III. METODE PENELITIAN

dokumen-dokumen yang mirip
III. METODE PENELITIAN

II. BAHAN DAN METODE

II. METODE PENELITIAN

BAB II. BAHAN DAN METODE

Lampiran 1. Road-map Penelitian

METODE PENELITIAN. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Agustus - Oktober 2013 di Balai Besar

Lampiran 1. Road-map Penelitian

II. METODOLOGI 2.1 Penyediaan Bakteri Probiotik 2.2 Ekstraksi Oligosakarida/Prebiotik

III. BAHAN DAN METODE

METODE PENELITIAN. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan September sampai dengan Oktober 2013 di

METODE PENELITIAN. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Agustus - Oktober 2013 di Balai Besar

II. BAHAN DAN METODE 2.1 Prosedur kerja Kemampuan puasa ikan Tingkat konsumsi oksigen Laju ekskresi amoniak

III. METODOLOGI 3.1. Waktu dan Tempat 3.2. Alat dan Bahan Metode Penelitian Persiapan Wadah

III. METODOLOGI. (Cr 3+ ). Faktor suhu menggunakan 2 level suhu media yaitu T i (suhu 20±2

III. METODOLOGI 3.1 Waktu dan Tempat 3.2 Induk 3.3 Metode Penelitian

III. METODE PENELITIAN. Penelitian dilaksanakan pada bulan Agustus sampai Oktober 2011, di

III. METODE PENELITIAN. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Mei-Juni Lokasi penelitian di

ADLN - Perpustakaan Universitas Airlangga

III. MATERI DAN METODE PENELITIAN. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan September sampai Oktober 2011, di

III. METODOLOGI. Penelitian dilakukan selama 40 hari dari bulan Februari sampai dengan Maret. Bahan yang digunakan dalam penelitian antara lain:

BAHAN DAN METODE. 3.1 Waktu dan tempat Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Maret sampai Agustus 2009 di Balai Budidaya Air Tawar (BBAT) Jambi.

III. METODE PENELITIAN. Penelitian ini telah dilaksanakan Pada bulan Februari - Maret 2015 di Balai

Lampiran 1. Rumus konversi dalam pembuatan media

II. BAHAN DAN METODE 2.1 Bahan Penelitian

II. METODE PENELITIAN

I. PENDAHULUAN. *Tanda titik dibaca sebagai desimal

METODE PENELITIAN. : Nilai pengamatan perlakuan ke-i, ulangan ke-j : Rata-rata umum : Pengaruh perlakuan ke-i. τ i

II. METODELOGI 2.1 Waktu dan Tempat 2.2 Alat dan Bahan 2.3 Tahap Penelitian

II. METODOLOGI 2.1 Persiapan Wadah dan Ikan Uji 2.2 Persiapan Pakan Uji

METODE PENELITIAN. Penelitian dilaksanakan pada bulan Februari sampai April 2015 selama 50

II. METODE PENELITIAN. Penelitian telah dilaksanakan pada bulan Juni sampai dengan Agustus

BAB III BAHAN DAN METODE

III. METODE KERJA. Penelitian ini dilaksanakan di Laboratorium Zooplankton, Balai Besar

Lampiran 1. Pembuatan Media Bakteri (SWC dan TCBS).

Lampiran 1. Tata letak wadah percobaan dan media pemeliharaan ikan nila merah (Oreochromis sp.) PIPA INLET P1U2 P7U3 P8U2 P5U3 P9U3 P5U2 P1U3

III. BAHAN DAN METODE

BAB III METODE PENELITIAN. Penelitian ini merupakan penelitian eksperimental menggunakan Rancangan

BAB III METODE PENELITIAN

II. BAHAN DAN METODE

Abstrak. TOPIC 2NONSPECIFIC IMMUNE RESPONSE AND GROWTH OFSHRIMP (Litopenaeusvannamei)FED NUCLEOTIDE- SUPPLEMENTED DIET AT DIFFERENT FEEDING TIME

BAB III BAHAN DAN METODE PENELITIAN

I. METODE PENELITIAN. Penelitian dan pembuatan preparat ulas darah serta perhitungan hematokrit sel

BAB III METODE PENELITIAN

II. METODOLOGI 2.1 Metode Penelitian Identifikasi Bakteri Uji Peningkatan Virulensi Bakteri Uji

BAB III METODE PENELITIAN. Penelitian pengaruh ekstrak daun sirsak (Annona muricata L.) terhadap

II. METODOLOGI 2.1 Metode Penelitian Karakterisasi Sifat Biokimia dan Fisiologi A. hydrophila Uji Postulat Koch

II. BAHAN DAN METODE 2. 1 Rancangan penelitian 2.2 Persiapan wadah 2.3 Penyediaan larva ikan patin

METODE PENELITIAN. Penelitian dilakukan mulai bulan Februari sampai April 2015 di. Laboratorium Mikrobiologi Klinik RSUP H.Adam Malik Medan.

