Pengenalan Ekspresi Wajah Berdasarkan Bentuk dan Tekstur

dokumen-dokumen yang mirip
SISTEM PENDETEKSI WAJAH MANUSIA PADA CITRA DIGITAL (PROPOSAL SKRIPSI) diajukan oleh. NamaMhs NIM: XX.YY.ZZZ. Kepada

Identifikasi Tanda Tangan Menggunakan Transformasi Gabor Wavelet dan Jarak Minskowski

PENGENALAN CITRA WAJAH DENGAN MENGGUNAKAN TRANSFORMASI WAVELET DISKRIT DAN JARINGAN SARAF TIRUAN BACK-PROPAGATION

BAB I PENDAHULUAN. telinga, wajah, infrared, gaya berjalan, geometri tangan, telapak tangan, retina,

IMPLEMENTASI PENTERJEMAH KODE ISYARAT TANGAN MENGGUNAKAN ANALISIS DETEKSI TEPI PADA ARM 11 OK6410B

PENGENALAN WAJAH DENGAN METODE ADJACENT PIXEL INTENSITY DIFFERENCE QUANTIZATION TERMODIFIKASI

BAB 1 PENDAHULUAN. keakuratan dari penglihatan mesin membuka bagian baru dari aplikasi komputer.

DEKOMPOSISI NILAI SINGULAR DAN DISCRETE FOURIER TRANSFORM UNTUK NOISE FILTERING PADA CITRA DIGITAL

Analisis Kualitas Interpolasi Terhadap Fitur Statistik pada Citra

SEGMENTASI CITRA CT SCAN TUMOR OTAK MENGGUNAKAN MATEMATIKA MORFOLOGI (WATERSHED) DENGAN FLOOD MINIMUM OPTIMAL

BAB II LANDASAN TEORI

Deteksi Senyum Menggunakan Fitur Gabor dan Histograms of Oriented Gradients pada Bagian Mulut, Hidung, dan Mata

PENGHAPUSAN NOISE PADA CITRA DENGAN FILTER ADAPTIVE- HIERARCHICAL

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. menggunakan PCA, kemudian penelitian yang menggunakan algoritma Fuzzy C-

Pembentukan Vektor Ciri Dengan Menggunakan Metode Average Absolute Deviation (AAD)

PERANCANGAN PENDETEKSI WAJAH DENGAN ALGORITMA LBP (LOCAL BINARY PATTERN) BERBASIS RASPBERRY PI

PEMANFAATAAN BIOMETRIKA WAJAH PADA SISTEM PRESENSI MENGGUNAKAN BACKPROPAGATION NEURAL NETWORK

BAB 1 PENDAHULUAN. Manusia memiliki insting untuk berinteraksi satu sama lain demi mencapai

PENGOLAHAN CITRA DIGITAL ( DIGITAL IMAGE PROCESSING )

1. BAB I PENDAHULUAN

Analisa Perbandingan Algoritma Histogram of Oriented Gradient (HOG) dan Gaussian Mixture Model (GMM) Dalam Mendeteksi Manusia

VERIFIKASI SESEORANG BERDASARKAN CITRA PEMBULUH DARAH MENGGUNAKAN EKSTRAKSI FILTER GABOR ABSTRAK

Pola adalah entitas yang terdefinisi dan dapat diidentifikasi melalui ciri-cirinya (features).

PENINGKATAN KUALITAS CITRA SIDIK JARI MENGGUNAKAN FFT (FAST FOURIER TRANSFORM)

BAB 1 PENDAHULUAN. Dalam bidang animasi, motion capture adalah salah satu cara yang dipakai para

Database Ekspresi Wajah Perempuan Indonesia Berbasis 2D untuk Pengenalan Emosi

PENDAHULUAN. Latar Belakang

Implementasi Noise Removal Menggunakan Wiener Filter untuk Perbaikan Citra Digital

PENERAPAN METODE DETEKSI BULUMATA UNTUK PENINGKATAN AKURASI PENGENALAN PERSONAL BERBASIS CITRA IRIS

Verifikasi Citra Wajah Menggunakan Metode Discrete Cosine Transform Untuk Aplikasi Login

1. BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang

Klasifikasi Kualitas Keramik Menggunakan Metode Deteksi Tepi Laplacian of Gaussian dan Prewitt

PENGENALAN EMOSI SESEORANG BERDASARKAN BENTUK BIBIR DENGAN METODE DISCRETE HARTLEY TRANSFORM ABSTRAK

corak lukisan dengan seni dekorasi pakaian, muncul seni batik tulis seperti yang kita kenal sekarang ini. Kain batik merupakan ciri khas dari bangsa I

Pengantar PENGOLAHAN CITRA. Achmad Basuki PENS-ITS Surabaya 2007

PERBANDINGAN ALGORITMA TEMPLATE MATCHING DAN FEATURE EXTRACTION PADA OPTICAL CHARACTER RECOGNITION

BAB 3 ANALISA DAN PERANCANGAN

INDIKATOR MUSIK MELALUI EKSPRESI WAJAH

PENGAMAN RUMAH DENGAN SISTEM FACE RECOGNITION SECARA REAL TIME MENGGUNAKAN METODE PRINCIPAL COMPONENT ANALYSIS

Modifikasi Algoritma Pengelompokan K-Means untuk Segmentasi Citra Ikan Berdasarkan Puncak Histogram

ANALISIS PENGARUH EXPOSURE TERHADAP PERFORMA ALGORITMA SIFT UNTUK IMAGE MATCHING PADA UNDERWATER IMAGE

Muhammad Nasir. Jurusan Teknik Elektro Politeknik Negeri Lhokseumawe Jl. Banda Aceh Medan Km Lhokseumawe

Pengembangan Algoritma Pengubahan Ukuran Citra Berbasiskan Analisis Gradien dengan Pendekatan Polinomial

PEMANFAATAN GUI DALAM PENGEMBANGAN PERANGKAT LUNAK PENGENALAN CITRA WAJAH MANUSIA MENGGUNAKAN METODE EIGENFACES

PENGENALAN WAJAH MENGGUNAKAN METODE DIAGONAL PRINCIPAL COMPONENT ANALYSIS. Skripsi

Pengolahan Citra Digital FAJAR ASTUTI H, S.KOM., M.KOM

Arga Wahyumianto Pembimbing : 1. Dr. I Ketut Eddy Purnama, ST., MT 2. Christyowidiasmoro, ST., MT

Perbandingan Dua Citra Bibir Manusia Menggunakan Metode Pengukuran Lebar, Tebal dan Sudut Bibir ABSTRAK

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN. 4.1 Pengembangan Sistem Pengenalan Wajah 2D

PERBANDINGAN TEKNIK SCALE INVARIANT FEATURE TRANSFORM (SIFT)

JURUSAN MATEMATIKA FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM INSTITUT TEKNOLOGI SEPULUH NOPEMBER SURABAYA :38:54

BAB I PENDAHULUAN. dengan memanfaatkan ciri wajah yang telah tersimpan pada database atau wajah

PENGEMBANGAN ALGORITMA PENGUBAHAN UKURAN CITRA BERBASISKAN ANALISIS GRADIEN DENGAN PENDEKATAN POLINOMIAL

PERBAIKAN CITRA BER-NOISE MENGGUNAKAN SWITCHING MEDIAN FILTER DAN BOUNDARY DISCRIMINATIVE NOISE DETECTION

Deteksi Lokasi Bibir Otomatis Pada Citra Wajah Berbasis Ciri Bentuk dan Warna

SEGMENTASI CITRA MEDIK MRI (MAGNETIC RESONANCE IMAGING) MENGGUNAKAN METODE REGION THRESHOLD

CONTENT BASED IMAGE RETRIEVAL BERDASARKAN CIRI TEKSTUR MENGGUNAKAN WAVELET

Pengolahan Citra INTERACTIVE BROADCASTING. Yusuf Elmande., S.Si., M.Kom. Modul ke: Fakultas Ilmu Komunikasi. Program Studi Penyiaran

SEMINAR TUGAS AKHIR M. RIZKY FAUNDRA NRP DOSEN PEMBIMBING: Drs. Daryono Budi Utomo, M.Si

