BAB II TINJAUAN PUSTAKA

dokumen-dokumen yang mirip
HISTOLOGI URINARIA dr d.. K a K r a ti t k i a a R at a n t a n a P e P r e ti t w i i

Struktur Ginjal: nefron. kapsul cortex. medula. arteri renalis vena renalis pelvis renalis. ureter

M.Nuralamsyah,S.Kep.Ns

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN. struktur parenkhim masih normal. Corpusculum renalis malpighi disusun oleh komponen

SMP kelas 9 - BIOLOGI BAB 1. Sistem Ekskresi ManusiaLATIHAN SOAL BAB 1

a) memegang peranan penting dalam pengeluaran zat-zat toksis atau racun, c) mempertahankan keseimbangan kadar asam dan basa dari cairan tubuh, dan

Created by Mr. E. D, S.Pd, S.Si LOGO

SMP kelas 8 - BIOLOGI BAB 11. SISTEM EKSKRESI MANUSIALatihan Soal 11.1

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

biologi SET 15 SISTEM EKSKRESI DAN LATIHAN SOAL SBMPTN ADVANCE AND TOP LEVEL A. ORGAN EKSKRESI

GINJAL KEDUDUKAN GINJAL DI BELAKANG DARI KAVUM ABDOMINALIS DI BELAKANG PERITONEUM PADA KEDUA SISI VERTEBRA LUMBALIS III MELEKAT LANGSUNG PADA DINDING

Struktur bagian dalam ginjal

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Fluorida adalah anion monovalen. 13. secara cepat saat lambung kosong dan fluorida sudah mencair. Adanya

Sistem Eksresi> Kelas XI IPA 3 SMA Santa Maria Pekanbaru

Sistem Ekskresi Manusia

Sistem Ekskresi. Drs. Refli, MSc Diberikan pada Pelatihan Penguatan UN bagi Guru SMP/MTS se Provinsi NTT September 2013

SISTEM EKSKRESI PADA MANUSIA

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

SISTEM EKSKRESI MANUSIA 1: REN. by Ms. Evy Anggraeny SMA Regina Pacis Jakarta

Hubungan Hipertensi dan Diabetes Melitus terhadap Gagal Ginjal Kronik

- - SISTEM EKSKRESI MANUSIA - - sbl1ekskresi

2. Sumsum Ginjal (Medula)

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN. Rata-rata penurunan jumlah glomerulus ginjal pada mencit jantan (Mus

Mahasiswa dapat menjelaskan alat ekskresi dan prosesnya dari hasil percobaan

Ilmu Pengetahuan Alam

Konsep Sel, Jaringan, Organ dan Sistem Organ

SMP kelas 9 - BIOLOGI BAB 1. Sistem Ekskresi ManusiaLatihan Soal 1.3. Air. Asam amino. Urea. Protein

SMP kelas 9 - BIOLOGI BAB 1. Sistem Ekskresi ManusiaLatihan Soal 1.1

11/28/2011 SISTEM URINARIA. By. Paryono

BAB 1 PENDAHULUAN. Manusia dapat terpapar logam berat di lingkungan kehidupannya seharihari.

TINJAUAN PUSTAKA. Ginjal adalah system organ yang berpasangan yang terletak pada rongga

Reabsorpsi dan eksresi cairan, elektrolit dan non-elektrolit (Biokimia) Prof.dr.H.Fadil Oenzil,PhD.,SpGK Fakultas Kedokteran Universitas Andalas

BAB VII SISTEM UROGENITALIA

FUNGSI SISTEM GINJAL DALAM HOMEOSTASIS ph

Pertukaran cairan tubuh sehari-hari (antar kompartemen) Keseimbangan cairan dan elektrolit:

BAB I PENDAHULUAN. terjadinya stres oksidatif pada tikus (Senturk et al., 2001) dan manusia

Anatomi & Fisiologi Sistem Urinaria II Pertemuan 11 Trisia Lusiana Amir, S. Pd., M. Biomed PRODI MIK FAKULTAS ILMU-ILMU KESEHATAN

glukosa darah melebihi 500 mg/dl, disertai : (b) Banyak kencing waktu 2 4 minggu)

