SISTEM PENDETEKSI WAJAH MANUSIA PADA CITRA DIGITAL

dokumen-dokumen yang mirip
SISTEM PENDETEKSI WAJAH MANUSIA PADA CITRA DIGITAL (PROPOSAL SKRIPSI) diajukan oleh. NamaMhs NIM: XX.YY.ZZZ. Kepada

JARINGAN SARAF TIRUAN

BAB 2 LANDASAN TEORI. fuzzy logic dengan aplikasi neuro computing. Masing-masing memiliki cara dan proses

PEMANFAATAAN BIOMETRIKA WAJAH PADA SISTEM PRESENSI MENGGUNAKAN BACKPROPAGATION NEURAL NETWORK

Sistem Pendeteksi Wajah Manusia pada Citra Digital

BAB I PENDAHULUAN. mengenai deteksi wajah dengan Differential Evolution Based Neural Network

BAB III PERANCANGAN SISTEM

BAB 3 PERANCANGAN DAN PEMBUATAN SISTEM

SISTEM PENGENALAN WAJAH DENGAN METODE EIGENFACE DAN JARINGAN SYARAF TIRUAN (JST)

BAB 2 KONSEP DASAR PENGENAL OBJEK

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

PENGENALAN POLA GARIS DASAR KALIMAT PADA TULISAN TANGAN UNTUK MENGETAHUI KARAKTER SESEORANG DENGAN MENGGUNAKAN ALGORITMA RESILIENT BACKPROPAGATION

KNIT-2 Nusa Mandiri ISBN: SISTEM BIOMETRIK TELINGA MENGGUNAKAN JARINGAN SYARAF TIRUAN

BAB III METODE PENELITIAN. menjawab segala permasalahan yang ada dalam penelitian ini.

VOL. 01 NO. 02 [JURNAL ILMIAH BINARY] ISSN :

IMPLEMENTASI PENGENALAN WAJAH MENGGUNAKAN ALGORITMA PRINCIPAL COMPONENT ANALYSIS(PCA) DAN IMPROVED BACKPROPAGATION

HALAMAN SAMPUL SKRIPSI PENGENALAN POLA TELAPAK TANGAN DENGAN MENGGUNAKAN ALGORITMA BACK PROPAGATION NEURAL NETWORK

BAB III PERANCANGAN DAN IMPLEMENTASI SISTEM

SISTEM PENGENALAN KARAKTER DENGAN JARINGAN SYARAF TIRUAN ALGORITMA PERCEPTRON

IDENTIFIKASI TANDA TANGAN MENGGUNAKAN ALGORITMA DOUBLE BACKPROPAGATION ABSTRAK

Jurnal Ilmiah Komputer dan Informatika (KOMPUTA) IMPLEMENTASI JARINGAN SYARAF TIRUAN BACKPROPAGATION UNTUK MENGENALI MOTIF BATIK

BAB 3 ANALISIS DAN PERANCANGAN PROGRAM APLIKASI

METODOLOGI PENELITIAN

JARINGAN SARAF TIRUAN BACKPROPAGATION UNTUK PENGENALAN WAJAH METODE EKSTRAKSI FITUR Sigit Kusmaryanto Teknok Elektro FTUB,

Pengenalan Hand Gesture Dinamis Menggunakan JST Metode Pembelajaran Backpropagation

SLOPE CORRECTION PADA TULISAN TANGAN MENGGUNAKAN JARINGAN SARAF TIRUAN ABSTRAK

IMPLEMENTASI DEEP LEARNING BERBASIS TENSORFLOW UNTUK PENGENALAN SIDIK JARI

PENGENALAN HURUF DAN ANGKA PADA CITRA BITMAP DENGAN JARINGAN SARAF TIRUAN METODE PROPAGASI BALIK

PENGENALAN POLA TANDA TANGAN MENGGUNAKAN METODE MOMENT INVARIANT DAN JARINGAN SYARAF RADIAL BASIS FUNCTION (RBF)

BAB 3 PROSEDUR DAN METODOLOGI. menawarkan pencarian citra dengan menggunakan fitur low level yang terdapat

