POKOK PIKIRAN TANWIR MUHAMMADIYAH 2012

dokumen-dokumen yang mirip
PENJELASAN ATAS UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 2 TAHUN 2008 TENTANG PARTAI POLITIK

KESEPAKATAN PEMUKA AGAMA INDONESIA

BERSATU MENGATASI KRISIS BANGKIT MEMBANGUN BANGSA

ANGGARAN DASAR Tunas Indonesia Raya TIDAR

SAMBUTAN KETUA UMUM FKPPI DALAM ACARA RAPIMPUS FKPPI 2014 "POLA PIKIR FKPPI DALAM MENGABDI PADA KEPENTINGAN RAPAT PIMPINAN PUSAT FKPPI 2014

- 1 - BAB I PENGUATAN REFORMASI BIROKRASI

REPUBLIK INDONESIA KANTOR MENTERI NEGARA PERENCANAAN PEMBANGUNAN NASIONAL/ BADAN PERENCANAAN PEMBANGUNAN NASIONAL

MENDENGARKAN HATI NURANI

LEMBARAN DAERAH KABUPATEN GARUT

PIAGAM KERJASAMA PARTAI DEMOKRAT DAN PARTAI KEADILAN SEJAHTERA TAHUN

MEMBANGUN DAN MEMBERDAYAKAN DESA MELALUI UNDANG-UNDANG DESA Oleh : Mardisontori, LLM *

BAB I PENDAHULUAN. 1994: 136 ) mengatakan tujuan dari welfere state ( negara kesejahteraan ) pada hakikatnya

PROVINSI JAWA TENGAH

Memahami Budaya dan Karakter Bangsa

NO URUT. 16. Sumber : = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = =

ANGGARAN DASAR PARTAI PENGUSAHA DAN PEKERJA INDONESIA

KOMISI YUDISIAL BARU DAN PENATAAN SISTEM INFRA-STRUKTUR ETIKA BERBANGSA DAN BERNEGARA. Oleh Prof. Dr. Jimly Asshiddiqie, SH 1.

PROVINSI KALIMANTAN BARAT

PROGRAM LEGISLASI NASIONAL TAHUN

C. Mempertahankan Negara Kesatuan Republik Indonesia

BERITA NEGARA KOMISI YUDISIAL REPUBLIK INDONESIA

SAMBUTAN GUBERNUR KALIMANTAN BARAT PADA ACARA PEMBUKAAN SOSIALISASI PERKUATAN DAN PENGEMBANGAN WAWASAN KEBANGSAAN DI PROVINSI KALIMANTAN BARAT

VISI MISI KABUPATEN KUDUS TAHUN

RESUME 21 BUTIR PLATFORM KEBIJAKAN PARTAI KEADILAN SEJAHTERA (1) PEMANTAPAN EKONOMI MAKRO

K E T E T A P A N MAJELIS PERMUSYAWARATAN RAKYAT REPUBLIK INDONESIA NOMOR V/MPR/2000 TENTANG PEMANTAPAN PERSATUAN DAN KESATUAN NASIONAL

31. Mata Pelajaran Pendidikan Kewarganegaraan untuk Sekolah Menengah Atas Luar Biasa Tunalaras (SMALB E) A. Latar Belakang

BUPATI SAMBAS PROVINSI KALIMANTAN BARAT PERATURAN DAERAH KABUPATEN SAMBAS NOMOR 5 TAHUN 2013 TENTANG PROGRAM LEGISLASI DAERAH

B. Tujuan C. Ruang Lingkup

ANALISIS UUD 1945 SEBELUM DAN SESUDAH AMANDEMEN. Pasal 19 s/d 37. Tugas untuk memenuhi Mata Kulia Pendidikan Kewarganegaraan

PLEASE BE PATIENT!!!

