KESIAPSIAGAAN MENGAHADAPI MERS-CoV

dokumen-dokumen yang mirip
RAPAT DENGAR PENDAPAT KEMENKES DENGAN PANJA KESEHATAN HAJI KOMISI IX DPR - RI

BAB I PENDAHULUAN 1.1. LATAR BELAKANG

PEDOMAN UMUM KESIAPSIAGAAN MENGHADAPI

Pedoman Surveilans dan Respon Kesiapsiagaan Menghadapi Middle East Respiratory Syndrome Corona Virus (MERS-COV) untuk Puskesmas di Kabupaten Bogor

KESIAPSIAGAAN KANTOR KESEHATAN PELABUHAN DALAM CEGAH TANGKAL MERS-COV DI PINTU MASUK NEGARA

Frequent Ask & Questions (FAQ) MERS CoV untuk Masyarakat Umum

PERINGATAN!!! Bismillaahirrahmaanirraahiim Assalamu alaikum warahmatullaahi wabarakaatuh

PEDOMAN KEWASPADAAN UNIVERSAL BAGI PETUGAS KESEHATAN

Jika tidak terjadi komplikasi, penyembuhan memakan waktu 2 5 hari dimana pasien sembuh dalam 1 minggu.

BAB III KEMUNCULAN DAN PENYEBARAN VIRUS MERS. Middle Eastern Respiratory Syndrome yang disingkat dengan sebutan MERS

BAB I PENDAHULUAN. Middle East Respiratory Syndrome-Corona Virus atau biasa disingkat MERS-

BULETIN SURVEILANS ISPA BERAT DI INDONESIA (SIBI) : Januari 2014 Data masih bersifat sementara dan dapat berubah seiring dengan penerimaan laporan

Swine influenza (flu babi / A H1N1) adalah penyakit saluran pernapasan yang disebabkan oleh virus Orthomyxoviridae.

INFO TENTANG H7N9 1. Apa virus influenza A (H7N9)?

Upaya Indonesia dalam Perlindungan Warga Negara Indonesia dari. Penyebaran Virus Mers di Arab Saudi ( )

Pedoman Kesiapsiagaan Menghadapi Middle East Respiratory Syndrome Corona Virus (MERS-COV) di Indonesia

Buletin ini dapat memantau tujuan khusus SIBI antara lain :

TAKLIMAT MERS-CoV UNTUK AGENSI / PENGENDALI JEMAAH UMRAH

BAB IV ANCAMAN VIRUS MERS BAGI WARGA NEGARA INDONESIA DI ARAB SAUDI DAN UPAYA PEMERINTAH INDONESIA

PEDOMAN PENCEGAHAN DAN PENGENDALIAN INFEKSI KASUS KONFIRMASI ATAU PROBABEL INFEKSI VIRUS

PENANGANAN INFLUENZA DI MASYARAKAT (SARS, H5N1, H1N1, H7N9)

BULETIN SURVEILANS ISPA BERAT DI INDONESIA (SIBI) : Maret 2014 Data masih bersifat sementara dan dapat berubah seiring dengan penerimaan laporan

PERATURAN MENTERI KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 59 TAHUN 2016 TENTANG PEMBEBASAN BIAYA PASIEN PENYAKIT INFEKSI EMERGING TERTENTU

BAB I PENDAHULUAN. menimbulkan berbagai spektrum penyakit dari tanpa gejala atau infeksi ringan

IMPLEMENTASI IHR ( 2005 ) DI INDONESIA

KEPUTUSAN MENTERI KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR HK.02.02/MENKES/405/2014 TENTANG

Mengapa disebut sebagai flu babi?

BAB I PENDAHULUAN. oleh virus dan bersifat zoonosis. Flu burung telah menjadi perhatian yang luas

A. Kesimpulan. Berdasarkan hasil dan pembahasan penelitian diatas, dapat disimpulkan beberapa hal antaralain lain:

No. Kuesioner : I. Identitas Responden 1. Nama : 2. Umur : 3. Jenis Kelamin : 4. Pendidikan : 5. Pekerjaan : 6. Sumber Informasi :

FLU BURUNG AVIAN FLU BIRD FLU. RUSDIDJAS, RAFITA RAMAYATI dan OKE RINA RAMAYANI

KEPUTUSAN MENTERI KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 311/MENKES/SK/V/2009 TENTANG