PERANCANGAN PROGRAM PENGENALAN BENTUK MOBIL DENGAN METODE BACKPROPAGATION DAN ARTIFICIAL NEURAL NETWORK SKRIPSI

PENGEMBANGAN SISTEM PENGENALAN EKSPRESI WAJAH MENGGUNAKAN JARINGAN SYARAF TIRUAN BACKPROPAGATION (STUDI KASUS PADA DATABASE MUG)

BAB 2 LANDASAN TEORI

PERBANDINGAN ANALISIS PENGENALAN HURUF ARAB MENGGUNAKAN METODE JARINGAN SYARAF TIRUAN BACKPROPAGATION DAN K-NEAREST NEIGHBOR

PREDIKSI KUALITAS AIR BERSIH PDAM KOTA PALU MENGGUNAKAN METODE BACKPROPAGATION

PENGENALAN WAJAH DENGAN PENDEKATAN ROBUST REGRESSION YANG MENGGUNAKAN HISTOGRAM REMAPPING DENGAN DISTRIBUSI NON-UNIFORM

Segitiga Fuzzy-Neural Network untuk Mengenali Pola dari Model Input Data yang Berdistribusi

Klasifikasi Pola Huruf Vokal dengan Menggunakan Jaringan Saraf Tiruan

Implementasi Extreme Learning Machine untuk Pengenalan Objek Citra Digital

Analisis Prediksi Indeks Harga Konsumen Berdasarkan Kelompok Kesehatan Dengan Menggunakan Metode Backpropagation

ALGORITMA BACKPROPAGATION PADA JARINGAN SARAF TIRUAN UNTUK PENGENALAN POLA WAYANG KULIT

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang

Analisis Prediksi Indeks Harga Konsumen Berdasarkan Kelompok Kesehatan Dengan Menggunakan Metode Backpropagation

APLIKASI JARINGAN SYARAF TIRUAN UNTUK MENGENALI TULISAN TANGAN HURUF A, B, C, DAN D PADA JAWABAN SOAL PILIHAN GANDA

BAB III METODOLOGI PENELITIAN

BAB II NEURAL NETWORK (NN)

ALGORITMA LEARNING VECTOR QUANTIZATION UNTUK PENGENALAN BARCODE BUKU DI PERPUSTAKAAN UNIVERSITAS GALUH CIAMIS

SKRIPSI RAYMOND P.H. SIRAIT

PENGENALAN TANDA TANGAN MENGGUNAKAN METODE JARINGAN SARAF TIRUAN PERCEPTRON DAN BACKPROPAGATION

Pengenalan Aksara Lampung Menggunakan Jaringan Syaraf Tiruan

IDENTIFIKASI TANDA TANGAN MENGGUNAKAN MOMENT INVARIANT DAN ALGORITMA BACK PROPAGATION ABSTRAK

BAB III ANALISIS DAN PERANCANGAN

1. Pendahuluan Perumusan Masalah Dari latar belakang yang dipaparkan di atas, masalah yang dapat dirumuskan adalah:

PREDIKSI CURAH HUJAN DI KOTA MEDAN MENGGUNAKAN METODE BACKPROPAGATION NEURAL NETWORK

Identifikasi Gender Berdasarkan Citra Wajah Menggunakan Deteksi Tepi dan Backpropagation

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

PERANCANGAN PARAMETER TERBAIK UNTUK PREDIKSI PRODUKSI BAN GT3 MENGGUNAKAN JARINGAN SYARAF TIRUAN RESILIENT PROPAGATION

DETEKSI JENIS KAYU CITRA FURNITURE UKIRAN JEPARA MENGGUNAKAN JST BACKPROPAGATION

PENGENALAN WAJAH MANUSIA MENGGUNAKAN PRINCIPAL COMPONENT ANALYSIS DAN JARINGAN SYARAF TIRUAN ADAPTIVE RESONANCE THEORY TWO (ART-2)

PEMANFAATAN NEURAL NETWORK PERCEPTRON PADA PENGENALAN POLA KARAKTER

JARINGAN SYARAF TIRUAN UNTUK KLASIFIKASI STATUS GIZI BALITA JENIS KELAMIN LAKI-LAKI DENGAN METODE BACKPROPAGATION

SEGMENTASI HURUF TULISAN TANGAN BERSAMBUNG DENGAN VALIDASI JARINGAN SYARAF TIRUAN. Evelyn Evangelista ( )

