Yeni Octaria 1) dr. Sahab Sibuea, M.Sc. 2)

dokumen-dokumen yang mirip
HUBUNGAN PERILAKU PENCARIAN LAYANAN KESEHATAN DENGAN KETERLAMBATAN PASIEN DALAM DIAGNOSIS TB PARU DI BBKPM SURAKARTA SKRIPSI

J. Teguh Widjaja 1, Hartini Tiono 2, Nadia Dara Ayundha 3 1 Fakultas Kedokteran, Universitas Kristen Maranatha

ABSTRAK GAMBARAN PENDERITA TB PARU DI PUSKESMAS PAMARICAN KABUPATEN CIAMIS PERIODE JANUARI 2013 DESEMBER : Triswaty Winata, dr., M.Kes.

BAB I. PENDAHULUAN. Latar Belakang

HUBUNGAN TINGKAT PENGETAHUAN TENTANG TUBERKULOSIS DENGAN KEPATUHAN MINUM OBAT DI PUSKESMAS

Artikel Penelitian. Abstrak. Abstract PENDAHULUAN. Nitari Rahmi 1, Irvan Medison 2, Ifdelia Suryadi 3

GAMBARAN PENGETAHUAN, SIKAP DAN PERILAKU PENDERITA TUBERKULOSIS TERHADAP KETIDAKPATUHAN DALAM PENGOBATAN MENURUT SISTEM DOTS DI RSU

GAMBARAN PENGETAHUAN, SIKAP DAN PERILAKU PENDERITA TUBERKULOSIS TERHADAP KETIDAKPATUHAN DALAM PENGOBATAN MENURUT SISTEM DOTS DI RSU

KARAKTERISTIK PASIEN TUBERKULOSIS PARU DI PUSKESMAS TUMINTING MANADO

Sri Marisya Setiarni, Adi Heru Sutomo, Widodo Hariyono Fakultas Kesehatan Masyarakat, Universitas Ahmad Dahlan, Yogyakarta

FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS SUMATERA UTARA MEDAN

ABSTRACT. Keywords: Supervisory Swallowing Drugs, Role of Family, Compliance Drinking Drugs, Tuberculosis Patients ABSTRAK

Hubungan Pengetahuan dan Dukungan Keluarga dengan Kepatuhan Minum Obat Anti Tuberkulosis di Puskesmas Andalas Kota Padang

Kata Kunci : Peran PMO, Kepatuhan minum obat, Pasien tuberkulosis paru. Pengaruh Peran Pengawas... 90

BAB I PENDAHULUAN UKDW. kesehatan masyarakat yang penting di dunia ini. Pada tahun 1992 World Health

Hubungan Pengetahuan dan Sikap dengan Kepatuhan Berobat pada Pasien TB Paru yang Rawat Jalan di Jakarta Tahun 2014

HUBUNGAN PENGETAHUAN, PENDIDIKAN, PENDAPATAN

HUBUNGAN DUKUNGAN PASANGAN PENDERITA TB DENGAN KEPATUHAN MINUM OBAT PADA PENDERITA TB PARU DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS PEKAUMAN BANJARMASIN TAHUN 2016

ABSTRAK PREVALENSI TUBERKULOSIS PARU DI RUMAH SAKIT PARU ROTINSULU BANDUNG PERIODE JANUARI-DESEMBER 2007

INTISARI. M. Fauzi Santoso 1 ; Yugo Susanto, S.Si., M.Pd., Apt 2 ; dr. Hotmar Syuhada 3

BAB 1 PENDAHULUAN. Tuberkulosis atau TB (singkatan yang sekarang ditinggalkan adalah TBC)

Jurnal Keperawatan, Volume XII, No. 1, April 2016 ISSN

HUBUNGAN PENGETAHUAN PASIEN HIPERTENSI TENTANG OBAT GOLONGAN ACE INHIBITOR DENGAN KEPATUHAN PASIEN DALAM PELAKSANAAN TERAPI HIPERTENSI DI RSUP PROF DR

BAB I PENDAHULUAN. berkualitas. Salah satu upaya yang telah dilakukan pemerintah untuk

Ika Setyaningrum *), Suharyo**), Kriswiharsi Kun Saptorini**) **) Staf Pengajar Fakultas Kesehatan Universitas Dian Nuswantoro

HUBUNGAN PEMBERIAN INFORMASI OBAT DENGAN KEPATUHAN MINUM OBAT ANTIBIOTIK PADA PASIEN RAWAT JALAN DI PUSKESMAS REMAJA SAMARINDA

