BAB II TINJAUAN PUSTAKA

dokumen-dokumen yang mirip
PELAKSANAAN KONSTRUKSI DENGAN SISTEM TOP-DOWN

BAB V METODE PELAKSANAAN KONSTRUKSI BASEMENT

9- STRUKTUR BASEMENT

BAB V METODE PELAKSANAAN PEKERJAAN

BAB V METODE PELAKSANAAN KONSTRUKSI BASEMENT. Saat penulis mulai melakukan kerja praktik pada pembangunan proyek Verde

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN. diambil disimpulkan untuk tugas akhir ini diantaranya :

BAB V METODE PELAKSANAAN PEKERJAAN. Dalam pelaksanaan suatu proyek baik proyek besar maupun proyek kecil selalu

LEMBAR PENGESAHAN SIDANG SARJANA PROGRAM STUDI TEKNIK SIPIL FAKULTAS TEKNIK SIPIL DAN PERENCANAAN UNIVERSITAS MERCU BUANA

BAB I PENDAHULUAN. Dalam dunia konstruksi high risk building tentu memerlukan metode. Keberadaan bangunan sekitar gedung memberikan andil dalam proses

BAB VII TINJAUAN KHUSUS METODE PELAKSANAAN PILE CAP DAN RETAINING WALL. Dalam setiap proyek konstruksi, metode pelaksanaan konstruksi

BAB V METODE PELAKSANAAN KONSTRUKSI BASEMENT. aplikasi teknologi ini banyak diterapkan dalam metode-metode pelaksanaan

BAB VII PEMBAHASAN MASALAH. sebuah lahan sementara di sebuah proyek bangunan lalu dipasang pada proyek

STUDI KASUS TERHADAP PELAKSANAAN BASEMENT 5 LANTAI DI WILAYAH SURABAYA BARAT

METODE PELAKSANAAN DAN PERHITUNGAN KEBUTUHAN MATERIAL UNTUK PILE CAP PADA LANTAI BASEMENT

BAB V PELAKSANAAN PEKERJAAN STRUKTUR ATAS

METODE PELAKSANAAN DAN PERHITUNGAN KEBUTUHAN MATERIAL UNTUK PILE CAP PADA LANTAI BASEMENT ABSTRAK

BAB IV MATERIAL DAN PERALATAN

BAB IV TINJAUAN KHUSUS

BAB V METODE PELAKSANAAN. 5.1 Pekerjaan Pondasi Tiang Bor (Bored Pile) ke dalam tanah dengan cara mengebor tanah terlebihdahulu, lalu kemudian diisi

BAB V PELAKSANAAN PEKERJAAN. terhitung mulai dari tanggal 07 Oktober 2013 sampai dengan 07 Desember 2013

JURNAL KARYA TEKNIK SIPIL, Volume 3, Nomor 4, Tahun 2014, Halaman 950

BAB V PELAKSANAAN PEKERJAAN STRUKTUR ATAS. Proyek pembangunan Aeropolis Lucent Tower dibangun dengan

BAB IV DATA DAN ANALISA. pengembangan dari gedung existing yaitu gedung Bimantara MNC Tower

BAB V PELAKSANAAN PEKERJAAN. pengamatan struktur plat lantai, pengamatan struktur core lift.

BAB VII PEMBAHASAN MASALAH. Pekerjaan pondasi dibagi menjadi dua bagian, yaitu pondasi dangkal dan pondasi

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

BAB VII TATA LAKSANA LAPANGAN

BAB V METODE UMUM PELAKSANAAN KONSTRUKSI. Metode pelaksanaan di lapangan akan mudah dikerjaan dengan membuat

Diajukan sebagai syarat untuk meraih gelar Sarjana Teknik Strata 1 (S1)

BAB V PELAKSANAAN PEKERJAAN. Kolom merupakan suatu elemen struktur yang memikul beban Drop Panel dan

BAB I PENDAHULUAN. Metode pelaksanaan pekerjaan sub struktur yang umum atau sering digunakan adalah

BAB V METODE PELAKSANAAN KONSTRUKSI

BAB IV TINJAUAN BAHAN BANGUNAN DAN ALAT-ALAT. Penyediaan alat kerja dan bahan bangunan pada suatu proyek memerlukan

BAB V PELAKSANAAN PEKERJAAN

PERBANDINGAN BIAYA DAN WAKTU PENGERJAAN PONDASI PADA PROYEK YANG MENGGUNAKAN UP DOWN CONSTRUCTION DENGAN MENGGUNAKAN METODA KONVENSIONAL

BAB V METODE PELAKSANAAN KONSTRUKSI KOLOM DAN BALOK. perencanaan dalam bentuk gambar shop drawing. Gambar shop

PONDASI RAKIT (RAFT FOUNDATION)

BAB V METODE UMUM PELAKSANAAN KONSTRUKSI. Metode pelaksanaan di lapangan akan mudah dikerjaan dengan membuat

BAB VII TATA LAKSANA LAPANGAN

BAB V TEMUAN DAN PEMBAHASAN

BAB 2 TINJAUAN KEPUSTAKAAN Pengetahuan Umum Rencana Anggaran Biaya ( RAB ) diberikan sebagai dasar pemikiran lebih lanjut.

