA

BAB I PENDAHULUAN. Penyakit Demam Berdarah Dengue (DBD) selalu merupakan beban

BAB I PENDAHULUAN. Di jaman modernisasi seperti sekarang ini Rumah Sakit harus mampu

BAB I PENDAHULUAN. Penyakit flu burung atau flu unggas (bird flu, avian influenza) adalah

BAB I PENDAHULUAN 1.1. LATAR BELAKANG

BAB I PENDAHULUAN. disebabkan oleh Salmonella typhi (S.typhi), bersifat endemis, dan masih

UNIVERSAL PRECAUTIONS Oleh: dr. A. Fauzi

PENILAIAN DAN KLASIFIKASI ANAK SAKIT UMUR 2 BULAN SAMPAI 5 TAHUN

2015, No Mengingat : 1. Undang-Undang Nomor 4 Tahun 1984 tentang Wabah Penyakit Menular (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1984 Nomor 20,

PERATURAN MENTERI KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 82 TAHUN 2014 TENTANG PENANGGULANGAN PENYAKIT MENULAR DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

BAB I PENDAHULUAN. Hepatitis merupakan penyakit inflamasi dan nekrosis dari sel-sel hati yang dapat

BAB I PENDAHULUAN. kepadatan penduduk. Menurut WHO (2009), Sekitar 2,5 miliar penduduk dunia

BAB 1 PENDAHULUAN. Demam Berdarah Dengue (DBD) merupakan salah satu penyakit yang

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah

KESIAPSIAGAAN MENGAHADAPI MERS-CoV

BAB I PENDAHULUAN. Chikungunya merupakan penyakit re-emerging disease yaitu penyakit

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 47 TAHUN 2014 TENTANG PENGENDALIAN DAN PENANGGULANGAN PENYAKIT HEWAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 47 TAHUN 2014 TENTANG PENGENDALIAN DAN PENANGGULANGAN PENYAKIT HEWAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

BAB I PENDAHULUAN. Perbedaan antara virus hepatitis ini terlatak pada kronisitas infeksi dan kerusakan jangka panjang yang ditimbulkan.

LEMBARAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA

BAB I PENDAHULUAN. Dengue, keduanya ditularkan oleh nyamuk Aedes aegypti. Penyakit. chikungunya disebabkan oleh virus chikungunya.

BAB I. PENDAHULUAN. A. Latar Belakang

BAB 1 PENDAHULUAN. masyarakat karena menyebar dengan cepat dan dapat menyebabkan kematian (Profil

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. Flaviviridae dan ditularkan melalui vektor nyamuk. Penyakit ini termasuk nomor dua

BAB 1 : PENDAHULUAN. kesehatan masyarakat yang utama di Indonesia, salah satunya penyakit Demam

Transkripsi:

Penyakit Virus Ebola Penyakit Virus Ebola merupakan penyakit yang berbahaya dan sangat mematikan. Pertambahan kasus yang cukup cepat dari waktu ke waktu, angka kematian yang cukup tinggi dan adanya mekanisme penularan dari manusia ke manusia menyebabkan penyakit virus Ebola perlu mendapatkan perhatian khusus dari negara-negara di seluruh dunia. Sampai tanggal 15 Agustus 2014, WHO mencatat kasus Penyakit Virus Ebola sebanyak 2.127 dengan jumlah kematian 1.145 (Case Fatality Rate sebesar 53,8 %). Negara yang terjangkit sebanyak 4 negara, yang semuanya berada di kawasan Afrika Barat. Negara tersebut adalah Liberia (786 kasus, 413 kematian), Guinea (519 kasus, 380 kematian), Nigeria (12 kasus, 4 kematian) dan Sierra Leone (810 kasus, 348 kematian). Sedangkan negara di luar kawasan Afrika Barat belum ada yang melaporkan kasus penyakit ini, termasuk Indonesia belum ada kasus Penyakit Virus Ebola yang dilaporkan. Penyakit ini berkembang cukup cepat di negara-negara yang sudah terjangkit tersebut. Dalam kurun waktu 2 hari (tanggal 12-13 Agustus 2014) telah tercatat ada 152 kasus baru (tersangka, probable dan terkonfirmasi laboratorium) dengan 76 kematian, kesemuanya berasal dari negara yang sudah melaporkan kasus penyakit ini. Sumber: http://who.int/csr/disease/ebola/evd-outbreak.jpg

