BAB II PEMAHAMAN TERHADAP PROYEK

dokumen-dokumen yang mirip
ARENA KOMPETISI DAN PUSAT PELATIHAN BARONGSAI DI DENPASAR

BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

BAB 1 PENDAHULUAN. Kemajuan dan kejayaan suatu bangsa tidak terlepas dari peranan generasi

BAB II DESKRIPSI PROYEK

KISI-KISI PEDOMAN WAWANCARA

BAB VI HASIL RANCANGAN. terdapat pada Bab IV dan Bab V yaitu, manusia sebagai pelaku, Stadion Raya

Pada gambar ini menunjukkan perletakan area parkir untuk bus. mobil. sepeda

5. HASIL RANCANGAN. Gambar 47 Perspektif Mata Burung

BAB II DESKRIPSI PROYEK

BAB IV KONSEP PERANCANGAN

BAB V KONSEP. V. 1. Konsep Dasar. Dalam merancang Gelanggang Olahraga ini berdasarkan dari konsep

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Peranan Olahraga Terhadap Kesehatan

DENAH LT. 2 DENAH TOP FLOOR DENAH LT. 1

BAB IV PROGRAM PERENCANAAN DAN PERANCANGAN GOR BASKET DI KAMPUS UNDIP TEMBALANG. sirkulasi/flow, sirkulasi dibuat berdasarkan tingkat kenyamanan sbb :

BAB II TINJAUAN OBJEK GEDUNG KESENIAN GDE MANIK SINGARAJA

DESKRIPSI PROYEK. Data umum dari proyek perancangan ini adalah sebagai berikut : Kel. Mengger Kec. Bandung Kidul

BAB IV KONSEP PERENCANAAN DAN PERANCANGAN

BAB V KONSEP. V. 1. Konsep Dasar. Dalam merancang Gelanggang Olahraga di Kemanggisan ini bertitik

DAFTAR ISI. Kata Pengantar... i Daftar Isi... iii Daftar Gambar... vii Daftar Tabel... x

BAB I PENDAHULUAN. Hubungan Antara Penataan Ruang Perpustakaan Dengan Minat Belajar Siswa Di Perpustakaan

KARATE OLIMPIADE BRAWIJAYA 2014

BAB V HASIL RANCANGAN

TUJUAN JENIS KEGIATAN. Latar Belakang Pemilihan OBJEK

BAB 6 DESAIN PERANCANGAN

BAB I PENDAHULUAN. Di dunia ini terdapat bermacam-macam beladiri, hampir disetiap negara

New Category Tug of War 2v2

BAB 5 HASIL RANCANGAN

BAB V. Sport Hall/Ekspresi Struktur KONSEP PERANCANGAN V.1 KONSEP DASAR PERANCANGAN

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang

BAB VI PROGRAM PERENCANAAN DAN PERANCANGAN GELANGGANG RENANG

ARTIKEL TENTANG SENI TARI

TOLAK PELURU A. SEJARAH TOLAK PELURUH

BAB IV ANALISA STUDI KASUS

BAB V SIMPULAN DAN SARAN

BAB I PENDAHULUAN. dipertanggungjawabkan adalah melalui pendekatan ilmiah. Menurut Cholik

LANDASAN TEORI DAN PROGRAM

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang Masalah

BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar belakang

BAB I PENDAHULUAN. Wushu adalah Salah satu Olahraga beladiri, Olahraga ini berasal dari. orang tua jaman dahulu oleh komite yang ditunjuk pemerintah.

Structure As Aesthetics of sport

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN. dimana terdiri dari dua tim beranggotakan masing-masing tim terdiri dari enam

BAB VI HASIL PERANCANGAN. terdapat pada konsep perancangan Bab V yaitu, sesuai dengan tema Behaviour

BAB 1 PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang

BAB II EVALUASI PURNA HUNI GOR BASKET NGURAH RAI DENPASAR, BALI. 2.1 Evaluasi Purna Huni (EPH)

Tabel 5.1 Perhitungan Besaran Program Ruang Gelanggang a. Pengelola. No Ruang Kapasitas Standar Ruang Luas Ruang Sumber

A. Daya Tahan dan Kekuatan Otot

BAB VII KESIMPULAN DAN SARAN

Peta Konsep GERAK RITMIK

BAB VI HASIL RANCANGAN

DAFTAR ISI KATA PENGANTAR... DAFTAR ISI... DAFTAR TABEL, DIAGRAM, DAN GAMBAR...

by NURI DZIHN P_ Sinkronisasi mentor: Ir. I G N Antaryama, PhD

MEMBENAHI SISTEM PEMBINAAN OLAHRAGA KITA Oleh: Agus Mahendra

BAB I PENDAHULUAN. I.1. Latar Belakang

BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

TES KESEGARAN JASMANI INDONESIA (TKJI)

BAB 5 KONSEP PERANCANGAN

BAB I PENDAHULUAN. D. Manfaat penulisan

BAB V KONSEP PERENCANAAN DAN PERANCANGAN

Makalah Penjaskes Pencak Silat

2015 PROFIL KONDISI FISIK ATLET BOLA BASKET PUTRI TINGKAT SMA SE-JAWA BARAT

SEMARANG INLINE SPEED SKATE AREN

BAB V KONSEP PERANCANGAN BANGUNAN

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar belakang

BAB 1 PENDAHULUAN Latar Belakang

REDESAIN STADION DAN SPORT HALL JATIDIRI SEMARANG

BAB 5 KONSEP DAN PROGRAM DASAR PERENCANAAN DAN PERANCANGAN. Ruang Kapasitas Unit Ruang

BAB I PENDAHULUAN. Gelanggang olahraga merupakan suatu bangunan yang dapat menampung kegiatan

I. PENDAHULUAN. Meroda merupakan salah satu gerak dasar yang kompleks, karena dalam

BAB I PENDAHULUAN. 1 Universitas Kristen Maranatha

INTERIOR PERPUSTAKAAN TK DESIGNED BY. HOLME scompany

BAB I PENDAHULUAN 1.1 LATAR BELAKANG

Sepak Bola. 1. Lapangan dan Peralatan Sepak Bola

Medan Tennis Center- Structure as Architecture BAB I PENDAHULUAN

STANDAR MINIMAL TEKNIS PELAKSANAAN PERTANDINGAN SEPAKBOLA USIA MUDA

BAB 5 KONSEP PERANCANGAN

PANDUAN TATA TERTIB I. PERATURAN PESERTA LOMBA DANCE

senam Merupakan terjemahan dari kata: 1. Gymnastiek Belanda 2. Gymnastics Inggris Asal kata Gymnos Yunani berarti telanjang

