OPTIMALISASI CLUSTER SERVER LMS DAN IPTV DENGAN VARIASI ALGORITMA PENJADWALAN

dokumen-dokumen yang mirip
OPTIMALISASI CLUSTER SERVER LMS DAN IPTV DENGAN VARIASI ALGORITMA PENJADWALAN

RANCANGAN LAYANAN E-LEARNING

Rancang Bangun Server Learning Management System (LMS) Berbasis Metode Load Balancing

BAB 1 PENDAHULUAN UKDW

ABSTRAK. Kata Kunci : algoritma penjadwalan, linux virtual server, network address translation, network load balancing.

Proposal Tugas Akhir

BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang

UJI AVAILABILITAS LOAD BALANCING WEB SERVER MENGGUNAKAN LINUX VIRTUAL SERVER

ANALISIS AVAILABILITAS LOAD BALANCING PADA WEB SERVER LOKAL

Analisis Load Balancing Pada Web Server Menggunakan Algoritme Weighted Least Connection

IMPLEMENTASI METODE LOAD BALANCING DALAM MENDUKUNG SISTEM KLUSTER SERVER

Integrasi Aplikasi Voice Over Internet Protocol (VOIP) Dengan Learning Management System (LMS) Berbasis

BAB 1 PENDAHULUAN. sehari-hari seiring dengan perkembangan teknologi aksesnya pada perangkat

Seminar Nasional Inovasi dalam Desain dan Teknologi - IDeaTech 2015 ISSN:

ANALISIS PERFORMANSI LOAD BALANCING DENGAN ALGORITMA ROUND ROBIN DAN LEAST CONNECTION PADA SEBUAH WEB SERVER ABSTRAK

IMPLEMENTASI TEKNOLOGI LOAD BALANCER DENGAN WEB SERVER NGINX UNTUK MENGATASI BEBAN SERVER

Analisis Performa Load Balancing DNS Round Robin dengan Linux Virtual Server pada Webserver Lokal

BAB II TINJAUAN PUSTAKA DAN DASAR TEORI. tentang load balancing terus dilakukan dan metode load balancing terus

BAB II TINJAUAN PUSTAKA DAN DASAR TEORI. Tabel 2.1 Tinjauan Pustaka

Implementasi Sinkronisasi Uni-Direksional antara Learning Management System Server dan User pada Institusi Pendidikan Berbasis Moodle

RANCANG BANGUN LIVE TV BROADCASTING PADA INTERNET PROTOCOL TELEVISION (IPTV)

OPTIMALISASI LOAD BALANCING DUA ISP UNTUK MANAJEMEN BANDWIDTH BERBASIS MIKROTIK. Futri Utami 1*, Lindawati 2, Suzanzefi 3

1. BAB 1 PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang

RANCANG BANGUN SISTEM PEMBELAJARAN JARAK JAUH (DISTANCE LEARNING) PADA INTERNET PROTOCOL TELEVISI (IPTV)

Analisis Implementasi Aplikasi Video Call pada Sinkronisasi Learning Management System berbasis Moodle sebagai Metode Distance Learning

Bab 4 Hasil dan Pembahasan

BAB I PENDAHULUAN. Cloud computing dalam pengertian bahasa Indonesia yang diterjemahkan

MEMBANGUN SISTEM CLOUD COMPUTING DENGAN IMPLEMENTASI LOAD BALANCING DAN PENGUJIAN ALGORITMA PENJADWALAN LINUX VIRTUAL SERVER PADA FTP SERVER

Modul ke: APLIKASI KOMPUTER OLEH : Fakultas FASILKOM. Sabar Rudiarto, S.Kom., M.Kom. Program Studi Teknik Informatika.

Perancangan dan Implementasi WebServer Clustering dengan Skema Load Balance Menggunakan Linux Virtual Server Via NAT

BAB I PENDAHULUAN. Gambar 1.1. Grafik jumlah pengguna internet di Indonesia tahun versi APJII

BAB I PENDAHULUAN. harinya menggunakan media komputer. Sehingga banyak data yang disebar

ANALISA KINERJA SINKRONISASI UNI-DIREKSIONAL PADA LEARNING MANAGEMENT SYSTEM PADA JARINGAN RADIO

Jurnal Elektronik Ilmu Komputer - Universitas Udayana JELIKU Vol 1 No. 2 Nopember 2012

IMPLEMENTASI DAN PENGUJIAN PERFORMANSI LOAD BALANCING DENGAN ALGORITMA LEASTCONN PADA DATABASE SERVER

RANCANG BANGUN LAYANAN PERSONAL VIDEO RECORDING (PVR) PADA INTERNET PROTOCOL TELEVISION (IPTV)

Implementasi Load Balancing Dan Virtual Machine Dengan Algoritma Round Robin Pada Sistem Informasi Penerimaan Pegawai Bppt. Annisa Andarrachmi, S.

