BAB 7 PERPATAHAN ELASTIS PLASTIS

dokumen-dokumen yang mirip
Besarnya defleksi ditunjukan oleh pergeseran jarak y. Besarnya defleksi y pada setiap nilai x sepanjang balok disebut persamaan kurva defleksi balok

BAB III TINJAUAN PUSTAKA

Gambar 7.1. Stabilitas benda di atas berbagai permukaan

BAB 2. PENGUJIAN TARIK

MATERI/MODUL MATA PRAKTIKUM

l l Bab 2 Sifat Bahan, Batang yang Menerima Beban Axial

IV. DEFLEKSI BALOK ELASTIS: METODE INTEGRASI GANDA

Bab II STUDI PUSTAKA

TEGANGAN (YIELD) Gambar 1: Gambaran singkat uji tarik dan datanya. rasio tegangan (stress) dan regangan (strain) adalah konstan

Gambar 5.1 Tegangan yang terjadi pada model 1.

Alasan pengujian. Jenis Pengujian merusak (destructive test) pada las. Pengujian merusak (DT) pada las 08/01/2012

Asyari D. Yunus - Struktur dan Sifat Material Universitas Darma Persada - Jakarta

Sifat Sifat Material

PENGARUH PEREGANGAN TERHADAP PENURUNAN LAJU PERAMBATAN RETAK MATERIAL AL T3 Susilo Adi Widyanto

Pembebanan Batang Secara Aksial. Bahan Ajar Mekanika Bahan Mulyati, MT

Respect, Professionalism, & Entrepreneurship. Mata Kuliah : Mekanika Bahan Kode : TSP 205. Kolom. Pertemuan 14, 15

TIN107 - Material Teknik #5 - Mechanical Failure #1. TIN107 Material Teknik

MECHANICAL FAILURE (KERUSAKAN MEKANIS)

Laporan Praktikum Laboratorium Teknik Material 1 Modul D Uji Lentur dan Kekakuan

Gambar 2.1 Rangka dengan Dinding Pengisi

LENDUTAN (Deflection)

Audio/Video. Metode Evaluasi dan Penilaian. Web. Soal-Tugas. a. Writing exam.skor:0-100(pan)

Mengenal Uji Tarik dan Sifat-sifat Mekanik Logam

Proses Lengkung (Bend Process)

TEGANGAN DAN REGANGAN

3- Deformasi Struktur

ANALISA P Collapse PADA GABLE FRAME DENGAN INERSIA YANG BERBEDA MENGGUNAKAN PLASTISITAS PENGEMBANGAN DARI FINITE ELEMENT METHOD

BAB II TEORI DASAR. Gambar 2.1 Tipikal struktur mekanika (a) struktur batang (b) struktur bertingkat [2]

PLASTISITAS. Pendahuluan. Dalam analisis maupun perancangan struktur (design) dapat digunakan metoda ELASTIS atau Metoda PLASTIS (in elastis)

BAB I PENDAHULUAN. Salah satu material yang sangat penting bagi kebutuhan manusia adalah

III. METODE PENELITIAN

MECHANICAL FAILURE (KERUSAKAN MEKANIS) #2

Pada beberapa alloi/paduan, perambatan retak adalah sepanjang batas butir, patah ini disebut intergranular. (gb. 6b).

BAB 1. PENGUJIAN MEKANIS

ANALISIS DAKTILITAS BALOK BETON BERTULANG

Bab 6 Defleksi Elastik Balok

1. (25 poin) Sebuah bola kecil bermassa m ditembakkan dari atas sebuah tembok dengan ketinggian H (jari-jari bola R jauh lebih kecil dibandingkan

PENGARUH FEED RATE TERHADAP STRUKTUR MIKRO, KEKERASAN DAN KEKUATAN BENDING PADA PENGELASAN FRICTION STIR WELDING ALUMINIUM 5052

Mekanika Bahan TEGANGAN DAN REGANGAN

K 1. h = 0,75 H. y x. O d K 2

Analisa J-Integral Pada Compact Tension Specimen (Cts)Ti-6Al-4v Dengan Menggunakan Metode Elemen Hingga

ANSTRUK STATIS TAK TENTU (TKS 1315)

