BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang

dokumen-dokumen yang mirip
BAB 1 : PENDAHULUAN. diatasi secara dini dapat berlanjut hingga dewasa. (1) anak, baik pada saat ini maupun masa selanjutnya serta dapat menyebabkan

BAB 1 PENDAHULUAN. Salah satu masalah gizi di Indonesi adalah gizi kurang yang disebabkan

1. PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN. Indeks Pembangunan Manusia (IPM) di Indonesia sangat dipengaruhi oleh rendahnya

Lampiran 1: Kuesioner Penelitian KUESIONER A. DATA RESPONDEN

BAB 1 PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. Status gizi menjadi indikator dalam menentukan derajat kesehatan anak.

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. hidup anak sangat tergantung pada orang tuanya (Sediaoetama, 2008).

BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

GIZI IBU HAMIL TRIMESTER 1

BAB I PENDAHULUAN. penting dalam pembangunan. Komponen ini memberikan kontribusi. dalam mewujudkan sumber daya manusia yang berkualitas sehingga

I. PENDAHULUAN. suatu bangsa. Untuk mencapai ketahanan pangan diperlukan ketersediaan. terjangkau dan aman dikonsumsi bagi setiap warga untuk menopang

BAB I PENDAHULUAN. Ilmu Gizi Prof.DR.Dr.Poorwo Soedarmo melalui Lembaga Makanan Rakyat

II. TINAJUAN PUSTAKA DAN KERANGKA PEMIKIRAN. Pangan merupakan kebutuhan mendasar bagi setiap makhluk hidup

BAB I PENDAHULUAN. energi protein (KEP), gangguan akibat kekurangan yodium. berlanjut hingga dewasa, sehingga tidak mampu tumbuh dan berkembang secara

PROGRAM STUDI ILMU GIZI UNIVERSITAS ESA UNGGUL

BAB 1 PENDAHULUAN. kematian balita dalam kurun waktu 1990 hingga 2015 (WHO, 2015).

KARYA TULIS ILMIAH Diajukan sebagai Salah Satu Syarat Untuk Menyelesaikan Pendidikan Diploma III Gizi. Disusun oleh : AGUSTINA ITRIANI J

BAB I PENDAHULUAN. masalah gizi utama yang perlu mendapat perhatian. Masalah gizi secara

HUBUNGAN ASUPAN ZAT BESI DENGAN KADAR HEMOGLOBIN DAN KADAR FERRITIN PADA ANAK USIA 6 SAMPAI 24 BULAN DI PUSKESMAS KRATONAN SURAKARTA

BAB I PENDAHULUAN. sedangkan ASI eksklusif atau pemberian ASI secara eksklusif adalah bayi

SAP Nutrisi Pada Bayi dan Balita

KONSUMSI MAKANAN ANAK BALITA DI DESA TANJUNG TANAH KECAMATAN DANAU KERINCI KABUPATEN KERINCI PROVINSI JAMBI

BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah

SATUAN ACARA PENYULUHAN PENCEGAHAN GIZI KURANG PADA BALITA

BAB I PENDAHULUAN. demikian derajat kesehatan di Indonesia masih terhitung rendah apabila

SATUAN ACARA PENYULUHAN. : Gizi Seimbang Pada Lansia. : Wisma Dahlia di UPT PSLU Blitar di Tulungagung

BAB 1 PENDAHULUAN. cerdas dan produktif. Indikatornya adalah manusia yang mampu hidup lebih lama

BAB I PENDAHULUAN. Sumber Daya Manusia yang baik dan berkualitas sangat diperlukan dalam

1. Pendidikan ibu : 1. Tidak sekolah 2. Tamat SD 3. Tamat SLTP 4. Tamat SLTA 5. Tamat Akademi/Perguruan Tinggi

BAB I PENDAHULUAN. lainnya gizi kurang, dan yang status gizinya baik hanya sekitar orang anak

LAMPIRAN 1. Universitas Sumatera Utara

BAB I PENDAHULUAN. Anak yang sehat semakin bertambah umur semakin bertambah tinggi

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB 1 PENDAHULUAN. yang apabila tidak diatasi secara dini dapat berlanjut hingga dewasa. Untuk

