II. TINJAUAN PUSTAKA

dokumen-dokumen yang mirip
PENGELOLAAN POMPA AIR UNTUK IRIGASI PERTANIAN DALAM MENGEMBANGKAN USAHA TANI DI DESA SINGASARI, KECAMATAN JONGGOL, KABUPATEN BOGOR, JAWA BARAT SKRIPSI

HASIL DAN PEMBAHASAN

TINJAUAN PUSTAKA. Neraca Air

BAB I PENDAHULUAN. Pertanian merupakan salah satu sektor penting dalam ekonomi Indonesia. Potensi

BAB II DASAR TEORI 2.1 Perhitungan Hidrologi Curah hujan rata-rata DAS

BAHAN AJAR : PERHITUNGAN KEBUTUHAN TANAMAN

KEBUTUHAN AIR. penyiapan lahan.

II. TINJAUAN PUSTAKA. sampai beriklim panas (Rochani, 2007). Pada masa pertumbuhan, jagung sangat

II. TINJAUAN PUSTAKA. Gambar 2. Lokasi Kabupaten Pidie. Gambar 1. Siklus Hidrologi (Sjarief R dan Robert J, 2005 )

TINJAUAN PUSTAKA Analisis Kebutuhan Air Irigasi Kebutuhan Air untuk Pengolahan Tanah

Laju dan Jumlah Penyerapan Air

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

Faktor-faktor yang Mempengaruhi Kebutuhan Air Tanaman 1. Topografi 2. Hidrologi 3. Klimatologi 4. Tekstur Tanah

II. TINJAUAN PUSTAKA A.

I. PENDAHULUAN. jagung adalah kedelai. Kedelai juga merupakan tanaman palawija yang memiliki

DEFINISI IRIGASI TUJUAN IRIGASI 10/21/2013

Matakuliah : S0462/IRIGASI DAN BANGUNAN AIR Tahun : 2005 Versi : 1. Pertemuan 2

ANALISIS KEBUTUHAN AIR IRIGASI PADA DAERAH IRIGASI BENDUNG MRICAN1

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB IV PEMBAHASAN DAN HASIL

JURUSAN TEKNIK & MANAJEMEN INDUSTRI PERTANIAN FAKULTAS TEKNOLOGI INDUSTRI PERTANIAN UNIVERSITAS PADJADJARAN

Evapotranspirasi. 1. Batasan Evapotranspirasi 2. Konsep Evapotranspirasi Potensial 3. Perhitungan atau Pendugaan Evapotranspirasi

TINJAUAN PUSTAKA. penanaman sangat penting. Oleh karena air menggenang terus-menerus maka

tidak ditetapkan air bawah tanah, karena permukaan air tanah selalu berubah sesuai dengan musim dan tingkat pemakaian (Sri Harto, 1993).

BAB-4 ANALISIS KEBUTUHAN AIR IRIGASI

DAFTAR ISI. Halaman HALAMAN JUDUL HALAMAN PENGESAHAN PERNYATAAN BEBAS PLAGIASI DEDIKASI KATA PENGANTAR

TUGAS KELOMPOK REKAYASA IRIGASI I ARTIKEL/MAKALAH /JURNAL TENTANG KEBUTUHAN AIR IRIGASI, KETERSEDIAAN AIR IRIGASI, DAN POLA TANAM

TINJAUAN PUSTAKA Budidaya Tebu

Pengelolaan Air Tanaman Jagung

METODE PENELITIAN. Penelitian ini dilakukan pada bulan Juli sampai dengan Agustus 2013 di

Dr. Ir. Robert J. Kodoatie, M. Eng 2012 BAB 3 PERHITUNGAN KEBUTUHAN AIR DAN KETERSEDIAAN AIR

Tabel 4.31 Kebutuhan Air Tanaman Padi

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN A.

DAFTAR ISI. 1.2 RUMUSAN MASALAH Error Bookmark not defined. 2.1 UMUM Error Bookmark not defined.

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. yang dihasilkan dibawa oleh udara yang bergerak.dalam kondisi yang

II. TINJAUAN PUSTAKA. Embung berfungsi sebagai penampung limpasan air hujan/runoff yang terjadi di

PRAKTIKUM VIII PERENCANAAN IRIGASI

III. METODOLOGI PENELITIAN A. BAHAN DAN ALAT

TINJAUAN PUSTAKA. Faktor Lingkungan Tumbuh Kelapa Sawit

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

IRIGASI DARI MASA KE MASA DALAM KAITANNYA DENGAN PERANCANGAN. Bahan kuliah minggu I PENDAHULUAN

TINJAUAN PUSTAKA. secara alamiah. Mulai dari bentuk kecil di bagian hulu sampai besar di bagian