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang

SISTEM URIN (GINJAL)

HISTOLOGI SISTEM LIMFATIS

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN. coba setelah pemberian polisakarida krestin (PSK) dari jamur Coriolus versicolor

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang

BAB II TINJAUAN PUSTAKA Tawas dan fungsinya dalam industri makanan

M.Biomed. Kelompok keilmuan DKKD

SISTEM PEMBULUH DARAH MANUSIA. OLEH: REZQI HANDAYANI, M.P.H., Apt

BAB I PENDAHULUAN. 1.3 Tujuan

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

TINJAUAN PUSTAKA. Ginjal dan Peranannya dalam Pembentukan Urin

SMP kelas 9 - BIOLOGI BAB 1. Sistem Ekskresi ManusiaLatihan Soal 1.2

KAJIAN KEPUSTAKAAN. Bangsa-bangsa itik lokal yang ada umumnya diberi nama berdasarkan

TINJAUAN PUSTAKA. Gambar 1 Tanaman alpukat.

Sistem Peredaran Darah Manusia

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA. 2.1 Tanaman Andaliman (Zanthoxylum acanthopodium DC.)

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN. Pada penelitian ini digunakan sampel 52 orang yang terbagi menjadi 2

MEKANISME TRANSPOR PADA MEMBRAN SEL

BAB 6 PEMBAHASAN. tingkat waktu kematian terhadap kemampuan pergerakan silia cavitas nasi hewan

Sumber air tubuh: 1. Makanan 2. Air minum 3. Air metabolit

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA. Rhodamine B merupakan zat warna golongan xanthenes dyes. Pewarna

Kompetensi SISTEM SIRKULASI. Memahami mekanisme kerja sistem sirkulasi dan fungsinya

Jaringan adalah kumpulan dari selsel sejenis atau berlainan jenis termasuk matrik antar selnya yang mendukung fungsi organ atau sistem tertentu.

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA, KERANGKA TEORI, KERANGKA KONSEP, DAN HIPOTESIS

Definisi fisiologi / ilmu faal Manusia sistem organ organ sel Sistem organ

UPT Balai Informasi Teknologi LIPI Pangan & Kesehatan Copyright 2009

RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN

SCIENCE MODULE GRADE IX JULY-AUGUST 2015 ACADEMIC YEAR 2015/2016

Histologi Sistem Urinarius

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

1 Universitas Kristen Maranatha

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

BAB I PENDAHULUAN. (Wasser, 2002). Polisakarida mempunyai kemampuan untuk meningkatkan sistem

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Urin adalah cairan sisa yang diekskresikan oleh ginjal kemudian

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. yang terkandung di dalam urine serta adanya kelainan-kelainan pada urine.

Menjelaskan struktur dan fungsi sistem ekskresi pada manusia dan penerapannya dalam menjaga kesehatan diri

a. Cedera akibat terbakar dan benturan b. Reaksi transfusi yang parah c. Agen nefrotoksik d. Antibiotik aminoglikosida

PS-S1 Jurusan Biologi, FMIPA, UNEJ (2017) JARINGAN IKAT SYUBBANUL WATHON, S.SI., M.SI.

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

PRAKTIKUM II : DARAH, PEMBULUH DARAH, DARAH DALAM BERBAGAI LARUTAN, PENGGOLONGAN DARAH SISTEM ABO DAN RHESUS.

SISTEM LIMFOID. Organ Linfoid : Limfonodus, Limpa, dan Timus

VII. EKSKRESI 7.1. KONSEP.

Melakukan Uji Protein Urin

ANATOMI KULIT Gambar 1. Anatomi Kulit Posisi Melintang Gambar 2. Gambar Penampang Kulit

LEMBARAN SOAL. Mata Pelajaran : BIOLOGI Sat. Pendidikan : SMA Kelas / Program : XI IPA 1-2 ( SEBELAS IPA 1-2 )

1 Universitas Kristen Maranatha

Bahan pada pembuatan sutra buatan, zat pewarna, cermin kaca dan bahan peledak. Bahan pembuatan pupuk dalam bentuk urea.

