BAB V TEMUAN DAN PEMBAHASAN
|
|
|
- Glenna Hermanto
- 8 tahun lalu
- Tontonan:
Transkripsi
1 BAB V TEMUAN DAN PEMBAHASAN 5.1 TEMUAN PENELITIAN PEMILIHAN METODE KONSTRUKSI Tabel 5.1Temuan Penelitian Metode Konstruksi No Data pertanyaan Temuan Penelitian 1 2 Dari dan hingga lantai basement berapa yang metode Bottom-Up dimana biayanya lebih efisien atau lebih menguntungkan basement berapa yang metode Top Down dimana biayanya lebih efisien atau lebih menguntungkan? Di lantai basement berapa untuk 3 pelaksanaan metode Bottom-Up dan Top- Down dimanna biayanya sama lantai 1-2: Pada lantai 1-2 untuk ground support dan dewatering masih layak lantai 3-4 dst: Dapat mengurangi pekerjaan perancah dan dapat memperingan struktur dinding basement terhadap beban samping tanah Lantai 3: Di lantai basement tsb nilai biaya kira-kira hampir sama untuk kedua metode basement berapa Lantai 1: Untuk galian basement satu lantai beban dewatering belum yang metode berat ( dengan asumsi debit rembesan besar). 4 Bottom-Up bila Tinggi Muka Air Tanah (MAT) kedalamannya dari permukaan tanah kurang dari 1 (satu) meter? Dari dan hinggá lantai basement berapa Lantai 2 dst: Metode Top-Down juga sebagai dewatering untuk MAT yang metode Top- <1 meter. 5 Down bila Tinggi Muka Air Tanah (MAT) kedalamannya dari permukaan tanah kurang dari 1 (satu) meter? 6 7 basement berapa yang metode Bottom-Up bila Tinggi Muka Air Tanah (MAT) kedalamannya dari permukaan tanah kurang dari 2 (dua) meter? basement berapa yang metode Top- Down bila Tinggi Muka Air Tanah (MAT) kedalamannya dari permukaan tanah kurang dari 2 (dua) meter? Lantai 1: Galian basement 1 lantai beban dewatering akibat 1 meter< MAT < 4 meter sudah cukup tinggi Lantai 2 dst: Metode Top-Down juga sebagai dewatering untuk MAT <1 meter. basement berapa lantai 1-2: Dengan MAT sedalam 3 meter dari permukaan, galian 2 yang metode lantai basement masih dapat diatasi dengan layak 8 Bottom-Up bila Tinggi Muka Air Tanah (MAT) kedalamannya dari permukaan tanah kurang dari 3 (tiga) meter? basement berapa Lantai 3 dst: Diperlukan konstruksi penahan tanah dan metode yang metode Top-konstruksi berbeda dengan bottom-up 9 Down bila Tinggi Muka Air Tanah (MAT) kedalamannya dari permukaan tanah kurang dari 3 (tiga) meter? 10 basement berapa yang metode Bottom-Up bila Tinggi Muka Air Tanah (MAT) kedalamannya dari permukaan tanah kurang dari 4 (empat) meter? antai 1-2: Dengan MAT sedalam 3 meter dari permukaan, galian 2 lantai basement masih dapat diatasi dengan layak 121
2 basement berapa Lantai 3 dst: Dinding basement pada metode Top Down juga yang metode Top-berfungsi sebagai deawatering sistem cut off.. 11 Down bila Tinggi Muka Air Tanah (MAT) kedalamannya dari permukaan tanah kurang dari 4 (empat) meter? basement berapa Lantai 1-3: Dapat melakukan galian basement dengan sistem open yang metode cut tanpa support dan jalan keluar masuk kendaraan masih leluasa. 12 Bottom-Up bila kondisi sekeliling lokasi yang akan dibangun merupakan lahan yang luas? Lantai 3 dst: Top Down baru efektif untuk lebih dari 3 basement atau basement berapa 4 lantai keatas tidak dipengaruhi oleh kondisi lahan yang luas dalam yang metode Top- 13 kondisi yang lain. Down bila kondisi sekeliling lokasi yang akan dibangun merupakan lahan yang luas? basement berapa Lantai 1-2: Tiga sisi yang lain dapat open cut sedangkan satu sisi yang metode masih dapat menggunakan support 14 Bottom-Up bila 1 (satu) sisi kondisi sekeliling lokasi yang akan dibangun terdapat bangunan gedung? basement berapa Lantai 3 dst: Top Down baru efektif untuk lebih dari 3 basement atau yang metode Top-4 lantai keatas tidak dipengaruhi oleh kondisi lahan yang luas dalam 15 Down bila 1 (satu) sisi kondisi sekeliling kondisi yang lain. lokasi yang akan dibangun terdapat bangunan gedung? basement berapa Lantai 1-2: Sama dengan no. 14 (Sebenarnya kondisi sekeliling yang metode lokasi tidak masalah selama support galian dapat diatasi. 16 Bottom-Up bila 2 (dua) sisi kondisi sekeliling lokasi yang akan dibangun terdapat bangunan gedung? basement berapa Lantai 3 dst: Top Down baru efektif untuk lebih dari 3 basement atau yang metode Top-4 lantai keatas tidak dipengaruhi oleh kondisi lahan yang luas dalam 17 Down bila 2 (dua) sisi kondisi sekeliling kondisi yang lain. lokasi yang akan dibangun terdapat bangunan gedung? basement berapa Lantai 1: Dapat menggunakan support dengan struktur yang ringan yang metode 18 Bottom-Up bila 3 (tiga) sisi kondisi sekeliling lokasi yang akan dibangun terdapat bangunan gedung? basement berapa Lantai 2 dst: Keterbatasan jalan keluar masuk angkutan yang metode Top- 19 Down bila 3 (tiga) sisi kondisi sekeliling lokasi yang akan dibangun terdapat bangunan gedung? basement berapa Lantai 1: Dapat menggunakan struktur support galian yang ringan yang metode 20 Bottom-Up bila 4 (empat) sisi kondisi sekeliling lokasi yang akan dibangun terdapat bangunan gedung? basement berapa Lantai 2 dst: Metode ini lebih aman digunakan karena terdapat yang metode Top-konstruksi bangunan disekitarnya 21 Down bila 4 (empat) sisi kondisi sekeliling lokasi yang akan dibangun terdapat bangunan gedung? 121
3 Tabel 5.2 Tabel Pemilihan Metode konstruksi No Variabel Jml lantai lantai lantai lantai lantai sisi B B B/T T 1 sisi B B T T 1 Kondisi Lingkungan 2 sisi B B T T 3 sisi B T T T 4 sisi B T T T 2 Biaya B B B=T T 1 m B T T T 3 Tinggi MAT 2 m B T T T 3 m B B T T 4 m B B T T Keterangan : B : T : Bottom-Up Top-Down 122
4 5.1.1 Validasi Pakar Dari data temuan penelitian yang telah disimpulkan dengan melibatkan 5 (lima) responden yang sudah berpengalaman pada proyek konstruksi bangunan bertingkat sebagai nara sumber tersebut, maka untuk mendapatkan temuan penelitian dengan tingkat akurasi yang tinggi perlu dilakukan validasi atas jawaban temuan penelitian dari ketiga variabel tersebut pada proses penelitian pemilihan metode konstruksi. Validasi dilakukan dengan melibatkan 3 (tiga) pakar yang sudah berpengalaman pula dalam bidang bangunan basement bangunan bertingkat. Dengan jawaban validasi temuan penelitian dari ketiga pakar atas ketiga variabel tersebut dapat mempengaruhi hasil temuan penelitian sehingga berakibat jawaban validasi temuan penelitian dapat berupa jawaban sebagai berikut : - Setuju - Setuju dengan alasan berubah, - Setuju dengan alasan perlu ditambahkan, - Setuju dengan alasan perlu dikurangi - Tidak setuju dengan alasan yang sesuai dengan pendapat pakar. Jawaban yang diambil dari ketiga pakar tersebut dengan cara suara terbanyak sebagai kesimpulan respons atau argumentasi tersebut. Ketiga Pakar Validasi tersebut adalah sebagai berikut : 1. Ir. Supriyanto(Staf Ahli) Bekerja di PT. Wijaya Karya Persero Tbk. selama 40 tahun Memiliki pengalaman dibidang pembangunan Basement Gedung Bertingkat. 2. Ir. Hartopo Soetoyo (Staf Ahli) Bekerja di PT. PP selama 40 tahun Memiliki pengalaman dibidang pembangunan Basement Gedung Bertingkat, Jalan Raya dan Jembatan. 3. Ir. Sigit Winarto (Staf Ahli) Bekerja di PT. Hutama Karya selama 39 tahun Memiliki pengalaman dibidang pembangunan Basement Gedung Bertingkat, Jalan Raya dan Jembatan. 123
5 Tabel 5.3 Validasi Pakar Temuan Penelitian Pemilihan Metode Konstruksi No Data pertanyaan Temuan Penelitian Pendapat Pakar (Validasi) Dari dan hingga lantai lantai 1-2: Pada lantai 1-2 untuk ground support dan dewatering masih layak 1 metode Bottom-Up dimana biayanya lebih efisien atau lebih menguntungkan? 2 metode Top Down dimana biayanya lebih efisien atau lebih menguntungkan? Di lantai basement berapa untuk pelaksanaan metode 3 Bottom-Up dan Top-Down dimanna biayanya an a sama? 4 5 metode Bottom-Up bila Tinggi Muka Air Tanah metode Top-Down bila Tinggi Muka Air Tanah (MAT) kedalamannya dari permukaan tanah kurang dari 1 (satu) meter? metode Bottom-Up bila 6 Tinggi Muka Air Tanah (MAT) kedalamannya dari permukaan tanah kurang dari 2 (dua) meter? lantai 3-4 dst: Dapat mengurangi pekerjaan perancah dan dapat memperingan struktur dinding basement terhadap beban samping tanah Lantai 3: Di lantai basement tsb nilai biaya kira-kira hampir sama untuk kedua metode Lantai 1: Untuk galian basement satu lantai beban dewatering belum berat ( dengan asumsi debit rembesan besar). Lantai 2 dst: Metode Top- Down juga sebagai dewatering untuk MAT <1 meter. Lantai 1: Galian basement 1 lantai beban dewatering akibat 1 meter< MAT < 4 meter sudah cukup tinggi (perbedaan hanya pada upah pelaksana yg relatif + 10% dari RABP) (Dewatering masih dapt dilakukan dg pompa air atau submergiblepump) (Dinding basementnya dapt berfungsi sbg dewatering sistem cut-off) 127
