MENGENAL SISTEM PERKOTAAN:

dokumen-dokumen yang mirip
BAB I PENDAHULUAN. Rahayu, Harkunti P (2009) didefinisikan sebagai. ekonomi.meminimalkan risiko atau kerugian bagi manusiadiperlukan

BAB II PENYEBARAN KANTOR PEMERINTAHAN DAN PELAYANAN MASYARAKAT DI SURAKARTA

BAB II GAMBARAN UMUM WILAYAH SURAKARTA

BAB IV KESIMPULAN DAN SARAN. 5.1 Kesimpulan. terhadap perekonomian kota surakarta. Analisis

BAB I PENDAHULUAN. terutama pada bidang pendidikan. Perubahan dalam dunia pendidikan

KARAKTERISTIK BANGUNAN KANTOR KELURAHAN DI KOTA SURAKARTA

ANALISIS DAN PEMBAHASAN

PEMODELAN BANYAKNYA PENDERITA DEMAM BERDARAH DENGUE (DBD) DI KOTA SURAKARTA DENGAN MIXED GEOGRAPHICALLY WEIGHTED REGRESSION (MGWR)

PROFIL KABUPATEN / KOTA

PENERAPAN METODE SET COVERING PROBLEM DALAM PENENTUAN LOKASI DAN ALOKASI SAMPAH DI WILAYAH KOTA SURAKARTA

ANALISIS ARAHAN PERSEBARAN SUMUR RESAPAN DI KOTA SURAKARTA TAHUN 2013

Implementasi Model P-Center pada Jalur Rujukan Fasilitas Kesehatan di Kota Surakarta

ZONASI TINGKAT KERENTANAN (VULNERABILITY) BANJIR DAERAH KOTA SURAKARTA NASKAH PUBLIKASI

BAB III. TINJAUAN UMUM SURAKARTA dan TINJAUAN SEKOLAH DASAR YANG DIRENCANAKAN

BAB I PENDAHULUAN. tinggal. Sehingga banyak lahan yang dialihfungsikan menjadi gedung-gedung. lahan kosong atau serapan air di daerah perkotaan.

2 RENCANA TATA RUANG WILAYAH KOTA SURAKARTA TAHUN

PROFIL PERKEMBANGAN KEPENDUDUKAN KOTA SURAKARTA TAHUN 2016

Analisis Spasial Ekonomi Kreatif Berorientasi Ekspor Kota Surakarta

DAFTAR PERINGKAT NILAI UJIAN NASIONAL SD/MI KOTA SURAKARTA TAHUN PELAJARAN 2011/2012

Layanan Persampahan di Kota Surakarta dengan Pemetaan Barbasis Sistem Informasi Geografis

BAB II GAMBARAN UMUM KONDISI DAERAH

Kata Pengantar. Kepala Dinas Kependudukan Dan Pencatatan Sipil Kota Surakarta. Drs. Suwarta, SH, MM NIP

FORM VII RUMUSAN KEGIATAN PEMBANGUNAN HASIL MUSRENBANGCAM TAHUN 2015 SEBAGAI BAHAN FORUM SKPD KOTA SURAKARTA

SURAT PERINTAH NOMOR : 180 / / 2015

PENGELOLAAN AIR LIMBAH KOTA SURAKARTA

WALIKOTA SURAKARTA. : bahwa untuk melaksanakan ketentuan Pasal 18 huruf h. : 1. Undang-Urldang Nomor 16 Tahun 1950 tentang

- 1 - KEPUTUSAN KEPALA BAGIAN HUKUM DAN HAM SETDA KOTA SURAKARTA SELAKU KETUA PUSAT JARINGAN DOKUMENTASI DAN INFORMASI HUKUM

BAB III PEMBAHASAN. 1. Sejarah Berdirinya Kantor Pelayanan Pajak Pratama Surakarta. berada di bawah wewenang wilayah kerja dari Kantor Inspeksi

SIMULASI PENYEBARAN PENYAKIT ISPA (INFEKSI SALURAN PERNAFASAN AKUT) PADA BALITA DI KOTA SURAKARTA MENGGUNAKAN GAME OF LIFE

BAB II ASPEK DAN PROFIL KEMISKINAN DI KOTA SURAKARTA

BAB III GAMBARAN UMUM INSTANSI

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Perubahan iklim telah menyebabkan terjadinya perubahan cuaca ekstrim. IPCC (2007) dalam Dewan Nasional Perubahan

BAB I PENDAHULUAN. Benua Australia dan Benua Asia serta terletak diantara dua Samudra yaitu

BAB III TINJAUAN KOTA SURAKARTA

BAB I PENDAHULUAN 1.1. LATAR BELAKANG

MAKALAH IDENTIFIKASI PERMASALAHAN KEPENDUDUKAN KOTA SURAKARTA TAHUN Oleh : Bhian Rangga J.R K Pendidikan Geografi Jurusan P.

BAB IV GAMBARAN UMUM. provinsi Jawa Tengah, Indonesia yang berpenduduk jiwa (2010) dan

BAB IV TINJAUAN KOTA SURAKARTA

PRIORITAS DAN PLAFON ANGGARAN SEMENTARA ANGGARAN PENDAPATAN DAN BELANJA DAERAH KOTA SURAKARTA TAHUN ANGGARAN 2013

BAB I PENDAHULUAN. 35 Bujur Timur dan 70` 36 70` 56 Lintang Selatan. Batas. Timur adalah Kabupaten Sukoharjo dan Kabupaten Karanganyar,

MEMBACA PETA RBI LEMBAR SURAKARTA MATA KULIAH KARTOGRAFI DASAR OLEH : BHIAN RANGGA J.R NIM : K

PEMETAAN LOKASI RAWAN DAN RISIKO BENCANA BANJIR DI KOTA SURAKARTA TAHUN 2007

KONDISI LINGKUNGAN PERMUKIMAN PASCA RELOKASI

BAB I PENDAHULUAN. satunya rawan terjadinya bencana alam banjir. Banjir adalah suatu

BAB II EVALUASI HASIL PELAKSANAAN RKPD TAHUN LALU DAN CAPAIAN KINERJA PENYELENGGARAAN PEMERINTAHAN DAERAH

BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Latar Belakang Formal Latar Belakang Material

BAB I PENDAHULUAN. laju pertumbuhan penduduk yang pesat sebagai akibat dari faktor-faktor