BAB III METODE PENELITIAN

METODOLOGI PENELITIAN

METODE PENELITIAN. Pemilihan Ikan Uji dan Bakteri (Patogen dan Probiotik)

III. METODE PENELITIAN. Penelitian ini dilaksanakan pada Mei - Juni 2014 di Laboratorium Basah Jurusan

BAB III METODE PENELITIAN

BAHAN DAN METODE. Waktu dan Tempat

3. METODE Waktu dan Tempat Penelitian Tahapan Penelitian Prosedur Penelitian a. Tahap I 1. Kultur bakteri Serratia marcescens

BAB III METODE PENELITIAN. Jenis penelitian yang dilakukan merupakan penelitian eksperimen, karena

III. METODE PENELITIAN. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Agustus-Oktober 2013 di

III. METODE PENELITIAN. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Mei Juni Lokasi penelitian di

MATERI DAN METODA Waktu dan Tempat Penelitian Bahan dan Alat Penelitian Hewan Percobaan Vaksin AI-ND Pakan Kandang dan Perlengkapannya

III. METODE PENELITIAN. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan April sampai Juni 2012 di Laboratorium

III. METODOLOGI PENELITIAN

IV METODOLOGI PENELITIAN. Bahan penelitian yang akan digunakan adalah S. platensis, pupuk Azolla pinnata,

3 METODE PENELITIAN A2B2 (37;11) A2B1 (37;9) A1B2 (33;11) Tepung ikan

Lampiran 1 Analisis probit uji LC50-96 jam minyak sereh. Pengamatan Jumlah Respon

BAB III METODE PENELITIAN. Penelitian ini merupakan penelitian eksperimental dengan. menggunakan Rancangan Acak Kelompok (RAK) dengan 5 perlakuan 5

III. METODE PENELITIAN. Tabel 1. Alat dan Bahan yang digunakan dalam penelitian

METODE PENELITIAN. Penelitian dilaksanakan pada bulan Januari - Februari 2010, di Laboratorium

METODE PENELITIAN. M 1 V 1 = M 2 V 2 Keterangan : M 1 V 1 M 2 V 2

II. BAHAN DAN METODE

BAHAN DAN METODE. = data pada perlakuan ke-i dan ulangan ke-j µ = nilai tengah data τ i ε ij

II. BAHAN DAN METODE

BAB III BAHAN DAN METODE

BAB III BAHAN DAN METODE

BAB III BAHAN DAN METODE PENELITIAN. Percobaan akan dilaksanakan di Laboratorium Nematologi dan Rumah Kaca Jurusan Hama

BAB III METODE PENELITIAN. digunakan dalam penelitian ini yaitu tikus putih (Rattus norvegicus) Penelitian ini

BAB III METODE PENILITIAN. Penelitian ini telah dilakukan selama 3 bulan (Januari - Maret 2012).

III. METODE PENELITIAN. Penelitian dilaksanakan pada bulan Februari sampai dengan Maret 2014 di

BAHAN DAN METODE Waktu dan Tempat Bahan dan Alat Penelitian Kandang Hewan Coba Laboratorium Histopatologi

BAB III METODE PENELITIAN. Penelitian ini telah dilaksanakan pada 17 Januari 2016 di UD.

MATERI DAN METODE. Metode Penelitian

III. BAHAN DAN METODE

III. METODE PENELITIAN. Penelitian telah dilakukan selama 2 bulan pada bulan Februari-April 2015,

BAB III METODE PENELITIAN

III. METODOLOGI PENELITIAN. Penelitian dilaksanakan pada bulan September sampai dengan bulan Nopember

METODOLOGI PENELITIAN. Penelitian ini dilaksanakan di Laboratorium Budidaya Perikanan, Program Studi

BAB III METODE PENELITIAN. Penelitian ini merupakan penelitian eksperimental yang menggunakan

III. HASIL DAN PEMBAHASAN

III METODE PENELITIAN

PENGGUNAAN EKSTRAK Gracilaria verrucosa UNTUK MENINGKATKAN SISTEM KETAHANAN UDANG VANAME Litopenaeus vannamei YUDIANA JASMANINDAR

III. METODE PENELITIAN

METODOLOGI PENELITIAN. eksperimental dengan Rancangan Acak Terkontrol. Desain ini melibatkan 5

II. METODELOGI PENELITIAN

LAMPIRAN. Lampiran 1. Komposisi Media MGMK Padat dan Cara Pembuatannya Bahan: Koloidal kitin 12,5% (b/v) 72,7 ml. Agar 20 g.

