Tugas Mingguan Peserta OJT Angkatan 13 Th. 2009

dokumen-dokumen yang mirip
2 BAB II TINJAUAN PUSTAKA

Analisis Kestabilan Transien dan Pelepasan Beban Pada Sistem Integrasi 33 KV PT. Pertamina RU IV Cilacap akibat Penambahan Beban RFCC dan PLBC

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Stabilitas Transien dan Perancangan Pelepasan Beban pada Joint Operating

ANALISIS PENGOPERASIAN SPEED DROOP GOVERNOR SEBAGAI PENGATURAN FREKUENSI PADA SISTEM KELISTRIKAN PLTU GRESIK

BAB I PENDAHULUAN. dapat mempertahankan frekuensi nominalnya. peningkatan kualitas sistem kelistrikannya agar didapatkan sistem yang dapat bekerja

STUDI PELEPASAN BEBAN PADA SKEMA PERTAHANAN (DEFENCE SCHEME) JARINGAN SISTEM KHATULISTIWA

BAB III METODOLOGI PENELITIAN. Cilacap, Jl. Letjen Haryono MT. 77 Lomanis, Cilacap, Jawa Tengah, Indonesia.

STUDI ANALISA HUBUNGAN FREKUENSI DENGAN PENENTUAN TRANSFER DAYA PADA JALUR INTERKONEKSI SUBSISTEM SUMSEL LAMPUNG (JURNAL)

PENGARUH PEMBANGKIT LISTRIK TENAGA UAP (PLTU) TERHADAP PERILAKU SISTEM TENAGA LISTRIK SULAWESI SELATAN DALAM KEADAAN TRANSIEN

Analisis Kestabilan Transien dan Mekanisme Pelepasan Beban di PT. Pertamina (Persero) Refinery Unit (RU) VI Balongan

Penentuan Pelepasan Beban Pada PT. Inalum Asahan Saat Penurunan Frekuensi

BAB II LANDASAN TEORI ANALISA HUBUNG SINGKAT DAN MOTOR STARTING

SIMULASI PELEPASAN BEBAN DENGAN MENGGUNAKAN RELE FREKUENSI PADA SISTEM TENAGA LISTRIK CNOOC SES LTD.

BAB I PENDAHULUAN. putaran tersebut dihasilkan oleh penggerak mula (prime mover) yang dapat berupa

BAB I PENDAHULUAN. merupakan sebuah kesatuan interkoneksi. Komponen tersebut mempunyai fungsi

Analisis Kestabilan Transien dan Mekanisme Pelepasan Beban di PT. Pertamina (Persero) Refinery Unit (R.U.) VI Balongan Jawa Barat

Simulasi dan Analisis Stabilitas Transien dan Pelepasan Beban pada Sistem Kelistrikan PT. Semen Indonesia Pabrik Aceh

Indar Chaerah G, Studi Penurunan Frekuensi pada Saat PLTG Sengkang Lepas dari Sistem

Analisis Stabilitas Transien dan Pelepasan Beban di Perusahaan Minyak Nabati

Analisis Stabilitas Transien dan Perancangan Pelepasan Beban Sistem Kelistrikan Distrik II PT. Medco E&P Indonesia, Central Sumatera

OKTOBER KONTROL DAN PROTEKSI PEMBANGKIT LISTRIK TENAGA MIKROHIDRO By Dja far Sodiq

Nama : Ririn Harwati NRP : Pembimbing : 1. Prof. Ir. Ontoseno Penangsang, M.Sc, PhD 2. Prof. Dr. Ir. Adi Soeprijanto, MT.

