UNIERSITAS INDONESIA ANALISA KEBUTUHAN TENAGA KEPERAWATAN DI INSTALASI HEMODIALISA RUMAH SAKIT UMUM PUSAT PERSAHABATAN BERDASARKAN BEBAN DAN KOMPETENSI KERJA TESIS SARAH ANDINI NPM : 110610664 FAKULTAS KESEHATAN MASYARAKAT PROGRAM STUDI KAJIAN ADMINISTRASI RUMAH SAKIT DEPOK JANUARI 013
UNIERSITAS INDONESIA ANALISA KEBUTUHAN TENAGA KEPERAWATAN DI INSTALASI HEMODIALISA RUMAH SAKIT UMUM PUSAT PERSAHABATAN BERDASARKAN BEBAN DAN KOMPETENSI KERJA TESIS Diajukan sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Magister Administrasi Rumah Sakit SARAH ANDINI NPM : 110610664 FAKULTAS KESEHATAN MASYARAKAT PROGRAM STUDI KAJIAN ADMINISTRASI RUMAH SAKIT DEPOK JANUARI 013
KATA PENGANTAR Dengan nama Allah SWT yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang, Puji dan syukur Saya panjatkan kepada Allah SWT Yang Maha Esa, karena atas berkat rahmat-nya Saya dapat menyelesaikan tesis Saya yang berjudul Analisa Kebutuhan Tenaga Keperawatan di Instalasi Hemodialisa RSUP Persahabatan Berdasarkan Beban dan Kompetensi Kerja sebagai salah satu syarat untuk meraih gelar Magister Administrasi Rumah Sakit di Fakultas Kesehatan Masyarakat,. Saya menyadari bahwa tanpa bantuan, bimbingan dan dukungan dari berbagai pihak, rasanya sangat sulit bagi Saya untuk dapat melewati semua ini. Oleh karena itu, Saya mengucapkan terimakasih kepada : 1) Dr. drg. Yaslis Ilyas, MPH selaku dosen pembimbing yang tidak pernah berhenti untuk mendukung dan menyemangati Saya dalam penyusunan tesis ini. Terimakasih atas waktu yang selalu bisa disisihkan untuk Saya selama masa penelitian ini. ) Drs. Bambang Wispriyono, Apt., Ph.D selaku Dekan Fakultas Kesehatan Masyarakat, Dr. Pujiyanto, SKM, M.Kes, selaku Kepala Departemen Administrasi Kebijakan Kesehatan, Dr. Dra. Dumilah Ayuningtyas, MARS selaku Ketua Prodi Kajian Administrasi Rumah Sakit, dan Prof. Dr. dr. Adik Wibowo, MPH selaku dosen Metodologi Penelitian atas inspirasi, ilmu pengetahuan, dukungan serta semangat yang diberikan kepada Saya selama masa perkuliahan. 3) Penguji Saya yang baik, Prof. dr. Purnawan Junadi, MPH, Ph.D, Puput Oktamianti, SKM, MM, dan Sumijatun, S.Kep, MARS atas masukan dan kritiknya yang membangun sehingga menjadikan tesis Saya menjadi semakin baik. 4) Segenap pimpinan dan staff pengajar AKK FKM UI, terutama kepada Mbak Amel atas bantuannya selama masa penyusunan tesis ini.
5) Pihak RSUP Persahabatan terutama kepada dr. Syafiq Alwi, Sp.PD dan dr. Yassir, Sp.PD selaku kepala Instalasi Hemodialisa atas bantuannya sehingga Saya bisa melakukan penelitian di RSUP Persahabatan. Terimakasih pula kepada para perawat Instalasi Hemodialisa atas pengalaman yang diberikan. Semoga jalinan silaturahmi kita akan lebih baik lagi. 6) Keluarga besar (Alm.) Abdul Muhi dan (Alm.) Machmud, terutama Achmad Hasanuddin (Papa), Rusmini (Mama) dan Fuad Darmawan (Adik), terima kasih atas kritik, kasih sayang, dukungan moral dan material yang telah kalian berikan. Demi kalianlah Saya akan melakukan yang terbaik dalam setiap langkah Saya. Tanpa kalian, rasanya Saya tidak akan sanggup mencapai semua ini. 7) Sahabat-sahabat Saya yang baik selama masa perkuliahan, Heaven Lord Trainer, Devina Agustin, Rita Harfiana, Nitya Pandusarani, Febi Lenita, Sylva Dinie Alinda, Helsa Riyanika, Tiara Bunga Mayang Permata Tarmizi, Anggun Nabila dan seluruh teman-teman angkatan KARS Reguler 011 yang tidak bisa Saya sebutkan satu per satu. Terimakasih atas pengalaman dan ilmu pengetahuan yang Saya tidak bisa dapatkan ditempat lain selain bersama kalian. 8) Suamiku yang tersayang, Adhi Setiawan. Terimakasih karena selalu ada untuk memberikan masukan, semangat dan pelukan sehingga Saya merasa lebih kuat untuk menyelesaikan semua ini. Terimakasih untuk selalu mengerti. Akhir kata, Saya berharap Tuhan Yang Maha Esa berkenan membalas segala kebaikan semua pihak yang telah membantu. Saya meminta maaf kepada semua pihak atas kesalahan dan kehilafan yang Saya perbuat selama masa penyusunan tesis. Semoga tesis ini dapat memberikan manfaat dalam perkembangan ilmu pengetahuan administrasi rumah sakit, khususnya dalam bidang sumber daya manusia. Depok, 7 Januari 013 Penulis vii
ABSTRAK Nama Program Studi Judul : Sarah Andini : Kajian Administrasi Rumah Sakit : Analisa Kebutuhan Tenaga Keperawatan di Instalasi Hemodialisa RSUP Persahabatan Berdasarkan Beban dan Kompetensi Kerja Perawat sebagai salah satu sumber daya manusia di rumah sakit merupakan ujung tombak pelayanan yang harus direncanakan secara matang, baik secara kuantitas (beban kerja) maupun kualitas (kompetensi kerja). Dalam penelitian ini akan dibahas tentang analisa kebutuhan tenaga keperawatan di Instalasi Hemodialisa RSUP Persahabatan berdasarkan beban kerja (menggunakan time and motion study kepada 8 perawat kemudian diolah dengan Metode Ilyas) dan kompetensi kerja (depth interview kepada tiga informan dengan fokus kepada pengetahuan seputar pekerjaan, keterampilan dan sikap). Hasil penelitian ini menyatakan bahwa terdapat satu dan atau dua tenaga perawat dengan kualifikasi minimal lulusan D3 keperawatan yang telah diikutkan pelatihan hemodialisa. Kata kunci : Beban kerja, kompetensi kerja, perawat hemodialisa ABSTRACT Name Study Program Title : Sarah Andini : Study of Hospital Administration : Needs Analysis of Nursing Personnel in the Hemodialysis Installation of RSUP Persahabatan based on Workload and Competencies Nurses, as one kind of the human resources in hospitals, act as a frontline service that should be planned thoroughly, both in its quantity (based on workload) and quality (based on competencies). This research was about needs assessment of nursing personnel in the Hemodialysis Installation of RSUP Persahabatan based on workload (using time and motion study technique then manipulated by Ilyas Method) and competencies (depth interview focusing on job knowledge, skill and attitude, on three subjects). The research concluded that there is one or two nursing shortage, having qualification of D3 of nursing (as minimal education) and hemodialysis training. Keywords : Workload, competencies, hemodialysis nurses
DAFTAR ISI HALAMAN JUDUL.... i SURAT PERNYATAAN BEBAS PLAGIARISME ii HALAMAN PERNYATAAN ORISINALITAS... iii LEMBAR PENGESAHAN... iv LEMBAR KEHADIRAN PENGUJI... v KATA PENGANTAR.. vi LEMBAR PERSETUJUAN PUBLIKASI KARYA ILMIAH... viii ABSTRAK... ix ABSTRACT.... ix DAFTAR ISI.... x DAFTAR TABEL..... xiii DAFTAR GAMBAR..... xiv DAFTAR LAMPIRAN.... xv 1. PENDAHULUAN. 1 1.1 Latar Belakang.... 1 1. Rumusan Masalah.. 6 1.3 Pertanyaan Penelitian.... 7 1.4 Tujuan Penelitian... 7 1.4.1 Tujuan Umum. 7 1.4. Tujuan Khusus 7 1.5 Manfaat Penelitian.. 8 1.6 Ruang Lingkup Penelitian.. 8. TINJAUAN PUSTAKA.... 10.1 Rumah Sakit.... 10. Sumber Daya Manusia 11..1 Manajemen Sumber Daya Manusia... 11.3 Perencanaan Sumber Daya Manusia Rumah Sakit.... 1.4 Perawat... 13.4.1 Model Pemberian Asuhan Keperawatan........... 14.4. Perawat Instalasi Hemodialisa.... 16.4.3 Manajemen Keperawatan.... 17.5 Faktor-faktor yang Berhubungan dengan Kinerja Perawat...... 17.6 Beban Kerja Tenaga Kesehatan... 18.6.1 Metode Perhitungan Beban Kerja... 19.6.1.1 Metode Work Sampling..... 19.6.1. Metode Time and Motion Study. 0.6.1.3 Metode Daily Log....6. Pengukuran Kerja.....7 Analisis Kebutuhan Tenaga...... 3.7.1 Metode WISN (Work Indicator of Starting Need)..... 4.7. Metode Ilyas.... 4.8 Kompetensi Kerja.... 5
.9 Hemodialisa. 7.9.1 Proses Perawatan Hemodialisa... 8 3. GAMBARAN UMUM RSUP PERSAHABATAN..... 9 3.1 Sejarah Berdirinya RSUP Persahabatan. 9 3. isi, Misi dan Nilai RSUP Persahabatan.... 30 3.3 Profil RSUP Persahabatan... 31 3.4 Pelayanan RSUP Persahabatan... 3 3.4.1 Layanan Unggulan.. 3 3.4. Layanan Gawat Darurat 4 Jam.. 3 3.4.3 Layanan Rawat Inap.... 3 3.4.4 Layanan Rawat Jalan.... 33 3.4.5 Layanan Medical Check Up..... 35 3.5 Sumber Daya Manusia RSUP Persahabatan... 35 3.6 Instalasi Hemodialisa... 36 3.6.1 isi dan Misi Instalasi Hemodialisa.. 37 3.6. Instalasi Hemodialisa sebagai Unit Pelayanan dan Produksi.. 37 3.6.3 Sumber Daya Manusia di Instalasi Hemodialisa.. 38 4. KERANGKA KONSEP 39 4.1 Kerangka Teori... 39 4. Kerangka Konsep... 40 4.3 Definisi Operasional... 41 5. METODOLOGI PENELITIAN.. 45 5.1 Jenis Penelitian.... 45 5. Tempat dan Waktu Penelitian. 46 5.3 Populasi dan Sampel Penelitian.. 46 5.4 Tenaga Pengamat dan Instrumen Penelitian... 47 5.5 Teknik Pengumpulan Data. 47 5.6 Pengolahan Data. 48 5.7 Analisis Data.. 49 6. HASIL PENELITIAN.. 50 6.1 Proses Penelitian. 50 6. Sistematika Penyajian. 51 6.3 Kualitas Data... 51 6.4 Instalasi Hemodialisa RSUP Persahabatan. 53 6.4.1 Struktur Organisasi.. 53 6.4. Denah Ruangan... 54 6.4.3 Karakteristik Perawat.. 54 6.4.4 Hasil Pengamatan Kegiatan Sampel berdasarkan Time and Motion Study.... 58 6.4.5 Jumlah Waktu Produktif dan Non Produktif Sampel. 83 6.6 Perhitungan Jumlah Kebutuhan Perawat. 85 6.7 Hasil Depth Interview 87 6.7.1 Matriks Hasil Depth Interview dengan Ketiga Informan.... 88
7. PEMBAHASAN........ 90 7.1 Keterbatasan Penelitian... 90 7. Beban Kerja Perawat Instalasi Hemodialisa RSUP Persahabatan.. 91 7.3 Kebutuhan Tenaga Kerja Perawat Instalasi Hemodialisa RSUP Persahabatan.... 94 7.4 Analisa Hasil Depth Interview... 101 7.4.1 Faktor Pengetahuan Seputar Pekerjaan.. 101 7.4. Faktor Keterampilan 106 7.4.3 Faktor Sikap 113 8. KESIMPULAN DAN SARAN. 117 8.1 Kesimpulan. 117 8. Saran... 119 DAFTAR REFERENSI.... 11 LAMPIRAN. 17 xii
DAFTAR TABEL Tabel.1 Perbedaan work sampling dengan time and motion study... 1 Tabel 3.1 Jumlah SDM RSUP Persahabatan tahun 01.... 36 Tabel 3. Jumlah pasien hemodialisa berdasarkan cara pembayaran tahun 007 s/d 011.... 38 Tabel 3.3 Rekapitulasi data ketenagaan menurut jenis dan kualifikasi pendidikan tahun 011.... 38 Tabel 6.1 Karakteristik perawat Instalasi Hemodialisa.... 54 Tabel 6. Shift kerja perawat Instalasi Hemodialisa RSUP Persahabatan periode 13 oktober 19 oktober 01.... 56 Tabel 6.3 Shift kerja perawat Instalasi Hemodialisa RSUP Persahabatan periode 0 oktober 6 oktober 01.... 56 Tabel 6.4 Daftar sampel penelitian kuantitatif dengan metode time and motion study.. 57 Tabel 6.5 Deksripsi kegiatan perawat RD pada shift pagi Instalasi Hemodialisa RSUP Persahabatan, 15 Oktober 01...... 59 Tabel 6.6 Deksripsi kegiatan perawat RS pada shift pagi Instalasi Hemodialisa RSUP Persahabatan, 18 Oktober 01..... 61 Tabel 6.7 Deksripsi kegiatan perawat HB pada shift pagi Instalasi Hemodialisa RSUP Persahabatan, 5 Oktober 01...... 64 Tabel 6.8 Deksripsi kegiatan perawat D pada shift pagi Instalasi Hemodialisa RSUP Persahabatan, 3 Oktober 01... 67 Tabel 6.9 Deksripsi kegiatan perawat SM pada shift siang Instalasi Hemodialisa RSUP Persahabatan, 15 Oktober 01... 69 Tabel 6.10 Deksripsi kegiatan perawat SK pada shift siang Instalasi Hemodialisa RSUP Persahabatan, 17 Oktober 01..... 7 Tabel 6.11 Deksripsi kegiatan perawat MN pada shift siang Instalasi Hemodialisa RSUP Persahabatan, Oktober 01...... 74 Tabel 6.1 Deksripsi kegiatan perawat SN pada shift siang Instalasi Hemodialisa RSUP Persahabatan, 18 Oktober 01...... 77 Tabel 6.13 Kegiatan perawat Instalasi Hemodialisa..... 80 Tabel 6.14 Rangkuman kegiatan responden selama satu shift.. 8 Tabel 6.15 Proporsi waktu produktif dan non produktif individu sampel 83 Tabel 6.16 Tabel proporsi kegiatan produktif langsung sampel... 84 Tabel 6.17 Tabel proporsi kegiatan produktif tidak langsung sampel.. 84 Tabel 6.18 Waktu kerja tersedia bagi perawat Instalasi Hemodialisa RSUP Persahabatan tahun 01.. 86 Tabel 6.19 Jadwal depth interview..... 88 Tabel 7.1 Keterampilan yang diharapkan untuk dimiliki perawat Instalasi Hemodialisa 110
DAFTAR GAMBAR Gambar.1 Proses perencanaan SDM rumah sakit. 1 Gambar 7.1 Skema alur pendidikan tenaga perawat.... 103 xiv
DAFTAR LAMPIRAN Lampiran 1. Instrumen wawancara; pedoman wawancara mendalam (depth interview) untuk kepala instalasi hemodialisa dan dokter jaga... 17 Lampiran. Instrumen wawancara; pedoman wawancara mendalam (depth interview) untuk perawat instalasi hemodialisa 130 Lampiran 3. Formulir tahapan kerja perawatan hemodialisa (time and motion study)... 133 Lampiran 4. Matriks hasil wawancara mendalam (depth interview) dengan ketiga informan. 134 Lampiran 5. Lampiran 6. Lampiran 7. Asuhan keperawatan pasien hemodialisa RSUP Persahabatan... 139 Acara ilmiah/pelatihan/seminar/simposium perawat di dalam RSUP Persahabatan tahun 011. 140 Acara ilmiah/pelatihan/seminar/simposium perawat keluar RSUP Persahabatan tahun 011.... 14
BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Sistem Kesehatan Nasional merupakan salah satu tujuan Pembangunan Nasional, yang bertujuan untuk menyehatkan masyarakat sehingga derajat kesehatan yang lebih baik dapat tercapai secara optimal. Hal ini merupakan salah satu unsur kesejahteraan umum dari Tujuan Nasional Indonesia (Ilyas, 011). Salah satu cara untuk mewujudkan derajat kesehatan yang baik melalui pelayanan kesehatan yang memadai adalah dengan menyediakan sumber daya manusia yang berkualitas. Rumah sakit merupakan salah satu jenis organisasi pelayanan kesehatan yang padat, baik dalam bidang sumber daya manusia (SDM) maupun non SDM. Sebagai organisasi pelayanan kesehatan yang padat SDM, rumah sakit memiliki sumber daya manusia yang terdiri dari berbagai profesi dan pendidikan dalam berbagai kuantitas (Susana, 011). Dalam organisasi (termasuk organisasi pelayanan kesehatan, misalnya rumah sakit), tenaga kesehatan memiliki peranan yang sangat penting dalam mencapai visi dan misi melalui proses organisasi yang dijalankan dengan baik (Rifki, 011 dan Susana, 011). Tenaga Kesehatan menurut Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia No.1176 tahun 011 tentang Registrasi Tenaga Kesehatan didefinisikan sebagai: Setiap orang yang mengabdikan diri dalam bidang kesehatan serta memiliki pengetahuan dan/atau keterampilan melalui pendidikan di bidang kesehatan untuk jenis tertentu memerlukan kewenangan untuk melakukan upaya kesehatan. Peranan tenaga kesehatan di rumah sakit juga ditentukan oleh kualitasnya. Kualitas sangat menentukan kinerja dan signifikansi kemajuan rumah sakit mencapai visi misi dan berkontribusi dalam pembangunan kesehatan di lingkup wilayah kerjanya masing-masing. Oleh
karena itu, merupakan hal yang sangat penting bagi rumah sakit untuk memiliki tenaga kesehatan yang berkualitas. Kualitas tenaga kesehatan suatu organisasi berkaitan erat dengan perencanaan yang tepat demi terpenuhinya tenaga kesehatan yang efektif dan efisien terkait kecukupan dan kompetensi kerja yang dibutuhkan. Perencanaan tenaga kesehatan didefinisikan sebagai proses memperkirakan kuantitas tenaga kesehatan yang dibutuhkan berdasarkan tempat, keterampilan, perilaku dan kebutuhan perusahaan untuk memberikan pelayanan yang efektif dan efisien di suatu organisasi demi tercapainya tujuan dari organisasi itu sendiri (Ilyas, 011 dan Hasibuan, 007). Apabila kondisi ini tercapai, hampir dapat dipastikan bahwa rumah sakit akan mampu menjawab tantangan era globalisasi yang menuntut untuk selalu mampu bertahan dalam memberikan pelayanan dan menyelenggarakan kegiatan secara berkesinambungan, stabil, efektif dan efisien di tengah-tengah persaingan dan keterbatasan organisasi (Susana, 011). Perencanaan tenaga kesehatan ini harus sesuai dengan kebutuhan, yang ditentukan oleh: (1) kebutuhan epidemiologi, () permintaan pasar akan pelayanan kesehatan, (3) saran dan prasarana yang tersedia dan telah ditetapkan serta (4) mengacu kepada standar terhadap nilai tertentu (Patuwo, 005 dan Kementrian Kesehatan, 004). Hal inilah yang menjadikan perencanaan tenaga kesehatan menjadi hal yang tidak terpisahkan dalam manajemen rumah sakit. Ada dua aspek penting yang harus diperhatikan dalam perencanaan tenaga kesehatan, yaitu aspek kuantitas dan aspek kualitas. Kualitas tenaga kesehatan yang baik ditentukan oleh kesesuaian tenaga kesehatan dengan kebutuhan masing-masing bagian dan manajemen rumah sakit yang digelutinya (Ilyas, 00). Oleh karena itu, diperlukan perencanaan tenaga kesehatan yang mampu menjamin tersedianya tenaga kerja yang tepat dalam organisasi tersebut dalam mengemban jabatan atau pekerjaan pada waktu yang tepat demi tercapainya tujuan dan sasaran yang telah ditetapkan bersama oleh organisasi tersebut (Siagian, 007). Dalam pelaksanaannya, perencanaan tenaga kesehatan bukanlah proses yang
3 statis, namun merupakan proses dinamis yang juga memperhitungkan dan memperkirakan faktor-faktor internal dan eksternal secara bersamaan. Menghitung beban kerja merupakan salah satu tahapan dalam merencanakan kebutuhan tenaga kesehatan. Beban kerja diartikan sebagai banyaknya jenis pekerjaan yang harus diselesaikan oleh satuan tenaga profesional dalam kurun waktu tertentu (biasanya satu tahun) (Prihartini, 007). Metode Ilyas merupakan salah satu metode yang bisa digunakan dalam merencanakan kebutuhan tenaga kerja. Perhitungan kebutuhan tenaga kesehatan berdasarkan beban kerja salah satunya dapat diukur dengan menggunakan time and motion study, yaitu teknik ukur besaran beban kerja yang diterima oleh tenaga kesehatan rumah sakit baik pada unit/bidang/instalasi tertentu (juga berlaku untuk penghitungan kuantitas beban kerja non rumah sakit) (Irnalita, 008). Perawat, sebagai tenaga kesehatan seperti yang telah dijelaskan sebelumnya dalam Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia No.1176 tahun 011, memberikan kontribusi yang juga besar terhadap pelayanan kesehatan di rumah sakit dalam hal pelayanan langsung kepada pasien. Karena pelayanan keperawatan dinilai sangat penting, diperlukan suatu sistem yang mampu menjamin kefektifitasan asuhan keperawatan, yang tersedia dalam area praktek yang memudahkan perawat dalam pengambilan keputusan dan melakukan intervensi keperawatan secara aman (Kawonal, 006). Penghitungan beban kerja perawat dinilai semakin penting karena menurut hasil penelitian yang dilakukan oleh International Council of Nurse (ICN), dikatakan bahwa peningkatan beban kerja perawat dalam menangani 4 orang pasien menjadi 6 orang pasien mengakibatkan peningkatan sebesar 14% kemungkinan terjadinya kelalaian atau bahkan kematian pasien yang dirawatnya. Hal ini sejalan dengan yang dikemukakan Palestin (006) bahwa beban kerja yang tinggi akan semakin mengurangi ketelitian dan keamanan kerja yang nantinya akan berakibat langsung kepada keamanan dan keselamatan pasien.
4 Untuk memberikan pelayanan keperawatan yang baik, perawat harus berorientasi kepada outcome pasien yang baik yang hanya dapat dicapai jika tercipta lingkungan kerja perawat yang berkualitas. Menurut Canadian Nursing Association (CNA) dalam model yang dibuatnya, terdapat enam identifikasi tempat kerja yang berkualitas, yaitu: (1) kontrol beban kerja, () kepemimpinan dalam keperawatan, (3) kontrol dalam kualitas pelayanan, (4) dukungan dan penghargaan, (5) pengembangan profesi serta (6) inovasi dan kreatifitas (Palestin, 006). Masalah yang sering muncul adalah ketidakseimbangan beban kerja perawat yang sulit sekali dideteksi oleh direksi karena biasanya hanya mendasar kepada keluhan-keluhan yang sifatnya subyektif (Ilyas, 011). Selain beban kerja yang diterima, kompetensi kerja juga harus diperhatikan. Menurut Ilyas (00), kompetensi kerja memegang peranan penting dalam dinamika dan keselarasan kinerja suatu organisasi/perusahaan. Semakin tinggi kompetensi kerja yang dimiliki, maka akan semakin cepat dan tepat pelayanan atau kegiatan yang dilakukan. Menurut Aditama (007), perencanaan sumber daya manusia, termasuk juga perawat, meliputi skill inventory, job analysis, replacement chart dan expert forecast. Lebih singkatnya, Ilyas (011) menjabarkan penilaian kinerja berdasarkan pada job knowledge (pengetahuan seputar pekerjaan), skill (keterampilan) dan attitude (sikap). Rumah Sakit Umum Pusat (RSUP) Persahabatan rumah sakit tipe B pendidikan milik pemerintah pusat yang telah melayani masyarakat selama lebih dari 46 tahun dengan mengusung visi dan misi sebagai rumah sakit Pusat Kesehatan Respirasi Nasional bertaraf internasional, yang telah ditetapkan menjadi Unit Pelaksana Teknis Departemen Kesehatan sejak tahun 005. RSUP Persahabatan ikut menjalankan upaya pemerintah untuk menyehatkan masyarakat melalui Sistem Jaminan Sosial Nasional (SJSN) dengan berbagai pelayanan unggulan. Sebagai rumah sakit rujukan nasional untuk penyakit paru dan pernafasan, layanan rawat jalan subspesialistik dengan layanan terbanyak adalah Poliklinik Penyakit Dalam, yaitu sub spesialistik Tropik, sub spesialistik Endoktrin, sub
5 spesialistik Gastro Enterologi, sub spesialistik Reumatik dan sub spesialistik Hematologi (Sakka, 011). Menurut Kepala Instalasi Hemodialisa RSUP Persahabatan, RSUP Persahabatan merupakan salah satu dari puluhan rumah sakit (yang sampai dengan tahun 008, total rumah sakit di Indonesia berjumlah 134 rumah sakit) di Indonesia yang menyediakan pelayanan hemodialisa (Supriantoro, 009). Sedangkan menurut Indonesia Renal Registry, pada tahun 008 jumlah pasien di Indonesia yang melayani hemodialisa tercatat sejumlah 60 pasien sementara pada tahun 007 tercatat hanya 148 pasien. Tingginya persentase kenaikan jumlah pasien yang terjadi di tahun 008 jika dibandingkan dengan tahun 007 tersebut harus menjadi perhatian bersama untuk mampu menjawab permintaan pasar akan pasien yang kian meningkat (Dhaniati, 009). Poliklinik hemodialisa RSUP Persahabatan merupakan poliklinik yang terletak di lantai Paviliun Wijayakusuma dan memiliki 15 unit hemodialisa yang digunakan Senin sampai Sabtu dari jam 08.00 19.00 WIB (terbagi dalam shift, yaitu jam 08.00-13.00 WIB dan 13.00 19.00 WIB). Berdasarkan laporan keuangan tahunan, poliklinik hemodialisa merupakan salah satu dari post revenue RSUP Persahabatan yang menunjukkan peningkatan setiap tahun. Berdasarkan hasil wawancara mendalam dengan Kepala Instalasi Hemodialisa RSUP Persahabatan, diketahui bahwa jumlah kunjungan pasien hemodialisa dalam satu tahun mencapai lebih dari 800 pasien yang merupakan campuran dari pasien swasta (non asuransi) dan pasien asuransi dengan perbandingan 10% : 90% untuk pasien asuransi. Jumlah ini meningkat terus dibandingkan dengan 5 tahun sebelumnya yang tidak mencapai 500 pasien dalam setahun (peningkatan sebesar 37,5%). Komposisi pasien dengan asuransi pun meningkat seiring dengan bertambahnya pelayanan asuransi pemerintah yang salah satu pelayanannya adalah memberikan jaminan minimal 50% atas perawatan hemodialisa. Sampai saat ini jumlah tenaga kesehatan yang dimiliki Instalasi Hemodialisa sebanyak 13 orang perawat, 1 orang dokter spesialis urologi yang menjabat sebagai kepala instalasi dan
6 1 orang dokter spesialis penyakit dalam sebagai dokter jaga, yang kesemuanya tersebut difungsikan untuk shift kerja. Lebih lanjut menurut Kepala Instalasi Hemodialisa RSUP Persahabatan, dengan kondisi yang demikian sampai saat ini Instalasi Hemodialisa terkadang kesulitan untuk melayani pasien dengan jumlah dan kompetensi perawat yang dimiliki. Pernah pula diajukan usulan penambahan jumlah perawat kepada pihak bagian SDM dan Keperawatan namun terbentur dengan keterbatasan analisis karena belum pernah dilakukan analisa kebutuhan keperawatan dalam aspek apapun di Instalasi Hemodialisa RSUP Persahabatan. 1. Rumusan Masalah Sampai dengan saat ini, belum pernah dilakukan analisis mengenai perencanaan tenaga keperawatan berdasarkan beban dan kompetensi kerja di Instalasi Hemodialisa RSUP Persahabatan sehingga belum ada data mengenai jumlah dan kompetensi perawat yang dibutuhkan dalam menjawab kebutuhan akan pelayanan hemodialisa dengan jumlah pasien yang semakin meningkat setiap tahun. Diketahui berdasarkan data kunjungan pasien di instalasi hemodialisa bahwa terjadi kenaikan yang cukup signifikan dalam 5 tahun terakhir, yaitu sebesar 37,5%. Diketahui pula bahwa jumlah pasien hemodialisa yang ditanggung oleh asuransi saat ini lebih dari setengah jumlah pasien. Sementara itu, Instalasi Hemodialisa merupakan post revenue di unit rawat jalan yang cukup diperhitungkan sehingga instalasi ini harus dipertahankan dan ditingkatkan kinerjanya. Salah satu yang dapat dilakukan adalah dengan melakukan perencanaan tenaga keperawatan (sebagai salah satu sumber daya manusia kesehatan), yang matang sehingga pelayanan yang diberikan dapat mencukupi secara kualitas dan kuantitas dalam hal penganggaran biaya tenaga, waktu kerja produktifnya, dan karakteristik tenaga kesehatannya. Selain itu, menyongsong pemberlakukan kebijakan pemerintah tentang National Coverage yang direncanakan akan dicanangkan tahun 014 mendatang (termasuk dalam pemberian jaminan terhadap pelayanan hemodialisa), diperkirakan akan terjadi peningkatan permintaan pelayanan hemodialisa
7 sejalan dengan pelayanan kesehatan lain yang juga dijamin (Candra, 011). 1.3 Pertanyaan Penelitian 1. Bagaimanakah gambaran karakteristik tenaga kerja, hari kerja, waktu kerja perawat hemodialisa yang dilakukan di Instalasi Hemodialisa RSUP Persahabatan?. Berapakah beban kerja perawat di Instalasi Hemodialisa RSUP Persahabatan? 3. Bagaimanakah kompetensi kerja perawat yang dibutuhkan di Instalasi Hemodialisa RSUP Persahabatan terkait pengetahuan seputar pekerjaan, keterampilan, dan sikap? 4. Berapakah kebutuhan jumlah perawat yang dibutuhkan oleh Instalasi Hemodialisa RSUP Persahabatan berdasarkan Metode Ilyas? 1.4 Tujuan Penelitian 1.4.1 Tujuan Umum Diketahui kebutuhan tenaga keperawatan di Instalasi Hemodialisa RSUP Persahabatan berdasarkan kompetensi dan beban kerja 1.4. Tujuan Khusus 1. Didapatkan gambaran dan karakteristik tenaga, hari kerja, waktu kerja dan kegiatan hemodialisa di Instalasi Hemodialisa RSUP Persahabatan. Didapatkan analisis beban kerja perawat di Instalasi Hemodialisa RSUP Persahabatan 3. Didapatkan kompetensi kerja perawat yang dibutuhkan di Instalasi Hemodialisa RSUP Persahabatan terkait pengetahuan seputar pekerjaan, keterampilan, dan sikap 4. Didapatkan gambaran jumlah perawat yang dibutuhkan oleh Instalasi Hemodialisa RSUP Persahabatan berdasarkan Metode Ilyas
8 1.5 Manfaat Penelitian Bagi Rumah Sakit 1. Sebagai bahan masukan Instalasi Hemodialisa RSUP Persahabatan dalam mengembangkan instalasi hemodialisa. Sebagai bahan pertimbangan dalam merencanakan kebutuhan tenaga keperawatan di Instalasi Hemodialisa dalam Perencanaan Strategis RSUP Persahabatan berikutnya 3. Sebagai bahan pertimbangan sistem rekruitmen perawat RSUP Persahabatan, khususnya Instalasi Hemodialisa 1.6 Ruang Lingkup Penelitian Penelitian ini dilakukan dalam rancangan crossectional di Instalasi Hemodialisa RSUP Persahabatan selama bulan Oktober - Desember 01. Responden dalam penelitian ini adalah 8 orang perawat di Instalasi Hemodialisa yang dipilih oleh peneliti berdasarkan pendidikan (1 orang D3 dan 1 orang SPK), jenis kelamin (1 orang laki-laki dan 1 orang perempuan), pengalaman kerja (1 orang <5 tahun dan 1 5 tahun), dan usia (1 orang <30 tahun dan 1 orang 30 tahun) dengan obyek penelitian adalah beban kerja mereka selama satu shift, yaitu 07.00 13.00 WIB atau 13.00 19.00 WIB selama hari kerja secara bergantian dalam 10 hari kerja (hari pertama mengamati shift pagi, hari kedua mengamati shift siang dan begitu seterusnya bergantian) dengan menggunakan metoda time and motion study (kuantitatif) untuk mendapatkan gambaran waktu dan pola kegiatan perawat di Instalasi Hemodialisa. Adapun kegiatan yang diamati adalah kegiatan yang dilakukan perawat dari sebelum instalasi hemodialisa dibuka (pengamatan shift pagi) dan sampai instalasi hemodialisa ditutup (shift siang). Dalam penelitian ini peneliti akan mengamati tahapan perawatan hemodialisa yang dilakukan untuk pasien dengan faktor risiko komplikasi dan non komplikasi. Depth interview dilakukan (kualitatif) kepada 3 responden yang terdiri dari kepala instalasi, dokter jaga dan satu orang perawat Instalasi Hemodialisa RSUP Persahabatan untuk menggali kebutuhan akan kompetensi kerja di Instalasi Hemodialisa RSUP Persahabatan. Pemilihan responden untuk depth interview dipilih sendiri
9 oleh peneliti berdasarkan lamanya responden bekerja, pengetahuan dan pengalaman yang responden miliki sehingga dianggap mampu untuk menjadi narasumber. Perawat yang dijadikan responden berbeda dengan perawat yang menjadi narasumber dalam depth interview. Metode Ilyas kemudian digunakan sebagai instrumen penghitungan jumlah kebutuhan perawat.
