BAB II TINJAUAN PUSTAKA

dokumen-dokumen yang mirip
BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB II TINJAUAN PUSTAKA


BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB I PENDAHULUAN PENDAHULUAN

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. a. Kesiapan (readiness) terhadapinteprofesional Education (IPE)

STANDAR PRAKTIK KEPERAWATAN INDONESIA. Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI)

Kerangka Kompetensi Kepemimpinan Klinik

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

TELAAH KOMPETENSI DIII KEPERAWATAN

KOMPETENSI NERS BERBASIS. KERANGKA KUALIFIKASI NASIONAL INDONESIA Indonesian Qualification Framework

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. menyelamatkan jiwa para ibu dan bayi baru lahir (JNPK-KR, 2012).

2 BAB II TINJAUAN PUSTAKA

PADA TAHUN 2020 MENHHASILKAN PERAWAT PROFESIONAL, PENUH CINTA KASIH DAN MAMPU BERSAING SECARA NASIONAL.

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA. memegang tanggung jawab paling besar untuk perawatan pasien dalam kerangka

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. a. Definisi Keselamatan Pasien (Patient Safety)

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB II TINJAUAN TEORITIS. Pengetahuan adalah keseluruhan pemikiran, gagasan, ide, konsep, dan

BAB 1 PENDAHULUAN. karakteristik tersendiri dan dipengaruhi oleh perkembangan ilmu pengetahuan

Kompetensi Apoteker Indonesia adalah :

BAB I PENDAHULUAN. ekonomis. Oleh karena itu, pemeliharaan kesehatan merupakan suatu upaya. pemeriksaan, pengobatan atau perawatan di rumah sakit.

2). Fokus pada kesadaran pada proses pembelajaran dan tanggung jawab. 3). Peran dosen tidak mengajari tetapi menstimulasi proses yang aktif.

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA. Pengetahuan adalah suatu istilah yang dipergunakan untuk

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA

KOMPETENSI PERAWAT R. NETY RUSTIKAYANTI

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. menyelenggarakan pelayanan kesehatan perorangan secara paripurna yang

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA

Emiliana Tarigan Staf Pengajar STIK Sint Carolus Jakarta

BAB 2 TINJAUAN TEORITIS

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Pengetahuan adalah merupakan hasil tahu, dan ini terjadi setelah

Dilihat dari bentuk respon terhadap stimulus ini, maka perilaku dapat dibedakan menjadi dua (Notoatmodjo, 2003) :

BAB 2 TINJAUAN KEPUSTAKAAN. tentang diagnosa, melakukan kerjasama dalam asuhan kesehatan, saling

BAB II LANDASAN TEORI

BAB II KAJIAN PUSTAKA. satu hal dan pengetahuan umum yang berlaku bagi keseluruhan hal

SEKSI 100 A. PRINSIP-PRINSIP DASAR ETIKA PROFESI

BAB II TINJAUAN TEORITIS

Mengingat : 1. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 44 tahun 2009 tentang Rumah Sakit. 2. PMK RI Nomor 49 Tahun 2013 Tentang Komite Keperawatan.

BAB 3. TATA KELOLA, KEPEMIMPINAN, DAN PENGARAHAN (TKP)

SILABUS PRE KLINIK KEPERAWATAN JIWA PROGRAM A 2011

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA. membimbing, mengajar, mengobservasi, mendorong dan memperbaiki,

BAB 1 PENDAHULUAN. berhubungan dengan pekerjaan staf tersebut sesuai dengan posisinya dalam

KODE ETIK PSIKOLOGI. Mistety Oktaviana, M.Psi., Psikolog. Modul ke: Fakultas PSIKOLOGI. Program Studi PSIKOLOGI.

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

KOMPETENSI DAN KEWENANGAN STAF (KKS)

Komunikasi Dokter dengan Sejawat Pertumbuhan pengetahuan ilmiah yang berkembang pesat disertai aplikasi klinisnya membuat pengobatan menjadi

BAB I PENDAHULUAN. orangnya. Oleh karena itu, interpretasi terhadap suatu informasi yang sama akan berbeda

BAB I PENDAHULUAN. berkembang sejak dua dekade yang lalu (Wynia et al., 1999). Banyak hal yang

BAB II KAJIAN PUSTAKA DAN HIPOTESIS PENELITIAN. sebagai dasar untuk memberi jawaban sementara terhadap rumusan masalah yang

KOMPETENSI KONSELOR. Kompetensi Konselor Sub Kompetensi Konselor A. Memahami secara mendalam konseli yang hendak dilayani

PROFESSIONAL IMAGE. Budaya Kerja Humas yang Efektif. Syerli Haryati, S.S. M.Ikom. Modul ke: Fakultas FIKOM. Program Studi Public Relations

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. dengan melibatkan sekelompok mahasiswa atau profesi kesehatan yang

ID No EQUIS Input Proses Output Predecessors. Membuat Visi. 3 N/A Membuat Misi 2

BAB V PENUTUP A. Jawaban Masalah Pertama

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB I PENDAHULUAN. Keperawatan sebagai bagian intergral dari pelayanan kesehatan, ikut menentukan mutu dari pelayanan kesehatan.