BAB I PENDAHULUAN. KADARZI adalah suatu gerakan yang berhubungan dengan program. Kesehatan Keluarga dan Gizi (KKG), yang merupakan bagian dari Usaha

BAB 1 PENDAHULUAN. pencapaian tumbuh kembang bayi tidak optimal. utama kematian bayi dan balita adalah diare dan pneumonia dan lebih dari 50%

BAB 1 PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. Keberhasilan pembangunan suatu bangsa ditentukan oleh

BAB I PENDAHULUAN. perkembangan anak di periode selanjutnya. Masa tumbuh kembang di usia ini

DAFTAR PUSTAKA. Anonim. (2009). Solusi Alternatf Tanggulangi Gizi Buruk di Indonesia.

BAB I PENDAHULUAN. kembang bayi dan anak, baik pada saat ini maupun masa selanjutnya.

DAFTAR ISI PERNYATAAN...

BAB I PENDAHULUAN. Hasil penelitian multi-center yang dilakukan UNICEF menunjukkan bahwa MP-

BAB I PENDAHULUAN. Masa Kehamilan dimulai dari konsepsi sampai lahirnya janin. Lamanya

PENGETAHUAN, SIKAP, PRAKTEK KONSUMSI SUSU DAN STATUS GIZI IBU HAMIL

BAB I PENDAHULUAN. 1.1.Latar Belakang. Anak prasekolah adalah anak berusia dua sampai lima tahun. Rentang usia

BAB V KESIMPULAN, IMPLIKASI DAN REKOMENDASI HASIL PENELITIAN. Kesimpulan penelitian Pemanfaatan Konsultasi Gizi Untuk Peningkatan

BAB I PENDAHULUAN. dengan air susu ibu (ASI) dari payudara ibu. Bayi menggunakan refleks

BAB I PENDAHULUAN. yang penting dilakukan sebelum mengisi aktivitas yang lain setiap hari. Sarapan dibutuhkan

BAB I PENDAHULUAN. sering dijumpai pada anak-anak maupun orang dewasa di negara

POLA MAKAN DAN STATUS GIZI PADA ANAK ETNIS CINA DI SD SUTOMO 2 DAN ANAK ETNIS BATAK TOBA DI SD ANTONIUS MEDAN TAHUN 2014

BAB I PENDAHULUAN. kebiasaan yang merugikan kesehatan. Hal-hal ini secara langsung menjadi. anak usia dibawah 2 tahun (Depkes RI, 2009)

BAB 1 PENDAHULUAN. (SDM) yang berkualitas, sehat, cerdas, dan produktif (Hadi, 2005). bangsa bagi pembangunan yang berkesinambungan (sustainable

BAB 1 : PENDAHULUAN. kesehatan salah satunya adalah penyakit infeksi. Masa balita juga merupakan masa kritis bagi

LEMBAR PERMOHONAN MENJADI RESPONDEN

BAB I PENDAHULUAN. seutuhnya antara lain diselenggarakan melalui upaya kesehatan anak yang

BAB 1 : PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang Stunting merupakan salah satu indikator masalah gizi yang menjadi fokus

HUBUNGAN PENGETAHUAN IBU TENTANG KADARZI DENGAN ASUPAN ENERGI DAN STATUS GIZI ANAK BALITA DI DESA JAGAN KECAMATAN BENDOSARI KABUPATEN SUKOHARJO

BAB I PENDAHULUAN. usia dini sangat berdampak pada kehidupan anak di masa mendatang. Mengingat

BAB III METODE PENELITIAN

BAB I PENDAHULUAN. berkualitas dan sukses di masa depan, demikian juga setiap bangsa menginginkan

BAB I PENDAHULUAN. jumlahnya paling besar mengalami masalah gizi. Secara umum di Indonesia

BAB I PENDAHULUAN. kandungan zat gizi yang cukup dan sesuai untuk kebutuhan bayi sehingga

BAB I PENDAHULUAN. Motorik halus adalah pergerakan yang melibatkan otot-otot halus pada tangan

BAB I PENDAHULUAN. Gizi merupakan salah satu penentu kualitas Sumber Daya Manusia. (SDM), karena keberhasilan pembangunan suatu bangsa ditentukan oleh

BAB I PENDAHULUAN. yang harus ditangani dengan serius. Ditinjau dari masalah kesehatan dan gizi, terhadap kekurangan gizi (Hanum, 2014).