BAB TINJAUAN PUSTAKA.1 Rumah Sakit Menurut Iskandar (008), WHO mendeksripsikan rumah sakit sebagai sebuah usaha yang memberikan layanan penginapan dan medis dalam jangka pendek dan panjang, terdiri atas tindakan observasi, diagnostik, terapeutik dan rehabilitatif untuk orang yang menderita sakit, terluka atau melahirkan. Dalam pelaksanaannya, rumah sakit juga memberikan pelayanan dasar berobat jalan untuk pasien yang tidak membutuhkan pelayanan rawat inap. Adapun fungsi rumah sakit adalah sebagai penyedia pelayanan kesehatan yang holistik kepada masyarakat, baik kuratif maupun rehabilitatif dengan menjangkau keluarga dan lingkungan, sekaligus sebagai pusat untuk mengadakan latihan tenaga kesehatan serta melakukan penelitian (Ilyas, 011). Klasifikasi rumah sakit berdasarkan Surat Keputusan Menteri Kesehatan No.983/MenKes/SK/199 tentang Pedoman Organisasi, rumah sakit umum merupakan rumah sakit yang memberikan pelayanan dasar, spesialistik dan subspesialistik yang klasifikasinya didasarkan kepada kemampuan pelayanan yang dapat disediakan oleh rumah sakit tersebut, yaitu rumah sakit kelas A, kelas B (pendidikan dan non pendidikan), kelas C dan kelas D. Dalam pelaksanaannya, rumah sakit kelas pendidikan, baik kelas A maupun B, juga menjalankan fungsinya dalam pendidikan dan pelatihan. Adapun pembagian Rumah Sakit Umum (RSU) Pemerintah menurut (Iskandar, 008) adalah : 1. RSU tipe A, yaitu RSU yang menyediakan pelayanan medis spesialistik dan subspesialistik yang luas. RSU tipe B, yaitu RSU yang menyediakan pelayanan medis spesialistik yang luas namun subspesialistik yang terbatas
3. RSU tipe C, yaitu RSU yang menyediakan pelayanan medis spesialistik minimal 4, yaitu penyakit dalam, kesehatan anak, bedah dan obstetric-ginekologi 4. RSU tipe D, yaitu RSU yang menyediakan pelayanan medis dasar yang diberikan oleh dokter umum. Sumber Daya Manusia Hasibuan (007) menyatakan bahwa SDM merupakan sebuah hasil keterpaduan antara daya pikir dengan fisik manusia yang mampu mencerminkan kualitas usaha dan usaha kerja dari manusia tersebut dalam menghasilkan barang atau jasa tertentu. Begitu pentingnya kualitas SDM terhadap suatu proses pembangunan, Ramelan (1999) menyatakan bahwa SDM merupakan inti dari pembangunan itu sendiri...1 Manajemen Sumber Daya Manusia Manajemen SDM diartikan sebagai suatu proses yang dilewati untuk berbagai konflik dan permasalahan yang timbul dalam level karyawan, pegawai, buruh, manajer dan tenaga kerja lainnya yang memiliki peranan dalam menentukan aktifitas dan produktifitas kinerja organisasi atau perusahaan demi tercapainya tujuan dari organisasi atau perusahaan tersebut. Kegiatan manajemen ketenagaan di rumah sakit dimulai berurutan dan bersifat holistik, dalam tahapan penerimaan pegawai, penempatan pegawai, kompensasi kerja, pengembangan mutu dan karier pegawai sampai dengan putusnya hubungan kerja dengan rumah sakit terkait. Ruang lingkup manajemen ketenagaan mencakup: (1) analisis masa kini dan mendatang tentang prediksi kebutuhan tenaga, sistemasi rekruitmen dan seleksi, penempatan kerja yang sesuai, promosi kenaikan jabatan dan jenjang karir, dan separation/pensiun/pemutusan hubungan kerja, yang dalam pelaksanaannya, idealnya dilakukan kegiatan appraisal dan strategi pengembangan karir serta pendidikan dan pelatihan yang memadai dan berkesinambungan (Aditama, 007).
1.3 Perencanaan Sumber Daya Manusia Rumah Sakit Sebagai organisasi yang unik, organisasi pelayanan kesehatan memiliki jenis perencanaan yang sedikit berbeda dengan organisasi yang lain. Perencanaan SDM rumah sakit merupakan sistem perencanaan SDM yang juga dilakukan berdasarkan tempat, keterampilan dan perilaku yang dibutuhkan untuk memberikan pelayanan kesehatan (Ilyas, 011). Berdasarkan pengertian tersebut, dapat diasumsikan pula bahwa perencanaan SDM rumah sakit harus berdasarkan fungsi (kompetensi kerja) dan beban kerja agar dapat berjalan dengan baik karena kesesuaian SDM dengan kompetensi dan beban kerja telah didapatkan. Terdapat 5 langkah yang perlu dilakukan dalam merencanakan kebutuhan SDM rumah sakit, yaitu: (1) analisis tenaga rumah sakit yang dimiliki saat ini dan bagaimana kecukupannya berdasarkan prediksi di masa yang akan datang, () analisis persediaan rumah sakit, (3) analisis kebutuhan tenaga kesehatan rumah sakit di masa yang akan datang, (4) analisis kesenjangan tenaga yang dibutuhkan di masa mendatang dengan persediaan yang dimiliki saat ini dan (5) dokumen kebutuhan tenaga rumah sakit yang mencakup jumlah, jenis dan kompetensi yang dibutuhkan berdasarkan periode waktu tertentu (Ilyas, 011). Berikut bagan yang menggambarkan proses perencanaan SDM rumah sakit: Analisis Situasi SDM Analisis Persediaan SDM Analisis Kebutuhan Analisis Kesenjangan Dokumen Rencana SDM Gambar.1 Proses perencanaan SDM rumah sakit
13.4 Perawat Perawat merupakan salah satu tenaga kesehatan yang dimaksudkan dalam Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia No.1176 tahun 011 tentang Registrasi Tenaga Kesehatan. Sebagai salah satu profesi yang selalu berhubungan secara langsung dengan pasien, perawat dituntut untuk memahami dan berperilaku sesuai dengan etik keperawatan. Memperhitungkan kebutuhan tenaga keperawatan, sebagai bagian dari tenaga kesehatan, juga harus berdasarkan kepada permasalahan yang ada. Untuk itulah diperlukan proses identifikasi masalah yang matang. Dalam mengidentifikasi masalah, Quede (198) mengemukakan bahwa dalam pengkajian permasalahan ada beberapa hal yang harus diperhatikan, yaitu : 1. Source and problem background Permasalahan yang terjadi harus menggambarkan dengan jelas sumber dan latar belakang dari terjadinya masalah tersebut dengan singkat dan padat. Reason for attention Inilah gambaran mengapa permasalahan tersebut harus diperhatikan. Dalam jabarannya juga menjelaskan analisa situasi dan membantu menentukan berapa banyak dan apa saja yang harus disiapkan oleh analis 3. Groups or institutions toward which corrective activity directed Menggambarkan siapa sasaran dari suatu analisis masalah yang dilakukan, apakah pemerintah atau instansi tertentu yang bertanggungjawab sebagai eksekusi terakhir 4. Beneficiaries and losers Peneliti harus mampu menjelaskan keuntungan dan kerugian yang didapatkan dalam sebuah elemen atas berlakunya sebuah kebijakan 5. Related programs and activity Peneliti harus mampu menjelaskan apakah sebelumnya sudah ada aturan atau program tertentu mengenai permasalahan yang terjadi
14 6. Goals and objectives Peneliti harus mengarahkan dan memberikan solusi yang rasional untuk mencapai tujuan dan maksud tertentu. Hal ini tentu saja dilakukan setelah menggambarkan permasalahan dengan jelas, tepat dan benar 7. Criteria and effectiveness Penentuan pengukuran criteria dan kebijakan yang paling efektif cenderung sulit dilakukan. Untuk itulah, diperlukan sebuah kriteria yang mampu mengerucutkan alternative kebijakan-kebijakan untuk penelitian lebih lanjut 8. The framework for analysis Peneliti harus dapat merangkum semua permasalahan yang terjadi secara terarah dan detail agar tujuan yang diharapkan tercapai.4.1 Model Pemberian Asuhan Keperawatan Asuhan keperawatan merupakan serangkaian kegiatan dalam praktik keperawatan yang diberikan kepada pasien di berbagai tatanan pelayanan kesehatan, berdasar kepada kaidah keperawatan secara ilmu dan secara manusiawi diberikan berdasarkan kebutuhan objektif pasien untuk mengatasi masalahnya (Alimul, 003). Dalam melakukan kegiatan keperawatan, ada beberapa model pemberian asuhan keperawatan, diantaranya menurut Gartinah (1995), yaitu : 1. Model Fungsional Merupakan sebuah model asuhan keperawatan yang dilakukan secara terpisah-pisah. Tugas keperawatan secara berbeda-beda dibebankan kepada setiap tenaga keperawatan yang dianggap kompeten untuk dilakukan secara rutin sesuai dengan prosedural yang ditetapkan
15. Model Kasus Merupakan sebuah model asuhan keperawatan yang dilakukan secara menyeluruh untuk satu orang pasien. Untuk melakukan model ini, sebaiknya tenaga keperawatan memiliki kompetensi yang sesuai dengan kasus yang dimiliki pasien, sehingga pasien dapat ditangani dengan baik 3. Model Tim Merupakan sebuah model asuhan keperawatan, dimana sekelompok perawat memiliki tanggung jawab atas setiap individu dari sekelompok pasien. Dalam melakukan model ini, perawat berkelompok menjadi sebuah tim yang terkoordinasi dan kooperatif satu sama lain untuk memberikan perawatan 4. Model Primer Merupakan model asuhan keperawatan yang memiliki primary nurse, yaitu perawat yang bertugas secara primer atas pasien dari mulai pasien masuk (berdasarkan kepada kebutuhan pasien atas masalah keperawatan) sampai pasien keluar. Tugas dari primary nurse disesuaikan dengan kemampuan dari primary nurse itu sendiri. Selain mengacu kepada asuhan keperawatan, setiap kegiatan keperawatan juga mengacu kepada jenis kegiatan keperawatan itu sendiri. Hal ini akan berimplikasi kepada penetapan jenis dan jumlah tenaga keperawatan yang dibutuhkan. Menurut Gillies (1994), kegiatan keperawatan terbagi menjadi 3, yaitu (1) kegiatan keperawatan langsung, () kegiatan keperawatan tidak langsung, dan (3) penyuluhan kesehatan. Sedangkan menurut Rowland (1980), kegiatan keperawatan dibagi menjadi : 1. Keperawatan Langsung Merupakan kegiatan keperawatan yang terpusat pada pasien, dengan ditandai adanya interaksi atau kontak antara pasien dengan perawat
16. Keperawatan Tidak Langsung Merupakan kegiatan keperawatan yang walaupun tidak terpusat kepada pasien (tidak ada interaksi atau kontak antara pasien dengan perawat), namun merupakan bagian yang saling melengkapi dan mendukung perawat melakukan kegiatan keperawatan langsung kepada pasien 3. Unit Care Merupakan kegiatan keperawatan yang mengutamakan koordinasi umum dalam unit/ruang perawatan, misalnya pertemuan/rapat dan komunikasi dengan unit yang lain 4. Kegiatan Personal Merupakan kegiatan yang berada diluar lingkup keperawatan, sifatnya lebih pribadi melekat kepada perawat, misalnya makan/minum/istirahat.4. Perawat Instalasi Hemodialisa Perawat instalasi hemodialisa adalah perawat yang memiliki kompetensi untuk merawat pasien hemodialisa dibawah pengawasan dokter. Dalam menjalankan tugasnya, perawat instalasi hemodialisa memiliki asuhan keperawatan, yaitu : (Haryati, 010) 1. Anamnesa Biodata pasien dan penanggung jawab pasien Riwayat keperawatan berupa keluhan utama, riwayat penyakit sekarang dan sebelumnya serta riwayat penyakit keluarga. Pemeriksaan fisik berupa aktifitas/frekuensi istirahat, sirkulasi, eliminasi, nutrisi/cairan, neurosensori, nyeri/rasa nyaman, respirasi, keamanan, seksual dan pemeriksaan fisik head to foot 3. Pengkajian psikososio spiritual yang mencakup integritas, interaksi sosial dan tingkat pengetahuan pasien tentang penyakit dan penatalaksanaannya 4. Pengkajian hasil diagnostik
17.4.3 Manajemen Keperawatan Menurut Irnalita (008), manajemen keperawatan didefinisikan sebagai pelayanan keperawatan profesional dengan mengelola perawat berdasarkan ilmu manajerial sehingga dapat memberikan asuhan keperawatan yang maksimal kepada klien. Lebih lanjut, dikatakan bahwa dalam memberikan asuhan keperawatan yang professional, perawat harus berbekalkan pengetahuan teoritis (ilmu dan kiat perawatan) yang baik sehingga mampu menunjukkan kemampuan keterampilan dan pengetahuan yang semakin maju. Adapun kompetensi yang harus dimiliki oleh seorang perawat adalah : 1. Melaksanakan Model Praktik Keperawatan Profesional (MPKP) dan memahami tugas Kepala Ruangan (KaRu), Primary Nurse (PN) dan Associate Nurse (AN). Memahami dan mampu melaksanakan tugas yang sifatnya manajerial di ruang rawat inap 3. Mampu melaksanakan metode praktik bimbingan mahasiswa selama di rawat inap 4. Melaksanakan diskusi dengan kelompok dan para perawat di ruang rawat inap 5. Menetapkan Standar Asuhan Keperawatan (SAK) dan dokumentasi keperawatan 6. Membuat draft SAK untuk beberapa penyakit 7. Mampu berkolaborasi dengan team di ruang rawat inap 8. Melaksanakan peningkatan mutu di ruang rawat inap 9. Mengikuti audit keperawatan dalam rangka menilai pendokumentasian.5 Faktor-faktor yang Berhubungan dengan Kinerja Perawat Menurut Nurul (008), terdapat beberapa faktor yang menentukan kinerja perawat, antara lain : 1. Semakin bertambahnya usia, maka akan semakin meningkat kedewasaan psikologis, jiwa dan akan semakin mampu untuk berfikir rasional sehingga akan semakin mahir dalam pekerjaannya
18. Semakin tinggi pendidikan seseorang, maka akan semakin tinggi kualitas kepribadiannya yang dicerminkan dalam aspek keterampilan sehingga hidup akan semakin mantap dan mandiri 3. Masa kerja yang relatif lama disertai dengan bertambahnya usia maka akan semakin menciptakan kepuasaan kerja yang relative menetap dan selanjutnya akan berdampak terhadap performa dan kinerja seseorang 4. Seseorang yang telah menikah dan telah memiliki tanggungjawab akan menunjukkan kinerja yang lebih baik 5. Tidak ada perbedaan kinerja antara laki-laki dan perempuan 6. Besar imbalan berpengaruh signifikan terhadap kinerja 7. Pekerja yang memiliki kesempatan untuk mengembangkan diri akan lebih puas dalam bekerja sehingga berpengaruh terhadap kinerjanya 8. Tingginya motivasi yang dimiliki akan tercermin pada kinerja.6 Beban Kerja Tenaga Kesehatan Beban kerja tenaga kesehatan didefinisikan sebagai banyaknya jenis pekerjaan yang harus diselesaikan oleh tenaga kesehatan dalam waktu satu tahun dalam organisasi/pelayanan kesehatan (Ilyas, 011 dan Kementrian Kesehatan, 004). Standar beban kerja adalah banyaknya jenis pekerjaan yang dapat diselesaikan oleh satu orang tenaga kesehatan dalam waktu satu tahun kerja sesuai dengan standar professional yang telah ditetapkan dengan mempertimbangkan waktu libur, sakit, dll. Sedangkan analisa beban kerja didefinisikan sebagai kegiatan/upaya menghitung beban kerja pada satuan kerja dengan menjumlah semua beban kerja lalu dibagi dengan kapasitas kerja perorangan persatuan waktu (Kementrian Kesehatan, 004). Tujuan dari dilakukan analisa beban kerja adalah untuk mengidentifikasi tenaga kesehatan yang dibutuhkan, baik secara kualitas maupun kuantitas, dibandingkan dengan tanggungjawab yang harus dilakukan (Irnalita, 008). Berdasarkan pengertian ini, jelas dapat diambil kesimpulan bahwa analisa beban kerja juga memperhitungkan kualitas, yang kemudian dapat dikaitkan dengan kompetensi kerja. Untuk itulah, penghitungan beban kerja personel perlu dilakukan menggunakan teknik
19 yang reliable sehingga menghasilkan angka rasional yang dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah. Hasil pengukuran beban kerja akan baik jika digunakan oleh ahlinya dalam mengetahui jenis dan tingkat kesulitan pekerjaan (Ilyas, 011).6.1 Metode Penghitungan Beban Kerja Menurut Ilyas (011), terdapat beberapa teknik yang dapat digunakan untuk menghitung beban kerja, yaitu :.6.1.1 Metode Work Sampling Work sampling merupakan suatu teknik hitung beban kerja yang digunakan untuk menghitung besarnya beban kerja yang didapatkan dalam suatu unit, bidang atau instalasi tertentu. Dengan menghitung menggunakan work sampling, didapatkan gambaran kegiatan seperti berikut: 1. Jenis aktivitas yang dilakukan selama jam kerja. Kaitan aktivitas tenaga kesehatan berkaitan dengan fungsi dan tugasnya dalam waktu jam kerja 3. Proporsi waktu kerja yang digunakan untuk melakukan kegiatan produktif dan tidak produktif 4. Pola beban kerja personel dikaitkan dengan waktu dan schedule jam kerja Dalam pelaksanannya, teknik menghitung dengan menggunakan metode work sampling berdasarkan kepada kegiatan yang menjadi standar yang telah ditetapkan, misalnya pada penghitungan beban kerja perawat, maka pengamatan diakukan pada aktivitas atau kegiatan asuhan keperawatan yang dilakukan perawat dalam menjalankan tugasnya seharihari di ruang kerjanya. Menurut Ilyas (011), tahapan yang harus dilakukan dalam menggunakan teknik work sampling antara lain: 1. Menentukan jenis personel secara spesifik yang akan diteliti, misalnya perawat di instalasi hemodialisa rumah sakit. Lakukan pemilihan sampel untuk memudahkan pengamatan
0 3. Membuat formulir daftar kegiatan perawat yang teah diklasifikasikan sebagai kegiatan produktif dan tidak produktif atau kegiatan langsung dan tidak langsung (tergantung kepada maksud penelitian) 4. Melatih pengamat untuk bisa melakukan pengamatan kerja menggunakan work sampling 5. Sesuaikan interval waktu pengamatan. Semakin tinggi tingkat mobilitas pekerjaan yang diamati, maka akan semakin singkat waktu pengamatan (biasanya interval -15 menit, tergantung pada karakteristik pekerjaan). Untuk meningkatkan akurasi penelitian, interval yang lebih pendek lebih baik dibandingkan dengan interval yang terlalu melebar. Dalam pelaksanaannya, semakin banyak jumlah pengamat, semakin rendah kemungkinan lost of attention dari sampel. Biasanya dilakukan selama 7 hari kerja terus menerus dengan waktu pengamatan selama waktu kerja. Contoh jumlah perhitungan sampel menggunakan work sampling : jika kita mengamati kegiatan 5 perawat setiap shift dengan interval pengamtaan 5 menit selama 4 jam (3 shift) dalam 7 hari kerja, dengan demikian jumlah pengamatan : 5 (perawat) X 60 (menit) X 4 (jam) X 7 (hari kerja) = 10.080 sampel 5 (menit).6.1. Metode Time and Motion Study Merupakan teknik penghitungan beban kerja dengan memperhatikan kegiatan apa saja yang dilakukan oleh sampel. Kelebihan dari teknik ini adalah kita mampu sekaligus menilai kualitas kinerja dari sampel sambil menghitung beban kerjanya. Yang harus dilakukan dalam menjalankan teknik ini antara lain: (Ilyas, 011)
1 1. Sampel berupa satu orang perawat mahir yang dipilih berdasarkan purposive sampling. Jumlah perawat yang dinilai mahir dan diamati kegiatannya dapat satu orang saja sepanjang perawat tersebut dianggap mampu mewakili kualitas perawat. Membuat formulir daftar kegiatan perawat yang diklasifikasikan sebagai kegiatan professional dan non professional serta waktu yang digunakan untuk melakukan kegiatan tersebut. Dapat pula diamati kegiatan langsung dan tidak langsung (untuk menghitung beban kerja) 3. Pelaksana pengamatan dipilih berdasarkan kompetensi dan pengetahuan terkait dengan profesi kompetensi dan fungsi sampel yang diamati dan sebaiknya berbeda organisasi (untuk minimalisasi bias) 4. Kekurangan dari teknik ini adalah sampel mengetahui bahwa kegiatannya sedang diamati sehingga cenderung untuk meningkatkan performanya (bias). Untuk antisipasinya, semakin lama waktu pengamatan maka akan semakin baik untuk menghindari bias. Time and Motion Study biasanya dilakukan untuk kegiatankegiatan yang belum jelas kualitas tahapannya sebagai penilaian holistik Selain itu, teknik ini baik digunakan untuk kegiatan dengan tahapan kerja yang cenderung memiliki homogenitas (Ilyas, 011). Berikut adalah tabel yang menggambarkan perbedaan antara Work Sampling dengan Time and Motion Study : Tabel.1 Perbedaan work sampling dengan time and motion study No Work Sampling Time and Motion Study 1 Kualitas kerja tidak dapat dinilai Kualitas kerja dapat dinilai Lebih sederhana dan murah Lebih sulit dan mahal 3 Jumlah sampel lebih banyak Jumlah sampel lebih sedikit 4 Pengamatan dilakukan pada Pengamatan dilakukan sepanjang kegiatan waktu
.6.1.3 Metode Daily Log Merupakan bentuk dari work sampling yang lebih sederhana, karena memberikan kesempatan kepada sampel untuk menuliskan sendiri kegiatan dan waktu yang dihabiskan dalam melakukans pekerjaannya. Karena itulah, teknik ini sangat bergantung kepada kejujuran sampel. Sebagai tahapan, peneliti membuat terlebih dahulu pedoman dan formulir isian untuk para sampel. Penjelasan dasar mengenai cara pengisian formulir harus dilakukan oleh peneliti terlebih dahulu sebelum sampel dibolehkan untuk mulai mengisinya sendiri. Yang diutamakan dalam penelitian ini adalah kegiatan, waktu, dan lamanya kegiatan (Ilyas, 011 dan Indriana, 009). Data yang telah didapatkan dari para sampel kemudian diolah untuk menghasilkan analisa mengenai beban kerja tertinggi dan jenis pekerjaan yang membutuhkan waktu terbanyak..6. Pengukuran Kerja Pengukuran kerja adalah teknik yang digunakan untuk menetapkan waktu yang dibutuhkan bagi pekerja yang telah memenuhi syarat atas kemampuan untuk menyelesaikan pekerjaan yang dibebankan kepadanya dalam tingkat prestasi yang ditetapkan. Adapun waktu yang digunakan dalam pengukuran kerja antara lain : (International Labour Office, 1983) 1. Waktu standar Waktu standar didefinisikan sebagai jumlah waktu yang dibutuhkan untuk menyelesaikan suatu pekerjaan berdasarkan prestasi standar, yaitu isi kerja, kelonggaran (misalnya keterlambatan), dan waktu kosong, yang mungkin saja terjadi selama proses pengerjaan (International Labour Office, 1983 dalam Indriana, 009). Dalam ketentuan yang diatur Departemen Tenaga Kerja (003), Undangundang No. 13 tahun 003 tentang Tenaga Kerja (terutama dalam pasal 77), hari kerja yang dibebankan pekerja dengan memiliki jam kerja 7 jam dalam sehari dan 40 jam dalam seminggu adalah 6 hari kerja, sedangkan bagi pekerja yang dengan jam kerja 8 jam dalam sehari dan 40 jam dalam seminggu adalah 5 hari kerja.
3. Waktu Produktif Waktu produktif merupakan waktu yang dialokasikan untuk tenaga manusia (termasuk juga tenaga kesehatan) untuk menjalankan fungsinya dalam organisasi untuk bisa membantu pencapaian organisasinya (Azhar, 008). Perbandingan antara waktu produktif dan waktu tidak produktif dalam satu hari kerja adalah 80% : 0% karena tidak mungkin tenaga manusia mampu bekerja 100% (Ilyas, 011). Menurut ILO dalam Indriana (009), disebutkan bahwa ruang lingkup waktu produktif dan tidak produktif adalah sebagai berikut : Waktu Produktif Terbagi menjadi, yaitu (1) waktu kerja dasar, yaitu waktu kerja minimal yang dibutuhkan untuk bisa menghasilkan/melakukan suatu kegiatan/produk jasa dan () waktu kerja tambahan, yaitu waktu kerja yang melebihi waktu kerja dasar yang timbul akibat kinerja yang tidak efisien, kelemahan metode yang digunakan dan masalah-masalah operasional lainnya Waktu Tidak Produktif Merupakan waktu yang sia-sia terbuang dan menyebabkan gangguan berjalannya kegiatan dalam suatu organisasi sehingga tingkat produktivitas akan menurun. Hal ini bisa disebabkan oleh (1) kegagalan pihak manajemen dalam merencanakan dan meproyeksikan kegiatan, dan () tenaga manusia yang lalai dan meninggalkan pekerjaannya tanpa alasan yang jelas (terlambat/bolos/malas,dll).7 Analisis Kebutuhan Tenaga Terdapat beberapa metode untuk menghitung kebutuhan personel di rumah sakit secara garis besar, yaitu berdasarkan kebutuhan pelayanan kesehatan, berdasarkan target pelayanan kesehatan, berdasarkan permintaan (demand) pelayanan kesehatan, berdasarkan rasio tenaga dan tempat tidur (Ilyas, 011). Kali ini hanya akan dibahas beberapa dari metode diatas, yaitu Metode WISN (Work Indicator of Staffing Need)
4 yang berdasarkan kepada indikator beban kerja riil dan rasio kapasitas seseorang dalam melakukan tugasnya pada suatu sarana kesehatan dan Metode Ilyas yang berdasarkan kepada prinsip demand..7.1 Metode WISN (Work Indicator of Staffing Need) Metode ini biasanya digunakan untuk menghitung jumlah kebutuhan tenaga dalam skala yang besar, misalnya di kantor dinas kesehatan dan rumah sakit tingkat propinsi, kabupaten/kota dan telah disahkan melalui Keputusan Menteri Kesehatan RI No.81/MenKes/SK/004 (Kementrian Kesehatan, 004). Metode ini mengandalkan beban kerja sebagai indikator kebutuhan tenaga, sehingga alokasi/realokasi tenaga akan lebih mudah diakukan. Metode ini mudah diterapkan secara teknis dan sifatnya holistik. Adapun kelemahan metode WISN menurut Departemen Kesehatan adalah sangat mengandalkan kelengkapan pencatatan data karena akan digunakan sebagai dasar untuk input data yang selanjutnya akan menentukan besaran jumlah hasil penghitungan kebutuhan ketenagaan..7. Metode Ilyas Dalam perkembangannya, metode Ilyas dikenal sebagai metode penghitungan beban kerja yang relatif cepat dengan keakuratan yang tinggi sehingga mampu menghasilkan informasi yang akurat untuk dijadikan dasar dari pengambilan keputusan manajemen (Ilyas, 011). Dasar dari metode ini adalah melalui pendekatan demand, yang maksudnya adalah metode ini digunakan untuk menghitung beban kerja berdasarkan kepada permintaan atas dihasilkannya suatu produk/unit yang dibutuhkan. Dengan kata lain, beban kerja secara spesifik tergantung kepada transaksi bisnis yang dilakukan setiap unit kerja. Untuk melakukan perhitungan yang baik, diperlukan informasi yang akurat terkait: (Ilyas, 011)
5 1. Transaksi bisnis utama atau penunjang setiap personel dalam unit organisasi sejelas-jelasnya. Waktu yang dibutuhkan untuk setiap transaksi bisnis utama atau penunjang sejelas-jelasnya 3. Jenis dan jumlah transaksi bisnis per hari, per minggu, per bulan atau per tahun yang berhasil dilakukan setiap personel 4. Jumlah jam kerja efektif (produktif) per hari 5. Jumlah hari kerja efektif dalam setahun organisasi Formula Ilyas dapat ditentukan berdasarkan jenis kegiatan yang dilakukan, jumlah kegiatan yang dilakukan dan waktu transaksi bisnis. Beban kerja setiap unit per hari dapat disajikan dalam satuan menit atau jam per hari kerja. Formula Ilyas memiliki komponen yang dituangkan dalam rumus, yaitu : (Ilyas, 011) Σ SDM/hari = { (B.K ij = JT x WT) : JKE } Keterangan : B.K ij = Jenis beban kerja J.T = Jumlah transaksi per hari W.T = Waktu (menit/jam) yang dibutuhkan untuk setiap jenis transaksi J.K.E = Jam kerja efektif SDM per hari Jumlah hari kerja per tahun.8 Kompetensi Kerja Ilyas (011) dan Aditama (007) menyatakan bahwa perencanaan sumber daya manusia harus juga berdasarkan soft skill yang nantinya harus seimbang dengan jumlah. Perencanaan sumber daya manusia yang dimaksudkan, yaitu :
6 1. Skill inventory Skill inventory adalah data rinci yang mencakup penjelasan terkait semua karyawan yang dimiliki dalam suatu organisasi. Job analysis Job analysis adalah uraian dari tugas dan tanggung jawab dari masingmasing pekerjaan personel, mencakup juga karakteristik pribadi yang diperlukan dan sesuai dengan jabatan atau kedudukan untuk mampu memberikan prestasi yang optimal 3. Replacement chart Replacement chart adalah diagram yang menggambarkan personel dalam suatu organisasi berikut jabatan yang diembannya termasuk juga proyeksi ke depan personel tertentu untuk antisipasi kemungkinan penggantian posisi untuk jabatan tersebut 4. Expert forecast Expert forecast adalah ramalan oleh ahli dengan beberapa teknik tertentu (misalnya 3 steps of Delphi Technique) Berdasarkan penjelasan diatas, job analysis dapat dijabarkan menjadi job knowledge, skill dan attitude. Knowledge (pengetahuan) merupakan hasil dari rasa tahu yang hadir dalam individu yang telah melakukan pengamatan melalui panca indera manusia (penglihatan, pendengaran, penciuman, perasa dan peraba). Hasil dari pengetahuan inilah yang nantinya sangat menentukan perilaku dan keterampilan seseorang. Perilaku itu sendiri diartikan sebagai tanggapan atau reaksi seseorang yang muncul atas adanya rangsangan atau hal yang terjadi dari lingkungan luar. Sedangkan keterampilan diartikan sebagai kemampuan seseorang dalam menerapkan pengetahuan yang dimilikinya dalam bentuk perilaku. Dalam hal ini, keterampilan juga dipengaruhi oleh pendidikan dan pelatihan yang dimiliki oleh orang tersebut (Saragih, 010; Simanullang, 010 dan Yuliastuti, 007) Pengetahuan dapat diukur dengan beberapa cara, yaitu dengan melakukan wawancara atau angket yang berisi tentang pertanyaan yang
7 bertujuan dengan isi materi yang menjadi tujuan wawancara/pengisian angket yang disesuaikan dengan intensitas tingkatan pengetahuan yang ingin digali (Saragih, 010). Beberapa hal yang mempengaruhi pengetahuan seseorang antara lain : (Simanullang, 010 dan Saragih, 010) 1. Pendidikan Semakin tinggi tingkat pendidikan, semakin tinggi pengetahuannya. Pengalaman Pengalaman merupakan cara terbaik dalam membuktikan pengetahuan yang pernah didapatkan 3. Usia Bertambahnya usia berarti juga proses perkembangan mentalnya sudah semakin sempurna 4. Informasi Informasi yang baik akan memberikan pengaruh yang baik terhadap pengetahuan, yang juga terkadang bisa disamakan dengan pendidikan Simanullang (010) menyatakan bahwa variabel individu merupakan faktor utama yang mempengaruhi perilaku seseorang. ariabel individu yang dimaksudkan disini adalah (1) kemampuan dan keterampilan yang dimiliki baik fisik maupun mental, () latar belakang, (3) pengalaman dan demografi, (4) umur dan jenis kelamin dan (5) asal usul. Saragih (010) lebih lanjut membagi perilaku menjadi, yaitu perilaku tertutup dan perilaku terbuka. Perilaku terbuka merupakan perilaku yang diharapkan karena terwujud dalam bentuk tindakan atau praktek yang mudah dinilai dan dilihat..9 Hemodialisa Hemodialisa merupakan suatu proses yang digunakan untuk mengeluarkan cairan eksresi dalam tubuh yang tidak mampu lagi diolah oleh ginjal. Biasanya pasien yang menjalani perawatan hemodialisa adalah pasien dengan gagal ginjal kronis (GGK). Tujuan dari terapi ini adalah
8 untuk memperpanjang nyawa pasien dan menjaga kestabilan hidup sampai ginjal dapat berfungsi kembali (Nurini, Ismonah dan Purnomo 011)..9.1 Proses Perawatan Hemodialisa Secara umum, konsep dari perawatan hemodialisa adalah mengalirkan darah pasien yang penuh dengan toksin dan limbah nitrogen ke dialiser untuk dibersihkan, lalu dialirkan kembali ke tubuh pasien. Prosesnya terbagi menjadi 3, yaitu difusi, osmosis dan ultrafiltrasi. Selama menjalani perawatan, ada beberapa komplikasi yang mungkin timbul, yaitu hipertensi, hipovolemia (kedinginan/menggigil, demam, sakit kepala dan kram otot) (Nurini, Ismonah dan Purnomo 011).