PENGENDALIAN OVERLAND FLOW SEBAGAI SALAH SATU KOMPONEN PENGELOLAAN DAS. Oleh: Suryana*)

SISTEM PEMBERIAN AIR IRIGASI

PRAKTIKUM RSDAL II PERHITUNGAN EVAPOTRANSPIRASI POTENSIAL (ETo) DAN KEBUTUHAN AIR TANAMAN (ETCrop)

ANALISA KEBUTUHAN AIR DALAM KECAMATAN BANDA BARO KABUPATEN ACEH UTARA

BAB III LANDASAN TEORI

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. 2.1 Evapotranspirasi Potensial Standard (ETo)

Kebutuhan Air Irigasi & RKI

PENDUGAAN KEBUTUHAN AIR TANAMAN DAN NILAI KOEFISIEN TANAMAN (K c. ) KEDELAI (Glycine max (L) Merril ) VARIETAS TANGGAMUS DENGAN METODE LYSIMETER

KAJIAN PENGGUNAAN POMPA IRIGASI UNTUK DI DESA BABAKAN RADEN KECAMATAN KABUPATEN BOGOR SKRIPSI

ANALISA KEBUTUHAN AIR IRIGASI DAERAH IRIGASI SAWAH KABUPATEN KAMPAR

PERHITUNGAN KEBUTUHAN AIR IRIGASI TIM PENGAMPU MATA KULIAH AGROHIDROLOGI

TINJAUAN PUSTAKA. Gambaran Umum Daerah Irigasi Ular Kabupaten Serdang Bedagai

BAB III METODE PENELITIAN. Lokasi penelitian berada di wilayah Kabupaten Banyumas yang masuk

HUBUNGAN TANAH - AIR - TANAMAN

PENGAIRAN TANAMAN JAGUNG

Oleh : I.D.S Anggraeni *), D.K. Kalsim **)

Perencanaan Operasional & Pemeliharaan Jaringan Irigasi DI. Porong Kanal Kabupaten Sidoarjo, Jawa Timur

II. TINJAUAN PUSTAKA

OPTIMASI FAKTOR PENYEDIAAN AIR RELATIF SEBAGAI SOLUSI KRISIS AIR PADA BENDUNG PESUCEN

Studi Optimasi Pola Tanam pada Daerah Irigasi Warujayeng Kertosono dengan Program Linier

Dosen Pembimbing. Ir. Saptarita NIP :

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN

RC MODUL 2 KEBUTUHAN AIR IRIGASI

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

ANALISA KETERSEDIAAN AIR SAWAH TADAH HUJAN DI DESA MULIA SARI KECAMATAN MUARA TELANG KABUPATEN BANYUASIN

Gambar 4. Keadaan sebelum dan sesudah adanya pengairan dari PATM

Asep Sapei 1 dan Irma Kusmawati 2

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Banyumas. Sungai ini secara geografis terletak antara 7 o 12'30" LS sampai 7 o

Universitas Gadjah Mada

PENGARUH PENGAIRAN PADA TANAMAN CABAI

TINJAUAN PUSTAKA. disukai dan popular di daerah-daerah yang memiliki masalah kekurangan air.

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

TINJAUAN PUSTAKA. sumber daya air merupakan dasar peradaban manusia (Sunaryo dkk., 2004).

III. METODE PENELITIAN. Penelitian dilaksanakan di lingkungan Masjid Al-Wasi i Universitas Lampung

θ t = θ t-1 + P t - (ETa t + Ro t ) (6) sehingga diperoleh (persamaan 7). ETa t + Ro t = θ t-1 - θ t + P t. (7)

PENDAHULUAN. Air di dunia 97,2% berupa lautan dan 2,8% terdiri dari lembaran es dan

BAB I PENDAHULUAN. Evaluasi Ketersediaan dan Kebutuhan Air Daerah Irigasi Namu Sira-sira.

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN. Daerah Irigasi Banjaran merupakan Daerah Irigasi terluas ketiga di

Bab III TINJAUAN PUSTAKA

STUDI POLA LENGKUNG KEBUTUHAN AIR UNTUK IRIGASI PADA DAERAH IRIGASI TILONG

BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang

II. TINJAUAN PUSTAKA. Subak adalah organisasi tradisional dibidang tata guna air dan tata

ANALISIS PENENTUAN WAKTU TANAM PADA TANAMAN KACANG TANAH

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

A. KOMPETENSI Mahasiswa memahami tentang pengelolaan air untuk keperluan irigasi.

PENGOPTIMALAN POLA TANAM BERDASARKAN KETERSEDIAAN DEBIT AIR IRIGASI DI DAERAH IRIGASI CILANCAR KABUPATEN PANDEGLANG, BANTEN GINANJAR HIDAYATULLAH

II. TINJAUAN PUSTAKA. vegetasinya termasuk rumput-rumputan, berakar serabut, batang monokotil, daun

PERSYARATAN JARINGAN DRAINASE

I. TINJAUAN PUSTAKA. (a) Pendekatan klimatologi---evaporasi & Transpirasi. (b) Pola trsnpirasi tanaman nanas sebagai tanaman CAM

TINJAUAN PUSTAKA. 2.1 Daerah Aliran Sungai

DAFTAR ISI. Halaman JUDUL PENGESAHAN PERSEMBAHAN ABSTRAK KATA PENGANTAR

ABSTRAK. Kata kunci : Saluran irigasi DI. Kotapala, Kebutuhan air Irigasi, Efisiensi. Pengaliran.