DAFTAR NAMA PENERIMA, ALAMAT DAN BESARAN ALOKASI HIBAH YANG DITERIMA SATUAN KERJA PERANGKAT DAERAH

SISTEM INFORMASI LINGKUNGAN (SIL) UNTUK LAYANAN PERSAMPAHAN DI KOTA SURAKARTA

Analisis Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Keputusan. Masyarakat Untuk Memilih Tinggal. di Kawasan Perumahan

Infrastruktur Drainase

DATA PENCAIRAN DANA BANTUAN OPERASIONAL SEKOLAH (BOS) KOTA SURAKARTA PENCAIRAN BULAN JULI-SEPTEMBER TAHUN 2015

Kata Pengantar KEPALA BAPPEDA KOTA SURAKARTA. Drs. ANUNG INDRO SUSANTO, MM Pembina Utama Muda NIP :

LAPORAN PERTANGGUNGJAWABAN PENERIMA BANTUAN SOSIAL BULAN JANUARI s/d JUNI 2017

BAB I PENDAHULUAN. dalam pemenuhannya masih sulit dijangkau terutama bagi penduduk berpendapatan

REALISASI PENGGUNAAN ANGGARAN HIBAH DAN BANTUAN SOSIAL SAMPAI DENGAN BULAN DESEMBER 2016

W ipemerl*nffi ffi+*a *akarra

BAB III ANALISIS DATA DAN PEMBAHASAN. 1.) BULOG sebelum menjadi Perum BULOG

BAB 4 TINJAUAN RUANG TERBUKA HIJAU DI KOTA SURAKARTA

WALIKOTA SURAKARTA PERATURAN DAERAH KOTA SURAKARTA NOMOR 1 TAHUN 2012 TENTANG RENCANA TATA RUANG WILAYAH KOTA SURAKARTA TAHUN

IDENTIFIKASI KONDISI PERMUKIMAN KUMUH DI KECAMATAN PANCORAN MAS KOTA DEPOK ( STUDI KASUS RW 13 KELURAHAN DEPOK )

BAB I PENDAHULUAN. Surakarta yang merupakan kota disalah satu Provinsi Jawa Tengah. Kota

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. Kota-kota besar di negara-negara berkembang umumnya mengalami laju

TUJUAN DAN KEBIJAKAN. 7.1 Program Pembangunan Permukiman Infrastruktur Permukiman Perkotaan Skala Kota. No KOMPONEN STRATEGI PROGRAM

BAB II GAMBARAN UMUM KOTA SURAKARTA DAN KAWASAN HERITAGE DI KECAMATAN BANJARSARI KOTA SURAKARTA

Menghitung Debit Aliran Permukaan Di Kecamatan Serengan Tahun 2008

PROFIL IPAL KOTA SURAKARTA

BAB II GAMBARAN UMUM WILAYAH PERENCANAAN

KONSEP PERENCANAAN DAN PERANCANGAN HABITAT SOSIAL

SISTEM INFORMASI PEMBANGUNAN DAERAH KABUPATEN PANGANDARAN

BAB VI STRATEGI DAN ARAH KEBIJAKAN

DOKUMEN ATURAN BERSAMA DESA KARANGASEM, KECAMATAN PETARUKAN, KABUPATEN PEMALANG

DAFTAR NAMA PENERIMA, ALAMAT DAN BESARAN ALOKASI HIBAH YANG DITERIMA NOMOR NAMA PENERIMA ALAMAT PENERIMA JUMLAH

BAB III TINJAUAN UMUM WILAYAH PERANCANGAN

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

3.3 KONSEP PENATAAN KAWASAN PRIORITAS

III. GAMBARAN UMUM KOTA SURAKARTA

BAB 1 KONDISI KAWASAN KAMPUNG HAMDAN

SISTEM INFORMASI PEMBANGUNAN DAERAH KABUPATEN PANGANDARAN

PLPBK RENCANA TINDAK PENATAAN LINGKUNGAN PERMUKIMAN BAB III GAMBARAN UMUM KAWASAN PRIORITAS KELURAHAN BASIRIH BANJARMASIN BARAT

BAB I PENDAHULUAN. Pertumbuhan jumlah penduduk dan urbanisasi merupakan salah satu

BAB I PENDAHULUAN. masyarakat untuk meningkatkan kualitas hidup. Peningkatan kualitas hidup

PERATURAN MENTERI NEGARA PERUMAHAN RAKYAT REPUBLIK INDONESIA NOMOR 16/PERMEN/M/2006 TENTANG

BAB 2 EKSISTING LOKASI PROYEK PERANCANGAN. Proyek perancangan yang ke-enam ini berjudul Model Penataan Fungsi

BAB I PENDAHULUAN 1.1. Pengertian Judul

DAFTAR GAMBAR. Gambar 2. 1 Pembagian Profil Melintang Sungai Gambar 2. 2 Diagram Kerangka Pemikiran BAB III

BAB I PENDAHULUAN. dilakukannya penelitian ini terkait dengan permasalahan-permasalahan

Konsep perencanaan dan perancangan pusat perbelanjaan dan rekreasi di Surakarta. Oleh : Novi Indrayani I

BAB I PENDAHULUAN. RTH :Ruang terbuka hijau adalah ruang terbuka di wilayah. air(permen PU No.5 Tahun, 2008).

BAB I. PENDAHULUAN. ( pasar tradisional di solo/)

Transkripsi:

MENGENAL SISTEM PERKOTAAN: SEBUAH PENGANTAR TENTANG KOTA SOLO 3 Sekilas tentang Solo 7 Memahami Sistem Perkotaan 13 Mencari Bentuk 17 Memahami Kelurahan Kita

BANJARSARI JEBRES KOTA SOLO LAWEYAN SERENGAN PASAR KLIWON 1 Kota 5 Kecamatan 51 Kelurahan 2,700 RT Memahami Solo dalam Berbagai Skala Adanya batas administratif yang berjenjang di Solo memberikan skala yang berbeda besar dan kecil dalam memetakan dan memahami Solo. Batas-batas ini adalah Kota, kecamatan, kelurahan dan RT (halaman ini); sumur umum di Gandekan dan saluran drainase di Ketelan (halaman sebaliknya). 2