BAB I PENDAHULUAN. Diperkirakan sekitar 2 miliar atau sepertiga dari jumlah penduduk dunia telah

BAB 1 PENDAHULUAN. oleh bakteri Mycobacterium tuberculosis.bakteri ini berbentuk batang dan bersifat

BAB I PENDAHULUAN. di negara berkembang. Badan kesehatan dunia, World Health Organitation

HUBUNGAN KEPATUHAN MINUM OBAT DENGAN KESEMBUHAN PASIEN TUBERKULOSIS PARU BTA POSITIF DI PUSKESMAS DELANGGU KABUPATEN KLATEN

ABSTRAK. Kata Kunci: Karakteristik Umum Responden, Perilaku Mencuci Tangan, Diare, Balita

ABSTRAK TINJAUAN TERHADAP PENERAPAN HOSPITAL DOTS LINKAGE DI RUMAH SAKIT IMMANUEL KOTA BANDUNG TAHUN 2012 DALAM UPAYA PENANGANAN TUBERKULOSIS PARU

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. yang terbaru (2010), masih menempatkan Indonesia sebagai negara dengan

GAMBARAN NILAI MANTOUX TEST PADA ANAK DENGAN RIWAYAT KONTAK DENGAN ORANG DEWASA SATU HUNIAN YANG MENDERITA TB PARU DI PUSKESMAS PADANG BULAN, MEDAN

Relation between Indoor Air Pollution with Acute Respiratory Infections in Children Aged Under 5 in Puskesmas Wirobrajan

HUBUNGAN ANTARA KEBIASAAN MEROKOK ANGGOTA KELUARGA DAN PENGGUNAAN ANTI NYAMUK BAKAR DENGAN KEJADIAN ISPA PADA BALITA DI PUSKESMAS KOLONGAN

SKRIPSI Disusun Untuk Memenuhi Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Keperawatan. Disusun oleh : ANGGIT YATAMA EMBUN PRIBADI

Nurhayati Jumaelah 1, Ns. Yunie Armiyati, M.Kep, Sp.KMB 2, Ir. Rahayu Astuti, M.Kes 3

Hubungan Pengetahuan Dan Pendidikan Ibu Dengan Pertumbuhan Balita DI Puskesmas Plaju Palembang Tahun 2014

FAKTOR-FAKTOR YANG BERHUBUNGAN DENGAN KEBERHASILAN PENGOBATAN TUBERKULOSIS DI WILAYAH PUSKESMAS NGUTER KABUPATEN SUKOHARJO

GAMBARAN KEPATUHAN MINUM OBAT PADA PENDERITA TUBERKULOSIS PARU DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS BEBANDEM, KARANGASEM

HUBUNGAN ANTARA PENGETAHUAN PERAWAT TENTANG REKAM MEDIS DENGAN KELENGKAPAN PENGISIAN CATATAN KEPERAWATAN JURNAL PENELITIAN MEDIA MEDIKA MUDA

BAB I PENDAHULUAN. kesehatan masyarakat di dunia termasuk Indonesia. World. Health Organization (WHO) dalam Annual report on global TB

HUBUNGAN TINGKAT PENDIDIKAN DENGAN KEPATUHAN MINUM OBAT PASIEN DIABETES MELITUS TIPE 2 PADA DOKTER KELUARGA

PERAN PENGAWAS MENELAN OBAT (PMO) TERHADAP KEBERHASILAN PENGOBATAN TB PARU DI KECAMATAN MEDAN MAIMUN. Oleh: FILZA RIFQI AUFA ASLAM

ANALISIS FAKTOR-FAKTOR RISIKO KEJADIAN TUBERKULOSIS MULTIDRUG RESISTANT

GAMBARAN PERUBAHAN BERAT BADAN PADA PASIEN TUBERKULOSIS SELAMA PENGOBATAN DOTS DI BALAI PENGOBATAN PENYAKIT PARU-PARU MEDAN TAHUN 2009

BAB I PENDAHULUAN. oleh kuman TB (Mycobacterium Tuberculosis). Sebagian besar kuman TB

BAB 1 PENDAHULUAN. masyarakat dunia. Setiap tahunnya, TB Paru menyebabkan hampir dua juta

PERAN PETUGAS KESEHATAN DAN PENGAWAS MENELAN OBAT (PMO) DALAM PENGOBATAN TB PARU DENGAN STRATEGI DOTS PADA PUSKESMAS DI KOTA LANGSA