BABV PELAKSANAAN PEKERJAAN. perencana. Dengan kerjasama yang baik dapat menghasilkan suatu kerja yang efektif

BAB II KAJIAN PUSTAKA

BAB IV METODE PENGECORAN KOLOM, DINDING CORE WALL, BALOK DAN PLAT LANTAI APARTEMENT GREEN BAY PLUIT LANTAI 15 - LANTAI 25

Jurnal Teknik Sipil Untag Surabaya 163

Oleh : AGUSTINA DWI ATMAJI NRP DAHNIAR ADE AYU R NRP

BAB IV ANALISA DAN PEMBAHASAN

BAB IV TINJAUAN BAHAN BANGUNAN DAN ALAT ALAT. Proyek Menara Sentraya dilakukan oleh PT. Pionir Beton Industri


Persyaratan agar Pondasi Sumuran dapat digunakan adalah sebagai berikut:

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB I KOLOM BAJA, BALOK BAJA DAN PLAT LANTAI

BAB I PENDAHULUAN. basement. Pekerjaan basement adalah pekerjaan yang paling krusial dalam

BAB VII PEMBAHASAN MASALAH. Dalam setiap Proyek Konstruksi, metode pelaksanaan yang dilakukan memiliki

BAB V METODE PELAKSANAAN PEKERJAAN. Dalam melaksanakan suatu proyek konstruksi, diperlukan adanya suatu

BAB IV PENGAMATAN PEKERJAAN SIPIL LAPANGAN

BAB IV MATERIAL DAN PERALATAN

BAB V METODE PELAKSANAAN STRUKTUR ATAS. dalam mencapai sasaran pelaksanaan proyek konstruksi. Dimana sasaran proyek

5- PEKERJAAN DEWATERING

Laporan Kerja Praktik Nusa Konstruksi Enjiniring - Proyek Apartemen Ciputra International Tower 4&5 BAB 3 TINJAUAN UMUM PROYEK

BAB VII PEMBAHASAN MASALAH METODE PELAKSANAAN SHEAR WALL DAN CORE WALL

MATERI KULIAH MEKANIKA TEKNIK OLEH : AGUNG SEDAYU TEKNIK PONDASI TEKNIK ARSITEKTUR UIN MALIKI MALANG

BAB V PELAKSANAAN PEKERJAAN. Pada prinsipnya, pekerjaan struktur atas sebuah bangunan terdiri terdiri dari

RETAINING WALL DAN BASEMENT

INOVASI DALAM SISTEM PENAHAN BEBAN GRAVITASI UNTUK GEDUNG SUPER-TINGGI

BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang


BAB V METODE PELAKSANAAN PEKERJAAN. digunakan untuk menerima dan mentransfer (menyalurkan) beban dari struktur

BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang

BAB V METODE UMUM PELAKSAAN KONSTRUKSI. Untuk mengetahui metode pelaksanaan di lapangan, dibuatkan gambar shop

TINJAUAN BAHAN BANGUNAN DAN ALAT-ALAT. Penyediaan alat kerja dan bahan bangunan pada suatu proyek memerlukan

BAB IV TINJAUAN KONDISI PROYEK ALAT DAN BAHAN BANGUNAN

JURNAL TEKNIK ITS Vol. 4, No. 1, (2015) ISSN: ( Print) D-1

PENGANTAR PONDASI DALAM

BAB V PELAKSANAAN PEKERJAAN

BAB V PELAKSANAAN PEKERJAAN BEKISTING, PEMBESIAN DAN PENGECORAN

BAB V PELAKSANAAN PEKERJAAN. Vittoria Residences Apartement terdiri dari 3 tower dengan : c. Podium 5 lantai, dengan 1 lantai semi basement

BAB IV PERALATAN YANG DIGUNAKAN. Pada setiap pelaksanaan proyek konstruksi, alat-alat menjadi faktor yang sangat

BAB I PENDAHULUAN. manajemen konstruksi. Setidaknya upaya yang dilakukan merupakan usaha untuk

PELAKSANAAN PEKERJAAN STRUKTUR PILE CAP, KOLOM, BALOK & PLAT LANTAI PADA PROYEK PENGEMBANGAN GEDUNG RSUD BUDHI ASIH. Yusti prabowo

TINJAUAN PUSTAKA. menahan gaya angkat keatas. Pondasi tiang juga digunakan untuk mendukung

BAB IV PEKERJAAN PEMBUATAN PONDASI TIANG BOR DENGAN METODE ENLARGED BASE BORED PILE. Contoh pelaksanaan pekerjaan lubang bor No.

BAB IV TINJAUAN BAHAN BANGUNAN DAN ALAT-ALAT

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. menahan gaya beban diatasnya. Pondasi dibuat menjadi satu kesatuan dasar

Struktur dan Konstruksi II

BAB V PELAKSANAAN PEKERJAAN

METODE PELAKSANAAN PEMBANGUNAN JEMBATAN PT.GUNUNG MURIA RESOURCES

Analisa & Pembahasan Proyek Pekerjaan Pelat Lantai

BAB IV MATERIAL DAN PERALATAN

FONDASI DALAM BAB I PENDAHULUAN

BAB IV MATERIAL DAN PERALATAN

BAB IV TINJAUAN BAHAN DAN ALAT-ALAT

BAB V PELAKSANAAN PEKERJAAN. Pekerjaan persiapan berupa Bahan bangunan merupakan elemen

UCAPAN TERIMA KASIH...

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB VII PENAMBAHAN BALOK STRUKTUR LANTAI ATAP AKIBAT BEBAN GONDOLA DAN ROOF TANK

Dalam menentukan jenis pondasi bangunan ada beberapa hal yang harus diperhatiakan dan dipertimbangkan diantaranya :

struktur dinding diafragma adalah dengan menjaga agar jangan sampai

BAB VII TINJAUAN KHUSUS METODE PELAKSANAAN PEKERJAAN BALOK

METODE PELAKSANAAN LIFTING JACK TIANG PANCANG

Transkripsi:

BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Tinjauan Umum Metode konstruksi adalah bagian yang sangat penting dalam proyek konstruksi untuk mendapatkan tujuan dari proyek, yaitu biaya, kualitas dan waktu. Aspek teknologi, sangat berperan dalam suatu proyek konstruksi. Umumnya, aplikasi teknologi ini banyak diterapkan dalam metode-metode pelaksanaan pekerjaan konstruksi. Penggunaan metode yang tepat, praktis, cepat, dan aman, sangat membantu dalam penyelesaian pekerjaan pada suatu proyek konstruksi. Sehingga target waktu, biaya dan mutu sebagaimana ditetapkan akan dapat tercapai. Dalam pelaksanaan pekerjaan konstruksi, adakalanya juga diperlukan suatu metode terobosan untuk menyelesaikan pekerjaan di lapangan. Khususnya pada saat menghadapi kendala-kendala yang diakibatkan oleh kondisi lapangan yang tidak sesuai dengan dugaan sebelumnya. Untuk itu, penerapan metode pelaksanaan konstruksi yang sesuai kondisi lapangan, akan sangat membantu dalam penyelesaian proyek konstruksi bersangkutan. Penerapan metode pelaksanaan konstruksi, selain terkait erat dengan kondisi lapangan di mana suatu proyek konstruksi dikerjakan, juga tergantung pada jenis proyek yang dikerjakan. Metode pelaksanaan pekerjaan untuk bangunan gedung berbeda dengan metode pekerjaan II-1

bangunan irigasi, bangunan pembangkit listrik, konstruksi dermaga maupun konstruksi jalan dan jembatan. Semua tahapan pekerjaan gedung mempunyai metode pelaksanaan yang disesuaikan dengan disain dari konsultan perencana. Perencanaan metode pelaksanaan pekerjaan struktur didasarkan atas design, situasi dan kondisi proyek serta site yang ada dalam data-data proyek. Data-data tersebut merupakan data yang mempengaruhi dalam menentukan dan merencanakan metode pelaksanaan gedung. Metode site works atau struktur bawah merupakan metode yang memiliki pengaruh yang cukup besar dalam metode pekerjaan struktur secara keseluruhan. Metode struktur bawah akan menentukan ketepatan schedule pelaksanaan struktur. Hal tersebut disebabkan oleh tingkat kesulitan yang tinggi dalam pelaksanaannya. Seiring dengan perkembangan kemajuan teknologi dimana kebutuhan akan pembangunan semakin meningkat, namun lahan yang dimiliki terbatas sehingga mendukung para engineer untuk memanfaatkan lahan yang terbatas semaksimal mungkin menjadi bangunan bertingkat. Bangunan bertingkat tidak hanya berarti berada diatas permukaan tanah, melainkan juga dapat dibuat di bawah permukaan tanah yang dikenal dengan basement. Basement adalah sebuah tingkat atau beberapa tingkat dari bangunan yang keseluruhan atau sebagian terletak di bawah tanah. Jadi dapat dikatakan bahwa basement adalah ruang bawah tanah yang merupakan bagian dari bangunan gedung. Struktur basement gedung bertingkat (tidak II-2

termasuk fondasi tiang), secara garis besar, terdiri dari diantaranya raft foundation, kolom, dinding basement, balok dan pelat lantai. Strukturstruktur tersebut, yang dikerjakan adalah struktur beton bertulang dengan sistem dicor ditempat (cast in place). Adanya basement tentunya akan ada penggalian tanah. Bagian ini yang biasa terjadi dan merupakan langkah awal berdirinya sebuah gedung tinggi. Kendala yang dihadapi pada pekerjaan galian basement adalah faktor runtuhnya dinding tanah vertikal dan munculnya air tanah ke permukaan pada galian. Sehingga dalam pelaksanaan konstruksi basement, ada tiga hal penting yang perlu diperhatikan, yakni metode konstruksi, retaining wall dan dewatering. (Laily 2013) 2.1.1 Metode Konstruksi Sistem Top Down Pada sistem ini, struktur basement dilaksanakan bersamaan dengan pekerjaan galian basement, urutan penyelesaian balok dan pelat lantainya dimulai dimulai dari atas kebawah, dan selama proses pelaksanaan, struktur plat dan balok tersebut didukung oleh tiang baja yang disebut King Post (yang dipasang bersamaan dengan bored pile). Sedangkan dinding basement dicor lebih dulu dengan sistem diaphragm wall, dan sekaligus diaphragm wall berfungsi sebagai cut off dewatering. (Laily 2013) 2.1.2 Metode Konstruksi Sistem Semi Top Down Sistem semi top down pelaksanaannya hampir sama dengan metode sistem top-down. Perbedaannya adalah terletak pada pekerjaan II-3

struktur di atasnya lantai yang di skip tersebut dapat dikerjakan bersamaan dengan pekerjaan struktur bawah. Pada proses pengecoran struktur gedung, baik lantai maupun dinding serta kolom, umumnya dicor bertahap karena luas area dan volume pekerjaan yang besar. Sehingga dibuat dengan sistem zoning dengan jumlah menyesuaikan dengan kapasitas sumber daya yang tersedia pada daerah tersebut. Zoning struktur yang tepat akan membantu kelancaran pelaksanaan dan flow pengadaan sumber daya yang terkait yaitu bekisting, besi tulangan dan beton ready mix. Dalam perencanaan zoning pekerjaan struktur ada beberapa hal yang harus diperhatikan, yaitu: - Kapasitas pengecoran harian rata-rata suatu daerah - Volume material beton, besi dan bekisting serta flow pengadaannya - Lahan yang tersedia untuk stok material - Ketersediaan tenaga kerja dan siklusnya. - Kondisi peralatan yang ada dan tingkat kesibukannya,dll Dalam menentukan zoning ini, perlu diperhatikan batas-batas antar zona. Sebagai pedoman praktis, batas zona adalah ¼ bentang balok. Hal tersebut dikarenakan pada area tersebut diperkirakan momen yang terjadi adalah nol atau mendekati nol. (Hartoyo 2010) 2.1.3 Metode Pelaksanaan Konstruksi Sistem Bottom Up (Konvensional) Secara garis besar kegiatan-kegiatan yang dilakukan pada pelaksanaan konstruksi basement dengan metode bottom up ialah sebagai berikut: II-4

