Nasib Para Eks-tapol dan Korban Peristiwa 65/66

dokumen-dokumen yang mirip
Buku «Memecah pembisuan» Tentang Peristiwa G30S tahun 1965

Bahan Renungan Sekitar G30S, Bung Karno, Suharto dan PKI

Gus Dur minta ma'af atas pembunuhan tahun 1965/66

Negara Jangan Cuci Tangan

G30S dan Kejahatan Negara

BAB 5 SIMPULAN DAN REKOMENDASI. memuat serangkaian peristiwa yang dijalin dan disajikan secara kompleks. Novel

Berawal dari sifat manusia sebagai mahluk sosial,

Buku Letjen (Pur) Sintong Panjaitan yang membikin heboh

KASUS PELANGGARAN HAM BERAT 1965*

Partai PDIP dan Pembasmian PKI Melalui Supersemar.

Meninjau Kembali Pembantaian 50 Tahun Lalu

Gerwani dan Tragedi 1965

Gerakan 30 September Hal tersebut disebabkan para kader-kader Gerwani tidak merasa melakukan penyiksaan ataupun pembunuhan terhadap para

Saatnya Rehabilitasi Bung Karno!

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah

Tap XXXIII/MPRS/1967

Kalender Doa. Oktober Berdoa Bagi Wanita Yang Menderita Karena Aborsi

PENEGAKAN HAK ASASI MANUSIA DI INDONESIA

Kalender Doa Proyek Hana Januari 2015

LEMBARAN DAERAH KABUPATEN WONOGIRI

REPRESENTASI PERAMPASAN HAK HIDUP INDIVIDU YANG DIANGGAP TAPOL DALAM NOVEL MENCOBA TIDAK MENYERAH KARYA YUDHISTIRA ANM MASSARDI

Demokrasi di Indonesia

Sambutan Presiden RI pd Pembukaan Kongres XXI PGRI dan Guru Indonesia 2013, 3 Juli 2013, di Jakarta Rabu, 03 Juli 2013

RANCANGAN UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA TENTANG KITAB UNDANG-UNDANG HUKUM PIDANA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

Hukuman Bagi Pak Harto

Digantung karena menjadi seorang Kristen di Iran

KASUS ETIKA PROFESI KASUS ANGELINE. Pembunuhan Berencana Angeline

BAB I PENDAHULUAN. Berbagai peristiwa sejarah tentu tidak terjadi dengan sendirinya. Peristiwaperistiwa

BAB 5 KESIMPULAN 5.1 Kesimpulan Universitas Indonesia

Kalender Doa Agustus 2015 Berdoa Bagi Wanita Korban Kekerasan Rumah Tangga

BAB I PENDAHULUAN. panti tidak terdaftar yang mengasuh sampai setengah juta anak. Pemerintah

Oleh : Izza Akbarani*

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 3 TAHUN 1997 TENTANG PENGADILAN ANAK DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA

yang paling tidak pernah luput dari kematian adalah cairan ini. Wanita itu meringis ngilu. Semua yang menimpanya kini sudah jelas bagian dari

DAFTAR TERDAKWA/TERPIDANA PERKARA KORUPSI DARI POLITISI ATAU KADER PARPOL YANG DIVONIS PENGADILAN PADA TAHUN

II. TINJAUAN PUSTAKA. dimana keturunan tersebut secara biologis berasal dari sel telur laki-laki yang kemudian

Siapakah Yesus Kristus? (5/6)

PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 16 TAHUN 1977 TENTANG USAHA PETERNAKAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

AKAR DAN DALANG PEMBANTAIAN MANUSIA TAK BERDOSA. dan PENGGULINGAN BUNG KARNO

No. Responden : Tanggal wawancara: Kuesioner Penelitian Gambaran Peran Keluarga Terhadap Penderita TBC di wilayah kerja Puskesmas Kota Datar

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 22 TAHUN 2017 TENTANG OPERASI PENCARIAN DAN PERTOLONGAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

