Riski Noor Adha 1, Rafael Djajakusli 1, Masyitha Muis 1.

dokumen-dokumen yang mirip
FAKTOR YANG BERHUBUNGAN DENGAN KEJADIAN GANGGUAN FUNGSI PARU PADA PEKERJA TAMBANG BATUBARA PT. INDOMINCO MANDIRI KALIMANTAN TIMUR TAHUN 2012.

HUBUNGAN PAPARAN DEBU DENGAN KAPASITAS FUNGSI PARU PEKERJA PENGGILINGAN PADI DI KABUPATEN SIDRAP

Muktamar Umakaapa 1, Muhammad Rum Rahim 1, Lalu Muhammad Saleh 1. (

Faktor-Faktor Yang Berhubungan Dengan Gangguan Fungsi Paru Pada Pekerja di PT. Tonasa Line Kota Bitung

HUBUNGAN KADAR DEBU DENGAN KAPASITAS PARU PADA TENAGA KERJA DI BAGIAN CEMENT MILL PT.SEMEN BOSOWA MAROS

* Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Sam Ratulangi Manado

*Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Sam Ratulangi Manado

FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI KEJADIAN INFEKSI SALURAN PERNAPASAN AKUT (ISPA) PADA PEKERJA BAGIAN RING SPINNING

FAKTOR YANG BERHUBUNGAN DENGAN KAPASITAS PARU TENAGA KERJA DI PT EASTERN PEARL FLOUR MILLS KOTA MAKASSAR

Rimba Putra Bintara Kandung E2A307058

HUBUNGAN PERILAKU PENGGUNAAN MASKER DENGAN GANGGUAN FUNGSI PARU PADA PEKERJA MEBEL DI KELURAHAN HARAPAN JAYA, BANDAR LAMPUNG

PENGARUH PAPARAN DEBU KAYU TERHADAP KAPASITAS VITAL PARU PADA PEKERJA DI PT. UTAMA CORE ALBASIA KECAMATAN CANGKIRAN TAHUN 2016

FAKTOR-FAKTOR YANG BERHUBUNGAN DENGAN FUNGSI PARU PADA PEKERJA PEMBUAT BATU BATA DI KELURAHAN PENGGARON KIDUL KECAMATAN PEDURUNGAN SEMARANG TAHUN 2015

* Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Sam Ratulangi Manado ** Fakultas Kedokteran Universitas Sam Ratulangi

HUBUNGAN ANTARA LAMA PAPARAN DEBU KAYU DENGAN KAPASITAS VITAL PARU PADA PEKERJA KAYU DI KECAMATAN KELAPA LIMA TAHUN 2015

Kata Kunci: Lama Kerja, Penggunaan Alat Pelindung Diri, Kapasitas Vital Paru

BAB 1 PENDAHULUAN. solusi alternatif penghasil energi ramah lingkungan.

HUBUNGAN PAPARAN PARTIKEL DEBU KAYU DENGAN GANGGUAN FUNGSI PARU PADA PEKERJA MEBEL DI UD. SURYA ABADI FURNITURE, GATAK, SUKOHARJO

Analisis Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Gangguan Faal Paru Pada Perusahaan Galangan Kapal

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. Pada era globalisasi telah terjadi perkembangan di berbagai aspek

FAKTOR-FAKTOR YANG BERHUBUNGAN DENGAN GANGGUAN FUNGSI PARU PADA PEKERJA DI UNIT BOILER INDUSTRI TEKSTIL X KABUPATEN SEMARANG

HUBUNGAN ANTARA MASA KERJA DENGAN KAPASITAS FUNGSI PARU PADA PEKERJA MEBEL

BAB I PENDAHULUAN. maupun di luar rumah, baik secara biologis, fisik, maupun kimia. Partikel

ANALISIS FAKTOR RISIKO YANG BERHUBUNGAN DENGAN KAPASITAS VITAL PARU TENAGA KERJA BONGKAR MUAT (TKBM) NON KONTAINER DI IPC TPK KOTA PONTIANAK

HUBUNGAN PAPARAN DEBU KAYU DI LINGKUNGAN KERJA TERHADAP GANGGUAN FUNGSI PARU PADA PEKERJA DI PT. ARUMBAI KASEMBADAN, BANYUMAS

Muhammad Miftakhurizka J

PENGARUH KARAKTERISTIK DAN KADAR DEBU AMBIEN TERHADAP KAPASITAS VITAL PARU PADA PENYAPU JALAN DI KECAMATAN MEDAN AMPLAS KOTA MEDAN TAHUN 2015 TESIS

HUBUNGAN PAPARAN DEBU KAPUR DENGAN PENURUNAN FUNGSI PARU PADA TENAGA KERJA PT. PUTRI INDAH PERTIWI, DESA PULE, GEDONG, PRACIMANTORO, WONOGIRI

BAB I PENDAHULUAN. kerjanya. Potensi bahaya menunjukkan sesuatu yang potensial untuk mengakibatkan

PREVALENSI GANGGUAN FUNGSI PARU PADA PEKERJA BATU PADAS DI SILAKARANG GIANYAR BALI. Fakultas Kedokteran Universitas Udayana

Kata kunci : Lama bekerja, penggunaan Alat Pelindung Diri (APD), Kebiasaan merokok, Kapasitas Vital Paru (KVP).

