BAB II GAMBARAN UMUM KONDISI DAERAH

dokumen-dokumen yang mirip
BAB V GAMBARAN UMUM. Secara visualisasi wilayah administrasi dapat dilihat dalam peta wilayah Kabupaten Lebak sebagaimana gambar di bawah ini

Penataan Ruang Kabupaten Lebak

BAB II KONDISI OBJEKTIF MASYARAKAT DI LEBAK

DAFTAR ISI HALAMAN JUDUL... DAFTAR ISI... DAFTAR TABEL... DAFTAR GAMBAR...

4 GAMBARAN UMUM KOTA BOGOR

GAMBARAN UMUM LOKASI PENELITIAN

GAMBARAN UMUM LOKASI PENELITIAN. Administrasi

IV. GAMBARAN UMUM. Kabupaten Lebak merupakan salah satu kabupaten yang terletak di

BAB I PENDAHULUAN A. DASAR HUKUM A. Gambaran Umum Daerah 1. Kondisi Geografis Daerah 2. Kondisi Demografi

KESIAPAN PELAYANAN KESEHATAN ARUS MUDIK IDUL FITRI 1436 H / 2015

PERATURAN DAERAH KABUPATEN LEBAK NOMOR 17 TAHUN 2008 TENTANG RENCANA TATA RUANG WILAYAH (RTRW) KABUPATEN LEBAK DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

IV. GAMBARAN UMUM KOTA DUMAI. Riau. Ditinjau dari letak geografis, Kota Dumai terletak antara 101 o 23'37 -

KEPUTUSAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 32 TAHUN 1990 TENTANG PENGELOLAAN KAWASAN LINDUNG PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

PEMERINTAH KABUPATEN LEBAK RENCANA KERJA DAERAH TAHUN 2016 PEMBANGUNAN

Rencana Kerja P emerintah Daerah Kabupaten Barru Tahun 2015 DAFTAR ISI

Keputusan Presiden No. 32 Tahun 1990 Tentang : Pengelolaan Kawasan Lindung

BAB II KERANGKA EKONOMI DAERAH

BAB IV GAMBARAN UMUM

KAJIAN UMUM WILAYAH PENELITIAN. Kondisi Geografis

KEPUTUSAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA NOMOR : 32 TAHUN 1990 TENTANG PENGELOLAAN KAWASAN LINDUNG

BAB I PENDAHULUAN 1.1. Dasar Hukum

KAJIAN LINGKUNGAN HIDUP STRATEGIS (KLHS) Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Polewali Mandar

BAB I PENDAHULUAN LKPJ GUBERNUR JAWA BARAT TAHUN 2015 I - 1

IV. GAMBARAN UMUM Letak Geogafis dan Wilayah Administratif DKI Jakarta. Bujur Timur. Luas wilayah Provinsi DKI Jakarta, berdasarkan SK Gubernur

BAB V GAMBARAN UMUM PROPINSI JAWA BARAT. Lintang Selatan dan 104 o 48 '- 108 o 48 ' Bujur Timur, dengan luas wilayah

BAB IV GAMBARAN UMUM PROVINSI NTT. 4.1 Keadaan Geografis dan Administratif Provinsi NTT

VISI PAPUA TAHUN

BAB I KONDISI MAKRO PEMBANGUNAN JAWA BARAT

IV. KONDISI UMUM WILAYAH

BAB III GAMBARAN UMUM KOTA BOGOR

RENCANA KERJA PEMBANGUNAN DAERAH (RKPD) KABUPATEN MALANG TAHUN 2015

BAB II. GAMBARAN UMUM WILAYAH DAN PEMBANGUNAN PENDIDIKAN DI KABUPATEN SUMBA BARAT

Tabel 2.6 Nilai dan Kontribusi Sektor dalam PDRB Tahun Atas Dasar Harga Konstan Kabupaten Aceh Tamiang

KATA PENGANTAR. Lebak, Maret 2015 BUPATI LEBAK. Hj. ITI OCTAVIA JAYABAYA, SE, MM

BAB. IV KONDISI PEREKONOMIAN KAB. SUBANG TAHUN 2012

DOKUMEN PELAKSANAAN PERUBAHAN ANGGARAN SATUAN KERJA PERANGKAT DAERAH PEMERINTAH KABUPATEN LEBAK TAHUN ANGGARAN 2016 DPPA - SKPD 2.

DAFTAR ISI. Halaman. X-ii. RPJMD Kabupaten Ciamis Tahun

KEADAAN UMUM WILAYAH KABUPATEN KATINGAN DAN KOTA PALANGKA RAYA

PEMERINTAH DAERAH KABUPATEN LEBAK PROVINSI BANTEN

Daftar Tabel Rencana Kerja Pembangunan Daerah (RKPD ) Kab. Jeneponto Tahun 2016

BAB IV. KONDISI UMUM LOKASI PENELITIAN

BAB IV GAMBARAN UMUM WILAYAH

BAB IV GAMBARAN UMUM KABUPATEN MALINAU. Kabupaten Malinau terletak di bagian utara sebelah barat Provinsi

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN Kondisi Geografis dan Demografis Provinsi Kalimantan Timur

BAB I PENDAHULUAN A. Dasar Hukum

BAB. IV KONDISI PEREKONOMIAN KAB.SUBANG TAHUN 2013

RENCANA PEMBANGUNAN JANGKA MENENGAH DAERAH KOTA PALU DT - TAHUN

Daftar Tabel. Halaman

IV. GAMBARAN UMUM PROVINSI JAMBI. Undang-Undang No. 61 tahun Secara geografis Provinsi Jambi terletak

V. GAMBARAN UMUM DAERAH PENELITIAN

BAB IV KONDISI PEREKONOMIAN JAWA BARAT TAHUN 2007

LKPJ AKHIR MASA JABATAN BUPATI JOMBANG I BAB

Buku Putih Sanitasi Kabupaten Lebak 2013

2.1 Gambaran Umum Provinsi Kalimantan Timur A. Letak Geografis dan Administrasi Wilayah

BAB IV KONDISI UMUM DAERAH PENELITIAN

Lampiran Peraturan Bupati Tanah Datar Nomor : 18 Tahun 2015 Tanggal : 18 Mei 2015 Tentang : Rencana Kerja Pembangunan Daerah Tahun 2016 DAFTAR ISI

4 GAMBARAN UMUM KABUPATEN BLITAR

BAB IV ANALISIS DATA DAN PEMBAHASAN

BAB IV GAMBARAN UMUM PENELITIAN. batas-batas wilayah sebagai berikut : - Sebelah Utara dengan Sumatera Barat. - Sebelah Barat dengan Samudera Hindia

IV. ANALISIS SITUASIONAL DAERAH PENELITIAN

BAB IV GAMBARAN UMUM

Bab II Bab III Bab IV Tujuan, Kebijakan, dan Strategi Penataan Ruang Kabupaten Sijunjung Perumusan Tujuan Dasar Perumusan Tujuan....

V KEADAAN UMUM DAERAH PENELITIAN

IV. GAMBARAN UMUM 4.1. Kondisi Geografis dan Iklim

IV. KONDISI UMUM WILAYAH PENELITIAN

RANCANGAN RENCANA PELAKSANAAN RPJMD TAHUN KE-4

IV. GAMBARAN UMUM LOKASI PENELITIAN

BAB I PENDAHULUAN A. DASAR HUKUM

BAB IV GAMBARAN UMUM

STATISTIK DAERAH KABUPATEN LEBAK 2015

KONDISI UMUM WILAYAH STUDI

KATA PENGANTAR TIM PENYUSUN BAPPEDA KOTA BATU

GAMBARAN UMUM WILAYAH PENELITIAN

BAB I PENDAHULUAN LKPJ GUBERNUR JAWA BARAT ATA 2014 I - 1

KEADAAN UMUM DAERAH PENELITIAN

BAB 3 GAMBARAN UMUM KABUPATEN KUNINGAN, KECAMATAN CIBEUREUM, CIBINGBIN, DAN CIGUGUR

KONDISI UMUM WILAYAH PENELITIAN

DAFTAR ISI Halaman DAFTAR ISI... i DAFTAR TABEL... iii DAFTAR GAMBAR... xii

19 Oktober Ema Umilia

BAB III GAMBARAN UMUM WILAYAH JAWA BARAT SELATAN

Gambar 4.1 Peta Provinsi Jawa Tengah

PRODUK DOMESTIK REGIONAL BRUTO KABUPATEN YAHUKIMO, TAHUN 2013

KEADAAN UMUM DAERAH PENELITIAN

BAB IV GAMBARAN UMUM KOTA SUKABUMI. Kota Sukabumi terletak pada bagian selatan tengah Jawa Barat pada

IV. GAMBARAN UMUM DAERAH PENELITIAN. Provinsi Lampung terletak di ujung tenggara Pulau Sumatera. Luas wilayah

DAFTAR TABEL. Tabel 2.1 Luas Wilayah Menurut Kecamatan dan Desa/Kelurahan... 17

PERJANJIAN KINERJA TAHUN 2017

BAB IV KONDISI PEREKONOMIAN JAWA BARAT TAHUN 2006

KABUPATEN ACEH TENGAH PERJANJIAN KINERJA TAHUN 2016

BAB IV GAMBARAN UMUM. Posisi Daerah Istimewa Yogyakarta yang terletak antara

BAB IX PENETAPAN INDIKATOR KINERJA DAERAH

Peraturan Daerah RPJMD Kabupaten Pulang Pisau Kata Pengantar Bupati Kabupaten Pulang Pisau

Series Data Umum Kota Semarang Data Umum Kota Semarang Tahun

DAFTAR ISI BAB I PENDAHULUAN... 1 EVALUASI HASIL PELAKSANAAN RKPD TAHUN LALU DAN CAPAIAN KINERJA PENYELENGGARAAN PEMERINTAHAN... 1

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Penelitian. Pada umumnya pembangunan ekonomi selalu diartikan sebagai

DEMOGRAFI KOTA TASIKMALAYA

BAB IV GAMBARAN UMUM PROVINSI JAWA TIMUR. Provinsi Jawa Timur membentang antara BT BT dan

Transkripsi:

BAB II GAMBARAN UMUM KONDISI DAERAH 2.1. Aspek Geografi dan Demografi Kabupaten Lebak memiliki luas sebesar 304.472 Ha (3.044,72 Km 2 ) dan memiliki batas administrasi sebagai berikut : Sebelah Utara : Kabupaten Serang dan Tangerang Sebelah Selatan : Samudera Indonesia Sebelah Barat : Kabupaten Pandeglang Sebelah Timur : Kabupaten Bogor dan Kabupaten Sukabumi Secara administratif, pada tahun 2008 Kabupaten Lebak terdiri dari 28 kecamatan, 340 desa dan 5 kelurahan dengan luas rincian sebagai berikut : Tabel 2.1 Luas Wilayah Menurut Kecamatan di Kab. Lebak Tahun 2008 No. Kecamatan Luas Wilayah (Ha) No. Kecamatan Luas Wilayah (Ha) 1 Malingping 9.217,00 15 Cipanas 8.788,70 2 Wanasalam 13.429,00 16 Sajira 11.098,00 3 Panggarangan 17.252,00 17 Cimarga 18.343,00 4 Bayah 15.374,00 18 Cikulur 6.606,00 5 Cilograng 10.720,00 19 Warunggunung 4.953,00 6 Cibeber 38.315,00 20 Cibadak 4.134,00 7 Cijaku 9.134,00 21 Rangkasbitung 4.986,50 8 Banjarsari 15.531,00 22 Maja 5.987,00 9 Cileles 12.498,00 23 Curugbitung 7.255,00 10 Gunungkencana 14.577,00 24 Cihara 15.041,00 11 Bojongmanik 7.178,10 25 Cigemblong 5.831,00 12 Leuwidamar 14.691,00 26 Cirinten 7.754,90 13 Muncang 8.498,00 27 Lebakgedong 5.004,30 14 Sobang 10.720,00 28 Kalanganyar 2.555,50 Sumber : Peta Administrasi Kabupaten Lebak - Bappeda Kabupaten Lebak dan Bakosurtanal, 2007 Visualisasi wilayah administrasi dapat dilihat dalam peta wilayah Kabupaten Lebak sebagaimana gambar di bawah ini. II - 1

Gambar 2.1 Peta Administrasi Kabupaten Lebak Sumber : Peta Administrasi Kabupaten Lebak - Bappeda Kabupaten Lebak dan Bakosurtanal, 2007 Secara geografis, Kabupaten Lebak berada pada posisi astronomis 6º18-7º00 Lintang Selatan dan 105º25-106º30 Bujur Timur, dengan Fisiografi lahan yang ada di wilayah Kabupaten Lebak yaitu lahan datar dan landai 90.033 Ha, lahan bergelombang dan lahan berbukit 104.792 Ha dan lahan pegunungan/curam 91.171 Ha. Kabupaten Lebak memiliki kondisi topografi beragam. Untuk wilayah sepanjang Pantai Selatan memiliki ketinggian 0-200 meter di atas permukaan laut (dpl), wilayah Lebak Tengah 201-500 meter dpl dan wilayah Lebak Timur dengan puncaknya yaitu Gunung Sanggabuana dan Gunung Halimun 501-1000 meter dpl. Temperatur di sepanjang pantai dan perbukitan berkisar antara 20 0 C - 32 0 C, II - 2

sedangkan suhu di pegunungan dengan ketinggian di atas 400 m dpl antara 18 0 C - 29 0 C. Ketinggian dari permukaan laut setiap Ibu Kota Kecamatan di Kabupaten Lebak sangat beragam, yang tertinggi adalah Kecamatan Muncang dan Sobang (260 meter), yang terendah Kecamatan Bayah dan Cihara (3 meter), dengan Panjang garis pantai di Kabupaten Lebak 91,42 km. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada tabel 2.5 di bawah ini. No. Kecamatan Tabel 2.2 Kelompok Ketinggian Menurut Kecamatan di Kabupaten Lebak Tahun 2008 Ketinggian dari Permukaan Laut (m) 01 25 26 50 51 75 76 100 101 500 > 500 1 Malingping - 40 - - - - 2 Wanasalam - 40 - - - - 3 Panggarangan 4 - - - - - 4 Bayah 3 - - - - - 5 Cilograng - - - - - - 6 Cibeber - - - - 200-7 Cijaku - - 70 - - - 8 Banjarsari - - - - 120-9 Cileles - - - - 164-10 Gunungkencana - - - - 170-11 Bojongmanik - - - - 200-12 Leuwidamar - - - - 230-13 Muncang - - - - 260-14 Sobang - - - - 260-15 Cipanas - - - - 180-16 Sajira - - - - 165-17 Cimarga - - - - 220-18 Cikulur - - - - 240-19 Warunggunung - - - - 250-20 Cibadak - - - - 220-21 Rangkasbitung - - - - 217-22 Maja - - - - 140-23 Curugbitung - - - - 140-24 Cihara 3 - - - - - 25 Cigemblong - - 70 - - - 26 Cirinten - - - - 200-27 Lebakgedong - - - - 180-28 Kalanganyar - - - - 217 - Sumber : BPS Kab. Lebak, 2008 II - 3

Berdasarkan hidrologi, wilayah Kabupaten Lebak bersama anak-anak sungainya membentuk pola Daerah Aliran Sungai (DAS) yaitu (1) DAS Ciujung yang meliputi Sungai Ciujung, Sungai Cilaki, Sungai Ciberang, dan Sungai Cisimeut, (2) DAS Ciliman dan Cimadur yang meliputi Sungai Ciliman dengan anak sungainya, Sungai Cimadur, Sungai Cibareno, Sungai Cisiih, Sungai Cihara, Sungai Cipager, dan Sungai Cibaliung. Dalam upaya pengembangan wilayah, Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) Kabupaten Lebak telah mengatur pola pemanfaatan ruang, yang meliputi : 1. Kawasan budidaya di Kabupaten Lebak mencakup luasan 207.250 Ha yang terdiri dari : Kawasan budidaya pertanian (luas 153.485 ha), yang meliputi pertanian lahan basah (17.400 ha) dan pertanian lahan kering (136.085 ha). Kawasan budidaya non pertanian (luas 53.765 Ha), yang meliputi kawasan kawasan permukiman (46.675 ha), kawasan industri (3.040 ha), kawasan pariwisata (4.050 ha). 2. Kawasan lindung dengan luas 97.222 ha, meliputi : 1) Kawasan yang memberikan perlindungan kawasan bawahannya, pengembangan kawasan dikaitkan dengan fungsi hidrologis, mencakup lahan seluas 63.845 ha (22,32 % dari luas total Kabupaten Lebak), terdiri dari : Kawasan hutan lindung (luas 29.975 ha), berfungsi untuk mencegah terjadinya erosi, bencana banjir, sedimentasi, dan menjaga fungsi hidrologis tanah untuk menjamin ketersediaan unsur hara tanah, air tanah, dan air permukaan. Kawasan hutan lindung tersebar di Kecamatan Cipanas, Kecamatan Muncang, Kecamatan Sobang, Kecamatan Cijaku, Kecamatan Panggarangan, Kecamatan Cibeber, dan Kecamatan Bayah. Kawasan resapan air (luas 33.870 ha), berfungsi untuk memberikan ruang yang cukup bagi peresapan air hujan pada daerah tertentu untuk keperluan penyediaan kebutuhan air tanah dan penanggulangan banjir, baik untuk kawasan bawahannya maupun kawasan yang bersangkutan. Kawasan resapan air adalah daerah yang mempunyai kemampuan tinggi untuk meresapkan air hujan sehingga merupakan tempat pengisian air bumi yang berguna sebagai sumber air. Sebaran kawasan resapan air terdapat di Kecamatan Cipanas, Kecamatan Muncang, Kecamatan Sobang, Kecamatan Bojongmanik, Kecamatan Gunungkencana, Kecamatan Cijaku, II - 4

Kecamatan Panggarangan, Kecamatan Cilograng, Kecamatan Cibeber, dan Kecamatan Bayah. 2) Kawasan perlindungan setempat, kawasan lindung yang merupakan kawasan perlindungan setempat di Kabupaten Lebak seluas 10.595 Ha (3,7% dari luas total Kabupaten Lebak), terdiri dari : a. Sempadan pantai, adalah daratan sepanjang tepian yang lebarnya proporsional dengan bentuk dan kondisi fisik pantai minimal 100 meter dari titik pasang tertinggi ke arah darat. Adapun sebaran sempadan pantai terdapat di Kecamatan Wanasalam, Malingping, Panggarangan, Cihara, Cibeber dan Kecamatan Bayah dengan panjang garis pantai sekitar 91,42 Km. b. Sempadan sungai, adalah kawasan sepanjang kiri kanan sungai, termasuk sungai buatan/kanal/saluran irigasi primer, yang mempunyai manfaat penting untuk mempertahankan kelestarian fungsi sungai. Perlindungan terhadap sempadan sungai dilakukan untuk melindungi sungai dari kegiatan manusia yang dapat mengganggu dan merusak kualitas air sungai, kondisi fisik pinggir dan dasar sungai serta mengamankan aliran sungai. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat Tabel 2.6 di bawah ini. c. Kawasan sekitar mata air, adalah kawasan di sekeliling mata air yang mempunyai manfaat penting untuk mempertahankan kelestarian fungsi mata air. Perlindungan terhadap kawasan sekitar mata air dilakukan untuk melindungi mata air dari kegiatan budidaya yang dapat merusak kualitas air dan kondisi fisik kawasan sekitamya, sedangkan kriteria kawasan lindung untuk kawasan mata air adalah sekurang-kurangnya dengan jarijari 200 meter di sekitar mata air. Arahan pengelolaan kawasan lindung sekitar mata air ini adalah sebagai berikut: Persawahan atau pertanian dengan jenis tanaman tertentu, dan perikanan masih diperkenankan keberadaanya pada kawasan ini; Tindakan konservasi yang dilakukan pada kawasan ini lebih bersifat vegetatif; II - 5

Kawasan sekitar mata air yang digunakan oleh PDAM dapat diberikan hak pakai. Tabel 2.3 Sebaran Sempadan Sungai No Nama Sungai Luas Kawasan Lindung (Ha) 1 Ciujung 880 2 Ciberang 880 3 Cisimeut 560 4 Cidurian 340 5 Cibeureum 160 6 Cicinta 60 7 Ciliman 340 8 Cibaliung 400 9 Cibinuangeun 220 10 Cilangkahan 180 11 Cihara 560 12 Cisiih 200 13 Cimancek 120 14 Cipager 80 15 Cimadur 240 16 Cidikt 1120 17 Cibareno 320 18 Cisawarna 140 19 Cipamungbulan 80 Jumlah 5.880 Sumber: Dinas Kehutanan Kabupaten Lebak, 2008 3) Kawasan suaka alam dan cagar budaya, terdiri dari : Taman nasional (luas cakupan sebesar 16.380 ha), adalah kawasan pelestarian alam yang di dalamnya terdapat jenis-jenis tumbuhan, satwa atau ekosistem yang khas, yang dikelola dengan sistem zonasi yang dimanfaatkan untuk tujuan pengembangan ilmu pengetahuan, pendidikan, pariwisata dan rekreasi. Perlindungan terhadap taman nasional dilakukan untuk menjamin berlangsungnya fungsi perlindungan sistem penyangga kehidupan, pengawetan keanekaragaman jenis tumbuhan dan satwa, serta pemanfaatan secara lestari sumber daya alam hayati dan ekosistemnya, untuk pengembangan pendidikan, rekreasi dan pariwisata, serta peningkatan kualitas lingkungan sekitarnya dan perlindungan dari pencemaran. Taman nasional yang terdapat di Kabupaten Lebak adalah Taman Nasional Gunung Halimun-Salak, yang berada di wilayah II - 6

Kecamatan Cipanas, Lebakgedong, Sobang, Muncang dan Cibeber dengan luas 16.380 ha (5,71 % dari luas total Kabupaten Lebak). Kawasan cagar budaya, adalah cagar budaya Masyarakat Baduy dengan luas sebesar 5.102 ha atau 1,79% dari luas total Kabupaten Lebak. Kawasan cagar budaya adalah kawasan yang merupakan lokasi atau bangunan hasil budaya manusia yang bernilai tinggi maupun bentukan geologi alami yang khas. Perlindungan terhadap kawasan cagar budaya dilakukan untuk melindungi kekayaan budaya bangsa berupa peninggalanpeninggalan sejarah dari ancaman kepunahan yang disebabkan oleh kegiatan alam maupun manusia. Kriteria kawasan lindung untuk kawasan cagar budaya adalah tempat serta ruang di sekitar bangunan bernilai budaya situs purbakala dan kawasan dengan bentukan geologi tertentu yang mempunyai manfaat tinggi untuk pengembangan ilmu pengetahuan. Kawasan Ilmu Pengetahuan, diperuntukkan bagi kegiatan yang melindungi atau melestarikan budaya bangsa dan pengembangan ilmu pengetahuan. Kawasan yang diperuntukan untuk kawasan Ilmu pengetahuan terdapat di sekitar wilayah pertambangan bersyarat. Sesuai dengan lokasinya diharapkan kawasan ilmu pengetahuan yang akan dikembangkan adalah Ilmu Pengetahuan berbasis pertambangan. Sebagai ilustrasi, salah satu jenis sebaran rencana pengelolaan kawasan lindung di Kabupaten Lebak, dapat dilihat pada gambar 2.2. berikut ini : II - 7

Gambar 2.2 Peta Rencana Kawasan Lindung Kabupaten Lebak BATAS WILAYAH BATAS KECAMATAN JALAN NASIONAL. JALAN PROPINSI JALAN KABUPATEN JALAN KERETA API GARIS LAUT KAWASAN RESAPAN AIR KAWASAN SEMPADAN MATA AIR KAWASAN SEMPADAN MATA AIR PANAS KAWASAN HUTAN LINDUNG JALAN SUNGAI KAWASAN SEMPADAN PANTAI KAWASAN BADUY KAWASAN RAWAN BENCANA KAWASAN ZONA MILITER Sumber: Revisi RTRW Kabupaten Lebak Tahun 2007-2027 Luas kawasan Lindung atau kawasan yang mempunyai fungsi lindung di Kabupaten Lebak mencapai 31,93%. Luasan tersebut sangat proporsional untuk suatu wilayah dalam menjaga daya dukung lingkungan. Kondisi tersebut sesuai juga dengan amanat Undang-undang Nomor 26 Tahun 2007 tentang Penataan Ruang, dimana suatu wilayah diharapkan mempunyai persentase luasan kawasan lindung sebesar 30%. Namun demikian, perlu kita sadari bahwa sampai saat ini pengelolaan kawasan lindung secara menyeluruh belum dapat dilaksanakan secara optimal, dikarenakan beberapa hal antara lain belum tersedianya database kawasan lindung secara komprehensif dan detail sehingga diperlukan inventarisasi dan pemetaan. Hal ini perlu dilakukan dalam rangka mengantisipasi konflik kepentingan lahan, memelihara dan menjaga secara kualitas dan kuantitas kawasan lindung serta memberikan II - 8

kepastian status luas lahan dan batas yang jelas. Selain itu, kawasan lindung (di luar kawasan hutan) mempunyai nilai ekonomi sehingga mendorong masyarakat untuk mengeksploitasi (termasuk aktifitas pertanian) terlebih bagi yang tidak memiliki lahan. Grafik 2.1 Prosentase Rencana Pola Pemanfaatan Ruang Kawasan yang memberikan perlindungan pada kawasan bawahannya 17,66% 20,97% 7,06% 3,48% Kawasan perlindungan setempat Kawasan Suaka alam & cagar budaya 50,41% 0,43% Kawasan Rawan Becana Pertanian Sumber : Bappeda Kabupaten Lebak 2007. Bila merujuk pada alokasi penggunaan lahan di atas, maka Kabupaten Lebak telah memenuhi amanat Undang-Undang Nomor 26 Tahun 2007 tentang Penataan Ruang yang mensyaratkan bagi suatu wilayah untuk memiliki persentase kawasan lindung setidaknya 30% sehingga diharapkan daya dukung lingkungan akan terjaga. Grafik 2.1 juga menunjukkan bahwa sektor pertanian masih menjadi primemover bagi pengembangan wilayah, dibuktikan melalui pengalokasian penggunaan lahan yang mencapai 50% dari total luas kabupaten. Hal ini cukup beralasan, mengingat potensi pertanian yang ada di Kabupaten Lebak tersebar hampir di setiap kecamatan. Sektor non pertanian yang cukup menonjol di Kabupaten Lebak adalah sektor industri, pertambangan, dan pariwisata. Kawasan industri diarahkan pengembangannya di Kecamatan Rangkasbitung dan Maja yang memiliki potensi untuk tumbuh berkembangnya aglomerasi industri. Adapun kawasan pertambangan masih mengandalkan pada potensi penambangan emas di Kecamatan Cibeber, serta pertambangan batu bara dan bahan galian golongan A maupun golongan B di Kecamatan Bojongmanik, Banjarsari, Panggarangan dan Bayah. Sementara potensi II - 9

pariwisata yang diandalkan adalah pariwisata alam pantai, terutama di Kecamatan Malingping, Panggarangan, dan Bayah, serta potensi pariwisata budaya yang dapat ditemui pada masyarakat adat Cisungsang dan Citorek, serta masyarakat Baduy. Potensi wisata budaya lain yang cukup menjanjikan adalah beberapa peninggalan bersejarah seperti situs Kosala dan Cibedug. Berdasarkan deskripsi karakteristik wilayah, dapat diindentifikasi wilayah yang berpotensi rawan bencana alam, yaitu 1) zonasi kerentanan gerakan tanah, maka kawasan rawan bencana alam di Kabupaten Lebak diidentifikasi seluas 1.300 ha (0,95 % dari luas total Kabupaten Lebak). Adapun sebaran kawasan rawan bencana alam terdapat di Kecamatan Cipanas, Kecamatan Bayah, Kecamatan Bojongmanik, dan Kecamatan Leuwidamar. Pada kawasan dengan kerentanan gerakan tanah menengah dan tinggi, sebagaimana yang banyak terdapat di Kabupaten Lebak masih dimungkinkan adanya kantung-kantung daerah layak huni akan tetapi alangkah lebih baik bila kawasan seperti ini mendapat penelitian geologi teknik yang lebih rinci apabila akan dimanfaatkan; 2) Kawasan Rawan Banjir, Kawasan rawan bencana banjir sedapat mungkin tidak dipergunakan untuk permukiman, demikian pula kegiatan lain yang dapat merusak atau mempengaruhi kelancaran sistem drainase. Berdasarkan fakta di lapangan menunjukkan bahwa hampir seluruh wilayah Kabupaten Lebak rawan terhadap bencana banjir, terutama di wilayah-wilayah sekitar bantaran sungai dan wilayah pantai. Jumlah penduduk Kabupaten Lebak pada tahun 2009 mencapai angka 1.212.117 jiwa dengan sex ratio sebesar 104,65. Berdasarkan hasil Sensus Penduduk tahun 2010 tercatat bahwa penduduk Kabupaten Lebak berjumlah 1.204.095 jiwa dengan rincian 619.052 laki-laki dan 585.043 perempuan. Mencermati perkembangan jumlah penduduk dalam sebelas tahun terakhir yang membentuk pola kuadratis (lihat Gambar 2.3) dengan laju pertumbuhan rata-rata sebesar 1,84%, jumlah penduduk pada tahun tahun 2011 diperkirakan berjumlah 1.226.250 jiwa dan akan mencapai 1.248.813 jiwa pada tahun 2012. II - 10

Gambar 2.3 Jumlah Penduduk Kabupaten Lebak Tahun 2000-2010 Sumber : Lebak Dalam Angka Tahun 2001-2010 Berdasarkan hasil Sensus Penduduk tahun 2010, distribusi penduduk Kabupaten Lebak masih belum merata. Kecamatan Rangkasbitung masih menjadi tujuan utama penduduk untuk tinggal dan berusaha (9,69%), berikutnya Kecamatan Malingping (5,11%) dari total penduduk kabupaten. Gambaran ini menunjukkan adanya daya tarik yang lebih kuat di pusat-pusat wilayah pertumbuhan, khususnya di bagian utara dan selatan kabupaten. Selengkapnya mengenai distribusi penduduk untuk masing-masing kecamatan pada tahun 2010 dapat dilihat pada gambar 2.5 berikut : II - 11

Gambar 2.4 Jumlah Penduduk Kabupaten Lebak Dirinci Menurut Kecamatan Tahun 2010 RANGKASBITUNG MALINGPING CIMARGA CIBADAK BANJARSARI CIBEBER WARUNGGUNUNG WANASALAM MAJA LEUWIDAMAR CILELES CIKULUR SAJIRA CIPANAS BAYAH PANGGARANGAN GUNUNGKENCANA KALANGANYAR CILOGRANG MUNCANG CURUGBITUNG CIHARA SOBANG CIJAKU CIRINTEN LEBAKGEDONG BOJONGMANIK CIGEMBLONG - 20.000 40.000 60.000 80.000 100.000 120.000 Sumber : Lebak Dalam Angka Tahun 2010 Jika dilihat dari kepadatan penduduk, Kecamatan Rangkasbitung memiliki kepadatan penduduk jauh lebih besar dibanding kecamatan lain, secara terperinci dapat dilihat pada tabel berikut : II - 12