1. Mobilisasi peralatan. 2. Pelaksaanaan pondasi tiang. 3. Pelaksanaan dinding penahan tanah (sheet pile). 4. Penggalian dan pembuangan tanah. 5. Dewatering. 6. Poer pondasi. 7. Waterproofing. 8. Tie beam dan pondasi rakit. 9. Dinding basement dan struktur bertahap keatas. 10. Lantai basement bertahap keatas. Secara umum, kegiatan-kegiatan pekerjaan tersebut diatas adalah item pekerjaan utama yang hampir dapat selalu ditemukan dalam suatu pelaksanaan pekerjaan basement dengan metode bottom up. Berikut adalah gambaran pelaksanaan pekerjaan berdasarkan urutan pekerjaan yang mana harus dimulai dari lantai dasar basement. II-5

Gambar 2.1 Pelaksanaan Basement dengan Metode Bottom Up Kemungkinan lain dapat saja terjadi, tetapi pada umumnya tata cara pelaksanaan metode basement bottom up akan mengikuti pola demikian. Beberapa hal yang dapat disebut merupakan ciri-ciri pelaksanaan basement dengan metode bottom up yang lazim dilakasanakan dari jabaran di atas adalah: 1. Metode bottom up tidak memerlukan tata cara manajemen proyek secara khusus, karena umumnya sudah menjadi hal yang biasa dilaksanakan. 2. Diperlukan pengendalian muka air tanah sekeliling secara intensif. 3. Dinding penahan tanah dapat tetap atau sementara, tetapi yang pasti untuk pelakasanaannya tidak dapat dilakukan simultan dengan pekerjaan lain, dinding penahan tanah adalah awal dari pekerjaan II-6

basement yang mutlak dilakukan sebelum pekerjaan lainnya dimulai kecuali tiang pondasi. 4. Setiap usaha mempercepat waktu pelaksanaan, pada umumnya menyebabkan penambahan sumber daya baik manusia maupun peralatan yang tidak sebanding dengan produksinya. 5. Semakin dalam (semakin banyak jumlah basement) metode pelaksanaan ini akan semakin sulit. 6. Diperlukan luas lahan yang cukup untuk mengendalikan transportasi galian tanah vertikal. 7. Akibat proses penggalian dan kebutuhan akan konstruksi samentara yang banyak, maka kondisi lingkungan proyek akan padat dan kotor. 8. Kemungkinan melakukan kombinasi pelaksanaan secara simultan dengan kegiatan lainnya amat minim karena metode konstruksi memberikan urutan kegiatan demikian. 9. Biaya pelaksanaan sampai dengan kedalaman tertentu relatif lebih murah. (Laily 2013) 2.1.4 Metode Pelaksanaan Konstruksi Sistem Top Down Pada metode konstruksi Top Down, stuktur basement dilaksanakan bersamaan dengan pekerjaan galian basement, urutan penyelesaian balok dan plat lantainya dimulai dari atas ke bawah, dan selama proses pelaksanaan, struktur plat dan balok tersebut didukung oleh tiang baja yang disebut King Post (yang dipasang bersamaan dengan bored pile). II-7

Sedang dinding basement dicor lebih dulu dengan sistem diaphragm wall, dan sekaligus diaphragm wall tersebut. Biasanya untuk penggalian basement digunakan alat khusus, seperti excavator ukuran kecil. Bila jumlah lantai basement banyak, misal lima lantai, maka untuk kelancaran pekerjaan, galian dilakukan langsung untuk dua lantai sekaligus, sehingga space cukup tinggi untuk kebebasan proses penggalian. Lantai yang dilalui, nantinya dilaksanakan dengan cara biasa, menggunakan scaffolding (seperti pada sistem bottom up biasa). Bila struktur basement telah selesai, maka tiang king post dicor beton dan bila diperlukan dapat ditambah penulangannya. Lubang lubang lantai basement yang dipergunakan untuk pegankutan tanah galian, ditutup kembali. Pengecoran struktur atas, dilaksanakan seperti biasa, yaitu dari bawah ke atas (lantai satu, dua, dan seterusnya). Untuk pelaksanaan lantai yang dilalui agar space galian cukup longgar. Maka lantai yang bersangkutan dicor dengan sistem scaffolding biasa. Bila struktur king post cukup kuat. Maka pada saat menyelesaikan basement, dapat dibarengi dengan struktur atas (sering disebut dengan sistem up and down). Pada prinsipnya metode Top down dapat disebut sebagai cara membangun terbalik, yaitu membangun dari atas ke bawah. secara teknis, metode ini sudah bukan menjadi masalah lagi di Indonesia, tetapi mengingat bahwa metode baru pada akhir-akhir ini dicoba, maka permasalahan yang timbul adalah kapan digunakan metode ini serta bagaimana teknik manajemennya agar tercapai tujuan utama proyek tsb. II-8

Berikut ini tahapan dalam pelaksanaan metode konstruksi top down: 1. Pengecoran bored pile dan pemasangan king post 2. Pengecoran diaphragm wall. 3. Lantai basement 1, dicor di atas tanah dengan lantai kerja 4. Galian basement 1, dilaksanakan setelah lantai basement 1 cukup strenghtmya menggunakan excavator kecil). Disediakan lubang lantai dan ramp sementara untuk pembuangan tanah galian. 5. Lantai basement 2, dicor diatas tanah dengan lantai kerja. 6. Galian basement 2, dilaksanakan seperti galian basement 1, begitu seterusnya. 7. Terakhir mengecor raft foundation. 8. King post dicor, sebagai kolom struktur. 9. Bila diperlukan, pelaksanaan basement, dapat dimulai struktur atas, sesuai dengan kemampuan dari king post yang ada (sistem up & down) Gambar 2.2 Pemasangan bore pile dan king post II-9