HUBUNGAN USIA, LAMA PAPARAN DEBU, PENGGUNAAN APD, KEBIASAAN MEROKOK DENGAN GANGGUAN FUNGSI PARU TENAGA KERJA MEBEL DI KEC.

Kata Kunci : Sampah,Umur,Masa Kerja,lama paparan, Kapasitas Paru, tenaga kerja pengangkut sampah.

LAMA PEMBELAJARAN PRAKTIK LABORATORIUM/BENGKEL DAN FUNGSI PARU MAHASISWA JURUSAN ORTOTIK PROSTETIK POLITEKNIK KESEHATAN SURAKARTA

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Pneumokoniosis merupakan penyakit paru yang disebabkan oleh debu yang masuk ke dalam saluran pernafasan

BAB I PENDAHULUAN. bahaya tersebut diantaranya bahaya faktor kimia (debu, uap logam, uap),

HUBUNGAN PAPARAN DEBU DENGAN GANGGUAN FAAL PARU DI INDUSTRI PAKAN TERNAK PT.CHAROEN POKPHAND INDONESIA SEMARANG SKRIPSI

HUBUNGAN KADAR DEBU DENGAN FUNGSI PARU PADA PEKERJA PROSES PRESS-PACKING DI USAHA PENAMPUNGAN BUTUT KELURAHAN TANJUNG MULIA HILIR MEDAN TAHUN 2013

Analisis Faktor Risiko kadar debu Organik di udara terhadap Gangguan fungsi Paru pada Pekerja Industri Penggilingan Padi di Demak

HUBUNGAN ANTARA KEPATUHAN PENGGUNAAN MASKER DENGAN KAPASITAS FUNGSI PARU PADA SUKARELAWAN PENGATUR LALU LINTAS (SUPELTAS) SURAKARTA

BAB 1 PENDAHULUAN. akibat penggunaan sumber daya alam (Wardhani, 2001).

KAPASITAS FAAL PARU PADA PEDAGANG KAKI LIMA. Olvina Lusianty Dagong, Sunarto Kadir, Ekawaty Prasetya 1

HUBUNGAN PAPARAN DEBU KAYU TERHIRUP DENGAN GANGGUAN FUNGSI PARU PADA PEKERJA DI INDUSTRI MEBEL CV. CITRA JEPARA FURNITURE KABUPATEN SEMARANG

IDENTIFIKASI KADAR DEBU DI LINGKUNGAN KERJA DAN KELUHAN SUBYEKTIF PERNAFASAN TENAGA KERJA BAGIAN FINISH MILL

Kata Kunci : Umur, Masa Kerja, Status Gizi, Kapasitas Vital Paru

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. Kesehatan kerja merupakan salah satu faktor penunjang untuk

DAFTAR ISI. SAMPUL DALAM... i. LEMBAR PERSETUJUAN... ii. PENETAPAN PANITIA PENGUJI... iii. PERNYATAAN KEASLIAN KARYA TULIS SKRIPSI... iv. ABSTRAK...

ABSTRAK. Kata Kunci : Kadar debu kayu industri mebel, keluhan kesehatan pekerja, Kepustakaan : 9 ( )

FAKTOR RISIKO GANGGUAN FUNGSI PARU PADA TENAGA KERJA INDUSTRI PENGOLAHAN KAYU DI DAERAH CARGO PERMAI, KABUPATEN BADUNG, BALI

BAB I PENDAHULUAN. ATP (Adenosin Tri Phospat) dan karbon dioksida (CO 2 ) sebagai zat sisa hasil

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN. Kelurahan Buliide, Kecamatan Kota Barat merupakan salah satu mata

BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang. Penyakit saluran nafas banyak ditemukan secara luas dan berhubungan

BAB I PENDAHULUAN. berkembang dari tahun ke tahun. Peningkatan dan perkembangan ini

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang Masalah. Perkembangan teknologi dan industri berdampak pula pada kesehatan.

