Kata kunci : kepercayaan diri, kecemasan menghadapi pertandingan

dokumen-dokumen yang mirip
HUBUNGAN ANTARA KECERDASAN EMOSI DENGAN KECEMASAN SEBELUM MENGHADAPI PERTANDINGAN PADA ATLET FUTSAL NASKAH PUBLIKASI

NASKAH PUBLIKASI HUBUNGAN KECERDASAN EMOSI DENGAN KECEMASAN MENGHADAPI PERTANDINGAN OLAH RAGA

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN. subyek, nama subyek, usia subyek dan subyek penelitian berjumlah 70 sampel ibu

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Olahraga adalah sebuah aktivitas olah tubuh yang memiliki banyak sisi

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. diperhatikan, seperti waktu latihan, waktu makan, dan waktu istirahat pun diatur

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. manusia menjadi sehat dan kuat secara jasmani maupun rohani atau dalam istilah

BAB III METODE PENELITIAN. angka, mulai dari pengumpulan data, penafsiran angka tersebut, serta penampilan

BAB III METODE PENELITIAN. terhadap data serta penampilan dari hasilnya.

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. sportifitas dan jiwa yang tak pernah mudah menyerah dan mereka adalah

HUBUNGAN ANTARA TINGKAT KECEMASAN DENGAN PELAKSANAAN TES DALAM PENDIDIKAN JASMANI DI SMP NEGERI 1 CISARUA KABUPATEN BANDUNG BARAT.

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Olahraga merupakan suatu fenomena yang tidak dapat dilepaskan dalam

BAB V ANALISI DATA DAN HASIL PENELITIAN

BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

Dampak Kecemasan pada Atlet Bola Basket Sebelum Memulai Pertandingan

BAB III METODE PENELITIAN. A. Tipe Penelitian. Penelitian ini menggunakan metode penelitian kuantitatif. Pendekatan

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Mohammad Zepi Prakesa, 2016

Hubungan antara Persepsi Atlet Taekwondo Junior pada Program Latihan dengan Motivasi Berprestasi

HUBUNGAN KEPERCAYAAN DIRI DENGAN PENAMPILAN PUNCAK PEMAIN SEPAK BOLA AREMA INDONESIA SKRIPSI. Oleh : Mukhammad Sspta Winahyu

ANALISIS KECEMASAN MAHASISWA PROGRAM STUDI BIMBINGAN DAN KONSELING FKIP UNLAM BANJARMASIN DALAM MENGHADAPI UJIAN AKHIR SEMESTER.

DAFTAR ISI ABSTRAK... KATA PENGANTAR... UCAPAN TERIMA KASIH... iii DAFTAR ISI... DAFTAR TABEL... vii. DAFTAR GAMBAR... viii. DAFTAR DIAGRAM...

BAB I PENDAHULUAN. Pencak silat merupakan budaya dan seni beladiri warisan bangsa yang

TINGKAT KECEMASAN ATLET SEBELUM, PADA SAAT ISTIRAHAT DAN SESUDAH PERTANDINGAN

BAB V HASIL PENELITIAN. uji linieritas hubungan variabel bebas dan tergantung. diuji normalitasnya dengan menggunakan program Statistical

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN. 1. Sejarah MA Darussalam Agung Kota Malang. mengembangkan pendidikan di Kedungkandang didirikanlah Madrasah

BAB III METODE PENELITIAN

BAB I PENDAHULUAN. dengan orang lain, mudah memperoleh teman, sukses dalam pekerjaan dan

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Zakaria Nur Firdaus, 2013

BAB III METODE PENELITIAN. r 1. r 2. Gambar 3.1 Desain Penelitian (Sugiono, 2010, hlm.45) Sumber: Peneliti

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

BAB III METODE PENELITIAN. Populasi pada penelitian ini adalah wanita dewasa madya di RT 02 RW 06

BAB I PENDAHULUAN. menerus merupakan aspek yang harus dibina dalam olahraga. sampai sasaran perilaku. McClelland dan Burnham (2001), motivasi

HUBUNGAN KECEMASAN TERHADAP HASIL TES KETEPATAN JUMP SERVE BOLAVOLI. (Studi Pada Tim Bolavoli Putra SMK PGRI 3 Kediri Tahun Ajaran )

BAB III METODE PENELITIAN

BAB III METODE PENELITIAN. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode korelasional yang

ANXIETY. Joko Purwanto. Oleh : FAKULTAS ILMU KEOLAHRAGAAN UNIVERSITAS NEGERI YOGYAKARTA

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. berbunyi mens sana en corpore sano yang artinya dalam tubuh yang sehat

BAB 1 PENDAHULUAN. kompetisi kemenangan merupakan suatu kebanggaan dan prestasi. serta keinginan bagi setiap orang yang mengikuti pertandingan

BAB I PENDAHULUAN. kemampuan fisik, teknik, taktik dan mental. Keempat faktor tersebut

BAB III METODE PENELITIAN

BAB III METODE PENELITIAN. penelitian agar peneliti memperoleh data yang tepat dan sesuai dengan

TINGKAT KECEMASAN ATLET BOLA PON ACEH TAHUN 2016 ABSTRAK

BAB III METODE PENELITIAN. A. Desain Penelitian. Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif dengan menggunakan

BAB III METODOLOGI PENELITIAN. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif. Pendekatan kuantitatif

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Perkembangan dunia olahraga khususnya pada olahraga prestasi saat ini semakin

BAB III METODE PENELITIAN. A. Identifikasi Variabel. fenomena atau gejala utama dan pada beberapa fenomena lain yang relevan.