Gambar 2.3 Pengecoran lantai basement 1 Gambar 2.4 Pengecoran lantai basement 2 Gambar 2.5 Galian Raft Foundation II-10

Biasanya untuk penggalian basement digunakan alat khusus, seperti excavator ukuran kecil. Bila jumlah lantai basement banyak, misal lima lantai, maka untuk kelancaran pekerjaan, galian dilakukan langsung untuk dua lantai sekaligus, sehingga space cukup tinggi untuk kebebasan proses penggalian. Lantai yang dilalui, nantinya dilaksanakan dengan cara biasa, menggunakan scaffolding (seperti pada sistem bottom up biasa). Bila struktur basement telah selesai, maka tiang king post dicor beton dan bila diperlukan dapat ditambah penulangannya. Lubang-lubang lantai basement yang dipergunakan untuk pengangkutan tanah galian, ditutup kembali. Pengecoran struktur atas, dilaksanakan seperti biasa, yaitu dari bawah ke atas (lantai satu, dua, dan seterusnya). Untuk pelaksanaan yang dilalui agar space galian cukup longgar, maka lantai yang bersangkutan dicor dengan sistem scaffolding biasa. Bila struktur king post cukup kuat. Maka pada saat menyelesaikan basement, dapat dibarengi dengan struktur atas (sering disebut dengan up and down). Gambar 2.6 Struktur Basement Top Down II-11

Salah satu detail king post, dapat dijelaskan sebagai berukut: a. Lantai pertama dan sebagian kolom dicor, dengan memasang starter bar untuk kolom. Gambar 2.7 Penulangan lantai mat foundation b. Lantai berikutnya juga dicor dengan cara yang sama. Kemudian starter bar kolom bawah dan atasnya disambung. Kemudian kolom yang bersangkutan dicor. Gambar 2.8 Penulangan tiang king post II-12

TOP DOWN CONSTRUCTION pada prinsipnya merupakan salah satu pilihan sarana mengamankan galian dengan memanfaatkan struktur lantai basement dalam fungsi kedua sebagai wall to wall strutting. Sepintas metoda ini memberi kesan seolah-olah melanggar kaidah klasik dimana pelaksanaan tidak lagi dimulai dari fondasi, tetapi dibalik dimulai dari lantai dasar, semi lantai basement ke lantai basement berikutnya, lalu kemudian membuat fondasinya. Apakah kesan ini benar? Sebagian benar, sebagian tidak benar. Karena sebenarnya sebagian fondasi dan king-post sebagai kolom sementara sudah dibuat terlebih dahulu untuk menanggung beban gravitasi dari sebagian struktur permanen yang dibangun dari atas ke bawah. Sebagian fondasi lainnya belum berfungsi, masih bersifat idle. Setelah level fondasi dicapai dan pile-cap sudah menyatukan functioned pile dan idle-piles, maka upward construction dimulai dan fondasi secara kesatuan penuh siap menanggung seluruh beban gravitasi dan beban-beban lainnya sesuai konsekuensi dari pembangunan sistem upward yang konvensional. Dengan sedikit uraian diatas dapat dimengerti bahwa metoda pelaksanaan top-down tidak lebih dari satu metoda pelaksanaan yang normal yang tidak melanggar kaidah pembangunan klasik dimana pembuatan fondasi dan kolom harus dibuat lebih dulu tetap diikuti. Tidak ada hal yang baru, tidak ada sulap atau magic, tidak ada pelanggaran kaidah, kecuali seni dalam urutan dan cara pelaksanaan yang memberikan II-13

keuntungan-keuntungan yang dapat memberi jawaban dan solusi atas kesulitan, atas kendala dan atas resiko-resiko di pelaksanaan. Seni metoda top-down dengan filosofi desain dan pengawasannya perlu dikuasai dengan baik untuk mengetahui keistimewaannya, keuntungannya, limitasi-limitasinya dan persyaratannya sebagai landasan kea rah memberi motivasi dalam pengamanan di semua tahapannya. berikut : Keuntungan yang didapat dari sistem metoda ini adalah sebagai 1) Dapat membuat dinding basement sedekat mungkin ke batas bangunan. 2) Struktur horizontal yang sifatnya struktur sementara dapat ditiadakan atau dikurangi. Struktur lantai basement yang permanen difungsikan juga sebagai strutting. 3) Displacement (arah horizontal) dari dinding penahan tanah pada umumnya dapat banyak dikurangi. 4) Bangunan dan sarana di sekitarnya lebih diamankan stabilitasnya (akibat point-3). 5) Struktur lantai basement dapat dikerjakan langsung di atas dasar tanah galian. Disini dapat dihilangkan kebutuhan struktur penunjang bekisting. II-14

6) Pelaksanaan struktur lantai basement praktis bersamaan dengan kegiatan ekskavasi / penggalian tanah. Ada overlapping aktivitas yang menguntungkan faktor waktu pelaksanaan proyek. 7) Pencapaian ke tengah bangunan dalam kegiatan ekskavasi dipermudah dengan adanya pelat lantai yang difungsikan sebagai bagian strutting. Pada kombinasi penggunaan diaphragm wall, disamping keuntungan diatas ada tambahan keuntungan lainnya : 8) Dinding penahan tanah galian akan juga merupakan bagian dari struktur permanen. Dengan perkataan lain dinding struktur galian yang bersifat sementara bisa ditiadakan (termasuk aktivitas pencabutan kembali steel sheet pile) menjadi hilang. 9) Area galian tanah relatif lebih kecil dengan tidak diperlukan lagi penyediaan ruang kerja antara penahan tanah sementara dengan struktur dinding permanen. 10) Berkaitan dengan butir 9, area kerja yang bisa dimanfaatkan kontraktor menjadi lebih besar. 11) Luas basement terpakai menjadi relatif lebih besar (berkaitan dengan butir-8). 12) Keandalan kedap air menjadi relatif lebih tinggi. II-15