Konsep dasar perancangan pada Sekolah Pembelajaran Terpadu ini terbentuk. dari sebuah pendekatan dari arsitektur prilaku yaitu dengan cara menganalisa

Menghormati Orang Lain

ABSTRAK DAFTAR ISI DAFTAR TABEL DAFTAR GAMBAR DAFTAR DIAGRAM DAFTAR LAMPIRAN BAB I: PENDAHULUAN

BAB V KONSEP PERENCANAAN DAN PERANCANGAN

I. PENDAHULUAN. dalam atletik merupakan gerakan-gerakan yang biasa di lakukan oleh

BAB 1 PENDAHULUAN. memiliki keunikan dan ciri khas yang berbeda-beda. Hal tersebut disebabkan

UNIVERSITAS DIPONEGORO KOMPLEK OLAHRAGA KUDUS PENEKANAN DESAIN ARSITEKTUR MODERN TUGAS AKHIR PERIODE 131/53 APRIL SEPTEMBER 2015

2015 PUSAT PEMBINAAN ATLET BOLA VOLI KOTA BANDUNG

BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN. Gambar 1.1 Kawasan Gelora Bung Karno, Senayan, Jakarta Sumber:

BAB IV KONSEP PERANCANGAN

BAB V KONSEP PERANCANGAN

BAB 2 LANDASAN TEORI

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Pada era modern saat ini sangat jarang terlihat rumah-rumah tradisional

BAB V KONSEP PERENCANAAN DAN PERANCANGAN

BAB I PEDAHULUA. budaya etnis Tionghoa, yakni Budaya Seni Tari Barongsai. Judul Tayangan : Liukan Barongsai

I. PENDAHULUAN. manusia. Seperti telah diketahui di dalam kehidupan sehari-hari, semua

BAB II KAJIAN TEORI DAN HIPOTESIS TINDAKAN. yaitu Athlon yang berarti memiliki makna bertanding atau berlomba (Yudha

BAB III METODE PERANCANGAN. harus diperhatikan dengan teliti agar menghasilkan hasil yang maksimal.

TES KESEGARAN JASMANI INDONESIA (TKJI)

Transkripsi:

BAB II PEMAHAMAN TERHADAP PROYEK Bab II ini berisi penjelasan mengenai pemahaman terhadap hal-hal yang berhubungan dengan Arena Kompetisi dan Pusat Pelatihan Barongsai, baik pemahaman yang didapat dari berbagai sumber literatur, wawancara maupun tinjauan proyek sejenis sebagai bahan pertimbangan. 2.1 Pemahaman Judul Arena Kompetisi Dan Pusat Pelatihan Barongsai. Berikut ini merupakan penjelasan mengenai hal-hal yang berkaitan dengan Arena Kompetisi Dan Pusat Pelatihan Barongsai terkait dengan pengertian dari judul serta pembahasannya. 2.1.1 Pengertian Arena Kompetisi. Pengertian arena kompetisi dibagi menjadi 2 kata yaitu arena dan kompetisi, menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia memiliki arti sebagai berikut: 7

a) Definisi arena ialah berarti sebuah tempat atau gelanggang yang menjadi tempat untuk berjuang ataupun bersaing. b) Definisi kompetisi adalah aktivitas pertandingan untuk meraih juara dengan cara mengalahkan orang lain atau kelompok. Pengertian arena kompetisi adalah sebuah tempat atau gelanggang yang difungsikan untuk suatu aktivitas untuk mencapai tujuan dengan cara mengalahkan orang lain atau berkelompok. Gambar 2.1 Arena pertandingan Barongsai Sumber: http://www.tempo.co/read/beritafoto/10098/8-negara-beradu-di-kom/ 2.1.2 Pengertian Pusat Pelatihan. Pengertian Pusat Pelatihan dibagi menjadi 2 kata yaitu Pusat dan Pelatihan, menururt menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia memiliki arti sebagai berikut: a) Definisi pusat yaitu tempat/pokok pangkal atau yg menjadi pumpunan (berbagai-bagai urusan, hal, dsb). b) Pelatihan adalah salah satu bentuk pendidikan luar sekolah yang menyangkut proses pembentukan sikap dan cara melalui belajar dan latihan di bidangbidang tertentu. Pengertian Pusat Pelatihan adalah wadah atau tempat yang merupakan sebuah fasilitas untuk proses pembentukan sikap melalui belajar maupun latihan dalam bidang tertentu dengan melatih suatu yang mengkhusus atau umum berupa perbuatan, cara membina, pembaharuan, penyempurnaan, perbaikan, usaha, atau upaya untuk mendapatkan hasil yang lebih baik. 8

2.1.3 Pemahaman Barongsai Barongsai merupakan kesenian dan olahraga asli Tiongkok yang kini telah menjadi bagian dari kebudayaan Indonesia. Seperti kesenian dan olahraga lain pada umumnya barongsai memiliki latar sejarah yang panjang. Catatan pertama tentang tarian ini bisa ditelusuri pada masa Dinasti Chin sekitar abad ke tiga sebelum masehi. Kesenian Barongsai mulai populer di zaman dinasti Selatan- Utara (Nan Bei) tahun 420-589 Masehi. Kala itu pasukan dari raja Song Wen Di kewalahan menghadapi serangan pasukan gajah raja Fan Yang dari negeri Lin Yi. Seorang panglima perang bernama Zhong Que membuat tiruan boneka singa untuk mengusir pasukan raja Fan itu. Ternyata upaya itu sukses hingga akhirnya tarian Barongsai melegenda. (Haly 2010;10) Barongsai diperkirakan masuk ke Indonesia pada abad ke 17, ketika terjadi migrasi besar dari Tiongkok Selatan. Barongsai di Indonesia populer ketika masih adanya perkumpulan Tiong Hoa Hwe Koan yang berdiri pada 17 Maret 1900. Setiap perkumpulan tersebut di berbagai daerah di Indonesia hampir dipastikan memiliki sebuah perkumpulan Barongsai (Greif 1994:39). Gambar 2.2 berikut membuktikan bahwa barongsai telah diterima di Indonesia. Gambar 2.2 Barongsai pada perayaan 17 Agustus 2010 di Istana Negara Sumber: http://www.tionghoa.info/barongsai/ Barongsai dimainkan oleh dua orang yang masing-masing menjadi pemain kepala dan yang lainnya menjadi pemain ekor. Satu orang yang paling ahli yang menggerakkan kepala barongsai bisa melompat tinggi sehingga seolah barongsai bisa berdiri tegak. Satu orang bertugas sebagai pemain belakang atau ekor harus 9