6 metode Top-Down bila Tinggi Muka Air Tanah (MAT) kedalamannya dari permukaan tanah kurang dari 2 (dua) meter? metode Bottom-Up bila Tinggi Muka Air Tanah (MAT) kedalamannya dari permukaan tanah kurang dari 3 (tiga) meter? metode Top-Down bila Tinggi Muka Air Tanah (MAT) kedalamannya dari Lantai 2 dst: Metode Top- Down juga sebagai dewatering untuk MAT <1 meter. lantai 1-2: Dengan MAT sedalam 3 meter dari permukaan, galian 2 lantai basement masih dapat diatasi dengan layak Lantai 3 dst: Diperlukan konstruksi penahan tanah dan metode konstruksi berbeda dengan bottom-up permukaan tanah kurang dari 3 (tiga) meter? antai 1-2: Dengan MAT sedalam 3 meter dari permukaan, galian 2 lantai metode Bottom-Up bila basement masih dapat Tinggi Muka Air Tanah diatasi dengan layak (MAT) kedalamannya dari permukaan tanah kurang dari 4 (empat) meter? metode Top-Down bila Tinggi Muka Air Tanah (MAT) kedalamannya dari permukaan tanah kurang dari 4 (empat) meter? metode Bottom-Up bila kondisi sekeliling lokasi yang akan dibangun merupakan lahan yang luas? Lantai 3 dst: Dinding basement pada metode Top Down juga berfungsi sebagai deawatering sistem cut off.. Lantai 1-3: Dapat melakukan galian basement dengan sistem open cut tanpa support dan jalan keluar masuk kendaraan masih leluasa. (Konstruksi penahan tanah tergantung kebutuhan dari kondisi tanah dan kedlman galian) (konstruksi penahan tanah sesuai kebutuhan) (open cut dilaksanakan dg kemiringan galian disesuaikan dg kondisi tanah) (galian basement dg melihat kemiringan tanah) 127
7 metode Top-Down bila kondisi sekeliling lokasi yang akan dibangun merupakan lahan yang luas? metode Bottom-Up bila 1 (satu) sisi kondisi sekeliling lokasi yang akan dibangun terdapat bangunan gedung? metode Top-Down bila 1 (satu) sisi kondisi sekeliling lokasi yang akan dibangun terdapat bangunan gedung? metode Bottom-Up bila 2 (dua) sisi kondisi sekeliling lokasi yang akan dibangun terdapat bangunan gedung? metode Top-Down bila 2 (dua) sisi kondisi sekeliling lokasi yang akan dibangun terdapat bangunan gedung? Lantai 3 dst: Top Down (aktifitas alat berat utk pelaksanaan baru efektif untuk lebih produktifitas masih mendukung atau optimal) dari 3 basement atau 4 lantai keatas tidak dipengaruhi oleh kondisi lahan yang luas dalam kondisi yang lain. Lantai 1-2: Tiga sisi yang lain dapat open cut sedangkan satu sisi masih dapat menggunakan support Lantai 3 dst: Top Down baru efektif untuk lebih dari 3 basement atau 4 lantai keatas tidak dipengaruhi oleh kondisi lahan yang luas dalam kondisi yang lain. Lantai 1-2: Sama dengan no. 14 (Sebenarnya kondisi sekeliling lokasi tidak masalah selama support galian dapat diatasi. Lantai 3 dst: Top Down baru efektif untuk lebih dari 3 basement atau 4 lantai keatas tidak dipengaruhi oleh kondisi lahan yang luas dalam kondisi yang lain. Lantai 1: Dapat menggunakan support dengan struktur yang metode Bottom-Up bila 3 ringan (tiga) sisi kondisi sekeliling lokasi yang akan dibangun terdapat bangunan gedung? (support dg struktur konstruksi sesuai kebutuhan) (support sesuai kebutuhan) (support struktur konstruksi sesuai kebutuhan 127
8 19 20 metode Top-Down bila 3 (tiga) sisi kondisi sekeliling lokasi yang akan dibangun terdapat bangunan gedung? Lantai 2 dst: Keterbatasan jalan keluar masuk angkutan Lantai 1: Dapat menggunakan struktur support galian yang ringan metode Bottom-Up bila 4 (empat) sisi kondisi sekeliling lokasi yang akan dibangun terdapat bangunan gedung? Lantai 2 dst: Metode ini lebih aman digunakan karena terdapat konstruksi 21 metode Top-Down bila 4 bangunan disekitarnya (empat) sisi kondisi sekeliling lokasi yang akan dibangun terdapat bangunan gedung? (Asal pengaturan detour atau traffic manajemen benar shg manoufer alat dpt dikendalikan) (yg paling benar bila dipaksakan tetap menggunakan struktur support dengan biaya tinggi yaitu: diaphragm wall, sheet pilling, dg perkuatan ground angkur) (bila lbh dari 1 lt biayanya tdk ekonomis) 127
9 Berikut ini adalah tanggapan para pakar terhadap tabel temuan penelitian pemilihan metode konstruksi sebagai dasar dalam penyusunan urutan skala prioritas pemilihan sebagai berikut : No Variabel Jml lantai lantai lantai lantai lantai sisi B B B/T T 1 sisi B B T T 1 Kondisi Lingkungan 2 sisi B B T T 3 sisi B T T T 4 sisi B T T T 2 Biaya B B B=T T 1 m B T T T 3 Tinggi MAT 2 m B T T T 3 m B B T T 4 m B B T T Keterangan : B : T : Bottom-Up Top-Down Pendapat Pakar 1: - Penentuan pelaksanaan Bottom-Up maupun Top-Down harus memperhitungkan nila ekonomis dari ketiga kondisi tersebut diatas (variabel 1, 2 dan 3) - Faktor lain yang harus diperhatikan adalah mangement traffic dalam pelaksanaan pekerjaan sehingga produktivitas kerja tetap optimal dan efisien tetapi tetap harus memperhatikan K- 128
10 3 dan lingkungan kerja Pendapat Pakar 2 :- Dalam penentuan metode konstruksi agar diperhatikan K-3 dan lingkungan sekeliling konstruksi - Nilai ekonomis proyek tersebut agar diperhitungkan benar agar tidak terjadi kebutuhan biaya yang terlalu tinggi yang berakibat berpengaruh pada kinerja proyek - Dalam penentuan metode konstruksi agar tetap menjamin teknis kualitas (mutu). - Faktor lain yang harus diperhitungkan adalah kondisi teknis tanah. Pendapat Pakar 3 :- Dasar keamanan konstruksi, baik konstruksi sendiri maupun lingkungan konstruksi sekeliling, merupakan syarat utama karena berhubungan dengan keselamatan nyawa manusia dan nilai kerugian lain yang bersifat materi yang besar. - Dengan biaya yang mampu bersaing. - Dalam pelaksanaannya agar tetap memperhatikan teknis kualitas (mutu) dari penerapan metode konstruksi tersebut. - Dapat mengatasi masalah teknis yang umumnya timbul dalam pelaksanaan metode konstruksi basement. 129
11 5.2 PEMBAHASAN PENELITIAN PEMILIHAN METODE KONSTRUKSI Tabel 5.4 Pembahasan Penelitian Pemilihan Metode Konstruksi No Data pertanyaan Pembahas Penelitian 1 Dari dan hingga lantai efektif untuk pelaksanaan metode Bottom-Up dimana biayanya lebih efisien atau lebih menguntungkan? lantai 1-2: Pada lantai 1-2 untuk ground support dan dewatering masih layak 2 efektif untuk pelaksanaan metode Top Down dimana biayanya lebih efisien atau lebih menguntungkan? Di lantai basement e berapa untuk pelaksanaan metode 3 Bottom-Up dan Top-Down dimanna biayanya sama? 4 5 efektif untuk pelaksanaan metode Bottom-Up bila Tinggi Muka Air Tanah (MAT) kedalamannya dari permukaan tanah kurang dari 1 (satu) meter? lantai 3-4 dst: Dapat mengurangi pekerjaan perancah dan dapat memperingan struktur dinding basement terhadap beban samping tanah Lantai 3: Di lantai basement tsb nilai biaya kira-kira hampir sama untuk kedua metode perbedaannya hanya pada upah pelaksana yang relatif + 10 % dari RABP Lantai 1: Untuk galian basement satu lantai beban dewatering belum berat ( dengan asumsi debit rembesan besar) dengan menggunakan pompa air atau submergible pump. Lantai 2 dst: Metode Top-Down juga sebagai dewatering untuk MAT efektif <1 meter, dimana dinding basementnya dapat berfungsi sebagai untuk pelaksanaan metode Topdewatering sistem cut-off Down bila Tinggi Muka Air Tanah (MAT) kedalamannya dari permukaan tanah kurang dari 1 (satu) meter? 133
12 6 7 8 efektif untuk pelaksanaan metode Bottom-Up bila Tinggi Muka Air Tanah (MAT) kedalamannya dari permukaan tanah kurang dari 2 (dua) meter? Lantai 1: Galian basement 1 lantai beban dewatering akibat 1 meter< MAT < 4 meter sudah cukup tinggi Lantai 2 dst: Metode Top-Down juga sebagai dewatering untuk MAT <1 meter. efektif untuk pelaksanaan metode Top- Down bila Tinggi Muka Air Tanah (MAT) kedalamannya dari permukaan tanah kurang dari 2 (dua) meter? efektif untuk pelaksanaan metode Bottom-Up bila Tinggi Muka Air Tanah (MAT) kedalamannya dari permukaan tanah kurang dari 3 (tiga) meter? lantai 1-2: Dengan MAT sedalam 3 meter dari permukaan, galian 2 lantai basement masih dapat diatasi dengan layak Lantai 3 dst: Diperlukan konstruksi penahan tanah dan metode konstruksi berbeda dengan bottom-up dengan konstruksi penahan tanah efektif tergantung dari kondisi tanah dan kedalaman galian untuk pelaksanaan metode Top- 9 Down bila Tinggi Muka Air Tanah (MAT) kedalamannya dari permukaan tanah kurang dari 3 (tiga) meter? 10 antai 1-2: Dengan MAT sedalam 3 meter dari permukaan, galian 2 efektif lantai basement masih dapat diatasi dengan layak untuk pelaksanaan metode Bottom-Up bila Tinggi Muka Air Tanah (MAT) kedalamannya dari permukaan tanah kurang dari 4 (empat) meter? Lantai 3 dst: Dinding basement pada metode Top Down juga berfungsi sebagai deawatering sistem cut off.. efektif untuk pelaksanaan metode Top- 11 Down bila Tinggi Muka Air Tanah (MAT) kedalamannya dari permukaan tanah kurang dari 4 (empat) meter? 133