Bab 1 PENDAHULUAN. Di Indonesia kegiatan psikologi olahraga belum berkembang secara meluas.

HUBUNGAN ANTARA KEPERCAYAAN DIRI DENGAN KECEMASAN MENGHADAPI PERSALINAN PADA IBU HAMIL PRIMIGRAVIDA TRISEMESTER KE-III DI RSNU TUBAN

BAB I PENDAHULUAN. Permainan bola basket di Indonesia telah berkembang sangat pesat. Event kejuaraan olahraga

BAB III METODELOGI PENELITIAN

2016 HUBUNGAN ANTARA KECEMASAN SEBELUM BERTANDING DENGAN PERFORMA ATLET PADA CABANG OLAHRAGA BOLA BASKET

BAB III METODE PENELITIAN. menggunakan data berupa angka-angka yang kemudian dianalisa.

BAB I PENDAHULUAN. Jika kita membicarakan olahraga, tidak akan terlepas dari persoalan

BAB III METODE PENELITIAN. Peneliti akan melakukan penelitian ini di SMA Negeri 2 Kejuruan Muda,

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. bila dihadapkan pada hal-hal yang baru maupun adanya sebuah konflik.

BAB II LANDASAN TEORI

ABSTRAK... KATA PENGANTAR... UCAPAN TERIMA KASIH... DAFTAR ISI... DAFTAR TABEL... DAFTAR GAMBAR...

HUBUNGAN ANTARA EFIKASI DIRI DENGAN KECEMASAN MENGHADAPI UJIAN SBMPTN NASKAH PUBLIKASI

TINGKAT SELF CONFIDENCE DALAM PERTANDINGAN FUTSAL ANTAR KELAS PADA MAHASISWA PJKR FKIP UNISMA BEKASI

BAB IV PELAKSANAAN DAN HASIL PENELITIAN. terhubungdengan internet seperti Smartphone dan I-phone serta berbagai macam

BAB I PENDAHULUAN. Setiap orang cenderung pernah merasakan kecemasan pada saat-saat

BAB III PROSEDUR PENELITIAN. Metode penelitian adalah cara atau jalan yang ditempuh untuk mencapai

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah

BAB V HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

KECEMASAN DALAM OLAHRAGA. Nur Azis Rohmansyah. PJKR, FPIPSKR, Universitas PGRI Semarang

BAB III METODE PENELITIAN. yaitu variabel independen (bebas) dan variabel dependent (terikat). ini adalah perilaku kerja kontraproduktif.

BAB III METODE PENELITIAN

BAB III METODOLOGI PENELITIAN

BAB II LANDASAN TEORI. 2.1 Kecemasan Menghadapi Ujian Nasional Pengertian Kecemasan Menghadapi Ujian

PENGARUH PENYESUAIAN DIRI AKADEMIK TERHADAP KECENDERUNGAN SOMATISASI DI SMA AL ISLAM 1 SURAKARTA

BAB I PENDAHULUAN. sifat yang berbeda. Mereka yang ekstrim adalah yang sangat rendah emosinya.

Bab 2 TINJAUAN PUSTAKA. Kondisi psikis atau mental akan mempengaruhi performa atlet baik saat latihan

BAB III METODE PENELITIAN. Jenis penelitian ini adalah penelitian korelasional yaitu penelitian yang

BAB III METODE PENELITIAN

BAB III METODE PENELITIAN. pendekatan deduktif yang berangkat dari permasalahan-permasalahan dari

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah Olahraga di Indonesia sedang mengalami perkembangan yang

Hubungan Antara Kematangan Emosi Dan Kepercayaan Diri Dengan Penyesuaian Diri Pada Remaja Awal Di SMK PGRI 3 KEDIRI

BAB III METODE PENELITIAN

KETAHANAN MENTAL Pengantar Ketahanan Mental Pengertian

METODE PENELITIAN. Penelitian ini dilakukan di SMA Negeri 2 Sekampung Lampung Timur pada

BAB III METODE PENELITIAN. penampilan dari hasilnya (Arikunto, 2006:12). hubungan Academic Self Concept dan Konformitas Terhadap Teman Sebaya

Okta Setiani, Hastaning Sakti. Fakultas Psikologi Universitas Diponegoro. ABSTRAK

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah

BAB III METODE PENELITIAN. Penelitian kuantitatif dan (b). Penelitian kualitatif (Azwar, 2007: 5). Dalam

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Sepakbola merupakan salah satu cabang olahraga yang sudah mendunia.