Analisis Perbandingan Performansi Server VoIP. berbasis Parallel Processing

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang

ANALISIS LOAD BALANCING WEB SERVER BERDASARKAN IPVSADM

Perancangan Dan Implementasi Load Balancing Dan Failover Clustering Pada Linux Virtual Server (LVS) Untuk High Availability

BAB I PENDAHULUAN. secara efektif melalui video tersebut. Untuk dapat melihat streaming video di

OPTIMALISASI LOAD BALANCING DUA ISP UNTUK MANAJEMEN BANDWIDTH BERBASIS MIKROTIK

LOAD BALANCING PADA CLOUD COMPUTING MENGGUNAKAN ALGORITMA WEIGHTED LEAST CONNECTION JARINGAN KOMPUTER SKRIPSI

TUGAS AKHIR ANALISIS KINERJA CONTENT DELIVERY NETWORK YANG MENGGUNAKAN LOAD BALANCER

BAB I PENDAHULUAN 1.2. Latar Belakang Masalah

BAB I PENDAHULUAN. Perkembangan teknologi di bidang informasi berkembang dengan

BAB I PENDAHULUAN. drastis. Berdasarkan data hasil penelitian tim survey trafik internet Cisco VNI, pada

BAB II DASAR TEORI 2.1. Pengenalan Sistem Operasi Linux 2.2. Dasar Sistem Cluster

ANALISIS MOBILE LEARNING DENGAN LAYANAN VIDEO BERBASIS ANDROID

PROPOSAL PENELITIAN TESIS KOMPARASI DISTRIBUTED CACHE DAN CENTRALIZED CACHE PADA WEB PROXY PARULIAN

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

Cloud Computing Windows Azure

STUDI KUALITAS VIDEO STREAMING MENGGUNAKAN PERANGKAT NSN FLEXYPACKET RADIO

BAB II KONSEP DASAR VIDEO STREAMING SERVER. komputer. Komputer server didukung dengan spesifikasi hardware yang lebih

IMPLEMENTASI DAN ANALISIS PERFORMANSI VoIP PADA CALL CENTRE TESA 129

RANCANG BANGUN SISTEM KEAMANAN KONTEN VIDEO ON DEMAND (VOD) PADA INTERNET PROTOCOL TELEVISION (IPTV) MENGGUNAKAN VIDEO ENCRYPTION ALGORITHM (VEA)

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

Rancang Bangun dan Analisa Metode Penjadwalan Load Balancing pada Video Streaming Server TUGAS AKHIR

I. PENDAHULUAN. Umumnya lembaga pemerintahan maupun pendidikan mempunyai website yang

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

BAB III ANALISIS DAN PERANCANGAN SISTEM. terjadi. Oleh karena itu perlu dilakukan analisis proses bisnis yang sedang berjalan

RANCANG BANGUN WEB SERVER BERBASIS LINUX DENGAN METODE LOAD BALANCING (STUDI KASUS : LABORATORIUM TEKNIK INFORMATIKA)

VIDEO STREAMING. Pengertian video streaming

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

IMPLEMENTASI EYE OS MENGGUNAKAN METODE LOAD BALANCING DAN FAILOVER PADA JARINGAN PRIVATE CLOUD COMPUTING DENGAN LAYANAN IAAS DAN SAAS

PEMANFAATAN APLIKASI RED5 SEBAGAI STREAMING SERVER DI UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

SKRIPSI ANALISIS KINERJA WEB SERVER DENGAN METODE LOAD BALANCING PADA HAPROXY

Tugas Akhir IMPLEMENTASI LOAD BALANCING PADA WEB SERVER

Adi Heru Utomo Jurusan Teknologi Informasi, Politeknik Negeri Jember Jalan Mastrip Kotak Pos 164 Jember