Transkripsi:

19 III. METODE PENELITIAN 3.1 Waktu dan Tempat Penelitian Penelitian ini berlangsung pada bulan Juni 2011 sampai dengan bulan Februari 2012. Pemeliharaan dan pemberian perlakuan serta analisa parameter imun dan histopatologi udang vaname dilakukan di Laboratorium Kesehatan Ikan, Departemen Budidaya Perairan, Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, IPB. Analisis PCR (Polimerase chain reaction) dilakukan pada awal dan akhir perlakuan di Balai Uji Standarisasi Kesehatan Ikan, KKP Jakarta. 3.2 Bahan dan Alat Penelitian Udang uji yang digunakan adalah udang vaname (Litopenaeus vannamei) SPF (specific pathogen free), berukuran 2.9±0.1 g, didatangkan dari hatchery PT Central Pertiwibahari di Suak, Lampung. Udang vaname ditampung terlebih dahulu dalam bak fiber yang dilengkapi aerasi dan menggunakan sistem resirkulasi selama dua minggu pada suhu ruangan. Selama aklimatisi udang diberi pakan komersial tiga kali sehari dengan FR 4-5% dari bobot total udang. Kemudian, udang didistribusikan ke dalam 15 unit akuarium, masing-masing berisi air dengan volume 30.6 liter. Air media untuk pemeliharaan yang bersalinitas 25 ppt difilter dan disterilkan terlebih dahulu dengan menggunakan Ca-hypoclhoride (CaCO 3 ) sebesar 30 ppm. Bahan yang digunakan sebagai imunostimulan adalah tepung kappa-karagenan yang diekstrak dari rumput laut Kappaphycus alvarezii, berasal dari Laboratorium Bioteknologi THP IPB. Virus yang digunakan untuk infeksi adalah IMNV (Infectious Myonecrosis Virus) yang diperoleh dari udang hidup yang terinfeksi IMNV, dan diberikan secara oral. Bahan desinfektan yang digunakan terdiri dari Ca-hypochloride (kaporit) dan alkohol. Bahan-bahan kimia lain yang digunakan dalam mengukur parameter imun adalah methanol, pewarna giemsa, asam sitrat, L-DOPA(Sigma D9628), trypsin (Sigma T4799), sodium cacodylate (Sigma C0250) MgCl 2, NaCl, CaCl, dan anti koagulan (30 mm trisodium sitrat, 0.34 M sodium chloride, 10 mm EDTA, ph 7.5).

20 Peralatan yang digunakan meliputi akuarium berukuran 60x30x35 cm sebanyak 15 buah dan bak fiber berukuran 150x100x50 cm, masing-masing dilengkapi dengan aerasi dan menggunakan sistem resirkulasi. Peralatan lainnya yang digunakan yaitu, bak fiber satu ton berdiameter 150 cm sebagai bak penampungan air laut bersih dan steril yang dilengkapi dengan peralatan aerasi. Alat-alat yang digunakan untuk pemeriksaan parameter imun udang meliputi sirynge satu ml, kaca obyek dan penutupnya, hemositometer, mikropipet, mikrotube (eppendorf 1.5), yellow tip, blue tip, sentrifus, mikroskop, alat penghitung (hand counter), autoklaf, spektrofotometer, petridish dan gelas Beaker. 3.3 Rancangan Percobaan Penelitian yang dilakukan terdiri dari dua tahapan. Penelitian tahap satu yaitu menguji pengaruh pemberian k-karagenan melalui pakan dengan dosis yang berbeda dalam meningkatkan respons imun udang vaname dan resistensi udang vaname dari serangan IMNV. Penelitian tahap dua adalah menguji frekuensi pemberian k-karagenan yang efektif dalam mengendalikan serangan IMNV pada udang vaname. Rancangan percobaan yang digunakan yaitu rancangan acak lengkap (RAK) dengan tiga ulangan pada masing-masing perlakuan. Parameter imun, kelangsungan hidup dan pertumbuhan udang vaname di analisis keragamannya menggunakan ANOVA. Bila terdapat perbedaan antar perlakuan, maka dianalisis lebih lanjut dengan menggunakan uji lanjut Duncan. Sedangkan data PCR, data pengamatan gejala klinis yang meliputi skoring dan histopatologi di analisis secara deskriptif. 3.4 Kappa-Karagenan dan Penyiapan Pakan Kappa-karagenan yang digunakan merupakan hasil ekstraksi rumput laut Kappaphycus alvarezii dari laboratorium Bioteknologi THP, dalam bentuk tepung. Tepung K-karagenan yang akan dicampurkan dengan pakan udang komersial ditimbang terlebih dahulu berdasarkan dosis perlakuan yang telah ditentukan, yaitu 5, 10 dan 15 g kg -1 pakan. Masing-masing k-karagenan yang