BAB I PENDAHULUAN. memecahkan permasalahan yang dihadapi klien. Menurut Hojat et al (2013), rasa


Perspektif Historis Konseling

DEPARTEMEN RISET, TEKNOLOGI DAN PENDIDIKAN TINGGI UNIVERSITAS HASANUDDIN FAKULTAS KEDOKTERAN

DESKRIPSI KERANGKA KUALIFIKASI NASIONAL INDONESIA PENDIDIKAN KEDOKTERAN

SEJ S A EJ R A AH A PROS PR E OS S E KEPER

1. Bab II Landasan Teori

LAMPIRAN 1 KUESIONER PENELITIAN

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. A. Preseptor Preseptor adalah seseorang yang telah memiliki pengalaman pada

POKJA KUALIFIKASI dan PENDIDIKAN STAFF (KPS)

PRINSIP PENGEMBANGAN KARIR BIDAN

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

International Council of Nurses (1965), perawat adalah seseorang yang telah menyelesaikan program pendidikan keperawatan, berwenang di Negara

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB I PENDAHULUAN. menunjang kinerja setelah lepas dari institusi pendidikan (Barr, 2010)

METODE BIMBINGAN KLINIK

BAB II TINJUAN PUSTAKA. a. Standar Kompetensi Sarjana Farmasi

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. adalah proses komunikasi interprofesional dan pembuatan keputusan yang

SKRIPSI HUBUNGAN PENGETAHUAN DAN SIKAP PERAWAT TERHADAP PELAKSANAAN MODEL PRAKTIK KEPERAWATAN PROFESIONAL DI RUANG RAWAT INAP RS. JIWA PROF.

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA

PENERAPAN PRAKTIK KEPERAWATAN PROFESIONAL: Dewi Irawaty, MA, PhD

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

KEPUTUSAN ASOSIASI PENYELENGGARA PENDIDIKAN TINGGI PSIKOLOGI INDONESIA (AP2TPI) NOMOR: 01/Kep/AP2TPI/2015 TENTANG


BAB I PENDAHULUAN. tujuan penelitian, identifikasi konseptual pernyataan riset dan variabel riset dan

TINGKAT PENGETAHUAN MAHASISWA TINGKAT I PASCA SOSIALISASI CARRATIVE CARING

MENJADI KONSELOR PROFESIONAL : SUATU PENGHARAPAN Oleh : Eva Imania Eliasa, M.Pd

ISIAN PENILAIAN KINERJA GURU (PKG) BP/BK TAHUN 2014 (Diisi Oleh Kepala Sekolah)

Diklat Penjenjangann. Auditor Utama. Auditor Madya. Auditor Muda. Diklat Pembentukann. Auditor Ahli. Auditor

TUGAS INDIVIDU MONITORING DAN EVALUASI KINERJA

KERANGKA KUALIFIKASI NASIONAL INDONESIA

BAB V KESIMPULAN DAN REKOMENDASI

LAMPIRAN 1 INSTRUMEN PENELITIAN

KODE ETIK PSIKOLOGI. Bab V. Kerahasiaan Rekam dan Hasil Pemeriksaan Psikologi (Pasal 23-27) Mistety Oktaviana, M.Psi., Psikolog.

STANDAR KOMPETENSI PERAWAT INDONESIA. Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI)

Transkripsi:

BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. Preceptorship 1. Pengertian Preceptorship Menurut NMC (Nurse Midwifery Council di UK, 2009) Preceptorship adalah suatu periode (preceptorship) untuk membimbing dan memotivasi semua praktisi baru yang memenuhi persyaratan untuk melewati perubahan peran dari mahasiswa untuk mengembangkan kualitas praktek mereka lebih lanjut. Sehingga mahasiswa akan lebih percaya diri dengan lingkungan barunya, dalam peran barunya sebagai perawat. Hal itu dikarenakan mahasiswa merasa dipacu untuk mencapai kompetensi yang membantu perannya (Department of Health, 2010). Menurut High Quality Workforce: NHS Next Stage Review preceptorship adalah Suatu periode dasar (preceptorship) bagi praktisi untuk memulai karir yang akan membantu mereka memulai perjalanan dari pemula sampai ketahap ahli. Dengan adanya preceptorship para preceptee atau pemula atau mahasiswa akan lebih terbantu dalam pencapaian kompetensi yang dibutuhkan oleh mereka (Department of Health, 2010). Menurut Cannadian Nurses Association 1995, preceptorship merupakan pertemuan pembelajaran yang terjadi secara terus menerus, dan metode pembelajaran menggunakan perawat sebagai role model klinik. Pendekatan yang dilakukan dalam preceptorship ini adalah pendekatan hubungan satu-satu, belajar mandiri, memberikan lingkungan yang aman sebagai refleksi dan berfikir kritis, pemberian 6