BAB 3 GAMBARAN UMUM RUMAH SAKIT UMUM PUSAT PERSAHABATAN 3.1 Sejarah Berdirinya Rumah Sakit Umum Pusat Persahabatan Berawal dari peranan pemerintah Rusia yang bekerjasama dengan pemerintah Indonesia untuk mendirikan rumah sakit, tangga 7 November 1963 RS Persahabatan diserahkan oleh pihak Rusia kepada pemerintah Indonesia, yang diwakili oleh Menteri Kesehatan RI saat itu, Prof. Dr. Satrio dan disaksikan oleh Presiden RI pertama, Ir. Soekarno. Untuk selanjutnya, tanggal 7 November kemudian ditetapkan sebagai hari ulang tahun RSUP Persahabatan. RSUP Persahabatan melewati beberapa era kemajuan, yaitu : 1. Periode 1 (1963-1975) Pada masa ini, RSUP Persahabatan masih menjadi satelit RSUP Cipto Mangunkusumo (RSCM), yang memiliki tenaga kesehatan diantaranya dokter ahli, asisten ahli dan asisten ahli dari FKUI/RSCM yang bekerja sama juga dengan dokter dari Rusia.. Periode (1975-199) Pada masa ini, RSUP Persahabatan sudah mulai mandiri dan terlepas sebagai satelit RSCM. Perubahan juga terasa sejak diresmikannya RSUP Persahabatan sebagai RS Umum kelas B-3 wilayah Jakarta Timur dan menjadi rujukan nasional untuk penyakit paru serta laboratorium kuman TBC yang mendapat pengakuan internasional sebagai Collaborating Centre WHO. 3. Periode 3 (199-1975) Pada masa ini RSUP Persahabatan berubah status menjadi RS Swadana terhitung efektif mulai tanggal September 199 dengan dikeluarkannya Surat Keputusan Menteri Kesehatan RI No.747/MenKes/SK/IX/199. Pada masa ini pula RSUP Persahabatan mendapatkan akreditasi penuh dari Departemen Kesehatan RI yang
meliputi Administrasi Manajemen, Pelayanan Medis, Pelayanan Gawat Darurat, Pelayanan Keperawatan dan Rekam Medis. 4. Periode 4 (00-005) Pada masa ini, RSUP Persahabatan berubah status menjadi perusahaan jawatan yang juga telah mendapatkan akreditasi penuh dari Departemen Kesehatan RI untuk 16 standar pelayanan. 5. Periode 5 (005-010) Dengan dikeluarkannya Peraturan Menteri Kesehatan RI No. 1679/MenKes/Per/XII/005 tentang Organisasi dan Tata Kerja Rumah Sakit Umum Pusat Persahabatan, maka RSUP Persahabatan telah resmi menjadi Unit Pelaksana Teknis (UPT) di lingkungan Departemen Kesehatan. 3. isi, Misi, Motto dan Nilai Rumah Sakit Umum Pusat Persahabatan isi Menjadi rumah sakit terdepan dalam menyehatkan masyarakat dengan unggulan Kesehatan Respirasi Kelas Dunia Misi 1. Mengembangkan kepemimpinan yang visioner. Menyelenggarakan pelayanan prima yang professional 3. Menyelenggarakan kegiatan pendidikan, penelitian dan pengembangan 4. Mengembangkan pelayanan unggulan di bidang kesehatan respirasi 5. Menyelenggarakan pemberdayaan seluruh potensi sumberdaya rumah sakit, kemitraan dan peningkatan kesejahteraan Motto Caring with friendship (melayani secara bersahabat) dengan nilai yang dianut yaitu budaya jujur, kompeten, kerjasama tim, visioner dan loyal
31 Nilai 1. Jujur Setiap karyawan RSUP Persahabatan dituntut untuk senantiasa menjunjung kejujuran yang didasarkan atas nilai norma moral, etika dan agama. Kompeten Setiap karyawan RSUP Persahabatan dituntut untuk memiliki kompetensi yang terdiri dari pengetahuan, keterampilan dan perilaku profesional 3. Kerjasama tim 4. Setiap karyawan RSUP Persahabatan dituntut untuk memiliki kecakapan bekerjasama dalam tim untuk mencapai kinerja terbaik, dilandasi sikap saling menghormati, mempercayai dan berkomunikasi dengan baik 5. Caring Setiap karyawan RSUP Persahabatan dituntut untuk mampu memberikan perhatian tulus demi tercapainya keselamatan, kepuasan dan nyamanan bagi pasien 6. Loyal Setiap karyawan RSUP Persahabatan dituntut untuk memiliki loyalitas penuh dan komitmen kepada RSUP Persahabatan 3.3 Profil Rumah Sakit Umum Pusat Persahabatan Nama : RS Persahabatan Alamat : Jl. Persahabatan Raya No.1 Jakarta 1330 Telefon : (01) 4891708/45/41 Fax : (01) 4711, 4800778 Email : rsuppersahabatan@yahoo.co.id Homepage : www.rsup-persahabatan.com Nama Direktur Utama : dr. Priyanti Z. Soepandi, Sp. P (K) Pemilik : Departemen Kesehatan RI Status Kepemilikan : DEPKES
3 Resmi Berdiri : 7 November 1963 Jumlah Tempat Tidur : 539 tempat tidur Kelas Rumah Sakit : B Pendidikan Akreditasi : Lulus pada 16 bidang pelayanan Luas Fisik : 135.000 m yang terdiri dari luas bangunan 37.804 m, pertamanan 61.313 m, jalan dan parkir 3.074 m dan area lainnya 3.330 m 3.4 Pelayanan Rumah Sakit Umum Pusat Persahabatan 3.4.1 Layanan Unggulan Pelayanan unggulan yang terdapat di RSUP Persahabatan adalah kesehatan respirasi (paru dan pernafasan) yang terintegrasi dengan pelayanan penunjang lain, seperti bedah thoraks, THT, jantung, radiodiagnostik, patologi anatomi, rehabilitas medik, dll. Pelayanan unggulan ini merupakan pelayanan paripurna tersier dari penyakit paru dan pernafasan menggunakan alat berteknologi tinggi (bronkoskopi, TBLB, sleep lab, video assited thoraxic surgery, laboratory tubercolosis dan emergency diseases, dll). Selain itu, RSUP Persahabatan juga merupakan salah satu rumah sakit rujukan untuk SARS dan avian influenza. 3.4. Layanan Gawat Darurat 4 Jam Memberikan pelayanna gawat darurat atas kasus umum, paru, kebidanan, bedah, kamar operasi, dan high care unit. Selain itu, menyediakan juga intermediate ambulans dan siaga bencana. 3.4.3 Layanan Rawat Inap Memiliki 539 tempat tidur dan 50 box bayi yang terdistribusi dalam: 1. Kelas III : 99 tempat tidur. Kelas II : 114 tempat tidur 3. Kelas I : 54 tempat tidur
33 4. Kelas IP II : 1 tempat tidur 5. Kelas IP I : 7 tempat tidur 6. Kelas Super IP : tempat tidur 7. ICU/ICCU/HCU : 15 tempat tidur 8. Isolasi : 1 tempat tidur 3.4.4 Layanan Rawat Jalan Layanan Rawat Jalan Spesialistik 1. Poliklinik Bedah : umum, digestif, tuang, plastic, onkologi, tumor, toraks, syaraf, anak dan urologi. Poliklinik Penyakit Dalam : tropik, endokrin, gastro enterologi, reumatik, dan hematologi 3. Poliklinik Kesehatan Anak dan Imunisasi 4. Poliklinik Kebidanan dan Penyakit Kandungan yang terdiri dari obsetri, ginekologi, onkologi dan KB 5. Poliklinik Mata 6. Poliklinik Telinga Hidung dan Tenggorokan (THT) 7. Poliklinik Syaraf 8. Poliklinik Jantung 9. Poliklinik Kulit dan Kelamin 10. Polikinik Gigi dan Mulut : bedah mulut, gigi anak dan orthodontic 11. Poliklinik Kesehatan Jiwa, Psikologi, Detoksikasi Narkoba 1. Poliklinik Paru dan Asma 13. Poliklinik Konsultasi Gizi 14. Polikinik Akupuntur 15. Poliklinik Anestesi
34 Pusat Kesehatan Respirasi Nasional (IPKRN) dan Layanan Spesialistik Terpadu (LST) Griya Puspa, terdiri dari 1. Rawat jalan kelas eksekutif. Rawat inap kelas eksekutif (9 tempat tidur) untuk IP I dan Super IP Layanan Pemeriksaan Medik Terpadu (Medikal Check Up) 1. Simple medical check up. Basic medical check up 3. Executive medical check up 4. Cpronary risk medical check up 5. Pre employment medical check up 6. Pemeriksaan medical check up Layanan Kamar Bedah dan Perawatan Intensif Layanan ini ditujukan untuk pasien dengan penyakit berat dan memerlukan perawatan lebih intensif. Kamar yang disediakan dalam layanan ini adalah : 1. Kamar Bedah : 10 kamar dan 10 tempat pulih. ICU : 5 tempat tidur 3. ICCU : 8 tempat tidur 4. HCU : tempat tidur 5. Hemodialisa : 7 tempat tidur Layanan Pendukung 1. Laboratorium klinik 4 jam. Laboratorium patologi anatomi 3. Apotek 4 jam 4. Rontgen/radiologi 5. CT scan 6. Spirometri 7. Treadmill
35 8. 0 maa 9. Body Pletysmograph 10. Radioterapi 11. USG, EEg, endoskopi, EMG 1. TUR 13. Laparoskopi 14. Bronkoskopi 15. Klinik tumbuh kembang 16. Linac 17. Sleep lab terpadu 18. Klinik berhenti merokok 19. Klinik remaja 0. Laboratorium patologi klinik Fasilitas Umum 1. Layanan bank BRI dan Bukopin. Layanan ATM 4 jam (BNI, BRI, Bukopin) 3. Layanan wartel 4. Layanan optik 5. Layanan kantin 6. Layanan koperasi 7. Sarana ibadah (masjid) 3.4.5 Layanan Medical Check Up Pelayanan medical check up disediakan di RSUP Persahabatan, didukung oleh tenaga medis yang berpengalaman dengan konsep one stop service yang letaknya terpisah dengan pasien yang sakit. 3.5 Sumber Daya Manusia Rumah Sakit Umum Pusat Persahabatan SDM RSUP Persahabatan merupakan pegawai PNS dan non PNS. Berdasarkan jenis pekerjaannya, SDM RSUP Persahabatan terdiri dari tenaga medis, keperawatan, penunjang (misalnya radiografer, apoteker,
36 dll), dan tenaga non medis yang bertugas di berbagai unit penunjang di RSUP Persahabatan. Sumber daya manusia RSUP Persahabatan sampai dengan Januari 01 berjumlah 1871 orang. Tabel 3.1 Jumlah SDM RSUP Persahabatan per 1 Oktober tahun 01 NO Jenis Tenaga PNS BLU NON BSB PPDS JUMLAH PNS 1 Medis 318 - Dokter Umum 49 1 16 101 167 - Dokter Gigi 11 11 - Dokter Spesialis 10 13 133 - Dokter Gigi Spesialis 4 3 7 Perawat dan Bidan 518 139 677 3 Penunjang Medik 161 58 19 4 Non Medis 440 37 679 TOTAL 1303 471 16 101 1891 Sumber : Bagian Sumber Daya Manusia RSUP Persahabatan per 1 Desember 01 3.6 Instalasi Hemodialisa Pelayanan hemodialisa disediakan dan diberikan kepada pasien dengan diagnosa GGK dan perlu mendapatkan perawatan khusus dengan pemantauan ketat dan berkesinambungan dengan tindakan yang segera. Tujuan dari perawatan ini adalah untuk menurunkan angka kematian dan meningkatkan serta mempertahankan kualitas hidup. Instalasi hemodialisa merupakan unit khusus di RSUP Persahabatan yang dikelola dengan tujuan memberikan pelayanan kepada pasien hemodialisa dengan GGK yang melibatkan tenaga terlatih khusus dan didukung dengan peralatan khusus.
37 3.6.1 isi dan Misi Instalasi Hemodialisa isi Menjadikan pelayanan hemodialisa yang professional sesuai standar dan dapat dipertanggungjawabkan untuk menunjang RS respirasi Misi 1. Memberikan pelayanan hemodialisa yang berkualitas dan berlandaskan etika profesi. Memberikan pelayanan hemodialisa yang komprehensif dan dilandasi oleh setiap pengembangan ilmu di bidang hemodialisis 3. Memberikan lingkungan yang konduktif dalam mengembangkan ilmu hemodialisa 4. Menciptakan lingkungan kerja yang mendukung perkembangan profesionalisme dan kepuasan pasien hemodialisa 5. Mengembangkan citra positif profesionalisme di lingkungan unit hemodialisa 3.6. Instalasi Hemodialisa sebagai Unit Pelayanan dan Produksi Instalasi hemodialisa RSUP Persahabatan menerima pasien dengan sistem pembayaran umum (pasien non asuransi) dan pasien asuransi (AsKes, JamKesMas, GaKin/SKTM dan perusahaan yang bekerja sama dengan RSUP Persahabatan). Biaya yang dikenakan oleh pasien terkait dengan pelayanan hemodialisa tergantung dengan besaran premi dan asuransi yang dimiliki pasien tersebut.
38 Tabel 3. Jumlah pasien hemodialisa berdasarkan cara pembayaran tahun 007 s/d 011 Jumlah Cara Bayar No Tahun Pasien Swasta Askes Jamkesmas Gakin/SKTM Perusahaan 1 007 439 3 33 38 75-008 419 34 70 93-3 009 519 1 314 79 114-4 010 718 9 418 63 08-5 011 834 11 501 80 4 - TOTAL 99 77 1790 330 73 - Sumber : Laporan tahunan Instalasi Hemodialisa RSUP Persahabatan 011 3.6.3 Sumber Daya Manusia di Instalasi Hemodialisa Dalam menjalankan fungsinya, Instalasi Hemodialisa RSUP Persahabatan memiliki 1 unit yang secara bergantian dioperasikan dalam shift dari Senin-Sabtu pukul 07.00 19.00 WIB oleh 17 tenaga yang dijabarkan sebagai berikut : Tabel 3.3 Rekapitulasi data ketenagaan menurut jenis dan kualifikasi pendidikan tahun 011 Tenaga Jumlah Tenaga Keperawatan Jumlah Tenaga Non Keperawatan Jumlah Medis Perawat SPK D3 Kep. S1 Kep. Non Perawat SLTA D3 S1 Tenaga 13 1 1-17 TOTAL 13 1 1-17 Sumber : Laporan tahunan Instalasi Hemodialisa RSUP Persahabatan 011
BAB 4 KERANGKA KONSEP DAN DEFINISI OPERASIONAL 4.1 Kerangka Teori Menurut Ilyas (011), perencanaan tenaga kesehatan dalam prosesnya akan melalui proses analisa terkait persediaan tenaga dan kebutuhan tenaga. Setelah dilakukan analisa terkait dua hal tersebut, akan dihasilkan sebuah gambaran kesenjangan akan tenaga kesehatan yang dibutuhkan dengan yang dimiliki. Gambaran kesenjangan itulah yang nantinya akan dimasukkan ke dalam dokumen rencana tenaga untuk kemudian diolah dan didapatkan secara pasti terkait jumlah tenaga yang dibutuhkan. Sedangkan Aditama (007) menjelaskan bahwa soft skill dalam perencanaan sumber daya manusia adalah hal penting yang harus diperhatikan. Soft skill tersebut kemudian dijabarkan menjadi skill inventory, job analysis, replacement chart dan expert forecast. Menurut Ilyas (011) menjabarkan lebih lanjut job analysis menjadi job knowledge, skill dan attitude dalam keterkaitannya dengan gambaran akan kompetensi kerja. (Ilyas, 011) Analisis Situasi Tenaga Analisis Persediaan Tenaga Analisis Kebutuhan Tenaga Analisis Kesenjangan Dokumen Rencana Tenaga
(Aditama, 007) Skill inventory Soft skill sumber daya manusia Job analysis Replacement chart Expert forecast 4. Kerangka Konsep Berdasarkan kerangka teori yang digunakan oleh peneliti tentang perencanaan tenaga kesehatan, diketahui adanya kesenjangan kebutuhan tenaga antara yang dibutuhkan dengan yang tersedia. Perencanaan tenaga kesehatan itu sendiri juga melibatkan aspek soft skill, yang seperti telah dijelaskan oleh Aditama (007) dalam Anandita (011) dan Ilyas (011) bahwa job analysis yang lebih lanjut mencakup tiga variabel yaitu job knowledge (pengetahuan seputar pekerjaan), skill (keterampilan) dan attitude (sikap). Dalam kerangka konsep dengan pendekatan flowchart diatas, peneliti ingin menjawab kebutuhan perawat atas kesenjangan akan kebutuhan tenaga keperawatan dengan persediaan yang dimiliki sekarang. Analisa kebutuhan keperawatan ini lebih lanjut akan membahas dua aspek, yaitu berdasarkan beban kerja dan kompetensi kerja. Dalam menghitung kebutuhan perawat berdasarkan beban kerja, peneliti akan menghitung waktu (menit) yang dibutuhkan selama satu hari kerja untuk melayani pasien hemodialisa dengan mengikuti kegiatan perawat selama jam operasional Instalasi Hemodialisa RSUP Persahabatan yang kemudian akan dijabarkan waktu dan jenis transaksinya. Jumlah waktu dalam kegiatan yang dinilai sebagai kegiatan produktif (terdiri dari kegiatan produktif langsung dan tidak langsung) kemudian digunakan untuk perhitungan beban kerja menggunakan metode Ilyas. Setelah didapatkan jumlah perawat yang dibutuhkan, akan dilakukan analisa kompetensi perawat yang dibutuhkan (pengetahuan seputar pekerjaan, keterampilan Indonesia
dan sikap) dengan wawancara mendalam (depth interview) kepada 3 responden (kepala instalasi, dokter jaga, salah satu perawat Instalasi Hemodialisa) yang dipilih dengan teknik purposive sampling. Responden dipilih berdasarkan pengetahuan, pengalaman dan lamanya bekerja di Instalasi Hemodialisa RSUP Persahabatan. Beban Kerja Hari kerja Waktu kerja olume transaksi Jenis transaksi - Produktif (langsung dan tidak langsung) - Non produktif Waktu transaksi - Produktif (langsung dan tidak langsung) - Non produktif Penggunaan waktu kerja Time and motion study Metode Ilyas Depth Interview Tenaga keperawatan di Instalasi Hemodialisa RSUP Persahabatan yang sesuai dengan beban dan kompetensi kerja Kompetensi Kerja Pengetahuan seputar pekerjaan Keterampilan Sikap 4.3 Definisi Operasional ar. Definisi Alat Ukur Cara Ukur Hasil Ukur Skala Hari Kerja Waktu Kerja Jumlah hari kerja efektif dalam setahun Satuan waktu kerja (jam) untuk bekerja dalam satu hari kerja Data dari Sub Bagian Administrasi Kepegawaian Data dari Sub Bagian Administrasi Kepegawaian Telaah dokumen Telaah dokumen Hari kerja selama satu tahun Satuan waktu yang disediakan untuk bekerja bagi tenaga kesehatan di Instalasi Hemodialisa RSUP Persahabatan Rasio Rasio Indonesia
ar. Definisi Alat Ukur Cara Ukur Hasil Ukur Skala olume Transaksi Waktu Transaksi Jenis Transaksi Kegiatan Produktif Kegiatan Non Produktif Kegiatan Produktif Langsung Jumlah pasien hemodialisa dalam satu hari kerja Waktu asuhan keperawatan hemodialisa Kegiatan yang dilakukan oleh perawat hemodialisa sebagai rangkaian perawatan hemodialisa Kegiatan yang dilakukan oleh perawat yang berhubungan dengan perawatan hemodialisa Kegiatan yang dilakukan oleh perawat yang tidak berhubungan dengan perawatan hemodialisa Kegiatan yang dilakukan oleh perawat hemodialisa sebagai rangkaian perawatan hemodialisa Formulir tahapan kerja perawatan hemodialisa (time and motion study) Stopwatch dan formulir tahapan kerja perawatan hemodialisa Formulir time and motion study (tahapan kerja perawatan hemodialisa) Formulir time and motion study (tahapan kerja perawatan hemodialisa) Formulir time and motion study (tahapan kerja perawatan hemodialisa) Formulir time and motion study (tahapan kerja perawatan hemodialisa) Observasi kegiatan yang dilakukan Penghitungan waktu dalam satuan menit Observasi kegiatan yang dilakukan responden Observasi kegiatan yang dilakukan responden Observasi kegiatan yang dilakukan responden Observasi kegiatan yang dilakukan responden Satuan jumlah kegiatan yang dilakukan oleh perawat hemodialisa selama perawatan Informasi kuantitatif mengenai waktu yang dibutuhkan untuk memberikan pelayanan hemodialisa kepada satu pasien Jenis kegiatan yang dilakukan oleh perawat hemodialisa sebagai rangkaian perawatan hemodialisa Satuan jumlah kegiatan sebagai rangkaian perawatan hemodialisa Satuan jumlah kegiatan sebagai rangkaian perawatan hemodialisa Satuan jumlah kegiatan sebagai rangkaian perawatan hemodialisa Rasio Rasio Rasio Rasio Rasio Rasio
ar. Definisi Alat Ukur Cara Ukur Hasil Ukur Skala Kegiatan Produktif Tidak Langsung Penggunaan Waktu Kerja Pengetahuan Seputar Pekerjaan dan melibatkan kontak dengan pasien dalam pelaksanaannya Kegiatan yang dilakukan oleh perawat hemodialisa sebagai rangkaian perawatan hemodialisa namun tidak melibatkan kontak dengan pasien dalam pelaksanaannya Satuan waktu yang digunakan untuk melaksanakan kegiatan yang digunakan untuk melakukan kegiatan produktif dan tidak produktif Standar pengetahuan yang harus dimiliki oleh perawat hemodialisa yang didapatkan dari pendidikan formal dan non formal Keterampilan Standar keterampilan yang harus dimiliki oleh perawat hemodialisa yang didapatkan dari pendidikan formal maupun non formal Formulir time and motion study (tahapan kerja perawatan hemodialisa) Formulir time and motion study (tahapan kerja perawatan hemodialisa) Panduan pelaksanaan wawancara mendalam, alat tulis, alat perekam suara Panduan pelaksanaan wawancara mendalam, alat tulis, alat perekam suara Observasi kegiatan yang dilakukan responden Observasi kegiatan yang dilakukan responden Menggali informasi yang diharapkan kepada narasumber Menggali informasi yang diharapkan kepada narasumber Satuan jumlah kegiatan sebagai rangkaian perawatan hemodialisa Jumlah waktu yang digunakan untuk melaksanakan kegiatan produktif dan kegiatan tidak produktif Informasi kualitatif yang berasal dari responden terkait kebutuhan pengetahuan perawat di Instalasi Hemodialisa Informasi kualitatif yang berasal dari responden terkait kebutuhan keterampilan perawat di Instalasi Hemodialisa Sikap Standar sikap Panduan Menggali Informasi - Rasio Rasio - -
44 ar. Definisi Alat Ukur Cara Ukur Hasil Ukur Skala Beban Kerja Jumlah perawat yang harus dimiliki oleh perawat selama melakukan perawatan hemodialisa olume transaksi dikali dengan waktu transaksi dalam satuan menit/hari Jumlah perawat yang dibutuhkan sesuai dengan beban kerja pelaksanaan wawancara mendalam, alat tulis, alat perekam suara Pengukuran digunakan dengan menggunakan stopwatch dan formulir pengamatan Metode Ilyas informasi yang diharapkan kepada narasumber Menghitung volume transaksi yang dikalikan dengan waktu transaksi Jumlah kuantitas kegiatan pokok selama satu tahun dibagi dengan standar beban kerja satu tahun kemudian ditambahkan dengan standar kelonggaran selama satu tahun kualitatif yang berasal dari responden terkait kebutuhan sikap perawat di Instalasi Hemodialisa Berupa informasi kuantitatif mengenai rerata waktu yang dibutuhkan untuk pelayanan hemodialisa Jumlah perawat di Instalasi Hemodialisa RSUP Persahabatan sesuai dengan hasil perhitungan Rasio Rasio
BAB 5 METODOLOGI PENELITIAN 5.1 Jenis Penelitian Penelitian ini merupakan penelitian deksriptif kuantitatif-kualitatif. Pengamatan dilakukan oleh peneliti (observatory) untuk mengetahui jumlah waktu yang dihabiskan oleh perawat di Instalasi Hemodialisa RSUP Persahabatan selama melakukan perawatan hemodialisa dengan menggunakan metode time and motion study, dimana aktivitas 8 orang perawat yang dipilih berdasarkan pendidikan (1 orang D3 dan 1 orang SPK), jenis kelamin (1 orang laki-laki dan 1 orang perempuan), pengalaman kerja (1 orang <5 tahun dan 1 5 tahun), dan usia (1 orang <30 tahun dan 1 orang 30 tahun) diamati dan diteliti (crossectional) selama satu shift, yaitu 07.00 13.00 WIB atau 13.00 19.00 WIB selama hari kerja secara bergantian dalam 10 hari kerja (hari pertama mengamati shift pagi, hari kedua mengamati shift siang dan begitu seterusnya bergantian) dengan menggunakan metoda time and motion study (kuantitatif) untuk mendapatkan gambaran waktu dan pola kegiatan perawat di Instalasi Hemodialisa. Adapun kegiatan yang diamati adalah kegiatan yang dilakukan perawat dari sebelum instalasi hemodialisa dibuka (pengamatan shift pagi) dan sampai instalasi hemodialisa ditutup (shift siang). Dalam penelitian ini peneliti akan mengamati tahapan perawatan hemodialisa yang dilakukan untuk pasien dengan faktor risiko komplikasi dan non komplikasi. Hasil pengamatan dalam satuan waktu (menit) kemudian digunakan untuk menghitung kebutuhan perawat dengan metode Ilyas. Kegiatan yang diamati adalah dimulai dari penerimaan rekam medis pasien di Instalasi Hemodialisa sampai dengan pengamatan kegiatan setelah pasien selesai mendapatkan perawatan (kegiatan persiapan perawatan sampai paska perawatan selesai). Time and motion study menjadi pilihan dalam penelitian ini karena kegiatan hemodialisa cenderung homogen, sehingga variasi dalam setiap tahapan cenderung tidak ada atau minimal
(alur kerja tertuang dalam SOP). Selanjutnya, depth interview dilakukan untuk mengkaji lebih dalam kebutuhan perawat terkait kompetensi kerja (pengetahuan seputar pekerjaan, keterampilan, dan sikap) kepada tiga orang responden di instalasi tersebut yang dipilih secara purposive sampling berdasarkan pengetahuan, pengalaman dan lamanya narasumber bekerja di Instalasi Hemodialisa RSUP Persahabatan. Hasil dari depth interview tersebut disajikan dalam bentuk matriks. alidasi data dilakukan dengan melakukan crosscheck dengan dokumen yang dimiliki oleh bidang terkait (bagian pendidikan dan pelatihan dan Instalasi Hemodialisa RSUP Persahabatan) dan membandingkan informasi yang didapatkan menurut ketiga informan. 5. Tempat dan Waktu Penelitian Penelitian ini dilakukan di Instalasi Hemodialisa RSUP Persahabatan yang berada di lantai Paviliun Wijayakusuma. Penelitian ini dilakukan sampai diamatinya 8 perawat dalam shift kerjanya masing-masing selama 10 hari kerja dalam jam kerja yaitu jam 07.00 19.00 WIB. 5.3 Populasi dan Sampel Penelitian Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh tenaga kesehatan yaitu 15 orang tenaga kesehatan di Instalasi Hemodialisa Rumah Sakit Umum Persahabatan. Dalam fokus penelitian kuantitatif, sampel merupakan waktu dalam satuan menit yang dibutuhkan untuk melakukan seluruh kegiatan oleh 8 orang perawat Instalasi Hemodialisa RSUP Persahabatan dalam shift kerjanya masing-masing. Sedangkan untuk fokus penelitian kualitatif, sampel merupakan 1 orang kepala Instalasi Hemodialisa RSUP Persahabatan, 1 orang dokter jaga dan 1 orang perawat di instalasi tersebut. Sampel penelitian adalah waktu dalam satuan menit yang dibutuhkan untuk melakukan seluruh kegiatan oleh tenaga kesehatan dan keterangan dari kepala instalasi, dokter jaga serta satu orang perawat di instalasi tersebut tentang kebutuhan perawat yang dibutuhkan terkait dengan kompetensi dan beban kerja.
5.4 Tenaga Pengamat dan Instrumen Penelitian Tenaga pengamat dalam penelitian adalah peneliti sendiri (berjumlah satu orang). Adapun instrumen yang digunakan dalam penelitian ini antara lain : 1. Formulir pengamatan dengan teknik time and motion study. Stopwatch 3. Alat perekam suara 4. Alat tulis berupa log book dan pensil 5.5 Teknik Pengumpulan Data Data yang digunakan dalam penelitian ini terdiri dari data primer dan data sekunder. Data sekunder diperoleh peneliti dari hasil laporan kegiatan di Instalasi Hemodialisa RSUP Persahabatan mengenai data ketenagaan, uraian tugas, profil rumah sakit dan data-data terkait jam kerja, waktu kerja dan hal-hal lain terkait dengan instalasi hemodialisa. Pengumpulan data primer dilakukan dengan menggunakan metode time and motion study (crossectional study), yaitu pengamatan sesaat dan berkala pada responden selama melakukan kegiatan di waktu kerjanya di Instalasi Hemodialisa. Pengamatan dilakukan kepada 8 perawat Instalasi Hemodialisa RSUP Persahabatan yang dipilih berdasarkan pendidikan (1 orang D3 dan 1 orang SPK), jenis kelamin (1 orang laki-laki dan 1 orang perempuan), pengalaman kerja (1 orang <5 tahun dan 1 5 tahun), dan usia (1 orang <30 tahun dan 1 orang 30 tahun) dalam shift kerjanya masing-masing. Kegiatan yang diamati selama shift kerja tersebut dimulai sejak instalasi belum dibuka (untuk shift pagi) dan setelah pasien terakhir selesai mendapatkan perawatan (untuk shift siang) secara bergantian (hari pertama pengamatan shift siang, hari kedua pengamatan shift pagi dan seterusnya sampai dengan hari ke empat) dengan mengacu kepada SOP Perawatan Hemodialisa yang dimiliki oleh Instalasi Hemodialisa (juga melibatkan pengamatan terhadap pasien dengan faktor risiko komplikasi). Selama pengamatan, peneliti menulis di formulir pengamatan time and motion study dengan bantuan stopwatch sebagai alat bantu ukur waktu. Depth
interview dilakukan diluar waktu kerja secara terpisah untuk masingmasing responden (teknik pemilihan purposive sampling), yaitu kepala instalasi, wakil kepala instalasi dan satu orang tenaga kesehatan di Instalasi Hemodialisa tentang tenaga kesehatan terkait dengan pengetahuan seputar pekerjaan, keterampilan, dan sikap. Pada penelitian ini, peneliti hanya melakukan triangulasi sumber dan tidak melakukan triangulasi data. Selama melakukan depth interview, peneliti menggunakan bantuan berupa alat perekam suara dan mencatat sendiri hasilnya dalam log book. Hasil dari depth interview ini kemudian disajikan dalam bentuk matriks. 5.6 Pengolahan Data Pengolahan data yang dilakukan akan berurutan sebagai berikut : 1. Penyuntingan data Dilakukan setiap hari setelah peneliti selesai melakukan pengamatan untuk memeriksa kemungkinan terjadi kesalahan, ketidaklengkapan ataupun ketidakkonsistenan data pengamatan. Hasil rekaman didengarkan ulang pada hari yang sama untuk memastikan semua pembicaran terekam dengan baik.. Pengelompokkan data Data kuantitatif diuraikan dalam waktu spesifik per kegiatan yang dilakukan perawat. Jumlah total dari waktu produktif kemudian akan digunakan untuk menghitung beban kerja dengan Metode Ilyas. Data kualitatif dibedakan berdasarkan narasumber dan diberikan tanggal, waktu dan tempat dilakukannya depth interview. 3. Input data Seluruh data hasil pengamatan yang tercantum dalam lembar pengamatan time and motion study dipindahkan ke dalam komputer setiap hari. Data yang merupakan hasil depth interview kemudian dituliskan kembali oleh peneliti dalam bentuk matriks (teknik content analysis).
49 5.7 Analisis Data Setelah semua data terkumpul, dilakukan rekapitulasi data-data di Instalasi Hemodialisa RSUP Persahabatan terkait dengan gambaran, karakteristik tenaga kesehatan, hari kerja, dan waktu kerja perawatan hemodialisa. Analisis kebutuhan tenaga keperawatan di Instalasi Hemodialisa RSUP Persahabatan kemudian dilakukan dengan tahapan sebagai berikut: 1. Perhitungan proporsi kegiatan produktif dan tidak produktif a. Dari hasil pengamatan yang tercantum dalam formulir time and motion study, kegiatan perawat kemudian dikategorikan menjadi kegiatan produktif dan tidak produktif b. Penyajian data setiap kelompok kegiatan (produktif dan tidak produktif) dalam bentuk tabel c. Penyajian data setiap kegiatan produktif berdasarkan tahapan perawatan hemodialisa secara spesifik dalam bentuk tabel d. Penyajian data dalam bentuk tabulasi terkait beban kerja yang diterima oleh tenaga kesehatan selama melakukan perawatan hemodialisa e. Penyajian data dalam bentuk tabulasi terkait beban kerja yang diterima oleh perawat selama melakukan masing-masing tahapan dalam perawatan hemodialisa. Menghitung jumlah kebutuhan perawat yang dibutuhkan oleh Instalasi Hemodialisa Untuk melakukan penghitungan jumlah perawat, hasil pengamatan yang dilakukan dengan menggunakan pendekatan time and motion study dijadikan sebagai dasar perhitungan metode Ilyas, yaitu proses menghitung jumlah kebutuhan tenaga kesehatan berdasarkan volume transaction dan time transaction 3. Analisis matriks dari ketiga narasumber untuk menyimpulkan kebutuhan tenaga keperawatan yang dibutuhkan oleh Instalasi Hemodialisa terkait dengan pengetahuan seputar pekerjaan, keterampilan, dan sikap.
BAB 6 HASIL PENELITIAN 6.1 Proses Penelitian Penelitian ini merupakan penelitian dengan metode gabungan antara deksriptif kuantitatif dengan kualitatif yang bertujuan untuk mengetahui kebutuhan tenaga keperawatan di Instalasi Hemodialisa RSUP Persahabatan berdasarkan beban dan kompetensi kerja. Pengumpulan data dilakukan dengan mengamati kegiatan 8 orang perawat (deksriptif kuantitatif) yang dilanjutkan dengan melakukan wawancara mendalam kepada 3 narasumber (kualitatif) untuk mendapatkan informasi mengenai kebutuhan tenaga perawat di Instalasi Hemodialisa RSUP Persahabatan berdasarkan pengetahuan seputar pekerjaan, keterampilan dan sikap. Selama penelitian, terdapat beberapa kesulitan yang dihadapi peneliti, salah satunya adalah sulitnya melakukan wawancara dengan kepala instalasi hemodialisa dikarenakan responden sedang dalam masa pendidikan sub spesialis. Kesibukan dokter jaga yang bertugas menggantikan kepala instalasi selama masa pendidikan juga menyulitkan peneliti dalam menemukan waktu yang tepat untuk melakukan wawancara. Selain itu, peneliti tidak mendapatkan informasi bahwa 1 dari 13 orang perawat Instalasi Hemodialisa RSUP Persahabatan sedang dalam pelatihan hemodialisa, sehingga populasi sampel terhitung hanya 1 responden. Selama pengamatan, ada beberapa waktu dimana responden hilang dalam pandangan peneliti (responden keluar ruangan hemodialisa dan tidak terlihat di selasar lantai Paviliun Wijaya Kusuma). Adalah tidak etis jika peneliti mengikuti kemanapun responden pergi dan menanyakan apa yang responden lakukan selama responden pergi. Kegiatan ini kemudian dikelompokkan peneliti kedalam waktu pribadi yang dihitung sebagai waktu non produktif.