PERBAIKAN CITRA UNTUK PENGENALAN WAJAH PADA CITRA WAJAH DENGAN PENCAHAYAAN TIDAK MERATA

BAB 2 LANDASAN TEORI

SISTEM PELACAKAN WAJAH METODE HAAR

BAB 1 PENDAHULUAN. termasuk dalam bidang Computer Vision. Computer Vision membuat komputer

BAB V KESIMPULAN. Wajah pada Subruang Orthogonal dengan Menggunakan Laplacianfaces

PENGENALAN OBJEK PADA CITRA BERDASARKAN SIMILARITAS KARAKTERISTIK KURVA SEDERHANA

BAB 3 ANALISIS DAN PERANCANGAN

BINERISASI CITRA DOKUMEN DENGAN FILTERISASI HOMOMORPHIC

Perancangan Perangkat Lunak untuk Ekstraksi Ciri dan Klasifikasi Pola Batik

Penjejakan Objek Visual berbasis Algoritma Mean Shift dengan menggunakan kamera Pan-Tilt

BAB III ANALISIS DAN PERANCANGAN SISTEM. Dalam pengerjaan tugas akhir ini memiliki tujuan untuk mengektraksi

SISTEM PENGENALAN WAJAH MENGGUNAAN METODE TEMPLATE MATCHING

BAB I PENDAHULUAN. Dewasa ini kepedulian masyarakat Indonesia akan budaya-budaya lokal

HASIL DAN PEMBAHASAN. Tabel 1 Operator descriptor

1. PENDAHULUAN Bidang perindustrian merupakan salah satu bidang yang juga banyak menggunakan kecanggihan teknologi, walaupun pada beberapa bagian, mas

Deteksi Citra Sidik Jari Terotasi Menggunakan Metode Phase-Only Correlation

SISTEM PENGENALAN WAJAH MENGGUNAKAN WEBCAM UNTUK ABSENSI DENGAN METODE TEMPLATE MATCHING

Rancang Bangun Sistem Pengujian Distorsi Menggunakan Concentric Circle Method Pada Kaca Spion Kendaraan Bermotor Kategori L3 Berbasis Edge Detection

EKSTRAKSI CIRI GEOMETRIS UNTUK APLIKASI IDENTIFIKASI WAJAH. Oleh: Kholistianingsih

Deteksi Wajah Manusia pada Citra Menggunakan Dekomposisi Fourier

DETEKSI DAN REPRESENTASI FITUR MATA PADA SEBUAH CITRA WAJAH MENGGUNAKAN HAAR CASCADE DAN CHAIN CODE

KLASIFIKASI KAYU DENGAN MENGGUNAKAN NAÏVE BAYES-CLASSIFIER

EKSTRAKSI JALAN SECARA OTOMATIS DENGAN DETEKSI TEPI CANNY PADA FOTO UDARA TESIS OLEH: ANDRI SUPRAYOGI NIM :

DATA/ INFO : teks, gambar, audio, video ( = multimedia) Gambar/ citra/ image : info visual a picture is more than a thousand words (anonim)

APLIKASI TRANSFORMASI HOUGH UNTUK EKSTRAKSI FITUR IRIS MATA MANUSIA

PERANCANGAN APLIKASI PENGURANGAN NOISE PADA CITRA DIGITAL MENGGUNAKAN METODE FILTER GAUSSIAN

Percobaan 1 Percobaan 2

100% Akurasi = (11) Lingkungan Pengembangan

YOGI WARDANA NRP

pola-pola yang terdapat pada suatu daerah bagian citra. Tekstur juga dapat membedakan permukaan dari beberapa kelas.

Pengenalan Benda di Jalan Raya dengan Metode Kalman Filter. Roslyn Yuniar Amrullah

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

RANCANG BANGUN APLIKASI PENGABURAN GAMBAR

PENDETEKSIAN TEPI OBJEK MENGGUNAKAN METODE GRADIEN

BAB 2 LANDASAN TEORI

DETEKSI GERAK BANYAK OBJEK MENGGUNAKAN BACKGROUND SUBSTRACTION DAN DETEKSI TEPI SOBEL

UJI KINERJA FACE RECOGNITION MENGGUNAKAN EIGENFACES

JURNAL TEODOLITA. VOL. 15 NO. 1, Juni 2014 ISSN DAFTAR ISI

Transkripsi:

Pengenalan Ekspresi Wajah Berdasarkan Bentuk dan Tekstur Pangondian Marhutala Sinaga dan Rully Soelaiman, M.Kom, Teknik Informatika, Fakultas Teknologi Informasi, ITS, Surabaya Email : pangondianmsinaga@yahoo.com Abstrak Pada Tugas Akhir ini diperkenalkan suatu metode untuk mengenali ekspresi wajah. Metode ini terdiri dari 2 teknik utama, yaitu spatially maximum occurrence model (SMOM), yang dapat mengolah banyak citra wajah dengan ekspresi yang sama menghasilkan representasi ekspresi, dan elastic shape-texture matching (ESTM) yaitu mencari kesamaan 2 citra. Dari nilai-nilai persamaan citra wajah antar citra wajah dalam database, akan dikelompokkan dan diklasifikasikan ke dalam 6 kategori ekspresi wajah. Kata kunci : pengenalan wajah; pengenalan ekspresi wajah; Elastic shape texture matching; Spatially maximum occurrence model; Gabor wavelets. I. Pendahuluan Selama 1 dasawarsa terakhir ini, penelitian pada analisis ekspresi wajah otomatis kembali aktif lagi; ini memiliki aplikasi yang berpotensi pada wilayah seperti interaksi manusia - komputer, pembacaan bibir, pemampatan gambar wajah, animasi wajah buatan, konferensi video, analisis emosi manusia dan lain-lain. Ekspresi wajah ditimbulkan dengan penyusutan otot wajah, yang menghasilkan pada perubahan bentuk fitur wajah seperti kelopak mata, alis mata, hidung dan bibir, dan juga hasil pergantian menjadi posisi relatif. Pergerakan otot yang sama atau perubahan bentuk fitur wajah yang berbeda dapat disusun pada model ekspresi yang sama proses ini disebut pengenalan ekspresi wajah. Ekspresi gambar wajah menunjukkan bentuk atau ragam posisi fitur wajah antara citra dan citra yang berhubungan pada ekspresi normal. Oleh karena itu kebanyakan metode pengenalan ekspresi wajah tergantung pada deretan citra atau tangkapan video, yang termasuk gambar wajah dengan ragam ekspresi dan citra pada ekspresi normal sebagai referensi. Sistem pengkodean gerakan wajah (FACS) menyediakan metode yang paling banyak digunakan untuk mengukur pergerakan wajah. Pada FACS, wajah dibagi menjadi 44 unit gerakan (AUs) tergantung pada lokasinya sebagaimana intensitasnya. Kombinasi AU digunakan untuk memodelkan masing-masing ekspresi. Pada Tugas Akhir ini diperkenalkan suatu metode untuk mengenali ekspresi wajah dengan memperhatikan bentuk dan tekstur dari posisi mata dan mulut pada citra wajah untuk normalisasi dan penjajaran. Dengan mengkombinasikan kedua fitur tersebut akan dihitung persamaan dua citra wajah. Dari nilainilai persamaan citra wajah antar citra wajah dalam database, akan dikelompokkan dan diklasifikasikan ke dalam 5 kategori ekspresi wajah. 1