PERBEDAAN GANGGUAN FUNGSI PARU PADA PEKERJA YANG TERPAPAR PARTIKULAT PM10 DIBAWAH DAN DIATAS NILAI AMBANG BATAS DI PT WIJAYA KARYA BETON BOYOLALI

*Fakultas Kesehatan Masyarakat. Universitas Sam Ratulangi Manado

FAKTOR YANG BERHUBUNGAN DENGAN KAPASITAS PARU PEKERJA PAVING BLOCK CV SUMBER GALIAN

FAKTOR-FAKTOR YANG BERHUBUNGAN DENGAN PENGGUNAAN MASKER PADA PEKERJA BAGIAN PENGHALUSAN DAN PEMOTONGAN DI PT WAROENG BATOK INDUSTRY CILACAP

BAB I PENDAHULUAN. lagi dengan diberlakukannya perdagangan bebas yang berarti semua produkproduk

HUBUNGAN ANTARA UMUR, MEROKOK, DAN TINDAKAN PENGGUNAAN ALAT PELINDUNG DIRI PADA PENGRAJIN BATU AKIK DARI BEBERAPA TEMPAT DI KOTA MANADO

Kata Kunci: Debu Kapur, Keluhan Gangguan Pernafasan

PREVALENSI GANGGUAN FUNGSI PARU PADA PEKERJA BATU PADAS DI SILAKARANG GIANYAR BALI

DETERMINAN FAKTOR YANG MEMPENGARUHI KAPASITAS PARU PADA PEKERJA PENGRAJIN KERAMIK DI KECAMATAN KLAMPOK BANJARNEGARA

Oleh: KHAIRUN NISA BINTI SALEH FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS SUMATERA UTARA MEDAN Universitas Sumatera Utara

BAB I PENDAHULUAN. keberadaannya. Terutama industri tekstil, industri tersebut menawarkan

HUBUGAN PAPARAN DEBU KAPAS DAN KARAKTERISTIK INDIVIDU DENGAN GEJALA PENYAKIT BISINOSIS PADA PEKERJA SPINNING 1 PT. X KABUPATEN SEMARANG

HUBUNGAN ANTARA LAMA PAPARAN KADAR DEBU BATU BARA DENGAN PENURUNAN KAPASITAS FUNGSI PARU PADA TENAGA KERJA DI UNIT BOILER

BAB III METODE PENELITIAN. Lokasi penelitian ini dilaksanakan di kawasan penambangan kapur

BAB I PENDAHULUAN. menyebabkan terjadinya penyakit paru kronik (Kurniawidjaja,2010).

ABSTRAK. Simpulan : Ada hubungan pengetahuan APD masker dengan kedisiplinan penggunaannya. Kata Kunci : Pengetahuan APD, Kedisiplinan

SKRIPSI FAKTOR YANG MEMPENGARUHI GANGGUAN FUNGSI PARU PADA PENGANTAR POS DI DELIVERY CENTRE SURABAYA UTARA

PENGARUH PENERAPAN PROGRAM KESELAMATAN DAN KESEHATAN KERJA TERHADAP KINERJA KARYAWAN BAGIAN PRODUKSI PT. DJITOE INDONESIAN TOBACCO SURAKARTA

BAB I PENDAHULUAN. manusia dapat lebih mudah memenuhi kebutuhan hidupnya. Keadaan tersebut

HUBUNGAN PAPARAN PARTIKEL DEBU DAN KARAKTERISTIK INDIVIDU DENGAN KAPASITAS PARU PADA PEKERJA DI GUDANG PELABUHAN BELAWAN TESIS.

BAB I PENDAHULUAN. manusia perlu mendapat perhatian khusus baik kemampuan, keselamatan, berbagai faktor yaitu tenaga kerja dan lingkungan kerja.

ABSTRAK FAAL PARU PADA PEROKOK DENGAN PENYAKIT PARU OBSTRUKTIF KRONIK (PPOK) DAN PEROKOK PASIF PASANGANNYA

BAB III METODE PENELITIAN

HUBUNGAN ANTARA UMUR, MASA KERJA DAN KEBIASAAN MEROKOK DENGAN INDEKS KESEGARAN KARDIOVASKULER PEGAWAI PEMADAM KEBAKARAN KOTA MANADO

Unnes Journal of Public Health

BAB V SIMPULAN DAN SARAN. Berdasarkan hasil analisis dan pembahasan yang telah dibahas pada bab. sebelumnya, maka dapat disimpulkan bahwa:

BAB I PENDAHULUAN. dijadikan tanaman perkebunan secara besar-besaran, maka ikut berkembang pula

BAB I PENDAHULUAN. perdagangan bebas sehingga jumlah tenaga kerja yang berkiprah disektor

BAB I PENDAHULUAN. kerja. Agar terciptanya lingkungan yang aman, sehat dan bebas dari. pencemaaran lingkungan (Tresnaniangsih, 2004).