Tabel 2.4 Kepadatan Penduduk Kabupaten Lebak Dirinci Menurut Kecamatan (jiwa/km 2 ) Tahun 2009-2012 No Kecamatan 2009 *) 2010 **) 2011 ***) 2012 ***) 1 Malingping 675 667 680 692 2 Wanasalam 381 382 389 396 3 Panggarangan 229 294 208 212 4 Cihara 200 196 200 204 5 Bayah 257 265 270 275 6 Cilograng 299 296 301 307 7 Cibeber 141 142 144 147 8 Cijaku 305 294 300 305 9 Cigemblong 367 335 341 347 10 Banjarsari 401 395 402 410 11 Cileles 390 374 380 387 12 Gunungkencana 237 224 228 232 13 Bojongmanik 297 295 301 306 14 Cirinten 332 319 325 331 15 Leuwidamar 345 343 350 356 16 Muncang 386 372 379 386 17 Sobang 272 265 269 274 18 Cipanas 518 516 526 536 19 Lebakgedong 381 430 438 446 20 Sajira 438 418 425 433 21 Cimarga 345 332 338 345 22 Cikulur 712 706 719 732 23 Warunggunung 1.021 1.056 1.075 1.095 24 Cibadak 1.356 1.404 1.430 1.457 25 Rangkasbitung 2.238 2.339 2.383 2.426 26 Kalanganyar 1.189 1.251 1.275 1.298 27 Maja 820 844 859 875 28 Curugbitung 434 414 422 429 JUMLAH 398 395 403 410 Sumber : *) Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil, 2009 **) Lebak Dalam Angka, BPS, 2010 ***) Jumlah perkiraan penduduk Kabupaten Lebak merupakan wilayah dengan dominasi aktivitas pertanian, dengan luas lahan pertanian (50% dari total luas wilayah), selain itu didukung pula oleh komposisi penduduk yang mayoritas bekerja di sektor pertanian. Terbukti bahwa II - 13

hingga tahun 2010, penduduk yang bekerja di sektor ini mencapai 53,68%. Sementara sektor perdagangan, hotel, dan restoran dijadikan tumpuan harapan hidup oleh 76.376 penduduk (16,08% dari total tenaga kerja) sebagaimana terlihat pada gambar berikut ini : Gambar 2.5 Penduduk Usia 10 Tahun Ke atas Yang Bekerja Menurut Lapangan Pekerjaan Utama Tahun 2010 7,31% 0,54% 16,08% 9,44% pertanian pertambangan & penggalian industri pengolahan listrik, gas & air minum 53,68% bangunan/konstruksi perdagangan, hotel & restoran 4,52% 0,28% 5,51% 2,64% angkutan & komunikasi bank & lembaga keuangan jasa-jasa Sumber : Lebak Dalam Angka Tahun 2010 2.2. Aspek Kesejahteraan Masyarakat 2.2.1. Fokus Kesejahteraan dan Pemerataan Ekonomi Kabupaten Lebak merupakan daerah yang memiliki potensi dalam pengembangan Agroindustri dan Agronomi karena sebagian besar mata pencahariaan masyarakat berada pada sektor pertanian. Dukungan sumberdaya alam yang berlimpah serta kondisi iklim yang memiliki curah hujan merata merupakan keunggulan komparatif dalam penguatan sektor pertanian sebagai sektor basis dalam perekonomian daerah. Namun lemahnya kualitas sumber daya manusia dan rendahnya kemampuan fiskal daerah serta belum tersebarnya pengetahuan teknologi tepat guna, membuat laju pertumbuhan ekonomi di Kabupaten Lebak cenderung mengalami perlambatan secara komprehensif. II - 14

Berikut adalah capaian indikator ekonomi makro di Kabupaten Lebak Tahun 2008 berdasarkan produktivitas masing-masing Kecamatan yang akan ditampilkan dalam Tabel 2.5 berikut. Tabel 2.5 Capaian Indikator Ekonomi Makro per Kecamatan di Kabupaten Lebak Tahun 2008 No. KECAMATAN PDRB (Rp) LPE (%) 1. Rangkasbitung 960.493-15,79 2. Malingping 373.183 1,51 3. Banjarsari 373.037 1,55 4. Wanasalam 350.993 1,49 5. Cibeber 332.911 4,60 6. Cibadak 278.049 1,67 7. Cileles 264.821 0,86 8. Cipanas 245.912-26,60 9. Cimarga 242.230 1,78 10. Warunggunung 238.872 1,94 11. Bayah 233.728 4,68 12. Kalanganyar 228.825-13. Leuwidamar 223.843 2,60 14. Sajira 216.169 1,98 15. Cikulur 207.368 2,01 16. Maja 206.338 3,26 17. Cilograng 178.904 2,44 18. Panggarangan 177.372-39,05 19. Gunungkencana 176.036 1,24 20. Curugbitung 166.676 3,20 21. Cijaku 154.581-44,63 22. Muncang 133.917 3,08 23. Cigemblong 130.018-24. Cihara 114.129-25. Sobang 103.407 4,30 26. Cirinten 101.671-27. Lebakgedong 101.018-28. Bojongmanik 90.503-50,81 Sumber: PDRB Bappeda Kab. Lebak II - 15

Capaian kinerja perekonomian daerah berdasarkan kewilayahan di atas merupakan ukuran kinerja ekonomi makro yang dicapai oleh Pemerintah Kabupaten Lebak secara agregatif. Berdasarkan kontribusi sektoralnya akan digambarkan oleh Tabel 2.6 berikut : II - 16

Tabel 2.6 Nilai dan Kontribusi Sektor dalam PDRB Tahun 2004-2008 Atas Dasar Harga Konstan Tahun 2000 Kabupaten Lebak No Sektor 2004 2005 2006 2007 2008 (Rp) % (Rp) % (Rp) % (Rp) % (Rp) % 1. Pertanian 1.249.502 39,41 1.291.646 39,27 1.294.831 38,16 1.351.926 37,99 1.402.893 37,88 2. Pertambangan & penggalian 38.042 1,20 40.868 1,24 41.332 1,22 45.711 1,28 46.955 1,27 3. Industri Pengolahan 302.108 9,53 316.631 9,63 332.460 9,80 346.840 9,75 354.578 9,57 4. Listrik, gas & air bersih 11.090 0,35 12.299 0,37 14.177 0,42 14.733 0,41 15.119 0,41 5. Konstruksi 121.101 3,82 127.911 3,89 135.931 4,01 154.346 4,34 158.214 4,27 6. Perdagangan, hotel & restoran 727.717 22,95 753.459 22,91 778.392 22,94 818.916 23,01 856.074 23,11 7. Pengangkutan & komunikasi 175.087 5,52 185.885 5,65 203.623 6,00 214.826 6,04 225.103 6,08 8. Keuangan, sewa & jasa Perusahaan 151.819 4,79 154.291 4,69 158.608 4,67 164.335 4,62 166.959 4,51 9. Jasa-Jasa 394.065 12,43 406.225 12,35 433.423 12,77 447.399 12,57 477.770 12,90 Sumber: PDRB Bappeda Kab. Lebak 2009 PDRB 3.170.531 100 3.289.215 100 3.392.776 100 3.559.032 100 3.703.665 100 Kinerja ekonomi makro yang baik dapat terukur melalui laju pertumbuhan ekonomi yang dicapai oleh suatu daerah. Berdasarkan kontribusinya, sektor pertanian merupakan kontributor terbesar dalam output daerah dan sektor listrik, gas dan air bersih adalah kontributor terkecil dalam perekonomian daerah. Hal ini terjadi karena Kabupaten Lebak merupakan wilayah yang didominasi oleh sektor pertanian namun dalam penyedia sumberdaya energi masih terbatas akibat keterbatasan fiskal serta kondisi pengetahuan masyarakat dalam pemanfaatan sumberdaya dan energi. II - 17

Tabel 2.7 Nilai dan Kontribusi Sektor dalam PDRB Tahun 2004 2008 Atas Dasar Harga Berlaku Kabupaten Lebak No Sektor 2004 2005 2006 2007 2008 (Rp) % (Rp) % (Rp) % (Rp) % (Rp) % 1. Pertanian 1.633.527 38,91 1.869.235 38,39 2.001.375 36,80 2.192.697 36,37 2.381.827 35,29 2. Pertambangan & penggalian 55.353 1,32 66.442 1,36 73.140 1,35 86.121 1,43 90.149 1,34 3. Industri Pengolahan 404.276 9,63 460.063 9,45 522.676 9,61 589.329 9,77 644.493 9,55 4. Listrik, gas & air bersih 22.005 0,52 26.969 0,55 32.755 0,60 35.671 0,59 38.311 0,57 5. Konstruksi 156.946 3,74 188.336 3,87 217.252 4,00 253.696 4,21 282.803 4,19 6. Perdagangan, hotel & restoran 939.297 22,37 1.105.975 22,71 1.239.495 22,79 1.398.841 23,20 1.630.522 24,16 7. Pengangkutan & komunikasi 301.836 7,19 397.987 8,17 505.813 9,30 546.891 9,07 645.434 9,56 8. Keuangan, sewa & jasa Perusahaan 202.340 4,82 227.499 4,67 252.721 4,65 280.442 4,65 304.388 4,51 9. Jasa-Jasa 483.023 11,50 526.671 10,82 592.672 10,90 645.698 10,71 732.009 10,84 Sumber: PDRB Bappeda Kab. Lebak 2009 PDRB 4.198.603 100 4.869.177 100 5.437.900 100 6.029.385 100 6.749.934 100 II - 18

Tabel 2.8 Perkembangan Kontribusi Sektor dalam PDRB Tahun 2004 2008 Atas Dasar Harga Berlaku (Hb) dan Harga Konstan (Hk) Kabupaten Lebak 2004 2005 2006 2007 2008 No Sektor Hb Hk Hb Hk Hb Hk Hb Hk Hb Hk % % % % % % % % % % 1. Pertanian 38,91 39,41 38,39 39,27 36,80 38,16 36,37 37,99 35,29 37,88 2. Pertambangan & penggalian 1,32 1,20 1,36 1,24 1,35 1,22 1,43 1,28 1,34 1,27 3. Industri Pengolahan 9,63 9,53 9,45 9,63 9,61 9,80 9,77 9,75 9,55 9,57 4. Listrik, gas & air bersih 0,52 0,35 0,55 0,37 0,60 0,42 0,59 0,41 0,57 0,41 5. Konstruksi 3,74 3,82 3,87 3,89 4,00 4,01 4,21 4,34 4,19 4,27 6. Perdagangan, hotel & restoran 22,37 22,95 22,71 22,91 22,79 22,94 23,20 23,01 24,16 23,11 7. Pengangkutan & komunikasi 7,19 5,52 8,17 5,65 9,30 6,00 9,07 6,04 9,56 6,08 8. Keuangan, sewa & jasa Perusahaan 4,82 4,79 4,67 4,69 4,65 4,67 4,65 4,62 4,51 4,51 9. Jasa-Jasa 11,50 12,43 10,82 12,35 10,90 12,77 10,71 12,57 10,84 12,90 Sumber: PDRB Bappeda Kab. Lebak 2009 PDRB 100,00 100,00 100,00 100,00 100,00 100,00 100,00 100,00 100,00 100,00 Kinerja ekonomi makro di Kabupaten Lebak mengalami transformasi secara struktural. Kontribusi sektor pertanian yang tinggi, tidak dibarengi dengan peningkatan laju pertumnbuhan ekonomi yang positif karena kondisi inflasi, ketidakstabilan iklim, konvensi lahan serta benefit yang minim bagi para petani akibat rendahnya peranan lembaga keuangan yang berpihak kepada petani. II - 19

Tabel 2.9 Pertumbuhan dan Kontribusi Sektor dan PDRB atas Dasar Harga Berlaku (Hb) dan Harga Konstan (Hk) Tahun 2004-2008 Kabupaten Lebak Pertumbuhan No Sektor Hb Hk % % 1. Pertanian 9,52 3,12 2. Pertambangan & penggalian 13,59 5,86 3. Industri pengolahan 12,39 4,24 4. Listrik, gas & air bersih 16,19 8,58 5. Konstruksi 14,07 5,94 6. Perdagangan, hotel & restoran 13,97 4,31 7. Pengangkutan & komunikasi 19,52 6,43 8. Keuangan, sewa & jasa perusahaan 10,06 2,24 9. Jasa-jasa 10,67 4,55 PDRB 12,00 3,98 Sumber: PDRB Bappeda Kab. Lebak Berdasarkan kondisi perekonomian masing-masing wilayah di Kabupaten Lebak, terdapat 15 Kecamatan dari 28 Kecamatan di Kabupaten Lebak yang memiliki kemampuan ekonomi di bawah standar capaian perekonomian Kabupaten. Hal ini terjadi dikarenakan rendahnya kemampuan fiskal daerah, minimnya tingkat infrastruktur, inflasi, rendahnya tingkat pendidikan dan pengetahuan berbasis skill serta dukungan yang sangat rendah dari lembaga keuangan yang seharusnya mampu mendorong percepatan investasi dalam menunjang kewirausahaan di Kabupaten Lebak. II - 20

Tabel 2.10 Perkembangan PDRB Kecamatan-Kecamatan di Kabupaten Lebak Tahun 2005-2009 atas Dasar Harga Konstan dan Harga Berlaku PDRB No Kecamatan 2005 2006 2007 2008 2009 Hb Hk Hb Hk Hb Hk Hb Hk Hb Hk 1. Rangkasbitung 793.125 514.209 923.177 545.086 1.043.225 581.694 960.492 489.858 1.008.526 503.431 2. Malingping 287.222 194.011 315.665 196.915 343.164 201.301 373.183 204.341 402.970 216.049 3. Banjarsari 302.380 199.178 321.663 196.790 348.590 201.467 373.037 204.583 398.108 213.806 4. Wanasalam 265.510 185.483 292.533 189.730 313.236 191.783 350.992 194.641 382.106 211.151 5. Cibeber 245.586 169.468 249.801 161.217 288.147 177.057 332.910 185.199 360.621 196.963 6. Cibadak 206.027 141.416 233.681 148.690 254.147 152.183 278.049 154.717 300.247 161.478 7. Cileles 208.164 138.984 228.987 143.226 249.708 147.359 264.820 148.624 289.100 156.189 8. Cipanas 252.418 173.537 287.786 182.852 308.100 186.145 245.912 136.628 270.343 142.403 9. Cimarga 172.249 115.847 207.290 129.088 220.910 130.462 242.230 132.781 272.918 145.251 10. Warunggunung 179.632 118.660 197.105 118.549 216.354 123.713 238.872 126.119 264.703 139.631 11. Bayah 186.018 129.332 188.674 120.815 209.832 125.400 233.728 131.264 257.735 138.145 12. Kalanganyar - - - - - - 228.824 117.710 258.235 129.299 13. Leuwidamar 169.984 114.434 184.461 113.866 201.343 117.543 223.842 120.596 254.642 132.792 14. Sajira 169.688 113.422 181.382 110.476 196.247 113.397 216.168 115.639 233.152 120.616 15. Cikulur 162.745 111.342 171.562 108.353 188.923 112.342 207.367 114.596 226.672 120.730 16. Maja 142.357 97.986 162.828 103.784 184.835 110.675 206.338 114.281 230.039 121.639 17. Cilograng 124.846 86.734 147.436 95.156 162.842 99.145 178.904 101.559 198.887 108.908 18. Panggarangan 223.403 153.688 253.186 161.799 274.478 165.275 177.372 100.739 205.225 109.639 19. Gunungkencana 147.832 98.912 153.605 96.691 167.758 99.882 176.035 101.121 197.604 107.637 20. Curugbitung 106.181 73.107 135.631 86.880 149.996 90.645 166.675 93.550 187.493 99.359 21. Cijaku 217.074 147.029 249.453 157.844 266.628 158.856 154.581 87.957 173.548 94.783 22. Muncang 93.000 64.495 106.705 68.728 120.994 73.371 133.916 75.632 157.063 83.837 23. Cigemblong - - - - - - 130.017 73.980 148.438 80.776 24. Cihara - - - - - - 114.129 64.820 133.023 70.751 25. Sobang 72.526 50.516 82.614 53.346 92.387 56.208 103.407 58.626 124.350 66.395 26. Cirinten - - - - - - 101.670 57.557 125.855 63.536 27. Lebakgedong - - - - - - 101.017 56.125 120.160 66.177 II - 21

PDRB No Kecamatan 2005 2006 2007 2008 2009 Hb Hk Hb Hk Hb Hk Hb Hk Hb Hk 28. Bojongmanik 141.185 97.420 160.924 103.063 172.097 104.151 90.502 51.234 114.962 58.337 29. Standar Kabupaten 5.437.899 3.392.776 6.029.385 3.559.031 6.749.770 3.703.579 7.277.783 3.855.539 Tabel 2.11 Nilai dan Kontribusi Sektor dalam PDRB Tahun 2004-2008 Atas Dasar Harga Konstan 2000 Kabupaten Lebak 2004 2005 2006 2007 2008 No Sektor (Rp) % (Rp) % (Rp) % (Rp) % (Rp) % 1. Pertanian 1.249.502 39,41 1.291.646 39,27 1.294.831 38,16 1.351.926 37,99 1.402.893 37,88 2. Pertambangan & penggalian 38.042 1,20 40.868 1,24 41.332 1,22 45.711 1,28 46.955 1,27 3. Industri Pengolahan 302.108 9,53 316.631 9,63 332.460 9,80 346.840 9,75 354.578 9,57 4. Listrik, gas & air bersih 11.090 0,35 12.299 0,37 14.177 0,42 14.733 0,41 15.119 0,41 5. Konstruksi 121.101 3,82 127.911 3,89 135.931 4,01 154.346 4,34 158.214 4,27 6. Perdagangan, hotel & restoran 727.717 22,95 753.459 22,91 778.392 22,94 818.916 23,01 856.074 23,11 7. Pengangkutan & komunikasi 175.087 5,52 185.885 5,65 203.623 6,00 214.826 6,04 225.103 6,08 8. Keuangan, sewa & jasa Perusahaan 202.340 4,79 227.499 4,69 252.721 4,67 280.442 4,62 304.388 4,51 9. Jasa-Jasa 483.023 12,43 526.671 12,35 592.672 12,77 645.698 12,57 732.009 12,90 Sumber: PDRB Bappeda Kab. Lebak 2009 PDRB 4.198.603 100 4.869.177 100 5.437.900 100 6.029.385 100 6.749.934 100 II - 22

Proyeksi PDRB Kabupaten Lebak menggunakan asumsi inflasi rata-rata per-tahun sebesar 4,01% dengan laju pertumbuhan ekonomi rata-rata per-tahun 4,29%. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada tabel 2.11 dan 2.12 di bawah ini. Tabel 2.12 Proyeksi PDRB Atas Dasar Harga Berlaku di Kabupaten Lebak Tahun 2009-2014 (Juta Rupiah) No. Lapangan Usaha 2009* 2010** 2011*** 2012*** 2013*** 2014*** 1 Pertanian 2.506.144,81 2.636.314,69 2.787.195,30 3.021.386,54 3.255.551,81 3.525.182,19 2 Pertambangan dan Penggalian 100.954,12 102.747,64 113.108,13 124.194,67 132.276,83 139.584,69 3 Industri Pengolahan 673.476,02 690.331,08 730.672,14 799.694,92 859.387,82 927.132,03 4 Listrik, Gas dan Air Bersih 41.004,54 43.039,88 45.902,15 50.318,63 54.917,13 60.413,24 5 Bangunan dan Kontruksi 294.639,43 303.666,91 329.465,16 364.046,22 396.096,40 438.356,09 6 Perdagangan, Hotel dan Restoran 1.844.291,25 1.998.502,02 2.188.928,08 2.552.179,21 2.912.099,74 3.370.016,77 7 Pengangkutan dan Komunikasi 721.926,93 763.291,71 831.552,53 973.417,26 1.105.041,06 1.262.527,78 8 Keuangan, Persewaan dan jasa Perusahaan 326.402,55 345.654,04 364.642,00 400.623,09 433.226,70 473.526,81 9 Jasa-jasa 770.885,05 822.369,03 886.187,53 982.080,82 1.066.275,06 1.173.484,16 *) Angka Perbaikan **) Angka Sementara ***) Angka Proyeksi Sumber : BPS Kab. Lebak Jumlah 7.279.724,71 7.705.916,99 8.277.653,02 9.267.941,37 10.214.872,55 11.368.223,77 Proyeksi PDRB di Kabupaten Lebak dalam kurun waktu 2009-2014 diharapkan mengalami peningkatan yang signifikan sebagai bukti optimisme perekonomian daerah dan upaya pemerintah dalam melakukan perbaikan perekonomian pasca krisis global. Dalam struktur perekonomian daerah, II - 23

pemerintah Kabupaten Lebak masih memiliki keyakinan bahwa sector pertanian sebagai leading sector yang dapat memberikan konstribusi dominan dibandingkan dengan sektor lainnya. Hal ini dijadikan asumsi dasar mengingat sektor pertanian didukung oleh kondisi geografis dan sumber daya yang potensial. Tabel 2.13 Proyeksi PDRB Atas Dasar Harga Konstan di Kabupaten Lebak Tahun 2009-2014 (Juta Rupiah) No. Lapangan Usaha 2009* 2010** 2011*** 2012*** 2013*** 2014*** 1 Pertanian 1.464.061,00 1.523.632,80 1.579.093,04 1.642.620,40 1.729.345,75 1.827.409,26 2 Pertambangan dan Penggalian 52.856,00 52.414,74 56.419,22 59.537,99 62.029,26 64.590,66 3 Industri Pengolahan 360.131,00 371.315,18 385.647,94 369.615,39 410.854,61 424.617,91 4 Listrik, Gas dan Air Bersih 15.721,00 16.348,78 17.020.72 17.854,90 18.865,93 20.039,81 5 Bangunan dan Kontruksi 162.947,00 168.107,95 177.975,89 186.598,77 197.094,17 209.141,47 6 Perdagangan, Hotel dan Restoran 899.394,00 945.987,07 1.003.219,28 1.068.514,52 1.141.538,86 1.226.108,20 7 Pengangkutan dan Komunikasi 237.915,00 247.885,39 263.576,53 281.517,59 299.672,85 371.485,83 8 Keuangan, Persewaan dan jasa Perusahaan 172.231,00 177.741,47 182.736,01 188.319,58 195.081,38 203.310,96 9 Jasa-jasa 494.555,00 516.104,65 544.077,52 575.774,92 607.557,69 645.742,52 *) Angka Perbaikan **) Angka Sementara ***) Angka Proyeksi Sumber : BPS Kab. Lebak Jumlah 3.855.293,11 4.019.538,03 4.209.766,15 4.417.354,06 4.662.040,50 4.938.719,90 II - 24

Laju Pertumbuhan Ekonomi (LPE) Kabupaten Lebak Tahun 2004-2008 berada pada kondisi yang fluktuatif akibat dampak negatif yang ditimbulkan oleh krisis global pada pertengahan tahun 2008. Akan tetapi, Pemerintah Kabupaten Lebak masih mampu mempertahankan perekonomian di Kabupaten Lebak secara positif. Secara lebih lengkap perkembangan LPE Kabupaten Lebak periode Tahun 2004-2008 dapat dilihat pada tabel di bawah ini. Tabel 2.14 Laju Pertumbuhan Ekonomi Kabupaten Lebak Tahun 2004-2008 (%) No. Lapangan Usaha 2004 2005 2006 2007 2008 1 Pertanian 3,79 3,37 0,25 4,41 3,77 2 Pertambangan dan Penggalian 7,42 7,43 1,13 10,60 2,72 3 Industri Pengolahan 4,85 4,81 5,00 4,33 2,23 4 Listrik, Gas dan Air Bersih 10,17 10,90 15,27 3,93 2,62 5 Bangunan dan Kontruksi 1,73 5,62 6,27 13,55 2,51 6 Perdagangan, Hotel dan Restoran 4,96 3,54 3,31 5,21 4,54 7 Pengangkutan dan Komunikasi 6,16 6,17 9,54 5,50 4,78 8 Keuangan, Persewaan dan jasa Perusahaan 1,55 1,63 2,80 3,61 7,60 9 Jasa-jasa 2,98 3,09 6,70 3,22 6,79 LPE Kabupaten 4,06 3,74 3,15 4,90 4,06 Sumber : PDRB Kabupaten Lebak 2003-2008 (BPS Kab. Lebak) Laju pertumbuhan pada tahun 2008 paling tinggi dari lapangan usaha sektor keuangan, persewaan dan jasa perusahaan sebesar 7,60%, sedangkan yang terendah dari lapangan usaha sektor industri pengolahan sebesar 2,23%. II - 25

Tabel 2.15 Proyeksi Laju Pertumbuhan Ekonomi Kabupaten Lebak Tahun 2009-2014 (%) No. Lapangan Usaha 2009* 2010** 2011*** 2012*** 2013*** 2014*** 1 Pertanian 4,36 4,07 3,64 4,02 5,28 5,67 2 Pertambangan dan Penggalian 12,77 0,83 7,64 5,53 4,18 4,13 3 Industri Pengolahan 1,57 3,11 3,86 2,84 3,59 3,35 4 Listrik, Gas dan Air Bersih 3,98 3,99 4,11 4,90 5,66 6,22 5 Bangunan dan Kontruksi 2,99 3,17 5,87 4,84 5,62 6,25 6 Perdagangan, Hotel dan Restoran 5,06 5,18 6,05 6,51 6,83 7,41 7 Pengangkutan dan Komunikasi 3,69 4,19 6,33 6,81 6,45 5,94 Keuangan, Persewaan dan jasa 8 Perusahaan 3,16 3,20 2,81 3,06 3,59 4,22 9 Jasa-jasa 3,51 4,36 5,42 5,83 5,52 6,28 LPE Kabupaten 4,10 4,14 4,22 4,28 4,33 4,64 Sumber : BPS Kab. Lebak * : Angka Perbaikan ** : Angka Sementara *** : Angka Proyeksi Proyeksi Laju Pertumbuhan Ekonomi (LPE) Kabupaten Lebak Tahun 2009-2014 ditentukan melalui asumsi dasar produktivitas perekonomian daerah. Transformasi struktur perekonomian di Kabupaten Lebak dalam kurun waktu 2009-2014 didominasi oleh sektor tersier kemudian disusul sektor primer dan sektor sekunder. Hal ini terjadi sebagai akibat perpindahan tenaga kerja dari sektor primer ke sektor tersier secara natural. Secara garis besar pertumbuhan PDRB Kabupaten Lebak tahun 2004-2008 menunjukan pertumbuhan positif, PDRB perkapita penduduk Lebak pada tahun 2008 mencapai angka 3,01 juta (ADHK) dan 5,54 juta (ADHB), dimana angka ini terus mengalami peningkatan tiap tahunnya. Hal ini mengindikasikan adanya perubahan peningkatan kesejahteraan penduduk, yang idealnya peningkatan PDRB perkapita selalu di atas nilai inflasi. Adapun nilai PDRB perkapita selama kurun waktu 5 tahun terakhir dapat dilihat pada grafik berikut. II - 26

Grafik 2.2 PDRB Per Kapita Kabupaten Lebak Tahun 2004-2008 6.000.000 Sumber : PDRB Kabupaten Lebak 2003-2008 (BPS Kab. Lebak) 5.000.000 * : Angka sementara ** : Angka sangat sementara 4.982.349 4.000.000 4.543.320 4.151.754 5.467.929 3.000.000 2.000.000 3.653.405 2.758.830 2.804.583 2.834.636 2.940.987 3.000.233 1.000.000 0 2004 2005 2006 2007* 2008** PDRB per kapita adh Berlaku PDRB per kapita adh Konstan Sumber : PDRB Kabupaten Lebak 2003-2008 (BPS Kab. Lebak) Adapun proyeksi PDRB perkapita untuk tahun perencanaan 2009-2014, baik atas dasar harga berlaku maupun atas dasar harga konstan dapat dilihat pada tabel 2.16. Tabel 2.16 Proyeksi PDRB Per Kapita Kabupaten Lebak Tahun 2009 2014 No Uraian 2009 2010 2011 2012 2013 2014 1 PDRB per kapita adh Berlaku 5.782.640 6.399.758 6.767.195 7.458.429 8.092.065 8.865.052 2 PDRB per Kapita adh Konstan 3.062.447 3.338.223 3.441.592 3.554.891 3.693.167 3.851.262 Sumber : PDRB Kabupaten Lebak Tahun 209-2014 (BPS Kab. Lebak) Perubahan struktur perekonomian suatu daerah dapat dilihat dari distribusi persentase Nilai Tambah Bruto (NTB) sektoral terhadap PDRB atas dasar harga berlaku. Dalam kurun waktu 2004-2008 struktur perekonomian Kabupaten Lebak masih didominasi oleh sektor pertanian dengan kontribusinya yang berkisar 37%- 39%, sedangkan peranan terkecil dipegang oleh sektor listrik, gas dan air bersih II - 27

