BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Demam Berdarah Dengue (DBD) pada dekade terakhir menjadi masalah kesehatan global, ditandai dengan meningkatnya kasus DBD di dunia. World Health Organization (WHO) melaporkan lebih dari 2,5 milyar atau dua perlima populasi di dunia beresiko terinfeksi virus dengue. DBD yang biasa disebut Dengue Hemorrhagic Fever (DHF) merupakan satu dari beberapa penyakit menular yang menjadi masalah kesehatan terutama negara berkembang. Penyakit Demam Berdarah Dengue disebabken oleh virus dengue ditularkan dari sesorang kepada orang lain melalui gigitan nyamuk Aedes aegypti (WHO, 2012). Berdasarkan laporan WHO kasus penyakit Demam Berdarah Dengue dari tahun 1955 sampai tahun 2010 mengalaimi peningkatan. Tahun 1955 terdapat 908 kasus. Tahun 2009 meningkat menjadi 1.451.083 kasus dan tahun 2010 kembali menunujukan peningkatan kasus yang signifikan sebesar 2.204.516 kasus (Chan, 2012). Kejadian Demam Berdarah Dengue di Indonesia tahun 2008 sebesar 137.469 kasus dengan jumlah kematian sebanyak 1.187 orang. Tahun 2009 kasus Demam Berdarah Dengue mengalami peningkatan sebesar 154.855 kasus dengan kematian sebanyak 1.384 orang (Kemenkes R.I, 2010). Angka kesakitan (IR) Demam Berdarah Dengue selama tiga tahun terakhir mengalami penurunan tetapi pada tahun 2012 kembali terjadi peningkatan kasus di beberapa provinsi. Tahun 2012 kasus Demam Berdarah Dengue sebesar 90.245 penderita dengan kematian 816 orang. Tahun 2013 mulai periode Januari sampai Juli kasus Demam Berdarah Dengue sebesar 48.905 penderita dengan kematian 376 orang (Hartawan, 2013). Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta berdasarkan data dari Provil Kesehatan tahun 2012 menyebutkan bahwa penyakit Demam Berdarah Dengue merupakan penyakit endemis dan sampai saat ini masih tetap menjadi ancaman dan masuk dalam kategori 10 besar penyakit di puskesmas. Tingkat kematian penyakit Demam Berdarah Dengue (Case fatality rate) pada tahun 2007 lebih tinggi dari rata-rata nasional. Data program P2M tahun 2007 menunjukan bahwa 1
2 CFR (Case Fatality Rate/ angka kematian) Demam Berdarah Dengue DIY mencapai 1,01 (nasional <1) dengan angka insidensi tahun 2007 sebesar 74,38/100.000 penduduk. Angka insidensi mengalami penurunan menjadi 64,81/100.000 penduduk pada tahun 2008 sementara angka kematian/cfr mengalami penurunan menjadi 0,90 dari keseluruhan kasus. Jumlah kasus Demam Berdarah Dengue tahun 2009 dilaporkan sebanyak 2.203 kasus, dengan jumlah kematian sebanyak 16 kasus (CFR = 0,73). Kasus Demam Berdarah Dengue tahun 2010 mengalami peningkatan yang signifikan yaitu sebanyak 5.121 kasus dengan jumlah kematian 33 kasus (CFR = 0,64). Tahun 2011 mengalamim penurunan menjadi 28,8/100.000 penduduk sementara untuk angka kematian/cfr mengalami penurunan menjadi 0,5 dari keseluruhan kasus. Meskipun mengalami penurunan namun kasus dan kematian akibat penyakit Demam Berdarah Dengue masih masuk dalam kategori tin ggi (Dinkes Prov. DIY, 2012). Tingginya kasus prevalensi Demam Berdarah Dengue dipengaruhi oleh tingginya faktor risiko penularan di masyarakat seperti jentik yang masih dibawah 95% yaitu baru 64,46% pada tahun 2008, pada tahun 2009 mencapai 71,8%. Tahun 2010 sebesar 87,88% dan tahun 2011 jentik sebesar 86,62% rumah yang bebas dari jentik Ae. aegypti (Dinkes Prov. DIY, 2012). Kejadian penyakit Demam Berdarah Dengue di Kecamatan Wates khususnya di Kelurahan Wates Kabupaten Kulon Progo pada tahun 2010 terdapat 30 kasus. Di tahun 2011 kasus Demam Berdarah Dengue turun menjadi 5 kasus, dan tahun 2012 terdapat 1 kasus. Tetapi di tahun 2013 berdasarkan laporan kasus Puskesmas Wates periode Januari-September menunjukkan peningkatan signifikan sebanyak 35 kasus, di sertai dengan 2 kematian (Puskesmas Wates, 2013). Terjadinya penurunan kasus pada tahun 2011 sampai 2012 dikarenakan oleh keberhasilan program puskesmas yaitu kegiatan foging masal yang dilakukan secara rutin. Setelah terjadi penurunan kasus Demam Berdarah Dengue kegiatan foging sudah tidak dilanjutkan lagi. Sehingga pada tahun 2013 kembali terjadi peningkatan kembali. Karena kegiatan foging dilakukan biasanya setelah