BAB I PENDAHULUAN. Indonesia memiliki banyak pabrik yang mengolah bahan mentah. menjadi bahan yang siap digunakan oleh konsumen. Banyaknya pabrik ini

FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI KAPASITAS PARU PETERNAK AYAM. Putri Rahayu H. Umar. Nim ABSTRAK

BAB 1 PENDAHULUAN. dapat menyebabkan penyakit paru (Suma mur, 2011). Penurunan fungsi paru

*Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Sam Ratulangi Manado

Universitas Sumatera Utara

FAKTOR-FAKTOR YANG BERHUBUNGAN DENGAN GANGGUAN FUNGSI PARU PADA PEKERJA PEMBUAT KASUR (STUDI KASUS DI DESA BANJARKERTA KARANGANYAR PURBALINGGA)

Transkripsi:

FAKTOR YANG MEMPENGARUHI KEJADIAN GANGGUAN FUNGSI PARU PADA PEKERJA PENGANGKUT SEMEN DI GUDANG PENYIMPANAN SEMEN PELABUHAN MALUNDUNG KOTA TARAKAN, KALIMANTAN TIMUR AFFECTING FACTORS ON THE INCIDENCE OF LUNG FUNCTION DISORDERS OF CEMENT TRANSPORT WORKERS IN TARAKAN MALUNDUNG PORT CEMENT WAREHOUSE STORAGE, EAST KALIMANTAN Riski Noor Adha, Rafael Djajakusli, Masyitha Muis Bagian Kesehatan dan Keselamatan Kerja FKM UNHAS (the_risky_eky@yahoo.co.id/85299488722) ABSTRAK Penyakit gangguan fungsi paru akibat debu semen mempunyai gejala yang mirip dengan penyakit paru lain yang tidak disebabkan oleh debu di tempat kerja. Penegakan diagnosis perlu dilakukan dengan tepat karena biasanya penyakit gangguan fungsi paru baru timbul setelah paparan debu dalam jangka waktu yang cukup lama. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor yang mempengaruhi kejadian gangguan fungsi paru pada pekerja pengangkut semen di Pelabuhan Malundung Kota Tarakan, Kalimantan Timur. Jenis penelitian adalah penelitian observasi dengan pendekatan potong lintang (Cross Sectional Study). Jumlah sampel sebanyak 34 orang yang diambil secara keseluruhan (exhaustive sampling). Hasil penelitian menunjukkan bahwa kadar debu (ρ =.), umur (ρ =.), masa kerja (ρ =.), dan kebiasaan merokok (ρ =.) memiliki pengaruh terhadap kejadian gangguan fungsi paru, sedangkan lama kerja (ρ =.) dan penggunaan APD (ρ =.) tidak memiliki pengaruh terhadap kejadian gangguan fungsi paru. Penelitian ini menyarankan pekerja selalu menggunakan APD berupa masker secara berkelanjutan saat bekerja maupun saat berada di sekitar area gudang penyimpanan semen. Pihak perusahaan juga disarankan melakukan medical check up secara berkala kepada pekerja untuk mengontrol kondisi fisik pekerja sehingga diketahui apabila ada pekerja mengalami gangguan fungsi paru. Kata Kunci : Gangguan Fungsi Paru, Debu Semen ABSTRACT Lung function disorder caused by cement dust has similar symptoms with the other lung diseases that are not caused by dust in workplace. Enforcement needs to be done with a proper diagnosis because the disease is usually impaired lung function after exposure to dust emerging in a period of time. This study aims to investigate the factors that influence the lung function disorder in cement transport workers in Malundung Port, Tarakan, East Kalimantan. Type of research is observational study with cross-sectional approach (Cross Sectional Study). Total sample is 34 people taken as a whole (exhaustive sampling). The results showed that the levels of dust (ρ =.), age (ρ =.), year (ρ =.), and smoking (ρ =.) had influence on the incidence of lung problems, while long work (ρ =. ) and the use of PPE (ρ =,) had no effect on the incidence of lung problems. This study suggests cement workers use personal PPE/masks sustainably while at work or around the cement storage area. In addition, the company also advised to undertake regular medical check-ups for workers to control the condition of workers as to know if there any workers have lung function disorder. Keywords: Lung Function Disorder, Cement Dust