TINJAUAN PUSTAKA. rawa, irigasi air bawah tanah, irigasi pompa, dan irigasi tambak. Irigasi

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Pada awalnya, kedelai dikenal dengan beberapa nama botani, yaitu Glycine

BAB 1 PENDAHULUAN. Pembangunan yang berkelanjutan seperti yang dikehendaki oleh pemerintah

PERENCANAAN KEBUTUHAN AIR PADA AREAL IRIGASI BENDUNG WALAHAR. Universitas Gunadarma, Jakarta

AIALISIS PEMANFAATAN AIR IIUGASI II DlVISI PENGAIRAN TENSAH KARAWANG PERUM OTOIUTA JATlLUHUR

Transkripsi:

II. TINJAUAN PUSTAKA 2.1 PENGERTIAN DAN TUJUAN PEMBERIAN IRIGASI Menurut Hasan et al (1980) diacu dalam Wahyudi (1987), irigasi didefinisikan sebagai usaha memberikan air ke dalam tanah dengan maksud untuk mempertahankan kelembapan tanah guna pertumbuhan tanaman. Tujuan pemberian irigasi antara lain adalah : 1. Memenuhi kebutuhan air pada waktu dan jumlah yang tepat untuk pertumbuhan tanaman yang baik. 2. Untuk memberikan jaminan panen pada saat musim kemarau yang panjang. 3. Untuk mendinginkan tanah dan atmosfer, sehingga menimbulkan lingkungan yang baik untuk pertumbuhan tanaman. 4. Untuk mencuci atau mengurangi garam dalam tanah. 5. Untuk mengurangi erosi tanah. 6. Untuk melunakkan pembajakan dan gumpalan tanah. Penambahan air ke lahan pertanian dimaksudkan agar kebutuhan air tanaman dapat terpenuhi secara seragam ke seluruh daerah perakaran tanaman. 2.2 DISTRIBUSI AIR DAN CARA PEMBERIAN AIR IRIGASI 2.2.1 Distribusi Air Menurut Kalsim (2003), secara umum metode distribusi air dapat diklasifikasikan menjadi empat, yaitu : a. Aliran kontinyu (continuous flow) Disebut juga dengan proportional flow. Air mengalir kontinyu di seluruh sistem saluran dan terbagi secara proporsional untuk mengaliri seluruh areal usaha tani. Debit aliran disesuaikan dengan perubahan keperluan air tanaman selama periode irigasi. Cara ini terutama diterapkan untuk daerahdaerah dimana air irigasi berlimpah atau di daerah-daerah yang terjadi banyak perambesan. b. Aliran tetap (fixed flow) Metode ini sama dengan aliran kontinyu akan tetapi debit dibuat tetap konstan selama periode irigasi. c. Rotasi atau sistem mati-hidup (on-off system) Setiap petakan usaha tani menerima air secara giliran pada waktu dan debit yang telah ditentukan sebelumnya. Rotasi juga dipakai dalam sistem saluran. Dengan kata lain suatu saluran apakah mengalirkan air dengan kapasitas penuh atau tidak sama sekali. Cara ini diterapkan untuk daerahdaerah yang tidak mempunyai air irigasi yang berlimpah dimana air itu dapat ditahan dengan baik. Kebanyakan irigasi pompa dan waduk yang menerapkan dengan cara ini. d. On demand Pada prinsipnya petani bebas memanfaatkan air sebagaimana ia lihat dan rasakan. Akibatnya, aliran akan kontinyu tetapi debit berfluktuasi di semua saluran. Untuk membatasi fluktuasi tersebut kebebasan petani seringkali dibatasi dengan suatu atau beberapa cara. 2