RANCANGAN UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA TENTANG KITAB UNDANG-UNDANG HUKUM PIDANA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

RANCANGAN UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA TENTANG KITAB UNDANG-UNDANG HUKUM PIDANA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

LAMPIRAN UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 8 TAHUN 1994 TENTANG PENGESAHAN PERJANJIAN EKSTRADISI ANTARA REPUBLIK INDONESIA DAN AUSTRALIA

PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA

PEMERINTAH KABUPATEN MALANG

PEMERINTAH KABUPATEN KUTAI BARAT

Kalender Doa Januari 2016

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 29 TAHUN 2006 TENTANG

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 16 TAHUN 1977 TENTANG USAHA PETERNAKAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 1 TAHUN 2003 TENTANG PEMBERHENTIAN ANGGOTA KEPOLISIAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA

BAB V KESIMPULAN DAN REKOMENDASI

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 26 TAHUN 2000 TENTANG PENGADILAN HAK ASASI MANUSIA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

RANCANGAN UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA TENTANG KITAB UNDANG-UNDANG HUKUM PIDANA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA

Oleh: Logan Cochrane

NOMOR 3 TAHUN 1997 TENTANG PENGADILAN ANAK

RANCANGAN UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA TENTANG KITAB UNDANG-UNDANG HUKUM PIDANA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

PEMERINTAH KABUPATEN MURUNG RAYA

Bab III Keanggotaan. Bagian Kesatu. Umum

Rekonsiliasi Korban HAM-Berat 1965

LAMPIRAN INSTRUKSI PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 3 TAHUN PEDOMAN PELAKSANAAN PROGRAM BANTUAN PEMBANGUNAN SEKOLAH DASAR 1977/1978 BAB I UMUM

BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang Masalah

BAB V. Penutup. Dari kajian wacana mengenai Partai Komunis Indonesia dalam Surat Kabar

Presiden Republik Indonesia,

PERATURAN DAERAH KABUPATEN BENGKALIS NOMOR 06 TAHUN 2008 TENTANG BADAN PERMUSYAWARATAN DESA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI BENGKALIS,

DIMENSI POLITIS AND YURIDIS KETETAPAN MPR NO. XXXIII/MPRS/1967. Oleh Prof. Dr. Jimly Asshiddiqie, SH 1.

Seri Kitab Wahyu Pasal 14, Pembahasan #38 oleh Chris McCann

Kriteria pertama, Kriteria kedua,

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 20 TAHUN 2008 TENTANG

Undang-Undang Republik Indonesia. Nomor 26 Tahun Tentang. Pengadilan Hak Asasi Manusia BAB I KETENTUAN UMUM

PEMERINTAH KABUPATEN KUTAI BARAT

PEMERINTAH KABUPATEN MALANG

BAB I PENDAHULUAN. Mulai meningkatnya angka kejahatan di Indonesia semakin marak dan terjadi

Alkitab untuk Anak-anak memperkenalkan. Daud Sang Raja (Bagian 1)

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Indonesia sebagai negara hukum berdasarkan Pancasila dan UUD

RANCANGAN UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR... TAHUN TENTANG HUKUM ACARA PIDANA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

DAFTAR INVENTARISASI MASALAH PEMERINTAH ATAS RANCANGAN UNDANG-UNDANG TENTANG PERUBAHAN ATAS UNDANG UNDANG NOMOR 14 TAHUN 1985 TENTANG MAHKAMAH AGUNG

BAB I PENDAHULUAN. manusia yang berasal dari Tuhan, dan tidak dapat diganggu gugat oleh. Hak Asasi Manusia (HAM) merupakan salah satu nilai dasar

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 30 TAHUN 1954 TENTANG TANDA KEHORMATAN SEWINDU ANGKATAN PERANG REPUBLIK INDONESIA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

Presiden Republik Indonesia,

Alkitab untuk Anak-anak memperkenalkan. Daud Sang Raja (Bagian 1)

TENAGA KERJA INDONESIA: ANTARA KESEMPATAN KERJA, KUALITAS, DAN PERLINDUNGAN. Penyunting: Sali Susiana

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 24 TAHUN 2003 TENTANG MAHKAMAH KONSTITUSI DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

Diskusikan secara kelompok, apa akibat apabila Pembukaan UUD Negara Republik Indonesia Tahun 1945 diubah. Bagaimana sikap kalian terhadap hal ini?