Bab 3 Metode dan Perancangan Sistem

ANALISA PERFORMANSI LIVE STREAMING DENGAN MENGGUNAKAN JARINGAN HSDPA. Oleh : NRP

PERANCANGAN VIRTUAL LOCAL AREA NETWORK (VLAN) DENGAN DYNAMIC ROUTING MENGGUNAKAN CISCO PACKET TRACER 5.33

BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

RANCANG BANGUN SISTEM BILLING PADA INTERNET PROTOCOL TELEVISION (IPTV)

IMPLEMENTASI DAN EVALUASI KINERJA LOAD BALANCING

BAB III. server, merupakan media yang digunakan untuk mendistribusikan live stream

Bab 2 Tinjauan Pustaka

ANALISIS PERBANDINGAN PERFORMA WEB SERVER APACHE DAN NGINX MENGGUNAKAN HTTPERF PADA VPS DENGAN SISTEM OPERASI CENTOS NASKAH PUBLIKASI

BAB III ANALISIS SISTEM

BAB 2 LANDASAN TEORI

BAB III METODOLOGI. beragam menyebabkan network administrator perlu melakukan perancangan. suatu jaringan dapat membantu meningkatkan hal tersebut.

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

7.1 Karakterisasi Trafik IP

IMPLEMENTASI DAN ANALISIS KINERJA LOAD BALANCING PADA VIRTUAL SERVER MENGGUNAKAN ZEN LOAD BALANCER

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

Rancang Bangun RTP Packet-Chunk De-encapsulator Data AV Stream Format RTP Sebagai Terminal Access Multi-Source Streaming Server

Perancangan Sistem Penjadwalan Proxy Squid Menggunakan Cluster schedulling. Poster

BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang. Dalam beberapa tahun terakhir, teknologi informasi telah

PERANCANGAN E-LEARNING DENGAN LMS MOODLE DAN TATAP MUKA VIA VIDEO STREAMING MENGGUNAKAN GOOGLE HANGOUTS

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA

Pert 11 DASAR-DASAR WEB DESIGN

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang

BAB 1. PENDAHULUAN. Pada dekade akhir-akhir ini, pertumbuhan dari satellite service, perkembangan

Transkripsi:

OPTIMALISASI CLUSTER SERVER LMS DAN IPTV DENGAN VARIASI ALGORITMA PENJADWALAN Didik Aribowo 1), Achmad Affandi 2) 1) 2) Telekomunikasi Multimedia Teknik Elektro FTI ITS Sukolilo, Surabaya, 60111, Indonesia email : didik.aribowo10@mhs.ee.its.ac.id 1), affandi@ee.its.ac.id 2) Abstrak Perkembangan teknologi informasi yang pesat, otomatis seiring juga dengan meningkatnya para pengguna yang terhubung pada jaringan internet. Berawal dari sebuah single server yang selalu mendapatkan request dari banyak user, perlahan tapi pasti akan terjadi overload dan crash sehingga berdampak pada request yang tidak dapat dilayani oleh single server. Desain arsitektur cluster dapat dibangun dengan menggunakan konsep network load balancing yang memungkinkan proses pengolahan data di share ke dalam beberapa komputer, salah satu caranya menggunakan teknologi linux virtual server via NAT. Dalam linux virtual server terdapat beberapa algoritma penjadwalan yang dapat mempengaruhi kinerja sistem LVS. Performansi masingmasing algoritma penjawalan tersebut dapat diamati dengan menekankan pada parameter yang diuji, yaitu throughput, respon time, reply connection, dan error connection sehingga didapatkan algoritma penjadwalan terbaik dalam rangka optimalisasi cluster server LMS dan IPTV. D a l a m p r o s e s l o a d b a l a n c i n g m a m p u m e n g u r a n g i b e b a n k e r j a s e t i a p server sehingga t i d a k a d a server yang overload, sehingga memungkinkan server untuk menggunakan bandwidth yang tersedia secara lebih efektif, dan menyediakan akses yang cepat ke web browser yang dihosting. Implementasi webserver cluster dengan skema load balancing dapat memberikan alvalaibilitas sistem yang tetap terjaga dan skalabilitas yang cukup untuk dapat tetap melayani setiap request dari pengguna. Kata kunci : LMS, IPTV, Load Balancing, Algoritma Penjadwalan 1. Pendahuluan Salah satu bidang yang mendapatkan dampak yang cukup berarti dengan perkembangan teknologi, adalah bidang pendidikan. Dimana pada dasarnya pendidikan merupakan suatu proses komunikasi dan informasi dari pendidik kepada peserta didik yang berisi informasiinformasi pendidikan, yang memiliki unsur-unsur pendidik sebagai sumber informasi, media sebagai sarana penyajian ide, gagasan,dan materi pendidikan, serta peserta didik itu sendiri. Beberapa bagian unsur ini mendapatkan sentuhan media teknologi informasi, sehingga mencetuskan lahirnya ide tentang e-learning. Agar lebih menarik dalam penyajiannya maka perlu di gabungkan antara layanan e-learning dengan IPTV. Dimana siswa dapat menikmati pembelajaran dengan hal yang berbeda yaitu dengan melihat tampilan berupa video, dalam proses penggabungan tersebut diperlukan load balancing web server yang handal dan dapat melayani sesuai permintaan pelanggan. Pada penelitian ini akan dilakukan perancangan server cluster IPTV dan server cluster LMS secara terpisah, tetapi digabung dalam satu load balancer. Oleh karena itu perlu dikaji aspek-aspek peformansi jaringan ketika kedua sistem ini dijalankan secara bersamaan, sehingga dapat dihasilkan sebuah rekomendasi untuk membangun sebuah server sesuai dengan keadaan yang diinginkan dan dapat mengakomodir seluruh kebutuhan metode pembelajaran jarak jauh dalam institusi pendidikan 2. Tinjauan Pustaka E-Learning adalah suatu model pembelajaran yang di dalamnya menggabungkan beberapa unsur antara lain self-motivation, komunikasi, efisiensi dan teknologi. Akan tetapi pada sistem ini memiliki sarana interaksi sosial yang terbatas. Keadaan ini tetap mengharuskan siswa untuk berkomunikasi atau bertatap muka secara langsung antara satu dengan yang lainnya maupun dengan pengajar mereka dalam beberapa waktu tertentu untuk dapat memperjelas materi yang ingin disampaikan dan menyelesaikan tugas-tugas mereka. e-learning akan menjadi efisien ketika jarak antara siswa dan pengejar dapat dieliminasi. Jarak harus dieliminasi karena konten dari e-learning di desain dalam bentuk sebuah media yang dapat di akses dari terminal komputer yang saling terhubung baik lokal maupun internet [4]. Untuk lebih mudah dalam memahami secara sederhana dengan apa saja yang terkait dengan komponen dari implementasi sebuah e-learning dapat di lihat pada tampilan gambar 1 di bawah ini. 11-13

Gambar 2 IPTV domain model Gambar 1 Komponen e-learning Dalam proses penyelenggaraan e-learning, maka dibutuhkan sebuah Learning Management System (LMS), yang berfungsi untuk mengatur tata laksana penyelenggaraan pembelajaran didalam model e- learning. Sering juga LMS dikenal sebagai CMS (Course Management System), umumnya CMS dibangun berbasis web, yang akan berjalan pada sebuah web server dan dapat diakses oleh pesertanya melalui web browser (web client). Server biasanya ditempatkan di Universitas atau lembaga lainnya, yang dapat diakses darimanapun oleh pesertanya, dengan memanfaatkan koneksi internet. Pengembangan aplikasi LMS dilakukan oleh beberapa kelompok baik profesional maupun komunitas open source, Modular Object-Oriented Dynamic Learning Environtment yang disingkat Moodle. Moodle merupakan aplikasi Course Management System (CMS) berbasis open source yang saat ini digunakan oleh universitas, lembaga pendidikan, dan instruktur individual yang ingin menggunakan teknologi web untuk pengelolaan pengajarannya. Moodle tersedia secara gratis di web pada alamat (http://www.moodle.org), sehingga siapa saja dapat mendownload dan menginstalnya. Disamping itu dengan menggunakan tooltool yang ada pada moodle dan fitur yang tersedia pada moodle pengguna dapat membuat sebuah kelas yang efektif [4]. Internet Protocol Television (IPTV) atau sering juga disebut dengan Telco TV, broadband TV merupakan pengiriman secara aman televisi berkualitas tinggi dan/atau video on-demand dan content audio melalui jaringan broadband. IPTV secara umum merpakan sistem yang digunakan untuk pengiriman channel televisi tradisional, film, dan content video-ondemand melalui jaringan privat. Melalui perspektif end user, IPTV tampak dan beroperasi seperti layanan TV standar. Dari perspektif service provider, IPTV meliputi penerimaan, pemrosesan, dan pengiriman secara aman content video melalui sebuah infrastruktur jaringan berbasis IP [3] seperti halnya yang tertera pada gambar 2 di bawah ini yang mendeskripsikan bagaimana domain sebuah IPTV tersebut. 3. Metode Penelitian Pada penelitian ini akan dirancang cluster server IPTV dan LMS secara terpisah, tetapi tetap dalam 1 load balancer. Dalam perancangan pada penelitian ini menggunakan 2 server IPTV berbasis sistem operasi windows, 2 server LMS, 2 computer client dan 1 Pc load balancer dan 2 buah switch. Pada gambar 3 skema topologi jaringan di atas secara sederhana dapat dijelaskan bahwa pada saat client ingin mengakses sebuah content atau aplikasi dari server cluster IPTV dan cluster LMS akan diarahkan oleh server load balancer kepada server yang ada, sesuai alamat IP yang telah diset pada masing-masing server untuk merespon permintaan dari client tersebut. Gambar 3 Skema Topologi Jaringan Disini client akan mengakses situs LMS dan IPTV dengan total request ke server sebanyak 500, 1000, dan 1500 connection yang digunakan untuk mengukur performasi server seperti yang ditunjukkan dalam diagram alir perancangan pada gambar 4 di bawah ini. 11-14