ABSTRAK Kata Kunci :

BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang. Sistem Tenaga Listrik adalah suatu sistem yang terdiri atas sistem

Analisis Stabilitas Transien di PT. Pupuk Sriwidjaja Palembang Akibat Penggantian Sebuah Unit Pembangkit GTG 18 MW Menjadi STG 32 MW

1 BAB I PENDAHULUAN. listrik. Di Indonesia sejauh ini, sebagian besar kebutuhan energi listrik masih disuplai

SIMULASI PELEPASAN BEBAN DENGAN MENGGUNAKAN RELE FREKUENSI PADA SISTEM TENAGA LISTRIK CNOOC SES Ltd. SKRIPSI

Analisis Kestabilan Transien Dan Mekanisme Pelepasan Beban Di PT. Pusri Akibat Penambahan Generator Dan Penambahan Beban

SIMULASI PEMISAHAN BEBAN BERDASARKAN TINGKAT FLUKTUASI BEBAN PADA SUBSISTEM TENAGA LISTRIK 150KV

Studi Kestabilan Sistem dan Pelepasan Beban (Load Shedding) Berdasarkan Standar IEEE di PT. Pertamina (Persero) Refinery Unit IV

STABILITAS SISTEM TENAGA LISTRIK di REGION 4 PT. PLN (Jawa Timur dan Bali)

Analisa Stabilitas Transien dan Perancangan Pelepasan Beban pada Industri Peleburan Nikel PT. Aneka Tambang di Pomaala (Sulawesi Tenggara)

PEMODELAN DAN SIMULASI PEMISAHAN BEBAN PADA SISTEM DISTRIBUSI 20 kv BERDASARKAN PRIORITAS

BAB I PENDAHULUAN. Di era modern saat ini, tenaga listrik memegang peranan penting dalam

III PENGUMPULAN DAN PENGOLAHAN DATA

DINAMIKA FREKUENSI SISTEM KARENA GANGGUAN UNIT PEMBANGKIT

TUGAS AKHIR ANALISIS STABILITAS TRANSIEN DAN PELEPASAN BEBAN DI PT. WILMAR NABATI GRESIK AKIBAT ADANYA PENGEMBANGAN SISTEM KELISTRIKAN FASE 2

ALAT PEMBAGI TEGANGAN GENERATOR

BAB III SISTEM PROTEKSI DENGAN RELAI JARAK. terutama untuk masyarakat yang tinggal di kota-kota besar. Kebutuhan tenaga

BAB IV PENGUJIAN, ANALISA DAN PEMBAHASAN

BAB II HARMONISA PADA GENERATOR. Generator sinkron disebut juga alternator dan merupakan mesin sinkron yang

STUDI PELEPASAN SEBAGIAN BEBAN PADA GENERATOR YANG BEKERJA SECARA PARALEL PADA PT. MANUNGGAL WIRATAMA (SUN PLAZA)

Analisa Stabilitas Transien dan Koordinasi Proteksi pada PT. Linde Indonesia Gresik Akibat Penambahan Beban Kompresor 4 x 300 kw

STUDI PEMODELAN ELECTRONIC LOAD CONTROLLER SEBAGAI ALAT PENGATUR BEBAN II. PEMBANGKIT LISTRIK TENAGA MIKRO-HIDRO

ANALISIS PENGOPERASIAN SPEED DROOP GOVERNOR SEBAGAI PENGATURAN FREKUENSI PADA SISTEM KELISTRIKAN PLTU GRESIK

BAB I PENDAHULUAN. panas yang dihasilkan oleh pembakaran bahan bakar menjadi energi mekanik, dan

STUDI SKEMA PELEPASAN GENERATOR PADA FREKUENSI BERLEBIH SEBAGAI PENGAMAN UNIT PEMBANGKIT SUBSISTEM SUMBAGSEL

BAB II LANDASAN TEORI

Politeknik Negeri Sriwijaya

1 BAB I PENDAHULUAN. energi alternatif yang dapat menghasilkan energi listrik. Telah diketahui bahwa saat

DAFTAR ISI COVER LEMBAR PENGESAHAN ABSTRAK KATA PENGANTAR DAFTAR GAMBAR DAFTAR TABEL DAFTAR GRAFIK

1. BAB I PENDAHULUAN

SYNCHRONOUS GENERATOR. Teknik Elektro Universitas Indonesia Depok 2010

4.3 Sistem Pengendalian Motor

BAB 3 PELEPASAN BEBAN PADA SISTEM TENAGA LISTRIK. CNOOC SES Ltd NORTH BUSINIESS UNIT DENGAN TEGANGAN OPERASI 13.8 KV

ANALISA DAN SIMULASI STABILITAS TRANSIEN DENGAN PELEPASAN BEBAN PADA SISTEM PEMBANGKIT TENAGA LISTRIK PT. INDO BHARAT RAYON SKRIPSI