BAB I PENDAHULUAN. Universitas Bhayangkara Jakarta Raya

BAB III METODE PENELITIAN

NASKAH PUBLIKASI HUBUNGAN ANTARA DUKUNGAN SOSIAL ISTRI DENGAN KECEMASAN SUAMI MENJELANG MASA PENSIUN

BAB III METODE PENELITIAN. menggunakan penelitian kuantitatif. Penelitian kuantitatif adalah penelitian yang

BAB III METODE PENELITIAN

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. antar bangsa yang semakin nyata serta agenda pembangunan menuntut sumber

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah

BAB I PENDAHULUAN. dipertanggungjawabkan adalah melalui pendekatan ilmiah. Menurut Cholik

BAB I PENDAHULUAN. Latihan mental merupakan unsur yang sangat penting hampir diseluruh

TINGKAT KESULITAN BELAJAR PENDIDIKAN JASMANI OLAHRAGA DAN KESEHATAN SISWA KELAS V SD NEGERI SE KECAMATAN KOTAGEDE YOGYAKARTA TAHUN AJARAN 2015/2016

BAB III METODE PENELITIAN

BAB III METODE PENELITIAN

BAB I PENDAHULUAN. setiap individu. Berbagai jenis olahraga dari yang murah dan mudah dilakukan,

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. pendidikan rakyatnya rendah dan tidak berkualitas. Sebaliknya, suatu negara dan

HUBUNGAN ANTARA PERSEPSI KEHARMONISAN KELUARGA DENGAN KENAKALAN REMAJA. NASKAH PUBLIKASI Diajukan kepada Fakultas Psikologi

Transkripsi:

ejournal Psikologi, 2015, 3 (2): 559-568 ISSN 0000-0000, ejournal.psikologi.fisip-unmul.ac.id Copyright 2015 HUBUNGAN ANTARA KEPERCAYAAN DIRI DENGAN KECEMASAN MENGHADAPI PERTANDINGAN PADA SISWA SKOI DI SAMARINDA Siswa Sekolah Olahraga Internasional Di Samarinda Febriandy Tri Saputra 1 Abstrak Penelitian dilakukan untuk mengetahui hubungan antara kepercayaan diri dengan kecemasan menghadapi pertandingan pada siswa SKOI di Samarinda. Kecemasan adalah keadaan distress yang dialami oleh seorang atlet, sebagai suatu kondisi emosi negatif yang meningkat sejalan dengan bagaimana seorang atlet menginterprestasikan dan menilai situasi pertandingan. Kepercayaan diri sebagai suatu sikap atau perasaan yakin akan kemampuan diri sendiri sehingga seorang tidak terpengaruh oleh orang lain. Jenis penelitian ini adalah penelitian kuantitatif. Subjek dalam penelitian berjumlah 65 siswa. Metode pengumpulan data menggunakan dua skala yaitu kepercayaan diri dan kecemasan. Analisa data yang digunakan adalah analisa product moment. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat hubungan yang sangat signifikan antara kepercayaan diri dengan kecemasan dalam menghadapi pertandingan dengan r = 0.329 dan p = 0.007. Kata kunci : kepercayaan diri, kecemasan menghadapi pertandingan PENDAHULUAN Olahraga pada hakekatnya merupakan kegiatan fisik dan psikis yang dilandasi semangat perjuangan melawan diri sendiri, orang lain atau unsur alam. Jika dipertandingkan, harus dilaksanakan secara kesatria sehingga menjadi sarana untuk membentuk kepribadian dalam rangka meningkatkan kualitas hidup yang lebih luhur (Dinata, 2008). Demi mencapai suatu prestasi yang tinggi, tentu diperlukan waktu yang cukup lama untuk dapat menguasai semua keterampilan yang diperlukan dalam cabang olahraga. Selain faktor keterampilan tinggi yang harus dikuasai, diperlukan juga pengorbanan serta kemampuan untuk menghadapi masalahmasalah yang timbul dalam kegiatan berlatih dan bertanding. Salah satu tokoh psikologi olahraga Setyobroto (2002) menjelaskan bahwa untuk mencapai prestasi yang lebih tinggi, kondisi fisik dan mental harus dalam keadaan prima. Keseimbangan antara kekuatan fisik dan kekuatan mental dibutuhkan seorang atlet agar dapat mencapai prestasi maksimal dalam suatu pertandingan. Seorang atlet yang hanya mengandalkan kekuatan fisik ataupun teknis saja tidak akan mungkin dapat berprestasi dengan baik. Dalam hal ini, 1 Mahasiswa Program Studi Psikologi, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Mulawarman. Email: cintapuccino62@yahoo.com

