BAB II TINJAUAN PUSTAKA

dokumen-dokumen yang mirip
BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

PERKERASAN LAPISAN JALAN, TEMPAT PARKIR DAN HALAMAN

Vol.17 No.1. Februari 2015 Jurnal Momentum ISSN : X PENGARUH PENGGUNAAN FLY ASH SEBAGAI PENGGANTI AGREGAT TERHADAP KUAT TEKAN PAVING BLOCK

BAB III LANDASAN TEORI. penambal, adukan encer (grout) dan lain sebagainya. 1. Jenis I, yaitu semen portland untuk penggunaan umum yang tidak

ANALISIS PENGARUH BENTUK GEOMETRI TERHADAP KUAT TEKAN PADA PAVING BLOCK FAJAR AWALUDIN

BAB I PENDAHULUAN. khususnya pembangunan infrastruktur dan properti yang membutuhkan material salah

BAB I. PENDAHULUAN. Sampah merupakan salah satu permasalahan yang tengah dihadapi oleh kota-kota

PEMANFAATAN ABU PEMBAKARAN SAMPAH SEBAGAI BAHAN ALTERNATIF PEMBUATAN PAVING BLOCK

Laporan Praktikum. A. Judul : Pengujian Paving Block. B. Jenis Pengujian : 1. Pengujian Visual Paving Block. 2. Pengujian Kuat Tekan Paving Block

KONSTRUKSI JALAN PAVING BLOCK

PENGARUH VARIASI BENTUK PAVING BLOCK TERHADAP KUAT TEKAN

PENGARUH PENAMBAHAN PECAHAN KERAMIK PADA PEMBUATAN PAVING BLOCK DITINJAU DARI NILAI KUAT TEKAN

ANALISA FAKTOR UMUR PAVING BLOCK

BAB II LANDASAN TEORI DAN TINJAUAN PUSTAKA

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. sebagai lapisan atas struktur jalan selain aspal atau beton. Paving block dibuat dari

PEMANFAATAN LIMBAH ASPAL HASIL COLD MILLING SEBAGAI BAHAN TAMBAH PEMBUATAN PAVING. Naskah Publikasi

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. Paving block (bata beton) banyak digunakan dalam bidang konstruksi dan

PEMANFAATAN LIMBAH PASIR KACA SEBAGAI SUBSTITUSI PASIR SUNGAI PADA PAVING BLOCK

PEMANFAATAN LIMBAH MARMER UNTUK PEMBUATAN PAVING STONE

Studi Mengenai Perancangan Komposisi Bahan dalam Campuran Mortar untuk Pembuatan Bata Beton (Paving Block)

KUAT TEKAN MORTAR DENGAN MENGGUNAKAN ABU TERBANG (FLY ASH) ASAL PLTU AMURANG SEBAGAI SUBSTITUSI PARSIAL SEMEN

II. TINJAUAN PUSTAKA. sejenisnya, air dan agregat dengan atau tanpa bahan tambahan lainnya. 2. Kegunaan dan Keuntungan Paving Block

BAB I PENDAHULUAN. mencampurkan semen portland, air, pasir, kerikil, dan untuk kondisi tertentu

I. PENDAHULUAN. harus ikut berkembang sesuai dengan kebutuhan. Saat ini banyak sekali

I. PENDAHULUAN. agregat pada perbandingan tertentu. Mortar dapat dicetak ke dalam bentuk. yang bervariasi, diantaranya adalah paving block.

BAB III METODOLOGI PENELITIAN

FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS WIRARAJA SUMENEP - MADURA

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN. dipakai dalam pembangunan. Akibat besarnya penggunaan beton, sementara material

Jurnal Teknik Sipil No. 1 Vol. 1, Agustus 2014

METODE PENELITIAN. Sampel tanah yang digunakan berupa tanah lempung anorganik yang. merupakan bahan utama paving block sebagai bahan pengganti pasir.