software web server benchmarking tool seperti httperf. Httperf adalah tool sederhana berbasis command line yang dapat dijalankan di atas sistem operasi Linux untuk menguji ( benchmarking) performansi suatu web server. Httperf melakukan tes dengan mengirimkan sejumlah workload HTTP atau HTTP request ke web server target dan menampilkan hasil tes tersebut ke komputer monitoring. Hasil tes yang didapatkan antara lain: jumlah request yang dikirimkan, jumlah reply request connection, respons timse, throughput (Net I/O), eror connection, statistik penggunaan CPU dan lain-lain. 4. Hasil dan Pembahasan Gambar 4 Blok diagram pengukuran performasi server Pada penelitian ini ada 4 dari 7 algoritma penjadwalan : 1. Round Robin Pada penjadwalan tipe round-robin, manager mendistribusikan client request sama rata ke seluruh real server tanpa memperdulikan kapasitas server ataupun beban request. Jika ada tiga real server (A,B,C), maka request 1 akan diberikan manager kepada server A, request 2 ke server B, request 3 ke server C dan request 4 kembali ke server A [5]. 2. Least Connection Least Connection Merupakan algoritma penjadwalan yang mengarahkan koneksi jaringan pada server aktif dengan jumlah koneksi yang paling sedikit. Penjadwalan ini termasuk salah satu algoritma penjadwalan dinamis, karena memerlukan perhitungan koneksi aktif untuk masing-masing real server secara dinamis [6]. 3. Weighted Least Connection Merupakan sekumpulan penjadwalan least connection dimana dapat ditentukan bobot kinerja pada masing-masing real server. 4. Weighted Round Robin. Penjadwalan ini memperlakukan real server dengan kapasitas proses yang berbeda. Masing-masing real server dapat diberi bobot bilangan integer yang menunjukkan kapasitas proses, dimana bobot awal adalah 1. Parameter yang digunakan dalam penelitian ini adalah throughput, respons time, reply request connection dan eror connection. Untuk mengetahui beban kerja maksimum suatu web server dalam menangani koneksi dari client dalam waktu tertentu. Workload web server dapat diuji dengan menggunakan Pada bagian ini akan dilakukan pembahasan mengenai analisis data serta pembahasan mengenai hasil implementasi yang telah dilakukan pada bagian sebelumnya yaitu mengenai performansi server serta jaringan cluster IPTV dan LMS. Analisis dilakukan berdasarkan data yang didapat dari hasil transfer data antar server dan klien. A. Analisa performansi throughput pada server IPTV. Pengamatan throughput dilakukan dengan menggunakan tool httperf pada sisi client yang terhubung dengan load balancer dari web server cluster IPTV. Sebelum pengujian throughput dari web server cluster IPTV diperoleh, terlebih dahulu menentukan penjadwalan untuk mengetahui performasi server ketika dilakukan pengaksesan web server IPTV sebanyak 500, 1000, dan 1500 connection. Hasil dari pengujian troughput ditampilkan dalam tabel 1 di bawah ini. Tabel 1 Throughput dari workload web server IPTV Conn Throughput (KB/s) ection Wlc Wrr Rr Lc 500 1667,6 1472,5 1511 1642,3 1000 1798,2 1641,1 1366,4 1677,6 1500 1189 1386,4 1023,2 1526,1 Berdasarkan data throughput yang diperoleh dari tabel 1 dapat diamati bahwa ketika pengaksesan web server cluster IPTV dengan IP address 10.122.70.10 sebanyak 500 connection dilakukan dari client menunjukan algoritma penjadwalan weighted least connection (wlc) menempati nilai throughput terbesar sebesar 1667,6 KB/s dengan presentase perbedaan throughput 11.69 % dari weighted round robin (wrr), 9,39 % dari round robin (rr) dan 1.51 % dari least connection (lc). Kemudian pada pengaksesan web server cluster IPTV dengan 1000 connection menunjukan wlc juga memperoleh throughput terbesar sekitar 1798,2 KB/s, berbeda halnya dengan 1500 connection throughtput lc lebih besar dibanding dengan wlc, wrr, dan rr yakni sebesar 1526,1 KB/s. Hasil pengukuran dan prosentase tersebut merupakan rerata dari pengukuran yang dilakukan 10 kali percobaan secara berulang dari 11-15

