MODEL PERSAINGAN DUOPOLI YANG MEMPERTIMBANGKAN BELANJA PEMASARAN

dokumen-dokumen yang mirip
PDF Compressor Pro KATA PENGANTAR. Jurnal Ilmiah Teknik Industri dan Informasi -- 1

Model Kerusakan Inventori dan Backlog Parsial

SATUAN ACARA PERKULIAHAN

MODEL OLIGOPOLI DASAR

PENGARUH MOTIVASI DAN LINGKUNGAN KERJA TERHADAP PRESTASI KERJA KARYAWAN PADA PERUSAHAAN Mei Indrawati

BAB II LANDASAN TEORI

FORMULIR RANCANGAN PERKULIAHAN PROGRAM STUDI ADVERTISING AND MARKETING COMMUNICATIONS FAKULTAS ILMU KOMUNIKASI

Dynamic Economic Dispatch Menggunakan Pendekatan Penelusuran Ke Depan

PROSES MARKOV KONTINYU (CONTINOUS MARKOV PROCESSES)

ANALISA DAN PERANCANGAN STRATEGI E-MARKETING PADA PT. RAJAWALI MEGAH SEJAHTERA

BAB II. PEMROGRAMAN LINEAR

MODUL DASAR-DASAR PEMASARAN (3 SKS)

Jl. Veteran 2 Malang

Analisis Matematika Kurva Isoprofit Model Stackelberg dalam Pasar Duopoli Mathematical Analysis Isoprofit Curve of Stackelberg Model in Duopoly Market

PEMODELAN ARUS LALU LINTAS ROUNDABOUT

SATUAN ACARA PERKULIAHAN

BAB 6 KESIMPULAN DAN SARAN

BAB 5 KESIMPULAN DAN SARAN

ANALISIS PENETAPAN DISKON DALAM DUAL CHANNEL SUPPLY CHAIN (Studi Kasus PT. INDOPROM INDONESIA Cabang Surabaya)

Sistem Informasi Pemasaran, Lingkungan Makro Pemasaran, Sistem Riset Pemasaran dan Proses Riset Pemasaran

SATUAN ACARA PENGAJARAN (SAP) SEMESTER GANJIL 2010/11. Kode Mata kuliah : EA Beban Kredit : 4 sks

Pertemuan Ke 5. Bentuk Pasar

Analisis Matematika Kurva Isoprofit Model Cournot dalam Pasar Duopoli Mathematical Analysis Isoprofit Curves Of Cournot Model in Duopoly Market

KONTRAK PERKULIAHAN SEMESTER GENAP TAHUN AKADEMIK Deskripsi Mata Kuliah

BAB V PENUTUP. terhadap Perilaku Pembelian Konsume Mie Instan Indomie di Surabaya dan serta

PERANCANGAN E-MARKETING PADA PT. TOKO DJEMPOL BERBASIS WEB

Pasar Oligopoli & Arsitektur Perusahaan. Dr. Muh. Yunanto, MM Pertemuan ke-8

SATUAN ACARA PENGAJARAN (SAP)

3. Private label adalah produk yang hanya menanggung nama pengecer. 4. Sub merek sendiri membawa nama pengecer tapi produk yang memiliki posisi yang

Journal Knowledge Industrial Engineering (JKIE)

PENGARUH EXTENDED WARRANTY DARI RETAILER TERHADAP PERFORMANSI SUPPLY CHAIN

BAB 5 SIMPULAN DAN SARAN 5.1 Simpulan Dari hasil pengujian hipotesis dan pembahasan, maka kesimpulan yang dapat dijelaskan dalam penelitian ini

IMPLEMENTASI RELATIONSHIP MARKETING SEBAGAI STRATEGI MEMPERTAHANKAN LOYALITAS PELANGGAN

METODE SIMPLEKS DALAM PROGRAM LINIER

BAB 2 LANDASAN TEORI DAN KERANGKA PEMIKIRAN

PENDEKATAN SEDERHANA UNTUK FORMULASI MODEL UKURAN LOT GABUNGAN SINGLE-VENDOR MULTI-BUYER

UKURAN LOT PRODUKSI DAN BUFFER STOCK PEMASOK UNTUK MERESPON PERMINTAAN PROBABILISTIK

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang Masalah. Populasi adalah kumpulan individu dari suatu spesies yang sama yang

Rina Tinarty Sihombing, Henry Rani Sitepu, Rosman Siregar

BAB V PENUTUP. a. Mayoritas responden yang menjadi obyek pada penelitian ini adalah pria. yaitu sebanyak 57 orang atau sebesar 57%.