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

PENELITIAN PEMANFAATAN SERBUK BEKAS PENGGERGAJIAN KAYU SEBAGAI BAHAN SUBSTITUSI PEMBUATAN BATA BETON (BATAKO) UNTUK PEMASANGAN DINDING

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

I. PENDAHULUAN. mengalami kemajuan maka harus diimbangi dengan perkembangan. Dengan adanya bangunan-bangunan yang berdiri saat ini maka secara

massa mirip batuan. Terkadang, satu atau lebih bahan tambah ditambahkan untuk

BAB 1 PENDAHULUAN. 1.1 Latar belakang. 1.2 Rumusan masalah. 1.3 Tujuan

Paving Block. Construction s Materials Technology

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. digunakan beton non pasir, yaitu beton yang dibuat dari agregat kasar, semen dan

BAB I PENDAHULUAN. perancangan maupun inovasi material yang digunakan. konstruksi juga selalu dikembangkan. Beton ringan atau lightweight concrete

Pemanfaatan Limbah Sludge Kertas PT.Adiprima Suraprinta dalam Pembuatan Batako ABSTRAK

BAB II TINJAUAN PUSTAKA DAN LANDASAN TEORI. Yufiter (2012) dalam jurnal yang berjudul substitusi agregat halus beton

BAB I PENDAHULUAN A. LATAR BELAKANG. Beton merupakan unsur yang sangat penting dan paling dominan sebagai

BAB 1 PENDAHULUAN. membuat berkurangnya lahan-lahan hijau. Ditambah dengan kurangnya kesadaran

BAB I PENDAHULUAN I 1

SCAFFOLDING 1 (1) (2012) SCAFFOLDING.

BAB 1 PENDAHULUAN. menjadi unsur utama bangunan. Kelebihan beton antara lain memiliki kuat tekan

Uji Kuat Tekan Paving Block Menggunakan Campuran Tanah dan Kapur Dengan Alat Pemadat Modifikasi. Diah Larasati 1) Iswan 2) Setyanto 3)

PENGARUH PENAMBAHAN FLY ASH DAN BOTTOM ASH TERHADAP MUTU PAVING

KAJIAN TEKNIS DAN EKONOMIS PEMANFAATAN LIMBAH BATU BARA (FLY ASH) PADA PRODUKSI PAVING BLOCK

BAB III LANDASAN TEORI

PENGARUH PENAMBAHAN ABU TEMPURUNG KELAPA TERHADAP KUAT TEKAN PAVING BLOCK

BAB V HASIL DAN PEMBAHASAN

PENGARUH PEMAKAIAN AGREGAT KASAR DARI LIMBAH AMP TERHADAP KUAT TEKAN BETON fc 18,5 MPa

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

PERBAIKAN BETON PASCA PEMBAKARAN DENGAN MENGGUNAKAN LAPISAN MORTAR UTAMA (MU-301) TERHADAP KUAT TEKAN BETON JURNAL TUGAS AKHIR

BAB I PENDAHULUAN. kebutuhan bangunan rumah, gedung, sekolah, kantor, dan prasarana lainnya akan

PENGARUH PENGGUNAAN RESIN EPOXY PADA CAMPURAN BETON POLIMER YANG MENGGUNAKAN SERBUK GERGAJI KAYU

PENGARUH PENGGUNAAN LIMBAH PLASTIK LDPE SEBAGAI AGREGAT HALUS PADA BATAKO BETON RINGAN

BAB I PENDAHULUAN. lebih memilih paving block dibandingkan perkerasan lain seperti dak beton

III. METODE PENELITIAN

IbM PEMANFAATAN BATU KARANG SEBAGAI BAHAN BAKU PEMBUATAN PAVING BLOCK

PENGARUH PECAHAN BATA PRESS SEBAGAI BAHAN PENGGANTI SEBAGIAN AGREGAT KASAR PADA CAMPURAN BETON TERHADAP NILAI KUAT TEKAN

BAB I PENDAHULUAN. bangunan. Tanah yang terdiri dari campuran butiran-butiran mineral dengan atau