SISTEM EKSKRESI LKS IPA TERPADU -SMP KELAS IX/1 1

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN

Sistem Ekskresi pada Manusia. mendeskripsikan sistem ekskresi pada manusia dan hubungannya dengan kesehatan.

BIOKIMIA NUTRISI. : PENDAHULUAN (Haryati)

PEMERIKSAAN PROTEIN DAN GLUKOSA URINE LAPORAN PRAKTIKUM FISIOLOGI HEWAN : ERICA PUSPA NINGRUM : J1C111208

Bab. Sistem Ekskresi. A. Sistem Ekskresi pada Manusia B. Sistem Ekskresi pada Hewan

Sistem Osmoregulasi Pada Ikan

S E L. Suhardi, S.Pt.,MP

JARINGAN DASAR HEWAN. Tujuan : Mengenal tipe-tipe jaringan dasar yang ditemukan pada hewan. PENDAHULUAN

ORGANISASI KEHIDUPAN. Sel

SISTEM DIGESTIVA (PENCERNAAN) FISIOLOGI PENCERNAAN

Kesetimbangan asam basa tubuh

Dr. Halinda Sari Lubis, MKKK Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Sumatera Utara

Transkripsi:

BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Pembusukan 2.1.1 Definisi Pembusukan adalah proses campuran dari proses internal dan external. Proses internal yang terjadi yaitu autolysis yang terjadi pada sel tubuh akibat enzim yang dibebaskan pasca mati, sedangkan proses externalnya dipengaruhi oleh bakteri dan jamur dari lingkungan. 8 Autolisis adalah perlunakan dan pencairan jaringan yang terjadi dalam keadaan steril melalui proses kimia yang disebabkan oleh enzim-enzim intraseluler, sehingga organ-organ yang kaya dengan enzim-enzim akan mengalami proses autolisis lebih cepat daripada organorgan yang tidak memiliki enzim, dengan demikian pancreas akan mengalami autolisis lebih cepat dari pada jantung. 9,10 Proses auotolisis terjadi sebagai akibat dari pengaruh enzim yang dilepaskan pasca mati. Mula-mula yang terkena ialah nukleoprotein yang terdapat pada kromatin dan sesudah itu sitoplasmanya, kemudian dinding sel akan mengalami kehancuran sebagai akibatnya jaringan akan menjadi lunak dan mencair. Proses autolisis ini tidak dipengaruhi oleh mikroorganisme oleh karena 10

11 itu pada mayat yang steril misalnya mayat bayi dalam kandungan, proses autolisis ini tetap terjadi. 2 Pembusukan adalah suatu keadaan dimana bahan-bahan organik tubuh mengalami dekomposisi baik yang disebabkan oleh karena adanya aktivitas bakteri. Mikroorganisme paling utama adalah kuman Clostridium Welchii yang biasanya terdapat pada usus besar. Pada orang yang sudah mati, semua sistem pertahanan tubuh akan hilang maka kuman-kuman tersebut dapat leluasa memasuki pembuluh darah dan menggunakan darah sebagai media untuk berkembang biak. Kuman tersebut akan menyebabkan hemolisa, pencairan bekuan-bekuan darah yang terjadi sebelum atau sesudah mati, pencairan thrombus atau emboli, perusakan jaringan jaringan dan pembentukan gas gas pembusukan. Oleh karena itu, bila kematian seseorang disebabkan karena penyakit infeksi, pembusukan akan berlangsung lebih cepat. 2,9,10 2.1.2 Faktor yang Mempengaruhi Proses Pembusukan Pembusukan dipengaruhi oleh faktor eksterna dan faktor interna. Faktor eksterna adalah faktor penyebab pembusukan dari luar tubuh mayat. Sedangkan faktor interna adalah faktor penyebab pembusukan yang berasal dari tubuh mayat tersebut. 2