Erik Tridianto, Ontoseno Penangsang, Adi Soeprijanto Jurusan Teknik Elektro FTI - ITS

ANALISA STABILITAS TRANSIEN PADA SISTEM KELISTRIKAN PT.CHANDRA ASRI,CILEGON AKIBAT INTEGRASI PLN

Analisa Stabilitas Transien Pada Sistem Transmisi Sumatera Utara 150 kv 275 kv Dengan Penambahan PLTA Batang Toru 4 X 125 MW

JURNAL TEKNIK ITS Vol. 5, No. 2, (2016) ISSN: ( Print)

BAB I PENDAHULUAN 1.1. LATAR BELAKANG

STUDY KASUS BLACKOUT 30 SEPTEMBER 2007 SISTEM SUSELTRABAR

BAB IV SISTEM PROTEKSI GENERATOR DENGAN RELAY ARUS LEBIH (OCR)

BAB I PENDAHULUAN. konsumen. Suplai daya listrik dari pusat-pusat pembangkit sampai ke konsumen

BAB IV RELAY PROTEKSI GENERATOR BLOK 2 UNIT GT 2.1 PT. PEMBANGKITAN JAWA-BALI (PJB) MUARA KARANG

Analisis Stabilitas Transien Dan Perancangan Pelepasan Beban Pada Sistem Kelistrikan Tabang Coal Upgrading Plant (TCUP) Kalimantan Timur

BAB IV ANALISIS DATA LAPANGAN. Ananlisi ini menjadi salah satu sarana untuk mencari ilmu yang tidak

ANALISIS PENYEBAB KEGAGALAN KERJA SISTEM PROTEKSI PADA GARDU AB

BAB II LANDASAN TEORI

Teknik Tenaga Listrik(FTG2J2)

PERANCANGAN DAN PENGUJIAN TURBIN KAPLAN PADA KETINGGIAN (H) 4 MSUDUT SUDU JALAN 45º DENGAN VARIABEL PERUBAHANDEBIT (Q) DAN SUDUT SUDU PENGARAH

STUDI KESTABILAN SISTEM BERDASARKAN PREDIKSI VOLTAGE COLLAPSE PADA SISTEM STANDAR IEEE 14 BUS MENGGUNAKAN MODAL ANALYSIS

ANALISIS SISTEM PROTEKSI GENERATOR PADA PUSAT PEMBANGKIT LISTRIK TENAGA AIR WONOGIRI

LAPORAN PRAKTIKUM TEKNIK TENAGA LISTRIK NO LOAD AND LOAD TEST GENERATOR SINKRON EXPERIMENT N.2 & N.4

MODUL 3 TEKNIK TENAGA LISTRIK PRODUKSI ENERGI LISTRIK (1)

BAB IV HASIL ANALISIS. Ketinggian jatuh air merupakan tinggi vertikal dimana air mengalir dari atas

Perhitungan Daya Turbin Uap Dan Generator

TUGAS AKHIR. Analisa Dan Perancangan Pembangkit Listrik Tenaga Mikro Hindro ( PLTMH ) Berdasarkan Perhitungan Beban

D. Kronologis Gangguan (2)

BAB II LANDASAN TEORI

ANALISIS PENGGUNAAN POWER SYSTEM STABILIZER (PSS) DALAM PERBAIKAN STABILITAS TRANSIEN GENERATOR SINKRON

Studi Eksperimen Aplikasi Flywheel Pada Pembangkit Listrik Untuk Daerah Terpencil

BAB III METODOLOGI PENELITIAN

Analisa Stabilitas Transien dan perancangan pelepasan beban pada Industri Peleburan Nikel PT. Aneka Tambang di Pomaala (Sulawesi Tenggara)