21 telah ditimbang tersebut dilarutkan dalam sedikit air, kemudian dicampurkan secara merata dengan pakan komersial yang telah disiapkan, dan dikeringanginkan pada suhu ruang. Setelah pakan kering, kemudian dilapisi (coating) dengan putih telur dan dikering-anginkan kembali pada suhu ruang. Pakan yang telah siap dimasukkan dalam wadah plastik dan disimpan dalam lemari pendingin hingga saat akan digunakan. 3.5 Prosedur Infeksi IMNV Infeksi IMNV pada udang vaname dilakukan secara oral. Udang yang digunakan untuk menginfeksi IMNV adalah udang yang telah terinfeksi dan memperlihatkan gejala klinis otot pada ruas terakhir berwarna merah. Terlebih dahulu udang dibersihkan dari kepala, karapas dan ekor, sehingga didapatkan bagian otot/daging udang secara utuh, lalu dihancurkan dan dihomogenkan. Setelah itu ditimbang sesuai dengan kebutuhan dan otot udang yang terinfeksi tersebut diberikan kepada udang sebagai pakan tiga kali sehari selama tiga hari berturut-turut (Coelho et al. 2009) sebesar 10% dari biomassa udang vaname uji (Fadilah 2010). 3.6 Prosedur Penelitian Tahap Satu 3.6.1 Menguji Pengaruh Pemberian Kappa-Karagenan terhadap Parameter Imun Udang Vaname Penelitian tahap satu terdiri dari tiga perlakuan dan kontrol (kontrol positif dan kontrol negatif) dengan masing-masing tiga ulangan. Pada tahap ini udang vaname diberi k-karagenan melalui pakan yang dicampurkan dalam setiap kilogram pakan udang komersial yang diberikan. Masing-masing perlakuan k-karagenan yang diberikan sebesar K: 0, A: 5, B: 10 dan C: 15 g kg -1 pakan. Udang vaname yang digunakan berukuran 4.9±0.32 g, sebanyak 150 ekor. Seluruh perlakuan dan kontrol diberi pakan tiga kali sehari dengan FR (feeding rate) sebesar 4-5 % dari bobot biomassa. Pemberian perlakuan berlangsung selama empat minggu. Pengukuran parameter imun dan pertumbuhan dilakukan pada minggu ke-0, 1, 2, 3 dan 4 perlakuan.