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN A. LatarBelakang

TINJAUAN KUALITAS BATAKO DENGAN PEMAKAIAN BAHAN TAMBAH SERBUK HALUS EX COLD MILLING. Naskah Publikasi

PEMANFAATAN SLUDGE FLY ASH UNTUK PEMBUATAN PAVING BLOK

BAB III LANDASAN TEORI. (admixture). Penggunaan beton sebagai bahan bangunan sering dijumpai pada. diproduksi dan memiliki kuat tekan yang baik.

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

Spesifikasi blok pemandu pada jalur pejalan kaki

PEMANFAATAN LIMBAH DEBU PELEBURAN BIJIH BESI (DEBU SPONS) SEBAGAI PENGGANTI SEBAGIAN SEMEN PADA MORTAR

BAB I PENDAHULUAN. produktivitas kerja untuk dapat berperan serta dalam meningkatkan sebuah

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. sifat beton itu. Departemen Pekerjaan Umum 1989-(SNI ). Batako terdiri dari beberapa jenis batako:

SCAFFOLDING 1 (2) (2012) SCAFFOLDING.

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang

BAB III. METODOLOGI PENELITIAN. Penelitian ini dilaksanakan pada industri paving block di way kandis Bandar

III. METODE PENELITIAN. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh fly ash terhadap kuat

BARtl TINJAUAN PUSTAKA. Teknologi beton terns berkembang seiring dengan tuntutan kebutuhan

BAB II LANDASAN TEORI

BAB I PENDAHULUAN. Universitas Sumatera Utara

BAB III METODOLOGI DAN RANCANGAN PENELITIAN

Yusuf Amran. Jurusan Teknik Sipil Universitas Muhammadiyah Metro Jl. Ki Hajar Dewantara 15 A Metro, Lampung.

BAB III METODOLOGI PENELITIAN

PENGARUH PENAMBAHAN TUMBUKAN LIMBAH BOTOL KACA SEBAGAI BAHAN SUBTITUSI AGREGAT HALUS TERHADAP KUAT TEKAN DAN KUAT LENTUR BETON

STUDI PEMANFAATAN LIMBAH PT BOMA BISMA INDRA UNTUK PEMBUATAN PAVING BLOCK

BAB 2 TINJAUAN KEPUSTAKAAN. membentuk masa padat. Jenis beton yang dihasilkan dalam perencanaan ini adalah

Bahan-bahan yang digunakan dalam penelitian ini adalah : 1. Semen yang digunakan pada penelitian ini ialah semen portland komposit

Beton Ringan ber-agregat Limbah botol plastik jenis PET (Poly Ethylene Terephthalate)

LAMPIRAN 1 DATA HASIL PEMERIKSAAN AGREGAT

BAB I PENDAHULUAN. bahan terpenting dalam pembuatan struktur bangunan modern, khususnya dalam

BAB III METODE PENELITIAN. dengan abu terbang dan superplasticizer. Variasi abu terbang yang digunakan

STUDI PEMANFAATAN ABU SEKAM PADI SEBAGAI PENGISI DALAM PEMBUATAN BETON

Transkripsi:

BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Paving Block Bata beton ( paving block ) merupakan salah satu jenis beton non strultural yang dapat dimanfaatkan untuk keperluan jalan, pelataran parkir, trotoar, taman, dan keperluan lainnya. Bata beton terbuat dari campuran semen portland tipe I dan air serta agregat sebagai bahan pengisi ( www.dikti.org ). Paving block dapat berwarna seperti warna aslinya atau diberi zat warna pada komposisinya dan digunakan untuk lantai baik didalam maupun diluar bangunan. 2.1.1 Metode Pembuatan Paving Block di Masyarakat Cara pembuatan paving block yang biasanya digunakan dalam masyarakat dapat diklasifikasikan menjadi dua metode, yaitu : 1. Metode Konvensional Metode ini adalah metode yang paling banyak digunakan oleh masyarakat kita dan lebih dikenal dengan metode gablokan. Pembuatan paving block cara konvensional dilakukan dengan menggunakan alat gablokan dengan beban pemadatan yang berpengaruh terhadap tenaga orang yang mengerjakan. Metode ini banyak digunakan oleh masyarakat sebagai industri rumah tangga karena selain alat yang digunakan sederhana, juga mudah dalam proses pembuatannya sehingga dapat dilakukan oleh siapa saja Semakin kuat tenaga orang yang mengerjakan maka akan semakin padat dan kuat paving block yang dihasilkan. Dilihat dari cara pembuatannya, akan mengakibatkan pekerja cepat kelelahan karena proses pemadatan dilakukan dengan menghantamkan alat pemadat pada adukan yang berada dalam cetakan ( www.dikti.depdiknas.go.id ).

6 2. Metode Mekanis Metode mekanis didalam masyarakat biasa disebut metode press. Metode ini masih jarang digunakan karena untuk pembuatan paving block dengan metode mekanis membutuhkan alat yang harganya relatif mahal. Metode mekanis biasanya digunakan oleh pabrik dengan skala industri sedang atau besar. Pembuatan paving block cara mekanis dilakukan dengan menggunakan mesin ( compression aparatus ). kondisi awal saat ditekan kondisi akhir Gambar 2.1 Prinsip Kerja Metode Konvensional kondisi awal saat ditekan kondisi akhir Gambar 2.2 Prinsip Kerja Metode Mekanis Alat gablokan Alat compression aparatus Gambar 2.3 Alat Cetak Paving Block Dari kedua metode diatas, terdapat kelebihan dan kekurangan dari tiap metode yang dapat dilihat pada tabel 2.1 dibawah ini.

7 Tabel 2.1 Keuntungan dan Kerugian Metode Mekanis dan Konvensional Metode Keuntungan Kerugian Konvensional Dapat dilakukan oleh pemodal kecil Alat cetak relatif murah Dapat dilakukan dimana dan oleh siapa saja ( home industri ) Mekanis Kuat tekan yang dihasilkan relatif stabil sesuai mix design Dalam sekali cetak, lebih dari satu paving tergantung jumlah alat cetak Dapat diproduksi secara massal Sumber : Studi Lapangan, 2007 Kuat tekan umumnya rendah dan tidak stabil Dalam sekali cetak hanya satu buah paving Tidak dapat diproduksi secara massal Hanya bisa dilakukan oleh pemodal besar Alat cetak relatif mahal Tidak dapat dilakukan disembarang tempat ( home industri ) 2.1.2 Klasifikasi Paving Block Berdasarkan SK SNI T 04 1990 F, klasifikasi paving block (blok beton) didasarkan atas bentuk, tebal, kekuatan, dan warna. Klasifikasi tersebut antara lain : 1. Klasifikasi berdasarkan bentuk Bentuk paving block secara garis besar terbagi atas dua macam, yaitu : a. Paving block bentuk segi empat b. Paving block bentuk segi banyak Blok Tipe A Blok Tipe B Blok Tipe C Blok Tipe X Gambar 2.4 Bentuk Paving Block

8 Pola pemasangan sebaiknya disesuaikan dengan tujuan penggunaannya. Pola yang umum dipergunakan ialah susun bata ( strecher ), anyaman tikar ( basket weave ), dan tulang ikan ( herring bone ). Untuk perkerasan jalan diutamakan pola tulang ikan karena mempunyai kuncian yang baik. Dalam proses pemasangannya, paving block harus berpinggul dan pada tepi susunan paving block biasanya ditutup dengan pasak yang berbentuk topi uskup Pola Susun Bata Penguncian Paling Rendah Pola Anyam Tikar Penguncian Sedang Pola Tulang Ikan 90 Pola Tulang Ikan 45 Penguncian Paling Baik Penguncian Paling Baik Gambar 2.5 Pola Pemasangan Paving Block Topi Uskup Penguncian dengan Topi Uskup Gambar 2.6 Bentuk Pasak Topi Uskup

