BAB I PENDAHULUAN. khususnya kebutuhan akan pendidikan sebagai suatu investasi. Oleh karena itu,

dokumen-dokumen yang mirip
BAB I PENDAHULUAN. Pendidikan merupakan sarana penting untuk meningkatkan kualitas. Sumber Daya Manusia (SDM) dalam menjamin kelangsungan pembangunan

BAB I PENDAHULUAN. sehingga pemerintah menetapkan PP Nomor 47 Tahun 2008 tentang Wajib

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah

BAB 1 PENDAHULUAN. dilakukan pembaharuan pendidikan secara terencana, terarah dan berkesinambungan.

BAB I PENDAHULUAN. Salah satu indikator kemajuan suatu negara tercermin pada kemajuan bidang

BAB 1 PENDAHULUAN. Faktor-faktor penyebab..., Rika Aristi Cynthia, FISIP UI, Universitas Indonesia

I. PENDAHULUAN. yang lebih dikenal dengan Indeks Pembangunan Manusia (IPM) merupakan

BAB I PENDAHULUAN. perencanaan Millenium Development Goals (MDGS), yang semula dicanangkan

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang

BAB 1 PENDAHULUAN. Dalam mewujudkan pendidikan yang lebih upaya untuk meningkatkan

BAB I PENDAHULUAN. semuannya dirumuskan oleh Pemerintah. perencana tentang keberadaan pendidikan.

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN. Pendidikan merupakan sarana penting untuk meningkatkan kualitas

BAB I PENDAHULUAN. Kurikulum merupakan alat yang sangat penting bagi keberhasilan suatu

BAB I PENDAHULUAN. rumusan masalah, pertanyaan penelitian, hipotesis dan definisi operasional yang

BAB IV BAB IV LANGKAH-LANGKAH TEROBOSAN PENDIDIKAN TAMAN KANAK-KANAK DAN SEKOLAH DASAR

BAB I PENDAHULUAN. Memasuki abad 21 ini dunia pendidikan kita menjadi geger, geger dengan

BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN. Efektivitas proses..., Hani Khotijah Susilowati, FISIP UI, Universitas Indonesia

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. merupakan salah satu indikator untuk kemajuan pembangunan suatu bangsa.

BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang

PERATURAN GUBERNUR JAMBI NOMOR 21 TAHUN 2009

BAB I PENDAHULUAN. sebuah komunitas, dan komunitaslah yang membentuk masyarakat. Substansi ini

BAB I PENDAHULUAN. skills) sehingga mendorong tegaknya pembangunan seutuhnya serta masyarakat

BAB I PENDAHULUAN. penelitian ini mengenai implementasi KTSP dalam pemanfaatan laboratorium

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. bangsa Indonesia kini sedang dihadapkan pada persoalan-persoalan kebangsaan

Oleh: Prof. Dr. H. Sofyan Sauri, M.Pd

I. PENDAHULUAN. UUD 1945 pasal 31 menyatakan bahwa setiap warga Negara berhak mendapat

BAB I PENDAHULUAN. Pada dasarnya pendidikan nasional berfungsi mengembangkan. kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat.

BAB I PENDAHULUAN. Bagian ini akan menguraikan tentang latar belakang, rumusan masalah

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Penelitian Imay Ifdlal fahmy, 2013

BAB I PENDAHULUAN. Sasaran Pendidikan adalah manusia.pendidikan bertujuan untuk. menumbuh kembangkan potensi sumber daya manusia (SDM) agar menjadi

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Posisi manusia selalu menjadi tema sentral dalam setiap program

BAB I PENDAHULUAN. pendidikan yang dianut pemangku kebijakan. Kurikulum memiliki. kedudukan yang sangat sentral dalam keseluruhan proses pendidikan.

Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Timur. Kata Pengantar

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN. Maha Esa, agar kelak nantinya berguna bagi dirinya dan masyarakat umumnya. Pendidikan

SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM NEGERI (STAIN) ZAWIYAH COT KALA LANGSA 2015 M/ 1435 H

BAB V RENCANA PROGRAM, KEGIATAN, INDIKATOR KINERJA, KELOMPOK SASARAN DAN PENDANAAN INDIKATIF PENDIDIKANJAWA TIMUR

BAB I PENDAHULUAN. (United Nations Development Programme) sejak tahun 1996 dalam seri laporan

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 47 TAHUN 2008 TENTANG WAJIB BELAJAR DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

BAB I PENDAHULUAN. harus selalu menjaga kesehatan, yang merupakan modal utama agar dapat hidup produktif,

Analisis Sosial Budaya yang Mempengaruhi Pelaksanaan Program Wajib Belajar Pendidikan Dasar Sembilan Tahun

INDIKATOR KINERJA UTAMA (IKU)

Sulit menciptakan keadilan dan kesetaraan gender jika negara terus menerus memproduksi kebijakan yang bias gender. Genderisasi kebijakan publik telah

BAB I PENDAHULUAN. kualitas sumber daya manusia yang pada umumnya wajib dilaksanakan. globalisasi, maka pendidikan juga harus mampu menjawab kebutuhan

BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah

BAB I PENDAHULUAN. pendidikan, yang secara umum bertumpu pada dua paradigma baru yaitu

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang Masalah. Dunia pendidikan merupakan kehidupan yang penuh dengan tantangan

I. PENDAHULUAN. perubahan dengan tujuan utama memperbaiki dan meningkatkan taraf hidup

I. PENDAHULUAN. dan berjalan sepanjang perjalanan umat manusia. Hal ini mengambarkan bahwa

Grafik 3.2 Angka Transisi (Angka Melanjutkan)

BAB I PENDAHULUAN. Kebijakan pembangunan pada era 1950-an hanya berfokus pada bagaimana

BAB I PENDAHULUAN. sehingga investasi dalam pendidikan bukan hanya memberikan dampak bagi

PEMERINTAH KABUPATEN KUDUS PERATURAN DAERAH KABUPATEN KUDUS NOMOR 2 TAHUN 2010 TENTANG WAJIB BELAJAR 12 (DUA BELAS) TAHUN

Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Timur. Ringkasan Eksekutif

BAB I PENDAHULUAN. pendidikan secara formal dilakukan, memiliki sistem yang kompleks dan dinamis.

PERATURAN DAERAH KABUPATEN KLUNGKUNG NOMOR 3 TAHUN 2010 TENTANG PENYELENGGARAAN PELAYANAN BIDANG PENDIDIKAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

PERATURAN DAERAH KABUPATEN TANJUNG JABUNG BARAT NOMOR 2 TAHUN 2008 TENTANG PENYELENGGARAAN PENDIDIKAN DASAR GRATIS

BAB I PENDAHULUAN. 1 Universitas Indonesia

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

PERATURAN DAERAH KABUPATEN TANJUNG JABUNG BARAT NOMOR 2 TAHUN 2008 TENTANG PENYELENGGARAAN PENDIDIKAN DASAR GRATIS

LEMBARAN DAERAH KABUPATEN KUDUS NOMOR 2 TAHUN 2010 PERATURAN DAERAH KABUPATEN KUDUS NOMOR 2 TAHUN 2010 TENTANG WAJIB BELAJAR 12 (DUA BELAS) TAHUN

PEMERINTAH KABUPATEN TANJUNG JABUNG BARAT

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang Masalah. Perkembangan bidang pendidikan dilakukan guna memperluas

BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang Masalah. Pendidikan dianggap sebagai sebagai suatu investasi yang paling berharga

BAB I PENDAHULUAN. Dalam Pasal 1 butir 19 UU No. 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan

BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang

A. Latar Belakang BAB I PENDAHULUAN

Desember Sehingga saat ini hanya sekolah-sekolah tertentu saja yang masih menggunakan kurikulum Kurikulum 2013 merupakan kurikulum

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Pembangunan merupakan sebuah upaya atau proses untuk melakukan

BAB I PENDAHULUAN. Competitiveness Report Seperti halnya laporan tahun-tahun sebelumnya,