pandai mengikuti gerak kepala sehingga barongsai akan tampak hidup dengan berbagai ketangkasannya. Atraksi permainan barongsai yang menirukan gerak, karakter, dan mimik singa ini sangat atraktif. Sosok kepala singa yang berupa 'barong' dengan tanduk tunggal di bagian kepalanya dengan warna-warna yang menyala yang didominasi warna merah dan kuning keemasan bagaikan binatang mitologi. Gerakan yang lincah meloncat tinggi, berguling, melewati rintangan dan diiringi iringan musik yang berdegup dan berdentang-dentang membuat barongsai semakin hidup dalam gerakan akrobatiknya. (lihat Gambar 2.3) Gambar 2.3 Salah satu atraksi dari barongsai Sumber: http://www.kabar24.com/foto/view/20130207 2.1.4 Fungsi dan Manfaat Barongsai Fungsi Barongsai bagi masyarakat adalah sebagai ritual, hiburan dan olahraga. (Putra 2009:11) A. Fungsi ritual Menurut ajaran Taoisme, pada hakekatnya yang memerintah kerajaan di dunia adalah Tuhan (Thian). Hanya saja dalam pelaksanaannya diserahkan kepada putra tuhan sebagai perantara dunia fana dan dunia alam baka. Putra tuhan itu adalah Yao dan Shun. Praktek ritual, kepada Yao dan Shun dilambangkan dengan binatang mitologi naga dan singa. Lambang dari kedua putra tuhan itulah, kemudian muncul prototipe naga atau liong dan singa atau samsi atau barongsai (Ong 1994:234). Oleh sebab itu, setiap hari raya imlek selalu dipertunjukkan Barongsai dan Naga. Meskipun bentuknya sama dengan ketika dipertunjukkan dan 10

dipertandingkan, tapi sebenarnya memiliki perbedaan dalam pelaksanaannya. Perbedaan itu terletak pada sebelum pertunjukan dimulai, biasanya barongsai disembahyangkan terlebih dahulu di klenteng dan ditempel Hoo (kertas kuning bertulisan mandarin yang dipercaya dapat memberi perlindungan pada yang memakainya) pada dahinya (Suk Bun, penasihat Klenteng Dharmayana Kuta, wawancara 22 september 2014). Berdasarkan uraian diatas dapat disimpulkan, bahwa fungsi ritual Barongsai tetap dipertahankan kelangsungannya oleh masyarakat Tionghoa di Bali. (lihat Gambar 2.5) Gb 2.4 Altar barongsai sakral di Wihara Dharma Ratna Klungkung B. Fungsi hiburan Barongsai sebagai seni hiburan dikemas berbeda dengan sajian ritual. Atraksinya yaitu pertunjukan keterampilan pemain dalam mempertunjukan gerakan-gerakan atraktif dan akrobatik baik di lantai maupun di tonggak. Bahkan, kadang-kadang ditambah dengan tarian-tarian. Tidak hanya dipentaskan pada saat perayaan besar imlek saja, melainkan bisa dilakukan di luar imlek seperti pesta pernikahan, peresmian, pemelaspas, dan lain-lain. (lihat Gambar 2.6) Gambar 2.5 Barongsai di panggung hiburan Sumber: Dokumentasi Februari 2013 11

C. Fungsi olahraga FOBI (Federasi Olahraga Barongsai Indonesia) adalah wadah dari olahraga barongsai yang berada di Indonesia dan dibawah Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI). FOBI berdiri pada tanggal 9 Agustus 2012 di Jakarta dan memiliki tujuan untuk mengembangkan Olahraga Barongsai Indonesia. Pada tanggal 11 Juni 2013, FOBI resmi masuk KONI. Dalam susunan Pengurus Besar FOBI, nama Dahlan Iskan tercantum sebagai Ketua Umum didampingi Kuncoro Wibowo sebagai wakilnya (dikutip dari website resmi FOBI). Federasi Olahraga Barongsai Indonesia (FOBI) telah mengirimkan atlet Barongsai untuk mengikuti Kejuaraan Dunia Barongsai International Dragon and Lion Dance Federation (IDLDF) ke 5, yang kali ini diselenggarakan di Putian, Fujian, China, 14-18 November 2013. Hasilnya Tim FOBI Indonesia berhasil meraih 3 perak dan 2 perunggu. Barongsai bukan hanya sebagai sarana ritual, namun sudah menjadi sebuah olahraga dengan seni akrobatik yang dapat dimainkan oleh seluruh masyarakat tanpa membedakan suku, agama, ras, jenis kelamin, status sosial, dll. (lihat Gambar 2.7) Gambar 2.6 Salah satu kejuaraan dunia di Malaysia Sumber: http://elainetan5212.blogspot.com/ 2.1.5 Metode Pelatihan Barongsai Berikut ini merupakan penjelasan dari metode kegiatan pelatihan Barongsai berserta sarana latihan yang dibutuhkan: 2.1.5.1 Sarana Latihan Barongsai Adapun sarana-sarana atau peralatan yang dibutuhkan dalam latihan Barongsai, sarana tersebut antara lain: 12

Matras Gambar 2.7 Matras sebagai alas dan perlindungan Sumber: http://shengwailiondance.blogspot.com/ Atraksi akrobatik pada olahraga barongsai rentan akan cedera jika terjatuh. Oleh karena itu untuk menjaga keamanan diperlukan matras sebagai alas untuk meminimalisir kemungkinan cedera yang ditimbulkan. (lihat Gambar 2.8) Alat musik Setiap atraksi atau pertandingan Barongsai pasti diiringi dengan musik. Alat musik tersebut antara lain tambur, simbal dan tung. Tambur biasanya dilengkapi dengan besi penyangga berisi roda agar lebih mudah dipindahkan. (lihat Gambar 2.9) 1 2 4 3 Seperangkat Barongsai Bagian kepala dari Barongsai terbuat dari bambu dan rotan sedangkan bagian badan / ekor terbuat dari kain yang ditutupi dengan bulu sintetis. Satu orang akan menjadi pemain kepala dan satu orang lagi menjadi pemain ekor. (lihat Gambar 2.10) Gambar 2.8 Alat musik pengiring Sumber: http://www.kaskus.co.id/ Gambar 2.9 Seperangkat Barongsai Sumber: http://shengwailiondance.blogspot.com/ 13