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 24 TAHUN 2003 TENTANG MAHKAMAH KONSTITUSI DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

Salawati Daud, Walikota Perempuan Pertama Di Indonesia

BAB III ANALISIS DAN KAJIAN YURIDIS MENGENAI EUTHANASIA DIPANDANG DARI SEGI HAM

Bab I : Kejahatan Terhadap Keamanan Negara

Transkripsi:

Tulisan ini juga disajikan dalam website http://umarsaid.free.fr/ Nasib Para Eks-tapol dan Korban Peristiwa 65/66 Para pembaca yang budiman. Dengan datangnya bulan puasa, yang merupakan bulan suci untuk orang Muslimin, maka berikut di bawah ini disajikan sebuah tulisan yang disiarkan oleh http://www.kaskus pada tanggal 16 Juli 2011, untuk dipakai sebagai bahan renungan kita bersama. Tulisan tersebut merupakan secuwil kecil saja dari masalah penderitaan ratusan ribu eks-tapol, yang selama puluhan tahun selama Orde Baru telah mendapat perlakuan tidak manusiawi yang sangat menyedihkan. Eks-tapol ini (dan berbagai macam korban rejim militer Orde Baru lainnya) terdapat di seluruh daerah Indonesia. Meskipun rejim militer Orde Baru sudah agak lama (sejak tahun 1989) berhasil digulingkan oleh gerakan massa pemuda dan mahasiswa dengan dukungan rakyat banyak, namun sampai sekarang penderitaan eks-tapol dan keluarga para korban peristiwa 65/66 masih terus berlangsung dalam berbagai bentuk dan bermacam-macam ukuran atau skala. Tulisan yang disajikan berikut ini memberikan gambaran sekilas tentang keadaan para eks-tapol serta kehidupan mereka di sebuah panti jompo di Jakarta Untuk menyambut tulisan ini, dan juga melengkapinya dengan berbagai bahan renungan, maka disediakan sebuah komentar pada akhir tulisan tersebut. Mantan Tapol G30S, Para Lansia yang Tidak Mau Jadi Jompo (judul tulisan yang dikutip dari http://www.kaskus, yang selengkapnya adalah sebagai berikut: ) << Panti jompo ini dikhususkan bagi para korban peristiwa G30S 1965 yang tidak memiliki keluarga. Rumah ini dibelikan oleh Taufiq Kiemas pada tahun 2003, dan diresmikan Abdurrahman Wahid pada 8 Februari 2004. Namun, rumah ini sempat ambruk pada 2006 akibat tertimpa pohon tumbang, sehingga para penghuninya sementara dipindahkan ke Depok, dan kembali lagi tahun 2007. >> Dari sisi luar, Panti Jompo Waluya Sejati Abadi yang terletak di Jl Kramat 5 No 1C, Jakarta Pusat, itu tampak seperti rumah biasa. Berpagar besi setinggi 1,2 meter, tembok bercat krem, dan ubinnya berkeramik putih. Tapi begitu masuk ke dalam, kita akan menemukan sesuatu yang luar biasa. Para lansia yang terlihat renta berbalut baju daster itu merupakan para perempuan tangguh.