MONITORING DAN EVALUASI PELAKSANAAN PROGRAM WAJIB BELAJAR DI KOTA SALATIGA TAHUN 2011/2012. Donald Samuel Slamet Santosa

BAB I PENDAHULUAN. bisnis dan industri yang bergantung pada kepuasan pelanggan atau konsumen,

LPF 7. PENYUSUNAN RENCANA PEMANTAUAN & EVALUASI 120 menit

BAB 1 PENDAHULUAN. dalam rangka memperbaiki dan meningkatkan kualitas pembangunan. Sumber Daya Manusia (SDM) merupakan unsur terpenting dalam

BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah

BAB III AKUNTABILITAS KINERJA

BAB I PENDAHULUAN. bangsa dan bertujuan untuk menghasilkan perubahan-perubahan yang positif bagi

PENDAHULUAN. Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Raden Aufa Mulqi, 2016

BAB I PENDAHULUAN. kependidikan sebagai unsur yang mempunyai posisi sentral dan strategis

BAB I PENDAHULUAN. dengan proses pendidikan yang bermutu (Input) maka pengetahuan (output) akan

BAB I PENDAHULUAN. Pendidikan merupakan salah satu kunci penanggulangan kemiskinan dalam jangka

I. PENDAHULUAN. Pada dasarnya pembangunan merupakan rangkaian kegiatan dari programprogram

BAB I PENDAHULUAN. Statistik Republik Indonesia (2013), menyatakan tingkat pengangguran

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah

BAB I PENDAHULUAN. satu titik yaitu rendahnya kualitas SDM (Sumber Daya Manusia). Hal tersebut

BAB I PENDAHULUAN. pada kemampuan bangsa itu sendiri dalam meningkatkan kualitas sumber daya

Bab I Pendahuluan. A. Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN. negara. Pendidikan tidak terlepas dari Kurikulum pendidikan yang telah

PENDIDIKAN PROVINSI JAMBI :

Gambar 1.1 Struktur Organisasi Kemdiknas

BAB I PENDAHULUAN. lebih tinggi (PP No. 47 Tahun 2008). Hal-hal itulah yang menjadi cita-cita

BAB I PENDAHULUAN. berbagai tantangan yang harus dihadapi. Melalui pendidikanlah seseorang dapat memperoleh

HASIL PEMETAAN PROGRAM WAJAR DIKDAS 9 TAHUN DI 6 KECAMATAN DI KABUPATEN GARUT

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah

BAB I PENDAHULUAN. Tujuan dari pembangunan nasional di bidang pendidikan, salah satunya adalah

BAB I PENDAHULUAN. (SISDIKNAS), penerapan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP),

Transkripsi:

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Penelitian Seiring dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang semakin kompleks, telah menjadikan kebutuhan manusia semakin kompleks pula, khususnya kebutuhan akan pendidikan sebagai suatu investasi. Oleh karena itu, Pemerintah selalu berupaya menyediakan layanan pemenuhan kebutuhan masyarakat akan pendidikan melalui suatu kebijakan yang tertuang dalam Undang-Undang Sistem Pendidikan Nasional No.20 Tahun 2003, pasal 13 ayat (1) yang disebutkan bahwa jalur pendidikan terdiri atas pendidikan formal, nonformal, dan informal yang dapat saling melengkapi dan memperkaya. Berbagai layanan pendidikan tersebut, secara umum ditujukan untuk pemerataan dan perluasan akses pendidikan sebagaimana diamanatkan dalam amandemen Undang-Undang Dasar negara republik Indonesia tahun 1945 pasal 31 ayat (1) bahwa setiap warga negara berhak mendapatkan pendidikan, lalu pada ayat (2) disebutkan bahwa setiap warga negara wajib mengikuti pendidikan dasar dan pemerintah wajib membiayainya. Namun demikan, upaya Pemerintah dalam rangka pemerataan dan perluasan akses pendidikan serta peningkatan mutu sumber daya manusia Indonesia masih belum sepenuhnya berhasil, berdasarkan Human Development Index Report 2011 yang dikeluarkan United Nations Development Programme (UNDP), Indeks Pembangunan Manusia (IPM) Indonesia di bidang pendidikan menduduki peringkat ke-119 dari 187 negara di dunia, dan berada pada peringkat ke-12 dari 21 Negara di Asia-Pasifik. Sementara itu, jika dilihat berdasarkan 1

