BAB II KAJIAN PUSTAKA, KERANGKA PEMIKIRAN DAN HIPOTESIS. Pengertian auditing menurut Arens, Elder dan Beasley (2008 : 4) yaitu:

dokumen-dokumen yang mirip
BAB II KAJIAN PUSTAKA, KERANGKA PEMIKIRAN DAN HIPOTESIS. Pengertian audit menurut Arens et al (2008 : 4) adalah sebagai berikut:

Buku Wajib: Standar Profesional Akuntan Publik, 2007, Ikatan Akuntan Indonesia

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB I PENDAHULUAN. keuangan yang telah diaudit oleh akuntan publik kewajarannya lebih dapat

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB I PENDAHULUAN. mulai tumbuhnya perusahaan-perusahaan di Indonesia. Sejalan dengan

BAB II LANDASAN TEORI. akuntan. Ada beberapa pengertian auditing atau pemeriksaan akuntan menurut

Pengertian Audit. ( Pertemuan ke-2) Antariksa Budileksmana Antariksa Budileksmana Prodi Akuntansi UMY 2-1

AUDITING LITERATUR: Drs. Hardi, SH, MM, MH, Ak 1

BAB I PENDAHULUAN. Setiap awal dan pertengahan tahun halaman-halaman surat kabar sering

KEBUTUHAN EKONOMIS akan AUDITING

BAB I PENDAHULUAN. kepatuhan dan audit laporan keuangan (Arens dan Loebbecke, 2003). Akuntan

BAB I PENDAHULUAN. akuntan publik kewajarannya lebih dapat dipercaya dibandingkan laporan keuangan yang tidak

BAB I PENDAHULUAN. perusahaan juga meningkat. Menurut Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan (PSAK)

BAB I PENDAHULUAN. laporan keuangan adalah relevan (relevance) dan dapat diandalkan (reliable). Kedua

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB I PENDAHULUAN. Profesi akuntan publik merupakan salah satu profesi yang dipercayai oleh

BAB I PENDAHULUAN. dipertanggungjawabkan kepada pihak luar, dimana pihak luarpun memerlukan

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

: Tabel Distribusi Kuesioner pada KAP di Jakarta dan Tangerang

PT LIPPO KARAWACI Tbk Piagam Audit Internal

BAB I PENDAHULUAN. pihak internal maupun pihak eksternal perusahaan. Menurut FASB, dua

BAB II LANDASAN TEORI. mengoptimalkan keuntungan para pemilik (principal), namun di sisi lain

BAB I PENDAHULUAN. Meningkatnya pertumbuhan profesi auditor berbanding sejajar dengan

BAB 1 PENDAHULUAN. akurat dan dapat di percaya untuk pengambilan keputusan. Laporan keuangan yang

BAB 2 TINJAUAN TEORETIS DAN PERUMUSAN HIPOTESIS

BAB I PENDAHULUAN. suatu perusahaan digunakan untuk menjamin kelangsungan hidup perusahaan dan

BAB II KAJIAN PUSTAKA, RERANGKA PEMIKIRAN DAN HIPOTESIS. berdasarkan standar auditing yang berlaku umum. Berdasarkan definisi

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang Masalah. Seiring dengan berjalannya waktu, perkembangan dunia usaha dan industri

BAHAN AJAR PEMERIKSAAN AKUNTAN 1. Oleh: Erni Suryandari F, SE., M.Si

BAB I PENDAHULUAN. Fenomena yang dihadapi dunia pengauditan global beberapa tahun terakhir

PIAGAM AUDIT INTERNAL

BAB I PENDAHULUAN. (KAP) untuk mengaudit laporan keuangannya. untuk menaikkan tingkat keandalan laporan keuangan. Para pengguna

BAB 1 PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah

BAB 1 PENDAHULUAN. mempengaruhi pandangan masyarakat terhadap kualitas audit yang dihasilkan oleh

BAB II KAJIAN PUSTAKA, KERANGKA PEMIKIRAN DAN HIPOTESIS. independen yang bertujuan untuk mengevaluasi atau mengukur

BAB 1 PENDAHULUAN. entitas bisnis, terutama yang berskala menengah hingga berskala besar. Setiap tahunnya

BAB I PENDAHULUAN. perusahaan dalam melakukan audit (Mulyadi dan Puradiredja, (1998)

BAB I PENDAHULUAN. untuk mengaudit laporan keuangan perusahaannya. pihak internal maupun eksternal. Sudah menjadi kewajiban perusahaan

BAB II KAJIAN PUSTAKA. variabel kompetensi, independensi, dan profesionalisme memiliki pengaruh

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB I PENDAHULUAN. dan audit laporan keuangan (Arens dan Loebbecke, 2003). Akuntan publik dalam

BAB II KAJIAN PUSTAKA DAN HIPOTESIS PENELITIAN. Pada bagian kajian pustaka dan hipotesis penelitian akan diuraikan teoriteori

BAB I PENDAHULUAN. akuntan yang sesuai dengan kriteria-kriteria yang ditetapkan dalam Standar

BAB I PENDAHULUAN. oleh pihak internal maupun pihak eksternal perusahaan. Menurut FASB, ada

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Menurut De Angelo (1981) dalam Watkins et al (2004) mendefinisikan

STANDAR UMUM DAFTAR I SI. 201 Sifat Standar Umum Tanggal Berlaku Efektif 02

BAB I PENDAHULUAN. Kualitas audit termasuk salah satu jasa yang sulit untuk diukur secara

BAB I PENDAHULUAN. profesi akuntan publik, masyarakat mengharapkan penilaian bebas dan tidak

BAB I PENDAHULUAN. persaingan bisnis dituntut untuk lebih produktif dan memiliki kinerja yang baik

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Bab ini merupakan tinjauan atas berbagai referensi, literatur, jurnal-jurnal

BAB I PENDAHULUAN. yang lainnya. Salah satunya dilakukan dalam penyajian laporan keuangan