BAB 1 PENDAHULUAN. menular yang muncul dilingkungan masyarakat. Menanggapi hal itu, maka perawat

BAB I PENDAHULUAN. mengenai kematian akibat asma mengalami peningkatan dalam beberapa dekade

KEPATUHAN BEROBAT PENDERITA TB PARU DI PUSKESMAS NGUNTORONADI I KABUPATEN WONOGIRI

EVALUASI TINGKAT KEPATUHAN PENGGUNAAN OBAT TUBERKULOSIS DI PUSKESMAS KABUPATEN SUKOHARJO NASKAH PUBLIKASI

BAB I PENDAHULUAN. Penyakit tuberkulosis (TB) merupakan salah satu penyakit menular yang

BAB I PENDAHULUAN. oleh infeksi Mycobacterium tuberculosis dan dapat disembuhkan. Tuberkulosis

1 Universitas Kristen Maranatha

HUBUNGAN TINGKAT PENGETAHUAN TENTANG TB PARU DENGAN KEPATUHAN MENJALANI PROGRAM PENGOBATAN PADA PENDERITA TB PARU DI BBKPM SURAKARTA NASKAH PUBLIKASI

BAB I PENDAHULUAN. yang dapat menimbulkan komplikasi kesakitan (morbiditas) dan kematian

HUBUNGAN PENGETAHUAN IBU TENTANG PENATALAKSANAAN DIARE DENGAN KEJADIAN DIARE PADA ANAK BALITA DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS PUCANGSAWIT SURAKARTA

POLA PENGGUNAAN OBAT ANTI TUBERKULOSIS (OAT) PADA PASIEN ANAK TB PARU RAWAT JALAN DI RUMAH SAKIT HAJI MEDAN PERIODE JANUARI - JUNI 2012

ABSTRAK EVALUASI HASIL TERAPI OBAT ANTI TUBERKULOSIS FASE INTENSIF PADA PENDERITA TUBERKULOSIS PARU DI PUSKESMAS KOTAMADYA BANDUNG TAHUN

ABSTRAK HUBUNGAN ANTARA TINGKAT PENDIDIKAN ORANG TUA TERHADAP PENANGANAN DIARE PADA BALITA DI PUSKESMAS PEKAUMAN BANJARMASIN

INTISARI TINGKAT PENGETAHUAN ORANG TUA DALAM PENGGUNAAN AMOXICILLIN SIRUP KERING PADA PASIEN BALITA DI PUSKESMAS SUNGAI KAPIH SAMARINDA

Naskah Publikasi Karya Tulis Ilmiah. 22 Agustus 2016

The Relations of Knowledge and The Adherence to Use PPE in Medical Service Employees in PKU Muhammadiyah Gamping Hospital.

BAB I PENDAHULUAN. prevalensinya paling tinggi di dunia. Berdasarkan laporan World Health

PROGRAM PASCASARJANA UNIVERSITAS SEBELAS MARET SURAKARTA

BEBERAPA FAKTOR YANG BERHUBUNGAN DENGAN PEMBERIAN ASI EKSKLUSIF DI DESA CATURTUNGGAL DEPOK, SLEMAN, YOGYAKARTA

2016 GAMBARAN MOTIVASI KLIEN TB PARU DALAM MINUM OBAT ANTI TUBERCULOSIS DI POLIKLINIK PARU RUMAH SAKIT DUSTIRA KOTA CIMAHI

BAB I PENDAHULUAN. (Mycobacterium Tuberculosis). Sebagian besar kuman TB menyerang paru, tetapi

Hubungan Pengetahuan dan Sikap Mahasiswa Terhadap Kepatuhan Melakukan Cuci Tangan dengan Metode Hand Wash

BAB I PENDAHULUAN. Tuberkulosis merupakan infeksi yang disebabkan oleh bakteri. Mikobakterium tuberculosis dan kadang-kadang oleh Mikobakterium bovis

PERBEDAAN TITER TROMBOSIT DAN LEUKOSIT TERHADAP DERAJAT KLINIS PASIEN DEMAM BERDARAH DENGUE (DBD) ANAK DI RSUD DR. MOEWARDI SURAKARTA SKRIPSI

FAKTOR FAKTOR YANG BERHUBUNGAN DENGAN KEJADIAN PNEUMONIA PADA BAYI. Nurlia Savitri

Jurnal Keperawatan, Volume XII, No. 1, April 2016 ISSN HUBUNGAN LINGKUNGAN KERJA PENDERITA TB PARU TERHADAP KEJADIAN PENYAKIT TB PARU