Pertanian Pertambangan dan Penggalian Industri Pengolahan Listrik, Gas dan Air Bersih Bangunan dan Kontruksi Perdagangan, Hotel dan Restoran Pengangkutan dan Komunikasi Keuangan, Persewaan dan jasa Perusahaan Jasa-jasa dengan kontribusinya yang hanya berkisar 0,35%-0,42%. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada grafik 2.3. Grafik 2.3 Distribusi Persentase PDRB Kabupaten Lebak Atas Dasar Harga Konstan Tahun 2004-2008 (%) 250 200 150 100 50 0 2004 2005 2006 2007 2008 Sumber : PDRB Kabupaten Lebak 2003-2008 (BPS Kab. Lebak) Dari grafik di atas terlihat bahwa struktur perokonomian Kabupaten Lebak pada kurun waktu 2004-2008 tidak banyak mengalami pergeseran, masih didominasi oleh tiga sektor utama yaitu dimulai dari sektor pertanian; perdagangan, hotel dan restoran; serta jasa-jasa. Dari ketiga sektor utama tersebut, sektor pertanian terus mengalami penurunan kontribusi terhadap total PDRB yang mengindikasikan bahwa di Kabupaten Lebak perlahan namun pasti telah terjadi pergeseran struktur ekonomi, dimana peran sektor primer mulai diambil oleh sektor tersier. Hal ini dibuktikan oleh sektor perdagangan, hotel dan restoran; pengangkutan dan komunikasi; serta jasa-jasa yang mengalami trend II - 28

kenaikan kontribusi terhadap total PDRB dalam lima tahun belakangan sebagaimana terlihat pada tabel 2.17 berikut. Tabel 2.17 Proyeksi Distribusi Persentase PDRB Kabupaten Lebak Atas Dasar Harga Konstan Tahun 2009-2014 (%) No. Lapangan Usaha 2009* 2010** 2011*** 2012*** 2013*** 2014*** 1 Pertanian 37,98 37,91 38,48 38,06 38,11 38,07 2 Pertambangan dan Penggalian 1,37 1,30 1,33 1,32 1,33 1,32 3 Industri Pengolahan 9,34 9,24 9,39 9,38 9,34 9,38 4 Listrik, Gas dan Air Bersih 0,41 0,41 0,37 0,40 0,40 0,40 5 Bangunan dan Kontruksi 4,23 4,18 4,10 4,20 4,18 4,19 6 Perdagangan, Hotel dan Restoran 23,32 23,53 22,66 23,16 23,17 23,16 7 Pengangkutan dan Komunikasi 6,05 6,17 5,99 6,07 6,07 6,07 Keuangan, Persewaan dan jasa 8 Perusahaan 4,47 4,42 4,34 4,43 4,43 4,43 9 Jasa-jasa 12,83 12,84 13,34 12,98 12,98 12,98 Jumlah 100,00 100,00 100,00 100,00 100,00 100,00 Sumber : PDRB Kabupaten Lebak Tahun 2009-2014 (BPS Kab. Lebak) * : Angka Perbaikan ** : Angka Sementara *** : Angka Proyeksi Dari tabel di atas terlihat bahwa struktur perokonomian Kabupaten Lebak dalam lima tahun kedepan oleh tiga sektor utama yaitu dimulai dari sektor pertanian; perdagangan, hotel dan restoran; serta jasa-jasa. Tingkat inflasi di suatu daerah pada suatu tahun dapat dihitung dengan metode Indeks Harga Konsumen (IHK) dan dapat juga dilihat dari besarnya perubahan Indeks Harga Implisit PDRB tahun berjalan dari tahun sebelumnya. Angka inflasi secara umum menggambarkan besarnya peningkatan hargaharga barang/jasa di suatu daerah tertentu pada waktu tertentu, sehingga tingkat inflasi dipakai sebagai tolak ukur dalam melihat stabilitas perekonomian di suatu daerah. Tingkat inflasi yang tinggi (mencapai dua digit) relatif mencerminkan stabilitas ekonomi yang kurang baik. Untuk melihat besarnya inflasi di Kabupaten Lebak selama periode 2004-2008 dapat dilihat pada grafik berikut : II - 29

Persen Persen Grafik 2.4 Tingkat Inflasi Kabupaten Lebak Tahun 2004-2008 (%) 6 5 4 3,61 5,55 3,93 4,5 3 2 2,47 1 0 2009 2010 2011 2012 2013 Sumber : PDRB Kabupaten Lebak 2004-2008 (BPS Kab. Lebak) Tingkat Inflasi di Kabupaten Lebak pada Tahun 2004-2008 dengan mengacu pada besanya perubahan Indeks Implisit PDRB Tahun berjalan dari tahun sebelumnya mencapai angka rata-rata sebesar 7,72%. Tingkat inflasi yang terjadi pada Tahun 2004 adalah sebesar 5,24% merupakan tingkat inflasi yang paling rendah dibandingkan dengan Tahun 2005-2008. Proyeksi tersebut dapat dilihat pada grafik 2.5. Grafikl 2.5 Proyeksi Tingkat Inflasi Kabupaten Lebak 6 5,55 5 4 3,61 3,93 4,5 4,02 3 2,47 2 1 0 2009 2010 2011 2012 2013 2014 Sumber : PDRB Kabupaten Lebak Tahun 2009-2014 (BPS Kab. Lebak) * : Angka Perbaikan ** : Angka Sementara *** : Angka Proyeksi II - 30

2.2.2. Fokus Kesejahteraan Sosial Pembangunan daerah bidang kesejahteraan sosial berkaitan dengan kualitas manusia dan masyarakat Kabupaten Lebak. Kondisi tersebut tercermin pada pendidikan, kesehatan, tingkat kemiskinan, kepemilikan tanah, kesempatan kerja, dan tingkat kriminalitas. Pembangunan bidang pendidikan telah dilaksanakan dengan menitikberatkan pada upaya penuntasan program Wajib Belajar 9 tahun melalui pendidikan formal maupun non formal, serta rintisan Wajib Belajar 12 tahun dengan angka partisipasi di jenjang pendidikan dasar yang sudah optimal. Angka Melek Huruf (AMH) adalah persentase penduduk usia 15 tahun keatas yang bisa membaca dan menulis serta mengerti sebuah kalimat sederhana dalam hidupnya sehari-hari. Dengan AMH daerah dapat mengukur keberhasilan program-program pemberantasan buta huruf, terutama di daerah pedesaan dimana masih tinggi jumlah penduduk yang tidak pernah bersekolah atau tidak tamat SD. Selain itu dengan AMH menunjukkan kemampuan penduduk di suatu wilayah dalam menyerap informasi dari berbagai media serta menunjukkan kemampuan untuk berkomunikasi secara lisan dan tertulis, yang pada akhirnya mencerminkan potensi perkembangan intelektual sekaligus kontribusi terhadap pembangunan daerah. Di Kabupaten Lebak perkembangan angka melek huruf relatif konstan. Hal ini terlihat dari tahun 2005-2008 perkembangan AMH sebesar 94,10%. Angka Melek Huruf (AMH) pada tahun 2006 adalah sebesar 94,10% atau meningkat sebesar 0,20% dibandingkan tahun 2004 yang hanya sebesar 93,90%. Terlihat dari tabel 2.17 dari tahun 2006 sampai dengan 2009 persentase pencapaian AMH tidak mengalami peningkatan, hal ini disebabkan adanya suku terasing Baduy dengan jumlah penduduk pada tahun 2009 sebanyak 1.149 jiwa yang masih memegang teguh adat kebudayaannya. Dengan berbagai upaya yang dilakukan AMH pada tahun 2010 mengalami peningkatan meskipun sangat kecil, yaitu 1,75%. II - 31

Tabel 2.18 Perkembangan Angka Melek Huruf dan Rata-rata Lamanya Sekolah Di Kabupaten Lebak Tahun 2004-2010 No. Uraian 2004 2005 2006 2007 2008 2009 2010 1. Jumlah penduduk usia 15 tahun keatas - - - - 514.097 777.532 791.240 2. Melek Huruf 93,90% 94,10% 94,10% 94,10% 94,10% 94,10% 95,85% 3. Rata-rata Lama Sekolah 6,1 Th 6,2 Th 6,2 Th 6,2 Th 6,3 Th 6,2 Th 6,3 Th Sumber Data : Dinas Pendidikan Kab. Lebak Rata-rata Lama Sekolah (RLS) mencapai 6,3 tahun pada tahun 2010. Jika dikonversikan pada tingkat kelulusan, maka rata-rata tingkat pendidikan penduduk Kabupaten Lebak adalah tidak tamat SLTP atau baru mencapai kelas 1 SLTP. Oleh karena itu untuk mencapai tujuan pencapaian RLS maksimal 15 Tahun, masih memerlukan rentang waktu yang cukup lama dan biaya yang besar. Untuk pencapaian Angka Partisipasi Murni pada tahun 2009, tingkat SD mencapai 95,17%, tingkat SLTP 68,79.0% dan tingkat SLTA mencapai 22,61%. Sedangkan pencapaian Angka Partisipasi Kasar tingkat SD mencapai 109,09%, tingkat SLTP 93,71% dan tingkat SLTA mencapai 30,69%. Pencapaian Angka Partisipasi Kasar (APK) dan Angka Partisipasi Murni (APM) pada setiap jenjang pendidikan mengalami peningkatan. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada tabel berikut. II - 32

No. Tingkat Pendidikan Tabel 2.19 Angka Partisipasi Kasar (APK), Angka Partisipasi Murni (APM) Di Kabupaten Lebak Tahun 2004-2008 2004 2005 2006 2007 2008 2009 2010 APK APM APK APM APK APM APK APM APK APM APK APM APK APM 1. SD/MI 95,20 82,30 108.52 93,52 108,76 93,38 108.89 94.86 109.52 94.89 109,09 95,17 112,62 97,96 2. SMP/MTs 52,42 48,57 63,71 54,42 70,84 57,92 83,49 63,57 94.89 64,19 93,71 68,79 96,59 66,56 3. SMA/SMK/MA 21,26 16,18 22,22 17.33 27,00 17,33 27,63 19,45 30,63 20,51 30,69 22,61 38,15 33,37 Sumber Data : Dinas Pendidikan Kab. Lebak II - 33

Berkaitan dengan pendidikan yang ditamatkan pada tahun 2009, jumlah penduduk yang tidak tamat SD mencapai 16,79%, tamat SD 10,55%, tamat SLTP 6,57%, tamat SLTA 5,72%, dan yang memiliki ijazah akademi/universitas sebanyak 1,38%. Peningkatan akses masyarakat terhadap pelayanan kesehatan dan pengembangan pelayanan kesehatan berbasis masyarakat terus dilakukan. Angka usia harapan hidup masyarakat Kabupaten Lebak pada tahun 2008 mencapai 63,20 atau meningkat dibandingkan tahun 2004 yang hanya mencapai 62,40. Namun demikian, pencapaian indikator kesehatan di Kabupaten Lebak masih berada di bawah rata-rata nasional. Pada tahun 2008 angka kematian bayi (AKB) di Kabupaten Lebak sebesar 42,27/1.000 kelahiran hidup, sedangkan AKB nasional sebesar 34/1000 kelahiran hidup dan Angka Kematian Ibu (AKI) melahirkan pada tahun 2008 sebesar 246/100.000 kelahiran hidup, sedangkan AKI nasional sebesar 228/100.000 kelahiran hidup. Kondisi di atas dipengaruhi oleh beberapa faktor, antara lain masih tingginya kasus penderita gizi buruk balita pada tahun 2009, yaitu sebanyak 4.214 dan gizi kurang sebanyak 8.679 dari jumlah 102.687 balita yang ditimbang. Dalam rangka penyelamatan Ibu dan Anak telah dilaksanakan pengembangan pelayanan kegawat daruratan kebidanan dan Bayi Baru Lahir melalui pengembangan Puskemas yang mampu melaksanakan Pelayanan Obstetri dan Neonatal Emergency Dasar (PONED) masing-masing 14 Puskesmas dengan tempat perawatan dari 40 puskesmas. Dengan demikian, untuk mencapai derajat kesehatan yang diharapkan, upaya yang diperlukan antara lain peningkatan akses pelayanan kesehatan, yaitu peningkatan kualitas ketenagaan, peningkatan fasilitas kesehatan serta peningkatan perilaku hidup bersih dan sehat pada masyarakat. Berkenaan dengan jumlah penduduk miskin, rumah tangga miskin di Kabupaten Lebak pada tahun 2009 mencapai jumlah 171.109 rumah tangga atau sebesar 52,72% dari jumlah rumah tangga seluruhnya yaitu sebanyak 288.335 rumah tangga. Berdasarkan kepemilikan lahan, 21,14% (64.356,66 Ha) sudah dimiliki oleh masyarakat di Kabupaten Lebak dengan luas lahan bersertifikat 64.350,14 Ha atau 99,98% dari luas luas lahan yang dimiliki. Jumlah penduduk yang bekerja di Kabupaten Lebak pada tahun 2008 telah mencapai 474.846 orang dari jumlah penduduk yang berusia 10 tahun ke atas. Untuk itu, peningkatan kompetensi, produktivitas dan daya saing tenaga kerja II - 34

terus dilakukan sebagai upaya penanggulangan pengangguran di Kabupaten Lebak. Selain bidang-bidang kesejahteraan sebagaimana disebutkan sebelumnya, tingkat kriminalitas berpengaruh pula terhadap pembangunan daerah. Pada tahun 2008 sampai dengan 2009 tindikan kriminal yang paling menonjol di Kabupaten Lebak yaitu pencurian dengan pemberatan yang dilanjutkan dengan pencurian ranmor. Pada tahun 2008 kasus pencurian dengan pemberatan sebanyak 80 kasus dengan jumlah penyelesaian tindak pidana sebanyak 56 kasus, sedangkan untuk tahun 2009 kasus pencurian dengan pemberatan sebanyak 90 kasus dengan jumlah penyelesaian kasus tindak pidana sebanyak 64 kasus. Kondisi ini tidak lepas dari kondisi perekonomian masyarakat yang mengalami fluktuasi sehingga menimbulkan peningkatan pengangguran, yang mendorong tumbuhnya tindak pidana. Walaupun demikian secara umum penanganan tindak pidana kriminalitas di Kabupaten Lebak masih dalam konstelasi terkendali oleh aparat penegak hukum kepolisian daerah dibantu oleh masyarakat. 2.2.3. Fokus Seni Budaya dan Olahraga Pemerintah Daerah Kabupaten Lebak sangat memperhatikan pembinaan dan pemasyarakatan oleh raga dengan memberikan pembinaan pada atlet-atlet yang ternaung dalam pengurus cabang KONI Kabupaten Lebak. Kondisi jumlah pengurus cabang tahun 2009 sebanyak 11 pengcab dengan jumlah atlet 500 orang. 2.3. Aspek Pelayanan Umum 2.3.1. Fokus Layanan Urusan Wajib Pendidikan Pendidikan merupakan salah satu gerbang penting untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Pendidikan membuka peluang individu maupun masyarakat untuk mengembangkan diri dan mewujudkannya. Dalam konteks ini, pendidikan adalah sarana untuk memperoleh pengetahuan (knowledge). Pendidikan merupakan hak dasar setiap penduduk dan pemenuhan atas hak ini menjadi kewajiban pemerintah. Layanan pendidikan dasar yang dilaksanakan meliputi pendidikan dasar dan pendidikan menengah. II - 35

Kabupaten Lebak dengan jumlah penduduk yang sedemikian besar dan struktur umur yang kebanyakan berusia muda, relatif memiliki tanggungjawab besar untuk mengantarkan penduduk muda untuk memperoleh pendidikan yang layak. Selain masalah jumlah penduduk, persebarannya juga menjadi faktor penentu perkembangan pendidikan di Kabupaten Lebak. Pembangunan bidang pendidikan mampu meningkatkan angka partisipasi sekolah mencakup angka partisipasi murni dan angka partisipasi kasar. Terkait dengan tingkat partisipasi sekolah ini, diperoleh data tentang jumlah anak tidak sekolah pada setiap jenjang pendidikan yang merupakan sasaran penting bagi program pembangunan pendidikan di Kabupaten Lebak, yaitu menuntaskan wajib belajar 9 tahun. Pelayanan pendidikan juga dapat dilihat dari ketersediaan sekolah dan guru. Pada tahun 2006, rasio ketersediaan sekolah per penduduk usia sekolah untuk pendidikan dasar adalah sebesar 0,006794 atau tersedia 67,94 sekolah per 10.000 penduduk usia sekolah, sedangkan rasio guru dengan murid sebesar 0,043028 atau tersedia 430,28 guru per 10.000 murid. Untuk pendidikan menengah, rasio ketersediaan sekolah per penduduk usia sekolah sebesar 0,0010435, rasio guru dengan murid sebesar 0,063893. Kondisi ini menunjukan bahwa pelayanan pendidikan berupa penyediaan sekolah dan guru masih relatif rendah sehingga perlu ditingkatkan. Selain itu, meskipun telah terjadi berbagai peningkatan yang cukup berarti, pembangunan pendidikan belum sepenuhnya mampu memberi pelayanan merata, berkualitas dan terjangkau. Sebagian masyarakat berpendapat bahwa biaya pendidikan masih relatif mahal dan pendidikan belum sepenuhnya mampu memberikan nilai tambah bagi masyarakat sehingga belum dinilai sebagai bentuk investasi. Mutu pendidikan berhasil atau tidaknya di suatu daerah tergantung pada capain angka putus sekolah dan angka kelulusan. Di Kabupaten Lebak capaian Angka putus sekolah pada tahun 2009 untuk jenjang pendidikan SD sebesar 0,46%, SLTP sebesar 0,97%, dan SLTA sebesar 0,68%. Sedangkan untuk Angka Kelulusan angka capaian pada tahun 2009 untuk jenjang pendidikan SD sebesar 94,14%, STLP sebesar 77,69%, dan SLTA sebesar 82,03%. II - 36

Kesehatan Upaya Peningkatan Akses dan Kualitas Pelayanan Kesehatan, Peningkatan Sumber Daya Kesehatan, Pemberdayaan Masyarakat dan Pengembangan Pembiayaan Kesehatan terus dilakukan, namun pencapaian beberapa indikator kesehatan masih berada dibawah rata-rata nasional. Pada tahun 2008, Angka Kematian Bayi (AKB) di Kabupaten Lebak sebesar 42,27/1.000 KH, sedangkan AKB Nasional sebesar 34/1.000 KH (Target Nasional AKB 24/1000 KH pada tahun 2014 dan target MDGs AKB 23/1000 KH pada tahun 2015). Angka Kematian Ibu (AKI) di Kabupaten Lebak pada tahun 2008 adalah 2461/100.000 KH, Sedangkan AKI Nasional sebesar 228/100.000 ( Target Nasional AKI 118/100.000 KH pada tahun 2014 dan target MDGs AKI 102 /100.000 KH pada tahun 2015). Data tahun 2009 menunjukan jumlah kematian ibu maternal di Kabupaten Lebak mencapai 22 ibu dari 22.230 kelahiran hidup, dan jumlah kematian bayi 156 bayi dari 22.230 KH. Kondisi ini dipengaruhi dengan masih tingginya kasus gizi buruk yaitu 4.214 balita (4,10%), gizi kurang 8.679 balita (8,45%) dari 102.687 balita yang di timbang, dengan demikian angka tersebut masih dibawah Angka Target Nasional prevalensi gizi-kurang pada anak balita menjadi 15% pada tahun 2014 dan target MDGs 18,8 pada tahun 2015. Faktor faktor yang menyebabkan rendahnya pencapaian indikator kesehatan (tingginya angka/jumlah kematian dan kesakitan) adalah masih kurangnya kemampuan beberapa untuk memenuhi aksesibilitas masyarakat terhadap pelayanan kesehatan dasar dan pelayanan kesehatan rujukan, melaksanakan penyelidikan epidemiologi dan penanggulangan kejadian luar biasa serta melaksanakan upaya promosi kesehatan dan pemberdayaan masyarakat di bidang kesehatan. Dalam pencapaian SPM bidang kesehatan hal penting yang harus dipenuhi adalah ketersediaan fasilitas pelayanan kesehatan dasar antara lain jumlah Puskesmas pada tahun 2009 berjumlah 40 dengan rasio puskesmas per 100.000 penduduk 3,30 (Standar 1 per 25.000 penduduk atau 4 per 100.000 penduduk) idealnya Kabupaten Lebak memiliki 48 Puskesmas, tetapi kurangnya jumlah Puskesmas dapat ditutupi dengan ada dan tersebarnya Puskesmas Pembantu sebanyak 73, Poskesdes 39, Poliklinik/Balai Pengobatan sebanyak 88, serta Praktek dokter dan bidan sebanyak 276 (Sumber Dinas Kesehatan tahun 2010). Dalam rangka penyelamatan ibu dan anak telah dilaksanakan pengembangan pelayanan kegawat daruratan kebidanan dan bayi baru lahir melalui puskesmas yang mampu melaksanakan Pelayanan Obstetri dan Neonatal Emergency Dasar II - 37

(PONED). Pada Tahun 2009 Jumlah Puskesmas PONED adalah 14 buah (Standar Puskesmas PONED adalah 1/50.000 penduduk) berarti Kabupaten Lebak membutuhkan sekitar 24 Puskesmas mampu PONED. Sedangkan kondisi tenaga kesehatan di Kabupaten Lebak pada tahun 2009 adalah, jumlah dokter di Puskesmas adalah 111 orang (Standar 1 PKM 2 Dokter). Sedangkan tenaga bidan di Puskesmas yang ada 395 bidan selain itu didukung pula oleh tenaga paramedis sebanyak 421. Lingkungan dan perilaku yang mempunyai pengaruh besar terhadap derajat kesehatan masyarakat Kabupaten Lebak kondisinya juga masih sangat memprihatinkan bila dilihat dari kepala keluarga dengan akses air minum layak yang baru mencapai 45,46%. Dari aspek perilaku PHBS kondisi masyarakat Kabupaten Lebak masih sangat memprihatinkan dengan masih rendahnya persentase Rumah Tangga Sehat (berphbs). Berdasarkan kondisi diatas untuk mencapai derajat kesehatan yang diharapkan, upaya yang diperlukan antara lain adalah pertama peningkatan akses dan mutu pelayanan kesehatan secara paripurna (preventif, promotif, kuratif dan rehabilitative) melalui peningkatan kualitas dan kelas RSUD serta peningkatan kualitas pelayanan kesehatan dasar di Puskesmas dan jaringannya serta fasilitas pelayanan kesehatan dasar swasta lainnya, peningkatan Puskesmas mampu PONED, peningkatan Jumlah Mutu dan Penyebaran tenaga kesehatan, peningkatan pembiayaan kesehatan dan pengembangan Jaminan Pemeliharaan Kesehatan Masyarakat (JPKM) Jawa Barat, peningkatan kemandirian untuk berperilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) pada masyarakat, memperkuat sistem kewaspadaan dini dan surveillance epidemiologi penyakit menular dan tidak menular, serta mengembangkan sistem regulasi untuk menjamin kualitas fasilitas pelayanan kesehatan, sarana kesehatan dan tenaga kesehatan serta menjamin terciptanya lingkungan sehat. Pencapaian immunisasi dari 12 jenis imunisasi (antigen) dari tahun 2005 sampai dengan tahun 2008 secara umum menunjukan angka flutuatif terkecuali pada imunisasi DPT-HB1 dan Polio 1 yang menunjukan trend meningkat dari tahun ketahunnya dan sebagian besar pencapaian imunisasi belum mencapai masingmasing target yang ditetapkan dan hanya 1 jenis imunisasi polio 4 mencapai target yang ditetapkan pada tahu 2005. Pencapaian terkecil adalah HB 0-7 hari (19%) dan terbesar imunisasi polio 1 (95,2%). Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada tabel berikut. II - 38

Tabel 2.20 Capaian Imunisasi di Kabupaten Lebak Tahun 2004-2008 No. Jenis Imunisasi Cakupan Persentase Target (%) (Antigen) 2005 2006 2007 2008 1. HB 0-7 Hari 75 68 19 45 42.5 2. BCG 98 87 88 92 88.5 3. DPT - HB 1 98 85 85 92 93.7 4. DPT - HB 2 95 85 77 87 88.4 5. DPT - HB 3 93 81 76 85 86.9 6. Polio 1 98 79 80 94 95.2 7. Polio 2 95 92 74 87 91.2 8. Polio 3 93 90 71 85 88.8 9. Polio 4 90 90 69 78 85 10. Campak 90 85 81 84 85.2 11. TT 1 95 69 80 81 57 12. TT2 90 66 74 75 53 Sumber Data : Dinas Kesehatan Kab. Lebak, 2008 Pekerjaan Umum Jalan Kondisi sarana dan prasarana jalan di Kabupaten Lebak adalah sebagai berikut : Panjang Jalan Propinsi di Kabupaten Lebak adalah 302,87 Km, dengan jenis permukaan hotmix 218,87 Km dan permukaan lapen 84,00 Km dengan kondisi baik 151,82 Km, kondisi sedang 8,95 Km, kondisi rusak ringan 75,00 Km dan kondisi rusak berat 67,10 Km. Apabila ditinjau dari kelas jalan, maka terdapat 4,4 Km jalan kelas II dan 298,47 Km jalan kelas III. Panjang Jalan Kabupaten adalah 856,21 Km, terdiri dari ruas-ruas jalan dalam Kota Rangkasbitung sepanjang 57,87 Km dan ruas-ruas jalan luar kota sepanjang 798,34 Km dengan jenis permukaan hotmix 542,61 Km, lapen 40,25 Km, batu 179,55 Km dan tanah 93,80 Km dengan kondisi jalan baik 477,61 Km (55,78%), kondisi sedang 124,75 Km (14,57%), kondisi rusak 134,00 Km (15,65%) dan rusak berat 119,85 Km (14%). Panjang jalan desa di Kabupaten Lebak adalah 5.647,2 Km terdiri dari jalan tanah sepanjang 2.571,85 Km dan jalan desa dengan kontruksi beraspal 3.075,35 Km, dengan kondisi baik 75,50 Km (2,45%), kondisi sedang 812,40 Km (26,42%) dan kondisi rusak 2.187,45 Km (71,13%). II - 39

No. Tabel 2.21 Jumlah Ruas Jalan, Panjang dan Kondisi Jalan Kabupaten Di Kabupaten Lebak Tahun 2004-2008 Tahun Panjang Ruas Jalan (KM) Baik Sedang Kondisi (KM) Rusak Ringan Rusak Berat 1 2004 827,80 464,30 246,00 54,90 62,60 2 2005 874,60 285,00 169,40 87,45 332,75 3 2006 892,20 285,00 168,60 87,55 351,05 4 2007 803,00 396,80 175,70 228,70 1,80 5 2008 856,21 477,61 124,75 134,00 119,85 Sumber : Dinas Bina Marga Kab. Lebak No. Tabel 2.22 Jumlah Ruas Jalan, Panjang dan Kondisi Jalan Propinsi Di Kabupaten Lebak Tahun 2004-2008 Tahun Panjang Ruas Jalan (KM) Baik Sedang Kondisi (KM) Rusak Ringan Rusak Berat 1 2004 107,61 61,39 45,34 0,86-2 2005 106,74 61,39 45,34 0,87-3 2006 107,61 61,39 45,34 0,87-4 2007 281,71 177,26 0,00 51,63 52,82 5 2008 267,65 29,03 94,47 15,42 128,73 Sumber : Dinas Bina Marga Kab. Lebak No. Tabel 2.23 Jumlah Ruas Jalan, Panjang dan Kondisi Jalan Nasional di Kabupaten Lebak Tahun 2004-2008 Tahun Panjang Ruas Jalan (KM) Baik Sedang Kondisi (KM) Rusak Ringan Rusak Berat 1 2004 130,34 78,33 35,37 16,64-2 2005 130,34 78,33 35,37 16,64 3 2006 130,34 78,33 35,37 16,64-4 2007 140,00 128,00 0,00 12,00-5 2008 NR NR NR NR NR Sumber : Dinas Bina Marga Kab. Lebak Selain jalan nasional, Propinsi dan Kabupaten, Pemerintah Daerah juga telah melakukan terobosan yang sangat signifikan dengan pencanangan dan penanganan Jalan Poros Desa melalui Program Hotmik Masuk Desa (HMD). II - 40

Program tersebut mulai dilaksanakan pada tahun 2007 dan akan terus dilanjutkan pada tahun-tahun berikutnya dengan tetap menentukan prioritas ruas jalan poros desa yang akan dibangun atau ditingkatkan berdasarkan criteria yang telah kita tetapkan. Adapun jumlah penanganan jumlah poros desa yang sudah ditangani dari tahun 2007 sampai dengan 2009 sepanjang 488,84 Km yang tersebar di seluruh wilayah Kabupaten Lebak. Tabel 2.24 Jumlah Penanganan Jalan Poros Desa (HMD) di Kabupaten Lebak Tahun 2007-2009 No. Tahun Jumlah Penanganan (Km) Keterangan 1 2007 104,37 Tersebar di seluruh Kecamatan 2 2008 190,04 Tersebar di seluruh Kecamatan 3 2009 194,43 Tersebar di seluruh Kecamatan Jumlah 488,84 Sumber : Dinas Bina Marga Kab. Lebak Sebagaimana kita ketahui bersama, jalan poros desa di Kabupaten Lebak berdasarkan dari usulan yang diajukan oleh para Kepala Desa mencapai sekitar 5000 Km. Oleh karena itu, program ini senantiasa harus terus dilaksanakan untuk menyediakan aksesibilitas di perdesaan yang mempunyai daya ungkit yang tinggi untuk mendorong kegiatan ekonomi produktif dan kegiatan social lainnya. Sumber Daya Air / Irigasi Kabupaten Lebak merupakan daerah penyangga stok pangan padi sawah di Propinsi Banten, mengingat kawasan Banten Utara yang meliputi Daerah Serang, Cilegon dan Tangerang yang sudah beralih fungsi penggunaan lahan pertaniannya menjadi lahan permukiman dan industri. Oleh karenanya pengembangan pertanian padi sawah diarahkan ke Kabupaten Lebak dan Pandeglang sebagai wilayah pengembangan budidaya pertanian tanaman pangan dan hortikultura, konservasi lahan kritis sebagai fungsi kawasan tangkapan air baku sungai dan situ yang berpotensi untuk dimanfaatkan sebagai sumber air baku Irigasi. Jaringan irigasi yang telah dibangun dan dikembangkan sejak PELITA I sampai dengan Tahun 2008 berdasarkan data Dinas Sumber Daya Air Kabupaten Lebak adalah seluas 61.158 Ha yang meliputi : II - 41

1) Irigasi Pemerintah sebanyak 358 Unit (48.367 Ha) yang terdiri dari : a. Irigasi Teknis 17 Unit, luas areal potensial 13.030 Ha (21,31%) b. Irigasi Semi Teknis 45 Unit, luas areal optensial 10.787 Ha (17,64%) c. Irigasi Sederhana 247 unit, luas areal potensial 24.550 Ha (40,14%) 2) Irigasi Pedesaan 123 Unit, luas areal potensial 12.791 Ha (20.91%) Dari total luas areal potensial tersebut di atas (61.158 Ha), jaringan Irigasi yang berfungsi pada tahun 2003 adalah seluas 24.300 Ha. Adapun penanganan pembangunan baik pembangunan baru maupun rehabilitasi dari tahun 2004 sampai dengan 2008 sebanyak 243 Daerah Irigasi dengan luas areal 26.591 Ha sehingga total luas potensial sampai dengan tahun 2008 adalah 50.921 Ha. Sedangkan potensi sawah tadah hujan baik yang bisa dikembangkan dan yang tidak bias dikembangkan adalah seluas 14.132 Ha dengan rincian : a. Sawah yang bisa dikembangkan seluas 4.386 Ha b. Sawah yang tidak bisa dikembangkan seluas 9.746 Ha Tempat Ibadah Ketersediaan tempat ibadah merupakah salah satu dari pelayanan sarana dan prasarana umum yang disediakan baik oleh pemerintah maupun masyarakat. Tempat ibadah yang tersedia dibandingkan dengan jumlah penduduk di Kabupaten Lebak masih dirasakan kurang, hal ini dapat dilihat dari rasio tempat ibadah per satuan penduduk di Kabupaten Lebak hanya sebesar 3,85. Perumahan Prasarana dan Sarana Utilitas permukiman dan perumahan di Kabupaten Lebak pada umumnya meliputi : penyediaan sarana air bersih, penanganan jalan lingkungan, dan pembangunan serta rehabilitasi gedung-gedung pemerintahan dan bangunan lainnya. Penyediaan sarana dan prasarana air bersih di Kabupaten Lebak dilaksanakan oleh tiga institusi, yaitu PDAM, Dinas Cipta Karya dan Dinas Kesehatan. Penyediaan sarana tersebut selalu terus dianggarkan setiap tahunnya karena hal ini ditujukan untuk terus meningkatkan cakupan air bersih yang sampai dengan tahun ini baru mencapai 45,46% (perkotaan dan perdesaaan). Untuk lebih rincinya berikut kami gambarkan cakupan air bersih setiap kecamatan di Kabupaten Lebak sampai dengan tahun 2008. II - 42