SEKILAS TENTANG SOLO? Solo merupakan kota yang terdiri dari 51 kelurahan. Masyarakat sangat peduli dengan kondisi kota secara umum, namun keterikatan mereka terhadap kelurahan masingmasing merupakan ciri yang menonjol. Pembangunan pada prinsipnya terjadi di dua level yaitu kelurahan dan kota. Proses perencanaan dan penganggaran partisipatif musrenbang merupakan media penting warga menyalurkan aspirasi ketika pemerintah menyusan perencanaan pembangunan jangka pendek (tahunan). Musrenbang juga merupakan sarana pemerintah memperoleh masukan untuk membuat investasi pembangunan kota secara menyeluruh. Proyek ini Solo Kota Kita memberikan informasi tentang kelurahan yang bisa digunakan warga untuk memprioritaskan usulan dalam Musrenbang. Tools yang dibuat dimaksudkan untuk membantu masyarakat memahami lingkungan mereka secara lebih baik. Namun, bagaimana sebenarnya memahami Kota secara menyeluruh? Memahami bagaimana kelurahan terhubung dengan kontek kota sebenarnya bukan hal yang sulit tinggal berfikir bagaimana kelurahan tersebut terkait dengan lingkungan sekitar dan sistem perkotaan. memilikinya. Yang terakhir, perlakuan terhadap aset lingkungan seperti air di satu kelurahan, pastilah berimbas pada kondisi lingkungan di kelurahan lain. UNIT LINGKUNGAN DI SOLO Dalam memahami Solo, proyek ini mengidentifikasi ada empat unit lingkungan : Kota, Kecamatan, Kelurahan dan RT. Kota Solo mempunyai populasi sekitar 460.000 jiwa. Luas keseluruhan mencapai 4.600 hektar. Baik pemerintah pusat maupun lokal mempunyai cara dalam mengumpulkan data statistik kependudukan. Beberapa indikator bisa ditemukan di level kota, sebagai contoh, kepadatan penduduk adalah 100 orang per hektar. Sedangkan rata-rata kemiskinan adalah 16%. Solo terbagi dalam 5 kecamatan yang meliputi kelurahankelurahan. Meskipun warga lebih menempatkan kelurahan sebagai unit pokok dibandingkan dengan kecamatan, sangat relevan mengetahui tingkat kemiskinan di level kecamatan agar bisa membuat perbandingan antar kelurahan dalam satu kecamatan. Ada 51 kelurahan di Kota Solo. Proyek ini mengumpulkan data dari tiap kelurahan tersebut dimana kemudian bisa ditarik analisa atau rata-rata dari tiap indikator misalnya anak usia sekolah, akses layanan air dan kemiskinan. Jalan, gang, dan jembatan merupakan penghubung fisik antar kelurahan. Berbagai layanan perkotaan misalnya pengumpulan sampah merupakan sesuatu ada di tiap kelurahan. Demikian pula, aset komunitas seperti sekolah dan pusat-pusat pertemuan, setiap kelurahan juga Setiap kelurahan di Kota Solo terbagi dalam beberapa RT yang merupakan unit administrasi terkecil. Setiap RT dikepalai oleh Ketua RT dimana dari mereka kemudian data dikumpulkan. 3

KADIPIRO BANYUANYAR KARANGASEM SUMBER NUSUKAN MOJO SONGO JAJAR KERTEN SONDAKAN PAJANG LAWEYAN MANAHAN TEGALHARJO MANKUBUMEN KESTALAN KEPATIHAN PUNGGAWAN KULON SETABELAN PURWOSARI KETELAN KEPATIHAN PURWODINIGRATAN PENUMPING TIMURAN WETAN KAMPUNG JAGALAN BUMI SRIWEDARI KEPRABON BARU SUDIROPRAJAN PANULARAN TIPES KEMLAYAN KAUMAN JAYENGAN KRATONAN SERENGAN GAJAHAN DANUKUSUMAN JOYOTAKAN BALUWARTI JOYOSURAN GILINGAN KEDUNG LUMBU PASAR KLIWON GANDEKAN SEWU SEMANGGI SANGKRAH JEBRES PUCANG SAWIT TIPOLOGI KELURAHAN Wilayah Jantung Kota Wilayah Pemukiman Lama Wilayah Bantaran Kali Wilayah Berkembang Wilayah Campuran Tipologi Kelurahan Kelurahan di Solo memiliki keragaman fungsi dan karakter tipe kelurahan tergantung pada kapan kelurahan berkembang, siapa saja yang tinggal di kelurahan, dan jenis aktivitas yang terjadi (halaman ini); area taman hijau di Manahan (halaman sebaliknya). 4

LIMA TIPE KELURAHAN Tidak semua kelurahan sama di Solo. Ada yang lebih tua umurnya contohnya Laweyan yang tentunya lebih lama berdiri dibandingkan dengan Mojosongo yang masih terus berkembang. Beberapa kelurahan mempunyai tingkat kemiskinan yang tinggi. Sementara kelurahan lain lebih identik dengan bangunan bersejarah, atau ada kelurahan yang dikenal identik dengan bantaran sungai. Satu kelurahan di Solo rata-rata bisa dijangkau dengan berkeliling jalan kaki 5 sampai dengan 10 menit. Setiap kelurahan memiliki aset berupa sekolah dan balai pertemuan. Penduduk memiliki sarana umum seperti pasar tradisional dan ruang terbuka publik. Dengan tinggal di satu kelurahan, orang bisa memperoleh akses pada perumahan dan pekerjaan. Namun tidak semua kelurahan menyediakan semua layanan kepada warganya. Khususnya di Solo, setiap kelurahan mempunyai kebutuhan yang berbeda, sehingga sangat penting mengetahui karakteristik masing-maisng kelurahan. Kami mengidentifikasi lima tipe kelurahan berdasar data yang kami kumpulkan, wawancara di masyarakat dan membuat peta kota. Tipe-tipe tersebut adalah: Wilayah Jantung Kota Solo Tipe ini meliputi kelurahan-kelurahan yang terletak di pusat kota, khususnya sepanjang Jalan Slamet Riyadi. Kelurahan Wilayah Pemukiman Lama Tipe kelurahan seperti ini juga terletak di pusat kota namun mempunyai karakteristik sejarah, contohnya Laweyan. Secara umum tipe ini mempunyai populasi yang stabil, banyak kelompok usia dewasa, punya layanan yang bagus dan bersifat residensial / pemukiman. Wilayah Bantaran Kali Tipe kelurahan ini terletak di bagian utara dan selatan. Biasanya lebih padat dari kelurahan lain dan angka kemiskinannya cukup tinggi. Khususnya dibagian selatan, banyak penduduk bermigrasi karena daya tarik pekerjaan dan perumahan. Tipe wilayah seperti ini juga mempunyai masalah dengan banjir dan problem lingkungan. Wilayah Berkembang Tipe wialyah berkembang banyak ditemukan di barat dan utara kota dimana pembangunan terjadi dan mengambil alih fungsi lahan sawah pertanian. Wilayah Campuran Kelurahan dengan tipe seperti ini memiliki berbagai fasiltas seperti pabrik, pasar, perumahan hingga institusi publik. Wilayah Campuran merupakan kelurahan yang sibuk dengan berbagai kesempatan ekonomi, namun tak jarang ada masalah lingkungan terkait konflik antara pabrik dan pemukiman. seperti ini banyak memiliki jenis usaha / bisnis, hotel, pasar, pusat pemerintahan dan berbagai aktivitas ekonomi. 5