13 efektif untuk pelaksanaan metode Bottom-Up bila kondisi sekeliling lokasi yang akan dibangun merupakan lahan yang luas? efektif untuk pelaksanaan metode Top- Down bila kondisi sekeliling lokasi yang akan dibangun merupakan lahan yang luas? Lantai 1-3: Dapat melakukan galian basement dengan sistem open cut tanpa support dan open cut tersebut dilaksanakan dengan kemiringan galian disesuaikan dengan kondisi tanah serta jalan keluar masuk kendaraan masih leluasa. Lantai 3 dst: Top Down baru efektif untuk lebih dari 3 basement atau 4 lantai keatas tidak dipengaruhi oleh kondisi lahan yang luas dalam kondisi yang lain dan aktifitas alat berat untuk pelaksanaan produktifitas masih mendukung atau optimal. Lantai 1-2: Tiga sisi yang lain dapat open cut sedangkan satu sisi masih efektif dapat menggunakan support untuk pelaksanaan metode Bottom-Up bila 1 (satu) sisi kondisi sekeliling lokasi yang akan dibangun terdapat bangunan gedung? Lantai 3 dst: Top Down baru efektif untuk lebih dari 3 basement atau 4 efektif lantai keatas tidak dipengaruhi oleh kondisi lahan yang luas dalam untuk pelaksanaan metode Top-kondisi yang lain. 15 Down bila 1 (satu) sisi kondisi sekeliling lokasi yang akan dibangun terdapat bangunan gedung? Lantai 1-2: Sama dengan no. 14 (Sebenarnya kondisi sekeliling lokasi efektif tidak masalah selama support galian dapat diatasi. untuk pelaksanaan metode 16 Bottom-Up bila 2 (dua) sisi kondisi sekeliling lokasi yang akan dibangun terdapat bangunan gedung? Lantai 3 dst: Top Down baru efektif untuk lebih dari 3 basement atau 4 efektif lantai keatas tidak dipengaruhi oleh kondisi lahan yang luas dalam untuk pelaksanaan metode Top-kondisi yang lain. 17 Down bila 2 (dua) sisi kondisi sekeliling lokasi yang akan dibangun terdapat bangunan gedung? 133
14 18 efektif untuk pelaksanaan metode Bottom-Up bila 3 (tiga) sisi kondisi sekeliling lokasi yang akan dibangun terdapat bangunan gedung? Lantai 1: Dapat menggunakan support dengan struktur konstruksi sesuai kebutuhan Lantai 2 dst: Keterbatasan jalan keluar masuk angkutan dan keadaan tersebut dapat dilakukan asal pengaturan detour atau traffic manjemen efektif benar sehingga manouver alat dapat dikendalikan. untuk pelaksanaan metode Top- 19 Down bila 3 (tiga) sisi kondisi sekeliling lokasi yang akan dibangun terdapat bangunan gedung? Lantai 1: Keadaan ini dapat dilakukan atau dipaksakan maka tetap efektif menggunakan struktur suport dengan biaya yang tinggi yaitu untuk pelaksanaan metode menggunakan diaphragm wall, sheet pilling, dengan perkuatan ground 20 Bottom-Up bila 4 (empat) sisi angkur dan apabila lebih dari 1 lantai biayanya tidak ekonomis. kondisi sekeliling lokasi yang akan dibangun terdapat bangunan gedung? Lantai i2d dst: Metode ini i lebih aman digunakan karena terdapat konstruksi bangunan disekitarnya efektif untuk pelaksanaan metode Top- 21 Down bila 4 (empat) sisi kondisi sekeliling lokasi yang akan dibangun terdapat bangunan gedung? 133
15 5.2.1 Skala Prioritas Kondisi Pemilihan Dengan dasar hasil data validasi pakar tersebut diatas maka dapat disimpulkan bahwa variabel kondisi-variabel kondisi yang mempengaruhi suatu pemilihan metode konstruksi sangat beragam karakteristiknya. Untuk itu perlu dilakukan suatu formulasi teknik pemilihan yang dapat mewakili variabel kondisikondisi tersebut. Formulasi yang diusulkan adalah dengan menggunakan pendekatan berdasarkan skala prioritas dari masing-masing kondisi itu sendiri terhadap pengaruhnya pada pemilihan metode konstruksi basemant. Skala prioritas tersebut disusun dengan dasar-dasar sebagai berikut : 1. Dasar keamanan konstruksi, baik konstruksi sendiri maupun lingkungan konstruksi sekeliling, merupakan syarat utama karena berhubungan dengan keselamatan nyawa manusia dan nilai kerugian lain yang bersifat materi yang besar. 2. Dengan Biaya mampu bersaing dan tetap menjaga teknis kualitas (mutu) dari hasil penerapan metode konstruksi tersebut. 3. Dapat mengatasi masalah teknis yang umumnya timbul dalam pelaksanaan basement secara khususnya pada tinggi MAT. Urutan susunan skala prioritas yang mempengaruhi variabel sesuai dengan dasar tersebut diatas dari hasil pengumpulan data dalam penelitian ini adalah sebagai berikut: 1. Kondisi Lingkungan Sekeliling konstruksi Dengan menempatkan prioritas pertama adalah variabel kondisi lingkungan sekeliling konstruksi ini sebagai pengaruh pertama dikarenakan variabel ini akan memberikan dampak pada keselamatan konstruksi yang pada akhirnya keselamatan nyawa manusia yang utama. Selain itu apabila terjadi kegagalan konstruksi pengaruhnya terhadap biaya amat besar. sehingga tujuan manjemen konstruksi untuk meningkatkan efisiensi dan efektifitas dapat tidak tercapai. 2. Biaya Prioritas kedua adalah variabel biaya yang terbagi dalam biaya langsung dan biaya tak langsung dengan beberapa dasar faktor pertimbangan sebagai berikut : 134
16 - Manajemen konstruksi memiliki tujuan yaitu : dengan mutu yang baik dapat dilaksanakan pekerjaan dengan biaya yang optimum dan waktu yang minimum. - Dengan waktu yang minimum akan diperoleh waktu resiko pelaksanaan yang semakin singkat, sehingga resiko yang ditimbulkan akibat pelaksanaan konstruksi juga mengecil. - Dengan biaya yang optimum dapat dikatakan bahwa manajemen proyek efisien dan efektif. 3. Tinggi Muka Air Tanah Prioritas ketiga adalah kondisi muka air tanah dikarenakan MAT ini mempunyai pengaruh alasan teknis, yaitu berubahnya tekanan tanah efektif yang sering kali menyebabkan kegagalan konstruksi 26. Tetapi bukan berarti bahwa, dengan penggunaan metode bottom-up, masalah ini tidak dapat diatasi. Sampai dengan ketinggian MAT tertentu dan kedalaman basement tertentu, masalah ini dapat diatasi dengan pengawasan yang baik atas pekerjaan penggalian dan dewatering serta sheet piling. Dengan dasar pembagian skala prioritas tersebut di atas maka dapat disusun suatu tabel pemilihan metode konstruksi basement sesuai dengan skala prioritas variabel sebagai acuan dalam pengambilan keputusan. Dengan menggunakan tabel dibawah ini dapat dilakukan suatu formulasi pemilihan metode konstruksi basement. Usulan ini merupakan rangkuman atas data kuesioner yang dkumpulkan dari para pakar yang memiliki kemampuan dibidang teknik konstruksi basement. 26 Peattie, G C ; Mojabi, M S: "Design And Construction Of The Basement Of The Galleries Shopping Centre, Bristol", makalah Proceedings Of The Institution Of Civil Engineering, London,
17 Tabel 5.5 Skala Prioritas Kondisi Pemilihan Metode konstruksi No Variabel Jml lantai lantai lantai lantai lantai sisi B B B/T T 1 sisi B B T T 1 Kondisi Lingkungan 2 sisi B B T T 3 sisi B T T T 4 sisi B T T T 2 Biaya B B B=T T 1 m B T T T 3 Tinggi MAT 2 m B T T T 3 m B B T T 4 m B B T T Keterangan : B : T : Bottom-Up Top-Down Tabel diatas dapat dijabarkan sebagai berikut : - 4 lantai basement atau lebih Pada 4 lantai basement atau lebih disarankan digunakan metode Top-Down dalam kondisi apapun. Hal ini mengingat faktor lingkungan yang dominan menimbulkan resiko dalam pekerjaan. Walaupun secara teknis metode Bottom-Up memungkinkan, tetapi mengingat tingkat uncertainty dari kondisi tanah sangat besar, maka sebaiknya dipilih metode Top-Down sebagai metode pelaksanaan konstruksi basement. 136
18 - 3 Lantai basement Pada 3 lantai basement ini disarankan menggunakan metode konstruksi Top- Down, faktor lingkungan yang dominan mempengaruhi adalah apabila merupakan lahan yang luas dalam arti tidak ada bangunan disekitar lokasi maka dapat menggunakan metode konstruksi Bottom-Up itupun harus dilihat terlebih dahulu faktor biayanya. - 2 lantai basement Pada 2 lantai basement ini, harus diakui merupakan daerah kondisi yang meragukan untuk pemilihan. Dari hasil studi penelitian dapat diketahui bahwa pada tipe kondisi lingkungan sekitar lokasi tanah yang akan dibangun cukup dominan mempengaruhi. Jadi pada skala prioritas pertamalah dapat ditentukan jenis metode konstruksi yang dipilih. Hal ini terdapat 4 kondisi yang dapat dijelaskan sebagai berikut : Kondisi pertama adalah apabila kondisi lingkungan sekitar lokasi terdapat kurang dari 2 sisi bangunan dan tinggi MAT kurang dari 2 meter maka sebaiknya menggunakan metode konstruksi Bottom-Up. Kondisi kedua adalah apabila kondisi lingkungan sekitar lokasi terdapat kurang dari 2 sisi bangunan dan tinggi MAT lebih dari 3 meter maka sebaiknya menggunakan metode konstruksi Bottom-Up. Kondisi ketiga adalah apabila kondisi lingkungan sekitar lokasi terdapat lebih dari 3 sisi bangunan dan tinggi MAT kurang dari 2 meter maka sebaiknya menggunakan metode konstruksi Top-Down Kondisi keempat adalah apabila kondisi lingkungan sekitar lokasi terdapat lebih dari 3 sisi bangunan dan tinggi MAT lebih dari 3 meter maka sebaiknya menggunakan metode konstruksi Top-Down - 1 lantai basement Pada 1 lantai basement ini, disarankan menggunakan metode konstruksi Bottom- Up dalam kondisi apapun disamping biayanya murah dan tidak membutuhkan teknologi yang tinggi serta sumber daya yang memadai. Jabaran tersebut di atas menggambarkan usulan teknik pemilihan metode konstruksi basement berdasarkan hasil studi penelitian. Diharapkan mekanisme ini dapat mewakili pola keputusan manajemen konstruksi untuk menentukan metode konstruksi apa yang akan digunakan untuk suatu proyek basement. 137