12 Faktor eksterna, yaitu : - Suhu di sekitar mayat Proses pembusukan yang paling optimal terjadi pada suhu 70 o F - 100 o F atau sekitar 21 C - 38 C. Pada suhu dibawah 50 o F (10 o C) atau diatas 100 o F (38 o C), proses pembusukan menjadi lebih lambat akibat terhambatnya pertumbuhan mikroorganisme. - Kelembaban udara Proses pembusukan diperlukan juga kelembaban udara, akan tetapi jika kelembaban udara tinggi akan mempercepat proses pembusukan, sedangkan proses pembusukan dapat terhambat jika kelembaban udara disekitarnya rendah. - Medium dimana mayat berada Pembusukan pada medium udara terjadi lebih cepat dibandingkan pada medium air, karena jika tubuh terendam air kecepatan pembusukan akan melambat karena pendinginan tubuh. Sedangkan pembusukan pada medium air lebih cepat dibandingkan pada medium tanah. - Invasi hewan dan serangga Ikan, kepiting, kura-kura, dan hewan air lain akan merusak tubuh mayat, mempercepat pembusukan. Anjing, tikus, dan hewan darat lain juga dapat merusak tubuh mayat, dan membantu masuknya bakteri yang

13 mendekomposisi mayat. Lalat juga akan hinggap karena tertarik pada bau bangkai yang dikeluarkan mayat dan menelurkan telurnya ke dalam mayat, yang akhirnya menjadi larva yang memakan mayat tersebut. Faktor interna, yaitu - Umur Pada mayat orang orang tua, proses pembusukannya lebih lambat disebabkan lemak tubuhnya relative lebih sedikit. Pembusukan yang lambat juga terjadi pada mayat bayi baru lahir dan belum pernah diberi makan, pembusukan terjadi dari luar tubuh, karena belum ada bakteri di gastrointestinal dan di paru. Selain itu, hilangnya panas tubuh yang cepat pada tubuh bayi baru lahir menghambat pertumbuhan bakteri. - Jenis Kelamin Pada wanita, jumlah lemak subkutan lebih banyak sedikit, mempertahankan panas tubuh sedikit lebih lama dan sedikit mempercepat dekomposisi. Selain itu tidak ada yang mempengaruhi dari perbedaan jenis kelamin. - Keadaan mayat Proses pembusukan yang cepat terjadi pada tubuh mayat yang gemuk, edematous, luka luka atau mayat wanita yang mati sesudah melahirkan. Pada mayat dengan perlukaan terjadi proses pembusukan yang lebih cepat karena dapat emmbantu masuknya mikroorganisme tambahan dari luar

14 tubuh. Sedang proses pembusukan yang lambat terjadi pada mayat yang kurus atau pada mayat yang ketika hidupnya mengalami dehidrasi. - Sebab kematian Mayat dari orang yang mati mendadak lebih lambat proses pembusukannya daripada yang mati karena penyakit kronis. Demikian juga mayat dari orang yang mati karena keracunan kronis dari zat asam karbol, arsen, antimo dan zink klorida. Jika kematian karena infeksi atau septicemia, akan mempercepat proses pembusukan karena bakteri. Gas pembusukan disini dapat terjadi meskipun kulit masih terasa hangat. 2.1.3 Pembusukan Melalui Media Rumus casper, menunjukkan perbedaan kecepatan pembusukan pada keadaan lingkungan yang berbeda beda. Perbandingan proses pembusukan pada media udara : air : tanah adalah 1 : 2 : 8, artinya keadaan mayat setelah berada selama 1 minggu di udara terbuka sama dengan 2 minggu di dalam air dan 8 minggu di dalam tanah. 12 Jika tubuh terendam air, kecepatan pembusukan akan melambat karena pendinginan tubuh. Sementara jika diangkat, kecepatan pembusukan akan meningkat karena sudah diencerkan oleh air dan tekanan atmosfer yang tinggi. Keduanya akan membantu proses pembusukan. Jika dikubur, kecepatan dari