ejournal Psikologi, Volume 3, Nomor 2, 2015: 559-568 kekuatan mental dan kecerdasan emosi diperlukan seorang atlet untuk mengolah ketegangan maupun kecemasan yang mungkin terjadi pada saat pertandingan. Namun pada dasarnya, kecemasan merupakan hal wajar yang pernah dialami oleh setiap manusia. Kecemasan sudah dianggap sebagai bagian dari kehidupan sehari-hari. Kecemasan adalah suatu perasaan yang sifatnya umum, dimana seseorang merasa ketakutan atau kehilangan kepercayaan diri yang tidak jelas asal maupun wujudnya (Sutardjo Wiramihardja, 2005). Tanpa mengesampingkan tujuan mulia pemerintah dalam mendukung penuh atlet-atlet muda berbakat agar dapat mengukir prestasi setinggi-tingginya. Pemusatan dan latihan rutin serta kompetisi yang teratur menjadi jawaban atas problematika kemacetan prestasi olahraga di tanah air, maka didirikanlah SKOI (Sekolah Olahraga Internasional), sebuah institusi pendidikan yang memadukan pendidikan, pelatihan, pembinaan olahraga dan intelektualitas. SKOI merupakan gagasan cemerlang Gubernur Kalimantan Timur Bapak DR. H. Awang Faroek Ishak. Bapak Gubernur melihat Kaltim memiliki sarana prasarana olahraga eks PON XVII Kaltim 2008 yang lengkap serta bertaraf internasional, sehingga sayang bila fasilitas tersebut tidak dimanfaatkan. Sudah saatnya para atlet (terutama calon-calon atlet) diatur untuk menggunakan parameter tingkat dunia dalam mengukur pencapaian prestasi. Prestasi olahraga sangat ditentukan oleh penampilan atlet dalam suatu kompetisi. Penampilan puncak seorang atlet 80 persen dipengaruhi oleh aspek psikologis dan hanya 20 persen oleh aspek yang lainnya, sehingga aspek psikologis harus dikelola dengan sengaja, sistematik dan berencana. Akan tetapi, di Indonesia aspek psikologis belum banyak dipelajari dan diteliti sedangkan aspek fisik atlet telah banyak dipelajari (Gunarsa, 2000). Salah satu aspek psikologis yang berkaitan erat untuk menampilkan performa maksimal adalah aspek emosi. Gejolak emosi yang terlalu tinggi akan menyebabkan ketegangan emosi yang berlebih dan seringkali berdampak negatif, salah satunya adalah kecemasan. Kecemasan dapat berpengaruh pada kondisi fisik maupun mental atlet yang bersangkutan (Gunarsa, 2004). Seperti hasil penelitian dari Prasetya, Supriyono, dan Ramli (2009) mengungkapkan bahwa kecemasan berasal dari gangguan konsentrasi dan perhatian yang kemudian memberi pengaruh pada gejala psikis lainnya misal perubahan emosi dan menurunnya motivasi serta rasa percaya diri dan hal tersebut juga berdampak pada kondisi fisik atlet. Kecemasan biasanya timbul karena ancaman atau bahaya yang tidak nyata yang sewaktu-waktu mungkin terjadi pada diri individu, misalnya individu tibatiba merasa cemas karena dia berada dalam lingkungan yang baru ataupun dalam situasi atau lingkungan yang kurang mendukungnya. Biasanya kecemasan bersifat subjektif serta ditandai dengan adanya perasaan tegang, khawatir, takut dan adanya perubahan fisiologis seperti peningkatan denyut nadi, pernafasan, dan tekanan darah (Lazarus, 1976). 560

Hubungan Antara Kepercayaan Diri Dengan Kecemasan (Febriandy Tri Saputra) Gunarsa (Videman, 2007) dalam bukunya yang berjudul Psikologi Olahraga Prestasi mengatakan bahwa dampak kecemasan dan ketegangan terhadap penampilan atlet akan secara bertingkat berakibat negatif. Apabila tingkat kecemasan tinggi akan mempengaruhi peregangan otot-otot yang berpengaruh pula terhadap kemampuan teknisnya, penampilan pun akan terpengaruh (tentunya lebih buruk) dengan akibat permainan atau penampilan menjadi lebih buruk. Selanjutnya, alam pikiran semakin terganggu dan muncul berbagai pikiran negatif, misalnya ketakutan akan kalah dan kembali muncul kecemasan baru. Sama halnya dengan siswa SKOI di Samarinda yang mengalami kecemasan disaat bertanding mereka sering merasakan takut, gugup, berkeringat, dan stress. Hal ini dapat disebabkan karena siswa SKOI yang merupakan atlet junior melakukan latihan dan pertandingan yang tidak sesuai atau bertantangan dengan keinginannya (Data diperoleh dari siswa SKOI). Cox (2002) mengungkapkan bahwa kecemasan menghadapi pertandingan merupakan keadaan distress yang dialami oleh seorang atlet, yaitu sebagai suatu kondisi emosi negatif yang meningkat sejalan dengan bagaimana seorang atlet menginterprestasikan dan menilai situasi pertandingan. Persepsi atau tanggapan atlet dalam menilai situasi dan kondisi pada waktu menghadapi pertandingan, baik jauh sebelum pertandingan atau mendekati pertandingan akan menimbulkan reaksi yang berbeda. Apabila atlet menganggap situasi dan kondisi pertandingan tersebut sebagai sesuatu yang mengancam, maka atlet tersebut akan merasa tegang (stress) dan mengalami kecemasan. Dalam hal ini siswa SKOI sering mengalami kecemasan saat menghadapi pertandingan, ketakutan akan gagal, ketakutan akan cedera fisik dan ketakutan akan penilaian sosial yang mengakibatkan menurunya kepercayaan diri pada siswa SKOI. Atlet yang mempunyai kondisi fisik yang bagus dan prima belum tentu menghasilkan prestasi yang gemilang kalau tidak didukung oleh mental ataupun kondisi psikis yang baik (Gunarsa, 1996). Di sini kepercayaan diri sangat dibutuhkan, karena rasa percaya diri merupakan hal penting untuk meraih prestasi. Kurangnya kepercayaan diri akan menyebabkan seseorang tidak dapat memecahkan masalah yang rumit. Kurangnya rasa percaya diri ini disebabkan oleh situasi dan kondisi para atlet pada saat mengikuti kompetisi sehingga tidak dapat meraih prestasi yang baik. Menurut Lauster (1992) kepercayaan diri merupakan suatu sikap atau perasaan yakin atas kemampuan diri sendiri sehingga orang yang bersangkutan tidak terlalu cemas dalam tindakan-tindakannya, merasa bebas untuk melakukan hal-hal yang sesuai keinginan dan bertanggung jawab atas perbuatannya, hangat dan sopan dalam berinteraksi dengan orang lain, memiliki dorongan berpartisipasi serta dapat mengenal kelebihan dan kekurangannya. Oleh karena itu, Lauster menggambarkan bahwa orang yang mempunyai kepercayaan diri memiliki ciriciri tidak mementingkan diri sendiri (toleransi), tidak membutuhkan dukungan orang lain, optimis, dan gembira. 561