2.2.2 Macam Sistem Irigasi Sistem irigasi dibedakan menjadi dua, yaitu sistem irigasi gravitasi dan sitem irigasi non gravitasi. Sistem gravitasi yaitu tergantung sepenuhnya terhadap gaya berat, sedangkan sistem non gravitasi tidak tergantung pada gaya berat sehingga dibutuhkan energi dari luar untuk mengalirkan air atau biasa disebut dengan irigasi pompa. Berdasarkan sistem irigasi gravitasi, lahan pertanian dibagi menjadi dua, yaitu lahan pertanian yang dapat diairi (irrigable land), dan lahan pertanian yang tidak dapat diairi (non irrigable land) (Jensen 1980 diacu dalam Wahyudi 1987). Terdapat dua hal yang mengharuskan sistem irigasi menggunakan pompa, yaitu sumber air irigasi berasal dari airtanah atau sumber air irigasi berada lebih rendah dibandingkan dengan lahan pertanian dan sumber air irigasi yang lokasinya jauh dari lahan pertanian. Sistem irigasi airtanah merupakan suatu sitem irigasi yang memanfaatkan airtanah dengan cara mengangkat air melalui pemompaan untuk digunakan sebagai input bagi produksi pertanian. Gambar 1. Sistem pemanfaatan irigasi airtanah Secara empiris pengelolaan usaha tani dan penggolongan irigasi airtanah baik yang berskala besar maupun kecil tidak berada dalam satu manajemen. Namun, penyediaan irigasi airtanah tidak akan bermakna tanpa adanya usaha tani yang memanfaatkannya. Sehingga eksistensi irigasi airtanah merupakan bagian integral dari sitem usaha tani (Sumaryanto dan Pakpahan 1999 diacu dalam Munir 2003). Dengan pengembangan irigasi airtanah sebagai sumber air irigasi pada daerah pertanian diharapkan dapat meningkatkan produksi pertanian, intensitas tanam dan pola tanam. Dengan demikian dapat meningkatkan pendapatan dalam rangka pengentasan kemiskinan, bahkan dalam kondisi tertentu dapat menyediakan air minum bagi masyarakat dan ternak di sekitarnya (Sumaryanto dan Pakpahan 1999 diacu dalam Munir 2003). 2.2.3 Cara Pemberian Air Irigasi Menurut Sapei (2006), air irigasi dapat berasal dari mata air, sungai, aliran tidak sinambung (intermittent stream), airtanah, air rembesan, air beragam (saline water), air desalinasi dan hujan buatan. Sedangkan pemberian air kepada tanah dapat dilakukan dengan berbagai metode, yaitu pemberian air di permukaan tanah (surface irrigation), pemberian di bawah permukaan tanah (sub- 3

surface irrigation), pemberian air di atas tanaman secara curah (sprinkler irrigation), dan pemberian air secara tetes (drip/trickler irrigation). Irigasi permukaan adalah air diberikan pada permukaan tanah dan air mengalir secara gravitasi. Irigasi permukaan dilaksanakan dengan cara mengurung atau mengalirkan air pada permukaan tanah. Air mengalir dari lahan yang lebih tinggi ke lahan yang lebih rendah dengan penurunan jumlah air sebagai air infiltrasi (Booher 1974 diacu dalam Wahyudi 1987). Irigasi curah adalah sistem irigasi yang menyerupai hujan, dan biasanya disebut overhead irrigation. Tujuan dari metode irigasi ini adalah agar air dapat diberikan secara merata dan efisien pada areal pertanaman tertentu dengan jumlah dan kecepatan kurang atau sama dengan laju penyerapan air ke dalam tanah (laju infiltrasi). Irigasi tetes adalah air diberikan kepada tanaman melalui pipa-pipa kecil secara menetes di dekat daerah perakaran dengan tekanan atau secara gravitasi. Irigasi bawah permukaan adalah suatu cara pemberian air irigasi melalui bawah permukaan tanah. Cara irigasi ini merupakan usaha untuk mempertahankan kedalaman muka airtanah, sehingga kelangsungan kapilaritas pergerakan airtanah ke daerah perakaran tanaman dapat selalu dipertahankan dalam keadaan lembab (Phillsbury 1968 diacu dalam Wahyudi 1987). 2.3 KEBUTUHAN AIR IRIGASI Kebutuhan air irigasi dapat dibedakan atas kebutuhan air untuk pertumbuhan tanaman (crop water requirement), kebutuhan air untuk petakan (field water requirement) dan kebutuhan air untuk irigasi (irrigation water requirement) (Partowijoto 1980 diacu dalam Wahyudi 1987). 2.3.1 Kebutuhan Air untuk Pertumbuhan Tanaman Kebutuhan air tanaman adalah jumlah air yang digunakan tanaman untuk dapat tumbuh normal (consumptive use) atau evapotranspirasi. Jumlah evapotranspirasi kumulatif selama pertumbuhan tanaman yang harus dipenuhi oleh air irigasi dipengaruhi oleh jenis tanaman, radiasi surya, sistem irigasi, lama pertumbuhan, hujan dan faktor lainnya (Kalsim 2006). Terdapat dua metoda untuk mengetahui kebutuhan air tanaman, yakni pengukuran langsung dengan lisimeter bertimbangan (weighing lysimeter) atau tidak bertimbangan dan secara tidak langsung dengan menggunakan rumus empirik berdasarkan data unsur cuaca. Lisimeter untuk mengukur evapotraspirasi adalah berupa tangki yang alasnya tertutup dan ditanam dalam tanah dan di dalam tangki ditanami tanaman yang akan diukur laju evapotranspirasinya. Evapotraspirasi tanaman yang bersangkutan dihitung berdasarkan kehilangan air dalam tangki per satuan waktu (Sosrodarsono dan Takeda 1980 dicu dalam Wahyudi 1987). Secara tidak langsung dengan menggunakan data unsur cuaca, yaitu pertama menduga nilai evapotranspirasi tanaman acuan (ETo). ETo adalah jumlah air yang dievapotranspirasikan oleh tanaman rumputan dengan tinggi 15-20 cm, tumbuh sehat, menutup tanah dengan sempurna, dan pada kondisi cukup air. Rumus empirik yang dapat digunakan antara lain dengan metode Blaney-Criddle, Penman, radiasi, panci evaporasi. Food and Agriculture Organization (FAO) (1999) merekomendasikan menggunakan metode Penman-Monteith jika tersedianya data iklim antara lain suhu rerata udara harian, jam penyinaran rerata harian, kelembaban relatif rerata harian, dan kecepatan angin rerata harian. Selain itu diperlukan juga data letak geografi dan elevasi lahan di atas permukaan laut. Selanjutnya untuk mengetahui nilai ET tanaman tertentu maka ETo (mm/hari) dikalikan dengan koefisien tanaman (Kc). Koefisien tanaman tergantung pada jenis tanaman dan tahap pertumbuhan. 4