BAB 2. TINJAUAN PUSTAKA

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA. karbon, baja paduan rendah mutu tinggi, dan baja paduan. Sifat-sifat mekanik dari

BAB II LANDASAN TEORI. A. Tinjauan Pustaka. 1. Vektor

BAB II TEORI DASAR II.I.HUBUNGAN TEGANGAN DAN REGANGAN. Hooke pada tahun Dalam hukum hooke dijelaskan bahwa apabila suatu baja

BAB I PENDAHULUAN. analisa elastis dan plastis. Pada analisa elastis, diasumsikan bahwa ketika struktur

I. PENDAHULUAN. untuk diperkirakan kapan terjadinya, dan tidak dapat dilihat secara kasat mata

BAB IV SIFAT MEKANIK LOGAM

KATA PENGANTAR. telah melimpahkan nikmat dan karunia-nya kepada penulis, karena dengan seizin-

BAB 1 PENDAHULUAN. metoda desain elastis. Perencana menghitung beban kerja atau beban yang akan

BAB 3 MODEL ELEMEN HINGGA

Laporan Praktikum MODUL C UJI PUNTIR

Bab 5 Puntiran. Gambar 5.1. Contoh batang yang mengalami puntiran

SUMBER BELAJAR PENUNJANG PLPG

Pd M Ruang lingkup

Perpatahan Rapuh Keramik (1)

viii DAFTAR GAMBAR viii

BAB IV HASIL EKSPERIMEN DAN ANALISIS

Dinamika. DlNAMIKA adalah ilmu gerak yang membicarakan gaya-gaya yang berhubungan dengan gerak-gerak yang diakibatkannya.

MAKALAH MATERIAL TEKNIK

BAB I PENDAHULUAN. tersebut. Modifikasi itu dapat dilakukan dengan mengubah suatu profil baja standard menjadi

BAB I PENDAHULUAN. logam dengan cara mencairkan sebagian logam induk dan logam pengisi

STUDI KUAT LENTUR BALOK PROFIL C GANDA DENGAN PERANGKAI TULANGAN DIAGONAL. Oleh : JONATHAN ALFARADO NPM :

Laporan Praktikum Laboratorium Teknik Material 1 Modul A Uji Tarik

BAB III LANDASAN TEORI

a. Hubungan Gerak Melingkar dan Gerak Lurus Kedudukan benda ditentukan berdasarkan sudut θ dan jari jari r lintasannya Gambar 1

Dinamika Rotasi, Statika dan Titik Berat 1 MOMEN GAYA DAN MOMEN INERSIA

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. sama yaitu isolator. Struktur amorf pada gelas juga disebut dengan istilah keteraturan

DESAIN BALOK SILANG STRUKTUR GEDUNG BAJA BERTINGKAT ENAM

II. TINJAUAN PUSTAKA. Komponen mesin yang terbuat dari baja ini contohnnya poros, roda gigi dan


METODE PENELITIAN. Model tabung gas LPG dibuat berdasarkan tabung gas LPG yang digunakan oleh

BAB III LANDASAN TEORI. Menurut McComac dan Nelson dalam bukunya yang berjudul Structural

P F M P IPA P A U P U I

BAB II STUDI PUSTAKA

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN. Pembahasan hasil penelitian ini secara umum dibagi menjadi lima bagian yaitu

DRAFT ANALISIS STRUKTUR Metode Integrasi Ganda (Double Integration) Suatu struktur balok sedehana yang mengalami lentur seperti pada Gambar

PAPER KEKUATAN BAHAN HUBUNGAN TEGANGAN DAN REGANGAN. Oleh : Ni Made Ayoni Gede Panji Cahya Pratama

2- ELEMEN STRUKTUR KOMPOSIT

ANALISIS CELLULAR BEAM DENGAN METODE PENDEKATAN DIBANDINGKAN DENGAN PROGRAM ANSYS TUGAS AKHIR. Anton Wijaya

d b = Diameter nominal batang tulangan, kawat atau strand prategang D = Beban mati atau momen dan gaya dalam yang berhubungan dengan beban mati e = Ek

BAB V HASIL DAN PEMBAHASAN. Tabel 5.1 Spesifikasi Benda Uji Benda Uji Tulangan Dimensi Kolom BU 1 D mm x 225 mm Balok BU 1 D mm x 200 mm