Tabel 2.25 Cakupan Air Bersih per Kecamatan Di Kabupaten Lebak Tahun 2008 No Kecamatan Jumlah KK KK Terlayani persentase 1 Rangkasbitung 20,864 14,417 69.10% 2 Kalanganyar 7,236 3,808 52.63% 3 Cibadak 12,559 10,156 80.87% 4 Warunggunung 11,555 4,328 37.46% 5 Cikulur 10,941 6,209 56.75% 6 Sajira 9,433 6,563 69.57% 7 Cipanas 11,314 6,296 55.65% 8 Lebak Gedong 4,172 1,708 40.94% 9 M A J A 11,316 6,468 57.16% 10 Curugbitung 7,601 4,449 58.53% 11 Muncang 6,980 2,484 35.59% 12 Sobang 7,452 2,346 31.48% 13 Cimarga 12,622 4,135 32.76% 14 Leuwidamar 12,489 4,227 33.85% 15 Cileles 12,776 1,134 8.88% 16 Gunung Kencana 7,449 2,919 39.19% 17 Cijaku 6,669 3,157 47.34% 18 Cigemblong 5,284 1,221 23.11% 19 Banjarsari 13,029 5,208 39.97% 20 Malingping 18,604 9,790 52.62% 21 Wanasalam 9,798 5,354 54.64% 22 Bojongmanik 4,841 913 18.86% 23 Cirinten 5,173 1,210 23.39% 24 Panggarangan 9,215 6,983 75.78% 25 Cihara 7,608 2,014 26.47% 26 Bayah 10,315 2,016 19.54% 27 Cilograng 5,720 1,707 29.84% 28 Cibeber 14,981 5,158 34.43% Jumlah 277,996 126,378 45.46% Sumber : Kompilasi Dinas Kesehatan dan Dinas Cipta Karya, 2008 Penyediaan air bersih oleh Pemerintah Daerah dipenuhi melalui pembangunan sarana MCK, sumur bor, sipas gravitasi dan sarana air bersih lainnya. Rumah tangga pengguna listrik di Kabupaten Lebak pada tahun 2009 sebanyak 222.467 (69%) kepala keluarga dari 324.201 jumlah total kepala keluarga. II - 43

Penataan Ruang Sumber daya kewilayahan harus dikelola secara bijaksana untuk mewujudkan pemerataan pertumbuhan wilayah dan kesejahteraan masyarakat yang berkelanjutan dengan memperhatikan kelestarian lingkungan hidup. Untuk itu, ketersediaan rencana tata ruang yang aplikatif dan partisipatif memegang peranan penting dalam pemanfaatan ruang termasuk sebagai instrumen dalam perijinan dan pengembangan investasi sebagaimana diamanatkan dalam Undang- Undang Nomor 26 tahun 2007 tentang Penataan Ruang sebagai penganti Undang- Undang Nomor 24 tahun 1992 dan peraturan perundangan lainnya. Dalam melaksanakan amanat undang-undang dimaksud Kabupaten Lebak dengan luas wilayah 304.472 ha atau 3044,72 KM² yang terdiri dari 28 kecamatan dengan 340 desa dan 5 kelurahan, telah melaksanakan penyusunan Rencana Tata Rang Wilayah Kabupaten yang dijabarkan kedalam rencana tata ruang kecamatan serta kawasan strategis. Sampai dengan tahun 2008 kecamatan yang telah memiliki rencana tata ruang sebanyak 10 kecamatan. Kecamatan yang telah memiliki rencana tata ruang yaitu Kecamatan Rangkasbitung, Warunggunung, Maja, Cimarga, Sajira, Malingping, Panggarangan, Bayah, Cibeber dan Cilograng. Sedangkan kecamatan yang belum memilki rencana tata ruang adalah Kecamatan Cibadak, Kalanganyar, Cikulur, Cipanas, Curugbitung, Lebakgedong, Bojongmanik, Muncang, Sobang, Leuwidamar, Gunungkencana, Cileles, Banjarsari, Wanasalam, Cijaku, Cigemblong, Cihara, dan Cirinten. Berdasarkan intensitas dan frekuensi yang terjadi saat ini, di Kabupaten Lebak bagian Utara mempunyai intensitas kegiatan yang lebih tinggi dibandingkan dengan bagian Tengah maupun Selatan. Oleh karena itu dengan didasari pertimbangan intensitas kegiatan, Kabupaten Lebak didalam pengembangan struktur pemanfaatan ruangannya terbagi dalam 2 (dua) Wilayah Pengembangan yaitu Wilayah Pengembangan Utama dan Wilayah Pengembangan Penunjang. Kedua wilayah ini bila ditinjau berdasarkan karakteristiknya terdiri dari 7 (tujuh) wilayah pengembangan. Pengembangan sistem perwilayahan sebagaimana tergambar pada tabel 2.25. II - 44

Perwilayahan Pembangunan WP Utara WP Timur WP Barat WP Selatan Tabel 2.26 Sistem Perwilayahan Kabupaten Lebak Kecamatan Pusat Pertumbuhan Hirarki Fungsi Kawasan Rangkasbitung Kota Rangkasbitung I Pusat pemerintahan Kabupaten Maja Kota Maja I Terminal regional Caibadak Kota Cibadak II Pusat permukiman perkotaan Kalanganyar III Pusat pelayanan & jasa regional Warunggunung III Pusat pendidikan Cikulur III Pusat industri kecil Cimarga III Pusat perdagangan Curugbitung III Sajira III Cipanas Kota Cipanas II Pusat koleksi-distribusi hasil pertanian Leuwidamar Kota Leuwidamar II Industri kecil/home industri Muncang III Pengembangan permukiman kota terbatas Sobang III Pengembangan permukiman perdesaan tersebar Lebak Gedong III Pusat pengembangan pariwisata Cirinten III Konservasi hutan Bojongmanik III Gunung Kencana Cileles Banjarsari Kota Gunung Kencana II III III Pusat koleksi-distribusi hasil pertanian Industri kecil/home industri Pengembangan permukiman perdesaan Malingping Kota Malingping I Pusat pelayanan sosial ekonomi sub regional Bayah Kota Bayah I Sub terminal regional Panggarangan Kota Panggarangan II Pusat koleksi-distribusi hasil pertanian Cijaku III Industri kecil Wanasalam III Pariwisata Cibeber III Pusat pendaratan dan pelelangan ikan Cilograng III Pengolahan hasil laut Cigemblong III Pertambangan bersyarat Cihara III Sumber: BAPPEDA Kab. Lebak, RTRW Kab. Lebak Tahun 2008-2028 II - 45

Sedangkan rencana pemanfaatan ruang wilayah Kabupaten Lebak dibagi menjadi 2 (dua) fungsi kawasan utama yaitu kawasan lindung dan kawasan budidaya (pertanian dan non pertanian), dimana luas dari masing-masing kawasan adalah 97.226 Ha (kawasan lindung) dan 188.770 Ha (kawasan budidaya). Lihat tabel 2.96 dan 2.97 mengenai rencana pemanfaatan ruang Kabupaten Lebak. Tabel 2.27 Rencana Pemanfaatan Ruang Kabupaten Lebak Rencana Pemanfaatan Ruang Luas (Ha) Persentase (Terhadap luas total Kab. Lebak Kawasan Lindung: 97.226 33,98 - Kawasan yang memberikan perlindungan pada kawasan bawahannya 63.845 22,32 - Kawasan perlindungan setempat 10.595 3,70 - Kawasan suaka alam dan cagar budaya 21.482 7,51 - Kawasan rawan bencana 1.300 0,45 Kawasan Budidaya: 188.770 66,01 - Pertanian 153.485 53,67 - Non pertanian 35.285 12,34 Sumber: BAPPEDA Kab. Lebak, RTRW Kab. Lebak Tahun 2008-2028 Tabel 2.28 Rencana Pemanfaatan Ruang Kawasan Budidaya Kabupaten Lebak Rencana Pemanfaatan Ruang Luas (Ha) Persentase (Terhadap luas total Kab. Lebak Kawasan Pertanian: 153.485 53,66 - Pertanian lahan basah (Padi sawah, perikanan darat 17.400 6,08 - Pertanian lahan kering (Tanaman pangan lahan kering, tanaman keras tahunan dan peternakan) 136.085 47,58 Kawasan Non Pertanian: 35.285 12,34 - Kawasan permukiman 28.835 10,08 - Kawasan industri 2000 0,70 - Kawasan pariwisata 4.450 1,36 Sumber: BAPPEDA Kab. Lebak, RTRW Kab. Lebak Tahun 2008-2028 Sumber daya kewilayahan harus dikelola secara bijaksana untuk mewujudkan pemerataan pertumbuhan wilayah dan kesejahteraan masyarakat yang berkelanjutan dengan memperhatikan kelestarian lingkungan hidup. Untuk itu, ketersediaan rencana tata ruang yang aplikatif dan partisipatif memegang peranan penting dalam pemanfaatan ruang termasuk sebagai instrumen dalam perijinan dan pengembangan investasi sebagaimana diamanatkan dalam Undang- Undang Nomor 26 tahun 2007 tentang Penataan Ruang sebagai penganti Undang- Undang Nomor 24 tahun 1992 dan peraturan perundangan lainnya. II - 46

Dalam melaksanakan amanat undang-undang Penataan Ruang dan Peraturan Pemerintah Nomor 26 Tahun 2008 tentang Rencana Tata Ruang Wilayah Nasional, Kabupaten Lebak dengan luas wilayah 304.472 ha atau 3044,72 KM² yang terdiri dari 28 kecamatan dengan 340 desa dan 5 kelurahan, telah melaksanakan revisi penyusunan Rencana Tata Ruang Wilayah Kabupaten. Selanjutnya secara berkelanjutan, RTRW Kabupaten Lebak terus dilengkapi dengan rencana tata ruang turunannya seperti Rencana Detail dan Rencana Umum Tata Ruang Kecamatan. Hal ini perlu dilakukan untuk terus melaksanakan kegiatan penataan ruang yang efektif, efisien, berwawasan lingkungan dalam mendukung pembangunan berkelanjutan. Sampai dengan tahun 2008 kecamatan yang telah memiliki rencana tata ruang sebanyak 12 kecamatan atau 39,28 %. Berikut status Kecamatam-kecamatan yang sudah dan belum ada RUTR-nya : Tabel 2.29 Daftar Status Rencana Umum Tata Ruang Kecamatan di Wilayah Kabupaten Lebak No. Kecamatan Status Dokumen RUTR 1 Rangkasbitung Sudah diperdakan 2 Cipanas Sudah, belum di-perda-kan 3 Muncang Sudah, belum di-perda-kan 4 Banjarsari Sudah, belum di-perda-kan 5 Warunggunung Sudah, belum di-perda-kan 6 Sajira Sudah, belum di-perda-kan 7 Maja Sudah, belum di-perda-kan 8 Bayah Sudah, belum di-perda-kan 9 Cimarga Sudah, belum di-perda-kan 10 Panggarangan Sudah, belum di-perda-kan 11 Cilograng Sudah, belum di-perda-kan 12 Malingping Sudah, belum di-perda-kan 13 Cibeber Sudah, belum di-perda-kan 14 Cibadak Belum ada dokumen 15 Cikulur Belum ada dokumen 16 Leuwidamar Belum ada dokumen 17 Curugbitung Belum ada dokumen 18 Bojongmanik Belum ada dokumen 19 Sobang Belum ada dokumen 20 Gunungkencana Belum ada dokumen 21 Cimarga Belum ada dokumen 22 Kalang Anyar Belum ada dokumen 23 Cileles Belum ada dokumen 24 Lebakgedong Belum ada dokumen 25 Cigemblong Belum ada dokumen 26 Cijaku Belum ada dokumen 27 Cihara Belum ada dokumen 28 Wanasalam Belum ada dokumen II - 47

Sebelum berbicara jauh mengenai perencanaan tata ruang kabupaten Lebak, kita perlu mengenali terlebih dahulu Isu-isu strategis penyelenggaraan penataan ruang di Kabupaten Lebak. Adapun isu-isu tersebut diantaranya : 1. Wilayah kabupaten yang sangat luas dengan ketinggian bervariasi meliputi dataran rendah, pegunungan dan pantai ; 2. Penyebaran penduduk yang tidak merata dengan pertumbuhan yang relatif sedang; 3. Potensi sumber daya alam terutama pertambangan dan pariwisata yang cukup besar namun belum dimanfaatkan secara optimal ; 4. Prasarana wilayah yang masih kurang sehingga menyebabkan masih banyaknya desa tertinggal ; 5. Pengembangan prasarana wilayah : transportasi dan bendungan ; Berdasarkan Peraturan Daerah Nomor 17 Tahun 2008 tentang Rencana Tata Ruang Wilayah Kabupaten Lebak, RTRW Kabupaten Lebak mempunyai tujuan mewujudkan ruang wilayah Kabupaten Lebak yang memenuhi kebutuhan pembangunan dengan senantiasa berwawasan lingkungan, efisien dalam alokasi, bersinergi dan dapat dijadikan acuan dalam penyusunan program pembangunan untuk tercapainya kesejahteraan masyarakat. Dalam rangka mewujudkan tujuan tersebut, perlu menetapkan strategi dan kebijakan penataan ruang di Kabupaten Lebak. Strategi perencanaan tata ruang Kabupaten Lebak mengacu pada arahan struktur ruang wilayah nasional, provinsi Banten, pengaruh kawasan pantura Provinsi Banten dan Rencana Strategis Kabupaten Lebak. Arahan pemanfaatan ruang tersebut dituangkan kedalam perencanaan struktur dan pola ruang wilayah. Menurut arahan RTRW Nasional dan Provinsi Banten, Kabupaten Lebak bersama-sama dengan Kabupaten Pandeglang berfungsi sebagai Pusat Kegiatan Lokal (PKL) pada Wilayah Kerja Pembangunan 3 (WKP 3) yang mendukung Pusat Kegiatan Wilayah (PKW) Bojonegara-Merak-Cilegon (BMC) sebagai Kota Pelabuhan Nasional di Kota Cilegon. Adapun Perencanaan Pengembangan wilayah Kabupaten Lebak berdasarkan arahan tersebut diarahkan pada : 1. Sektor unggulan yang menujang wilayah ini adalah pertanian, pertambangan dan pariwisata. 2. Pusat-pusat utama di Kabupaten Lebak adalah Kota Rangkasbitung sebagai PKL dan Kota Maja sebagai pusat kegiatan sosial ekonomi. II - 48

3. DAS Ciujung dan Ciberang sebagai elemen pendukung konservasi air bersih (menetapkan Kabupaten Lebak sebagai Kawasan Hijau) 4. Sistem jaringan transportasi utama adalah jaringan jalan raya (kolektor primer) Rangkasbitung Serang, Maja Cikande, Labuan Malingping Bayah dan Rangkasbitung/Maja Cipanas Jasinga. Selanjutnya berdasarkan nilai-nilai strategis yang dimiliki Provinsi Banten di wilayah Pantura (Cilegon, Serang Tangerang) dan kedekatan dengan Jakarta sebagai ibukota negara, Kabupaten Lebak diarahkan pada : 1. Peran Kawasan Pantura terhadap perkembangan Kabupaten Lebak, berdampak pada minat investasi swasta di Kecamatan Maja untuk mengembangkan dan membangun perumahan dan permukiman pada area sekitar ± 6.000 Ha. 2. Dukungan sistem transportasi jaringan jalan raya yang cukup baik antara Rangkasbitung dan Serang, serta antara Kecamatan Maja dan Cikande di Kawasan Pantura. 3. Prasarana dan sarana lingkungan perkotaan di Kota Rangkasbitung dan Maja yang cukup memadai, maka kedua kota tersebut cenderung menjadi pusatpusat utama di Kabupaten Lebak yang berorientasi di Kawasan Pantura. A. Rencana Struktur Ruang Untuk mendukung arah pengembangan wilayah Kabupaten Lebak tersebut di atas, Pemerintah Kabupaten Lebak menerapkan konsep pengembangan tata ruangnya dengan menyusun perencanaan struktur dan pola ruang. Pengembangan suatu wilayah tentunya harus didasarkan pada pertimbangan-pertimbangan spasial serta strategi pengembangan yang cukup baik. Hal ini dimaksudkan agar perkembangan yang terjadi kemudian tidak menimbulkan masalah terhadap ruang yang ada. Oleh karena itu dengan didasari oleh pertimbangan-pertimbangan di atas maka diharapkan bahwa perkembangan yang terjadi di wilayah Kabupaten Lebak dapat memberikan pelayanan yang seefektif mungkin ke seluruh bagian wilayah, sehingga tingkat kesenjangan dapat dikurangi melalui rangsangan penjalaran perkembangan wilayah secara merata. Berdasarkan intensitas dan frekwensi kegiatan yang terjadi saat ini serta kelengkapan infrastruktur wilayah, Kabupaten Lebak didalam pengembangan struktur ruangnya terbagi kedalam 2 (dua) Wilayah Pengembangan yaitu Wilayah Pengembangan Utama dan Wilayah Pengembangan Penunjang. II - 49

Wilayah Pengembangan Utama Wilayah Pengembangan Utama memiliki aglomerasi kegiatan perkotaan dengan peran sebagai pusat dan pendorong pertumbuhan wilayah lainnya, hal ini disebabkan karena kegiatan perekonomian yang ada di wilayah ini terkait dengan sistem perekonomian regional dan memiliki basic ekonomi (keunggulan komperatif) untuk membangkitkan perekonomian daerah tersebut beserta daerah sekitarnya. Wilayah ini memiliki fungsi sebagai penggerak utama roda perekonomian Kabupaten Lebak, dimana dengan fungsi tersebut diharapkan akan dapat memberikan pengaruh yang baik terhadap perkembangan wilayah sekitarnya (trickle down effect). Selain itu dengan melihat faktor lokasi dan kelengkapan sarana maupun prasarananya telah menjadikan wilayah ini sebagai pusat koleksi dan distribusi bagi wilayah belakangnya serta menjadikan pintu gerbang interaksi bagi daerah lainnya. Wilayah Pengembangan Utama di Kabupaten Lebak terdiri dari 4 Wilayah Pengembangan sebagai berikut: 1. Wilayah Pengembangan Utama Rangkasbitung, yang meliputi Kecamatan Rangkasbitung, Kecamatan Kalanganyar dan Kecamatan Cibadak, dengan pusat pengembangan terletak di Kota Rangkasbitung. 2. Wilayah Pengembangan Utama Maja, meliputi Kecamatan Maja, Kecamatan Curugbitung dan Kecamatan Sajira dengan pusat pengembangan terletak di Kota Maja 3. Wilayah Pengembangan Utama Malingping, meliputi Kecamatan Malingping, dan Kecamatan Wanasalam, Kecamatan Cijaku dengan pusat pengembangan terletak di Kota Malingping. 4. Wilayah Pengembangan Utama Bayah, meliputi Kecamatan Bayah, Kecamatan Cibeber dan Kecamatan Cilograng dengan pusat pengembangan terletak di Kota Bayah. II - 50

Gambar 2.6 Peta Rencana Struktur Ruang di Kabupaten Lebak yang dibagi kedalam Wilayah Pengembangan Utama dan Wilayah Pengembangan Penunjang Wilayah Pengembangan Penunjang Wilayah Pengembangan Penunjang berperan sebagai daerah yang mendukung pertumbuhan wilayah utama, wilayah ini terletak di sebelah Tengah dan Selatan dari Kabupaten Lebak dengan dominasi kegiatan ekonomi sebagai pusat produksi pertanian, peternakan, perikanan, hutan dan pertambangan. Wilayah Pengembangan Penunjang di Kabupaten Lebak terdiri dari 5 (lima) Wilayah Pengembangan sebagai berikut: 1. Wilayah Pengembangan Penunjang Cimarga, yang meliputi Kecamatan Cimarga, Kecamatan Warunggunung dan Kecamatan Cikulur dengan pusat pengembangan berada di Kecamatan Cimarga 2. Wilayah Pengembangan Penunjang Cipanas, meliputi Kecamatan Cipanas, Kecamatan Sobang, Kecamatan Lebak Gedong dan Kecamatan Muncang dengan pusat pengembangan berada di Kota Cipanas. 3. Wilayah Pengembangan Penunjang Leuwidamar, meliputi Kecamatan Leuwidamar, Kecamatan Cirinten dan Kecamatan Bojongmanik dengan pusat pengembangan terletak di Kota Leuwidamar. 4. Wilayah Pengembangan Penunjang Gunung Kencana, meliputi Kecamatan Gunung Kencana, Kecamatan Banjarsari dan Kecamatan Cileles II - 51

dengan pusat pengembangan terletak di pusat Kecamatan Gunung Kencana. 5. Wilayah Pengembangan Penunjang Panggarangan, meliputi Kecamatan Panggarangan, Kecamatan Cigemblong dan Kecamatan Cihara dengan pusat pengembangan terletak di pusat Kecamatan Panggarangan. Selain membagi wilayah Kabupaten Lebak kedalam Wilayah Pengembangan Utama dan Wilayah Pengembangan Penunjang, Perencanaan struktur pemanfaatan ruang mengembangkan juga sistem permukiman yang dibagi kedalam : a. Sistem Permukiman Perdesaan Pusat permukiman perdesaan merupakan pusat terkonsentrasinya penduduk dengan kelengkapan fasilitas yang cukup memadai pada suatu daerah, biasanya pusat permukiman perdesaan cenderung berada di pusat-pusat kecamatan atau pada desa-desa pusat pertumbuhan dengan dominasi kegiatan di bidang pertanian. Pusat permukiman di Kabupaten Lebak ini diarahkan di Desa Candi, Kopi, Mekarjaya, Kebon Cau, Jampang, Simpang, Gardu Batok, Kadubitung, Bujal, Sajira, Ciparasi, Ciusul, Cirotan, Cibareno, Sawarna, Sobong, Gardu, Sareweh, Pasar Kupa, Cikaret, Suka Hujan, Lebaksiuh, Kerta dan Desa Pasir Binuangan. b. Sistem Permukiman Perkotaan Sistem Permukiman Perkotaan merupakan suatu pusat permukiman yang diarahkan sebagai pusat pelayanan ekonomi, pemerintahan dan jasa untuk memenuhi kebutuhan wilayahnya sendiri maupun wilayah sekitarnya. Wilayahwilayah yang mempunyai karakteristik tersebut di atas adalah Ibukota Rangkasbitung, Ibukota Kecataman Maja, Ibukota Kecataman Malingping dan Ibukota Kecamatan Bayah. B. Rencana Pola Ruang Secara umum rencana pola pemanfaatan ruang wilayah Kabupaten Lebak dibagi menjadi 2 fungsi kawasan utama yaitu kawasan lindung dan kawasan budi daya (pertanian dan non pertanian), dimana luas dari masing-masing kawasan adalah 97.222 ha (31,93 %) dan 207.246 ha (68,07). Lihat tabel 2.72 dan tabel 2.73 mengenai Rencana Pemanfaatan Ruang di Kabupaten Lebak. II - 52

Berdasarkan pada kondisi-kondisi tersebut di atas, Pola ruang di wilayah Kabupaten Lebak dapat digambarkan sebagai berikut : 1. Besarnya potensi kawasan lindung dan kawasan tangkapan air dari beberapa hulu sungai yang merupakan potensi sumberdaya air untuk Kabupaten Lebak dan daerah sekitarya. 2. Perkembangan kawasan-kawasan permukiman perkotaan dan perdesaan yang memerlukan keterpaduan dan keserasian hubungan antara fungsi kota dan desa. 3. Tersebarnya daerah rawan bencana dan cukup luasnya daerah kritis. 4. Pemanfaatan dan pengembangan potensi sumber daya alam seperti pertanian, pertambangan, pariwisata dan sumber daya yang lainnya. Oleh karena itu, kebijakan pengembangan pemanfaatan ruang di Kabupaten Lebak yang dituangkan ke dalam strategi pengembangan pola ruang adalah sebagai berikut : Strategi Penetapan Kawasan Lindung Untuk menjamin kelestarian dan keseimbangan pengelolaan sumber daya alam, maka strategi penetapan kawasan lindung di Kabupaten Lebak adalah sebagai berikut : a. Mempertahankan kawasan lindung yang ada. b. Menetapkan kawasan lindung di Kabupaten Lebak yang terdiri dari kawasan yang memberikan perlindungan kawasan bawahannya, kawasan perlindungan setempat kawasan suaka alam dan cagar budaya, serta kawasan, rawan bencana. c. Pengelolaan kawasan lindung untuk mencegah timbulnya kerusakan fungsi lingkungan hidup. d. Pengendalian pemanfaatan ruang kawasan lindung melalui kegiatan pemantauan, pengawasan dan penertiban pemanfaatan ruang dikawasan lindung. II - 53

Strategi Pengembangan Kawasan Budidaya Strategi pengembangan kawasan Budidaya di Kabupaten Lebak adalah sebagai berikut: a. Tiap-tiap kawasan diarahkan bagi suatu kegiatan budaya yang sesuai dengan daya dukung kawasan dan daya tampung kawasan. b. Pengembangan kawasan budidaya di Kabupaten Lebak diarahkan untuk mengakomodasi kegiatan produksi lahan basah, lahan kering, permukiman, industri, pertambangan dan pariwisata. c. Penetapan skala prioritas dalam kegiatan penataan ruang kawasan budidaya, sehingga lebih terarah dan fleksibel sesuai dengan tuntutan perkembangan. d. Pengendalian pemanfaatan ruang pada suatu kawasan antar kawasan sehingga tidak terjadi konflik kepentingan pengembangan pada suatu kawasan. Strategi Pengembangan Prasarana Wilayah Strategi pengembangan pengembangan prasarana Wilayah Kabupaten Lebak adalah meningkatkan dan mempertahankan fungsi prasarana Wilayah dalam menunjang pengembangan wilayah, khususnya dalam menunjang pemerataan pembangunan dan pertumbuhan ekonomi di Kabupaten Lebak. Strategi ini dilakukan untuk membentuk pemanfaatan ruang Kabupaten lebak yang terdiri dari : a. Strategi Pengembangan Sistem Prasarana Transportasi sebagai berikut : Prasarana transportasi yang akan dikembangkan di Kabupaten Lebak adalah Perhubungan darat yang terdiri dari jalan raya dan kereta api serta perhubungan laut yang terdiri dari perhubungan laut khususnya bagi kebutuhan pengembangan perikanan laut. Pengembangan jaringan jalan raya yang menghubungkan wilayah utara dan selatan. Pengembangan angkutan kereta api untuk angkutan masal dan angkutan barang. Mengembangkan pelabuhan ikan. b. Strategi Pengembangan Sistem Prasarana Pengairan sebagai berikut : Mengembangkan sistem pengairan yang terdapat di Kabupaten Lebak untuk memenuhi kebutuhan pertanian dan non pertanian melalui pemanfaatan air permukaan maupun air tanah yang tersebar di Kabupaten Lebak. II - 54

c. Strategi Pengembangan Sistem Prasarana Energi sebagai berikut : Mengembangkan potensi energi yang ada untuk memenuhi kebutuhan wilayah utara dan selatan, serta pengembangan energi alternatif untuk memenuhi kebutuhan energi wilayah tengah. d. Strategi Pengembangan Sistem Prasarana Telekomunikasi sebagai berikut : Mengembangkan dan mengarahkan Sistem telekomunikasi yang ada dalam menunjang pengembangan hubungan antara wilayah utara dengan wilayah selatan, serta dalam mendukung upaya pengembangan pariwisata. Sinergitas dan Sinkronisasi Program Kewilayahan dan Program Sektoral Dengan pertimbangan kebijakan pola tata ruang dan struktur ruang serta memperhatikan permasalahan ketimpangan pembangunan antar wilayah di atas, maka perlu ada sinergitas antara program-program kewilayahan dengan programprogram prioritas pembangunan yang bersifat sektoral. Sinergitas kedua program tersebut dapat dilaksanakan pada wilayah sasaran sebagai berikut : a. Desa/ Kecamatan Pusat Pertumbuhan Desa Pusat Pertumbuhan adalah desa yang menjadi simpul jasa dan simpul distribusi dari desa-desa di sekitarnya. Intervensi pembangunan yang dilakukan di Desa Pusat Pertumbuhan diharapkan dapat menjadi pemicu dan pemacu pertumbuhan ekonomi wilayah sekitarnya. Intervensi pembangunan yang dilakukan di Desa Pusat Pertumbuhan harus merupakan kegiatan pengembangan ekonomi daerah yang berbasis pada potensi lokal serta mempertimbangkan keterkaitan dengan perkembangan wilayah sekitarnya. b. Desa Budaya Lebak Desa Budaya Lebak adalah desa khas yang ditata untuk kepentingan pelestarian budaya. Kekhasan tersebut bisa berupa kampung adat atau rumah adat. Pelaksanaan pembangunan daerah harus senantiasa memperhatikan aspek budaya yang merupakan bagian dari modal sosial yang dapat dikembangkan menjadi sebuah potensi pembangunan. Salah satu upaya pelestarian budaya khas Lebak adalah dengan memfokuskan pembangunan di desa-desa budaya Lebak. Beberapa Desa Budaya di Lebak antara lain Desa Kanekes dengan Wisata Baduynya, Desa atau lebih populer Kasepuhan Citorek, Cisungsang dan Cibedug yang terletak di Kecamatan Cibeber. II - 55

c. Desa Tertinggal Desa Tertinggal adalah desa yang masyarakat serta wilayahnya relatif kurang berkembang dibandingkan desa lain dalam suatu wilayah tertentu. Ketertinggalan suatu wilayah tentu harus segera dikurangi untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakatnya. Intervensi pembangunan yang dilakukan di Desa Tertinggal ini dititikberatkan pada pemenuhan sarana dan prasarana dasar permukiman serta pemenuhan kebutuhan pokok kehidupan masyarakat seperti akses terhadap pendidikan dasar dan kesehatan dasar. Berdasarkan identifikasi Desa Tertinggal oleh BPS dan Bappeda Kabupaten Lebak pada tahun 2005 terdapat 148 Desa Tertinggal yang secara bertahap setiap tahunnya sampai dengan tahun 2008 terus dilakukan pengurangan melalaui berbagai program percepatan daerah tertinggal. Mengingat keterbatasan sumberdaya yang ada maka pembangunan desa tertinggal akan difokuskan pada 10 desa tertinggal setiap tahunnya. d. Kota Pusat Pertumbuhan di WPU dan WPP Kota Pusat Pertumbuhan atau Pusat Kegiatan Lokal (PKL) adalah kota sebagai pusat jasa, pusat pengolahan, dan simpul transportasi yang berskala regional. Berdasarkan Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) Kabupaten Lebak, rencana pengembangan sistem kota-kota di Lebak yang berkaitan dengan penataan distribusi Pusat Kegiatan Lokal (PKL) untuk mendukung keserasian perkembangan kegiatan pembangunan antar wilayah adalah meliputi : Wilayah Pengembangan Utama (WPU) Rangkasbitung, Maja, Malingping dan Bayah Wilayah Pengembangan Penunjang (WPP) Cimarga, Cipanas, Leuwidamar, Gunung Kencana dan Panggarangan. Kegiatan pembangunan yang dilakukan di Kota Pusat Pertumbuhan dititikberatkan peningkatan pusat pelayanan pendidikan, kesehatan dan infrastruktur ibukota kecamatan. e. Daerah Rawan Bencana Kawasan rawan bencana di Kabupaten Lebak dikategorikan ke dalam 2 kawasan, yaitu kawasan potensi rawan bencana gerakan tanah dan kawasan potensi rawan bencana banjir. Berdasarkan zonasi kerentanan gerakan tanah menengah dan tinggi, maka potensi kawasan rawan bencana alam di Kabupaten II - 56

