PERBAIKAN RANTAI PASOK DENGAN METODE VALUE CHAIN ANALYSIS PADA RANTAI PASOK KOPI

dokumen-dokumen yang mirip
BAB III METODOLOGI PENELITIAN. Mulai. Kajian Pendahuluan. Identifikasi & Perumusan masalah. Penetapan Tujuan & batasan penelitian

BAB V ANALISA DAN PEMBAHASAN

repository.unisba.ac.id DAFTAR ISI

BAB V ANALISIS HASIL. material dalam sistem secara keseluruhan. Value stream mapping yang

B A B 5. Ir.Bb.INDRAYADI,M.T. JUR TEK INDUSTRI FT UB MALANG 1

BAB I PENDAHULUAN. dari sudut pandang konsumen oleh karena itu perlu dieliminasi. Didalam lean

PENGARUH PENENTUAN JUMLAH PEMESANAN PADA BULLWHIP EFFECT


BAB I PENDAHULUAN. produktif yang cukup kuat, sekalipun terjadi gejolak atau krisis ekonomi.

repository.unisba.ac.id BAB I PENDAHULUAN

SUPPLY CHAIN MANAGEMENT

BAB I PENDAHULUAN. menjadi jasa atau barang. Manufacturing adalah proses produksi untuk

BAB I PENDAHULUAN. Industri makanan dan minuman merupakan sektor strategis yang akan

BAB I PENDAHULUAN. Supply chain (rantai pasok) merupakan suatu sistem yang

BAB I PENDAHULUAN. kegiatan yang dapat meningkatkan nilai tambah (value added) produk (barang dan

APLIKASI LEAN THINKING PADA INSTALASI RAWAT INAP RUMAH SAKIT SEMEN GRESIK

Analisis Pemborosan Proses Loading dan Unloading Pupuk dengan Pendekatan Lean Supply Chain

Pemodelan Dan Simulasi Sistem Industri Manufaktur Menggunakan Metode Simulasi Hybrid (Studi Kasus: PT. Kelola Mina Laut)

BAB V ANALISA HASIL. 5.1 Analisa Current State Value Stream Mapping. material dalam sistem secara keseluruhan. Value Stream Mapping yang digambarkan

ABSTRAK. iv Universitas Kristen Maranatha

BAB I PENDAHULUAN. Sun (2011) mengatakan bahwa lean manufacturing merupakan cara untuk

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN. Toyota production system (TPS) sangat populer di dunia perindustrian.

Mulai. Studi Pendahuluan. Perumusan Masalah. Penetapan Tujuan. Pemilihan Variable. Pengumpulan Data. Menggambarkan Process Activity Mapping

PENGEMBANGAN MODEL PERSEDIAAN OBAT-OBATAN PADA INSTALASI FARMASI DI INTERNAL RUMAH SAKIT

Tahun Harga Kakao Harga Simulasi

BAB I PENDAHULUAN. Pada umumnya, tujuan akhir suatu perusahaan adalah untuk memperoleh

KATA PENGANTAR. berkenan memberikan rahmat dan hidayahnya sehingga penulis dapat ANALISA PENERAPAN KONSEP LEAN THINKING

BAB I PENDAHULUAN. Dasar pemikiran dari lean thinking adalah berusaha menghilangkan waste

PENINGKATAN EFISIENSI PELAYANAN PASIEN INSTALASI RAWAT JALAN DENGAN PENDEKATAN LEAN THINKING DAN TIME BASED PROCESS (STUDY KASUS DI RSU HAJI SURABAYA)

RANCANG BANGUN SISTEM PENELUSURAN DAGING SAPI DI PT.X

Lean Thinking dan Lean Manufacturing

BAB IV METODE PENELITIAN

VALUE CHAIN ANALYSIS (ANALISIS RANTAI PASOK) UNTUK PENINGKATAN PENDAPATAN PETANI KOPI PADA INDUSTRI KOPI BIJI RAKYAT DI KABUPATEN JEMBER ABSTRAK