II. Pengenalan Wajah Banyak dilakukan penelitian untuk mencari algoritm-algoritma yang tepat bagi komputer agar dapat mengenali suatu wajah yang diinputkan dengan memperhatikan faktor kecepatan dan akurasinya. 1. Aplikasi pengenalan wajah Beberapa contoh aplikasi dari pengenalan wajah oleh komputer adalah : Pengenalan credit card, surat ijin mengemudi (SIM), passport Pengenalan wajah untuk sekuritas sebagai pengganti tanda tangan atau sidik jari, misal untuk verifikasi credit card. Pengenalan pasien yang tidak sadarkan diri. Pengenalan orang yang hilang atau seorang kriminal. Pengontrolan masyarakat, seperti kamera di bank sehingga dapat mengidentifikasi bila ada orang jahat yang masuk ke bank. Rekonstruksi wajah sesuai dengan bayangan dari saksi pada suatu peristiwa kejahatan. Klasifikasi jenis kelamin. 2. Tahapan umum Pengenalan Wajah Algoritma untuk mengenali wajah ada bermacam-macam. Tapi pada umumnya ada tahapan-tahapan umum yang dipakai dalam pengenalan wajah. Tahapan-tahapan umum dari pengenalan wajah yaitu : Perbaikan Gambar Citra hasil scanning biasanya mengandung banyak noise yang harus dihilangkan. Kemudian harus diterapkan algoritma-algoritma untuk mempertajam gambar bila gambar kabur, seperti filtering yang teorinya ada pada pengolahan citra. Segmentasi Segmentasi digunakan dengan suatu algoritma untuk mengenali gambar mana yang merupakan wajah. Pencarian feature Ada dua macam feature pada wajah, yaitu holistic features dan partial features. Pada partial feature, dalam hal pengenalan wajah biasanya disebut sebagai facial feature, contoh feature-nya adalah warna dan bentuk rambut, besar dan letak hidung, mulut, mata, telinga dan lain-lain. Sedangkan pada holistic feature setiap feature-nya adalah merupakan suatu karakteristik dari seluruh wajah, maksudnya wajah dianggap sebagai suatu kesatuan yang utuh. Skew Detection / perbaikan kemiringan Foto oval dari wajah orang yang didapatkan dari hasil segmentasi dapat tegak, atau miring ke kiri atau ke kanan, atau bahkan terbalik. Oleh karena itu proses perbaikan kemiringan ini diperlukan, sehingga gambar yang miring atau terbalik bisa diperbaiki sehingga menjadi gambar yang benar-benar tegak. Identifikasi Setelah komputer tahu tentang feature dari testing foto yang diinputkan, maka dapat dilakukan pembandingan dengan feature-feature dari foto pelatihan. III. Pengenalan Ekspresi Wajah 1. Filter Gaussian Filter Gaussian digunakan dalam pengolahan citra digital untuk membuat citra menjadi lebih halus. Filter Gaussian diformulasikan dengan rumus sebagai berikut : p( σ ) = ( x y( σ ) = p e 2 ( σ ) 2 /(2σ )) /( σ * dimana, σ = standard deviasi 2π ) (1) 2

Di bawah ini adalah contoh citra sederhana yang difilter secara Gaussian dengan nilai frekuensi cutoff yang beragam 2. Metode SMOM untuk menggambarkan ekspresi SMOM dibangun berdasarkan pada kemungkinan kejadian nilai piksel untuk semua citra yang dilatih yang diilustasikan pada gambar. Dimisalkan jumlah citra yang dilatih adalah N, (a) (b) (c) dan ukuran citra M x N. Oleh karena itu ada N nilai yang mungkin pada setiap posisi piksel ( y). Urutkan nilai kepadatan N ini semua, kita dapat memperoleh histogram H y (b) posisi piksel (y) Gambar 2. 1 (a) Potongan perspektif fungsi Filter Gaussian. (b) Filter yang ditampilkan sebagai berikut : sebagai citra. (c) Grafik filter untuk N beragam nilai D 0 H ( b) = δ ( f ( y) b, (2) y k ) k = 1 dimana 1 m = 0, δ ( m) = untuk 0 b < B 0 m 0, B adalah jumlah bin pada histogram dan f k (y) adalah nilai kepadatan citra ke-k pada posisi (y). Pada umumnya, B merupakan jumlah tingkat kepadatan pada citra. Bagaimanapun juga, kalau jumlah citra yang dilatih sedikit, jumlah bin harus dikurangi dan histogram harus dihaluskan menggunakan filter Gaussian sebagai berikut : (a) (c) (b) (d) Gambar 2.2 (a) Citra asli. (b)-(d) Hasil filtering dengan filter Gaussian dengan beragam nilai frekuensi cutoff (D) 5,15,30 3 H ' y y b ( b) = H ( b) G( σ, ) (3) Dimana G(σ,b) adalah filter Gaussian dengan varians σ, * adalah operator konvolusi, dan H y (b) adalah histogram posisi piksel (y) yang dihaluskan. Untuk setiap histogram yang dihaluskan, nilai puncaknya dikenali dan diurutkan secara menurun. Puncak terjadi pada bin jika nilainya lebih tinggi dari kedua bin yang mengapitnya. Jika bin adalah bin pertama (atau terakhir) pada histogram, dan nilainya lebih besar dari bin yang kanan (atau yang kiri), juga dapat disebut puncak. Jika m bin berurutan memiliki nilai yang sama dan nilai ini lebih tinggi daripada 2 bin yang mengapit bin yang berurutan, puncak juga ada, dan nilai bin puncak diatur pada pertengahan m bin berurutan. Tingkat keabuan tergantung pada semua bin yang puncak diurutkan sesuai dengan kemungkinan kejadian. SMOM akantetapi didefenisikan sebagai berikut :

