BAB II TINJAUAN PUSTAKA. A. Perilaku Bullying. Bullying adalah ketika siswa secara berulang-ulang dan berperilaku

dokumen-dokumen yang mirip
DAMPAK PSIKOLOGIS BULLYING

BULLYING. I. Pendahuluan

BAB II TINJUAN PUSTAKA

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Dewasa ini sering kita dengar tentang banyaknya kasus kekerasan yang

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang. Masa remaja merupakan suatu fase perkembangan antara masa kanakkanak

INTENSITAS TERKENA BULLYING DITINJAU DARI TIPE KEPRIBADIAN EKSTROVERT DAN INTROVERT

BAB I RENCANA PENELITIAN. formal, pendidikan dilakukan oleh sebuah lembaga yang dinamakan sekolah,.

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang

BAB III METODE PENELITIAN. A. Desain Penelitian. Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif dalam bentuk penelitian

BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang Masalah. Perubahan zaman yang semakin pesat ini membawa dampak ke berbagai

Pengertian tersebut didukung oleh Coloroso (2006: 44-45) yang mengemukakan bahwa bullying akan selalu melibatkan ketiga unsur berikut;

BAB I PENDAHULUAN. Bullying atau ijime adalah masalah umum di setiap generasi dan setiap

BAB II LANDASAN TEORI. dengan orang-orang di sekeliling atau sekitarnya. bijaksana dalam menjalin hubungan dengan orang lain.

BAB II LANDASAN TEORI

BAB I PENDAHULUAN. kognitif, dan sosio-emosional (Santrock, 2007). Masa remaja (adolescence)

BAB I PENDAHULUAN. A. LatarBelakangMasalah. dalam mengantarkan peserta didik sehingga dapat tercapai tujuan yang

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. A. Pengertian. pengertian yang baku hingga saat ini. Bullying berasal dari bahasa inggris,

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Sekolah merupakan sebuah lembaga atau tempat yang dirancang untuk

BAB I PENDAHULUAN. ukuran fisik, tapi bisa kuat secara mental (Anonim, 2008). Bullying di

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah.

I. PENDAHULUAN. Masa remaja merupakan masa manusia menemukan jati diri. Pencarian. memiliki kecenderungan untuk melakukan hal-hal diluar dugaan yang

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. A. Bullying. itu, menurut Olweus (Widayanti, 2009) bullying adalah perilaku tidak

BULLYING & PERAN IBU Penyuluhan Parenting PKK Tumpang, 29 Juli 2017

BAB 1 PENDAHULUAN. lingkungan sekolah, banyak siswa yang melakukan bullying kepada siswa lainnya

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. 2010). Hal tersebut sejalan dengan Undang-Undang No.20 Tahun 2003 tentang

BAB I PENDAHULUAN. yang kompleks yang merupakan hasil interaksi berbagai penyebab dari keadaan

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. peserta didik. Banyak yang beranggapan bahwa masa-masa sekolah adalah masa

HUBUNGAN ANTARA KEMAMPUAN PENGELOLAAN EMOSI DENGAN PERILAKU BULLYING SISWA KELAS VIII DI SMP NEGERI 1 KAUMANTULUNGAGUNG TAHUN PELAJARAN 2014/ 2015

BAB I PENDAHULUAN. adalah kekerasan yang terjadi pada anak. Menurut data yang di dapat dari

BAB I PENDAHULUAN. minat, sikap, perilaku, maupun dalam hal emosi. Tingkat perubahan dalam sikap

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. karena remaja akan berpindah dari anak-anak menuju individu dewasa yang akan

BAB I PENDAHULUAN. A. LatarBelakang. individu khususnya dibidang pendidikan. Bentuk kekerasan yang sering dilakukan

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. batas kewajaran. Kekerasan yang mereka lakukan cukup mengerikan, baik di

BAB I PENDAHULUAN. mulai bergabung dengan teman seusianya, mempelajari budaya masa kanakkanak,

BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang Masalah. Pada dasarnya, hukuman hanya menjadi salah satu bagian dari metode

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Nurlaela Damayanti, 2013

I. PENDAHULUAN. Kata kekerasan sebenarnya sudah sangat sering kita dengar dalam kehidupan sehari-hari,

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. Sebagai makhluk sosial, manusia tidak akan dapat bertahan hidup sendiri.

