BAB V KESIMPULAN DAN SARAN

dokumen-dokumen yang mirip
BAB I PENDAHULUAN. mampu menghasilkan barang atau jasa yang memiliki kandungan teknologi yang

j. pelaksanaan tugas lain yang diberikan Kepala Dinas sesuai dengan tugas dan fungsinya. (3) Dalam melaksanakan fungsi sebagaimana dimaksud pada ayat

1/9 MEMBANGUN INFORMASI PELAYANAN TERA DAN TERA ULANG SEBAGAI UPAYA PERCEPATAN PELAYANAN DI KABUPATEN GROBOGAN

TENTANG ORGANISASI UNIT PELAKSANA TEKNIS DINAS METROLOGI LEGAL PADA DINAS PERDAGANGAN DAN PERINDUSTRIAN KOTA SURABAYA

WALIKOTA SURABAYA PERATURAN WALIKOTA SURABAYA NOMOR 2 TAHUN 2011

BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang

PROPOSAL SARANA KEMETROLOGIAN DAN FASILITAS PENDUKUNGNYA

GAMBARAN PELAYANAN DINAS PERINDUSTRIAN DAN PERDAGANGAN PROVINSI NTB

PERATURAN BUPATI ACEH TIMUR NOMOR 52 TAHUN 2012 TENTANG

GUBERNUR SULAWESI BARAT

BUPATI MUSI RAWAS PERATURAN BUPATI MUSI RAWAS NOMOR 56 TAHUN 2008 T E N T A N G

GubernurJawaBarat PERATURAN GUBERNUR JAWA BARAT NOMOR 49 TAHUN 2010 TENTANG

2016, No c. bahwa berdasarkan pertimbangan sebagaimana dimaksud dalam huruf a dan huruf b, perlu menetapkan Peraturan Menteri Perdagangan tent

BUPATI MOJOKERTO DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI MOJOKERTO,

: PERINDUSTRIAN ORGANISASI : DINAS PERINDUSTRIAN DAN PERDAGANGAN Halaman sebelum perubahan

BERDASARKAN PROGRAM DAN KEGIATAN TAHUN ANGGARAN 2017

Walikota Tasikmalaya Provinsi Jawa Barat

DOKUMEN PELAKSANAAN PERUBAHAN ANGGARAN SATUAN KERJA PERANGKAT DAERAH ( DPPA SKPD )

MENTERI PERDAGANGAN REPUBLIK IND PERATURAN MENTERI PERDAGANGAN REPUBLIK INDONESIA

BERITA DAERAH KOTA BEKASI

PEMERINTAH KOTA SURABAYA RINCIAN LAPORAN REALISASI ANGGARAN MENURUT URUSAN PEMERINTAHAN DAERAH, ORGANISASI, PENDAPATAN, BELANJA DAN PEMBIAYAAN

ANGGARAN SETELAH PERUBAHAN

DAFTAR INFORAMASI PUBLIK DINAS PERINDUSTRIAN PERDAGANGAN KOPERASI DAN UKM KABUPATEN MUKOMUKO

BAB II PEMBENTUKAN BAB III SUSUNAN ORGANISASI. Bagian Kesatu Balai Pengembangan Teknologi Tepat Guna

PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang

PROVINSI JAWA BARAT PERATURAN BUPATI KARAWANG NOMOR 97 TAHUN 2016

PERATURAN BUPATI TOLITOLI NOMOR 18 TAHUN

KATA PENGANTAR. optimal akan dapat diperbaiki di tahun berikutnya.

BERITA DAERAH KABUPATEN SUMEDANG NOMOR 13 TAHUN 2009 PERATURAN BUPATI SUMEDANG NOMOR 13 TAHUN 2009 TENTANG

BERITA DAERAH KABUPATEN CIREBON

WALIKOTA JAMBI PROVINSI JAMBI PERATURAN WALIKOTA JAMBI NOMOR 1 TAHUN 2017

BUPATI KENDAL PERATURAN BUPATI KENDAL NOMOR 35 TAHUN 2011 TENTANG

KABUPATEN GRESIK RINCIAN APBD MENURUT URUSAN PEMERINTAHAN DAERAH, ORGANISASI PENDAPATAN,BELANJA DAN PEMBIAYAAN TAHUN ANGGARAN 2017