ANALISIS VARIASI PARAMETER LEARNING VECTOR QUANTIZATION ARTIFICIAL NEURAL NETWORK TERHADAP PENGENALAN POLA DATA ODOR

IDENTIFIKASI SESEORANG BERDASARKAN CITRA TELINGA DENGAN MENGGUNAKAN METODE TRANSFORMASI HOUGH ABSTRAK

IDENTIFIKASI SESEORANG BERDASARKAN CITRA PEMBULUH DARAH MENGGUNAKAN EKSTRAKSI FITUR SCALE INVARIANT FEATURE TRANSFORM

STUDI ESTIMASI CURAH HUJAN, SUHU DAN KELEMBABAN UDARA DENGAN MENGGUNAKAN JARINGAN SYARAF TIRUAN BACKPROPAGATION

BAB III PERANCANGAN SISTEM

IDENTIFIKASI NOMOR POLISI KENDARAAN BERMOTOR MENGGUNAKAN JARINGAN SYARAF TIRUAN SELF ORGANIZING MAPS (SOMS)

PENGENALAN CITRA WAJAH DENGAN MENGGUNAKAN TRANSFORMASI WAVELET DISKRIT DAN JARINGAN SARAF TIRUAN BACK-PROPAGATION

BAB II LANDASAN TEORI

PERANCANGAN SISTEM KONTROL POSISI DAN KECEPATAN PADA KAPAL SELAM MENGGUNAKAN JARINGAN SARAF TIRUAN

BAB 3 METODE PENELITIAN

Neural Networks. Machine Learning

lalu menghitung sinyal keluarannya menggunakan fungsi aktivasi,

BAB 1 PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang

PERANCANGAN ALGORITMA BELAJAR JARINGAN SYARAF TIRUAN MENGGUNAKAN PARTICLE SWARM OPTIMIZATION (PSO)

BAB 2 LANDASAN TEORI

MATERI DAN METODE. Cara Pengambilan Data

Architecture Net, Simple Neural Net

PERBANDINGAN KINERJA METODE PRINCIPAL COMPONENT ANALYSIS (PCA) DAN NEURAL NETWORK (NN) PADA PENGENALAN WAJAH

SISTEM PELACAKAN WAJAH METODE HAAR

BAB I PENDAHULUAN. mengenali dan membedakan ciri khas yang dimiliki suatu objek (Hidayatno,

PERBANDINGAN BEBERAPA MODEL UNTUK KINERJA ALGORITMA BACKPROPAGATION COMPARISON OF SOME MODEL FOR PEFORMANCE IMPROVEMENT IN BACKPROPAGATION ALGORITHM

Jurnal Ilmiah Komputer dan Informatika (KOMPUTA) 1 Edisi.,Volume,. Bulan.. ISSN :

Neural Network (NN) Keuntungan penggunaan Neural Network : , terdapat tiga jenis neural network Proses Pembelajaran pada Neural Network

PENENTUAN MODEL RETURN HARGA SAHAM DENGAN MULTI LAYER FEED FORWARD NEURAL NETWORK MENGGUNAKAN ALGORITMA RESILENT BACKPROPAGATION SKRIPSI

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

IDENTIFIKASI DAN VERIFIKASI TANDA TANGAN STATIK MENGGUNAKAN BACKPROPAGATION DAN ALIHRAGAM WAVELET

Architecture Net, Simple Neural Net

PENGENALAN HURUF HASIL DARI TULISAN TANGAN MENGGUNAKAN ALGORITMA FORWARD-ONLY COUNTER PROPAGATION

Pengenalan Wajah Menggunakan Metode Support Vector Machine (SVM)

Klasifikasi kelompok usia berdasarkan citra wajah menggunakan algoritma neural network dengan fitur face anthropometry dan kedalam kerutan

BAB 1 PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang

JARINGAN SYARAF TIRUAN UNTUK MEMPREDIKSI CURAH HUJAN SUMATERA UTARA DENGAN METODE BACK PROPAGATION (STUDI KASUS : BMKG MEDAN)

VERIFIKASI SESEORANG BERDASARKAN CITRA PEMBULUH DARAH MENGGUNAKAN EKSTRAKSI FILTER GABOR ABSTRAK

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA. menggunakan teknik statistik, matematika, kecerdasan buatan, tiruan dan machinelearning

UJM 3 (1) (2014) UNNES Journal of Mathematics.