capaian Angka Partisipasi Murni (APM) dan Angka Partisipasi Kasar(APK) pada jenjang SD/MI/Paket A dari 19 provinsi telah melampaui target nasional pada tahun 2009 sebesar 95,00%. Sedangkan capaian APM SD/MI/Paket A di 14 provinsi masih di bawah target nasional tahun 2009. Bila dilihat capaian APM SD/MI/Paket A pada tingkat kabupaten/kota, masih ada 155 kabupaten (42% dari 370 kabupaten) dan 18 kota (19% dari 93 kota) yang capaian APK SD/MI/Paket A-nya masih berada di bawah target nasional tahun 2009 (Renstra Depdiknas, 2010-2014:20). Sejalan dengan hal tersebut, dalam rangka mewujudkan salah satu target kebijakan Millenium Development Goals (MDG s) yaitu mencapai pendidikan dasar untuk semua yang ditargetkan harus sudah tercapai pada tahun 2015. Pemerintah Indonesia telah mengeluarkan kebijakan wajib belajar sembilan tahun sebagaimana disebutkan dalam PP No. 28 Tahun 1990 tentang pendidikan dasar pasal 2 yaitu bahwa pendidikan dasar merupakan pendidikan Sembilan tahun, terdiri atas program pendidikan enam tahun di Sekolah Dasar dan program pendidikan tiga tahun di Sekolah Lanjutan Tingkat Pertama. Namun sampai saat ini penuntasan wajib belajar pendidikan dasar sembilan tahun atau yang disebut dengan WAJARDIKDAS juga masih belum tercapai. Data Susenas tahun 2010 menunjukan angka putus sekolah jenjang pendidikan dasar masih perlu mendapatkan perhatian serius, angka putus sekolah untuk SD adalah 2,1 % dan angka putus SMP 4,4 %. Data di atas menunjukkan bahwa sampai saat ini masih banyak anak usia sekolah yang tidak tertampung dalam pendidikan formal serta tidak mendapatkan pendidikan sebagaimana mestinya. Jika hal ini dibiarkan ada kecenderungan anak- 2

anak yang putus sekolah ini akan menjadi pengangguran atau pekerja kasar. Bila tidak dilakukan langkah-langkah yang tepat, hal ini kemungkinan besar akan menimbulkan masalah sosial. Masih besarnya angka putus sekolah dan belum maksimalnya angka partisipasi siswa seperti terlihat pada data di atas, memberikan pekerjaan rumah bagi Pemerintah dan seluruh warga bangsa yang peduli akan pendidikan. Pendidikan formal semata sepertinya tidak akan mampu menjamin 100 persen generasi bangsa usia pendidikan dasar dapat menyelesaikan pendidikannya. Dengan demikian, jalur pendidikan non formal dan informal seperti homeschooling menjadi teramat penting untuk mengatasi ledakan anak putus sekolah atau paling tidak untuk mengatasi masalah sosial yang kemungkinan timbul. Oleh sebab itu, homeschooling ini akan menjadi solusi yang perlu mendapat perhatian demi tercapainya akses pendidikan bagi anak yang tidak bisa masuk ke pendidikan formal, baik karena alasan ekonomi, kendala geografis ataupun alasan-alasan lain yang tidak memungkinkan bagi anak tersebut untuk masuk ke pendidikan formal. sehingga tiga tahun mendatang diharapkan seluruh generasi bangsa telah menyelesaikan pendidikan dasar seperti yang ditargetkan MDG s baik melalui pendidikan formal, nonformal maupun informal seperti homeschooling. Namun demikian, hadirnya homeschooling yang relatif baru, telah menuai kesan negatif dari sebagian masyarakat. Sebagian masyarakat menganut paradigma yang keliru tentang homeschooling. Masyarakat berfikir bahwa homeschooling sama halnya dengan model pendidikan yang hanya ditujukan untuk mendapatkan ijazah semata tanpa pernah terjadi proses pembelajaran. Oleh karena itu, homeschooling dianggap tidak lagi mengarah pada peningkatan mutu 3