PREVALENSI DAN KARAKTERISTIK PENDERITA TUBERKULOSIS PARU DI BALAI PENGOBATAN PENYAKIT PARU-PARU MEDAN TAHUN Oleh : ANGGIE IMANIAH SITOMPUL

*Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Sam Ratulangi **Fakultas Kedokteran Universitas Sam Ratulangi

HUBUNGAN ANTARA KEBIASAAN MEROKOK DENGAN PENYAKIT PARU OBSTRUKTIF KRONIS PADA WANITA DI RUMAH SAKIT HA. ROTINSULU BANDUNG PERIODE ARTIKEL

ABSTRAK HUBUNGAN ANTARA TINGKAT PENDIDIKAN DAN PERILAKU ORANG TUA TERHADAP TINGKAT KEPARAHAN KARIES GIGI PADA ANAK KELAS 1 DI SDN X DAN Y

HUBUNGAN ANTARA PENGETAHUAN DAN SIKAP DENGAN TINDAKAN PENCEGAHAN DEMAM BERDARAH DENGUE (DBD) DI KELURAHAN MALALAYANG 2 LINGKUNGAN III

PHBS yang Buruk Meningkatkan Kejadian Diare. Bad Hygienic and Healthy Behavior Increasing Occurrence of Diarrhea

ABSTRAK FAKTOR-FAKTOR YANG BERHUBUNGAN DENGAN TINGKAT KEPATUHAN BEROBAT PASIEN TB PARU DI RSI BANDUNG DENGAN DOTS DAN RS

HUBUNGAN KETERLAMBATAN PASIEN DALAM DIAGNOSIS TB PARU DENGAN JARAK RUMAH DAN STATUS PEKERJAAN DI FASILITAS KESEHATAN RUJUKAN (BBKPM) SURAKARTA SKRIPSI

Sugiarti, et al, Studi Penggunaan Antibiotik pada Pasien Penyakit ISPA Usia Bawah Lima Tahun...

*Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Sam Ratulangi Manado **Fakultas Perikanan Universitas Sam Ratulangi Manado

ABSTRAK. Kata kunci: HIV-TB, CD4, Sputum BTA

BAB 1 PENDAHULUAN. berkembang adalah Tuberkulosis Paru (TB paru) (Kemenkes, 2008). Mycobakterium Tuberculosis yang terutama menyerang paru (Kemenkes,

BAB III METODE PENELITIAN. Penelitian yang berjudul Evaluasi ketepatan penggunaan antibiotik untuk

BAB I PENDAHULUAN A. LATAR BELAKANG. bahwa penyakit tuberkulosis merupakan suatu kedaruratan dunia (global

INTISARI. Ari Aulia Rahman 1 ; Yugo Susanto 2 ; Rachmawati 3

SKRIPSI HUBUNGAN PENERAPAN KOMUNIKASI EFEKTIF PERAWAT DENGAN KEPUASAN PASIEN DI RSUD DR. ADNAAN WD PAYAKUMBUH TAHUN 2016

Transkripsi:

FAKTOR-FAKTOR YANG BERHUBUNGAN TERHADAP KEPATUHAN IBU/BAPAK DALAM PENGOBATAN TUBERKULOSIS ANAK DI POLI ANAK RUMAH SAKIT ABDUL MOELOEK BANDAR LAMPUNG DESEMBER 2012-JANUARI 2013 Yeni Octaria 1) dr. Sahab Sibuea, M.Sc. 2) Email : yeni.octaria@gmail.com 1)Mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Lampung, 2)Staf Pengajar Fakultas Kedokteran Universitas Lampung Abstrak Tuberkulosis (TB) adalah salah satu penyakit infeksi yang menyebabkan tingginya angka kematian. Di Indonesia TB adalah pembunuh nomor satu diantara penyakit menular dan merupakan penyebab kematian nomor tiga pada seluruh kalangan usia. Berdasarkan laporan kasus tahunan TB di dunia yaitu 9 juta orang, sekitar 1 juta orang (11%) dirata-ratakan merupakan anakanak (usia <15 tahun). Prinsip pengobatan TB anak meliputi: kombinasi lebih dari satu macam obat; pengobatan jangka panjang, teratur, dan tidak terputus; obat diberikan secara teratur tiap hari. Masa pengobatan untuk penderita TB minimal adalah enam bulan. Berdasarkan penelitian sebelumnya, ditemukan bahwa di negara-negara berkembang angka ketidakpatuhan masih tinggi. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui faktor-faktor yang berhubungan terhadap kepatuhan ibu/bapak dalam pengobatan tuberkulosis anak di poli anak rumah sakit abdul moeloek bandar lampung desember 2012-januari 2013. Penelitian yang dilakukan adalah penelitian analitik desain potong lintang pada bulan Desember 2012-Januari 2013. Hasil penelitian menunjukkan bahwa bahwa ada hubungan bermakna antara pengetahuan dengan kepatuhan pengobatan tahap awal (α = 0,05; p -value= 0,03), tidak ada hubungan bermakna antara sikap dengan kepatuhan pengobatan tahap awal (α = 0,05; p-value=0,169) dan tidak ada hubungan bermakna antara adanya orang-orang berpengaruh dengan kepatuhan pengobatan tahap awal (α = 0,05; p-value=0,359). Kata kunci: tuberkulosis, kepatuhan FACTORS RELATED TO COMPLIANCE WITH MOTHER / FATHER IN THE TREATMENT OF TUBERCULOSIS IN POLI ANAK RUMAH SAKIT ABDUL MOELOEK BANDAR LAMPUNG DESEMBER 2012- JANUARI 2013 Yeni Octaria 1) dr. Sahab Sibuea, M.Sc. 2) Email : yeni.octaria@gmail.com 19 Medical Journal of Lampung University Volume 2 No 4 Februari 2013