Tonggak Tonggak terbuat dari besi dengan diameter 10 cm. Tonggak menjadi rintangan dari barongsai dan menjadi bagian dari atraksi akrobatik. Tidak semua perkumpulan/klub di Bali memilikinya. Sesuai standar pertandingan, tinggi tonggak minimal ialah 50cm dan tinggi tonggak maksimal ialah 3 meter. Properti pendukung lainnya Barongsai selalu dimainkan menggunakan alur cerita, diperlukan alat peraga atau properti tambahan. Yang lazim dan biasa digunakan ialah bangku yang disusun sedemikinan rupa dan diibaratkan sebagai jembatan yang akan dilalui. 2.1.5.2 Program Pelatihan Gambar 2.10 Tonggak Gambar 2. 11 Peralatan bagian dari atraksi Progam pelatihan yang dimaksud adalah dengan melakukan pembinaan terhadap atlet-atlet yang Barongsai. Menurut Hadi Gunawan (wawancara 29 November 2014) penekanan pembinaan lebih diarahkan pada penguasaan keterampilan bermain barongsai, kematangan pertandingan dan pembentukan tim yang solid dan peningkatan raihan prestasi secara individu dan tim setiap mengikuti kompetisi. Adapun program pembinaan serta ruang yang dibutuhkan, ialah sebagai berikut: a) Bidang pemahaman teori. Merupakan fase pengenalan terhadap Barongsai. Pengenalan berupa pengenalan terhadap peralatan hingga teori gerakan-gerakan pada Barongsai. Pada fase ini juga diberikan teori tentang gerakan kepala, gerakan dasar hingga etika ketika tampil pada pertandingan. Ruang yang dibutuhkan ialah ruang kelas yang dilengkapi dengan papan tulis serta tempat duduk untuk para atlet menyimak penjelasan dari pelatih. 14

b) Bidang dasar dan kuda-kuda. Bidang ini mulai mempraktekkan gerakan dasar kuda-kuda. Kuda-kuda pada olahraga Barongsai sama dengan pada olahraga wushu. Adapun jenis kuda-kuda yang digunakan, yaitu:. Gambar 2.13 Kuda kuda depan kudakudawushu.blogspot.com,2014 1. Kuda-Kuda Depan. dibentuk dengan posisi kaki didepan ditekuk dan kaki belakang lurus, berat badan ditumpukan pada kaki depan. 2. Kuda-Kuda Tengah Dibentuk dengan kedua kaki ditekukan Gambar 2.14 Kuda kuda tengah kudakudawushu.blogspot.com,2014 3. Kuda-kuda samping Gambar 2.15 Kuda kuda samping kudakudawushu.blogspot.com,2014 dilakukan dengan cara 1 kaki ditekuk, berat badan pada kaki yang ditekuk, bahu sejajar atau segaris dengan kaki. Gambar 2.16 Kuda kuda silang depan kudakudawushu.blogspot.com,2014 4. Kuda-Kuda Silang Depan dibentuk dengan menyilang 1 kaki ke depan atau kebelakang kaki yang lain,. 5. Kuda-Kuda Silang Belakang salah satu kaki berada di belakang dengan keadaan menyilang, badan tetap lurus agar tidak jatuh saat melakukan gerakan tersebut. Gambar 2.17 Kuda silang belakang kudakudasilat.blogspot.com,2014 15

c) Bidang teknik dan artikulasi Barongsai. Gambar 2.18 Sikap Sempurna barongsaylion.blogspot.com,2014 Berlatih teknik-teknik lompatan pada Barongsai dan mengolaborasikan gerakan dasar kepala Barongsai dengan ekspresi/mimik muka Barongsai agar sesuai dengan gerakannya. Latihan bidang ini dilakukan pada arena/hall. d) Bidang seni dan kreasi musik. Setiap gerakan Barongsai harus terkoreografi dengan musik pengiringnya. Harus terjalin kerja sama yang kuat antara pemain Barongsai dengan pemain musik, agar musik bisa mengikuti setiap gerakan pemain Barongsai. Latihan bidang ini akan langsung dilakukan pada arena/hall. e) Bidang kekuatan dan kelincahan fisik. Diperlukan pemantapan fisik agar terbiasa melakukan gerakan-gerakan tersebut. Selain itu, pemantapan juga diperlukan agar pemain menjadi lincah. Latihan bidang ini akan dilakukan di dua tempat, yakni pada arena/ hall serta pada ruang pelatihan beban. f) Pemahaman terhadap peraturan permainan dan pertandingan. Diperlukan pemahaman terhadap aturan yang berlaku di pertandingan agar bisa mengkreasikan gerakan-gerakan Barongsai. Untuk pemahaman ini kembali dilakukan di ruang kelas yang dilengkapi dengan papan tulis serta tempat duduk untuk para atlet. g) Sikap dan karakter pengembangan diri. Terkait dengan kedisiplinan berlatih serta menunjukkan jiwa seorang atlet yang berkelakuan baik. Peningkatan teknik bermain Barongsai diimbangi 16

dengan sikap dan nilai-nilai moralitas sangatlah penting untuk Barongsai bisa tampil memukau. h) Keikutsertaan pada kompetisi pada level Nasional maupun Internasional. Untuk menambah jam terbang atlet, diperlukan keikutsertaan pada kompetisi. 2.1.5.3 Evaluasi atlet Untuk mengetahui perkembangan prestasi atlet akan dilakukan evaluasi secara menyeluruh baik itu prestasi teknis maupun non teknis. Atlet yang lambat peningkatan prestasinya dikelompokkan dalam kelompok pembinaan khusus sedangkan atlet yang prestasinya meningkat dikelompokkan dalam kelompok pengembangan. Evaluasi terhadap atlet akan diadakan setiap 3 bulan skali. Atlet baru dapat melanjutkan ke bidang berikutnya jika telah dinyatakan lulus dalam evaluasi dan siap untuk berlatih tahap bidang berikutnya. 2.1.5.4 Syarat Peserta Pelatihan Peserta yang akan mengikuti pelatihan adalah pemula dan atlet yang dinilai memiliki potensi yang dapat dikembangkan guna meraih prestasi. Para peserta berasal dari pelajar dan umum atau berasal dari klub-klub yang ada yang memenuhi kriteria-kriteria tes. 1. Segi usia a). Tingkat SMP (usia 12-14 tahun) b). Tingkat SMA (usia 15-18 tahun) c). Umum (usia 12-25 tahun) 2. Komponen-komponen kebugaran a). Kekuatan d). Kelincahan b). Kecepatan e). Kelenturan c). Daya tahan f). Ketepatan 3. Fungsi organ tubuh baik (jantung, paru-paru, pencernaan, syaraf, panca indra). 4. Mental dan Psikologis 17