7 nasihat, konseling, bimbingan, memberikan kekuatan dan umpan balik yang konstruktif. Bagaimanapun juga preceptorship digunakan khusus dalam proses formal yaitu dalam membantu preceptee untuk memperoleh kompetensi praktek awal melalui supervisi langsung melalui waktu yang pendek (CNA, 2004). Menurut Bartlett et al. (2000) berpendapat bahwa program preceptorship bisa menjadi sarana penting dalam membantu perawat baru untuk mendapatkan kepercayaan diri. Program preceptorship juga dapat memberikan informasi khusus tentang kompetensi perawat dengan memberikan arahan yang berguna agar perawat dapat memberikan pelayanan yang berkualitas. (Salonen, dkk, 2007). Menurut Chickerella dan Lutz (1981) preceptorship merupakan metode pembelajaran yang sifatnya individual dimana setiap siswa dibimbing oleh seorang preceptor sebagai role model dan sumber informasi dalam praktek sehari-hari. (Gleeson, 2008) 2. Keuntungan Preceptorship Ada beberapa keuntungan dari preceptorship, keuntungan bagi perawat baru atau mahasiswa, keuntungan bagi perawat klinik, keuntungan bagi preceptor sendiri dan keuntungan bagi profesi. Keuntungan-keuntungan tersebut adalah sebagai berikut: a. Perawat Baru Sebagai perawat baru, preceptorship dapat memberikan beberapa manfaat, yaitu: preceptoship dapat membantu seorang perawat baru dalam mengembangkan kepercayaan diri, preceptorship dapat menjadi tempat sosialisasi profesional untuk masuk kedalam lingkungan kerja, meningkatkan kepuasan kerja sehingga meningkatkan kepuasan pasien/klien, dihargai dan dihormati oleh organisasi pelayanan, diakui dan adanya kepastian

8 pengembangan karier dimasa depan, merasa bangga dan berkomitmen dalam tujuan dan strategi organisasi perusahaan, mengembangkan kesepahaman tentang komitmen untuk bekerja dalam profesi dan ketentuan-ketentuan dari lembaga yang berwenang/ konsil keperawatan, pribadi yang tanggung jawab untuk memelihara pengetahuan terkini, preceptorship mengurangi stress seorang perawat baru karena ia dibimbing dan diarahkan sesuai kompetensinya, untuk pengembangan diri yang signifikan karena lebih membentuk pemahaman yang lebih atas kompetensinya sehingga dapat mengembangkan karakternya, dan manfaat yang terakhir dari preceptorship pada seorang perawat baru adalah menunjukkan sikap, pengetahuan dan keahlian (kompetensi) baru. b. Perawat klinik Preceptorship juga memberikan beberapa manfaat pada perawat klinik, yaitu: dapat meningkatkan kualitas perawatan pasien, membantu meningkatkan perekrutan dan pengurangan perawat klinik, dapat mengurangi sakit dan absen karena tidak ada lagi alasan stres dan takut masuk kerja karena kekurangannya dalam sebuah atau beberapa bidang yang diluar kompetensinya, pengalaman pemberian pelayanan semakin meningkat setelah masuk dalam preceptorship, dapat meningkatkan kepuasan staf, peluang mengidentifikasi staf yang membutuhkan dukungan tambahan atau perubahan peran, mengurangi risiko keluhan dari pasien dan keluarga pasien, kesempatan mencari bakat pemimpin yang ada pada dirinya sendiri, praktisi memahami dampak peraturan peraturan terhadap pemberian pelayanan dan mengembangkan hasil (outcome) / pendekatan berbasis bukti (evidence base), mengidentifikasi staf yang memerlukan dukungan tambahan lebih lanjut.