PENDAHULUAN Perkembangan industri semakin maju di segala bidang termasuk industri semen. Di samping perkembangan industri yang pesat dan dapat meningkatkan taraf hidup ternyata juga dapat menimbulkan dampak negatif terhadap masyarakat dan pekerja. Salah satunya adalah debu semen yang terinhalasi selama bekerja, sehingga mengakibatkan penyakit paru akibat kerja pada pekerja pengangkut semen (Suma mur, 29). Debu adalah salah satu komponen yang menurunkan kualitas udara. Akibat terpapar debu, kenikmatan kerja akan terganggu dan lambat laun dapat pula menimbulkan gangguan fungsi paru. Penyakit-penyakit paru oleh karena terpapar hasil industry semen masih sangat kurang mendapat perhatian di dalam literatur yang ada, padahal semestinya hal ini dapat dicegah. Penyakit-penyakit paru pada pekerja industri semen seharusnya sangat perlu mendapatkan perhatian, namun karena keuntungan-keuntungan sosial ekonomi, hal ini terabaikan(pata S, 24). Debu yang dihasilkan oleh kegiatan industri semen terdiri dari debu yang dihasilkan pada waktu pengadaan bahan baku dan selama proses pembakaran dan debu yang dihasilkan selama pengangkutan bahan baku ke pabrik dan bahan jadi ke luar pabrik, termasuk pengantongannya. Bahan pencemar tersebut dapat berpengaruh terhadap lingkungan dan manusia. Berbagai faktor yang berpengaruh dalam timbulnya penyakit atau gangguan pada saluran pernapasan akibat debu. Debu semen ini akan mencemari udara dan lingkungannya sehingga pekerja industri semen dapat terpapar debu karena bahan baku, bahan antara, ataupun produk akhir(epler, 2). Berdasarkan uraian diatas, penelitian ini ditujukan untuk mengetahui faktor yang mempengaruhi kejadian gangguan fungsi paru akibat kadar debu semen, umur, masa kerja, lama kerja, kebiasaan merokok, dan penggunaan APD pada pekerja pengangkut semen di gudang penyimpanan semen Pelabuhan Malundung Kota Tarakan, Kalimantan Timur. BAHAN DAN METODE Penelitian dilakukan di Pelabuhan Malundung Kota Tarakan, Kalimantan Timur. Jenis penelitian ini adalah observasional analitik dengan pendekatan cross sectional study. Populasi penelitian ini adalah seluruh pekerja pada gudang penyimpanan semen Pelabuhan Malundung. Penarikan sampel dilakukan dengan teknik exhaustive sampling sebanyak 32 orang pekerja dengan melakukan wawancara menggunakan kuesioner untuk mendapatkan informasi mengenai umur, masa kerja, lama kerja, kebiasaan merokok, dan penggunaan APD atau masker. Pemeriksaan kapasitas paru menggunakan spirometer, dan pengukuran debu organik

pada lingkungan kerja menggunakan dust sampler bekerja sama dengan Hiperkes dan Disnakertrans Kota Tarakan. Data yang telah diperoleh dari hasil pemeriksaan dan pengukuran di lapangan dibawa ke Hiperkes dan Disnakertrans Kota Tarakan untuk dianalisis di laboratorium. Hasil analisis dan informasi yang diperoleh dari wawancara menggunakan kuesioner diolah secara elektronik dengan menggunakan komputer program Statistic Packages for Social Science (SPSS) version 6, kemudian dianalisis secara deskriptif dan tabulasi silang untuk memperoleh faktor yang mempengaruhi, dan dijelaskan dalam bentuk tabel dan narasi. HASIL DAN PEMBAHASAN Hasil Hasil pengukuran menggunakan dust sampler pada dua titik lokasi di dalam gudang penyimpanan semen menunjukkan bahwa 2 (6.6%) orang pekerja mengalami gangguan fungsi paru dan 3 (39.4%) memiliki fungsi paru normal bekerja pada lingkungan kerja yang melebihi NAB, sedangkan tidak terdapat pekerja yang mengalami gangguan fungsi paru dan (%) pekerja memiliki fungsi paru normal yang bekerja pada lingkungan kerja dengan kadar debu sesuai atab di bawah NAB. Hasil analisis uji statistik Fisher s Exact Test, kadar debu di lingkungan kerja dengan kejadian gangguan fungsi paru pada pekerja pengangkut semen pada tingkat kemaknaan.5 (95%), diperoleh nilai ρ sebesar. yang berarti bahwa Ho ditolak dan Ha diterima. Hal ini menunjukkan bahwa ada hubungan antara kadar debu di lingkungan kerja dengan kejadian gangguan fungsi paru pada pekerja pengangkut semen Pelabuhan Malundung Kota Tarakan (Tabel ). Hasil penelitian menunjukkan (94.4%) orang pekerja yang mengalami gangguan fungsi paru dan (5.6%) orang yang memiliki fungsi paru normal dengan umur tua ( 3 Tahun), sedang pekerja yang berumur <3 tahun ada 4 (25.%) yang mengalami gangguan fungsi paru dan 2 (75.%) memiliki fungsi paru normal, yang berarti bahwa ada hubungan antara umur dengan kejadian gangguan fungsi paru pada pekerja pengangkut semen Pelabuhan Malundung Kota Tarakan (Tabel ). Hasil tabulasi silang antara masa kerja dengan gangguan fungsi paru pada pekerja pengangkut semen di gudang penyimpanan semen Pelabuhan Malundung Kota Tarakan, Kalimantan Timur menunjukkan ada 2 (83.3%) pekerja yang bekerja di atas 5 tahun mengalami gangguan fungsi paru dan 4 (6.7%) pekerja yang memiliki fungsi paru normal, sedang yang bekerja selama atau dibawah 5 tahun sebanyak (.%) yang mengalami 2