PROSES ELIMINASI WASTE DENGAN METODE WASTE ASSESSMENT MODEL & PROCESS ACTIVITY MAPPING PADA DISPENSING

PERANCANGAN SISTEM PENELUSURAN MATERIAL PT ALSTOM POWER ESI SURABAYA

ANALISIS PENERAPAN LEAN THINKING UNTUK MENGURANGI WASTE PADA LANTAI PRODUKSI DI PT. SIERAD PRODUCE SIDOARJO SKRIPSI

BAB V ANALISIS HASIL. penerimaan pegawai Secara keseluruhan, berdasarkan hasil wawancara dan mekanisme

PENGURANGAN WASTE DILANTAI PRODUKSI DENGAN METODE LEAN MANUFACTURING DI PT. KEMASAN CIPTATAMA SEMPURNA PASURUAN

Analisis Waste dalam Produksi Pasta Gigi Menggunakan Lean Thinking

BAB VI KESIMPULAN DAN SARAN

BAB I PENDAHULUAN. Bab ini berisikan tentang latar belakang, perumusan masalah, tujuan penelitian, batasan masalah, dan sistematika penulisan.

PENERAPAN VALUE STREAM MAPPING UNTUK EVALUASI DAN PERBAIKAN SISTEM PRODUKSI PADA PT. REMAJA PRIMA ENGINEERING (RPE)

BAB IV PENGUMPULAN DAN PENGOLAHAN DATA

BAB I PENDAHULUAN. fashion. Mulai dari bakal kain, tas batik, daster, dress, rompi, dan kemeja

Dinamika Pengembangan Subsektor Industri Makanan Dan Minuman Di Jawa Timur: Pengaruh Investasi Terhadap Penyerapan Jumlah Tenaga Kerja

BAB I PENDAHULUAN I - 1

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

TUGAS AKHIR. Algoritma Sinkronisasi Jadwal Pembibitan dan Penanaman dengan Rencana Penjualan Produk Sayur Organik dalam Suatu Rantai Pasok

MEMINIMASI MANUFACTURING LEAD TIME MENGGUNAKAN VALUE STREAM MAPPING DAN DAMPAKNYA PADA BULLWHIP EFFECT

STUDI KELAYAKAN BISNIS PENINGKATAN KAPASITAS MESIN PENUNJANG DENGAN KONSEP 7 WASTE LEAN THINKING STUDI KASUS PT. NSBI CILEGON

PENGEMBANGAN MODEL INTEGRASI PENJADWALAN PEMBIBITAN DAN PENANAMAN PADA PRODUK PERTANIAN PERKOTAAN

BAB V HASIL DAN PEMBAHASAN

BAB I PENDAHULUAN I-1

BAB I PENDAHULUAN I.1 Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN. PT. Lombok Gandaria merupakan perusahaan kecap dan saus dalam

IMPLEMENTASI LEAN SIGMA UNTUK MENGOPTIMALKAN WAKTU PELAKSANAAN DI COAL HANDLING SYSTEM PLTU CILACAP

BAB II LANDASAN TEORI

II. TINJAUAN PUSTAKA. atau pemerintah suatu negara dengan pemerintah negara lain.

Usulan Lean Manufacturing Pada Produksi Closet Tipe CW 660J Untuk Meningkatkan Produktivitas

Pengembangan Kawasan Andalan Probolinggo- Pasuruan-Lumajang Melalui Pendekatan Peningkatan Efisiensi

BAB VI KESIMPULAN DAN SARAN. Pada bab ini akan diambil kesimpulan mengenai keseluruhan hasil

BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

ALGORITMA SINKRONISASI JADWAL PEMBIMBITAN DAN PENANAMAN DENGAN RENCANA PENJUALAN PRODUK SAYUR ORGANIK DALAM SUATU RANTAI PASOK

STUDI PENGURANGAN DWELLING TIME PETIKEMAS IMPOR DENGAN PENDEKATAN SIMULASI (STUDI KASUS : TERMINAL PETIKEMAS SURABAYA)