PENGARUH KUALITAS AUDITOR, INDEPENDENSI DAN OPINI AUDITOR TERHADAP KUALITAS LAPORAN KEUANGAN

BAB I PENDAHULUAN. yang akuntabel dan transparan ditandai dengan diterbitkannya Peraturan

BAB I PENDAHULUAN. atas kinerja perusahaan melalui pemeriksaan laporan keuangan. Laporan

BAB I PENDAHULUAN. Akuntansi memiliki dua fungsi dasar yang saling melengkapi, yaitu : untuk

BAB I PENDAHULUAN. Institusi keuangan telah menjadi financial supermarket dengan jaringan

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. berhasil mencapai visi dan misinya. Hal tersebut dapat dilihat dari besarnya jumlah

BAB I PENDAHULUAN. yang akurat dan dapat dipercaya untuk pengambilan keputusan. Laporan

BAB 1 PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah

2.4 KODE ETIK AKUNTAN INDONESIA

BAB 1 PENDAHULUAN. sedangkan pengauditan biasanya tidak menghasilkan data akuntansi, melainkan

BAB II LANDASAN TEORI. sebaiknya kita perlu mengetahui definisi auditing terlebih dahulu. Ada

BAB I PENDAHULUAN. perusahaan kepada pihak-pihak yang berkepentingan atau para stakeholder.

BAB II KAJIAN PUSTAKA. harus memegang prinsip-prinsip profesi. Menurut Simamora (2002) ada 8 prinsip. dalam semua kegiatan yang dilakukannya.

BABl PENDAHULUAN. Auditing internal adalah sebuah fungsi penilaian independen yang

BAB I PENDAHULUAN. harus adanya pemisahan tanggung jawab antara prinsipal dan agen. Prinsipal

BAB I PENDAHULUAN. dalam melaksanakan pemeriksaan akuntan, memperoleh kepercayaan dari klien

BAB II LANDASAN TEORI

BAB I PENDAHULUAN. kemudian mengkomunikasikan hasilnya kepada pihak-pihak yang. berkepentingan (Boynton et al.,2001) dalam (Junaidi, 2016).

BAB I PENDAHULUAN. informasi yang terdapat antara manajer dan pemegang saham. Untuk itu

BAB I PENDAHULUAN. masyarakat adalah jasa auditor. Profesi akuntan publik bertanggungjawab untuk menaikkan

- 1 - LAMPIRAN SURAT EDARAN OTORITAS JASA KEUANGAN NOMOR 7 /SEOJK.03/2016 TENTANG STANDAR PELAKSANAAN FUNGSI AUDIT INTERN BANK PERKREDITAN RAKYAT

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang. Profesi akuntan publik merupakan salah satu profesi yang dianggap sangat

Standar Auditing & Kode Etik

BAB 1 PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah

BAB 1 PENDAHULUAN. informasi yang terdapat antara manajer dan pemegang saham, sehingga

DAN KODE ETIK AKUNTAN PUBLIK by Ely Suhayati SE MSi Ak Ari Bramasto SE Msi Ak

BAB I PENDAHULUAN. objektif, tidak ada definisi yang pasti mengenai kualitas audit. Kualitas audit

BAB I PENDAHULUAN. laporan keuangan (Mulyadi dan Puradiredja, 1998:3). Akuntan publik merupakan

BAB I PENDAHULUAN. Menurut Miller dan Bailey (2001), auditing adalah: An audit

BAB 1 PENDAHULUAN. Pada saat sekarang ini, keberadaan dan peran profesi auditor mengalami

BAB I PENDAHULUAN. semakin meningkatnya permasalahan ekonomi yang dihadapi oleh perusahaan

PT LIPPO KARAWACI Tbk Piagam Audit Internal

BAB I PENDAHULUAN. Nepotisme). Banyaknya kasus korupsi yang terjadi akhir-akhir ini menjadikan

BAB II KAJIAN PUSTAKA, KERANGKA PEMIKIRAN, DAN HIPOTESIS

BAB I PENDAHULUAN. Perkembangan perekonomian saat ini sedang mengarah pada persaingan usaha

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar belakang masalah. untuk mengaudit laporan keuangan perusahaan. Selain digunakan oleh

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. Di dalam suatu perusahaan, pihak manajemen diberikan

BAB I PENDAHULUAN. dunia usaha yang semakin kompetitif (Nirmala dan Cahyonowati, 2013).

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

2. Pertanyaan Mengenai Persepsi terhadap Kode Etik Akuntan

BAB I PENDAHULUAN. pada laporan keuangan perusahaan terutama yang berbentuk Perseroan Terbatas,

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Sebagai acuan dari penelitian ini dapat disebutkan salah satu hasil penelitian

Kode Etik Ikatan Akuntan Indonesia terdiri dari tiga bagian:

BAB I PENDAHULUAN. suatu organisasi. Profesi ini dikenal masyarakat melalui jasa audit yang disediakan

BAB 1 PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah

BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah

BAB II KAJIAN PUSTAKA DAN KERANGKA PEMIKIRAN

BAB I PENDAHULUAN. bervariasi. Persaingan antara perusahaan semakin meningkat diiringi berbagai

Transkripsi:

BAB II KAJIAN PUSTAKA, KERANGKA PEMIKIRAN DAN HIPOTESIS 2.1 Kajian Pustaka 2.1.1 Auditing dan Profesi Akuntan Publik 2.1.1.1 Pengertian Auditing Pengertian auditing menurut Arens, Elder dan Beasley (2008 : 4) yaitu: Auditing is the accumulation and evaluation efidence about information to determine and report on the degree of correspondence between information and established criteria. Auditing should be done by a competent independent person. Pengertian auditing menurut American Accounting Association (AAA) dalam Siti Kurnia Rahayu dan Ely Suhayati (2010 : 1), yaitu : Auditing is a systematic process of objectively obtaining and evaluating evidence regarding assertions about economic actions and events to ascertain the degree of correspondence between those assertions and established criteria and communicating the results to interested users. Berdasarkan pengertian di atas auditing adalah suatu proses yang sistematis untuk memperoleh dan mengevaluasi bukti secara objektif mengenai informasi tingkat kesesuaian antara tindakan atau peristiwa ekonomi dengan kriteria yang telah ditetapkan, serta melaporkan hasilnya kepada pihak yang membutuhkan, dimana auditing harus dilakukan oleh orang yang kompeten dan independen. 15