Nilai Kc tersedia untuk setiap jenis tanaman. Perhitungan ETo dan daftar nilai Kc ada dalam program CROPWAT. ETc = Kc ETo (1) Keperluan air untuk evapotranspirasi tanaman (ETc) dipenuhi oleh air hujan efektif dan jika tidak terpenuhi dilakukan penambahan air irigasi. Keperluan Air Irigasi (KAI) dinyatakan dengan persamaan: KAI = ETc He (2) Hujan efektif (He) adalah bagian dari total hujan yang digunakan untuk keperluan tanaman (Kalsim 2006). Sedangkan menurut Dastane (1974) diacu dalam Wahyudi (1987), curah hujan efektif adalah bagian dari curah hujan yang diserap oleh daun atau tanaman kering, hilang melalui evaporasi dari permukaan tanah, perkolasi dan pencucian. Jumlah curah hujan efektif untuk pertumbuhan tanaman tergantung pada curah hujan, topografi daerah, sistem penanaman dan tahap pertumbuhan tanaman (Oldeman dan Sjarifuddin 1977 diacu dalam Wahyudi 1987). Anonymus (1973) diacu dalam Wahyudi (1987) menyebutkan faktor-faktor yang mempengaruhi curah hujan efektif untuk persawahan adalah intensitas dan distribusi curah hujan, kedalaman penggenangan air pada padi, metode irigasi dan interval pemberian air, topografi lahan, ukuran dan pemeliharaan tanggul sawah. Curah hujan efektif untuk padi sawah berbeda dengan non padi sawah. Hal ini dikarenakan padi sawah memerlukan penggenangan untuk ketersediaan air bagi tanaman padi, sedangkan tanaman palawija (non padi sawah) tidak memerlukan penggenangan untuk pertumbuhan tanaman sehingga efektifitas penggunaan air juga berbeda. a. Pemakaian air untuk tanaman padi Jenis tanaman di Indonesia yang membutuhkan banyak air untuk kelangsungan hidupnya adalah padi. Pemakaian air untuk tanaman padi digunakan untuk pengolahan lahan, penggenangan sesudah tanam dan sesudah pengeringan (waktu pemupukan), evapotranpirasi, dan kehilangan air di sawah. Pengolahan lahan untuk padi mencangkup penjenuhan, pembalikan tanah, dan pelumpuran yang memerlukan total air sekitar 200-300 mm dan ini tergantung pada tingkat kadar airtanah pada awal pengolahan lahan. Jika air cukup tersedia petani biasanya memerlukan waktu antara 2-3 minggu dengan debit air sekitar 15 20 mm/hari (Kalsim 2003). Selama periode pertumbuhan, tanaman padi memerlukan tinggi genangan tertentu yang harus dipertahankan di petakan sawah. Menurut Kalsim (2003), dengan irigasi berkala (intermittent) akan terjadi fluktuasi tinggi genangan di petakan sawah, sehingga diperlukan suatu kriteria tinggi genangan maksimum dan minimum yang masih diizinkan. Perbedaan tinggi genangan maksimum dan minimum merupakan besarnya simpanan (storage) yang tersedia yang harus diairi secara berselang. Batas atas dan batas bawah genangan tergantung pada periode pertumbuhan dan varietas padi yang ditanam. Untuk varietas padi unggul baru (HYV) besarnya perbedaan genangan maksimum dan minimum biasanya antara 50-125 mm sedangkan untuk varietas lokal biasanya lebih besar. Sesudah tanam (tandur) tinggi genangan di petakan sawah berangsur-angsur dinaikkan dari 0-10 menjadi 60-80 mm, hal ini juga dilakukan pada saat setelah pengeringan atau setelah pemupukan (Kalsim 2003). 5

