BAB 2 LANDASAN TEORI

dokumen-dokumen yang mirip
TERMINAL TOPIK KHUSUS TRANSPORTASI

BADAN PENGELOLA TRANSPORTASI JABODETABEK (BPTJ)

TERMINAL. Mata Kuliah : Topik Khusus Transportasi Pengajar : Ir. Longdong Jefferson, MA / Ir. A. L. E. Rumayar, M.Eng

BADAN PENGELOLA TRANSPORTASI JABODETABEK (BPTJ)

Dr. Nindyo Cahyo Kresnanto

SATUAN ACARA PERKULIAHAN ( SAP ) Mata Kuliah : Rekayasa Lalulintas Kode : CES 5353 Semester : V Waktu : 1 x 2 x 50 menit Pertemuan : 12 (Duabelas)

KEPUTUSAN MENTERI PERHUBUNGAN NOMOR 31 TAHUN 1995 TENTANG TERMINAL TRANSPORTASI JALAN

BADAN PENGELOLA TRANSPORTASI JABODETABEK (BPTJ)

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BADAN PENGELOLA TRANSPORTASI JABODETABEK (BPTJ)

BADAN PENGELOLA TRANSPORTASI JABODETABEK (BPTJ)

Berdasarkan, Juknis LLAJ, Fungsi Terminal Angkutan Jalan dapat ditinjau dari 3 unsur:

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB IV TINJAUAN TERMINAL TIPE B DI KAWASAN STASIUN DEPOK BARU

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

PEMERINTAH KABUPATEN PEKALONGAN

BADAN PENGELOLA TRANSPORTASI JABODETABEK (BPTJ)

BAB I PENDAHULUAN. utama pencemaran udara di daerah perkotaan. Kendaraan bermotor merupakan

NILAI WAKTU PENGGUNA TRANSJAKARTA

EVALUASI PURNA HUNI SIRKULASI DAN FASILITAS TERMINAL KARTASURA

REDESAIN TERMINAL BUS INDUK MADURESO TIPE B DI KABUPATEN TEMANGGUNG DENGAN PENEKANAN DESAIN EKSPRESI STRUKTUR

LAMPIRAN- LAMPIRAN. Lampiran 1 : Penduduk Kota Depok Menurut Pekerjaan Tahun 2005

RENCANA UMUM JARINGAN TRAYEK ANGKUTAN UMUM JALAN DI JABODETABEK

BAB II TINJAUAN PUSTAKA DAN LANDASAN TEORI

TERMINAL BIS KOTA BEKASI

Saat ini sudah beroperasi 12 koridor

BAB V KESIMPULAN DAN REKOMENDASI

BAB I PENDAHULUAN. dunia. Hal ini disebabkan karena manusia memerlukan daya dukung unsur unsur

1. PENDAHULUAN. Universitas Indonesia. Kajian Potensi..., Agus Rustanto, Program Pascasarjana, 2008

BAB III: DATA DAN ANALISA

EVALUASI KELAYAKAN TERMINAL ANGKUTAN UMUM DI KECAMATAN TOBELO TENGAH

Kendaraan Pribadi. Cawang. Cawang > Mayjend Sutoyo > Akses Tol Jagorawi > Tol Jagorawi > Exit Bogor > Pajajaran >

BAB I PENDAHULUAN. Pembangunan kota lebih banyak mencerminkan adanya perkembangan

dimungkinkan terletak diantara pertemuan perencanaan suatu terminal jalur arteri primer Jl. Bekas

LEMBARAN DAERAH KABUPATEN MAJALENGKA

BAB I PENDAHULUAN. Dalam visi Indonesia Sehat 2015 yang mengacu pada Millenium Development

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Terminal dibangun sebagai salah satu prasarana yang. sangat penting dalam sistem transportasi.

