PERANAN PSIKOTERAPI PADA PROGRAM TERAPI RUMATAN METADON DI RUMAH SAKIT UMUM PUSAT SANGLAH DENPASAR

dokumen-dokumen yang mirip
ABSTRAK KUALITAS HIDUP KLIEN TERAPI METADON DI PTRM SANDAT RSUP SANGLAH

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. Permasalahan narkotika di Indonesia menunjukkan gejala yang

BAB 1 PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Penyalahgunaan zat psiko aktif merupakan masalah yang sering terjadi di

PERBEDAAN WAKTU TRANSPORTASI MUKOSILIAR HIDUNG PADA PENDERITA RINOSINUSITIS KRONIS SETELAH DILAKUKAN BEDAH SINUS ENDOSKOPIK FUNGSIONAL DENGAN ADJUVAN

REHABILITASI PADA LAYANAN PRIMER

REHABILITASI PADA LAYANAN PRIMER

GAMBARAN DOSIS TERAPI PADA PASIEN PROGRAM TERAPI RUMATAN METADON DI RSUD GUNUNG JATI KOTA CIREBON

BAB I PENDAHULUAN. pada program pengalihan narkoba, yaitu program yang mengganti heroin yang. dipakai oleh pecandu dengan obat lain yang lebih aman.

Keefektifan Konseling untuk Menurunkan Skor Penggunaan NAPZA di Klinik Rumatan Metadon

2016, No Nomor 116, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4431); 2. Undang-Undang Nomor 35 Tahun 2009 tentang Narkotika (Lemb

ABSTRAK PERILAKU BUNUH DIRI PADA KLIEN TERAPI METADON DI PTRM SANDAT RSUP SANGLAH

Psikoterapi Singkat Pada Pasien Dengan Kondisi Medis Umum

PTRM PROGRAM TERAPI RUMATAN METADON PUSKESMAS BANGUNTAPAN II

17. Keputusan Menteri...

BAB I PENDAHULUAN. pada pembinaan kesehatan (Shaping the health of the nation), yaitu upaya kesehatan

PENGARUH TERAPI MUSIK DANGDUT RITME CEPAT TERHADAP PERBEDAAN TINGKAT DEPRESI PADA PASIEN DEPRESI DI RUMAH SAKIT JIWA DAERAH SURAKARTA

Lampiran 1 KUESIONER PERILAKU PENGGUNA NAPZA SUNTIK DI DALAM MENGIKUTI PROGRAM TERAPI RUMATAN METADON DI RSUP H. ADAM MALIK MEDAN TAHUN 2010

2011, No sebagaimana telah diubah terakhir dengan Undang- Undang Nomor 12 Tahun 2008 tentang perubahan kedua atas Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2

NASKAH PUBLIKASI FAKTOR YANG BERHUBUNGAN DENGAN PERILAKU KEPATUHAN PENASUN DALAM MENGIKUTI PTRM DI RSJD SUNGAI BANGKONG PONTIANAK 2015

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah

Pelatihan TATALAKSANA KOMPREHENSIF ADIKSI NAPZA DAN PENCEGAHAN HIV/AIDS

BAB I PENDAHULUAN. mengalami gangguan fungsi mental berupa frustasi, defisit perawatan diri, menarik diri

Methadon sejak 1972 disetujui FDA telah terbukti secara klinis mengurangi jumlah orang kecanduan opiat dengan efek samping jangka panjang terbatas

Hubungan Self Hypnotherapy pada Persentase Relapse (kekambuhan) Pengguna NAPZA

CLINICAL CHILD PSYCHOLOGY ISU UNIK PADA PSIKOLOGI KLINIS ANAK

IPAP PTSD Tambahan. Pilihan penatalaksanaan: dengan obat, psikososial atau kedua-duanya.

JOURNAL READING GANGGUAN GEJALA SOMATIK. Diajukan Kepada : dr. Rihadini, Sp.KJ. Disusun oleh : Shinta Dewi Wulandari H2A012001

A. Gangguan Bipolar Definisi Gangguan bipolar merupakan kategori diagnostik yang menggambarkan sebuah kelas dari gangguan mood, dimana seseorang

Karakteristik Terapi Adiksi yang Efektif, NIDA (National Institute on Drug Abuse, 1999) menunjuk 13 prinsip dasar terapi efektif berikut:

REHABILTASI PADA NAPZA

Ni Putu Diah Prabandari, I Made Sukarja, Ni Luh Gde Maryati Program Studi Ilmu Keperawatan Fakultas Kedokteran Universitas Udayana

BAB I PENDAHULUAN. merupakan akronim dari NARkotika, psikotropika, dan Bahan Adiktif lainnya.