ANGGARAN DASAR Tunas Indonesia Raya TIDAR

b. bahwa Komisi Yudisial mempunyai peranan penting dalam usaha mewujudkan

No kementeriannya diatur dalam undang-undang sebagaimana dimaksud dalam Pasal 17 Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun Pas

BAB I LANDASAN KURIKULUM AL-ISLAM, KEMUHAMMADIYAHAN DAN BAHASA ARAB DENGAN PARADIGMA INTEGRATIF-HOLISTIK

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 22 TAHUN 2004 TENTANG KOMISI YUDISIAL DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 22 TAHUN 2004 TENTANG KOMISI YUDISIAL DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 22 TAHUN 2004 TENTANG KOMISI YUDISIAL DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

BAB IV VISI DAN MISI

Menteri Negara Perencanaan Pembangunan Nasional/ Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Nasional

LEMBARAN DAERAH KOTA CIMAHI NOMOR : 134 TAHUN : 2011 SERI : E

Rio Deklarasi Politik Determinan Sosial Kesehatan Rio de Janeiro, Brasil, 21 Oktober 2011.

PENGURUS BESAR IGPKhI SELAKU PIMPINAN MUNAS I IGPKhI Sekretaris Jenderal,

RANCANGAN PERATURAN DAERAH PROVINSI JAWA BARAT NOMOR : 1 TAHUN 2010 TENTANG PENYUSUNAN DAN PENGELOLAAN PROGRAM LEGISLASI DAERAH

~ 1 ~ BUPATI KAYONG UTARA PROVINSI KALIMANTAN BARAT PERATURAN DAERAH KABUPATEN KAYONG UTARA NOMOR 16 TAHUN 2015 TENTANG BADAN PERMUSYAWARATAN DESA

29. Mata Pelajaran Pendidikan Kewarganegaraan untuk Sekolah Dasar Luar Biasa Tunadaksa (SDLB-D)

KETETAPAN MAJELIS PERMUSYAWARATAN RAKYAT REPUBLIK INDONESIA NOMOR IX/MPR/2001 TENTANG PEMBARUAN AGRARIA DAN PENGELOLAAN SUMBERDAYA ALAM

Bercumbu Dengan Konflik RUU Penanganan Konflik Sosial Sebagai Solusi Penanggulangan Konflik di Indonesia

2017, No tentang Pedoman Kerja Sama Departemen Dalam Negeri dan Pemerintah Daerah dengan Organisasi Kemasyarakatan dalam Bidang Kesatuan Bangs

BAB I PENDAHULUAN. Keempat daerah khusus tersebut terdapat masing-masing. kekhususan/keistimewaannya berdasarkan payung hukum sebagai landasan

BUPATI TANGERANG PROVINSI BANTEN PERATURAN BUPATI TANGERANG NOMOR 81 TAHUN 2014 TENTANG PEDOMAN PERENCANAAN PEMBANGUNAN DESA

BAB I PENDAHULUAN. Otonomi Daerah merupakan fenomena yang sangat dibutuhkan dalam era

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 17 TAHUN 2007 TENTANG RENCANA PEMBANGUNAN JANGKA PANJANG NASIONAL TAHUN

DEKLARASI TENTANG PENGHAPUSAN KEKERASAN TERHADAP PEREMPUAN. Diproklamasikan oleh Majelis Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa

MEWUJUDKAN DPR RI SEBAGAI LEMBAGA PERWAKILAN YANG KREDIBEL 1 Oleh: Muchamad Ali Safa at 2

Memilih Calon Anggota DPR RI yang Cermat (Cerdas dan Bermanfaat) (16/U)

PERATURAN DAERAH KABUPATEN KARANGANYAR NOMOR 12 TAHUN 2015 TENTANG PEMBANGUNAN DESA DAN KERJA SAMA DESA

: DR. H. Happy Bone Zulkarnaen, MS.