6. Sistematika Penyajian Hasil penelitian akan disajikan dengan urutan sebagai berikut : (1) kualitas data penelitian, penyajian hasil penelitian berupa (1a) gambaran dan karakteristik tenaga, hari kerja, waktu kerja dan kegiatan hemodialisa di Instalasi Hemodialisa RSUP Persahabatan berdasarkan data sekunder dan pengamatan, (1b) tabulasi waktu produktif (terdiri dari produktif langsung dan tidak langsung) dan non produktif perawat responden Instalasi Hemodialisa RSUP Persahabatan berdasarkan hasil pengamatan dengan time and motion study, (1c) jumlah waktu yang dihabiskan oleh perawat responden Instalasi Hemodialisa RSUP Persahabatan selama satu shift, (1d) jumlah transaksi yang dilakukan oleh perawat responden Instalasi Hemodialisa RSUP Persahabatan selama satu shift, (1e) hasil perhitungan jumlah tenaga perawat yang dibutuhkan di Instalasi Hemodialisa RSUP Persahabatan berdasarkan Metode Ilyas, dan () analisa hasil wawancara mendalam yang disajikan dalam bentuk matriks dengan mengacu kepada Miles (009). 6.3 Kualitas Data Data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data primer dan data sekunder. Data primer dalam penelitian ini adalah hasil dari pengamatan kegiatan satu perawat responden selama satu shift (total perawat yang diamati ada 8 orang dengan total pengamatan selama 8 shift dengan komposisi 4 shift pagi dan 4 shift siang) serta hasil wawancara mendalam kepada 3 orang responden yang disajikan dalam bentuk matriks. Sedangkan data sekunder dalam penelitian ini adalah data yang dimiliki oleh internal Instalasi Hemodialisa RSUP Persahabatan, data dari bagian keperawatan dan SDM RSUP Persahabatan. Pengumpulan data dilakukan selama bulan Oktober - Desember 01 di Instalasi Hemodialisa yang terletak di Paviliun Wijayakusuma lantai, bagian Pendidikan dan Pelatihan, Unit Griya Puspa dan bagian SDM RSUP Persahabatan. Pengamatan kegiatan keperawatan hemodialisa pada 8 orang perawat responden dilakukan secara bergantian untuk setiap shift, pada
5 tanggal 15 Oktober - 5 Oktober 01 dengan melewatkan hari Sabtu (waktu pengamatan disesuaikan dengan shift perawat responden yang ingin diamati oleh peneliti dan waktu yang dimiliki oleh peneliti). Dalam hal ini peneliti berusaha sedemikian mungkin sehingga responden tidak mengetahui bahwa sedang diamati sehingga bias sebisa mungkin dapat diminimalisir (selama pengamatan, peneliti menjaga jarak dengan responden sejauh pandangan). Selain itu, waktu pengamatan tidak dilakuakn berturut-turut setiap hari untuk menghindari manipulasi sikap sampel (rentang waktu pengamatan lebih dari seminggu). Peneliti tidak melakukan pengamatan semu untuk mengurangi bias dikarenakan keterbatasan waktu yang dimiliki. Setelah pengumpulan data kuantitatif dilakukan, barulah wawancara mendalam dilakukan kepada 3 responden, yaitu Kepala Instalasi Hemodialisa, Dokter Jaga Instalasi Hemodialisa dan Perawat ST dilakukan masing-masing tanggal 1 November 01, 8 November 01 dan 3 November 01 dengan durasi wawancara berkisar antara 0-30 menit karena disesuaikan dengan alokasi waktu yang diberikan oleh responden kepada peneliti. Adapun tempat melakukan wawancara mendalam adalah di ruang Instalasi Hemodialisa RSUP Persahabatan yang terletak di lantai Paviliun Wijayakusuma dan Unit Griya Puspa. Selama melakukan wawancara mendalam, selain dengan alat tulis, peneliti dibantu alat perekam yang selalu menyala, sehingga loss of information dapat dihindari seminimal mungkin.
53 6.4 Instalasi Hemodialisa RSUP Persahabatan 6.4.1 Struktur Organisasi Berikut adalah struktur organisasi Instalasi Hemodialisa RSUP Persahabatan : Kepala Instalasi Hemodialisa Dr. M. Syafiq A S, Sp.PD Kepala Bidang Keperawatan I G A Nyoman S, Skp. Mkes Pelaksana Tata Usaha Ni Made Sutriani Pekarya Roni G S Penanggung Jawab Ruang Jumarti, AMK Koordinator Keperawatan Suminah, AMK Kepala Tim 1 Siti Suci R, AMK Sukaesih Habiballoh, AMK Rianita S, AMK Devi N, AMK Masniyah, AMK Kepala Tim Setianingsih, AMK Sri Mulyati, AMK Rosdiana, AMK Eka Sri H, AMK Adi Robbi N, AMK Rindi D A, AMK Catatan : Dr. M Syafiq A S, Sp.PD selaku Kepala Instalasi Hemodialisa seperti yang dituliskan dalam struktur secara fungsional tidak ada di lapangan dan digantikan sementara oleh Dr. Yassir, Sp.PD selaku dokter jaga selama yang bersangkutan menjalani masa pendidikan.
54 6.4. Denah Ruangan 6.4.3 Karakteristik Perawat Instalasi Hemodialisa RSUP Persahabatan Berikut adalah karakteristik perawat instalasi hemodialisa RSUP Persahabatan : Tabel 6.1 Karakteristik perawat Instalasi Hemodialisa No Nama Perawat Jenis Kelamin Usia Lamanya Bekerja 1 JM Perempuan 54 tahun 17 tahun bulan SU Perempuan 54 tahun 17 tahun 10 bulan Pendidikan Sekolah Perawat Kesehatan Sekolah Perawat Kesehatan Status PNS PNS
55 No Nama Jenis Usia Lamanya Pendidikan Status Perawat Kelamin Bekerja 3 SK Perempuan 5 tahun 5 tahun SPR PNS 4 MN Perempuan 50 tahun 4 tahun 11 D3 Keperawatan PNS bulan Persahabatan 5 ST Perempuan 49 tahun 5 tahun 4 bulan D3 Khusus PNS Persahabatan 6 SM Perempuan 47 tahun 7 tahun 6 bulan Sekolah Perawat PNS Kesehatan 7 HO Perempuan 43 tahun 5 tahun bulan D3 Keperawatan PNS Kimia 8 SN Perempuan 36 tahun 6 tahun 7 bulan Akademi PNS Keperawatan Polri 9 HB Laki-laki 7 tahun 1 tahun 10 D3 Keperawatan PNS bulan Poltekes 10 RS Perempuan 7 tahun 3 tahun bulan D3 Keperawatan PNS Kimia 11 D Perempuan 6 tahun 1 tahun 10 D3 Keperawatan PNS bulan Kimia 1 RD Perempuan 5 tahun 3 tahun 10 D3 Keperawatan PNS bulan Persahabatan 13 RI*) Perempuan 5 tahun 3 tahun 10 bulan D3 Keperawatan Persahabatan PNS *) Perawat RI sedang menjalani masa pelatihan hemodialisa selama 3 bulan Sumber : Instalasi Hemodialisa RSUP Persahabatan yang telah diolah kembali Berdasarkan data karakteristik diatas, dapat diketahui bahwa berdasarkan jenis kelamin, 9% (1 orang) tenaga kesehatan di Instalasi Hemodialisa RSUP Persahabatan adalah perempuan, sedang jumlah lakilaki adalah 8% (1 orang). Berdasarkan usia, 6% (8 orang) tenaga kesehatan berusia diatas 30 tahun, sedangkan sisanya sebesar 38% (5 orang) berusia dibawah 30 tahun. Berdasarkan pengalaman kerja di Instalasi Hemodialisa RSUP Persahabatan, diketahui bahwa 6% (8 orang) perawat baru bekerja selama kurang dari 5 tahun, sedangkan sisanya sebesar 38% (5 orang) bekerja selama lebih dari 5 tahun. Berdasarkan pendidikan, sebesar 6% (8 orang) adalah lulusan D3 keperawatan, sebesar 15% ( orang) adalah lulusan SPR, sebesar 15% ( orang) adalah
56 lulusan sekolah perawat kesehatan, sedangkan sisanya sebesar 8% (1 orang) adalah lulusan akademi keperawatan. Dalam melakukan tugasnya, setiap minggu Instalasi Hemodialisa RSUP Persahabatan melakukan pergantian shift perawat. Berikut adalah shift perawat periode 13 Oktober 6 Oktober 01 dan periode 0 Oktober 6 Oktober 01 (selama pengambilan data dilakukan peneliti) : Tabel 6. Shift kerja perawat Instalasi Hemodialisa RSUP Persahabatan periode 13 Oktober 19 Oktober 01 Tanggal 13 14 15 16 17 18 19 No Nama Sabtu Minggu Senin Selasa Rabu Kamis Jumat 1 JM L P P P P P SU P P P P P P 3 SM P S S P P P 4 SN S P P P S S 5 ST L S S P P S 6 SK L S S S P P 7 MN S P P S S P 8 RD S LIBUR P P S S P 9 RI PELATIHAN HEMODIALISA 10 RS P S S S P P 11 HB S S P P S S 1 D P P P S S S 13 HO S LIBUR P S P P S Tabel 6.3 Shift kerja perawat Instalasi Hemodialisa RSUP Persahabatan periode 0 Oktober 6 Oktober 01 Tanggal 0 1 3 4 5 6 No Nama Sabtu Minggu Senin Selasa Rabu Kamis Jumat 1 JM L P P P P SU L P P P P 3 SM P S S P P 4 SN S P P P P 5 ST S P P S S 6 SK S P S S S 7 MN P LIBUR S S P P LIBUR
57 Tanggal 0 1 3 4 5 6 No Nama Sabtu Minggu Senin Selasa Rabu Kamis Jumat 8 RD P S S P P 9 RI PELATIHAN HEMODIALISA 10 RS L L P S S 11 HB P S S S P 1 D S P P S S 13 HO S LIBUR S P P S LIBUR Keterangan : P : Shift Pagi, S : Shift Siang, L : Libur Berdasarkan karakteristik perawat yang dimiliki oleh Instalasi Hemodialisa RSUP Persahabatan dan disesuaikan dengan daftar shift kerja perawat, peneliti menentukan responden dan waktu pengamatan sebagai berikut : Tabel 6.4 Daftar sampel penelitian kuantitatif dengan metode time and motion Study Karakteristik Nama Tanggal Waktu Jadwal No Pengamatan Responden Pengamatan Pengamatan Shift SM (47 tahun) 15 Oktober 01 14.00-19.45 WIB Siang 1 Usia RD (5 tahun) 15 Oktober 01 06.30-14.15 WIB Pagi SK (SPR) 17 Oktober 01 14.04-19.40 WIB Siang Pendidikan RS (D3) 18 Oktober 01 06.3-13.53 WIB Pagi HB (laki-laki) 5 Oktober 01 06.31-14.09 WIB Pagi 3 Jenis Kelamin MN (perempuan) Oktober 01 13.5-19.44 WIB Siang Pengalaman Kerja di Instalasi SN (diatas 5 tahun) 18 Oktober 01 14.10-19.55 WIB Siang 4 Hemodialisa RSUP Persahabatan D (dibawah 5 tahun) 3 Oktober 01 06.40-14.14 WIB Pagi
58 Pemilihan perawat sebagai responden dipilih sendiri oleh peneliti (purposive sampling) berdasarkan dengan karakteristik yang dimiliki oleh masing-masing perawat (usia, jenis kelamin, pendidikan dan lamanya perawat bekerja di Instalasi Hemodialisa RSUP Persahabatan), kemudian dicocokkan dengan waktu yang dimiliki oleh peneliti terhadap shift kerja masing-masing perawat. Namun demikian, pemilihan secara purposive sampling ini dilakukan sedemikian sehingga diharapkan dapat terlihat jelas jika ada perbedaan waktu antara beberapa responden dalam memberikan pelayanan hemodialisa kepada pasien sehingga didapatkan variasi waktu pelayanan hemodialisa yang cukup dan mampu memberikan gambaran beban kerja yang valid. Responden untuk depth interview juga dipilih sendiri oleh peneliti (purposive sampling) berdasarkan kemampuan responden mewakili ketiga karakteristik yang ingin diteliti, yaitu pengetahuan seputar pekerjaan, keterampilan dan sikap. Pada awalnya, peneliti melakukan wawancara pendahuluan dengan Kepala Instalasi Hemodialisa RSUP Persahabatan. Berdasarkan masukan dari beliau, peneliti disarankan untuk melakukan wawancara dengan Informan YS dan perawat ST. Adapun informan yang berhasil diwawancarai adalah responden ST, YS dan SA. Kegiatan deph interview untuk informan ST dilakukan tanggal 9 Oktober 01, untuk informan YS tanggal 8 November 01 dan untuk informan SA tanggal 3 November 01. Seluruh kegiatan depth interview dilakukan setelah pengambilan data kuantitatif selesai. 6.4.4 Hasil Pengamatan Kegiatan Sampel berdasarkan Time and Motion Study Berdasarkan pengamatan yang telah dilakukan oleh peneliti, dapat disimpulkan bahwa kegiatan perawat di Instalasi Hemodialisa cenderung homogen dan rutin. Berikut adalah deksripsi kegiatan yang dilakukan masing-masing responden selama waktu pengamatan yang dilakukan peneliti :
59 Tabel 6.5 Deksripsi kegiatan perawat RD pada shift pagi Instalasi Hemodialisa RSUP Persahabatan, 15 Oktober 01 Waktu Total Klasifikasi Kegiatan Waktu Produktif No Jenis Kegiatan Mulai Akhir (menit) L TL Non 1 Mempersiapkan alat Kabel dan selang Menyalakan mesin hemodialisa Mempersiapkan infuse 06.30 06.46 06.49 06.46 06.49 06.56 16 3 7 Mempersiapkan jarum dan kapas steril 06.56 07.01 5 3 Mempersiapkan tempat tidur dengan seprai dan bantal 07.01 07.16 15 4 Menyiapkan rekam medik pasien 07.16 07.1 5 5 Mengukur tekanan darah pasien 07.1 07.40 19 6 Memasang alat pada pasien I Asepsis Memasang jarum I Menyambungkan selang I pasien ke mesin hemodialisa Aktivasi mesin hemodialisa 07.40 07.41 07.43 07.46 07.41 07.43 07.46 07.47 1 3 1 7 8 9 10 11 1 Memasang alat pada pasien II Asepsis Memasang jarum I Menyambungkan selang I pasien ke mesin hemodialisa Aktivasi mesin hemodialisa Memasang alat pada pasien III Asepsis Memasang jarum I Menyambungkan selang I pasien ke mesin hemodialisa Aktivasi mesin hemodialisa 07.47 07.48 08.01 08.0 08.03 08.04 08.06 08.08 07.48 08.01 08.0 08.03 08.04 08.06 08.08 08.09 Mengganti acid dan bikarbonat mesin hemodialisa 08.09 08.15 6 Mencuci dirigen bekas acid dan bikarbonat yang lama 08.15 08.18 3 Menerima pasien rujukan dari ICU dengan menyiapkan kursi roda 08.18 08.3 5 Memasang alat pada pasien rujukan 08.3 08.5 Ukur tekanan darah 08.5 08.6 1 Asepsis 08.6 08.31 5 Memasang jarum I Menyambungkan selang I pasien 08.31 08.3 1 1 3 1 1 1 1
60 Waktu Total Klasifikasi Kegiatan Waktu Produktif No Jenis Kegiatan Mulai Akhir (menit) L TL Non ke mesin hemodialisa Aktivasi mesin hemodialisa 08.3 08.33 1 13 Mengaktivasi kembali mesin yang bermasalah 08.33 08.50 17 14 Injeksi heparin I via infuse 08.50 09.0 1 15 Observasi pasien komplikasi 09.0 09.06 4 16 Pengukuran tekanan darah 09.06 09.16 10 17 Sarapan 09.16 09.36 0 18 Mengganti acid dan bikarbonat mesin hemodialisa 09.36 09.41 5 19 Waktu pribadi 09.41 09.51 10 0 Merapikan rekam medic 09.51 10.11 0 1 Meyiapkan tempat obat untuk pasien 10.11 10.1 10 Observasi pasien komplikasi (penanganan pasien muntah) 10.1 10.3 11 3 Mensterilkan alat 10.3 10.37 5 4 Mencuci duk bolong 10.37 10.48 1 5 Distribusi infus baru 10.58 11.01 3 6 Toilet 11.01 11.16 15 Pasang alat pasien rujukan ICU 7 Pasang jarum secara I Menyambungkan selang pasien ke mesin hemodialisa Aktivasi mesin hemodialisa 11.16 11.3 11.5 11.3 11.5 11.8 7 3 8 Pasang alat pasien rujukan ICU Pasang jarum secara I Menyambungkan selang pasien ke mesin hemodialisa Aktivasi mesin hemodialisa 11.8 11.39 11.41 11.39 11.41 11.43 Konsultasi dengan pasien seputar 9 keluhan yang dirasakan 11.43 1.01 8 30 Mengukur tekanan darah pasien 1.01 1.11 10 31 Mengurus berkas pasien dengan jaminan 1.11 1.8 17 3 Waktu pribadi 1.8 1.58 30 Menyiapkan dirigen acid dan 33 bikarbonat 1.58 13.08 10 35 Menghentikan perawatan hemodialisa pasien I Mematikan mesin Melakukan pengukuran tekanan 11 13.6 13.7 1
61 No Jenis Kegiatan darah AFF Asepsis pasien Menghentikan perawatan hemodialisa pasien II Mematikan mesin Melakukan pengukuran tekanan darah AFF Asepsis pasien Waktu Total Klasifikasi Kegiatan Waktu Produktif Mulai Akhir (menit) L TL Non 13.7 13.9 13.9 13.31 3 13.31 13.33 13.33 13.34 13.34 13.37 3 13.37 13.40 3 36 13.40 13.4 37 Aktivasi mesin untuk rinsing 13.4 13.57 5 Distribusi epoetrin untuk pasien 38 dengan indikasi 13.57 14.0 5 Merapikan tempat tidur untuk pasien baru 14.0 14.06 4 39 40 Persiapan beres beres pribadi 14.06 14.15 8 Total Waktu 445 34 103 1 Tabel 6.6 Deksripsi kegiatan perawat RS pada shift pagi Instalasi Hemodialisa RSUP Persahabatan, 18 Oktober 01 Waktu Total Klasifikasi Kegiatan Waktu Produktif No Jenis Kegiatan Mulai Akhir L TL Non 1 Menyalakan mesin hemodialisa 06.3 06.39 7 Mempersiapkan alat Kabel dan selang Menyalakan mesin hemodialisa Mempersiapkan infuse 06.39 06.59 07.01 06.59 07.01 07.16 0 15 Mempersiapkan jarum dan kapas 3 steril 07.16 07.4 8 Mempersiapkan tempat tidur dengan 4 seprai dan bantal 07.4 07.54 30 5 Menyiapkan rekam medic 07.54 07.59 5 6 Memasang alat pada pasien I Asepsis Memasang jarum I Menyambungkan selang I pasien ke mesin hemodialisa Aktivasi mesin hemodialisa 07.59 08.00 08.01 08.03 08.00 08.01 08.03 08.05 1 1
6 Waktu Total Klasifikasi Kegiatan Waktu Produktif No Jenis Kegiatan Mulai Akhir L TL Non Memasang alat pada pasien II 7 Asepsis Memasang jarum I Menyambungkan selang I pasien ke mesin hemodialisa Aktivasi mesin hemodialisa 08.05 08.06 08.07 08.10 08.06 08.07 08.10 08.1 1 1 3 8 Memasang alat pada pasien III Asepsis Memasang jarum I Menyambungkan selang I pasien ke mesin hemodialisa Aktivasi mesin hemodialisa 08.1 08.13 08.14 08.16 08.13 08.14 08.16 08.18 1 1 9 Memasang alat pada pasien I Asepsis Memasang jarum I Menyambungkan selang I pasien ke mesin hemodialisa Aktivasi mesin hemodialisa 08.18 08.19 08.11 08.13 08.19 08.11 08.13 08.15 1 1 Mengganti acid dan bikarbonat mesin 10 hemodialisa 08.15 08.5 10 Mobilisasi pasien ICU dengan kursi 11 roda 08.5 08.36 11 1 Mengukur tekanan darah 08.36 08.46 10 Menyiapkan alat yang sudah steril 13 dari sterilisator 08.46 08.51 5 14 Mengisi rekam medic 08.51 09.01 10 Mengaktivasi kembali mesin yang 15 bermasalah 09.01 09.11 10 16 Injeksi heparin I via infuse 09.11 09.7 16 17 Sarapan 09.7 10.00 13 18 Konsultasi dengan pasien 10.00 10.17 17 Mengganti acid dan bikarbonat mesin 19 hemodialisa 10.17 10.9 1 0 Inventarisasi bahan hemodialisa 10.9 10.39 10 1 Menyiapkan tempat obat untuk pasien 10.39 10.57 18 Toilet 10.57 11.08 15 3 Observasi pasien komplikasi 11.08 11.16 8 Membuang sisa selang dan infus ke 4 hazard 11.16 11.1 5 5 Observasi pasien komplikasi 11.1 11.36 15
63 Waktu Total Klasifikasi Kegiatan Waktu Produktif No Jenis Kegiatan Mulai Akhir L TL Non Menyiapkan epoetrin untuk pasien 6 tertentu (dengan indikasi) 11.36 11.46 10 7 Waktu pribadi 11.46 1.13 7 8 Distribusi infus baru 1.13 1.18 5 Melakukan pengukuran tekanan darah 9 pasien 1.08 1.18 10 Mengaktivasi kembali mesin yang 30 bermasalah 1.18 1.5 8 31 Menyiapkan selang dan infus baru 1.5 1.43 8 3 Mendistribusikan infuse 1.43 1.47 4 33 Mendistribusikan tempat obat 1.47 1.51 4 Menghentikan perawatan hemodialisa 34 Mematikan mesin Melakukan pengukuran tekanan darah AFF Asepsis pasien 1.51 1.5 1.54 1.57 1.5 1.54 1.57 1.59 1 4 35 Menghentikan perawatan hemodialisa Mematikan mesin Melakukan pengukuran tekanan darah AFF Asepsis pasien 1.59 13.00 13.03 13.08 13.00 13.03 13.08 13.10 36 Menghentikan perawatan hemodialisa Mematikan mesin Melakukan pengukuran tekanan darah AFF Asepsis pasien 13.10 13.11 13.18 13.0 13.11 13.18 13.0 13. 1 7 37 Aktivasi mesin untuk rinsing 13. 13.30 10 38 Mengganti acid dan bikarbonat mesin hemodialisa 13.30 13.35 5 Suntik epoetrin untuk pasien dengan indikasi 13.35 13.40 5 39 40 Persiapan beres beres pribadi 13.40 13.53 13 Total Waktu 438 365 73 1 3 5
64 Tabel 6.7 Deksripsi kegiatan perawat HB pada shift pagi Instalasi Hemodialisa RSUP Persahabatan, 5 Oktober 01 Waktu Total Klasifikasi Kegiatan Waktu Produktif No Jenis Kegiatan Mulai Akhir L TL Non 1 Menyapu instalasi hemodialisa 06.31 06.43 1 Mempersiapkan alat Kabel dan selang Menyalakan mesin hemodialisa Mempersiapkan infuse 06.43 06.58 07.00 06.58 07.00 07.30 15 30 3 Mempersiapkan jarum dan kapas steril 07.30 07.35 5 Mempersiapkan tempat tidur dengan 4 5 6 7 8 9 10 11 seprai dan bantal 07.35 07.50 15 Memasang alat pada pasien I Asepsis 07.50 07.51 1 Memasang jarum I 07.51 07.5 1 Menyambungkan selang I pasien ke mesin hemodialisa 07.5 07.54 Aktivasi mesin hemodialisa 07.54 07.56 Memasang alat pada pasien II Asepsis Memasang jarum I Menyambungkan selang I pasien ke mesin hemodialisa Aktivasi mesin hemodialisa Memasang alat pada pasien III Asepsis Memasang jarum I Menyambungkan selang I pasien ke mesin hemodialisa Aktivasi mesin hemodialisa Memasang alat pada pasien I Asepsis Memasang jarum I Menyambungkan selang I pasien ke mesin hemodialisa Aktivasi mesin hemodialisa 07.56 07.57 07.58 08.00 08.0 08.03 08.04 08.06 08.08 08.09 08.10 08.1 07.57 07.58 08.00 08.0 08.03 08.04 08.06 08.08 08.09 08.10 08.1 08.14 Mengganti acid dan bikarbonat mesin hemodialisa 08.14 08.4 10 Mencuci dirigen bekas acid dan bikarbonat yang lama 08.4 08.7 3 Membantu perawat lain mengerjakan pasien 1 1 1 1 1 1
65 Waktu Total Klasifikasi Kegiatan Waktu Produktif No Jenis Kegiatan Mulai Akhir L TL Non Menyiapkan selang dan menghubungkan ke mesin hemodialisa Mengaktivasi kembali mesin yang 08.7 08.31 4 bermasalah 08.31 08.33 Asepsis pasien 08.33 08.36 3 Membuang limbah infeksius ke 1 bagian hazard lantai 08.36 08.38 13 Membereskan selang dan dialyzer baru dari logistic 08.38 08.48 10 Mengaktivasi kembali mesin yang 14 bermasalah 08.48 08.50 15 Injeksi heparin I via infuse 08.50 08.53 3 Menyiapkan tabung oksigen untuk pasien dengan komplikasi yang baru 16 datang dari ICU 08.53 08.57 4 17 Membereskan logistik di gudang instalasi hemodialisa 08.57 09.17 0 18 Sarapan 09.17 09.47 30 Mengganti acid dan bikarbonat mesin 19 hemodialisa 09.47 09.49 0 Waktu pribadi 09.49 10.19 30 Pemasangan alat hemodialisa pada 1 pasien dengan komplikasi dari ICU 10.19 10.39 0 Observasi pasien komplikasi 10.39 10.54 15 3 Toilet 10.54 10.55 5 4 Observasi pasien komplikasi 10.55 11.10 15 Menyiapkan alat yang sudah selesai disterilisasi dan diletakkan 5 ditempatnya 11.10 11.0 10 6 Inventarisasi alat dan bahan 11.0 11.50 30 7 Distribusi infus baru 11.50 11.51 1 8 Toilet 11.51 11.54 3 9 Waktu pribadi 11.54 1.04 10 30 Mengobrol 1.04 1.09 5 Pasang alat pasien rujukan ICU 31 Pasang jarum secara I Menyambungkan selang pasien ke mesin hemodialisa Aktivasi mesin hemodialisa 1.09 1.15 1.17 1.15 1.17 1.0 6 3 3 Konsultasi dengan pasien seputar
66 Waktu Total Klasifikasi Kegiatan Waktu Produktif No Jenis Kegiatan Mulai Akhir L TL Non keluhan yang dirasakan 1.0 1.3 3 Sterilisasi dan cuci alat pasca 33 pemasangan alat 1.3 1.8 5 34 Merapikan rekam medik pasien 1.8 1.48 0 35 Menyiapkan heparin ke dalam spuit untuk shift siang 1.48 1.58 10 36 Toilet 1.58 13.08 10 Melakukan pengukuran tekanan darah 37 pasien 13.08 13.18 10 38 Menghentikan perawatan hemodialisa Mematikan mesin Melakukan pengukuran tekanan darah AFF Asepsis pasien 13.18 13.19 13.1 13.4 13.19 13.1 13.4 13.6 1 3 39 Aktivasi mesin untuk rinsing 13.6 13.36 10 40 Mengganti acid dan bikarbonat mesin hemodialisa 13.36 13.41 5 Suntik epoetrin untuk pasien dengan 41 indikasi 13.41 13.46 5 Menyiapkan alat untuk injeksi epoetrin untuk pasien dengan indikasi tertentu Menamakan tempat obat dengan 4 nama Os Distribusi tempat obat ke masingmasing Os 13.16 13.18 13.18 13.3 5 43 Merapikan tempat tidur untuk pasien baru 13.3 13.8 5 Menangani pasien komplikasi (tensi 44 drop 13.8 13.35 7 Membawa seprai dan perlak yang 45 telah digunakan untuk di laundry 13.35 13.41 6 46 Persiapan beres beres pribadi 13.41 14.09 8 Total Waktu 49 371 11
67 Tabel 6.8 Deksripsi kegiatan perawat D pada shift pagi Instalasi Hemodialisa RSUP Persahabatan, 3 Oktober 01 Waktu Total Klasifikasi Kegiatan Waktu Produktif No Jenis Kegiatan Mulai Akhir L TL Non 1 Menyapu instalasi hemodialisa 06.40 06.50 10 Mempersiapkan alat Kabel dan selang Menyalakan mesin hemodialisa Mempersiapkan infuse 06.50 07.14 07.0 07.14 07.0 07.50 4 6 30 3 Mengambil seprai dan bantal yang baru 07.50 07.56 6 Mempersiapkan tempat tidur dengan 4 5 6 7 seprai dan bantal 07.56 08.13 17 Memasang alat pada pasien I Asepsis 08.13 08.15 Memasang jarum I 08.15 08.18 3 Menyambungkan selang I pasien ke mesin hemodialisa 08.18 08.0 Aktivasi mesin hemodialisa 08.0 08. Memasang alat pada pasien II Asepsis Memasang jarum I Menyambungkan selang I pasien ke mesin hemodialisa Aktivasi mesin hemodialisa Memasang alat pada pasien III Asepsis Memasang jarum I Menyambungkan selang I pasien ke mesin hemodialisa Aktivasi mesin hemodialisa 08. 08.3 08.7 08.30 08.31 08.33 08.34 08.36 08.3 08.7 08.30 08.31 08.3 08.34 08.36 08.37 8 Mengganti acid dan bikarbonat mesin hemodialisa 08.37 08.47 10 9 Mengukur tekanan darah 08.47 08.56 9 10 Membuang limbah infeksius ke bagian hazard lantai 08.36 08.38 11 Membereskan selang dan dialyzer baru dari logistic 08.38 08.48 10 1 Mengaktivasi kembali mesin yang bermasalah 08.48 08.57 9 13 Injeksi heparin I via infuse 08.57 09.09 1 14 Menyusun alat yang sudah disterilisasi ke rak steril 09.09 09.16 7 1 4 3 1 1 1 1
68 Waktu Total Klasifikasi Kegiatan Waktu Produktif No Jenis Kegiatan Mulai Akhir L TL Non Membereskan logistik di gudang 15 instalasi hemodialisa 09.16 09.9 13 16 Sarapan 09.9 09.43 14 Mengganti acid dan bikarbonat mesin 17 hemodialisa 09.43 09.49 6 18 Mengisi rekam medic 09.49 09.13 4 19 Pengukuran tekanan darah 09.13 09.0 7 0 Observasi pasien komplikasi 09.0 09.6 6 1 Toilet 10.54 10.59 5 Waktu pribadi 10.59 11.09 10 Pasang alat pasien CITO 3 Pemeriksaan tanda vital Pasang jarum secara I Menyambungkan selang pasien ke mesin hemodialisa Aktivasi mesin hemodialisa 11.09 11.16 11.0 11. 11.16 11.0 11. 11.4 7 4 4 Pemasangan alat bantu nafas untuk pasien CITO 11.4 11.31 7 Mengurus berkas pasien dengan 5 jaminan 11.31 11.49 18 6 Distribusi infus baru 11.49 11.53 4 7 Toilet 11.53 11.58 5 8 Waktu pribadi 11.58 1.08 10 9 Mengobrol 1.08 13.09 11 Mendistribusikan tempat obat kepada 30 pasien 13.09 13.13 4 Konsultasi dengan pasien seputar 31 keluhan yang dirasakan 13.13 13.16 3 Sterilisasi dan cuci alat pasca 3 pemasangan alat 13.16 13.1 5 33 Menyiapkan heparin ke dalam spuit untuk shift siang 13.1 13.36 15 Melakukan pengukuran tekanan darah 34 pasien 13.36 13.46 10 35 Menghentikan perawatan hemodialisa pasien I Mematikan mesin Melakukan pengukuran tekanan darah AFF Asepsis pasien 13.46 13.48 13.51 13.54 13.48 13.51 13.54 13.56 3 3
69 Waktu Total Klasifikasi Kegiatan Waktu Produktif No Jenis Kegiatan Mulai Akhir L TL Non 36 Aktivasi mesin untuk rinsing 13.56 14.0 6 37 Persiapan beres beres pribadi 14.0 14.14 8 Total Waktu 411 38 83 Tabel 6.9 Deksripsi kegiatan perawat SM pada shift siang Instalasi Hemodialisa RSUP Persahabatan, 15 Oktober 01 Waktu Total Klasifikasi Kegiatan Waktu Produktif No Jenis Kegiatan Mulai Akhir L TL Non 1 Asepsis diri sendiri 14.00 14.01 1 Merapikan tempat tidur pasien 14.01 14.3 Memasang alat pada pasien I 3 Asepsis Memasang jarum I Menyambungkan selang I pasien ke mesin hemodialisa Aktivasi mesin hemodialisa 14.3 14.4 14.7 14.30 14.4 14.7 14.30 14.31 1 3 3 1 4 5 6 Memasang alat pada pasien II Asepsis Memasang jarum I Menyambungkan selang I pasien ke mesin hemodialisa Aktivasi mesin hemodialisa Memasang alat pada pasien III Asepsis Memasang jarum I Menyambungkan selang I pasien ke mesin hemodialisa Aktivasi mesin hemodialisa Memasang alat pada pasien III Asepsis Memasang jarum I Menyambungkan selang I pasien ke mesin hemodialisa Aktivasi mesin hemodialisa 14.31 14.30 14.3 14.33 14.34 14.35 14.37 14.39 14.40 14.41 14.44 14.46 14.30 14.3 14.33 14.34 14.35 14.37 14.39 14.40 14.41 14.44 14.46 14.47 Mengganti acid dan bikarbonat mesin hemodialisa 14.47 14.5 5 7 8 Mengukur tekanan darah 14.5 15.0 10 9 Membuang limbah infeksius ke bagian 15.0 15.06 4 1 1 1 1 1 1 3 1
70 Waktu Total Klasifikasi Kegiatan Waktu Produktif No Jenis Kegiatan Mulai Akhir L TL Non hazard lantai 10 Mengisi rekam medic 15.06 15.7 1 Mengaktivasi kembali mesin yang 11 bermasalah 15.7 15.36 9 1 Injeksi heparin I via infuse 15.36 15.48 1 13 Waktu pribadi 15.48 16.0 14 14 Menyiapkan Parbion Inj 16.0 16.1 19 15 Mendistribusikan Parbion Inj 16.1 16.4 3 16 Menanyakan keluhan pasien 16.4 16.31 7 17 Merapikan rekam medik di tempatnya 16.31 16.33 Penanganan pasien komplikasi (tensi 18 drop) 16.33 16.4 9 19 Pasang alat pasien CITO Pemeriksaan tanda vital Pasang jarum secara I Menyambungkan selang pasien ke mesin hemodialisa Aktivasi mesin hemodialisa 16.4 16.46 16.51 16.53 16.46 16.51 16.53 16.55 4 5 0 Pemasangan alat bantu nafas untuk pasien CITO 16.55 16.59 4 1 Merapikan alat steril di tempatnya 16.59 17.08 9 Distribusi infus baru 17.08 17.11 3 3 Toilet 17.11 17.4 13 4 Waktu pribadi 17.4 17.33 9 5 Mengobrol 17.33 17.45 1 Mendistribusikan tempat obat kepada 6 pasien 17.45 17.47 Pasang alat pasien CITO 7 Pemeriksaan tanda vital Pasang jarum secara I Menyambungkan selang pasien ke mesin hemodialisa Aktivasi mesin hemodialisa 17.47 17.51 17.54 17.57 17.51 17.54 17.57 17.59 4 3 3 Sterilisasi dan cuci alat pasca 8 pemasangan alat 17.59 18.07 8 9 Menyiapkan rekam medik pasien untuk keesokan harinya 18.07 18.19 1 Melakukan pengukuran tekanan darah 30 pasien 18.19 18.3 4 31 Melipat linen kotor 18.3 18.4 19 Menghentikan perawatan hemodialisa