STRATEGI PEMASARAN DALAM PERSAINGAN BISNIS FOFON JASMAN S1 TI 2H STMIK AMIKOM YOGYAKARTA BAB I PENDAHULUAN

BAB II TINJAUAN LITERATUR

PERUBAHAN PARADIGMA MANAJEMEN LAMA DAN KOTEMPORER: MEMAHAMI INFORMASI AKUNTANSI BIAYA. Agusman

Versi : 4 Tanggal Revisi : 07 Juni 2012 Revisi : 4 Tanggal Berlaku: 03 September 2012 KONTRAK PERKULIAHAN. Deskripsi Mata Kuliah

STRATEGI PEMASARAN DALAM PERSAINGAN BISNIS

STUDI PENGGUNAAN PACKING PLANT PADA DISTRIBUSI SEMEN DI KALIMANTAN MENGGUNAKAN METODE TRANSSHIPMENT: STUDI KASUS PT. SEMEN GRESIK

BAB V KESIMPULAN. 5.1 Kesimpulan. Penelitian ini dilakukan untuk melihat penerapan Total Quality

BAB VI FUNGSI KUADRAT (PARABOLA) a < 0 dan D = 0 a < 0 dan D < 0. a < 0 0 x 0 x

perubahan pada pola konsumsi obat yang terbuat dari bahan alami, dalam merawat kesehatannya masyarakat dunia banyak yang memanfaatkan obat

OPTIMASI KEUNTUNGAN DENGAN MENGGUNAKAN BAURAN PRODUK DI PT. XX

BAB 5 SIMPULAN DAN SARAN 5.1. Simpulan Berdasarkan dari hasil analisis dan pembahasan maka simpulan yang dapat dirumuskan adalah sebagai berikut: 1.

Persaingan Monopolistik dan Oligopoli. Abd. Jamal, S.E., M.Si

BAB 6 KESIMPULAN DAN SARAN

BAB V SIMPULAN DAN SARAN

BAB I PENDAHULUAN. 1,49% per tahun ( Pada tahun 2013 jumlah penduduk Indonesia

SATUAN ACARA PERKULIAHAN

MOTIVASI BERBELANJA KONSUMEN PADA PASAR TRADISIONAL DAN PASAR SWALAYAN DI KOTA MADIUN. Rindyah Hanafi

Formulasi dengan Lindo. Dasar-dasar Optimasi. Hasil dengan Lindo 1. Hasil dengan Lindo 2. Interpretasi Hasil. Interpretasi Hasil.

Materi 11 Ekonomi Mikro

TUGAS E- BISNIS. Di susun oleh: Nama : Nur Rokhayati NIM : Kelas : S1 TI 6A STMIK AMIKOM YOGYAKARTA

Dasar-dasar Optimasi

MODEL OPTIMASI ECONOMIC ORDER QUANTITY DENGAN SISTEM PARSIAL BACKORDER DAN INCREMENTAL DISCOUNT

Silabus Manajemen Pemasaran 2

BAB 7 SIMPULAN DAN SARAN

Usulan Manajemen Persediaan pada PT X yang Meminimasi Expected Total Cost dengan Mempertimbangkan Known Price Increase

SATUAN ACARA PERKULIAHAN

BAB 5 SIMPULAN DAN SARAN

BAB V PENUTUP. Berdasarkan hasil analisis data mengenai penerapan target costing dalam

OPTIMASI PERENCANAAN PRODUKSI CAT DI PT. XYZ DENGAN METODE MIXED INTEGER PROGRAMMING

OPTIMASI PENGADAAN BAHAN BAKU SEGAR DI PT. X DENGAN METODE LINEAR PROGRAMMING

ANALISIS PENGARUH KUALITAS PRODUK, HARGA DAN PROMOSI TERHADAP KEPUTUSAN PEMBELIAN AIR MINERAL KEMASAN (Studi Kasus Desa Tohudan, Colomadu Karanganyar)

Wulansari Budiastuti, S.T., M.Si.