melainkan suatu pembodohan yang oleh kalangan tertentu bisa disalahgunakan. Sehingga masyarakat masih mempertanyakan jaminan kualitas homeschooling, yang mengakibatkan masyarakat menjadi ragu bahkan meremehkan mutu output homeschooling. Hal ini senada dengan hasil penelitian Nur (2009) dalam implementasi model homeschooling dalam mengatasi keterbatasan pendidikan formal pada Asosiasi homeschooling-pendidikan Alternatif (Asah-Pena) dan keluarga homeschooler di kota Malang, yaitu bahwa salah satu faktor penghambat implementasi homeschooling adalah anggapan sepele dari masyarakat, bahwa anak homeschooling itu tidak sekolah, sehingga masyarakat menganggap bahwa homeschooling adalah tidak belajar dan hanya buang-buang waktu saja. Padahal secara undang-undang homeschooling adalah legal dan diakui dalam sistem pendidikan nasional serta lulusannya-pun dihargai setara dengan hasil program pendidikan formal dan dapat melanjutkan ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi. Namun sebagian masyarakat tetap saja memandang rendah lulusan homeschooling. Kesalahan persepsi tersebut antara lain disebabkan karena: 1) kecendrungan publik untuk tetap berada dalam confort zone yang telah dijalaninya. Segala sesuatu yang baru dan berada diluar mainstream dianggap negatif. Sikap defensif ini sering melahirkan miskonsepsi dan memicu munculnya persepsi yang salah; 2) adanya kesibukan masyarakat sehingga tidak memungkinkannya untuk mengkaji lebih dalam mengenai sebuah hal, mereka hanya menanggapi berdasarkan asumsi-asumsi yang dimilikinya; 3) adanya keengganan meneliti lebih dalam, akibatanya terjadi pengulangan persepsi yang salah, tetapi dianggap benar (Sumardiono, 2007: 41). 4

Jika kesalahan persepsi masyarakat dalam memaknai homeschooling tersebut tetap dibiarkan, maka akan terjadi kesenjangan sosial dalam masyarakat, masyarakat akan mengucilkan lulusan homeschooling, dan ada kemungkinan lulusan homeschooling dikesampingkan bahkan sulit untuk diterima pada jenjang pendidikan formal yang lebih tinggi. Serta dampak lebih lanjutnya homeschooling akan gagal menjalankan fungsinya sebagai salah satu bentuk pendidikan informal yang turut berperan serta dalam rangka pemerataan dan perluasan akses pendidikan. Di sisi lain, Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi di era globalisasi ini sangat cepat, tiap tahun, tiap bulan, bahkan tiap hari berkembang dengan cepatnya. Dunia teknologi nampak membawa banyak perubahan di segala aspek kehidupan khususnya di bidang pendidikan. Homeschooling sebagai sebuah lembaga pendidikan mau tidak mau harus menghadapinya dan mengharuskan terjadinya perubahan ke arah yang lebih baik agar pendidikan homeschooling menjadi salah satu alternatif pilihan atau bahkan menjadi pilihan utama oleh masyarakat Indonesia. Homeschooling sebagai lembaga pendidikan yang lahir dari, dan untuk masyarakat harus secepat mungkin melakukan pembenahan diri dalam menjawab tuntutan masyarakat dan dunia. Untuk merespon tuntutan masyarakat dan menjaga jati diri homeschooling sebagai lembaga pendidikan yang berkualitas, maka homeschooling harus memiliki kurikulum yang berkualitas pula. Karena kurikulum merupakan alat yang sangat penting bagi keberhasilan suatu pendidikan, sebab berkaitan dengan penentuan arah, isi dan proses pendidikan, yang pada akhirnya menentukan macam dan kualifikasi lulusan suatu lembaga pendidikan. Kurikulum merupakan 5