BAB V KESIMPULAN, IMPLIKASI, DAN REKOMENDASI HASIL PENELITIAN. Kesimpulan penelitian mengenai Pemanfaatan Hasil Belajar Ilmu Gizi

Bab 1.Pengenalan MP ASI

BAB I PENDAHULUAN. gizi pada ibu hamil dapat menyebabkan Bayi Berat Lahir Rendah (BBLR) dan

GAMBARAN FACTOR-FAKTOR YANG BERHUBUNGAN DENGAN STATUS GIZI BALITA DI PUSKESMAS PEKAUMAN BANJARMASIN

BAB I PENDAHULUAN. melalui perbaikan perilaku masyarakat dalam pemberian makanan

BAB I PENDAHULUAN. serta menghasilkan energi (Proverawati A, 2009, p.1). disesuaikan dengan keadaannya (Proverawati A, 2009, p.127).

BAB I PENDAHULUAN. lum masa dewasa dari usia tahun. Masa remaja dimulai dari saat pertama

BAB I PENDAHULUAN. Tujuan pembangunan kesehatan menuju Indonesia sehat 2025 adalah

Makanan Sehat Bergizi Seimbang Untuk Pertumbuhan dan Perkembangan Balita

UKDW BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Penelitian. Di Indonesia diare merupakan penyebab kematian utama pada bayi dan anak.

Oleh : Suharno, S.Kep.,Ners ABSTRAK

PROFIL STATUS GIZI ANAK BATITA (DI BAWAH 3 TAHUN) DITINJAU DARI BERAT BADAN/TINGGI BADAN DI KELURAHAN PADANG BESI KOTA PADANG

BAB 1 PENDAHULUAN. sempurna bagi bayi selama bulan-bulan pertama kehidupannya (Margaret

BAB II TINJAUAN TEORI. dikonsumsi secara normal melalui proses digesti, absorpsi, transportasi,

HUBUNGAN ANTARA UMUR PERTAMA PEMBERIAN MP ASI DENGAN STATUS GIZI BAYI USIA 6 12 BULAN DI DESA JATIMULYO KECAMATAN PEDAN KABUPATEN KLATEN

kekurangan energi kronik (pada remaja puteri)

BAB I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang

I. PENDAHULUAN. Di zaman seperti sekarang ini masih banyak dijumpai orang-orang yang mengalami

01/04/ TAHUN (USIA(Th)) x 2 + 8) RUMUS PERKIRAAN TINGGI BADAN TAHUN USIA (th) x RUMUS PEERKIRAAN BERAT BADAN PERHITUNGAN

UNIVERSITAS INDONESIA

PEMBERIAN MP ASI SETELAH ANAK USIA 6 BULAN Jumiyati, SKM., M.Gizi

BAB I PENDAHULUAN. sampai usia lanjut (Depkes RI, 2001). mineral. Menurut Widya Karya Nasional Pangan dan Gizi VI 1998

BAB 1 PENDAHULUAN. makanan (Anonim, 2008). Sementara masalah gizi di Indonesia mengakibatkan

BAB 1 PENDAHULUAN. Pemberian makanan tambahan pada bayi merupakan salah satu upaya. pemenuhan kebutuhan gizi bayi sehingga bayi dapat mencapai tumbuh

BAB I PENDAHULUAN. indeks pembangunan manusia, oleh karena itu menjadi suatu keharusan bagi semua

Transkripsi:

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Balita merupakan anak kurang dari lima tahun sehingga bayi usia anak dibawah satu tahun juga termasuk dalam golongan ini. Namun, karena faal (kerja alat tubuh semestinya) bayi usia dibawah satu tahun berbeda dengan anak usia diatas satu tahun, banyak ilmuwan yang membedakannya. Anak usia 1-5 tahun dapat pula dikatakan mulai disapih atau selepas menyusu sampai dengan prasekolah. Sesuai dengan pertumbuhan badan dan perkembangan kecerdasannya, faal tubuhnya juga mengalami perkembangan sehingga jenis makanan dan cara pemberian makanan pun harus disesuaikan dengan keadaannya (Proverawati, 2010). Makanan anak usia 1-3 tahun banyak tergantung pada orang tua atau pengasuhnya, karena anak anak ini belum dapat menyebutkan nama masakan yang dia inginkan. Orang tua yang memilih untuk anak. Jadi, dapat dikatakan bahwa tumbuh kembang anak usia 1-3 tahun sangat tergantung pada bagaimana orang tuanya mengatur makanan anaknya. Berbeda dengan anak kelompok usia 3 5 tahun, mereka sudah mulai dapat memilih apa yang disukai, dapat menyebutkan nama masakan yang pernah dia dengar namanya. Orangtua harus bijaksana tentang makanan apa yang sebaiknya diperkenalkan pada mereka (Irianto, 2010). Menurut Data World Health Organization (WHO) tahun 2002 menyebutkan, penyebab kematian balita urutan pertama disebabkan gizi buruk dengan angka 54%. WHO (1999) mengelompokkan wilaayah berdasarkan prevalensi gizi kurang ke dalam 4 kelompok yaitu rendah (dibawah 10%), sedang (10-19%), tinggi (20-29%) dan sangat tinggi (30%). Dengan menggunakan pengelompokkan prevalensi gizi kurang berdasarkan WHO, Indonesia tahun 2004 tergolong Negara dengan

status kekurangan gizi yang tinggi karena 5.119.935 (atau 28,47%) dari 17.983.244 balita di Indonesia termasuk kelompok gizi kurang dan gizi buruk. Menurut Depkes RI (2005) balita dengan gizi kurang sebesar 25,82% pada tahun 2002 dan meningkat menjadi 28,17% pada tahun 2003. Menurut Dinas kesehatan Sumatra utara (2002) prevalensi gizi kurang 18,8% Departemen kesehatan RI (Depkes RI) mencatat jumlah anak usia di bawah lima tahun (balita) yang memiliki gizi kurang meningkat dari 17,1% menjadi 19,3% pada 2002. Dengan demikian jumlah balita kurang gizi (gizi kurang ditambah gizi buruk) meningkat dari 24,6% menjadi 27,3% dari lebih kurang 20 juta anak balita pada tahun 2002. Balita merupakan salah satu golongan paling rawan gizi. Pada usia balita dikatakan sebagai saat yang rawan karena pada rentang waktu ini anak masih sering sakit (Maryunani, 2010). Upaya perbaikan pemenuhan kebutuhan nutrisi dalam rangka membantu proses fisiologis dalam tubuh untuk proses tumbuh kembang anak dan membantu aktivitas serta memelihara kesehatan salah satu bagian dari upaya pemulihan kondisi anak (Hidayat, 2009). Pemilihan makanan yang baik merupakan makanan yang mengandung makanan pokok, lauk-pauk, buah-buahan dan sayur-sayuran serta dimakan dalam jumlah cukup sesuai dengan kebutuhan. Dengan pola makan yang baik dan jenis hidangan yang beraneka ragam dapat menjamin terpenuhinya kecukupan sumber zat tenaga, zat pembangun dan zat pengatur bagi kebutuhan gizi seseorang (Baliwati, dkk., 2009). Bahan makanan yang diolah menjadi makanan dapat dimanfaatkan secara optimal maka yang harus diperhatikan adalah pemilihan dan pengolahannya. Cara pengolahan makanan yang menghasilkan tekstur lunak dengan kandungan air tinggi, yaitu direbus, diungkep atau dikukus (Maimonah, 2009). Penyajian makanan merupakan hal yang perlu diperhatikan sebelum makanan di konsumsi. Menurut Permenkes No 304/Menkes/Per/IX/1989, persyaratan penyajian

