BAB III PROSES PRODUKSI KULIT

dokumen-dokumen yang mirip
BAB IV PROSES PENGOLAHAN KULIT SAPI WET BLUE

BAB I PENDAHULUAN.

PENYAMAKAN KULIT. Cara penyamakan melalui beberapa tahapan proses dan setiap tahapan harus berurutan tidak bisa di balak balik,

ALUR PROSES PENYAMAKAN

D. Teknik Penyamakan Kulit Ikan

III. METODOLOGI PENELITIAN

PROSES PRODUKSI INDUSTRI PENYAMAKAN KULIT

III. BAHAN DAN METODE

PENGGUNAAN AIR PADA INDUSTRI PENYAMAKAN KULIT Sumber Air Yang Digunakan Pada Industri Penyamakan Kulit

III. METODE PENELITIAN

LAPORAN PRAKTIKUM. ph METER DAN PERSIAPAN LARUTAN PENYANGGA

BAB IV BAHAN AIR UNTUK CAMPURAN BETON

REAKSI SAPONIFIKASI PADA LEMAK

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN

Jajang Gumilar Fakultas Peternakan Universitas Padjadjaran

Titrasi IODOMETRI & IOdimetri

Asam Basa dan Garam. Asam Basa dan Garam

PEMBUATAN KHITOSAN DARI KULIT UDANG UNTUK MENGADSORBSI LOGAM KROM (Cr 6+ ) DAN TEMBAGA (Cu)

LAMPIRAN A TUGAS KHUSUS

PENDAHULUAN. LatarBelakang. Menurut data Ditjennak (2012) pada tahun 2012 pemotongan tercatat

KARAKTERISTIK PENYAMAKAN KULIT MENGGUNAKAN GAMBIR PADA ph 4 DAN 8

TITRASI DENGAN INDIKATOR GABUNGAN DAN DUA INDIKATOR

III. HASIL DAN PEMBAHASAN

PENYAMAKAN KULIT BULU DOMBA DENGAN METODE KHROM DALAM UPAYA PEMANFAATAN HASIL SAMPING PEMOTONGAN TERNAK

BAB I PENDAHULUAN. Kulit jadi merupakan kulit hewan yang disamak (diawetkan) atau kulit

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN. Evaluasi kestabilan formula krim antifungi ekstrak etanol rimpang

PEMBAHASAN 4.1. Pengaruh Kombinasi Protein Koro Benguk dan Karagenan Terhadap Karakteristik Mekanik (Kuat Tarik dan Pemanjangan)

V. HASIL DAN PEMBAHASAN

TINGKAT PENGGUNAAN BAHAN SAMAK CHROME PADA KULIT KELINCI SAMAK BULU DITINJAU DARI KEKUATAN SOBEK, KEKUATAN JAHIT, PENYERAPAN AIR DAN ORGANOLEPTIK

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN. 1. Pembuatan Tablet Effervescent Tepung Lidah Buaya. Tablet dibuat dalam lima formula, seperti terlihat pada Tabel 1,

D. 2 dan 3 E. 2 dan 5

Gambar 3. Penampakan Limbah Sisa Analis is COD

PENGOLAHAN AIR SUNGAI UNTUK BOILER

MANISAN KERING JAHE 1. PENDAHULUAN 2. BAHAN

BAB I PENDAHULUAN. dari proses soaking, liming, deliming, bating, pickling, tanning, dyeing,

PENGARUH JUMLAH MINYAK TERHADAP SIFAT FISIS KULIT IKAN NILA (Oreochromis niloticus) UNTUK BAGIAN ATAS SEPATU

Kriteria Agregat Berdasarkan PUBI Construction s Materials Technology

Ensiklopedi: 27 dan 342. Asam, basa dan garam. dikelompokkan berdasarkan. Alat ukur

METODE PENELITIAN. pembuatan vermikompos yang dilakukan di Kebun Biologi, Fakultas