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. A. Perilaku Bullying. ketidaknyamanan fisik maupun psikologis terhadap orang lain. Olweus

BAB IV PERBANDINGAN PEMIKIRAN ABDULLAH NASHIH ULWAN DAN B.F. SKINNER SERTA RELEVANSI PEMIKIRAN KEDUA TOKOH TERSEBUT TENTANG HUKUMAN DALAM PENDIDIKAN

BAB I PENDAHULUAN. mengatakan mereka telah dilukai dengan senjata. Guru-guru banyak mengatakan

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. Maraknya kasus-kasus kekerasan yang terjadi pada anak-anak usia sekolah

H, 2016 HUBUNGAN ANTARA REGULASI EMOSI DAN KONTROL DIRI DENGAN PERILAKU BULLYING

UPAYA MENGURANGI PERILAKU BULLYING DI SEKOLAH DENGAN MENGGUNAKAN LAYANAN KONSELING KELOMPOK

BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah

BAB I PENDAHULUAN. ini dibuktikan oleh pernyataan Amrullah, Child Protection Program

BAB I PENDAHULUAN. Individu sebagai makhluk sosial membutuhkan interaksi dengan lingkungan

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang Penelitian

BAB II LANDASAN TEORI

BAB I PENDAHULUAN. kesejahteraan, pendidikan dan mengasihi serta menghargai anak-anaknya (Cowie

BAB 1 PENDAHULUAN. perilaku agresi, terutama di kota-kota besar khususnya Jakarta. Fenomena agresi

MEMINIMALISASI BULLYING DI SEKOLAH

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Penelitian

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Masa remaja merupakan periode baru didalam kehidupan seseorang, yang

PERAN GURU BK/KONSELOR DALAM MENGENTASKAN PERILAKU BULLYING PARTICIPANT OF THE TEACHERS BK / COUNSELORS TO ALLEVIATE BULLYING BEHAVIOR

BAB II LANDASAN TEORITIS

BAB I PENDAHULUAN. seperti ini sering terjadi dalam berbagai aspek kehidupan di masyarakat, baik itu

BAB I PENDAHULUAN. 1.1.Latar Belakang Masalah. Sadar akan hakikatnya, setiap manusia Indonesia di muka bumi ini selalu

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang. Salah satu kebijakan pemerintah di sektor pendidikan yang mendukung

BAB I PENDAHULUAN. individu dengan individu yang lain. Untuk mewujudkannya digunakanlah media

BAB I PENDAHULUAN. memiliki konsep diri dan perilaku asertif agar terhindar dari perilaku. menyimpang atau kenakalan remaja (Sarwono, 2007).

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Maraknya perilaku agresif saat ini yang terjadi di Indonesia,

BAB II LANDASAN TEORI

Memahami dan Mencegah Terjadinya Kekerasan di Sekolah

BAB I PENDAHULUAN. pengaruh antara pendidik dengan yang di didik (Sukmadinata, 2011).

BAB I PENDAHULUAN. meneruskan perjuangan dan cita-cita suatu negara (Mukhlis R, 2013). Oleh karena

BAB I PENDAHULUAN. Hubungan Kontrol..., Agam, Fakultas Psikologi 2016

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Iceu Rochayatiningsih, 2013

BAB I PENDAHULUAN. dijalanan maupun ditempat-tempat umum lainnya (Huraerah, 2007).

BAB I PENDAHULUAN. Anak usia sekolah (6-12 tahun) disebut juga sebagai masa anak-anak

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Sekolah merupakan salah satu tempat bertumbuh dan berkembangnya

II. TINJAUAN PUSTAKA. sebagai modal pengembangan diri lebih lanjut (Sukardi. 2008).

BAB I PENDAHULUAN. dengan sebutan aksi bullying. Definisi kata kerja to bully dalam Oxford

BAB 1 PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah

BAB II LANDASAN TEORI

BAB I PENDAHULUAN. Hampir setiap hari kasus perilaku agresi remaja selalu ditemukan di media