PPENGGUNAAN LAHAN HEKTAR % JUMLAH Pemukiman 2,621 57% Perdagangan 169 4% Perdagangan (Kantor) 105 2% Institusi (Sekolah) 238 5% Industri 81 2% Ruang Terbuka dan Rekreasi Agrikultur dan Persawahan 75 286 2% 6% Jalan Makam 67 1% Tempat Pembuangan Akhir Sampah 16 0.5% Lahan Kosong 22 0.5% Jalan (tidak ditampilkan di peta) 920 20% Penggunaan Lahan Menentukan Fungsi dan Karakter Kelurahan Sementara mayoritas lahan di Solo diperuntukkan bagi pemukiman, di banyak kelurahan penggunaan lahan untuk sekolah, pabrik dan pusat perdagangan terletak di lokasi yang cukup dekat dengan pemukiman (halaman ini); Sekolah di Jebres, pusat perdagangan di Setabelan, dan lahan persawahan di Jajar (halaman berikutnya). 6

MEMAHAMI SISTEM PERKOTAAN Sistem perkotaan merangkai Solo. Sistem teridiri dari sistem fisik -seperti layanan air- maupun non fisik seperti ekonomi. Sistem menyediakan layanan, menghubungkan kelurahan yang satu dengan lainnya, dan pemenuhan kebutuhan warga. Karena sistem memiliki keterkaitan satu sama lain maka problem pada salah satu bagian kota akan menjadi problem untuk semua orang. Contohnya adalah limbah dari pabrik batik yang dialirkan ke sungai akan menyebabkan pencemaran pada semua kelurahan yang dilewati sungai. Solo Kota Kita menitikberatkan pada upaya bagaimana penganggaran partisipatif dapat memperbaiki keadaan kelurahan. Penting untuk disadari bagaimana pembangunan jangka pendek mampu memberi kontribusi pada sistem perkotaan yang lebih besar. Contohnya, Taman Kota yang baru mungkin saja memiliki keterkaitan dengan sistem pertamanan kota secara keseluruhan. Pembersihan sungai akan lebih efektif apabila semua kelurahan berperan serta. Seringkali warga dapat memperjuangkan perbaikan tertentu di kelurahannya jika mereka dapat menunjukkan bahwa itu akan bermanfaat terhadap seluruh kota. EMPAT PILAR SISTEM PERKOTAAN Penggunaan Lahan Penggunaan Lahan adalah bagaimana lahan dimanfaatkan. Di perkotaan, Penggunaan lahan dengan tujuan yang serupa biasanya dibangun di kawasan yang sama. Perencana kota membuat zonasi dimana penggunaan lahan tertentu bisa dilakukan. Namun, zonasi kawasan hanya akan berjalan jika kota memiliki kemampuan untuk menegakkannya. FAKTA PENGGUNAAN LAHAN Kebanyakan lahan di Kota Solo adalah pemukiman 64% lahan (2900 hektar) adalah perumahan. Kegiatan perniagaan terletak pada 3 koridor utama - Jalan Slamet Riyadi, Jalan Urip sumoharjo, Jalan Yos Sudarso. Industri tersebar di seluruh kawasan di Solo tetapi ada konsentrasi di kelurahan-kelurahan yang terletak di timur dan barat kota yaitu Pucangsawit, Semanggi, Sewu, Pajang, Kerten, Jajar, dan KarangaseMM Masalah seputar Penggunaan Lahan meliputi: Kawasan Industri menimbulkan pencemaran dan kebisingan dekat pemukiman. Kurangnya taman dan ruang terbuka - hanya 0,2 hektar per 1000 jiwa - standar internasional adalah 2 hektar per 1000 jiwa. Pembangunan di kawasan pertanian mengurangi sumber-sumber produksi pangan lokal. 7

SISTEM TRANSPORTASI Jalur Kereta Api Jalan Arteri Utama Jalan Arteri Sekunder Jalan Penghubung Jalan Perkampungan SISTEM AIR Sungai Saluran Drainase Daerah Banjir Sistem Perkotaan Menjadi Penghubung Utama di Kota Solo Untuk sebagian besar wilayah di Solo, jaringan fasilitas umum tersebar mengikuti jalur jalan-jalan utama yang ada di Solo. Hal ini terlihat sekali pada sistem drainase yang menghubungkan pola alami dari empat sungai utama di kota ini. 8

FAKTA-FAKTA TRANSPORTASI Kebanyakan orang menggunakan sepeda motor untuk sarana transportasi. Solo adalah kota yang pepak. Jalan utama cukup mampu menjangkau seluruh kota dalam waktu singkat. Jalan utama terdiri dari Jalan Slamet Riyadi, Adi Sucipto, Rajiman, Kol Sugiono, Sumpah Pemuda, Katamso, dan KH Dewantoro. Kota Solo memiliki bus regional dan jalur kereta api yang menghubungkannya dengan Jogja, Semarang, dan Surabaya. FAKTA-FAKTA TENTANG AIR Solo memiliki empat sungai utama Kali Anyar, Sungai Jenes, Kali Premulung, dan Bengawan Solo. Sungai-sungai ini mengalir dari timur ke barat dan bermuara di Bengawan Solo. Sistem drainase Kota Solo mengumpulkan air di tengah kota dan mengalirkannya ke sungai. Tidak ada saluran air di beberapa kelurahan di tengah dan timur seperti Tegalharjo, dan Jebres karena daerah ini berkontur yang membuat air mengalir secara alami. Transportasi Sistem transportasi adalah berbagai alat dan cara yang dipakai warga untuk mengjangkau lokasi-lokasi di Kota Solo jalan kaki, sepeda motor, mobil pribadi, mobil angkutan umum, dan kereta. Perencanaan transpotasi terkait erat dengan bagaimana menggerakkan warga menjangkau kota sekaligus penyediaan rute layanan untuk kegiatan ekonomi. Di masa depan ketika sumber-sumber minyak bumi berkurang, alternatif pengganti sepeda motor dan mobil akan lebih banyak digunakan. Masalah transportasi meliputi : Solo sangatlah kecil dan mudah dijangkau sehingga mudah untuk berjalan menuju pasar, pusat-pusat pekerjaan, dan fasilitas umum namun sangat sedikit terdapat trotoar dan kawasan pejalan kaki. Sistem transportasi umum kurang. Pencemaran udara dari sepeda motor. ini meliputi juga air minum dari sumur dan pipa PDAM yang akan didiskusikan di bagian selanjutnya tentang infrastruktur. Sistem air ini juga meliputi drainase menuju sungai, selokan, dan salurang pembuangan. Air berkait erat dengan warga Solo dalam beberapa bentuk, khususnya ketika pencemaran dan sanitasi jelek turut menurunkan kualitas air di kelurahan tertentu. Ditambah dengan ketidakpastian iklim akibat pemanasan global dapat menyebabkan hujan yang tidak teramalkan sehingga menimbulkan banjir di Kota Solo. Masalah seputar air meliputi: Banjir. Pencemaran dari pabrik. Sanitasi jelek di sungai dan saluran pembuangan. Banjir merusak perumahan dan infrastruktur sepanjang bantaran sungai. Air Sistem air di Kota Solo banyak macamnya, dan saling terhubung baik yang alami maupun yang buatan. Hal 9