BAB 1 Keseimban gan dan Dinamika Rotasi

STUDI DAKTILITAS DAN KUAT LENTUR BALOK BETON RINGAN DAN BETON MUTU TINGGI BERTULANG

ANALISIS KOLOM BAJA WF MENURUT TATA CARA PERENCANAAN STRUKTUR BAJA UNTUK BANGUNAN GEDUNG ( SNI ) MENGGUNAKAN MICROSOFT EXCEL 2002

BAB 2 TINJAUAN KEPUSTAKAAN

HALAMAN PERNYATAAN ORISINALITAS

KEKUATAN MATERIAL. Hal kedua Penyebab Kegagalan Elemen Mesin adalah KEKUATAN MATERIAL

Pertemuan I,II,III I. Tegangan dan Regangan

A. Pendahuluan. Dalam cabang ilmu fisika kita mengenal MEKANIKA. Mekanika ini dibagi dalam 3 cabang ilmu yaitu :

SNI Standar Nasional Indonesia

Jurnal Flywheel, Volume 1, Nomor 2, Desember 2008 ISSN :

SELAMAT DATANG. Laboratorium Fisika Dasar Jurusan Pendidikan Fisika FPMIPA UPI Bandung

PENGUJIAN KUAT TARIK DAN MODULUS ELASTISITAS TULANGAN BAJA (KAJIAN TERHADAP TULANGAN BAJA DENGAN SUDUT BENGKOK 45, 90, 135 )

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

Deformasi Elastis. Figure 6.14 Comparison of the elastic behavior of steel and aluminum. For a. deforms elastically three times as much as does steel

Bab 9 DEFLEKSI ELASTIS BALOK

1. Tegangan (Stress) Tegangan menunjukkan kekuatan gaya yang menyebabkan perubahan bentuk benda. Perhatikan gambar berikut

Transkripsi:

BAB 7 PERPATAHAN ELASTIS PLASTIS 7.1 Perpatahan dengan daerah plastis besar Konsep LEFM hunya dapat digunakan untuk kondisi daerah plastiss relatif kecil dibanding ukuran retaknva. Ini biasanya untuk material. dimana perpatahan terjadi pada tegangan jauh dibawah tegangann luluhnya dan pada kondisi regangan bidang. Apabila daerah plaslis adalah besar dibanding ukuran retak ( tegangann patah tinggi dan/atau tahanan retak tinggi). konsep LEFM tak dapal digunakan. Secara umum, daerah plastis akan menjadi besar dan menyebar ke seluruh penampang retak (Gambar 7.1), jika tegangan net adalah : dimana: σ net beban dibagi sisa luasan pada retak (7.1) Gambar 7.1 Luluh pada ujung retak Dengan kondisi plastiss semacm ini, metoda yang sesuai untuk pengukuran ketangguhan retak adalah crack tip opening displacement (CTOD). 7.2 CTOD Pada bab sebelumnya telah diberikan bahwa Crack Opening Displacement (CTOD) adalah: (7.2) dengan memberikan koreksi adalah plastis r p *, persamaan diatas menjadi. Universitas Gadjah Mada 77

(7.3) dimana a + r p *) adalah panjang retak efektif dan titik koordinatasal pada tengahtengah retak. CTOD pada x = a. COD dan CTOD ditunjukkan pada Gambar 7.2 di bawah ini. (7.4) Gambar 7.2 Crack opening displacement Apabila asal sistem koordinat pada ujung retak plastis (y 1 x), maka, CTOD diperoleh dan r = r p * dan a eff = a Ambil, maka persamaan (4) menjadi: (7.5) (7.6) Persamaan ini menunjukkan adanya hubungan CTOD dengan K 1, sehingga memungkinkan menentukan K 1 secara tidak langsung dengan mengukur CTOD. Namun pengukuran CTOD sangat sulit, dan biasanya ditentukan dan COD: (7.7) COD dapat diukur dengann clip gage, sehingga ClOD dapat ditentukan. Sebagai alternatif. juga dapat digunakan persamaan Dugdale (7.8) Universitas Gadjah Mada 78