Gambaran dan Faktor-Faktor yang Berhubungan dengan Retensi Pasien Program Terapi Rumatan Metadon (PTRM) di Puskesmas Kecamatan Tebet

PORTOFOLIO PPDS-I PSIKIATRI FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS AIRLANGGA RSUD Dr. SOETOMO - SURABAYA

KLASIFIKASI GANGGUAN JIWA

ABSTRAK PASIEN USIA LANJUT DI RUANG RAWAT INTENSIF RUMAH SAKIT IMMANUEL BANDUNG PERIODE 1 AGUSTUS JANUARI 2010

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. proporsi usia lanjut (WHO, 2005, pp. 8-9). Di Indonesia, data survei kesehatan

BAB I. Pendahuluan. 1.1 Latar belakang

BAB 2. TINJAUAN PUSTAKA. dengan karakteristik berupa gangguan pikiran (asosiasi longgar, waham),

ABSTRAK. iii Universitas Kristen Maranatha

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. Narkotika, Psikotropika, dan Zat Adiktif Lainnya (NAPZA) atau dikenal

Bab I Pendahuluan. Universitas Indonesia

DAFTAR KOMPETENSI KLINIK

BAB I PENDAHULUAN A. LATAR BELAKANG

SKRIPSI PENGARUH FREKUENSI PEMBINAAN DAN INTERAKSI PSIKORELIGIUS KELUARGA TERHADAP JANGKA WAKTU KEKAMBUHAN SKIZOFRENIA

RELEVANSI ILMU PSIKOLOGI DALAM PENGEMBANGAN PROGRAM HR. Riza Sarasvita, PhD Kemenkes RI

Kualitas Hidup Klien Terapi Metadon di Program Terapi Rumatan Metadon (PTRM) Sandat RSUP Sanglah

PENGARUH MENGUNYAH PERMEN KARET TERHADAP TINGKAT KECEMASAN MENGHADAPI UJIAN LAPORAN HASIL KARYA TULIS ILMIAH

SISTEM KLASIFIKASI DAN DIAGNOSIS GANGGUAN MENTAL DITA RACHMAYANI, S.PSI., M.A

BAB I PENDAHULUAN. Anak merupakan sumber kebahagiaan bagi sebagian besar keluarga sejak di

KEPUTUSAN MENTERI KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 996/MENKES/SK/VIII/2002 TENTANG

Karakteristik Demografi Pasien Depresi di Rumah Sakit Umum Pusat Sanglah Denpasar Bali Periode

SAGUNG PUTRI PERMANA LESTARI MURDHANA PUTERE

RANCANGAN PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR... TAHUN... TENTANG PELAKSANAAN WAJIB LAPOR PECANDU NARKOTIKA

PORTOFOLIO PPDS-I PSIKIATRI FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS AIRLANGGA RSUD Dr. SOETOMO - SURABAYA

ABSTRAK BEBERAPA FAKTOR YANG MENUNJUKKAN TINGKAT KEPARAHAN PENYAKIT HIV/AIDS DI RUMAH SAKIT X KOTA BATAM TAHUN 2010

BAB I PENDAHULUAN 1 Latar Belakang Sistem Kesehatan Nasional (SKN) tahun 2009 menyebutkan bahwa pembangunan kesehatan adalah upaya yang dilaksanakan

Retardasi Mental. Dr.dr. Tjhin Wiguna, SpKJ(K)

KARAKTERISTIK DAN VARIASI DIAGNOSIS KUNJUNGAN PASIEN DI POLIKLINIK JIWA RSUP SANGLAH

UNIVERSITAS SEBELAS MARET FAKULTAS KEDOKTERAN SILABUS PSIKIATRI

Proposal Penelitian Operasional. Evaluasi dan Intervensi Pengobatan Terapi Rumatan Metadon (PTRM)

ANGKA KEJADIAN GANGGUAN CEMAS DAN INSOMNIA PADA LANSIA DI PANTI SOSIAL TRESNA WERDHA WANA SERAYA DENPASAR BALI TAHUN 2013

PERAN LATIHAN FISIK TERHADAP NAFSU MAKAN PADA INDIVIDU OVERWEIGHT ATAU OBESITAS YANG MENDAPATKAN KONSELING GIZI TENTANG LOW CALORIE DIET

HUBUNGAN PENGETAHUAN, SIKAP DAN PERILAKU TENTANG FAKTOR RISIKO PENYAKIT SEREBROVASKULAR TERHADAP KEJADIAN STROKE ISKEMIK ARTIKEL KARYA TULIS ILMIAH

BAB I PENDAHULUAN. Seiring dengan bertambahnya jumlah penduduk di Indonesia, khususnya di

MODUL PEMBELAJARAN DAN PRAKTIKUM MANAJEMEN HIV AIDS DISUSUN OLEH TIM

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Gangguan jiwa atau mental menurut DSM-IV-TR (Diagnostic and Stastistical

PERAN PEKERJA SOSIAL DALAM UPAYA PELAYANAN KESEHATAN JIWA PARIPURNA

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Sehat merupakan hak azazi manusia yang harus di lindungi seperti yang tertuang dalam Deklarasi Perserikatan

PREVALENSI NEFROPATI PADA PENDERITA DIABETES MELLITUS TIPE II YANG DIRAWAT INAP DAN RAWAT JALAN DI SUB BAGIAN ENDOKRINOLOGI PENYAKIT DALAM, RSUP H

Konsep dasar mengenai isu psikososial dalam perawatan paliatif. Rosiana Eva Rayanti

BAB 1. PENDAHULUAN. Menurut Asosiasi Psikiatri Amerika dalam Diagnostic and Statistical Manual