2.1.5.5 Waktu Pelatihan Dalam pelatihan olahraga, untuk mencapai prestasi yang maksimal diperlukan latihan secara berkala. Pada olahraga barongsai umumnya memerlukan waktu ±2 tahun. Tahapan latihan di mulai dari atlet pemula hingga atlet senior dapat dibagi menjadi tiga yaitu tahap dasar, tahap menengah dan tahap lanjut. (Gunawan, 2013:26) 1. Tahap Dasar Tahap ini ditujukan untuk atlet pemula. Latihan pada tahap ini berlangsung selama satu tahun. Latihan latihan ini bertujuan untuk nmenumbuhkan rasa senang berolahraga, meningkatkan kondisi fisik yang meliputi kekuatan, daya tahan, kelincahan, kelenturan dan koordinasi. Pelatihan bagi pemula sebaiknya 2-3 kali seminggu. 2. Tahap Menengah Tahap menengah ini ditujukan untuk atlet junior, pada dasarnya merupakan tahap lanjutan pembinaan tahap dasar. Waktu yang diperlukan selama satu tahun. Isi dan arah latian tahap menengah ini adalah sebagai berikut: 1) Meningkatkan kondisi fisik 2) Latian kondisi khusus 3) Meningkatkan keterampilan 4) Memantapkan teknik-teknik dasar Pada tahap ini sebaiknya 2-3 kali seminggu dengan intensitas latihan minimal 2 jam. 3. Tahap Lanjut Tahap lanjut ditujukan untuk atlet senior, memerlukan waktu 3 tahun. Tujuan utamanya ialah ntuk mencapai prestasi setinggi-tingginya dan mempertahankan prestasi tersebut. Latihannya mengarah pada: 1) Menjaga kondisi fisik agar selalu prima 2) Meningkatkan keterampilan sebaik mungkin 3) Mempertahankan kestabilan prestasi puncak Pada tahap ini dapat dilakukan lebih dari 2-3 kali seminggu dengan intensitas minial 2-3 jam setiap latihan. 18

2.1.6 Metode Kompetisi Barongsai Besar kecilnya suatu pertandingan ditentukan oleh skala pertandingan itu sendiri, misalnya pertandingan tingkat daerah, nasional, atau internasional. Sistem pertandingan yang digunakan dalam olahraga barongsai ialah sistem kompetisi penuh. Setiap tim akan menunjukkan kemampuannya masing-masing dihadapan paling sedikit 3 juri. 2.1.6.1 Sistem Penilaian Setiap tim akan dinilai sesuai dengan kriteria sebagai berikut: (dikutip dari Pedoman pertandingan Barongsai yang dikeluarkan FOBI tahun 2013) A. Kriteria Penilaian Barongsai: a. Bentuk Barongsai, Kostum, Sopan santun, Dekorasi Nilai max 1 b. Judul dan Alur Cerita Nilai max 1 c. Keserasian Gerak Kepala dan Ekor Nilai max 2 d. Keserasian Musik dan Gerakan Barongsai Nilai max 2 e. Tingkat Kesulitan Nilai max 3 f. Ekspresi Nilai max 1 B. Durasi / Waktu Waktu permainan Barongsai tidak boleh kurang dari 8 menit dan tidak boleh lebih dari 10 menit, persipan alat peraga tidak boleh lebih dari 5 menit. C. Pemotongan Nilai a) Pemotongan nilai yang diberikan oleh Juri berdasarkan warna, yaitu: Merah : Pemotongan nilai 0,4 - Kepala dan ekor jatuh dari alat peraga. - Kepala dan ekor terjatuh dan barongsai terlepas. - Tidak ada tema cerita dalam permainan. Hitam : Pemotongan nilai 0,3 - Pemain jatuh dari alat peraga tetapi barongsai masih dapat dipegang. - Objek makanan terjatuh dan pemain tidak dapat meraihnya kembali. - Waktu main tidak stabil, jatuh dan ditahan dengan tangan. Kuning : Pemotongan nilai 0,2 - Terpeleset di alat peraga atau berdiri kurang stabil 19

- Waktu naik/main alat peraganya jatuh, rusak atau bergeser - Waktu main peralatannya jatuh (misal stik tambur jatuh). - Objek makanan terjatuh tapi pemain dapat meraihnya kembali. - Makan objek makanan tidak melalui mulut. Hijau : Pemotongan nilai 0.1 - Waktu naik ke paha terpeleset tetapi tidak smapai jatuh. - Waktu naik alat peraga kurang stabil dan pindah tempat. - Aksesoris terjatuh/jatuh. - Kepala dan ekor barongsai berbenturan atau bertabakan. - Peserta keluar dan masuk tidak teratur/rapi. - Barongsai tidak memberi hormat. - Membentur alat peraga. b) Pemotongan nilai lain lain - Permainan lebih dari waktu 6 menit dan kurang dari 8 menit (6,01 sampai 8 menit) pemotongan nilai 1. - Permainan lebih dari waktu 10 menit dan kurang dari 12 menit (10,01 sampai 12 menit) pemotongan nilai 1. - Permainan apabila kurang dari waktu 6 menit dan lebih dari 12 menit, permainan di diskualifikasi D. Larangan Seluruh Peserta, baik Pemain Barongsai maupun pemain musik tidak boleh membawa alat bantu petunjuk waktu seperti jam tangan, stop watch dan sebagainya. 2.1.6.2 Kategori Pertandingan Barongsai Menurut data dari Pedoman pertandingan Barongsai yang dirilis oleh FOBI tahun 2013 dan merujuk pada standar International Dragon and Lion Dance Federation, terdapat 2 kategori pertandingan Barongsai, yakni: 20

1. Pertandingan nomor lantai Barongsai nomor lantai (Tradisional) adalah dasar dari permainan barongsai, Barongsai ini sering kita sebut sebagai barongsai tradisional. Permainan barongsai lantai dilakukan diatas lapangan seluas 8 8 m2 untuk barongsai tunggal dan 10 10 m2 untuk barongsai kembar, mempunyai alur cerita dan kadang-kadang menggunakan alat-alat bantu lain seperti kursi, guci, meja, jembatan, dll. Selain itu biasanya juga ada pawang singa atau Chu yang bermain bersama singa tersebut. Ketentuan alat peraga: (dikutip dari Pedoman pertandingan Barongsai yang dikeluarkan FOBI tahun 2013) Tinggi alat peraga, maksimum 2 meter. Panjang alat peraga, maksimum 10 meter Alat peraga harus tradisional, misalnya: kursi, meja, tangga, lemari,dll. Semua alat peraga dapat dilihat oleh mata. Tidak boleh memakai makhluk hidup. Jika memakai kendi/tong/guci tidak boleh diisi semen. Ketentuan pemain dalam satu tim: 1 orang manajer 1 orang pemain tambur 1 orang pelatih 1 orang pemain tung 1 pemain kepala 4 orang pemain simbal 1 pemain ekor Maksimal 5 orang penjaga alat peraga Gambar 2.19 Pertandingan barongsai kategori tradisional Sumber: http://news.xinhuanet.com/english/photo/2014-01/06 21