SISTEM FASILITAS UMUM Sambungan Pipa Air Utama Sambungan Pipa Air Aekunder Sambungan Pipa Air Tersier Sumur Dalam Fasilitas Pengolahan Air Jaringan Listrik Utama Jaringan Listrik Sekunder Jaringan Listrik Tersier Sistem Perkotaan Menyediakan Koneksi Mayor di Kota Sebagian besar jaringan energi listrik yang memasuki Kota Solo datang dari arah barat dan kemudian disebarkan ke seluruh Kota; sumber air pipa terpusat di kelurahan-kelurahan timur laut kota, meliputi Jebres dan Mojosongo (halaman ini); becak di Sangkrah, drainase di Joyosuran, dan saluran listrik di Jajar. 10

Sarana Umum Sarana umum meliputi saluran listrik dan komunikasi yang biasanya terlihat berupa kawat dan kabel di atas tanah. Sarana umum meliputi juga layanan air pipa, yang di Solo dikenal sebagai air PDAM. Masalah Seputar Sarana Umum Karena Solo berkembang ke arah barat dan utara, dibutuhkan kemampuan yang lebih pada sistem energi dan komunikasi. Pengembangan saluran PDAM akan menaikkan tingkat sanitasi tetapi sulit untuk menjangkau kawasan sudah padat dengan bangunan, jalan, dan saluran. FAKTA-FAKTA SEPUTAR FASILITAS UMUM Saluran utama bagi energi dan komunikasi masuk Solo dari arah barat sepanjang Jalan Adi Sucipto dan Jalan Slamet Riyadi; energi dan komunikasi kemudian didistribusikan melalui kabel sekunder di tiap kelurahan. Aliran air dalam pipa berada di bawah jalan utama; karena jalan-jalan lokal sempit, maka PDAM sulit untuk memasang instalasi air bersih di kelurahan yang sudah padat dengan bangunan, jalan, dan saluran 11

RAILROAD JL. SLAMET RIYADI STUDI KASUS: KEPADATAN Sondakan Kepadatan penduduk sangat tinggi di sepanjang bantaran sungai dan rel kereta api yang mana harga tanah murah dan warga tinggal di rumah tanpa sertifikat. Kepadatan penduduk lebih rendah di sepanjang Jalan Slamet Riyadi yang mana lebih banyak gedung-gedung komersial dibandingkan dengan bangunan rumah. KEPADATAN PENDUDUK Orang per Hektar 0-50 50-100 100-250 > 250 Banyak Penyabab Tingginya Kepadatan Penduduk Kota Solo Sementara Pajang memiliki banyak penduduk migran, di Semanggi banyak orang berjubel di rumah-rumah yang dekat dengan pasar. Sewu padat karena memiliki kawasan kemiskinan yang luas sedangkan di Mojosongo ada kawasan padat penduduk karena banyak mahasiswa yang mendiami rumah-rumah murah. Kepadatan penduduk rendah di kawasan pemukiman baru seperti Karangasem dan Jajar. Baik kawasan yang belum terbangun seperti Mojosongo maupun kawasan lama yang sudah mapan seperti punggawan, keduanya juga memiliki kepadatan penduduk yang rendah (halaman ini); Pemukiman padat banyak terdapat di Gandekan (halaman berikutnya). 12

MENCARI POLA PENGENALAN DATA TEMATIK Solo Kota Kita menyajikan data tematik seputar Kelurahan. Tiap tema memiliki kategori data sosial atau ekonomi. Tematemanya meliputi pendidikan, air, sanitasi, perumahan, kemiskinan, dan kesehatan. Indikator seperti tersebut di atas ditelusuri melalui Ketua RT di seluruh Kota Solo Ada 2 (dua) hal penting untuk diingat tentang informasi tematik. Pertama, pengumpulan data berbasis RT memungkinkan kita untuk membuat peta tentang bagaimana indikatorindikator saling berhubungan dengan ruang yang ada di PERTANYAAN TENTANG KEPADATAN UNTUK PERENCANAAN LINGKUNGAN Seberapa tinggi densitas di lingkungan kita? Apakah ini sama atau berbeda dengan di lingkungan lain? Apa yang terjadi di kota yang menyebabkan kepadatan menjadi seperti ini di lingkungan kita? kota. Contohnya, kita dapat melihat di manakah konsentrasi kemiskinan berada atau di mana lokasi yang layanan airnya rendah. Kedua, penting untuk dipertimbangkan bahwa indikatorindikator yang ada seringkali saling berkaitan -indikator yang satu mempengaruhi indikator lainnya. Contohnya banyak anak muda yang tidak bersekolah karena keluarga mereka miskin dan mereka bekerja untuk menyokong pendapatan keluarga. Dalam kasus ini tingkat kemiskinan yang tinggi menyebabkan tingginya angka anak usia sekolah yang tidak bersekolah Di sini ada beberapa contoh bagaimana menafsirkan informasi tematikhere s a couple of examples of how to interpret thematic information. KEPADATAN PENDUDUK Peta ini menunjukkan kepadatan penduduk. Kepadatan penduduk adalah mengukur jumlah jiwa per hektar. Di Solo, kepadatan adalah 100 jiwa per hektar. Ini artinya, di Solo secara rata-rata sekitar 20-30 KK hidup pada 1 (satu) hektar lahan. Jumlah ini termasuk sangat padat tetapi kepadatan berbeda antara satu kelurahan dengan kelurahan lain. Di Semanggi, contohnya, sebagian besar kawasan di Semanggi memiliki kepadatan 150 jiwa per hektar. Sebaliknya Manahan memiliki kepadatan penduduk kurang dari 50 jiwa per hektar. Kepadatan penduduk seringkali mencerminkan kecenderungan dan keadaan lain di kota. Sebagai contoh, di kawasan dengan kepadatan tinggi mungkin tempat di mana penduduk migran yang berkantong tipis bermukim. Kawasan miskin biasanya memiliki kepadatan yang lebih tinggi. Kepadatan tinggi juga kemungkinan akan meningkatkan resiko kesehatan lingkungan dan sanitasi. Untuk semua alasan di sini, kepadatan menyediakan petunjuk untuk memahami indikator lain seperti perumahan, kemiskinan, dan kesehatan. 13