ejournal Psikologi, Volume 3, Nomor 2, 2015: 559-568 Seorang atlet yang punya rasa percaya diri akan senantiasa merasa bahwa ia adalah individu yang positif dan berpotensi bisa andil sekaligus bisa bekerja sama dengan orang lain dalam berbagai macam segmen kehidupan. Disamping itu, ia mampu memanfaatkan rasa percaya diri yang dimilikinya untuk menyukseskan setiap aktifitas yang dilakukannya dengan baik, tepat waktu, penuh vitalitas, sekaligus mendapat sambutan baik dari orang banyak (Al-Uqshari, 2005). Terkait dengan kecemasan menghadapi pertandingan dan kepercayaan diri terhadap siswa SKOI, maka diharuskan siap mental untuk menghadapi pertandingan sehingga seluruh kemampuan jiwanya baik akal, kemauan dan perasaannya siap menghadapi tugas-tugas dan menghadapi segala kemungkinan. Keadaan mental atlet yang kurang baik, misalnya resah atau cemas, biasanya akan berpengaruh terhadap kemampuan berfikir dengan tenang, daya konsentrasi dan koordinasinya juga akan terganggu. Kerangka Dasar Teori Kecemasan Menghadapi Pertandingan Cox (2002) mengungkapkan bahwa kecemasan menghadapi pertandingan merupakan keadaan distress yang dialami oleh seorang atlet, yaitu sebagai suatu kondisi emosi negatif yang meningkat sejalan dengan bagaimana seorang atlet menginterprestasikan dan menilai situasi pertandingan. Kecemasan dapat timbul pada individu dalam situasi kompetitif (situasi pertandingan). Kepercayaan Diri Lauster (2008) mendefinisikan kepercayaan diri sebagi suatu sikap atau perasaan yakin akan kemampuan diri sendiri sehingga seorang tidak terpengaruh oleh orang lain. Menurutnya, kepercayaan diri adalah bagian dari sifat kepribadian seseorang yang sangat penting, karena hal ini berpusat dri pengalaman serta kejadian masa lalu yang telah dialami oleh individu itu sendiri sehingga baik atau buruknya rasa percaya diri paada seseorang didasari oleh pengalaman yang sudah ia dapatkan. Metode Penelitian Jenis penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah dengan menggunakan penelitian kuantitatif, yaitu penelitian yang banyak menggunakan angka, mulai dari pengumpulan data, penafsiran terhadap data serta penampilan dari hasilnya. Berdasarkan penelitian ini, peneliti menggunakan rancangan penelitian deskriptif dan korelasional. Penelitian deskriptif yaitu penelitian yang berusaha untuk menjelaskan atau menerangkan suatu peristiwa berdasarkan data, sedangkan penelitian korelasional bertujuan untuk menemukan ada tidaknya hubungan antara dua fenomena atau lebih (Arikunto, 2009). Populasi pada penelitian ini berjumlah 90 orang yang berasal dari seluruh atlet siswa SKOI di Samarinda. Besarnya sampel dalam penelitian ini adalah 65 sampel. Tekhnik pengambilan sampel yang digunakan pada penelitian ini 562