gangguan fungsi paru dan 9 (9.%) yang memiliki fungsi paru normal. Dari hasil analisis, ditemukan bahwa masa kerja mempengaruhi terjadinya kejadian gangguan fungsi paru yang berarti bahwa semakin lama masa kerja pekerja pengangkut semen maka semakin berisiko mengalami kejadian gangguan fungsi paru (Tabel ). Hasil tabulasi silang antara lama kerja dengan gangguan fungsi paru menunjukkan bahwa terdapat sebanyak (.%) yang mengalami gangguan fungsi paru dan tidak ada pekerja yang bekerja selama > 4 jam/minggu yang memilliki fungsi paru normal, sedang responden yang bekerja dibawah atau selama 4jam/minggu yang mengalami gangguan fungsi paru sebanyak 2 (6.6%) dan yang memiliki fungsi paru normal sebanyak 3 (39.4%) orang responden (Tabel ). Hasil tabulasi silang antara umur dan lama kerja ditemukan bahwa pekerja pengangkut semen yang memiliki lama kerja tidak memenuhi syarat yang berumur 3 tahun (tua) ada (5.6%) orang pekerja, sedang yang memenuhi ada 7 (94.4%) orang. Pekerja pengangkut semen yang tidak memnuhi syarat lama kerja yang berumur <3 tahun (muda) tidak ada dan yang memenuhi syarat berjumlah 6 (%) orang (Tabel 2). Hasil penelitian menunjukkan bahwa pekerja pengangkut semen yang memiliki kebiasaan merokok dan mengalami gangguan fungsi paru sebanyak 2 (72.4%) orang dan yang memiliki fungsi paru normal ada 8 (27.6%) orang, sedang pekerja yang tidak merokok dan mengalami gangguan fungsi paru tidak ada dan yang memiliki fungsi paru normal ada 5 (%) orang. Hasil analisis menunjukkan bahwa kebiasaan merokok mempengaruhi terjadinya kejadian gangguan fungsi paru (Tabel ). Hasil penelitian menunjukkan bahwa pekerja pengangkut semen yang tidak menggunakan masker ketika bekerja ada (%) orang yang mengalami gangguan fungsi paru dan tidak ada orang yang memiliki fungsi paru normal, sedangkan pekerja yang menggunakan masker ketika bekerja ada 2 (6.6%) yang mengalami gangguan fungsi paru dan pekerja yang memiliki fungsi paru normal ada 3 (39.4%). Dari hasil analisis, ditemukan bahwa penggunaan masker tidak mempengaruhi kejadian gangguan fungsi paru pada pekerja pengangkut semen (Tabel ). Pembahasan Analisis kejadian gangguan fungsi paru menunjukkan bahwa paparan kadar debu merupakan faktor yang mempengaruhi kejadian gangguan fungsi paru pada pekerja pengangkut semen. Hal ini berarti pekerja pengangkut semen yang bekerja pada tempat yang melebihi nilai ambang batas (NAB) memiliki risiko mengalami kejadian gangguan fungsi paru. Penelitian ini sejalan dengan penelitain yang dilakukan oleh Nugraheni (24), Harpicharncai (26), dan Aliyani (24). Keseluruhan hasil penelitian tersebut ditunjang 3