19 5.3 TEMUAN PENELITIAN OPTIMASI METODE KONSTRUKSI BOTTOM-UP Tabel 5.6 Temuan Penelitian Optimasi Metode Konstruksi Bottom-Up No Data pertanyaan Temuan Penelitian 1 Pekerjaan persiapan (mobilisasi peralatan, acces road, site plan dan pengukuran) - Buat site plan agar tidak terlalu mengganggu kegiatan pelaksanaan proyek - Pikirkam masak-masak pembuangan tanah galian basement. - Akses road harus benar-benar tepat dipilih untuk akomodasi. - Persiapkan aliran air bila terjadi hujan saat penggalian. 2 Pekerjaan Pondasi tiang - Data tentang tanah harus diyakini benar untuk menetapkan metode pelaksanaan fondasi yang tepat. - Tetapkan sistem dewatering yang sesuai dengan kondisi lapangan 3 Pekerjaan dinding penahan tanah (sheet pile). - Bila mungkin gunakan ground anckour agar pelaksanaan basement tidak ada gangguan. - Bila tidak mungkin gunakan tanah sekeliling dinding untuk membantu menahan sementara sheet pile yang ada. 4 Pekerjaan exkavasi (penggalian) dan pembuangan tanah - Sediakan jalan keluar masuk dengan leluasa (detour) 5 Pekerjaan deawatering. - Sesuaikan dengan kondisi lingkungan yang ada seperti MAT, debit rembesan (seepage), dampak penurunan MAT pada lingkungan, dan tersedia tidaknya saluran pembuangan. - Pilih tiga metode yang ada: open pumping, predrainage atau cut off. 6 Pekerjaan raft fondation (poer fondasi) - Rencanakan tahapan pengecoran sesuai dengan kemampuan volume pengecoran. - Harus diketahui kebutuhan beton cor yang tepat. - Gunakan pompa beton dengan tekanan tinggi 139
20 Pekerjaan waterproofing atau 7 waterstop - Rencanakan dengan baik batas-batas pemberhentian pengecoran untuk basement, dan pasang waterstop yang sesuai dengan struktur basement (ukuran waterstopnya) 8 Pekerjaan tie beam dan pondasi rakit 9 Pekerjaan Dinding basement dan struktur bertahap keatas - Gunakan formwork dari pasangan batu bata untuk tie beam agar tempat kerja bersih dan lebih cepat. - Pada pondasi rakit teliti kondisi tanah dasarnya - Pengecoran dinding basement harus sesuai antara kecepatan tinggi pengecoran dengan struktur formwork dinding. - Gunakan pompa beton dengan tekanan yang tinggi dan fibrator. 10 Pekerjaan Lantai basement bertahap ke atas - Gunakan steel scafolding agar pekerjaan rapi, cepat dan mengurangi limbah konstruksi. 139
21 5.3.1 Validasi Pakar Dari data temuan penelitian yang telah disimpulkan dengan melibatkan 5 (lima) responden yang sudah berpengalaman pada proyek konstruksi bangunan bertingkat sebagai nara sumber tersebut, maka untuk mendapatkan temuan penelitian dengan tingkat akurasi yang tinggi perlu dilakukan validasi atas jawaban temuan penelitian Optimasi Metode Konstruksi Bottom-Up. Validasi dilakukan dengan melibatkan 3 (tiga) pakar yang sudah berpengalaman pula dalam bidang bangunan basement bangunan bertingkat. Dengan jawaban validasi temuan penelitian dari ketiga pakar tersebut dapat mempengaruhi hasil temuan penelitian sehingga berakibat jawaban validasi temuan penelitian dapat berupa jawaban sebagai berikut : - Setuju - Setuju dengan alasan berubah, - Setuju dengan alasan perlu ditambahkan, - Setuju dengan alasan perlu dikurangi - Tidak setuju dengan alasan yang sesuai dengan pendapat pakar. Jawaban yang diambil dari ketiga pakar tersebut dengan cara suara terbanyak sebagai kesimpulan respons atau argumentasi tersebut. Ketiga Pakar Validasi tersebut adalah sebagai berikut : 1. Ir. Supriyanto(Staf Ahli) Bekerja di PT. Wijaya Karya Persero Tbk. selama 40 tahun Memiliki pengalaman dibidang pembangunan Basement Gedung Bertingkat. 2. Ir. Hartopo Soetoyo (Staf Ahli) Bekerja di PT. PP selama 40 tahun Memiliki pengalaman dibidang pembangunan Basement Gedung Bertingkat, Jalan Raya dan Jembatan. 3. Ir. Sigit Winarto (Staf Ahli) Bekerja di PT. Hutama Karya selama 39 tahun Memiliki pengalaman dibidang pembangunan Basement Gedung Bertingkat, Jalan Raya dan Jembatan. 140
22 Tabel 5.7 Validasi Pakar Temuan Penelitian Optimasi Metode Konstruksi Bottom-Up No Data Temuan Penelitian Pendapat Pakar Pertanyaan (Validasi) 1 Pekerjaan persiapan (mobilisasi peralatan, acces road, site plan dan pengukuran) - Buat site plan agar tidak terlalu mengganggu kegiatan pelaksanaan proyek - Pikirkam masak-masak pembuangan tanah galian basement. - Akses road harus benar-benar tepat dipilih untuk akomodasi. - Persiapkan aliran air bila terjadi hujan saat penggalian. (Supaya diperhatikan dalam perencanaan safety sebelum pelaksanaan dimulai termasuk penempatan rambu-rambu K-3). (Perhatikan K-3). 2 Pekerjaan Pondasi tiang pancang - Data tentang tanah harus diyakini benar untuk menetapkan metode pelaksanaan fondasi yang tepat. - Tetapkan sistem dewatering yang sesuai dengan kondisi lapangan (Memilih peralatan utk pemancangan sesuai kebutuhan jenis carne, hammer dan kondisi tanah). 3 Pekerjaan dinding penahan tanah (sheet pile). - Bila mungkin gunakan ground anckour agar pelaksanaan basement tidak ada gangguan. - Bila tidak mungkin gunakan tanah sekeliling dinding untuk membantu menahan sementara sheet pile yang ada. (Dapat pula menggunakan short crete untuk penahan lereng galian) (Sheet pile dipasang pada sisi yg beresiko tinggi lebih dulu) 4 Pekerjaan exkavasi (penggalian) dan pembuangan tanah - Sediakan jalan keluar masuk dengan leluasa (detour) (hasil galian langsung dibuang) (tanah galian langsung dibuang) (tanah galian langsung dibuang) 5 Pekerjaan deawatering. - Sesuaikan dengan kondisi lingkungan yang ada seperti MAT, debit rembesan (seepage), dampak penurunan MAT pada lingkungan, dan tersedia tidaknya saluran pembuangan. - Pilih tiga metode yang ada: open pumping, predrainage atau cut off. 142
23 6 7 Pekerjaan raft fondation (poer fondasi) Pekerjaan waterproofing atau waterstop - Rencanakan tahapan pengecoran sesuai dengan kemampuan volume pengecoran. - Harus diketahui kebutuhan beton cor yang tepat. - Gunakan pompa beton dengan tekanan tinggi - Rencanakan dengan baik batas-batas pemberhentian pengecoran untuk basement, dan pasang waterstop yang sesuai dengan struktur basement (ukuran waterstopnya) (Tahapan pengecoran diusahakan tidak terjadi cool joint dan jenis concrette pump sisesuaikan dengan kebutuhan termasuk slump beton 10-12) (Laksanakan pengecoran bila kondisi tanah sudah stabil) (Cara pemasangan supaya diperhatikan) Pekerjaan tie beam dan pondasi rakit Pekerjaan Dinding basement dan struktur bertahap keatas Pekerjaan Lantai basement bertahap ke atas - Gunakan formwork dari pasangan batu bata untuk tie beam agar tempat kerja bersih dan lebih cepat. - Pada pondasi rakit teliti kondisi tanah dasarnya - Pengecoran dinding basement harus sesuai antara kecepatan tinggi pengecoran dengan struktur formwork dinding. - Gunakan pompa beton dengan tekanan yang tinggi dan fibrator. - Gunakan steel scafolding agar pekerjaan rapi, cepat dan mengurangi limbah konstruksi. (menggunakan formwork dg pasangan batu bata asal tdk lebih dari 1 meter tingginya (Perencanaan steel support disesuaikan dan perhatikan K-3) 142
24 5.4 PEMBAHASAN OPTIMASI METODE KONSTRUKSI BOTTOM-UP Dengan dasar hasil temuan dan validasi tersebut diatas maka dapat disimpulkan bahwa yang harus dilakukan untuk pelaksanaan optimasi pada tiaptiap pekerjaan pelaksanaan metode konstruksi Bottom-Up adalah sebagai berikut : 1. Pekerjaan persiapan (mobilisasi peralatan, acces road, site plan dan pengukuran). - Buat site plan agar tidak terlalu mengganggu kegiatan pelaksanaan proyek - Pikirkam masak-masak pembuangan tanah galian basement - Akses road harus benar-benar tepat dipilih untuk akomodasi - Persiapkan aliran air bila terjadi hujan saat penggalian - Supaya diperhatikan dalam perencanaan safety sebelum pelaksanaan dimulai termasuk rambu-rambu K-3 2. Pekerjaan Pondasi tiang. - Data tentang tanah harus diyakini benar untuk menetapkan metode pelaksanaan fondasi yang tepat - Tetapkan sistem dewatering yang sesuai dengan kondisi lapangan - Memilih peralatan untuk pemancangan sesuai kebutuhan jenis crane, hammer dan kondisi tanah 3. Pekerjaan dinding penahan tanah (sheet pile). - Bila mungkin gunakan ground anckour agar pelaksanaan basement tidak ada gangguan - Bila tidak mungkin gunakan tanah sekeliling dinding untuk membantu menahan sementara sheet pile yang ada - Dapat pula menggunakan short crete untuk penahan lereng galian - Sheet pile dipasang pada sisi yang beresiko tinggi lebih dulu 4. Pekerjaan exkavasi (penggalian) dan pembuangan tanah. - Sediakan jalan keluar masuk dengan leluasa (detour) - Hasil galian langsung dibuang 5. Pekerjaan deawatering. 143