PERENCANAAN & PENGENDALIAN PRODUKSI TIN 4113

Kata Kunci: Persepsi Nilai, Persepsi Kualitas, Citra Perusahaan, Kepuasan Konsumen, Loyalitas Konsumen

BAB LINEAR PROGRAMMING : METODE GRAFIK PENDAHULUAN PENDAHULUAN

ANALISIS KEBIJAKAN PEMBIAYAAN PENYELENGGARAAN PENDIDIKAN BERBASIS KERJASAMA INDUSTRI

BAB 6 SIMPULAN DAN SARAN

FAMILI METODE ITERASI DENGAN KEKONVERGENAN ORDE TIGA. Rahmawati ABSTRACT

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN. melakukan pengamatan, pengumpulan data, dan. melakukan analisis atas data yang telah diperoleh dari perusahaan Bakpia

PASAR MONOPOLI, OLIGOPOLI, PERSAINGAN SEMPURNA

BAB 2 PROGRAM LINEAR

Pertemuan 4 STRATEGI PEMASARAN DALAM BERBAGAI POSISI PERSAINGAN

Usulan Rute Distribusi Tabung Gas Menggunakan Algoritma Ant Colony Systems di PT. Limas Raga Inti

Prosiding Manajemen Komunikasi ISSN:

IMC 2. Analisa Situasi Pasar : Porter, GE Matrix, Past performance. Berliani Ardha, SE, M.Si. Red tulips are associated with love.

BAB 5 SIMPULAN DAN SARAN

MODEL LOGISTIK DENGAN DIFUSI PADA PERTUMBUHAN SEL TUMOR EHRLICH ASCITIES. Hendi Nirwansah 1 dan Widowati 2

BAB 5 SIMPULAN DAN SARAN

Bab I Pendahuluan. I.1 Latar Belakang

BABS SIMPULAN DAN SARAN

EFEKTIFITAS MODEL KARAKTERISTIK ARUS LALU LINTAS DI RUAS JALAN RAYA RUNGKUT MADYA KOTA MADYA SURABAYA ( PERBANDINGAN MODEL GREENSHIELD DAN GREENBERG)

DAFTAR PUSTAKA. Angipora, M. Dasar-Dasar Manajemen Pemasaran PT. Raja Grafindo Persada, Jakarta.

Transkripsi:

MODEL PERSAINGAN DUOPOLI YANG MEMPERTIMBANGKAN BELANJA PEMASARAN Farham HM Saleh Fak. Teknologi Industri UII Yogyakarta e-mail: farham@fti.uii.ac.id ABSTRAK Pada tingkat prsaingan yang semakin ketat, perusahaan berusaha mempertahankan bahkan memperluas pangsa pasarnya dengan berbagi cara. Salah satu cara yang paling banyak digunakan dalam pasar persaingan yang fair adalah melalui belanja pemasaran. Pada pesaingan duopoli perilaku satu perusahaan berpengaruh signifikan terhadap perilaku perusahaan pesaing, sehingga ketika perusahaan yang satu berusaha memperluas pangsa pasar melalui belanja pemasaran, maka perusahaan pesaingpun akan melakukan hal yang sama. Untuk itu pada penelitian ini ingin diformulasikan model matematik yang dapat menggambarkan perilaku pesaingan duopoli yang mempertimbangkan faktor belanja pemasaran. Faktor belanja pemasaran tersebut dalam model direpresentasikan dengan fungsi biaya yang berbentuk fungsi kuadrat. Hasil penelitian menunjukkan bahwa biaya unit sangat berpengaruh terhadap output yang dihasilkan perusahaan. Oleh karena itu usaha belanja pemasaran harus dengan penuh pertimbangan dan kehati-hatian karena dapat berdampak pada biaya unit yang semakin besar. Keywords: model, persaingan, duopoli, belanja, pemasaran. 1. PENDAHULUAN Perkembangan teknologi yang demikin pesat, kemudahan lalu lintas barang, jasa, orang, industri, teknologi dan informasi antar negara bahkan antar benua, berdampak pada penyebaran pertumbuhan berbagai macam industri di berbagai negara dan belahan dunia. Perkembangan dan penyebaran teknologi yang pesat tersebut berdampak pada biaya unit yang semakin murah. Namun demkian pertumbuhan dan penyebaran indusri menyebabkan tingkat persaingan yang terjadi semakin ketat. Tingkat persaingan yang semakin ketat menyebabkan perusahaan atau industri melakukan berbagai usaha untuk mempertahankan bahkan mengembangkan pangsa pasarnya, antara lain melalui pemasaran yang intensif seperti promosi, iklan dan lainnya. Pemasaran suatu produk tentu berkaitan dengan biaya atau belanja pemasaran (marketing expenditure), yang tentu cukup besar. Misalnya saja biaya iklan di TV sebesar Rp 10.000.000,- (sepuluh juta rupiah) per 15 detik (Yahoo.com, 12 April 2011 jam 07.45). Dalam persaingan duopoli, perilaku satu perusahaan akan berpengaruh signifikan terhadap perusahaan pesaing, sehingga terjadi saling ketergantungan antara kedua perusahaan tersebut (Farham, 2011). Dengan karakteristik tersebut maka setiap keputusan yang diambil satu perusahaan akan berpengaruh langsung pada keputusan yang diambil oleh perusahaan pesaing. Setiap perusahaan tentu berusaha mendapatkan hasil yang lebih dibandingkan pesaing. Dalam penelitian ini perilaku persaingan duopoli diformulasikan dalam model matematik yang mempertimbangkan belanja pemasaran yang direpresentasikan dengan fungsi biaya (cost function) yang berbentuk fungsi kuadrat (quadratic cost function). Fungsi biaya yang berbentuk fungsi kuadrat digunakan juga oleh Benabess [2010] untuk mengakomodir perkembangan teknologi. Penelitian permasalahan persaingan duopoli yang diformulasikn dalam bentuk model matematik dilakukan antara lain oleh Chang [1992]. Chang [1992] mengembangkan model optimasi persaingan duopoli dua tingkat yaitu supplier dan produsen, yang masing-masing berstruktur duopoli. Supplier memproduksi produk intermediet untuk disuplai ke kedua perusahaan produsen yang menghasilkan produk akhir. Powel dan Oren [1989] mengembangkan model duapoli antara Market Leader dan Market Follower. Cournot [1838] dalam Laidler dan Estrin [1995] mengembangkan model persaingan duopoli A-118