9 c. Pembimbing Klinik/Preceptor Manfaat preceptorship pada preceptor sendiri adalah dapat mengembangkan penilaian, supervisi, bimbingan dan ketrampilan yang mendukung. Dapat menimbulkan perasaan tentang nilai organisasi, praktisi perawat baru dan pasien. Dapat mengidentifikasi komitment profesi dan ketentuan-ketentuan peraturan. Dapat mendukung pembelajaran sepanjang hayat, serta dapat membantu dalam meningkatkan keinginan karier dan aspirasi kedepan seorang preceptor. d. Profesi. Manfaat dari preceptorship bagi profesi mencakup tanggung jawab profesional diantaranya: memberikan standar praktek tinggi dan pelayanan perawatan sepanjang waktu. Keperawatan menjadi prioritas, pengguna pelayanan keperawatan, sebagai individu dan menghormati martabatnya. Dapat bekerja sama dengan orang lain untuk melindungi dan meningkatkan kesehatan dan kesejahteraan keperawatan, keluarga, karier dan masyarakat luas. Menjadi lebih terbuka dan jujur, bertingkah laku dengan integritas, menegakkan reputasi profesi. Meningkatkan image pelayanan keperawatan kesehatan profesional. Meningatkan dukungan kepada lulusan baru. Membantu perawat dalam menjaga dan memperoleh kompetensi. Meningkatkan jumlah perawat dengan jiwa kepemimpinan dan kemampuan mengajar. Meningkatakan retensi keperawatan. Mengurangi kebutuhan untuk melakukan rekrutmen dan pendidikan kepada perawat (CNA, 2004). 3. Pertimbangan-pertimbangan dalam keberhasilan program prceptorship Banyak faktor yang harus dipertimbangkan dalam pengembangan program preceptorship, termasuk didalamnya stress

10 pada mahasiswa, beban kerja preceptor, konflik dan permasalahan lainnya. Pengalaman preceptorship dapat menyebabkan stress pada mahasiswa dan dapat menimbulkan kekecewaan bagi profesi keperawatan. Maka dari itu penting untuk menjaga informasi secara terbuka bersama-sama antara mahasiswa dan preceptor dan juga koordinator program dan penasihat/advisor. Preceptor harus tahu bagaimana untuk menganal stres yang terjadi pada mahasiswa, bagaimana untuk menilai mereka dalam mengatur stres atau dimana untuk mencari bantuan yang lebih jauh seperti konseling ketika dibutuhkan. Beban kerja yang berlebih dapat menyebabkan kurang puasan kerja bagi para preceptor. Hal ini disebabkan karena beberapa hal, diantaranya memiliki banyak pasien disisi lain sebagai tanggungjawab preceptor memiliki banyak mahasiswa. Ini merupakan masalah etik yang seharusnya dipertimbangkan ketika melakukan program preceptorship. Penting untuk mengetahui bahwa konflik/masalah dapat muncul antara preceptor dan mahasiswa. Orientasi program harus diberikan antara mahasiswa dan preceptor dengan beberapa pandangan dan pendekatan untuk bagaimana mengetahui dan memecahkan masalah. Koordinator program dan penasihat fakultas dapat memfasilitasi acara tersebut ketika dibutuhkan. Contoh pemecahan masalah secara produktif. Ketika kehidupan seseorang, pekerjaan, harga diri, konsep diri, ego, kepribadian maka biasanya masalah akan muncul. a. Penyebab konflik : 1) Kurangnya komunikasi 2) Ketidakpuasan dengan sistem manajemen. 3) Kepemimpinan yang buruk. 4) Tidak adanya keterbukaan atau harapan secara bersama-sama.

11 b. Hasil positif dari masalah. 1) Menunjukan kejelasan dari masalah tersebut. 2) Sebuah hasil solusi. 3) Pentingnya melibatkan seseorang yang terjadi permasalahan. 4) Mengurangi kecemasan dan stres. 5) Membangun kerjasama 6) Membagi solusi 7) Menunjukkan kesepemahaman. c. Pendekatan yang baik dalam pemecahan masalah 1) Arahkan kepada permasalahan, bukan kepada individunya. 2) Ungkapkan perasaan dengan cara tidak menyalahkan. 3) Bawa peran diri dalam masalah tersebut. 4) Dengan orang lain dan lihat masalah dari perspektif mereka. 5) Identifikasi kebutuhan dasar. 6) Jangan pecahkan permasalahan orang lain. 7) Mendorong untuk memberikan pendangan yang berbeda 8) Jujur dalam diskusi. 9) Fokus akan apa yang dikerjakan. Preceptorship merupakan tanggung jawab preceptor, yang bertangggung jawab untuk mengajar, mengevaluasi dan memberikan umpan balik, mahasiswa dan Koordinator program serta penasihat fakultas. Dalam keberhasilan program preceptor, surat dipersiapkan untuk memberikan rangkaian orientasi, dukungan evaluasi dan informasi dan atau tentang preceptor dan mahasiswa (CNA, 2004). 4. Implementasi program preceptorship Ada beberapa implementasi program preceptorship menurut (Department of Health, 2010) implementasi program preceptorship adalah sebagai berikut:

12 a. Menjaga tingkat kepegawaian yang memadai dan beban pekerjaan role model. b. Dapat Mempertahankan catatan yang lengkap, dan menjamin sesuai standar yang telah ditetapkan, memungkinkan dapat diakses bagi yang berwenang melihat catatan tersebut. Melindungi catatan terhadap kehilangan atau penggunaan yang tidak sah atau illegal dan memastikan sumber informasi dan ruang untuk penyimpanan mereka terlindungi. c. Menyediakan tenaga manusia, fisik, bidang klinis, riset dan sumber teknis yang diperlukan untuk mencapai tujuan program preceptorship. d. Menetapkan kontrak tertulis dengan organisasi-organisasi yang digunakan oleh semua bidang klinik yang berpengalaman. Menetapkan kontrak tertulis dengan organisasi yang digunakan untuk setiap pengalaman klinis. e. Memastikan alokasi yang cermat model peran untuk peserta/ mahasiswa. f. Memberikan bimbingan yang memadai, pengawasan dan pengarahan. g. Memastikan umpan balik digunakan untuk meningkatkan program. h. Memberikan bantuan teknis layanan online untuk program yang disampaikan dalam metode jarak jauh. Sedangkan implementasi dalam (Quensland Government, 2001) Kebijakan untuk mendukung pelaksanaan dan pemeliharaan program ini sangat penting untuk keberhasilannya. Kebijakan untuk mendukung transisi harus mencakup peran dan tanggung jawab manajemen dan mencerminkan pernyataan posisi Queensland Nursing Council pada Proses Dukungan Transisi. Adalah penting bahwa peran dan tanggung jawab pembimbing diakui dalam konteks kerja. Dalam membimbing harus dibagi diantara preceptor, memastikan bahwa salah satu preceptor tidak kewalahan dengan membantu semua mahasiswa.

13 Program ini akan memenuhi persyaratan persiapan untuk preceptor dan memberikan pedoman untuk peran manajemen dalam penerapan standar praktek terbaik untuk mendukung transisi. B. Pembimbing klinik/preceptor Menurut Happell (2009) preceptor adalah perawat yang mengajar, menasihati, menginspirasi, berfungsi sebagai model peran, dan mendukung pertumbuhan dan perkembangan siswa untuk jumlah tetap dan terbatas waktu dengan tujuan tertentu dari sosialisasi siswa menjadi peran baru (Duteau, 2012). Seorang guru atau instruktur atau seorang ahli atau spesialis yang memberikan pengalaman praktis dan pelatihan untuk mahasiswa, khususnya kedokteran atau keperawatan (NHS, 2007). Morrow, 1984 menyatakan, preceptor adalah seseorang, pada umumnya seorang perawat staf, yang mengajar, nasihat, menginspirasi, berfungsi sebagai model peran dan mendukung pertumbuhan dan perkembangan individu (pemula) untuk jumlah waktu yang terbatas dengan tujuan tertentu dari sosialisasi pemula menjadi peran baru (NHS, 2007). Preceptor dapat berperan sebagai panutan, mentor dan pelatih bagi mahasiswa, sedangkan peran tersebut tidak akan didapatkan di fakultas. Proses membimbing tidak akan memberikan dampak stress pada preceptor dan akan lebih efektif jika sejak awal bimbingan telah ditentukan strategi pemenuhan target kompetensi, mengenali masalah yang mungkin dapat terjadi, dan mencari cara penyelesaian masalah tersebut (Murphy, 2008). Karakter seorang preceptor adalah sabar, antusias, berpengetahuan, memiliki rasa humor dan rasa hormat terhadap rekan lainnya. Preceptor harus kompeten dan memiliki kemauan untuk belajar dan berubah. Seorang preceptor adalah seseorang yang bersifat tidak mengancam, tidak menghakimi dan mengenal kelemahan yang dimilikinya. Preceptor adalah

14 orang yang dapat dipercaya, orang yang dapat membimbing dan orang yang dapat membimbing. Hal terpenting yang harus dimiliki seorang preceptor adalah kecerdasan emosional. Preceptor dengan karakter demikian merupakan seorang yang berkualitas dan dapat menumbuhkan lingkungan belajar yang sehat (Baltimore, 2004). C. Kompetensi Preceptor Kompetensi preceptor ada lima, kolaborasi, karakter personal, fasilitas belajar, praktek professional dan pengetahuan tatanan klinik. (CNA, 2004). Dibawah ini adalah penjabarannya: 1. Kolaborasi a. Berkolaborasi dengan mahasiswa pada semua tahapan preceptorship. b. Menyusun dan menjaga kerjasama dengan penasehat/kepala fakultas dan rekan lain (Universitas, Pelayanan kesehatan profesional, klien) c. Membuat jaringan dengan preceptor lain untuk mendiskusikan peningkatan praktik. d. Membantu mahasiswa untuk menginterpretasikan peran mahasiswa kepada individu, keluarga, komunitas dan populasi. 2. Karakter personal a. Menunjukan antusias dan tertarik pada preceptor b. Menunjukkan ketertarikan dalam kebutuhan dan perkembangan pembelajaran mahasiswa. c. Membantu perkembangan pembelajaran lingkungan yang positif.