BAB I PENDAHULUAN. Gambar 1.1 Jumlah Tenaga Kerja Penduduk Indonesia (Badan Pusat Statistik, 2014)

PERANCANGAN VALUE STREAM MAPPING PROSES PRODUKSI MAINAN KAYU PADA CV. MK

Designing Work Standards to Reduce Lead Time Delivery using Value Stream Mapping Method: A Case Study

ANALISIS PENETAPAN DISKON DALAM DUAL CHANNEL SUPPLY CHAIN (Studi Kasus PT. INDOPROM INDONESIA Cabang Surabaya)

Implementasi Lean Manufacturing untuk Identifikasi Waste pada Bagian Wrapping di PT. X Medan

BAB 2 LANDASAN TEORI

Jl. Veteran 2 Malang

Permasalahan yang akan dijadikan objek penelitian ini adalah keterlambatan pengerjan proyek pembuatan High Pressure Heater (HPH) di PT.

STUDI PENANGANAN PETIKEMAS IMPOR DAN DAMPAKNYA BAGI ANTREAN TRUK (STUDI KASUS : TERMINAL PETI KEMAS SURABAYA)

PENENTUAN PENURUNAN HARGA PRODUK MAKANAN PERISHABLE DENGAN MEMPERTIMBANGKAN BIAYA PENYIMPANAN DI FASILITAS BERPENDINGIN

BAB V ANALISA DAN EVALUASI

BAB I PENDAHULUAN. meningkatkan fungsi dan peran supply chain management (SCM) pada. sebuah perusahaan agar menjadi lebih efisien dan produktif?

Penerapan Value Stream Mapping untuk Allocation Planning di PT. X

Penetapan Harga pada Dual Channel Supply Chain untuk Mengatur Tingkat Proporsi Demand Antar Channel

Pengembangan Kawasan Andalan Probolinggo- Pasuruan-Lumajang Melalui Pendekatan Peningkatan Efisiensi

PENERAPAN VALUE STREAM MAPPING PADAINDUSTRI PART DAN KOMPONEN AUTOMOTIVE

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

Analisa Manfaat Biaya Proyek Pembangunan Taman Hutan Raya (Tahura) Bunder Daerah Istimewa Yogyakarta

Studi Kehilangan Air Komersial (Studi Kasus: PDAM Kota Kendari Cabang Pohara)

I. PENDAHULUAN. Indonesia menjadi salah satu negara yang memiliki areal perkebunan yang luas.

Penentuan Kawasan Agropolitan berdasarkan Komoditas Unggulan Tanaman Hortikultura di Kabupaten Malang

BAB I PENDAHULUAN. mempunyai nilai sangat strategis. Dari beberapa jenis daging, hanya konsumsi

STUDI IMPLEMENTASI LEAN SIX SIGMA DENGAN PENDEKATAN VALUE STREAM MAPPING UNTUK MEREDUKSI IDLE TIME MATERIAL PADA GUDANG PELAT DAN PROFIL

Prediksi Produksi Kayu Bundar Kabupaten Malang Dengan Menggunakan Metode Markov Chains

PERANCANGAN PERBAIKAN SISTEM SUPPLY CHAIN DENGAN LEAN MANUFACTURING PADA PT. CAKRA COMPACT ALUMINIUM INDUSTRIAL TUGAS SARJANA.