Virus Ebola yang menjadi penyebab penyakit ini, adalah golongan virus dari famili filovirus (the Filoviridae family). Ada 5 spesies virus, yaitu: 1. Bundibugyo ebolavirus (BDBV) 2. Zaire ebolavirus (EBOV) 3. Reston ebolavirus (RESTV) 4. Sudan ebolavirus (SUDV) 5. Taï Forest ebolavirus (TAFV). BDBV, EBOV, dan SUDV berkaitan dengan wabah yang terjadi di Afrika Barat, sedangkan RESTV dan TAFV tidak menyebabkan penyakit dan kematian pada manusia (virus jenis yang tidak mematikan ini ditemukan di Phillipina dan China). Virus ini pertama kali diidentifikasi pada tahun 1976 pada 2 kejadian wabah yang secara simultan terjadi di Nzara, Sudan, dan di Yambuku, Kongo. Nama Ebola itu sendiri diambil dari nama sungai di dekat desa dimana wabah ini terjadi saat itu. Cara Penularan Awal timbulnya penularan pada manusia adalah adanya kontak dengan cairan tubuh, seperti darah, air liur dan organ binatang hutan yang terinfeksi virus Ebola dan keondisi sakit atau mati. Binatang yang tercatat sebagai penular penyakit ini adalah simpanse, gorila, kelelawar pemakan buah, monyet, antelope (sejenis kijang di Afrika) dan sebangsa landak (porcupines). Pada akhirnya penyakit ini menular dari manusia ke manusia melalui kontak langsung dari cairan tubuh penderita penyakit virus Ebola. Cairan tubuh tersebut bisa darah, ail liur, cairan tubuh yang lainnya. Penularan akan terjadi bila kulit atau mukosa seseorang terdapat luka, termasuk luka yang sangat kecil yang tidak terlihat, namun terasa perih bila terkena alkohol atau sabun. Penularan secara tidak langsung dapat terjadi bila seseorang dengan kulit yang memiliki luka (termasuk luka yang kecil) terkena air bekas untuk memandikan jenazah orang yang terkena penyakit virus Ebola ini. Gambar: Contoh luka kecil yang dapat menjadi pintu masuk viruls Ebola Gejala dan Tanda Penyakit Virus Ebola Sebagaimana penyakit-penyakit virus yang lain, penyakit ini ditandai dengan demam mendadak disertai nyeri pada otot, nyeri kepala serta nyeri tenggorokan (influenza like illness). Selanjutnya penderita akan mengalami mual muntah, diare serta keluar bercak

merah di kulit. Terjadi gangguan pada ginjal dan hati serta pada beberapa kasus terjadi perdarahan baik di dalam tubuh maupun di luar tubuh. Pemeriksaan laboratoium menunjukkan terjadinya penurunan jumlah sel darah putih dan sel pembeku darah (trombosit) serta terjadi peningkatan enzim hati, sebagai tanda terjadi kerusakan hati. Orang yang terinfeksi penyakit ini, ternyata di dalam cairan kelaminnya (cairan semen) masih ditemukan virus tersebut bahkan setelah 61 hari dari awal sakit. Masa inkubasi, atau masa dari terjadinya infeksi sampai timbulnya gejala sakit, berkisar antara 2-21 hari. Diagnosis Diagnosis ebola perlu dilakukan bila mendapatkan gejala seperti tersebut di atas, namun harus dengan menyingkirkan diagnosis banding yang lain, seperti typhus, DBD (Demam Berdarah Dengue), pes, hepatitis virus dan beberapa penyakit virus yang lainnya. Informasi tentang riwayat tinggal atau berkunjung di negara yang terjangkit penyakit virus Ebola dan kontak langsung dengan penderita penyakit ini sangat membantu untuk mengarah ke diagnosis penyakit tersebut. Untuk memastikan penyakit ini perlu dilakukan pemeriksaan laboratorium, diantaranya dengan metode: antibody-capture enzyme-linked immunosorbent assay (ELISA) antigen detection tests serum neutralization test reverse transcriptase polymerase chain reaction (RT-PCR) assay electron microscopy isolasi virus melalui kultur sel Pengobatan Sampai saat ini belum ada pengobatan spesifik yang dapat menyembuhkan penyakit ini. Pengobatan yang diberikan bila merawat pasien yang terinfeksi virus Ebola adalah pengobatan suportif. Pasien sering mengalami dehidrasi, sehingga keseimbangan cairan perlu dijaga dengan pemberian minum atau cairan infus. Pencegahan dan Pengendalian Pencegahan dapat dilakukan dengan menghidarkan diri dari hewan liar yang ada di hutan yang mungkin terinfeksi virus ini. Pencegahan penularan dari manusia ke manusia dapat dilakukan dengan menerapkan kewaspadaan bahaya penularan penyakit pada setiap bersinggungan dengan pasien penyakit apapun, apalagi bila ada riwayat pasien tersebut kontak dengan penderita infeksi virus Ebola. Masyarakat tidak perlu cemas karena penyebaran virus ini melalui jalur penerbangan sangatlah kecil risikonya, sehingga kecil kemungkinan untuk menyebar ke Indonesia. Akan tetapi perlu diingat bahwa penyakit menular adalah tidak mengenal tapal batas sehingga kewaspadaan tetap perlu dijaga. Peran karantina baik di bandara udara maupun