13) Dalam kaitan dengan struktur sekuriti khasanah yang memerlukan dinding tebal, sebagian sudah terpenuhi fungsinya. (Laily 2013) 2.1.5 Kaitan Metode Konstruksi dan Desain Sistem Struktur Metoda konstruksi digariskan untuk mewujudkan satu sistem struktur yang direncanakan. Konsekuensi urutan metoda konstruksi timbul karakter detail. Kelakuan struktur yang terjadi setiap tahapan dalam metoda Pelaksanaan tersebut akan berbeda dengan kelakuan struktur pada struktur akhir. Bisa terjadi struktur yang sifatnya krusial atau kritis justru terjadi pada saat sementara dalam pelaksanaan. Desain perlu mengakomodasikan aspek ini. Sketsa-2 memperjelas adanya saling pengaruh antara desain dan metoda konstruksi. (Hamid 1996) Gambar 2.9 Flow Chart Desain dan Konstruksi II-16

2.2 Pekerjaan Tanah Galian Pada Basement Pekerjaan tanah pada sistem semi top down dimulai dari level basement 3, basement 1 & 2 dilewati karena struktur lantai & baloknya masih menunggu konfirmasi desain dan langsung menuju ke basement 3 karena struktur lantainya flat / rata. Lalu sebelum dilanjutkan ke lantai berikutnya di bawah basement 3 terlebih dahulu dilakukan pemasangan ground anchor pada dinding diaphragm wall tujuannya menjaga dari kemungkinan runtuh sebab dinding diaphragm wall dikhawatirkan belum stabil. Ground anchor dipasang hanya dilevel diatas basement 3. Terhadap kemungkinan adanya air dasar galian baik waktu penggalian maupun pada waktu pekerjaan pondasi harus disediakan pompa air atau pompa lumpur yang jika diperlukan dapat bekerja terus menerus untuk menghindari tergenangnya air pada dasar galian. Semua tanah kelebihan yang berasal dari pekerjaan galian, setelah mencapai jumlah tertentu harus segera disingkirkan dari halaman pekerjaan setiap saat yang dianggap perlu, bagian yang akan diurug kembali harus diurug dengan tanah yang bersih bebas dari kotoran dan memenuhi syarat-syarat sebagai tanah urug. Pelaksanannya secara berlapis-lapis dengan penimbunan lubang-lubang galian yang terletak didalam garis bangunan harus diisi kembali dengan tanah urug yang diratakan dan dialiri air serta dipadatkan sampai mencapai 100% kepadatan kering maksimum yang dibuktikan dengan test laboratorium. Semua daerah urugan dan timbunan diatur berlapis sedemikian sehingga dicapai suatu lapisan setebal 15 cm dalam II-17

keadaan padat. Tiap lapis harus dipadatkan dan lolos uji CBR dan sand cone sebelum lapisan tanah berikutnya. Pemadatan dilakukan sampai mencapai hasil kepadatan lapangan tidak kurang dari 95% kepadatan maksimum hasil laboratorium. Kepadatan maksimum terhadap kadar air optimum dari percobaan contoh tanah harus disimpan dalam tabung gelas atau plastic untuk bukti penunjukan atau referensi dan diberi label yang berisikan nomor contoh, kepadatan kering maksimum dan kadar optimumnya. (Ema 2012) 2.3 Pekerjaan Pondasi Untuk gedung bertingkat pada umumnya menggunakan pondasi dalam, hingga mencapai kedalaman dimana daya dukung tanah sudah cukup tinggi. Pondasi dalam biasanya berbentuk tiang dan ada tiga jenis yaitu : 1. Tiang pancang. 2. Tiang bor (Bored Pile). 3. Tiang Frangki (Frangki Pile). Seiring dengan kemajuan teknologi, perkembangan teknologi pondasi sekarang ini maju dengan pesatnya. Untuk bangunan-bangunan yang super tinggi kedalaman pondasi dapat mencapai hingga 50 meter. Tentu saja dalam pelaksanaannya banyak sekali permasalahanpermasalahan yang harus dihadapi misalnya : tanah yang keras, tanah yang mudah longsor (pasir), tingginya air tanah dan sebagainya. Sehingga II-18

banyak kontraktor-kontraktor yang mengkhususkan / spesialisasi pada pekerjaan yang diambilnya. Hal ini dapat dimengerti karena disamping teknologi yang harus dikuasai juga harus didukung sumber daya alat yang canggih dan mahal juga sumber daya manusia yang professional. Untuk pondasi bangunan-bangunan high risk di perkotaan, pondasi tiang pancang sudah tidak cocok lagi dan mulai ditinggalkan. Di samping diesel hammer menimbulkan suara yang keras juga getaran-getaran yang ditimbulkan akan mengganggu bangunan yang lain. Oleh dinas Tata Kota disarankan memakai pondasi bored pile. Untuk jenis pondasi bored pile ini dalam prosesnya tidak menimbulkan getaran-getaran dan kebisingan. Disamping itu pondasi bored pile, diameter dan kedalamannya dapat diatur sesuai kebutuhan daya dukung yang kita inginkan. (Ema 2012) 2.4 Struktur Kingpost Kingpost sebagai kolom dengan profil baja yang dimasukkan kedalam tanah mengejar tiang fondasi (yang akan lebih dulu diefektifkan) mempunyai dua fungsi. Fungsi utama adalah sebagai kolom sementara yang menopang beban gravitasi pada saat proses down-ward construction berjalan. Fungsi kedua adalah sebagai bagian dari kolom permanen dalam system komposit. Variasi profil kingpost dapat sebagai profil pipa, atau profil WF atau INP, profil tunggal atau profil ganda (lihat sketsa-8). II-19