22 3.6.2 Menguji Pengaruh Pemberian Kappa-Karagenan terhadap Resistensi Udang Vaname dari Serangan IMNV Resistensi udang vaname diamati setelah udang vaname yang diberi perlakuan selama empat minggu, diinfeksi dengan IMNV. Udang vaname yang telah diberi perlakuan pakan yang ditambahkan k-karagenan dengan dosis berbeda selama empat minggu, selanjutnya diinfeksi dengan IMNV secara oral. Pada tahap ini terdiri dari tiga perlakuan dan kontrol (kontrol positif dan kontrol negatif), dengan masing-masing tiga ulangan. Udang vaname yang diinfeksi telah mencapai ukuran 10.77±1.32 g. Penginfeksian IMNV berdasarkan prosedur infeksi IMNV (subbab 3.5). Setelah diinfeksi IMNV, udang vaname diberi pakan udang komersial dan diamati selama dua minggu. Pengamatan yang dilakukan meliputi kelangsungan hidup, gejala klinis dan histopatologi serta konfirmasi keberadaan IMNV pada udang vaname dengan PCR (polymerase chain reaction). 3.7 Prosedur Penelitian Tahap Dua 3.7.1 Mengevaluasi Frekuensi Pemberian Kappa-Karagenan terhadap Resistensi Udang Vaname dari Serangan IMNV Penelitian tahap dua adalah menentukan frekuensi pemberian k-karagenan dengan menggunakan dosis terbaik (C: 15 g kg -1 pakan) yang didapatkan pada penelitian tahap satu. Penelitian tahap dua ini terdiri dari perlakuan : Kontrol (+) dan (-) Perlakuan C1 Perlakuan C7 Perlakuan C14 : Pemberian pakan tanpa k-karagenan : Pemberian k-karagenan setiap hari selama lima minggu : Pemberian k-karagenan selama tujuh hari secara berulang dengan interval pemberian tujuh hari (minggu ke-1,3,5) : Pemberian k-karagenan selama 14 hari secara berulang dengan interval pemberian tujuh hari, pada minggu ke-1 dan 4 Pemberian perlakuan berlangsung selama lima minggu, menggunakan udang vaname berukuran 4.2±0.32 g. Pengamatan pertumbuhan dilakukan setiap minggu selama perlakuan, yaitu minggu ke-0 sampai 5 perlakuan. Selanjutnya udang vaname diinfeksi dengan IMNV berdasarkan prosedur infeksi IMNV (subbab 3.5). Udang vaname yang diinfeksi dengan IMNV telah mencapai ukuran

23 12.2±1.01 g. Pemeliharaan setelah infeksi menggunakan pakan komersial berlangsung selama selama dua minggu. Pengamatan resistensi meliputi kelangsungan hidup, gejala klinis, histopatologi, serta konfirmasi keberadaan IMNV dengan PCR. 3.8 Pengukuran Parameter Pengamatan Parameter pengamatan dalam penelitian ini meliputi parameter imun, pemeriksaan gejala klinis, histopatologi dan kelangsungan hidup serta konfirmasi keberadaan IMNV dengan PCR pada udang vaname. Sebagai data penunjang dilakukan pula pengukuran pertumbuhan. Parameter imun yang diukur adalah total hemosit, diferensiasi hemosit, aktifitas fagositosis, dan phenoloksidase. 3.8.1 Total Hemosit (Blaxhall dan Daishley 1973) Hemolim diambil sebanyak 0.1 ml dibagian pangkal kaki jalan ke-5 dengan syringe 1 ml yang sudah berisi antikoagulan Na-sitrat sebanyak 0.3 ml, kemudian dihomogenkan selama lima menit. Tetesan pertama hemolim pada syringe dibuang, selanjutnya hemolim diteteskan ke haemositometer dan dihitung jumlah selnya per ml dibawah mikroskop cahaya dengan pembesaran 40 kali. Total hemosit dihitung dengan menggunakan rumus : Total Hemosit Keterangan: FP = Faktor Pengenceran 3.8.2 Diferensiasi Hemosit (Martin dan Graves 1995) Hemolim yang telah diambil dari udang uji diteteskan pada gelas objek dan dibuat ulasan, kemudian dikeringkan di udara dan difiksasi dengan metanol 100% selama lima menit. Setelah itu dikeringkan udara kembali dan diwarnai dengan larutan giemsa 10% selama 10 menit, dicuci dalam air mengalir selama 30 detik dan dibiarkan kering. Preparat diamati menggunakan mikroskop cahaya dengan pembesaran 100 kali dan dibedakan menurut jenisnya yaitu sel hialin, semi granular dan granular. Persentase jenis hemosit dihitung dengan menggunakan rumus : Persentase Jenis Sel Hemosit %