Hubungan Antara Kepercayaan Diri Dengan Kecemasan (Febriandy Tri Saputra) menggunakan screaning, dengan menggunakan kuisioner DASS. Kuisioner Depression Anxiety Stress Scale (DASS) adalah kuisioner yang berisi 42 item pertanyaan kuantitatif yang digunakan untuk mengukur kondisi emosional negatif pada seseorang seperti depresi, kecemasan dan stress (Lovibond dan Lovibond, 1995). Pengujian hipotesis dalam penelitian ini menggunakan program SPSS (Statistical Package for Sosial Science) 16.00 for Windows. Hipotesis terbukti jika p < 0.05 maka hipotesis ini dapat diterima. Hasil Penelitian Hasil Uji Validitas dan Reliabilitas Skala kecemasan dalam menghadapi pertandingan terdiri dari 30 butir dan terbagi dalam 5 aspek. Hasil analisis butir didapatkan dari r hitung > r tabel. Berdasarkan hail uji validitas menunjukan terdapat 2 butir yang gugur. Sedangkan uji relibilitas yang dilakukan dengan tekhnik Alpha Cronbach s didapatkan nilai alpha 0.808 dalam hal tersebut dinyatakan andal. Skala kepercayaan diri terdiri dari 30 butir dan terbagi dalam 5 aspek. Hasil analisis butir didapatkan dari r hitung > r tabel. Berdasarkan hail uji validitas menunjukan terdapat 1 butir yang gugur. Sedangkan uji relibilitas yang dilakukan dengan tekhnik Alpha Cronbach s didapatkan nilai alpha 0.748 dalam hal tersebut dinyatakan andal. Hasil Uji Normalitas Variabel Kolmogrov-Smirnov Z p Keterangan Kecemasan 0.141 0.053 Normal Kepercayaan Diri 0.069 0.200 Normal Berdasarkan tabel di atas maka dapat disimpulkan bahwa variabel kecemasan dan kepercayaan diri memiliki sebaran normal. Dengan demikian dapat dilaksanakan karena tidak ada pelanggaran atas asumsi normalitas sebaran data penelitian. Hasil Uji Linieritas Variabel F Hitung F Tabel P Keterangan Kecemasan 1.513 1.66 0.122 Linier Kepercayaan Diri Berdasarkan hasil pengujian linieritas kedua variabel yaitu kecemasan dan kepercayaan diri yang dilakukan dapat disimpulkan bahwa penelitian ini mempunyai hubungan yang linier. 563

ejournal Psikologi, Volume 3, Nomor 2, 2015: 559-568 Hasil Uji Hipotesis Variabel r P Kecemasan (Y) 0.329 0.007 Kepercayaan Diri (X) Berdasarkan analisis statistik korelasi produk momen (correlation product moment pearson) pada tabel di atas dapat diketahui hubungan positif yang sangat signifikan antara kepercayaan diri dengan kecemasan yaitu dengan nilai r = 0.329 dan p = 0.007 < 0.05 maka hipotesis diterima. Artinya ada hubungan antara kepercayaan diri dengan kecemasan. Pembahasan Berdasarkan hasil penelitian diperoleh nilai r = 0.329 dan p = 0.007 < 0.05 hal ini bermakna bahwa terdapat hubungan yang sangat signifikan antara kepercayaan diri dengan kecemasan menghadapi pertandingan pada siswa SKOI di Samarinda. Kemudian hal ini menyatakan bahwa tingkat hubungan antara kepercayaan diri dengan kecemasan menghadapi pertandingan adalah rendah. Lemahnya hubungan ini mengartikan bahwa tidak mutlak semakin tingginya kepercayaan diri maka semakin rendah pula kecemasan menghadapi pertandingan atau sebaliknya. Kecemasan dapat ditandai dengan faktor-faktor lain seperti ketakutan akan kegagalan, ketakutan cedera fisik, penilaian sosial, kekacauan terhadap latihan rutin, dan pengalaman (Cox, 2002). Kecemasan yang timbul saat akan menghadapi pertandingan disebabkan oleh atlet banyak memikirkan akibat-akibat yang akan diterimanya apabila mengalami kegagalan atau kalah dalam pertandingan. Kecemasan juga muncul akibat memikirkan hal-hal yang tidak dikehendaki akan terjadi, meliputi atlet tampil buruk, lawannya dipandang demikian superior dan atlet mengalami kekalahan. Rasa cemas yang muncul dalam menghadapi pertandingan ini dikenal dengan kecemasan bertanding (Amir, 2004). Berdasarkan uji deskriptif diperoleh nilai rerata empirik untuk kecemasan sebesar 98.85 lebih tinggi dari rerata hipotetik nya 75, hal ini menandakan bahwa rata-rata kecemasan yang dipersepsi oleh subjek penelitian adalah tinggi. Dalam kategorisasi skala kecemasan, kategorisasi sangat tinggi adalah yang paling dominan yaitu sebanyak 40 siswa kemudian kategori tinggi sebanyak 20 siswa, kategorisasi sedang sebanyak 5 siswa dan tidak ada siswa pada kategorisasi rendah dan ketegorisasi sangat rendah. Berdasarkan hasil uji kuisioner DASS diketahui bahwa pada populasi yang berjumlah 90 orang, terdapat 25 orang dengan presentase 27.8 persen memiliki tingkat kecemasan normal, 13 orang dengan presentase 14.4 persen memiliki tingkat kecemasan ringan, 28 orang dengan presentase 31.1 persen memiliki tingkat kecemasan sedang, 15 orang dengan presentase 16.7 memiliki tingkat kecemasan berat dan 9 orang dengan presentase 10 persen yang memiliki tingkat 564