I. PENDAHULUAN. Indonesia dikenal sebagai negara agraris yang memiliki kekayaan

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA DAN DASAR TEORI

Rancang Bangun Aplikasi Sistem Informasi Manajemen Rantai Pasok Distribusi Daging Sapi Nasional

PERBAIKAN SISTEM DISTRIBUSI MENGGUNAKAN PENDEKATAN LEAN THINKING

BAB I PENDAHULUAN. lain yang sesuai dengan kebutuhan ternak terutama unggas. industri peternakan (Rachman, 2003). Selama periode kebutuhan

BAB I PENDAHULUAN. performansinya secara terus menerus melalui peningkatan produktivitas. Lean

BAB I PENDAHULUAN. Persaingan yang sangat pesat di sektor industri pada saat ini menuntut setiap

Pengendalian Konversi Lahan Pertanian Pangan Menjadi Non Pertanian Berdasarkan Preferensi Petani di Kecamatan Wongsorejo, Kabupaten Banyuwangi

Transkripsi:

1 PERBAIKAN RANTAI PASOK DENGAN METODE VALUE CHAIN ANALYSIS PADA RANTAI PASOK KOPI Rahaditya D. Prihadianto, Iwan Vanany Jurusan Teknik Industri, Fakultas Teknologi Industri, Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Jl. Arief Rahman Hakim, Surabaya 60111 E-mail : vanany@ie.its.ac.id Abstrak - Sektor pertanian hingga saat ini masih memberikan sumbangan cukup besar untuk PDB Indonesia. Namun, fakta menunjukkan bahwa post harvest waste dari produk agrikultur dapat mencapai 20%-60% dari total produksi. Artinya dengan waste hingga mencapai 60% dapat menyebabkan target produksi tidak terpenuhi. Sehingga, diperlukan perbaikan pada inbound supply chain untuk dapat menanggulangi waste yang terjadi. Subsektor tanaman perkebunan menjadi hal yang menarik untuk dibahas angka ekspor yang mulai menunjukkan trend positif tahun-tahun belakangan ini namun angka produksi menunjukkan trend negatif. Penelitian ini akan mencoba melihat waste yang terjadi di Food Supply Chain Kopi menggunakan metode Value Chain Analysis dengan memperhatikan indikator kinerja yang kritis. Pada Metode Value Chain Analysis, akan digambarkan Current State Value Stream Mapping (CSM) dan dilakukan eliminasi waste yang ditangkap dari peta CSM tersebut dan dilanjtkan dengan penggambaran Future State Value Stream Mapping (FSM). Analisis juga dilanjutkan dengan analisis Benefit Cost Ratio untuk mengetahui seberapa besar benefit yang diperoleh bila melakukan rekomendasi untuk eliminasi waste yang ditangkap dalam rantai pasok yang dilakukan. Kata Kunci - Food Supply chain Management(FSCM) ; Value Chain Analysis ; Indikator Kinerja; Benefit Cost Ratio T I. PENDAHULUAN anaman perkebunan menarik untuk dilihat karena industri pengolahan tanaman perkebunan mulai tumbuh di Indonesia. Berdasar berita yang dikeluarkan oleh Kementerian Perindustrian Republik Indonesia (2013) menyebutkan bahwa pertumbuhan industri minuman ringan, yang salah satunya adalah Industri Minuman Teh, secara konsisten tumbuh 15%. Sumber yang sama juga menyebutkan salah satu tanaman perkebunan, kopi, diberitakan bahwa Indonesia dapat menjadi eksportir kopi terbesar di Dunia mengalahkan eksportir kopi terbesar saat ini yaitu Brazil. Sehingga dengan beberapa alasan tersebut subsektor tanaman perkebunan menarik untuk dikupas. Berikut ini akan dipaparkan tabel yang merupakan produksi kopi domestik dari tahun 2005 2009 yang diperoleh dari FAOSTAT (2013) adalah sebagai berikut Tabel 1 Produksi Tanaman Kopi di Indonesia (dalam ribu Domestic Supply 1000 Metric tons Tahun Produksi Impor Ekspor Konsumsi Dalam Negeri = (Produksi + Impor) - Ekspor 2009 683 25 604 143 2008 698 31 545 191 2007 676 93 366 380 2006 682 35 442 251 2005 640 20 477 183 Ketika tabel1 dibuat kurva, maka akan tampak bahwa ekspor kopi mendekati level produksi dalam negeri. Artinya ketika level produksi dalam negeri menurun di tahun berikutnya sementara permintaan ekspor meningkat, bisa jadi terjadi lost sales atau memanfaatkan impor untuk menutupi demand yang ditetapkan. Sehingga, diperlukan pengaturan Supply Chain Management yang baik untuk dapat memenuhi demand ekspor selain dari proses tanam itu sendiri. Berdasar definisi dari Simchi-Levi (2008), Supply Chain yang baik harus bisa menghantarkan produk dengan kuantitas yang tepat, lokasi yang tepat dan waktu yang tepat. Berdasarkan kondisi di lapangan, terlihat bahwa terdapat kemungkinan kondisi supply chain kopi tidak seperti yang seharusnya seperti yang dikatakan oleh Simchi-Levi. Sehingga, diperlukan supply chain yang tepat untuk dapat menangani kondisi ini, dan perbaikan pada supply chain yang sudah dan sedang dilaksanakan sekarang mengingat komoditas yang dibicarakan disini adalah kopi yang termasuk dalam kategori food product. Jenis Supply Chain yang harus disiapkan dalam kaitannya penanganan produk makanan (food product) disebut Food Supply Chain Management (FSCM).