dengan asumsi fungsi biaya kedua perusahaan sama dan kurva permintaan keduanya bersifat linier. Farham [2005] mengembangkan lebih lanjut model persaingan duopoli Cournot [1838] dengan kurva permintaan bersifat eksponensial dan persaingan antara Market Leader dan Market Follower dengan masing-masing menerapkan lebih dari satu strategi, namun fungsi biaya sama dengan model Cournot [1838]. Pada penelitian ini akan dikembangkan model matematik persaingan duopoli yang mempertimbangkan belanja pemasaran yang direpresentasikan dalam bentuk fungsi biaya yang berbentuk fungsi kuadrat. D d B d A k A k B F A F B p Total permintaan pasar untuk kedua perusahaan (D = d A + d B ), unit Kuantitas permintaan pasar atau jumlah produksi perusahaan A, unit Kuantitas permintaan pasar atau jumlah produksi perusahaan A, unit Konstanta transformasi pemintaan pasar menjadi biaya Konstanta transformasi pemintaan pasar menjadi biaya Biaya tetap perusahaan A, Rp Biaya tetap perusahaan B, Rp Harga jual, Rp/unit Referensi lain yang juga dijadikan acuan dalam penelitian ini adalah Basyam [1996] dan Wernerfelt [1985], 2. PERSAINGAN DUOPOLI Telah dikemukan di atas bahwa pada persaingan duopoli karena hanya dua perusahaan yang bersaing maka keputusan yang dilakukan oleh satu perusahaan berpengaruh signifikan terhadap perusahaan pesaing, sehingga persaingan kedua perusahaan akan terlihat jelas. Persaingan kedua perusahaan dapat menempati salah satu dari empat posisi bersaing relative dalam pasar yaitu market leader, market challenger, market follower dan market nicher (Kotler dan Amstrong, 1991). Namun pada penelitian ini kedua perusahaan memiliki kemampuan bersaing yang relative seimbang sehingga tidak menempati salah satu dari posisi bersaing relative tersebut. Usaha kedua perusahaan dalam mempertahankan pangsa pasar (tingkat posisi bersaing) atau mengembangkan pangsa pasar dilakukan dengan usaha pemasaran produk masing-masing melalui belanja pemasaran. Perlu juga disampaikan bahwa pada pasar duopoli dimungkinkan terjadi kolusi antara kedua perusahaan, misalkan dalam menentukan harga, atau pembagian area pasar yang seimbang. Kolusi yang dilakukan kedua perusahaan, dapat dilakukan secara tertutup (diam-diam) atau dapat juga secara terbuka (terang-terangan). Namun pada penelitian ini kedua perusahaan dianggap melakukan persaingan secara fair. 3. FORMULASI MODEL Notasi-notasi yang digunakan dalam formulasi model adalah: Asumsi-asumsi yang digunakan dalam model yang diusulkan: (1) Fungsi biaya untuk kedua perusahaan merupakan fungsi kuadrat terhadap permintaan pasar masing-masing. (2) Besar biaya tetap untuk kedua perusahaan ditetapkan sama dengan 0 (nol). Hal ini mengingat model yang dikembangkan adalah model untuk sekali keputusan atau horison perencanaan terbatas. (3) Kedua perusahaan memproduksi dan menjual produk yang sama sehingga harga jual produk kedua perusahaan sama. (4) Jumlah produksi masing-masing perusahaan sama dengan jumlah permintaan pasar. Berdasarkan asumsi yang dikemukakan di atas, maka diformulasikan model seperti berikut: Fungsi biaya masing-masing perusahaan A dan B adalah: (1) (2) Keuntungan yang diperoleh perusahaan A: (3) Keuntungan yang diperoleh perusahaan B: (4) Kuantitas total permintaan pasar untuk kedua perusahaan: D = d A + d B (5) A-119