PEMERINTAH KABUPATEN MAGELANG PERATURAN DAERAH KABUPATEN MAGELANG NOMOR 8 TAHUN 2008 TENTANG PENYELENGGARAAN TERMINAL PENUMPANG DI KABUPATEN MAGELANG

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 79 TAHUN 2013 TENTANG JARINGAN LALU LINTAS DAN ANGKUTAN JALAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

2013, No BAB I KETENTUAN UMUM Pasal 1 Dalam Peraturan Pemerintah ini yang dimaksud dengan: 1. Jaringan Lalu Lintas dan Angkutan Jalan adalah ser

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 79 TAHUN 2013 TENTANG JARINGAN LALU LINTAS DAN ANGKUTAN JALAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang

BAB II TINJAUAN PUSTAKA Peranan Lalu Lintas dan Angkutan Jalan

BUPATI TEMANGGUNG PERATURAN DAERAH KABUPATEN TEMANGGUNG NOMOR 32 TAHUN 2011 TENTANG PENYELENGGARAAN TERMINAL DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

BAB IV KONDISI UMUM. Gambar Peta Dasar TPU Tanah Kusir (Sumber: Dinas Pertamanan dan Pemakaman DKI Jakarta, 2011) Perumahan Warga

C merupakan terminal Watukelir, terminal Mojolaban,

UNIT PENGELOLA TERMINAL ANGKUTAN JALAN PENGENALAN UP. TERMINAL OLEH : KEPALA UP. TERMINAL ANGKUTAN JALAN RENNY DWI ATUTI, ST. MT

BAB IV ANALISIS TINGKAT PELAYANAN TERMINAL LEUWIPANJANG BERDASARKAN PERSEPSI MASYARAKAT SEBAGAI PENGGUNA

I. Busway: Halte RS.Sumber Waras Terminal Kalideres

NOMOR 11 TAHUN 2001 TENTANG PENGELOLAAN TERMINAL DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA WALIKOTA MALANG,

KAJIAN MANAJEMEN SIRKULASI TERMINAL BUS ( Studi Kasus : Terminal Bus Tirtonadi Surakarta )

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. yang semakin menurun untuk mendukung kehidupan mahluk hidup. Menurut

PERATURAN GUBERNUR PROVINSI DAERAH KHUSUS IBUKOTA JAKARTA NOMOR 103 TAHUN 2007 TENTANG POLA TRANSPORTASI MAKRO DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

PENGARUH BIAYA NGETEM TERHADAP PELAYANAN DAN EFISIENSI OPERASIONAL ANGKUTAN UMUM

BAB 4 HASIL DAN BAHASAN. Jatinegara, Jakarta Timur. Tapak kawasan berada di Jalan Jatinegara Timur,

BAB II TINJAUAN PUSTAKA...

1.1. Latar Belakang BAB I PENDAHULUAN

PERATURAN DAERAH KOTA YOGYAKARTA (PERDA KOTA YOGYAKARTA) NOMOR 9 TAHUN 2000 (9/2000) TENTANG TERMINAL PENUMPANG DENGAN RAHMAT TUMAN YANG MAHA ESA

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

ARAHAN PENINGKATAN PELAYANAN BUS TRANSJAKARTA BERDASARKAN PREFERENSI PENGGUNA (KORIDOR I BLOK M-KOTA) HASRINA PUSPITASARI

CONTOH SOAL UJIAN SARINGAN MASUK (USM) IPA TERPADU Institut Teknologi Del (IT Del) Contoh Soal USM IT Del 1

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 41 TAHUN 1993 TENTANG ANGKUTAN JALAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

PEMERINTAH KABUPATEN KUTAI BARAT

BAB I. PENDAHULUAN. Yogyakarta merupakan kota dengan kepadatan penduduk tertinggi di

LEMBARAN DAERAH KOTA YOGYAKARTA. Nomor: 2 Tahun 2006 Seri: B PERATURAN DAERAH KOTA YOGYAKARTA NOMOR 10 TAHUN 2006 TENTANG RETRIBUSI TERMINAL PENUMPANG

BAB IV ANALISIS DAN PEMBAHASAN

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 41 TAHUN 1993 TENTANG ANGKUTAN JALAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

BAB V PROGRAM PERENCANAAN DAN PERANCANGAN ARSITEKTUR

No Angkutan Jalan nasional, rencana induk Jaringan Lalu Lintas dan Angkutan Jalan provinsi, dan rencana induk Jaringan Lalu Lintas dan Angkuta

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Pengertian Judul Redesain Terminal Kartasura 1.2 Latar Belakang