PREDIKSI PERHITUNGAN DOSIS RADIASI PADA PEMERIKSAAN MAMMOGRAFI MENGGUNAKAN ALGORITMA JARINGAN SYARAF TIRUAN PROPAGASI BALIK

PENERAPAN MODEL NEURAL NETWORK BACKPROPAGATION UNTUK PREDIKSI HARGA AYAM

Transkripsi:

1 SISTEM PENDETEKSI WAJAH MANUSIA PADA CITRA DIGITAL (Human Face Detection System on Digital Images) Setyo Nugroho 1, Agus Harjoko 2 Program Studi Ilmu Komputer Program Pascasarjana Universitas Gadjah Mada ABSTRACT Face detection is one of the most important preprocessing step in face recognition systems used in biometric identification. Face detection can also be used in searching and indexing still image or video containing faces in various size, position, and background. This paper describes a face detection system using multi-layer perceptron and Quickprop algorithm. The system achieves its ability by means of learning by examples. The training is performed using active learning method to minimize the amount of data used in training. Experimental results show that the accuracy of the system strongly depends on the quality and quantity of the data used in training. Quickprop algorithm and active learning method improve the training speed significantly. Keywords : face detection, neural networks, Quickprop, active learning 1. STMIK STIKOM Balikpapan 2. Fakultas MIPA Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta

2 PENGANTAR Teknologi pengenalan wajah makin banyak diaplikasikan dalam sistem pengenalan biometrik, pencarian dan pengindeksan database citra dan video digital, sistem keamanan, konferensi video, dan interaksi manusia dengan komputer. Pendeteksian wajah (face detection) juga merupakan salah satu tahap awal yang sangat penting sebelum dilakukan proses pengenalan wajah (face recognition). Masalah deteksi wajah dapat dirumuskan sebagai berikut: diberikan masukan sebuah citra digital sembarang, maka sistem akan mendeteksi apakah ada wajah manusia di dalam citra tersebut. Jika ada maka sistem akan memberitahu berapa wajah yang ditemukan dan lokasi wajah-wajah tersebut di dalam citra. Keluaran dari sistem adalah posisi subcitra berisi wajah yang berhasil dideteksi. Deteksi wajah dapat dipandang sebagai masalah klasifikasi pola dimana inputnya adalah suatu citra dan outputnya adalah label kelas dari citra tersebut. Dalam hal ini terdapat dua label kelas, yaitu wajah dan non-wajah (Sung, 1996). Teknik-teknik pengenalan wajah yang dilakukan selama ini banyak yang menggunakan asumsi bahwa data wajah yang tersedia memiliki ukuran yang sama dan latar belakang yang seragam. Di dunia nyata, asumsi ini tidak selalu berlaku karena wajah dapat muncul di dalam citra dengan berbagai ukuran, berbagai posisi, dan latar belakang yang bervariasi (Hjelmas dan Low, 2001). Supervised Learning Tujuan pada pembelajaran supervised learning adalah untuk menentukan nilai bobot-bobot koneksi di dalam jaringan sehingga jaringan dapat melakukan pemetaan

3 (mapping) dari input ke output sesuai dengan yang diinginkan. Pemetaan ini ditentukan melalui satu set pola contoh atau data pelatihan (training data set). Setiap pasangan pola p terdiri dari vektor input x p dan vektor target t p. Setelah selesai pelatihan, jika diberikan masukan x p seharusnya jaringan menghasilkan nilai output t p. Besarnya perbedaan antara nilai vektor target dengan output aktual diukur dengan nilai error yang disebut juga dengan cost function: E = 1 2 p P n p ( t n s p n ) 2 (1) di mana n adalah banyaknya unit pada output layer. Tujuan dari training ini pada dasarnya sama dengan mencari suatu nilai minimum global dari E. Algoritma Quickprop Algoritma Quickprop merupakan hasil pengembangkan dari algoritma backpropagation standar. Pada algoritma Quickprop dilakukan pendekatan dengan asumsi bahwa kurva fungsi error terhadap masing-masing bobot penghubung berbentuk parabola yang terbuka ke atas, dan gradien dari kurva error untuk suatu bobot tidak terpengaruh oleh bobot-bobot yang lain (Fahlman, 1988). Dengan demikian perhitungan perubahan bobot hanya menggunakan informasi lokal pada masing-masing bobot. Perubahan bobot pada algoritma Quickprop dirumuskan sebagai berikut: E ( t) E w( t) = ε ( t) + w * w( t 1) (2) w E E ( t 1) ( t) w w di mana: w(t) : perubahan bobot w ( t 1) : perubahan bobot pada epoch sebelumnya ε : adalah learning rate