25 - Sesuaikan dengan kondisi lingkungan yang ada seperti MAT, debit rembesan (seepage), dampak penurunan MAT pada lingkungan, dan tersedia tidaknya saluran pembuangan. - Pilih tiga metode yang ada: open pumping, predrainage atau cut off. 6. Pekerjaan raft fondation (poer fondasi) - Rencanakan tahapan pengecoran sesuai dengan kemampuan volume pengecoran. - Harus diketahui kebutuhan beton cor yang tepat. - Gunakan pompa beton dengan tekanan tinggi - Tahapan pengecoran diusahakan tidak terjadi cool joint dan jenis concrette pump disesuaikan dengan kebutuhan termasuk slump beton Laksanakan pengecoran bila kondisi tanah sudah stabil 7. Pekerjaan waterproofing atau waterstop - Rencanakan dengan baik batas-batas pemberhentian pengecoran untuk basement, dan pasang waterstop yang sesuai dengan struktur basement (ukuran waterstopnya) - Cara pemasangan waterstop agar diperhatikan 8. Pekerjaan tie beam dan pondasi rakit. - Gunakan formwork dari pasangan batu bata untuk tie beam agar tempat kerja bersih dan lebih cepat. - Pada pondasi rakit teliti kondisi tanah dasarnya - Menggunakan formwork dengan pasangan batu bata asal tidak lebih dari 1 meter tingginya. 9. Pekerjaan Dinding basement dan struktur bertahap keatas. - Pengecoran dinding basement harus sesuai antara kecepatan tinggi pengecoran dengan struktur formwork dinding. - Gunakan pompa beton dengan tekanan yang tinggi dan fibrator. 10. Pekerjaan Lantai basement bertahap ke atas. 144
26 - Gunakan steel scafolding agar pekerjaan rapi, cepat dan mengurangi limbah konstruksi - Perencanaan steel support disesuaikan dan perhatikan K-3 145
9- STRUKTUR BASEMENT
9- STRUKTUR BASEMENT Struktur basement gedung bertingkat (tidak termasuk pondasi tiang), secara garis besar terdiri dari 1. Raft foundation 2. Kolom 3. Dinding basement 4. Balok dan plat lantai Pelaksanaan
PELAKSANAAN KONSTRUKSI DENGAN SISTEM TOP-DOWN
Simposium Nasional RAPI XIV - 2015 FT UMS ISSN 1412-9612 PELAKSANAAN KONSTRUKSI DENGAN SISTEM TOP-DOWN Maksum Tanubrata Jurusan Teknik Sipil, Fakultas Teknik Sipil Universitas Kristen Maranatha Jl.Prof
BAB V METODE PELAKSANAAN KONSTRUKSI BASEMENT. Saat penulis mulai melakukan kerja praktik pada pembangunan proyek Verde
BAB V METODE PELAKSANAAN KONSTRUKSI BASEMENT 5.1 Pedoman Pengukuran Saat penulis mulai melakukan kerja praktik pada pembangunan proyek Verde II Condominium Earthworks, tahap pembangunan sudah mencapai
PEMILIHAN DAN OPTIMASI METODE KONSTRUKSI BOTTOM-UP PADA PEMBANGUNAN BASEMENT BANGUNAN BERTINGKAT DI JAKARTA BERBASIS EXPERT KNOWLEDGE TESIS
120/FT.01/TESIS/06/2008 PEMILIHAN DAN OPTIMASI METODE KONSTRUKSI BOTTOM-UP PADA PEMBANGUNAN BASEMENT BANGUNAN BERTINGKAT DI JAKARTA BERBASIS EXPERT KNOWLEDGE TESIS Oleh S U L O K O 6405010634 PROGRAM STUDI
BAB V METODE PELAKSANAAN KONSTRUKSI BASEMENT
BAB V METODE PELAKSANAAN KONSTRUKSI BASEMENT 5.1 Uraian Umum Metode konstruksi adalah bagian yang sangat penting dalam proyek konstruksi untuk mendapatkan tujuan dari proyek, yaitu biaya, kualitas dan
STUDI KASUS TERHADAP PELAKSANAAN BASEMENT 5 LANTAI DI WILAYAH SURABAYA BARAT
STUDI KASUS TERHADAP PELAKSANAAN BASEMENT 5 LANTAI DI WILAYAH SURABAYA BARAT Ho Steven 1, Erron Gunardi 2, Paravita Sri Wulandari 3, Benjamin Lumantarna 4 ABSTRAK : Pembuatan basement pada bangunan bertingkat
BAB I PENDAHULUAN. Dalam dunia konstruksi high risk building tentu memerlukan metode. Keberadaan bangunan sekitar gedung memberikan andil dalam proses
BAB I PENDAHULUAN I.1 Latar Belakang Dalam dunia konstruksi high risk building tentu memerlukan metode pelaksanaan yang tepat sehingga dicapai sasaran proyek tepat mutu, tepat waktu, dan tepat biaya. Keberadaan
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Seiring dengan berjalannya waktu, kita dihadapkan pada suatu permasalahan tentang keterbatasan lahan yang berakibat melambungnya harga tanah, maka dari itu diperlukan
BAB I PENDAHULUAN. Metode pelaksanaan pekerjaan sub struktur yang umum atau sering digunakan adalah
BAB I PENDAHULUAN Pada bab ini akan dijelaskan latar belakang mengapa dilakukan penelitian ini, identifikasi masalah dan rumusan masalah berdasarkan latar belakang penelitian, maksud dan tujuan dari penelitian
5- PEKERJAAN DEWATERING
5- PEKERJAAN DEWATERING Pekerjaan galian untuk basement, seringkali terganggu oleh adanya air tanah. Oleh karena itu, sebelum galian tanah untuk basement dimulai sudah harus dipersiapkan pekerjaan pengeringan
BAB V KESIMPULAN DAN SARAN. diambil disimpulkan untuk tugas akhir ini diantaranya :
BAB V KESIMPULAN DAN SARAN 5.1. Kesimpulan Dari hasil penelitian dilapangan dan data yang didapat maka dapat diambil disimpulkan untuk tugas akhir ini diantaranya : 1. Hasil analisa volume pekerjaan galian
BAB I PENDAHULUAN. basement. Pekerjaan basement adalah pekerjaan yang paling krusial dalam
BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Suatu konstruksi bangunan tingkat tinggi bukan tidak mungkin akan ada lantai sub struktur / yang lebih sering kita dengar dengan basement. Pekerjaan basement adalah
BAB II DASAR TEORI. 4. Keselamatan Kerja Banyak kegiatan pekerjaan yang rawan terhadap kecelakaan, baik disebabkan oleh
BAB II DASAR TEORI 2.1 PENDAHULUAN Berbeda dengan bangunan yang lain, maka proyek gedung bertingkat memiliki karakteristik yang spesifik, khususnya dalam teknologi pelaksanaannya. Sifat yang spesifik ini
Jurnal Teknik Sipil Untag Surabaya 163
EXTRAPOLASI Jurnal Teknik Sipil Untag Surabaya P-ISSN: 1693-8259 Desember 2015, Vol. 8 No. 2, hal. 163-168 ANALISIS PEKERJAAN BASEMENT (PEKERJAAN GALIAN DAN DIAPHRAGM WALL) PADA METODE TOP - DOWN DENGAN
LEMBAR PENGESAHAN SIDANG SARJANA PROGRAM STUDI TEKNIK SIPIL FAKULTAS TEKNIK SIPIL DAN PERENCANAAN UNIVERSITAS MERCU BUANA
LEMBAR PENGESAHAN SIDANG SARJANA PROGRAM STUDI TEKNIK SIPIL FAKULTAS TEKNIK SIPIL DAN PERENCANAAN UNIVERSITAS MERCU BUANA Q Semester : Genap Tahun Akademik : 2011/2012 Tugas akhir ini untuk melengkapi
JURNAL KARYA TEKNIK SIPIL, Volume 3, Nomor 4, Tahun 2014, Halaman 950
JURNAL KARYA TEKNIK SIPIL, Volume 3, Nomor 4, Tahun 2014, Halaman 950 JURNAL KARYA TEKNIK SIPIL, Volume 3, Nomor 4, Tahun 2014, Halaman 950 955 Online di: http://ejournal-s1.undip.ac.id/index.php/jkts
BAB II TINJAUAN PUSTAKA
BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Tinjauan Umum Metode konstruksi adalah bagian yang sangat penting dalam proyek konstruksi untuk mendapatkan tujuan dari proyek, yaitu biaya, kualitas dan waktu. Aspek teknologi,
BAB V METODE PELAKSANAAN KONSTRUKSI BASEMENT. aplikasi teknologi ini banyak diterapkan dalam metode-metode pelaksanaan
BAB V METODE PELAKSANAAN KONSTRUKSI BASEMENT 5.1 Metode Konstruksi Basement Metode konstruksi adalah bagian yang sangat penting dalam proyek konstruksi untuk mendapatkan tujuan dari proyek, yaitu biaya,
Diajukan sebagai syarat untuk meraih gelar Sarjana Teknik Strata 1 (S1)
TUGAS AKHIR Analisis Perbandingan Metode Pelaksanaan Sistem Top Down dan Bottom Up Pada Konstruksi (Kasus Gedung DPRD DKI Jakarta) Diajukan sebagai syarat untuk meraih gelar Sarjana Teknik Strata 1 (S1)
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Seiring dengan perkembangan tahun kehadiran kendaraan bermotor khususnya di daerah ibu kota seperti Jakarta semakin meningkat dan membutuhkan infrastruktur jalan sebagai
BAB IV TINJAUAN KHUSUS
BAB IV TINJAUAN KHUSUS 4.1 Lingkup Tinjauan Khusus Tinjauan khusus pada laporan kerja praktek ini adalah metode pelaksanaan pekerjaan pondasi. Pada tinjauan ini, penulis memaparkan metode pelaksanaan pekerjaan
BAB V METODE PELAKSANAAN PEKERJAAN. Dalam pelaksanaan suatu proyek baik proyek besar maupun proyek kecil selalu
BAB V METODE PELAKSANAAN PEKERJAAN Dalam pelaksanaan suatu proyek baik proyek besar maupun proyek kecil selalu diharapkan hasil dengan kualitas yang baik dan memuaskan, yaitu : 1. Memenuhi spesifikasi
TUGAS AKHIR ANALISA METODE TAHAPAN PELAKSANAAN PEKERJAAN SUB STRUKTUR DENGAN KONSTRUKSI SISTEM SEMI TOP DOWN (STUDI KASUS PROYEK MNC MEDIA TOWER J.