BAB 1 PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Penelitian. Seiring dengan meningkatnya populasi penduduk terutama di kota besar

PERATURAN DAERAH KABUPATEN SLEMAN NOMOR 17 TAHUN 2001 TENTANG PENGELOLAAN TERMINAL PENUMPANG DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI SLEMAN,

propinsi (AKAP) dan antar kota dalam propins, (AKDP), juga terminal bagi

BAB 1 : PENDAHULUAN. beberapa tahun terakhir ini. Ekonomi kota yang tumbuh ditandai dengan laju urbanisasi yang

ANALISIS BIAYA NGETEM ANGKUTAN UMUM DI DKI JAKARTA STUDI KASUS : LOKASI JAKARTA BARAT

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

BAB IV: KONSEP Konsep Bangunan Terhadap Tema.

BAB III: DATA DAN ANALISA

BAB 5 KONSEP PERANCANGAN

Perkembangan Jumlah Armada Bus Sekolah

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 LatarBelakang

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang

KEPUTUSAN MENTERI PERHUBUNGAN NOMOR : KM 65 TAHUN 1993 T E N T A N G FASILITAS PENDUKUNG KEGIATAN LALU LINTAS DAN ANGKUTAN JALAN MENTERI PERHUBUNGAN,


SUDIMARA STATION INTERCHANGE DENGAN PENEKANAN DESAIN ARSITEKTUR MODERN

LEMBARAN DAERAH KABUPATEN BOGOR

V. KESIMPULAN DAN SARAN. Berdasarkan dari hasil survei, perhitungan dan pembahasan dapat diperoleh

STUDI KELAYAKAN TERMINAL TINGKIR DENGAN ADANYA JALAN LINGKAR CEBONGAN BLOTONGAN SALATIGA

TENTANG TERMINAL TRANSPORTASI JALAN

PENGANTAR TEKNIK TRANSPORTASI TERMINAL. UNIVERSITAS PEMBANGUNAN JAYA Jl. Boulevard Bintaro Sektor 7, Bintaro Jaya Tangerang Selatan 15224

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang

KEPUTUSAN DIREKTUR JENDERAL PERHUBUNGAN DARAT Nomor : SK. 75/AJ.601/DRJD/2003. Tentang PENYELENGGARAAN POOL DAN AGEN PERUSAHAAN OTOBUS (PO)

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB 1 : PENDAHULUAN. kendaraan bermotor. Kendaraan bermotor mengeluarkan zat-zat berbahaya yang

Transkripsi:

BAB 2 LANDASAN TEORI 2.1 Tinjauan Umum 2.1.1 Terminal Penumpang. Pengertian terminal Penumpang adalah prasarana transportasi jalan untuk keperluan menurunkan dan menaikkan penumpang, perpindahan intra dan/atau antar moda transportasi serta mengatur kedatangan dan pemberangkatan kendaraan umum berdasarkan Keputusan menteri perhubungan tahun 1995 tentang terminal, terminal penumpang dibagi menjadi 3 tipe yaitu: 1. Terminal tipe A Merupakan terminal yang paling lengkap dari segi fasilitasnya serta memerlukan lahan yang cukup luas sekurang-kurangnya 5 hektar. Terminal ini melayani kendaraan umum antar kota antar provinsi + bus malam, angkutan kota dalam provinsi dan angkutan pedesaan. kotamadya atau kabupaten dalam jaringan trayek antar kota antar propinsi dan/atau angkutan lintas batas negara. Syarat terminal tipe A terletak di ibu kota provinsi, kotamadya selain itu lokasinya harus terletak di jalan arteri dengan kelas jalan III A, yakni jalan arteri yang dapat dilalui kendaraaan bermotor termasuk muatan dengan ukuran lebar tidak melebihi 2.500 milimeter, ukuran panjang tidak melebihi 18.000 milimeter dan muatan sumbu terberat tidak melebihi 8 ton. (Tipe A dapat menampung 50-100 angkutan tiap jam). 2. Terminal tipe B Setingkat dibawah tipe A, kebutuhan lahannya 3 hektar dan berfungsi untuk melayani kendaraan umum angkutan antar kota antar provinsi, antar kota dalam provinsi, angkutan kota dan angkutan pedesaan. Syarat lokasi terminal tipe B diantaranya terletak di kotamadya atau kabupaten dan dalam jaringan trayek AKDP. Syarat lainnya adalah terminal tipe ini harus terletak di jalan arteri atau kolektor dengan kelas jalan sekurang-kurangnya kelas III B, yakni jalan kolektor yang dapat dilalui kendaraan 5