PENYIMPANAN DAN PENGGUDANGAN PENDAHULUAN

KAJIAN PEMANFAATAN LEMAK AYAM RAS PEDAGING DAN MINYAK KELAPA SEBAGAI BAHAN PERMINYAKAN KULIT SAMAK KAMBING

II. PEWARNAAN SEL BAKTERI

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB III METODE PENELITIAN

reversible yaitu kulit awetan harus dapat dikembalikan seperti keadaan semula (segar). Untari, (1999), mengemukakan bahwa mikro organisme yang ada pad

BAB III METODE PENELITIAN

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

Laporan Tugas Akhir Pembuatan Sabun Cuci Piring Cair dari Minyak Goreng Bekas (Jelantah) BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

Tablet Khusus. (dibuat dalam rangka memenuhi Tugas mata Kuliah TFSP)

PENENTUAN KONSENTRASI KROM DAN GAMBIR PADA PENYAMAKAN KULIT IKAN TUNA (Thunnus albacore) JONATHAN PURBA

TITRASI KOMPLEKSOMETRI

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN. industri tapioka, yaitu : BOD : 150 mg/l; COD : 300 mg/l; TSS : 100 mg/l; CN - :

II. DESKRIPSI PROSES

BAKU MUTU LIMBAH CAIR UNTUK INDUSTRI PELAPISAN LOGAM

BAB III METODE PENELITIAN

PENGARUH PENGGUNAAN ASAM SULFAT (H 2 SO 4 ) DAN ASAM FORMIAT (HCOOH) PADA PROSES PIKEL TERHADAP KUALITAS KULIT CRUST DOMBA PRIANGAN

Jurnal Ilmu dan Teknologi Hasil Ternak, April 2017, Hal Vol. 12 No. 1 ISSN :

EVALUASI DAN RENCANA TINDAK PENGELOLAAN BAHAN KIMIA DI INDUSTRI : STUDI KASUS PT ADI SATRIA ABADI BANTUL DIY

Pemanfaatan Biomaterial Berbasis Selulosa (TKS dan Serbuk Gergaji) Sebagai Adsorben Untuk Penyisihan Ion Krom dan Tembaga Dalam Air

TITRASI PEMBENTUKAN KOMPLEKS. Drs. DJADJAT TISNADJAJA, M.Tech.

PENGARUH PENGGUNAAN ASAM SULFAT (H 2 SO 4 ) DAN ASAM FORMIAT (HCOOH) PADA PROSES PIKEL TERHADAP KUALITAS KULIT JADI (LEATHER) DOMBA GARUT

HASIL DAN PEMBAHASAN

Percobaan 6 Penentuan kadar Nikel (II) klorida dengan metoda gravimetri dan volumetri

KIMIA. Sesi POLIMER. A. LOGAM ALKALI a. Keberadaan dan Kelimpahan Logam Alkali. b. Sifat-Sifat Umum Logam Alkali. c. Sifat Keperiodikan Logam Alkali

MAKALAH PRAKTIKUM KIMIA DASAR REAKSI-REAKSI ALKOHOL DAN FENOL

Jajang Gumilar, Wendri S. Putranto, Eka Wulandari Fakultas Peternakan Universitas Padjadjran

HASIL DAN PEMBAHASAN. Lanjutan Nilai parameter. Baku mutu. sebelum perlakuan

PENYAMAKAN KULIT IKAN TUNA (Thunnus sp.) DENGAN KOMBINASI PENYAMAK KROM DAN NABATI TRI UTAMI HASTUTI

KIMIA. Sesi KIMIA UNSUR (BAGIAN IV) A. UNSUR-UNSUR PERIODE KETIGA. a. Sifat Umum

MANISAN KERING BENGKUANG

III. METODE PENELITIAN. Penelitian ini dilakukan pada bulan Desember 2010 hingga Oktober 2011.

KIMIA. Sesi HIDROKARBON (BAGIAN II) A. ALKANON (KETON) a. Tata Nama Alkanon

BAB I PENDAHULUAN A. Judul percobaan B. Tujuan praktikum

AIR LIMBAH INDUSTRI PENYAMAKAN KULIT

R E A K S I U J I P R O T E I N

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN. Gambar 9. Pola penyusunan acak

KESEIMBANGAN ASAM BASA

FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS NEGERI YOGYAKARTA BAHAN AJAR KIMIA DASAR

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN. Pengujian kali ini adalah penetapan kadar air dan protein dengan bahan

OLEH HARI SUBAGYO BP3K DOKO PROSES PENGOLAHAN BIJI KOPI

III. METODE PENELITIAN. dan di Ruang Gudang Jurusan Teknik Pertanian Fakultas Pertanian Universitas

Mengapa Air Sangat Penting?