4 E (t) : derivatif error w E ( t 1) : derivatif error pada epoch sebelumnya w Pada eksperimen dengan masalah XOR dan encoder/decoder (Fahlman, 1988), terbukti bahwa algoritma Quickprop dapat meningkatkan kecepatan training. CARA PENELITIAN Data yang digunakan dalam penelitian ini terdiri dari sekumpulan citra untuk pelatihan (training data set) dan sekumpulan citra untuk pengujian (testing data set). Jumlah citra wajah yang digunakan sebanyak 3000 buah dengan ukuran 20x20 pixel. Sedangkan citra non-wajah diambil dari file-file citra yang tidak terdapat wajah di dalamnya. Jaringan syaraf tiruan (JST) yang digunakan pada sistem ini menggunakan jenis multi-layer perceptron. Arsitektur yang digunakan diadaptasi dari hasil penelitian (Rowley dkk., 1998). Lapisan input terdiri dari 400 unit input, yang menerima masukan dari nilai grayscale pixel 20x20 dari subcitra yang akan dideteksi. Sebelum dijadikan input untuk JST, nilai grayscale yang berkisar dari 0 sampai 255 dinormalisasi menjadi antara 1 dan 1. Lapisan output terdiri dari sebuah unit dengan nilai keluaran berkisar antara 1 dan 1. Pada training data set didefinisikan nilai 1 untuk data wajah dan 1 untuk data non-wajah. Lapisan tersembunyi (hidden layer) terdiri dari total 25+16=41 unit. Bagian pertama terhubung dengan lapisan input yang membentuk 25 area berukuran 4x4 pixel.

5 Bagian kedua terhubung dengan lapisan input yang membentuk 16 area berukuran 5x5 pixel. Secara keseluruhan jaringan ini memiliki 883 bobot penghubung, sudah termasuk bias. Pada sistem (Rowley dkk., 1998) yang lebih kompleks, jumlah bobot penghubungnya mencapai 4357. Teknik Active Learning Dengan teknik active learning (Sung, 1996), training dilakukan secara bertahap. Pada tahap pertama training dimulai dengan menggunakan sedikit data non-wajah. Pada tahap berikutnya, data training non-wajah ditambah sedikit demi sedikit. Namun data tambahan tersebut diseleksi hanya untuk data tertentu saja, yaitu data yang yang dideteksi sebagai wajah (false positive) pada hasil training tahap sebelumnya. Dengan demikian jumlah data training yang digunakan untuk jaringan syaraf tiruan akan lebih sedikit. Karena data training yang digunakan lebih sedikit, waktu yang diperlukan untuk proses training juga akan lebih singkat. Gambar 1 menunjukkan penerapan teknik active learning untuk sistem pendeteksi wajah. Detektor Wajah Bagian detektor wajah ini menggunakan arsitektur jaringan syaraf yang sama dengan yang digunakan untuk training. Bobot penghubung yang digunakan diambil dari bobot terakhir yang dihasilkan pada proses training. Hasil deteksi akan diputuskan sebagai wajah jika output dari JST lebih dari 0, dan diputuskan sebagai non-wajah jika output JST kurang dari atau sama dengan 0.