6 bermotor termasuk muatan dengan ukuran lebar tidak melebihi 2500 milimeter, ukuran panjang tidak melebihi 12.000 milimeter, dan muatan sumbu terberat (dapat menampung 25-50 angkutan tiap jam) 3. Terminal tipe C Setingkat dibawah terminal tipe B. Terminal ini melayani kendaraan umum untuk angkutan pedesaan. Syarat lokasi terminal ini terletak di dalam wilayah Kabupaten Daerah Tingkat II dan dalam jaringan trayek angkutan pedesaan. Selain itu, terminal ini harus terletak di jalan kolektor atau lokal dengan kelas jalan paling tinggi III A. Terminal ini juga harus mempunyai jalan akses masuk atau keluar ke dan dari terminal, sesuai kebutuhan untuk kelancaran lalu lintas sekitar terminal. (hanya menampung dari 25 angkutan tiap jam ). 2.1.2 Terminal Senen. Adalah terminal bus kota di Kecamatan Senen, Jakarta Pusat. Terminal Senen dalam konsepnya adalah terminal antara, yang menghubungkan satu ujung terminal ke terminal yang lain, selain bus kota, armada bus regular banyak beroperasi di terminal Senen ini adalah Kopami Jaya,Mayasari Bhakti, Metromini dan Kopaja Jenis-jenis trayek yang beroperasi di terminal Senen : Tabel 2. Trayek angkutan Bus Besar -Mayasari Bakti P7 Grogol Pulogadung -Mayasari Bakti P14 jurusan Tanah Abang - Tanjung Priok -Mayasari Bakti P 17 Kampung Rambutan Pasar Senen. -Mayasari Bakti P 9A Senen Bekasi Timur. -Mayasari Bakti AC 62 jurusan Senen - Poris Plawad -Mayasari Bakti AC 122 jurusan Senen - Cikarang -Mayasari Bakti R507 jurusan Tanah Abang - Pulo Gadung -Mayasari Bakti AC63 jurusan Pasar Baru - Bekasi -DSU P157 jurusan Senen - Poris Plawad -Bianglala AC 44 Senen Ciledug -Bianglala AC 76 Senen Ciputat

7 Bus Sedang Mikrolet - ARH P100 jurusan Senen - Poris Plawad - AJA P AC106 Senen - Poris Plawad -AJA P 106 Senen Cimone Tangerang. -Kopami Jaya P 12 Senen Kalideres -Kopaja U 27 Pasar Senen Kelapa Gading -Kopaja P 20 AC Pasar Senen Lebak Bulus -Kopami Jaya P 02 Senen Muara Karang -MetroMini P 17 Manggarai Pasar Senen -MetroMini P 15 Senen Setiabudi Bendungan Hilir (Benhil) -MetroMini P 11 Pasar Senen Bendungan Jago -MetroMini P 03 Pasar Senen Rawamangun -MetroMini P 07 Pasar Senen Semper -MetroMini P 10 Senen Sunter -MetroMini U 24 Pasar Senen Tanjung Priok -Metromini P01 jurusan Senen - Taman Solo -Metromini T47 jurusan Senen - Pondok Kopi -Metromini AC jurusan Senen - Cibinong -Metromini AC jurusan Senen - Cileungsi -Mikrolet M 01A Kampung Melayu Pasar Senen -Mikrolet M35 jurusan Senen - Kampung Melayu -Mikrolet M 12 Senen Kota -Mikrolet M 37 Senen Pulogadung -Mikrolet M46 jurusan Senen - Pulo Gadung. Terminal ini juga berdekatan dengan Pasar Senen dan terminal Senen ini termasuk dalam kategori terminal tipe B yang membutuhkan fasilitas utama dan penunjang diantaranya adalah : Tabel 3. Fasilitas utama dan penunjang Fasilitas Utama Fasilitas Penunjang 1. Jalur kedatangan kendaraan umum -Kamar kecil/toilet 2. Jalur pemberangkatan kendaraan -Musholla