2 Gambar 1 Grafik Produksi Kopi dalam Negeri 1997-2012 FSCM secara praktis adalah jenis SCM yang kompleks dibandingkan metode SCM lainnya, dikarenakan produk yang ditangani adalah perishable product, fluktuasi demand dan harga, dan naiknya perhatian konsumen pada kualitas (Van der Vorst and Beulens, 2003) serta ketergantungan terhadap kondisi iklim (Salin, 1998). Permasalahan yang kerap timbul di ekspor kopi Indonesia adalah pada kondisi post-harvest waste. Post-harvest waste adalah salah satu problem utama dari FSCM, karena berdasar sebuah laporan jurnal, banyak dari food product yang menjadi waste dalam berbagai tahap operasional dalam supply chain. Besarnya post-harvest waste berada di kisaran 20-60% dari total produksi di berbagai Negara (Widodo et.al, 2006). Dibandingkan menaikkan produksi, reduksi waste dapat menjadi jalan yang lebih baik untuk menaikkan pendapatan dan mereduksi harga (Kader, 2005). Penyebab operasional utama yang menghadirkan waste adalah proses penyimpanan, penanganan, dan transportasi yang tidak efisien (Murthy et.al, 2009). Pada penelitian ini, waste yang akan direduksi adalah jenis waste yaitu waiting. Waiting adalah waktu yang terbuang tanpa melakukan proses apapun selama rentang waktu tersebut, atau dapat disebut waktu menunggu. Ketika membicarakan mengenai eliminasi waste berupa waiting, maka dapat dihubungkan dengan konsep lean. Konsep Lean dapat didefinisikan sebagai pendekatan sistematis untuk memberikan value pada customer dengan mengidentifikasi dan mengeliminasi waste melalui continous improvement. Lean Production dapat didefinisikan sebagai kemampuan untuk bekerja dengan sinergis untuk menciptakan sistem produksi yang berkualitas dan selaras dengan laju permintaan konsumen dengan sedikit atau tanpa waste. Berdasar dua definisi diatas jelas bahwa konsep lean adalah upaya untuk mereduksi dan atau mengeliminasi waste. Value Chain Analysis II. METODOLOGI PENELITIAN Value Chain Analysis adalah metode yang digunakan untuk melakukan improvement pada performa supply chain (Taylor H. David, 2005). Salah satu metode yang digunakan dalam Value Chain Analysis adalah Value Stream Management karena VCA dilakukan dengan membuat peta supply chain. Untuk dapat memetakan supply chain dengan baik maka diperlukan salah satu tools yang ada didalam Value Stream Management, yaitu Value Stream Mapping (VSM). Terdapat 7 tahapan yang dilakukan untuk melakukan Value Chain Analysis, yaitu 1. Kesepahaman potensi bisnis kedepan ketika mengimplementasikan VCA. Pada tahap ini adalah bagaimana meyakinkan konsumen, dalam hal ini adalah perusahaan dengan melakukan presentasi mengenai scope dan tujuan dari penelitian ini untuk memberikan overview mengenai konsep lean dan mapping tool yang akan digunakan, dan output serta rekomendasi perbaikan yang akan didapat oleh perusahaan. 2. Membuat struktur keseluruhan supply chain dan membuat target-target dari setiap entitas dalam supply chain tersebut. Pada tahap ini yang dilakukan adalah membuat struktur supply chain dan menentukan target dari masing-masing eselon dalam supply chain tersebut. 3. Membuat peta fasilitas yang dimiliki dari tiap entitas supply chain. Pada tahap ini adalah membuat daftar fasilitasfasilitas yang dimiliki sepanjang supply chain. Fasilitas-fasilitas ini perlu untuk diidentifikasi karena tahap ini juga berkontribusi untuk membuat Current State Value Stream Mapping (CSM). Fasilitas diidentifikasi berdasarkan fungsi dan output dari masing-masing fasilitas. 4. Membuat Current State Value Stream Mapping (CSM). Pada tahap ini akan dibuat Current State Value Stream Mapping yang menggambarkan fasilitasfasilitas sepanjang supply chain namun dikombinasikan dengan parameter indikator kinerja yang ditentukan bersama. 5. Mengidentifikasi isu yang ada pada supply chain dan peluang pengembangannya. Pada tahap ini akan dilakukan identifikasi isu problem yang muncul setelah digambarkan Current State Value Stream Mapping. Isu yang didapatkan dapat dikategorikan berdasar physical product flow. 6. Membuat Future State Value Chain Mapping (FSM) dan rekomendasi perbaikan Pada tahap ini dibuat revisi dari Current State Value Stream Mapping dengan eliminasi waste yang ditemukan pada tahap sebelumnya. Pada pembuatan Future State Value Stream Mapping, perlu lebih menonjolkan lean vision untuk perbaikan supply chain yang akan dilakukan oleh Perusahaan.