Pengaruh Role Play dalam Konseling Kelompok untuk Menurunkan Tingkat Bullying Siswa

SELF ESTEEM KORBAN BULLYING (Survey Kepada Siswa-siswi Kelas VII SMP Negeri 270 Jakarta Utara)

BAB I PENDAHULUAN. Remaja merupakan fase yang disebut Hall sebagai fase storm and stress

BAB I PENDAHULUAN. manusia yang menghubungkan masa kanak-kanak dan masa dewasa (Santrock,

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. Banyak sekali latar belakang kekerasan terhadap anak mulai dari

BAB I PENDAHULUAN. remaja dihadapkan pada konflik dan tuntutan social yang baru, termasuk. dirinya sesuai dengan perkembangannya masing-masing.

BAB I PENDAHULUAN. mengembangkan ideologi, dimana orangtua berperan banyak dalam

KONDISI EMOSI PELAKU BULLYING (Studi Kasus Pada Siswa Kelas VIII di SMP DIPONEGORO 1 Jakarta)

BAB I PENDAHULUAN. Bullying juga didefinisikan sebagai kekerasan fisik dan psikologis jangka

BAB I PENDAHULUAN. dan lain sebagainya yang semuanya menyebabkan tersingkirnya rasa

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Remaja merupakan generasi penerus bangsa di masa depan, harapanya

BAB I PENDAHULUAN. pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang Masalah. Pendidikan ditinjau dari sudut psikososial (kejiwaan kemasyarakatan)

BAB I PENDAHULUAN. Perkembangan emosi menurut Chaplin dalam suatu Kamus Psikologi. organisme mencakup perubahan-perubahan yang disadari, yang mendalam

Pengaruh Role Play dalam Konseling Kelompok untuk Menurunkan Tingkat Bullying Siswa

BAB II LANDASAN TEORI. Sibling rivalry adalah suatu persaingan diantara anak-anak dalam suatu

BAB I PENDAHULUAN. sebagai contoh kasus tawuran (metro.sindonews.com, 25/11/2016) yang terjadi. dengan pedang panjang dan juga melempar batu.

PENDAHULUAN Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. Saat ini berbagai masalah tengah melingkupi dunia pendidikan di

BAB I PENDAHULUAN. ditujukan kepada anak sejak lahir sampai dengan usia enam tahun yang

BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang. Kekerasan dalam pacaran bukan hal yang baru lagi, sudah banyak

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. masyarakat pada anak-anaknya (Friedman et al., 2010). yang masih bertanggung jawab terhadap perkembangan anak-anaknya.

Transkripsi:

BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. Perilaku Bullying 1. Definisi Bullying Bullying adalah ketika siswa secara berulang-ulang dan berperilaku negatif terhadap seorang atau lebih terhadap siswa lain. Tindakan negatif disini adalah ketika seseorang secara sengaja melukai atau mencoba melukai, atau membuat seseorang tidak nyaman. Intinya secara tidak langsung tersirat dalam definisi perilaku agresifolweus (2004). Menurut Rigby (2003) bullying adalah keinginan untuk menyakiti yang merupakan sebuah tindakan negatif, ketidakseimbangan kekuatan dan biasanya terjadi pengulangan atau repetisi, bukans ekedar penggunaan kekuatan namuna danya kesenangan yang dirasakan oleh pelaku dan rasa tertekan di pihak korban. Sedangkan menurut Coloraso (dalam wiyani, 2012) bullying adalah tindakan intimidasi yang dilakukan pihak yang lebihkuat terhadap pihak yang lebih lemah. Bullying dapat mengambil beragam bentuk. Di sekolah bullying lebih dikenal dengan istilah-istilah seperti digertak, digencet, dan lain-lain. SEJIWA (2008) menyatakan bahwa bullying adalah situasi dimana seseorang yang kuat ( bias secara fisik maupun mental) menekankan, memojokkan, melecehkan, menyakiti seseorang yang lemah dengan sengaja dan berulang-ulang, untuk menunjukkan kekuasaannya. Dalam hal ini sang 8