Ada 14 orang penghuni rumah itu, yaitu Budi (65), Pujiati (86), Sri Isnanto (83), Lestari (80), Sri Sulistiawati (71), Sri Widati (78), Sumirah (75), Tien Wartini (68), Palupi (69), Mujiati (69), Tahrin (72), Pak Marzuki (75), Pak Lukas Tumiso (71), dan Pak Ir Rosidi (86). Mereka merupakan korban peristiwa 1965 dan mantan tahanan politik (tapol). Di antara mereka ada mantan aktivis Gerakan Wanita Indonesia (Gerwani). Lestari, Sri Sulistiawati, dan Ibu Pujiati ada di sana ketika saya bertandang. Mereka menjelaskan, Gerwani merupakan organisasi independen yang memperhatikan masalah sosialisme dan feminisme. Namun, dianggap Orde baru sebagai salah satu organisasi yang terlibat dalam peristiwa G30S. Setelah Soeharto menjadi presiden, Gerwani dilarang keberadaannya dan banyak anggotanya diperkosa dan dibunuh, seperti banyak orang yang dicurigai sebagai anggota PKI. Mereka menjelaskan, betapa mereka dapat perlakuan yang sangat tidak manusiawi ketika itu. Seperti yang diceritakan oleh Lestari, yang pernah di penjara sebelas tahun sejak 1968-Desember 1979 di Lembaga Permasyarakatan Khusus Wanita di Blitar, Malang, Jawa Timur. Lestari saat itu ditempatkan di kamar tahanan yang diisi delapan orang. Setiap tahanan hanya dibekali satu lembar tikar tipis berukuran satu meter, dan tikar tersebut pun sudah gompal. Udara di Malang sangat dingin, bayangkan bila kami harus tidur hanya beralaskan tikar. Untuk mengurangi rasa dingin, kami menjahit tikar-tikar itu jadi satu agar bisa menutupi lantai kamar tahanan yang dingin. Jadi kami tidur berjajar untuk mengurangi rasa dingin, bebernya. Ia juga pernah ditahan 11 tahun, mulai 18 Juli 1968 25 April 1979 di Penjara Bukit Duri, Jatinegara, Jakarta Timur. Untuk alas tidur saya hanya diberi selembar tikar tipis. Kami para tapol diperlakukan jauh lebih kejam dari narapidana biasa. Untuk makan, kami hanya diberi nasi dengan seiris tempe rebus. Sedangkan narapida biasa diberi makanan cukup gizi seperti telur, daging sapi, daging, ayam, ikan, kacang hijau, dan buah-buahan. Kami diperlakukan seperti itu karena dianggap menentang pemerintah, tambah Sri Sulistiawati. Bahkan cerita Pujiati lebih mengerikan lagi. Ia menjalani masa tahanan mulai 10 Oktober 1965 di penjara Bukit Duri. Kemudian, tahun 1970 ia dipindahkan ke Penjara Plantungan, di daerah Sukoharjo, Kendal, Jawa Tengah. Penjara Plantungan sebelumnya adalah rumah sakit untuk penderita lepra (kusta). Tempat ini banyak sekali ular karena di belakangnya hutan belukar. Pemerintah memperlakukan kami dengan sangat tidak manusiawi. Bayangkan, setiap hari kami hanya diberi makan lima sendok nasi dengan lauk beling dan pasir, sampai-sampai kami tiap tahun punya pinset untuk mencabuti beling-beling halus. Ada 550 narapidana wanita yang menghuni tempat ini. Waktu saya sakit, saya dikirim ke Jakarta dan di rawat di RSPAD Gatot Subroto. Tapi di sana saya malah dicampur dengan orang gila. Bulan Desember 1979 barulah saya terbebas dari hukuman, ungkap Pujiati.