makanan adalah sebagai berikut : 1. Harus terhindar dari pencemaran, 2. Peralatan untuk penyajian harus terjaga kebersihannya, 3. Harus dijamah dan diwadahi dengan peralatan bersih, 4. Penyajian dilakukan dengan perilaku yang sehat dan pakaian yang bersih, 5. Penyajian makanan harus memenuhi persyaratan berikut : (Ditempat yang bersih, meja ditutup dengan kain putih atau plastik, asbak tempat abu rokok setiap saat dibersikan, Peralatan makan dan minum yang telah dipakai paling lambat 5 menit sudah dicuci). Penyajiaan makanan yang baik merupakan makanan yang mengandung karbohidrat, vitamin, mineral, protein, lemak, dengan pola makan yang baik dan jenis hidangan yang beraneka ragam dapat menjamin terpenuhinya kecukupan sumber zat tenaga, zat pembangun dan zat pengatur bagi kebutuhan gizi seseorang. (Baliwati, 2009). Pola makanan yang sehat serta memberikan makanan dengan gizi seimbang yang mempunyai variasi, baik dari segi rasa, bentuk, warna dan tekstur, kebersihan dalam mengelolah makanan sehingga bayi mendapatkan kandungan nutrisi yang dibutuhkannya, serta membentuk pola makan yang sehat (Satyawati, 2012). Kecukupan gizi balita merupakan jumlah yang diperkirakan cukup untuk memelihara kesehatan pada umumnya. Secara garis besar kecukupan gizi di tentukan oleh usia, jenis kelamin, aktifitas, berat badan, dan Tinggi badan (Uripi, 2004). Masa balita kecukupan gizi sangat penting bagi kesehatan balita, dimana seluruh pertumbuhan dan kesehatan balita erat kaitannya dengan masukan makanan yang memadai (Maryunani, 2010). Menurut Adriani (2012) zat gizi bagi balita sangat bermanfaat sebagai karbohidrat dan lemak sebagai penghasil energi atau tenaga, protein berguna untuk pertumbuhan dan pemeliharaan, vitamin dan mineral berguna untuk pengatur. Selain itu manfaat gizi bagi balita dapat meningkatkan kecerdasan balita, meningkatkan kesehatan (Maryunani, 2010). Dengan pola makanan bergizi

seimbang tubuh bayi dapat menjamin proses tumbuh kembang yang optimal. Dengan gizi yang tercukupi, seluruh sistem didalam tubuhnya akan bekerja dengan baik termasuk sistem kekebalan tubuhnya, sehingga anak tidak mudah terserang penyakit (Arif, 2009). Kesalahan dalam pemilihan makanan pada balita akan mengalami penyakit seperti kekurangan energi dan protein (Maryunani, 2010). Pengaruh orang tua sangat penting dalam pertumbuhan dan perkembangan anak secara normal. Untuk mendapatkan anak yang tumbuh dengan normal juga tidak lepas dari tingkat pengetahuan ibu terhadap pertumbuhan dan perkembangan anak. Pengetahuan ibu dalam mengatur konsumsi makanan dengan pola menu seimbang sangat diperlukan pada masa tumbuh kembang balita. Pengetahuan ibu tentang gizi dapat diperoleh melalui pendidikan baik formal maupun nonformal. Pengetahuan gizi nonformal diperoleh melalui berbagai media. Penyuluhan tentang kesehatan dan gizi di posyandu merupakan salah satunya selain pengetahuan gizi yang didapat lewat media masa (koran, majalah dll) dan media elektronik (televisi, radio) (Handono, 2010). Ibu berperan penting dalam kecukupan gizi balita, karena ibu yang memilihkan jenis makanan bagi balita serta menentukan pemberian makanan dan pemilihan jenis makanan balita, namun pemberian dan pemilihan jenis makanan pada anak balita dijumpai ketidaksesuaian dalam jenis makanan yang dipilihkan ibu kepada balita (Aliyatun, 2002). Hal ini bertujuan supaya kecukupan gizi balita terpenuhi dengan baik. Konsumsi zat gizi yang diperlukan balita merupakan zat gizi sebagai sumber tenaga atau energi (karbohidrat), sumber zat pembangun (protein), sumber zat pengatur/vitamin (Handono, 2010). Konsumsi zat gizi yang diperlukan balita adalah zat gizi sebagai sumber tenaga atau energi (karbohidrat), sumber zat pembangun (protein), sumber zat pengatur (vitamin). Ketiga sumber zat gizi itu sangat diperlukan dalam pertumbuhan dan perkembangan balita. Namun perlu diketahui porsi atau ukuran dari masing-masing sumber zat gizi itu harus sesuai dengan pedoman umum gizi seimbang dan AKG (Angka Kecukupan Gizi) pada balita) (Handono, 2010).