BAB I PENDAHULUAN. Tuberkulosis atau sering disebut dengan istilah TBC merupakan penyakit

Disampaikan pada Pertemuan Ilmiah Tahunan Nasional Ikatan Perawat Dialisis Indonesia (IPDI) Palembang, 17 Oktober 2014

Strategi Pencegahan dan Pengendalian Infeksi untuk Prosedur Khusus di Fasilitas Pelayanan Kesehatan

RSCM KEWASPADAAN. Oleh : KOMITE PPIRS RSCM

BAB 1 PENDAHULUAN. Virus family Orthomyxomiridae yang diklasifikasikan sebagai influenza A, B, dan C.

2017, No Undang-Undang Nomor 36 Tahun 2009 tentang Kesehatan (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2009 Nomor 144, Tambahan Lembaran Neg

BAB I PENDAHULUAN. Balita. Pneumonia menyebabkan empat juta kematian pada anak balita di dunia,

Penyebab, gejala dan cara mencegah polio Friday, 04 March :26. Pengertian Polio

PEDOMAN TATALAKSANA KLINIS INFEKSI SALURAN PERNAPASAN AKUT BERAT SUSPEK MIDDLE EAST RESPIRATORY SYNDROME-CORONA VIRUS (MERS-CoV)

BAB 1 PENDAHULUAN. Sasaran pembangunan milenium (Millennium Development Goals/MDGs)

Simulasi Kejadian Luar Biasa Flu Burung di Desa Dangin Tukadaya

BAB I PENDAHULUAN. meningkatkan kesejahteraan rakyat secara menyeluruh. Pemberantasan penyakit. berperanan penting dalam menurunkan angka kesakitan

PENGENDALIAN PENYAKIT, SURVEILANS EPIDEMIOLOGI, IMUNISASI & KESEHATAN MATRA

2017, No Mengingat : 1. Undang-Undang Nomor 29 Tahun 2004 tentang Praktik Kedokteran (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2004 Nomor 116,

BAB I PENDAHULUAN 1.1 LATAR BELAKANG

BAB I PENDAHULUAN. Penyakit Demam Berdarah Dengue (DBD) selalu merupakan beban

Kesiapsiagaan Menghadapi Pandemi Indluenza

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN. disebut infeksi saluran pernapasan akut (ISPA). ISPA merupakan

BAB 1 PENDAHULUAN. TB (Mycobacterium tuberculosis). Sebagian besar bakteri TB menyerang paru, tetapi

BAB I PENDAHULUAN. yang disebabkan oleh virus atau bakteri dan berlangsung selama 14 hari.penyakit

BAB I PENDAHULUAN. dan batuk baik kering ataupun berdahak. 2 Infeksi saluran pernapasan akut

Middle East Respiratory Syndrome-CoV

DINAS KESEHATAN KABUPATEN CIANJUR PUSKESMAS CIANJUR KOTA LAMPIRAN NOMOR : TENTANG KERANGKA ACUAN KEGIATAN KAMPANYE VAKSIN MEALSES- RUBELLA (MR)

PERATURAN MENTERI KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 949/MENKES/SK/VIII/2004 TENTANG

HUBUNGAN ANTARA PENGETAHUAN TENTANG FLU BABI DENGAN SIKAP PETERNAK BABI DALAM PENCEGAHAN PENYAKIT FLU BABI DI DESA BRONTOWIRYAN NGABEYAN KARTASURA

WALIKOTA YOGYAKARTA DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA PERATURAN WALIKOTA YOGYAKARTA NOMOR 68 TAHUN 2017 TENTANG PENYELENGGARAAN KESEHATAN HAJI

BAB 1 PENDAHULUAN. kepercayaan, kita dihadapkan lagi dengan sebuah ancaman penyakit dan kesehatan,

BAB 1 PENDAHULUAN. dinilai melalui berbagai indikator. Salah satunya adalah terhadap upaya

Analisis Kestabilan Model Matematika Penyebaran Infeksi Penyakit SARS (Severe Acute Respiratory Syndrome) dengan Faktor Host dan Vaksinasi

Infeksi yang diperoleh dari fasilitas pelayanan kesehatan adalah salah satu penyebab utama kematian dan peningkatan morbiditas pada pasien rawat