Namun mereka mengaku sama sekali tidak menyesali apa yang telah menimpa mereka. Kami menerima ini semua dengan lapang dada sehingga kami kuat, karena kami merasa benar. Kami ingin memperjuangkan nasib bangsa ini setelah kepemimpinan Soeharto, kata Lestari. Ia ingin sekali bisa membentuk organisasi kewanitaan seperti dulu. Sejak tahun 2003 hingga sekarang, belum ada subsidi dari Kementerian Sosial untuk panti jompo ini. Subsidi untuk panti jompo ini didapatkan dari siapa saja yang simpati. Panti jompo ini sudah mendapatkan subsidi tetap setiap bulan dari Dr Ribka Tjiptaning, Ketua Komisi IX DPR. Ada juga seorang pengusaha muda bernama Lulung yang membuatkan lemari-lemari pakaian dan mengajak rekreasi, serta sumbangan perorangan dan sembako dari gereja Katolik dan Protestan. Untuk pelayanan kesehatan, mereka dapat layanan cuma-cuma dari Klinik Kana di Gondangdia, Jakarta Pusat sejak 2008. Dari klinik ini, mereka tidak hanya mendapat pengobatan gratis, tapi juga sumbangan sembako dan rekreasi. Tapi yang luar biasa, mereka tidak hanya menunggu sumbangan dari para simpatisan. Mereka juga terus berkarya untuk bertahan hidup dengan membuat berbagai macam kerajinan tangan, seperti bunga dari sedotan, tas, pajangan kaligrafi, dan seprei. Mereka juga terima banyak pesanan dari orang-orang. Memang kami tinggal di panti jompo, tapi kami bukan orang jompo, tapi kami dijompokan. Kami dianggap bodoh oleh pemerintah, padahal otak kami tidak jompo. Otak kami masih produktif, dan masih mampu berkarya, tegas Sri. (kutipan selesai) Komentar (untuk direnungkan bersama) Disajikannya tulisan tentang panti jompo di Jakarta, yang dihuni oleh para eks-tapol, merupakan hal yang penting mengingat bahwa di tengah-tengah hiruk-pikuk tentang korupsi dan pelanggaran hukum (antara lain : kasus Nazaruddin, Andi Nurpati, Anas Urbaningrum) yang dewasa ini setiap hari membanjiri televisi dan media massa, maka masalah besar pelanggaran HAM akibat peristiwa 65/66 tidak bisa, dan tidak boleh (!) dilupakan begitu saja oleh banyak orang. Sebab, kalau bangsa Indonesia melupakan saja, atau masa bodoh saja, atau diam saja, terhadap pelanggaran kemanusiaan yang begitu besar itu, maka tidak pantas sama sekali mengaku sebagai bangsa yang katanya menjunjung Pancasila dan konstitusi 45. Dibunuhnya jutaan orang tidak bersalah, dan dipenjarakannya ratusan ribu orang lainnya dalam jangka lama adalah kejahatan besar sekali rejim Suharto yang tidak bisa dima afkan atau dibiarkan begitu saja oleh generasi yang sekarang maupun oleh generasi-generasi yang akan datang.