{ b, b } SMOM y, k) =,..., dimana ( 1 2 0 b < B k (4) b k Untuk 0 x < M dan 0 y < H Dimana k adalah jumlah puncak yang ditentukan pada reprensentasi, b 1, b 2, b k adalah tingkat keabuan yang berhubungan dengan puncak histogram untuk posisi piksel (y), dan kondisi H ' y ( b1 ) H ' y ( b2 )... H ' y ( bk ) dipenu hi. Biasanya, k adalah nilai yang kecil. Jika jumlah puncak p pada histogram lebih kecil dari k, selisih nilai k-p akan sesuai dengan semua bin dengan kemungkinan kejadian yang terbesar. Ketiga, proses ESTM untuk mengukur kesamaan antara 2 wajah untuk tiap-tiap wajah yang ada dalam database berdasarkan pada bentuk dan tekstur. Bentuk digambarkan oleh peta tepi E( y), dan tekstur digolongkan oleh wavelet Gabor dan kemiringan arah setiap piksel, yang dideskripsikan oleh masing-masing peta Gabor dan peta sudut A( y). 3. ESTM untuk mencari kesamaan citra ESTM adalah metode yang mengukur kesamaan antara berdasarkan informasi bentuk dan tekstur. Bentuk digambarkan oleh peta tepi E(y), dan tekstur digolongkan oleh representasi wavelet Gabor dan kemiringan langsung setiap piksel yang digambarkan oleh masing-masing peta Gabor Ğ(y) dan peta sudut A(y). d e ( a, b) = a b, (5) IV. Perancangan Gambar 1. Alur Proses Sistem pengenalan ekspresi wajah 2. Proses Filter Gaussian Proses Filter Gaussian adalah untuk membuat data citra wajah menjadi lebih halus. Citra diproses dengan rotasi sebesar theta searah jarum jam dengan parameter standar deviasi tertentu. 1. Proses Pengenalan Ekspresi Wajah Untuk mengenali suatu citra wajah tergolong pada ekspresi wajah yang mana, ada 3 proses yang harus dilakukan yaitu proses filter Gaussian, proses SMOM, proses ESTM. Pertama, proses filter Gaussian untuk mengolah setiap data citra wajah menjadi lebih smooth. Kedua, proses SMOM untuk mengolah data citra wajah untuk menggambarkan ciri berbagai ekspresi. SMOM dibangun berdasarkan pada kemungkinan kejadian nilai piksel pada setiap posisi piksel untuk semua citra yang dilatih. Gambar 2. Alur Proses Filter Gaussian 4