masing-masing penjadwalan algoritma untuk mendapat hasil yang paling optimal mendapatkan nilai throughput. Untuk melihat tampilan grafik dari hasil pengujian troughput ada pada gambar 5 di bawah ini. terdapat performasi response time terbaik ada pada algoritma penjadwalan weighted least connection (wlc), tapi selisih performasi antara wlc dan lc tidak terlampau jauh pada 1000 connection. Sedangkan untuk 500 dan 1500 connection selisih response time terpaut 52,9 % dan 62,5 %. Adapun untuk tampilan perbandingan performasi response time server cluster IPTV dapat dilihat pada gambar 6 di bawah ini. Gambar 5 Tampilan throughput performasi server cluster IPTV Dapat dilihat pada gambar 5, bahwa dari data throughput performansi server cluster IPTV yang diperoleh dapat diambil sebuah analisa yaitu denga semakin besar jumlah workload atau beban koneksi (connection) yang mengakses webs server cluster IPTV, maka throughput yang diterima akan semakin kecil karena web secara bergantian memproses beban connection yang datang. Pada penelitian ini membuktikan bahwa dari segi throughput untuk cluster web server IPTV, penjadwalan weighted least connection ( wlc ) adalah yang terbaik digunakan untuk dapat merepresentasikan perbedaan throughput server cluster IPTV dengan variasi penjadwalan algoritma secara beragam. B. Analisa pengamatan Respose time pada server IPTV. Dari hasil pengujian response time, maka dapat ditampilkan dalam tabel 2 di bawah ini. Tabel 2 Respon Time dari workload web server IPTV Conne Respon Time (m/s) ction Wlc Wrr Rr Lc 500 134,9 387,9 561,7 286,8 1000 193,3 352,8 1875,3 183,7 1500 1920,1 1708,7 2161,9 719,6 Dari data hasil pengamatan pada tabel 2 dapat dilihat bahwa pada jumlah koneksi ( connection) 500, response time terbaik diperlihatkan oleh algoritma penjadwalan weighted least connection (wlc) dengan response time 134.9 (m/s). Untuk 1000 connection yang muncul sebagai response time tercepat adalah algoritma penjadwalan least connection (lc) dengan response time 183,7 (m/s). Sedangkan untuk 1500 sebagai response time tercepat adalah algoritma algoritma penjadwalan least connection (lc) dengan response time 719,6 (m/s). Dapat disimpulkan, bahwa semakin besar beban koneksi ( workload connection), maka response time akan semakin besar dan lama. Pada web server cluster IPTV response time terbaik pada penelitian ini adalah least connection (lc), walaupun dalam 500 connection Gambar 6 Tampilan response time performansi server cluster IPTV C. Analisa reply dan eror connection pada server IPTV Untuk hasil pengujian reply connection dapat ditampilkan pada tabel 3 di bawah ini. Tabel 3 Reply connection dari workload web server IPTV Reply Connection 500 499,4 500 500 500 1000 892,2 1000 939,5 1000 1500 1454,9 1500 1227,2 1307,2 Sedangkan untuk hasil pengujian dari error connection dapat ditampilkan dalam tabel 4 di bawah ini. Tabel 4 Eror connection dari workload web server IPTV Error Connection 500 0,6 0 0 0 1000 107,8 0 60,5 0 1500 45,1 0 272,8 192,8 Berdasarkan data pada tabel 3 terlihat bahwa algoritma penjadwalan weighted round robin (wrr) mendapatkan reply connection tertinggi pada connection 500, 1000, dan 1500, dengan jumlah reply masingmasing adalah 500 request untuk 500 connection, 1000 request untuk 1000 connection dan 1500 untuk 1500 connection. Untuk tampilan secara grafik dari pengujian reply connection dapat ditampilkan pada gambar 7 di bawah ini. 11-16