71 Waktu Total Klasifikasi Kegiatan Waktu Produktif No Jenis Kegiatan Mulai Akhir L TL Non 3 pasien I Mematikan mesin Melakukan pengukuran tekanan darah AFF 18.4 18.45 18.47 18.49 18.45 18.47 18.49 18.50 3 3 1 Asepsis pasien 33 Menghentikan perawatan hemodialisa pasien II Mematikan mesin Melakukan pengukuran tekanan darah AFF Asepsis pasien 18.50 18.5 18.55 18.57 18.5 18.55 18.57 18.58 3 1 34 Menghentikan perawatan hemodialisa pasien III Mematikan mesin Melakukan pengukuran tekanan darah AFF Asepsis pasien 18.58 19.00 19.0 19.05 19.00 19.0 19.05 19.06 3 1 35 Menghentikan perawatan hemodialisa pasien I Mematikan mesin Melakukan pengukuran tekanan darah AFF Asepsis pasien 19.06 19.09 19.11 19.14 19.09 19.11 19.14 19.15 3 3 1 36 Menghentikan perawatan hemodialisa pasien Mematikan mesin Melakukan pengukuran tekanan darah AFF Asepsis pasien 19.15 19.18 19.0 19. 19.18 19.0 19. 19.3 3 3 1 37 Aktivasi mesin untuk rinsing 19.3 19.31 8 38 Persiapan beres beres pribadi 19.31 19.45 14 Total Waktu 349 87 6
7 Tabel 6.10 Deksripsi kegiatan perawat SK pada shift siang Instalasi Hemodialisa RSUP Persahabatan, 17 Oktober 01 Waktu Total Klasifikasi Kegiatan Waktu Produktif No Jenis Kegiatan Mulai Akhir L TL Non 1 Asepsis diri sendiri 14.04 14.06 Mengambil seprai dan bantal baru untuk pasien 14.06 14.11 5 3 Merapikan tempat tidur pasien 14.11 14.7 16 Menyiapkan acid dan bikarbonat baru 4 untuk mesin 14.7 14.31 4 5 Memasang alat pada pasien I Asepsis Memasang jarum I Menyambungkan selang I pasien ke mesin hemodialisa Aktivasi mesin hemodialisa 14.31 14.33 14.38 14.40 14.33 14.38 14.40 14.4 5 6 7 8 9 Memasang alat pada pasien II Asepsis Memasang jarum I Menyambungkan selang I pasien ke mesin hemodialisa Aktivasi mesin hemodialisa Memasang alat pada pasien III Asepsis Memasang jarum I Menyambungkan selang I pasien ke mesin hemodialisa Aktivasi mesin hemodialisa Memasang alat pada pasien I Asepsis Memasang jarum I Menyambungkan selang I pasien ke mesin hemodialisa Aktivasi mesin hemodialisa Memasang alat pada pasien Asepsis Memasang jarum I Menyambungkan selang I pasien ke mesin hemodialisa Aktivasi mesin hemodialisa 14.4 14.43 14.45 14.47 14.50 14.51 14.54 14.56 14.59 15.01 15.05 15.08 15.10 15.11 15.14 15.16 14.43 14.45 14.47 14.50 14.51 14.54 14.56 14.59 15.01 15.05 15.08 15.10 15.11 15.14 15.16 15.18 10 Mengganti acid dan bikarbonat mesin hemodialisa 15.18 15.0 11 Mengukur tekanan darah 15.0 15.7 7 1 3 1 3 3 4 3 1 3
73 Waktu Total Klasifikasi Kegiatan Waktu Produktif Mulai Akhir L TL Non No Jenis Kegiatan Pasang alat pasien CITO Pemeriksaan tanda vital 15.7 15.31 4 Pasang jarum secara I 15.31 15.37 6 Menyambungkan selang pasien ke mesin hemodialisa 15.37 15.39 1 Aktivasi mesin hemodialisa 15.39 15.41 Membuang limbah infeksius ke 13 bagian hazard lantai 15.41 15.46 5 14 Waktu pribadi 15.46 16.08 15 Mengisi rekam medic 16.08 16.9 1 16 Mengaktivasi kembali mesin yang bermasalah 16.9 16.34 5 17 Menanyakan keluhan pasien 16.34 16.4 8 18 Menyusun alat steril ke rak steril 16.4 16.53 9 Penanganan pasien komplikasi (tensi 19 drop) 16.53 17.01 8 Menyiapkan tempat obat untuk pasien 17.09 17.1 1 0 1 Distribusi tempat obat pasien 17.1 17.8 7 Injeksi Parbion (pasien tertentu) 17.8 17.35 7 3 Distribusi infus baru 17.35 17.39 4 4 Toilet 17.39 17.47 8 5 Waktu pribadi 17.47 18.10 3 6 Membereskan alat dan bahan ke gudang instalasi hemodialisa 18.10 18.17 7 7 Sterilisasi dan cuci alat pasca pemasangan alat 18.17 18.9 1 8 Observasi pasien komplikasi 18.9 18.36 7 9 Melipat linen kotor 18.36 18.47 11 30 31 Menghentikan perawatan hemodialisa pasien I Mematikan mesin Melakukan pengukuran tekanan darah AFF Asepsis pasien Menghentikan perawatan hemodialisa pasien II Mematikan mesin Melakukan pengukuran tekanan darah 18.47 18.49 18.51 18.53 18.53 18.54 18.57 18.49 18.51 18.53 18.56 18.54 18.57 18.59 3 1 3
74 Waktu Total Klasifikasi Kegiatan Waktu Produktif No Jenis Kegiatan Mulai Akhir L TL Non AFF 18.59 19.00 1 Asepsis pasien 3 Menghentikan perawatan hemodialisa pasien III Mematikan mesin Melakukan pengukuran tekanan darah AFF Asepsis pasien 19.00 19.01 19.04 19.07 19.01 19.04 19.07 19.09 1 3 3 3 Menghentikan perawatan hemodialisa pasien I Mematikan mesin Melakukan pengukuran tekanan darah AFF Asepsis pasien 19.09 19.10 19.13 19.16 19.10 19.13 19.16 19.17 1 3 3 1 33 Menghentikan perawatan hemodialisa pasien Mematikan mesin Melakukan pengukuran tekanan darah AFF Asepsis pasien 19.17 19.19 19.3 19.6 19.19 19.3 19.6 19.7 4 3 1 34 Aktivasi mesin untuk rinsing 19.7 19.3 5 35 Persiapan beres beres pribadi 19.3 19.40 8 Total Waktu 39 68 61 Tabel 6.11 Deksripsi kegiatan perawat MN pada shift siang Instalasi Hemodialisa RSUP Persahabatan, Oktober 01 Waktu Total Klasifikasi Kegiatan Waktu Produktif No Jenis Kegiatan Mulai Akhir L TL Non 1 Asepsis diri sendiri 13.5 13.54. Menyiapkan rekam medic 13.54 14.06 1 3 Mengambil seprai dan bantal baru untuk pasien 14.06 14.11 5 4 Merapikan tempat tidur pasien 14.11 14.7 16 Menyiapkan acid dan bikarbonat baru 5 untuk mesin 14.7 14.31 4
75 Waktu Total Klasifikasi Kegiatan Waktu Produktif No Jenis Kegiatan Mulai Akhir L TL Non Memasang alat pada pasien I 6 Asepsis Memasang jarum I Menyambungkan selang I pasien ke mesin hemodialisa Aktivasi mesin hemodialisa 14.31 14.33 14.38 14.40 14.33 14.38 14.40 14.4 5 7 Memasang alat pada pasien II Asepsis Memasang jarum I Menyambungkan selang I pasien ke mesin hemodialisa Aktivasi mesin hemodialisa 14.4 14.43 14.45 14.47 14.43 14.45 14.47 14.50 1 3 8 Memasang alat pada pasien III Asepsis Memasang jarum I Menyambungkan selang I pasien ke mesin hemodialisa Aktivasi mesin hemodialisa 14.50 14.51 14.54 14.56 14.51 14.54 14.56 14.59 1 3 3 9 Memasang alat pada pasien I Asepsis Memasang jarum I Menyambungkan selang I pasien ke mesin hemodialisa Aktivasi mesin hemodialisa 14.59 15.01 15.05 15.08 15.01 15.05 15.08 15.10 4 3 10 Injeksi heparin via infuse 15.10 15.9 19 Mengganti acid dan bikarbonat mesin 11 hemodialisa 15.9 15.33 4 1 Mengukur tekanan darah 15.33 15.49 16 13 Mendistribusikan tempat obat 15.49 15.54 5 Mengaktivasi kembali mesin yang 14 bermasalah 15.54 16.00 6 15 Penanganan pasien komplikasi (tensi turun) 16.00 16.04 4 16 Waktu pribadi 16.04 16.1 8 Membuang limbah infeksius ke bagian 17 hazard lantai 16.1 16.18 6 18 Mengisi rekam medic 16.18 16.37 19 Mengurus berkas pasien dengan 19 jaminan 16.37 16.53 16 0 Menanyakan keluhan pasien 16.53 17.01 8 1 Merapikan linen kotor 17.01 17.11 10
76 Waktu Total Klasifikasi Kegiatan Waktu Produktif No Jenis Kegiatan Mulai Akhir L TL Non Toilet 17.11 17.0 9 3 Waktu pribadi 17.47 18.10 3 Membereskan berkas rekam medik ke 4 tempatnya 18.10 18.15 5 5 Waktu pribadi 18.15 18.30 15 6 Merapikan rak alat dan bahan 18.30 18.47 17 7 Observasi pasien komplikasi 18.47 18.59 1 8 Menghentikan perawatan hemodialisa Mematikan mesin Melakukan pengukuran tekanan darah AFF Asepsis pasien 18.59 19.01 19.03 19.05 19.01 19.03 19.05 19.08 3 9 30 Menghentikan perawatan hemodialisa Mematikan mesin Melakukan pengukuran tekanan darah AFF Asepsis pasien Menghentikan perawatan hemodialisa Mematikan mesin Melakukan pengukuran tekanan darah AFF Asepsis pasien Menghentikan perawatan hemodialisa Mematikan mesin Melakukan pengukuran tekanan darah AFF Asepsis pasien 19.08 19.09 19.1 19.14 19.15 19.16 19.19 19. 19.4 19.5 19.8 19.31 19.09 19.1 19.14 19.15 19.16 19.19 19. 19.4 19.5 19.8 19.31 19.3 31 3 Aktivasi mesin untuk rinsing 19.3 19.38 6 33 Persiapan beres beres pribadi 19.38 19.44 6 Total Waktu 35 64 61 1 3 1 1 3 3 1 3 3 1
77 Tabel 6.1 Deksripsi kegiatan perawat SN pada shift siang Instalasi Hemodialisa RSUP Persahabatan, 18 Oktober 01 Waktu Total Klasifikasi Kegiatan Waktu Produktif No Jenis Kegiatan Mulai Akhir L TL Non 1 Asepsis diri sendiri 14.10 14.13 Merapikan tempat tidur pasien 14.13 14.34 1 Memasang alat pada pasien I 3 Asepsis Memasang jarum I Menyambungkan selang I pasien ke mesin hemodialisa Aktivasi mesin hemodialisa 14.34 14.36 14.39 14.41 14.36 14.39 14.41 14.4 3 1 4 5 6 Memasang alat pada pasien II Asepsis Memasang jarum I Menyambungkan selang I pasien ke mesin hemodialisa Aktivasi mesin hemodialisa Memasang alat pada pasien III Asepsis Memasang jarum I Menyambungkan selang I pasien ke mesin hemodialisa Aktivasi mesin hemodialisa Memasang alat pada pasien III Asepsis Memasang jarum I Menyambungkan selang I pasien ke mesin hemodialisa Aktivasi mesin hemodialisa 14.4 14.43 14.45 14.47 14.49 14.51 14.54 14.56 14.58 15.00 15.03 15.05 14.43 14.45 14.47 14.49 14.51 14.54 14.56 14.58 15.00 15.03 15.05 15.07 7 Mengganti acid dan bikarbonat mesin hemodialisa 15.07 15.15 8 8 Mengukur tekanan darah 15.15 15.6 11 9 Mengisi rekam medic 15.6 15.41 15 10 Membuang limbah infeksius ke bagian hazard lantai 15.41 15.49 8 11 Pasang alat pasien CITO Pemeriksaan tanda vital Pasang jarum secara I Menyambungkan selang pasien ke mesin hemodialisa Aktivasi mesin hemodialisa 15.49 15.53 15.59 16.01 15.53 15.59 16.01 16.04 4 5 3 1 Mengaktivasi kembali mesin yang 16.04 16.11 7 1 3 3
78 Waktu Total Klasifikasi Kegiatan Waktu Produktif No Jenis Kegiatan Mulai Akhir L TL Non bermasalah 13 Injeksi heparin I via infuse 16.11 16.1 10 14 Waktu pribadi 16.1 16.44 3 15 Menyiapkan infus baru 16.44 17.03 19 Mendistribusikan infus dan tempat 16 obat 17.03 17.08 5 17 Menanyakan keluhan pasien 17.08 17.14 6 18 Menangani pasien komplikasi (tensi naik) 17.14 17.0 6 19 Merapikan alat dan bahan steril di rak 17.0 17.9 9 0 Toilet 17.9 17.34 6 Menyiapkan tempat obat untuk 1 pasien 17.34 17.40 6 Mendistribusikan obat kepada pasien 17.40 17.43 3 Aktivasi kembali mesin yang 3 bermasalah 17.43 17.50 7 4 Pengukuran tekanan darah 17.50 18.0 1 Sterilisasi dan cuci alat pasca 5 pemasangan alat 18.0 18.15 13 6 Waktu pribadi 18.15 18.30 15 Menyiapkan rekam medik untuk 7 pasien besok 18.30 18.47 17 8 Observasi pasien CITO 18.47 18.5 5 9 Menghentikan perawatan hemodialisa Mematikan mesin Melakukan pengukuran tekanan darah AFF Asepsis pasien 18.5 18.54 18.57 19.01 18.54 18.57 19.01 19.0 3 4 1 30 34 Menghentikan perawatan hemodialisa Mematikan mesin Melakukan pengukuran tekanan darah AFF Asepsis pasien Menghentikan perawatan hemodialisa Mematikan mesin Melakukan pengukuran tekanan darah AFF Asepsis pasien 19.0 19.04 19.06 19.08 19.10 19.1 19.14 19.18 19.04 19.06 19.08 19.10 19.1 19.14 19.18 19.19 4 1
79 Waktu Total Klasifikasi Kegiatan Waktu Produktif No Jenis Kegiatan Mulai Akhir L TL Non Menghentikan perawatan hemodialisa 35 Mematikan mesin Melakukan pengukuran tekanan darah AFF Asepsis pasien 19.19 19.1 19. 19.7 19.1 19. 19.7 19.9 1 5 36 Menghentikan perawatan hemodialisa Mematikan mesin Melakukan pengukuran tekanan darah AFF Asepsis pasien 19.9 19.31 19.33 19.36 19.31 19.33 19.36 19.37 3 1 37 Aktivasi mesin untuk rinsing 19.37 19.43 6 38 Persiapan beres beres pribadi 19.43 19.55 1 Total Waktu 344 88 56 Setelah didapatkan gambaran kegiatan perawatan hemodialisa oleh 8 responden, dapat terlihat bahwa variasi waktu yang dihabiskan oleh masing-masing responden untuk masing-masing kegiatan sangat kecil karena variasi kegiatannya sendiri pun juga tidak banyak. Pasien hemodialisa pun sudah dijadwalkan secara rutin (dibagi menjadi kelompok, yaitu kelompok Senin-Rabu-Jumat dan Selasa-Kamis-Sabtu). Beberapa kegiatan yang berbeda yang dilakukan oleh beberapa responden menunjukkan kewajiban yang berbeda yang diemban oleh masing-masing perawat pada shiftnya masing-masing. Perawat yang mendapat shift pagi biasanya membuka ruangan instalasi dan menyiapkan alat-alat dan kegiatan dasar, seperti misalnya menyalakan lampu dan menyapu ruangan. Dalam pengamatan yang dilakukan oleh peneliti, jam kerja perawat yang seharusnya sesuai dengan shift (shift pagi 07.00 13.00 WIB dan shift siang 13.00 19.00 WIB), ternyata lebih panjang karena banyak persiapan yang harus dilakukan untuk memulai dan menyudahi perawatan hemodialisa, seperti misalnya aktivasi mesin membutuhkan waktu sekitar 15-0 menit sehingga jika perawatan direncanakan akan mulai pukul 07.00
80 WIB, maka setidaknya mesin harus dinyalakan pada pukul 06.30 WIB. Dalam pengamatan peneliti, rata-rata jumlah pasien dalam sehari untuk 15 tempat tidur selama shift adalah 8 pasien. Berikut adalah rangkuman dari kegiatan yang dilakukan oleh masing-masing responden dalam shift kerja gabungan (pagi dan siang) yang kemudian diambil rata-ratanya. Adapun ketentuan dari pengambilan kegiatan yang terhitung adalah kegiatan yang dilakukan oleh minimal orang responden. Jika dalam satu shift responden melakukan suatu kegiatan lebih dari satu kali, maka rata-ratanya dihitung terlebih dahulu. Tabel 6.13 Kegiatan perawat Instalasi Hemodialisa Responden Ratarata Standar Jenis Kegiatan SM RD SK RS HB MN SS DN (menit) Deviasi Kegiatan Produktif Langsung Memasang alat pada pasien 6.5 6.33 7.8 6.5 6 9.5 8.5 7.7 7.6 1.1634677 Injeksi heparin I via infus 1 1 3 19 10 1 11.3 5.151016 Mengukur tekanan darah 13 10 7 10 8 11 9 9.71 1.976047 Observasi pasien komplikasi 4 7 8 15 1 9. 4.343497 Konsultasi dengan pasien seputar keluhan yang dirasakan 7 8 8 8 6 3 6.67 1.966384 Penanganan pasien dengan komplikasi (tensi turun/naik, muntah) 9 7 4 6 6.5.081666 Memasang alat untuk pasien CITO 1 1 14 11 13 15 1.83 1.4719601 Injeksi epoetrin untuk pasien dengan indikasi 5 7 6 1.414136 Injeksi parbion untuk pasien dengan indikasi 7 6 6.5 0.7071068 Menghentikan perawatan hemodialisa 8.5 8 8.5 8 8 8 7 10 8.5 0.8451543 Kegiatan Produktif Tidak Langsung Menyapu instalasi hemodialisa 1 10 11 1.414136 Menyalakan mesin hemodialisa 7 6 6.5 0.7071068 Mempersiapkan alat hemodialisa 6 37 47 50 40 10.8678 Menyiapkan jarum dan kapas steril 5 8 5 6 1.730508 Mempersiapkan tempat tidur dengan seprai dan bantal 15 16 30 15 16 1 17 19 5.183878 Menyiapkan acid dan 10 4 4 6 3.4641016
81 Jenis Kegiatan bikarbonat baru Responden Ratarata Standar SM RD SK RS HB MN SS DN (menit) Deviasi Mengganti acid dan bikarbonat 5.5 6 11.5 6 8 10 7 3.1490739 Membuang limbah infeksius ke bagian hazard lantai 4 5 6 8 4.5.345079 Asepsis diri sendiri 0 Mengaktivasi kembali mesin yang bermasalah 17 5 10 6 7 9 8 4.760953 Menyusun alat yang sudah disterilisasi ke rak steril 9 9 5 10 17 9 7 9.43 3.735886 Membereskan logistik di gudang instalasi hemodialisa 7 10 0 11.5 1.13 5.573374 Mengisi rekam medik 0 1 10 0 15 4 18.33 5.00666 Mengurus berkas pasien dengan jaminan 16 18 17 1.414136 Menyiapkan tempat obat untuk pasien 10 1 18 6 11.5 5 Menyiapkan infus baru 8 19 13.5 7.7781746 Distribusi tempat obat untuk pasien 7 4 3 4.160469 Distribusi infus baru untuk pasien 3 3 4 4.5 1 5 4 3.5 1.38757 Sterilisasi dan cuci alat pasca pemasangan alat 8 5 1 5 13 5 8 3.6878178 Mencuci duk bolong 1 13 17 5.656854 Menyiapkan heparin untuk pasien 10 15 1.5 3.5355339 Menyiapkan epoetrin untuk pasien dengan indikasi 10 7 8.5.11303 Mendistribusikan epoetrin untuk pasien dengan indikasi 5 3 4 1.414136 Menyiapkan parbion untuk pasien dengan indikasi 19 10.5 1.00815 Mendistribusikan parbion untuk pasien dengan indikasi 3.5 0.7071068 Mencuci dirigen bekas acid dan bikarbonat yang lama 6 5 5.5 0.7071068 Melipat linen kotor 19 11 10 13.33 4.93889 Aktivasi mesin untuk rinsing 8 5 5 10 10 6 6 6 7.0701967 Kegiatan Non Produktif Sarapan 0 30 14 1.33 8.089038 Toilet 13 15 8 15 8 9 6 5 9.88 3.9438016 Waktu pribadi 11.5 10.5 7 10 7 3 10 17.63 7.931675 Mengobrol 8 5 5 10 10 6 6 6 7.0701967 Persiapan beres beres pribadi 14 8 8 13 8 6 1 8 17.13 9.37615 JUMLAH 447.74
8 Berdasarkan tabel diatas, diketahui bahwa rata-rata jumlah waktu yang dihabiskan oleh responden selama satu shift adalah sebesar 447,74 menit, atau setara dengan 7 jam 46 menit (7,77 jam). Adapun rata-rata proporsi waktu produktif yang dihabiskan responden dalam satu shift adalah sebesar 371,91 menit atau setara dengan 6 jam 0 menit (6,33 jam) atau sekitar 83,51%. Rata-rata waktu non produktif yang dihabiskan perawat adalah sebesar 75,83 menit atau setara dengan 1 jam 6 menit atau sekitar 16,49%. Dapat disimpulkan bahwa perbandingan antara waktu produktif dan non produktif perawat instalasi hemodialisa RSUP Persahabatan dalam satu shift adalah sebesar 8,4 : 1,6. Adapun standar deviasi yang dijelaskan dalam tabel dimaksudkan untuk menggambarkan keefektifitasan pemanfaatan waktu oleh responden dimana penggunaan waktu yang masih dalam rentang standar deviasi lebih baik dibandingkan jika diluar rentang standar deviasi. Secara keseluruhan, jumlah transaksi yang dilakukan oleh responden adalah : Responden Tabel 6.14 Rangkuman kegiatan responden selama satu shift Jumlah Kegiatan Produktif Jumlah Kegiatan Non Produktif Jumlah Kegiatan D 37 7 44 HB 38 9 47 MN 8 5 33 RD 35 5 40 RS 35 5 40 SK 31 4 35 SM 33 5 38 SS 34 4 38 Total Kegitatan 71 44 315 Berdasarkan tabel diketahui 85,67% kegiatan yang dilakukan oleh responden adalah kegiatan produktif, sedangkan 14,33% sisanya adalah kegiatan non produktif. Diketahui lebih lanjut bahwa rata-rata jumlah kegiatan produktif adalah sebanyak 3,88 kegiatan (yang dibulatkan menjadi 33 kegiatan), sementara kegiatan non produktif adalah sebanyak
83 5,51 kegiatan (yang dibulatkan menjadi 6 kegiatan). Dapat disimpulkan bahwa perbandingan kegiatan produktif dan non produktif adalah 8,6 : 1,4. 6.4.5 Jumlah Waktu Produktif dan Non Produktif Sampel Dari data yang telah disajikan diatas, peneliti kemudian mengelompokkan waktu produktif dan waktu non produktif responden instalasi hemodialisa selama jam kerja (dinyatakan dalam menit). Hasilnya disajikan dalam tabel berikut ini : Tabel 6.15 Proporsi waktu produktif dan non produktif sampel Waktu yang Dihabiskan Total Non Waktu Responden Produktif Produktif (menit) (menit) (menit) SK 68 61 39 RS 365 73 438 SM 87 6 349 RD 34 101 443 HB 371 11 49 MN 64 60 34 SN 88 56 344 D 38 83 411 Total Waktu 513 617 3130 (menit) Berdasarkan tabel 6.13, dengan total waktu yang dihabiskan oleh perawat Instalasi Hemodialisa RSUP Persahabatan dalam 8 shift adalah sebesar 3130 menit dengan waktu produktif sebanyak 513 menit atau sebesar 80,8% dan non produktif sebanyak 617 menit atau sebesar 19,7% (perbandingan antara waktu produktif dan non produktif adalah 8 : ). Diketahui pula dari tabel bahwa rata-rata waktu kegiatan produktif masing-masing responden adalah sebesar 314,13 menit atau 5,4 jam dan kegiatan non produktif adalah sebesar 77,13 menit atau 1,9 jam.
84 Dari total jumlah 71 kegiatan produktif yang menghabiskan waktu 513 menit untuk 8 shift, kemudian dilakukan pengelompokkan jenis kegiatan produktif menjadi kegiatan produktif langsung dan tidak langsung. Hasilnya disajikan dalam tabel berikut ini : Responden Tabel 6.16 Tabel proporsi kegiatan produktif langsung sampel Jumlah Kegiatan Produktif Jumlah Waktu Kegiatan Produktif Langsung (menit) [A] Jumlah Kegiatan Produktif Langsung Rata-rata Waktu Pelaksanaan Produktif Langsung (menit) [A/B] [B] D 37 93 11 8,45 HB 38 133 16 8,31 MN 8 141 15 9,4 RD 35 177 16 11,06 RS 35 159 16 9,94 SK 31 145 16 9,06 SM 33 140 17 8,4 SN 34 156 1 7,43 Rata-rata 143 16 8,99 Responden Tabel 6.17 Tabel proporsi kegiatan produktif tidak langsung sampel Jumlah Kegiatan Produktif Jumlah Waktu Kegiatan Produktif Tidak Langsung (menit) [a] Jumlah Kegiatan Produktif Tidak Langsung Rata-rata Waktu Pelaksanaan Produktif Tidak Langsung (menit) [a/b] [b] D 37 35 6 9,04 HB 38 38 10,8 MN 8 13 13 9,46 RD 35 165 19 8,68
85 RS 35 06 19 10,84 SK 31 13 15 8, SM 33 147 16 9,19 SN 34 13 13 10,15 Rata-rata 171 18 9,55 Berdasarkan kedua tabel diatas, diketahui bahwa dari total waktu produktif responden sebesar 513 menit (Σa + ΣA), proporsi untuk waktu produktif langsung dan tidak langsung adalah masing-masing 45,5% (Σa = 1144 menit) dan 54,48% (ΣA = 1369 menit) atau 4,6 : 5,4. Sedangkan proporsi antara waktu produktif langsung : tidak langsung : non produktif adalah 36,55% : 43,74% : 19,71% atau 3,7 : 4,4 : 1,9. 6.6 Perhitungan Jumlah Kebutuhan Perawat Setelah didapatkan jumlah waktu produktif yang dibutuhkan dalam satu hari, diperlukan pula data mengenai jumlah hari libur dan komponen lain yang diperlukan untuk menghitung beban kerja dengan menggunakan metode Ilyas. Perawat Instalasi Hemodialisa RSUP Persahabatan bekerja selama 6 hari dalam seminggu (hari Senin-Sabtu), dengan 5 hari Minggu kerja (perawat Instalasi Hemodialisa memiliki 6 hari kerja dalam 1 minggu). Didapatkan hari kerja untuk perawat Instalasi Hemodialisa RSUP Persahabatan adalah 314 hari selama setahun (tahun 01 adalah tahun kabisat yang memiliki 366 hari dalam setahun). Adapun penetapan jumlah hari untuk cuti bersama, hari libur nasional dan lain-lain mengikuti UU No. 4 tahun 1976 tentang Cuti Pegawai Negeri Sipil yang berlaku di RSUP Persahabatan dan juga ketetapan pemerintah tentang hari libur yang berlaku untuk tahun 01. Berikut adalah tabel mengenai waktu kerja yang tersedia untuk perawat Instalasi Hemodialisa RSUP Persahabatan.
86 Tabel 6.18 Waktu kerja tersedia bagi perawat Instalasi Hemodialisa RSUP Persahabatan tahun 01 Kode Faktor Jumlah Keterangan A Hari kerja (366 hari dalam 1 tahun -5 Minggu) 314 Hari/tahun B Cuti tahunan Cuti biasa Cuti bersama 1 5 Hari/tahun Sakit C Hari Libur Nasional 14 Hari/tahun D Pendidikan dan pelatihan 7 Hari/tahun E Waktu kerja Total hari kerja = [A (B+C+D)] Sumber : Bagian Sumber Daya Manusia RSUP Persahabatan 7,77 74 18,98 17738,8 Jam/hari Hari/tahun Jam/tahun Menit/tahun Selanjutnya setelah diketahui seluruh komponen yang diperlukan untuk menggunakan rumus sesuai dengan Metode Ilyas, dapat dihitung kebutuhan tenaga perawat di Instalasi Hemodialisa RSUP Persahabatan sesuai dengan proses penghitungan berikut : Σ SDM/hari = { (B.K ij = JT x WT) : JKE 1) Menentukan besar beban kerja unit/hari Beban Kerja/hari = B.Kij = JT x WT pl+ptl = (74 x 8,99) + (74 x 9,55) = 463,6 + 616,70 = 5079,96 menit/unit/hari = 84,666 jam/unit/hari (dibulatkan menjadi 85 jam/unit/hari) Keterangan : JT = Jumlah kegiatan produktif (langsung dan tidak langsung) dalam 8 shift pengamatan
87 WTpl = Rata-rata waktu transaksi produktif langsung WTptl = Rata-rata waktu transaksi produktif tidak langsung ) Menentukan jumlah SDM yang dibutuhkan unit/hari Sehingga, Σ SDM/hari = (B.Kij = JT x WT pl+ptl ) : JKE = 85 : 6,33 = 13,48 orang dibulatkan menjadi 13 orang Σ SDM dengan koreksi hari kerja efektif = Σ SDM tanpa koreksi x (1 : hari kerja efektif dalam setahun) = 13 x (1 : 74) = 0,51 orang dibulatkan menjadi 1 orang Σ SDM yang diperlukan = 13 + 1 = 14 orang Keterangan : B.K ij = Besar beban kerja unit/hari J.K.E = Jumlah waktu untuk melakukan kegiatan produktif (langsung dan tidak langsung, dinyatakan dalam satuan jam) 6.7 Hasil Depth Interview Dalam proses menggali informasi, peneliti melakukan depth interview (sesuai dengan panduan depth interview yang ada), setelah pendekatan kuantitatif berupa penghitungan jumlah perawat yang dibutuhkan di Instalasi Hemodialisa RSUP Persahabatan selesai dilakukan. Adapun informan yang dipilih oleh peneliti adalah Kepala Instalasi Hemodialisa RSUP Persahabatan, Dokter Jaga Instalasi Hemodialisa RSUP Persahabatan yang saat ini dipercaya untuk menggantikan kepala instalasi karena yang bersangkutan sedang dalam masa pendidikan, serta satu orang perawat berinisial ST yang merupakan salah satu perawat yang bekerja lebih dari 5 tahun di Instalasi Hemodialisa RSUP Persahabatan
88 dan merupakan lulusan akademi keperawatan (yang merupakan tingkatan pendidikan tertinggi yang dimiliki oleh perawat Instalasi Hemodialisa RSUP Persahabatan). Berikut adalah tabel rangkuman alokasi waktu depth interview untuk masing-masing informan : Nama Informan ST YS Tanggal Depth Interview 9 Oktober 01 8 November 01 SA 3 November 01 Tabel 6.19 Jadwal depth interview Tempat Depth Interview Ruang Instalasi Hemodialisa RSUP Persahabatan, lantai Paviliun Wijayakusuma Ruang Instalasi Hemodialisa RSUP Persahabatan, lantai Paviliun Wijayakusuma Unit Griya Puspa RSUP Persahabatan Waktu Depth Interview 14.31 14.58 WIB 14.3 14.5 WIB 1.13 1.36 WIB Setelah wawancara mendalam dengan ketiga informan dilakukan, peneliti melakukan wawancara mendalam kembali dengan informan ST yang dilakukan pada tanggal 1 Desember 01 di Instalasi Hemodialisa RSUP Persahabatan lantai Paviliun Wijayakusuma. Wawancara berlangsung pada pukul 15.11 15.35 WIB untuk informan ST dan pukul 15.41 16.1 WIB untuk informan YS. Adapun tujuan dari wawancara mendalam pada kali ini adalah untuk menggali informasi terkait dengan kompetensi yang dimiliki perawat secara umum berdasarkan pendidikan (D3 atau S1) yang dimiliki. Selain itu, peneliti juga menanyakan alternatif penyelesaian mana yang cenderung akan dipilih dalam menghadapi kekurangan tenaga perawat di Instalasi Hemodialisa RSUP Persahabatan. Pada awalnya peneliti bermaksud untuk melakukan wawancara dengan salah satu dari bagian Keperawatan di RSUP Persahabatan, namun demikian peneliti mengalami kesulitan dikarenakan waktu kerja informan yang cukup padat dan waktu libur yang cukup panjang, sementara waktu yang dimiliki peneliti terbatas. Oleh karena itu, peneliti melakukan
89 wawancara dengan informan ST dan informan YS yang dinilai mampu menjawab pertanyaan peneliti. Namun demikian, pembahasan tentang pendidikan hanya seputar perbedaan antara keterampilan yang dimiliki oleh perawat lulusan D3 keperawatan/akademik keperawatan dan belum sampai membahas tentang tingkat pengetahuan yang dimiliki serta kapabilitas lain yang membedakan. 6.7.1 Matriks Hasil Depth Interview dengan Ketiga Informan Selama proses depth interview, peneliti dibantu oleh alat tulis dan alat perekam suara dan menggunakan pedoman wawancara mendalam sebagai acuan depth interview. Dalam pelaksanaannya, peneliti agak kesulitan untuk menemukan waktu yang sesuai untuk bisa melakukan wawancara dengan Informan SA dikarenakan kesibukan beliau. Selain itu, waktu pelaksanaan wawancara yang dijadwalkan siang hari di Instalasi Hemodialisa RSUP Persahabatan lebih bising dibandingkan dengan jamjam lainnya, dikarenakan pada jam tersebut para perawat instalasi sedang sibuk mempersiapkan pergantian pasien pagi dan siang, ditambah dengan berkumpulnya keluarga dari pasien pagi. Namun demikian, hal ini dapat diantisipasi peneliti dengan dibantu oleh alat dan instrumen penelitian sehingga wawancara dapat berjalan dengan baik.