Besarnya keperluan air di lapangan adalah penjumlahan dari keperluan air irigasi netto dengan kehilangan air di petakan. Kehilangan air di petakan umumnya disebabkan oleh perkolasi yang besarnya antara 1-4 mm/hari (rata-rata 2 mm/hari) dan kehilangan air lainnya disebabkan oleh pengoperasian farm turn-out yang tidak tepat, kebocoran pada galengan dan lain sebagainya (Kalsim 2006). b. Pemakaian air untuk tanaman palawijaya Tanaman palawija tidak membutuhkan penggenangan seperti padi. Lengas tanah yang cukup (kapasitas lapang) diperlukan sedalam daerah perakaran tanaman. Lengas tanah yang tersedia untuk pertumbuhan tanaman adalah lengas tanah antara kapasitas lapang dan titik layu. Secara volumetrik lengas tanah tersebut dapat dinyatakan dalam persen volume atau cm air per meter kedalaman tanah. Apabila lengas tanah mendekati titik layu maka umumnya evapotranspirasi aktual tanaman akan lebih kecil dari pada evapotranspirasi potensial yang akibatnya akan terjadi penurunan produksi. Untuk mencegah hal tersebut hanya sebagian dari total lengas tanah tersedia yang harus dipertahankan yang dikenal dengan total airtanah segera tersedia (Ready Available Moisture, RAM) (Kalsim 2006). Kebutuhan air dari masing-masing jenis palawija berlainan, untuk itu palawija dibagi menjadi tiga golongan, yaitu: 1. Palawija yang membutuhkan banyak air. 2. Palawija yang membutuhkan sedikit air. 3. Palawija yang membutuhkan sedikit sekali air Palawija yang membutuhkan banyak air misalnya beberapa jenis ketela, kacang tanah, bawang, dan sebagainya. Palawija yang membutuhkan sedikit air misalnya tembakau, lombok, kedelai, jagung, dan sebagainya. Sedangkan palawija yang membutuhkan sedikit sekali air seperti kacang panjang dan ketimun. Perbandingan kebutuhan air antara palawija yang membutuhkan sedikit sekali air, sedikit air, banyak air adalah 1:2:3. Pemakaian air pada palawija yang membutuhkan banyak air adalah 0.2-0.25 l/det/ha yang diperkirakan bisa memperoleh hasil yang memuaskan (Gandakoesoemah 1975). 2.3.2 Kebutuhan Air di Petakan Kebutuhan air di petakan adalah jumlah air yang dibutuhkan tanaman dan yang perlu ditambahkan sebagai akibat adanya perkolasi dan aliran permukaan (linsey dan franzini 1979 diacu dalam Wahyudi 1987). Perkolasi adalah pergerakan air bebas ke bawah yang membebaskan lapisan atas dan bagian atas dari lapisan bawah tanah ke tempat yang lebih dalam, dan merupakan air yang berlebihan (Soepardi 1979 diacu dalam Wahyudi 1987). Menurut Sosrodarsono dan Takeda (1980), laju perkolasi dipengaruhi oleh tekstur dan permeabilitas tanah, lapisan tanah atas, lapisan kedap air, dan topografi setempat. 2.3.3 Kebutuhan Air untuk Pengolahan Tanah Kebutuhan air untuk pengolahan tanah digunakan untuk penjenuhan tanah, pelumpuran dan penggenangan. Air untuk penjenuhan tanah digunakan apabila tanah dalam keadaan tidak jenuh saat pertama pemberian air. Jumlah air yang diperlukan untuk penjenuhan tanah sama dengan selisih antara kadar airtanah sebelum diairi (Mabayard dan Obordo 1970 diacu dalam Wahyudi 1987). Kebutuhan air untuk pengolahan tanah dipengaruhi oleh sifat fisik tanah. Tanah berat (banyak mengandung liat) banyak memerlukan air untuk pengolahannya karena proses penjenuhan yang lama. 6