laut menjadi sangat vital untuk mencegah masuknya penyakit ini ke sebuah negara, termasuk ke Indonesia. Perlu diwaspadai setiap penumpang, terutama dari negara afrika yang masuk ke Indonesia dengan kondisi sakit, terutama yang menunjukkan gejala demam. Perlu dilakukan upaya cegah tangkal di setiap pintu gerbang negara Indonesia. Pengendalian penularan dari manusia ke manusia perlu dilakukan dengan penerapan standard precaution oleh seluruh tenaga kesehatan yang bekerja di fasilitas pelayanan kesehatan. Hindari bersentuhan secara langsung dengan pasien tanpa menggunakan sarung tangan yang baik. Hal ini perlu dilakukan mengingat petugas kesehatan merupakan kelompok yang sangat rentan tertular penyakit virus Ebola ini. Pakaian untuk mencegah penularan pada petugas kesehatan Sumber: http://who.int/features/2014/ebola-liberia/ebola-liberia-thumb.jpg Tujuh hal yang dapat dilakukan sebagai langkah antisipasi mencegah terjangkit Ebola, terutama jika hendak bepergian ke negara episenter Ebola yaitu Guinea, Liberia dan Sierra Leonne, yaitu: Pertama adalah lebih sering cuci tangan pakai sabun (CTPS) karena Ebola menular melalui kontak dengan cairan tubuh pasien. Walaupun sudah hati-hati tapi tetap ada kemungkinan tangan kita tercemar. Karena itu rajin-rajinlah cuci tangan pakai sabun. Langkah kedua yang juga sangat penting adalah dengan menghindari kontak langsung dengan pasien Ebola. Selain pasiennya, kita perlu membatasi kontak dengan keluarga/kerabat yang baru mengunjungi pasien. Langkah ketiga adalah sedapat mungkin menghindari proses pemakaman pasien Ebola terutama yang memiliki ritual pemakaman yang membutuhkan kontak langsung dengan jenazah seperti menciumnya. Langkah keempat yang dapat dilakukan untuk menghindari Ebola adalah menghindari kontak dengan hewan yang mungkin dapat menularkan virus tersebut serta membatasi untuk mengunjungi kawasan hutan di negara-negara terjangkit. Langkah kelima adalah jika seseorang terlanjur berada di negara terjangkit saat wabah merebak maka diiharapkan untuk dapat membatasi perjalanan domestik. Jangan bepergian antarkota di negara itu kalau tidak betul-betul diperlukan.

Langkah keenam, masyarakat diharapkan agar dapat mengikuti perkembangan informasi mengenai Ebola di laman yang terpercaya seperti laman WHO atau Kementerian Kesehatan RI untuk mengetahui informasi terbaru. Selanjutnya yang terakhir, langkah ketujuh yang harus dilakukan adalah jika memiliki keluhan kesehatan ketika sedang berkunjung ke negara terjangkit agar dapat segera melapor ke petugas kesehatan untuk dilakukan pemeriksaan. Upaya yang Dilakukan Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Timur Beberapa upaya telah dilakukan Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Timur terkait isu merebaknya virus Ebola, yaitu dengan memberikan penyuluhan ke masyarakat melalui media massa, baik cetak maupun elektronik. Penyebarluasan informasi ini untuk meningkatkan kewaspadaan masyarakat serta mencegah timbulnya kepanikan karena informasi yang salah. Tim gerak cepat bencana bidang kesehatan dan tim surveilans untuk penyakit menular juga disiapkan untuk mengantisipasi timbulnya kasus penyakit virus Ebola di Jawa Timur. Kesiapan ini didukung dengan jejaring rujukan pelayanan kesehatan yang ada di Jawa Timur yang didukung sarana pengambilan spesimen pemeriksaan laboratorium bila ada kasus. Pemeriksaan dilakukan di Laboratoium Balitbangkes Jakarta. Koordinasi dengan Kantor Kesehatan Pelabuhan (KKP) dan sektor lain yang terlibat terus dilakukan dalam rangka antisipasi terjadinya kasus penyakit ini, khususnya di Jawa Timur. Tiga alasan Ebola sulit menyebar ke Jawa Timur Satu adalah tidak adanya penerbangan langsung dari Indonesia ke negara-negara yang terinfeksi seperti Guinea, Sierra Leone, Liberia dan Nigeria. Kedua adalah ketatnya pengamanan yang dilakukan negara-negara tempat singgah dan transit. Contohnya adalah Dubai, Malaysia atau Singapura. Alasan ketiga, ketatnya pengaman di pintu masuk negara seperti bandara dan pelabuhan.