15 dekomposisi tergantung dari dalamnya tempat mayat dikubur. Tanah permukaan memiliki bakteri lebih banyak dan lebih lembab dibandingkan tanah dalam. 2.1.4 Penghambatan Proses Pembusukan dengan Pembekuan Pada mayat yang dibekukan pelepasan enzim akan terhambat dan dengan sendirinya akan memperlambat proses otolisa, sedang suhu yang panas proses otolisa juga akan terhambat yang disebabkan oleh rusaknya enzim oleh panas tersebut. Temperatur yang optimal akan membantu dekomposisi optimal dengan membantu pemecahan kimiawi dari jaringan dan perkembangan mikroorganisme yang membantu pembusukan. Untuk menghambat proses pembusukan, mayat akan di bekukan pada kulkas dengan suhu 4 o C dan dipertahankan agar tidak turun pada titik beku yaitu 0 o C, karena es akan terbentuk dalam jaringan tubuh sehingga sel akan rusak sehingga menyebabkan pemeriksaan mikroskopik pada jaringan yang akan dilakukan mendapatkan hasil yang kurang. 12

16 2.2 Ginjal 2.2.1 Anatomi Ginjal Gambar 1. Struktur anatomi ginjal 21 Ginjal merupakan organ berpasangan yang berbentuk seperti kacang, berwarna coklat kemerahan dan terletak di belakang peritoneum, pada dinding posterior abdomen atas di samping kanan dan kiri columna vertebralis, dari vertebra T12 sampai L3 dan sebagian besar tertutup oleh arcus costalis. Ginjal kanan terletak sedikit lebih rendah dibandingkan ginjal kiri, karena adanya lobus hepatis kanan yang lebih besar. 12 Masing masing ginjal mempunyai korteks dan medula. Korteks merupakan bagian tepi ginjal, yang berwarna coklat gelap, dipadati oleh glomeruli diselubungi kapsul sehingga tampak bergranul. Medula merupakan bagian dalam ginjal, yang berwarna coklat lebih terang dibandingkan korteks, tersusun lapisan

17 bergaris-garis radier seperti kipas, membentuk pyramid ginjal dengan apeks (papilla renalis) dihilus dan basisnya berbatasan dengan korteks. Bagian korteks yang menonjol ke medulla di antara piramid yang berdekatan disebut collumna renal. 13,14 Perdarahan ginjal oleh arteri renalis yang dicabangkan oleh aorta abdominalis setinggi vertebra L2. Masing masing arteri renalis biasanya bercabang menjadi lima arteriae segmentales yang masuk ke hilus renal. Arteri ini mendarahi segmen segmen atau area renalis yang berbeda. Arteriae lobares berasal dari arteria segmentalis, masing masing satu buah untuk satu piramid renal. Sebelum masuk substansia renalis, setiap arteri lobaris mempercabangkan dua atau tiga arteri interlobaris. Arteri interlobaris berjalan menuju korteks dan medula renalis, arteri interlobaris bercabang menjadi arteri arcuata yang melengkung diatas basis piramid renal. Arteri arcuata mempercabangkan sejumlah arteri interlobularis yang berjalan ke atas di dalam korteks. Arteri interlobularis bercabang cabang dan tiap cabangnya disebut arteriol afferen. Tiap arteriola afferen menuju capsula bowman dan disini dia memberi banyak cabang berupa kapiler-kapiler. Kapiler-kapiler ini kemudian bersatu menjadi arteriola efferent. Kapiler-kapiler pada kapsula Bowman ini disebut glomerulus. Glomerulus dengan kapsula Bowman disebut sebagai Corpusculum Renalis Malphigi. 14 Arteriola efferent dalam medulla eksterna dan membentuk anyaman vaskuler dan kemudian menjadi vena rekta, yang disuplai dari medulla. Vena rekta kemudian menjadi vena interlobularis, vena arcuata, vena interlobaris, dan kemudian menjadi vena renalis. Yang pada akhirnya akan bermuara ke dalam vena cava inferior. 15