Bab II Kajian Pustaka, Kerangka Pemikiran dan Hipotesis 16 Kemudian bisa disimpulkan beberapa unsur penting dari pengertian auditing : 1. Proses sistematik Auditing merupakan suatu proses sistematik, yaitu berupa suatu rangkaian langkah atau prosedur yang logis, berkerangka dan terorganisasi. 2. Audit dilakukan untuk memperoleh dan mengevaluasi bukti secara obyektif Proses sistematik tersebut ditunjukan untuk memperoleh bukti yang mendasari pernyataan yang dibuat oleh seorang individu, serta untuk mengevaluasi tanpa memihak atau berprasangka terhadap bukti-bukti tersebut. 3. Audit harus dilakukan oleh seorang yang kompeten dan independen Seorang auditor harus cukup qualified untuk memahami kriteria yang digunakan dan cukup kompeten untuk mengetahui berapa jumlah dan jenis bukti yang dibutuhkan untuk mengambil kesimpulan. Seorang auditor juga harus memiliki sikap mental yang independen. 4. Kriteria yang ditetapkan Standar yang dipakai sebagai dasar untuk menilai pernyataan dapat berupa : Peraturan yang ditetapkan oleh suatu badan legislatif Anggaran atau ukuran prestasi lain yang ditetapkan oleh manajemen

Bab II Kajian Pustaka, Kerangka Pemikiran dan Hipotesis 17 Prinsip akuntansi yang lazim diterapkan (Generally accepted accounting principles) 5. Pelaporan Pelaporan merupakan alat untuk mengkomunikasikan penemuan pada pihak yang berkepentingan. Laporan yang dilakukan dalam bentuk tertulis ini dapat menaikkan atau menurunkan tingkat kepercayaan masyarakat keuangan atas pernyataan yang dibuat oleh pihak yang menjadi auditee 2.1.1.2 Perbedaan Akuntansi dan Auditing Tabel 2.1 Perbedaan Akuntansi dan Auditing Klasifikasi Perbedaan Akuntansi Auditing Metode Mengidentifikasi, Mengumpulkan dan mengukur, mencatat, mengevaluasi bukti mengklasifikasikan, dan mengenai informasi mengikhtisarkan peristiwa dalam laporan keuangan dan transaksi ekonomi. serta verifikasi kewajaran penyajian. Tujuan Mengkomunikasikan Meningkatkan informasi keuangan yang kredibilitas laporan relevan dan reliable untuk pengambilan keputusan. keuangan yang dibuat manajemen. Kriteria Standar Akuntansi Standar Auditing. Keuangan. Hasil Laporan Keuangan. Laporan Auditor (opini). Tanggungjawab Manajemen Auditor bertanggungjawab atas bertanggungjawab atas laporan keuangan yang pernyataan pendapat dibuat. yang diberikan.

Bab II Kajian Pustaka, Kerangka Pemikiran dan Hipotesis 18 2.1.1.3 Jenis Audit Menurut Siti Kurnia Rahayu dan Ely Suhayati (2010 : 4) jenis audit terditi dari 3 macam, yaitu : 1. Audit Laporan Keuangan Audit laporan keuangan bertujuan untuk menentukan apakah laporan keuangan telah disajikan wajar, sesuai dengan kriteria-kriteria tertentu. 2. Audit Operasional Perkembangan bisnis membuat pemegang saham sudah tidak dapat mengikuti semua kegiatan operasi perusahaannya sehari-hari, sehingga mereka membutuhkan auditor manajemen yang profesional untuk membantu mereka dalam mengendalikan operasional perusahaan. 3. Audit Kepatuhan Audit Kepatuhan bertujuan untuk menentukan apakah auditee (yang diperiksa) telah mengikuti kebijakan, prosedur, dan peraturan yang telah ditentukan pihak yang otoritasnya lebih tinggi. 2.1.1.4 Jenis Auditor Jenis-jenis auditor ada empat, yaitu : 1. Auditor Eksternal / Akuntan Publik / Auditor Independen Auditor yang melakukan fungsi pengauditan atas laporan keuangan yang diterbitkan oleh perusahaan. Praktik akuntan publik harus dilakukan melalui suatu Kantor Akuntan Publik. 2. Auditor Pemerintah Auditor yang bertugas melakukan audit atas keuangan pada instansinstansi pemerintah.

Bab II Kajian Pustaka, Kerangka Pemikiran dan Hipotesis 19 3. Auditor Internal Auditor yng bekerja pada suatu perusahaan dan berstatus sebagai pegawai perusahaan tersebut bertugas membantu manajemen perusahaan tempat dimana ia bekerja. 4. Auditor Pendidik Auditor yang bekerja sebagai pendidik. 2.1.1.5 Pengertian Akuntan Publik Akuntan publik (auditor eksternal) adalah profesi yang mempunyai posisi unik. Pada satu sisi mendapat honor dari klien, tetapi dalam menjalankan praktik publik ia harus bersifat independen, yaitu tidak memihak pada salah satu pihak, baik klien maupun pihak lainnya. Akuntan publik menurut Kode Etik Akuntan Indonesia dalam pembukaannya, yaitu : Akuntan publik adalah profesi yang terdiri dari landasan kepercayaan masyarakat. Dengan demikian dalam melaksanakan tugasnya akuntan publik harus mengutamakan kepentingan masyarakat, pemerintah dan dunia usaha. Akuntan publik menurut Keputusan Menteri Keuangan RI No. 423/KMK 06/2002, yaitu : Akuntan publik adalah akuntan yang telah memperoleh ijin Menteri untuk memberikan jasa sebagaimana diatur di dalam Keputusan Menteri Keuangan.