TUGAS AKHIR ANALISA METODE TAHAPAN PELAKSANAAN PEKERJAAN SUB STRUKTUR DENGAN KONSTRUKSI SISTEM SEMI TOP DOWN (STUDI KASUS PROYEK MNC MEDIA TOWER J.O) Diajukan sebagai syarat untuk meraih gelar Sarjana
MEDAN PROGRAM MEDAN LAPORAN. oleh:
METODE PELAKSANAAN SUBSTRUCTURE PADAA PROYEK PEMBANGUNAN RUMAH SAKIT SILOAM DI JALAN IMAM BONJOL MEDAN LAPORAN Ditulis untuk Menyelesaikann Mata Kuliah Tugas Akhir Semester VI Pendidikan Program Diploma
BAB IV MATERIAL DAN PERALATAN 4.1 Material. Material Konstruksi meliputi seluruh bahan yang dibutuhkan untuk menyelesaikan bagian pekerjaan dalam satu kesatuan pekerjaan pada suatu proses konstruksi, dari
CHECKLIST PEMERIKSAAN STRUKTUR
No. Konsultasi : 1 Nama Proyek : KAI Soho Apartment Lokasi Proyek : Jl. RS Fatmawati No.36 Cilandak Jumlah lantai : 16 lt+ 1 semi basement + 1 Basement Perencana Struktur : Ir. Tjahjo Mugianto Taruno Perencana
LAPORAN KERJA PRAKTEK METODE PELAKSANAAN KONSTRUKSI BASEMENT DENGAN SISTEM TOP DOWN PADA PROYEK SUDIRMAN SUITES OFFICE & APARTMENT JAKARTA, INDONESIA Diajukan sebagai syarat untuk meraih gelar Sarjana
BAB II DATA PROYEK DATA UMUM PROYEK
BAB II DATA PROYEK 2.1 DATA UMUM PROYEK Pembangunan Pumping Station Island 2A Pantai Indah Kapuk di Kapuk Muara Jakarta Utara adalah merupakan rancangan penanggulangan banjir yang berfungsi memindahkan
BAB VII TINJAUAN KHUSUS METODE PELAKSANAAN PILE CAP DAN RETAINING WALL. Dalam setiap proyek konstruksi, metode pelaksanaan konstruksi
BAB VII TINJAUAN KHUSUS METODE PELAKSANAAN PILE CAP DAN RETAINING WALL 7.1 Uraian Umum Dalam setiap proyek konstruksi, metode pelaksanaan konstruksi merupakan salah satu proses pelaksanaan yang harus direncanakan
LAPORAN KERJA PRAKTEK
LAPORAN KERJA PRAKTEK PENGAMATAN PROSES STRUKTUR PROYEK RAMAYANA CIKUPA Jl. Raya Serang Km. 19, Tangerang - Banten Di ajukan sebagai salah satu syarat untuk kelulusan mata kuliah kerja praktik Jurusan
BAB V METODE PELAKSANAAN PEKERJAAN
BAB V METODE PELAKSANAAN PEKERJAAN 5.1 Uraian Umum Metoda pelaksanaan dalam sebuah proyek konstruksi adalah suatu bagian yang sangat penting dalam proyek konstruksi untuk mencapai hasil dan tujuan yang
PONDASI RAKIT (RAFT FOUNDATION)
METODE PELAKSANAAN BANGUNAN PONDASI RAKIT (RAFT FOUNDATION) Dosen Pengampu : Ibu Atika Ulfah Jamal S.T., M.Eng., M.T. Oleh: Fildzah Adhania J. Paransa / 13 511 178 / Kelas B JURUSAN TEKNK SIPIL FAKULTAS
BAB V PELAKSANAAN PEKERJAAN 5.1. URAIAN UMUM Tahap pelaksanaan pekerjaan merupakan tahap yang sangat menentukan berhasil tidaknya suatu proyek. Hal ini membutuhkan pengaturan serta pengawasan pekerjaan
JURNAL TEKNIK ITS Vol. 4, No. 1, (2015) ISSN: ( Print) D-1
JURNL TEKNIK ITS Vol. 4, No. 1, (2015) ISSN: 2337-3539 (2301-9271 Print) D-1 nalisa Perbandingan Metode ottom-up dan Metode Top-Down Pekerjaan asement pada Gedung Parkir partemen Skyland City Education
BAB V METODE PELAKSANAAN. 5.1 Pekerjaan Pondasi Tiang Bor (Bored Pile) ke dalam tanah dengan cara mengebor tanah terlebihdahulu, lalu kemudian diisi
BAB V METODE PELAKSANAAN 5.1 Pekerjaan Pondasi Tiang Bor (Bored Pile) Pondasi tiang bor (bored pile) adalah pondasi tiang yang pemasangannya dilakukan dengan mengebor tanah pada awal pengerjaannya. Bored
BAB V PELAKSANAAN PEKERJAAN. terhitung mulai dari tanggal 07 Oktober 2013 sampai dengan 07 Desember 2013
BAB V PELAKSANAAN PEKERJAAN 5.1 Pengamatan Pekerjaan Konstruksi Dalam kegiatan Kerja Praktik (KP) yang kami jalankan selama 2 bulan terhitung mulai dari tanggal 07 Oktober 2013 sampai dengan 07 Desember
BDE QSHE PADA METODE OPEN CUT BOTTOM UP NO : BDEQSHE/GEDUNG/2015/076
BDE QSHE PADA METODE OPEN CUT BOTTOM UP NO : BDEQSHE/GEDUNG/2015/076 Pekerjaan Tanah (Galian dan Urugan Tanah Kembali) Start - Survey - Shop drawing Check Engineer Yes Pembuatan bowplank Inspection 1 Rearrange
PERBANDINGAN BIAYA DAN WAKTU PENGERJAAN PONDASI PADA PROYEK YANG MENGGUNAKAN UP DOWN CONSTRUCTION DENGAN MENGGUNAKAN METODA KONVENSIONAL
PERBANDINGAN BIAYA DAN WAKTU PENGERJAAN PONDASI PADA PROYEK YANG MENGGUNAKAN UP DOWN CONSTRUCTION DENGAN MENGGUNAKAN METODA KONVENSIONAL Rahmat Hidayatulloh NRP : 0321082 Pembimbing : Herianto Wibowo.Ir.,Msc
ANALISIS PENGARUH GENANGAN AIR PADA PELAKSANAAN PONDASI DITINJAU DARI BIAYA ( Studi Kasus Proyek Hotel Anugerah Palace Surakarta ) TUGAS AKHIR
ANALISIS PENGARUH GENANGAN AIR PADA PELAKSANAAN PONDASI DITINJAU DARI BIAYA ( Studi Kasus Proyek Hotel Anugerah Palace Surakarta ) TUGAS AKHIR Untuk memenuhi sebagian persyaratan Mencapai derajat Sarjana
METODE PELAKSANAAN LIFTING JACK TIANG PANCANG
METODE PELAKSANAAN REHABILITASI PRASARANA PENGENDALI BANJIR SUNGAI CITARUM HILIR WALAHAR MUARA GEMBONG PAKET III DI KAB. KARAWANG DAN BEKASI (BENDUNG WALAHAR W718) "SICKLE" LIFTING JACK TIANG PANCANG LIFTING
Pelaksanaan pembuatan "guide wall" dapat dilihat pada gambar 5.1.