8 umum 3. Tempat parkir kendaraan umum selama menunggu keberangkatan, didalammnya terdapat tempat istirahat kendaraan umum 4. Bangunan kantor terminal 5. Tempat tunggu penumpang dan/atau pengantar 6. Loket penjualan karcis 7. Rambu rambu dan papan informasi 8. Pelataran parkir kendaraan pengantar dan taksi -Kios/kantin -Ruang pengobatan -Ruang informasi dan pengaduan -Telepon umum -Tempat penitipan barang -Taman Dan yang terpenting terminal penumpang dilengkapi dengan faslitas bagi penderita cacat sesuai kebutuhan.dan untuk poin no 2, 6,8 tidak berlaku untuk terminal tipe C. Dalam perencanaan 2030, terminal senen tidak terintegrasi dengan jalur busway. Gambar 3. Rencana 2030 terminal Senen.

9 Dan nantinya akan memiliki jembatan yang menghubungkan antara terminal dan stasiun kereta Gambar 4. Zona Terminal Konsep terminal senen pada perencanaan nantinya akan menata pergerakan orang atau penumpang yang berada di lantai yang terpisah, selain itu akan tetap dibuat zebra cross untuk mengatur pergerakan sebidang dengan angkutan umum. 2.2 Tinjauan Khusus 2.2.1 Udara. Udara merupakan campuran dari berbagai gas, tidak berwarna dan tidak berbau yang memenuhi ruang di atas permukaan bumi seperti apa yang kita hirup saat bernapas. Udara di bumi mengandung 78% nitrogen, 21% oksigen, dan 1% uap air, karbon dioksida.

10 2.2.2 Fungsi Penghawaan/Ventilasi Berfungsi sebagai pengganti udara kotor yang ada didalam ruangan dan digantikan dengan udara bersih Pentingnya sirkulasi udara pada bangunan bertujuan untuk penyediaan udara segar, menghilangkan bau, seperti bau badan dan makanan., mengurangi kadar tingkat karbon dioksida yang bersumber dari dalam dan sekitarnya. 2.2.3 Pergerakan Udara Gambar 5. 3 Pola Pergerakan udara. Sumber : Controling Air Movement, hal 42. Pola pergerakan udara dibagi menjadi 3 yaitu Laminar, turbulen dan terpisah : A, Laminar umumnya mengalir relative sejajar dan dapat diperkirakan karena rendahnya turbulensi internal. B, Turbulen, awalnya dari laminar yang kemudian berubah polanya menjadi acak dan tidak dapat diprediksi karena adanya elemen eksternal. C, Terpisah pergesekan arus angin mengurangi kecepatan angin pada arus tertentu namun tetap sejajar tanpa turbulensi internal Contoh gambar dari 3 pola pergerakan angin Gambar 6. Pola pergerakan udara dari satu ke yang lainnya Sumber : Controling Air Movement, hal 43.

11 2.2.4 Angin Angin yaitu udara yang bergerak diakibatkan oleh rotasi bumi dan juga perbedaan tekanan udara disekitarnya. Angin bergerak dari tekanan tinggi menuju tekanan yang rendah. Tabel 4. Beaufort Scale Sumber : wind design guide. 2014 2.2.5. Tekanan Tinggi dan Tekanan Rendah Angin bergerak dari tekanan tinggi ke tekanan rendah, udara panas akan memuai sehingga menjadi ringan dan menyebabkan udara naik keatas. Udara panas membuat tekanan turun dikarenakan berkurangnya udara. Sementara itu udara dingin lebih berat sehingga mengalir ketempat yang bertekanan rendah. Diatas tanah, udaha akan menjadi panas dan naik kembali, aliran naiknya udara panas dan turunnya udara dingin dinamakan konveksi.