PANDUAN PRATIKUM KESEHATAN INTERNASIONAL DAN KARANTINA

BAB I PENDAHULUAN. penyebarannya semakin meluas. DBD disebabkan oleh virus Dengue dan

LAPORAN SOSIALISASI RENCANA KONTIJENSI MENGHADAPI PHEIC DI PELABUHAN BUNGUS TANGGAL 26 APRIL 2017

BAB I. PENDAHULUAN. A. Latar Belakang

PEDOMAN SURVEILANS EPIDEMIOLOGI PENYAKIT SARS

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. Tuberkulosis (TB) adalah penyakit infeksi menular langsung yang

Informasi penyakit ISPA

SKRIPSI ANALISIS FAKTOR RISIKO KEJADIAN PENYAKIT TUBERKULOSIS PADA ANAK DI BALAI BESAR KESEHATAN PARU MASYARAKAT SURAKARTA

BAB I PENDAHULUAN. Tuberkulosis merupakan salah satu penyakit infeksi yang disebabkan oleh

BAB 1 : PENDAHULUAN. ke manusia. Timbulnya gejala biasanya cepat, yaitu dalam waktu beberapa jam

PEDOMAN SURVEILANS DAN RESPON KESIAPSIAGAAN MENGHADAPI

BAB I PENDAHULUAN. perhatian khusus di kalangan masyarakat. Menurut World Health Organization

PENDAHULUAN. Herdianti STIKES Harapan Ibu Jambi Korespondensi penulis :

PENANGANAN DAN PENCEGAHAN TUBERKULOSIS. Edwin C4

SAFII, 2015 GAMBARAN KEPATUHAN PASIEN TUBERKULOSIS PARU TERHADAP REGIMEN TERAPEUTIK DI PUSKESMAS PADASUKA KECAMATAN CIBEUNYING KIDUL KOTA BANDUNG

BAB I PENDAHULUAN. sampai dengan lima tahun. Pada usia ini otak mengalami pertumbuhan yang

~ Kepada Para Lembaga Penerima Trainee & Trainee Praktek Kerja dari Luar Negeri ~

BAB 1 PENDAHULUAN. hidup manusia dan derajat kesehatan masyarakat dalam aspek pencegahan,

PROSEDUR TETAP (PROTAP) PEMERIKSAAN AKHIR KESEHATAN CALON JAMAAH HAJI I. PROSEDUR TETAP PENERIMAAN CJH

2014 AEA International Holdings Pte. Ltd. All rights reserved. 1

Pertanyaan Seputar Flu A (H1N1) Amerika Utara 2009 dan Penyakit Influenza pada Babi

BAB 1 PENDAHULUAN. ketidaknyamanan yang berkepanjangan sampai dengan kematian. Tindakan

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

Infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) yang cenderung menjadi epidemi dan pandemi

BAB I PENDAHULUAN 1.1 LATAR BELAKANG

MODEL PENYEBARAN MIDDLE EAST RESPIRATORY SYNDROME (MERS) DENGAN PENGARUH PENGOBATAN

PEDOMAN TATALAKSANA KLINIS INFEKSI SALURAN PERNAPASAN AKUT BERAT SUSPEK MIDDLE EAST RESPIRATORY SYNDROME-CORONA VIRUS (MERS-CoV)

BAB 1 PENDAHULUAN. Tingginya angka kejadian Rabies di Indonesia yang berstatus endemis

PERATURAN MENTERI KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 61 TAHUN 2013 TENTANG KESEHATAN MATRA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

BAB 1 PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. Batuk pilek merupakan gangguan saluran pernafasan atas yang paling

BAB 1 PENDAHULUAN. menjalankan kebijakan dan program pembangunan kesehatan perlu

BAB I PENDAHULUAN. (Thomas, 2004). Ada beberapa klasifikasi utama patogen yang dapat

BULETIN SISTEM KEWASPADAAN DINI DAN RESPONS

BAB 1 PENDAHULUAN. Kesehatan adalah keadaan sejahtera dari badan, jiwa, dan sosial yang

Transkripsi:

KESIAPSIAGAAN MENGAHADAPI MERS-CoV ( Middle East Respiratory Syndrome Corona Virus) DINAS KESEHATAN PROVINSI BALI

MERS-CoV adalah singkatan dari Middle East Respiratory Syndrome Corona Virus. Virus ini merupakan jenis baru dari kelompok Coronavirus (Novel Corona Virus). Virus ini pertama kali dilaporkan pada bulan Maret 2012 di Arab Saudi. Virus SARS tahun 2003 juga merupakan kelompok virus Corona dan dapat menimbulkan pneumonia berat akan tetapi berbeda dari virus MERS-CoV. MERS-CoV adalah penyakit sindrom pernapasan yang disebabkan oleh virus Corona yang menyerang saluran pernapasan mulai dari yg ringan sampai berat.