BABV PELAKSANAAN PEKERJAAN Pemilihan pelaksanaan pekerjaan "basement" dengan metode dinding diafragma pada proyek Menara Merdeka Jakarta adalah dengan pertimbangan sempitnya areal yang tersedia. Secara
ANALISA PERBANDINGAN METODE TOP-DOWN DAN BOTTOM-UP PADA PROYEK FAVE HOTEL KETINTANG DITINJAU DARI SEGI BIAYA DAN WAKTU
TUGAS AKHIR RC14 1501 ANALISA PERBANDINGAN METODE TOP-DOWN DAN BOTTOM-UP PADA PROYEK FAVE HOTEL KETINTANG DITINJAU DARI SEGI BIAYA DAN WAKTU ARDY LAFIZA NRP. 3115 105 040 Dosen Pembimbing TRI JOKO WAHYU
BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang
1 BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Dalam melakukan pekerjaan, seorang Engineer diharapkan dapat menentukan solusi terbaik dari masalah yang dihadapinya. Solusi tersebut harus sesuai dengan ketersediaan
BAB VI TINJAUAN KHUSUS. (Secant Pile dan Soldier Pile)
BAB VI TINJAUAN KHUSUS (Secant Pile dan Soldier Pile) 6.1 Uraian umum Pada proyek Brooklyn Soho and Apartment, didnding penahan tanah menggunakan metode Secant pile dan Soldier pile. 6.1.1 Secant Pile
BAB IV DATA DAN ANALISA. pengembangan dari gedung existing yaitu gedung Bimantara MNC Tower
BAB IV DATA DAN ANALISA 4.1 Latar belakang proyek Gedung MNC Media Tower ini merupakan gedung kedua pengembangan dari gedung existing yaitu gedung Bimantara MNC Tower 1 dan ada 1 Tower yang sedang berjalan
STANDAR LATIHAN KERJA
STANDAR LATIHAN (S L K) Bidang Ketrampilan Nama Jabatan : Pengawasan Jembatan : Inspektor Lapangan Pekerjaan Jembatan (Site Inspector of Bridges) Kode SKKNI : INA.5212. 322.04 DEPARTEMEN PEAN UMUM BADAN
BAB. V PELAKSANAAN PEKERJAAN V. 1. Uraian Umum Tahap pelaksanaan pekerjaan merupakan tahap yang sangat menentukan berhasil atau tidaknya suatu proyek. Hal ini membutuhkan pengaturan serta pengawasan pekerjaan
BAB II STUDI PUSTAKA
7 BAB II STUDI PUSTAKA 2.1 TINJAUAN UMUM Pelaksanaan konstruksi merupakan rangkaian kegiatan atau bagian dari kegiatan dalam pekerjaan konstruksi mulai dari persiapan lapangan sampai dengan penyerahan
PENGANTAR PONDASI DALAM
PENGANTAR PONDASI Disusun oleh : DALAM 1. Robi Arianta Sembiring (08 0404 066) 2. M. Hafiz (08 0404 081) 3. Ibnu Syifa H. (08 0404 125) 4. Andy Kurniawan (08 0404 159) 5. Fahrurrozie (08 0404 161) Pengantar
BAB V PELAKSANAAN PEKERJAAN. Galian adalah pekerjaan menggali tanah untuk keperluan konstruksi
BAB V PELAKSANAAN PEKERJAAN 5.1. Pekerjaan Galian Galian adalah pekerjaan menggali tanah untuk keperluan konstruksi yang bertujuan untuk mendapatkan desain atau bentuk konstruksi yang sesuai dengan elevasi
PT. ADHIMIX PRECAST INDONESIA
PT. ADHIMIX PRECAST INDONESIA Disampaikan pada Workshop Continuing Professional Development Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan Ahli Pracetak Prategang 16 Agustus 2016 Gedung Graha Anugrah Lt. 3 Jl.
BAB V METODE UMUM PELAKSANAAN KONSTRUKSI. Metode pelaksanaan di lapangan akan mudah dikerjaan dengan membuat
BAB V METODE UMUM PELAKSANAAN KONSTRUKSI 5.1 Uraian Umum Pada setiap proyek, metode pelaksanaan konstruksi merupakan salah satu proses pelaksanaan konstruksi yang harus direncanakan sebelumnya. Metode
DIPLOMA III TEKNIK SIPIL - FTSP STEFANUS HENDY L DIANA WAHYU HAYATI DISUSUN OLEH : DOSEN PEMBIMBING :
PERENCANAAN PROGRAM PENGENDALIAN WAKTU, BIAYA, MUTU DAN CONSTRUCTION SAFETY PADA PEMBANGUNAN PROYEK THE MILLENIUM BUILDING SD MUHAMMADIYAH 4 PUCANG SURABAYA DISUSUN OLEH : STEFANUS HENDY L. 3108.030.031
SELAMAT DATANG TUKANG BEKISTING DAN PERANCAH
SELAMAT DATANG TUKANG BEKISTING DAN PERANCAH Pelatihan Tukang Bekisting dan Perancah Nomor Modul SBW 04 Judul Modul KONSTRUKSI BEKISTING DAN PERANCAH DEPARTEMEN PEKERJAAN UMUM BADAN PEMBINAAN KONSTRUKSI
KRITERIA DESAIN GEDUNG PRACETAK
Sosialisasi dan Pameran Aplikasi SNI Pracetak dan Prategang Pada Bangunan Gedung DESAIN PROTOTYPE PRACETAK GEDUNG BERTINGKAT TINGGI Oleh: GAMBIRO Jakarta, 4 5 November 2014 KRITERIA DESAIN GEDUNG PRACETAK
BAB I PENDAHULUAN. munculnya sisa material konstruksi atau biasa disebut dengan Construction Waste.
BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Pada pelaksanaan sebuah proyek konstruksi bangunan, tidak akan dapat dihindari munculnya sisa material konstruksi atau biasa disebut dengan Construction Waste. Keberadaan
INOVASI PROYEK PUSDIKLAT KEJAKSAAN RI CEGER PEMBANGUNAN KAWASAN PUSAT PENGEMBANGAN DAN PEMBINAAN TERPADU SDM KEJAKSAAN RI
INOVASI PROYEK PUSDIKLAT KEJAKSAAN RI CEGER DEFINISI Kubah beton dengan Konvensional: Pembuatan struktur kubah yang dilaksanakan langsung dilokasi setempat sesuai dengan gambar. Kubah beton dengan M-System:
PONDASI TIANG BOR (BOR PILE)
PONDASI TIANG BOR (BOR PILE) Disusun Oleh : Ama Muttahizi Ahadan Auhan Hasan Fastajii Bulloh TEKNIK KONSTRUKSI SIPIL POLITEKNIK NEGERI JAKARTA 2014 KATA PENGANTAR Puji dan syukur penulis panjatkan kehadirat
BAB V PELAKSANAAN PEKERJAAN. pengamatan struktur plat lantai, pengamatan struktur core lift.
BAB V PELAKSANAAN PEKERJAAN 5.1 Pengamatan Pekerjaan Konstruksi Selama 2 bulan pelaksanaan kerja praktik (KP) yang terhitung mulai dari tanggal 16 Oktober 2013 sampai dengan 16 Desember 2013, kami melakukan
ANALISA PENGGUNAAN PONDASI STROUSS DAN PONDASI TELAPAK DITINJAU DARI BIAYA PELAKSANAANNYA PADA PEMBANGUNAN GEDUNG DUA LANTAI
ANALISA PENGGUNAAN PONDASI STROUSS DAN PONDASI TELAPAK DITINJAU DARI BIAYA PELAKSANAANNYA PADA PEMBANGUNAN GEDUNG DUA LANTAI Faisal Estu Yulianto Jurusan Teknik Sipil, Fakultas Teknik, Universitas Madura
BAB II TINJAUAN PUSTAKA
BAB II TINJAUAN PUSTAKA Team ilmu sipil dalam websitenya mengartikan pile cap sebagai bagian dari pondasi bangunan yang digunakan untuk mengikat tiang pancang yang sudah terpasang dengan struktur diatasnya
BAB II DATA PROYEK. yang kita semua ketahui ada titik titik letak dimana mereka bias lebih
BAB II DATA PROYEK 2.1 Latar Belakang Proyek Kota Tangerang adalah kota yang memiliki letak strategis yang dapat mendukung berbagai jenis kegiatan bisnis dan perdagangan. Apalagi seperti yang kita semua
RETAINING WALL DAN BASEMENT
RETAINING WALL DAN BASEMENT AR 3120 STUDIO KONSTRUKSI DAN BAHAN BANGUNAN ASMA ROSYIDAH 15211085 RETAINING WALL DAN BASEMENT Berdasarkan letaknya, struktur bangunan dibagi kedalam 2 bagian, Upperstuctures
METODE PEKERJAAN BORE PILE
METODE PEKERJAAN BORE PILE Dalam melaksanakan pekerjaan bore pile hal-hal yang harus diperhatikan adalah : 1. Jenis tanah Jenis tanah sangat berpengaruh terhadap kecepatan dalam pengeboran. Jika tipe tanah
Gambar 1.1. Dinding penahan tanah geofoam
Dinding Penahan Tanah (Retaining Wall) 1. Pengertian dan Fungsi Dinding penahan tanah (retaining wall) merupakan komponen struktur bangunan penting utama untuk jalan raya, dan bangunan lingkungan lainnya
RINTA ANGGRAINI
TUGAS AKHIR OPTIMALISASI WAKTU DAN BIAYA DENGAN MENGGUNAKAN ALAT BERAT PADA PEMBANGUNAN RELOKASI JALAN ARTERI RAYA PORONG (PAKET 4) KABUPATEN SIDOARJO JAWA TIMUR RINTA ANGGRAINI 3 040 67 PROGRAM STUDI
BAB V PELAKSANAAN PEKERJAAN. Pembangunan Proyek STS Bintaro Permai ini berdasarkan dari pertimbangan
BAB V PELAKSANAAN PEKERJAAN 5.1 Konsep Perencanaan Pembangunan Proyek STS Bintaro Permai ini berdasarkan dari pertimbangan beberapa aspek, salah satunya pertimbangan karena meningkatnya mobilitas penduduk
LAPORAN HASIL KERJA PRAKTEK
LAPORAN HASIL KERJA PRAKTEK PELAKSANAAN PROSES PEKERJAAN PILE CAP, TIE BEAM, PLAT LANTAI (SLAB), KOLOM BASEMENT PADA PROYEK GOODRICH MANSION APARTEMENT, DI JAKARTA SELATAN Nama : Nilam Sari NPM : 26313440
BAB 4 STUDI KASUS. Untuk studi kasus mengenai tinjauan jumlah tower crane yang digunakan pada
BAB 4 STUDI KASUS 4.1 Kapasitas Momen Tower Crane Untuk studi kasus mengenai tinjauan jumlah tower crane yang digunakan pada gedung bertingkat Sesuai dengan objek yang di lapangan maka Pemilihan dan penentuan
sedangkan harga upah yang diperhitungkan merupakan upah borongan.