2. Pertandingan Nomor Tonggak Barongsai nomor tonggak (Internasional) adalah barongsai yang dimainkan diatas deret tonggak. Dalam pertandingan barongsai internasional, jenis deret tonggak inilah yang dipertandingkan. Teknik permainan barongsai tonggak ini cukup sulit karena pemain harus melakukan gerakan-gerakan akrobatik diatas tonggak-tonggak yang diameternya sekitar 30 cm. Ketentuan tonggak: (dikutip dari Pedoman pertandingan Barongsai yang dikeluarkan FOBI tahun 2013) Tonggak yang paling tinggi tidak lebih dari 3 meter. Tonggak paling rendah tidak kurang dari 0,5 meter. Panjang deret tonggak maksimal 15 meter, minimal 10 meter. Setengah dari total tonggak harus mempunyai minimal tinggi 2 meter. Lingkaran pijakan tonggak berdiameter maksimal 0,38 meter Jarak antar tonggak minimal 0,66 meter. Ketentuan pemain dalam satu tim 1 orang manajer 1 orang pemain tambur 1 orang pelatih 1 orang pemain tung 1 pemain kepala 4 orang pemain simbal 1 pemain ekor Maksimal 5 orang penjaga alat peraga Gambar 2.20 Pertandingan Barongsai kategori International Sumber: http://kwongngai.blogspot.com/ 22

2.2. Arena Barongsai Adapun standar arena pertandingan barongsai menurut Pedoman pertandingan Barongsai yang dikeluarkan FOBI pada tahun 2013 yang merujuk pada standar dari induk organisasi olahraga Barongsai di dunia, yakni International Dragon And Lion Dance Federation. 2.2.1 Standar Arena Barongsai Menurut International Dragon And Lion Dance Federation. Pada pedoman tercantum standar ukuran lapangan, standar pencahayaan, standar suhu arena, serta fasilitas apa saja yang dibutuhkan untuk menunjang arena kompetisi. a. Lapangan Gambar 2.21 Ukuran arena Barongsai (Pedoman pertandingan Barongsai yang dikeluarkan FOBI tahun 2013) Lapangan permainan berbentuk persegi panjang dengan ukuran 20 meter x 10 meter. Minimal panjang lapangan ialah 18 meter. Jarak antara permukaan lantai dengan langit-langit minimal 8 meter. Permukaan dasar lapangan harus rata dan terbuat dari kayu atau beralaskan karpet. 23

b. Pencahayaan Dari International Dragon And Lion Dance Federation, untuk pencahayaan pada arena barongsai yaitu 1000-1500 lux. c. Suhu Suhu minimum tidak boleh dibawah dari 10 0 C. suhu maksimum tidak boleh lebih tinggi dari 34 0 C. d. Fasilitas yang dibutuhkan dalam arena barongsai sesuai dengan standar International dragon and lion dance federation. - Arena kompetisi - Ruang pemain - Tribun penonton - Ruang Pers - Area pemanasan - Ruang Komentator - Ruang sekretariat dan ruang statistik - Ruang Pelatihan Beban - Ruang layanan medis - Ruang Juri 2.2.2 Tribun Penonton Tempat duduk penonton di tribun harus memenuhi ketentuan sebagai berikut: (Neufert 1996:150) Daerah penonton harus dibagi dalam kompartemen masing-masing menampung 200 orang atau maksimal 300 orang. Antara kompartemen yang bersebelahan harus dipisahkan dengan pagar permanen transparan minimal tinggi 100 cm dan maksimal 120 cm. Tribun yang berupa balkon dipergunakan pagar dengan tinggi bagian masif minimal 40 cm dari tinggi keseluruhan 100-120cm. Jarak antara pagar dengan tempat duduk terdepan ialah 100 cm - 120 cm. Untuk tempat duduk VIP dibutuhkan lebar minimal 50 cm dan maksimal 60 cm dengan ukuran panjang minimal 80 cm dan maksimal 90 cm, tidak boleh ada kolong di bawah tempat duduk. 24

Jenis tempat duduk tribun: Tabel 2.2 jenis tribun penonton Jenis Tempat Duduk Tipe dan Standar Bench Seat (bangku) One Piece Seats (tempat duduk per orang) Sumber: Neufert, 1996 : 33 2.3. Study Fasilitas Sejenis Studi fasilitas sejenis dilakukan di tiga lokasi yang masing-masing disesuaikan dengan kebutuhan yang akan diamati. Lokasi pengamatan pertama pada GOR Purna Krida yang diamati ialah sistem struktur bentang lebar, utilitas, serta kapasitas pada gelanggang. Lokasi kedua pada Sasana Pusaka Tantra yang diamati ialah fasilitas apa saja yang dibutuhkan untuk tempat pelatihan Barongsai. Lokasi ketiga ialah pada GOR Lila Bhuana pada saat berlangsungnya Kejuaraan Barongsai BISW (Bali International Sport Week) 13-14 Oktober 2014, yang diamati ialah kelayakan dari gelanggang tersebut untuk mengadakan pertandingan barongsai tingkat Internasional. 25

2.3.1 GOR Purna Krida Kerobokan A. Lokasi GOR Purna Krida ini berlokasi di Kerobokan, Kecamatan Kuta Utara, Kabupaten Badung, Provinsi Bali. Gedung ini dikelola oleh Pemerintah Kabupaten Badung dengan fungsi utama untuk mewadahi kegiatan olah raga indoor seperti bulu tangkis, basket, voli, senam, serta kegiatan non olahraga. Gambar 2.22 Tampak Depan GOR Purna Krida B. Fasilitas Fasilitas pada GOR Purna Krida dapat dilihat pada gambar 2.18 berikut: Gambar 2.23 Denah GOR Purna Krida 26