E. Analisa pengamatan Respose time pada server LMS. Berdasarkan data pada tabel 6, response time web server cluster LMS tebaik diraih untuk akses 500, 1000, dan 1500 connection diraih oleh least connection ( lc) dengan nilai response time 2702,5 (m/s), 2919,2 (m/s), dan 3258,5 (m/s). Gambar 7 Tampilan reply connection performansi server cluster IPTV Sedangkan untuk tampilan grafik dari pengujian error connection dapat ditampilkan pada gambar 8 di bawah ini. Gambar 8 Tampilan error connection performansi server cluster IPTV Tabel 6 Tampilan response time server cluster LMS Conne Response Time (m/s) ction Wlc Wrr Rr Lc 500 3909,7 3554,7 4150.8 2702,5 1000 3343,3 3839,4 4152,6 2919,2 1500 3496,8 4134 4435,8 3258,5 Sedangkan untuk mengetahui tampilan secara grafik dapat diperlihatkan pada gambar 10 di bawah ini. Dari hasil pengujian dengan jumlah beban koneksi 500, 1000, 1500 menunjukkan bahwa LC lebih dominan dibandingkan dengan yang lainnya. D. Analisa performasi throughput pada server LMS. Hasil pengujian troughput dari server LMS dapat ditampilkan dalam tabel 5 di bawah ini. Tabel 5 Tampilan throughput server cluster LMS Throughput (KB/s) 500 91,1 51 74,1 81,9 1000 64,8 56,3 57,4 63,3 1500 48,4 57,5 59,9 52,8 Berdasarkan data pada tabel 5 terlihat bahwa algoritma penjadwalan terbaik dari segi throughput yang diterima untuk 500 connection adalah weighted least connection (wlc) dengan throughput 91,1 KB/s. untuk 1000 connection masih unggul weighted lest connection (wlc). Sedangkan untuk 1500 connection round robin (rr) mengungguli wlc, lc, dan wrr. Untuk tampilan secara grafik ada pada gambar 9 di bawah ini Gambar 10 Tampilan response time performansi server cluster LMS F. Analisa reply dan eror connection pada server LMS Hasil pengujian error connection pada server LMS ditunjukkan pada tabel 7 di bawah ini. Tabel 7 Tampilan Error Connection server cluster LMS Error Connection 500 71,7 28,2 47,2 61,2 1000 85,8 42 42,8 83,5 1500 80,9 44,6 46 88,9 Sedangkan untuk hasil pengujian reply connection dapat ditampilkan pada tabel 8 di bawah ini. Gambar 9 Tampilan throughput performansi server cluster LMS Dari hasil analisis data throughput pada web server cluster LMS dapat disimpulkan bahwa semakin besar workload connection dari server cluster LMS, maka jumlah throughput yang diterima semakin kecil, opsi ini berlaku apabila load balancer dari web server cluster menggunakan algoritma penjadwalan weighted round robin (wrr), round robin (rr) dan least connection (lc). Tabel 8 Tampilan Reply Connection server cluster LMS Reply Connection 500 428,3 471,8 452,8 438,8 1000 914,2 958 957,2 916,5 1500 1419,1 1455,4 1454 1411,1 Sebagai bentuk dari tampilan secara grafik dari reply connection dapat ditunjukkan pada gambar 11 di bawah ini. 11-17