6 Koleksi Contoh Data Wajah Data Training Data Awal Non-Wajah Trainer JST Data Tambahan Non-Wajah Pilih random Bobot JST Hasil Training Koleksi Contoh Data Non-Wajah Detektor Wajah Hasil Deteksi (False Positive) Gambar 1. Teknik Active Learning untuk Sistem Pendeteksi Wajah Ekstraksi Subcitra Pada citra yang akan dideteksi, posisi wajah bisa berada di mana saja. Pengklasifikasi jaringan syaraf tiruan pada detektor wajah memerlukan input citra 20x20 pixel. Karena itu digunakan window 20x20 pixel yang digeser melalui seluruh daerah citra. Detektor akan memeriksa satu persatu subcitra yang dilalui oleh window tersebut. Pada citra yang dideteksi, wajah bisa memiliki ukuran yang bervariasi. Karena itu citra akan diperkecil secara bertahap dengan skala perbandingan 1:1,2 sebagaimana

7 dilakukan pada (Rowley dkk., 1998). Pada setiap ukuran citra yang diperkecil, window 20x20 pixel akan digeser melalui seluruh area citra. Preprocessing Citra yang akan digunakan sebagai training data set akan mengalami tahaptahap preprocessing berikut: Histogram Equalization, untuk memperbaiki kontras citra. Masking, yaitu menghilangkan bagian sudut-sudut citra untuk mengurangi variasi citra sehingga memperkecil dimensi data. Normalisasi, yaitu mengkonversi nilai intensitas grayscale citra sehingga memiliki range dari 1 sampai dengan 1. Tahap-tahap preprocessing yang sama juga dilakukan pada saat proses pendeteksian wajah. Gambar 2. Contoh data wajah yang telah mengalami preprocessing Merging Pada saat dilakukan deteksi wajah pada citra, biasanya sebuah wajah akan terdeteksi pada beberapa lokasi yang berdekatan. Lokasi-lokasi ini disebut dengan kandidat wajah. Untuk itu perlu dilakukan proses penggabungan (merging), yaitu menyatukan lokasi kandidat-kandidat wajah yang berdekatan.

8 HASIL DAN PEMBAHASAN Untuk mengukur evaluasi unjuk kerja dari detektor wajah, pada umumnya digunakan dua parameter, yaitu detection rate dan false positive rate (Yang dkk., 2002). Detection rate adalah perbandingan antara jumlah wajah yang berhasil dideteksi dengan jumlah seluruh wajah yang ada. Sedangkan false positive rate adalah banyaknya subcitra non-wajah yang dideteksi sebagai wajah. Gambar 3 menunjukkan contoh hasil deteksi yang dilakukan pada beberapa citra pengujian. Pengujian dilakukan dengan data uji citra yang berasal dari Massachusetts Institute of Technology (MIT) yang terdiri dari 23 file citra yang secara keseluruhan berisi 149 wajah (data uji MIT-23). Kumpulan citra ini pertama kali dipublikasikan pada (Sung dan Poggio, 1994). Pada data uji ini diperoleh hasil detection rate sebesar 71,14% dan false positives sebanyak 62. Hasil ini diperoleh dari training yang menggunakan 3000 data wajah dan 5200 data non-wajah yang diperoleh melalui metode active learning. Tabel 1 menunjukkan hasil deteksi yang pernah dilakukan oleh para peneliti lain dengan menggunakan data uji MIT-23. Perbandingan ini tidak bisa dijadikan patokan mutlak untuk menyimpulkan bahwa satu metode lebih baik dari metode yang lain, karena faktor-faktor berikut (Hjelmas dan Low, 2001): data set yang digunakan untuk training tidak sama jumlah data yang digunakan untuk training tidak sama Metode Detection False Rate Positive Support vector machines (SVM) (Osuna, 1997) 74,2% 20 Distribution-based dan clustering (Sung, Poggio, 1994) 79,9% 5 Neural Networks (Rowley, 1998) 84,5% 8 Kullback relative information (Lew, Huijsmans, 1996) 94,1% 64 Tabel 1. Beberapa hasil deteksi wajah pada data uji MIT-23