Gambar 2.24 Hall Utama GOR Purna Krida C. Kapasitas Kapasitas penonton pada GOR Purna Krida ialah sejumlah 3000 orang. Gambar 2.25 Tribun penonton pada GOR Purna Krida D. Struktur Bangunan Sistem upper struktur pada GOR Purna Krida menggunakan rangka baja dan terdapat akses untuk perbaikan pada bagian atas, baik untuk lampu, struktur atap, dll. Gambar 2.26 Rangka Baja pada upper struktur 27

Super struktur menggunakan struktur rangka, penggunaan kolom-kolom yang memiliki dimensi 40 cm x 40 cm. pada kolom difinishing dengan cat serta paras kerobokan yang menjadi elemen estetika. Gambar 2.27 Kolom pada GOR Purna Krida E. Material lantai pada arena olahraga. Lantai pada bagian arena olahraga menggunakan bahan parket. Penggunaan parket bertujuan untuk meredam suara dan agar tidak licin. Pada bagian area bebas, lantai dilapisi dengan lantai keramik berwarna abu berukuran 30cm x 30 cm. F. Utilitas Sistem utilitas yang diamati ialah sistem penghawaan serta sistem pencahayaan. Penghawaan Pada GOR Purna Krida menggunakan penghawaan alami dan buatan. - Alami Menggunakan penghawaan dari ventilasi yang berada pada bagian atap serta terdapat jendela pada bagian tribun penonton. Gambar 2.28 Jendela dan ventilasi sebagai tempat sirkulasi udara 28

- Buatan Menggunakan air conditioner hanya pada ruang-ruang tertentu seperti pada ruang vip, ruang pemain, kantor KONI Badung, ruang wasit dan Ruang Medis. Selain itu terdapat juga kipas angin pada hall olahraga. Pencahayaan - Alami Pencahayaan alami berasal dari setiap jendela yang ada di hall olahraga. Gambar 2.29 Pencahaayan alami melalui jendela yang berada di sekeliling hall - Buatan Cahaya dihasilkan oleh cahaya lampu yangdigunakan pada setiap ruang. Penempatan lampu pada arena olahraga diatur sedemikian rupa agar tidak menyilaukan mata. Gambar 2.30 Penempatan lampu sebagai pencahayaan buatan 29

2.3.2 Tempat latihan Klub/Perkumpulan Pusaka Tantra Kuta A. Lokasi Tempat latihan klub/perkumpulan Pusaka Tantra berlokasi di JL. Padma, No. 10 Kuta, Badung, Bali, satu lahan dengan Wihara Dharmayana Kuta. Gedung ini dikelola oleh pengurus dari Wihara Dharmayana Kuta dengan fungsi sebagai Ruang Serbaguna. B. Denah Gambar 2.31 Tampak depan Gambar 2.32 Denah tempat latihan Klub/Perkumpulan Pusaka Tantra 30

Fasilitas yang ada pada tempat latihan klub/perkumpulan Pusaka Tantra ialah gudang untuk menyimpan peralatan barongsai, toilet, padmasana, ruang serbaguna, dan parkir. Gambar 2.33 Hall C. Struktur Bangunan Sistem upper struktur menguunakan rangka beton dengan penutup atap menggunakan genteng. Gambar 2.34 Rangka beton pada upper struktur Super struktur menggunakan struktur rangka, penggunaan kolom-kolom yang memiliki dimensi 20 cm x 20 cm. pada kolom difinishing dengan keramik berwarna krem yang menjadi elemen estetika. Gambar 2.35 Tampak kolom pada hall 31

D. Material Lantai Material lantai yang digunakan pada hall tempat latihan ialah lantai yang difinishing dengan semen poles. Selain pada ruang tempat latihan, material yang digunakan ialah keramik berukuran 30 cm x 30 cm. Gambar 2.30 Penampang lantai pada Hall E. Utilitas Adapun sistem utilitas yang diamati ialah sistem penghawaan serta sistem pencahayaan. Penghawaan Penghawaan pada tempat latihan Pusaka Tantra menggunakan penghawaan alami. Bangunan bersifat terbuka tanpa dinding masif. Sehingga sirkulasi udara menjadi lancar. Pencahayaan Pencahayaan pada tempat latihan Pusaka Tantra menggunakan pencahayaan alami dan buatan. - Alami Bangunan bersifat terbuka tanpa dinding masif, sehingga cukup cahaya. - Buatan Cahaya dihasilkan oleh cahaya lampu yang digunakan pada setiap ruang. Penempatan lampu pada ruang latihan diatur sedemikian rupa agar tidak menyilaukan mata. 32

Gambar 2.31 Penempatan lampu sebagai cahaya buatan 2.3.3 GOR Lila Bhuana saat penyelenggaraan kejuaraan Barongsai BISW 2014 (Bali International Sport Week) Penyelenggaraan kompetisi Barongsai pada tanggal 13-14 Oktober 2014 diikuti oleh 7 negara yakni: Indonesia, Taiwan, Tiongkok, Malaysia, Vietnam, Makau dan Singapura. Ada banyak kekurangan yang dimiliki oleh gelanggang olahraga ini untuk menyelenggarakan kompetisi Barongsai. Kekurangan tersebut antara lain ialah sebagai berikut:. 1. Luas arena/hall tidak sesuai standar Sesuai standar yang di keluarkan oleh International Dragon And Lion Dance Federation, diperlukan lebar 3 meter dari garis terluar dari arena sebagai tempat untuk juri dan meja juri penilai. Sementara pada pengamatan di lapangan, hanya tersedia jarak 1,2 meter dari garis terluar dan sudah terhimpit dengan tribun penonton. Hal ini mengakibatkan ketidaknyamanan bagi juri yang menilai, membahayakan juri karena berada terlalu dekat dengan arena, privasi penilaian menjadi berkurang karena bersentuhan langsung dengan tribun penonton. Gambar 2.33Posisi juri yang mengakibatkan berkurangnya privasi Sumber: Observasi Oktober 2014 33

2. Tidak tersedianya ruang untuk pemain dari klub-klub yang bertanding Seperti halnya GOR Purna Krida di Kerobokan, Badung dan gelangganggelanggang lainnya di Bali, GOR Lila Bhuana hanya memiliki 2 ruang pemain (karena pertandingan cabang olahraga seperti voli, basket, futsal, dll hanya mempertandingkan 2 tim yang berhadapan). Sementara kompetisi Barongsai mempertandingkan banyak klub yang tampil bergantian dan masing-masing klub membawa peralatan atau properti pendukung yang tidak sedikit. Hal ini mengakibatkan para atlet dari berbagai klub berlesehan di sisi-sisi arena, berdesakan dengan peralatan atau properti yang mereka bawa. Bahkan untuk berganti dan menjemur pakaian pun langsung mereka lakukan di tempat tersebut, sehingga mengganggu pemandangan penonton ke arena. Gambar 2.34 para klub meletakkan barang-barang mereka disisi arena Gambar 2.35 jemuran pakaian pada tribun Sumber: Observasi Oktober 2014 3. Tidak terdapat ruang medis Seperti hal nya ruang UKS pada sekolah, gelanggang olahraga selayaknya memiliki ruang medis yang berfungsi sebagai pertolongan pertama jika terjadi insiden atau cedera yang dialami atlet yang bertanding. 34