oleh tinjauan teoritis yang disampaikan oleh Suma mur (29) bahwa debu yang dihirup berukuran,- µ. Debu yang berukuran 5- µ bila terhirup akan tertahan dan tertimbun pada saluran pernapasan bagian atas, sedang berukuran 3-5 µ tertahan dan tertimbun pada saluran napas tengah. Partikel debu dengan ukuran -3 µ disebut debu respirabel merupakan debu yang paling berbahaya karena tertahan dan tertimbun mulai dari bronkhiolus terminalis sampai alveoli. Debu yang berukuran kurang dari µ tidak mudah mengendap di alveoli, debu yang berukuran antara,-,5 µ berdifusi dengan gerak Brown keluar masuk alveoli. Faktor umur mempengaruhi kejadian gangguan fungsi paru. Pekerja yang mengalami gangguan paru ditemukan paling banyak pada kelompok umur produktif (5-44 tahun). Hal ini terjadi karena pada usia produktif mempunyai mobilitas yang tinggi sehingga kemungkinan untuk terpapar kuman lebih besar dan ditambah kebiasaan pekerja yang mempunyai faktor resiko untuk mengalami gangguan pernapasan seperti merokok, minum alkohol, begadang dan yang lainnya (Harnpicharnchai, 26). Faktor umur memengaruhi kekenyalan paru sebagaimana jaringan lain dalam tubuh. Walaupun tidak dapat dideteksi, hubungan umur dengan pemenuhan volume paru, tetapi rata-rata telah memberikan suatu perubahan yang besar terhadap volume paru. Hal ini disesuaikan dengan konsep elastisitas (Faridawati dkk, 997). Masa kerja mempengaruhi kejadian gangguan fungsi paru, hal ini ditunjukkan dengan tingkat kemaknaan.5 (95%) dengan nilai ρ sebesar.. Hasil penelitian ini sejalan dengan Nugraheni (24), Achmad (24), dan Aliyani (24). Masa kerja menentukan lama paparan seseorang terhadap debu yang dapat mengakibatkan gangguan fungsi paru. Kian lama paparan (masa kerja) kian besar kemungkinan seseorang mendapatkan risiko tersebut. Salah satu variabel potensial yang dapat menimbulkan gangguan fungsi paru adalah lamanya seseorang terpapar debu organik. Makin lama seseorang bekerja pada tempat yang mengandung debu akan makin tinggi resiko terkena gangguan kesehatan, terutama gangguan saluran pernafasan (Suma mur, 29). Hasil analisis data menunjukkan bahwa lama kerja tidak berpengaruh terhadap kejadian gangguan fungsi paru. Hasil penelitian tidak sejalan dengan penelitian-penelitian yang pernah dilakukan sebelumnya, hal ini dikarenakan pekerja pengangkut semen pada gudang penyimpanan semen tersebut dan tidak memenuhi syarat sesuai dengan Undang-Undang Tenaga Kerja No.25 Tahun 997 Pasal Ayat 2 mengenai aturan jam kerja dan para pekerja tersebut hampir semuanya merupakan pekerja yang berumur <3 tahun atau berumur muda sedang kejadian gangguan fungsi paru merupkan efek kronis atau akumulasi yang baru dialami dalam jangka waktu yang lama. 4

Hasil análisis menunjukkan bahwa kebiasaan merokok dalam penelitian ini berpengaruh terhadap kejadian gangguan fungsi paru. Hasil penelitian ini sejalan dengan penelitian Nugraheni yang menunjukkan kebiasaan merokok dapat memperberat kejadian fungsi paru dengan risiko 2,8 kali lebih besar dibandingakan dengan yang tidak merokok. Walaupun penyebab penyakit saluran napas kronis diketahui terbanyak adalah asap rokok, namun bronkitis kronis dan emfisema juga dijumpai 5-6% pada orang-orang tua di Amerika Serikat yang tidak pernah merokok. Hal ini karena timbulnya penyakit saluran napas kronis ini selain disebabkan oleh rokok, ada beberapa diantaranya adalah polusi udara, terpapar lingkungan berasap dan juga faktor genetik. Dari hasil análisis, ditemukan bahwa penggunaan APD atau masker tidak mempengaruhi kejadian gangguan fungsi paru pada pekerja pengangkut semen. Hasil penelitian ini tidak sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Susanto dan Nugraheni. Berdasarkan hasil wawancara dan pengamatan di lapangan, pekerja pengangkut semen memang sangat patuh dalam menggunakan APD (Masker) dikarenakan tingginya kadar debu di dalam gudang penyimpanan semen tersebut, bahkan kondisi lantai tertutupi oleh debu semen setinggi 6-7cm, dan ketika pekerja berjalan di dalam gudang tersebut, debu-debu akan beterbangan sehingga jika mereka bekerja tanpa menggunakan APD akan mengalami sesak napas. KESIMPULAN DAN SARAN Berdasarkan hasil analisis faktor kadar debu, umur, masa kerja, lama kerja, kebiasaan merokok, dan penggunaan APD terhadap kejadian gangguan fungsi paru pada pekerja pengangut semen di gudang penyimpanan semen Pelabuhan Malundung Kota Tarakan tahun 22, maka dapat ditarik kesimpulan bahwa kadar debu, umur, masa kerja, dan kebiasaan merokok mememiliki pengaruh yang signifikan terhadap kejadian gangguan fungsi paru pada pekerja pengangkut semen di Pelabuhan Malundung Kota Tarakan, Kalimantan Timur tahun 22, selain itu lama kerja dan pemakaian APD (masker) tidak memiliki pengaruh terhadap kejadian gangguan fungsi paru pada pekerja pengangkut semen di Pelabuhan Malundung Kota Tarakan, Kalimantan Timur 22. Berdasarkan penelitian yang dilakukan pada pekerja pengangkut semen tersebut mengenai kejadian gangguan fungsi paru akibat paparan debu semen, maka perlu diupayakan agar para pekerja pengangkut semen sebaiknya menggunakan alat pelindung diri (APD) berupa masker secara berkelanjutan setiap berada di sekitar area gudang. Selain itu UD. Wijaya sebaiknya melakukan Medical Check Up kepada pekerja terlebih dahulu sebelum 5