3 terjadinya insiden Demam Berdarah Dengue serta terkait masalah pendanaan kegiatan foging masal, hal ini dapat dilihat pada Gambar 1. 70 60 Jumlah Kasus 50 40 30 20 10 0 2010 2011 2012 2013 Kelurahan Gambar 1. Distribusi kasus Demam Berdarah Dengue per kelurahan/desa tahun 2010 s/d September 2013 Berdasarkan grafik distribusi kasus Demam Berdarah Dengue dari tahun 2010-2013 menujukan trend peningkatan kasus, dimana kasus tertinggi terjadi di Kelurahan Wates. Tingginya kasus tersebut dikarenakan kondisi sanitasi lingkungan dan sanitasi perumahan yang belum memenuhi syarat kesehatan. Kegiatan penanggulangan yang dilakukan selama ini adalah penyuluhan dan fogging masal. Kegiatan Pemberantasan Sarang Nyamuk Demam Berdarah Dengue (PSN-DBD) sampai saat ini belum dilaksanakan secara optimal, hal ini ditunjukkan dengan rendahnya Angka Bebas Jentik (ABJ) di tahun 2012 yaitu 83,1% (Puskesmas Wates, 2012). Angka Bebas Jentik (ABJ) dapat berperan dalam pembatasan penyakit DBD jika rata-rata mencapai 95% atau lebih dari 95% (Kemenkes R.I, 2010). Keadaan lingkungan di Kelurahan Wates merupakam wilayah yang paling padat penduduknya serta banyak sarana pelayanan umum. Sarana pelayanan umum yang berdekatan dengan lingkungan pemukiman masyarakat adalah
4 terminal, pasar, kantor camat, puskesmas, serta sarana pendidikan lainnya. Kondisi tersebut membuat mobilitas penduduk baik dari dalam, maupun dari luar wilayah Kelurahan Wates menjadi tinggi, sehingga secara tidak langsung memungkinkan penularan penyakit Demam Berdarah Dengue. Sampai saat ini populasi vektor sering diukur menggunakan indeks jentik/larva atau Stegomyia index, seperti: house index (HI), container index (CI), dan breteau index (BI). Tetapi pengukuran tersebut hanya bermanfaat untuk mengukur tingkat pencapaian program pencegahan dengue, dan sama sekali tidak menggambarkan populasi vektor (Focks, 2003). Selain itu, Stegomyia index juga tidak bisa dipakai untuk mengukur risiko penularan, karena tidak mempertimbangkan variabel-variabel penting secara epidemiologis, seperti nyamuk dewasa, manusia, suhu dan iklim (Focks & Alexander, 2007). Metode survei pupa merupakan cara yang paling tepat dan baik untuk menilai resiko penularan sekaligus mengarahkan upaya-upaya pencegahan penularan dengue. Dinamika metode survei pupa dilakukan dengan menghitung rasio jumlah pupa dan jumlah orang yang terpapar, atau disebut indeks pupa/orang. Dengan menggunakan indeks pupa/orang, metode survei pupa/demografi memfokuskan pada pencarian container yang paling produktif menghasilkan nyamuk, yang dinamakan kontainer kunci, sehingga upaya-upaya pencegahan bisa dikonsentrasikan pada jenis kontainer tersebut (Focks et al., 2000). Dalam program penurunan kasus Demam Berdarah Dengue Sistem Informasi Geografi (SIG) dapat menggambarkan dan memantau berbagai hal yang berkaitan dengan persebaran Demam Berdarah Dengue seperti lokasi penderita, baik itu di kota ataupun kelurahan/desa serta persebaran penderita Demam Berdarah Dengue disuatu wilayah. Analisis spasial dapat memberikan analisis grafis dari indikator epidemiologi dari waktu ke waktu, distribusi spasial, endemisitas wilayah, dan kebutuhan tenaga kesehatan dalam memberikan pelayanan kesehatan pada penderita Demam Berdarah Dengue.