Gambar 2.38 perawatan atlet yang cedera parah hanya di arena Sumber: Observasi Oktober 2014 4. Tidak terdapat area pemanasan Dibutuhkan area untuk pemanasan para atlet sebelum memasuki arena pertandingan. Dari pengamatan di lapangan, para atlet yang bertanding melakukan pemanasan pada koridor. Hal ini tentunya mengganggu sirkulasi dan para atlet pun terganggu oleh lalu lalangnya penonton. Gambar 2.39 pemanasan pada koridor yang sempit Sumber: Observasi Oktober 2014 5. Tidak terdapat ruang pelatihan beban Sesuai standar yang di keluarkan oleh International Dragon And Lion Dance Federation, dibutuhkan ruang pelatihan beban untuk meningkatkan kemampuan fisik para atlet. Namun beberapa gelanggang di Bali khususnya pada GOR Lila Bhuana tidak tersedia fasilitas tersebut. 6. Tidak terdapat ruang untuk para juri Pada pengamatan di lapangan, pada GOR Lila Bhuana fungsi ruang juri untuk beristirahat, bersiap menuju arena, serta meletakkan barang belum berfungsi secara maksimal. 35

Gambar 2.40 Para juri ketika bersiap sebelum dimulainya pertandingan Sumber: Observasi Oktober 2014 7. Tidak tersedianya ramp Tidak tersedianya ramp mengakibatkan klub-klub yang bertanding kesulitan untuk memindahkan properti yang akan mereka gunakan. Beberapa properti seperti alat musik sebenarnya sudah dilengkapi dengan roda, tapi tidak adanya ramp membuat roda tersebut seakan percuma. 2.4. Spesifikasi Umum Arena Kompetisi Dan Pusat Pelatihan Barongsai Adapun spesifikasi umum dari Arena Kompetisi dan Pusat Pelatihan Barongsai, ialah sebagai berikut: 2.4.1 Pengertian Arena Kompetisi dan Pusat Pelatihan Barongsai Arena kompetisi dan pusat pelatihan barongsai merupakan suatu tempat atau wadah untuk melaksanakan kompetisi atau pertandingan olahraga barongsai dan juga sebagai tempat pembinaan yaitu dengan melakukan pelatihan terhadap atlet-atlet barongsai serta pelatih hingga juri pertandingannya. 2.4.2 Fungsi A. Fungsi Utama Kompetisi Fungsi utama dari Arena Kompetisi Dan Pusat Pelatihan Barongsai ini adalah sebagai tempat untuk mewadahi kompetisi antar klub barongsai, baik tingkat daerah, nasional hingga internasional. Pelatihan Pembinaan kepada atlet-atlet barongsai agar mampu berprestasi di berbagai kompetisi tingkat daerah, nasional, maupun internasional. Sebagai tempat 36

silaturahmi antara atlet dari berbagai klub untuk berbagi ilmu yang dimiliki melalui rutinitas latihan Selain itu pembinaan juga dilakukan agar terjadi regenerasi atlet untuk keberlangsungan olahraga barongsai di Bali. B. Fungsi Penunjang Cafetaria Gym/fitness 2.4.3 Tujuan dan sasaran Adapun tujuan dari fasilitas ini ialah: a. Memfasilitasi kegiatan Olahraga barongsai untuk mendapatkan fasilitas khusus yang lebih aman, lengkap dan menarik dalam melakukan latihan. b. Sebagai usaha untuk mengembangkan Olahraga Barongsai di Bali agar mampu berprestasi di tingkat nasional maupun internasional. c. Sarana untuk menyalurkan minat dan bakat masyarakat yang mencintai olahraga barongsai dan ingin berlatih barongsai dengan fasilitas yang mendukung. 2.4.4 Civitas. Adapun civitas Arena Kompetisi Dan Pusat Pelatihan Barongsai ini adalah sebagai berikut : 1. Klub yang bertanding beserta perangkat pertandingan. Merupakan civitas yang menggunakan fungsi utama dari arena kompetisi ini, seperti: Pelatih, atlet dan juri pertandingan. 2. Pengguna tempat latihan Merupakan civitas yang menggunakan fungsi utama dari Pusat Pelatihan ini, seperti: Pelatih,dan Murid. 3. Pengelola Merupakan civitas orang-orang yang mempunyai tugas sebagai pegelola gedung pelatihan dan staff atau karyawan fungsi penunjang. 4. Pengunjung Pengunjung merupakan orang yang menonton kompetisi hingga yang mengantar jemput atlet, dan civitas-civitas lain yang datang selain untuk latihan barongsai. 37

2.4.5 Fasilitas yang akan disediakan. Adapun fasilitas-fasilitas yang akan disediakan pada Arena Kompetisi Dan Pusat Pelatihan Barongsai ini adalah: a. Fasilitas Utama Fasilitas utama yang akan disediakan di Arena Kompetisi Dan Pusat Pelatihan Barongsai ini lebih ditujukan untuk menampung kegiatan utama yang akan terjadi: 1. Arena kompetisi dan latihan. 2. Area pemanasan 3. Ruang pemain 4. Ruang Medis 5. Gudang Penyimpan Peralatan barongsai b. Fasilitas Penunjang dan Service Fasilitas Penunjang dan Service Arena Kompetisi Dan Pusat Pelatihan Barongsai: 1. Lobby 2. Asrama atlet 3. Fitness Area 4. Cafetaria 5. KM/WC/Urinoir 6. Parkir 7. ME 2.4.6 Pengelola Sistem pengelolaan sepenuhnya dipegang oleh induk organisasi olahraga Barongsai yakni Federasi Olahraga Barongsai Indonesia (FOBI) Bali sehinga event kompetisi dan program latihan maupun pembinaan dapat berjalan dengan baik. Untuk memantau proyek ini diperlukan lembaga khusus. Dalam hal ini yang berwenang dalam pemantauan dan pengawasan kegiatan keorganisasian yaitu garis koordinasi di atasnya yaitu Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) Bali. 38