Bab II Kajian Pustaka, Kerangka Pemikiran dan Hipotesis 20 Auditor independen menurut Siti Kurnia Rahayu dan Ely Suhayati (2010 : 13), yaitu: Auditor independen berasal dari Kantor Akuntan Publik, bertanggung jawab atas audit laporan keuangan historis auditee-nya. Berdasarkan definisi-definisi di atas dapat disimpulkan bahwa akuntan yang memperoleh ijin dari Menteri Keuangan dan merupakan profesi yang berdiri atas landasan kepercayaan masyarakat yang dibayar oleh klien, tetapi dalam melaksanakan praktiknya harus profesional dan bertanggung jawab serta harus mengutamakan kepentingan masyarakat, pemerintah dan dunia usaha. 2.1.1.6 Jasa Akuntan Publik Profesi Akuntan Publik (Auditor Eksternal) menghasilkan berbagai macam jasa bagi masyarakat yang digolongkan ke dalam tiga kelompok, yaitu : 1. Jasa Assurance Jasa Assurance adalah pelayanan atau jasa profesional independen yang dapat meningkatkan kualitas informasi bagi para pembuat keputusan. Individu yang bertanggung jawab atas pembuatan keputusan bisnis akan mencari jasa assurance untuk membantu meningkatkan kepercayaan dan kesesuaian informasi yang digunakan sebagai dasar

Bab II Kajian Pustaka, Kerangka Pemikiran dan Hipotesis 21 keputusan mereka. Jasa Assurance bernilai karena penyedia assurance merupakan seorang yang independen dan bertindak secara objektif terhadap informasi yang diujinya. Salah satu kategori jasa yang disediakan oleh kantor akuntan publik adalah jasa atestasi. Atestasi merupakan salah satu jenis jasa assurance yang disediakan oleh kantor akuntan publik, dimana akuntan publik akan menerbitkan laporan tertulis yang isinya antara lain berupa suatu kesimpulan tentang kepercayaan atas asersi (pernyataan yang menyebutkan sesuatu itu benar). Terdapat 3 jenis atestasi yaitu : a. Audit atas laporan keuangan historis Audit atas laporan keuangan historis merupakan bentuk jasa atestasi yang mana auditor menerbitkan laporan tertulis berisi pendapat atau opininya mengenai apakah laporan keuangan historis tersebut telah disusun berdasarkan prinsip-prinsip akuntansi yang berlaku secara umum. Audit mendominasi bentuk jasa atestasi yang sering dilakukan oleh kantor akuntan publik. b. Tinjauan atas Laporan Keuangan Historis Suatu tinjauan atas laporan keuangan historis merupakan jenis jasa atestasi lainnya yang dapat dilakukan oleh kantor akuntan publik. Sebagian besar perusahaan non publik ingin menyediakan

Bab II Kajian Pustaka, Kerangka Pemikiran dan Hipotesis 22 informasi yang dapat diandalkan dalam laporan keuangan mereka, tanpa menyebabkan timbulnya biaya untuk melakukan proses audit. c. Jasa-Jasa Atestasi Lainnya Kantor Akuntan Publik menyediakan beraneka ragam jasa-jasa atestasi lainnya. Sebagian besar dari jenis jasa ini merupakan suatu pengembangan alami dari audit atas laporan keuangan historis, akibat dari keinginan para pengguna informasi untuk mencari rasa keandalan dari pihak independen tentang berbagai jenis informasi. 2. Jasa Assurance lainnya Sebagian besar jasa-jasa assurance lainnya yang disediakan oleh kantor akuntan publik tidak memenuhi definisi formal dari jasa-jasa atestasi. Jasa-jasa ini agak berbeda dengan jasa atestasi, karena dalam prosesnya, seorang auditor tidak perlu membuat suatu laporan tertulis, serta keandalan yang dapat diberikan tidak selalu atas kepercayaan pada asersi tertulis pihak lainnya tentang kepatuhannya akan kriteria-kriteria tertentu. 3. Jasa non Assurance Kantor Akuntan Publik menyediakan sejumlah jasa lainnya, yang pada umumnya berada di luar lingkup jasa assurance. Tiga contoh spesifik dari jasa non-assurance yang sering disediakan oleh akuntan publik adalah jasa akuntansi dan pembukuan, jasa perpajakan, dan jasa konsultasi manajemen.

Bab II Kajian Pustaka, Kerangka Pemikiran dan Hipotesis 23 2.1.1.7 Organisasi dalam Kantor Akuntan Publik Umumnya auditor dalam penugasan di dalam kantor akuntan publik dibagi menjadi beberapa, yaitu : 1. Partner Menduduki jabatan tertinggi dalam penugasan audit, bertanggungjawab atas hubungan dengan klien, bertanggungjawab secara menyeluruh mengenai auditing. Partner menandatangani laporan audit dan management letter dan bertanggungjawab atas penagihan audit fee dari klien. Pengalaman kerja lebih dari 10 tahun. 2. Manajer/Supervisor Manajer bertindak sebagai pengawas audit, bertugas untuk membantu auditor senior dalam merencanakan program audit dan waktu audit, mereviev kertas kerja, laporan audit dan management letter. Biasanya manajer melakukan pengawasan terhadap pekerjaan beberapa auditor senior. Pekerjaan klien tidak berada di kantor klien, melainkan di kantor auditor, dalam bentuk pengawasan terhadap pekerjaan yang dilaksanakan para auditor senior. Pengalaman kerja 5-10 tahun. 3. Auditor senior Auditor senior bertugas untuk melaksanakan audit, bertanggungjawab dan mengusahakan biaya audit dan waktu audit sesuai dengan rencana, bertugas untuk mengarahkan dan mereviev pekerjaan auditor