atau dapat diekspansikann sebagai: untuk T << σ ys maka : (7.9) (7.10) Persamaan (7.10) samaa seperti persamaan (7.6), kecuali faktor 4 dan π, yang sebetulnya tergantung pemilihan koreksi daerah plastis. Secara umurn dapat ditulis : (7.11) Faktor (1 - υ 2 ) dapat dihilangkan pada kondisi tegangan bidang. Harga λ berkisar antara 1 s/d 4/π. 7.3 Menentukan CTOD Secara Eksperimen Biasanya, pengukuran CTOD dilakukan pada spesimen three point bend serupa dengan pengukuran K 1. Bahan yang digunakan biasanya ulet, sehingga perpatahan juga terjadi setelah terjadi proses plastisitas. Misal bentuk spesimen setelah diuji seperti ditunjukkan Gambar 7.3 a. Di depan retak terjadi plastisitas yang dapat dianggap sebagai sendi plastis (plastic hinge) dengan pusat rotasi sejauh r (w a) dan ujung retak. Faktor rotasi (r) harus ditentukan secara eksperimen. Gambar 7.3 Sendi plastiss Universitas Gadjah Mada 79

CTOD dupat diperoleh dan Gambar 7.3b. sebagai berikut. Atau (7.12) (7.13) COD diperoleh dan pengukuran langsung. Hasil eksperimen menunjukkan bahwa ada hubungan antara faktor rotasi r dan CTOD sebagairnana diilustrasikan pada Gambar 7.4. Hasil kurfitting dengan menggunakan data pada Gambar 7.4 dapat diperoleh harga r sebagai berikut: CTOD dalam 10-3 in. (7.14) Gambar 7.4 Faktor rotasi sebagai fungsi CTOD Sebagai alternatif. digunakan Clip gage ganda tanpa memerlukan harga faktor rotasi seperti ditunjukkan pada Gambar 7.5. CTOD dapat ditentukan dengan rumus sebagai berikut: (7.15) Universitas Gadjah Mada 80

Gambar 7.5 Aplikasi clip gage ganda Harga CTOD mencapai harga relatif konstan untuk a/w > 0,2. Sedangkan tebal minimum supaya terjadi kondisi regangan bidang. B min >25 (CTOD) inisiasi retak atau dapa ditulis sebagai berikut : (7.17) Misal untuk baja dengan E = 21000 kg/mm 2 dan tegangan luluh (σ ys ) = 95 kg/mm 2, menunjukkan harga tebal minimum : Yang jauh lebih rendah dari persyaratan test K IC yaitu : (7.18) (7.19) 7.4 Penggunaan Integral J Dan persamaan (7A 1). untuk bahan elastis non-linier secara umumm dapat ditulis sebagai berikut: J = λσ ys CTOD (7.20) (ingat untuk bahan linier G = J) Hubunga tegangan-tegangan untuk bahan non-linier diherikan oleh Ramherg Osgood : (7.21) Universitas Gadjah Mada 81

dimana : σ tegangan alir n = eksponen pengerasan regangan Jika regangan non-linier kecil dibanding regangan liniernya, persarnaann (7.21) dapat disederhanakan menjadi Dan persamaan umum integral J: (7.22) (7.23) Missal lintasan kontur diamil lingkaran dengan jari jari r, maka persamaan (7.23) menjadi : (7.24) W. T dan u/ x tergantung dan r dan θ. Karena integral iersamamm (7.24) tidak tergantung lintasan. maka integral tersebut juga tidak tergantug r. Sehingga r dalam persamaan (7.24) dapat dihi langkan. Sedangkan proporsional dengan σ ε Dan persamaan (7.22), maka persarnaan (7.25 dapat ditulis: (7.25) (7.26) Persarnaan (7.26) mengilustrasikan kekuatan singularitas regangan dan tegangan unluk sifat-sifat elastis non-linier. intuk n 1 (elastis linier). persamaan (7.26) menjadi: (7.27) Yang mana menunjukkan kekuatan singularitas 1/2. Dan persamaan (7.22). (7.23) dan (7.26) dapat diperoleh hubungan antara J dan tegangan-regangan diujung retak. sebagai berikut Universitas Gadjah Mada 82