PANCASILA sebagai SISTEM ETIKA. Modul ke: 10TEKNIK. Fakultas. Yayah Salamah, SPd. MSi. Program Studi Arsitektur

Info Lengkap di: buku-on-line.com 1 of 14

PEMERINTAH KABUPATEN BANGKALAN

LEMBARAN DAERAH KABUPATEN BANDUNG NOMOR 8 TAHUN 2015 PERATURAN DAERAH KABUPATEN BANDUNG TENTANG MUSYAWARAH DESA

BAB V VISI, MISI, TUJUAN DAN SASARAN

Assalamu'alaikum Wr.Wb Salam Sejahtera

BAB I PENDAHULUAN. agama. Hal tersebut sangat berkaitan dengan jiwa Nasionalisme bangsa Indonesia.

LEMBARAN DAERAH KABUPATEN KUDUS

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 3 TAHUN 2002 TENTANG PERTAHANAN NEGARA

VISI DAN STRATEGI PENDIDIKAN KEBANGSAAN DI ERA GLOBAL

BUPATI CILACAP PROVINSI JAWA TENGAH PERATURAN BUPATI CILACAP NOMOR 83 TAHUN 2017 TENTANG

BAB I PENDAHULUAN. Tahun 1945 disebutkan bahwa negara Indonesia adalah Negara Kesatuan yang

PEMERINTAH KABUPATEN LUWU UTARA

QANUN ACEH NOMOR 9 TAHUN 2012 TENTANG RENCANA PEMBANGUNAN JANGKA PANJANG ACEH TAHUN

BAB 7 PEMANTAPAN POLITIK LUAR NEGERI DAN PENINGKATAN KERJA SAMA INTERNASIONAL

PENTINGNYA PEMIMPIN BERKARAKTER PANCASILA DI KALANGAN GENERASI MUDA

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 2 TAHUN 2011 TENTANG PERUBAHAN ATAS UNDANG-UNDANG NOMOR 2 TAHUN 2008 TENTANG PARTAI POLITIK

PEMERINTAH KABUPATEN KUDUS PERATURAN DAERAH KABUPATEN KUDUS NOMOR 14 TAHUN 2006 TENTANG LEMBAGA KEMASYARAKATAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

CONTOH SOAL DAN JAWABAN UKG PKN SMP Berikut ini contoh soal beserta jawaban Uji Kompetensi Guru PKn SMP

BAB 7 PEMANTAPAN POLITIK LUAR NEGERI DAN PENINGKATAN KERJASAMA INTERNASIONAL

BAB I PENDAHULUAN. Indonesia yang tercantum dalam pembukaan Undang-Undang Dasar Negara

BAB V VISI, MISI DAN TUJUAN PEMERINTAHAN KABUPATEN SOLOK TAHUN

Pengelolaan. Pembangunan Desa Edisi Desember Buku Bantu PENGANGGARAN PELAKSANAAN PERENCANAAN PENGADAAN BARANG DAN JASA PEMBINAAN DAN PENGAWASAN

PEMERINTAH KABUPATEN KUTAI BARAT

K E T E T A P A N MAJELIS PERMUSYAWARATAN RAKYAT REPUBLIK INDONESIA NOMOR V/MPR/2000 TENTANG PEMANTAPAN PERSATUAN DAN KESATUAN NASIONAL

BAB I PENDAHULUAN. Konstitusi atau Undang-Undang Dasar (UUD) menempati tingkatan

PANCASILA DALAM KEHIDUPAN MASYARAKAT

Selanjutnya perkenankanlah kami, Fraksi Partai GOLKAR DPR RI, menyampaikan pendapat akhir fraksi atas RUU tentang Partai Politik.