alat yang krusial dalam merealisasikan program pendidikan, baik formal, informal maupun nonformal seperti homeschooling, sehingga gambaran sistem pendidikan dapat terlihat jelas dalam kurikulum tersebut. Dengan kata lain, sistem kurikulum pada hakekatnya adalah sistem pendidikan itu sendiri (Hamalik, 2009). Kurikulum merupakan salah satu komponen pendidikan yang sangat strategis karena merupakan seperangkat rencana dan pengaturan mengenai tujuan, isi, dan bahan pelajaran serta cara yang digunakan sebagai pedoman penyelenggaraan kegiatan pembelajaran untuk mencapai tujuan pendidikan tertentu. Kurikulum sebagai pedoman penyelenggaraan kegiatan pembelajaran memberikan makna bahwa di dalam kurikulum terdapat panduan interaksi antara guru dan peserta didik. Dengan demikian, kurikulum berfungsi sebagai nafas atau inti dari proses pendidikan di sekolah termasuk di homeschooling untuk memberdayakan potensi peserta didik. Tanpa kurikulum, suatu lembaga pendidikan termasuk homeschooling tidak akan mempunyai arah, karena tidak mempunyai rencana yang jelas dan rinci ke mana peserta didiknya akan di arahkan, dengan cara apa mereka akan dididik, dan apa isi pendidikannya. Di samping itu, untuk mencapai tujuan dan sasaran pendidikan yang diinginkan kurikulum yang digunakan harus sesuai dengan karakteristik dan juga potensi dari homeschooling tersebut. Untuk itu, pengembangan kurikulum tidak lagi sepenuhnya dikembangkan oleh pemerintah, tetapi satuan pendidikan termasuk homeschooling juga diberikan ruang untuk mengembangkan kurikulumnya disesuaikan dengan karakteristik dan potensi masing-masing satuan pendidikan dengan mengacu kepada permendiknas No 22 Tahun 2006 tentang Standar Isi (SI) dan permendiknas No. 23 tahun 2006 tentang 6

Standar Kompetensi Lulusan (SKL) serta berpedoman pada panduan Badan Standar Nasional Pendidikan (BSNP). Oleh karen itu, sejak bergulirnya era otonomi daerah pada tahun 2001, telah diberlakukan otonomi daerah dalam bidang pendidikan dan kebudayaan, di antara otonomi yang lebih besar diberikan kepada sekolah adalah menyagkut pengembangan kurikulum yang kemudian di sebut dengan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP). Mengingat pentingnya kurikulum dalam pendidikan, maka pengembangan kurikulum tidak dapat dilakukan secara sembarangan. Menurut Seller dan Miller (1985) proses pengembangan kurikulum adalah rangkaian kegiatan yang dilakukan secara terus-menerus. Rangkaian kegiatan pengembangan tersebut, dimulai dari menentukan orientasi kurikulum, dalam hal ini orientasi kurikulum berkenaan dengan proses pengembangan dokumen kurikulum. Berdasarkan orientasi itu selanjutnya kurikulum dikembangkan menjadi pedoman pembelajaran, diimplementasikan dalam proses pembelajaran dan dievaluasi. Hasil evaluasi itulah kemudian dijadikan bahan dalam menentukan orientasi, begitu seterusnya hingga membentuk siklus. Oleh karena itu, kedudukan kurikulum dan pengembannya sangat penting bagi setiap jenis pendidikan termasuk homeschooling. Homeschooling sebagai pendidikan informal tentunya memiliki kurikulum yang berbeda dengan kurikulum formal, karena kurikulumnya berbeda, maka secara otomatis pengembangan kurikulumnya-pun berbeda dengan pendidikan formal, oleh karena itu peneliti tertarik untuk mengetahui lebih jauh tentang pengembangan kurikulum homeschooling, sehingga dalam penelitian ini mengangkat judul Analisis pengembangan kurikulum homeschooling Malang. 7