18 Terdapat tiga anyaman limfe pada ginjal yaitu terdapat dalam substansia ginjal, subkapsuler, dan dalam jaringan lemak perirenalis. Aliran limfe dalam substansia ginjal dan subkapsuler bergabung menjadi satu saluran dan vasa limfatikanya mengikuti vena renalis untuk kemudian bermuara dalam nl. aorticus. Sedangkan yang dari jaringan lemak perirenalis lansung bermuara dalam nl. aorticus. 15 Persarafan ginjal berasal dari pleksus aorticorenalis dan nervus sphlanicus. 15 2.2.2 Histologi Ginjal Setiap ginjal terdiri atas 1-4 juta unit penyaring mikro yang disebut nefron, memanjang di antara korteks dan medulla. Pada korteks, terdiri atas glomerulus, kapsul, tubulus proksimal, dan distal, dan saluran lebih kecil pengumpul urin. Pada medula sebagian besar mengandung tubulus panjang lengkung henle dan saluran lebih besar pengumpul urin. 16

19 Gambar 2. Struktur histologi ginjal 24 Glomerulus dikelilingi oleh kapsul epitel berdinding ganda yang disebut kapsula bowman. Lapisan dalam kapsul ini (lapisan visceral) menyelubungi kapiler glomerulus. Lapisan luar membentuk batas luar korpuskel renalis dan disebut lapisan parietal kapsula bowman. Lapisan parietal kapsula bowman terdiri atas epitel selapis gepeng yang ditunjang lamina basalis dan selapis tipis serat retikulin. 16 Tubulus kontortus proksimal memiliki panjang kurang lebih 14 mm, diameter 60 um, memiliki epitel kolumner selapis dimana bagian basal lebih lebar daripada apeksnya, batas sel tidak jelas, permukaan sel terdapat brush border, inti besar dan bulat terletak agak kearah basis, membran basalis terlihat jelas dengan pewarnaan PAS. 17 Loop henle dibagi menjadi dua bagian yaitu henle desenden dan henle asenden. Henle desenden merupakan lanjutan bagian distal tubulus kontortus proksimal, lumennya sempit, terdiri dari 2-3 sel skuamus, sitoplasma lebih pucat,

20 brush border tidak ditemukan. Henle asenden memiliki lumen bulat, teridiri dari sel sel kuboid yang terdiri dari 3 5 sel. 17 Tubulus kontortus distal memiliki saluran dengan lumen bulat dan teratur, terdiri dari 5 atau lebih sel kuboid simpleks / kolumner rendah, batas sel mulai dapat dilihat, sitoplasmanya pucat. 17 Tubulus kolektivus memiliki lumen lebar dengan dinding tebal yang disusun oleh sel-sel kolumner selapis, tercat pucat. Batas sel jelas, sering terlihat pada penampang memanjang. 17 2.2.3 Fisiologi Ginjal Ginjal berfungsi untuk mempertahankan volume dan komposisi cairan ektrasel dalam batas normal. Fungsi ini dikontrol oleh filtrasi glomerulus, reabsorbsi dan sekresi tubulus. 18 Fungsi utama ginjal : a. Fungsi ekskresi : Mempertahankan osmolalitas plasma dengan mengatur ekskresi air Mempertahankan kadar elektrolit plasma dalam rentang normal Mempertahankan ph plasma dengan mengeluarkan kelebihan H + dan membentuk kembali HCO3 - Mengekskresikan produk akhir dari metabolisme protein, terutama urea, asam urat dan kreatinin

21 b. Fungsi non-ekskresi : Menghasilkan eritroprotein, prostaglandin, renin Metabolisme vitamin D Degradasi insulin 2.2.4 Pengaruh Membran Plasma pada Pembusukan Membran plasma merupakan selaput tipis, halus, dan elastis yang menyelubungi permukaan sel. Membran plasma terbentuk oleh molekul-molekul lipid dan protein, yang susunan presentasenya sekitar 35% lipid, 62% protein, dan 3% polisakarida. Lipid pada membran plasma adalah fosfolipid dan glikolipid, selain itu juga terdapat kolesterol. Protein pada membran plasma ada 2 jenis, yaitu protein intrinsik dan protein ekstrinsik. Peranan protein membran plasma adalah (a) memberikan kekuatan struktural pada membran plasma; (b) sebagai enzim untuk mengatalisis reaksi reaksi kimia dalam membran plasma; (c) sebagai protein pembawa untuk transport zat-zat tertentu melalui membran plasma, dan (d) menguraikan atau mendesak zat-zat lipid dan member pori-pori pada membran plasma. 27