Meskipun sebagian dari eks-tapol (atau para korban 65/66 lainnya) sudah banyak yang meninggal dunia karena tua atau karena sebab-sebab lainnya, namun banyak juga lainnya yang sampai sekarang masih terus hidup, walaupun sebagian terbesar dalam keadaan yang teraniaya, tersisihkan, dan terlantar. Mereka yang beruntung dapat ditampung dalam panti jompo di Jakarta itu hanyalah belasan orang. Mereka dapat hidup dalam usia lansia, meskipun dalam segala macam keterbatasan, dan dalam berbagai macam penderitaan, baik secara batin dan jasmani. Padahal, orang-orang eks-tapol (atau korban-korban peristiwa 65/66 lainnya), seperti yang ditampung di panti jompo di Jakarta itu masih ada ratusan ribu yang terdapat di berbagai tempat di Sumatera, Jawa, Kalimantan, Sulawesi, Bali dan pulau-pulau lainnya. Kebanyakan atau hampir semua mereka tidak bisa mendapat pertolongan semacam yang diterima oleh yang tinggal di panti jompo di Jakarta itu. Tidak diketahui apakah ada juga panti-panti jompo bagi eks-tapol (atau kornban 65/66) di Sumatera, Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, Kalimantan, Sulawesi atau pulau-pulau lainnya. Selama ini tidak ada berita-berita tentang adanya tempat-tempat untuk menampung para eks-tapol (atau korban 65/66) yang terlantar dan terpaksa hidup terlunta-lunta itu. Karenanya, dapatlah kiranya dibayangkan betapa banyaknya para eks-tapol (dan korban peristiwa 65/66 lainnya) yang sudah lansia dan hidup menderita. Mereka banyak yang tidak bisa hidup terus menjadi beban saudara atau keluarga, tidak mendapat jaminan sosial, dan harus menghadapi banyak kesulitan karena masalah kesehatan dan usia tua. Seandainya mereka masih berbadan sehat dan masih bisa bekerja, namun untuk mencari pekerjaan adalah sama sekali tidak mudah, mengingat usia mereka yang sudah lanjut. Sedangkan bagi yang muda-muda saja sudah sulit mencari pekerjaan, apalagi bagi mereka. Lalu, siapa-siapa sajakah yang harus bertanggungjawab terhadap penderitaan yang menyedihkan begtiu banyak orang itu? Mereka adalah juga warganegara yang sah, dan manusia biasa, seperti halnya orang-orang Indonesia lainnya. Namun, banyak di antara mereka itu yang tidak punya keluarga atau sanak saudara lagi. Banyak juga di antara mereka itu yang tadinya adalah aktivis-aktivis berbagai ormas, atau simpatisan PKI, yang mendukung berbagai politik Presiden Sukarno. Mereka itu dijebloskan dalam penjara atau tempat tahanan lainnya secara sewenang-wenang, tanpa pengadilan, hanya dengan cap (dakwaan atau tuduhan yang tidak berdasar) sebagai tersangkut G30S/PKI. Padahal, mereka itu tidak mempunyai kaitan atau tidak tahu menahu sama sekali tentang G30S. Mereka waktu itu hidup atau tinggal jauh dari Jakarta, umpamanya di Sumatera, atau di Jawa Tengah dan Jawa Timur atau Bali.

Jadi, jelaslah kiranya bagi kita semua, bahwa mereka tidak bersalah apa-apa, tidak berdosa sedikitpun, tidak melanggar hukum sama sekali, dan bukan penjahat, atau bukan pengganggu keamanan dan ketertiban masyarakat. Kebanyakan di antara mereka adalah orang-orang yang (laki dan perempuan) yang mau dengan sukarela berjuang untuk masyarakat adil dan makmur dan mendukung berbagai politik Bung Karno yang revolusioner dan anti-imperialis atau anti-kapitalisme. Mengingat itu semua, maka perlulah masalah penderitaan eks-tapol (dan korban peristiwa 65/66 lainnya) yang umumnya sudah lanjut usia (dan bahkan sudah dekat dengan akhir hidup mereka ) mendapat perhatian dari kalangan luas, baik dari pemerintah maupun masyarakat. Perhatian ini perlu sekali, demi rasa kemanusiaan dan keadilan, dan hati nurani atau nalar yang sehat. Sebab, orang-orang yang sudah tua-tua ini umumnya telah dipenjarakan dengan sewenang-wenang dan secara salah (!!!) selama jangka lama, atau diperlakukan tidak manusiawi, walaupun tidak bersalah apa-apa sama sekali. Untuk kesalahan atau kejahatan yang begitu besar terhadap banyak orang itu, pimpinan Angkatan Darat atau pemerintah tidak pernah menyatakan penyesalan mereka dan minta ma af (kecuali Gus Dur). Dengan tidak pernah menyatakan penyesalan dan permintaan ma af atas kesalahan-kesalahan mereka di masa yang lalu, maka sekarang membiarkan terus penderitaan orang-orang yang sudah tua dan mendekati akhir hidup mereka ini adalah suatu sikap yang tidak bisa dianggap menghargai perintah-perintah agama atau Tuhan. Paris, 19 Juli 2011 A. Umar Said