15 d. Beradaptasi untuk berubah. e. Menunjukkan kemampuan komunikasi yang efektif dengan klien dan universitas. f. Menunjukkan kamampuan pemecahan masalah yang efektif. g. Menunjukkan kesiapan dan keterbuakaan untuk belajar dengan mahasiswa. h. Menunjukkan tanggungjawab akan perbedaan mahasiswa (latar belakang pendidikan, ras, kultur dll) i. Menggabungkan mahasiswa ke dalam budaya sosial. j. Memiliki kepercayaan diri dan kesabaran. k. Mengakui keterbatasan diri dan berkonsultasi dengan yang lain. 3. Fasilitasi belajar a. Menilai kebutuhan pembelajaran klinik mahasiswa dalam bekerjasama dengan mahasiswa dan penasehat fakultas/ koordinator program, dengan cara: 1) Meninjau kompetensi dasar sesuai dengan bidang ilmu (praktik, pendidikan), standar praktik, tempat (rumah sakit, klinik spesialis komunitas, pendidikan). 2) Membicarakan harapan hasil pembelajaran berdasarkan atas data pada kompetensi dasar. 3) Mengkaji pengalaman mahasiswa sebelumnya dengan tanggung jawab pengetahuan dan keahlian untuk menjaga pemahaman, perkembangan dan kebutuhan pembelajaran yang spesifik pada tenpat praktek. 4) Mengidentifikasi potensi belajar pada tempat praktek yang akan menyesuaikan perkembangan dan kebutuhan belajar mahasiswa. 5) Membantu mahasiswa untuk mengembangkan hasil pembelajaran individu, dan peran saat praktek.

16 b. Merencanakan aktifitas pembelajaran klinik dalam bekerjasama dengan mahasiswa dan dengan penesehat fakultas/ koordinator program, dengan cara : 1) Membantu mahasiswa untuk mencari tempat kegiatan pembelajaran untuk mendapakan hasil pembelajaran dan untuk membuat waktu mahasiswa supaya optimal (contohnya: tugas praktek klinik, aktifitas pendidikan, membaca, menulis, simulasi keahlian praktek). 2) Ketika memungkinkan, pilihlah tugas klinik/ aktifitas pembelajaran sesuai dengan yang teridentifikasi pada hasil belajar dan cara belajar mahasiswa. 3) Ketika memungkinkan, urutkan tugas klinik / aktifitas pembelajaran selama proses pembelajaran dari hal yang kecil sampai hal yang komplek. c. Mengimplementasikan pembelajaran klinik dalam tempat praktek dengan bekerjasama dengan mahasiswa dan penasehat fakultas/ koordinator program, dengan cara : 1) Menyusun strategi pembelajaran klinik dengan tepat. 2) Membantu mahasiswa dalam menyiapkan aktifitas pembelajaran. 3) Ketika memungkinkan, kaji aktifitas mahasiswa bertujuan untuk mengetahui kemajuan dan mengatur aktifitas tersebut. 4) Berdiskusi dengan mahasiswa tentang kendala-kendala dalam praktek. 5) Memberikan umpan balik secara konstruktif( contohnya., pelatihan, dukungan dan pujian) 6) Melakukan intervensi secara cepat terhadap hal-hal yang tidak diinginkan.

17 d. Mengevaluasi hasil pembelajaran klinik dalam kerjasama dengan mahasiswa dan penasihat fakultas dan koordinator program, dengan cara ; 1) Memberikan umpan balik secara konstruktif menggunakan lembar evaluasi (contohnya., evaluasi formatif harian/ mingguan) 2) Menanyakan pertanyaan untuk mengetahui pengetahuan mahasiswa yang telah dipelajari (contohnya, bagaimana menurutmu tentang perawatan luka? Apa yang telah kamu lakukan dengan cara berbeda?). 3) Menjelaskan penilaian preceptor terhadap kegiatannya. 4) Mendiskusikan antara ketidak cocokan antara preceptor dan mahasiswa. 5) Berpartisipasi dengan mahasiswa dalam melengkapi lembar evaluasi struktur yang menekankan pentingnya evaluasi diri untuk mahasiswa, untuk mengetahui kemajuan hasil pembelajaran dan potensi berikutnya (contohnya., evaluasi sumatif yang dilakukan saat tengah dan akhir preceptorship) 6) Memberikan pujian dan dukungan pembelajaran lingkungan dengan memfokuskan pada potensi mahasiswa, pencapaian dan kemajuan menjelang pertemuan melalui proses evaluasi. 7) Memberikan umpan balik yang positif tentang peningkatan atau kesalahan untuk mendapatkan fundamental, profesional atau sasaran diri. 8) Melakukan langkah yang tepat jika perkembangan hasil pembelajaran kurang memuaskan(contohnya berkonsultasi dengan pembimbing fakultas/ koordinator program)