Lebak seluas 1.300 ha (0,95 % dari luas total Kabupaten Lebak). Rencana sebaran kawasan rawan bencana alam terdapat di Kecamatan Cipanas, Kecamatan Bayah, Kecamatan Bojongmanik, dan Kecamatan Leuwidamar. Pada daerah-daerah berkerentanan gerakan tanah menengah dan tinggi masih mungkin terdapatnya daerah lanyak huni, sedangkan pada daerah-daerah berkerentanan gerakan tanah rendah masih memungkinkan terjadinya gerakan tanah dalam ukuran kecil. Untuk daerah-daerah berkerentanan gerakan tanah diperlukan penelitian geologi teknik yang lebih rinci apabila akan dilakukan pemanfaatan ruang di daerah ini. Sedangkan Kawasan rawan bencana banjir sedapat mungkin tidak dipergunakan untuk permukiman, demikian pula kegiatan lain yang dapat merusak atau mempengaruhi kelancaran sistem drainase. Perhubungan Penyediaan sarana dan prasarana transportasi merupakan infrastruktur dasar bagi pelaksanaan kegiatan masyarakat di segala bidang, baik ekonomi, sosial maupun pertahanan dan keamanan pada suatu wilayah. Sistem transportasi yang baik akan membantu laju pertumbuhan ekonomi wilayah, sehingga penyelenggaraan sistem transportasi tidak dapat dilepaskan dari rencana pengembangan ekonomi wilayah. Pengembangan Sistem Transportasi di Kabupaten Lebak ditekankan pada pengembangan sistem transportasi darat. Sistem transportasi darat mencakup sarana dan prasarana jaringan jalan, terminal, angkutan umum dan kereta api. Kondisi terminal-terminal yang ada di Kabupaten Lebak sampai dengan tahun 2008 dapat digambarkan sebagai berikut : 1. Terminal Kadu Agung (Mandala) a. Luas Areal : 10.200 M2 b. Luas Bangunan : 150 M2 (bertingkat) c. Jalur trayek yang dilayani sebanyak 23 Trayek yang terdiri dari 2 trayek angkutan kota, 10 trayek angkutan desa, 11 trayek AKDP dan AKAP. d. Permasalahan : - Keadaan implasmen agak rusak - Kondisi gedung kantor agak rusak - Kesadaran para pengemudi/pengusaha terhadap kewajibankewajibannya masih sangat rendah II - 57

- Keberadaan para pengurus jalur mengganggu kinerja terminal Kaduagung/Mandala - Jumlah kendaraan yang beroperasi baik angkot, angdes,akap maupun AKDP tidak sesuai dengan jumlah kendaraan yang terdaftar, rata-rata kendaraan yang operasi hanya 60%. 2. Terminal Curug a. Luas Areal : 10.000 M2 b. Luas Bangunan : 109,725 M2 (bertingkat) c. Jalur trayek yang dilayani sebanyak 23 Trayek. 3. Terminal Aweh a. Luas Areal : 5.700 M2 b. Luas Bangunan : 276 M2 (bertingkat) c. Jalur trayek yang dilayani sebanyak 8 Trayek yang terdiri dari 1 trayek angkutan kota, 7 trayek angkutan desa. d. Permasalahan : - Rendahnya bangkitan penumpang dari arah Ciboleger dan sekitarnya - Masyarakat pengguna jasa angkutan orang dari arah Ciboleger dan sekitarnya menuju ke Rangkasbitung tidak berkenan untuk berganti kendaraan di Terminal Aweh karena merasa terbebani dengan penambahan ongkos untuk berganti kendaraan 4. Terminal Malingping a. Luas Areal : 10.000 M2 b. Luas Bangunan : 100 M2 (bertingkat) c. Jalur trayek yang dilayani sebanyak 7 Trayek semuanya trayek angkutan desa. d. Permasalahan : - Rendahnya bangkitan penumpang dari arah Malingping dan sekitarnya ked an dari arah Bayah karena keberadaan terminal jauh dari pusat kota dan pasar sehingga menyebabkan kurangnya penghasilan para sopir angkutan. II - 58

5. Terminal Bayah a. Jalur trayek yang dilayani sebanyak 6 Trayek semuanya trayek angkutan desa. b. Permasalahan : - Sebagian penumpang memilih menunggu kendaraan di jalan dibandingkan dengan menunggu di terminal karena untuk mempercepat waktu tempuh ke tujuan. - Banyak kendaraan yang tidak beroperasi karena mengalami kerusakan dan mahalnya suku cadang - Kurangnya jumlah angkutan yang menyebabkan rendahnya penghasilan para sopir angkutan 6. Terminal Binuangeun a. Luas areal 1.970 M2 yang kondsinya rusak berat b. Jalur trayek yang dilayani sebanyak 2 Trayek yang terdiri dari AKAP dan Angkot. c. Permasalahan : - Rendahnya bangkitan penumpang - Kondisi terminal rusak berat Pertanahan Berdasarkan kepemilikan lahan, pada tahun 2010 sebesar 21,14% (64.356,66 Ha) sudah dimiliki oleh masyarakat di Kabupaten Lebak dengan luas lahan bersertifikat 64.350,14 Ha atau 99,98% dari luas luas lahan yang dimiliki. Kependudukan dan Catatan Sipil Penyediaan dokumen kependudukan dilaksanakan sebagai upaya pemenuhan kebutuhan masyarakat akan dokumen kependudukan, sehingga semua penduduka Kabupaten Lebak diharapkan memiliki dokumen kependudukan yang lengkap sebagaimana disebutkan dalam Undang-Undang RI No. 23 Tahun 2006. Namun demikian, berdasarkan data permohonan pembuatan dokumen kependudukan hingga Desember 2008, tercatat 477.394 penduduk yang telah memiliki Kartu Tanda Penduduk atau 57,30% dari 833.094 penduduk yang wajib II - 59

memiliki Kartu Tanda Penduduk. Demikian pula halnya dengan akte kelahiran, yang tercatat memiliki akte kelahiran sekitar 408.915 jiwa atau 33,98%. Sementara itu dari hasil pelayanan pendaftaran penduduk dan pencatatan biodata penduduk melalui validasi data kependudukan pada Buku Induk Penduduk (BIP) dan pengisian form F-1.01 bagi penduduk WNI yang belum terdaftar dalam BIP, database kependudukan (melalui sistem SIAK) telah berhasil merekam penduduk Kabupaten Lebak sebanyak 1.181.021 jiwa. Untuk pelayanan pendaftaran kependudukan dan catatan sipil dapat dilihat pada tabel berikut ini. No Tabel 2.30 Pelayanan Pendaftaran Penduduk dan Catatan Sipil di Kabupaten Lebak Tahun 2004-2008 Jenis Pelayanan Tahun 2004 2005 2006 2007 2008 1. Kartu Keluarga (KK) - - - 11.500 14.500 2. 3. Kartu Tanda Penduduk (KTP) Akta-akta Pencatatan Sipil 70.000 20.000 22.000 41000 131.000 10.500 7.000 7.200 7.955 12.000 4. Buku Register 135 145 150 162 240 Sumber: Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil Kab. Lebak Keluarga Berencana dan Keluarga Sejahtera Pada era otonomi daerah untuk bidang Keluarga Berencana, setiap kabupaten/kota bekerjasama untuk menyelenggarakan pelayanan Keluarga Berencana dan Keluarga Sejahtera sesuai standar pelayanan minimal. Jenis pelayanan yang harus dikembangkan diantaranya : 1. Penyelenggaraan Pelayanan Kesehatan Reproduksi Remaja (KRR); 2. Penyelenggaraan Pelayanan Keluarga Berencana (KB)/Kesehatan Reproduksi (KR) yang beruntun dan berkesinambungan. 3. Pengembangan kualitas keluarga meliputi : a. Pembinaan Keluarga Berencana (BKB) b. Pembinaan Keluarga Remaja (BKR) c. Pembinaan Keluarga Lansia (BKL) Kondisi penyelenggaraan pelayanan sebagaimana uraian di atas dapat dilihat pada tabel berikut ini. II - 60

Tabel 2.31 Banyak Akseptor KB menurut Alat Kontrasepsi yang digunakan di Kabupaten Lebak Tahun 2004-2008 No. Tahun IUD MOP MOW Susuk Suntik Pil Kondom Jumlah 1 2004 5.681 2.516 1.630 17.542 66.298 39.521 290 133.478 2 2005 5.542 2.519 1.751 17.835 67.347 39.648 266 134.908 3 2006 5.094 2.582 1.823 13.858 67.897 45.871 298 137.423 4 2007 5.019 2.471 1.918 13.518 74.002 40.159 593 137.680 5 2008 5.530 2.494 2.077 14.815 83.773 48.786 1.322 158.797 Sumber Data : Dinas Kesehatan Kab. Lebak Dari tabel di atas diketahui bahwa akseptor KB yang terbanyak menggunakan alat kontrasepsi suntik dan tren setiap tahunnya mengalami peningkatan. Pada umumnya dari tahun 2004-2008 jumlah pengguna akseptor KB di Kabupaten Lebak setiap tahunnya mengalami kenaikan. Hal ini menunjukkan bahwa tingkat kesadaran masyarakat Kabupaten Lebak menjadi peserta Keluarga Berencana (KB) atau akseptor naik sebesar 86,71%. Tabel 2.32 Jumlah Sarana Pelayanan Keluarga Berencana di Kabupaten Lebak Tahun 2004-2008 No. Tahun KKB Induk KKB Pembantu PKBRS Puskesmas Jumlah 1 2004 34 61 3 33 131 2 2005 36 57 4 35 132 3 2006 34 63 4 35 136 4 2007 35 52 4 34 125 5 2008 34 52 4 40 130 Sumber : BPS Kab. Lebak Jumlah sarana pelayanan Keluarga Berencana selama kurun waktu 2004-2008 secara berkesinambungan relatif konstan. Hanya sarana pelayanan untuk KKB Induk dan KKB Pembantu secara statistik mengalami fluktuasi. II - 61

Tabel 2.33 Jumlah Petugas Lapangan Keluarga Berencana Di Kabupaten Lebak Tahun 2004-2008 No. Tahun PPLKB PLKB Penyuluh KB Jumlah 1 2004 10 25 101 136 2 2005 7 27 93 127 3 2006 4 21 69 94 4 2007 28 19 41 88 5 2008 28 15 64 79 Sumber : BPS Kab. Lebak Dari tabel di atas dapat diketahui bahwa PLKB dan Penyuluh KB mengalami penurunan. Hal ini disebabkan petugas lapangan tersebut ada yang pensiun dan mutasi kepegawaian. Di Kabupaten Lebak pelayanan Kesehatan Reproduksi Remaja terbentuk pada tahun 2007 sebanyak 5 kelompok terdiri dari 1 PIK-KRR Tingkat Kabupaten dan 4 PIK-KRR Tingkat Kecamatan. Seiring dengan semakin berkembangnya jumlah penduduk pada tahun 2008 jumlah PIK-KRR bertambah menjadi 18 kelompok terdiri dari 1 PIK-KRR Tingkat Kabupaten dan 17 PIK-KRR Tingkat Kecamatan. Posyandu adalah suatu wadah komunikasi alih teknologi dalam pelayanan kesehatan masyarakat dari Keluarga Berencana dari masyarakat, oleh masyarakat dan untuk masyarakat dengan dukungan pelayanan serta pembinaan teknis dari petugas kesehatan dan keluarga berencana yang mempunyai nilai strategis untuk pengembangan sumber daya manusia sejak dini. Jumlah posyandu dan kader posyandu di Kabupaten Lebak relatif stabil setiap tahunnya, seperti terlihat pada tabel berikut ini. Tabel 2.34 Jumlah Pos Yandu, Kader dan Kader Aktif Di Kabupaten Lebak Tahun 2004-2008 Kader No. Tahun Posyandu Jumlah Kader Kader Aktif 1. 2004 1.539 6.142 3.450 2. 2005 1.539 6.142 3.450 3. 2006 1.646 8.230 8.230 4. 2007 1.646 8.230 8.230 5. 2008 1.646 8.230 8.230 Sumber : BPS Kab. Lebak II - 62

No. Tabel 2.35 Jumlah Data Kelompok Kegiatan Ketahanan Keluarga di Kabupaten Lebak Tahun 2008 Kecamatan Kelompok Kegiatan BKB BKR BKL 1. Rangkasbitung 15 10 14 2. Kalanganyar 7 5 6 3. Cibadak 11 7 8 4. Warunggunung 12 6 7 5. Cikulur 13 6 6 6. Leuwidamar 12 6 7 7. Cimarga 16 7 10 8. Bojongmanik 7 3 5 9. Cirinten 8 5 6 10. Muncang 7 5 6 11. Sobang 9 4 7 12. Gunungkencana 11 6 8 13. Cileles 11 5 8 14. Banjarsari 15 7 10 15. Malingping 13 7 9 16. Wanasalam 11 3 8 17. Cigemblong 8 3 6 18. Cijaku 9 4 6 19. Sajira 14 6 9 20. Lebakgedong 5 3 6 21. Cipanas 13 7 9 22. Maja 12 6 8 23. Curugbitung 9 4 7 24. Panggarangan 9 6 7 25. Cihara 7 4 5 26. Bayah 8 3 8 27. Cibeber 19 7 11 28. Cilograng 9 4 7 Jumlah 300 149 214 Sumber : BP2KBMPD Kab. Lebak, Tahun 2008 II - 63

Sosial Tantangan yang dihadapi dalam pembangunan kesejahteraan sosial meliputi proses globalisasi dan industrialisasi serta krisis ekonomi dan politik yang berkepanjangan. Dampak yang dirasakannya diantaranya semakin berkembang dan meluasnya bobot, jumlah dan kompleksitas berbagai permasalahan sosial. Penanganan permasalah sosial perlu didukung oleh sarana sosial. Jumlah panti di Kabupaten Lebak pada tahun 2004 berjumlah 70 panti, pada tahun 2005 berjumlah 73 panti, pada tahun 2006 berjumlah 93 panti, pada tahun 2007 berjumlah 116 panti dan pada tahun 2008 berjumlah 129 panti. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada tabel 2.35 di bawah ini. Tabel 2.36 Jumlah Panti Berdasarkan Penanganan Kasus di Kabupaten Lebak Tahun 2004-2008 No. Tahun Jenis Penanganan Cacat Asuh Jompo 1 2004 4 70-2 2005 4 73-3 2006 5 93-4 2007 5 116-5 2008 5 129 - Sumber : Yayasan non panti di Kabupaten Lebak pada tahun 2008 berjumlah 134 yayasan dengan 6.753 anak asuh. Selain itu, keadaan permasalahan sosial dapat diamati dari data tabel Penyandang Masalah Kesejahteraan Sosial (PMKS) di bawah ini. No. Tahun Tabel 2.37 Jumlah Penduduk Penderita Cacat Fisik Di Kabupaten Lebak Tahun 2004-2008 Tuna Rungu - Wicara Tuna Daksa Tuna Netra Tuna Ganda Bibir Sumbing Jumlah 1 2004 1.204 501 509 42 401 2.657 2 2005 1.407 742 837 70 432 3.488 3 2006 1.542 881 801 79 401 3.704 4 2007 1.730 985 838 90 437 4.080 5 2008 1.889 1.424 631 401 386 4.731 Sumber : BPS Kab. Lebak II - 64

Tabel 2.38 Jumlah Penduduk Penderita Cacat Mental Di Kabupaten Lebak Tahun 2004-2008 No. Tahun Penderita Cacat Mental: Laki-laki Perempuan Jumlah 1 2004 103 78 181 2 2005 124 96 220 3 2006 137 98 235 4 2007 159 102 261 5 2008 198 136 334 Sumber : BPS Kab. Lebak Ketenagakerjaan Permasalahan ketenagakerjaan sampai saat ini senantiasa menjadi salah satu isu utama pembangunan, baik pada skala nasional, regional maupun lokal. Diperkirakan permasalahan ketenagakerjaan ini masih akan diwarnai oleh masalah-masalah yang bersifat konvensional dan kontemporer seperti masalah angkatan kerja, pengangguran dan pemutusan hubungan kerja. No. Tahun Petani Tabel 2.39 Jumlah Penduduk menurut Mata Pencaharian di Kabupaten Lebak Tahun 2004-2008 Buruh Tani Buruh Nelayan PNS Industri Nelayan/ Perikanan Perdagangan Lainnya 1 2004 NR NR NR NR NR NR NR NR NR 2 2005 198.355 89.405 NR NR 13.547 20.178 37.265 33.401 Jumlah 3 2006 195.354 110.008 8.781 2.762 16.015 20.177 37.667 73.925 464.699 4 2007 186.634 101.379 6.695 1.236 13.617 21.614 39.058 78.002 448.235 Sumber : BPS Kab. Lebak Jumlah Tenaga Kerja Indonesia (TKI) setiap tahunnya selalu mengalami kenaikan, kecuali pada tahun 2008 tidak mengalami kenaikan dibandingkan dengan tahun 2007, hanya mengalami perubahan komposisi antara Tenaga Kerja Indonesia perempuan dan laki-lakinya. Tenaga Kerja Indonesia lebih didominasi oleh tenaga kerja perempuan dibandingkan dengan tenaga kerja laki-lakinya, hal ini dapat terlihat dari tabel berikut : II - 65

No. Tabel 2.40 Jumlah Tenaga Kerja Indonesia (TKI) menurut Jenis Kelamin di Kabupaten Lebak Tahun 2004-2008 Tahun Laki-laki TKI Perempuan Jumlah 1. 2004 NR NR NR 2. 2005 1.236 2.784 4.020 3. 2006 1.946 3.197 5.143 4. 2007 2.370 3.262 5.632 5. 2008 2.389 3.243 5.632 Sumber : BPS Kab. Lebak, 2008 Koperasi dan Usaha Kecil dan Menengah Koperasi sebagai soko guru ekonomi memiliki peran strategis dalam mengembangkan struktur perekonomian daerah guna mewujudkan kesejahteraan masyarakat. Kondisi Koperasi di Kabupaten pada akhir tahun 2008 secara kuantitatif terdiri dari 24 jenis koperasi dengan jumlah 834 koperasi yang memiliki anggota sebanyak 95.012 anggota. Untuk tahun 2008 jumlah Koperasi yang dilihat dari jenis klasifikasi terdiri dari Klasifikasi A sebanyak 75 Koperasi, Klasifikasi B sebanyak 84 Koperasi, Klasifikasi C sebanyak 175 Koperasi, dan Klasifikasi D sebanyak 500 Koperasi. Sementara itu dari segi aktifitas yang dilakukan oleh Koperasi ternyata dari data yang ada hanya 570 Koperasi yang aktif. Sementara itu berdasarkan hasil Sensus Ekonomi Tahun 2006 yang dilaksanakan oleh BPS diketahui jumlah Usaha Kecil dan Menengah (UKM) di Kabupaten Lebak berjumlah 104.537 unit usaha yang bergerak pada 13 jenis usaha. Rincian jenis dan jumlah usaha sebagai berikut : a. Pertambangan/Penggalian : 1.232 unit usaha; b. Industri Pengolahan : 15.114 unit usaha; c. Listrik, Gas dan Air : 53 unit usaha; d. Konstruksi : 461 unit usaha; e. Perdagangan Besar dan Eceran : 47.969 unit usaha; f. Penyediaan Akomodasi (Makanan dan Minuman) : 8.688 unit usaha; g. Transportasi, Pergudangan, Komunikasi : 20.909 unit usaha; h. Perantara Keuangan : 285 unit usaha; i. Real Estate, Usaha Persewaan Jasa Perusahaan : 1.769 unit usaha; j. Jasa Pendidikan : 1.520 unit usaha; k. Jasa Kesehatan dan Kegiatan Sosial : 624 unit usaha; II - 66

l. Jasa Kemasyarakatan (Sosial Budaya) : 5.692 unit usaha; m. Jasa Perorangan Melayani Rumah Tangga : 221 unit usaha. Tabel 2.41 Perkembangan Koperasi di Kabupaten Lebak Tahun 2004-2008 No. Tahun Klasifikasi: Anggota Jumlah Aktif Tidak Aktif Koperasi 1 2004 536 81 617 83.830 2 2005 514 118 632 83.862 3 2006 219 436 655 87.981 4 2007 334 402 736 90.443 5 2008 570 264 834 95.012 Sumber: Dinas Koperasi dan UKM Kab. Lebak, 2008 Tabel 2.42 Koperasi di Kabupaten Lebak Tahun 2008 Kecamatan Aktif Tidak Aktif Jumlah Rangkasbitung 158 60 218 Cibadak 39 20 59 Kalanganyar 25 3 28 Cimarga 18 12 30 Warunggunung 39 17 56 Maja 17 9 26 Curug Bitung 9 1 10 Sajira 17 14 31 Lebak Gedong 1-1 Cipanas 28 6 34 Leuwidamar 11 7 18 Muncang 11 5 16 Sobang 3 1 4 Bojongmanik 7-7 Cirinten 3 2 5 Cikulur 15 10 25 Cileles 11 9 20 Gunung Kencana 10 14 24 Banjarsari 13 15 28 Cijaku 16 3 19 Cigemblong - - - Malingping 31 22 53 Wanasalam 21 9 30 Cihara 11-11 Panggarangan 9 6 15 Bayah 19 14 33 Cibeber 20 3 23 Cilograng 8 2 10 J u m l a h 570 264 834 Sumber : Dinas Koperasi dan UKM Kab. Lebak, 2008 II - 67

Penanaman Modal Jumlah investasi swasta di Kabupaten Lebak yang berskala kecil/menengah/besar selama empat tahun terakhir menunjukkan adanya peningkatan yang bergerak pada bidang industri, pertanian, perkebunan, pertambangan pariwisata dan perdagangan, yang terdiri dari : 1). Perusahaan PMDN pada tahun 2004 sebanyak 1 perusahaan dan tahun 2008 menjadi 5 perusahaan, 2). Perusahaan PMA pada tahun 2004 sebanyak 2 perusahaan dan tahun 2008 menjadi 19 perusahaan, 3). Perusahaan Non Fasilitas pada tahun 2004 sebanyak 34 perusahaan dan tahun 2008 menjadi 1.017 perusahaan. Perkembangan investasi selama 4 (empat) tahun sebagai berikut : II - 68

Tabel 2.43 Perkembangan Investasi di Kab. Lebak Tahun 2004-2008 No. Jenis Investasi Tahun 2004 2005 2006 2007 2008 Jumlah 1. PMDN Rp. 286.000.000.000 Rp. - Rp. 520.000.000.000 Rp. 15.000.000.000 Rp. - Rp. 821.000.000.000 2. PMA US$ 37.100.000 US$ 184.100.000 US$ 1.390.000 US$ 9.250.000 US$ 172.100.000 US$ 403.940.000 Rp. - Rp. - Rp. - Rp. - Rp. 2.400.000.000 Rp. 2.400.000.000 3. Non Fasilitas Rp. 30.147.500.000 Rp. 34.400.220.000 Rp. 385.633.295.000 Rp. 122.663.000.000 Rp. 143.138.892.000 Rp. 715.982.907.000 Jumlah Rp. 316.147.500.000 Rp. 34.400.220.000 Rp. 905.633.295.000 Rp. 137.663.000.000 Rp. 145.538.892.000 Rp. 1.539.382.907.000 US$ 37.100.000 US$ 184.100.000 US$ 1.390.000 US$ 9.250.000 US$ 172.100.000 US$ 403.940.000 Sumber : KPPT Kabupaten Lebak, 2008 II - 69

Kesatuan Bangsa dan Politik Dalam Negeri Situasi politik di Kabupaten Lebak merupakan resonansi dari konsolidasi demokrasi di Indonesia. Indonesia menempuh jalur transisi demokrasi, kegiatan masyarakat sipil semakin meningkat. Iklilm baru reformasi politik, telah mendorong pertumbuhan organisasi kemasyarakatan baru, yayasan-yayasan, perkumpulanperkumpulan warga dan sebagainya. Perkembangan proses demokratisasi sejak tahun 1997 hingga selesainya proses Pemilu tahun 2004 yang lalu telah memberikan peluang untuk mengakhiri masa transisi demokrasi menuju arah proses konsolidasi demokrasi. Berkenaan dengan Pemilu, keberhasilan penting yang telah diraih adalah telah dilaksanakannya pemilihan umum langsung anggota DPR, DPD dan DPRD, serta pemilihan presiden dan wakil presiden secara langsung, aman dan demokratis pada tahun 2004. Hal ini merupakan modal awal yang penting untuk lebih berkembangnya demokrasi pada masa selanjutnya. Dengan demikian demokrasi selama ini ditandai pula dengan terumuskannya format hubungan antara pusat-daerah yang baru berdasarkan UU Nomor 32 Tahun 2004 sebagaiman diubah terakhir dengan UU Nomor 12 Tahun 2008 tentang Pemerintahan Daerah, dan UU Nomor 33 Tahun 2004 tentang Perimbangan Keuangan antara Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah yang pada intinya lebih mendorong kemandirian daerah untuk mengatur dan mengurus sendiri urusan pemerintahan dan mengatur mengenai hubungan wewenang antara pemerintah pusat dan pemerintahan daerah propinsi, kabupaten dan kota, atau propinsi dengan kabupaten dan kota. Pertumbuhan kekuatan masyarakat sipil (civil society) di Kabupaten Lebak jika dikelola dengan benar akan menjadi komponen strategis dalam rangka : 1. Memobilisasi dan menyatukan kepentingan, perhatian dan kebutuhan masyarakat atau bagian-bagiannya, dan untuk menyampaikannya kepada para pemegang kekuasaan atau wakil-wakil partai politik. 2. Membantu pemantauan dan pengendalian lembaga-lembaga publik serta pelaksanaan undang-undang, peraturan-peraturan, dan 3. Memediasi antar kepentingan-kepentingan sosial, agama dan budaya yang bertentangan, pendidikan, penelitian, dan kegiatan-kegiatan rekonsiliasi bisa membantu mengurangi konflik dan menemukan resolusi-resolusi konflik. Masyarakat sipil di Kabupaten Lebak, merupakan modal dasar bagi upaya pencapaian mekanisme check and balance, distribusi kekuasaan secara sehat dan II - 70

fair, serta adanya struktur dan budaya politik yang adil dan berorientasi kepada masyarakat luas. Oleh karena itu, tantangan terberat dalam kurun waktu 5 sampai 20 tahun mendatang dalam pembangunan politik adalah menjaga proses konsolidasi demokrasi secara berkelanjutan. Konsolidasi demokrasi akan berjalan baik apabila didukung oleh kelembagaan demokrasi yang kokoh. Sampai dengan saat ini, proses demokrasi dalam kehidupan sosial dan politik dapat dikatakan telah berjalan pada jalur dan arah yang benar yang ditunjukkan dengan tingginya partisipasi masyarakat dan peran partai politik dalam proses Pemilu (pemilihan Gubernur dan Wakil Gubernur, pemilihan Bupati dan Wakil Bupati dan Legislatif). Dalam waktu 5 (lima) tahun kedepan, pelaksana serta peningkatan kualitas demokrasi yang sudah berjalan baik, akan terus dikembangkan. Gambaran tentang berjalannya proses demokrasi di Kabupaten Lebak dapat terlihat pada berikut ini. Tabel 2.44 Jumlah Anggota DPRD Kabupaten Lebak Menurut Fraksi Hasil Pemilu Tahun 2004 No Fraksi Jenis Kelamin Laki-laki Perempuan Jumlah 1. Partai Golkar 11 2 13 2. PDI Perjuangan 10-10 3. P P P 6-6 4. Keadilan Sejahtera 5 1 6 5. Kebangkitan Bangsa 4-4 6. Lebak Membangun 6-6 J u m l ah 42 3 45 No. 1. Tabel 2.45 Jumlah Pemilihan Umum Kabupaten Lebak Tahun 2006 dan 2008 Jenis Pemilihan Umum Gubernur dan Wakil Gubernur Tidak Menggunakan Hak Menggunakan Hak Pilih Pilih Laki-laki Perempuan Laki-laki Perempuan 272.041 280.805 129.931 106.534 2. Bupati dan Wakil Bupati 282.448 293.361 138.032 106.930 Sumber : KPU Kab. Lebak, Tahun 2006 dan 2008 II - 71