BAB II 2.1. RENCANA STRATEGIS

WALIKOTA YOGYAKARTA DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA

BAB VI Indikator Kinerja yang Mengaeu pada Tujuan dan Sasaran RPJMD

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang

RENCANA KERJA DAN ANGGARAN PERUBAHAN SATUAN KERJA PERANGKAT DAERAH KABUPATEN JEMBRANA TAHUN ANGGARAN 2013

RENCANA AKSI DINAS KOPERASI USAHA KECIL DAN MENENGAH PERDAGANGAN DAN PERINDUSTRIAN KABUPATEN MERANGIN TAHUN 2017

BAB I INTRODUKSI. Sejak diterbitkannya Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2014 tentang. Pemerintahan Daerah, terdapat amanat pemindahan kewenangan dari

Menteri Perdagangan Republik Indonesia PERATURAN MENTERI PERDAGANGAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 29/M-DAG/PER/12/2005 TENTANG ORGANISASI DAN TATA KERJA

TUGAS POKOK DAN FUNGSI BIDANG DAN SEKSI

WALIKOTA YOGYAKARTA DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA PERATURAN DAERAH KOTA YOGYAKARTA NOMOR 2 TAHUN 2018 TENTANG PENYELENGGARAAN TERA/TERA ULANG

PERATURAN BUPATI MUSI RAWAS NOMOR 50 TAHUN2016 TENTANG SUSUNAN ORGANISASI, TUGAS DAN FUNGSI DINAS PERINDUSTRIAN DAN PERDAGANGAN KABUPATEN MUSI RAWAS

PEMERINTAH KOTA SUNGAI PENUH RINCIAN PERUBAHAN APBD MENURUT URUSAN PEMERINTAHAN DAERAH, ORGANISASI, PENDAPATAN, BELANJA DAN PEMBIAYAAN

Menjadikan Bogor sebagai Kota yang nyaman beriman dan transparan

WALIKOTA PEKANBARU PROVINSI RIAU

Tabel 5.1 Rencana Program, Kegiatan, Indikator Kinerja, Kelompok Sasaran dan Pendanaan Indikatif Dinas Perindustrian dan Perdagangan Kabupaten Bima

BAB 2 GAMBARAN PELAYANAN DINAS PERINDUSTRIAN DAN PERDAGANGAN

BUPATI BOYOLALI PROVINSI JAWA TENGAH

RINCIAN RANCANGAN APBD MENURUT URUSAN PEMERINTAHAN DAERAH, ORGANISASI, PENDAPATAN, BELANJA DAN PEMBIAYAAN

BUPATI BLITAR PERATURAN BUPATI BLITAR NOMOR 41 TAHUN 2011 TENTANG PENJABARAN TUGAS DAN FUNGSI DINAS PERINDUSTRIAN DAN PERDAGANGAN KABUPATEN BLITAR

BUPATI BANYUMAS PERATURAN BUPATI BANYUMAS NOMOR 60 TAHUN 2008 TENTANG

DAK Sub Bidang Sarana Perdagangan Tahun Biro Perencanaan, Kementerian Perdagangan

Menteri Perdagangan Republik Indonesia PERATURAN MENTERI PERDAGANGAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 28/M-DAG/PER/12/2005 TENTANG ORGANISASI DAN TATA KERJA

PEMERINTAH KABUPATEN KOLAKA RINCIAN LAPORAN REALISASI ANGGARAN MENURUT PEMERINTAHAN DAERAH, ORGANISASI, PENDAPATAN, BELANJA DAN PEMBIAYAAN

PERATURAN DAERAH KABUPATEN BENGKALIS NOMOR 12 TAHUN 2005 TENTANG

Saptadi Prihayanto

Menteri Perdagangan Republik Indonesia PERATURAN MENTERI PERDAGANGAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 27/M-DAG/PER/12/2005 TENTANG ORGANISASI DAN TATA KERJA

Walikota Tasikmalaya Provinsi Jawa Barat

BAB I PENDAHULUAN. Menurut Mangkunegara (2007:67) prestasi kerja (job performance) merupakan

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN. SMK Negeri 2 Langsa dapat disimpulkan sebagai berikut: secara Profesional yang tercantum pada Misi sekolah

PEMERINTAH KOTA SURABAYA

BUPATI SITUBONDO PERATURAN BUPATI SITUBONDO NOMOR 48 TAHUN 2008 TENTANG

PEMERINTAH KABUPATEN PROBOLINGGO

RENCANA STRATEGIS BAGIAN UMUM SEKRETARIAT DAERAH KABUPATEN TULUNGAGUNG

URAIAN sebelum perubahan

KABUPATEN TULUNGAGUNG PROVINSI JAWA TIMUR PERATURAN BUPATI TULUNGAGUNG NOMOR 57 TAHUN 2014 TENTANG

BUPATI BANYUWANGI PERATURAN BUPATI BANYUWANGI NOMOR 48 TAHUN 2011 TENTANG

TENTANG TATA CARA PENGEMBALIAN KELEBIHAN PEMBAYARAN RETRIBUSI TERA/TERA ULANG DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA WALIKOTA SURABAYA,