9 2. Klasifikasi berdasarkan ketebalan Ketebalan paving block ada tiga macam, yaitu : a. Paving block dengan ketebalan 60 mm b. Paving block dengan ketebalan 80 mm c. Paving block dengan ketebalan 100 mm Pemilihan bentuk dan ketebalan dalam pemakaian harus disesuaikan dengan rencana penggunaannya dan kuat tekan paving block tersebut juga harus diperhatikan 3. Klasifikasi berdasarkan kekuatan Pembagian kelas paving block berdasarkan mutu betonnya adalah : a. Paving block dengan mutu beton fc 37,35 MPA b. Paving block dengan mutu beton fc 27,0 MPA 4. Klasifikasi berdasarkan warna Warna yang tersedia dipasaran antara lain abu-abu, hitam, dan merah. Paving block yang berwarna kecuali untuk menambah keindahan juga dapat digunakan untuk memberi batas pada perkerasan seperti tempat parkir, tali air, dan lain-lain. 2.1.3 Standar Mutu Paving Block Standar mutu yang harus dipenuhi paving block untuk lantai menurut SNI 03-0691-1996 adalah sebagai berikut : 1. Sifat tampak paving block untuk lantai harus mempunyai bentuk yang sempurna, tidak terdapat retak-retak dan cacat, bagian sudut dan rusuknya tidak mudah direpihkan dengan kekuatan jari tangan. 2. Bentuk dan ukuran paving block untuk lantai tergantung dari persetujuan antara pemakai dan produsen. Setiap produsen memberikan penjelasan tertulis dalam leaflet mengenai bentuk, ukuran, dan konstruksi pemasangan paving block untuk lantai. 3. Penyimpangan tebal paving block untuk lantai diperkenankan kurang lebih 3 mm.

10 4. Paving block untuk lantai harus mempunyai kekuatan fisik sebagai berikut : Mutu Kegunaan Tabel 2.2 Kekuatan Fisik Paving Block Kuat Tekan (Kg/cm 2 ) Rata 2 Ketahanan Aus (mm/menit) Min Rata2 Min Penyerapan Air Rata- Rata Maks (%) A Perkerasan jalan 400 350 0,0090 0,103 3 B Tempat parkir mobil 200 170 0,1300 1,149 6 C Pejalan kaki 150 125 0,1600 1,184 8 D Taman Kota 100 85 0,2190 0,251 10 Sumber : SNI 03-0691-1996 5. Paving block untuk lantai apabila diuji dengan natrium sulfat tidak boleh cacat, dan kehilangan berat yang diperbolehkan maksimum 1%. Menurut British Standard Institution, standar mutu yang harus dipenuhi oleh paving block adalah sebagai berikut : 1. Untuk mendapatkan nilai kuat tekan yang maksimal, ketebalan paving block bentuk persegi minimal 6 cm 2. Untuk paving block yang menggunakan profil tali air pada sisi permukaan atas, tebal tali air maksimal 7 mm dari sisi dalam dan sisi luar paving block 3. Penyimpangan dimensi paving block yang diijinkan adalah sebagai berikut : a. Panjang ± 2 mm b. Lebar ± 2 mm c. Tebal ± 3 mm 4. Untuk perhitungan kuat tekan digunakan faktor koreksi terhadap ketebalan dengan nilai sebagai berikut :