PERAN FAKTOR INTRINSIK DALAM KEIKUTSERTAAN PENGGUNA NARKOBA SUNTIK PADA PROGRAM TERAPI RUMATAN METADON DI KABUPATEN BADUNG TAHUN 2015

BAB I PENDAHULUAN. meningkatnya polusi lingkungan, tanpa disadari dapat mempengaruhi terjadinya

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. Penderita gangguan jiwa di dunia pada tahun 2001 adalah 450 juta jiwa, menurut

ABSTRAK Program Magister Psikologi Universitas Kristen Maranatha

SISTEM KLASIFIKASI DAN DIAGNOSIS GANGGUAN MENTAL DITA RACHMAYANI, S.PSI., M.A

EVALUASI PENGGUNAAN OBAT DENGAN INDIKATOR PRESCRIBING PADA PUSKESMAS WILAYAH KOTA ADMINISTRASI JAKARTA BARAT PERIODE TAHUN 2016

ABSTRAK. Kata Kunci: Manajemen halusinasi, kemampuan mengontrol halusinasi, puskesmas gangguan jiwa

2012, No.1156

PENGARUH PENYULUHAN TENTANG PALSI SEREBRAL TERHADAP PENGETAHUAN MASYARAKAT UMUM LAPORAN HASIL KARYA TULIS ILMIAH

HUBUNGAN PERSEPSI MUTU PELAYANAN KESEHATAN DENGAN TINGKAT KEPATUHAN BEROBAT PADA NARAPIDANA PENYALAHGUNAAN NAPZA DI KLINIK METADON LP KEROBOKAN

ABSTRAK GAMBARAN PENYAKIT DIABETES MELITUS PADA ORANG DEWASA YANG DIRAWAT INAP DIRUMAH SAKIT IMMANUEL BANDUNG PERIODE JANUARI DESEMBER 2014

MENGHILANGKAN RACUN NAPZA DARI TUBUH KLIEN

Edukasi Kesehatan Mental Intensif 15. Lampiran A. Informed consent (Persetujuan dalam keadaan sadar) yang digunakan dalam studi ini

The Effect of Self Help Group on Knowledge and Attitude in Decision Making Among Household Head of Patients with Depression in Yogyakarta

PENGANTAR PSIKOLOGI KLINIS

HUBUNGAN ANTARA TINGKAT DEPRESI DENGAN KETERATURAN TERAPI RUMATAN METADON DI KLINIK PROGRAM TERAPI RUMATAN METADON (PTRM) PUSKESMAS MANAHAN SURAKARTA

Nidya A. Rinto; Sunarto; Ika Fidianingsih. Abstrak. Pendahuluan

EFEKTIVITAS RATIONAL EMOTIVE BEHAVIOR THERAPY TERHADAP PENURUNAN DURASI BERMAIN PEMAIN GAME ONLINE YANG MENGALAMI ADIKSI

Agreement Analysis of Energy and Protein Contents during Medical Nutrition Therapy at Sanglah Hospital Denpasar

ABSTRACT. Title: The Planning of The Future Orientation Training Module in The Sector of Education for The Grade One Students of SMA X Bandung.

PEMBERIAN TEKNIK RELAKSASI PERNAFASAN PADA TERAPI LATIHAN PASIF MENURUNKAN INTENSITAS NYERI PADA PASIEN LUKA BAKAR DERAJAT II DI RSUP SANGLAH DENPASAR

HUBUNGAN CARA BAYAR, JARAK TEMPAT TINGGAL DAN DUKUNGAN KELUARGA DENGAN KEPATUHAN BEROBAT RAWAT JALAN PASIEN SKIZOFRENIA DI RSJD SURAKARTA TESIS

Efektivitas Program Pelatihan Rehabilitasi Kognitif Berbasis Komputerisasi dalam Meningkatkan Kemampuan Kognitif pada Penderita Skizofrenia

Transkripsi:

PERANAN PSIKOTERAPI PADA PROGRAM TERAPI RUMATAN METADON DI RUMAH SAKIT UMUM PUSAT SANGLAH DENPASAR Hanati N SMF/Bagian Psikiatri RSUP Sanglah/FK Universitas Udayana Denpasar Ketua Program Terapi Rumatan Metadon/Klinik Sandat RSUP Sanglah Denpasar Email : nymhanati@yahoo.co.id ABSTRAK Penyalahgunaan zat atau ketergantungan zat bukan merupakan sindrom tunggal tetapi merupakan gabungan berbagai sindrom patologis seperti depresi, kompulsivitas bahkan menyerupai psikosis dan cedera kepribadian. Dibutuhkan pemeriksaan dengan wawancara psikodinamik dan penanganan psikoterapi. Untuk mengetahui peran psikoterapi pada pasien Program Terapi Rumatan Metadon (PTRM) di RSUP Sanglah Denpasar diadakan penelitian dengan membandingkan pasien yang menggunakan metadon yang mendapatkan psikoterapi dan pasien yang mendapatkan konseling obat. Penelitian ini merupakan studi klinis eksperimental. Pasien di kategorikan menjadi 2 kelompok. Sebanyak 142 orang yang terdiri dari 78 orang kelompok psikoterapi dan 64 orang kelompok konseling obat diamati dalam jangka waktu 6 bulan. Analisis data dilakukan dengan uji t- test. Hasil menunjukkan bahwa pasien yang mendapat psikoterapi hasil urinalisis opiate yang negatif lebih tinggi pada bulan VI dibandingkan dengan pasien yang mendapat konseling obat (p< 0,05), dosis rata-rata metadon yang dibutuhkan kelompok psikoterapi lebih rendah dibanding kelompok konseling obat (p<0,05), pasien dengan gejala psikiatri pada taraf gangguan yang berat menunjukkan perbaikan dibanding kelompok konseling obat(p<0,05). Disimpulkan bahwa psikoterapi berperan dalam pengurangan pemakaian opiate, menekan kebutuhan dosis methadone, perbaikan hasil pada pasien dengan gejala gangguan psikiatri pada taraf berat.[medicina 2009 ;40 :32-7]. Kata kunci: Psikoterapi, program terapi rumatan metadon THE ROLES OF PSYCHOTERAPY IN METHADONE MAINTENANCE TREATMENT PROGRAME AT SANGLAH HOSPITAL DENPASAR ABSTRACT Substance abuse or dependence upon a substance is not a single syndrome, instead it is a complex pathological syndromes. This include depression, convulsiveness, even resembling psychosis and personality defect. There for there is a need to conduct a psychodynamic assessment by doing interview and psychotherapy treatment. In other to understanding the roles of psychotherapy in Methadone Maintenance Treatment Program (MMTP) at Sanglah Hospital, research has been conducted by comparing those who were on psychotherapy treatment and those who received drug counseling. This research was on experimental clinical study. This patients were categorized into two group. 142 patients were included in the data analysis, 78 patients were on psychotherapy group and 64 patients were in drug counseling group. This patient were observed for six months. Data collected was analyzed with T-test analysis. T-test analysis so that the patient in psychotherapy group has higher negative result opiate urinalysis after six months comparing to drug counseling group (p<0,05), the average dose of methadone in psychotherapy group is lower than drug counseling group (p<0,05), the patient who had severe psychiatric disorder resulted better than drug counseling group (p<0,05). Psychotherapy in MMTP at Sanglah Hospital has roles to reduce the use of opiate, to minimize the dose of methadone and to increase a better improvement on patient who have severe psychiatric disorder.[medicina 2009 ;40 :32-7]. 1

Keywords: Psychotherapy, Methadone Maintenance Treatment Program PENDAHULUAN Pecandu opiat dalam Program Terapi Rumatan Metadon (PTRM) menunjukkan p erilaku disfungsional sebagai bagian dari kelainan kecanduan mereka, terutama penggunaan yang bersamaan dengan obat seperti heroin, kokain dan benzodiazepine. 1,2 Terapi obat-obatan memberi hasil baik pada semua situasi tetapi terapi obat-obatan saja tidaklah cukup untuk pecandu opiat. Nampaknya jika hanya dengan terapi obat saja keterikatan pasien lebih rendah dan kemungkinan sukses lebih kecil. 3 Saat konseling obat dikombinasikan dengan terapi rumatan metadon terlihat hasil yang sangat baik untuk pecandu dengan tingkat gangguan psikiatrik sedang hingga berat 4. Banyak pecandu heroin merasa sulit untuk mengikuti program namun kalau akhirnya mereka berhasil, karena mereka merasa beruntung mendapatkan konselor yang baik yang menemani mereka secara teratur. Hasil terapi seringkali tergantung dari siapa yang memberikannya. 5-8 Banyak pecandu opiat mengalami gangguan psikiatri yang dapat memperburuk perjalanan ketergantungan obat. 4,9 Pasien tersebut paling baik diterapi dengan mengkombinasikan terapi obat dengan terapi rumatan metadon dan akan lebih baik lagi bila terapi dilakukan oleh terapis yang telah terlatih dalam bidang psikiatri. 10 Sebagian besar pasien mengalami gangguan psikiatrik. Beberapa studi mengenai kegunaan psikoterapi dalam bidang adiksi telah menunjukkan kemajuan pada pasien-pasien yang mengalami problem psikiatri. Pada pasien pasien ketergantungan kokain psikoterapi kurang bermanfaat. 1,11 Kombinasi psikoterapi dan farmakoterapi berhasil menolong orang-orang yang bukan pecandu, sehingga muncul pertanyaan apakah psikoterapi dapat meningkatkan hasil terapi jika ditambahkan pada terapi rumatan metadon dan konseling obat. 1,10 Tetapi hasil dari psikoterapi berbeda. Sebuah studi ditemukan tidak adanya perbedaan hasil antara konseling dan psikoterapi. Sedangkan pada studi lain ditemukan bahwa pasien dengan psikoterapi mendapatkan hasil yang lebih baik. Terapi perilaku sangat penting untuk keberhasilan terapi rumatan metadon. Berdasarkan data ilmiah terapi metadon dikombinasikan dengan terapi psikososial termasuk konseling dan rehabilitasi khusus, meningkatkan hasil positif secara klinis yaitu pengurangan pemakaian heroin suntik dan menekan besaran dosis metadon. 10 Terdapat pula suatu evaluasi efek psikoterapi individu baik psikoterapi ekspresif-suportif atau psikoterapi kognitif-perilaku sebagai tambahan dari PTRM. Membandingkan psikoterapi ekspresif-suportif individual selama 6 bulan dengan konseling obat (keduanya sebagai tambahan konseling biasa) untuk pasien dengan gejala psikiatri yang menetap. 10-12 Gangguan depresi merupakan hal yang umum diderita oleh pengguna opiat dan dikaitkan dengan tingkah laku yang tidak wajar. 2 Pengguna yang ikut serta dalam PTRM yang tidak 2