BAB 7 PEMBAHASAN 7.1 Keterbatasan Penelitian Dalam melakukan penelitian ini, peneliti menyadari akan adanya keterbatasan yang dimiliki, misalnya keterbatasan waktu, sumber daya (terutama sumber daya manusia) dan sebagainya, yang nantinya akan menimbulkan bias terhadap hasil penelitian. Adapun keterbatasan penelitian ini adalah : 1. Selama mengumpulkan data kuantitatif mengenai beban kerja perawat, pada awalnya responden merasa diamati sehingga cenderung melakukan manipulasi sikap. Peneliti mengatasi hal ini dengan cara menjaga batas pandang pengamatan dengan responden sehingga responden dapat bergerak bebas dan tidak merasa diamati. Selain itu, peneliti juga memperpanjang waktu pengamatan, dengan tidak melakukan pengamatan setiap hari berturut-turut sehingga total waktu pengamatan adalah minggu. Hal ini dimaksudkan untuk meminimalisir manipulasi sikap responden dan melihat performa responden yang sebenarnya (Ilyas, 011). Selain itu, peneliti juga bekerja sama dengan Kepala Instalasi dan Dokter Jaga Instalasi Hemodialisa RSUP Persahabatan untuk melakukan sosialisasi bahwa pengamatan yang dilakukan oleh peneliti bertujuan untuk menghitung beban kerja perawat di instalasi hemodialisa. Peneliti tidak melakukan pengamatan semu pada awal penelitian (peneliti seolaholah mengamati performa responden, namun kenyataannya tidak mengikutsertakan hasil pengamatan tersebut ke dalam hasil penelitian) dikarenakan keterbatasan waktu dan sumber daya manusia yang dimiliki.. Selama masa pengamatan, ada saat dimana peneliti kehilangan pandangan terhadap responden yang diamatinya (responden tidak ada di ruang Instalasi Hemodialisa RSUP Persahabatan atau selasar lantai Paviliun
Wijayakusuma). Kegiatan tersebut kemudian dikelompokkan peneliti ke dalam kegiatan tidak produktif. Walaupun demikian, masih ada kemungkinan bahwa responden sedang melakukan kegiatan produktif selama responden hilang dari pandangan peneliti. Peneliti tidak menanyakan kemana responden pergi dengan pertimbangan alasan etis. Selain itu, peneliti mengantisipasi kemungkinan responden tidak jujur ketika peneliti menanyakan kemana responden pergi. 3. Dalam proses snow balling pada depth interview, peneliti menemukan kesulitan untuk berkomunikasi terkait kebutuhan untuk melakukan depth interview kembali terutama dengan Bagian Keperawatan RSUP Persahabatan dikarenakan kesibukan dan waktu yang dimiliki oleh peneliti. Oleh karena itu, peneliti hanya melakukan depth interview kembali pada Informan ST dan YS. 7. Beban Kerja Perawat Instalasi Hemodialisa RSUP Persahabatan Berdasarkan hasil penelitian yang telah dijabarkan sebelumnya, diketahui bahwa proporsi waktu produktif yang dihabiskan responden dalam satu shift adalah sebesar 83,51%, sedangkan jumlah kegiatan produktif yang dilakukan oleh responden selama 8 shift adalah sebesar 85,67%. Hal ini mengindikasikan bahwa perawat Instalasi Hemodialisa RSUP Persahabatan telah melewati titik optimum karena telah melewati 80% (Ilyas, 011). Untuk itu, perlu dipertimbangkan untuk perekrutan tenaga kerja baru. Lebih lanjut, berdasarkan hasil penelitian yang telah dijabarkan sebelumnya, diketahui bahwa proporsi waktu non produktif yang dihabiskan responden dalam satu shift adalah 16,49%, sedangkan jumlah kegiatan produktif yang dilakukan oleh responden selama 8 shift adalah sebesar 14,33%. Hal ini mengindikasikan bahwa perawatan hemodialisa cenderung menjadi sebuah kegiatan yang berat karena menghabiskan lebih dari 14% waktu sehingga membutuhkan waktu istirahat yang lebih panjang (Wolper, 1995 dalam Warongan, 006).
9 Berdasarkan pembagian waktu produktif dan non produktif yang telah dijabarkan dalam hasil penelitian, diketahui bahwa beban kerja yang dimiliki oleh perawat di Instalasi Hemodialisa RSUP Persahabatan cenderung tinggi. Hal ini sejalan dengan informasi yang diberikan oleh Kepala Instalasi Hemodialisa pada awal penelitian tentang keluhan yang dirasakan oleh para perawat di instalasi hemodialisa. Hal ini menurut peneliti terjadi karena jam kerja perawat yang melewati batas yang telah ditetapkan, sehingga perawat yang sudah bisa pulang atau belum harus memulai perawatan harus memulai lebih dulu dan mengakhiri lebih akhir. Terlihat pula dari distribusi waktu kegiatan produktif pada masing-masing shift dalam 8 shift (4 shift pagi dan 4 shift siang) yang diamati cenderung merata. Hal ini dikarenakan jenis kegiatan dalam perawatan hemodialisa cenderung tidak bervariasi dengan jumlah pasien yang relatif statis. Dari sini dapat peneliti simpulkan bahwa beban kerja yang dirasakan oleh perawat yang bertugas di shift pagi atau shift siang adalah sama besar. Berdasarkan Keputusan Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi No.10/MEN/I/004 tentang Waktu Kerja Lembur dan Upah Kerja Lembur, waktu lembur didefinisikan sebagai waktu kerja yang melebihi 7 jam sehari dan 40 jam seminggu untuk 6 hari kerja dalam seminggu, atau 8 jam sehari dan 40 jam seminggu untuk 5 hari kerja dalam seminggu. Dengan demikian, jam kerja yang dibebankan kepada perawat Instalasi Hemodialisa telah melewati batas maksimum untuk pekerja dengan 6 hari kerja. Diketahui berdasarkan Undang-undang No. 13 tahun 003 tentang Tenaga Kerja, setiap pekerja berhak untuk mendapatkan waktu istirahat minimal ½ jam setelah pekerja tersebut bekerja selama 4 jam, dimana waktu istirahat tersebut tidak dihitung ke dalam jam kerja. Lebih lanjut menurut Ilyas (011), secara umum waktu normal yang dihabiskan untuk pekerja melakukan kegiatan pribadi dan istirahat adalah 1 jam. Untuk itu, diketahui bahwa waktu kerja perawat hemodialisa yang mencapai 6,33 jam telah melewati batas waktu kerja normal untuk pekerja dengan 6 hari kerja yaitu 6 jam. Lebih lanjut dalam pasal 4 ayat
93 1 dalam keputusan yang sama dijelaskan bahwa ada kewajiban bagi pengusaha untuk membayar lembur para tenaga kerjanya yang bekerja melebihi waktu kerja. Untuk itu, peneliti mempertimbangkan akan adanya kebutuhan pemberian bonus atau tambahan kepada para perawat dengan tujuan mempertahankan performa dalam memberikan pelayanan perawatan hemodialisa. Beban kerja yang terlampau tinggi pada akhirnya akan memiliki beberapa dampak yang buruk, misalnya kesalahan dalam pengerjaan pasien yang nantinya akan berujung kepada kematian (Palestin, 006). Penambahan jumlah tenaga perawat di Instalasi Hemodialisa RSUP Persahabatan merupakan hal yang perlu dilakukan untuk bisa mampu mencegah timbulnya hal yang tidak diinginkan. Selain itu, berdasarkan data yang kunjungan yang dimiliki oleh instalasi hemodialisa, jumlah pasien yang cenderung meningkat setiap tahun diperkirakan akan semakin meningkat dalam tahun-tahun ke depannya, terutama dalam menyongsong Sistem Jaminan Kesehatan Nasional. Berdasarkan pembagian kegiatan produktif langsung dan tidak langsung, diketahui bahwa kegiatan produktif langsung lebih sedikit dibandingkan dengan kegiatan produktif tidak langsung (36,55% : 43,74% dengan mempertimbangkan waktu non produktif sebesar 19,71%). Hal ini menurut peneliti dikarenakan oleh perawatan hemodialisa cenderung kurang banyak melibatkan interaksi antara pasien dengan perawat. Interaksi terjadi antara perawat dengan pasien hanya terjadi pada saat-saat tertentu dan tidak terjadi sepanjang perawatan, terutama pada pada satu jam pertama dan satu jam terakhir perawatan. Hal ini menunjukkan bahwa hanya jam dari total 5 jam waktu perawatan hemodialisa yang memungkinkan terjadinya interaksi antara pasien dengan perawat, sedangkan 3 jam sisanya dihabiskan perawat untuk melakukan kegiatan lain, termasuk kegiatan produktif tidak langsung. Salah satu cara untuk meminimalisir beban kerja yang berasal dari kegiatan produktif tidak langsung adalah dengan memanfaatkan teknologi untuk memudahkan kerja. Menurut Maviglia, et all (007), penggunaan teknologi
94 mampu mempersingkat waktu kerja, misalnya dengan melakukan input data obat yang dibutuhkan oleh pasien hemodialisa melalui komputer, pengisian rekam medik dan proses dokumentasi pasien dengan jaminan terkomputerisasi. Selain itu, dikatakan pula oleh Ramelan (1999) bahwa peningkatan IPTEK dan sumber daya manusia yang mampu menguasainya akan sangat berpengaruh terhadap peningkatan produktivitas kerja. Namun demikian, perlu dipertimbangkan kesiapan Instalasi Hemodialisa RSUP Persahabatan itu sendiri untuk bisa menerapkan sistem ini. 7.3 Kebutuhan Tenaga Kerja Perawat Instalasi Hemodialisa RSUP Persahabatan Dalam penelitian ini, peneliti menggunakan metode time and motion study sebagai metode untuk menghitung beban kerja. Seperti yang sudah diuraikan sebelumnya, metode ini juga sekaligus menilai kualitas kinerja dari responden yang diamati karena peneliti memperhatikan semua kegiatan yang dilakukan oleh responden. Selain itu, responden dalam penelitian ini dapat berjumlah satu orang yang dianggap mampu mewakili keseluruhan kualitas perawat (Ilyas, 011). Dalam penelitian ini, peneliti hanya mengamati 8 dari 13 orang perawat yang dijadikan sebagai sampel penelitian. Dengan menggunakan teknik time and motion study yang cukup membutuhkan 1 orang sampel saja, penentuan jumlah sampel sebanyak 8 orang bertujuan untuk mengakomodir kemungkinan adanya perbedaan kinerja antar sampel. Dengan demikian, 6% gambaran kinerja dan kualitas perawat Instalasi Hemodialisa RSUP Persahabatan mampu terwakili oleh pengamatan terhadap 8 sampel. Pemilihan 8 orang sampel tersebut pun dilakukan secara purposive sampling berdasarkan 4 kriteria yang menurut Simanullang (010) dan Saragih (010) mempengaruhi pengetahuan seseorang, yaitu pendidikan, usia, jenis kelamin dan lamanya bekerja di suatu tempat. Selain itu, peneliti juga membagi rata masing-masing 4 shift pengamatan pagi dan siang, dengan tujuan melihat lebih banyak kinerja perawat di masing-masing waktu tersebut,
95 sehingga mampu menarik kesimpulan mengenai kualitas dari kinerja perawat secara umum. Dengan cara ini, peneliti berharap mendapatkan data yang mampu menggambarkan kegiatan perawat di Instalasi Hemodialisa RSUP Persahabatan untuk kemudian mampu memberikan perhitungan kebutuhan tenaga perawat yang tepat sesuai dengan beban kerja. Mengacu kepada asuhan keperawatan dan standar operasional prosedur (SOP) yang dimiliki oleh RSUP Persahabatan dan Instalasi Hemodialisa, peneliti secara umum melihat bahwa beberapa asuhan keperawatan dijalankan oleh perawat, misalnya prosedur penentuan jumlah target dialisis. Namun demikian, ada beberapa asuhan keperawatan yang belum dilakukan oleh perawat, misalnya memperhatikan cairan yang masuk dan keluar masing-masing pasien. SOP perawatan hemodialisa dilaksanakan oleh perawat selama melakukan perawatan hemodialisa. Peneliti menyimpulkan bahwa kinerja perawat di Instalasi Hemodialisa RSUP Persahabatan sudah cukup baik. Namun demikian, untuk hasil penelitian yang lebih baik, peneliti merasa perlu untuk melakukan penilaian terhadap kinerja perawat Instalasi Hemodialisa RSUP Persahabatan berdasarkan kepada standar operasional prosedur dan asuhan keperawatan sebagai salah satu instrumen di penelitian selanjutnya. Lebih lanjut dalam tabel 6.13 tercantum standar deviasi dari waktu yang dihabiskan oleh perawat Instalasi Hemodialisa RSUP Persahabatan. Dari standar deviasi tersebut dapat dilihat secara sederhana keefektifitasan penggunaan waktu dari perawat untuk melakukan kegiatan selama jam kerjanya. Waktu tersebut dinyatakan efektif jika masih berada dalam rentang standar deviasi dan dinyatakan tidak efektif jika sebaliknya. Metode Ilyas dipilih karena mampu menghitung beban kerja secara spesifik berdasarkan transaksi bisnis yang terjadi di sebuah unit kerja. Hal ini menyebabkan Metode Ilyas mampu memberikan penghitungan beban kerja yang relatif cepat dengan keakuratan yang tinggi (Ilyas, 011). Setelah setiap komponen yang diperlukan dalam rumus Metode Ilyas didapatkan, diketahui
96 bahwa terdapat kebutuhan tambahan dari perawat di Instalasi Hemodialisa RSUP Persahabatan sebanyak 1 orang perawat jika menggunakan hasil pengamatan waktu produktif, yaitu sebesar 6,33 jam. Diketahui berdasarkan Undang-undang No. 13 tahun 003 tentang Tenaga Kerja, waktu istirahat yang menjadi hak pekerja adalah minimal ½ jam setelah pekerja tersebut bekerja setelah 4 jam secara terus menerus. Dengan demikian, walaupun penghitungan kebutuhan perawat pada bab I menunjukkan bahwa dibutuhkan 1 orang tenaga perawat yang baru, hasilnya akan berbeda dengan menggunakan standar jam waktu istirahat tiap 4 jam yang dikemukakan oleh Ilyas (011) yaitu 1 jam. Untuk pekerja seperti perawat Instalasi Hemodialisa RSUP Persahabatan dengan jumlah hari kerja adalah 6 hari dalam seminggu, diketahui bahwa jam kerja maksimal dalam sehari adalah 6 jam setelah dipotong 1 jam untuk alokasi waktu istirahat dan pribadi lainnya. Karena itu, waktu kerja produktif perawat Instalasi Hemodialisa RSUP Persahabatan yang menunjukkan angka 6,33 jam dinilai terlalu tinggi. Adapun penghitungan dengan standar waktu istirahat menurut Yaslis (011) untuk pekerja dengan 6 hari kerja seminggu adalah sebagai berikut : Σ SDM/hari = { (B.K ij = JT x WT) : JKE 1) Menentukan besar beban kerja unit/hari Beban Kerja/hari = B.Kij = JT x WT pl+ptl = (71 x 8,99) + (71 x 9,55) = 436,9 + 588,05 = 504,34 menit/unit/hari = 83,739 jam/unit/hari (dibulatkan menjadi 84 jam/unit/hari)
97 Keterangan : JT = Jumlah kegiatan produktif (langsung dan tidak langsung) dalam 8 shift pengamatan WTpl = Rata-rata waktu transaksi produktif langsung WTptl = Rata-rata waktu transaksi produktif tidak langsung ) Menentukan jumlah SDM yang dibutuhkan unit/hari Sehingga, Σ SDM/hari = (B.Kij = JT x WT pl+ptl ) : JKE = 84 : 6 = 14 orang Σ SDM dengan koreksi hari kerja efektif = Σ SDM tanpa koreksi x (1 : hari kerja efektif dalam setahun) = 14 x (1 : 71) = 0,58 orang dibulatkan menjadi 1 orang Σ SDM yang diperlukan = 14 + 1 = 15 orang Keterangan : B.K ij = Besar beban kerja unit/hari J.K.E = Jumlah waktu untuk melakukan kegiatan produktif (langsung dan tidak langsung, dinyatakan dalam satuan jam) Dengan menggunakan perhitungan proporsi, diketahui bahwa dengan kemampuan perawat dalam mengerjakan pasien sehari adalah 4 orang (berdasarkan rata-rata pasien yang ditangani oleh seluruh sampel), dapat diartikan bahwa dalam shift dengan jumlah rata-rata pasien 8 orang per hari, dibutuhkan minimal 7 orang perawat untuk shift atau 4 orang perawat untuk 1 shift untuk melakukan hanya perawatan hemodialisa. Untuk itu, kekurangan tenaga perawat sangat dirasakan terutama untuk shift siang yang
98 hanya dialokasikan sebanyak 5 orang perawat. Terdapat perbedaan hasil jika menggunakan standar waktu istirahat dalam sehari untuk pekerja dengan 6 hari kerja dalam seminggu dengan jumlah waktu produktif yang dihasilkan berdasarkan tabel pengamatan menggunakan time and motion study. Hasil yang berbeda ini dikarenakan jumlah waktu produktif berdasarkan tabel pengamatan memang melebihi jumlah waktu kerja normal dalam sehari untuk pekerja dengan 6 hari kerja seminggu. Dalam hal ini peneliti menyarankan untuk melakukan penambahan sejumlah orang perawat di Instalasi Hemodialisa RSUP Persahabatan. Menurut peneliti, penghitungan dengan menggunakan standar waktu istirahat sebesar 1 jam lebih baik dengan tujuan menjaga kualitas pelayanan karena perawat tetap bekerja dalam waktu yang cukup. Dalam Undang-undang No.13 paragraf 4 mengenai waktu kerja pasal 78 butir pertama sub b, disebutkan bahwa waktu kerja lembur hanya dapat dilakukan paling banyak 3 jam dalam 1 hari atau 14 jam dalam 1 minggu. Berdasarkan undang-undang tersebut, perawat di Instalasi Hemodialisa RSUP Persahabatan belum melewati batas waktu lembur yang diatur. Walaupun demikian, berdasarkan Peraturan Menteri No.10/MEN/004, waktu kerja perawat di Instalasi Hemodialisa RSUP Persahabatan telah memasuki waktu lembur karena telah melewati 7 jam sehari untuk 6 hari kerja dalam 1 minggu. Namun demikian, perlu diperhatikan bahwa perawat merupakan profesi yang berbeda dengan pekerja lainnya karena bertanggungjawab langsung terhadap nyawa manusia. Sampai sekarang, belum ada aturan yang menyatakan secara spesifik batas waktu lembur untuk tenaga kesehatan seperti yang dijabarkan untuk tenaga kerja dalam UU No.13 tahun 003 tentang Tenaga Kerja. Peneliti sendiri berpendapat bahwa aturan kerja lembur untuk tenaga kesehatan seharusnya lebih membatasi jam lembur untuk mengurangi resiko terjadinya kesalahan dalam pengerjaan pasien yang nantinya akan menimbulkan masalah serius terkait dengan nyawa pasien. Hal ini dikarenakan adanya kemungkinan tenaga kesehatan kelelahan dan berkurang
99 konsentrasinya akibat beban kerja yang terlalu tinggi (Palestin, 006). Lambat laun, hal ini akan berakibat kepada kehilangan motivasi dalam bekerja. Beberapa cara yang dapat dilakukan untuk meningkatkan kembali motivasi adalah dengan pemberian insentif/uang lembur (Ilyas, 011 dan Sriwastuti, 008). Adapun aturan pemberian dan besaran insentif atau upah lembur telah diatur dalam Surat Keputusan Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi Republik Indonesia No.10/Men/I/004 tentang Waktu Kerja Lembur dan Upah Kerja Lembur. Sampai saat ini belum ada insentif/upah lembur yang diberikan oleh RSUP Persahabatan untuk perawat di Instalasi Hemodialisa. Penambahan orang perawat demi menurunkan beban kerja perawat Instalasi Hemodialisa RSUP Persahabatan menurut peneliti sebaiknya dilakukan sesegera mungkin. Hal ini bertujuan untuk menjaga kinerja dan performa perawat agar tetap baik selama memberikan perawatan hemodialisa karena besarnya beban kerja adalah salah satu hal yang mempengaruhi kinerja dari tenaga kerja (Alimul, 003 dan Palestin, 006), dalam hal ini tenaga perawat. Adapun alokasi dari penempatan orang tambahan perawat di instalasi tersebut, peneliti memiliki kecenderungan untuk menempatkannya dalam shift siang. Hal ini dikarenakan alokasi jumlah perawat pada shift pagi dan shift siang yang berbeda, yaitu 7 orang perawat untuk shift pagi dan 5 orang perawat untuk shift siang. Jumlah pasien yang relatif sama pada setiap shift menjadikan peneliti berpendapat bahwa sebaiknya jumlah perawat dalam setiap shift disamakan. Perlu diperhatikan pendapat peneliti dalam hal ini hanya berdasarkan beban kerja dan tidak memperhitungkan aspek yang lain. Dalam mengatasi permasalahan terkait dengan beban kerja yang terjadi di Instalasi Hemodialisa RSUP Persahabatan, ada 3 kemungkinan pemecahan masalah yang bisa dipilih oleh RSUP Persahabatan, yaitu : (1) menambah satu orang tenaga perawat di Instalasi Hemodialisa RSUP Persahabatan, () menambah dua orang tenaga perawat di Instalasi Hemodialisa RSUP Persahabatan, atau (3) memberikan insentif lembur bagi perawat di Instalasi Hemodialisa RSUP Persahabatan daripada menambah
100 tenaga kerja perawat. Peneliti sendiri akan memilih untuk menambah tenaga kerja perawat sebanyak dua orang di Instalasi Hemodialisa RSUP Persahabatan dengan pertimbangan murni hanya kepada analisa beban kerja (peneliti tidak mempertimbangkan cost and benefit di rumah sakit apabila dilakukan penambahan tenaga kerja baru atau membandingkan antara pemberian insentif dengan penambahan tenaga kerja baru). Sebelum dilakukan penambahan kerja tenaga baru, rumah sakit sebaiknya memperhatikan anggaran dan prioritas rumah sakit. Pemenuhan tenaga kesehatan di rumah sakit juga harus selalu dilakukan secara berkesinambungan berdasarkan kepada perubahan pola demand pasien dan juga situasi internal rumah sakit, terutama keuangan. Tidak selalu kekurangan perawat diikuti dengan rekruitmen tenaga baru karena kebijakan untuk memenuhi kekurangan tenaga perawat dilakukan dengan cara bertahap dan disesuaikan dengan alokasi dan yang dimiliki. Tujuannya adalah agar keseimbangan antara anggaran belanja barang dan belanja pegawai dapat tercapai. Karena itulah, tidak ada salahnya jika rumah sakit memiliki tenaga kesehatan yang sifatnya belum tetap/kontrak (Sriwastuti, 008). Berdasarkan hasil depth interview lanjutan oleh informan ST dan YS, alternatif pemecahan masalah dalam menghadapi kekurangan kebutuhan tenaga keperawatan, Informan ST cenderung memilih untuk dilakukan penambahan tenaga perawat. Sementara itu Informan YS menyetujui alternatif apapun yang dipilih sepanjang hasil dan manfaatnya dapat dirasakan oleh Instalasi Hemodialisa RSUP Persahabatan ke arah yang lebih baik. Kalau diminta untuk memilih, kami sih lebih ingin tenaga kerjanya yang ditambahkan disini (Instalasi Hemodialisa RSUP Persahabatan). Walaupun prosesnya terlihat lebih sulit dan memakan waktu, setidaknya lebih jelas ada hasilnya (tenaga perawat ditambahkan). Dibandingkan dengan penambahan insentif sepertinya lebih meragukan, siapa nanti yang akan bayar dari sini? (RSUP Persahabatan) Informan ST
101 Kalau dari Saya, yang penting untuk kemajuan disini saja (Instalasi Hemodialisa RSUP Persahabatan) rasanya tidak menjadi soal alternatif yang mana yang dipilih asalkan mampu menyelesaikan masalah tingginya beban kerja dan kekurangan tenaga perawat. Saya menyetujui mana yang disetujui dari pihak SDM dan nantinya pun akan diajukan semua alternatif dari permasalahan. Informan YS 7.4 Analisa Hasil Depth Interview 7.4.1 Faktor Pengetahuan Seputar Pekerjaan Informasi yang ingin didapatkan dalam depth interview dalam faktor pengetahuan seputar pekerjaan ini bertujuan untuk menggali kebutuhan tenaga kerja terkait pendidikan di Instalasi Hemodialisa menurut ketiga informan tersebut. Pengetahuan seputar pekerjaan yang dimaksud oleh peneliti adalah pendidikan yang didapatkan oleh perawat Instalasi Hemodialisa baik secara formal maupun informal terkait dengan perawatan hemodialisa. Peneliti melakukan penggalian informasi terkait dengan jenis pendidikan apa yang seharusnya sudah didapatkan oleh perawat Instalasi Hemodialisa RSUP Persahabatan. Pada umumnya perawat dibekali tentang PPGD (Pelatihan Penanganan Gawat Darurat) disamping juga dilakukan sosialisasi standar operasional dan pelatihan hemodialisa. Dengan dibekali pelatihan hemodialisa, perawat sudah mengerti cara penggunaan alat kesehatan dan proses hemodialisa. Pelatihan yang diharuskan untuk kami (perawat hemodialisa) hanya pelatihan hemodialisa, sedangkan PPGD menyusul. Kami bekerja mengikuti standar operasional yang sudah ada. Namun biasanya pelatihan-pelatihan yang diharuskan ikut tidak diiringi dengan pembiayaannya sehingga agak menyulitkan kami. Informan ST Dalam Peraturan Pemerintah No.3 tahun 1996 tentang Tenaga Kesehatan dan Keputusan Menteri Kesehatan No.119 tahun 004 tentang Pendirian Pendidikan Diploma Bidang Kesehatan, terdapat enam kelompok
10 pendidikan tenaga kesehatan, yaitu tenaga keperawatan yang meliputi Sekolah Perawat Kesehatan (SPK), Sekolah Pengatur Rawat Gigi (SPRG), Keperawatan, Kebidanan, dan Kesehatan Gigi. Sampai saat ini, perawat di Instalasi Hemodialisa RSUP Persahabatan belum ada yang meraih gelar sarjana. Walaupun demikian, pelayanan hemodialisa di instalasi ini menurut ketiga informan tidak pernah menemukan permasalahan yang berarti. Hal ini menurut peneliti dikarenakan perawat Instalasi Hemodialisa RSUP Persahabatan mengikuti pelatihan hemodialisa. Dengan pelatihan ini didapatkan secara langsung kompetensi yang diharapkan untuk dilakukan dalam keseharian memberikan pelayanan hemodialisa. Berdasarkan pendidikan, diketahui bahwa tingkat pendidikan yang paling rendah adalah SPR (Sekolah Pembantu Rawat). Setingkat diatas SPR adalah SPK (Sekolah Perawat Kesehatan). Jika sudah mengenyam pendidikan SPK, perawat dapat melanjutkannya lagi menjadi D3 atau Akademi Keperawatan yang kemudian dilanjutkan dengan Sarjana Keperawatan (mengurus tentang penyusunan asuhan keperawatan). Setelah itu, barulah perawat baru bisa mengambil gelar Ners (sudah menjalani masa pendidikan profesi perawat). Sangat disayangkan belum ada perawat disini (Instalasi Hemodialisa RSUP Persahabatan) yang sudah meraih gelar sarjana. Saya mengharapkan ada setidaknya satu orang perawat dengan gelar sarjana, sehingga selain mampu menangani pasien dilapangan juga bisa bisa membantu urusan administrasi dan lain-lain. Sarjana lebih bagus, nanti baru diikutkan pelatihan hemodialisa. Informan SA Dari pernyataan diatas dapat disimpulkan bahwa pendidikan merupakan faktor yang sangat diperhatikan di Instalasi Hemodialisa RSUP Persahabatan. Adalah menjadi salah satu tugas bagian Pendidikan dan Pelatihan di suatu instansi untuk bisa memberikan pengembangan karyawan melalui berbagai pendidikan dan pelatihan yang nantinya akan memperkaya pengetahuan menuju pengembangan karyawan yang nantinya akan menjadikan investasi yang tidak ternilai dari instasi tersebut (Nurhalis, 007).
103 Menurut peneliti sendiri, pendidikan merupakan usaha yang dilakukan oleh sebuah pihak akan pihak yang lain yang berada dalam lingkup yang sama untuk membina kepribadian sekaligus mengembangkan kemampuan dengan menggunakan metode yang sifatnya teoritis. Menurut Hasibuan (007), pendidikan sangat berhubungan dengan peningkatan pengetahuan umum dan pemahaman atas lingkungan secara menyeluruh. Bagian Pendidikan dan Pelatihan RSUP Persahabatan sejauh ini telah menjalankan fungsi pendidikannya dengan memberikan wadah yang cukup untuk setiap tenaga manusianya dalam pengembangan kemampuan dan pengetahuan. Alur pendidikan untuk tenaga perawat telah disebutkan dalam Dasar Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI) yang mengacu kepada Undangundang No.0/003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, disebutkan bahwa jenjang pendidikannya adalah sebagai berikut : SPK D3 Keperawatan atau akademi keperawatan Lulusan SLTA S1 Keperawatan Ners Pendidikan lain yang lebih tinggi Gambar 7.1 Skema alur pendidikan tenaga perawat Depth interview lanjutan dilakukan dengan informan ST tentang perbedaan kompetensi perawat D3/akademi keperawatan dengan S1 keperawatan. Informan ST menyatakan bahwa kebanyakan lulusan S1 keperawatan akan lebih sulit mendapatkan pekerjaan dibandingkan dengan lulusan D3 keperawatan/akademi keperawatan. Hal ini dikarenakan gaji yang
104 diharapkan oleh perawat lulusan S1 keperawatan akan lebih besar dibandingkan dengan D3 keperawatan/akademi keperawatan, sedangkan keterampilan yang dimiliki oleh S1 keperawatan relatif dibawah D3 keperawatan/akademi keperawatan karena S1 keperawatan lebih banyak belajar hal-hal yang sifatnya teoritis jika dibandingkan dengan D3 keperawatan/akademi keperawatan yang memang memiliki kurikulum yang mengharuskan lebih banyak turun ke lapangan untuk melakukan praktek ketimbang teori. Hal inilah yang menurut Informan ST menjadi hal utama yang membedakan kompetensi antara lulusan D3 keperawatan/akademi keperawatan. Hal yang sama juga yang membedakan lulusan sarjana keperawatan dengan lulusan Sekolah Perawat Kesehatan (SPK). Lebih lanjut Informan ST menyatakan bahwa penting bagi perawat untuk bisa melakukan seleksi kasus dan kondisi kegawatdaruratan (dalam perawatan apapun, terutama dalam pelayanan hemodialisa) karena akan banyak kasus yang ditemukan dilapangan. Barulah ketika sudah masuk ke sebuah instalasi tertentu, maka harus spesifik keterampilan yang dimiliki sesuai dengan yang dibutuhkan. Hal senada juga disuarakan oleh informan YS dan Informan SA. Bersyukur sampai sekarang kami belum menemukan masalah dalam penanganan pasien yang kondisi yang buruk, misalnya pasien yang dirujuk dari ICU. Biasanya pada pasien yang demikian, kesulitan ditemukan saat pemasangan alat, terlebih lagi jika kondisi pasien yang tidak memungkinkan untuk menjalani perawatan hemodialisa. Pada kasus ini, biasanya kami merujuk kembali pasien sampai kondisinya memungkinkan untuk menerima perawatan (hemodialisa). Informan ST Terpenuhinya sarana pendidikan dan kesadaran akan kebutuhan pendidikan yang dimiliki oleh RSUP Persahabtaan dan Instalasi Hemodialisa RSUP Persahabatan, menurut peneliti adalah sebuah langkah yang baik untuk menjadikan meningkatkan pelayanan kesehatan yang diberikan dan juga meningkatkan produktivitas tenaga manusianya. Sesuai dengan hasil
105 penelitian yang dilakukan oleh Nurhalis (007) terhadap kinerja pegawai dan karyawan badan Diklat Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam, pendidikan dan pelatihan secara bersama-sama merupakan faktor yang sangat berpengaruh terhadap produktivitas kinerja para pegawainya. Hal ini pun sesuai dengan penelitian yang dilakukan oleh Niven (00) dalam Goel (00), yang menyebutkan bahwa pendidikan merupakan satu dari lima faktor yang meningkatkan kinerja, sepanjang pendidikan tersebut merupakan pendidikan yang bersifat aktif (berasal dari penggunaan buku-buku, informasi dan keaktifan mencari informasi). Dalam penerapannya di Instalasi Hemodialisa, pendidikan ini juga bisa didapatkan dari pelatihan hemodialisa, pelatihan kegawatdaruratan dan pelatihan lain, serta hal-hal yang berkaitan dengan prosedur pelaksanaan perawatan hemodialisa, misalnya standar operasional prosedur dan asuhan keperawatan. Menurut peneliti sendiri, pendidikan akan menghasilkan pengetahuan yang lebih luas akan suatu hal, sehingga makin banyak pengetahuan yang dimiliki oleh seseorang, akan memberikan pandangan yang lebih luas pula, baik secara positif maupun negatif. Semakin tinggi pendidikan yang dimiliki oleh seseorang, maka akan semakin baik penilaiannya akan sesuatu atas dasar keilmuan yang dimilikinya. Hal ini sejalan dengan hasil penelitian oleh Krisna (01) yang lebih lanjut menyatakan bahwa pendidikan sangat mempengaruhi produktifitas tenaga kerja karena memiliki kemampuan intelektual yang lebih tinggi. Dari adanya perbedaan kebutuhan akan pendidikan yang sebaiknya dimiliki oleh karyawan menurut ketiga responden, peneliti mengambil kesimpulan bahwa ketiga responden lebih mengutamakan perawat yang sudah mendapatkan pelatihan hemodialisa. Hal ini dikarenakan setiap harinya perawat akan lebih sering menangani kasus hemodialisa dibandingkan dengan kasus lain yang lebih umum ditemui oleh perawat di bagian lain, misalnya perawat di Instalasi Rawat Jalan/Rawat Inap. Lebih lanjut dikatakan oleh Nurhalis (007), pendidikan yang secara spesifisik diberikan kepada
106 seseorang dalam rangka mempersiapkan orang tersebut dibidang terkait akan lebih meningkatkan kemampuan dan produktivitas kerja karena tidak terbagi perhatian dengan hal yang lain. Di Instalasi Hemodialisa RSUP Persahabatan itu sendiri, masih ditemukan salah pengertian dalam perawat akan biaya pendidikan dan pelatihan yang selama ini dijalankan. Untuk itu, peneliti berpendapat bahwa perlu dilakukan realisasi dari usulan Informan YS untuk diadakan group discussion secara berkala untuk menghemat biaya, waktu dan sekaligus mampu menambah intensitas komunikasi antar pelayan kesehatan di instalasi tersebut. Hal ini dikatakan oleh Nurhalis (007) sebagai salah satu dari tujuan diadakannya pendidikan dan pelatihan, yaitu untuk meningkatkan hubungan antara atasan dengan bawahan. Selain itu, dengan diadakannya group discussion tersebut, setiap tindakan/kejadian yang terjadi di instalasi tersebut dapat diketahui oleh semua pihak secara berkesinambungan. 7.4. Faktor Keterampilan Depth interview kepada ketiga informan terkait dengan keterampilan bertujuan untuk menggali sejauh mana keterampilan yang dibutuhkan oleh seluruh perawat di Instalasi Hemodialisa menurut ketiga informan. Keterampilan yang dimaksud oleh peneliti adalah keterampilan yang didapatkan oleh perawat Instalasi Hemodialisa baik secara formal maupun informal terkait dengan perawatan hemodialisa. Menurut Nurhalis (007) dan Ilyas (011), pelatihan merupakan proses yang dilakukan secara sistematis untuk mengubah tingkah laku seseorang untuk mencapai tujuan perusahaan. Pelatihan dapat dikaitkan dengan keahlian dan keterampilan seseorang untuk melakukan pekerjaannya. Peneliti melakukan penggalian informasi terkait dengan jenis keterampilan apa yang seharusnya sudah didapatkan oleh perawat Instalasi Hemodialisa RSUP Persahabatan. Kami diharapkan sudah mengikuti pelatihan hemodialisa, PPGD dan beberapa symposium yang memungkinkan untuk kami ikuti. Namun karena
107 setiap hari kami melakukan pelayanan hemodialisa, beberapa dari kami sudah bisa terbiasa walaupun belum pernah mengikuti pelatihan. Dalam jangka waktu 3 tahun biasanya kami sudah mahir dengan sendirinya. Namun demikian, semuanya tergantung dari kemauan perawat masing-masing untuk mau belajar antar sesame perawat, bukan hanya terfokus kepada pasien, namun juga kepada alat kesehatan yang digunakan sehingga penggunaannya dapat dilakukan dengan benar dan tidak cepat rusak. Informan ST Mayoritas perawat sudah mampu mengoperasikan alat hemodialisa sehingga perawatan hemodialisa dapat berjalan. Untuk perawat yang baru dipindahkan ke sini (Instalasi Hemodialisa RSUP Persahabatan), biasanya diajarkan oleh perawat yang lebih senior sambil menunggu jadwal pelatihan hemodialisa berikutnya. Informan YS Menurut Informan YS, kegiatan perawatan hemodialisa sampai saat ini sudah berjalan dengan baik dikarenakan walaupun belum meraih gelar sarjana, hampir seluruh perawat hemodialisa sudah pernah mengikuti setidaknya pelatihan hemodialisa. Lebih lanjut diketahui dari Informan YS, bahwa pelatihan dan simposium yang disediakan dibagian Pendidikan dan Pelatihan RSUP Persahabatan ternyata mengutamakan perawat dengan pengalaman kerja yang sudah cukup lama, yaitu lebih dari 5 tahun. Selama wawancara berlangusng, Informan YS cukup menekankan kembali pentingnya mengadakan group discussion, yang salah satunya juga untuk mengakomodir pendidikan bagi perawat junior. Kebutuhan akan dibuatnya group discussion ini juga dikemukakan oleh Informan SA. Menurut saya lebih baik jika ada semacam program (seperti pelatihan/simposium) yang sifatnya internal (di Instalasi Hemodialisa RSUP Persahabatan) sehingga mampu mengakomodir proses adaptasi perawat terhadap kasus pasien, terutama perawat yang baru dipindahkan (ke Instalasi Hemodialisa RSUP Persahabatan). Sayang sekali sambutan perawat agak kurang bagus. Kecenderungan mereka (perawat) memiliki kemauan sendiri sehingga agak sulit diatur. Informan YS.