Gejala Pasien MERS-CoV Kebanyakan orang yg terinfeksi MERS-CoV menunjukkan penyakit pernapasan akut dgn gejala demam, batuk, & sesak napas. Sekitar setengah dari mereka meninggal dunia dg beberapa orang yg dilaporkan diketahui memiliki riwayat penyakit pernapasan ringan.

Cara penularan MERS-CoV Virus ini dapat menular antar manusia secara terbatas, dan tidak terdapat transmisi penularan antar manusia secara luas dan bekelanjutan. Mekanisme penularan belum diketahui. Kemungkinan penularannya dapat melalui : Langsung : melalui percikan dahak (droplet) pada saat pasien batuk atau bersin. Tidak Langsung: melalui kontak dengan benda yang terkontaminasi virus.

Negara yang terserang Ada 9 negara yang telah melaporkan kasus MERS- CoV (Perancis, Italia, Jordania, Qatar, Arab Saudi, Tunisia, Jerman, Inggris dan Uni Emirat Arab). Semua kasus berhubungan dengan negara di Timur Tengah (Jazirah Arab), baik secara langsung maupun tidak langsung.

SITUASI GLOBAL 1. April 2012-8 Mei 2014 536 kasus dikonfirmasi laboratorium telah dilaporkan ke WHO 145 kematian 2. Negara-negara yang terkena dampak : Timur Tengah termasuk Yordania, Kuwait, Oman, Qatar, Arab Saudi ( KSA ), Uni Emirat Arab ( UEA ) dan Yaman ; Afrika : Mesir dan Tunisia ; Eropa : Perancis, Jerman, Yunani, Italia dan Inggris ; Asia : Malaysia dan Filipina ; North Amerika : Amerika Serikat (AS ). 3. Semua kasus baru dilaporkan di luar Tengah Timur ( Mesir, Yunani, Malaysia, Filipina, dan Amerika Serikat ) baru-baru ini melakukan perjalanan dari negara-negara Timur Tengah ( KSA atau UEA ). 4. Secara keseluruhan, 65,6 % kasus adalah laki-laki dan usia rata-rata adalah 49 tahun Sumber : WHO Update 9 Mei 2014

FAKTA-FAKTA TTG PENYEBARAN MERS-CoV DI ASIA TENGAH & EROPA : MERS-CoV telah terbukti tersebar antara orang-orang yang berada dlm hub klg cluster kasus di Arab Saudi, Yordania, Inggris, Perancis, Tunisia, dan Italia namun belum ada bukti penularan berkelanjutan di luar kluster kasus Tidak ada pengobatan khusus untuk penyakit yang disebabkan oleh MERS-CoV perawatan medis yg dilakukan dlm rangka membantu meringankan gejala yg timbul (supportive) Tidak terdapat vaksin khusus utk pencegahan MERS-CoV. 75 persen dari kasus baru coronavirus (MERS-CoV) di Arab Saudi berjenis kelamin laki-laki Mrp kasus sporadis yg teridentifikasi di masyarakat dg infeksi yg dpt terjadi dlm satu keluarga yaitu dr pasien ke individu lain, dan infeksi diketahui juga terjadi pd fasilitas kesehatan yaitu dari pasien ke petugas kesehatan spt terjadi di Perancis, Yordania, dan Arab Saudi.

Pernyataan WHO tanggal 17 Juli 2013 pada pertemuan IHR Emergency Committee concerning MERS-CoV menyatakan bahwa MERS-CoV merupakan situasi serius dan perlu perhatian besar namun belum terjadi kejadian kedaruratan kesehatan masyarakat Internasional. (PHEIC/Public Health Emergency of International Concern).