9 korban tidak mampu membela atau mempertahankan dirinya sendiri karena lemah secara fisik atau mental. MenurutSullivan (2008),bullyingjuga harus dibedakan dari tindakan atauperilaku agresif lainnya. Pembedanya adalah tidak bisa dikatakan bullyingjika seseorang menggoda orang lain secara bercanda, perkelahian yang terjadi hanya sekali, dan perbuatan kasar atau perkelahian yang tidak bertujuan untuk menyebabkan kehancuran atau kerusakan baik secara material maupun mental. Selain itu tidak bisa dikatakan bullying jika termasuk perbuatan kriminal seperti penyerangan dengan senjata tajam, kekerasan fisik, perbuatan serius untuk menyakiti atau membunuh, pencurian serius, dan pelecehan seksual yang dilakukan hanya sekali. Berdasarkan dari uraian tersebut dapat disimpulkan bahwa perilaku bullyingadalah suatu tindakan negatif yang dilakukan lebih dari sekali terhadap korbannya dengan tujuan untuk melukai baik secara fisik atau mentalsehingga membuat korban merasa tidak nyaman serta melibatkan adanya perbedaan kekuatan atau kekuasaan antara pelaku dan korban. 2. Bentuk-Bentuk Perilaku Bullying Menurut Semai Jiwa Amini, (2008) ada tiga bentuk perilaku bullying : a. Bentuk fisik, merupakan jenis bullying yang paling tampak dan paling dapat diidentifikasi dari pada bentuk-bentuk penindasan lainnya, namun kejadian penindasan fisik terhitung kurang dari sepertiga insiden bullying yang dilaporkan oleh siswa. Yang termasuk penindasan secara fisik seperti

10 memukul, mencubit, menjewer, meninju, mendorong, menendang, menjitak, menampar, mendorong kepala, menarik alis mata, melempar penghapus, kapur, sapu dan buku, menjemur korban di panas atau hujan, perpeloncoan atau ospek dan memalak (meminta dengan paksa yang bukan miliknya). b. Bentuk verbal. Kata-kata adalah alat yang kuat dan dapat mematahkan semangat seorang anak yang menerimanya. Kekerasan verbal adalah bentuk penindasan yang paling umum digunakan, baik oleh anak perempuan maupun laki-laki. Kekerasan verbal mudah dilakukan dan dapat dibisikkan di hadapan orang dewasa serta teman sebaya, tanpa terdeteksi. Penindasan verbal dapat berupa julukan nama, celaan, fitnah, kritik kejam, penghinaan dan pernyataan-pernyataan bernuansa ajakan seksual atau pelecehan seksual. Selain itu bentuk verbal ini dapat berupa perampasan uang jajan atau barang-barang, telepon yang kasar, e-mail yang mengintimidasi, surat-surat kaleng yang berisi ancaman kekerasan, tuduhan-tuduhan yang tidak benar, dan gosip. c. Bentuk psikologis, jenis ini sulit dideteksi dari luar. Bentuk psikologis ini adalah pelemahan harga diri si korban penindasan secara sistematis melalui pengabaian, pengucilan, atau penghindaran. Penghindaran adalah suatu tindakan penyingkiran, adalah alat yang terkuat. Anak yang digunjingkan mungkin akan tidak mendengar gosip itu, namun akan tetap mengalami efeknya. Perilaku ini dapat mencakup sikap-sikap tersembunyi

11 seperti pandangan yang agresif, lirikan mata, helaan nafas, bahu yang bergidik, cibiran, tawa mengejek, dan bahasa tubuh yang kasar. 3. Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Perilaku Bullying Tindakan bullying mencerminkan bahwa bullying adalah masalah pentingyang dapat terjadi di setiap sekolah jika tidak terjadi hubungan sosial yang akrab oleh sekolah terhadap komunitasnya, yakni murid, staf, masyarakat sekitar, dan orang tua murid. Maka, Astuti (2008) menyimpulkan faktor-faktor bullying sebagai berikut : a. Faktor keluarga Latar belakang keluarga turut memainkan peranan yang penting dalam membentuk perilaku bullying. Orang tua yang sering bertengkar atau berkelahi cenderung membentuk anak-anak yang beresiko untuk menjadi lebih agresif. Penggunaan kekerasan dan tindakan yang berlebihan dalam usaha mendisiplinkan anak-anak oleh orang tua, pengasuh, dan guru secara tidak langsung, mendorong perilaku buli di kalangan anak-anak. Anak-anak yang mendapat kasih sayang yang kurang, didikan yang tidak sempurna dan kurangnya pengukuhan yang positif, berpo-tensi untuk menjadi pembuli. b. Faktor sekolah Lingkungan, praktik dan kebijakan sekolah mempengaruhi aktivitas, tingkah laku, serta interaksi pelajar di sekolah. Rasa aman dan dihargai merupakan dasar kepada pencapaian akademik yang tinggi di sekolah. Jika hal ini tidak dipenuhi, maka pelajar mungkin bertindak untuk mengontrol lingkungan mereka dengan melakukan tingkah laku anti-sosial seperti melakukan buli terhadap orang lain. Managemen dan pengawasan disiplin