mendapatkan psikoterapi seperti Cognitive Behavior Therapy (CBT) untuk penanganan depresinya memunculkan kambuhnya penggunaan kembali opiat. Terdapat juga beberapa indikasi bahwa pendekatan CBT kelompok sangat membantu dalam mengurangi penggunaan obat pada pasien PTRM. 11,13,14 Telah dibuktikan juga melalui riset dan studi bahwa selama 50 tahun lebih sejak metadon ditemukan, tidak ada cara yang lebih baik untuk mengobati pecandu heroin kronik. Ada yang telah menggunakan obat-obat baru seperti Buprenorphine, Naltrexone dan Naloxone, tetapi masih terdapat kelemahan-kelemahan. Terapi rumatan metadon disertai dengn psikoterapi dan bahkan yang ingin berhenti dari kecanduan dapat berhasil dengan baik. 10 Dengan melihat beberapa laporan di atas tampak jelas peranan psikoterapi dalam PTRM. Maka rumusan masalah adalah : (1) Apakah psikoterapi b erperan pada penentuan kebutuhan besarnya dosis metadon? (2) Apakah psikoterapi berperan pada pengurangan pemakaian heroin dan obat-obat benzodiazepine dan alkohol? (3) Bagaimana karakteristik penurunan kriminalitas selama PRM? (4) Bagaimana peranan psikoterapi terhadap kehadiran atau kedisiplinan dalam menjalani program? (5) Apakah berperan dalam meningkatkan aktivitas/pekerjaan? (6) Apakah psikoterapi berperan dalam memperbaiki gejala psikiatri? Tujuan dari penelitian ini adalah mempelajari peranan psikoterapi pada Program Terapi Rumatan Metadon sehingga diperoleh informasi tentang peranan hubungan psikoterapi pada kejadian pengurangan pemakaian opium/heroin, kebutuhan terhadap besarnya dosis metadon, penanganan terhadap gangguan/gejala psikiatri yang muncul. Hipotesis penelitian bahwa terdapat hubungan psikoterapi dengan : (1) Pengurangan pemakaian heroin.(2) Pembatasan besarnya dosis metadon yang diperlukan. (3) Perbaikan terhadap gangguan/gejala psikiatri yang muncul. MATERI DAN METODE Penelitian ini dilaksanakan di Klinik Sandat Program Terapi Rumatan Metadone RSUP Sanglah Denpasar, Bali mulai februari 2003 sampai dengan Agustus 2005. Penelitian ini adalah penelitian uji klinis observasional eksperimental. Peserta penelitian adalah semua pasien yang memenuhi kriteria sebagai peserta PTRM sebagai berikut : (a) Pasien ketergantungan heroin kronis (lebih dari 1 tahun), (b) Umur lebih dari 18 tahun, (c) Pasien mengikuti PTRM yang pertama kali, (d) Tidak menderita gangguan organik berat atau gangguan mental berat. Dan yang tidak memenuhi kriteria tidak diikutkan dalam penelitian, yaitu : (1) Klien tidak bersedia diwawancarai dan dilakukan pemeriksaan, (2) Yang Drop Out (yang keluar) dalam arti tidak tuntas mengikuti PTRM sampai akhir. 3

Proses pengambilan data dilaksanakan mulai 2 minggu sebelum bulan pertama dan sampai bulan ke enam pasca terapi metadon. 1. Metode Pengumpulan Data a. Pemeriksaan klinis psikiatri ( ditegakkan dengan PPDGJ III dan MMPI melalui wawancara dengan Present State Examination) b. Observasi c. Pemeriksaan laboratorium (Untuk mengetahui perkembangan pemakaian heroin dengan alat AIM Drug Test urine Morphine dan Benzodiazepin) 2. Perangkat Kerja/Instrumen a. DSM IV dan ICD X untuk kriteria ketergantungan. b. PPDGJ III untuk diagnosis gangguan psikiatri. c. Present State Examination (PSE) 15 d. MMPI 16 e. Bahan pemeriksaan urine (AIM Drug Test Urine Morphine dan Benzodiazepin). Penelitian ini merupakan penelitian uji klinis observasional eksperimental dengan mengikuti saja sebagaimana proses PTRM ini. Bertujuan menyajikan peranan psikoterapi terhadap besarnya dosis metadon yang diperlukan, pengurangan pemakaian heroin, memperbaiki gejala psikiatri. Data yang diperoleh dilakukan editing dan coding secara manual serta ditabulasi dan dilakukan analisis dengan uji statistik X 2 dan T-Test menggunakan komputer dengan program SPSS. CARA KERJA 1. Semua pasien PTRM Sandat yang masuk pertama kali yang diobservasi selama enam bulan. 2. melengkapi data demografi. 3. Mengisi inform consent 4. Selanjutnya dibagi dua kelompok secara acak. satu di samping konseling biasa diberi tambahan psikoterapi sedang kelompok lainnya di samping konseling biasa diberi tambahan konseling obat. 5. setelah dua minggu masing-masing individu dilakukan tes MMPI 6. Masing-masing individu diwawancarai, dilakukan observasi dan yang kelihatan berpotensial mempunyai gejala psikiatri akan dilayani oleh konselor tambahan (konselor obat) atau dilayani psikiater. 7. Wawancara menyangkut masalah sosial (pekerjaan, sekolah, terlibat kriminalitas) memakai pedoman WHO. 8. Masing-masing responden dilakukan pemeriksaan urine tiga kali yaitu pada bulan I, III dan VI dari sejak masuk PTRM. 4