STUDI KASUS: KEMISKINAN Punggawan JL. JENDRAL URIP SUMOHARJO KAMPONG Terdapat kampung (wilayah padat penduduk) dengan KK miskin yang berada di tengah-tengah pemukiman kelompok berpenghasilan tinggi (kaya). Ada kantong miskin baik kecil maupun besar di sepanjang Jalan RM. Said. KEMISKINAN % dari Jumlah KK 0-5 5-10 10-16 > 16 Beberapa Kelurahan Mempunyai Tingkat Kemiskinan Lebih Tinggi di Banding Yang Lain Setiap kelurahan di Solo mempunyai masalah kemiskinan. Kemiskinan tidak terkonsentratsi di satu lokasi besar seperti di Jakarta yang sangat sulit melihat pola kemiskinan di Solo. Kemiskinan seringkali terdapat di bantaran rel kereta, sungai atau di tanah milih pemerintah. Beberapa kelurahan mempunyai komposisi kelompok pengahasilan yang berbeda-beda seperti Puurwodiningratan, dan Nusukan (halaman ini); pemukiman padat di Ketelan dan Punggawan, anak-anak dari pemukiman yang dibangun sepanjang jalur kereta di Manahan (halaman berikutnya). 14

Meski demikian, kepadatan biasanya bagus untuk kota karena itu berarti orang dapat menjangkau apa yang mereka butuhkan cukup dengan berjalan kaki. Kepadatan tinggi (pemukiman) juga menghemat alokasi bahan bangunan dan Sumber Daya Alam (SDA) yang lebih sedikit. KEMISKINAN Peta diatas memberikan gambaran persentase KK di masing-masing kelurahan yang hidup dalam kemiskinan. Secara umum, 16% KK di Solo hidup dalam kemiskinan, meskipun rata-rata ini berbeda dari satu kelurahan dengan kelurahan lain. Pemerintah Indonesia mempunyai kompleksitas dalam hal definisi kemiskinan yang dilihat dari berbagai indikator seperti standar perumahan, akses layanan, nutrisi, PERTANYAAN SEPUTAR KEMISKINAN UNTUK PERENCANAAN KELURAHAN Apakah kemiskinan tinggi atau rendah di Kelurahan anda dibanding dengan Kelurahan lain? Apakah layanan kota yang susah diakses kelompok miskin? Apakah kemiskinan terkonsentrasi di satu titik seperti sepanjang sunagi atau dekat pasar? pekerjaan dan penghasilan, pendidikan, dan tabungan. Sementara banyak lokasi menjadi konsentrasi kemiskinan, banyak pula kelurahan yang memiliki komposisi penghasilan yang beragam. Kemiskinan seringkali mengindikasikan kurangnya akses pendidikan, pekerjaan dan layanan kota. Yang pasti, setiap orang akan diuntungkan jika terdapat kemiskinan yang rendah karena ekonomi lokal menjadi lebih kuat dan warga hidup sejahtera dan sehat. 15

JUMLAH PENDUDUK 50,000 Banjarsari Jebres Laweyan Pasar Kliwon Serengan 40,000 KADIPIRO NUSUKAN MOJO SONGO 30,000 LAWEYAN KEPATIHAN KULON KEPATIHAN KAMPUNG WETAN BARU KAUMAN JEBRES 20,000 SEMANGGI 10,000 0 Lima Teratas Lima Terbawah Banyuanyar Gilingan Kadipiro Keprabon Kestalan Ketelan Manahan Mangkubumen Nusukan Punggawan Setabelan Sumber Timuran Gandekan Jagalan Jebres Kepatihan Kulon Kepatihan Wetan Mojosongo Pucang Sawit Purwodiningratan Sewu Sudiroprajan Tegalharjo Bumi Jajar Karangasem Kerten Laweyan Pajang Panularan Penumping Purwosari Sondakan Sriwidari Baluwarti Gajahan Joyosuran Kampung Baru Kauman Kedung Lumbu Pasar Kliwon Sangkrah Semanggi Danukusuman Jayengan Joyotakan Kemlayan Kratonan Serengan Tipes KEPADATAN PENDUDUK 250 Banjarsari Jebres Laweyan Pasar Kliwon Serengan 200 KARANGASEM KERTEN MANKUBUMEN 150 PENUMPING JAGALAN KEPRABON GANDEKAN SANGKRAH SEMANGGI JOYOSURAN 100 50 Lima Teratas Lima Terbawah 0 Banyuanyar Gilingan Kadipiro Keprabon Kestalan Ketelan Manahan Mangkubumen Nusukan Punggawan Setabelan Sumber Timuran Gandekan Jagalan Jebres Kepatihan Kulon Kepatihan Wetan Mojosongo Pucang Sawit Purwodiningratan Sewu Sudiroprajan Tegalharjo Bumi Jajar Karangasem Kerten Laweyan Pajang Panularan Penumping Purwosari Sondakan Sriwidari Baluwarti Gajahan Joyosuran Kampung Baru Kauman Kedung Lumbu Pasar Kliwon Sangkrah Semanggi Danukusuman Jayengan Joyotakan Kemlayan Kratonan Serengan Tipes 16