Tabel 1. Hubungan tekstur tanah dengan kebutuhan air Tekstur Tanah Kebutuhan Air (mm/hari) Pasir (Sand) 27 Lempung Berpasir (Sandy Loam) 23 Lempung (Loam) 17 Lempung Liat (Clay Loam) 14 Liat (Clay) 10 Sumber : Rice Irrigation in Japan, OCTA (1973) diacu dalam Wahyudi (1987) 2.3.4 Kebutuhan Air Irigasi Kebutuhan air irigasi adalah kebutuhan air secara keseluruhan untuk suatu areal irigasi. Kebutuhan ini diakibatkan oleh adanya evaporasi, perembesan, dan perkolasi di saluran (Linsley dan Franzini 1979 diacu dalam Wahyudi 1987). Persamaan yang dapat digunakan untuk mengetahui jumlah air irigasi adalah (Linsley dan Franzini 1979 diacu dalam Wahyudi 1987): q d qt = (3) 1 Lc dimana : q d = Jumlah air yang harus dialirkan (liter/detik) q t = Jumlah air yang dibutuhkan di petakan (liter/detik) Lc = Perbandingan antara jumlah air yang hilang selama penyaluran terhadap q d (desimal). 2.4 EFISIENSI IRIGASI Efisiensi irigasi adalah presentase air yang benar-benar bermanfaat untuk tanaman dari sejumlah air yang disediakan atau dialirkan. Konsep efisiensi irigasi digunakan untuk mengevaluasi pemanfaatan irigasi dari saat air meninggalkan sumber hingga diserap oleh tanaman (Hansen et al 1980 diacu dalam Arifianto 2009). Terdapat beberapa konsep efisiensi irigasi, yaitu efisiensi penyaluran (water caveyance efficiency), efisiensi persediaan air (water storage efficiency), efisiensi penyebaran air (water distribution efficiency) dan efisiensi penggunaan konsumtif (consumptive use efficiency) (Hansen et al., 1980). Sedangkan Doorenbos dan Pruitt (1977) membagi efisiensi irigasi menjadi efisiensi penyaluran, efisiensi penyaluran di lapang, efisiensi pemberian air, dan efisiensi proyek. Efisiensi penyaluran adalah perbandingan antara jumlah air yang sampai di areal pertanaman dengan jumlah air yang dialirkan dari sumber air. wb Ec = wr dimana : Ec = Efisiensi Penyaluran w b = Jumlah Air yang Sampai di Areal Pertanaman (liter/detik) w r = Jumlah Air yang Dialirkan dari Sumber Air (liter/detik) (4) 7

Efisiensi penyaluran di lapang adalah perbandingan jumlah air yang sampai di petakan dengan jumlah air yang sampai di areal pertanaman, dinyatakan dengan rumus berikut : Eb = dimana : Eb = Efisiensi Penyaluran di lapang W f = Jumlah Air yang Sampai di Petakan (liter/detik) w w f b (5) Efisiensi pemberian air adalah perbandingan jumlah air yang tersedia dalam zona perakaran dengan jumlah air yang sampai di petakan, dinyatakan dengan rumus berikut : Ea = dimana : Ea = Efisiensi Pemberian Air W s = Jumlah Air yang Tersedia di dalam Zona Perakaran (liter/detik) w w s f (6) Efisiensi proyek adalah efisiensi irigasi secara keseluruhan, dinyatakan dengan rumus berikut : Ep = Ec x Eb x Ea (7) 2.5 POLA TANAM Pola tanam merupakan suatu urutan tanam pada sebidang lahan dalam satu tahun, termasuk didalamnya masa pengolahan tanah. Pelaksanaan pola tanam dari suatu daerah irigasi teknis dalam satu tahun, biasanya dilaksanakan berdasarkan surat keputusan kepala daerah setempat. Disamping pertimbangan untuk mendukung kebijakan pangan nasional, penentuan pola tanam tersebut juga dibuat berdasarkan faktor ketersediaan air dan aspirasi petani. Pola tanam yang baik tentu tidak terlepas dari penggunaan data hujan seberapun sederhananya. Data yang baik memberikan kontribusi yang optimal pada perencanaan waktu tanam dan menentukan prakiraan yang akurat dalam lingkup area tertentu. 2.6 PERKUMPULAN PETANI PEMAKAI AIR (P3A) Perkumpulan petani pemakai air merupakan wadah perkumpulan para petani dalam mengurus atau mengelolah air irigasi secara bersama dan teratur sehingga dapat melayani kebutuhan air seluruh anggota pada wilayah dan daerah kerja P3A secara adil dan merata. Selain itu P3A juga merupakan wadah untuk musyawarah para anggota untuk memecahkan segala permasalahan yang timbul dalam pengelolaan air irigasi. P3A tidak saja memanfatkan air tetapi juga dapat melaksanakan perbaikan dan memelihara pompa dan saluran (Dinas PU Sumatra Barat). Maksud dan tujuan P3A adalah untuk dapat menggunakan air yang efektif sehingga dapat meningkatkan produksi yang optimal serta dapat meningkatkan taraf ekonomi para petani. P3A dapat mengatur musim tanam atau pola tanam akibat dari adanya pengaturan air yang lebih baik. 8