1)Medical student of Lampung University, 2)Lecturer of school of Medicine Lampung University Abstract Tuberculosis (TB) is one of the infectious diseases that cause high mortality. In Indonesia, TB is the first killer among infectious diseases and the third cause of death in all ages. Based on the annual reports of cases of TB in the world of 9 million people, about 1 million people (11%) averaged a child (age <15 years). Principles of child TB treatment include: a combination of more than one drug; a long-term medication, regular and uninterrupted; drugs given regularly every day. Duration of treatment for TB patients is at least six months. Based on previous research, it was found that in the developing countries is still high incompliance rate. The purpose of this study was to determine the factors related to the compliance of the mother / father of the child in the treatment of tuberculosis in poli anak RS. Abdul Moeloek Bandar Lampung. Research carried out an analytical study and designed by cross-sectional in December 2012-January 2013. Results showed that that there is a significant relationship between knowledge of the early stages of treatment compliance (α = 0.05, p-value = 0.03), there is no statistically significant association between treatment adherence attitudes with early stage (α = 0.05, p -value = 0.169) and there is no significant relationship between the presence of influential people with the early stages of treatment compliance (α = 0.05, p-value = 0.359). Key words: incompliance, tuberculosis I. PENDAHULUAN Tuberkulosis ialah penyakit infeksi kronis yang disebabkan oleh infeksi Mycobacterium tuberculosis. Tuberkulosis (TB) merupakan masalah kesehatan masyarakat yang penting di dunia. Bahkan di Indonesia TB adalah pembunuh nomor satu diantara penyakit menular dan merupakan penyebab kematian nomor tiga setelah penyakit jantung dan penyakit pernafasan akut pada seluruh kalangan usia (PDPI, 2006). Tuberkulosis masih menjadi penyebab utama dari morbiditas dan mortalitas pada semua umur terutama di negara berkembang (WHO, 2008). Berdasarkan hasil survey pendahuluan yang dilakukan di Rumah Sakit Umum Abdul Moeloek didapatkan bahwa penyakit tuberkulosis termasuk dalam 10 penyakit terbanyak rawat jalan di rumah sakit tersebut. Bagian Rekam Medis Rumah Sakit Abdul Muluk memberikan data jumlah kunjungan anak penderita tuberkulosis di poliklinik anak pada tahun 2010 sebanyak 1.761 orang, tahun 2011 sebanyak 1.448 orang dan tahun 2012 periode Januari-Agustus sebanyak 693 orang. Selama 3 tahun terakhir TB anak sering menempati urutan pertama jumlah kunjungan terbanyak di Poli Anak Rumah Sakit Umum Abdul Moeloek setiap 20 Medical Journal of Lampung University Volume 2 No 4 Februari 2013