dihasilkan juga akan semakin bertambah besar. untuk LMS bandwidth juga berpengaruh tetapi untuk throughput lebih fluktuatif karena pada LMS yang diakses adalah berupa tulisan, gambar serta template website, sedangkan pada IPTV yang diakses adalah video realtime. Gambar 11 Tampilan reply connection performansi server cluster LMS Sedangkan untuk tampilan grafik dari error connection ditunjukkan pada gambar 12 di bawah ini. Gambar 12 Tampilan error connection performansi server cluster LMS 5. Kesimpulan dan Saran Berdasarkan dari sistem yang telah diimplementasikan dan hasil analisa pada pengukuran performasi jaringan yang telah dilakukan, kesimpulannya adalah sebagai berikut : 1. Performansi server cluster IPTV dan server cluster LMS berbasis load balancing pada penelitian ini diperoleh secara umum algoritma penjadwalan weighted least connection (wlc) dan least connection (lc) sebagai penjadwalan yang terbaik untuk diterapkan pada load balancer karena bekerja secara dinamis dengan mendistribusikan beban jaringan ke server yang aktif yang memiliki jumlah beban jaringan paling sedikit. 2. Peningkatan request client yang terlalu besar akan menghasilkan eror connection besar, jika tidak diikuti dengan penambahan web server. 3. Besar kecilnya bandwidth sangat berpengaruh terhadap nilai throughput yang didapatkan client, semakin besar bandwidth maka throughput juga akan semakin besar, sehingga performasi jaringan bisa dimaksimalkan. 4. Kecepatan response time ditentukan oleh besar throughput yang dihasilkan. Response time server cluster IPTV tergolong uninterrupted experience menurut standart ITU-T G.1030 11/2005, karena response time-nya dibawah 1 second, Sedangkan response time-nya dibawah 0.1 second tergolong Instantaneous experience karena. 5. Pada penelitian performasi jaringan server cluster IPTV terlihat bahwa dengan semakin besar bandwidth yang tersedia, maka throughput yang Daftar Pustaka [1] Pranata, A., 2011. Rancang Bangun Server (Lms) Berbasis Metode Load Balancing. Tugas Akhir. Jurusan Teknik Elektro ITS. Surabaya. [2] Rad Hat, inc., 2008, Rad Hat Cluster Suite For Rad Hat Interprise Linux. [3] Rusfa, Rancang Bangun Layanan Pause TV Pada Televisi Digital berbasis Internet Protocol (IPTV), Tugas Akhir. Jurusan Teknik Elektro ITS.Surabaya, 2011. [4] Utomo, Junaidi., April 2001. Dampak Internet Terhadap Pendidikan : Transformasi atau Evolusi. Seminar Nasional Universitas Atma Jaya Yogyakarta [5] Zang Wenshong., 1998, Round-Robin scheduling, http://kb.linuxvirtualserver.org/wiki/round- Robin_Scheduling [6] Zang Wenshong., 1998, Least-Connection scheduling,http://kb.linuxvirtualserver.org/wiki/ Least_Scheduling. [7] Zhang Wensong. 1999. Linux Virtual Server for Scalable Network Services. Hunan: National Laboratory for Parallel & Distributing Processing. Biodata Penulis Didik Aribowo, Lahir di Jambi pada 15 Februari 1982, memperoleh gelar Sarjana Teknik (S.T), Program Studi Teknik Elektro Fakultas Teknik UMY, lulus tahun 2008. Tahun 2012 sedang menempuh studi pascasarjana dari Program Studi Telekomunikasi Multimedia Teknik Elektro ITS dan sedang menyelesaikan Tesis. Achmad Affandi, Lahir di Tulungagung pada 14 Oktober 1965, memperoleh gelar insinyur (Ir), Program Studi Teknik Elektro FTI ITS, lulus tahun 1989, memperoleh gelar S2 pada Institut Nation des Sciences Appliquees (INSA) de Rnnes Prancis, lulus tahun 1996, memperoleh gelar doktor (Dr) pada Institut Nation des Sciences Appliquees (INSA) de Rnnes Prancis, lulus tahun 2000. Saat ini merupakan staf pengajar di bidang telekomunikasi program studi teknik elektro FTI ITS. 11-18