12 sekolah yang lemah akan mengakibatkan lahirnya tingkah laku buli di sekolah. c. Perbedaan kelas (senioritas), ekonomi, agama, jender, etnisitas/rasisme. Pada dasarnya, perbedaan (terlebih jika perbedaan tersebut bersifat ekstrim) individu dengan suatu kelompok dimana ia bergabung, jika tidak dapat disikapi dengan baik oleh anggota kelompok tersebut, dapat menjadi faktor penyebab bullying. Sebagai contoh adanya perbedaan kelas dengan anggapan senior-yunior, secara tidak langsung berpotensi memunculkan perasaan senior lebih berkuasa dari pada juniornya.senior yang menyalah artikan tingkatannya dalam kelompok, dapat memanfaatkannya untuk mem-bully junior. Sedangkan individu yang berada pada kelas ekonomi yang berbeda dalam suatu kelompok juga dapat menjadi salah satu faktor penyebab bullying. d. Senioritas Sebagai salah satu perilaku bullying seringkali pula justru diperluas oleh siswa sendiri sebagai kejadian yang bersifat laten. Bagi mereka keinginan untuk melanjutkan masalah senioritas ada untuk hiburan, penyaluran dendam, iri hati atau mencari popularitas, melanjutkan tradisi atau menunjukkan kekuasaan. e. Karakter individu/kelompok, seperti : 1) Dendam atau iri hati 2) Adanya semangat menguasat ingin menguasai korban dengan kekuatan fisik dan daya tarik seksual

13 3) Untuk meningkatkan popularitas pelaku dikalangan teman sepermainan (peer-groupnya) 4) Kematangan emosi, kurang matang secara emosi yang tampak dari rendahnnya Kontrol diri sehingga individu cendrung impulsif Field (dalam Rigby 2002). Duncan (2005) dalam seminarnya yang bertema bully abuse: How children harm other child, menyebutkan salah satu factor terjadinya bullying adalah remaja yang tidak matang emosinya. B. Kematangan Emosi 1. Definisi Kematangan Emosi Individu yang dikatakan mempunyai kematangan emosi yaitu individu yang dapat melakukan Kontrol diri yang bias diterima secara sosial, mempunyai pemahaman diri, menggunakan kemampuan kritis dalam menilai situasi sebelum meresponnya dan kemudian memutuskan cara bereaksi terhadap situasi tersebut Hurlock (1980). Menurut Covey (dalam Sari dkk, 2002) kematangan emosi adalah kemampuan untuk mengekspresikan perasaan yang ada dalam diri secara yakin dan berani, yang diimbangi dengan pertimbangan akan perasaan dan keyakinan individu lain. Sedangkan Sari (2002) berdasarkan teori kematangan yang dikemukakan oleh Covey mengatakan bahwa kematangan emosi adalah sejauh mana individu dapat mengekspresikan emosinya secara tepat yaitu dengan memunculkan mekanisme psikologi yang sesuai dan bermanfaat untuk menghadapi berbagai keadaan dalam kehidupan sehari-hari,