Psikoterapi Psikoterapi yang diberikan adalah terapi suportif ekspresif karena lebih banyak tersedia. Kriteria untuk seleksi pasien identik dengan mereka yang mempunyai kriteria gejala-gejala psikiatri sedang sampai berat. Kedua pengobatan ini dirancang seminggu sekali dalam waktu 6 bulan. Terapi suportif ekspresif mempunyai batas waktu, bersifat analitik, merupakan psikoterapi terfokus seperti yang digambarkan oleh Luborsky dan disesuaikan dengan pasien yang mempunyai ketergantungan obat. Terapi suportif ini bertujuan untuk menolong pasien agar merasa nyaman dengan kepribadiannya. Teknik ini melibatkan suatu system untuk menolong pasien agar merasa nyaman dalam menemukan jati dirinya didalam menyakini hubungan persahabatan dan pekerjaan. SE therapy mempunyai dua komponen utama : (1) aspek suportif yang dimaksudkan untuk menolong pasien mendiskusikan agar merasakan lebih nyaman. (2) Aspek ekspresif yang merupakan standar psikoanalitik interpretive technique digunakan untuk membantu pasien mengidentifikasi melalui isu-isu hubungan interpersonal 3,11,13 Perhatian yang khusus diberikan untuk mereka yang mengalami ketergantungan obat dimana peranan obat erat kaitannya dengan masalah perasaan dan tingkah laku dan bagaimana menyelesaikan suatu masalah tanpa harus menggunakan obat. Dua psikiater dikaitkan dalam terapi suportif ekspresif ini, keduanya konsultan dibidang adiksi. Konseling Obat Fokus utama mencari masalah sekarang dan menyediakan bantuan, mengamati masalah tingkah laku, penggunaan obat-obatan, menawarkan rujukan untuk kesehatan, sosial dan pelayanan hukum jika ada indikasi dan tanggung jawab pada saat masa gawat masalah pribadi dan sosial. 3 Lima konselor yang sudah terlatih bekerja pada klinik atau program ini. Konselor-konselor ini akan memberikan konseling tambahan tentang obat. Lima konselor ini berasal dari perawat tiga orang mempunyai gelar pendidikan akademik keperawatan, satu konselor mempunyai gelar sarjana psikologi dan satu orang dari LSM hanya menyelesaikan pendidikan sampai SMA. HASIL Peserta penelitian adalah pasien PTRM dari bulan februari 2003 sampai dengan bulan Agustus 2005. Peserta adalah pasien yang berhasil menyelesaikan sesi pertemuan dalam 24 minggu. Yang berhasil menyelesaikan sesi dalam 24 minggu sebanyak 142 orang terdiri dari 78 orang kelompok psikoterapi dan 64 orang kelompok konseling obat. Masing-masing dipilih secara acak. Rata-rata masing-masing subyek kelompok psikoterapi mengikuti 8 sesi petemuan dan 4 konseling biasa dalam 24 minggu. Rata-rata masing-masing subyek kelompok konseling obat mengikuti 4 sesi pertemuan dan 8 sesi konseling biasa 5

I. Hasil Urinalisis Hasil urinalisis opiat dapat dilihat pada Tabel 1 di bawah ini. Tabel 1. Urinalisis Opiat bulan I, III, dan VI Psikoterapi 49 Konseling Obat Urinalisis Opiat Bulan I Bulan III Bulan VI Positif Negatif Positif Negatif Positif Negatif (62,82%) 29 (45,31%) 29 (37,18%) 35 (54,69%) 32 (42,03%) 18 (28,13%) 46 (58%) 46 (71,87%) 23 (28,71%) 21 (48,44%) X² = 3,84 X² = 3,84 X² = 3,84 df = 1 df = 1 df = 1 p > 0,05 p > 0,05 p < 0,05 55 (71,79%) 43 (51,56%) Bulan I Bulan III Bulan VI : Urinalisis opiat yang negatif didapatkan yang dengan psikoterapi (37,18%) lebih kecil daripada yang dengan konseling obat (54,69 %). : Yang dengan psikoterapi (58%) hasil negatif lebih kecil daripda yang dengan konseling obat (71,87 %). : Urinalisis opiat yang negatif pada psikoterapi (71,79%) lebih tinggi daripada yang dengan konseling obat (51,56%). II. Dosis Metadon Hasil dosis rata-rata metadon dapat dilihat dalam Tabel di bawah ini. Tabel 2. Dosis Rata-rata metadon dalam mg per hari pada bulan I, III dan VI antara Psikoterapi dengan Konseling Obat Dosis Rata-rata (mg) Bulan I Bulan III Bulan VI Psikoterapi 35,38 42,69 50,13 Konseling Obat 49,41 60,04 67,51 T-Test t=-5.472 t=-4.844 t=-4.643 df = 140 df = 140 df = 140 p =0.031(<0.05) p=0.041(< 0.05) p=0.001(<0.05) 6