diterima, agar dapat diketahui apakah pekerja memang memiliki penyakit paru atau tidak sebelum bekerja di tempat tersebut dan kemudian melakukan Medical Check Up ulang kepada para pekerja secara berkala setiap tahun. DAFTAR PUSTAKA Abidin A. 24, Hubungan Masa Kerja dengan Kapasitas Fungsi Paru pada Pekerja Penggilingan Padi di Kecamatan Purwanegara tahun 24 Skripsi, Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Dipenogoro. Antaruddin 2, Pengaruh Debu Padi pada Faal Paru Pekerja Kilang Padi yang Merokok dan Tidak Merokok Skripsi, Universitas Sumatera Utara. Atjo W. 23, Higiene Perusahaan. Cetakan ke-2, Jurusan Kesehatan Kerja Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Hasanuddin, Makassar, MKS. Devi A. 24. Hubungan Masa Kerja dengan Kapasitas Fungsi Paru pada Pekerja Penggilingan Padi di Kecamatan Purwanegara tahun 24 Skripsi, Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Dipenogoro. Faridawati R, dkk, 997, Prevalensi Penyakit Bronkitis Kronik, Empise ma & Asma Kerja pada pekerja di PT. Krakatau Steel. J Respir Indo, Jumat 28 September 22. Kallaya Harnpicharnchai 26, A Study of Factors Affecting The Pulmonary Function Impairment of Rice Mill Workers Tesis, University of Mahidol. Nugrahaeni S. 24, Analisis Faktor Risiko Kadar Debu Organik di Udara Terhadap Gangguan Fungsi Paru pada Pekerja Industri Penggilingan Padi di Demak Tesis, Universitas Dipenogoro. Pata S. 24, Laporan Kerja Praktek di PT. Semen Tonasa, Semarang. Suma mur 29, Higiene Perusahaan dan Kesehatan Kerja (Hiperkes). Cetakan pertama, CV Sagung Seto, Jakarta, JKT Siti Y. 27, Paparan Debu Terhirup dan Gangguan Fungsi Paru Pada Pekerja Industri Batu Kapur (Studi Di Desa Mrisi Kecamatan Tanggungharjo Kabupaten Grobogan) Tesis, Universitas Diponegoro. 6

LAMPIRAN Tabel. Analisis Faktor yang Mempengaruhi Kejadian Gangguan Fungsi Paru pada Pekerja Pengangkut Semen di Gudang Penyimpanan Semen Pelabuhan Malundung Kota Tarakan Gangguan fungsi paru Variabel Tidak normal Normal Ρ Kadar debu Melebihi NAB Dibawah NAB Umur 3 tahun (tua) < 3 tahun (muda) Masa kerja > 5 tahun (lama) 5 tahun (baru) Lama kerja Tidak memenuhi Memenuhi Kebiasaan merokok Merokok Tidak merokok Penggunaan APD Tidak menggunakan n % n % 2 7 4 2 2 2 6.6 94.4 25 83. 6.6 72.4 3 2 4 9 3 8 5 39.4 5.6 75 6.7 9 39.4 27.6 Menggunakan 2 6.6 3 39.4 Jumlah 2 6.8 3 38.2 Sumber : hasil penelitian, 22 (data diolah)...... Tabel 2.Distribusi Lama Kerja Berdasarkan Faktor Umur pada Pekerja Pengangkut Semen di Gudang Penyimpanan Semen Pelabuhan Malundung Kota Tarakan, Kalimantan Timur Lama kerja Tidak memenuhi Memenuhi Jumlah Variabel n % n % N % Umur 3 tahun (tua) < 3 tahun (muda) 5.6 7 6 94.4 8 6 Jumlah 2.9 33 97. 34 Sumber : Data Primer, 22 7