18 9) Bertanya dengan pertanyaan terbuka kepada mahasiswa untuk menentukan pemahaman keefektifan intervensi preceptor untuk memfasilitasi pembelajaran klinik. 4. Praktek professional a. Berperilaku otonomi dan konsisten sesuai dengan standar keperawatan yang diakui oleh peraturan provinsi dan kode etik keperawatan. b. Bekerja untuk mencapai standar nasional / internasional saat ini. c. Membantu mahasiswa untuk mendapatkan ilmu, keahlian dan keputusan peraturan provinsi dan kode etik keperawatan. d. Mengklarifikasi peran, hak dan tanggungjawab yang berhubungan dengan preceptorship. 5. Pengetahuan tatanan klinik. a. Isi dasar pengetahuan tatanan klinik 1) Misi dan filosofi 2) Sistem perawatan (contohnya berfokus pada keperawatan keluarga, dll). 3) Kebijaksanaan dan prosedur. 4) Lingkungan fisik 5) Peran dan fungsi interdisiplin. 6) Format, dokumentasi dan mekanisme pelaporan. b. Menunjukkan peran perawat dengan kelompok mutidisiplin (contohnya; farmasi, pekerja sosial, psikology, terapi okupasi). c. Mengkaji garis besar institusi pendidikan bagi mahasiswa dan preceptor (contohnya; harapan preceptorship, apa yang

19 mahasiswa lakukan selama pembelajaran klinik dan apakah ada perubahan setelah mengikuti preceptorship). D. Pengetahuan 1. Pengertian Pengetahuan adalah hasil dari tahu dan ini tejadi setelah seseorang melakukan pengindraan suatu obyek tertentu. Penginderaan terjadi melalui panca indra manusia, yakni indera penglihatan, pendengaran, penciuman, rasa dan raba. Dengan lima indra yang ada ditubuh manusia tersebut, manusia dapat mengetahui sesuatu baik yang manusia itu sengaja melakukannya atau tidak sengaja (Notoatmodjo, 2003). Pengetahuan atau kognitif merupakan domain yang sangat penting untuk terbentuknya tindakan seorang (overt behaviour). Dari pengalaman pengertian ternyata perilaku yang didasari oleh pengetahuan akan lebih langgeng dari pada perilaku yang tidak didasari oleh pengetahuan, karena perilaku yang didasari pengetahuan akan dilakukan secara terus menerus oleh seseorang itu sedangkan yang tidak menyertai perilakunya dengan pengetahuan selain tidak langgeng seseorang yang melakukannya tidak tahu apakah yang ia lakukan sudah benar atau belum (Notoatmodjo, 2003). Pengetahuan dalam aspek kognitif menurut (Notoatmodjo, 2003), dibagi menjadi 6 (enam) tingkatan, yaitu: 1) Tahu (know) Tahu diartikan mengingat suatu materi yang telah dipelajari sebelumnya, dari seluruh bahan yang dipelajari. Termasuk kedalam tingkat ini adalah mengingat kembali sesuatu yang spesifik dari seluruh bahan yang dipelajari. Selain itu tahu juga

20 dapat diartikan mengerti setelah melihat sesuatu. Oleh sebab itu tahu ini merupakan tingkat pengetahuan yang paling rendah. Kata kerja untuk mengukur bahwa orang tahu tentang apa yang dipelajari yang artinya hanya sekedar tahu bukan memahami. 2) Memahami (Comprehension) Memahami tingkatannya lebih tinggi dari tahu. Memahami ini diartikan sebagai suatu kemampuan untuk menjelaskan secara benar tentang obyek yang diketahui dan dapat menginterpretasikan materi ke kondisi sebenarnya. Orang yang telah paham terhadap objek atau materi harus dapat menjelaskan, menyebutkan terhadap objek yang dipelajari, dilihat dan apa yang dia dapatkan dari kelima panca indra. 3) Aplikasi (Aplication) Aplikasi adalah Kemampuan untuk menggunakan dan menerapkan materi yang telah dipelajari pada situasi atau kondisi yang sebenarnya. Aplikasi disini dapat diartikan sebagai aplikasi atau hukum hukum, rumus, metode, prinsip dan sebagainya dalam konteks atau situasi yang lain. Misalnya dengan menggunakan rumus statistik dalam perhitunganperhitungan hasil penelitian, dapat menggunakan prinsipprinsip siklus pemecahan masalah dari kasus kesehatan yang diberikan. 4) Analisis (Analysis) Analisis adalah suatu kemampuan untuk menjabarkan materi atau suatu objek ke dalam komponen-komponen, tetapi masih dalam suatu struktur organisasi tersebut dan masih ada kaitannya satu sama lain. 5) Sintesis (Synthesis) Sintesis menunjuk kepada suatu kemampuan untuk meletakan atau menghubungkan bagian-bagian didalam suatu bentuk keseluruhan yang baru. Dengan kata lain sintesis adalah suatu