Bab II Kajian Pustaka, Kerangka Pemikiran dan Hipotesis 24 junior. Auditor senior biasanya akan menetap di kantor klien sepanjang prosedur audit dilaksanakan. Pengalaman kerja 2-5 tahun. 4. Auditor junior Auditor junior melaksanakan prosedur audit secara rinci, membuat kertas kerja untuk mendokumentasikan pekerjaan audit yang telah dilaksanakan. Pekerjaan ini biasanya dipegang oleh auditor yang baru saja menyelesaikan pendidikan formalnya di sekolah. Dalam melaksanakan pekerjaannya sebagai auditor junior, seorang auditor harus belajar secara rinci mengenai pekerjaan audit. Biasanya ia melaksanakan audit di berbagai jenis perusahaan. Ia harus banyak melakukan audit di lapangan dan di berbagai kota, sehingga ia dapat memperoleh pengalaman banyak dalam menangani berbagai masalah audit. Pengalaman kerja 0-2 tahun. 2.1.2 Independensi Auditor Eksternal Pengertian independensi menurut Arens, Elder dan Beasley yang diterjemahkan oleh herman wibowo (2008 : 111), yaitu : Independensi dalam audit berarti cara pandang yang tidak memihak di dalam pelaksanaan pengujian, evaluasi hasil pemeriksaan, dan penyusunan laporan audit.

Bab II Kajian Pustaka, Kerangka Pemikiran dan Hipotesis 25 Sedangkan pengertian independensi menurut Siti Kurnia Rahayu dan Ely Suhayati (2010 : 51) yaitu : Independensi adalah cara pandang yang tidak memihak di dalam pelaksanaan pengujian, evaluasi hasil pemeriksaan, dan penyusunan laporan audit. Menurut Arens, Elder dan Beasley yang diterjemahkan oleh Herman Wibowo (2008 : 111), sikap mental independen tersebut meliputi : 1. Independen dalam fakta (in fact) Independen dalam fakta adalah independen dalam diri auditor, yaitu kemampuan auditor untuk bersikap bebas, jujur, dan objektif dalam melakukan penugasan audit. Contohnya auditor harus memiliki kejujuran yang tidak memihak dalam menyatakan pendapatnya dan dalam mempertimbangkan faktafakta yang dipakai sebagai dasar pemberian pendapat. 2. Independen dalam penampilan (in appearance) Independen dalam penampilan adalah independen yang dipandang dari pihak-pihak yang berkepentingan terhadap perusahaan yang di audit yang mengetahui hubungan antara auditor dengan kliennya. Contohnya auditor akan dianggap tidak independen apabila auditor tersebut mempunyai hubungan tertentu (misalnya hubungan keluarga, hubungan keuangan) dengan kliennya yang dapat menimbulkan kecurigaan bahwa auditor tersebut akan memihak kliennya atau tidak independen. Menurut Mulyadi dalam Agustin (2007) Faktor-faktor yang mempengaruhi independensi adalah : 1. Lama Hubungan dengan klien Berdasarkan Keputusan Menteri Keuangan No.423/KMK.06/2002 tentang jasa akuntan publik, membatasi masa kerja auditor paling lama 3 tahun untuk klien yang sama, sementara untuk Kantor Akuntan Publik (KAP) boleh sampai 5 tahun. Pembatasan ini dimaksudkan

Bab II Kajian Pustaka, Kerangka Pemikiran dan Hipotesis 26 agar auditor tidak terlalu dekat dengan klien sehingga dapat mencegah terjadinya skandal akuntansi. 2. Besar audit fee yang dibayar klien Besar audit fee dapat berbeda-beda tergantung pada resiko penugasan, kompleksitas jasa yang diberikan, tingkat keahlian yang diperlukan untuk melaksanakan jasa tersebut, struktur biaya Kantor Akuntan Publik yang bersangkutan dan pertimbangan profesional lainnya. 3. Hubungan keluarga akuntan berupa suami/istri, saudara sedarah dengan klien Hubungan keluarga akuntan ini akan membuat seorang auditor diragukan keindependensiannya. Hubungan keluarga yang pasti akan mengancam independensi seperti auditor eksternal yang bersangkutan, staf yang terlibat dalam penugasan itu merupakan suami/istri ataupun saudara sedarah. Pengertian klien disini adalah pemilik perusahaan, pemegang saham utama, direksi dan eksekutif lainnya. Menurut Pernyataan Standar Auditing (PSA No. 04) dalam Standar Auditing (SA Seksi 220) tentang independensi auditor eksternal : 01 Standar umum kedua berbunyi: "Dalam semua hal yang berhubungan dengan perikatan, independensi dalam sikap mental harus dipertahankan oleh auditor. " 02 Standar ini mengharuskan auditor bersikap independen, artinya tidak mudah dipengaruhi, karena ia melaksanakan pekerjaannya untuk kepentingan umum (dibedakan dalam hal ia berpraktik sebagai auditor intern). Dengan demikian, ia tidak dibenarkan memihak kepada kepentingan siapa pun, sebab bagaimana pun sempurnanya keahlian teknis yang ia miliki, ia akan kehilangan sikap tidak memihak, yang justru sangat penting untuk mempertahankan kebebasan pendapatnya. Namun, independensi dalam hal ini tidak berarti seperti sikap seorang penuntut dalam perkara pengadilan, namun lebih dapat disamakan dengan sikap tidak memihaknya seorang hakim. Auditor mengakui kewajiban untuk jujur tidak hanya kepada manajemen dan pemilik perusahaan, namun juga kepada kreditur dan pihak lain yang meletakkan kepercayaan (paling t idak sebagian) atas laporan auditor independen, seperti calon-calon pemilik dan kreditur. 03 Kepercayaan masyarakat umum atas independensi sikap auditor independen sangat penting bagi perkembangan profesi akuntan publik. Kepercayaan masyarakat akan menurun jika terdapat bukti bahwa independensi sikap auditor ternyata berkurang, bahkan kepercayaan masyarakat dapat juga menurun disebabkan oleh keadaan yang oleh mereka yang berpikiran sehat (reasonable) dianggap dapat mempengaruhi sikap independen tersebut. Untuk menjadi independen, auditor harus secara