METODE PENELITIAN. Waktu dan Tempat Penelitian

HASIL DAN PEMBAHASAN

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Limbah adalah sampah cair dari suatu lingkungan masyarakat dan

MANISAN BASAH JAHE 1. PENDAHULUAN 2. BAHAN

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

BAB II TINJAUAN PUSTAKA DAN LANDASAN TEORI. Yufiter (2012) dalam jurnal yang berjudul substitusi agregat halus beton

4 HASIL DAN PEMBAHASAN

LAPORAN PRAKTIKUM 2. : Magister Ilmu Biolmedik : ph meter, persiapan larutan penyangga Tanggal pelaksanaan : 10 Maret 2015

TEHNIK PEMBUATAN MIE SEHAT. Dr. Sri Handayani

MAKALAH PENDAMPING : PARALEL A EFEKTIVITAS AMPAS TEH SEBAGAI ADSORBEN ZAT WARNA TEKSTIL MALACHITE GREEN

LAMPIRAN. Lampiran 1. Umbi talas (Xanthosoma sagittifolium (L.) Schott) Lampiran 2. Pati umbi talas (Xanthosoma sagittifolium (L.

NOMOR 111 TAHUN 2016 TENTANG BAB I PENDAHULUAN

III. METODOLOGI PENELITIAN. Penelitian ini dilaksanakan di Laboratorium Rekayasa Bioproses dan Pasca Panen

CARA MEMBUAT KOMPOS OLEH: SUPRAYITNO THL-TBPP BP3K KECAMATAN WONOTIRTO

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

LAPORAN PRAKTIKUM ph METER DAN PERSIAPAN LARUTAN PENYANGGA

Transkripsi:

11 BAB III PROSES PRODUKSI KULIT 3.1 Proses Produksi Selama magang penulis mengikuti secara langsung kegiatan proses dan melakukan beberapa percobaan dengan beberapa side kulit, tetapi dalam hal ini penulis membatasi pada pelaksanaan proses peminyakan kulit sapi wet blue untuk Nappa UpperShoe. Adapun urutan prosesnya adalah sebagai berikut : a. Sortasi Wet Blue (Penyeleksian) Tujuan : Menentukan kualitas kulit wet blue sehingga dapat diperoleh wet blue yang cocok sebagai bahan baku Perlakuan : Kulit diletakan pada tempat yang datar (lantai) dan terang kemudian dan terang kemudian diamati secara organoleptis. Hasil Pengamatan : Diperoleh 1 Side. Kulit sapi wet blue itu dibagi menjadi dua kelompok Yaitu Alus / Baik ± 40 % dan Awon / Jelek ± 60 %, dengan ph akhir 3,8 Dari ± 40 % / ± 85 Side kelompok Alus diambil 10 Side dengan berat kg untuk order Nappa UpperShoe. b. Shaving ( Pengetaman ) Tujuan : Untuk mendapatkan tebal yang sesuai dengan standar yang diinginkan. Perlakuan : Kulit diketam pada bagian flesh dengan shaving machine. Hasil Pengamatan : Tebal kulit setelah di shaving 1,4 1,5 mm. c. Weighing ( Penimbangan ) Tujuan : Untuk mengetahui berat kulit, sebagai dasar perhitungan bahan kimia yang diperlukan. Perlakuan : Kulit wet blue ditimbang dengan menggunakan timbangan besar untuk order besar dan timbangan kecil untuk order kecil.