bulannya. Data terakhir pada bulan Agustus 2012 didapatkan jumlah kunjungan sebanyak 92 orang dan TB anak masih merupakan penyakit nomor satu yang menjadi diagnosis terbanyak di poli anak rumah sakit tersebut pada bulan tersebut. Ada beberapa faktor yang mempengaruhi keberhasilan pengobatan dan penyembuhan penyakit tuberkulosis, diantaranya adalah: faktor sarana, faktor penderita, serta faktor keluarga dan lingkungan massyarakat (Permatasari, 2005). Kepatuhan ibu/bapak dalam pengobatan anaknya yang menderita tuberkulosis dipengaruhi oleh faktor-faktor yang ada dalam diri ibu/bapak tersebut maupun faktor lain yang berasal dari luar. Oleh karena itu, penelitian ini dilakukan untuk mengetahui faktor-faktor yang berhubungan terhadap kepatuhan ibu/bapak dalam pengobatan tuberkulosis anak di Poliklinik Anak Rumah Sakit Abdul Moeloek. II. METODE PENELITIAN Penelitian ini menggunakan metode analitik dengan pendekatan cross sectional, dilaksanakan pada bulan November 2012-Januari 2013 di Poli Anak Rumah Sakit Abdul Moeloek. Tujuannya untuk mengetahui faktor-faktor yang berhubungan terhadap kepatuhan ibu/bapak dalam pengobatan tuberkulosis anak di Poli Anak Rumah Sakit Abdul Moeloek. Populasi penelitian ini adalah ibu/bapak dengan anak yang didiagnosis tuberkulosis yang ada di Poli Anak Rumah Sakit Abdul Moeloek pada bulan Desember 2012-Januari 2013. Sampel didapatkan sebanyak 59 orang dan pengambilan sampel dilakukan dengan teknik accidental sampling. Teknik pengumpulan data yang dipergunakan adalah dengan menggunakan angket (ku esioner dengan daftar pertanyaan tertutup). Dalam pengisian kuesioner tersebut peneliti melakukan wawancara bebas terpimpin untuk mendapatkan jawaban untuk setiap pertanyaan dan pernyataan dalam kuesioner. Setelah itu data dikumpulkan dan dianalisis serta dilakukan uji Chi Square menggunakan program SPSS. III. HASIL DAN PEMBAHASAN 1. Hasil Penelitian 21 Medical Journal of Lampung University Volume 2 No 4 Februari 2013

a. Pengetahuan Gambar 1. Distribusi Frekuensi Pengetahuan Responden Berdasarkan tabel 1, dari 59 responden didapatkan data responden yang memiliki pengetahuan baik sebanyak 42 responden (71,2%), dan responden yang memiliki pengetahuan yang kurang sebanyak 17 responden (28,8%). b. Sikap responden Gambar 2. Distribusi Frekuensi Sikap Responden Berdasarkan tabel 2, dari 59 responden didapatkan data responden yang memiliki sikap baik sebanyak 23 responden (39%) dan pasien yang memiliki sikap kurang sebanyak 36 responden (61%). 22 Medical Journal of Lampung University Volume 2 No 4 Februari 2013

c. Adanya orang-orang berpengaruh Gambar 3. Distribusi Frekuensi Adanya orang-orang berpengaruh Berdasarkan tabel 3, dari 59 responden didapatkan data responden yang memiliki keberadaan orang-orang berpengaruh yang baik sebanyak 39 responden (66,1%) dan responden yang memiliki keberadaan orang-orang berpengaruh yang kurang sebanyak 20 responden (33,9%). d. Kepatuhan anak menjalani pengobatan tahap awal tuberkulosis Gambar 4. Distribusi Frekuensi Kepatuhan Anak Menjalani Pengobatan Tahap Awal Tuberkulosis Berdasarkan tabel 4, dari 59 pasien didapatkan data dari rekam medis bahwa pasien yang patuh dalam menjalankan pengobatan tahap awal anak tuberkulosis sebanyak 40 responden (67,8%) dan pasien yang tidak patuh dalam menjalankan pengobatan tahap awal anak tuberkulosis sebanyak 19 responden (32,2%). 23 Medical Journal of Lampung University Volume 2 No 4 Februari 2013