108 Keterampilan merupakan hal yang sangat berharga jika ruang lingkupnya memang spesifik mengharapkan dimilikinya keterampilan terkait. Untuk itu, perlu ditingkatkan kompetensi hemodialisa selama mereka (perawat) aktif di instalasi hemodialisa. Hal ini dimaksudkan setidaknya agar didapatkan pemahaman tentang seleksi kasus terkait dengan kasus sulit yang harus dikonsulkan terlebih dahulu dengan kasus yang dapat langsung mereka (perawat) kerjakan. Informan SA Pelatihan atau simposium selalu dilakukan berkala. Simposium yang terakhir Saya dan beberapa perawat diikutkan simposium di Bali. Biasanya dana berasal dari sponsor. Namun demikian, pelatihan/simposium yang seperti itu belum tentu dapat mengakomodir secara spesifik kasus/pasien yang ada di sini (Instalasi Hemodialisa RSUP Persahabatan). Akan lebih baik jika ada sebuah wadah yang secara khusus membahas tentang kasus yang sedang atau pernah kita tangani. Informan YS Dalam menentukan perawat yang akan diikutkan dalam pelatihan/simposium, biasanya berdasarkan kepada pengalaman kerja perawat tersebut di sini (Instalasi Hemodialisa RSUP Persahabatan). Adapun pertimbangannya adalah perawat dengan pengalaman kerja yang cukup akan lebih memahami kondisi lapangan dibandingkan dengan perawat yang baru diaktifkan di sini (Instalasi Hemodialisa RSUP Persahabatan). Informan YS Selama ini pelayanan hemodialisa di Instalasi Hemodialisa RSUP Persahabatan telah berjalan dengan baik. Hal ini dikarenakan sebagian besar perawatnya telah menjalani masa pelatihan hemodialisa dan memiliki kemampuan standar seorang perawat. Selain itu, lingkungan kerja yang baik menurut ketiga informan merupakan salah satu faktor yang menjadikan nilai lebih bagi para perawat untuk bisa saling membantu mengajarkan. Namun demikian, Informan YS menyatakan bahwa penting bagi perawat dan dokter untuk bisa melakukan seleksi kasus dan menentukan kasus mana yang masih bisa dilakukan oleh perawat tanpa pengawasan dokter. Kemampuan semacam
109 ini nantinya akan menjadi salah satu tujuan dari diadakannya group discussion yang direncanakan oleh Informan YS. Berdasarkan data bagian sumber daya manusia RSUP Persahabatan, dari 519 orang perawat dan bidan yang dimiliki oleh RSUP Persahabatan, 306 orang perawat diantaranya telah mengikuti pelatihan. Sampai saat ini, bagian Pendidikan dan Pelatihan RSUP Persahabatan telah merencanakan 56 acara ilmiah/pelatihan/seminar/simposium ke luar RSUP Persahabatan dan 49 acara ilmiah/pelatihan/seminat/simposium di dalam RSUP Persahabatan untuk perawat. Di Instalasi Hemodialisa RSUP Persahabatan itu sendiri, ada pelatihan ke luar yang direncanakan untuk perawat, yaitu Pelatihan Keperawatan Intensif Ginjal Dialisis Hipertensi dan Workshop dan Simposium Manajemen Hepatitis C di Unit Hemodialisis. Namun demikian, perlu diperhatikan pula efektifitas dari pelatihan yang selama ini telah diberikan. Pelaksaan program pelatihan baru dapat dikatakan berhasil apabila setelah melalui program tersebut, terjadi proses perubahan dalam hal peningkatan kemampuan dalam melaksanakan tugasnya atau terjadi perubahan perilaku yang tercermin juga ke dalam sikap dan produktivitas kerjanya (Nurhalis, 007 dan Ilyas, 011). Pelaksanaan pelatihan harus melalui perencanan kebutuhan dan dirancang dengan baik secara sistematis dalam penyampaiannya sehingga dapat mencapai tujuan dalam penyampaian informasi kepada para peserta pelatihan dengan maksimal. Selain itu, interaksi juga dirasakan sangat penting dalam berlangsungnya sebuah pelatihan (Nurhalis, 007). Berdasarkan hasil depth interview, dapat disimpulkan bahwa standardisasi perawatan hemodialisa sejauh ini jelas diperhatikan dengan mengikutkan perawat dalam pelatihan-pelatihan dan simposium yang berkala dilakukan. Adapun rangkuman keterampilan keperawatan yang diharapkan untuk dimiliki oleh perawat hemodialisa adalah sebagai berikut :
110 Tabel 7.1 Keterampilan yang diharapkan untuk dimiliki Kategori Keterampilan tentang kegawatdaruratan Melakukan perawatan hemodialisa Keterampilan non medis lainnya perawat hemodialisa Keterampilan Kemampuan mengindentifikasi dan menangani masalah yang menngancam nyawa Penanggulangan penderita gawat darurat tanpa menggunakan alat dan obat terutama untuk pasien henti jantung dan ABC (airway, breathing dan circulation) Resusitasi cairan Identifikasi syok dan pemeriksaan tanda vital Mengukur tanda vital, tekanan darah, denyut nadi, suhu dan respirasi Mampu mengoperasikan alat hemodialisa, misalnya dialyzer Mampu menentukan jumlah darah yang akan didialisis berdasarkan berat badan Melakukan injeksi intravena dan pemasangan jarum intravena Melakukan penilaian terhadap kualitas dari perawatan hemodialisa melalui assessment dan evaluasi, dari aspek operasional alat kesehatan yang digunakan maupun pasien Mendekatkan diri dengan pasien dan keluarga pasien dengan melakukan komunikasi yang baik Melakukan pengisian rekam medik pasien hemodialisa dengan benar Menciptakan suasana kondusif untuk mengembangkan diri terutama secara informal Berdasarkan tabel 7.1 diatas, peneliti menyimpulkan bahwa perawat di Instalasi Hemodialisa harus setidaknya pernah mengikuti : (1) pelatihan hemodialisa, () Pelatihan Penangangan Gawat Darurat (PPGD), (3) simposium dan sosialisasi asuhan keperawatan hemodialisa terutama di RSUP Persahabatan, (4) simposium dan sosialisasi standar operasional prosedur hemodialisa terutama di RSUP Persahabatan. Adapun pertimbangan peneliti
111 dalam menyimpulkan adalah bahwa pelatihan tersebut mayoritas berisikan tentang hal-hal yang disebutkan dalam tabel 7.1 sebelumnya. Diharapkan pula perawat memiliki keterampilan non medis yang didapatkan melalui interaksi sosial baik antar perawat maupun dengan pasien sehingga dapat menunjang penyampaian pelayanan hemodialisa. Menurut informan SA, pelatihan yang wajib diikuti oleh perawat Instalasi Hemodialisa RSUP Persahabatan adalah pelatihan hemodialisa. Sampai saat ini hanya satu orang perawat di Instalasi Hemodialisa RSUP Persahabatan yang belum mengikuti pelatihan hemodialisa dikarenakan usia perawat yang melewati batas kriteria untuk mendapatkan pelatihan. Berdasarkan keterangan dari informan ST, dapat digambarkan secara keseluruhan bahwa pelatihan hemodialisa yang disarankan untuk diiikuti perawat sangat membantu sekali dalam meningkatkan pendidikan perawat dalam beberapa hal, terutama tentang pekerjaannya dalam memberikan pelayanan di Instalasi Hemodialisa RSUP Persahabatan. Kenyamanan pasien dalam berobat juga dipengaruhi oleh pendidikan yang dimiliki oleh perawatnya. Oleh karena itu, minimal perawat Instalasi Hemodialisa RSUP Persahabatan harus sudah pernah mengikuti pelatihan hemodialisa. Keterampilan lain yang seharusnya juga dimiliki oleh perawat selain tentang hemodialisa jika dirangkum dari ketiga responden antara lain Pertolongan Penderita Gawat Darurat (PPGD), keterampilan yang berkaitan dengan hal-hal yang tertera dalam standar operasional prosedur serta asuhan keperawatan perawatan hemodialisa serta aktif dalam simposium yang diadakan secara berkala. Cara lain untuk meningkatkan keterampilan perawat adalah melalui interaksi bersama dengan perawat senior. Dalam pelaksanaannya, terdapat kesulitan yang dihadapi untuk merealisasikan group discussion ini. Untuk itu, diperlukan pendekatan informal untuk mensosialisasikan maksud dan tujuan dari diadakannya group discussion demi terlaksananya program ini. Namun demikian, berdasarkan ketiga informan, peneliti dapat menarik kesimpulan bahwa hampir seluruh perawat di Instalasi Hemodialisa RSUP Persahabatan
11 telah memiliki keterampilan yang dibutuhkan, sehingga pelayanan hemodialisa dapat berlangsung. Hal seperti ini saya rasa cukup mengganggu pelayanan. Mungkin saja perawat disini (Instalasi Hemodialisa RSUP Persahabatan), sudah merasa cukup baik dalam pelayanan atau menganggap kami (tenaga dokter) yang kurang cakap. Hasilnya adalah kondisi mereka (perawat) yang susah diatur. Namun ini hanya dari pandangan Saya pribadi. Informan YS Berdasarkan keterangan dari informan YS diatas, terlihat adanya sedikit ketidakpuasan akan perilaku (yang dipengaruhi oleh pendidikan dan keterampilan) dari perawat yang cenderung ingin menyelesaikan kasus pasien sendiri berdasarkan kemampuan mereka. Lebih lanjut ditambahkan oleh Informan SA bahwa keterampilan yang dibawah kompetensi menyebabkan kondisi yang cenderung kurang kondusif dalam pelayanan hemodialisa. Apabila perawat masih belum mampu menjalankan perawatan hemodialisa, berbahaya sekali jika dilepas tanpa pengawasan karena akan membahayakan pasien jika salah memberikan tindakan. Selain itu, waktu akan banyak yang terbuang jika perawat masih bingung menentukan apa yang harus dilakukan. Informan SA Selain membahayakan pasien, perawat dengan kompetensi yang rendah akan membuat pasien menunggu lebih lama karena biasanya perawat tersebut menunggu instruksi dari perawat yang lebih senior untuk menentukan tindakan. Hal ini Saya nilai sebagai kegiatan yang tidak efektif. Informan YS Dalam pelaksanaannya, perawatan hemodialisa di Instalasi Hemodialisa RSUP Persahabatan memiliki standar operasional prosedur dan asuhan keperawatan, yang oleh ketiga informan dinyatakan urgensinya sebagai standar minimal dalam memberikan pelayanan hemodialisa. Hal ini yang mungkin menjadi salah satu penyebab tidak pernah ditemukan masalah yang berarti selama perawatan hemodialisa. Walaupun selama pengamatan terlihat bahwa perawat hemodialisa telah melaksanakan hampir semua
113 tahapan yang tercakup dalam asuhan keperawatan dan standar operasional prosedur perawatan (peneliti tidak melakukan penilaian kinerja karena diluar batasan penelitian) perlu dilakukan penilaian yang lebih akurat terhadap kualitas kerja perawat di Instalasi Hemodialisa RSUP Persahabatan. 7.4.3 Faktor Sikap Depth interview kepada ketiga informan terkait dengan sikap bertujuan untuk menggali kebutuhan tenaga kerja terkait dengan perilaku perawat di Instalasi Hemodialisa RSUP Persahabatan. Peneliti melakukan penggalian informasi terkait dengan perilaku yang seharusnya dimiliki oleh perawat Instalasi Hemodialisa RSUP Persahabatan agar dapat memberikan perawatan hemodialisa dengan baik. Perawat diharapkan mampu untuk selalu menjaga sikapnya disini (Instalasi Hemodialisa RSUP Persahabatan) untuk menghindari terjadinya konflik baik sesame rekan kerja, dengan dokter atau dengan pasien. Jika sudah terjadi konflik pasti akan berimbas kepada kinerja karena rasanya pasti tidak nyaman jika bekerja dalam lingkungan yang berkonflik. Informan SA Hubungan antar perawat dan perawat-dokter di Instalasi Hemodialisa juga ditentukan oleh keterampilan yang dimiliki oleh masing-masing perawat. Hal ini dinyatakan oleh Informan ST sebagai berikut : Saya rasa perawat di sini (Instalasi Hemodialisa RSUP Persahabatan) sudah cukup mampu menjalankan perawatan hemodialisa. Hal ini dikarenakan kami saling mengajarkan satu sama lainnya dan juga kami diikutkan dalam pelatihan/simposium, terutama pelatihan hemodialisa. Hal tersebut sangat membantu kami dalam bekerja, terutama komunikasi antar perawat dalam hal pekerjaan. Namun jika ada perawat yang belum mengerti atau belum mengikuti pelatihan, rasanya agak segan untuk memberikan tugas karena tidak nyambung. Informan ST
114 Rasanya sulit untuk bekerja sama dengan perawat yang sulit diajak komunikasi. Terlebih lagi kalau situasinya mengharuskan pengerjaan yang cepat. Lebih baik memberikan tugas kepada perawat yang nyambung jadi tidak buang-buang waktu. Terlebih lagi kalau perawatnya mengerjakan tugas yang kita kasih sambil merengut. Tidak ikhlas. Kalau sudah begitu rasanya apapun yang dikerjakan pasti tidak dilakukan dengan benar karena tidak fokus. Nantinya agak kurang enak dilihat pasien. Informan ST Selain menjalin hubungan yang baik dengan antar perawat dan dokter, perawat juga diharapkan untuk selalu melakukan hubungan yang baik dengan pasien. Hubungan yang baik dengan pasien memberikan dampak yang baik pula terhadap kualitas pelayanan yang diberikan. Hal ini dinyatakan oleh Informan YS yang mengatakan bahwa perawatan tidak akan maksimal jika tidak ditunjang oleh sikap yang baik sehingga memberikan performa yang baik. Hal ini sejalan pula dengan yang dikemukakan oleh Kawonal (006) dan Ramelan (1999) Sebagai pelayan kesehatan, mereka pasti harus ramah, pinter, memahami apa yang diinginkan pasien. Dengan demikian kinerja mereka akan lebih baik terlihat di mata kita (dokter) dan efektif dalam segi waktu. Informan YS Pasien di sini (Instalasi Hemodialisa RSUP Persahabatan) adalah pasien tetap yang kami temui hampir setiap hari dalam seminggu. Hal ini yang membuat kami mudah akrab dengan pasien. Terlebih lagi kalau perawat yang mampu bekerja dengan gesit, bekerja dengan benar dan mengerti apa maunya pasien. Pasien disini paling senang jika ditanyakan kabarnya atau apa yang dirasakan pasien selama perawatan. Kalau kita (perawat) kurang bisa mendekatkan diri kepada pasien dan pandai-pandai bersikap, dimarahi pasien sudah biasa, apalagi untuk pasien baru. Kalau pasien lama biasanya sudah kenal jadi tidak pernah marah-marah keterlaluan. Informan ST Lebih lanjut Informan YS menyatakan bahwa masih perlu ditingkatkan lagi hubungan perawat dengan atasan.
115 Kalau Saya perhatikan, mereka (perawat) sudah cukup akrab dengan pasien bahkan sudah sering rekreasi bersama. Namun demikian hubungan dengan atasan masih perlu ditingkatkan. Salah satunya dengan cara mengadakan group discussion sehingga interaksi dapat terjalin secara informal namun tetap edukatif dan bermanfaat untuk semuanya. Sayang sekali hal ini masih belum bisa disepakati. Informan YS Hambatan yang terjadi dalam pelaksanaan usulan Informan YS menurut peneliti dapat terselesaikan dengan baik melalui komunikasi antara pihak, dengan meluangkan waktu yang cukup agar bisa saling menjelaskan maksud dan tujuan. Sampai sejauh ini, hal ini belum maksimal dilakukan dikarenakan keterbatasan waktu yang dimiliki oleh Kepala Instalasi dan Dokter Jaga Hemodialisa RSUP Persahabatan. Sementara itu, hubungan yang baik terjalin antara pasien dengan perawat di Instalasi Hemodialisa RSUP Persahabatan karena variasi pergantian pasien hampir tidak ada (pasien sudah terjadwal tetap) dan terkadang dilakukan pula kegiatan pengakraban diri antara perawat dengan pasien. Rekreasi bersama yang dilakukan secara berkala (setahun sekali selama hampir berjalan 5 tahun) berjalan dengan baik dan terbukti dapat menjaga harmonisasi hubungan antara perawat-pasien di Instalasi Hemodialisa RSUP Persahabatan. Hubungan perawat dengan atasan cenderung dirasakan kurang karena terbatasnya waktu berinteraksi antara perawat dengan atasan dan belum ada wadah yang mengakomodir hal tersebut. Secara berkala kami (perawat) sering mengadakan rekreasi bersama dengan pasien dan keluarganya. Tempat tujuan tidak jadi masalah, yang penting kebersamaannya. Informan ST Hal yang perlu ditingkatkan lagi menurut Saya mungkin interaksi saat perawatan hemodialisa berlangsung (saat pasien sudah dipasangkan alat sampai dengan pencabutan alat tanda perawatan telah selesai). Informan SA Dari hasil wawancara dengan ketiga informan, diketahui bahwa perawat yang dibutuhkan terutama di Instalasi Hemodialisa adalah perawat
116 yang tanggap, gesit dan bertindak dengan benar karena ditunjang dengan pengetahuan dan keterampilan yang cukup. Selain itu, perawat diharapkan juga mampu memliki kemampuan untuk berkomunikasi dengan baik (dengan pasien maupun dengan atasan) yang ditunjang oleh mimik wajah, sikap serta tutur kata yang menyenangkan (seperti misalnya menanyakan apa kabar hari ini atau kondisi yang dirasakan selama sedang melakukan cuci darah) serta memiliki kemauan untuk selalu terbuka dalam pengembangan dirinya masingmasing (baik terhadap atasan maupun sesama rekan kerja). Sejauh ini, belum pernah terjadi hal-hal yang merugikan jalannya perawatan hemodialisa dikarenakan perawat atau kepala instalasi/dokter jaga yang bermasalah satu sama lain. Jika hal tersebut terjadi, selain mengganggu jalannya perawatan hemodialisa, dikhawatirkan pula akan berpengaruh terhadap Instalasi Hemodialisa RSUP Persahabatan itu sendiri baik dimata pasien maupun dimata direksi yang lain. Segala bentuk kegiatan yang sifatnya meningkatkan sikap perawat terhadap pasien sebaiknya terus dilakukan, baik secara informal (jalan-jalan/refreshing bersama pasien dan keluarga pasien), maupun semiformal (group discussion antara perawat dengan dokter secara berkala untuk membahas baik kasus terhadap pasien maupun terhadap alat dan bahan yang tersedia di Instalasi Hemodialisa RSUP Persahabatan).
BAB 8 KESIMPULAN DAN SARAN 8.1 Kesimpulan Hasil penelitian secara umum menggambarkan adanya kesenjangan antara beban kerja yang diterima oleh perawat Instalasi Hemodialisa dengan tenaga kerja yang tersedia, sehingga dibutuhkan penambahan tenaga kerja sebanyak satu orang perawat (berdasarkan hasil hitung waktu produktif) atau dua orang perawat (berdasarkan standar waktu istirahat minimal). Selain itu, hasil depth interview menunjukkan bahwa tenaga perawat yang dibutuhkan di Instalasi Hemodialisa RSUP Persahabatan menurut ketiga informan adalah serendahnya D3 keperawatan yang telah mengikuti pelatihan hemodialisa terakreditasi, Pelatihan Penanganan Gawat Darurat (PPGD), symposium dan sosialisasi asuhan keperawatan hemodialisa terutama di RSUP Persahabatan, serta simposium dan sosialisasi standar operasional prosedur hemodialisa terutama di RSUP Persahabatan. Selain itu, selama menjalankan tugasnya, perawat diharapkan memiliki pengetahuan dan keterampilan berdasarkan standard operational procedur dan asuhan keperawatan perawatan hemodialisa. Dari aspek keterampilan, yang dibutuhkan selain keterampilan mengenai perawatan hemodialisa, perawat juga harus memiliki keterampilan dasar keperawatan (misalnya memasang infus) dan seleksi kasus kegawatdaruratan untuk pasien, sehingga penangangan pasien dapat tepat dan cepat (detail keterampilan yang diharapkan dapat dilihat pada tabel 7.1). Dari aspek sikap, diperlukan perawat dengan kesigapan dan mau untuk belajar mengembangkan diri secara informal, yaitu dengan mendekatkan diri kepada pasien demi tersampaikannya pelayanan hemodialisa yang maksimal dan secara formal, yaitu melalui simposium/pelatihan/diskusi terkait dengan kasus pasien atau penggunaan alat dan bahan di Instalasi Hemodialisa RSUP Persahabatan.
a. Karakteristik Perawat Instalasi Hemodialisa Perawat Instalasi Hemodialisa RSUP Persahabatan memiliki variasi dalam hal pendidikan, usia dan lamanya bekerja. Berdasarkan pendidikannya, belum ada perawat di Instalasi Hemodialisa RSUP Persahabatan yang meraih gelar sarjana. Berdasarkan usianya, dapat dikatakan bahwa mayoritas perawat di Instalasi Hemodialisa RSUP Persahabatan masih dalam rentang usia produktif. Berdasarkan pengalaman bekerja, perawat Instalasi Hemodialisa RSUP Persahabatan telah memiliki pengalaman setidaknya satu tahun diluar pengalaman kerjanya di instalasi hemodialisa. b. Waktu Kerja yang Tersedia Perawat Instalasi Hemodialisa bekerja selama 6 hari dalam seminggu dan terbagi dalam shift (shift pagi jam 07.00 13.00 WIB sedangkan shift siang dari jam 13.00 19.00 WIB). Beban kerja perawat yang dirasakan terlalu tinggi berdasarkan hasil wawancara mendalam dengan salah satu informan disebabkan oleh lebihnya waktu kerja dari yang disediakan (untuk shift pagi jam 07.00 14.00 WIB dan shift siang 14.00 0.00 WIB) c. Permasalahan terkait Pelayanan Hemodialisa Tingginya beban kerja yang diemban oleh perawat di Instalasi Hemodialisa RSUP Persahabatan disebabkan oleh waktu kerja yang lebih panjang dari yang seharusnya. Jika dihitung berdasarkan waktu kerja produktif yang didapatkan pada hasil penelitian, hanya dibutuhkan tambahan satu orang perawat. Namun demikian, hasil perhitungan dengan menggunakan metode Ilyas melalui pendekatan time and motion study menggunakan waktu istirahat tiap 4 jam minimal dalam sehari dijadikan dasar pertimbangan peneliti untuk menyatakan bahwa dibutuhkan tambahan dua orang perawat yang sebaiknya dipekerjakan pada shift siang. d. Proporsi waktu Aktivitas Perawat Instalasi Hemodialisa Dapat disimpulkan dengan waktu kerja yang tersedia dalam satu shift setiap individu perawat selama 7 jam 46 menit, proporsi waktu
produktif dan non produktif sebesar 6 jam 0 menit dan 1 jam 6 menit menunjukkan bahwa aktivitas perawat Instalasi Hemodialisa cukup padat sehingga beban kerja dirasakan cukup besar. 8. Saran a. Bagi RSUP Persahabatan Menambah tenaga perawat sebanyak dua orang yang diaktifkan pada shift siang dalam rangka mengefektifkan tenaga profesi perawat dalam memberikan pelayanan hemodialisa di Instalasi Hemodialisa RSUP Persahabatan. Dalam hal ini RSUP Persahabatan diharapkan telah menyesuaikan pemenuhan kebutuhan tenaga dengan anggaran dan prioritas rumah sakit Meningkatkan dan melaksanakan sistem rekruitmen yang mengutamakan perawat dengan pendidikan serendahnya adalah D3, terutama untuk perawat Instalasi Hemodialisa RSUP Persahabatan. Tingkat pendidikan yang serendahnya D3 ini berdasarkan pertimbangan bahwa Instalasi Hemodialisa RSUP Persahabatan merupakan sebuah instalasi yang banyak memberikan pelayanan sifatnya teknis sehingga keberadaan lulusan D3 keperawatan lebih dibutuhkan dibandingkan dengan lulusan S1 keperawatan yang cenderung lebih teoritis atau lulusan Sekolah Perawat Kesehatan (SPK) Menambah jumlah pelatihan dan simposium dengan beban biaya yang seminimal mungkin atau nol bagi perawat terutama perawat Instalasi Hemodialisa RSUP Persahabatan, baik yang perawat junior maupun perawat senior. Selain itu, jenis pelatihan yang diberikan kepada perawat di Instalasi Hemodialisa RSUP Persahabatan sebaiknya mampu mengakomodir kebutuhan keterampilan perawat di lapangan, misalnya pelatihan dan simposium untuk pasien infeksius
10 Memberikan tambahan insentif lembur untuk perawat di Instalasi Hemodialisa sebagai penghargaan atas kinerjanya yang melewati batas jam yang telah ditentukan b. Bagi Instalasi Hemodialisa RSUP Persahabatan Menetapkan sistemasi pembagian jatah pelatihan dan simposium yang jelas, sehingga perawat junior juga dapat mengembangkan potensi diri Sebagai bahan pertimbangan dalam memberlakukan sistem reward untuk perawat yang telah bekerja dengan baik melewati jam kerjanya Membentuk satu wadah yang mampu bersifat informal sekaligus formal untuk bisa saling mengedukasi atau bertukar fikiran atau meningkatkan intensitas interaksi antar tenaga kesehatan di Instalasi Hemodialisa RSUP Persahabatan c. Bagi peneliti selanjutnya Melanjutkan penelitian untuk menentukan shift kerja yang optimal di Instalasi Hemodialisa RSUP Persahabatan berdasarkan beban kerja per shift dengan penambahan jumlah tenaga dua orang perawat Melanjutkan penelitian terkait dengan kualitas kinerja dan performa dari perawat Instalasi Hemodialisa menggunakan standard operational procedur dan atau asuhan keperawatan sebagai salah satu instrument penilaian Melanjutkan penelitian untuk menganalisa cost and benefit dari direkrutnya tenaga perawat sebagai orang atau 1 orang atau tidak merekrut sama sekali namun memberikan insentif lembur yang lebih tinggi. Hal ini dimaksudkan untuk efisiensi biaya di Instalasi Hemodialisa RSUP Persahabatan dengan tetap mengutamakan pelayanan yang prima
DAFTAR REFERENSI Departemen Tenaga Kerja dan Transmigrasi RI. UU No. 13 tahun 003 tentang Tenaga Kerja. Jakarta. 003. Diunduh dari http://www.nakertarans.go.id pada 8 September 01. Kementrian Pendidikan RI. Undang-undang No.0/003 tentang Sistem Pendidikan Nasional sebagai dasar untuk Dasar Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI). Jakarta. 003. Kementrian Kesehatan RI. Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia No.1796/MenKe/PER/III/011 tentang Registrasi Tenaga Kesehatan. Jakarta. Republik Indonesia. 011. Kementrian Kesehatan RI. Surat Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia No.81/MenKes/SK/I/004 tentang Pedoman Penyusunan Perencanaan Sumber Daya Manusia Kesehatan di Tingkat Propinsi, Kabupaten/kota serta Rumah Sakit. Jakarta. 004. Kementrian Tenaga Kerja dan Transmigrasi. Surat Keputusan Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi Republik Indonesia No.10/Men/I/004 tentang Waktu Kerja Lembur dan Upah Kerja Lembur. Jakarta. 004. Kementrian Kesehatan. Keputusan Menteri Kesehatan No.119 tahun 004 tentang Pendirian Pendidikan Diploma Bidang Kesehatan. Jakarta. 004. Pemerintah Republik Indonesia. Peraturan Pemerintah No. 4 tahun 1976 tentang Cuti Pegawai Negeri Sipil. Jakarta. 1976. Pemerintah Republik Indonesia. Peraturan Pemerintah No.3 tahun 1996 tentang Tenaga Kesehatan. Jakarta. 1996.
Aditama, Tjandra Yoga. Manajemen Administrasi Rumah Sakit. Penerbit:. Jakarta. 007. Alimul, Aziz. Riset Keperawatan dan Teknik Penulisan Ilmiah. Salemba Medika. Jakarta. 003. Gillies, DA. Nursing Management : a System Approach. 3 rd Sounders Company. Philadelphia. 1994. edition. W.B. Goel SL, Kumar R, Thakur CP. Management of Hospitals. 4 th volume. Hospital Managerial Services. Deep and Deep Publication. New Delhi. 00. Haryati, Eko. Asuhan Keperawatan Chronic Renal Failure. Bahan Kuliah. Renal Unit RSUD Dr. Moewardi Surakarta. Surakarta. 010. Hasibuan, PM. Manajemen Sumber Daya Manusia. Jakarta. PT Binarupa Bumi Aksara. 007. Ilyas, Yaslis. Perencanaan SDM Rumah Sakit, Teori, Metoda dan Formula. Pusat Kajian Ilmu Kesehatan FKM-UI. C Usaha Prima. 011. Ilyas, Yaslis. Kinerja; Teori, Penilaian dan Penelitian. Pusat Kajian Ilmu Kesehatan FKM-UI. C Usaha Prima. 00. Iskandar, D. Rumah Sakit, Tenaga Kesehatan dan Pasien. Jakarta. Sinar Grafika. 008. Kawonal, Y. Standar Praktik Keperawatan Profesional di Indonesia. Perawat Nasional Indonesia (PPNI). 006. Miles, Matthew dan Huberman, A Michael. Analisis Data Kualitatif;Buku Sumber Tentang Metode-metode Baru. UIP. Depok. 009
Quede. E.S. Analysis for Public Decisions. Esevier Science Publishing.co.inc. New York. 198. Ramelan, Rahadi. Peningkatan Produktivitas Nasional Melalui Penguasaan Iptek dan Pembangunan Sumber Daya Manusia. UI Press. Jakarta. 1999. Rowland, HS dan Rowland, BL. Nursing Administration Handbook, an Aspen Publication. London. 1980. Siagian, SP. Manajemen Sumber Daya Manusia. Jakarta. Bumi Aksara. 007. Maviglia, SM, et all. Cost-benefit Analysis of a Hospital Pharmacy Barcode Solution. Archive of Internal Medicine 167, pp. 788-794. 007. Nurhalis. Pengaruh Pendidikan dan Pelatihan Terhadap Kinerja Pegawai Badan Diklat Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam. Jurnal Ichsan Gorontalo, vol, No.1 Februari April 007, pp. 563 571. Banda Aceh. 007. Palestin, B. Fungsi Perawat Spesialis agar Terhindar dari Masalah Etik Maupun Hukum. Jurnal Keperawatan dan Penelitian Kesehatan. 006. Gartinah, T. Berbagai Model Pemberian Asuhan Keperawatan yang Dapat Digunakan Dalam Upaya Meningkatkan Mutu Asuhan Keperawatan. Simposium Keperawatan dan Diskusi Panel tentang Pengembangan Organisasi dan Pengelolaan dalam Upaya Meningkatkan Mutu Asuhan Keperawatan di Rumah Sakit. Jakarta. 1995. Supriantoro. Peran dan Pandangan PERSI dalam Menyikapi Persahabatan Paradigma Desain Perumahsakitan. Workshop: Hospital Design and Planning. IKA MARS. 009.