12 2.2.6 Efek Angin Pada Bangunan Semua bangunan pastinya menciptakan hambatan pada arus angin, hal ini menyebabkan tekanan positif pada bagian bangunan yang langsung terkena angin dan tekanan negatif pada sisi bangunan yang mana menyebabkan peningkatan kecepatan angin di zona rendah. Tabel 5. Individual Building No Nama Gambar Keterangan 1 Downwash Effect. Angin meningkat seiring ketinggian, tekanan lebih tinggi saat berada diatas dibanding bagian bawah bangunan. Perbedaan tekanan ini menyebabkan tekanan turun kebawah secara drastis. 2 Corner Effect. Pada setiap sisi bangunan yang dilalui angin, biasanya terjadi peningkatan kecepatan yang tidak terduga. Yang diakibatkan udara dipaksa berputar pada sudut bangunan dari tekanan tinggi ke rendah.

13 3 4 Wake Effect. Low bar row effect. Wake efek ini diakibatkan oleh efek downwash dan corner efek, peningkatan kecepatan angin dan turbulensi yang terjadi di sekitar sudut bangunan menyebabkan angin kencang berhembus dibagian bawah bangunan. Bangunan yang relatif pendek tapi lebar, menyebabkan terjadinya row efek dimana angin sering jatuh dari atas bangunan kebawah. Sumber : wind design guide 2014 Tabel 6. Bentuk Bangunan dan Angin No Nama Gambar Keterangan Merupakan bentuk paling lazim dari kebanyakan bangunan diperkotaan. 1 Bentuk Kotak Bentuk kotak secara umum memanfaatkan lahan secara efisien. Namun bentuk ini tidak efisien terhadap angin.

14 Efek yang ditimbulkan oleh bangunan dengan bentuk kotak adalah downwash, corner effect, wake effect, dan row effect. 2 Bentuk Melingkar dan banyak sisi Bangunan yang berbentuk lingkaran atau dengan sisi banyak merupakan bangunan yang baik dalam segi bentuk karena membuat angin mengalir di sekitar bangunan dan hanya sedikit efek downwash yang ditimbulkan. 3 Tower Podium Building Podium pada bangunan dapat menangkis efek downwash dalam jumlah besar dan sekitar gedung sebelum sampai kepermukaan bangunan 4 Pyramid Buildings Bangunan dengan bentuk pyramid sangat bagus dalam mengurangi angin pada bagian permukaan bangunan. Permukaan

15 banguan yang dibuat secara bertingkat membantu mengurangi kekuatan kecepatan angin. Sumber : wind design guide. 2014 2.2.7 Polusi Udara Merupakan udara yang mengandung bahan kimia, partikel, atau bahan biologis lainnya yang menyebabkan kerusakan atau ketidaknyamanan pada manusia atau organisme hidup lainnya, atau menyebabkan kerusakan pada lingkungan alam atau lingkungan binaan, ke atmosfer. Kadar CO (karbon monoksida) yang terhirup akan memasuki tubuh melalui paru-paru dan akan bersenyawa dengan hemoglobin (Hb) membentuk COHb. Hemoglobin sendiri berfungsi sebagai pembawa oksigen ke sekujur tubuh. Namun, kemampuan hemoglobin untuk mengikat CO adalah 200 hingga 300 kali lebih besar dibanding dengan kemampuannya mengikat oksigen. Akibatnya, oksigen di dalam darah berkurang sehingga membuat orang merasa pusing, pingsan bahkan bisa juga meninggal dunia. Semakin banyak CO yang terkandung dalam darah semakin besar ancamannya terhadap kesehatan. Dalam polusi terdapat karbon monoksida dan particulate matter atau partikel halus sangat berbahaya apabila terhirup, dikarenakan akan mengendap pada paru-paru dan akan menyebabkan sesak nafas. Maka dari itu sebagai salah satu langkah dalam pengurangan dampak polusi yaitu dengan menggunakan tanaman hijau sebagai faktor penghalang atau filter atau penyaring yang bertujuan untuk menyaring kandungankandungan berbahaya ini. Faktor penghijauan sangatlah penting sebagai solusi dalam mengurangi polusi udara. Sebuah studi mengungkapkan tanaman hijau seperti pepohonan dan semak-semak