DEFINISI TIAP INDIKATOR Populasi Jumlah jiwa yang tinggal di satu kelurahan. Kepadatan Penduduk Jumlah jiwa yang tinggal dalam 1 hektar lahan. % Anak Putus Sekolah Persentase anak usia 7 18 tahun yang tidak bersekolah.* Survei yang kami lakukan berbeda dengan pihak kota, yang hanya mencakup anak usia hinga 16 tahun. % KK dengan PDAM Persentase KK yang menggunakan layanan PDAM. % KK dengan Sumur Umum Persentase KK pengguna sumur umum. % KK dengan Sumur Pribadi Persentase KK pengguna sumur pribadi. % KK dengan WC Umum Persentase KK pengguna WC umum. % KK dengan WC Pribadi Persentase KK pengguna WC pribadi. % KK dengan Sertifikat Tanah Persentase KK yang memiliki sertifikat tanah atas rumah yang ditinggali. % KK Miskin Persentase KK yang hidup dalam kemiskinan.* Pemerintah mendasarkan kemiskinan pada KK penerima BLT. Indikator yang dipakai ada 14 inidikator meliputi perumahan, layanan, nutrisi, penghasilan, pendidikan dan lain-lain. MENILAI KELURAHAN ANDA MEMBUAT PERBANDINGAN ANTAR KELURAHAN Sekali anda berfikir tentang kelurahan anda terkait dengan sistem perkotaan dan melihat informasi tematis, cara untuk mengetahui konndisi kelurahan anda adalah dengan membuat perbandingan sederhana. Dengan melihat indikator, apakah kelurahan anda memiliki rangking tinggi atau rendah dibanding kelurahan lain atau dibandingkan dengan kota secara umum? Sebagai contoh, di Purwosari 13 KK hidup dalam kemiskinan. Angka ini sama dengan rata-rata di Kecamatan Laweyan, yang berarti tingkat kemiskinan di Purwosari kurang lebih bisa merefleksikan kemiskinan di 10 kelurahan lain di Kecamatan Laweyan. Rata-rata kemiskinan di Purwosari masih lebih rendah dibanding rata-rata Kota Solo yang mencapai 16%. Dengan membuat perbandingan sederhana ini dapat membantu menunjukkan apa yang harus kelurahan atau lingkungan targetkan dalam pembangunan. Dengan kata lain, membuat perbandingan dapat membantu kebutuhan terpenting terindentifikasi. dalam kasus Purwosari, tingkat kemiskinan 13% masih jauh dibawah rata-rata di Bumi yang mencapai 20%. Karena tingkat kemisikinan di Bumi lebih tinggi bahkan diatas rata-rata kota, Bumi sangat membutuhkan banyak program penanggulangan kemiskinan di bandingkan Purwosari. Juga sangat penting diingat bahwa indikator-indikator tadi sangat komplek dan terkait satu sama lain. Dengan membuat perbandingan berdasar rangking hanyalah langkah awal dalam memahami apa yang terjadi di kelurahan. Hanya karena satu kelurahan punya ranking tinggi dibanding dengan yang lain dalam satu indikator, bukan berarti dapat dipakai dalam menentukan keputusan harus ada upaya untuk melihat kelurahan secara lebih dan melakukan diskusi lebih lanjut. 17

RASIO KETERGANTUNGAN 2.0 Banjarsari Jebres Laweyan Pasar Kliwon Serengan 1.5 NUSUKAN MANKUBUMEN SETABELAN SRIWEDARI KEMLAYAN KAUMAN GAJAHAN PASAR KLIWON JOYOSURAN JEBRES 1.0 0.5 0 Lima Teratas Lima Terbawah Banyuanyar Gilingan Kadipiro Keprabon Kestalan Ketelan Manahan Mangkubumen Nusukan Punggawan Setabelan Sumber Timuran Gandekan Jagalan Jebres Kepatihan Kulon Kepatihan Wetan Mojosongo Pucang Sawit Purwodiningratan Sewu Sudiroprajan Tegalharjo Bumi Jajar Karangasem Kerten Laweyan Pajang Panularan Penumping Purwosari Sondakan Sriwidari Baluwarti Gajahan Joyosuran Kampung Baru Kauman Kedung Lumbu Pasar Kliwon Sangkrah Semanggi Danukusuman Jayengan Joyotakan Kemlayan Kratonan Serengan Tipes % TIDAK SEKOLAH 100% Banjarsari Jebres Laweyan Pasar Kliwon Serengan 80% 60% PUNGGAWAN SRIWEDARI JAGALAN KAUMAN SEWU JAYENGAN KEDUNG LUMBU SANGKRAH GAJAHAN SEMANGGI 40% 20% Lima Teratas Lima Terbawah 0% Banyuanyar Gilingan Kadipiro Keprabon Kestalan Ketelan Manahan Mangkubumen Nusukan Punggawan Setabelan Sumber Timuran Gandekan Jagalan Jebres Kepatihan Kulon Kepatihan Wetan Mojosongo Pucang Sawit Purwodiningratan Sewu Sudiroprajan Tegalharjo Bumi Jajar Karangasem Kerten Laweyan Pajang Panularan Penumping Purwosari Sondakan Sriwidari Baluwarti Gajahan Joyosuran Kampung Baru Kauman Kedung Lumbu Pasar Kliwon Sangkrah Semanggi Danukusuman Jayengan Joyotakan Kemlayan Kratonan Serengan Tipes 18

0.0 0.2 0.4 0.6 0.8 1.0 % KK dengan WC UMUM 100% Banjarsari Jebres Laweyan Pasar Kliwon Serengan 80% KADIPIRO KARANGASEM MOJO SONGO 60% KERTEN JAYENGAN GANDEKAN SEWU SANGKRAH 40% JOYOTAKAN SEMANGGI 20% 0% Lima Teratas Lima Terbawah Banyuanyar Gilingan Kadipiro Keprabon Kestalan Ketelan Manahan Mangkubumen Nusukan Punggawan Setabelan Sumber Timuran Gandekan Jagalan Jebres Kepatihan Kulon Kepatihan Wetan Mojosongo Pucang Sawit Purwodiningratan Sewu Sudiroprajan Tegalharjo Bumi Jajar Karangasem Kerten Laweyan Pajang Panularan Penumping Purwosari Sondakan Sriwidari Baluwarti Gajahan Joyosuran Kampung Baru Kauman Kedung Lumbu Pasar Kliwon Sangkrah Semanggi Danukusuman Jayengan Joyotakan Kemlayan Kratonan Serengan Tipes % KK dengan WC PRIBADI 100% Banjarsari Jebres Laweyan Pasar Kliwon Serengan 80% KARANGASEM TEGALHARJO MOJO SONGO 60% SUMBER SONDAKAN TIPES KEDUNG LUMBU SEWU SANGKRAH 40% JOYOTAKAN 20% Lima Teratas Lima Terbawah 0% Banyuanyar Gilingan Kadipiro Keprabon Kestalan Ketelan Manahan Mangkubumen Nusukan Punggawan Setabelan Sumber Timuran Gandekan Jagalan Jebres Kepatihan Kulon Kepatihan Wetan Mojosongo Pucang Sawit Purwodiningratan Sewu Sudiroprajan Tegalharjo Bumi Jajar Karangasem Kerten Laweyan Pajang Panularan Penumping Purwosari Sondakan Sriwidari Baluwarti Gajahan Joyosuran Kampung Baru Kauman Kedung Lumbu Pasar Kliwon Sangkrah Semanggi Danukusuman Jayengan Joyotakan Kemlayan Kratonan Serengan Tipes 19