PERATURAN BADAN PEMERIKSA KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 2 TAHUN 2011 TENTANG KODE ETIK BADAN PEMERIKSA KEUANGAN

KEPALA DESA BANJAR KECAMATAN LICIN KABUPATEN BANYUWANGI SALINAN PERATURAN DESA BANJAR NOMOR 4 TAHUN 2015 TENTANG KERJASAMA DESA

26. Mata Pelajaran Pendidikan Kewarganegaraan untuk Sekolah Menengah Pertama (SMP)/Madrasah Tsanawiyah (MTs)

Pengelolaan. Pembangunan Desa. Buku Bantu PENGANGGARAN PELAKSANAAN PERENCANAAN PENGADAAN BARANG DAN JASA PEMBINAAN DAN PENGAWASAN PELAPORAN

SOSIALISASI SKB 3 MENTERI DAN SEB TERKAIT JAI DAN GAFATAR

PEMERINTAH KABUPATEN MUARO JAMBI

BAB IV VISI DAN MISI DAERAH 4.1 VISI KABUPATEN BENGKULU TENGAH

PEMERINTAH KABUPATEN PURWOREJO

PERATURAN DAERAH KABUPATEN SELAYAR NOMOR 11 TAHUN 2006 T E N T A N G SUSUNAN ORGANISASI DAN TATA KERJA PEMERINTAH DESA

BAB V VISI, MISI,TUJUAN DAN SASARAN

: Pendidikan Kewarganegaraan (PKN)

Bab 5 Visi, Misi, Tujuan dan Sasaran

Transkripsi:

POKOK PIKIRAN TANWIR MUHAMMADIYAH 2012 UNTUK PENCERAHAN DAN SOLUSI PERMASALAHAN BANGSA Muhammadiyah merupakan bagian tak terpisahkan dari komponen bangsa. Oleh karena itu, Muhammadiyah sangat peduli atas tegaknya kedaulatan negara dan keutuhan bangsa yang nampaknya semakin jauh dari cita-cita kemerdekaan menjadi negara yang demokratis, berkemakmuran, berkeadilan, berkemajuan, dan bermartabat. Sehubungan dengan hal-hal tersebut, Tanwir Muhammadiyah Bandung menyatakan pokokpokok pikiran sebagai berikut: Dasar Negara Pancasila Pancasila merupakan rahmat Allah untuk bangsa Indonesia sebagai dasar untuk memajukan dan membangun Indonesia yang merdeka dan berkemajuan. Pancasila bukan agama, tetapi substansinya mengandung dan sejalan dengan nilai-nilai Islam. Namun, nilai-nilai Pancasila belum diimplementasikan secara sungguh-sungguh dalam penyelenggaraan negara dan bermasyarakat. Hal ini antara lain terlihat dari: maraknya praktek-praktek korupsi, banalisasi friksi-friksi dalam masyarakat, belum terwujudnya pemerataan atas hasil pembangunan nasional, serta tingginya angka kemiskinan. Maka, Muhammadiyah menegaskan sikap dan pandangan bahwa Pancasila merupakan konsensus nasional terbaik untuk bangsa yang majemuk untuk mencapai cita-cita nasional yang harus diisi dengan persaingan secara sehat (fastabiqul khairat). Indonesia yang berdasarkan Pancasila merupakan negara perjanjian atau kesepakatan (Darul Ahdi), negara kesaksian atau pembuktian (Darus Syahadah), dan negara yang aman dan damai (Darussalam). Dengan demikian, diperlukan institusionalisasi dan substansialisasi atas nilainilai Pancasila yang terbuka dan dinamis dalam berbangsa dan bernegara. 1