BAB II MOTOR INDUKSI 3 Ø

STUDI PROTEKSI PADA PEMBANGKIT LISTRIK TENAGA MINIHIDRO (PLTM) SILAU 2 TONDUHAN KABUPATEN SIMALUNGUN

Makalah Seminar Kerja Praktek SISTEM AUTOSYNCHRONIZER PADA GENERATOR MODEL TEWAC 75000KVA DI PT. GEO DIPA ENERGI DIENG UNIT 1

LAMPIRAN STUDI ANALISA KERJA PARALEL GENERATOR

PADA PLTA LARONA, PLTA BALAMBANO, DAN PLTA KAREBBE SERTA OPTIMALISASI PENGATURAN BEBAN DAN PEMBANGKIT

Analisis Kestabilan Transien di PT. PUSRI Akibat Penambahan Pembangkit 35 MW dan Pabrik P2-B Menggunakan Sistem Synchronizing Bus 33 kv

Mesin AC. Dian Retno Sawitri

Pengujian Relay Arus Lebih Woodward Tipe XI1-I di Laboratorium Jurusan Teknik Elektro

BAB III PENGAMANAN TRANSFORMATOR TENAGA

Strategi Interkoneksi Suplai Daya 2 Pembangkit di PT Ajinomoto Indonesia, Mojokerto Factory

BABI PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah

Studi Penerapan Metode Island Operation Sebagai Defence Scheme Pada Gardu Induk Teluk Lembu

Analisa Stabilitas Transien pada Sistem Kelistrikan PT. Pupuk Kalimantan Timur (Pabrik KALTIM 1), Akibat Reaktivasi Pembangkit 11 MW.

BAB III METODOLOGI DAN PENGUMPULAN DATA

ANALISIS KESTABILAN TRANSIEN DAN PELEPASAN BEBAN PADA SISTEM INTEGRASI 33 KV PT. PERTAMINA RU IV CILACAP AKIBAT PENAMBAHAN BEBAN RFCC DAN PLBC

SISTEM TENAGA LISTRIK

Transkripsi:

Tugas Mingguan Peserta OJT Angkatan 13 Th. 2009 WATAK FREKUENSI SISTEM PADA SAAT TERJADI HILANG DAYA PEMBANGKIT Disusun oleh: Haryo Praminta Sedewa YG/ES/0282 PT PLN(persero) AP2B Sistem Kalselteng

WATAK FREKUENSI SISTEM PADA SAAT TERJADI HILANG DAYA PEMBANGKIT Saat sebuah sistem tenaga listrik beroperasi pada frekuensi normal, jumlah input daya mekanis dari penggerak mula ke generator sama dengan jumlah beban yang tersambung, ditambah dengan losses pada sistem tersebut. Jika keseimbangan ini berubah, maka akan berakibat pada perubahan sistem frekuensi. Saat sistem ini mengalami kekurangan input daya mekanis, putaran rotor akan melambat untuk menyuplai energi ke sistem. Sebaliknya, jika sistem kelebihan daya mekanis, putaran rotor akan semakin cepat untuk menyerap energi dari sistem. Setiap perubahan kecepatan putar rotor ini akan menyebabkan perubahan frekuensi sistem pula. Governor pada unit pembangkit akan merasakan sedikit perubahan kecepatan putar yang diakibatkan oleh perubahan beban. Governor ini akan mengatur input daya mekanis yang masuk ke unit pembangkit untuk menjaga frekuensi sistem agar tetap pada batasan operasi normal. Perubahan besar kapasitas pembangkitan secara tibatiba karena tripnya salah satu unit pembangkit atau saluran transmisi, dapat mengakibatkan ketidakseimbangan antara pembangkitan dan beban yang cukup signifikan, yang berakibat pula pada perubahan frekuensi sistem yang cepat. Jika governor dan boiler tidak cukup cepat dalam merespon perubahan frekuensi ini, sistem dapat collapse. Untuk itu, dibutuhkan pelepasan beban yang cepat, selektif, dan temporer, agar sistem dapat terhindar dari kondisi padam total atau blackout. Sehingga waktu pemulihan sistem ke kondisi normal dapat dilakukan secara cepat pula. Kecepatan Perubahan Frekuensi Sebelum mendesain skema relay untuk proteksi beban berlebih, penting dilakukan terlebih dahulu perkiraan variasi frekuensi saat terjadi gangguan. Gambar di bawah ini menunjukkan sebuah sistem S yang terdiri dari 2 subsistem yang terinterkoneksi, yaitu subsistem S1 dan S2. Untuk sistem S secara keseluruhan, persamaan dibawah ini harus terpenuhi untuk frekuensi yang konstan Daya pembangkitan = beban + losses