% KK dengan SUMUR UMUM 100% Banjarsari Jebres Laweyan Pasar Kliwon Serengan 80% KARANGASEM PAJANG SONDAKAN SUMBER KEPATIHAN KULON KEPATIHAN WETAN SEWU SUDIROPRAJAN JAYENGAN SANGKRAH 60% 40% 20% Lima Teratas Lima Terbawah 0% Banyuanyar Gilingan Kadipiro Keprabon Kestalan Ketelan Manahan Mangkubumen Nusukan Punggawan Setabelan Sumber Timuran Gandekan Jagalan Jebres Kepatihan Kulon Kepatihan Wetan Mojosongo Pucang Sawit Purwodiningratan Sewu Sudiroprajan Tegalharjo Bumi Jajar Karangasem Kerten Laweyan Pajang Panularan Penumping Purwosari Sondakan Sriwidari Baluwarti Gajahan Joyosuran Kampung Baru Kauman Kedung Lumbu Pasar Kliwon Sangkrah Semanggi Danukusuman Jayengan Joyotakan Kemlayan Kratonan Serengan Tipes % KK dengan SUMUR PRIBADI 100% Banjarsari Jebres Laweyan Pasar Kliwon Serengan 80% KARANGASEM BANYUANYAR SUMBER MOJO SONGO 60% TEGALHARJO SONDAKAN KEPRABON JAGALAN KEDUNG LUMBU SANGKRAH 40% 20% Lima Teratas Lima Terbawah 0% Banyuanyar Gilingan Kadipiro Keprabon Kestalan Ketelan Manahan Mangkubumen Nusukan Punggawan Setabelan Sumber Timuran Gandekan Jagalan Jebres Kepatihan Kulon Kepatihan Wetan Mojosongo Pucang Sawit Purwodiningratan Sewu Sudiroprajan Tegalharjo Bumi Jajar Karangasem Kerten Laweyan Pajang Panularan Penumping Purwosari Sondakan Sriwidari Baluwarti Gajahan Joyosuran Kampung Baru Kauman Kedung Lumbu Pasar Kliwon Sangkrah Semanggi Danukusuman Jayengan Joyotakan Kemlayan Kratonan Serengan Tipes 20

% KK dengan PDAM 100% Banjarsari Jebres Laweyan Pasar Kliwon Serengan 80% SONDAKAN PAJANG BUMI LAWEYAN TIPES TEGALHARJO KEPATIHAN TIMURAN KULON KEPRABON MOJO SONGO 60% 40% 20% 0% Lima Teratas Lima Terbawah Banyuanyar Gilingan Kadipiro Keprabon Kestalan Ketelan Manahan Mangkubumen Nusukan Punggawan Setabelan Sumber Timuran Gandekan Jagalan Jebres Kepatihan Kulon Kepatihan Wetan Mojosongo Pucang Sawit Purwodiningratan Sewu Sudiroprajan Tegalharjo Bumi Jajar Karangasem Kerten Laweyan Pajang Panularan Penumping Purwosari Sondakan Sriwidari Baluwarti Gajahan Joyosuran Kampung Baru Kauman Kedung Lumbu Pasar Kliwon Sangkrah Semanggi Danukusuman Jayengan Joyotakan Kemlayan Kratonan Serengan Tipes % KK dengan SERTIFIKAT 100% Banjarsari Jebres Laweyan Pasar Kliwon Serengan 80% BANYUANYAR MOJO SONGO 60% KEPATIHAN KULON KEPATIHAN WETAN JAYENGAN SEWU PANULARAN BALUWARTI GAJAHAN SANGKRAH 40% 20% Lima Teratas Lima Terbawah 0% Banyuanyar Gilingan Kadipiro Keprabon Kestalan Ketelan Manahan Mangkubumen Nusukan Punggawan Setabelan Sumber Timuran Gandekan Jagalan Jebres Kepatihan Kulon Kepatihan Wetan Mojosongo Pucang Sawit Purwodiningratan Sewu Sudiroprajan Tegalharjo Bumi Jajar Karangasem Kerten Laweyan Pajang Panularan Penumping Purwosari Sondakan Sriwidari Baluwarti Gajahan Joyosuran Kampung Baru Kauman Kedung Lumbu Pasar Kliwon Sangkrah Semanggi Danukusuman Jayengan Joyotakan Kemlayan Kratonan Serengan Tipes 21

% KK MISKIN 100% Banjarsari Jebres Laweyan Pasar Kliwon Serengan 80% KARANGASEM JAJAR KEPATIHAN KETELAN WETAN SUDIROPRAJAN KEMLAYAN JAYENGAN SANGKRAH SEMANGGI MOJO SONGO 60% 40% 20% Lima Teratas Lima Terbawah 0% Banyuanyar Gilingan Kadipiro Keprabon Kestalan Ketelan Manahan Mangkubumen Nusukan Punggawan Setabelan Sumber Timuran Gandekan Jagalan Jebres Kepatihan Kulon Kepatihan Wetan Mojosongo Pucang Sawit Purwodiningratan Sewu Sudiroprajan Tegalharjo Bumi Jajar Karangasem Kerten Laweyan Pajang Panularan Penumping Purwosari Sondakan Sriwidari Baluwarti Gajahan Joyosuran Kampung Baru Kauman Kedung Lumbu Pasar Kliwon Sangkrah Semanggi Danukusuman Jayengan Joyotakan Kemlayan Kratonan Serengan Tipes 22

(Halaman ini sengaja dibiarkan kosong.)

NOPEMBER 2010