3. Proses SMOM Ujicoba untuk ekspresi senyum Fungsi SMOM wajah ini bertujuan mengolah data citra wajah ujicoba dan mendapatkan representasi dari suatu ekspresi wajah. Gambar 4. Hasil Uji coba untuk ekspresi Senyum Tabel 1 Jarak smom_wajah ekspresi senyum dengan data citra wajah sampel Orang kerling terkejut kedip cemberut biasa Senyum B/S 9 95.52 117.06 102.05 130.56 103.19 100.06 S 10 136 118.44 125.83 130.05 134.36 105.76 B 11 102.76 56.187 80.536 110.62 68.869 95.776 S 12 132.75 135.94 108.06 113.73 125.16 93.67 B 13 158.2 136.29 153.33 144 149.19 139.32 S 14 69.592 90.615 57.515 94.064 57.193 46.022 B 15 82.122 98.914 77.711 106.24 88.431 103.85 S Nilai kebenaran untuk ekspresi senyum : 42.86 % Gambar 3. Alur Proses SMOM Uji coba untuk ekspresi Terkejut V. Hasil Ujicoba Data citra yang diuji ada 7 orang dengan 6 ekspresi berbeda setiap orang. Semua data citra wajah tersebut dibandingkan dengan representasi ekspresi wajah yang diperoleh dari metode SMOM. Nilai jarak terkecil merupakan ekspresi yang diperbandingkan. Kemudian ekspresi yang dikenali dibandingkan dengan ekspresi yang aslinya apakah benar atau tidak. Gambar III.5. Hasil Uji coba untuk ekspresi Terkejut Tabel 2. Jarak smom ekspresi terkejut dengan data citra wajah sampel Orang Kerling Terkejut Kedip Cemberut Biasa Senyum B/S 9 91.869 82.843 88.61 107.57 96.089 97.35 B 10 125.14 104.6 115.3 119.85 124.35 101.78 S 11 107.47 57.845 87.16 115.44 72.395 102.25 B 12 118.3 103.78 92.98 93.365 115.1 90.36 S 13 129.32 106.61 122.8 114.82 117.41 112.99 B 14 63.49 63.592 56.82 76.609 58.941 53.028 S 15 78.371 72.111 70.11 91.181 78.269 87.937 S Nilai kebenaran : 42.8571 % 5

Nilai kebenaran untuk 7 orang citra ujicoba No Ekspresi Persentase kebenaran 1 Senyum 42.86 % 2 Biasa 0 % 3 Cembeut 0 % 4 Kedip 28.58 % 5 Kerling 42.86 % 6 Terkejut 28.58 % VI. Penutup 1. Kesimpulan Dari hasil pengamatan selama perancangan, implementasi, dan proses uji coba perangkat lunak yang dilakukan, penulis mengambil kesimpulan sebagai berikut: a. Aplikasi mampu menghasilkan representasi suatu ekspresi wajah dari beberapa sampel citra wajah yang diolah. b. Proses pengolahan ekspresi wajah rata-rata 1 menit. c. Aplikasi dapat mengenali ekspresi wajah dengan tepat rata-rata dibawah 50 %. d. Untuk ekspresi biasa dan cemberut tidak dapat dikenali (nilai kebenaran 0 %) 2. Saran Dalam pembuatan Tugas Akhir ini, terdapat beberapa kemungkinan pengembangan aplikasi yang dilakukan, yaitu: a. Proses SMOM dan ESTM harus diperbaiki lagi. b. Data citra wajah yang diolah harus lebih bagus dan banyak. [4] Moghaddam, Baback, Face Recognition, http://www.white.medi.mit,edu/vismod/fa cerec/index.html, MIT [5] Pentland A. Mofhaddam B., Starner T, View-Based and Modular Eigenspaces for Face Recognition, IEEE conf. on Computer Vision & Pattern Recognition, Seattle, WA, july 1994 [6] Y. Zhu, L.C. De Silva and C.C. Ko, Using moment invariants and HMM in facial expression recognition, Pattern Recognition Lett. 23 (1 3) (2002), pp. 83 91. [7] B. Abboud, F. Davoine and M. Dang, Facial expression recognition and synthesis based on an appearance model, Signal Process. Image Commun. 19 (8) (2004), pp. 723 740. [8] Cendrillon,Raphael,Face Recognition Using Eigenfaces, http://student.uq.edu.au/~s341268/index. html, degree thesis, University University of Queensland, Australia, Department of Computer Science and Electrical Engineering, 1999. [9] Nastar C, Ayach N, Frequency-based nonrigid motion analysis, IEEE Trans. Pattern Anal, Mach, Intell, 18(1996) 1067-1079. [10] Gonzalez R C, Woods R E, Digital Image Processing Second Edition, Prentice Hall, New Jersey, 1997. [11] Xie X, Lam K M, Elastic shape-texture matching for human face recognition. Pattern Recognition 41, page 396-405, 2008 VII. Daftar Pustaka [1] Xie X, Lam K M, August 2008. Facial expression recognition based on shape and texture. Pattern Recognition 42 - Elsevier, 1003-1011. [2] Tian Y L, Kanade T, Cohn, J F. Facial Expression Analysis. [3] Fasel B, Luettin J. February 2002, Automatical facial expression analysis : a survey. Pattern Recognition 36 Elsevier, 259-275. 6