Bab II Kajian Pustaka, Kerangka Pemikiran dan Hipotesis 27 intelektual jujur. Untuk diakui pihak lain sebagai orang yang independen, ia harus bebas dari setiap kewajiban terhadap kliennya dan tidak mempunyai suatu kepent ingan dengan kliennya, apakah itu manajemen perusahaan atau pemilik perusahaan. Sebagai contoh, seorang auditor yang mengaudit suatu perusahaan dan ia juga menjabat sebagai direktur perusahaan tersebut, meskipun ia telah menggunakan keahliannya dengan jujur, namun sulit untuk mengharapkan masyarakat mempercayainya sebagai seorang yang independen. Masyarakat akan menduga bahwa kesimpulan dan langkah yang diambil oleh auditor independen selama auditnya dipengaruhi oleh kedudukannya sebagai anggota direksi. Demikian juga halnya, seorang auditor yang mempunyai kepentingan keuangan yang cukup besar dalam perusahaan yang diauditnya; mungkin ia benar-benar tidak memihak dalam menyatakan pendapatnya atas laporan keuangan tersebut, namun, bagaimana pun juga masyarakat tidak akan percaya, bahwa ia bersikap jujur dan tidak memihak. Auditor independen tidak hanya berkewajiban mempertahankan fakta bahwa ia independen, namun ia harus pula menghindari keadaan yang dapat menyebabkan pihak luar meragukan sikap independensinya. 2.1.3 Kinerja Auditor Eksternal Pengertian Kinerja Menurut Larkin dalam Trisnaningsih (2007), yaitu : Kinerja merupakan hasil kerja secara kuantitas maupun kualitas yang dicapai oleh seseorang dalam menjalankan tugasnya sesuai dengan tanggung jawab yang diberikan kepadanya. Terkait dengan kinerja auditor, terdapat empat dimensi personalitas dalam mengukur kinerja auditor yaitu kemampuan, komitmen profesional, motivasi dan kepuasan kerja. Pengertian Kinerja Menurut Mahsun, Firma dan Heribertus (2006 :145), yaitu : Kinerja (performance) adalah gambaran mengenai tingkat pencapaian pelaksanaan suatu kegiatan / program / kebijakan dalam mewujudkan sasaran, tujuan, misi dan visi organisasi yang tertuang dalam strategic planning suatu organisasi. Istilah kinerja sering digunakan untuk menyebut prestasi atau tingkat keberhasilan individu maupun kelompok individu.

Bab II Kajian Pustaka, Kerangka Pemikiran dan Hipotesis 28 Ada 6 kriteria primer untuk mengukur kinerja menurut Bernardin dan Russel dalam Herwan Abdul (2005), yaitu : 1. Kualitas (quality), merupakan tingkat sejauh mana proses atau hasil pelaksanaan kegiatan mendekati tujuan yang diharapkan. 2. Kuantitas (quantity), merupakan jumlah yang dihasilkan, misalnya jumlah rupiah, jumlah unit, jumlah siklus kegiatan yang diselesaikan. 3. Ketepatan waktu (timelines) adalah sejauh mana suatu kegiatan diselesaikan pada waktu yang dikehendaki dengan memperhatikan koordinasi output lain serta waktu yang tersedia untuk kegiatan lain. 4. Pencapaian hasil tinggi (cost-affectiveness) adalah tingkat sejauh mana penggunaan sumber daya organisasi (manusia, keuangan, teknologi, material) dimaksimalkan untuk mencapai hasil tertinggi pengurangan kerugian dari setiap unit penggunaan sumber daya. 5. Pengawasan (need for supervision), merupakan tingkat sejauh mana seorang pekerja dapat melaksanakan suatu fungsi pekerjaan tanpa memerlukan pengawasan seorang supervisor untuk mencegah tindakan yang kurang diinginkan. Menurut Larkin dalam Trisnaningsih (2007) dalam mengukur kinerja auditor, terdapat empat dimensi personalitas, yaitu : 1. Kemampuan Seorang auditor yang memiliki kemampuan dalam mengaudit maka akan cakap dalam menyelesaikan pekerjaannya. Seorang auditor berpengalaman praktik di bidang audit umum atas laporan keuangan paling sedikit 1000 (seribu) jam dalam 5 (lima) tahun. 2. Komitmen profesional Auditor dengan komitmen profesional yang kuat berdampak pada perilaku yang lebih mengarah kepada ketaatan aturan, dibandingkan dengan auditor yang komitmen profesionalnya rendah. Komitmen juga dapat berkaitan dengan loyalitas dengan profesinya. 3. Motivasi Motivasi yang dimiliki seorang auditor akan mendorong keinginan individu auditor tersebut untuk melakukan kegiatan-kegiatan tertentu untuk mencapai suatu tujuan. 4. Kepuasan kerja Kepuasan kerja auditor dapat diartikan sebagai tingkatan kepuasan individu.

Bab II Kajian Pustaka, Kerangka Pemikiran dan Hipotesis 29 2.1.4 Hubungan Independensi dengan Kinerja Auditor Eksternal Independensi merupakan sikap yang diharapkan dari seorang auditor eksternal untuk tidak mempunyai kepentingan pribadi dalam melaksanakan tugasnya, yang bertentangan dengan prinsip integritas dan objektivitas. Oleh karena itu cukuplah beralasan bahwa untuk menghasilkan kinerja yang berkualitas diperlukan sikap independen dari auditor. Karena jika auditor kehilangan independensinya maka laporan audit yang dihasilkan tidak sesuai dengan kenyataan yang ada sehingga tidak dapat digunakan sebagai dasar pengambilan keputusan. Penilaian terhadap kinerja auditor eksternal dimulai dari kemampuannya memenuhi standar yang ditetapkan oleh badan badan pengatur seperti Ikatan Akuntan Indonesia (IAI), Badan Pengawas Pasar Modal (BAPEPAM), dan Departemen Keuangan RI. Selain itu auditor eksternal juga dinilai berdasarkan independensi dan objektivitasnya di dalam pelaksanaan audit eksternal. Oleh karena itu auditor eksternal harus memastikan kemampuan dan independensinya terhadap cakupan audit dan objek audit sebelum menerima penugasan. (sumber : Audit Eksternal dan Hubungannya dengan Komite Audit oleh IKAI)