Gambar 2.10 Model Variasi King Post Pertimbangan dalam mengambil pilihan dan menetapkan profil yang sesuai antara lain : - Kemudahan mendapatkan profil besar (availability). - Beban gravitasi yang perlu didukung, termasuk beban gravitasi sementara dari alat-alat transportasi horizontal (misalnya jalan truck) dan crane (jika ada) pada lokasi tertentu dan aktivitas kerja lain saat pelaksanaan down-ward. - Betuk kolom beton dimana kingpost berada (bentuk bulat atau bujur sangkar atau segi empat panjang). - Betuk kolom beton dimana kingpost berada (bentuk bulat atau bujur). - Faktor tekuk yang berkaitan dengan urutan pelaksanaan lantai basement pada proses down-ward-construction. - Kemudahan hubungan beam-column connection baik yang bersifat sementara (pada pelaksanaan down-ward) maupun yang bersifat permanen (pada saat pelaksanaan upward). II-20

- Kemudahan beam-column-joint untuk kontinuitas besi beton pada struktur komposit, terutama yang terhalang oleh kingpost. - Momen lengkung kemungkinan yang terjadi akibat eksentrisitas turunnya beban dengan posisi tiang fondasi. - Momen lengkung yang terjadi dari distribusi momen lengkung yang terjadi pada sistem frame sementara pada waktu pelaksanaan downward. (Ema 2012) 2.5 Sistem Struktur Diaphragm Wall Jika struktur penahan tanah menggunakan diaphragm wall maka perlu dilihat apakah dipergunakan continuous-lateral reinforcement, semi continuous lateral reinforcement atau male-female vertical connection atau vertical plane joint connection. Semua sistem dapat dipergunakan sesuai kebutuhan dan kondisi setempat. Untuk dapat mempertimbangkan mana yang lebih sesuai untuk suatu proyek (dari sudut praktis, waktu, teknis, dan biaya) maka perlu sedikit mengetahui kelebihan dan kekurangannya masing-masing (lihat sketsa-3 variasi diaphragm wall S-1 s/d S-5) II-21

Gambar 2.11 Model Variasi Diaphragm Wall Untuk S-1 : - Dinding reinforced dua jurusan; baik sekali zone seismic berat - Pelaksanaan cukup sulit dalam menurunkan pembesian panel-2 (P-2); toleransi inklinasi dan toleransi panel dapat mengakibatkan besi yang overlapped bertabrakan. - Displacement / defleksi yang sama. - Kesatuan dinding secara integral meyakinkan sekali. Untuk S-2 : - Reinforcement horizontal tidak efektif, karena overlapped terbatas dan jarak besi yang overlapped terlalu jauh (15-20 cm). - Masih ada sumbangan dalam menampung efek momen sekunder dalam arah tegak lurus momen lengkung utama. II-22

- Pelaksanaan relatif mudah. - Defleksi vertikal / displacement sama. - Kesatuan dinding dalam pengalihan beban ke dinding yang juga berfungsi fondasi cukup efektif. Untuk S-3 : - Efek momen sekunder arah melintang (antar panel) yang relatif kecil ditampung oleh penampang beton non-reinforced dalam batasan tensile stress beton. - Pelaksanaan lebih mudah. Tidak ada kendala akibat toleransi posisi (25-50 mm) dan toleransi inklinasi (1 : 150 1 : 200). - Defleksi / displacement vertikal sama. - Kesatuan dinding diperoleh oleh dinding antar panel yang dibantu oleh caping beam diatas dan parameter beam di setiap lantai basement. Untuk S-4 : - Sama seperti (S-3) dengan catatan disini water stop tidak dipasang. Untuk S-5 : - Pelaksanaan paling mudah, praktis, dan lebih cepat. - Momen sekunder horizontal ditanggulangi dengan beton bonding beton panel baru dengan panel terdahulu. II-23

- Kesamaan defleksi dan displacement vertikal antara panel satu dengan panel lain hanya diandalkan pada lekatan / bonding panel baru terhadap panel terdahulu. - Adanya perbedaan besar bentang vertikal dari panel P-1 dan panel P-2 perlu dihindarkan. (Hamid 1996) Detail batasan-batasan pelaksanaan diperlihatkan pada sketsa-4. Gambar 2.12 Detail Persyaratan Pelaksanaan 2.6 Capping Beam Capping beam merupakan balok penutup pada konstruksi bangunan bawah (misal : turap, dinding penahan tanah / retainning wall dan sebagainya). Selain sebagai penutup, capping beam juga berfungsi II-24

sebagai balok pengunci pada konstruksi diapghram wall. Urutan pelaksanaannya adalah sebagai berikut : 1. Pembobokan kepala diaphragm wall sampai elevasi rencana, 2. Pemasangan pembesian capping beam sesuai shop drawing, 3. Pemasangan bekisting, 4. Pengecoran capping beam, 5. Pembongkaran bekisting, Kelima pekerjaan diatas saling berhubungan (saling berpengaruh satu sama lain) karena pelaksanaannya berurutan. Oleh karena itu, cepat atau lambatnya durasi dari satu siklus ini sangat berpengaruh terhadap pelaksanaan pekerjaan ini. (Ema 2012) 2.7 Chemical Anchor Chemical anchor merupakan stek besi yang dipasang untuk penyambungan besi plat atau balok yang dipasang sekeliling dinding yang menyatu dengan plat atau balok beam di slabnya tersebut. Banyaknya chemical anchor sama dengan jumlah tulangan atas dan tulangan bawah pada plat sekeliling dinding ditambah dengan tulangan balok yang berhimpit ke dinding. (Ema 2012) II-25