Kedaulatan Bangsa dan Negara Muhammadiyah melihat gejala dan fakta melemahnya kedaulatan bangsa dan negara dalam bidang ekonomi, politik, hukum, dan budaya. Terdapat gejala dimana kekayaan dan kedaulatan ekonomi dikuasai oleh kepentingan asing, sehingga, bangsa Indonesia yang memproklamasikan kemerdekaannya 1945 masih mengalami masalah kedaulatan yang sangat serius. Pertama, dalam bidang ekonomi ditandai dengan adanya perundang-undangan tentang eksplorasi dan pemanfaatan sumber daya alam yang lebih menguntungkan kepentingan asing dan sejumlah komprador dalam negeri, bukan untuk kepentingan masyarakat dan bangsa Indonesia. Kedua. dalam bidang politik, tampak begitu kompromistis, tidak melihat adanya independensi negara dalam membuat kebijakan yang memihak kepentingan umum. Ketiga, ada gejala dimana penegakan hukum dipengaruhi oleh kepentingan dan kekuatan asing serta kompradornya di dalam negeri. Keempat, dalam bidang budaya ditandai oleh melemahnya watak dan karakter bangsa, serta rasa rendah diri dalam menghadapi globalisasi dan rentannya rasa percaya diri terhadap budaya dari luar. Muhammadiyah mendesak semua pihak, khususnya pemerintah selaku pemangku amanat rakyat agar melakukan langkah-langkah konkrit untuk menyelamatkan dan menegakkan kedaulatan bangsa dan negara. Pemerintah harus menegakkan kedaulatan ekonomi dengan mengembangkan ekonomi konstitusional dengan melindungi dan memberdayakan ekonomi nasional yang berpihak kepada rakyat dan bebas dari dominasi dan eksploitasi asing dan kompradornya di dalam negeri, baik dalam bidang produksi, distribusi, yang didukung oleh kemandirian dalam pembiayaan pembangunan nasional. Dalam bidang politik, Muhammadiyah mendesak penyelenggara negara, khususnya pemerintah dan DPR untuk mencabut dan/atau merevisi produk perundang-undangan yang mengancam kedaulatan negara dan mencegah adanya produk/rumusan hukum dan perundangan-undangan baru yang tidak memihak kepada kedaulatan bangsa dan negara. Dalam bidang hukum, Muhammadiyah mendesak Pemerintah dan aparat hukum untuk menegakkan hukum secara adil, mandiri, dan bebas dari tekanan dan intervensi pihak manapun. Dalam bidang budaya, Muhammadiyah mendesak kepada semua pihak, khususnya pemerintah untuk mengarusutamakan pendidikan karakter dan mengembangkan strategi kebudayaan nasional yang mengedepankan kemandirian, jati diri, dan harga diri bangsa. 2

Kriteria Kepemimpinan Bangsa Salah satu pangkal permasalahan bangsa adalah kepemimpinan, dan saat ini bangsa Indonesia mengalami krisis kepemimpinan. Muhammadiyah melihat kepemimpinan bangsa yang ada selama ini sering absen ketika diperlukan, lamban, bimbang dan galau dalam mengambil keputusan, dan korup. Hal ini disebabkan antara lain oleh perilaku politik transaksional, penggunaan uang dalam mengejar jabatan, dan kegagalan partai politik dalam melakukan perkaderan dan rekrutmen pemimpin bangsa. Lemahnya kepemimpinan nasional ini berakibat pada buruknya kualitas sumberdaya manusia sebagaimana terindikasi dari peringkat Indeks Pembangunan Manusia (IPM) yang dikeluarkan oleh PBB. Apalagi, Indeks Negara Gagal 2012 semakin menegaskan bahwa Indonesia menjadi sangat beresiko untuk menjadi negara gagal (failed state). Muhammadiyah memandang perlunya langkah-langkah penyelamatan bangsa melalui penguatan kepemimpinan. Untuk itu, bangsa Indonesia memerlukan pemimpin yang memenuhi kriteria, antara lain : 1. Visioner, yaitu memiliki visi yang sesuai dengan cita-cita nasional para pendiri bangsa. 2. Nasionalis-Humanis, yaitu komitmen kebangsaan yang kuat dan kemanusiaan yang luhur. 3. Solidarity Maker, yaitu kemampuan membangun solidaritas bangsa yang majemuk. 4. Risk Taker, yaitu berani mengambil resiko. 5. Decisive, yaitu kemampuan mengambil keputusan yang cepat, tepat, dan tegas. 6. Problem Solver, yaitu kemampuan menyelesaikan masalah dan menggerakkan sumberdaya. 7. Morally Committed, yaitu integritas moral yang tinggi sehingga tidak menyalahgunakan kekuasaan dan tidak korup. Partisipasi Masyarakat Partisipasi masyarakat dalam menyelesaikan permasalahan bangsa adalah sebuah keniscayaan. Sepanjang sejarah bangsa Indonesia masyarakat berperan secara sentral dalam merebut, mempertahan, dan mengisi kemerdekaan. Masyarakat berpartisipasi dalam mencerdaskan kehidupan, kesejahteraan, kesehatan, dan kemajuan bangsa. 3