Kesetimbangan di atas dapat pula terbentuk saat daya pembangkitan di S1 lebih besar dari beban S1 dan beban di S2 lebih besar dari pada daya pembangkitan S2, dengan selisih daya yang ada ditransfer melalui saluran interkoneksi yang menghubungkan keduanya. Jika total beban dan losses sama dengan total input daya mekanis, maka tidak terjadi perubahan di kecepatan putar rotor generator atau frekuensi sistem terhadap waktu. Jika saluran transmisi trip akibat sebuah gangguan permanen, maka energi kinetik di generator-generator yang ada di subsistem S1 akan meningkat untuk menyerap kelebihan input daya, sehingga putaran generator-generator di subsistem S1 akan bertambah cepat. Sebaliknya, putaran generator-generator yang ada di subsistem S2 akan melambat. Persamaan pesat perubahan frekuensinya adalah sebagai berikut: Dimana: df dt P = persen pesat penurunan frekuensi = persen penurunan daya dari kva terpasang H = konstanta inersia, MW sec atau MVA KW sec KVA Di sini, semua konstanta H dan P berbasis pada kva Konstanta inersia (H) didefinisikan sebagai perbandingan dari momen inersia rotor generator dan kapasitas unit generator tersebut, atau bisa didefinisikan pula sebagai energi kinetik pada komponen berputar generator pada kecepatan putar normalnya. Sebagai contoh, sebuah turbin generator berkapasitas 100MVA, dengan konstanta inersia sebesar 4, memiliki energi kinetik sebesar 400MW-sec. Atau 400 MJ, pada rotornya saat berputar pada kecepatan nominalnya. Jika daya output dan beban adalah konstan seiring dengan penurunan frekuensi dan kecepatan, generator tersebut mampu menyuplai beban penuhnya dalam waktu 4 detik, tanpa adanya input daya dari penggerak mula, sebelum rotor berhenti berputar. Konstanta inersia dari sebuah unit generator telah tersedia dari pabriknya, atau dapat dihitung dari:

Untuk sebuah sistem, nilai H secara keseluruhan dapat dihitung dengan persamaan: Dengan subscript 1, 2,..., n adalah masing unit pembangkit Semakin besar konstanta inersia, semakin lambat penurunan frekuensi dari overload yang terjadi. Generator hidro model terdahulu mempunyai konstanta inersia sebesar 10. Turbin generator terbaru, memiliki konstanta inersia sekitar 2-3, seiring dengan trend generator kapasitas besar dengan massa yang ringan. Sehingga, sistem tenaga listrik baru-baru ini semakin mudah mengalami goncangan frekuensi pada saat terjadi perubahan pembebanan secara mendadak. Sebagai contoh pada gambar di atas, subsistem S2 pada gambar memiliki beban 1200 MW dan total pembangkitan sebesar 100 MW. Saluran transmisi harus menyalurkan daya 200 MW dari S1 ke S2. Konstanta inersia untuk S2 adalah 4, dan faktor daya mesin-mesinnya adalah 0,85. Jika saluran transmisi mengalami trip, pesat penurunan frekuensi di subsistem S2 dapat dihitung sebagai berikut: frekuensi. beban _ saluran _ yang _ hilang P = = kva _ dari _ S2 = 17 % Kemudian df 0,17 = = 2,13 % dt 2(4) 200 1000 / 0,85 df = -2,13% x 50 Hz = 1,065 Hz/detik dt Besaran negatif pada pesat perubahan frekuensi menunjukkan penurunan Ketika terjadi penurunan frekuensi, pengalaman menunjukkan bahwa beban juga menurun. Perbandingan yang sering digunakan adalah jika terjadi penurunan