PERATURAN WALIKOTA MOJOKERTO TENT ANG

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA WALIKOTA MALANG,

PELAKSANAAN PEMUNGUTAN RETRIBUSI PELAYANAN TERA/ TERA ULANG POMPA UKUR BAHAN BAKAR MINYAK (BBM) PADA BALAI PELAYANAN KEMETROLOGIAN JEMBER

LAPORAN REKAPITULASI KEMAJUAN PELAKSANAAN KEGIATAN UNIT/ SATUAN KERJA APBD PROVINSI BANTEN TAHUN ANGGARAN 2016

PEMERINTAH KOTA PARE PARE RINCIAN APBD MENURUT URUSAN PEMERINTAHAN DAERAH,ORGANISASI, PENDAPATAN, BELANJA DAN PEMBIAYAAN TAHUN ANGGARAN 2017

GUBERNUR JAWA TIMUR PERATURAN GUBERNUR JAWA TIMUR NOMOR 42 TAHUN 2005 TENTANG

DOKUMEN PELAKSANAAN ANGGARAN SATUAN KERJA PERANGKAT DAERAH. PEMERINTAH PROVINSI SULAWESI UTARA Tahun Anggaran 2017

BAB I PENDAHULUAN I-1

1. Bagaimana waktu yang diperlukan dalam pengelolaan Terminal Kertonegoro?

BAB V KESIMPULAN DAN REKOMENDASI. Penggunaan model evaluasi CIPP (context, input, process dan product)

BAB 1 PENDAHULUAN. menyuplai serta mengatur pasokan listrik. Perusahaan ini pun meruapakan satusatunya

Transkripsi:

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN 5.1 Kesimpulan Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa kinerja Unit Pelaksana Teknis Daerah (UPTD) Balai Metrologi Dinas Perindustrian dan Perdagangan Propinsi Sumatera Barat yang diukur melalui aspek keuangan dan aspek kualitas pelayanan, dapat disimpulkan sebagai berikut: 1. Pada kinerja keuangan, tingkat pencapaian kinerja UPTD Balai Metrologi Dinas Perindustrian dan Perdagangan Propinsi Sumatera Barat menunjukan hasil 96,91% dikategorikan Sangat Berhasil atau Sangat Baik. Walaupun dikategorikan Sangat Baik tetapi masih banyak terdapat Sisa Lebih Anggaran (SILPA) dari tahun-ketahun, hal ini disebabkan karena efisiensi anggaran dan juga disebabkan karena kurang matangnya perencanaan yang terjadi pada kegiatan-kegiatan yang bersifat variatif. Untuk penerimaan retribusi tera dan tera ulang masih belum tercapai secara optimal mengingat alat Ukur, Takar, Timbang dan Perlengkapannya (UTTP) yang seharusnya dilakukan peneraan sebanyak 20.955 buah alat UTTP dan yang baru melakukan tera dan tera ulang hanya sebanyak 16.147 alat UTTP atau baru sekitar 77% untuk tahun 2015. 2. Pada aspek kualitas pelayanan, hasil kinerja UPTD Balai Metrologi yang mencerminkan kemampuan UPTD Balai Metrologi dalam memberikan pelayanan atas kualitas pelayanan yang diberikan diperoleh total skor 18,66 atau sebesar 74,64% dengan predikat Berhasil atau Baik. Untuk pengukuran tingkat kesenjangan antara harapan atau kondisi ideal yang diinginkan pelanggan dan persepsi atau

penilaian pelanggan terhadap pelayanan yang diberikan oleh UPTD Balai Metrologi secara keseluruhan diperolah hasil perhitungan dengan nilai rata-rata kesenjangan adalah sebesar (-0,692) dan rata-rata tingkat kepuasan pelanggan sebesar 84,37% atau dengan kategori Berhasil atau Baik. Secara keseluruhan tingkat pencapaian kinerja UPTD Balai Metrologi dari aspek kualitas pelayanan diperoleh nilai sebanyak 79,50% hal ini menunjukan kinerja UPTD Balai Metrologi Berhasil atau Baik. Walaupun demikian masih banyak hal-hal yang menjadi sorotan dari pelanggan pengguna jasa UPTD Balai Metrologi diantaranya: - Kurangnya fasilitas sarana dan prasarana seperti lokasi UPTD, kondisi gedung, tempat parkir, ruang tunggu dan kantin serta sarana komunikasi untuk menghubungi UPTD - Jumlah tenaga penera yang masih terbatas sehingga sehingga petugas yang melakukan pelayanan peneraan masih belum bisa tepat waktu menyelesaikan pekerjaan secepat mungkin - Masih terdapatnya kesalahan dari petugas penera yang melakukan pekerjaannya - Kurang disisplinnya petugas penera dalam memberikan pelayanan kepada pelanggan pengguna jasa - UPTD Balai Metrologi masih belum mengoptimalkan media massa untuk menginformasikan jadwal peneraan maupun sosialisasi dan konsultasi tentang tera dan tera ulang - Kurangnya koordinasi dengan instansi terkait berkaitan dengan jadwal peneraan yang akan dilakukan di kabupaten/kota - Adanya indikasi penyimpangan dari oknum petugas penera dalam melakukan kalibrasi, tera dan tera ulang terhadap mobil tangki ukur minyak