Azhar, A. Analisis Kebutuhan Tenaga Radiografer Pada Unit Radiologi Rumah Sakit Karya Bhakti Bogor tahun 008 dengan WISN. Tesis. Program Pascasarjana Fakultas Kesehatan Masyarakat. 008. Indriana, Nani. Analisis Kebutuhan Tenaga Berdasarkan Beban Kerja di Bagian HRD RS Karya Bhakti Bogor tahun 009. Tesis. Program Pascasarjana Fakultas Kesehatan Masyarakat. 009. Irnalita. Analisis Kebutuhan Tenaga Perawat Berdasarkan Beban Kerja dengan Menggunakan Metode Work Sampling pada Instalasi Gawat Darurat BPK-RSU Dr. Zainoel Abidin Banda Aceh tahun 008. Tesis. Program Pascasarjana Fakultas Kesehatan Masyarakat. 008. Krisna, Melfita. Analisis beban Kerja dan Kebutuhan Tenaga di Instalasi Farmasi Rumah Sakit Jiwa Daerah Provinsi Lampung tahun 01. Tesis. Program Pascasarjana Fakultas Kesehatan Masyarakat. 01. Nurul, Erwina A. Faktor-faktor yang Berhubungan dengan Kinerja Perawat Pelaksana di Unit Stroke dan Lantai III B Rumah Sakit Pusat Pertamina tahun 008. Tesis. Program Pascasarjana Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia. 008. Patuwo. B. Analisis Kebutuhan Tenaga Analisis di Unit Laboratorium Pelayanan Kesehatan Sint Carolus tahun 005. Tesis. Program Pascasarjanan Fakultas Kesehatan Masyarakat. 005. Prihartini, L. Analisis Hubungan beban Kerja dengan Stress Kerja Perawat di Tiap Ruang Rawat Inap RSUD Sidikalang. Tesis. Program Pascasarjana Universitas Sumatera Utara. 007. Rifki, M. Analisis Hubungan Tenaga Dokter Umum berdasarkan Beban Kerja dengan Menggunakan Metode Work Sampling pada Instalasi Gawat Darurat
RSU Kabupaten Tangerang tahun 009. Tesis. Program Pascasarjana Fakultas Kesehatan Masyarakat. 011. Sakka, Ambo. Rencana Pemasaran Instalasi Griya Puspa RSUP Persahabatan tahun 011. Tesis. Program Pascasarjana Fakultas Kesehatan Masyarakat. 011. Saragih, Erlita. Pengaruh Mutu Pelayanan Kesehatan Terhadap loyalitas Pasien Rumah Sakit Umum Herna Medan. Tesis. Program Pascasarjana Ilmu Kesehatan Masyarakat Universitas Sumatera Utara. 010. Simanullang, MSD. Hubungan Antara Tingkat Pengetahuan Suami Tentang Perawatan Kehamilan dengan Partisipasi dalam Perawatan Kehamilan di Klinik Bersalin. Tesis. Program Pascasarjana Ilmu Kesehatan Masyarakat Universitas Sumatera Utara. 010. Sriwastuti, Ermilda. Perencanaan SDM Medis dan Keperawatan RSUD H. Abdul Manap, Jambi tahun 008-013. Tesis. Program Pascasarjana Fakultas Kesehatan Masyarakat. 008. Susana, S. Analisis Jumlah Kebutuhan Tenaga dengan Metode Workshop Indicator Staffing Need (WISN) di Sub Unit Rekam Medis Rumah Sakit Pertamina Jaya tahun 011. Tesis. Program Pascasarjana Fakultas Kesehatan Masyarakat. 011. Warongan, Eros Syah. Analisis Beban Kerja Perawat dengan Menggunakan Metode Work Sampling pada Unit Rawat Jalan Rumah Sakit Haji Jakarta tahun 006. Tesis. Program Pascasarjana Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia. 006.
16 Yuliastuti, Iing. Pengaruh Pengetahuan, Keterampilan, dan Sikap Terhadap Kinerja Perawat dalam Penatalaksanaan Kasus Flu Burung di RSUP H. Adam Malik tahun 007. Tesis. Program Pascasarjana Universitas Sumatera Utara. 007. Nurini, Ismonah dan Purnomo. Analisis Faktor-faktor yang meningkatkan Kepatuhan Hemodialisa Pada Pasien Chronic Kidney Disease (CKD) di Rumah Sakit Telogorejo Semarang. Skripsi. Ilmu Keperawatan STIKES Telogorejo Semarang. 011. Asuhan Keperawatan Instalasi Hemodialisa RSUP Persahabatan. Instalasi Hemodialisa RSUP Persahabatan. Jakarta. 01. Standar Operasional Prosedur Perawatan Hemodialisa RSUP Persahabatan. Bagian Keperawatan RSUP Persahabatan, Jakarta. 005. Candra, Astari. Jamsostek Usulkan Biayai Cuci Darah dan Kanker. Kompas. Jakarta. 011. Dhaniati, L. Awas, Hipertensi Rusak Ginjal Anda. Kompas. Jakarta. 009.
Lampiran 1 Instrumen Wawancara Pedoman Wawancara Mendalam (Depth Interview) untuk Kepala Instalasi Hemodialisa dan Dokter Jaga Nama Pewawancara :.... Nama Pencatat :.... Tanggal : Tempat : Nama dan Identitas Informan : I. PETUNJUK UMUM 1. Mengucapkan salam dan memperkenalkan diri. Menyampaikan ucapan terimakasih kepada informan atas kesediaan dan waktu yang telah diluangkan untuk diwawancarai 3. Menjelaskan maksud dan tujuan dilakukannya wawancara II. PETUNJUK WAWANCARA MENDALAM 1. Wawancara dan pencatatan dilakukan peneliti sendiri. Informan bebas menyampaikan pendapat, pengalaman saran dan komentar 3. Pendapat, pengalaman, saran dan komentar informan sangat bernilai 4. Jawaban tidak ada yang benar atau salah 5. Semua pendapat, pengalaman, saran dan komentar akan dijamin kerahasiaannya dan hanya digunakan untuk kepentingan penelitian 6. Menyampaikan kepada informan bahwa wawancara ini akan direkam menggunakan alat perekam untuk membantu ingatan pewawancara
Lampiran 1 (lanjutan) III. PELAKSANAAN WAWANCARA III.1 Perkenalan 1. Perkenalan dari pewawancara. Menjelaskan maksud dan tujuan kepada informan 3. Meminta kesediaan informan untuk diwawancarai III. Pokok Pembahasan III..1 Pengetahuan Seputar Pekerjaan 1. Menurut Anda, pendidikan apa yang harusnya sudah didapatkan oleh perawat di Instalasi Hemodialisa RSUP Persahabatan? (Formal : D3/ SPK atau non formal : non medis dengan pelatihan). Menurut Anda, apa dan bagaimana pengetahuan yang harus dimiliki oleh perawat di Instalasi Hemodialisa RSUP Persahabatan? Jelaskan! (pengetahuan tentang alat kesehatan, perawatan hemodialisa, dan standar operasional prosedur hemodialisa) 3. Menurut Anda, sudah cukupkah pengetahuan yang dimiliki oleh perawat di Instalasi Hemodialisa RSUP Persahabatan? Jelaskan! 4. Apa akibat dan konsekuensinya jika mempekerjakan perawat dengan pengetahuan yang dibawah standar? (terhadap pasien, terhadap rekan kerja sesama perawat dan terhadap Anda) III.. Keterampilan 1. Menurut Anda, apa saja keterampilan yang harus dimiliki oleh perawat di Instalasi Hemodialisa RSUP Persahabatan? Jelaskan! (keterampilan tentang kegawatdaruratan, proses perawatan hemodialisa dan keterampilan non medis). Menurut Anda, sudah cukupkah keterampilan yang dimiliki oleh perawat di Instalasi Hemodialisa RSUP Persahabatan? Jelaskan!
19 Lampiran 1 (lanjutan) 3. Apa akibat dan konsekuensinya jika mempekerjakan perawat dengan keterampilan yang dibawah standar? (terhadap pasien, terhadap rekan kerja sesama perawat dan terhadap Anda) 4. Menurut Anda, pelatihan apa yang harusnya sudah didapatkan oleh perawat di Instalasi Hemodialisa RSUP Persahabatan? III..3 Sikap 1. Menurut Anda, apa saja sikap yang harus dimiliki oleh perawat di Instalasi Hemodialisa RSUP Persahabatan? Jelaskan! (perilaku terhadap pasien, terhadap rekan kerja, terhadap atasan, terhadap pekerjaan dan terhadap fasilitas yang ada). Menurut Anda, sudah baikkah sikap yang dimiliki oleh perawat di Instalasi Hemodialisa RSUP Persahabatan? Jelaskan! 3. Apa akibat dan konsekuensinya jika mempekerjakan perawat dengan sikap yang dibawah standar? (terhadap pasien, terhadap rekan kerja, terhadap atasan, terhadap pekerjaan dan terhadap fasilitas yang ada) 4. Cara apa yang terbaik dilakukan untuk meningkatkan dan mempertahankan sikap perawat (terhadap pasien, terhadap rekan kerja, terhadap atasan, terhadap pekerjaan dan terhadap fasilitas yang ada)? Apakah sudah pernah dilakukan sebelumnya? Bagaimanakah implementasinya?
130 Lampiran Instrumen Wawancara Pedoman Wawancara Mendalam (Depth Interview) untuk Perawat Instalasi Hemodialisa Nama Pewawancara :.... Nama Pencatat :.... Tanggal : Tempat : Nama dan Identitas Informan : I. PETUNJUK UMUM 1. Mengucapkan salam dan memperkenalkan diri. Menyampaikan ucapan terimakasih kepada informan atas kesediaan dan waktu yang telah diluangkan untuk diwawancarai 3. Menjelaskan maksud dan tujuan dilakukannya wawancara II. PETUNJUK WAWANCARA MENDALAM 1. Wawancara dan pencatatan dilakukan peneliti sendiri. Informan bebas menyampaikan pendapat, pengalaman saran dan komentar 3. Pendapat, pengalaman, saran dan komentar informan sangat bernilai 4. Jawaban tidak ada yang benar atau salah 5. Semua pendapat, pengalaman, saran dan komentar akan dijamin kerahasiaannya dan hanya digunakan untuk kepentingan penelitian 6. Menyampaikan kepada informan bahwa wawancara ini akan direkam menggunakan alat perekam untuk membantu ingatan pewawancara
131 Lampiran (lanjutan) III. PELAKSANAAN WAWANCARA III.1 Perkenalan 1. Perkenalan dari pewawancara. Menjelaskan maksud dan tujuan kepada informan 3. Meminta kesediaan informan untuk diwawancarai III. Pokok Pembahasan III..1 Pengetahuan Seputar Pekerjaan 1. Menurut Anda, pendidikan apa yang harusnya sudah didapatkan oleh perawat di Instalasi Hemodialisa RSUP Persahabatan? (Formal : D3/ SPK atau non formal : non medis dengan pelatihan). Menurut Anda, apa dan bagaimana pengetahuan yang harus dimiliki oleh perawat di Instalasi Hemodialisa RSUP Persahabatan? Jelaskan! (pengetahuan tentang alat kesehatan, perawatan hemodialisa, kegawatdaruratan, dan standar operasional prosedur hemodialisa) 3. Menurut Anda, sudah cukupkah pengetahuan yang dimiliki oleh perawat di Instalasi Hemodialisa RSUP Persahabatan? Jelaskan! 4. Apa akibat dan konsekuensinya jika bekerjasama dengan perawat dengan pengetahuan yang dibawah standar? (terhadap pasien, alat kesehatan dan terhadap rekan kerja) III.. Keterampilan 1. Menurut Anda, apa saja keterampilan yang harus dimiliki oleh perawat di Instalasi Hemodialisa RSUP Persahabatan? Jelaskan! (keterampilan tentang kegawatdaruratan, proses perawatan hemodialisa dan keterampilan non medis). Menurut Anda, sudah cukupkah keterampilan yang dimiliki oleh perawat di Instalasi Hemodialisa RSUP Persahabatan? Jelaskan! 3. Menurut Anda, pelatihan apa yang harusnya sudah didapatkan oleh perawat di Instalasi Hemodialisa RSUP Persahabatan?
13 Lampiran (lanjutan) 4. Apa akibat dan konsekuensinya jika bekerjasama dengan perawat dengan keterampilan yang dibawah standar? (terhadap pasien, alat kesehatan dan rekan kerja) III..3 Sikap 1. Menurut Anda, apa saja sikap yang harus dimiliki oleh perawat di Instalasi Hemodialisa RSUP Persahabatan? Jelaskan! (perilaku terhadap pasien, terhadap alat kesehatan dan terhadap rekan kerja). Menurut Anda, sudah baikkah sikap yang dimiliki oleh perawat di Instalasi Hemodialisa RSUP Persahabatan? Jelaskan! 3. Apa akibat dan konsekuensinya jika bekerjasama dengan perawat dengan sikap yang dibawah standar? (terhadap pasien, terhadap alat kesehatn dan terhadap rekan kerja) 4. Cara apa yang terbaik dilakukan untuk meningkatkan dan mempertahankan sikap perawat (terhadap pasien, terhadap rekan kerja, terhadap atasan, terhadap pekerjaan dan terhadap fasilitas yang ada)? Apakah sudah pernah dilakukan sebelumnya? Bagaimanakah implementasinya?
133 Lampiran 3 Formulir Tahapan Kerja Perawatan Hemodialisa (Time and Motion Study) Nama Perawat Lama Kerja Pendidikan :. (inisial) :. (tahun) : Berdasarkan pendidikan (D3 / SPK / lain-lain)* Berdasarkan jenis kelamin (laki-laki / perempuan)* Berdasarkan pengalaman kerja (<5 tahun / 5 tahun)* Berdasarkan usia (<30 tahun / 30 tahun)* No Jenis Kegiatan Mulai Waktu Akhir Klasifikasi Total Kegiatan Waktu Produktif L TL Non Total Waktu *) Lingkari yang tepat *) Dalam satuan menit
134 Lampiran 4 Matriks Hasil Depth Interview dengan Ketiga Informan Sub Pokok Pertanyaan Informan ST Informan YS Informan SA Menurut Anda, pendidikan apa yang Setidaknya D3 harusnya sudah keperawatan yang didapatkan oleh perawat D3 keperawatan telah mengikuti Sarjana keperawatan di Instalasi Hemodialisa yang sudah pelatihan yang telah mengikuti RSUP Persahabatan? mengikuti pelatihan hemodialisa. Yang pelatihan hemodialisa (Formal : D3/ SPK atau hemodialisa utama adalah non formal : non medis pelatihan hemodialisa dengan pelatihan) J O B Menurut Anda, apa dan bagaimana pengetahuan yang harus dimiliki oleh perawat di Instalasi Hemodialisa RSUP Persahabatan? Jelaskan! (pengetahuan tentang alat kesehatan, perawatan hemodialisa, dan standar operasional prosedur hemodialisa) Menurut Anda, sudah cukupkah pengetahuan yang dimiliki oleh perawat di Instalasi Hemodialisa RSUP Persahabatan? Jelaskan! Pengetahuan semasa mengikuti pelatihan hemodialisa Walaupun belum ada perawat Instalasi Hemodialisa RSUP Persahabatan yang sudah meraih gelar sarjana, kegiatan perawatan hemodialisa tetap dapat dijalankan dengan baik karena hampir seluruhnya pernah mengikuti pelatihan hemodialisa Memiliki pengetahuan komprehensif terkait dengan perawatan hemodialisa secara spesifik dan kondisi terkait perawatan hemodialisa (misalnya kegawatdaruratan) Masih membutuhkan pelatihan dan pembahasan spesifik (informan menyatakan urgensi pembentukan group discussion secara berkala) terkait dengan pasien dan kasus-kasus yang terjadi di Instalasi Hemodialisa RSUP Persahabatan Pengetahuan seputar asuhan keperawatan hemodialisa, standar operasional prosedur perawatan hemodialisa, perawatan hemodialisa, pendidikan formal yang minimal D3 Masih membutuhkan pengembangan terkait dengan seleksi kasus mana yang bisa dikerjakan sendiri dan mana yang harus dikolaborasikan dengan tenaga dokter yang ada di Instalasi Hemodialisa
135 Sub Pokok Pertanyaan Informan ST Informan YS Informan SA Terhadap pasien : K N O W L E Terhadap pasien : terbengkalai karena l amban dalam pelayanan Terhadap pasien : M embahayakan K esalahan dalam tindakan yang mengganggu jalannya perawatan serta membahayakan keselamatan pasien D G E S K I Apa akibat dan konsekuensinya jika mempekerjakan perawat dengan pengetahuan yang dibawah standar? (terhadap pasien, terhadap rekan kerja sesama perawat dan terhadap Anda) Menurut Anda, apa saja keterampilan yang harus dimiliki oleh perawat di Instalasi Hemodialisa RSUP Persahabatan? Jelaskan! (keterampilan tentang kegawatdaruratan, proses perawatan hemodialisa dan keterampilan non medis) Menurut Anda, sudah cukupkah keterampilan yang dimiliki oleh perawat di Instalasi Terhadap rekan kerja : menyulitkan kerjasama sehingga c enderung untuk menghindari memberikan tanggungjawab kepada perawat bersangkutan Terhadap kepala instalasi dan dokter jaga : Menyulitkan komunikasi karena cenderung tidak ada k esepahaman dalam tindakan perawat Seleksi kasus dan kondisi kegawatdaruratan, semua tindakan perawatan yang dijelaskan dalam s tandar operasional prosedur perawatan hemodialisa RSUP Persahabatan ditunjang dengan kesabaran dan keramahtamahan kepada pasien Sejauh ini belum pernah ditemukan masalah terkait d engan kegagalan keselamatan pasien dan apabila tidak mampu mencukupi secara kompetensi sebaiknya belum t urun memberikan pelayanan dulu Terhadap sesama perawat : K erjasama tim yang tidak baik, ada k etimpangan antar kinerja perawat d alam satu tim atau antar tim Terhadap Anda : Menyulitkan pemberian dan p elaksanaan instruksi Keterampilan standar keperawatan terutama yang berkaitan d engan pelayanan hemodialisa (misalnya memasang infus, penilaian tanda vital, dll) dan kemampuan menyesuaikan diri dengan lingkungan kerja Walaupun sejauh ini perawat instalasi hemodialisa mampu menjalankan Terhadap rekan kerja : Kerjasama tim yang buruk, pelayanan akan cenderung menurun (berdampak terhadap performa 1 shift/1 tim) Terhadap anda : Menghindari pemberian kerja dengan perawat yang bersangkutan (lebih memilih mempercayakan in struksi kepada p erawat yang lain) Keterampilan yang d idapatkan selama pelatihan hemodialisa ( utama), penanganan kegawatdaruratan (penanganan pasien dengan tekanan darah yang menurun, dll) serta kemampuan menyesuaikan diri dengan lingkungan kerja Sudah baik, sejauh ini dokter tidak pernah menuntun jalannya perawatan. Perawat
136 Sub Pokok Pertanyaan Informan ST Informan YS Informan SA L Hemodialisa RSUP perawat dalam perawatan sudah bisa jalan L Persahabatan? Jelaskan! melakukan tindakan sebagai tahapan perawatan hemodialisa hemodialisa, perawat masih perlu pengembangan diri dengan belajar/diskusi terkait sendiri kondisi pasien dan bekerjasama dengan dokter Terhadap pasien : Apa akibat dan konsekuensinya jika mempekerjakan perawat dengan keterampilan yang dibawah standar? (terhadap pasien, terhadap rekan kerja sesama perawat dan terhadap Anda) Menurut Anda, pelatihan apa yang harusnya sudah didapatkan oleh perawat di Instalasi Hemodialisa RSUP Persahabatan? Terhadap pasien : Membahayakan keselamatan pasien terutama jika dibutuhkan penanganan cepat pada kondisi darurat Terhadap rekan kerja: C enderung memilih untuk tidak bekerja sama dengan perawat yang bersangkutan karena akan semakin menyulitkan jalannya perawatan Terhadap kepala instalasi dan dokter jaga : Hilangnya kepercayaan untuk bisa bekerjasama dengan perawat terkait Pelatihan Penanganan Gawat Darurat (PPGD), pelatihan hemodialisa, sosialisasi standar operasional prosedur perawatan Terhadap pasien : Membahayakan keselamatan pasien. Kasian pasiennya juga jadi kelamaan nunggu perawat yang lebih bisa Terhadap sesama perawat : Mengurangi kepercayaan antar kelompok. Hal ini juga bisa memicu terjadinya perselisihan kerja Terhadap Anda : Lebih memilih perawat yang lebih bisa. Kasian nanti jadinya tidak akan terjadi eksistensi diri perawat terkait Pelatihan Penanganan Gawat Darurat (PPGD), pelatihan hemodialisa, sosialisasi standar operasional prosedur perawatan hemodialisa, Membahayakan keselamatan pasien dan memperpanjang waktu tindakan (banyak waktu yang terbuang) Terhadap sesama perawat : Menyulitkan k erjasama dalam tim d an menambah beban kerja perawat yang lain yang bisa untuk m enghandle tugasnya Terhadap Anda : Kalau ada perawat lain yang mungkin bisa diberikan tugas tersebut, sebaiknya jangan diberikan kepada perawat terkait (jika isntruksi dinilai terlalu memberatkannya) Yang terpenting adalah pelatihan hemodialisa dan PPGD. Dalam pelaksanaan perawatan harus mengikuti asuhan keperawatan dan
137 Sub Pokok Pertanyaan Informan ST Informan YS Informan SA hemodialisa simposium standar operasional setidaknya sekali dalam 5 tahun dan prosedur diskusi aktif dalam forum Tidak menyiaampu nyiakan waktu kerja, Menurut Anda, apa saja menjaga alat m perilaku yang harus dan mesin T anggap terhadap dimiliki oleh perawat di Gesit, cepat tanggap hemodialisa dengan kebutuhan pasien, Instalasi Hemodialisa terhadap kebutuhan baik, mampu mampu RSUP Persahabatan? pasien, mampu m enyesuaikan berkomunikasi Jelaskan! (perilaku berinteraksi secara dengan kondisi saat dengan baik (bahasa terhadap pasien, terhadap non formal kepada itu (jika pasien dan gerak tubuh) A T T I T U D E rekan kerja, terhadap atasan, terhadap pekerjaan dan terhadap fasilitas yang ada) Menurut Anda, sudah baikkah perilaku yang dimiliki oleh perawat di Instalasi Hemodialisa RSUP Persahabatan? Jelaskan! Apa akibat dan konsekuensinya jika mempekerjakan perawat dengan perilaku yang dibawah standar? (terhadap pasien, terhadap rekan kerja, terhadap atasan, terhadap pekerjaan dan terhadap fasilitas yang ada) pasien (menanyakan kabar hari ini), sabar jika diomelin pasien Sejauh ini belum ada permasalahan signifikan terkait dengan sikap perawat yang tidak menyenangkan kepada pasien. Sesama rekan kerja pernah terjadi permasalahan namun tidak berhubungan dengan perawatan hemodialisa (masalah pribadi) Mempengaruhi nama instalasi hemodialisa di mata pasien karena perawat yang paling sering berinteraksi dengan pasien malah memperpanjang waktu perawatan sedang ramai sebaiknya perawat terkait terlibat dalam perawatan sebanyak mungkin) Terhadap pasien mungkin iya, namun terhadap atasan belum. Hal ini d ikaitkan dengan keberatan perawat untuk melaksanakan diskusi berkala dalam membahas kasus di Instalasi Hemodialisa R SUP Persahabatan Perawatan tidak akan maksimal karena penilaian perawatan yang baik juga mengikutsertakan sikap dan perilaku yang baik terhadap pasien, rekan kerja maupun atasan C erminan perilaku perawat ditunjukkan oleh suasana kerja di Instalasi Hemodialisa RSUP Persahabatan yang terlihat harmonis terutama hubungan perawat dengan pasien Timbulnya konflik baik yang sifatnya pribadi (yang nantinya akan memperngaruhi juga kinerja dan performa d itempat kerja) ataupun fo rmal (hubungan kerja, terutama dengan atasan)
138 Sub Pokok Pertanyaan Informan ST Informan YS Informan SA Jalan-jalan dengan Jalan-jalan dengan pasien dan pasien dan keluarganya sudah keluarganya (sudah dijalankan dengan berjalan dengan baik Cara apa yang terbaik dilakukan untuk meningkatkan dan mempertahankan sikap perawat (terhadap pasien, terhadap rekan kerja, terhadap atasan, terhadap pekerjaan dan terhadap fasilitas yang ada)? Apakah sudah pernah dilakukan sebelumnya? Bagaimanakah implementasinya? Refreshing dan jalanjalan bersama pasien dan keluarga pasien yang sudah hampir 5 tahun belakangan berjalan dengan baik baik beberapa tahun belakangan. Untuk hubungan dengan atasan perlu dibentuk suatu wadah yang s ifatnya edukatif dan sharing terkait dengan permasalahan (terutama tentang kasus pasien) di Instalasi Hemodialisa RSUP Persahabatan beberapa tahun belakangan). S elanjutnya mungkin perlu ditingkatkan lagi intensitas dan waktu interaksi antar perawat, perawat dengan atasan dan perawat denga pasien (selama perawatan hemodialisa)
139 Lampiran 5 Asuhan Keperawatan Pasien Hemodialisa RSUP Persahabatan
140 Lampiran 6 Acara Ilmiah/Pelatihan/Seminar/Simposium Perawat di Dalam RSUP Persahabatan tahun 011 No Nama Pelatihan Tanggal Lamanya (Jam) 1 Keunggulan Utama STEMActive 6/8/011 4 Abses Paru Yg Meyerupai Empiema Toraks Pd Anak 10/4/011 3 Abses Sub Mandibula Odontogenik 10/5/011 4 Akreditasi Standat Joint Commision International ( JCI ) 1/8/011 16 5 Batuan Hidup Dasar Plus 6//011 8 6 Diklat Prajabatan 1/30/011 06 7 Early Mobilization in Stroke Patient 11/8/011 8 EKG Dasar Bagi Tenaga Perawat 5/5/011 11 9 Flebotomi 4/19/011 4 10 Gladi Gabungan Operasi Pemadam Kebakaran 7/0/011 4 11 Imaging Of Pulmunary Infection 11//011 1 Kematian Pd Kasus Peritonitis dan Sepsis 11/15/011 Kewaspadaan DalamMenghadapi Bencana dan 13 Kebakaran 5/18/011 18 14 Kursus Komputer 10/6/ 011 7 15 Lokakarya RSUP Persahabatan Tahun 011 5/14/011 14 16 Membangung Motivasi dan Kerjasama Yang Efektif 1/18/011 5 17 Meningkatkan Produktivitas SDM Rumah Sakit 11/16/011 3 18 Orientasi Pegawai Pegawai Baru 011 3/16/011 15 19 Pelatihan Bantuan Hidup Dasar Plus 6//011 4 0 Pelatihan Flebotomi 4/19/011 4 1 Pelatihan ICU 7/5/011 58 Pelatihan Operasional ABBM 1/8/011 5 3 Pelatihan Pengelolaan Bahan Berbahaya danberacun 6/30/011 8 4 Pelatihan Service Excellence 10/6/011 8 5 Pelatihan Uji Fungsi Alat Bantu Belajar Mengajar 1/4/011 3 6 Penerapan INA-DRG 5/3/011 3 7 Pengelolaan Bahan Berbahaya dan Beracun 6/30/011 8 8 Peningkatan Kemampuan Teknis Bidan Dalam Standar Asuhan Kebidanan 3/14/011 35 9 Peran Mikrobiologi Dalam Pengendalian Infeksi 9/14/011 3 30 Perhitungan Unit Cost 9//011 19 31 Pola Kuman dan Pola Resistensi RSUP Persahabatan 1/13/011 3 PPI TB 3/1/011 33 Pracoemulsification 11/1/011 34 Screening Dimensia 3/31/011 4 35 Seminar Awam Screening Dimensia 3/31/011 3 36 Seminar Clostridium Difficile Assotiated Diarrhea 7/13/011 3 37 Seminar Meningkatkan Produktivitas SDM Rumah Sakit 11/16/011 3 38 Siang Klinik Asma Tenaga Perawat 6/17/011 4
141 39 Siang Klinik Tenaga Perawat 3/15/011 4 40 Siang Klinik Tuberculosis Tenaga Keperawatan 3/15/011 4 41 Simulasi Workshop Pasien Isolasi 1//011 1 4 Simulasi Workshop Pasien Operasi 1//011 1 Sosialisasi Pelaksanaan Pengumpulan Data RIFASKES 43 011 8/8/011 1 44 Sosialisasi Tata Naskah Dinas & Tata Persuratan /9/011 4 45 Talkshow Asma 6/9/011 4 46 Tindak Lanjut Standar Penerapan Asuhan Kebidanan 6/30/011 4 47 Trining Workshop Pasien Isolasi 1//011 1 48 Ultra Soung Guide Block 11/9/011 49 Workshop 13 Goals TIM KRS-KP 4/15/011 11 Sumber : Bagian pendidikan dan pelatihan RSUP Persahabatan
14 Lampiran 7 Acara Ilmiah/Pelatihan/Seminar/Simposium Perawat Keluar RSUP Persahabatan tahun 011 No Nama Pelatihan Tanggal Lamanya (Jam) 1 Audit Intern Tingkat Lanjutan I /8/011 80 Basic Trauma Cardiac Life Support 1/7/011 3 3 Basic Trauma Cardiac Life Support AGD Dinkes 1/10/011 16 4 Endoscopic Surgery and Stapling Course 5/6/011 3 5 Fellowship Perawatan Bedah Mata Fakoemulsifikasi 6/1/011 70 6 Ho me Care Dalam Praktek Keperawatan Mandiri 11/9/011 4 7 Kegiatan teknis pasca peningkatan kemampuan teknis bidang koordinator dalam penerapan standar dan pedoman kebidanan termasuk inisiasi menyusui dini melalui asuhan sayang ibu dan bayi 8/6/011 8 8 Kongres International Ke- ICAS /18/011 16 Kursus Dasar Ke 10 Tentang Pencegahan dan Pengendalian 9 Infeksi 9/19/011 40 10 Kursus Dasar Pencegahan dan Pengendalian Infeksi 3/14/011 36 11 Kursus Lanjutan PPI ke 5 5/3/011 3 1 Kursus Luka Bakar Penanganan Luka Bakar terkini 5/0/011 16 13 Manajemen Kamar Bedah 11/4/011 3 14 Muktamar ARSPI Semiloka dan Thospex 011 7/6/011 4 15 Orientasi Promosi Kesehatan di Rumah Sakit bagi Pengelola PKRS 10/4/011 6 16 Pelatihan Bagi Pelatih Tenaga Pelayanan Kesehatan Profesional Program Kerjsama Teknik Dengan Alexandra 9/0/011 480 17 Pelatihan BASIC Kamar Bedah 7/1/011 40 18 Pelatihan BASIC Trauma Cardiac Life Support 4/11/011 40 19 Pelatihan Dasar Kamar Bedah 10/7/011 40 0 Pelatihan Kardiovaskuler Tingkat Dasar 7/4/011 480 1 Pelatihan Kegawat Daruratan Basic 11/3/011 40 Pelatihan Keperawatan Intensif Ginjal Dialisis Hipertensi 4/18/011 48 3 Pelatihan Komite Keperawatan Dalam Struktur Organisasi RS 5/30/011 16 4 Pelatihan Konseling Menyususi 5//011 40 5 Pelatihan Manajemen Ruang Rawat Angkatan Ke II 10/9/011 40 6 Pelatihan Pengelolaan Data Dokumen Elektronik Akreditasi RS 7/15/011 16 7 Pelatihan Perawat Neonatal Level & 3 ( NICU ) 9/19/011 16 8 Pelatihan Perawatan Pencegahan dan Pengendalian Infeksi di Rumah Sakit 9/6/011 36 9 Pelatihan Perencanaan dan Penilaian Kinerja Perawat Berbasis Kompetensi /1/011 60 30 Pelatihan Resusitasi Neonatus 5/8/011 16 31 Pelayanan dan Pengembanagan Keperawatan di Rumah Sakit 9/0/011 4 3 Pengembangan Sistem Informasi HI dan AIDS dalam Pelaksanaan Software JAIS TB HI 1/7/011 16
143 33 Penunjang Jabatan fungsional Kesehatan 10/6/011 37 34 Perawatn Pasien Dengan Kemotherapi 1/5/011 40 35 Resusitasi Neonatus 5/8/011 8 36 Review TOT TB / MDR-TB 11/18/011 16 37 Seleksi Peserta Pelatihan bagi Pelatih ( TOT ) bagi Tenaga Yankes Profesional 6/1/011 8 38 Seminar dan Workshop Prolactin Empoworing Mother On Lactation 1/18/011 8 39 Seminar Interaktif dan Workshop Nasional Bidan II 5/14/011 16 40 Seminar Leading Culture Transformation 11/17/011 8 41 Seminar Sehari Keperawatan Indonesia 7/19/011 8 4 Seminar Sehari Keperawatan Indonesia Nursing Expo 011 7/19/011 8 43 Sidang Senat Terbuka dalam Rangka Wisuda D III & DI Politeknik Kemenkes Jakarta 3/19/011 8 44 Simposium & Workshop Paliatif 4/14/011 4 45 Sistem Manajemen K3 1/16/011 3 46 sosialisasi standar Pelayanan Keperawatan di Rumah Sakit 1/6/011 8 47 Training of Trainers Kamar Bedah 1/7/011 4 48 Training Officer Courses 10/4/011 40 Undangan Seminar Standar Kurikulum dan Modul pelatihan 49 jabatan fungsional bidan 8/15/011 8 Undangan Seminar Standar Kurikulum dan Modul Pelatihan 50 Jabatan Fungsional Perawat 9/3/011 8 Workshop dan Symposium Manajemen Hepatitis C di Unit Hemodialisis 7/16/011 16 51 5 Workshop Perawat Mahir ICU 1/10/011 16 53 Workshop Prolactin Empowering Mother On Lactation 1/18/011 8 54 Workshop Surveilans 1/7/011 8 55 Workshop Surveior Akreditasi Rumah Sakit 6/3/011 16 56 Workshop entilasi Mekanik 5/6/011 8 Sumber : Bagian pendidikan dan pelatihan RSUP Persahabatan