2.7 ANALISIS POMPANISASI Perencanaan yang matang diperlukan dalam pengelolaan irigasi yang berkelanjutan. Perencanaan ini mengkaji beberapa aspek yang akan dilibatkan untuk menentukan kelayakan dari pompanisasi. Hal yang harus diperhatikan adalah biaya yang akan dikeluarkan, manfaat yang diperoleh serta umur ekonomis dari peralatan yang digunakan. Menurut Pramudya dan Dewi (1992) diacu dalam Munir (2003), biaya yang digunakan dalam penggunaan pompa adalah biaya investasi, biaya tetap, dan biaya tidak tetap atau biaya operasional. Biaya investasi meliputi biaya mesin penggerak, pompa, jaringan pipa, pipa, dan rumah pompa. Biaya tidak tetap meliputi biaya untuk kebutuhan bahan bakar, pelumas, gemuk, pemeliharaan dan perbaikan. 2.7.1 Biaya Penyusutan 2.7.1.1 Tanpa memperhitungkan bunga modal D = Biaya Penyusutan P = Harga Awal (Rp) S = Harga Akhir (Rp) N = Umur Ekonomis (tahun) P S D = (8) N 2.7.1.2 Memperhitungkan bunga Modal D= ( P S) Crf n i*(1 + i) D= ( P S) (1 ) n + i 1 (9) Crf = Capital recovery factor (faktor pengambilan modal) i = persen bunga modal dan asuransi (%) 2.7.2 Biaya Bunga Modal dan Asuransi I ixp( N+ 1) = (10) 2N I = Total biaya bunga modal dan asuransi (RP/tahun) P = Harga awal (Rp) N = Umur ekonomis (tahun) 9

2.7.3 Biaya Pemeliharaan dan Perbaikan BPP 1, 2%( P S) * t 100 jam = (11) BPP = Biaya Pemeliharaan dan Perbaikan (Rp/tahun) t = Lama Pemompaan 2.7.4 Nilai uang pada waktu akan datang Fn = P(1 + i) N (12) Fn = Nilai uang pada waktu ke-n (Rp) 2.7.5 Besarnya Angsuran Seragam i A= F N (1 + i) 1 (13) A = Angsuran yang dibayarkan F = Nilai uang yang akan datang 2.7.6 Jika Bunga Modal Dipengaruhi Oleh Tingkat Inflasi i' = i+ f + if (14) i = Bungan modal karena pengaruh inflasi (%) f = tingkat inflasi rata-rata per tahun (%) 2.8 BIAYA PENGGANTIAN KOMPONEN IRIGASI Menurut Bambang dan Nesia (2000) penggantian alat atau mesin (replacement) dapat diartikan sebagai berikut : 1. Keputusan untuk menentukan kapan suatu alat atau mesin yang sedang digunakan, secara ekonomis sudah tidak layak lagi untuk digunakan, dan sebaiknya diganti dengan alat atau mesin yang sama pada waktu yang ditentukan. 2. Pemilihan alternatif antara mempertahankan penggunaan alat atau mesin yang sudah ada dan sedang digunakan, dengan penggunaan alat atau mesin tipe yang sama tetapi dengan model yang lebih baru, atau dengan alat atau mesin lain tetapi mempunyai fungsi yang sama dengan alat atau mesin sebelumnya, atau dengan sistem kepemilikan yang lain (misalnya sistem sewa), bahkan 10

mungkin dapat juga mempertimbangkan dengan tenaga manusia. Dalam hal ini alat atau mesin yang lama dan sedang digunakan masih layak untuk digunakan, dalam arti belum habis umur ekonomisnya. Biaya penggantian adalah biaya yang timbul akibat pemilihan penggantian mesin lama dengan mesin baru. Biaya penggantian dapat diartikan juga sebagai biaya yang berhubungan dengan biaya penggantian suatu aktiva atau jasa yang akan terjadi di waktu yang akan datang pada saat diadakan penggantian. Tujuan dilakukannya perhitungan biaya pengggantian suatu alat atau mesin adalah agar mengetahui biaya yang harus dipersiapkan untuk mengganti alat atau mesin yang tidak dapat digunakan lagi atau telah habis umur ekonomisnya dengan jangka waktu yang telah ditentukan. Biaya penggantian dikalangan petani dalam mengelolah sumur pompa sangat penting untuk diketahui, agar petani dapat mengangsur biaya pembelian komponen irigasi pompa baru jika komponen yang sedang digunakan telah mencapai umur ekonomisnya. 11