1 d. Wetting Back ( Pembahasan kembali ) Tujuan : Mengembalikan kadar air, membersihkan kulit dari lemak natural yang tersisa. Formula : % ; Lt 0, % ; 44 gr 30' Cek ph 0,3 % ; 66 gr Sandosin Nil Drain, cuci bersih Perlakuan : Kulit, air, dan Sandosin oil dimasukkan kedalam drum lalu diputar dan ditambahkan Asam formiat yang telah diencerkan ( 1 : 10 ) kemudian diputar selama 30' setelah itu cairan dibuang dan kulit dicuci. Pengamatan : ph cairan 3,5 4 e. Rechroming ( Retanning I ) Tujuan : Menyempurnakan proses penyamakan, memberikan karakter sesuai yang dikehendaki seperti kepadatan, kelemasan, kemuluran, fleksibiltas, ringan dan beratnya kulit dsb. Juga bertujuan memperbaiki sifat-sifat alami kulit yang kurang baik. Formula : % ; Lt % ; Sinthochrome 60' 1 % ; 0 gr Cassatan FH O,5 % ; Lipsol E 30 ' % ; Sodium Format 30', Drain Perlakuan :, Chrome syntan ( synthochrome ) dan Glutar aldehide ( Cassatan FH ) dimasukkan kedalam drum kemudian diputar selama 60 menit. Lipsol E dimasukkan dan diputar selama 30 menit kemudian menyusul Sodium format dimasukkan kedalam drum dan diputar selama 30 menit. Pengamatan : Kondisi kulit lebih padat, lemas, mulur, fleksibel dari

13 sebelumnya. f. Netralisasi Tujuan : Menghilangkan sebagian asam yang terikat atau bebas yang terdapat pada kulit wet blue agar tidak mengganggu proses rettaning, dyeing dan fatliquoring yang menggunakan bahan kimia yang bermuatan negatif (-) Formula : % ; Lt % ; Sodium Format 90' 1 % ; 0 gr Tanor PGN % ; Natrium Bikarbonat Cek ph = 5, Cek BCG = Ø Biru kehijauan, buang dan cuci bersih. Perlakuan : Kulitn, Sodium Format dimasukkan kedalam drum dan diputar 10', kemudian ditambah Tanor PGN dan diputar selama 15', kemudian Natrium Bikarbonat yang telah diencerkan dimasukan @ 10' putaran 30' Pengamatan : ph cairan 5 5, dan Ø (penampang kulit) dicek dengan BCG berwarna biru kehijauan, berikut ini range kontrol ph dengan BCG, 4 4,5 ph,5 5,3 ph 6 6,5 Kuning Hijau Biru g. Retanning, Dyeing dan Fatliquoring Tujuan Retanning : Untuk memperbaiki sifat-sifat fisik kulit yang telah disamak agar mempunyai sifat yang lebih baik, lebih halus, lebih berisi, supel, dan rajahnya kuat. Tujuan Dyeing : untuk memberikan warna dasar pada kulit tersamak agar dapat memperindah penampakan kulit jadinya. Tujuan Fatliquoring : Untuk mendapatkan kulit yang lemas, lebih fleksibel, lebih lunak, lebih liat, dan memperbaiki kemuluran yang tinggi, sesuai dengan standar dan tujuan pemakaiannya.

14 Formula : % Lt 4 % ; 880 gr Tergotan RA 30' 4 % ; 880 gr Elkatan R6 % ; Tamol M 1 % ; 0 gr Mimosa 90' cek Ø 3 % 660 gr Black N % ; Basyntan DI 30' % ; Fapsint FL 5 % ; 1 gr Sintol K 60' 3 % ; 660 gr Lipsol E 1,5 % ; 330 gr @ 10' putaran 30' Cek cairan, drain dan cuci bersih Perlakuan : Kulit,, Tergotan RA & Elkatan R6 dimasukkan kedalam drum dan diputar selama 30', kemudian ditambahkan Tamol dan diputar selama 10', kemudian ditambahkan Mimosa dan Dyestuff. ( Black N ) dan diputar selama 90' sampai tembus, kemudian ditambahkan Basyntan DI dan Fapsint FL dan diputar selama 30' kemudian ditambah Sintol K dan Lipsol E (diemulsikan dengan air panas) dan diputar selama 60', kemudian ditambah yang telah diencerkan 10x dan diputar selama @ 10' 30'. Pengamatan : Penampang kulit tembus dengan cat dasar, Cairan bening dan kulit lemas. Kemudian dilakukan proses fisik, sampai kulit siap di finishing. Perlakuan : Kulit di horse up, setting out, hunging up, staking, Conditioning dan Tacking.