e. Hubungan Pengetahuan terhadap kepatuhan pengobatan tahap awal. Tabel 5. Hasil Analisis Hubungan Pengetahuan terhadap kepatuhan pengobatan tahap awal. Variabel p-value Α Keterangan Pengetahuan terhadap kepatuhan pengobatan tahap awal 0,03 0.05 p-value < α Berdasarkan hasil uji analisis Chi Square dengan angka kemaknaan atau α = 0,05 didapat p-value sebesar 0,03 (p-value < α). Kesimpulan yang diambil berdasarkan hasil yang ditunjukkan pada tabel 5 adalah bahwa ada hubungan bermakna antara sikap dengan kepatuhan pengobatan tahap awal. f. Hubungan Sikap terhadap Kepatuhan Pengobatan Tahap Awal. Tabel 6. Hasil Analisis Hubungan Sikap terhadap Kepatuhan Pengobatan Tahap Awal. Variabel p-value Α Keterangan Sikap terhadap kepatuhan pengobatan tahap awal 0.169 0.05 p-value > α Berdasarkan hasil uji analisis Chi Square dengan angka kemaknaan atau α = 0,05 didapat p-value sebesar 0,169 (p-value > α). Kesimpulan yang diambil berdasarkan hasil yang ditunjukkan pada tabel 6 adalah bahwa tidak ada hubungan bermakna antara sikap dengan kepatuhan pengobatan tahap awal. g. Hubungan Adanya Orang-orang Berpengaruh terhadap Kepatuhan Pengobatan Tahap Awal. 24 Medical Journal of Lampung University Volume 2 No 4 Februari 2013

Tabel 7. Hasil Analisis Hubungan Adanya Orang-orang Berpengaruh terhadap Kepatuhan Pengobatan Tahap Awal. Variabel p-value Α Keterangan Adanya Orang-orang Berpengaruh terhadap Kepatuhan Pengobatan Tahap Awal 0.359 0.05 p-value > α Berdasarkan hasil uji analisis Chi Square dengan angka kemaknaan atau α = 0,05 didapat p-value sebesar 0,359 (p-value > α). Kesimpulan yang diambil berdasarkan hasil yang ditunjukkan pada tabel 7 adalah bahwa tidak ada hubungan bermakna antara adanya orang-orang berpengaruh dengan kepatuhan pengobatan tahap awal. 2. Pembahasan a. Hubungan Pengetahuan dengan Kepatuhan Pengobatan Tahap Awal. Berdasarkan hasil uji analisis Chi Square dengan angka kemaknaan atau α = 0,05 didapat p-value sebesar 0,169 (p-value > α). Kesimpulan yang diambil berdasarkan hasil yang ditunjukkan pada tabel 6 adalah bahwa tidak ada hubungan bermakna antara sikap dengan kepatuhan pengobatan tahap awal. Hasil distribusi frekuensi pengetahuan yang diperoleh penelitian ini menunjukkan bahwa responden sudah memiliki pengetahuan yang baik, hal tersebut dapat dilihat dari jumlah responden yang berpengetahuan baik sebanyak 42 orang (71,2%). Responden yang lain memiliki pengetahuan yang kurang, hal ini dapat terjadi sesuai dengan penelitian Nanda (2005) yang menjelaskan bahwa faktor-faktor yang terkait dengan kurang pengetahuan (deficient knowledge) terdiri dari: kurang terpapar in formasi, kurang daya ingat/hapalan, salah menafsirkan informasi, keterbatasan kognitif, kurang minat untuk belajar dan tidak familiar terhadap sumber informasi. 25 Medical Journal of Lampung University Volume 2 No 4 Februari 2013

b. Hubungan Sikap dengan Kepatuhan Pengobatan Tahap Awal. Berdasarkan hasil uji analisis Chi Square dengan angka kemaknaan atau α = 0,05 didapat p-value sebesar 0,169 (p-value > α). Kesimpulan yang diambil berdasarkan hasil yang ditunjukkan pada tabel 6 adalah bahwa tidak ada hubungan bermakna antara sikap dengan kepatuhan pengobatan tahap awal. Sikap merupakan reaksi atau respon yang masih tertutup dari seseorang terhadap stimulus atau obyek sehingga suatu sikap belum tentu akan diwujudkan dalam bentuk suatu tindakan. Faktor-faktor lain termasuk faktor pendukung seperti fasilitas yang ada juga diperlukan untuk mengubah sikap menjadi tindakan yang positif. c. Hubungan adanya orang-orang berpengaruh terhadap kepatuhan pengobatan tahap awal Hasil analisis bivariat hubungan variabel orang-orang berpengaruh terhadap kepatuhan pengobatan tahap awal pasien tuberkulosis anak di Poli Anak Rumah Sakit Abdoel Moeloek Desember 2012-Januari 2013 didapatkan bahwa tidak ada hubungan yang bermakna (p=0,359) antara keduanya. Dukungan sosial menjadi faktor penting yang mempengaruhi kepatuhan seperti dokter, petugas kesehatan, dalam hal ini peran motivator sangat mendukung sekali dalam keberhasilan penanggulangan TB Paru (Salim, 2002). Kepatuhan berobat bukan semata kesalahan pasien, tetapi juga gambaran kesalahan petugas kesehatan yang menyakinkan pasien untuk berobat dengan teratur sampai tuntas. Peran motivator mempunyai dampak yang positif terhadap kepatuhan, walaupun dalam pengamatan yang dilakukan dilapangan belum semua motivator yang berperan dengan baik. (Aditama, 2000). 26 Medical Journal of Lampung University Volume 2 No 4 Februari 2013