DEFINISI KASUS MERS-CoV Merujuk pada definisi kasus WHO, klasifikasi kasus MERS-CoV : 1. Kasus dalam penyelidikan (underinvestigated case) *) a. Seseorang dengan Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) dengan tiga keadaan di bawah ini: Demam ( 38 C) atau ada riwayat demam, Batuk, Pneumonia berdasarkan gejala klinis atau gambaran radiologis yang membutuhkan perawatan di rumah sakit. b. Seseorang dengan Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) ringan sampai berat yang memiliki riwayat kontak erat dengan kasus konfirmasi atau kasus probable infeksi MERS-CoV dalam waktu 14 hari sebelum sakit

Perlu waspada pada pasien dengan gangguan system kekebalan tubuh (immuno-compromised) karena gejala dan tanda tidak jelas. DAN salah satu kriteria berikut : 1) Seseorang yang memiliki riwayat perjalanan ke Timur Tengah (negara terjangkit) dalam waktu 14 hari sebelum sakit kecuali ditemukan etiologi/ penyebab penyakit lain. 2) Adanya petugas kesehatan yang sakit dengan gejala sama setelah merawat pasien ISPA berat (SARI/ Severe Acute Respiratory Infection), terutama pasien yang memerlukan perawatan intensif, tanpa memperhatikan tempat tinggal atau riwayat bepergian, kecuali ditemukan etiologi/penyebab penyakit lain. 3) Adanya klaster pneumonia (gejala penyakit yang sama) dalam periode 14 hari, tanpa memperhatikan tempat tinggal atau riwayat bepergian, kecuali ditemukan etiologi/penyebab penyakit lain. 4) Adanya perburukan perjalanan klinis yang mendadak meskipun dengan pengobatan yang tepat, tanpa memperhatikan tempat tinggal atau riwayat bepergian, kecuali ditemukan etiologi/ penyebab penyakit lain.

2. Kasus Probabel a. Seseorang dengan pneumonia atau ARDS dengan bukti klinis, radiologis atau histopatologis DAN Tidak tersedia pemeriksaan untuk MERS-CoV atau hasil laboratoriumnya negative pada satu kali pemeriksaan spesimen yang tidak adekuat. DAN Adanya hubungan epidemiologis langsung dengan kasus konfirmasi MERS-CoV.

b.seseorang dengan pneumonia atau ARDS dengan bukti klinis, radiologis atau histopatologis DAN Hasil pemeriksaan laboratorium inkonklusif (pemeriksaan skrining hasilnya positif tanpa konfirmasi biomolekular). DAN Adanya hubungan epidemiologis langsung dengan kasus konfirmasi MERS-CoV. 3. Kasus Konfirmasi Seseorang yang terinfeksi MERS-CoV dengan hasil pemeriksaan laboratorium positive

KLASTER Adalah bila terdapat dua orang atau lebih memiliki penyakit yang sama,dan mempunyai riwayat kontak yang sama dalam jangka waktu 14 hari. Kontak dapat terjadi pada keluarga atau rumah tangga, dan berbagai tempat lain seperti rumah sakit, ruang kelas, tempat kerja, barak militer, tempat rekreasi, dan lainnya. Kontak erat adalah : Seseorang yang merawat pasien termasuk petugas kesehatan atau anggota keluarga, atau seseorang yang berkontak erat secara fisik. Seseorang yang tinggal ditempat yang sama (hidup bersama, mengunjungi) kasus probable atau kasus konfirmasi ketika kasus sedang sakit

HUBUNGAN EPIDEMIOLOGIS LANGSUNG Adalah apabila dalam waktu 14 hari sebelum timbul sakit : Melakukan kontak fisik erat, yaitu seseorang yang kontak fisik atau berada dalam ruangan atau berkunjung (bercakap-cakap dengan radius 1 meter) dengan kasus probable atau konfirmasi ketika kasus sedang sakit. Termasuk kontak erat antara lain : Petugas kesehatan yang memeriksa, merawat, mengantar dan membersihkan ruangan di tempat perawatan kasus Orang yang merawat atau menunggu kasus di ruanganorang yang tinggal serumah dengan kasus Tamu yang berada dalam satu ruangan dengan kasus Bekerja bersama dalam jarak dekat atau didalam satu ruangan Bepergian bersama dengan segala jenis alat angkut / kendaraan

Pengendalian Infeksi Transmisi penularan virus MERS-CoV belum jelas, dapat terjadi melalui : Langsung : melalui percikan dahak (droplet) pada saat pasien batuk atau bersin. Tidak Langsung : melalui kontak dengan benda yang terkontaminasi virus. Semua protokol pengendalian dan pencegahan infeksi MERS-CoV di fasilitas kesehatan mengikuti pedoman pengendalian infeksi pada penyakit Flu burung.