Harga jual ditentukan sesuai konsep bahwa semakin banyak produk tersedia dalam pasar, maka harga jual semakin murah: p = a b.d (6) dengan a dan b adalah konstanta. Jika Persaman (5) dan (6) disubstitusikan ke Persamaan (3) dan (4), diperoleh:... (7)... (8) Dalam persaingan antara perusahaan A dan perusahaan B, kedua perusahaan sama-sama menginginkan keuntungan maksimum. Karena syarat cukup untuk kondisi optimum adalah diferensial pertama sama dengan 0, sehingga jika Persamaan (7) dan (8) didiferensialkan dan diambil sama dengan nol, akan diperoleh: (9) (10) Persamaan (9) merupakan fungsi reaksi perusahaan A atas target penjualan dari perusahaan B. Artinya Persamaan (9) merupakan reaksi dari perusahaan A atas target yang ditetapkan oleh perusahaan B untuk memperoleh perjualan produk sebesar d B. Hal sebaliknya untuk perusahaan B yang direpresentasikan dengan fungsi reaksinya dengan Persamaan (10). Kesetimbangan akan terjadi dalam pasar jika keinginan kedua perusahaan sesuai atau jika persamaan reaksi keduanya berpotongan. Jika Persamaan (9) disubstitusikan ke Persamaan (10), sebaliknya Persamaan (10) disubstitsikan ke Persamaan (9), maka diperoleh: 4. ANALISIS PERILAKU MODEL (11) (12) Model persaingan duopoli dengan mempertimbangkan belanja pemasaran (marketing expenditure) yang direpesentasikan dalam bentuk fungsi biaya yang berbentuk fungsi kuadrat (quadratic cost function) telah menghasilkan model sebagaimana ditunjukkan Persamaan (7) dan (8) dengan solusi dari masingmasing model ditunjukkan Persamaan (11) dan (12). Untuk kebutuhan analisis perilaku model matematik persaingan duopoli yang dihasilkan, digunakan data hasil penelitian yang dilakukan oleh Erni [2011]. Erni [2011] meneliti persaingan dua perusahaan obat sebagai pemasok obat tertentu pada Rumah Sakit ABC Semarang, yaitu perusahaan obat PT. X dan PT. Y. Data yang digunakan adalah khusus data pada bulan Agustus 2009. Data tersebut ditunjukkan Tabel 4.1. Tabel 4.1: Data volume penjualan, harga jual dan biaya PT. X dan PT. Y No. Bentuk Data Keterangan 1. Volume penjualan PT. X 180 2. Volume penjualan PT. Y 120 3. Biaya yang dikeluarkan PT. X Rp 15.490 per 4. Biaya yang dikeluarkan PT. Y Rp 19.350 per 5. Harga jual Rp 66.000 per 6. Nilai parameter b = 162 Dengan menggunakan data Tabel 4.1 di atas dengan mengasumsikan biaya tetap F A = F B =0, dari Persamaan (1) dan (2) diperoleh nilai k A = 80 dan k B = 161 atau jika diambil k A = k B = k, maka nilai k terletak pada interval: 80 k 161. 4.1 Untuk k A = k B = k Kondisi k A = k B = k dimungkinkan terjadi pada keadaan struktur biaya sama dan pengeluaran untuk belanja pemasaran sama. Jika kondisi ini yang terjadi maka kedua perusahaan memperoleh A-120