Tabel 2.46 Jumlah Hasil Perhitungan Suara Pemilihan Umum Kabupaten Lebak Tahun 2006 dan 2008 No. Kecamatan Suara Sah Suara Tidak Sah 1. Gubernur dan Wakil Gubernur 530.570 22.809 2. Bupati dan Wakil Bupati 560.597 8.483 Sumber : KPU Kab. Lebak, Tahun 2006 dan 2008 Tabel 2.47 Jumlah Daftar Terpilih Anggota DPRD Kabupaten Lebak Pemilu Tahun 2009 No. Daerah Pemilihan Jumlah Calon Terpilih Suara Sah 1. Lebak 1 10 28.927 2. Lebak 2 9 28.162 3. Lebak 3 9 41.122 4. Lebak 4 8 37.685 5. Lebak 5 6 20.927 6. Lebak 6 8 32.878 Jumlah 50 189.701 Sumber : KPU Kab. Lebak, Tahun 2009 Otonomi Daerah, Pemerintahan Umum, Administrasi Keuangan Daerah, Perangkat Daerah, Kepegawaian dan Persandian Perangkat Daerah adalah organisasi atau lembaga pada Pemerintah Daerah yang bertanggung jawab kepada Kepala Daerah dalam rangka penyelenggaraan pemerintahan di daerah. Pada Daerah Provinsi, Perangkat Daerah terdiri atas Sekretariat Daerah, Dinas Daerah, dan Lembaga Teknis Daerah. Pada Daerah Kabupaten/Kota, Perangkat Daerah terdiri atas Sekretariat Daerah, Dinas Daerah, Lembaga Teknis Daerah, Kecamatan, dan Kelurahan. Perangkat Daerah dibentuk oleh masing-masing Daerah berdasarkan pertimbangan karakteristik, potensi, dan kebutuhan Daerah. Organisasi Perangkat Daerah ditetapkan dengan Peraturan Daerah setempat dengan berpedoman kepada Peraturan Pemerintah. Di Kabupaten Lebak kelembagaan perangkat daerah sebanyak 51 satuan kerja yang ditetapkan berdasarkan Peraturan Daerah Kabupaten Lebak Nomor 14 Tahun 2001. Dengan diterbitkannya Peraturan II - 72

Pemerintah Nomor 41 Tahun 2007, Kabupaten Lebak mengembangkan tata kelembagaan pemerintahan daerahnya menjadi 61 satuan kerja yang ditetapkan melalui Peraturan Daerah Kabupaten Lebak Nomor 11 Tahun 2007. Guna meningkatkan potensi daerah, Kabupaten Lebak melakukan kerjasama dengan daerah otonom lainnya serta dengan dunia usaha sejumlah 2 kegiatan kerja sama, yaitu : 1. Kerjasama antara Pemerintah Kabupaten Sragen Provinsi Jawa Tengah di bidang Tata Pemerintahan dan Pembangunan Daerah dan menghasilkan Keputusan Bersama Bupati Sragen Provinsi Jawa Tengah dengan Bupati Lebak Provinsi Banten Nomor : 570/04/03/2005 dan Nomor : 130.1/Kep- 65/Bapp/2005. 2. Kerjasama pembangunan Pasar Kota Rangkasbitung dengan PT. Bukit Kiara Lestari dan menghasilkan Perjanjian Kerjasama Nomor : 180/Perj-02/2006 dan Nomor : 010/PK/BKL/April-2006 yang kemudian diubah dengan Addendum dan Perubahan Perjanjian Kerjasama Nomor : 180/Perj-08/2007 dan Nomor : 010A/PK/BKL/Juli 2007. Sejak Juni 2006 telah beroperasi unit Pelayanan Perijinan Terpadu sebagai salah satu bentuk kepedulian Pemerintah Daerah Kabupaten Lebak terhadap penyederhanaan pelayanan perijinan kepada masyarakat, sehingga pelayanan yang diberikan menjadi jauh lebih cepat, tepat dan mudah. Adapun perijinan yang dikeluarkan oleh unit KPPT diantaranya : 1. IPPT (Ijin Peruntukan Penggunaan Tanah); 2. IMB (Ijin Mendirikan Bangunan); 3. SITU/SIGA (Surat Ijin Tempat Usaha/Surat Ijin Gangguan); 4. SIUP (Surat Ijin Usaha Perdagangan); 5. TDP (Tanda Daftar Perusahaan); 6. TDG (Tanda Daftar Gudang); 7. TDI/IUI (Tanda Daftar Industri/Ijin Usaha Industri); 8. Ijin Pertambangan Umum; 9. Ijin Penyelenggaraan Reklame; 10. SIUJK (Surat Ijin Usaha Jasa Konstruksi); 11. Ijin Pengusahaan Sarang Burung Walet; 12. Ijin Penebangan Kayu; 13. SIUK (Surat Ijin Usaha Kepariwisataan); 14. Perijinan Pelayanan Kesehatan. II - 73

Perijinan sebagaimana disebutkan di atas, penandatanganannya dilaksanakan oleh Kepala KPPT Kabupaten Lebak atas nama Bupati Lebak, namun untuk perijinan tertentu Kepala KPPT harus terlebih dahulu meminta persetujuan Bupati Lebak melalui Nota Dinas. Adapun perijinan yang dikecualikan tersebut meliputi : 1. Perijinan untuk pendirian Hotel; 2. Perijinan untuk pendirian Rumah Sakit; 3. Perijinan untuk pemasangan reklame konstruksi besar; 4. Perijinan untuk pendirian Rice Milling Unit (RMU); 5. Perijinan untuk pendirian SPBU/Pompa Bensin; 6. Perijinan untuk penerbitan Ijin Usaha Industri yang mempunyai nilai investasi Rp. 1 Milyar ke atas; 7. Perijinan untuk usaha Pertambangan Umum 5 Hektar ke atas; 8. Perijinan untuk mendirikan bangunan dengan 500 m 2 ke atas dan atau bangunan dengan nilai bangunan Rp. 500 juta ke atas; 9. Perijinan untuk Peruntukan Penggunaan Tanah 1.000 m 2 ke atas; 10. Perijinan yang belum memiliki dasar aturan perundang-undangan yang berlaku. Perkembangan pencapaian target retribusi perijinan dapat dilihat pada tabel berikut : Tabel 2.48 Pencapaian Target Retribusi Perijinan KPPT Tahun 2006 2008 Tahun No. Jenis Perijinan 2006 2007 2008 1. Ijin Penebangan Kayu dan Bambu 160.541.900,- 178.921.250,- 192.802.625,- 2. 3. Ijin Pengusahaan Sarang Burung Walet Surat Ijin Usaha Perdagangan (SIUP) 40.750.000,- 19.750.000,- 19.250.000,- 62.400.000,- 113.000.000,- 81.100.000,- 4. Tanda Daftar Perusahaan (TDP) 24.975.000,- 45.450.000,- 33.325.000,- 5. 6. Tanda Daftar Industri (TDI) / Ijin Usaha Industri (IUI) Surat Ijin Tempat Usaha (SITU) / Surat Ijin Gangguan (SIGA) 8.050.000,- 12.950.000,- 9.525.000,- 267.335.000,- 485.732.000,- 521.625.145,- 7. Tanda Daftar Gudang (TDG) 3.350.000,- 2.150.000,- 1.650.000,- 8. Ijin Pelayanan Kesehatan 10.725.000,- 29.100.000,- 24.575.000,- II - 74

No. Jenis Perijinan Tahun 2006 2007 2008 9. Ijin Penggunaan Tanah (IPPT) 952.157.650,- 143.671.125,- 80.983.400,- 10. Ijin Mendirikan Bangunan (IMB) 302.090.950,- 263.515.750,- 271.022.550,- 11. 12. Surat Ijin Usaha Jasa Konstruksi (SIUJK) Ijin Pertambangan Umum (Iuran Pertambangan Umum Percadangan Wil. Pertambangan Umum) 9.600.000,- 31.300.000,- 16.150.000,- 108.465.750,- 194.210.450,- 212.508.900,- Sumber : KPPT Kab. Lebak Desa adalah kesatuan masyarakat hukum yang memiliki batas-batas wilayah yang berwenang untuk mengatur dan mengurus masyarakat setempat, berdasarkan asal-usul dan adat istiadat setempat yang diakui dan dihormati dalam sistem Pemerintahan Negara Kesatuan Republik Indonesia; sedangkan Kelurahan adalah wilayah kerja lurah sebagai Perangkat Daerah dalam wilayah kerja kecamatan. Jumlah Desa dan Kelurahan di Kabupaten Lebak pada tahun 2008 sebanyak 340 desa dan 5 Kelurahan yang tersebar di 28 Kecamatan. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada tabel 2.49 di bawah ini. Tabel 2.49 Jumlah Desa/Kelurahan Menurut Kecamatan di Kabupaten Lebak Tahun 2008 No. Kecamatan Desa Kelurahan 1 Malingping 14-2 Wanasalam 13-3 Panggarangan 11-4 Bayah 11-5 Cilograng 10-6 Cibeber 22-7 Cijaku 10-8 Banjarsari 20-9 Cileles 12-10 Gunungkencana 12-11 Bojongmanik 9-12 Leuwidamar 12-13 Muncang 12-14 Sobang 10-15 Cipanas 14 - II - 75

No. Kecamatan Desa Kelurahan 16 Sajira 15-17 Cimarga 17-18 Cikulur 13-19 Warunggunung 12-20 Cibadak 15-21 Rangkasbitung 11 5 22 Maja 14-23 Curugbitung 10-24 Cihara 9-25 Cigemblong 9-26 Cirinten 10-27 Lebakgedong 6-28 Kalanganyar 7 - Jumlah 340 5 Sumber : BPS Kab. Lebak, 2008 Perlu diketahui, bahwa pada tahun 2006 jumlah desa/kelurahan di Kabupaten Lebak sebanyak 315 desa dan 5 kelurahan. Seiring dengan semakin meningkatnya jumlah penduduk dan volume kegiatan pemerintahan, pembangunan dan pemberdayaan masyarakat desa, maka dikeluarkan Peraturan Daerah Kabupaten Lebak Nomor 1 Tahun 2008 mengenai pemekaran 25 desa di Kabupaten Lebak yang pada akhirnya jumlah desa/kelurahan berjumlah 340 desa dan 5 Kelurahan. Guna meningkatkan kinerja pemerintahan desa, perlu ditunjang dengan sarana kantor desa yang memadai. Untuk lebih jelasnya kondisi kantor desa dapat dilihat pada tabel 2.50 berikut ini : No. Tabel 2.50 Kondisi Kantor Desa/Kelurahan di Kabupaten Lebak Tahun 2008 Kecamatan Jumlah Desa Kondisi Bangunan Kantor Desa Baik Sedang Rusak 1. Rangkasbitung 16 4 15 1 1 2. Kalanganyar 7-6 1-3. Cibadak 15-4 2 6 4. Warunggunung 12-4 8-5. Cikulur 13 11-2 - 6. Maja 14 2 7 3 2 7. Sajira 15 2 7 6 - Belum Punya 8. Curugbitung 10-7 - 3 II - 76

No. Kecamatan Jumlah Desa Kondisi Bangunan Kantor Desa Baik Sedang Rusak 9. Cipanas 14 3 4 5 2 10. Lebakgedong 6 1-2 3 Belum Punya 11. Cimarga 17 3 1 2 11 12. Leuwidamar 12 4 1 6 1 13. Muncang 12 1 3-8 14. Sobang 10 5 3-2 15. Bojongmanik 9 2-3 6 16. Cirinten 10 2-3 5 17. Gunungkencana 12 7-4 1 18. Cileles 12-11 - 1 19. Banjarsari 20 4-6 7 20. Cijaku 10 1-6 3 21. Cigemblong 9-2 7-22. Malingping 14-7 6 1 23. Wanasalam 13 3 7 2 1 24. Panggarangan 11 6 3 1 1 25. Cihara 9-2 6-26. Bayah 11-4 3 4 27. Cilograng 10 2 4 3 1 28. Cibeber 22 3 3 14 2 JUMLAH 345 66 105 102 72 Sumber : BP2KBMPD Kab. Lebak, 2008 Status tanah yang dimiliki oleh kantor desa/kelurahan sebagian besar berstatus tanah desa yaitu sebesar 66,25%, sebagian lagi berstatus tanah pribadi sebesar 4,37% dan hibah sebesar 1,56%. Ketahanan Pangan Menurut Undangundang Nomor 7 Tahun 1996 tentang Ketahanan Pangan, menjelaskan bahwa ketahanan pangan merupakan Kondisi terpenuhinya pangan bagi setiap rumah tangga, yang tercermin dari tersedianya pangan yang cukup baik jumlah maupun mutunya, aman, merata, dan terjangkau. Dalam mengukur ketahanan pangan suatu wilayah melalui metode perhitungan Food Security Vernurable Atlas (FSVA) ditinjau dari aspek ketersediaan pangan berdasarkan produksi suatu wilayah; aksesibilitas masyarakat terhadap pangan; dan pemanfaatan pangan oleh masyarakat. Untuk menetapkan daerah rawan pangan ditentukan berdasarkan nilai indeks. Semakin besar nilai indeks maka daerah II - 77

tersebut semakin rawan pangan, atau termasuk prioritas utama dalam pembangunan. Indeks ketersediaan pangan dihitung dengan menggunakan data produksi pangan berupa serelia (padi-padian) dan umbi-umbian (umbi jalar dan umbi kayu) selama tiga tahun terakhir. Hal ini dikarenakan kebutuhan kalori umumnya berasal dari serelia dan umbi-umbian tersebut. Berdasarkan perhitungan indeks tersebut, diketahui bahwa secara umum Kabupaten Lebak merupakan daerah yang cukup pangan. Secara lebih lengkap, data indeks ketersediaan pangan tersaji pada tabel 2.51 berikut ini : Tabel 2.51 Indeks Ketersediaan Pangan Kabupaten Lebak (2007-2009) NO KECAMATAN KONDISI PANGAN INDEKS 1 Malingping Surplus Tinggi 0,139 2 Wanasalam Surplus Tinggi - 3 Panggarangan Surplus Tinggi 0,135 4 Cihara Surplus Tinggi 0,258 5 Bayah Surplus Tinggi 0,189 6 Cilograng Surplus Tinggi 0,039 7 Cibeber Surplus Tinggi 0,133 8 Cijaku Surplus Tinggi 0,080 9 Cigemblong Surplus Tinggi 0,226 10 Banjarsari Surplus Sedang 0,347 11 Cileles Surplus Tinggi 0,249 12 Gunungkencana Surplus Sedang 0,352 13 Bojongmanik Surplus Tinggi 0,142 14 Cirinten Surplus Tinggi 0,265 15 Leuwidamar Surplus Rendah 0,675 16 Muncang Surplus Sedang 0,479 17 Sobang Surplus Tinggi 0,312 18 Cipanas Surplus Tinggi 0,097 19 Lebak Gedong Surplus Tinggi 0,217 20 Sajira Surplus Tinggi 0,275 21 Cimarga Surplus Sedang 0,525 22 Cikulur Surplus Sedang 0,346 23 Warunggunung Surplus Sedang 0,325 24 Cibadak Surplus Sedang 0,539 25 Rangkasbitung Defisit Rendah 0,977 26 Kalanganyar Defisit Rendah 1,000 27 Maja Surplus Sedang 0,558 28 Curug bitung Surplus Sedang 0,478 Sumber : II - 78

Berdasarkan tabel di atas, terdapat 3 (tiga) kecamatan yang perlu mendapatkan perhatian yaitu Kecamatan Rangkasbitung, Kalanganyar, dan Leuwidamar. Berdasarkan ketersediaan pangannya, Kecamatan Rangkasbitung dan Kalanganyar merupakan wilayah yang defisit pangan. Hal ini karena kedua kecamatan tersebut merupakan wilayah transisi perkotaan yang memiliki jumlah penduduk yang cukup besar. Selain itu, masalah alih fungsi lahan pertanian menjadi pemukiman menyebabkan rasio antara ketersediaan dan konsumsi menjadi defisit. Kondisi rasio konsumsi yang defisit ini juga terjadi di Kecamatan Leuwidamar. Penyebab utama rendahnya ketersediaan pangan di wilayah ini karena lahan pertanian yang tidak cukup luas. Sehingga produksi pangan tidak mampu mencukupi kebutuhan masyarakatnya. Kondisi ketersediaan pangan di Kabupaten Lebak didukung oleh lebih dari 50% kecamatan yang memiliki kondisi surplus tinggi diantaranya adalah Kecamatan Malingping, Wanasalam, Penggarangan, Cihara, Bayah, Cilograng, Cibeber, Cijaku, Cigemblong, Cileles, Bojongmanik, Cirinten, Sobang, Cipanas, Lebakgedong, dan Sajira. Berdasarkan pendekatan indeks pangan dan penghidupan atau aksesibilitas masyarakat terhadap pangan, sebagian wilayah Kabupaten Lebak termasuk dalam kategori prioritas 1 sampai prioritas 3. Beberapa kecamatan yang termasuk prioritas pertama dan harus segera ditangani adalah Kecamatan Cihara, Cirinten dan Cigemblong. Hal ini menunjukan ketidakmampuan masyarakat untuk memiliki kualitas hidup yang baik akibat banyaknya jumlah keluarga miskin dan rendahnya layanan infrastruktur wilayah. Kondisi infrastruktur (jalan dan penerangan) yang belum memadai di wilayah mengakibatkan terisolasinya masyarakat dari jangkauan pelayanan sosial dan ekonomi sehingga peluang untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat terbatas. Hal inilah yang mengakibatkan tingginya angka kemiskinan di wilayah tersebut. Jumlah keluarga miskin menjadi indikator utama kondisi keterbatasan pangan dan penghidupan. Berdasarkan indeks pangan dan penghidupan, beberapa kecamatan dengan kondisi yang lebih baik layanan infrastruktur dan rata-rata tingkat kesejahteraan masyarakatnya adalah Kecamatan Malingping, Cileles, Rangkasbitung dan Panggarangan. Kecamatan tersebut tergolong ke dalam prioritas 5 dan prioritas 6, dapat dilihat pada tabel berikut ini. II - 79

NO KECAMATAN Tabel 2.52 Indeks Pangan dan Penghidupan Tahun 2010 KK MISKIN (%) JALAN TIDAK MEMADAI (%) KK TANPA AKSES LISTRIK (%) INDEKS PANGAN DAN PENGHIDU- PAN KATEGORI 1 Malingping 24,79 54,21 34,75 0,31 Prioritas 5 2 Wanasalam 39,50 77,42 64,23 0,64 Prioritas 2 3 Panggarangan 43,71 5,24 53,18 0,30 Prioritas 5 4 Cihara 60,22 72,00 68,25 0,76 Prioritas 1 5 Bayah 36,01 65,01 33,62 0,41 Prioritas 4 6 Cilograng 45,04 7,64 64,82 0,38 Prioritas 4 7 Cibeber 48,28 60,86 59,43 0,60 Prioritas 2 8 Cijaku 58,26 21,20 57,22 0,48 Prioritas 3 9 Cigemblong 41,35 58,25 87,17 0,68 Prioritas 1 10 Banjarsari 47,26 60,00 53,21 0,56 Prioritas 3 11 Cileles 34,88-32,36 0,12 Prioritas 6 12 Gunungkencana 44,20 46,71 28,74 0,36 Prioritas 4 13 Bojongmanik 52,52 42,60 53,66 0,52 Prioritas 3 14 Cirinten 79,83 44,26 70,32 0,77 Prioritas 1 15 Leuwidamar 79,56-58,07 0,52 Prioritas 3 16 Muncang 61,67 30,68 40,38 0,46 Prioritas 3 17 Sobang 65,66-58,83 0,44 Prioritas 4 18 Cipanas 59,07 29,81 33,63 0,40 Prioritas 4 19 Lebak Gedong 55,59-64,59 0,41 Prioritas 4 20 Sajira 61,84 67,39 27,48 0,55 Prioritas 3 21 Cimarga 57,46 46,36 49,27 0,54 Prioritas 3 22 Cikulur 46,89 42,21 43,64 0,43 Prioritas 4 23 Warunggunung 61,18-49,42 0,37 Prioritas 4 24 Cibadak 53,67 32,62 27,65 0,35 Prioritas 4 25 Rangkasbitung 55,35 30,95 21,32 0,32 Prioritas 5 26 Kalanganyar 65,14 43,60 47,92 0,57 Prioritas 2 27 Maja 60,74 40,81 20,28 0,39 Prioritas 4 28 Curug bitung 69,45-47,75 0,41 Prioritas 4 Sumber : Selanjutnya berdasarkan indeks pemanfaatan pangan, terdapat hanya 2 (dua) kecamatan yang dapat dikategorikan prioritas 6, sedangkan yang masuk dalam kategori 1 adalah 3 (tiga) kecamatan. Secara lebih lengkap dapat dilihat pada tabel 2.53 di bawah ini : II - 80

NO KECAMATAN Tabel 2.53 Indeks Pemanfaatan Pangan Tahun 2010 BERAT BADAN BALITA DIBAWAH STANDAR (%) PEREM PUAN BUTA AKSAR A (%) KK TANPA AKSES AIR BERSIH (%) RUMAH TANGGA YANG TINGGAL LEBIH DARI 5 KM (%) INDEKS PEMANF AATAN PANGAN KATEGORI 1 Malingping 5,58 0,17 46,30-0,18 Prioritas 6 2 Wanasalam 7,56 0,05 63,77 17,78 0,37 Prioritas 4 3 Panggarangan 11,81 0,43 53,93 16,73 0,47 Prioritas 3 4 Cihara 5,12 0,00 72,94 33,75 0,45 Prioritas 3 5 Bayah 13,55 0,04 46,33-0,30 Prioritas 5 6 Cilograng 12,25 0,00 57,25 12,16 0,39 Prioritas 4 7 Cibeber 2,50 0,18 45,85 39,38 0,31 Prioritas 5 8 Cijaku 12,56 1,24 47,65 24,73 0,65 Prioritas 1 9 Cigemblong 9,18 0,00 76,42 35,19 0,55 Prioritas 2 10 Banjarsari 6,13 0,27 62,27 3,65 0,31 Prioritas 5 11 Cileles 6,95 0,02 43,70 27,32 0,29 Prioritas 5 12 Gunungkencana 6,26 0,00 49,38 28,97 0,31 Prioritas 5 13 Bojongmanik 9,44 0,03 72,93 17,42 0,45 Prioritas 3 14 Cirinten 12,46 0,00 73,40 24,41 0,54 Prioritas 2 15 Leuwidamar 12,77 0,02 63,17 50,87 0,62 Prioritas 2 16 Muncang 14,58 0,35 66,06 32,58 0,54 Prioritas 2 17 Sobang 7,14 0,23 74,12 16,44 0,39 Prioritas 4 18 Cipanas 9,39 0,06 32,89 3,03 0,28 Prioritas 5 19 Lebak Gedong 16,01 0,26 47,07 32,07 0,69 Prioritas 1 20 Sajira 15,42 0,02 52,09-0,33 Prioritas 5 21 Cimarga 13,68 0,69 53,38 34,40 0,66 Prioritas 1 22 Cikulur 11,38 0,00 41,94 23,54 0,36 Prioritas 4 23 Warunggunung 13,09 0,47 63,16 1,52 0,39 Prioritas 4 24 Cibadak 10,60 0,57 30,48-0,26 Prioritas 5 25 Rangkasbitung 9,96 0,16 34,24-0,34 Prioritas 5 26 Kalanganyar 12,64 0,00 39,50-0,26 Prioritas 6 27 Maja 5,45 0,56 42,95 24,98 0,39 Prioritas 4 28 Curug bitung 7,01 0,01 68,39 15,28 0,39 Prioritas 4 Sumber : Berdasarkan tabel di atas, wilayah yang termasuk kategori prioritas 1 adalah Kecamatan Lebakgedong, Kecamatan Cimarga dan Kecamatan Cijaku. Beberapa indikator yang digunakan untuk mengukur indeks pemanfaatan pangan adalah kondisi gizi buruk balita, kondisi perempuan buta aksara, aksesibilitas terhadap air bersih dan akesibilitas terhadap fasilitas kesehatan. Indikator utama yang menyebabkan kurangnya pemanfaatan pangan di ketiga kecamatan tersebut adalah tingginya persentase balita dengan berat badan di bawah standar dan tingginya persentase perempuan buta huruf. Kedua indikator tersebut saling mempengaruhi satu sama lain. II - 81

Pendidikan perempuan dalam hal ini ibu rumah tangga sangat mempengaruhi pola hidup keluarganya. Berat badan dibawah standar pada balita umumnya disebabkan oleh asupan makanan yang kurang pada balita; pola makan yang tidak teratur; terbatasnya pengetahuan orang tua terhadap kandungan gizi makanan; serta sanitasi lingkungan yang tidak sehat. Selain kedua indikator tersebut, faktor kemiskinan juga dapat mempengaruhi konsumsi pangan secara umum. Masyarakat miskin memiliki keterbatasan terhadap pemanfaatan pangan dengan cukup, yang disebabkan rendahnya daya beli. Menurut indeks komposit, data menunjukkan bahwa sebagian besar wilayah Kabupaten Lebak masih menjadi prioritas 1 sampai prioritas 3 yang rawan pangan. Kecamatan Cihara, Cigemblong, Cirinten, Leuwidamar, Lebakgedong, dan Cimarga termasuk kategori prioritas 1. Secara umum tidak ada indikator yang mempengaruhi secara dominan, dimana setiap kecamatan yang termasuk prioritas 1 berbeda kondisinya. Namun yang perlu dicermati lebih lanjut adalah bahwa kecamatan yang termasuk dalam prioritas 1 merupakan wilayah yang surplus pangan. Keadaan ini menggambarkan bahwa masyarakat yang ada di Kecamatan tersebut mengalami kendala dalam akses penyediaan pangan dan pemanfaatan pangan. Khusus untuk Kecamatan Cirinten dan Leuwidamar merupakan wilayah dengan tingkat kemiskinan tertinggi, masing-masing 79,83% dan 79,56%. Kemiskinan pada kecamatan tersebut disebabkan aksesibilitas jalan yang tidak memadai; terbatasnya instalasi listrik; dan rendahnya sarana air bersih. Dampak yang ditimbulkan oleh kemiskinan yang telah terjadi diantaranya tingginya persentase berat badan balita dibawah standar dibandingkan daerah lainnya. Hal ini dimungkinkan jika hasil produksi pangan tidak untuk pemenuhan pangan masyarakat tersebut, akan tetapi dijual ke luar. II - 82

Tabel 2.54 Indeks Komposit Rawan Pangan NO KECAMATAN INDEKS KOMPOSIT KATEGORI 1 Malingping 0,22 Prioritas 6 2 Wanasalam 0,43 Prioritas 3 3 Panggarangan 0,36 Prioritas 4 4 Cihara 0,54 Prioritas 1 5 Bayah 0,33 Prioritas 5 6 Cilograng 0,34 Prioritas 5 7 Cibeber 0,40 Prioritas 4 8 Cijaku 0,51 Prioritas 2 9 Cigemblong 0,56 Prioritas 1 10 Banjarsari 0,41 Prioritas 3 11 Cileles 0,22 Prioritas 6 12 Gunungkencana 0,34 Prioritas 5 13 Bojongmanik 0,44 Prioritas 3 14 Cirinten 0,59 Prioritas 1 15 Leuwidamar 0,59 Prioritas 1 16 Muncang 0,50 Prioritas 2 17 Sobang 0,40 Prioritas 4 18 Cipanas 0,30 Prioritas 5 19 Lebak Gedong 0,52 Prioritas 1 20 Sajira 0,40 Prioritas 3 21 Cimarga 0,60 Prioritas 1 22 Cikulur 0,39 Prioritas 4 23 Warunggunung 0,37 Prioritas 4 24 Cibadak 0,33 Prioritas 5 25 Rangkasbitung 0,41 Prioritas 3 26 Kalanganyar 0,47 Prioritas 2 27 Maja 0,41 Prioritas 3 28 Curug bitung 0,41 Prioritas 3 Sumber : Untuk mendukung penyediaan bahan pangan tersebut, pemerintah daerah melakukan berbagai upaya seperti peningkatan produksi pangan dan perluasan areal pertanian. Pemberdayaan Masyarakat dan Desa Membangun masyarakat dan desa salah satunya melalui pemberdayaan masyarakat dan desa. Pemberdayaan masyarakat dan desa dilaksanakan melalui pengembangan kemampuan masyarakat, perubahan perilaku masyarakat, dan pengorganisasian masyarakat. Gerakan PKK yang merupakan organisasi kemasyarakatan sebagai mitra kerja pemerintah dalam memberdayakan dan II - 83

meningkatkan kesejahteraan masyarakat melalui keluarga. Jumlah kelompok binaan PKK di Kabupaten Lebak adalah sebanyak 28 kelompok dengan jumlah anggota PKK sebanyak 630. Pelayanan pemberdayaan masyarakat dan desa juga dapat ditinjau dari jumlah organisasi non pemerintah atau lembaga swadaya masyarakat (LSM) yang berjumlah 36 LSM dan Organisasi Masyarakat sebanyak 202 pada tahun 2010. Kondisi animo masyarakat untuk membentuk organisasi masyarakat menunjukan bahwa masyarakat masih memiliki semangat berpartisipasi yang cukup tinggi dalam kaitannya dengan penyelenggaraan pemerintahan. Komunikasi dan Informatika Pengembangan sarana dan prasarana telekomunikasi di Kabupaten Lebak dilaksanakan oleh PT.Telkom Kandatel Rangkasbitung dengan wilayah cakupan pelayanan untuk Kabupaten Lebak dan Pandeglang. Sarana telekomunikasi di Kabupaten Lebak berdasarkan data tahun 2006 telah mampu mencapai kapasitas 17.796 SST dengan kapasitas yang telah dimanfaatkan sebanyak 8.079 SST (45,40%) dan telah mampu menjangkau semua kecamatan yang ada di Kabupaten Lebak. Selain itu untuk memberikan pelayanan kepada masyarakat secara lebih luas, telah disediakan pula telepon umum dan warung telekomunikasi sebanyak 425 buah. Kabupaten Lebak juga dilayani oleh jasa Pos dan Giro melalui PT. Pos Indonesia sebanyak 50 unit dengan klasifikasi 1 unit Kantor Pos Cabang Rangkasbitung, 9 unit Kantor Pos Kecamatan dan 40 unit Kantor Pos Desa. Selain itu sarana telekomunikasi yang dapat diakses oleh masyarakat yaitu melalui penyediaan layanan cellular oleh beberapa provider yang mengembangkan investasinya di Kabupaten Lebak. Hal ini dapat diketahui dengan terbangunnya Tower Cellular yang tersebar di 28 kecamatan sebanyak 139 Tower yang telah memiliki ijin pada akhir tahun 2007. II - 84