Pasien yang mendapatkan psikoterapi membutuhkan dosis metadon yang lebih rendah daripada pasien yang mendapatkan konseling obat baik pada bulan I, III maupun VI. Pengelompokan Kebutuhan Dosis Metadon Rendah (<50mg/hari), sedang (50-80 mg/hari) dan Tinggi (>80 mg/hari) Tabel 3. Dosis bulan I Dosis bulan I(mg) <50 mg/hari 50-80 mg/hari >80 mg/hari Total Psikoterapi 70 (89,74%) 7 (8,97%) 1 (1,29%) 78 Konseling Obat 28 (43,75%) 33 (51,56%) 3 (4,69%) 64 TOTAL 98 40 4 142 X² = 5,99 df = 2 p < 0,05 Tabel 4. Dosis bulan III Dosis bulan III(mg) <50 mg/hari 50-80 mg/hari >80 mg/hari Total Psikoterapi 49 (62,82%) 27 (34,82%) 2 (2,56%) 78 Konseling Obat 17 (26,6%) 39 (60,94%) 8 (12,5%) 64 TOTAL 66 66 10 142 X² = 5,99 df = 2 p < 0,05 Tabel 5. Dosis bulan VI Dosis bulan VI (mg) < 50 mg/hari 50-80 mg/hari > 80 mg/hari Total Psikoterapi 35 (44,87%) 40 (51,28%) 3 (3,85%) 78 Konseling Obat 11 (17,19%) 38 (59,37%) 15 (23,44%) 64 TOTAL 46 78 18 142 X² = 5,99 df = 2 p < 0,05 7

Tabel 6. Perbaikan gejala psikiatri dibedakan yang ringan, sedang dan berat Ringan = 19 orang Sedang = 21 orang Berat/Banyak = 80 orang Membaik Tidak Membaik Tidak Membaik Tidak Psikoterapi 7 (87,5%) 1 (12,5%) 5 (50%) 5 (50%) 32 (72,73%) 12 (27,27%) Konseling Obat 8 (72,73%) 3 (27,27%) 6 (54,55%) 5 (45,45%) 12 (33,33%) 24 (66,67%) TOTAL 15 4 11 10 44 36 X²=3,84; df = 1; p>0,05; X²=3,84; df=1; p>0,05; X²=3,84; df=1; p< 0,05 PEMBAHASAN Penelitian ini memperlihatkan bahwa pasien yang mendapatkan psikoterapi membutuhkan dosis metadon yang lebih rendah daripada yang dengan konseling obat (Tabel 2) ya ng dianalisis secara statistik t-test ada perbedaan yang bermakna (p<0,05). Hasil ini sesuai dengan hasil penelitian Woody dkk. 3 Sedang dalam hal mengurangi pemakaian opiat didapatkan pada bulan I psikoterapi masih tinggi pemakaian opiat (62,82%) sedang dengan konseling obat pemakaian lebih kecil dan pada bulan III dan selanjutnya bulan VI pemakaian makin mengecil (2 8,71%) (Tabel 1). Sedangkan yang dengan konseling obat justru pemakaian makin tinggi (48,44%). Pemakaian pada bulan I dan III hasilnya masih tinggi kemungkinan karena dosis metadon yang dipakai yang dengan psikoterapi masih rendah (Tabel 3, 4). Hasil ini sesuai dengan laporan Boll dan Ross yang menemukan dosis rata-rata adalah 60 mg/hari atau lebih. 17 Dosis yang rendah kemungkinan belum menimbulkan rasa nyaman. Pada faktor umur dijumpai pada umur antara 20 29 tahun, yang merupakan periode umur transisi, antara remaja akhir dan dewasa awal. Periode ini adalah masa-masa dalam perubahan, juga faktor pendidikan yang rata-rata masih pendidikan taraf SMA, dengan kemampuan mengolah informasi tentang program ini masih kurang dibandingkan dengan yang telah mengenyam perguruan tinggi. Di lain pihak kemungkinan dukungan lingkungan/keluarga untuk memberikan rasa nyaman kurang optimal. 5,18 Analisis statistik menunjukkan bahwa pasien yang mendapatkan psikoterapi secara bermakna memerlukan dosis metadon yang lebih rendah daripada pasien yang mendapatkan konseling obat. Ini sesuai dengan penelitian dari penulis lain. 2,3,13 Mengenai perbaikan gangguan/gejala psikiatri pada taraf ringan dan sedang kedua kelompok membaik seimbang sedangkan pada taraf gangguan yang banyak/berat menunjukkan perbedaan 8