14 dimana kemampuan tersebut didasarkan pada pengalaman-pengalamannya di masa lalu dan keinginan individu untuk terus belajar dari kehidupannya. Seseorang yang telah mencapai kematangan emosi dapat mengendalikan emosinya. Emosi yang terkendali menyebabkan orang mampu berpikir secara lebih baik, melihat persoalan secara objektif (Walgito, 2004). Davidoff (1980) menerangkan bahwa k ematangan emosi merupakan kemampuan individu untuk dapat menggunakan emosinya dengan baik serta dapat menyalurkan emosinya pada hal-hal yang bermanfaat dan bukan menghilangkan emosi yang ada dalam dirinya. Hurlock (1980) mendefinisikan kematangan emosi sebagai tidak meledaknya emosi di hadapan orang lain melainkan menunggu saat dan tempat yang lebih tepat untuk mengungkapkan emosinya dengan cara-cara yang lebih dapat diterima. Sartre (2002) mengatakan bahwa kematangan emosi adalah keadaan seseorang yang tidakcepat terganggu rangsang yang bersifat emosional, baik dari dalam maupun dari luar dirinya, selain itu dengan kematangan emosi maka individu dapat bertindak dengan tepat dan wajar sesuai dengan situasi dan kondisi. Meichati (1983) mengatakan bahwa kematangan emosional adalah keadaan seseorang yang tidak cepat terganggu rangsangannya yang bersifatemosional, baik dari dalam maupun dari luardirinya, selain itu dengan matangnya emosi maka individu dapat bertindak tepat dan wajar sesuai dengan situasi dan kondisi. Hasil penelitian ini juga mendukungpendapat Walgito (2004), bahwa individu yang bisa dikatakan telah matang emosinya

15 adalah jika dalam diri individu tersebut mampu menerima keadaan dirinya maupun orang lain apa adanya, tidak impulsif, akan memberikan tanggapan terhadap stimulus secara adekwat, dapat mengontrol emosi dan ekspresi emosinya dengan baik, dapat berfikir secara obyektif dan realistis sehingga bersifat sabar, penuhpengertian dan memiliki toleransi yang baik, mempunyai tanggung jawab yang baik, dapat berdiri sendiri, tidak mudah mengalami frustasi dan akan menghadapi masalah dengan penuh pengertian. Kematangan emosi berarti kemampuan untuk menggunakan sumbersumber emosional untuk mencari kepuasan dari hal-hal yang menyenangkan, mencintai dan menerima cinta, menerima ketakutan yang timbul saat berada pada situasi yang menakutkan tanpa perlu untuk pura-pura berani, mengalammi kemarahan yang wajar ketika berhadapan dengan perasaan frustasi, dan meraih segala kemungkinan dalam kehidupan walaupun itu berarti harus menghadapi kemungkinan susah atau senang maupun untung atau rugi (Mulyono, 1986). Hurlock (19 80) mengungkapkan bahwa individu dikatakan matang emosinya jika tidak meledakkan emosinya dihadapan orang lain, melainkan menunggu saat yang tepat untuk mengungkapkan emosinya. Individu yang memiliki kematangan emosi memiliki cara-cara yang lebih dapat diterima oleh orang lain dan dapat menilai situasi secara kritis terlebih dahulu sebelum beraksi secara emosional, serta tidak lagi bereaksi tanpa berfikir sebelumnya seperti anak-anak atau orang yang tidak matang.

16 Berdasarkan uraian di atas, peneliti menyimpulkan kematangan emosi sebagai keadaan dimana suatu individu dapat menerima suatu keadaan atau kondisi dengan memunculkan emosi yang sesuai dengan apa yang terjadi padanya tanpa berlebihan atau meledak-ledak. Selain itu individu tersebut mampu berfikir secara kritis terlebih dahulu sebelum mengutarakan apa yang dirasakannya sehingga mampu mengutarakan hal tersebut pada waktu yang tepat dan dengan cara yang dapat diterima oleh orang lain. Kematangan emosi adalah kemampuan seorang individu untuk mengendalikan emosinya dengan baik, tidak meledakkan emosinya dihadapan orang lain melainkan menunggu saat dan tempat yang lebih tepat untuk mengungkapkan emosinya dengan cara-cara yang lebih dapat diterima. Individu yang telah matang emosinya dapat ditandai dengan adanya penerimaan diri yang baik, tidak impulsif, sabar, penuh pengertian, bertanggungjawab dan memiliki toleransi yang baik. 2. KarakteristikK ematangan Emosi Menurut Walgito (2002), individu yang dikatakan matang emosinya memiliki ciri-ciri sebagai berikut : a. Seseorang yang matang emosinya dapat menerima baik keadaan dirinya maupun orang lain seperti apa adanya, sesuai keadaan objektifnya. Hal ini disebabkan orang yang matang emosinya dapat berpikir secara baik dan objektif. b. Seseorang yang matang emosinya padaumumnya tidak bersifat implusif, akan merespon stimulus dengan cara mengatur pola berpikir secara baik untuk memberikan tanggapan kepada stimulus tersebut.