B. Identifikasi dan Perumusan Masalah Berdasarkan uraian latar belakang penelitian di atas, maka masalah penelitian ini dapat diidentifikasikan, yaitu bahwa fokus penelitian ini adalah pengembangan kurikulum, pengembangan kurikulum ini dapat didefinisikan sebagai suatu rangkaian kegiatan yang dilakukan secara terus-menerus (Seller dan Miller, 1985). Rangkaian kegiatan pengembangan tersebut dapat digambarkan dalam gambar berikut. Gambar 1.1 Rangkaian kegiatan pengembangan kurikulum (diadaptasi dari Seller dan Miller, 1985) Gambar di atas, menunjukkan bahwa rangkaian kegiatan pengembangan kurikulum ini meliputi: 1) orientasi kurikulum, hal ini berkenaan dengan mekanisme pengembangan dokumen kurikulum; 2) development; merupakan pengembangan kurikulum dalam bentuk dokumen tertulis untuk dijadikan sebagai pedoman pembelajaran/merupakan hasil pengembangan dokumen kurikulum; 3) implementasi kurikulum; dan 4) evaluasi kurikulum. Hasil evaluasi itulah kemudian dijadikan bahan dalam menentukan orientasi, begitu seterusnya hingga membentuk siklus (Seller dan Miller, 1985). 8

Berdasakan uraian latar belakang serta identifikasi masalah penelitian di atas, maka rumusan masalah penelitian ini sebagai berikut. 1. Bagaimanakah mekanisme pengembangan dokumen kurikulum komunitas homeschooling program paket A Malang? 2. Bagaimanakah hasil pengembangan dokumen kurikulum komunitas homeschooling program paket A Malang? 3. Bagaimanakah Implementasi Kurikulum komunitas homeschooling program paket A Malang? 4. Bagaimanakah evaluasi Kurikulum komunitas homeschooling program paket A Malang? C. Tujuan Penelitian Sejalan dengan rumusan masalah penelitian di atas, maka tujuan penelitian ini dapat ditinjau dari segi tujuan umum dan tujuan khusus sebagai berikut. 1. Tujuan Umum Secara umum penelitian ini betujuan untuk mendiskripsikan dan menganalisis pengembangan kurikulum komunitas homeschooling program paket A Malang. 2. Tujuan Khusus a. Untuk mendiskripsikan mekanisme pengembangan dokumen kurikulum komunitas homeschooling program paket A Malang. b. Untuk mendiskripsikan hasil pengembangan dokumen kurikulum komunitas homeschooling program paket A Malang c. Untuk mendiskripsikan implementasi kurikulum komunitas homeschooling program paket A Malang 9

d. Untuk mendiskripsikan evaluasi yang digunakan dalam proses pembelajaran peserta didik sebagai acuan dalam evaluasi kurikulum komunitas homeschooling program paket A Malang D. Manfaat Penelitian Berdasarkan pada tujuan penelitian yang telah diuraikan di atas, maka diharapkan hasil penelitian ini dapat memberikan sejumlah manfaat antara lain sebagai berikut. 1. Manfaat teoritis. a. Dapat menambah dan memperdalam pengetahuan di bidang kajian pengembangan kurikulum homeschooling bagi penyelenggara homeschooling serta seluruh masyarakat yang tertarik untuk menyelenggarakan homeschooling. b. Dapat dijadikan sumber referensi/rujukan bagi penyelenggara homeschooling dan seluruh masyarakat yang menyelenggarakan homeschooling dalam rangka mengembangkan kurikulumnya. c. Dapat dijadikan referensi ilmiah bagi peneliti di masa mendatang yang hendak melakukan penelitian tentang pengembangan kurikulum. 2. Manfaat Kebijakan Sebagai bahan masukan bagi pengambil kebijakan dalam menentukan sistem pengembangan kurikulm homeschooling khususnya di malang, sehingga diharapkan dapat memberikan kontribusi terhadap peningkatan mutu homeschooling 10

3. Manfaat Praktis Sebagai bahan masukan bagi penyelenggara komunitas homeschooling dalam rangka pengembangan kurikulum homeschooling selanjutnya. 4. Manfaat Isu Dapat dijadikan sebagai sumber isu untuk mensosialisasikan homeschooling kepada masyarakat lewat pengembangan kurikulumnya, sehingga dapat mengurangi persepsi yang keliru dari masyarakat terhadap homeschooling. 11