Bab II Kajian Pustaka, Kerangka Pemikiran dan Hipotesis 30 Tabel 2.2 Jurnal Penelitian No Penulis & Sumber Judul Hasil Persamaan Perbedaan 1 Ahmad Alwani (2007) (Sumber: http://jurnalskripsi.com) 2 Teguh Harhinto (2004) (Sumber: http://jurnalskripsi.com) Pengaruh Kecerdasan Emosional Terhadap Kinerja Auditor Pada Kantor Akuntan Publik Di Kota Semarang Pengaruh Keahlian Secara simultan variabel Y variabel X kesadaran diri, Kinerja Peneliti sebelumnya : pengaturan diri, Auditor Kecerdasan motivasi, empati Emosional dan keterampilan Penelitian ini : sosial berpengaruh signifikan terhadap Independensi auditor eksternal kinerja auditor. Keahlian dan variabel X 2 variabel X 1 dan dan Independensi Independensi Independensi variabel Y Terhadap Kualitas berpengaruh Peneliti sebelumnya : Audit (Studi signifikan terhadap Keahlian (X 1 ), Empiris pada kualitas audit. Kualitas Audit(Y) Kantor Akuntan Penelitian ini : Publik di Jawa Hanya ada 1 variabel Timur) X, Kinerja Auditor Eksternal (Y) 2.2 Kerangka Pemikiran dan Hipotesis 2.2.1 Kerangka Pemikiran Seorang auditor eksternal dalam melakukan audit atas laporan keuangan yang diterbitkan suatu perusahaan, harus memiliki sikap yang independen dan kompeten. Dengan sikap independensinya maka auditor eksternal dapat memberikan laporan audit jika terjadi pelanggaran di dalam laporan keuangan kliennya. Jika auditor kehilangan independensinya, maka laporan audit yang dihasilkan tidak sesuai dengan kenyataan yang ada sehingga tidak dapat digunakan sebagai dasar pengambilan keputusan.

Bab II Kajian Pustaka, Kerangka Pemikiran dan Hipotesis 31 Selain sikap independensi, yang dibutuhkan seorang auditor eksternal yaitu pengetahuan dan pengalaman (kompetensi) yang baik karena kedua hal itu auditor menjadi lebih mampu memahami kondisi keuangan dan laporan keuangan kliennya. Sehingga berdasarkan logika di atas maka independensi dan kompetensi memiliki pengaruh terhadap kinerja auditor eksternal yang berkualitas. Independensi merupakan salah satu ciri paling penting yang dimiliki oleh profesi akuntan publik (auditor eksternal), karena banyak pihak yang menggantungkan kepercayaannya kepada kebenaran laporan keuangan berdasarkan laporan auditor yang dibuat oleh akuntan publik (auditor eksternal). Sekalipun akuntan publik (auditor eksternal) ahli, apabila tidak mempunyai sikap independensi dalam mengumpulkan informasi akan tidak berguna. Jadi sikap independensi yang dimiliki seorang auditor eksternal sangat penting dalam menentukan kinerja auditor eksternal yang berkualitas. Secara umum independensi berarti sikap mental yang bebas dari pengaruh, tidak dikendalikan pihak lain, tidak tergantung pada pihak lain. Independensi juga berarti adanya kejujuran dalam diri auditor dalam mempertimbangkan fakta dan adanya pertimbangan yang objektif. Pengertian independensi juga dikemukakan oleh Arens, Elder dan Beasley yang diterjemahkan oleh herman wibowo (2008 : 111), yaitu : Independensi dalam audit berarti cara pandang yang tidak memihak di dalam pelaksanaan pengujian, evaluasi hasil pemeriksaan, dan penyusunan laporan audit.

Bab II Kajian Pustaka, Kerangka Pemikiran dan Hipotesis 32 Dengan sikap independensinya maka auditor dapat melaporkan dalam laporan auditan jika terjadi pelanggaran dalam laporan keuangan kliennya dengan sejujur-jujurnya. Jika auditor tersebut bersikap independen dan kompeten maka kinerja seorang auditor akan berkualitas. Tanpa adanya kedua sikap tersebut laporan audit yang dihasilkan tidak bisa dijadikan dasar pengambilan keputusan dan kinerja auditorpun menjadi tidak berkualitas. Adapun indikator-indikator dari independensi menurut Mulyadi dalam Agustin (2007) yaitu : Indikator-indikator independensi, meliputi : 1. Lama Hubungan dengan klien a. Masa kerja auditor paling lama 3 tahun untuk klien yang sama. b. Masa kerja Kantor Akuntan Publik (KAP) paling lama 5 tahun untuk klien yang sama. 2. Besar audit fee yang dibayar klien a. Resiko penugasan. b. Struktur biaya Kantor Akuntan Publik yang bersangkutan. c. Tingkat keahlian yang diperlukan untuk melaksanakan jasa tersebut. 3. Hubungan keluarga akuntan berupa suami/istri, saudara sedarah dengan klien a. Hubungan keluarga seperti ayah/ibu, adik/kakak (saudara sedarah) antara klien dan akuntan publik. b. staf yang terlibat dalam penugasan audit merupakan suami/istri.