bermakna ( kelompok psikiatri 72,73 % sedang kelompok konseling obat 33,33 %) sama seperti studi penulis lain 3. Hal ini karena gangguan yang berat menyangkut masalah psikodinamika dan psikopatologi merupakan bidang ilmu psikiatri dan memerlukan penanganan psikiater. SIMPULAN Dari penelitian ini dapat disimpulkan sebagai berikut: 1. Psikoterapi berperan dalam pengurangan pemakaian heroin pada bulan ke enam secara statistik didapatkan bermakna (p<0,05) 2. Psikoterapi berperan dalam pembatasan besarnya dosis rata-rata metadon yang diperlukan secara statististik bermakna (p<0,05) 3. Psikoterapi berperan dalam perbaikan gejala psikiatri pada kasus dengan taraf berat secara statistik bermakna (p<0,05) SARAN 1. Tidak semua klien mendapatkan perlakuan yang sama 2. Perlu penelitian lanjutan untuk populasi yang lebih homogen (latar belakang budaya dan pendidikan yang sama) 3. Penting adanya penelitian lebih lanjut dimasa yang akan datang untuk menentukan valid tidaknya penelitian awal ini dengan menggunakan metode yang lebih terkontrol 4. Mengingat peranan psikoterapi dalam Program Terapi Rumatan Metadon (PTRM) dan merupakan hal yang harus selalu dikaji dalam menilai problem problem kejiwaan, kiranya perlu dipikirkan untuk dilakukan pelatihan masalah kejiwaan terhadap SDM yang memberikan layanan terapi, supaya diagnosis yang lengkap dan penatalaksanaan yang komprehensif segera bisa dilakukan. 5. Klinik-klinik metadon yang tidak menawarkan konseling termasuk psikoterapi yang sebenarnya dan hanya penanganan kasus saja, tidak akan menyelesaikan masalah yang sebenarnya. 6. Kebijakan program untuk mengetahui langkah mana yang paling tepat dalam penyediaan layanan dan bantuan yang diperlukan yang meliputi psikoterapi profesional untuk mencapai keuntungan kesehatan masyarakat yang akan dihasilkan dari Terapi Rumatan Metadon. 9

DAFTAR PUSTAKA 1. Duff DM, Muneses TI. Mental Health Strategy Addiction Interventions for the Dually Diagnosed. In Addiction Intervention Strategies to Motivate Treatment-Seeking Behavior. White RK. et al. Editors. 1998. 2. Scherbaum N. et al. Group Psychotherapy for Opiat Addicts Metadon Maintenance Treatment- A Controlled Trial Department of Addictive Behavior and Addiction Medicine and Department of Psychiatry and Psychotherapy. Rheinishe Kliniken Essen University hospital, Essen, Germany. 3. Woody GE. et al. Psychotherapy in Community Metadon Programs. In A.M. I Psychiatry. 1995. Page 1302 1308. 4. Stein MD. et al. Pharmacotherapy Plus Psychotherapy for Treatment of Depression in Active Injection Drug Users. In Arch Gen Psy. 2004. Page 152-159 5. Limas Sutanto : Konseling dan Psikoterapi Dinamik pada Perspektif Multitikultural. Konas PDSKJI 7-8 Oktober 2004, Sanur, Bali. 6. Lubis DB. Understanding the Vulnerable Ego. Kumpulan Makalah Konferensi Nasional Psikoterapi (PDSKJI). 2004. 7. Sastroasmoro S, Sofyan Ismael. Dasar-Dasar Metodologi Penelitian Klinis, Jakarta, Binarupa Aksara, 1995. 8. David MD, Todd LM. Addiction Intervention, Strategies to Motivate Treatment Seeking Behavior. 9. Perry JC, Banon E, Lanni F. Effectiveness of Psychotherapy by for Personality Disorders. Am J. Psychiatry 156, Sept 1999. 10. Altman Heather. The Positive Effects of Psychotherapy on Metadon Maintenance Treatment. All Psych Journal May 8, 2002. 11. Husin AB. Psikoterapi Pasien Ketergantungan Napza. Menentukan Bentuk Terapi yang Cocok untuk Kebutuhan Pasien Ketergantungan Napza. 19 September 2004 12. Inu Wicaksana : Listening, Understanding & Responding. Konas Psikoterapi PDSKJI 6-8 Oktober 2004 di Bali. 13. Sees KL. et al. Metadon Maintenance vs 180-Day Psychosocially Enriched Detoxification for Treatment of Opioid Dependence. A Randomized Controlled Trial. Jama, March 8, 2000. Vol. 283, No. 10. 14. Sylvia DE. Kumpulan Makalah Psikoterapi. Balai Penerbit FK UI, Jakarta. 2005 15. Medical Research Council social Psychiatry Unit Institute of Psychiatry London SE5 8 AF : Present State Examination, Edisi ke-9, Mei 1973. 16. Hanati N. Profil Kepribadian Peserta Program Rumatan Metadon di RS Sanglah Denpasar. Konas V PDSKJI di Medan. 17. Wilson P. et al. Metadon Maintenance in General Practice : Patient, Workload and Outcomes. BMJ. Spetember 1994. 18. Johnson V.E. Intervention How to Help Some One Who doesn t Want Help. Hazelden Foundation. 1986. 10

11