Berdasarkan penelitian Maimonah (2009) mengenai Gambaran Pengetahuan Ibu Tentang Kebutuhan Gizi Pada Balita Di Kecamatan Ngronggot Kabupaten Nganjuk Kota Malang diperoleh dari 87 responden terdapat 61 orang (70%) mempunyai pengetahuan baik, 21 orang (24%) mempunyai pengetahuan cukup dan 5 orang (6%) mempunyai pengetahuan kurang. Hal ini dikarenakan ibu balita telah menerima informasi tentang kebutuhan gizi pada balita sewaktu kegiatan posyandu di Puskesmas dan dari media cetak maupun elektronik. Berdasarkan survei yang dilakukan pada tanggal 1 2 Maret Tahun 2014, didapat data dari Lingkungan 1 Kelurahan Dwikora Helvetia Medan, terdapat 750 KK, dimana terdapat 111 ibu yang memiliki balita yang berjumlah 111 balita. Hasil wawancara yang dilakukan kepada 10 ibu yang memiliki balita, bahwa sewaku dilakukan pemeriksaan di Posyandu, terdapat 6 balita yang memiliki BB dan TB yang tidak sesuai dengan usia, lingkar kepala yang tidak sesuai dengan usia, dan lingkar lengan yang tidak sesuai dengan usia. Ibu juga mengatakan bahwa makanan yang diberikan kepada anak balitanya hanya nasi dan lauknya telur atau nasi dan lauknya ikan sebagai menu makanan setiap hari. Selain itu juga, ibu jarang memberikan daging, sayuran, buahan dan susu pada saat balitanya makan. Ini disebabkan karena ibu kurang paham akan kebutuhan gizi pada balitanya dalam memilih jenis makanan yang tepat untuk balita serta ibu kurang mengerti tentang penyajian makanan untuk anaknya. Selain itu ibu juga mengatakan perekonomian dikeluarganya kurang mencukupi. Berdasarkan fenomena yang terjadi di Kelurahan Dwikora Helvetia Medan, maka peneliti tertarik untuk melakukan penelitian mengenai Hubungan pengetahuan ibu tentang pemilihan dan penyajian makanan dengan kecukupan gizi balita di Kelurahan Dwikora Helvetia Medan tahun 2014. B. Perumusan Masalah Berdasarkan latar belakang diatas maka rumusan masalah pada penelitian ini yaitu apakah ada hubungan pengetahuan ibu tentang pemilihan dan penyajian makanan dengan kecukupan gizi balita di Kelurahan Dwikora Helvetia Medan tahun 2014.

C. Tujuan Penelitian 1. Tujuan Umum Untuk mengetahui apakah ada hubungan pengetahuan ibu tentang pemilihan dan penyajian makanan dengan kecukupan gizi balita di Kelurahan Dwikora Helvetia Medan 2014. 2. Tujuan Khusus a. Untuk mengetahui hubungan pengetahuan ibu tentang pemilihan makanan dengan kecukupan gizi balita di Kelurahan Dwikora Helvetia Medan tahun 2014. b. Untuk mengetahui hubungan pengetahuan ibu tentang penyajian makanan dengan kecukupan gizi balita di Kelurahan Dwikora Helvetia Medan tahun 2014 c. Untuk mengetahui kecukupan gizi balita di Kelurahan Dwikora Helvetia medan tahun 2014. D. Manfaat Penelitian 1. Pada Ibu Balita Memberitahukan kepada orang tua khususnya ibu mengenai pentingnya hubungan pemilihan dan penyajian makanan dengan kecukupan gizi balita di Kelurahan Dwikora Helvetia Medan 2014. 2. Bagi Tempat Penelitian di Kelurahan Dwikora Helvetia Medan Sebagai bahan masukan atau bahan tambahan dalam memberikan informasi kepada ibu-ibu tentang kecukupan gizi pada balita di Kelurahan Dwikora Helvetia Medan 2014.

3. Bagi Peneliti Memberikan data untuk penelitian selanjutnya mengenai hubungan pengetahuan ibu tentang pemilihan dan penyajian makanan dengan kecukupan gizi balita di Kelurahan Dwikora Helvetia Medan 2014.