9 Gambar 3 Contoh hasil deteksi wajah pada beberapa citra uji

10 Pengaruh Jumlah Data Training yang Digunakan Tabel 2 menunjukkan pengaruh jumlah data training yang digunakan terhadap hasil deteksi. Tabel ini berdasarkan hasil deteksi pada suatu citra berisi 15 wajah dan memiliki total 790.797 window. Terlihat bahwa semakin banyak data training nonwajah yang digunakan, semakin kecil angka false positive yang dihasilkan. Hal ini menunjukkan bahwa dengan data yang semakin lengkap, hasil belajar sistem akan semakin baik. Jumlah data training Detection False nonwajah wajah total Rate Positive 1000 1000 2000 15/15 42 1000 1200 2200 15/15 32 1000 1400 2400 15/15 31 1000 1600 2600 15/15 24 1000 1800 2800 15/15 23 1000 2000 3000 15/15 19 1000 2200 3200 15/15 10 1000 2400 3400 15/15 5 1000 2600 3600 15/15 4 1000 2800 3800 15/15 2 1000 3000 4000 15/15 2 1000 3200 4200 15/15 2 1000 3400 4400 15/15 2 1000 3600 4600 15/15 1 1000 3800 4800 15/15 1 1000 4000 5000 15/15 1 Tabel 2. Pengaruh Jumlah Data Training pada Unjuk Kerja Deteksi Wajah Pengaruh Algoritma Quickprop pada Kecepatan Training Tabel 3 menunjukkan perbandingan waktu training yang diperlukan antara training yang menggunakan algoritma backpropagation standar dengan training yang menggunakan algoritma Quickprop. Terlihat bahwa dengan jumlah data training yang semakin besar, algoritma Quickprop memberikan peningkatan kecepatan yang signifikan.

11 Waktu training (detik) Jumlah Error Data training Backprop Quickprop standar 2000 0.05 49 12 3000 0.05 649 96 4000 0.05 4664 867 Tabel 3. Pengaruh Algoritma Quickprop pada Kecepatan Training Pengaruh Metode Active Learning Tabel 4 menunjukkan perbandingan antara hasil training yang menggunakan metode active learning, dengan hasil training yang menggunakan data yang dipilih secara random. Jumlah data yang digunakan adalah sama. Terlihat bahwa teknik active learning memberikan hasil yang lebih baik. Ini berarti bahwa teknik active learning dapat memilih data yang benar-benar perlu, sehingga dapat meminimalkan jumlah data training yang digunakan. Data training Random Data Active Learning wajah nonwajah Rate Positive Rate Positive Detection False Detection False total 3000 5200 8200 63,76% 732 71,14% 62 3000 3000 6000 62,42% 1160 71,14% 201 Tabel 4. Pengaruh Active Learning pada Unjuk Kerja Deteksi Wajah KESIMPULAN DAN SARAN Kesimpulan Dari penelitian ini dapat diambil kesimpulan sebagai berikut: 1. Jaringan syaraf tiruan dapat dimanfaatkan untuk melakukan deteksi wajah pada citra digital. 2. Pada sistem deteksi wajah yang berbasis contoh, hasil yang diperoleh sangat tergantung dari kualitas dan banyaknya contoh yang diberikan.

12 3. Pada training dengan jumlah data yang besar, algoritma Quickprop dapat memberikan peningkatan kecepatan yang signifikan. 4. Metode active learning dapat digunakan untuk meminimalkan jumlah data training yang digunakan, sehingga mempercepat proses training. Saran 1. Untuk meningkatkan unjuk kerja sistem pendeteksi wajah, dapat diberikan pelatihan lebih lanjut dengan tambahan data training yang lebih banyak dan lebih bervariasi. 2. Sistem deteksi wajah ini dapat dimanfaatkan lebih lanjut untuk membangun sistem pengenalan wajah (face recognition). DAFTAR PUSTAKA Fahlman, S.E., 1988, An Empirical Study of Learning Speed in Back-Propagation Networks, Technical Report CMU-CS-88-162, Carnegie Mellon University, USA. Hjelmas, E., Low, B.K., 2001, Face Detection: A Survey, Computer Vision and Image Understanding. 83, pp. 236-274. Rowley, H., Baluja, S., Kanade, T., 1998, Neural Network-Based Face Detection, IEEE Trans. Pattern Analysis and Machine Intelligence, vol. 20, no. 1. Sung, K.K., 1996, Learning and Example Selection for Object and Pattern Detection, AITR 1572, Massachusetts Institute of Technology AI Lab. Sung, K.K., Poggio, T., 1994, Example-Based Learning for View-Based Human Face Detection, Technical Report AI Memo 1521, Massachusetts Institute of Technology AI Lab. Yang, M.H., Kriegman, D., Ahuja, N., 2002, Detecting Faces in Images: A Survey, IEEE Trans. Pattern Analysis and Machine Intelligence, vol. 24, no. 1.