CARA PENCEGAHAN 1. Cuci tangan Anda dengan sabun dan air selama 20 detik, dan membantu anak-anak melakukan hal yang sama. Jika sabun dan air tidak tersedia, gunakan pembersih tangan berbasis alkohol. 2. Tutup hidung dan mulut dengan tisu saat batuk atau bersin kemudian membuangnya pd tempat sampah yg tertutup. 3. Hindari menyentuh mata, hidung, dan mulut dengan tangan yang belum dicuci. 4. Hindari kontak dekat, seperti mencium, berbagi cangkir, atau berbagi peralatan makan dengan orang yang sakit. 5. Bersihkan dan melakukan disinfeksi pada permukaan yang sering disentuh, seperti mainan dan pegangan pintu. 6. Jika mengalami demam dan gejala penyakit pernapasan bawah, seperti batuk atau sesak napas, dalam waktu 14 hari setelah bepergian dari negaranegara di Semenanjung Arab atau negara-negara tetangganya segera memeriksakan diri pada pusat pelayanan kesehatan dg menyebutkan riwayat perjlnan.

Ruang lingkup kesiapan menghadapi MERS-CoV meliputi: 1. Upaya antisipasi pencegahan kemungkinan risiko warga Negara Indonesia yang berada di negara terjangkit maupun yang berada di Indonesia terinfeksi Mers-CoV. 2. Mendeteksi dini kasus dan penatalaksanaan kasus untuk membatasi penyebaran kasus dan meminimalisir kematian. 3. Serta peran jajaran kesehatan disemua jenjang administrasi pemeritah dan pemangku kepentingan atau sektor terkait dalam antisipasi menghadapi MERS-CoV.

Tujuan Kesiapan MERS-CoV 1. Terdeteksi secara dini kasus MERS-CoV yang berasal dari negara terjangkit. 2. Memutus rantai penularan dan penyebaran kasus di wilayah Indonesia. 3. Melindungi petugas kesehatan yang dalam tugasnya berisiko tinggi terinfeksi, pengunjung pasien suspek dan terkonfirmasi. 4. Meminimalkan kematian kasus. 5. Mengetahui karakteristik klinis dan karakteristik epidemiologik MERS-CoV.

STRATEGI 1. Penguatan koordinasi lintas program dan lintas Sektor. 2. Advokasi dan Sosialisasi 3. Surveilans di pintu masuk ke Indonesia 4. Surveilans di Pelayanan Kesehatan Dasar dan Rumah Sakit 5. Penguatan jejaring laboratorium 6. Komunikasi Risiko /KIE 7. Penguatan kapasitas 8. Tata laksana kasus 9. Pengendalian Infeksi

Usaha yang telah dilakukan pemerintah Indonesia untuk kesiapsiagaan MERS-CoV 1. Peningkatan kegiatan pemantauan di pintu masuk negara (Point of Entry). 2. Penguatan Surveilans epidemiologi termasuk surveilans pneumonia. 3. Pemberitahuan ke seluruh Dinkes Provinsi mengenai kesiapsiagaan menghadapi MERS-CoV, sudah dilakukan sebanyak 3 kali. 4. Pemberitahuan ke 100 RS Rujukan Flu Burung, RSUD dan RS Vertikal tentang kesiapsiagaan dan tatalaksana MERS-CoV. 5. Semua petugas TKHI sudah dilatih dan diberi pembekalan dalam penanggulangan MERS-CoV.

6. Menyiapkan pelayanan kesehatan haji di 15 Embarkasi / Debarkasi (KKP). 7. Meningkatkan kesiapan laboratorium termasuk penyediaan reagen dan alat diagnostik. 8. Diseminasi informasi kepada masyarakat terutama calon jemaah haji dan umrah serta petugas haji Indonesia. 9. Meningkatkan koordinasi lintas program dan lintas sektor seperti BNP2TKI, Kemenhub, Kemenag, Kemenlu dan lain-lain tentang kesiapsiagaan menghadapi MERS-CoV. 10.Melakukan kordinasi dengan pihak kesehatan Arab Saudi. 11.Meningkatkan hubungan Internasional melalui WHO