17 c. Seseorang yang matang emosinya, dapat mengontrol emosi dan ekspresinya dengan baik, walau dalam keadaan marah, orang tersebut dapat mengatur kapan kemarahan tersebut dimanifestasikan. d. Seseorang yang matang emosinya dapat berpikir objektif, sehingga akan bersifat sabar, penuh pengertiandan pada umumnya cukup mempunyai toleransi yang baik e. Seseorang yang matang emosinya akan mempunyai tanggung jawab yang baik, dapat berdiri sendiri, tidak mudah mengalami frustasi dan menghadapi masalah dengan penuh pengertian. Menurut Hurlock (1980), individu yang dikatakan matang emosinya yaitu; a. Dapat melakukan kontrol diri yang bias diterima secara sosial. Individu yang emosinya matang mampu mengontrol ekspresi emosi yang tidak dapat diterima secara sosial atau membebaskan diri dari energy fisik dan mental yang tertahan dengan cara yang dapat diterima dengan sosial. b. Pemah aman diri individu yang matang. Belajar memahami seberapa banyak kontrol yang dibutuhkan untuk memuaskan kebutuhannya dan sesuai dengan harapan masyarakat. c. Menggunakan kemampuan kritis mental. Individu yang matang berusaha menilai situasi secara kritis sebelum meresponnya, kemudian memutuskan bagaimana cara bereaksi terhadap situasi tersebut.

18 3. Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Kematangan Emosi Soesilowindradini (1998) menjelaskan bahwa untuk mencapai kematangan emosi, seseorang harus mempunyai pandangan yang luas ke dalam stuasi-situasi yang mungkin menimbulkan reaksi-reaksi emosional yang hebat. Hal ini didapat apabila seorang individu bersedia membicarakan tentang problem-problem yang dihadapi kepada orang lain. Menurut Hurlock (19 80) hal-hal yang dapat mempengaruhi kematangan emosi seseorang adalah sebagai berikut: a. Gambaran tentang situasi-situasi yang dapat menimbulkan reaksi emosionalnya b. Membicarakan masalah pribadi dengan orang lain c. Lingkungan sosialnya yang dapat menimbulkan rasa aman dan keterbukaan dalam hubungan sosialnya d. Latihan fisik yang berarti bermain dan bekerja e. Kebiasaan dalam memahami dan menguasai emosi-emosi dan nafsunya. C. Kerangka Berpikir dan Hipotesis 1. Kerangka Berpikir Teori utama yang digunakan dalam penelitian ini adalah teori tentang kematangan emosi dari Walgito (2004) dan teori prilaku bullying dari SEJIWA (2008). Alexander (dalam Sejiwa, 2008) menjelaskan bahwa bullying adalah masalah kesehatan publik yang perlu mendapatkan perhatian karena dampaknya bisa mengganggu kesehatan mental maupun fisik jangka pendek maupun jangka panjang.