16 rumput hijau diketahui dapat membantu mengurangi polusi hingga 8x lipat. Selama ni tindakan yang dilakukan umumnya hanya dapat mengurangi polusi kurang dari 5 persen, Dalam penelitian sebelumnya sudah diketahui bahwa pohon dan tanaman hijau dapat meningkatkan kualitas udara di perkotaan dengan cara menghapus dua jenis polutan yaitu nitrogen dioksida (NO2) dan partikel mikroskopis Thomas Pugh dan rekan menjelaskan bahwa konsentrasi dari kedua jenis polutan udara ini bisa berbahaya bagi kesehatan manusia, dan tingkat keduanya sudah melebihi batas aman di jalan-jalan ibu kota. Dalam studi baru ini diketahui menempatkan rumput hijau dan pepohonan di daerah perkotaan bisa mengurangi konsentrasi NO2 di jalan sebanyak 40 persen dan partikel mikroskopis sebanyak 60%. Menurut jurnal Christina E. Mediastika yang berjudul Memanfaatkan Tanaman Untuk Mengurangi Polusi Particulate Matter Ke Dalam bangunan dijelaskan mengenai particulate matter dikatakan bahwa partikel halus tersebut dapat diendapkan dan penyebarannya terjadi pada lapisan udara rendah dengan memanfaatkan tanaman hijau 2.3 Studi Bangunan Sejenis 2.3.1 Port Authority Bus Terminal New York Port Authority bus terminal merupakan pusat dari bus di kota New York, memiliki 3 lantai dan beragam pertokoan, restoran, dan servis, tak hanya bus, terminal ini juga memilki subway station.

17 Gambar 7. Port Authority Bus Terminal. Sumber. Wikipedia.com, panynj.gov diakses pada 20 september 2014 Gambar 8. Denah Port Authority Sumber. Wikipedia.com, panynj.gov diakses pada 20 september 2014

18 Gambar 9. Sirkulasi bus pada tapak. Sumber : googlemap, blog-wsj.com diakses pada 21 september 2014 Gambar 10. Tempat naik dan turunnya penumpang Sumber : washtenawtod.blogspot.com, youtube.com diakses pada 19 september 2014. 2.3.2 Terminal Blok M Terminal Blok M dengan luasan 8.952,88 m 2 merupakan terminal bus tipe B kota di Kecamatan Kebayoran Baru, Jakarta Selatan. Terminal ini memiliki enam jalur lima jalur bus reguler dan satu jalur busway. Berdasarkan keputusan menteri terminal Blok M sudah memiliki fasilitas umum dan penunjang yang lengkap namun memiliki permasalahan ketidaktertiban supir angkutan umum, PKL Gamber 11. Terminal Blok M. Sumber : google earth diakses pada 23 desember 2014

19 Gambar 12. Jalur Terminal Blok M Sumber : Wikipedia diakses pada 23 desember 2014 Gambar 13. Bus Yang Akan Memasuki Jalur Sumber : dokumentasi pribadi Gambar 14. Pintu Kedatangan Menuju Lobby Sumber :dokumentasi pribadi 2.4 Kesimpulan Studi Bangunan Sejenis Terminal Blok M, memiliki 3 lantai ke bawah (underground) dimana lantai bawah digunakan untuk pertokoan sementara lantai 1 merupakan area untuk sirkulasi bus serta aktivitas untuk menaikan dan menurunkan penumpang

20 Gambar 15. Terminal Blok M, 2014 Port Authority Terminal Bus New York terminal terdiri dari 5 lantai, 1 underground yang terhubung dengan MRT, lantait 1 dan 2 merupakan area pertokoan dan kantor, lantait 3 dan 4 merupakan area sirkulasi serta terjadinya aktivitas menurunkan dan menaikan penumpang. akses jalan yang dibuat khusus memungkinkan penumpang tidak bisa sembarangan masuk

21 Gambar 16. Port Authority Terminal Bus New York, 2014 Terminal Pulo Gebang terminal dengan akses masuk dan keluar memiliki jalan khusus aik ke bagian atas bangunan lantai 1 dan 2 merupakan pertokoan dan perkantoran, lantai 3 area foodcourt dan lantai 4 merupakan sirkulasi serta aktivitas menaikan dan menurunkan penumpang Gambar 17. Terminal Pulo Gebang, 2014

22