BAB VI PEMBAHASAN Menyusun rencana anggaran biaya proyek merupakan langkah awal dalam proses pembangunan suatu proyek, sehingga harus dilakukan dengan seteliti dan secermat mungkin agar diperoleh biaya
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Pada zaman sekarang ilmu pengetahuan dan teknologi telah mempengaruhi berbagai macam aspek kehidupan sehari-hari, salah satunya adalah ilmu pengetahuan mengenai penerapan
4- PEKERJAAN PERSIAPAN
4- PEKERJAAN PERSIAPAN Ketika sebuah proyek sudah memasuki tahap pelaksanaan, maka pekerjaan yang pertama kali harus dilakukan adalah persiapan yang terdiri dari : 4.1 Main Schedule atau Jadwal Pelaksanaan
Civil Work of STP (Sewage Treatment Plant)
Contract Title : Belstar Hotel Contract No. : Contractor : PT. Mutiara EPC Management Consultant : PT Cremona Para Mitra Owner : PT Trihasa METHOD STATEMENT Civil Work of STP (Sewage Treatment Plant) BELSTAR
PENGAMATAN PROSES PONDASI BORED PILE dan RTAINING WALL PADA GEDUNG ASPEN ADMIRALTY APARTMENT TOWER C, FATMAWATI, JAKARTA SELATAN
KERJA PRAKTEK UNIVERSITAS GUNADARMA PENGAMATAN PROSES PONDASI BORED PILE dan RTAINING WALL PADA GEDUNG ASPEN ADMIRALTY APARTMENT TOWER C, FATMAWATI, JAKARTA SELATAN NAMA :ABDURRAHMAN ZAINULMUTTAQIN NPM
Tahapan Pekerjaan Jembatan Box Culvert. 1. Pembongkaran Jembatan Lama dan Galian Struktur
Tahapan Pekerjaan Jembatan Box Culvert 1. Pembongkaran Jembatan Lama dan Galian Struktur 2. Pengecoran lantai Kerja 2. Pengecoran lantai Kerja 3. Pembesian Lantai Bawah dan Dinding 4. Begisting Lantai
LATAR BELAKANG JALAN SEMENTARA RISIKO
TUGAS AKHIR LATAR BELAKANG JALAN SEMENTARA RISIKO RUMUSAN MASALAH 1. Risiko apa saja yang mungkin terjadi pada proses pelaksanaan pekerjaan pada proyek pembangunan Jembatan KNI? 2. Apa saja sumber penyebab
BAB III METODE PENELITIAN
BAB III METODE PENELITIAN 3.1 Bentuk Penelitian Untuk mendapat data di dalam penelitian ini digunakan teknik pengamatan langsung, wawancara dan meminta data data dari proyek. Tolok ukur dalam penelitian
PONDASI. 1. Agar kedudukan bangunan tetap mantab atau stabil 2. Turunnya bangunan pada tiap-tiap tempat sama besar,hingga tidak terjadi pecah-pecah.
PONDASI Pondasi bangunan merupakan bagian yang penting dari konstruksi bangunan. Pondasi adalah bagian dari suatu konstruksi bangunan yang mempunyai kontak langsung dengan dasar tanah keras dibawahnya.
PERBANDINGAN ESTIMASI ANGGARAN BIAYA ANTARA BOW, SNI DAN METODE PERHITUNGAN KONTRAKTOR PADA PROYEK RUMAH SUSUN (RUSUN) PULOGEBANG JAKARTA TIMUR
1 PERBANDINGAN ESTIMASI ANGGARAN BIAYA ANTARA BOW, SNI DAN METODE PERHITUNGAN KONTRAKTOR PADA PROYEK RUMAH SUSUN (RUSUN) PULOGEBANG JAKARTA TIMUR M. Abdul Mufaris 1), Fajar Prihesnanto 2), Eko Darma 3)
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Pembangunan infrastruktur di indonesia beberapa tahun terakhir mengalami peningkatan Anggaran infrastruktur APBD Jawa Barat 2017 naik menjadi 32,740 triliun atau naik
JURUSAN SIPIL F AKUL T AS TEKNIK UNIVERSITAS HASANUDDIN 2016
TUGAS AKHIR ANALISA PERBANDINGAN WAKTU PELAKSANAAN METODE KONSTRUKSI BOTTOM-UP DENGAN TOP DOWN (Study Kasus Proyek Hotel Howard Johnson) : DISUSUN OLEH: MEGATRI SERANG 011110 288 JURUSAN SIPIL F AKUL T
BAB IV PERALATAN YANG DIGUNAKAN. Pada setiap pelaksanaan proyek konstruksi, alat-alat menjadi faktor yang sangat
BAB IV PERALATAN YANG DIGUNAKAN Pada setiap pelaksanaan proyek konstruksi, alat-alat menjadi faktor yang sangat signifikan dalam menentukan proses pelaksanaan pekerjaan tersebut dengan baik, benar, dan
PENGENDALIAN MUTU STRUKTUR BETON BERTULANG
PENGENDALIAN MUTU STRUKTUR BETON BERTULANG Florida Muliani Tedja NRP : 9921007 Pembimbing : Maksum Tanubrata Ir., MT. FAKULTAS TEKNIK JURUSAN SIPIL UNIVERSITAS KRISTEN MARANATHA BANDUNG ABSTRAK Seiring
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Pendidikan merupakan salah satu modal dasar yang mendasar diperhatikan dalam mencari pekerjaan, namun pengalaman kerja menjadi pertimbangan hal lainnya dalam memperoleh
BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. Bandung merupakan salah satu kota besar di Indonesia dan menjadi salah
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Bandung merupakan salah satu kota besar di Indonesia dan menjadi salah satu kota yang akan mengadakan PON XIX tahun 2016 mendatang oleh karena itu dinas pemerintahan
INOVASI DALAM SISTEM PENAHAN BEBAN GRAVITASI UNTUK GEDUNG SUPER-TINGGI
INOVASI DALAM SISTEM PENAHAN BEBAN GRAVITASI UNTUK GEDUNG SUPER-TINGGI Jessica Nathalie Handoko Davy Sukamta ABSTRAK Kesuksesan pengembangan sebuah gedung super-tinggi sangat ditentukan oleh kecepatan
BAB IV PERALATAN DAN MATERIAL. tertentu sesuai kebutuhan untuk mendukung pembangunan tersebut. Alat-alat
BAB IV PERALATAN DAN MATERIAL 4.1 Peralatan Dalam melaksanakan proyek pembangunan maka pastilah digunakan alatalat tertentu sesuai kebutuhan untuk mendukung pembangunan tersebut. Alat-alat yang digunakan
BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Pembangunan di Indonesia meliputi berbagai macam karakteristik guna memenuhi kebutuhan manusia. Pada masa ini, populasi di Indonesia sudah meningkat dengan pesat dan
Jurnal Ilmiah Teknik Sipil No. 1, Vol. 1, Maret 2014
EFISIENSI PENGGUNAAN ALAT BERAT PADA PEMBANGUNAN GEDUNG TRAINING CENTRE UNIVERSITAS NEGERI GORONTALO 1) LIONY DWI PUTRI TAKAREDAS, 2) ARFAN UTIARAHMAN 1) Mahasiswa S1 Teknik Sipil Fakultas Teknik Universitas
LAPORAN KERJA PRAKTIK. PELAKSANAAN KONSTRUKSI PC WALL DAN PILE CAP PADA PROYEK GEDUNG St. CAROLUS TAHAP II, JAKARTA-PUSAT
LAPORAN KERJA PRAKTIK PELAKSANAAN KONSTRUKSI PC WALL DAN PILE CAP PADA PROYEK GEDUNG St. CAROLUS TAHAP II, JAKARTA-PUSAT Disusun oleh : AJENG NURJAYANTI (41113010027) AHMAD BAHTIAR.R (41113010081) FAKULTAS
I. PENDAHULUAN. Pada perencanaan pembangunan sebuah pondasi harus diperhatikan beberapa
I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Pada perencanaan pembangunan sebuah pondasi harus diperhatikan beberapa aspek penting, seperti lingkungan, sosial, ekonomi, serta aspek keamanan. Untuk itu diperlukan suatu
Bottom-Up Construction pada Gedung 48 Lantai dengan 5 Besmen Plaza Indonesia II Jakarta
Bottom-Up Construction pada Gedung 48 Lantai dengan 5 Besmen Plaza Indonesia II Jakarta Ir. Davy Sukamta IP Utama HAKI PENDAHULUAN Proyek Plaza Indonesia II adalah extension dari kompleks Plaza Indonesia
PENGHARGAAN KARYA KONSTRUKSI INDONESIA TAHUN 2014
FORMULIR PENDAFTARAN PENGHARGAAN KARYA KONSTRUKSI INDONESIA TAHUN 2014 Judul Karya: Perancah Struktur Balok & Lantai menggunakan Shoring Truss pada Proyek Jembatan Dolago Sulawesi Tengah Kategori Karya
BAB 5 KESIMPULAN DAN SARAN
BAB 5 KESIMPULAN DAN SARAN 5.1 Kesimpulan Berdasarkan hasil penelitian dan analisis yang telah dilakukan, maka dapat disimpulkan: 1. Konstruksi galian dalam proyek basement gedung Unikom, Dipati Ukur di
BAB 3 STUDI LAPANGAN. Gambar 3.1 Kerangka pemikiran studi lapangan. pelaksanaannya segala sesuatu perlu direncanakan dengan tepat dan cermat.
BAB 3 STUDI LAPANGAN Gambar 3.1 Kerangka pemikiran studi lapangan Saat ini proyek konstruksi bangunan bertingkat sangat berkembang, dalam pelaksanaannya segala sesuatu perlu direncanakan dengan tepat dan
BAB IV PEKERJAAN PEMBUATAN PONDASI TIANG BOR DENGAN METODE ENLARGED BASE BORED PILE. Contoh pelaksanaan pekerjaan lubang bor No.
BAB IV PEKERJAAN PEMBUATAN PONDASI TIANG BOR DENGAN METODE ENLARGED BASE BORED PILE Contoh pelaksanaan pekerjaan lubang bor No.476A (Zone C) 4.1. Pekerjaan Pembuatan Lubang Bor Pekerjaan pembuatan lubang
PRECAST TALI AIR TROTOAR
FORMULIR PENDAFTARAN PENGHARGAAN KARYA KONSTRUKSI INDONESIA TAHUN 2012 JUDUL KARYA : PRECAST TALI AIR TROTOAR PROYEK PENINGKATAN JALAN SOEKARNO HATTA BANDUNG KATEGORI KARYA : METODE KONSTRUKSI DIAJUKAN
BAB VII PEMBAHASAN MASALAH. Pekerjaan pondasi dibagi menjadi dua bagian, yaitu pondasi dangkal dan pondasi
BAB VII PEMBAHASAN MASALAH 7.1 Tinjauan umum Pekerjaan pondasi dibagi menjadi dua bagian, yaitu pondasi dangkal dan pondasi dalam. Pondasi dalam sendiri dapat dilakukan dengan dua cara, yaitu dengan teknik
5.2. Pekerjaan Bore Pile dan Soldear Pile. Laporan Kerja Praktek Pekerjaan Bore Pile dan Soldear Pile ini melibatkan beberapa kegiatan antara lain ada
5.1. URAIAN UMUM BAB V PELAKSANAAN PEKERJAAN Laporan Kerja Praktek Tahap pelaksanaan pekerjaan merupakan tahap yang sangat menentukan berhasil tidaknya suatu proyek. Hal ini membutuhkan pengaturan serta