(7.28) I n = konstanta nurnerik yang tergantung dan hubungan tegangan-regangan f ij (θ ) dan Q ij (θ ) adalah parameter yang tergantung dan posisi r. 7.5 Penguku ran Integral J perinsip pengukuran integral J dapat dijelaskan melalui gambar 7.3 diatas. Sewaktu dibebani batang tersebut melentur dengan sudut sebesar Ψ (sudut rotasi), sudut rotasi ini terdiri dari bagian elastis dan plastis : Ψ = Ψ el + Ψ pl (7.29) Bagian plastis, Ψ pl sebagai fungsi momen lentur, M, ukuran ligamen plastis, b, tebal, B, dan sifat material. Karena Ψ tidak herdimensi. maka parameter diatas juga tidak berdimensi: (7.30) Jika semua ligamen enjadi plastis, Ψ pl jauh lebih besar dibanding Ψ el, sehingga Ψ = Ψ pl. Persarnaan (7.30) dapat dibalik sebagai berikut: (7.31) Jika semua ligamen rnenjadi plastis, Ψ pl jauh lebih besar dibanding Ψ el, sehingga Ψ = Ψ pl. Persamaan (7.30) dapat dibalik sebagai berikut: (7.32) Momen lentur, M proporsional terhadap PL, dimana P adalah beban dan L panjang batang. Ujung batang akan berotasi seperli Benda tegar. karena ligamen plastis dianggap sebagai sendi, sehingga: dimana v = defleksi, sehingga persamaan (7.31) dapat ditulis: (7.33) Universitas Gadjah Mada 83

Dan persamaan Integral J: (7.34) Dalam hal ini (7.35) a = b, sehingga dapat diperoleh p / a dan persamaan (7.33) sebagai beriku: sehingga persamaan (7.34) menjadi: (7.36) (7.37) Integral persarnaan (7.36) adalah luasan dibawah kurva beban - defleksi (lihat Gambar 7.6 dibawab). sehingga: A = luasan dibawah kurva beban defleksi (7.38) Gambar 7.6 Prosedur pengukuran J IC Universitas Gadjah Mada 84

Pembagian B menunjukkan J mempunyai satuan energi / satuan tebal. Persamaan (7.37) merupakan penjabaran J untuk kasus Ψ el yang kecil. Tetapi ternyata persamaan J untuk Ψ el yang besar sangat identik, sehingga dapat ditulis: Atau (7.38) Untuk melakukan eksperimen J IC digunakan sejumlah spesimen dengann ukuran retak fatik sama. inisal a/w > 0.5. Masing masing spesimen dibebani pada titik beban simpangan yang berbeda dan kemudian beban dihilangkan Iihat Gambar 7.6). Setelah beban dihilangkan. kemudian bekas retak diiandai, misal dengan cara memanaskan pada suhu 850 0 selama 10 menit untuk baja. Sedangkan bahan yang lain misal dengan beban titik. Tujuannya untuk mengukur besar a setelah dibebani pada simpangan tertentu. Setelah itu spesimen dipatahkan untuk mengukur permukaan patah. seperti ditunjukkan pada Gambar 7.6c. Harga J rata-rata diperoleh dan kurva beban - simpangan untuk setiap spesimen untuk memperoleh area. kemudian disubstitusikan ke dalarn persamaan (7.37). Harga J untuk semua spesimen dapat diplot terhadap a. seperti Gambar 7.6d. Ujung retak awal yang runcing menjadi tumpul (blunt) sebelum terjadi perambatan retak stabil. Penumpulan ujung retak dapat dianggap sebagai hasil pertambahan panjang retak seperti ditunjukkan padaa Gambar 7.6e. Pertambahan retak akibat penumpulan (blunting) diasumsikan a = 0,5 CTOD. Kemudian dengan mengambil λ = 1 dalam persaman (7.20), sehingga vareasi harga J karena penumpulan adalah: J = 2σ ys a Persamaan ini akan memberikan garis lurus (garis blunting). garis ini akan berpotongan dengan garis perambatan retak stabil, titik perpotongan ini menunjukkan harga J IC Sekarang mi telah dikembangkan beberapa metode pengukuran a misalkan dengan cara unloading, yang dapat dibaca pada beberapa referensi. Universitas Gadjah Mada 85