15 h. Topping Tujuan : Untuk mendapatkan warna dan kelemasan yang maksimal sesuai dengan tujuan pemakaiannya. Formula : % ; lt 0,3 % ; 66 gr Sandosin NIL 30' % ; % ; Black N 0' % ; FA 10' 0,5 % ; 55 gr Black N 0' 0,5 % ; 55 gr FA 10' 1 % ; 0 gr Lipsol E 60' % ; FA 30' 10 gr Preventol CR (Anti Jamur) 10' Perlakuan : Kulit, dan Dyestuff dimasukan kedalam drum dan dioutar selama 0', kemudian ditambahkan yang telah diencerkan dan diputar selama 10', kemudian ditambahkan Dyestuff dan diputar selama 0', kemudian ditambah FA dan diputar selama 10', kemudian ditambah Lipsol E dan diputar selama 60', kemudian ditambah lagi FA dan diputar selama 30' dan terakhir ditambah anti jamur dan diputar selama 10', kemudian cairan dibuang dan kulit dicuci. Pengamatan : Kulit lemas, warna lebih deep dan cairan bening. Ringkasan dari proses diatas tertera pada tabel berikut :

16 Tabel 3 : Formula proses pengolahan kulit Nappa Upper Shoe dari kulit sapi wet - blue Proses Nama Chemical % Jumlah Waktu Keterangan (menit) Sortasi lt/k Kulit sapi alus (Baik), g 10Lb 1,4 1,5 mm Shaving Weighing Wetting Back Drain Rechroming Drain Netralisasi Sandosin NIL Sinthochrome Cassatan FH Lipsol E Sodium Format Sodium Format Tanor PGN Natrium Bikarbonat 0,3 0, 1 1 66 gr 44 gr 0 gr 0 gr 60 90 ph cairan 3,5 4 ph cairan 5, Indikator BCG Biru kehijauan Drain Retanning Dyeing Fatliquoring Drain, H up, Sett Out, Hang Up Wetting Back Topping Tergotan RA Elkatan R6 Mimosa Tamol Black N Basyntan DI Fapsint FL Sintol K Lipsol E Sandosin NIL Dyestuff (Black N) Dyestuff (Black N) Lipsol E Preventol CR 4 4 1 3 5 3 1,5 0,3 0,5 0,5 1 880 gr 880 gr 0 ge 660 gr 1 gr 660 gr 330 gr 66gr 55 gr 55 gr 0 gr 10 gr 90 60 @ 10 0 0 10 0 10 60 10 Cek cairan bening

17 3. Permasalahan Yang Dihadapi Perusahaan Berdasarkan kegiatan yang dilakukan selama magang dan pengamatan pada hasil kulit jadinya, penulis menemukan dan mencoba untuk membahas masalah yang timbul didalam proses Pembahasan kembali yaitu : Kulit sukar dibasahi kembali. 3.3 Data Penunjang Ditemukannya beberapa kulit sapi wet blue yang sukar dibasahi kembali, pada proses pembahasan kembali untuk artikel Nappa Upper Shoe. Banyaknya kulit sapi wet blue yang sukar dibasahi adalah sebagai berikut : Tabel 4 : Jumlah Kulit Sapi Wet Blue yang sukar dan mudah dibasahi No Nama Jumlah Keterangan 1 Kulit sapi wet blue 7 Side Mudah dibasahi Kulit sapi wet blue 3 Side Sukar dibasahi Sumber : CV. Lengtat Leathers, 008 3.4 Pemecahan Masalah Kulit sapi wet blue yang sukar dibasahi kembali disebabkan oleh kesalahan metode penyimpanan dalam gudang dan pada saat proses wetting back kurang sempurna. 1. Metode penyimpanan yang salah Maksudnya adalah kesalahan dalam hal perawatan kulit sapi wet blue selama penyimpanan. Penyebab utamanya adalah akibat permukaan kulit sapi wet blue yang cenderung relatif asam dan adanya lemak natural yang masih tersisa, sehingga membuat ligan-ligan chrome yang sangat reaktif saling berikatan satu sama lain. Hal inilah yang membuat kulit sukar dibasahi kembali, karena itulah selama penyimpanan kulit sapi wet blue harus dijaga agar tetap basah. Berikut ini adalah teori bagaimana permukaan kulit sapi wet blue