frekuensi sebesar 1 % maka beban akan turun juga sebesar 2 %. Penurunan frekuensi sebesar 1 % mewakili 0,5 Hz. Penurunan beban berlaku untuk beban keseluruhan sistem, bukan P-nya, dan untuk contoh di atas penurunan bebannya adalah 0,02(1200) = 24 MW, mengurangi jumlah kekurangan daya pembangkitan menjadi (200-24) = 176 MW. Sehingga pada saat frekuensi telah turun sebesar 1%, pesat penurunan frekuensinya pun melambat. Penurunan frekuensi sebesasar 8,35% akan mengurangi beban sebesar 16,7% atau 0,167(1200) = 200 MW. Namun pada frekuensi ini (45,825Hz), unit-unit pembangkit sudah lepas sinkron. Diagram sederhana di atas dapat menjelaskan sebuah prinsip dasar. Trip-nya unit pembangkit 2 berakibat naiknya pembebanan di unit pembangkit 1. Beban akan terus tersuplai, tetapi putaran rotor dan frekuensi akan berkurang kecepatannya. Jumlah besar overload MW pada pembangkit yang masih beroperasi, sama dengan besar daya unit pembangkit yang trip. Pengurangan beban yang dipengaruhi oleh pengurangan frekuensi berhubungan dengan total beban seluruhnya (1+ P). Beban

baru seiring dengan penurunan frekuensi adalah 1, yaitu beban sebenarnya dari G1. Frekuensi operasi stabil baru yang terbentuk adalah: Dengan: ff = frekuensi stabil yang baru fo = frekuensi nominal P = persen penurunan pembebanan (berdasarkan pembebanan pembangkit yang masih beroperasi d = perbandingan antara perubahan beban terhadap perubahan frekuensi Faktor d dapat bervariasi dari 0,5 hingga 7, tergantung dari komposisi beban yang ada, namun pada umumnya sistem memiliki d = 2 (yakni, 2% penurunan beban dari setiap 1% penurunan frekuensi). Nilai eksak d untuk sebuah sistem dapat ditentukan hanya dengan mengamati variasi beban dengan frekuensi pada sistem tersebut. Gambar di atas menunjukkan grafik penurunan frekuensi yang diakibatkan oleh hilangnya daya pembangkitan. Sedangkan gambar di bawah ini menggambarkan watak dari frekuensi sistem (untuk contoh ini menggunakan frekuensi nominal 60 Hz) untuk beberapa kombinasi dari konstanta inersia dan persen overload dengan konstanta d = 2.

Respon governor akan bekerja untuk mengoreksi kekurangan (atau kelebihan) kecepatan/frekuensi sistem, dengan cara mengurangi atau menambah (jika masih tersedia cadangan putar) input daya mekanik dari penggerak mula. Namun, ada tunda waktu dalam penyesuaian ke kondisi stabil yang berkaitan dengan boiler, aliran air, dan lain-lain. Untuk mencegah jatuhnya frekuensi sampai melampaui batas aman, maka hal yang dapat dilakukan adalah melepas beban secara cepat dan selektif (CB trip untuk memisah beban dari sumber daya). KESIMPULAN 1. Pesat perubahan frekuensi pada saat terjadi gangguan dipengaruhi oleh konstanta inersia sistem dan besar daya pembangkitan yang hilang karena ganguan tersebut. 2. Besar perubahan frekuensi saat terjadi gangguan dipengaruhi oleh komposisi beban yang ada pada sistem tersebut, dan besar daya pembangkitan yang hilang karena gangguan tersebut. 3. Pada saat terjadi gangguan yang mengakibatkan hilangnya sejumlah besar daya pembangkitan secara mendadak, governor pada unit-unit pembangkit tidak cukup cepat dalam merespon perubahan kecepatan/frekuensi sistem, oleh karena itu diperlukan strategi pelepasan beban (load shedding) yang cepat dan selektif.