Hubungan Antara Kepercayaan Diri Dengan Kecemasan (Febriandy Tri Saputra) kecemasan sangat berat. Jadi, berdasarkan tabel 1 maka terdapat 65 orang yang memiliki kecemasan dalam menghadapi pertandingan dan akan menjadi sampel penelitian. Pada hasil wawancara yang diperoleh dari subjek mengungkapkan bahwa kecemasan yang dialami memang terbukti tinggi. Hal ini tampak dari subjek yang mengatakan adanya rasa takut akan gagal saat menghadapi pertandingan yang mencekamdan apabila pengalamannya mengecewakan dapat menimbulkan frustasi, maka akibatnya dapat merugikan perkembangan bahkanmereka tidak mau lagi mengikuti latihan atau pertandingan. Dalam pencapaian prestasi, setiap orang pasti pernah mengalami perasaan takut, tegang, gelisah, dan cemas dalam menghadapi sesuatu. Perasaan yang muncul dari diri seseorang dalam menghadapi apa yang ingin dicapainya adalah wajar, karena untuk mencapai keberhasilan terkadang selalu diikuti dengan berbagai gejolak psikologis. Perasaan tersebut dapat menimbulkan ketegangan atau stress, sehingga dalam perkembangan lebih lanjut akan mengakibatkan kecemasan. Kecemasan itu wajar bila tidak berlebihan, karena dapat menjadi mekanisme pertahanan diri terhadap ancaman dari luar, namun bila berlebihan akan mengganggu stabilitas individu. Kecemasan yang normal dapat bermanfaat sehingga dapat membuat orang mampu menjadi giat dan bergerak cepat. Kadangkadang tekanan kecemasan dapat membuat seseorang melakukan sesuatu hal yang luar biasa, akan tetapi kecemasan juga dapat berakibat merugikan, sebagai contoh orang yang dalam keadaan cemas berlebihan dapat menjadi depresi, merasa tidak ada harapan dan putus asa. Dalam penampilan atlet, kecemasan juga sangat mempengaruhi pada saat menghadapi pertandingan. Selain itu, kecemasan dapat terjadi pada semua atlet tanpa terkecuali. Sebab, meskipun atlet sudah mempersiapkan diri dengan baik terkadang dalam menghadapi pertandingan bisa mendadak mengalami gangguan fisiologis maupun psikologis, sehingga pertandingan yang sudah direncanakan tidak bisa diikutinya dengan baik. Hal ini dapat disebabkan karena atlet dalam mempersepsikan sesuatu cenderung memang menimbulkan gejolak emosi (Gunarsa, 2004). Dalam mengelola kecemasan menjelang pertandingan, seorang atlet salah satunya harus memiliki kepercayaan diri yang tinggi (Komarudin, 2013). Hal ini sesuai dengan penelitian dari Soltani, dkk., (2011) bahwa komponen somatik dari state anxiety memiliki korelasi negatif dengan kepercayaan diri. Kepercayaan diri merupakan aspek kepribadian mutlak yang harus dimiliki oleh seorang atlet dalam bidang apapun, karena kepercayaan diri berkaitan dengan keyakinan saya bisa. Dalam menyongsong pertandingan, atlet harus memiliki keyakinan agar dapat memenangkan permainan tersebut (Gunarsa, 2004). Kepercayaan diri merupakan modal utama seorang atlet sehingga dapat menampilkan performanya secara maksimal. 565

ejournal Psikologi, Volume 3, Nomor 2, 2015: 559-568 Lauster (2008) mendefinisikan kepercayaan diri sebagi suatu sikap atau perasaan yakin akan kemampuan diri sendiri sehingga seorang tidak terpengaruh oleh orang lain. Menurutnya, kepercayaan diri adalah bagian dari sifat kepribadian seseorang yang sangat penting, karena hal ini berpusat dari pengalaman serta kejadian masa lalu yang telah dialami oleh individu itu sendiri sehingga baik atau buruknya rasa percaya diri paada seseorang didasari oleh pengalaman yang sudah ia dapatkan. Dari hasil observasi dan wawancara awal yang dilakukan peneliti pada atlet yang juga merupakan siswa SKOI di Samarinda, mengungkapkan bahwa benar terdapat masalah atau perasaan tegang, cemas dan ketakutan akan kegagalan ketika akan menghadapi suatu pertandingan. Hal tersebut terjadi karena atlet kurang percaya diri apabila bertemu dengan lawan yang lebih senior atau berpengalaman. Hal ini membuktikan tanpa memiliki rasa penuh percaya diri, atlet tidak akan dapat mencapai prestasi tinggi karena ada saling berhubungan antara motif berprestasi dan percaya diri. Hasil penelitian ini didukung dengan hasil uji deskriptif diperoleh nilai rerata empirik untuk kepercayaan diri sebesar 83.32 lebih tinggi dari rerata hipotetik 75 dengan kategori tinggi. Dalam kategorisasi skala kepercayaan diri, kategori sedang adalah yang paling dominan yaitu sebanyak 31 siswa, kategori rendah sebanyak 2 siswa, ketegori tinggi sebanyak 30 siswa, kategori sangat tinggi sebanyak 2 siswa, dan kategori sangat rendah sebanyak 6 siswa. Berdasarkan dari hasil seluruh hasil penelitian diatas, maka dapat disimpulkan bahwa hubungan antara kepercayaan diri dengan kecemasan menghadapi pertandingan dari hasil korelasi ini dinyatakan rendah. Lemahnya hubungan ini mengartikan bahwa tidak mutlak semakin tinggi kepercayaan diri seseorang maka semakin rendah kecemasan dalam menghadapi pertandingan atau sebaliknya, kategori yang rendah ini mengungkapkan bahwa terdapat faktorfaktor lain yang berkaitan dengan kepercayaan diri dan kecemasan menghadapi pertandingan. Secara keseluruhan penulis mengakui bahwa peneitian ini tidak begitu sempurna disebabkan karena masih banyak kekurangan dan kelemahan antara lain jumlah subjek yang dipakai dalam penelitian ini tergolong sedikit apabila dibandingkan dengan populasinya. Skala kepercayaan diri dan kecemasan yang dipakai oleh penulis kurang mewakili, dalam arti item-itemnya kurang jelas dan kurang sederhana dalam kalimat dan juga alternative jawaban kurang tepat. Selain itu ada kemungkinan item mengandung social desirability, yaitu item yang isinya sesuai dengan keinginan sosial umumnya atau dianggap baik oleh norma sosial, sehingga cenderung untuk distujui oleh semua orang karena semata-semata orang berfikir normatif, bukan karena isi item itu sesuai dengan dirinya (Azwar, 2004). Kesimpulan Berdasarkan hasil analisis data dan pembahasan yang telah diuraikan maka dapat diperoleh kesimpulan bahwa : 566