21 kemampuan untuk menyusun formulasi baru dari formulasiformulasi yang ada sehingga formulasi-formulasi tersebut menjadi lebih lengkap dari sebelumnya. 6) Evaluasi (Evaluation) Evalusi ini berkaitan dengan kemampuan untuk melakukan justifikasi atau penilaian terhadap suatu materi atau obyek. Penilaian suatu kriteria yang ditentukan sendiri atau menggunakan kriteria-kriteria yang sudah ada. 2. Faktor yang mempengaruhi pengetahuan Ada beberapa hal yang mempengaruhi pengetahuan, hal ini dikemukakan oleh (Notoatmodjo, 2005). Faktor-faktor tersebut adalah sebagai berikut: a. Pendidikan Tingkat pendidikan seseorang akan berpengaruh dalam member respon terhadap sesuatu yang datang dari luar. Orang yang berpendidikan tinggi akan memberikan respon yang lebih rasional terhadap informasi yang datang dan akan berpikir sejauh mana keuntungan yang mungkin akan mereka peroleh dari gagasan tersebut. Seseorang yang berpendidikan tentu akan lebih banyak memberikan respon emosi, karena ada tanggapan bahwa hal yang baru akan memberikan perubahan terhadap apa yang mereka lakukan di masa lalu. Pendidikan berarti bimbingan yang diberikan seseorang terhadap perkembangan orang lain menuju kearah suatu cita cita tertentu. Pendidikan dapat mempengaruhi seseorang termasuk juga perilaku, terutama dalam memotivasi sikap berperan serta dalam perkembangan kehidupan. Semakin tinggi tingkat kesehatan, seseorang makin menerima informasi sehingga

22 makin banyak pola pengetahuan yang dimiliki (Notoatmodjo, 2003). b. Paparan media massa Melalui berbagai media baik cetak maupun elektronik berbagai informasi dapat diterima masyarkat, sehingga seseorang yang lebih sering terpapar media massa (TV, radio, majalah, pamflet, dan lain - lain) akan memperoleh informasi yang lebih banyak dibandingkan dengan orang yang tidak pernah terpapar informasi media. Ini berarti paparan media massa mempengaruhi tingkat pengetahuan yang dimiliki oleh seseorang. c. Ekonomi Dalam memenuhi kebutuhan pokok (primer) maupun kebutuhan sekunder, keluarga dengan status ekonomi baik akan lebih mudah tercukupi dibandingkan keluarga dengan status ekonomi rendah. Hal ini akan mempengaruhi pemenuhan kebutuhan sekunder. Jadi dapat disimpulkan bahwa ekonomi dapat mempengaruhi pengetahuan seseorang tentang berbagai hal. d. Hubungan sosial Manusia adalah makhluk sosial dimana dalam kehidupan saling berinteraksi antara satu dengan yang lain. Individu yang dapat berinteraksi secara continue akan lebih besar terpapar informasi. Sementara faktor hubungan sosial juga mempengaruhi kemampuan individu sebagai komunikasi untuk menerima pesan menurut model komunikasi media dengan demikian hubungan sosial dapat mempengaruhi tingkat pengetahuan seseorang tentang suatu hal.

23 e. Pengalaman Pengalaman seorang individu tentang berbagai hal biasa di peroleh dari lingkungan kehidupan dalam proses perkembangannya, misalnya sering mengikuti kegiatan. Kegiatan yang mendidik misalnya seminar organisasi dapat memperluas jangkauan pengalamannya, karena dari berbagai kegiatan tersebut informasi tentang suatu hal dapat diperoleh. 3. Alat Ukur Pengetahuan Pengukuran pengetahuan dapat dilakukan dengan wawancara atau angket yang menyatakan isi materi yang ingin diukur dari responden (Notoatmodjo, 2003). Ada beberapa kategori tingkat pengetahuan: a. Kategori kurang bila skor : <60 % b. Kategori cukup : 60-75% c. Kategori baik : >75% (Arikunto, 2006).

24 E. Kerangka Teori Mahasiswa Preceptor Preceptorship Kompetensi Preceptor Kompetensi Preceptor, yaitu: - Kolaborasi - Karakter personal - Fasilitasi belajar - Praktek professional - Pengetahuan tatanan klinik Pengetahuan Pengetahuan dibagi menjadi: - Tahu - Memahami - Aplikasi - Analisis - Sintesis - Evaluasi Bagan 2.1 Kerangka Teori Modifikasi : (CNA, 2004), (Notoatmodjo, 2003), F. Variabel Penelitian Variabel dari penelitian ini adalah deskripsi pengetahuan preceptor tentang kompetensinya dalam pelaksanaan preceptorship.