5 Sistem Informasi Geografi (SIG) mempunyai peranan dalam pemecahan masalah kesehatan serta membantu petugas kesehatan untuk melakukan pencegahan dan penanggulangan penyakit. Sistem Informasi Geografi dalam kesehatan juga bisa digunakan untuk menganalisis hubungan antara lingkungan dengan kejadian penyakit serta masalah kesehatan lainnya dan sistem manajemen pelayanan kesehatan (Kamel Boulos et al., 2001). Berdasarkan uraian di atas pada Sistem Informasi Geografi dapat dilihat gambaran distribusi spasial dari penyakit Demam Berdarah Dengue di Kelurahan Wates, oleh karena itu penulis tertarik untuk meneliti lebih lanjut tentang Analisis Spasial dan Faktor-Faktor yang Berhubungan dengan Kejadian Demam Berdarah Dengue (DBD) di Kelurahan Wates Kecamatan Wates Kabupaten Kulon Progo Tahun 2013. B. Rumusan Masalah Berdasarkan latar belakang dan identifikasi masalah di atas maka rumusan masalah dalam penelitian ini adalah : 1. Bagaimana gambaran spasial keberadaan larva, keberadaan pupa, kebiasaan menggantung pakaian, frekuensi membersihkan tempat penampungan air dengan kejadian penyakit DBD. 2. Bagaimana gambaran deskriptif penduduk dan indikator entomologi (Angka Bebas Jentik dan Pupa Index) dengan kejadian DBD di Kelurahan Wates. C. Tujuan Penelitian 1. Tujuan Umum Untuk mengetahui gambaran spasial dan faktor-faktor yang berhubungan dengan kejadian Demam Berdarah Dengue (DBD) di Kelurahan Wates Kacamatan Wates Kabupaten Kulon Progo tahun 2013.
6 2. Tujuan Khusus a. Memetakan kasus Demam Berdarah Dengue, berdasarkan keberadaan larva, keberadaan pupa, kebiasaan menggantung pakaian frekuensi membersihkan tempat penampungan air di wilayah Kelurahan Wates. b. Mendeskripsikan tingkat penduduk dengan kejadian Demam Berdarah Dengue. c. Mendeskripsikan keberadaan larva dengan kejadian Demam Berdarah Dengue. d. Mendeskripsikan keberadaan pupa dengan kejadian Demam Berdarah Dengue. e. Mendeskripsikan hubungan antara kebiasaan menggantung pakaian dengan kejadian Demam Berdarah Dengue. f. Mendeskripsikan frekuensi membersihkan tempat penampungan air dengan kejadian Demam Berdarah Dengue. g. Mengetahui penegelompokan atau cluster kasus Demam Berdarah Dengue. h. Mengetahui prediksi wilayah beresiko Demam Berdarah Dengue. i. Mendeskripsikan indikator entomologis (Angka Bebas Jentik dan Pupa Index) di Kelurahan Wates. D. Manfaat Penelitian 1. Bagi Peneliti Dapat menambah pengetahuan dan wawasan tentang faktor-faktor yang berhubungan dengan kejadian penyakit Demam Berdarah Dengue. 2. Bagi Dinas Kesehatan Memberikan masukan sebagai bahan pertimbangan dalam penentuan kebijakan sehubungan dengan pelaksanaan pencegahan dan penanggulangan penyakit Demam Berdarah Dengue di Kabupaten Kulon Progo.
7 3. Bagi Akademik Diharapkan penelitian ini dapat menjadi acuan dan rujukan untuk penelitian lain guna pengembangan lebih lanjut tentang Demam Berdarah Dengue. E. Keaslian Penelitian Tabel 1. Keaslian Penelitian No Nama Judul Persamaan Perbedaan 1 (Daud, 2008) Study epidemiologi kejadian penyakit Demam Berdarah Dengue dengan pendekatan spasial sistem Informasi Geografi di Kecamatan Palu Selatan Kota Palu. Desain penelitian menggunakan crossectional Variabel yang pupa index, serta lokasi yang berbeda. 2 (Mukhlisin, 2008) Analisis spasial dan temporal kejadian DBD di Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta tahun 1997-2006 Desain penelitian yang digunakan adalah cross sectional serta variabel yang jentik, serta penduduk Tidak ditelitinya perilaku masyarakat, pupa index, serta lokasi yang berbeda 3 (Thammapalo et al., 2008) Environmental Factors and Incidence of Dengue Fever and Dengue Haemorrhagic Fever in an Urban Area, Southern Thailand 4 (Farid, 2009) Analisis spasial kasus Demam Berdarah Dengue di Kota Bima Nusa Tenggara Barat Tahun 2005-2007 Melakukan analisis spasial, variabel penduduk Variabel yang jentik Tidak ditelitinya jentik dan pupa index Tidak ditelitinya perilaku masyarakat, pupa index, serta lokasi yang berbeda
8 5 (Arboleda et al., 2009) Mapping Environmental Dimensions of Dengue Fever Transmission Risk in the Aburra valley, Colombia Melakukan pemetaan penderita dan analisis spasial Tidak ditelitinya penduduk dan pupa index 6 (Wajiran, 2010) Analisis spasial kejadian luarbiasa penyakit demam berdarah dengue di Kelurahan Lekson Kecamatan Lekson Kabupaten Wonosobo tahun 2009 7 (Sitepu, 2011) Analisis spasial faktorfaktor resiko kejadian Demam Berdarah Dengue di Kota Singkawan Kalimantan Barat tahun 2010 Variabel yang penduduk dan jentik Variabel yang penduduk, jentik (ABJ) Desain penelitian menggunakan case control serata lokasi yang berbeda Desain penelitian yangdigunakan, tidak ditelitinya pupa index, serta lokasi yang berbeda