output (hasil) yang sama sehingga Persamaan (11) dan (12) menjadi: (13) Menggunakan nilai dalam Tabel 4.1 di atas dan dengan menetapkan nilai parameter k = 80, 100 dan 160, maka kedua perusahaan memperoleh hasil: - Untuk k = 80, maka d A = d B = 341 - Untuk k = 100, maka d A = d B = 122 - Untuk k = 160, maka d A = d B = 94 Hasil perhitungan dengan harga k yang bervariasi antara 80 sampai 160 menunjukkan bahwa dengan semakin besar nilai parameter k maka output yang diperoleh perusahaan semakin kecil. Parameter k merupakan biaya unit, sehingga perusahaan yang ingin menghasilkan output yang lebih besar harus berusaha menekan biaya unit. 4.2 Untuk nilai k A k B Kondisi k A k B dimungkinkan terjadi pada setiap kondisi baik pada kondisi terjadi kerjasama maupun terjadi persaingan secara fair antara kedua perusahaan. Hal ini dapat terjadi karena struktur biaya dan kemampuan dalam pengelolaan biaya pada setiap perusahaan belum tentu sama dan kondisi ini yang umum terjadi di lingkungan industri. Untuk kondisi dengan k A k B, maka sesuai dengan Persamaan (11) dan (12), kedua perusahaan akan mengahasilkan output sebesar 112 unit produk untuk perusahaan A dan 74 unit produk perusahaan B. Dengan demikian terlihat dengan jelas bahwa setiap perusahaan yang ingin menghasilkan output yang besar, harus mampu menekan biaya unit. 4.3 Pengaruh Sensitifitas Ketersediaan Produk Sensitifitas harga produk terhadap ketersediaan barang dalam pasar digambarkan dengan parameter b. Untuk menganalisis pengaruh sensitifitas ketersediaan barang dalam pasar terhadap output yang dihasilkan oleh masingmasing perusahaan digunakan nilai parameter b = 100, 160 dan 200. Dengan menggunakan Persamaan (11) dan (12), maka output yang dihasilkan perusahaan A dan perusahaan B ditunjukkan Tabel 4.2. Tabel 4.2: Output masing-masing perusahaan untuk nilai parameter b=100, 160 dan 200. Perusahaan Nilai parameter b, b = 100 b = 160 b = 200 Perusahaan A 157 124 95 Perusahaan B 96 82 65 Dengan memperhatikan hasil perhitungan yang ditunjukkan Tabel 4.2, semakin besar nilai b maka output yang dihasilkan masing-masing perusahaan semakin sedikit. Namun demikian laju penurunan output perusahaan A semakin kecil dengan semakin besarnya nilai parameter b sedangkan laju penurunan perusahaan B semakin besar. Hal ini merupakan dampak lain dari biaya unit masing-masing perusahaan. 5. KESIMPULAN DAN SARAN 5.1 Kesimpulan Dari uraian dan analisis yang diakukan di atas dapat disimpulkan sebagai berikut: a) Untuk kondisi dimana biaya unit kedua perusahaan sama atau k A = k B = k, maka output yang diperoleh kedua perusahaan sama. Besaran output yang diperoleh kedua perusahaan, dipengaruhi oleh besarnya biaya unit masing-masing. b) Untuk kondisi dimana biaya unit kedua perusahaan berbeda atau k A k B, maka perusahaan yang mampu menekan biaya unit dalam hal ini perusahaan A memperoleh output yang lebih besar dibandingkan perusahaan B. c) Dalam hal sensitifitas ketersediaan barang dalam pasar terhadap output masingmasing perusahaan, maka perusahaan A yang mampu menekan biaya unit, penurunan jumlah outputnya lebih kecil dibandingkan perusahaan B yang justru semakin besar. 5.2 Saran Saran yang dapat diberikan dari hasil penelitian ini adalah: a) Dalam kondisi persaingan duopoly dimana terjadi persaingan secara fair, maka perusahaan sebaiknya berusaha menekan biaya unit agar dapat memperoleh output yang lebih besar. b) Penelitian lanjut disarankan untuk pasar duopoli yang mungkin melibatkan perusahaan publik, karena sekarang A-121

semakin banyak perusahaan termasuk BUMN yang go public. DAFTAR PUSTAKA Basyam, T.C.A, 1996, Competitive Capacity Expansion under Demand Uncertaity, European Journal of Operational Research, Vol. 95(1), 89-114 Benabes., N., 2010., Partial Privatization in Mixed Duopoly, The Bisiness Review, Cambridge, Vol. 16, Num. 2, December 2010, p.64-70 Chang MH., 1992, Exclusive Dealing Contracts in a successive Duoply with Side Payments, Southerm Economic Journal, ABI/INFORM Global Erni., 2011., Model Optimasi Persaingan Duopoli, Kasus: Penjualan Obat Tertentu oleh PT X dan PT. Y di Rumah Sakit ABC Semarang, Tesis Magister Teknik Industri UII Yogyakarta Farham., 2005, Model Ekspansi Kapasitas yang Mempertimbangkan Persaingan Duopoli dan Inovasi Teknologi Untuk Horison Perencanaan Terbatas, Jurnal TEKNOIN Fakultas Teknologi Industri UII Yogyakarta, Vol. 10 (1), 61-74 Farham., 2011, Analisis Sistem dan Pemodelan Matematik, Cetakan Pertama, Penerbit Navila, Yogyakarta. Kotler, P. and G. Armstrong, 1991, Principles of Marketing, 5 th ed., Englewood Cliffs, N.J.: Prentice Hall International, Inc. Laidler, D and Estrin, S.,1989, Introduction to Microeconomics, Third Edition, Philip Allan, London Powel; S.G and Oren, S.S, 1989, The Transition to Nondepletable Energy: Social Planning and market Models of Facility Expansion, Operations Research, Vol. 37 No. 3, 373-383 Wernerfelt, B., 1985, The Dynamics of Prices and Market Shares over Product Life Cycle, Management Science, Vol. 31, No. 8, 928-939 A-122