11 Tabel 2.3 Ketebalan ( mm ) Faktor Koreksi Ketebalan Berdasarkan British Standard Institution Paving Block Tanpa Tali Air Faktor Koreksi Paving Block Dengan Tali Air 60 65 1,00 1,06 80 1,12 1,18 100 1,18 1,24 Sumber : British Standard Institution, 1986 Bahan Tambah ( Admixture ) Penambahan bahan tambah dalam sebuah campuran beton atau mortar sebaiknya tidak mengubah komposisi yang besar dari bahan yang lainnya, karena penggunaan bahan tambah ini cenderung merupakan pengganti atau substitusi dari dalam campuran beton itu sendiri sehingga kecenderungan perubahan komposisi dalam berat atau volume tidak terasa secara langsung dibandingkan dengan komposisi awal beton tanpa bahan tambah ( Teknologi Beton; Tri Mulyono, 2004 ). Dalam penelitian tugas akhir ini, penulis menggunakan bahan tambah limbah padat buangan yang berasal dari endapan sampah tempat pembuangan akhir ( TPA ), yaitu TPA Banyu Urip Kabupaten Magelang. Endapan sampah yang digunakan adalah endapan yang telah berumur 2 3 tahun. Dengan penggunaan endapan sampah tempat pembuangan akhir diharapkan dapat mengurangi dampak negatif terhadap lingkungan. Gambar 2.7 Endapan Sampah TPA Banyu Urip, Kab. Magelang

12 Material Paving Block Material yang digunakan dalam pembuatan paving block adalah semen portland ( PC ), pasir, air, dan endapan sampah sebagai substitusi dari pasir. Berikut ini adalah penjelasan dari masing-masing material : 1. Semen portland ( PC ) Jenis semen yang umumnya dapat dipakai harus memenuhi ketentuan dan syarat yang ditentukan dalam PBI 1971 NI 8. 2. Agregat Halus ( Pasir ) Agregat halus dapat berupa pasir alam sebagai hasil desintegrasi alami dari batuan batuan atau berupa pasir buatan yang dihasikan oleh alat alat pemecah batu ( PBI 1971 NI 2 ). Agregat halus harus memenuhi syarat syarat sesuai PBI 1971 NI 2. 3. Air Air diperlukan dalam proses pembuatan paving block untuk memicu proses kimiawi semen, membasahi agregat dan memberikan kemudahan dalam pelaksanaan pekerjaan. Air yang digunakan harus memenuhi persyaratan sesuai PBI 1971 NI 2. 4. Endapan sampah Endapan sampah yang digunakan adalah endapan sampah dari TPA Banyu Urip Kabupaten Magelang. Endapan sampah dapat digunakan setelah melalui proses penyaringan dari sampah padat lainnya, misal kaleng, plastik, kaca, dll. Proses penyaringan sampah dapat dibedakan menjadi dua, yaitu : a. Endapan sampah in situ Adalah endapan sampah yang proses penyaringan langsung dilakukan dilokasi TPA. Untuk endapan sampah in situ berwarna kehitam-hitaman. Penelitian yang dilakukan penulis menggunakan endapan sampah in situ.

13 b. Endapan sampah ex situ Adalah endapan sampah yang proses penyaringan dilakukan diluar lokasi TPA. Untuk endapan sampah ex situ berwarna kecoklatcoklatan. Gambar 2.8 Macam Endapan Sampah Komposisi Campuran Kadar Endapan Sampah Komposisi penggunaan material PC : Pasir yang digunakan dalam paving block adalah variasi 1 : 2 dan 1 : 3. Sedangkan nilai faktor air semen ( FAS ) yang digunakan adalah 0,3. Berdasarkan penelitian pendahuluan yang telah dilakukan, digunakan nilai kadar endapan sampah yang memenuhi syarat minimal untuk penggunaan taman kota yaitu dengan kuat tekan rata-rata 100 kg/cm 2. Nilai kadar endapan sampah yang digunakan adalah 5 %, 10 %, dan 15 % dari pasir ( agregat halus ). Komposisi antara PC : Pasir : Endapan Sampah untuk metode mekanis dan konvensional dapat dilihat pada tabel 2.4 dibawah ini.