IV. SIMPULAN DAN SARAN 1. SIMPULAN a. Ada hubungan yang bermakna antara faktor pengetahuan ibu/bapak tentang tuberkulosis terhadap kepatuhan ibu/bapak dalam pengobatan tuberkulosis anak di Poli Anak Rumah Sakit Abdul Moeloek Desember 2012-Januari 2013. b. Tidak ada hubungan yang bermakna antara faktor sikap ibu/bapak terhadap tuberkulosis terhadap kepatuhan ibu/bapak dalam pengobatan tuberkulosis anak di Poli Anak Rumah Sakit Abdul Moeloek Desember 2012-Januari 2013. c. Tidak ada hubungan yang bermakna antara faktor pendorong berupa orang-orang berpengaruh terhadap kepatuhan ibu/bapak dalam pengobatan tuberkulosis anak di Poli Anak Rumah Sakit Abdul Moeloek Desember 2012-Januari 2013. 2. SARAN 1. Bagi rumah sakit Agar meningkatkan sistem pelayanan dan informasi yang ada, terutama dalam hal-hal yang mendukung peningkatan pengetahuan dan sikap ibu/bapak yang memiliki anak tuberkulosis agar patuh membawa anaknya melakukan pengobatan secara teratur. 2. Bagi ibu/bapak yang memiliki anak tuberkulosis Agar memberikan dukungan yang positif dan berperan aktif terhadap proses pengobatan yang harus dijalani anak yang menderita tuberkulosis. 3. Bagi Penelitian Selanjutnya Dapat melakukan penelitian lebih lanjut mengenai faktor-faktor yang berhubungan terhadap kepatuhan ibu/bapak dalam pengobatan tuberkulosis anak dan penelitian dapat dilakukan di tempat berbeda seperti di Puskesmas. 27 Medical Journal of Lampung University Volume 2 No 4 Februari 2013

DAFTAR PUSTAKA Aditama. 2000. WHO Searo Regional training Workshop on Laboratory methods for TB Control. Jakarta: Persahabatan General Hospital. Aditama, T.Y. 2003. Fixed Dose Combination for TB Treatment. Surakarta. Respirologi Dalam Paradigma Baru. Bello, SI; Itiola, OA. 2010. Drug adherence amongst tuberkulosis patients in the University of Ilorin Teaching Hospital. Alfr J Pharm Pharmacol. Depkes RI. 2005. Pharmaceutical Care Untuk Penyakit Tuberkulosis. 2005. http://binfar.depkes.go.id/download/pc_tb.pdf McLean, M. 2003. Adherence to Treatment. In: Guidelines for Tuberkulosis Control in New Zealand. Wellington: Medical Officer of Health. Nanda. 2005. Nursing diagnoses: definitions and classification 2005-2006. Nanda International. Philadelpia. Perkumpulan Pemberantasan Tuberkulosis Indonesia (PPTI). 2012. Jakarta. http://www.ppti.info/2012/09/tbc-di-indonesia-peringkat-ke-5.html Permatasari, A. 2005. Pemberantasan penyakit TB Paru dan strategi DOTS. Available online at http://library.usu.ac.id PPDI. 2006. Konsensus TB. http://www.klikpdpi.com/konsensus/tb/tb.pdf Price, Sylvia A; Wilson, Lorraine M. 2003. Patofisiologi Klinik, edisi ke 5 Tuberkulosis. Salim. 2002. Hubungan Persepsi Pasien terhadap Peran Pengawas Menelan Obat dengan Kepatuhan Pasien TB Paru Berobat di kota Padang Tahun 2001. Tesis. FKM UI Sidabutar, B; Soedibyo, S; Tumbelaka A. 2004. Nutritional status of under five pulmonary tuberkulosis patiens before and after six month therapy. Pediatrica Indonesia. TB Indonesia. 2011.http://www.tbindonesia.or.id/pdf/2011/IndonesiaReport2011.pdf WHO. 2006. Guidance for national tuberculosis programmes on the management of tuberculosis in children. WHO/HTM/TB/2006371. 28 Medical Journal of Lampung University Volume 2 No 4 Februari 2013