Sikap pemerintah yang tidak mengakui, mengakomodasi apalagi membatasi dan menghalangi partisipasi masyarakat madani, tidak hanya mencerminkan arogansi kekuasaan, tetapi juga merugikan bangsa dan negara termasuk pemerintah sendiri. Oleh karena itu Muhammadiyah mengingatkan pemerintah agar tidak mengabaikan dan menafikan partisipasi organisasi masyarakat madani. Pemerintah juga diminta untuk merevisi perundang-undangan yang membatasi dan menghalangi partisipasi masyarakat seperti Undang-Undang tentang Rumah Sakit, dan Undang-Undang tentang Gerakan Pramuka. Muhammadiyah mengajak seluruh kekuatan masyarakat madani untuk bekerjasama dan berhati-hati terhadap berbagai usaha pemecah-belahan. Otonomi Daerah dan Integrasi Nasional Otonomi daerah yang dikembangkan selama ini telah mampu memberdayakan masyarakat dan pemerintahan di daerah. Tetapi Otonomi Daerah yang berbasis pemerintah kabupaten/kota dengan kewenangan yang tidak memperhatikan karakteristik dan kemampuan daerah telah melahirkan jumlah daerah otonom yang terlalu banyak, menimbulkan masalah koordinasi perencanaan dan pelaksanaan pemerintahan, inefisiensi anggaran, distorsi kebijakan, serta primordialisme dan egoisme kedaerahan. Membiarkan keadaan ini terus berlangsung akan beresiko mempertajam konflik sosial dan politik yang mengancam integrasi bangsa. Muhammadiyah mengusulkan dilakukannya pengkajian ulang terhadap design sistem otonomi daerah demi integrasi nasional dan kepentingan bangsa yang lebih besar, dan mengkaji ulang perundang-undangan yang berkaitan dengan otonomi daerah secara keseluruhan. Dalam hal ini Muhammadiyah berpandangan bahwa otonomi daerah sebaiknya dititikberatkan pada tingkat provinsi, dengan pembagian kewenangan daerah sesuai kekhususan, karakteristik sejarah, budaya, politik, dan kemampuan sumberdaya alam dan sumberdaya manusia. Kekerasan Massa Muhammadiyah sangat prihatin dengan meningkatnya tindak kekerasan yang terjadi di masyarakat. Dipergunakannya cara-cara kekerasan untuk mencapai tujuan, tidak hanya menimbulkan ketakutan massa yang meluas, ketidakstabilan ekonomi dan politik, permusuhan sesama warga masyarakat, serta ancaman terhadap kemajemukan bangsa. Meningkatnya kekerasan antara lain disebabkan oleh lemahnya penegakan hukum, kegagalan 4

negara dalam mengelola sektor keamanan termasuk di dalamnya, pembiaran negara atas penguasaan alat dan cara-cara kekerasan oleh masyarakat, kesenjangan sosial, dan ketidakadilan. Muhammadiyah mendesak dihentikannya cara-cara kekerasan oleh masyarakat, dan penyalahgunaan kekerasan oleh aparat keamanan. Negara harus melindungi masyarakat, memperkuat kinerja aparat keamanan, menegakkan hukum dan tertib sosial. Selain itu perlu memperkuat pendidikan kewargaan dan menghidupkan kembali tradisi kerukunan dan perdamaian masyarakat. Bandung, 04 Sya ban 1433 H 24 Juni 2012 M Ketua Umum, Pimpinan Pusat Muhammadiyah Sekretaris Umum, Prof. Dr. H. M. Din Syamsuddin, M.A Dr. H. Agung Danarto, M.Ag. NBM. 563653 NBM. 608658 5