18 cenderung relatif asam sehingga membuat ligan-ligan chrome yang sangat reaktif dapat saling berikatan satu sama lain. Menurut O Flaherty 1958, protein kulit terdiri dari gugus-gugus karboksil bebas, secara teori dapat membentuk ikatan kompleks dengan garam-garam kromium. Protein kulit merupakan ikatan koordinasi yang mana gugus karboksil akan mengion sebagai asam karboksil yang akan menarik garam kromium kompleks dan akan mengadakan reaksi kromium kompleks, kemudian menurut Thortensen 1976, kromium dalam larutan mempunyai reaksi yang kuat dengan ion hidroksi. Reaksi kromium dengan OH akan terjadi ikatan hidroksi, setahap demi setahap akan terjadi aikatan kovalen koordinasi antara kromium dengan oksugen. Thortensen juga berpendapat bahwa kenaikan ph akan menaikan basisitas kromium kompleks (lebih banyak OH yang masuk kedalam kompleks) dengan naiknya nilai ph maka reaktifitas protein juga meningkat. Pada akhir penaikan basisitas tinggi maka ion sulfat sebagian sudah meninggalkan kompleks secara sempurna kemudian protein kulit akan menghasilkan ikatan silang, dengan naiknya basisitas, dua senyawa kromium saling berhubungan antara satu dengan lainnya melalui gugus OH, peristiwa ini dikenal dengan reaksi olation. Setelah dilakukan basifikasi dilanjutkan dengan boiling test ( tes kematangan kulit ), caranya dengan memasukan kulit kedalam air bersuhu 98 - C, kulit dikatakan matang apabila penyusutan kurang dari 10 % berwarna biru dan lemas. Kulit kemudian melalui proses ageing, pada proses ageing inilah krom kompleks terbentuk semakin stabil karena ion-ion hidrogen terlepas, sehingga reaksi semakin kompleks dan terbentuk ikatan silang. Peristiwa ini berakibat permukaan kulit menjadi sangat asam sehingga dapat menyebabkan liganligan chrome yang sangat reaktif saling berikatan satu sama lain. Hal ini yang menyebabkan kulit sapi wet blue menjadi sukar dibasahi kembali, oleh karena itulah mengapa kulit sapi wet blue selama penyimpanan harus dijaga agar tetap basah. Berdasarkan hal tersebut diatas, maka untuk menghindari terjadinya stok kulit wet blue yang sukar dibasahi kembali, harus dilakukan hal-hal

19 sebagai berikut : a). Ruang penyimpanan kulit wet blue harus diatur dengan baik tentang penyinarannya, sirkulasi udara dan ventilasinya. b). Sebelum kulit wet blue dimasukkan gudang, harus dijaga kebasahannya dan diletakkan diatas landasan penyimpanan kulit wet blue yang memadai. c). Kulit wet blue selama penyimpanan harus selalu dijaga kelembabannya supaya tidak sampai kering.. Proses yang kurang sempurna Untuk kulit wet blue yang sukar dibasahi kembali akibat kurang sempurnanya proses, dapat dilakukan wetting back berulang-ulang dengan penambahan bahan pembasah yang lebih banyak. Hal ini dapat terus dilakukan hingga kulit mencapai syarat kelemasan yang diinginkan yaitu kulit tidak ada perlawanan ( Lemas ).