19 Bullying adalah perilaku negatif yang mengakibatkan seseorang dalam keadaan tidak nyaman atau terluka dan biasanya terjadi berulang-ulang (Wiyani, 2012). Bullying adalah situasi dimana seseorang yang kuat (secara fisik maupun mental) menekanmemojokkan, melecehkan, menyakiti seseorang yang lemah dengan sengaja dan berulang-ulang,untuk menunjukkan kekuasaannya (Sejiwa, 2008). Sejiwa, memaparkan contoh tindakan negatif yang termasuk dalam bullying antara lain: (1) mengatakan hal yang tidak menyenangkan atau memanggil seseorang dengan julukan yang buruk, (2) mengabaikan atau mengucilkan seseorang dari suatu kelompok karena suatu tujuan, (3) memukul, menendang atau menyakiti secara fisik (4) mengatakan kebongan atau rumor yang keliru mengenai seseorang atau membuat siswa lain tidak menyukai seseorang atau hal-hal semacamnya. Menurut Gottfredson dan Hirschi (1990).Salah satu penyebab timbulnya prilaku bullying adalah kurangnya kemampuan untuk mengendalikan diri yang merupakan karakter kematangan emosi, penelitiannya menunjukkan bahwa pengendalian diri yang rendah berperan dalam prilaku bullying dikalangan sekolah menengah.individu yang memiliki tingkat kematangan emosional akan lebih sehat secara emosional dan mampu menyelesaikan permasalahan, baik masalah sendiri atau pun masalah sosial, sehingga dengan adanya kondisi-kondisi tersebut sangat mendukung individu tidak berperilaku bullying. Pernyataan diatas sejalan dengan hasil penelitian Sarwono (2010) menyebutkan bahwa tingginya angka kenakalan remaja adalah rendahnya

20 kematangan emosi remaja antara lain, kurangnnya kemampuan dalam mengendalikan emosi dengan cara yang dapat diterima norma. Belum matangnya emosi individu menyebabkan individu mudah terbawa pengaruh kelompok untuk melakukan prilaku tertentu (prilaku negatif). Individu yang dikatakan mempunyai kematangan emosi yaitu individu yang dapat melakukan kontrol diri yang bisa diterima secara sosial, mempunyai pemahaman diri, menggunakan kemampuan kritis dalam menilai situasi sebelum meresponnya dan kemudian memutuskan cara bereaksi terhadap situasi tersebut (Hurlock, 1980) Gambaran kematangan emosi dapat dilihat dengan ciri-ciri sebagai berikut : (1) penerimaan diri, dapat menerima baik keadaan dirinya maupun orang lain seperti apa adanya, sesuai keadaan objektifnya. (2) tidak bersifat impulsive, merespon stimulus dengan cara mengatur pola berpikir secara baik untuk memberi tanggapan kepada stimulus tersebut. (3) mengontrol emosi dengan baik, walaupun dalam keadaan marah, individu tersebut dapat mengatur kemarahan tersebut dapat dimanifestasikan. (4) berpikir objektif, sehingga pada umumnnya memiliki toleransi terhadap sesame. (5) memiliki tanggung jawab, sehingga individu tersebut mampu menghadapi masalah dengan penuh perhatian. Mengacu pada beberapa penjelasan teori di atas dengan adanya kelima komponen tersebut dapat dikatakan bahwa remaja yang telah mencapai kematangan emosi tentu akan menjadi pribadi yang memiliki rasa percaya diri yang positif merasa dapat diterima oleh keluarga dan lingkungannya, dapat menerima keadaan fisik apa adanya, tidak bersikap agresif dan brutal sehingga

21 menciptakan suasana yang nyaman. Memiliki tanggung jawab yang baik, tumbuh dengan penuh kasih sayang, mampu menjalin dan membina hubungan baik kepada teman-temannya baik di sekolah ataupun lingkungan tempat tinggal, sehingga sangat jauh dari perilaku bullying. Remaja yang emosinya belum matang atau rendah dapat memunculkan prilaku bullying karena remaja tersebut tidak mampu mengontrol emosinya secara baik. Seperti yang telah di jelaskan Astuti, bullying sangat erat kaitannya dengan kekerasan, penindasan, dan intimidasi yang seharusnya tidak terjadi jika seorang itu mampu mengendalikan,mengelola emosinya, memahami diri dan bersikap empati dan tidak bersifat dendam dan iri hati kepada orang lain (Astuti, 2008). D. Hipotesis Berdasarkan kerangka pemikiran yang telah dikemukakan pada bagian terdahulu, maka dalam penelitian ini diajukan hipotesis sebagai berikut: Terdapat hubungan negatif antara kematangan emosi dengan perilaku bullying pada siswasiswi jurusan akuntansi SMKN 1 Rambah.