14 Tabel 2.4 Komposisi Material Paving Block Metode Mekanis Dan Metode Konvensional Variasi 1 : 2 1 : 3 Endapan Sampah Sumber : Hasil Penelitian, 2007 PC Komposisi Pasir Endapan Sampah 5 % 1 1,90 0,10 10 % 1 1,80 0,20 15 % 1 1,70 0,30 5 % 1 1,85 0,15 10 % 1 1,70 0,30 15 % 1 1,55 0,45 Penelitian Yang Pernah Dilakukan Penelitian sejenis yang pernah dilakukan sebagai bahan tambahan referensi adalah Penelitian Pemanfaatan Endapan Sampah Sebagai Substitusi Agregat Halus Dalam Pembuatan Paving Block, ( Angga D, Asep K, 2006 ). Beberapa hal yang dapat diambil dari penelitian terdahulu adalah sebagai berikut : 1. Penelitian menunjukkan bahwa endapan sampah dapat secara efektif digunakan sebagai komponen paving block 2. Penggunaan endapan sampah memberikan dampak ekonomis terhadap penggunaan paving block 3. Penggunaan endapan sampah pada paving block dapat memberikan dampak positif terhadap lingkungan khususnya tata guna lahan dan pencemaran 4. Untuk paving block dengan kadar endapan sampah 25% dapat digunakan sebagai tempat parkir mobil karena telah memenuhi syarat kuat tekan minimal yaitu 256 kg/cm 2 > 200 kg/cm 2 ( SNI 03-0691-1991 ) 5. Untuk paving block dengan kadar endapan sampah 25% mempunyai harga yang lebih murah dari harga paving block sejenis ( K 250 ) yang beredar di pasaran yaitu Rp 523,59 < Rp 640,00

15 Penelitian sejenis lain yang dapat dijadikan bahan referensi adalah Penelitian Kebutuhan Air Campuran Pada Paving Block Dengan Limbah Endapan Sampah Sebagai Campuran Pasir Dan Abu Batu ( Mila, Purbo, 2007 ). Beberapa hal yang dapat diambil dari penelitian tersebut adalah : 1. Penambahan kadar semen dan kebutuhan air campuran pada paving block dengan kadar limbah 0 % dan 25 % menunjukkan perilaku yang sama, yaitu peningkatan nilai kuat tekan 2. Untuk penambahan kebutuhan air campuran akan mengalami penurunan kuat tekan pada titik tertentu ( titk balik ) yang merupakan kebutuhan air campuran optimum 3. Penambahan limbah 25 % pada pembuatan paving block menyebabkan kenaikan kebutuhan air campuran optimum. Kebutuhan air campuran optimum pada paving block dengan limbah endapan sampah 25 % sebagai campuran pasir dan abu batu adalah 1,15 1,25. Solidifikasi / Stabilisasi Limbah Padat Solidifikasi dan stabilisasi adalah metode untuk mencegah atau mengurangi gerak bahan kimia berbahaya dari polutan tanah atau lumpur. Metode ini biasanya tidak berbahaya, solidifikasi melindungi kesehatan manusia dan lingkungan oleh pencegahan pergerakan bahan kimia ke dalam lingkungan. Solidifikasi mengacu pada proses pengikatan polutan tanah atau lumpur dan semen ke dalam padatan (Anonim, 2001). Prinsip kerja stabilisasi / solidifikasi adalah pengubahan watak fisik dan kimiawi limbah B3 dengan cara penambahan bahan pencampur, misal gypsum, pasir, lempung, abu terbang, dan bahan perekat, misal semen, kapur, dan lain-lain. Proses solidifikasi dalam penelitian ini menggunakan metode sementasi, yaitu dengan mencampur limbah endapan sampah dengan semen, pasir, dan air hingga menghasilkan massa yang padat dan keras. Dari proses pencampuran ini diharapkan dapat membantu pengikatan limbah endapan sampah tersebut sehingga menjadi suatu matrik padat yang dapat digunakan sebagai bahan bangunan.