Hubungan Antara Kepercayaan Diri Dengan Kecemasan (Febriandy Tri Saputra) Terdapat hubungan yang sangat signifikan antara hubungan kepercayaan diri dengan keceamasan dalam menghadapi pertandingan, namun dari hasil korelasi hubungan antara keduanya dinyatakan rendah. Artinya, lemahnya hubungan ini mengartikan bahwa tidak mutlak semakin tingginya kepercayaan diri maka semakin rendah kecemasan dalam meghadapi pertandingan atau sebaliknya. Kecemasan dapat ditandai dengan faktor-faktor lain seperti ketakutan akan kegagalan, ketakutan cedera fisik, penilaian sosial, kekacauan terhadap latihan rutin, dan pengalaman. Saran Berdasarkan hasil penelitian di atas maka peneliti menyarankan beberapa hal sebagai berikut : 1. Bagi siswa-siswi yang akan menghadapi pertandingan hendaknya meningkatkan tingkat kepercayaan diri, banyak belajar dari pengalaman, menambah pengetahuan dan mengembangkan kemampuan yang dimiliki. 2. Pihak SKOI perlu memperhatikan keluhan-keluhan siswa dan melakukan penanganan seperti melakukan pelatihan untuk meningkatkan kepercayaan diri. 3. Bagi peneliti dapat mengganti subjek penelitian serta memperbanyak jumlahnya, dan mengacak item-item agar subjek tidak dapat dengan mudah menebak pertanyaan selanjutnya. 4. Apabila dalam pembuatan skala kecemasan dan kepercayaan diri yang baru, dalam penyajian item disederhanakan dan diperjelas kalimatnya. Daftar Pustaka Al-Uqshari, Yusuf. 2005. Percaya Diri Pasti. Jakarta : Gema Insani. Amir, N. 2004. Pengembangan Instrumen Kecemasan Olahraga. Anima. Vol. 20, No. 1, 55-69 Arikunto, S. 2002. Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktek. Jakarta : Rineka Cipta. Azwar, S. 2004. Reliabilitas dan validitas. Yogyakarta: Sigma Alfa. Cox, R.H. 2002. Sport Psychology: Concepts and Applications. New York: Mc Graw-Hill Companies, Inc. Dinata, Marta. 2008. Bola basket: Konsep Dan Teknik Bermain Bola Basket. Jakarta: Cerdas Jaya. Gunarsa 2000. Psikologi Olahraga Dan Penerapannya Untuk Bulutangkis. Jakarta: UPT Penerbitan Universitas Tarumanagara. Gunarsa, D. S. 2004. Psikologi Olahraga Prestasi. Jakarta: PT BPK Gunung Mulia. Komarudin. 2013. Psikologi Olahraga. Bandung: PT. Remaja Rosdakarya. Lazarus, R. 1976. Pattern of Adjusment and Human Efectiveness. Tokyo: Mc. Graw Hill. Lauster, P. 2008. Tes Kepribadian. Alih Bahasa D.H Bulo. Jakarta: Bumi Aksara. 567

ejournal Psikologi, Volume 3, Nomor 2, 2015: 559-568 Lovibond & Lovibond, P.f. (1995). Manual For The Depression Anxiety Stress Scales. Sydney : Phsycologi Foundation Prasetya, E.E.; Supriyono, Y.; Ramli, A.H. (2009). Dampak Kecemasan Pada Atlet Bola Basket Sebelum Bertanding. Malang: Universitas Brawijaya Malang. Setyobroto, S. 2002. Psikologi Olah Raga. Jakarta: Universitas Negeri Jakarta. Soltani, A.; Zamani, A.; Nazerian, I. 2011. The Comparison of Trait Anxiety, State Anxiety, and Self-Confidence among Male Athletes of Team Sports and Individual Sports in the Country. Jurnal Physical Education and Sport Science. Sutardjo Wiramihardja. 2005. Pengantar Psikologi Abnormal. Bandung: Refika Aditama. Videman, H. 2007. Kecemasan Atlet Sepakbola Tim Persija Junior. Skripsi. Fakultas Psikologi. Universitas Indonesia. 568