3. UPTD Balai Metrologi telah mampu menerjemahkan visi dan misi nya kedalam tujuan strategis dan sasaran strategis. Dengan demikian telah terdapat hubungan antara visi, misi tujuan dan sasaran strategis. Berdasarkan perhitungan-perhitungan atas kinerja keuangan dan kualitas pelayanan, secara keseluruhan diperoleh hasil bahwa kinerja UPTD Balai Metrologi pada tahun 2015 adalah sebesar 88,20% dan dikategorikan Sangat Berhasil. 5.2 Saran Berdasarkan hasil penelitian dan kesimpulan maka disampaikan pendapat berupa saran yang dapat dijadikan bahan masukan bagi UPTD Balai Metrologi dalam meningkatkan kinerja sebagai berikut: 1. Penetapan target pendapatan retribusi tera dan tera ulang dilakukan dengan melihat dan mengukur potensi-potensi UTTP yang sudah dan belum dilakukan tera dan tera ulang. 2. Pelaksanaan program dan kegiatan harus direncanakan dengan matang sehingga tidak ada program kegiatan yang tidak terlaksana. 3. Peningkatan kualitas dan kuantitas dari sarana dan prasarana pelayanan tera dan tera ulang baik yang dilayani dikantor dan luar kantor UPTD Balai Metrologi. 4. Sistem informasi dan sosialisasi yang lebih menyeluruh mengenai jadwal peneraaan, konsutasi serta sosialisasi tera dan tera ulang melalui mekanisme yang tepat perlu dikaji dan dioptimalkan dalam upaya peningkatan kesadaran masyarakat tentang tera dan tera ulang.

5. Peningkatan jumlah petugas penera dalam pelayanan tera dan tera ulang serta peningkatan pengetahuan teknis pegawai melalui diklat teknis Kemetrologian perlu terus dilakukan secara berkala. 6. Pemberian penghargaan dan hukuman dari instansi harus dengan serius diterapkan untuk lebih memotivasi pegawai. 7. Untuk kegiatan peneraan yang dilakukan di kabupaten/kota, menjelang jadwal pelaksanaan peneraan dilakukan, pihak UPTD Balai Metrologi harus aktif memantau dan terus berkoordinasi dengan instansi terkait untuk menanyakan kesiapan daerah dalam melaksanakan kegiatan peneraan. 8. Perlunya pengawasan yang lebih intensif dari Kepala UPTD Balai Metrologi kepada petugas penera dengan melakukan pemantauan langsung kelapangan ketika petugas penera melakukan kalibrasi, tera dan tera ulang serta diperlukan kerjasama dengan Bidang Pengawasan dan Pengendalian Mutu Produk untuk melakukan pengawasan standarisasi dan pengawasan kemetrologian untuk melaksanakan tugas pokok dan fungsinya dalam perlindungan konsumen. 9. Secara keseluruhan diharapkan manajemen dapat menerapkan evaluasi kinerja internal melalui aspek keuangan dan aspek kualitas pelayanan untuk melihat secara mendetail kinerja UPTD Balai Metrologi yang sesungguhnya. 5.3 Implikasi Penelitian Implikasi dari penelitian pengukuran kinerja keuangan dan kualitas pelayanan pada UPTD Balai Metrologi: 1. Bahan masukan bagi Dinas Perindustrian dan Perdagangan Propinsi Sumatera Barat khususnya Unit Pelaksana Teknis Daerah (UPTD) Balai Metrologi untuk melakukan pengukuran penilaian kinerja pada aspek keuangan dan kualitas pelayanan.

2. Bagi peneliti selanjutnya dapat mengukur kinerja keuangan dan kualitas pelayanan dengan menambahkan atau menggunakan analisa perhitungan dengan metode yang lainnya.