3 7. Membuat laporan kepada perusahaan atau pihak terkait tentang manfaat bagi perusahaan jika dilaksanakan perbaikan terhadap value chain yang sudah ada. Pada tahap ini dibuat laporan yang menunjukkan benefit atau keuntungan apa yang akan diperoleh Perusahaan ketika mengaplikasikan Future State Value Stream Mapping dan melakukan perbaikan yang disarankan. Beberapa pendekatan seperti Benefit Cost Ratio dapat digunakan untuk menyatakan benefit bagi perusahaan. III. PENGOLAHAN DAN ANALISIS DATA Peta Supply Chain Kopi Olah Basah (OC Coffee) Pada metodologi yang telah dibahas pada bab III, langkah pertama dalam melakukan penelitian ini adalah dengan membuat peta supply chain dari kopi olah basah (OC Coffee). Berikut ini adalah peta supply chain yang telah dibuat berdasarkan pengamatan dan interview dengan Bapak Kus dari P.T. Jember Indonesia. Gambar 3 Peta Current State Value Stream Mapping (CSM) Model Simulasi Model Simulasi dibuat menggunakan software ARENA. Terdapat 3 model yang disimulasikan dalam penelitian ini, model yang pertama adalah model eksisting. Model simulasi yang dibuat menggunakan skema model konseptual dan logika matematis yang dirancang berdasar sistem riil. Gambar 2 Supply Chain Kopi Olah Basah (OC Coffee) CSM adalah peta yang menggambarkan kondisi keseluruhan supply chain dari supply chain yang dilaksanakan oleh P.T. PP Jember Indonesia. Kondisi yang digambarkan disini adalah kondisi eksisting, artinya kondisi supply chain yang hingga saat ini dilaksanakan. Penggambaran CSM dibantu dengan software Igrafx yang mempermudah dalam proses perekapan data-data seperti cycle time, value added time, dan non value added time. Berikut ini adalah CSM yang dibuat Gambar 4 Simulasi Model Eksisting Berdasar model tersebut, didapatkan output simulasi dari model eksisting sebagai berikut