2.8 Pekerjaan Beton Pekerjaan beton secara garis besarnya dapat dibagi menjadi beberapa elemen, yaitu : - Acuan beton, dihitung dalam meter persegi luas permukaan, - Perancah acuan, dihitung dalam meter persegi luas permukaan yang ditopang, - Baja tulangan, dihitung dalam berat baja tulangan terpasang, dan - Pekerjaan beton, dihitung dalam meter kubik volume beton jadi. Masingmasing bagian pekerjaan tersebut masih harus dibagi lagi menjadi beberapa sub bagian. Misalnya pekerjaan baja tulangan dapat diurai menjadi pekerjaan pemotongan, pembengkokan, pengangkutan, merakit di bengkel kerja, dan merangkai di lokasi struktur. Atau contoh lain adalah pekerjaan betonnya sendiri diuraikan menjadi pekerjaan mengaduk material, mengangkut, mengecor termasuk memadatkan dan merapikan permukaan, membuat benda uji, perawatan pengerasan dan mengerjakan perbaikan yang diperlukan. Seiring dengan ilmu pengetahuan dan teknologi yang semakin berkembang, mengupayakan dan mencapai mutu material tinggi bukan menjadi masalah lagi dalam konstruksi. Kuat desak beton sampai dengan 400 bahkan 500 MPa dengan mudah dapat dibuat dilapangan, demikian pula baja dengan kuat tegangan tinggi dapat didatangkan dalam waktu tidak lebih dari satu bulan. Sehingga menerapkan sistem struktur bangunan dengan memanfaatkan kemajuan dan kemudahan di bidang material tersebut semakin hari semakin intensif saja. Sistem struktur beton prategangan II-26

misalnya diterapkan sejak untuk tiang pancang, gelagar balok jembatan, sampai pada rangka struktur bangunan pencakar langit. Demikian pula sistem komposit beton dan gelagar baja juga semakin intensif penggunaannya. Karena ketertinggalan dalam informasi, seringkali pengembangan sistem-sistem struktur tersebut masih saja disebut sebagai cara inkonvensional sedangkan cara yang lazim dikenal disebut konvensional. Mengelompokkan dengan cara demikian tidak pada tempatnya, karena pelaksanaan semua sistem tersebut pada hakekatnya tetap mengikuti konvensi, peraturan-peraturan, dan persyaratan standar yang agak tidak terjebak pada cara pemahaman yang lebih simpang siur lagi hanya karena penggunaan istilah yang tidak pada tempatnya. (Dipohusodo 2013) 2.8 Pengendalian Waktu Waktu penyelesaian yang dibutuhkan untuk proses konstruksi selalu diterapkan dalam dokumen kontrak karena akan berpengaruh penting terhadap nilai pelelangan dan pembiayaan pekerjaannya sendiri. Penetapan jangka waktu pelaksanaan proyek terikat erat dengan pembiayaannya bahkan saling tergantung. Sehingga pengendalian waktu pelaksanaan konstruksi umumnya dilakukan bersamaan dan tidak terlepas dari pengendalian biaya. Selama berlangsungnya tahap konstruksi fisik, kontraktor bertanggung jawab untuk menyiapkan jadwal rencana kerja terinci yang memenuhi seluruh aspek persyaratan yang tercantum di dalam dokumen kontrak. Jadwal rencana kerja harus menunjukkan kelayakan metode pelaksanaan terutama berkaitan dengan sumber daya yang harus dikerahkannya. Adalah menjadi tanggung jawab kontraktor untuk bukan II-27

hanya mengatur pekerjaan seluruh jajaran aparatnya, para subkontraktor, dan pemasok materialnya tetapi juga dapat mewujudkan kerjasama dengan pemasok dan kontraktor lain yang sama-sama ditugaskan oleh pemberi tugas yang sama. Berbagai perlengkapan tersedia untuk pengendalian waktu dan biaya, semuanya ditujukan untuk menjamin bahwa proyek dilaksanakan dengan baik tanpa terjadi penyimpangan waktu dan biaya. Jadwal rencana kerja dapat berupa bagan balok atau bentuk jaringan kerja dengan lintasan kritis. Untuk keperluan berbagai tataran manajemen, perlu dikumpulkan data-data penting untuk dirubah menjadi informasi manajemen yang bermanfaat bagi pengambilan keputusan yang harus dibuat. Alat-alat dan perlengkapan yang dimaksu antara lain : 1). Laporan kemajuan pekerjaan (progress report) termasuk mencakup informasi mengenai status kemajuan dan biaya, hambatan hambatan, kecenderungan pembiayaan, analisis penyimpangan yang meliputi setiap aspek kinerja masing-masing kegiatan. 2). Perkiraan penyelesaian dikaitkan dengan target persentase kemajuan setiap hari, minggu, bulan, yang diarahkan pada pencapaian jadwal keseluruhan. 3). Berbagai kurva rekaman, bisa jadi berupa kurva kemajuan implementasi proyek total, rekayasa dan perencanaan, perintah pengadaan, pekerjaan konstruksi, pengiriman material dan peralatan. Kemudian kurva pembiayaan total proyek, pengadaan dan pembelanjaan, kegiatan konstruksi, arus pendanaan dan sebagainya, dan II-28

4). Berbagai rekaman nilai banding atau rasio, diantaranya rasio orang hari rekayasa terhadap konstruksi, biaya tidak langsung terhadap proyek total, biaya material terhadap proyek total, dan berbagai rasio lainnya yang penting untuk berfungsi sebagai fasilitator didalam pengambilan keputusan yang terkait dengan pengendalian kinerja. (Dipohusodo 2013) II-29