22 Sifat-sifat khas membran plasma, diantaranya : a. makromolekul tidak dapat melewati membran plasma sehingga sitoplasma yang sebagian besar berupa protein tetap terkurung oleh membran plasma. b. membran plasma sebagai pelindung sel mampu menjaga keseimbangan elektrolit. c. membran plasma mempunyai kemampuan mengadakan transportasi aktif. d. membran plasma mampu melaksanakan transportasi air. e. zat-zat yang larut dalam lipid dapat pula melewati membran sel. Peranan membran plasma yang penting, antara lain a. Pengatur keluar masuknya zat dari dan ke dalam sel b. Tempat berlangsungnya beberapan reaksi kimia c. penghubung transfer energy antara bagian dalam dan luar sel. Semua membran plasma merupakan susunan cair sehingga mampu berperan sebagai pelarut protein membran. 27 Ginjal dibungkus oleh jaringan fibros tipis dan mengkilap yang disebut kapsula fibrosa ginjal dan di luar kapsul ini terdapat jaringan lemak perirenal. Unit fungsional dasar dari ginjal adalah nefron yang berfungsi sebagai regulator air dan zat terlarut terutama elektrolit, dalam tubuh dengan cara menyaring darah, kemudian mereabsorpsi cairan dan molekul yang masih diperlukan tubuh. Molekul dan sisa cairan lainnya akan dibuang. Dinding kapiler dari glomerulus memiliki pori-pori untuk filtrasi atau penyaringan. Lengkung

23 Henle menjaga gradien osmotik dalam pertukaran lawan arus yang digunakan untuk filtrasi. Sel yang melapisi tubulus memiliki banyak mitokondria yang menghasilkan ATP dan memungkinkan terjadinya transpor aktif untuk menyerap kembali glukosa, asam amino, dan berbagai ion mineral. Pada transport aktif selain dibutuhkan energi juga dibutuhkan dua karier yang berbeda, yaitu yang berfungsi mengikat ion Na dan yang berfungsi mengikat ion K. Bila kadar ion Na diluar sel cukup tinggi maka daya mengikat dari karier dalam mengikat ion K mengurang sehingga ion K yang masuk ke dalam sel juga mengurang dan dnegan demikian keseimbangan elektrolit di luar sel akan tetap terjamin, sebaliknya apabila kadar ion K dalam sel cukup tinggi maka kemampuan mengikat karier terhadap ion Na juga mengurang sehingga ion Na yang keluar dari sel juga menurun dan dengan demikian keseimbangan elektrolit dalam sel akan terpelihara. 26 Siklus glutamil berperan dalam transport asam amino ke dalam ginjal. Asam amino ekstrasel bereaksi dengan glutation ( -glutamil-sistein-glisin) dalam reaksi yang dikatalisis oleh transpeptidase yang terdapat di membran sel. Terbentuk sebuah asam amino y-glutamil, yang melintas membran sel dan melepaskan asam aminonya di dalam sel. Produk lain dari reaksi ini diubah kembali menjadi glutation. 28

24 2.2.5 Patologi Ginjal 2.2.5.1 Gagal Ginjal Gagal ginjal timbul jika ginjal tidak mampu melakukan fungsinya yaitu membuang zat sisa dari dalam darah. 14 Ada berbagai jenis gagal ginjal. Ada yang menyerang satu ginjal atau keduanya. Gejalanya disebabkan oleh timbunan zat sisa. Gagal ginjal akut timbul dengan cepat dan dapat disebabkan oleh gangguan, seperti kehilangan darah, serangan jantung, toksin, atau infeksi ginjal. Gejala meliputi penurunan keluaran urin, mengantuk, sakit kepala, mual, dan muntah. Gagal ginjal kronik berkembang perlahan. Kelainan ini disebabkan oleh penyakit ginjal polikistik atau tekanan darah tinggi jangka panjang. Gejala meliputi sering buang air kecil, sesak nafas, iritasi kulit, mual, muntah, serta kejang otot dan kram. Pada tahap akhir gagal ginjal, kedua ginjal telah kehilangan seluruh fungsinya dan memerlukan dialisis atau transplantasi ginjal. 14 2.2.5.2 Nekrosis tubulus akut Nekrotik Tubular Akut (NTA) adalah suatu keadaan yang ditandai secara morfologik oleh destruksi sel epitel tubulus dan secara klinik oleh supresi akut fungsi ginjal, dibedakan atas NTA iskemik dan NTA nefrotoksik. NTA nefrotoksik disebabkan oleh berbagai bahan seperti toksin, obat obatan, atau konsentrasi tinggi zat yang potensial merusak dan berbahaya seperti zat kimia dan