2.3.2. Fokus Layanan Urusan Pilihan Pertanian Pertanian merupakan sektor yang memberikan konstribusi terbesar terhadap pertumbuhan ekonomi daerah. Dilihat dari struktur perekonomian kabupaten Lebak, persentase nilai dari sektor ini sebesar 30-39 %, yang sebagian besarnya disumbang oleh subsektor bahan makanan terdiri atas komoditas padi, palawija dan hortikultura. Pada tahun 2008 jumlah produksi padi di Kabupaten Lebak sebesar 428.524 Ton yang terbagi atas padi sawah sebanyak 401.246 Ton dan padi gogo sebanyak 27.278 Ton. Total produksi padi sebanyak 428.524 ton tersebut atau setara dengan beras sebanyak 231.402,96 ton cukup memenuhi kebutuhan pangan untuk 1.233.905 jiwa penduduk selama 20 bulan, dengan asumsi produksi beras tidak dijual keluar daerah. Produksi padi di Kabupaten Lebak dapat dilihat pada Tabel 2.55 dibawah ini. No. Tabel 2.55 Produksi Padi Tahun 2005-2008 Komoditi (Ton) Tahun 2005 2006 2007 2008 1. Padi Sawah 422.116 367.825 426.837 401.246 2. Padi Gogo 31.710 31.717 25.355 27.278 JUMLAH 453.826 399.542 452.192 428.524 Sumber : Dinas Pertanian Kab. Lebak, 2008 Sedangkan untuk komoditas palawija, yang terdiri dari jagung kedelai kacang tanah, kacang hijau dan ubi kayu serta ubi jalar, produksi yang tertinggi ada pada ubi kayu dengan total produksi sebanyak 30.749 Ton. Jagung merupakan komoditas palawija dengan hasil produksi terbesar kedua dengan total produksi sebesar 12.286 Ton. Pada tabel 2.56 di bawah ini dapat diketahu produksi palawija di Kabupaten Lebak dari tahun 2005 sampai dengan tahun 2008. II - 85

Tabel 2.56 Produksi Palawija Tahun 2005-2008 No. Komoditi (Ton) Tahun 2005 2006 2007 2008 1. Jagung 9.547 8.418 5.726 12.286 2. Kedelai 153,9 137 88 295 3. Kacang Tanah 1.236 1.279 838 1.150 4. Kacang Hijau 319,7 298 204 254 5. Ubi Kayu 43.223 40.966 18.543 30.749 6. Ubi Jalar 6.042 4.968 3.857 5.285 JUMLAH 60.521,6 56.066 29.256 50.019 Sumber : Dinas Pertanian Kab. Lebak, 2008 Untuk komoditas hortikultura, tiga hasil produksi tertinggi ada pada tanaman pisang sebesar 112.545,8 Ton, disusul oleh rambutan sebesar 5.276,765 Ton dan durian sebesar 3.319,596 Ton. Berikut adalah tabel produksi hortikultura. Tabel 2.57 Produksi Hortikultura Tahun 2008 No Komoditas Produksi (Ton) 1 Alpukat 74,83 2 Belimbing 193,48 3 Duku/Kokosan 699,26 4 Durian 3.319,60 5 Mangga 2.528,00 6 Manggis 519,26 7 Rambutan 5.279,77 8 Nangka 1.210,28 9 Pepaya 795,13 10 Sawo 123,59 11 Sirsak 393,67 12 Sukun 596,17 13 Melinjo 1.253,69 14 Petai 677,21 15 Jeruk Siam 96,24 16 Nenas 416,28 17 Salak 317,68 18 Pisang 112.545,84 19 Jambu Biji 219,74 20 Jambu Air 81,91 21 Cabe Besar 2.260,00 22 cabe Rawit 2.080,00 23 Kacang Panjang 7.380,00 II - 86

No Komoditas Produksi (Ton) 24 Terung 1.833,00 25 Mentimun 6.825,00 26 Bawang Daun 137,20 27 Kentang 110,00 28 Kembang Kol 40,00 29 Petsai/Sawi 113,00 30 Kacang Merah 33,00 31 Tomat 296,80 32 Buncis 230,00 33 Kangkung 7,93 34 Bayam 3,83 TOTAL PRODUKSI 152.688,37 Sumber : Dinas Pertanian Kab. Lebak, 2008 Tanaman buah-buahan yang dikembangkan di Kabupaten Lebak pada umumnya disesuaikan dengan kondisi tanah setempat terutama agroekologi. Hal ini diharapkan agar pertumbuhan tanaman buah-buahan tersebut dapat lebih optimal sehingga diharapkan dapat menghasilkan produksi yang maksimal. Berikut adalah pengembangan tanaman buah-buahan terutama Jeruk, Rambutan, Durian, Mangga dan Manggis di wilayah pengembangan sesuai hasil penelitian dari Institut Pertanian Bogor. Tabel 2.58 Wilayah Potensial untuk Pengembangan Beberapa Komoditas Hortikultura No Komoditas Wilayah Pengembangan 1. Jeruk Rangkasbitung, Warunggunung dan Cibadak 2. Rambutan Maja, Curugbitung, Sajira dan Cibadak 3. Durian Cirinten, Bojongmanik, Leuwidamar, Muncang, Gunung Kencana dan Sobang. 4. Mangga Malingping, Bayah, Cihara dan Panggarangan 5. Manggis Cipanas dan Lebakgedong Sumber : Pemerintah daerah bekerja sama dengan Lembaga Penelitian Institut Pertanian Bogor, 2002 Tercapainya hasil produksi pertanian baik komoditas padi, palawija maupun hortikultura didukung oleh berbagai faktor, antara lain berfungsinya penyuluhan pertanian, terbangunnya kelembagaan petani berupa kelompok tani dan tersedianya sarana dan prasarana pertanian. Penyuluh pertanian berfungsi menyampaikan teknologi budidaya dalam rangka meningkatkan hasil produksi. Penerapan teknologi dilakukan beberapa II - 87

tahap dengan cara menambah pengetahuan kepada petani, selain itu juga merubah sikap dan keterampilan petani. Sampai dengan tahun 2008 perbandingan penyuluh dengan desa binaan adalah 1 : 3, artinya setiap 1 orang penyuluh harus membina 3 desa yang jangkauannya cukup luas. Perbandingan ideal antara penyuluh dan desa adalah 1 : 1. Untuk itu perlu dilakukan upaya untuk menambah SDM penyuluh pertanian dimasa mendatang. Tabel 2.59 Penyuluh Pertanian Tahun 2008 No Kecamatan Jumlah Desa/Kelurahan Jumlah PPL 1 Rangkasbitung 16 6 2 Kalanganyar 7 2 3 Cibadak 15 7 4 Warunggunung 12 5 5 Cikulur 13 4 6 Maja 14 4 7 Curugbitung 10 3 8 Sajira 15 5 9 Cipanas 14 8 10 Lebakgedong 6 4 11 Cimarga 17 5 12 Leuwidamar 12 5 13 Bojongmanik 9 3 14 Cirinten 10 3 15 Muncang 12 4 16 Sobang 10 4 17 Cileles 12 5 18 Gunungkencana 12 5 19 Banjarsari 20 6 20 Malingping 14 4 21 Wanasalam 13 6 22 Cijaku 10 3 23 Cigemblong 9 3 24 Panggarangan 11 5 25 Cihara 9 3 26 Bayah 11 4 27 Cilograng 10 4 28 Cibeber 22 8 JUMLAH 340 128 Sumber: Dinas Pertanian Kab. Lebak, 2008 Data jumlah kelompok tani yang ada di Kabupaten Lebak pada tahun 2008 adalah berjumlah 1.277 kelompok dengan rincian kelompok pemula sebanyak 760 kelompok, Lanjut 416 kelompok, Madya 95 kelompok dan Utama 6 kelompok. Hal yang tidak kalah pentingnya dalam pembangunan pertanian selain faktor yang sudah disebut diatas adalah Sarana alsintan. Sarana alsintan yang dikelola oleh Dinas Pertanian sampai dengan tahun 2008 yaitu Mini Traktor roda 4 II - 88

sebanyak 4 unit, dua unit dalam keadaan rusak; Hand Traktor sebanyak 355 unit; Pompa air 128 unit; Power thressher 45 unit; Drayer 27 unit; RMU 145 unit dan Corn Seller 7 unit. Tabel 2.60 Jumlah dan Jenis Alsintan Jenis Alat Mesin Pertanian (Alsintan) No. Kecamatan Traktor Roda 4 (unit) Hand Traktor (unit) Pompa Air (unit) Power Thresher (unit) Drayer (unit) RMU (unit) Corn Seller (unit) 1 Rangkasbitung - 26 7 1 1 8-2 Cibadak - 20 15 2 1 5-3 Warunggunung - 19 3 1 1 5-4 Cikulur - 14 6 1-4 - 5 Maja - 6 2 1-7 7 6 Curugbitung 2* 4 1 - - 2-7 Sajira - 13 3 1-6 - 8 Cipanas - 23 6 6 3 13-9 Muncang - 11 4 1-4 - 10 Sobang - 7 3 1-3 - 11 Leuwidamar - 8 5 1-5 - 12 Cimarga - 8 5 1-6 - 13 Bojongmanik - 8 3 1-5 14 Cileles - 12 3 1 1 5-15 Gunungkencana - 7 3 1-8 - 16 Banjarsari - 14 2 2 2 6-17 Malingping - 36 3 5 6 14-18 Wanasalam - 40 9 9 8 17-19 Cijaku - 9 2 1-5 - 20 Panggarangan - 22 3 4 2 7-21 Bayah - 21 7 2 2 5-22 Cilograng - 7 1 1-2 - 23 Cibeber - 9 6 1-3 - 24 Kalanganyar - 5 - - - - - 25 Lebak Gedong - 1 - - - - - 26 Cihara - 1 - - - - - 27 Cigemblong - 1 - - - - - 28 Cirinten - 3 - - - - - 29 Dikelola oleh dinas 2-26 - - - - Jumlah 4 355 128 45 27 145 7 Ket :*) dalam keadaan rusak Sumber: Dinas Pertanian Kab. Lebak, 2008 Kehutanan Hutan dapat diartikan sebagai suatu kesatuan ekosistem berupa hamparan lahan berisi sumber daya alam hayati yang didominasi pepohonan dalam persekutuan alam lingkungannya, yang satu dengan lainnya tidak dapat dipisahkan. Wilayah Kabupaten Lebak sebagian merupakan bagian hulu dari beberapa DAS/Sub DAS prioritas yang keberadaannya sangat berpengaruh terhadap daerah II - 89

hilirnya seperti Kabupaten Pandeglang,Kabupaten Serang dan Tangerang, terutama untuk menopang sektor industri. Adapun DAS dan Sub DAS yang terletak di Kabupaten Lebak adalah DAS Ciujung, Cidurian, Ciliman, Cibaliung, Cihara, Cisiih, Cibareno, Cimadur dan Ciberang. Luas kawasan Hutan di Kabupaten Lebak adalah 95.922 Ha atau 31,55 % dari luas wilayah Kabupaten Lebak. Adapun luas lahan kritis yang masih harus ditangani seluas 22.206,88 ha. Jumlah mata air yang terdapat di Kabupaten Lebak sebanyak 1.877 buah yang sebagian besar berada pada bagian hulu sungai sehingga untuk mengantisipasi kerusakan hutan dan lingkungan perlu ada rehabilitasi dan konservasi mata air tersebut. Berikut adalah tabel mengenai jumlah mata air yang ada di Kabupaten Lebak. Tabel 2.61 Jumlah Mata Air di Kabupaten Lebak No Kecamatan LAMANYA MENGALIR Jumlah 12 Bln 9 Bln 6 Bln 3 Bln Mata Air (buah) (buah) (buah) (buah) 1 Rangkasbitung 3 7 9-19 2 Cibadak 8 18 21 13 60 3 Warunggunung - 3 11-14 4 Cikulur 3 8 4 1 16 5 Cileles 10 22 37 80 149 6 Gunungkencana 50 17 5-72 7 Banjarsari 4 - - - 4 8 Malingping 29 42 51 51 173 9 Cijaku 21 27 35 32 115 10 Bayah 21 62 39 39 161 11 Cibeber 55 24 116 32 227 12 Panggarangan 18 40 80 108 246 13 Cipanas 10 25 29 33 97 14 Muncang 6 15 35 25 81 15 Leuwidamar 34 22 45 11 112 16 Bojongmanik 15 6 29 17 67 17 Cimarga 3 8 58 4 73 18 Maja 10 12 26 34 82 19 Sajira 14 29 28 38 109 Jumlah 314 387 658 518 1.877 Sumber : Dinas Kehutanan dan Perkebunan Kab. Lebak, 2008 Komoditas kehutanan yang memiliki prospek pasar yang baik adalah Bambu. Luas tanaman bambu pada tahun 2008 tercatat sebesar 2.046,00 ha atau setara dengan 197.858 rumpun/11.169.665 batang. Sedangkan produksinya sebesar 2.139.800 btg/tahun. Sentra areal bambu terutama terdapat di kecamatan Cimarga, Sajira dan Cikulur. II - 90

Dalam Pembangunan Kehutanan terdapat program aneka usaha kehutanan yaitu suatu kegiatan pemanfaatan sumberdaya hutan untuk mendapatkan hasil atau komoditas non kayu. Komoditas yang dikembangkan di Kabupaten Lebak untuk program aneka usaha kehutanan ini adalah lebah madu dan jamur kayu. Adapun jumlah produksi madu dan jamur kayu dapat dilihat pada tabel berikut. Tabel 2.62 Jumlah Produksi Hasil Hutan Non Kayu Kabupaten Lebak Tahun 2008 No Komoditas Budidaya/Stup Produksi/Kg 1 Madu 220 1.805 2 Jamur Kayu 5.000 2.500 Sumber : Dinas Kehutanan dan Perkebunan Kab. Lebak, 2008 Untuk bidang perkebunan, luas areal perkebunan yang ada di wilayah Kabupaten Lebak adalah 66.783,10 Ha atau 22. 09 % dari luas Kabupaten Lebak, terdiri dari : 1. Perkebunan Rakyat = 51.117,55 Ha 2. Perkebunan Besar Negara = 8.879,50 Ha 3. Perkebunan Besar Swasta = 6.786,05 Ha Komoditas perkebunan yang diusahakan di Kabupaten Lebak sebanyak 15 jenis tanaman, diantaranya 10 komoditas unggulan utama yaitu : kelapa dalam, karet, kelapa sawit, kakao, cengkeh, kopi, aren, lada, pandan dan jarak pagar. Produksi untuk masing-masing komoditas dapat dilihat di tabel berikut. No Tabel 2.63 Jumlah Areal, Produksi dan Produktivitas Hasil Perkebunan Kabupaten Lebak Tahun 2008 Komoditas TBM TM TR/TTM Produksi Produktivitas (Ha) (Ha) (Ha) (Ton) (%) 1 KARET 1.967,70 9.234,27 1.071,48 3.870,20 0,42 2 KELAPA DALAM 4.516,95 14.590,10 521,80 12.651,30 0,87 3 KAKAO 1.029,85 1.278,90 553,15 1.527,36 1,19 4 KELAPA HIBRIDA 5,50 172,25 284,65 44,00 0,26 5 KELAPA SAWIT 30,00 2.663,50 133,50 27,11 0,01 6 CENGKEH 437,50 4.629,60 537,50 725,70 0,16 7 KOPI 170,75 1.422,50 90,75 494,20 0,35 II - 91

No Komoditas TBM TM TR/TTM Produksi Produktivitas (Ha) (Ha) (Ha) (Ton) (%) 8 AREN 908,35 1.025,15 134,00 1.331,80 1,30 9 LADA 146,40 196,50 29,20 21,40 0,11 10 PANDAN 101,00 230,50 53,50 83,40 0,36 11 PANILI 11,00 32,50 14,00 2,70 0,08 12 KAPOK 16,20 130,70 25,00 14,20 0,11 13 JAMBU METE - 2,70 0,30 2,40 0,89 14 T E H 8,00 22,50 6,50 4,70 0,21 15 JARAK PAGAR 286,75 230,50-123,60 0,54 Sumber : Dinas Kehutanan dan Perkebunan Kab. Lebak, 2008 Energi dan Sumber Daya Mineral Kabupaten Lebak merupakan wilayah yang memiliki kandungan dan jenis bahan tambang yang sangat besar, potensi ini akan meningkatkan pendapatan asli daerah dan memberikan lapangan pekerjaan penduduk sekitar bila di eksploitasi secara baik. Pemenuhan bahan bakar untuk masyarakat Kabupaten Lebak dilayani melalui 9 unit Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU). Pembangunan di Kabupaten Lebak tidak terlepas dari dukungan sarana dan prasarana energi listrik dalam upaya mendorong pertumbuhan perekonomiaan dan pembangunan lainnya. Energi listrik ini dipergunakan untuk keperluan domestik dan industri. Berdasarkan data yang diolah dari PT. PLN Cabang Rangkasbitung, rasio elektrifikasi di kabupaten Lebak baru mencapai 54,58%. Hal ini menggambarkan bahwa setengah dari penduduk Kabupaten Lebak belum tersentuh oleh tenaga listrik. Berdasarkan table di bawah, rasio elektrifikasi yang tertinggi adalah Kecamatan Maja dan rangkasbitung, sementara yang terendah terdapat di kecamatan Cigemblong dan kecamatan-kecamatan lain yang relative terisolir. No Kecamatan Tabel 2.64 Rasio Elektrifikasi per Kecamatan Di Kabupaten Lebak Tahun 2008 Kebutuhan (Kk) Terlayani (Kk) Terlayani (%) 1 Maja 11,679 9,310 79.7% 2 Rangkasbitung 28,459 22,392 78.7% 3 Sajira 11,628 8,433 72.5% 4 Cibadak 12,587 9,107 72.4% 5 Gunungkencana 7,798 5,557 71.3% 6 Cileles 10,840 7,332 67.6% II - 92

No Kecamatan Kebutuhan (Kk) Terlayani (Kk) Terlayani (%) 7 Bayah 10,315 6,847 66.4% 8 Cipanas 11,257 7,471 66.4% 9 Malingping 14,669 9,571 65.2% 10 Muncang 7,269 4,334 59.6% 11 Cikulur 11,545 6,507 56.4% 12 Curugbitung 7,281 3,804 52.2% 13 Kalanganyar 6,718 3,499 52.1% 14 Cimarga 14,246 7,227 50.7% 15 Warunggunung 12,410 6,277 50.6% 16 Panggarangan 9,065 4,244 46.8% 17 Banjarsari 17,332 8,109 46.8% 18 Bojongmanik 5,624 2,606 46.3% 19 Cijaku 6,891 2,948 42.8% 20 Leuwidamar 12,846 5,386 41.9% 21 Sobang 7343 3023 41.2% 22 Cibeber 15,505 6,290 40.6% 23 Wanasalam 13,857 4,956 35.8% 24 Lebakgedong 4,699 1,664 35.4% 25 Cilograng 8,516 2,996 35.2% 26 Cihara 7,414 2,354 31.8% 27 Cirinten 6,074 1,739 28.6% 28 Cigemblong 6,596 796 12.1% Jumlah 300,463 164,779 54.8% Sedangkan untuk Penerangan Jalan Umum (PJU) yang sudah terpasang dan masuk kontrak dengan pihak PT. PLN sebanyak 2092 titik, dengan mekanisme pengelolaan yang terpadu bersama Pemerintah Daerah. Peningkatan rasio elektrifikasi perdesaan masih terus diupayakan baik melalui dana APBD Kabupaten maupun bantuan dari Pemerintah dan Pemerintah Provinsi, sedangkan peningkatan rasio elektrifikasi rumah tangga terus diupayakan baik melalui pembangunan jaringan listrik yang bersumber dari PLN, maupun penyediaan sumber-sumber energi alternatif seperti Pembangkit Listrik Tenaga (PLT) mikro hidro, surya, dan angin. Diterapkannya kebijakan konversi bahan bakar dari minyak tanah ke gas pada tahun 2007 telah memunculkan berbagai permasalahan di tingkat masyarakat dan dunia usaha di dalam memenuhi kebutuhan energinya. II - 93

Pariwisata Pariwisata merupakan salah satu sektor yang terus dikembangkan di kabupaten Lebak. Hal ini wajar mengingat keindahan alam, baik pantai maupun tempat-tempat wisata yang ada di Kabupaten Lebak cukup banyak dan menarik. Penataan obyek wisata terus dilakukan guna meningkatkan kenyamanan pengunjung yang datang untuk menikmati keindahan alam di Kabupaten Lebak. Beberapa obyek wisata beserta lokasinya, dapat dilihat pada tabel dibawah ini. Tabel 2.65 Obyek Wisata di Kabupaten Lebak NO NAMA WISATA LOKASI 1 Curug Indihiyang Warunggunung 2 Arung Jeram Lebakgedong 3 Goa Sangkir Bojongmanik 4 Budaya Kaolotan Baduy Leuwidamar 5 Pemandian Air Panas Cipanas 6 Pantai Karang Taraje Bayah 7 Pantai Bagedur Malingping 8 Pantai Binuangeun Wanasalam 9 Pantai Cibobos Panggarangan 10 Pantai Pulau Manuk Bayah 11 Pantai Sawarna Bayah 12 Pantai Ciantir Bayah 13 Budaya Kaolotan/Seren Taun Cibeber 14 Situs Cibedug Cikotok 15 Air Panas Senanghati Malingping 16 Situs Palayangan Cimarga 17 Kawah Cipanas Sobang 18 Curug Kanteh Cilograng 19 Pantai Cihara Cihara 20 Pantai Talanca Malingping 21 Pantai Cimandiri Panggarangan 22 Pantai Tanjung Panto Wanasalam 23 Pantai Karang Tengah Wanasalam Sumber : Profile Potensi Investasi Kabupaten Lebak, 2008 Keindahan alam di Kabupaten Lebak cukup menarik bagi wisatawan baik dari nusantara maupun manca negara untuk mengunjungi obyek wisata yang ada. Pada Tahun 2008, wisatawan manca negara yang berkunjung ke obyek wisata di Kabupaten Lebak sebanyak 141 orang dan wisatawan nusantara sebanyak 240.586 orang. II - 94

Tabel 2.66 Perkembangan Wisatawan Nusantara yang berkunjung ke Obyek Wisata di Kabupaten Lebak Pemandian Karang P. Tahun Baduy Binuangeun Bagedur Cibobos Air Panas Taraje Manuk Cipanas 2006 1.097 14.146 4.983 2.438 2.321 2.458 39.254 2007 1.022 19.832 7.764 2.442 2.407 2.481 40.008 2008 2.875 38.432 86.778 29.788 12.721 19.853 50.139 Sumber : Disporabudpar Kabupaten Lebak Tahun 2008 Tabel 2.67 Perkembangan Wisatawan Mancanegara yang berkunjung ke Obyek Wisata di Kabupaten Lebak Tahun Baduy Binuangeun Bagedur Karang Taraje Cibobos P. Manuk Pemandian Air Panas Cipanas 2006 34 7 8 5 2 6 10 2007 37 17 18 6 4 8 14 2008 67 16 24 9 3 9 13 Sumber : Disporabudpar Kabupaten Lebak Tahun 2008 Kelautan dan Perikanan Potensi perikanan di Kabupaten Lebak terdiri atas Perikanan Tangkap dan Perikanan Budidaya. Perikanan tangkap terbagi atas perikanan tangkap laut dan perairan umum. Untuk perikanan budidaya dikelompokan menjadi Budidaya air tawar dan budidaya air payau. Sumberdaya manusia yang bergerak pada sektor perikanan pada tahun 2008 terdiri dari Nelayan 3.140 orang, Pembudidaya 17.184 orang dan Pengolah ikan 373 orang. Adapun sarana dan prasarana pendukung perikanan berupa alat tangkap sebanyak 1.626 unit, Kapal Perahu sebanyak 709 unit, Tempat Pelelangan Ikan (TPI) sebanyak 10 buah dan PPI sebanyak 1 buah. II - 95

Tabel 2.68 Jumlah Armada Penangkapan Ikan Menurut Tempat Pelelangan Ikan di Kabupaten Lebak Tahun 2008 No Nama TPI Perahu Layar Motor Tempel Kapal Motor Jumlah 1 Binuangeun - 64 209 273 2 Tanjung Panto - 21-21 3 Sukahujan - 40-40 4 Cipunaga - 48-48 5 Panyaungan - 34-34 6 Situregen 15 21-36 7 Bayah - 117-117 8 Pulo Manuk - 19-19 9 Sawarna 9 39-48 10 Cibareno - 73-73 Jumlah 24 476 209 709 Sumber : Dinas Kelautan dan Perikanan Kab. Lebak, 2008 Pada Tahun 2008 produksi jenis ikan tangkap laut sebagian besar jenis ikan Cakalang dan Tongkol dengan masing-masing produksi sebesar 305.455 kg dan 284.810 Kg. Untuk ikan tangkap diperairan umum produksi terbesar pada jenis ikan tawes sebanyak 10.900 Kg. Sedangkan produksi budidaya ikan pada tahun 2008 produksi terbesar pada jenis ikan mas sebanyak 1.118.436 Kg. Tabel 2.69 Jumlah Areal Budidaya Ikan Tahun 2008 No Tempat Budidaya Jumlah 1 Perairan Umum - Sungai 887 Km - Danau 275 Ha - Rawa 36 Ha 2 Tambak 32 Ha 3 Kolam 646,2 Ha 4 Kolam Air Deras 6 Unit 4 Sawah 3.261,73 Ha 5 Keramba 776 Unit 6 Jaring Apung 12 Unit Sumber: Dinas Kelautan dan Perikanan Kab. Lebak, 2008 II - 96

Tabel 2.70 Produksi Perikanan Tahun 2004 2008 No. 1. 2. 3. Bidang Usaha Tahun (Ton) 2004 2005 2006 2007 2008 PENANGKAPAN IKAN - Laut 5.112,50 7.819,10 9.912,90 11.958,20 2.729,72 - Perairan Umum 27,70 111,80 168,60 171,20 79,69 Jumlah I 5.140,20 7.930,90 10.081,50 12.129,40 2.809,41 BUDIDAYA AIR TAWAR - Kolam 669,90 833,10 1.110,90 2.611,80 2.093,82 - Sawah 1.556,20 1.787,20 1.914,30 1.137,50 1.016,44 - Keramba 24,10 22,90 37,40 49,70 49,25 - Jaring Apung 0 6,20 20,10 26,10 24,25 Jumlah II 2.250,20 2.649,40 3.082,70 3.825,10 3.183,76 BUDIDAYA AIR PAYAU - Tambak 36,70 80,40 156,90 167,70 102,15 Jumlah III 36,70 80,40 156,90 167,70 102,15 Jumlah Total 7.427,10 10.660,70 13.321,10 16.122,20 6.095,32 Sumber : Dinas Kelautan dan Perikanan Kab. Lebak, 2008 Peternakan Sektor peternakan di Kabupaten Lebak terus mengalami pertumbuhan dari tahun ke tahun. Beberapa Jenis ternak yang dikembangkan oleh masyarakat Kabupaten Lebak antara lain Sapi, Kerbau, Kambing, Domba, Ayam Buras, Ayam Ras Pedaging dan Itik. Populasi ternak Ayam ras pedaging pada tahun 2004-2008 mengalami rata-rata pertumbuhan tertinggi dibandingkan jenis ternak lainnya yaitu sebesar 15 %. No Tabel 2.71 Populasi Ternak di Kabupaten Lebak Tahun 2004-2008 Jenis Ternak 2004 2005 2006 2007 2008 ----------------- (ekor) ----------------- 1 Sapi 3.850 3.869 3.952 4.062 4469 2 Kerbau 51.073 52.028 53.547 54.091 54.915 3 Kambing 184.929 186.147 189.861 193.470 196.097 4 Domba 157.097 158.234 161.633 164.226 166.819 5 Ayam Buras 2.227.670 1.629.915 1.687.544 1.694.257 1.746.970 6 Ayam Ras Pedaging 692.000 909.860 1.108.150 1.074.500 1.179.500 7 Itik 56.772 61.315 63.326 65.615 67.904 Sumber: Dinas Peternakan Kab. Lebak, 2008 II - 97

Pada tahun 2008 produksi ayam ras pedaging sebanyak 3.476.499 Kg, atau 55% dari total produksi daging Kabupaten Lebak. Produksi tertinggi kedua adalah ayam buras yaitu sebesar 1.508.408 kg. Untuk produksi telur, pada tahun 2004-2008 mengalami rata-rata pertumbuhan sebesar 5,7%. Telur ayam buras memberikan konstribusi terbesar pada tahun 2008 yaitu sebanyak 1.453.715 Kg. Berikut adalah tabel produksi daging dan produksi telur dari tahun 2004 sampai tahun 2008. Tabel 2.72 Produksi Daging Tahun 2004-2008 No Komoditas 2004 2005 2006 2007 2008 1 Sapi 81.430 86.446 91.810 95.678 86.134 2 Kerbau 446.925 469.992 572.250 629.250 645.277 3 Kambing 98.720 104.330 109.103 115.841 134.795 4 Domba 69.708 73.147 83.778 87.512 105.064 5 Ayam Buras 1.738.054 1.845.521 1.324.157 1.350.142 1.508.458 6 7 Ayam Ras Pedaging Ayam Ras Petelur 2.156.075 2.486.075 3.179.382 3.269.129 3.476.499-245.000 254.040 264.045 332.163 8 Itik 4.583 4.583 6.460 7.070 6.435 Total Daging 4.595.495 5.315.094 5.620.980 5.818.667 6.294.825 Sumber: Dinas Peternakan Kab. Lebak, 2008 Tabel 2.73 Produksi Telur Tahun 2004-2008 No Komoditas 2004 2005 2006 2007 2008 1 Ayam Buras 1.317.269 1.349.645 1.389.235 1.425.071 1.453.715 2 Itik 133.623 302.042 326.212 336.912 354.161 Total Telur 1.450.892 1.651.687 1.715.447 1.761.983 1.807.876 Sumber: Dinas Peternakan Kab. Lebak, 2008 Dilihat dari produksi tahun 2008 konsumsi perkapita daging dan telur oleh penduduk Kabupaten Lebak masih dibawah standar nasional. Jumlah konsumsi daging perkapita Kabupaten Lebak baru sebesar 5,03 Kg/Kapita/Tahun, sedangkan standar nasional adalah 7,2 Kg/kapita/tahun. Sedangkan untuk konsumsi telur sebesar 2,83 Kg/Kapita/Tahun, sedangkan standar nasional konsumsi telur 4,5 Kg/Kapita/tahun. II - 98

Tabel 2.74 Jumlah Konsumsi Daging dan Telur Per Kapita Penduduk No Komoditas 2004 2005 2006 2007 2008 1. Daging 4,08 4,52 4,67 4,84 5,03 2. Telur 2,38 2,51 2,61 2,77 2,83 Sumber : Dinas Peternakan Kab. Lebak, 2008 Usaha untuk meningkatan produksi daging dan telur terus dilakukan Pemerintah Kabupaten Lebak, antara lain dengan melengkapi sarana dan prasarana peternakan di Kabupaten Lebak. Sampai tahun 2008 fasilitas layanan peternakan memiliki laboratorium kesehatan hewan, Puskeswan, UPTD ternak sapi, Rumah potong hewan, Tempat pemotongan hewan dan Poultry Shop. Tabel 2.75 Ketersediaan Fasilitas Layanan Peternakan Kabupaten Lebak No Jenis Fasilitas Jumlah Lokasi 1 Laboratorium Keswan 1 Cibadak 2 Puskeswan 1 Cikulur 3 UPTD Ternak Sapi 1 Cibadak 4 RPH 1 Rangkasbitung 5 TPH 2 Malingping dan Cipanas 6 Poultry Shop 3 Rangkasbitung, Cibadak Sumber : Dinas Peternakan Kab. Lebak, 2008 Perindustrian Potensi industri di Kabupaten Lebak secara keseluruhan pada tahun 2008 sebanyak 14.636 unit usaha, yang terdiri dari industri kecil sebanyak 14.617 unit usaha dan industri menengah/besar sebanyak 19 unit usaha. Jumlah tenaga kerja yang terserap dalam kegiatan industri tersebut sebanyak 31.188 orang dengan total nilai investasi sebesar Rp. 115.247.331.000,- Dari potensi industri kecil sebagaimana tersebut di atas, maka yang merupakan komoditas unggulan atau yang menjadi andalan pada umumnya sebanyak 10 industri kecil. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada tabel 2.76 di bawah ini : II - 99