4 Tabel 2 Hasil Simulasi Kondisi Eksisting Tabel 3 Rata-rata waktu menunggu sebelum proses pada model eksisting Waktu Akumulasi Selisih antar Waktu Akumulasi Konversi ke hari Penghitungan (Counter) 13 4 hari 61 48 2 8 133 72 3 3 hari 181 48 2 38 229 48 2 2 hari 301 72 3 46 349 48 2 1 hari 397 48 2 10 445 48 2 517 72 3 565 48 2... Rataan 58,35 Lead time supply chain dari model eksisting adalah sebagai berikut LT SC = LT waiting + LT proses + LT waiting proses = 58,35 + 53,19 + 17 = 128,54 Selanjutnya, adalah menghitung lead time secara keseluruhan atau lead time supply chain. Berikut ini adalah waktu tunggu untuk 1 lahan plasma dan juga total lead time supply chain dari penambahan lahan plasma. Lead time supply chain dari model skenario 1 adalah sebagai berikut LT SC = LT waiting + LT proses + LT waiting proses = 39,95 + 55,787 + 17 = 112,73 Selanjutnya, adalah menghitung lead time secara keseluruhan atau lead time supply chain. Berikut ini adalah waktu tunggu untuk 2 lahan plasma dan juga total lead time supply chain dari penambahan lahan plasma. Lead time supply chain dari model skenario 2 adalah sebagai berikut LT SC = LT waiting + LT proses + LT waiting proses = 35,71 + 57,364 + 17 = 110,074 Selanjutnya, akan ditarik kesimpulan skenario yang mana yang akan dipilih untuk direkomendasikan untuk perusahaan. Pemilihan skenario akan dilakukan dengan melakukan analisis B/C ratio. Penentuan Lahan Plasma Setelah mengetahui lead time supply chain dari simulasi, maka yang menarik adalah antara lahan plasma terpusat dan di dua tempat berbeda menghasilkan lead time yang hampir sama, hanya berbeda 2 jam. Hal ini dikarenakan beberapa hal, berikut penjelasannya Waktu tunggu mempunyai pengaruh besar pada kondisi ini. Perilaku sistem adalah baik penambahan dari 1 lahan ataupun 2 lahan, keduanya sama-sama harus menunggu kapasitas minimum, serta harus menunggu pukul 06.00 pada hari berikutnya untuk memulai proses. Sehingga skenario 1 dan 2 tidak memiliki perbedaan yang jauh karena dari kondisi secara inbound supply chain memiliki syarat yang sama untuk kedua skenario. Pengambilan kesimpulan harus berdasarkan benefit yang akan didapatkan oleh perusahaan, lebih menguntungkan menambah 1 plasma atau 2 lahan plasma dibandingkan dengan cost yang akan muncul. Cost yang muncul untuk penambahan lahan plasma didasarkan pada RAB 2013, cost componentnya adalah Tabel 4 Perhitungan Biaya Penambahan Lahan Plasma Skenario 1 Biaya untuk 37,69 hektar Biaya per Ha Rincian Hitungan Total kebutuhan pupuk 3.239.598 3.239.598 x 37,69 122.089.925 biaya treatment 787.674 787.674 x 37,69 29.684.877 Petik 3.946.022 3.946.598 x 37,69 114.287.584 Operasional 13.211.171 Total 279.273.558 Untuk validasi, perlu dilakukan Benefit/Cost Ratio (B/CR) untuk menunjukkan apakah penambahan lahan dengan tidak membuat rugi perusahaan B/C ratio = Pendapatan dari produksi yang hilang / Penambahan lahan Plasma = 312.417.000 / 279.273.558 = 1,12 Angka B/C ratio lebih dari 1 menandakan bahwa penambahan lahan plasma layak untuk dilaksakan. Untuk skenario 2, karena lahan plasma terpisah lokasinya, ada yang terletak di kebun wonosari dimana daerah tersebut juga jauh dari pemukiman warga, maka akan ada ongkos ekstra pada biaya petik seperti berikut