25 logam berat. Kerusakan tubulus proksimal ginjal akibat zat nefrotoksik terlihat dari adanya penyempitan tubulus proksimal, nekrosis sel epitel tubulus proksimal dan adanya hialin cast di tubulus distal. 55 Tampak juga degenerasi tubulus proksimal yang mengandung debris, tetapi membrana basalis utuh. Patogenesis Nekrotik Tubular Akut (NTA) dapat terjadi karena berkurangnya aliran darah ke ginjal sebagai akibat suatu penurunan tekanan darah misalnya pada pasien yang mengalami syok (perdarahan, trauma, luka bakar, trauma, obstruksi usus, reaksi transfusi, operasi). Karena epitel tubulus-tubulus ginjal terutama tubulus proksimal sangat peka terhadap suatu iskemia, maka jaringan ini dalam batas batas tertentu akan mengalami kerusakan, walaupun sisa jaringan ginjal lainnya tampak seperti tidak mengalami kelainan. NTA merupakan penyebab terpenting dari gagal ginjal akut, dengan gejala klinis oliguria yang dilanjutkan diuresis. Adanya kerusakan tubulus menyebabkan retensi cairan, sehingga terjadi uremia, hiperkalemia, edem, ketidakseimbangan elektrolit, asidosis, peningkatan blood urea nitrogen (BUN) sekitar 25-30mg/dl per-hari, dan kreatinin kira-kira 2,5mg/dl per-hari. Nefrotoksisitas akibat zat toksik dapat menyatukan beberapa jalur molekuler apoptosis, termasuk menghilangkan molekul protektif intraseluler dan menginduksi stres retikulum endoplasma pada glomerulus ginjal, yang menyebabkan stres oksidatif dan inflamasi pada sel-sel podosit serta mesangial glomerulus.

26 2.3 Kematian Sel Kerusakan sel dapat disebabkan karena proses fisik, kimiawi maupun mikroorganisme, yang dapat bersifat reversible dan berakhir pada kematian sel. Nekrosis adalah perubahan morfologi akibat tindakan degradasi progresif oleh enzim enzim pada sel yang terjejas letal. Proses penting yang menunjukkan perubahan nekrosis adalah pencernaan sel enzim dan denaturasi protein. Enzim katalitik berasal dari lisosom sel mati yang mencerna secara enzimatik dinamakan sebagai autolysis, sedangkan yang berasal dari lisosom leukosit imigran disebut heterolysis. 22,23 Tanda kematian sel dapat dilihat pada inti selnya. Perubahan inti pada kematian sel dapat dibagi menjadi tiga, yaitu kariolisis, piknosis, dan karioreksis. Kariolisis adalah gambaran kromatin basofil menjadi pucat dan diduga mencerminkan aktifitas DNAse pada penurunan ph sel. Piknosis ditandai dengan pengisutan inti dan bertambahnya basofil. DNA sedikit menggumpal menjadi massa solid, basofil dan mengisut. Karioreksis adalah sel dengan inti piknosis atau sebagian yang piknosis mengalami fragmentasi. Inti pada sel nekrosis sama sekali menghilang pada satu sampai dua hari. Sitoplasma berubah menjadi masa asidofil suram bergranula. Asidofil mencerminkan afinitas terhadap zat warna asam (eosinofil) yang sebagian sebagai akibat denaturasi protein sitoplasma. Selanjutnya sel nekrosis berubah menjadi bangkai asidofil tanpa inti. 22,23