No. Tabel 2.76 Sentra Industri Kecil di Kabupaten Lebak Tahun 2008 Industri Jumlah Unit Usaha 1. Gula Merah Aren 2.752 2. Bata/Genteng 585 3. Tenun Baduy 90 Leuwidamar 4. Tempurung Kelapa 40 Leuwidamar 5. Pandai Besi 60 Lokasi / Kecamatan Muncang, Leuwidamar, Bojongmanik, Sajira, Cijaku, Panggarangan, Malingping, Cibeber, Gunung Kencana, Bayah dan Cipanas Cimarga, Rangkasbitung, Sajira, Malingping dan Warunggunung Bojongmanik, Cibeber dan Rangkasbitung 6. Konveksi 10 Rangkasbitung dan Cimarga 7. Anyaman Pandan 3.848 8. Anyaman Bambu 2.746 9. Emping Melinjo 281 10. Sale/Keripik Pisang 2.786 Bayah Sumber : Dinas Perindustrian dan Perdagangan Kabupaten Lebak, Tahun 2008 Cikulur, Cileles, Banjarsari, Cijaku, Malingping dan Bojongmanik Sajira, Cibeber, Rangkasbitung dan Cibadak Warunggunung, Cikulur dan Gunungkencana Permasalahan yang kerap dihadapi oleh para pengusaha/pengrajin industri kecil antara lain adalah keterbatasan pengetahuan/keterampilan dalam teknik produksi dan manajemen usaha. Potensi sumber daya alam di Kabupaten Lebak belum dapat dimanfaatkan secara optimal sebagai akibat keterbatasan teknologi dan modal usaha serta jaringan pemasaran yang belum meluas. Berdasarkan Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) Kabupaten Lebak, telah dialokasikan rencana kawasan industri non polutan seluas 2.000 Ha yang berlokasi di Desa Nameng, Sukamanah, Cimangeunteung dan Citeras, Kecamatan Rangkasbitung. Pada akhir tahun 2004 kawasan tersebut telah dapat dimanfaatkan seluas 72 Ha. II - 100

2.4. Aspek Daya Saing Daerah 2.4.1. Fokus Kemampuan Ekonomi Daerah Kemampuan ekonomi daerah dalam kaitannya dengan daya saing daerah adalah bahwa kapasitas ekonomi daerah harus memiliki daya tarik (attractiveness) bagi pelaku ekonomi yang telah berada dan akan masuk ke suatu daerah untuk menciptakan multiflier effect bagi peningkatan daya saing daerah. Kemampuan ekonomi daerah memicu daya saing daerah dalam beberapa tolok ukur, sebagai berikut : Pengeluaran konsumsi rumah tangga per kapita (Angka konsumsi RT per kapita) Indikator pengeluaran konsumsi rumah tangga per kapita dimaksudkan untuk mengetahui tingkat konsumsi rumah tangga yang menjelaskan seberapa atraktif tingkat pengeluaran rumah tangga. Semakin besar rasio atau angka konsumsi RT semakin atraktif bagi peningkatan kemampuan ekonomi daerah. Pengeluaran konsumsi rumah tangga per kapita dapat diketahui dengan menghitung angka konsumsi RT per kapita, yaitu rata-rata pengeluaran konsumsi rumah tangga per kapita. Angka ini dihitung berdasarkan pengeluaran penduduk untuk makanan dan bukan makanan per jumlah penduduk. Makanan mencakup seluruh jenis makanan termasuk makanan jadi, minuman, tembakau, dan sirih. Bukan makanan mencakup perumahan, sandang, biaya kesehatan, sekolah, dan sebagainya. Nilai konsumsi pengeluaran makanan 183.837 dan Non-makanan 101.840 per kapita. Produktivitas total daerah Produktivitas total daerah dihitung untuk mengetahui tingkat produktivitas tiap sektor per angkatan kerja yang menunjukan seberapa produktif tiap angkatan kerja dalam mendorong ekonomi daerah per sektor. Produktivitas Total Daerah dapat diketahui dengan menghitung produktivitas daerah per sektor (9 sektor) yang merupakan jumlah PDRB dari setiap sektor dibagi dengan jumlah angkatan kerja dalam sektor yang bersangkutan. PDRB dihitung berdasarkan 9 (sembilan) sektor. Sektor dengan produktivitas tertinggi di Kabupaten Lebak pada tahun 2009 adalah sektor Keuangan,Sewa dan Jasa Perusahaan sebesar Rp.126,66 Juta. Sektor ini terus mengalami peningkatan pada tahun 2010 menjadi sebesar Rp. 132,45 Juta. Sektor berikutnya dengan produktivitas tertinggi pada tahun 2010 II - 101

adalah sektor Listrik, Gas dan Air Bersih sebesar Rp. 32,14 juta Industri Pengolahan sebesar Rp.26,4 juta. dan sektor 2.4.2. Fokus Fasilitas Wilayah/Infrastruktur Pertumbuhan dan perkembangan suatu wilayah sangat ditunjang oleh ketersediaan sarana dan prasarana yang dimiliki oleh wilayah tersebut. Kondisi sarana prasarana yang merupakan faktor pendorong percepatan pertumbuhan di Kabupaten Lebak saat ini antara lain transportasi, jalan, terminal dan angkutan umum, perkeretaapian, irigasi, telekomunikasi, dan ketenagalistrikan. Dengan demikian apabila faktor pendorong tidak dikelola dengan baik, maka ketidaknyamanan yang sering kali dikeluhkan oleh masyarakat mulai waswas jika berada di pusat keramaian, bahkan ketika berada di dalam angkutan umum karena berbagai bentuk kejahatan. Hal ini akibat dari kesemrawutan angkutan umum. Perubahan fungsi trotoar untuk pejalan kaki berubah menjadi tempat untuk menjajakan dagangan. Pada tahun 2005, Kementerian Negara Pembangunan Daerah Tertinggal Republik Indonesia telah menetapkan Kabupaten Lebak sebagai salah satu daerah tertinggal dari 199 Kabupaten tertinggal yang ada di Indonesia. Dalam rangka menganalisa sejauh mana ketertinggalan daerah Kabupaten Lebak, Pemerintah Daerah melalui Bappeda bekerjasama dengan BPS Kabupaten lebak melaksanakan Identifikasi Desa Tertinggal. Kriteria yang digunakan dalam menentukan desa tertinggal difokuskan terhadap ketersediaan dan pelayanan infrastruktur perdesaan yang meliputi aksesibilitas jalan, sarana air bersih, jaringan listrik berikut Saluran sambungan Rumah (SSR), sarana kesehatan dan pendidikan. Hasil survey yang dilaksanakan pada tahun 2005 menggambarkan bahwa jumlah desa tertinggal di Kabupaten Lebak mencapai 148 Desa. Selanjutnya, hasil Identifikasi Desa Tertinggal tersebut senantiasa selalu dijadikan pedoman oleh pemerintah Kabupaten Lebak dalam rangka upaya percepatan pembangunan desa tertinggal selama 4 tahun terakhir (2006 2009). Upaya-upaya percepatan pembangunan tersebut diantaranya melalui Program Hotmik Masuk Desa, pembangunan sarana dan prasarana air bersih, Listrik Masuk Desa, penuntasan pembangunan dan rehabilitasi gedung SD, penambahan puskesmas, puskesmas pembantu serta polindes dan pos yandu. Program-program tersebut dipadukan dalam konsep pembangunan kewilayahan dengan harapan II - 102

agar pembangunan desa tertinggal tersebut dapat dilaksanakan secara efektif dan efisien. Untuk mengetahui sejauh mana program-program percepatan pembangunan desa tertinggal dapat mengurangi atau menangani ketertinggalan desa di wilayah Kabupaten Lebak, terutama selama kurun waktu 4 tahun terakhir (2006-2009), Pemerintah Kabupaten Lebak pada tahun 2009 ini sedang melakukan verifikasi Desa Tertinggal yang dimaksudkan. Adapun kondisi desa tertinggal berdasarkan kelengkapan dan tingkat pelayanan infrastruktur dapat digambarkan pada table berikut : II - 103

Kecamatan No Desa Tabel 2.77 Data Verifikasi Kondisi Desa Tertinggal Berdasarkan Beberapa Infrastruktur Desa Jalan Sarana Air Bersih Sarana Listrik Kebutuhan Penanganan % Kebutuhan Terlayani % Kebutuhan Terlayani % M M Penanganan KK KK Terlayani KK KK Terlayani W I L A Y A H U T A R A 1 Taman Jaya 5,250 2,500 47.62% 511 330 64.58% 511 158 30.92% 2 Cigoong Selatan 8,700 2,000 22.99% 869 407 46.84% 869 212 24.40% 3 Cikulur 3,050 2,700 88.52% 919 596 64.85% 919 619 67.36% 4 Cigoong Utara 9,500 2,180 22.95% 896 763 85.16% 896 445 49.67% Cikulur 5 Sukaharja 3,650 2,261 61.95% 891 546 61.28% 891 347 38.95% Cimarga Warunggunung 6 Curug Panjang 7,100 2,000 28.17% 1071 607 56.68% 1071 660 61.62% 7 Muara Dua* 10,000 2,000 20.00% 1151 527 45.79% 1151 654 56.82% 8 Anggalan 4,000 1,000 25.00% 496 180 36.29% 496 541 109.07% 9 Muncang Kopong 16,200 5,000 30.86% 851 389 45.71% 851 598 70.27% JUMLAH 67,450 21,641 7,655 4,345 7,655 4,234 10 Karya Jaya 5,500 2,200 40.00% 752 121 16.09% 752 384 51.06% 11 Margatirta 18,400 600 3.26% 740 132.2 17.86% 740 598 80.81% 12 Sangiang Jaya 11,260 3,500 31.08% 635 178 28.03% 635 231 36.38% 13 Jayasari 6,350 1,000 15.75% 565 107 18.94% 565 165 29.20% 14 Inten Jaya 10,200 1,000 9.80% 635 90 14.17% 635 368 57.95% 15 Mekar Jaya** 8,800 2,500 28.41% 706 250 35.41% 706 2 0.28% 16 Tambak 5,500 0 0.00% 636 250 39.31% 636 76 11.95% 17 Gunung Anten 5,000 0 0.00% 745 140 18.79% 745 409 54.90% JUMLAH 71,010 10,800 5,414 1,268 5,414 18 Banjarsari 3,600 5,190 144.17% 937 298 31.80% 937 900 96.05% 19 Sukaraja 20,200 4,000 19.80% 987 353 35.76% 987 75 7.60% JUMLAH 23,800 9,190 38.61 1,924 651 II - 104

Kecamatan No Desa Curugbitung Cibadak Maja Jalan Sarana Air Bersih Sarana Listrik Kebutuhan Penanganan % Kebutuhan Terlayani % Kebutuhan Terlayani % M M Penanganan KK KK Terlayani KK KK Terlayani 20 Mayak 14,200 2,000 14.08% 577 271 46.97% 577 0.00% 21 Cilayang 7,000 1,000 14.29% 664 472 71.08% 664 479 72.14% 22 Ciburuy 10,100 1,000 9.90% 930 692 74.41% 930 565 60.75% 23 Cidadap* 10,000 1,000 10.00% 790 488 61.77% 790 493 62.41% 24 Candi 4,700 700 14.89% 859 304 35.39% 859 57 6.64% JUMLAH 46,000 5,700 12.39 3,820 2,227 25 Malabar 11,730 5,500 46.89% 887 276 31.12% 887 595 67.08% 26 A s e m 3,780 2,000 52.91% 1057 766 72.47% 1057 335 31.69% 27 Pasar Keong 2,350 1,800 76.60% 924 624 67.53% 924 204 22.08% JUMLAH 6,130 3,800 61.99 2,868 1,666 28 Tanjung Sari 4,550 2,000 43.96% 738 309 41.87% 738 427 57.86% 29 Padasuka** 7,665 3,400 44.36% 939 563 59.96% 939 999 106.39% 30 Pasir Kembang 3,472 0 0.00% 776 331 42.65% 776 479 61.73% 31 Curug Badak 10,600 0 0.00% 1052 550 52.28% 1052 604 57.41% 32 Cilangkap 6,000 2,000 33.33% 755 359 47.55% 755 828 109.67% 33 Binong 12,000 0.00% 870 569 65.40% 870 717 82.41% JUMLAH 27,737 5,400 19.47 5,130 2,681 JUMLAH WILAYAH UTARA 242,127 56,531 23.35 26,811 12,838 II - 105

Kecamatan No Desa Cigemblong Cijaku Bayah Cibeber Jalan Sarana Air Bersih Sarana Listrik Kebutuhan Penanganan % Kebutuhan Terlayani % Kebutuhan Terlayani % M M Penanganan KK KK Terlayani KK KK Terlayani W I L A Y A H S E L A T A N 34 Mugijaya 11,500 1,000 8.70% 506 126 24.90% 506 19 35 Peucangpari 9,000 2,000 22.22% 837 122 14.58% 837 84 36 Cikadongdong 11,000 1,000 9.09% 592 126 21.28% 592 108 37 Cigemblong** 21,400 3,000 14.02% 703 136 19.35% 703 261 38 Cibungur 5,000 3,000 60.00% 543 104 19.15% 543 14 39 Cikaret 23,500 0 0.00% 597 140 23.45% 597 189 40 Cikate 32,000 0 0.00% 561 109 19.43% 561 89 JUMLAH 101,900 9,000 8.83 4,339 863 41 Ciapus 12,000 3,000 25.00% 617 204 33.06% 617 946 42 Cibeureum 6,250 1,000 16.00% 889 521 58.61% 889 489 43 Cipalabuh 33,400 1,000 2.99% 813 303 37.27% 813 258 44 Kandangsapi 15,900 2,300 14.47% 1078 732 67.90% 1078 664 JUMLAH 67,550 7,300 10.81 3,397 1,760 45 Cimancak 16,500 2,000 12.12% 904 94 10.40% 904 416 46 Sawarna 7,450 1,000 13.42% 1578 667 42.27% 1578 768 47 Cisuren 19,000 1,500 7.89% 924 154 16.67% 924 890 48 Cidikit 25,750 4,000 15.53% 1093 186 17.02% 1093 515 JUMLAH 68,700 8,500 12.37 4,499 1,101 49 Kujangsari 9,400 1,000 10.64% 613 188 30.67% 613 50 Sinargalih 28,700 5,000 17.42% 570 196 34.39% 570 7 51 Ciparay (Citorek Utara) 4,350 1,000 22.99% 376 52 Warungbanten 7,178 3,500 48.76% 1026 325 31.68% 1026 43 53 Mekar sari 8,500 1,000 11.76% 743 267 35.94% 743 5 54 Citorek 40,100 0 0.00% 1549 55 Cikadu 12,550 1,000 7.97% 843 255 30.25% 843 130 II - 106

Kecamatan No Desa Wanasalam Cilograng Panggarangan Jalan Sarana Air Bersih Sarana Listrik Kebutuhan Penanganan % Kebutuhan Terlayani % Kebutuhan Terlayani % M M Penanganan KK KK Terlayani KK KK Terlayani 56 Ciusul 5,300 0 0.00% 57 Situmulya 8,500 0 0.00% 715 242 33.85% 715 5 58 Cihambali 10,250 1,000 9.76% 567 291 51.32% 567 432 59 Hegarmanah 22,000 0 0.00% 491 167 34.01% 491 426 60 Neglasari 7,100 2,000 28.17% 952 222 23.32% 952 480 61 Cisungsang 11,900 3,500 29.41% 686 271 39.50% 686 241 62 Sukamulya 15,500 0 0.00% 729 247 33.88% 729 8 63 Kujang Jaya 10,600 0 0.00% 747 313 41.90% 747 173 JUMLAH 192,528 18,000 9.35 8,682 2,984 64 Parungpanjang 17,250 2,800 16.23% 899 228 25.36% 899 207 65 Parungsari 20,500 1,000 4.88% 564 297 52.66% 564 14 66 Cilangkap 5,800 1,000 17.24% 507 225 44.38% 507 16 67 Cisarap 11,550 0 0.00% 834 180 21.58% 834 227 68 Ketapang 6,300 2,400 38.10% 702 184 26.21% 702 619 69 Sukatani 5,500 1,000 18.18% 988 912 92.31% 988 8 70 Cikeusik 6,500 1,000 15.38% 706 958 135.69% 706 87 71 Cipedang* 16,100 1,000 6.21% 970 368 37.94% 970 461 JUMLAH 72,250 7,400 10.24 6,170 3,352 72 Lebaktipar 16,300 2,450 15.03% 497 132.2 26.58% 497 465 73 Cikamunding 18,000 1,820 10.11% 701 165.4 23.58% 701 255 74 Girimukti 24,000 1,000 4.17% 601 126.8 21.09% 601 754 75 Pasirbungur 13,000 3,500 26.92% 950 280.6 29.55% 950 241 76 Cijengkol 12,400 1,000 8.06% 826 177.8 21.54% 826 527 JUMLAH 67,400 7,320 10.86 3,575 883 77 Gunung Gede 76,000 4,000 5.26% 1386 1387 100.07% 1386 78 Jatake 13,200 2,000 15.15% 1007 609 60.48% 1007 14 79 Sogong 20,700 2,600 12.56% 706 674 95.47% 706 99 II - 107

Kecamatan No Desa Cihara Malingping Jalan Sarana Air Bersih Sarana Listrik Kebutuhan Penanganan % Kebutuhan Terlayani % Kebutuhan Terlayani % M M Penanganan KK KK Terlayani KK KK Terlayani 80 Cimandiri 10,150 5,000 49.26% 1071 813 75.91% 1071 257 81 Sindang ratu** 32,500 0 0.00% 879 795 90.44% 879 471 JUMLAH 152,550 13,600 8.92 5,049 4,278 82 Cihara 21,300 2,000 9.39% 1136 355 31.25% 1136 332 83 Ciparahu* 27,500 0 0.00% 932 205 22.00% 932 437 84 Mekar sari 52,000 1,000 1.92% 936 241 25.75% 936 760 85 Lebak Peundeuy 11,500 500 4.35% 681 162 23.79% 681 86 Karangkamulyan 22,000 2,300 10.45% #DIV/0! 284 87 Citepuseun 42,700 1,000 2.34% 624 186 29.81% 624 171 JUMLAH 177,000 6,800 3.84 4,309 1,149 88 Sumber waras 13,800 1,000 7.25% 1496 557 37.23% 1496 782 89 Kersaratu 15,250 2,000 13.11% 580 308 53.10% 580 401 90 Sukaraja 8,900 1,000 11.24% 1500 752 50.13% 1500 1301 91 Pagelaran 8,500 1,000 11.76% 1413 643 45.51% 1413 687 92 Senanghati 11,950 0 0.00% 489 215 43.97% 489 363 JUMLAH 44,600 4,000 8.97 5,478 2,475 JUMLAH WILAYAH SELATAN 944,478 81,920 8.67 45,498 18,845 Cileles Gunungkencana W I L A Y A H B A R A T 93 Margamulya 12,040 7,560 62.79% 1098 72 6.56% 1098 480 94 Daroyon 8,200 5,000 60.98% 1214 75 6.18% 1214 268 95 Parungkujang 18,000 1,000 5.56% 720 82 11.39% 720 390 96 Mekarjaya* 4,720 1,000 21.19% 687 116 16.89% 687 687 97 Pasindangan 17,350 2,000 11.53% 712 103 14.47% 712 84 JUMLAH 60,310 16,560 27.46 4,431 448 98 Kramat Jaya 16,500 7,365 44.64% 765 268 35.03% 765 99 Gunungkendeng 31,500 3,000 9.52% 569 191 33.57% 569 179 II - 108

Kecamatan No Desa Jalan Sarana Air Bersih Sarana Listrik Kebutuhan Penanganan % Kebutuhan Terlayani % Kebutuhan Terlayani % M M Penanganan KK KK Terlayani KK KK Terlayani 100 Cimanyangray 30,840 2,000 6.49% 579 225 38.86% 579 402 101 Sukanegara** 12,750 1,000 7.84% 541 269 49.72% 541 139 102 Cicaringin 17,500 1,000 5.71% 604 287 47.52% 604 348 103 Cisampang 14,200 1,000 7.04% 566 216 38.16% 566 365 104 Bojong Koneng* 14,350 1,000 6.97% 507 184 36.29% 507 333 105 Bulakan 19,000 1,000 5.26% 543 188 34.62% 543 799 JUMLAH 156,640 17,365 11.09 2,761 1,144 Banjarsari 106 Jalupang girang 11,450 1,000 8.73% 507 202 39.84% 507 106 JUMLAH 11,450 1,000 8.73 507 202 JUMLAH WILAYAH BARAT 228,400 34,925 15.29 7,699 1,794 Cirinten Lebak Gedong Sobang W I L A Y A H T I M U R 107 Cirinten** 16,500 770 4.67% 910 257 28.24% 910 464 108 Parakanlima 21,900 2,000 9.13% 726 162 22.31% 726 246 109 Cempaka 10,580 2,000 18.90% #DIV/0! 110 Badur 11,700 3,000 25.64% 598 183 30.60% 598 87 111 Nangerang 15,300 2,000 13.07% 643 71 11.04% 643 112 Datarcae 3,800 2,000 52.63% 658 162 24.62% 658 260 113 Karangnunggal 13,300 1,000 7.52% 975 113 11.59% 975 402 JUMLAH 93,080 12,770 13.72 4,510 948 114 Lebak Situ 6,500 5,400 83.08% 755 197 26.09% 755 308 115 Lebak Sangka 13,500 2,000 14.81% 583 233 39.97% 583 126 116 Banjarsari 12,000 2,900 24.17% 585 343 58.63% 585 537 117 Lebak Gedong 10,500 2,000 19.05% 686 243 35.42% 686 244 JUMLAH 42,500 12,300 28.94 2,609 1,016 118 Cirompang 8,600 1,800 20.93% 437 32 7.32% 437 372 119 Sindanglaya 36,100 2,800 7.76% 749 86 11.48% 749 263 II - 109

Kecamatan No Desa Cipanas Bojongmanik Leuwidamar Jalan Sarana Air Bersih Sarana Listrik Kebutuhan Penanganan % Kebutuhan Terlayani % Kebutuhan Terlayani % M M Penanganan KK KK Terlayani KK KK Terlayani 120 Sukajaya 3,500 1,000 28.57% 665 193 29.02% 665 150 121 Sukamaju 12,344 5,900 47.80% 975 234 24.00% 975 302 122 Hariang** 10,500 9,000 85.71% 1109 143 12.89% 1109 123 Cilebang 3,700 2,000 54.05% 469 122 26.01% 469 124 Sobang 7,600 2,000 26.32% 965 100 10.36% 965 80 125 Maja Sari 12,447 4,000 32.14% 832 824 99.04% 832 303 126 Citujah 4,000 2,500 62.50% 730 200 27.40% 730 1700 JUMLAH 98,791 31,000 31.38 6,931 1,934 127 Giriharja* 6,500 2,000 30.77% 1021 496 48.58% 1021 564 128 Bintang Sari 8,000 1,000 12.50% 536 280 52.24% 536 166 129 Jayapura 5,800 1,000 17.24% 853 362 42.44% 853 198 130 Girilaya 4,450 2,000 44.94% 896 541 60.38% 896 745 131 Pasirhaur 18,150 1,000 5.51% 703 132 18.78% 703 152 JUMLAH 42,900 7,000 16.32 4,009 1,811 132 Cimayang 14,250 2,000 14.04% 568 50 8.80% 568 292 133 Kadudamas 18,760 1,000 5.33% 663 262 39.52% 663 281 134 Harjawana 9,650 2,000 20.73% 821 221 26.92% 821 427 135 Mekarmanik 5,597 1,000 17.87% 612 80 13.07% 612 2 136 Parakanbesi 15,300 1,000 6.54% 849 133 15.67% 849 480 137 Kadurahayu** 14,375 700 4.87% 866 119 13.74% 866 258 138 Keboncau 2,700 0 0.00% 573 19 3.32% 573 94 JUMLAH 80,632 7,700 9.55 4,952 884 139 Margawangi 15,700 1,000 6.37% 366 94 25.68% 366 308 140 Kanekes 3,000 0 0.00% 2665 120 4.50% 2665 141 Sangkanwangi 17,800 1,000 5.62% 634 440 69.40% 634 217 142 Cisimeut 27,200 2,200 8.09% 995 173 17.39% 995 1072 143 Jalupangmulya** 28,700 1,000 3.48% 833 401 48.14% 833 453 II - 110

Kecamatan No Desa Jalan Sarana Air Bersih Sarana Listrik Kebutuhan Penanganan % Kebutuhan Terlayani % Kebutuhan Terlayani % M M Penanganan KK KK Terlayani KK KK Terlayani 144 Bojongmenteng 14,000 1,000 7.14% 1423 282 19.82% 1423 568 145 Nayagati 11,800 2,500 21.19% 1013 665 65.65% 1013 616 JUMLAH 102,500 7,700 7.51 7,929 2,175 Sajira 146 Maraya 30,500 2,000 6.56% 600 530 88.33% 600 113 Muncang JUMLAH 30,500 2,000 6.56 600 530 147 Pasir Nangka 35,000 2,000 5.71% 567 110 19.40% 567 259 148 Karangcombong** 16,300 1,000 6.13% 512 122 23.83% 512 JUMLAH 16,300 1,000 6.13 1,079 232 JUMLAH WILAYAH TIMUR 549,703 93,770 17.06 35,228 10,546 JUMLAH TOTAL 1,964,708 267,146 64 115,236 44,023 Sumber : Bappeda Kab. Lebak, 2009 II - 111

2.4.3. Fokus iklim Berinvestasi Pada tahun 2008, Kabupaten Lebak telah memililki Kantor Pelayanan Perijinan Terpadu (KPPT) sebagai upaya meningkatkan layanan publik. Kantor tersebut berfungsi untuk mengendalikan pemberian ijin yang menjadi kewenangan pemerintah Kabupaten Lebak melalui layanan satu atap. Diantara ijin yang proses administrasinya diserahkan pada KPPT berasal dari Dinas Kesehatan, Dinas Cipta Karya, Dinas Perindustrian dan Perdagangan, Disporabudpar, Dishutbun, Distamben DPPKD, dan Bappeda. Sampai dengan tahun 2010, KPPT telah memproses 11.232 ijin. Laju pertumbuhan investasi yang ditanamkan di Kabupaten Lebak melalui Penanaman Modal Asing (PMA) dan Penanaman Modal Dalam Negeri (PMDN), pada periode tahun 2007 2010, memperlihatkan kecenderungan fluktuatif. Kondisi ini memberikan sinyalemen bahwa iklim investasi di Kabupaten Lebak cukup memberikan peluang bagi para penanam modal untuk menanamkan investasinya di Kabupaten Lebak. Tabel 2.78 Realisasi Penanaman Modal Asing dan Penanaman Modal Dalam Negeri Kabupaten Lebak Tahun 2005-2010 NO JENIS INVESTASI TAHUN 2005 2006 2007 2008 2009 2010 1 PMDN - 520,000,000,000 15,000,000,000-25,000,000,000 551,000,000 2 PMA US$ 184,100,000 US$ 1,390,000 US$ 9,250,000 US$ 172,100,000 US$ 8,400,000 9,550,000 - - - 2,400,000,000 3,625,001,200-3 NON FASILITAS 34,400,220,000 385,633,295,000 122,663,000,000 143,138,892,000 302,575,172,548 207,414,149,926 JUMLAH 34,400,220,000 905,633,295,000 137,663,000,000 145,538,892,000 331,200,173,548 207,965,149,926 US$ 184,100,000 US$ 1,390,000 US$ 9,250,000 US$ 172,100,000 US$ 8,400,000 US$ 9,550,000 Peranan Usaha Mikro, Kecil dan Menengah (UMKM), dan koperasi dalam peningkatan pertumbuhan ekonomi masih perlu ditumbuhkembangkan. Hal tersebut disebabkan kurangnya efektifitas fungsi dan peranan Usaha Mikro, Kecil dan Menengah dalam pembangunan serta rentannya UMKM terhadap perubahan harga bahan bakar. Masih tingginya kredit konsumsi dibandingkan dengan kredit investasi juga menghambat kontribusi UMKM terhadap pertumbuhan ekonomi sehingga kurang menopang aktivitas sektor riil. Selain itu, dibutuhkan II - 112

pengembangan UMKM dan koperasi yang mampu mengembangkan agroindustri dan bisnis kelautan guna menunjang daya beli dan ketahanan pangan. 2.4.4. Fokus Sumber Daya Manusia Di Kabupaten Lebak struktur umur penduduk usia produktif (15-64 tahun) 63.21% jumlah ini lebih tinggi dibandingkan jumlah penduduk di bawah usia 15 tahun dan penduduk usia di atas 64 tahun, yaitu masing-masing sebesar 33.10% dan 3.69%. Dengan demikian, angka ketergantungan yang menggambarkan jumlah penduduk usia non produktif yang harus ditanggung oleh jumlah penduduk usia produktif, sebesar 442,982 orang atau 36.79%. Pada saat ini, peluang untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia melalui bidang pendidikan sangat terbuka. Hal ini ditopang oleh dukungan pemerintah baik pusat maupun daerah melalui APBN-APBD yang akan berupaya menyediakan anggaran untuk pendidikan sebesar 20 persen. Dalam kaitan ini, pemerintah menyadari bahwa pendidikan merupakan salah satu sarana untuk meningkatkan kecerdasan dan keterampilan manusia serta mempunyai andil besar terhadap kemajuan sosial ekonomi satu bangsa. SDM yang berkualitas merupakan salah satu faktor penting bagi kemajuan bangsa. Semakin tinggi tingkat pendidikan masyarakat semakin tinggi kualitas SDM di wilayah tersebut. Peluang untuk mendapatkan lapangan pekerjaan atau menciptakan peluang usaha lebih besar bagi mereka yang berpendidikan tinggi dibandingkan dengan mereka yang berpendidikan rendah. II - 113