5 Tabel 5 Perhitungan Biaya Penambahan Lahan Plasma Skenario 2 Biaya untuk 37,69 hektar kebutuhan pupuk 122.089.925 biaya treatment 29.684.877 petik 148.712.748 Operasional 13.211.171 Total 313.698.722 Untuk validasi, perlu dilakukan Benefit/Cost Ratio (B/CR) untuk menunjukkan apakah penambahan lahan dengan tidak membuat rugi perusahaan B/C ratio = Pendapatan dari produksi yang hilang / Penambahan lahan Plasma = 312.417.000 / 313.698.722 = 0,995 Angka B/C ratio kurang dari 1 menandakan bahwa penambahan dua lahan plasma tidak layak untuk dilaksakan karena ongkos penambahan lahan plasma lebih besar dari benefit yang akan didapat dari hasil penambahan lahan plasma. Perubahan supply chain terjadi pada proses outbound supply chain, dimana terdapat penambahan satu supplier, yaitu lahan plasma untuk mengatasi kekurangan produksi yang menyebabkan kehilangan profit. Selanjutnya akan digambarkan Future State Value Stream Mapping Gambar 6 Future State Value Stream Mapping Supply Chain Kopi (FSM) IV. KESIMPULAN/RINGKASAN Diperlukan lahan plasma untuk mengurangi waiting pada proses menunggu kapasitas minimal proses produksi serta mencegah kehilangan profit akibat produksi tidak memenuhi target. Future State Value Stream Mapping menunjukkan dengan adanya lahan plasma maka lead time dari supply chain kopi dapat tereduksi. Lahan plasma yang perlu dipilih oleh pihak perusahaan adalah lahan plasma yang masih berada di kawasan kebun yang biasa digunakan oleh petani hutan UCAPAN TERIMA KASIH Penulis R.D.P mengucapkan terima kasih kepada P.T. PP Jember Indonesia yang telah mengijinkan penulis untuk melaksnakan penelitian di kebun kopi widodaren. Penulis R.D.P juga menyampaikan terima kasih kepada Bapak Iwan Vanany yang telah membantu penulis hingga tugas akhir ini dapat terselesaikan. Gambar III Rekomendasi Supply Chain Kopi P.T. PP Jember Indonesia DAFTAR PUSTAKA [1] K. P. R. Indonesia. (2014, 23 February). Laju Pertumbuhan Industri Pengolahan. [2] FAOSTAT. (2013, 04 March). Food Balance Sheet [3] P. K. D. Simchi-Levi, E. Simchi-Levi, R. Shankar, "Designing and Managing the Supply Chain - Concepts, Strategies, and Case Studies," Tata McGraw-Hill, New Delhi, 2008. [4] A. J. B. Van der VorstJ.G.A., "Identifying Sources of Uncertainty to Generate Supply Chain Redesign Strategies," International Journal of Physical Distribution & Logistics Management, vol. vol.32, pp. 409-430, 2002. [5] V. Salin, "Information Technology in Agri-Food Supply Chains," International Food and Agribusiness Management Review, vol. vol.1, pp. 329-334, 1998. [6] K. H. Widodo, "A Periodical Flowering-Harvesting Model for Delivering Agricultural Fresh Products," European Journal of Operational Research, vol. vol.170, pp. 24-43, 2004. [7] A. A. Kader, "Increasing Food Availability by Reducing Postharvest Losses of Fresh Produce," V International Post-harvest Symposium, International Society for Horticultural Science, Verona, Italy, 2005. [8] T. H. David, "Value Chain Analysis : an Approach to Supply Chain Improvement in Agri-Food Chains," International Journal of Physical Distribution & Logistics Management, vol. vol.35, pp. 744-761, 2005