24 3.8.3 Aktifitas Fagositik (Anderson dan Siwicki 1993) Hemolim 0.1 ml dimasukkan kedalam mikroplate dan dicampur secara merata dengan 25 μl bakteri Staphylococcus aureus dan diinkubasi selama 20 menit. Hemolim sebanyak 5 μl diteteskan pada objek glas dan dibuat preparat ulas lalu dikeringkan. Fiksasi dengan metanol 100% selama lima menit dan diwarnai dengan giemsa selama 15 menit. Aktivitas fagositik diukur berdasarkan persentase sel-sel fagosit yang melakukan fagositosis. Aktifitas fagositik dihitung dengan menggunakan rumus : 3.8.4 Aktifitas Phenoloxidase (PO) (Liu and Chen 2004) Aktifitas phenoloxidase diukur menggunakan spektrofotometer. Pengamatan dilakukan dengan melihat perekaman pembentukan dopachrome yang dihasilkan dari L-dihydroxyphenylalanine (L-DOPA). Hemolim disentrifuse pada 1000 rpm pada suhu 4 o C selama 20 menit. Cairan supernatan dibuang dan pellet dibilas dengan cacodylate-citrate buffer hingga 1 ml (sodium cacodylate 0.01 M, sodium chloride 0.45 M, trisodium citrate 0.10 M, ph 7.0) kemudian disentrifus ulang. Pellet selanjutnya dicampur dengan cacodylate buffer hingga 200 µl (sodium cacodylate 0.01 M, sodium chloride 0.45 M, calcium chloride 0.01 M dan magnesium chloride 0.26 M, ph 7.0). Larutan kemudian dibagi dua, Larutan pertama sebanyak 100 µl diinkubasi selama 10 menit pada suhu 25 o C dengan 50 µl trypsin (1 mg ml -1 ), sebagai elicitor kemudian ditambahkan 50 µl LDOPA, dan lima menit kemudian dicampur 800 µl cacodylate buffer. Larutan kedua sebanyak 100 µl suspensi sel dicampur dengan 50 µl cacodylate buffer (untuk menggantikan trypsin) dan 50 µl L-DOPA yang digunakan sebagai kontrol untuk background aktifitas phenoloxidase pada semua kondisi uji. Optikal density (OD) diukur menggunakan spektrofotometer pada panjang gelombang 490 nm. Aktifitas phenoloxidase udang diekspresikan sebagai pembentukan dopachrome per 50 µl hemolim.

25 3.8.5 Pemeriksaan Virus dengan Metode PCR Pemeriksaan virus dengan metode PCR dilakukan guna mengkonfirmasi keberadaan virus pada udang vaname uji yang akan digunakan dalam perlakuan dan pada saat setelah diinfeksi. Pemeriksaan virus dengan metode PCR menggunakan metode standar dari OIE (2009). 3.8.6 Pemeriksaan Gejala Klinis Pemeriksaan gejala klinis dilakukan setelah infeksi dengan IMNV. Pengamatan gejala klinis dilakukan melalui skoring berdasarkan jenis perubahan gejala yang terjadi (Angka 2005). Parameter gejala klinis yang digunakan berdasarkan modifikasi dari penentuan kelompok gejala klinis dalam Costa (2009), yaitu terinfeksi tanpa symptom termasuk kategori tingkat infeksi ringan dengan skor (+), gejala dengan sedikit warna putih lebam di dalam jaringan pada bagian beberapa segmen abdomen termasuk kategori menengah dengan skor (++), gejala dengan sebagian besar jaringan abdomen berwarna putih lebam termasuk kategori berat dengan skor (+++) dan gejala dengan bagian abdomen dari arah ekor berwarna merah (jaringan mati) termasuk kategori berat dengan skor (++++). 3.8.7. Histopatologi Histopatologi diambil dari jaringan otot skeletal dan hepatopankreas udang pada setiap akhir pengamatan setelah infeksi. Sampel udang yang digunakan diambil dari setiap perlakuan untuk mengetahui tingkat kerusakan jaringan yang terjadi akibat IMNV dan pengaruh perlakuan yang diberikan. Organ dan jaringan yang diambil dari udang uji difiksasi terlebih dahulu dengan larutan fiksatif Davidson minimal satu hari. Kemudian organ dipotong 3-5 mm dan 1 x 1 cm, selanjutnya dilakukan dehidrasi, clearing, impregnasi, embedding dan blocking paraffin. Block jaringan selanjutnya diiris menggunakan mikrotom setebal 5 µm dan diwarnai dengan hematoxylin-eosin.

26 3.8.8 Kelangsungan Hidup Tingkat kelangsungan hidup udang dihitung dengan menggunakan rumus: Keterangan: SR = Tingkat Kelangsungan Hidup Nt = Jumlah udang yang hidup pada akhir pengamatan (ekor) No = Jumlah udang pada awal pengamatan 3.8.9 Pertumbuhan Relatif Penghitungan pertumbuhan relatif udang dilakukan sebagai data penunjang, untuk mengetahui pertumbuhan yang terjadi selama perlakuan. Pertumbuhan relatif udang vannamei dihitung berdasarkan rumus (Affandi and Tang 2002) : Keterangan Wr = pertumbuhan relatif udang (%) Wt= Bobot rata-rata akhir udang (g) Wo= Bobot rata-rata awal udang (g) Wt Wo Wr = x 100 Wo