Bab II Kajian Pustaka, Kerangka Pemikiran dan Hipotesis 33 Secara umum kinerja adalah pelaksanaan suatu kegiatan dalam mencapai tujuan suatu organisasi atau hasil kerja yang dapat dicapai oleh seseorang atau kelompok orang dalam suatu organisasi sesuai dengan wewenang dan tanggung jawab masing-masing dalam rangka upaya mencapai tujuan organisasi. Pengertian Kinerja juga dikemukakan oleh Larkin dalam Trisnaningsih, (2007) yaitu : Kinerja merupakan hasil kerja secara kuantitas maupun kualitas yang dicapai oleh seseorang dalam menjalankan tugasnya sesuai dengan tanggung jawab yang diberikan kepadanya. Terkait dengan kinerja auditor, terdapat empat dimensi personalitas dalam mengukur kinerja auditor yaitu kemampuan, komitmen profesional, motivasi dan kepuasan kerja. Adapun indikator-indikator dari kinerja menurut Larkin dalam Trisnaningsih (2007) yaitu : Indikator-indikator kinerja, meliputi : 1. Kemampuan Seorang auditor yang memiliki kemampuan dalam mengaudit maka akan cakap dalam menyelesaikan pekerjaannya. 2. Komitmen profesional a. Hadir di setiap acara dalam pekerjaan. b. Taat terhadap peraturan yang diterapkan. c. Pekerjaan sesuai dengan aturan yang berlaku. 3. Motivasi a. Dorongan prestasi

Bab II Kajian Pustaka, Kerangka Pemikiran dan Hipotesis 34 b. Inisiatif c. Optimisme 4. Kepuasan kerja a. Bekerja dengan hati. b. Senang dengan pekerjaan yang dilakukan. c. Mendapatkan penghargaan. Berdasarkan uraian di atas bahwa independensi merupakan salah satu ciri paling penting yang dimiliki oleh profesi akuntan publik, karena sikap yang independen ini akan mempengaruhi kinerja seorang auditor. Banyak pihak yang menggantungkan kepercayaannya kepada kebenaran laporan keuangan berdasarkan laporan audit yang dibuat oleh seorang auditor. Apabila seorang auditor tidak memiliki sikap independensi dalam mengumpulkan informasi maka informasi tersebut tidak berguna, sebab informasi yang digunakan untuk mengambil keputusan harus yang sebenarbenarnya. Di dalam Kantor Akuntan Publik terdapat beberapa Auditor eksternal atau yang sering disebut Akuntan Publik. Disini tidak ada auditor internal karena auditor internal berada di suatu perusahaan dan statusnya sebagai pegawai perusahaan tersebut. Kantor Akuntan Publik memiliki tanggung jawab yang besar, sehingga merupakan hal penting bagi auditor yang bekerja di Kantor Akuntan Publik memiliki independensi dan kompetensi yang tinggi.

Bab II Kajian Pustaka, Kerangka Pemikiran dan Hipotesis 35 Auditor eksternal merupakan orang yang memiliki predikat profesional. Sebagai profesional, auditor eksternal harus bertingkah laku terhormat, karena dibutuhkannya kepercayaan publik yang tinggi atas kualitas jasa yang diberikan. Kantor Akuntan Publik ditugaskan dan dibayar perusahaan yang mengeluarkan laporan keuangan, untuk memberikan pendapatnya. Laporan hasil audit akan dimanfaatkan bagi para pemakai laporan keuangan. Auditor tidak berhubungan dengan pemakai laporan keuangan tetapi lebih sering berhubungan dengan klien. Para pemakai laporan keuangan penting untuk memandang Kantor Akuntan Publik sebagai pihak yang independen, tidak memihak dan memiliki kompetensi tinggi. Jika pemakai beranggapan bahwa Kantor Akuntan Publik tidak memberikan jasa yang dapat mengurangi resiko informasi, maka nilai audit akan berkurang. Oleh sebab itu Kantor Akuntan Publik akan lebih termotivasi untuk selalu bertindak dengan profesionalisme yang tinggi. Salah satu cara profesi auditor eksternal (akuntan publik) mewujudkan perilaku profesional adalah pengaruh dari pelaksanaan etika profei yang telah ditetapkan oleh Ikatan Akuntansi Indonesia (IAI) yaitu Kode Etik Akuntan Indonesia. Kode etik ini meliputi seperangkat prinsip-prinsip dan aturan-aturan yang mengatur perilaku profesional akuntan publik.

Bab II Kajian Pustaka, Kerangka Pemikiran dan Hipotesis 36 Prinsip etika terdiri dari tanggung jawab profesi, kepentingan umum, integritas, objektivitas, kompetensi dan kehati-hatian profesional, kerahasiaan, perilaku professional, dan standar teknis. Sedangkan aturan etika meliputi : 1. Independensi, integritas, objektivitas 2. Standar umum prinsip akuntansi 3. Tanggungjawab kepada klien 4. Tanggungjawab kepada rekan 5. Tanggungjawab dan praktek lain Penilaian terhadap kinerja auditor eksternal dimulai dari kemampuannya memenuhi standar yang ditetapkan oleh badan badan pengatur seperti Ikatan Akuntan Indonesia (IAI), Badan Pengawas Pasar Modal (BAPEPAM), dan Departemen Keuangan RI. Selain itu auditor eksternal juga dinilai berdasarkan independensi dan objektivitasnya di dalam pelaksanaan audit eksternal. Oleh karena itu auditor eksternal harus memastikan kemampuan dan independensinya terhadap cakupan audit dan objek audit sebelum menerima penugasan. (sumber : Audit Eksternal dan Hubungannya dengan Komite Audit oleh IKAI) Berdasarkan uraian diatas dapat diambil kesimpulan bahwa independensi memiliki pengaruh yang signifikan terhadap kinerja auditor. Berdasarkan hal tersebut maka dikembangkan kerangka pemikiran teoritis sebagai berikut :

Bab II Kajian Pustaka, Kerangka Pemikiran dan Hipotesis 37 KAP Auditor Eksternal Kode Etik Akuntan Indonesia Kompetensi Independensi Prinsip Etika Aturan Etika Penugasan Audit Kinerja Hipotesis : Independensi auditor eksternal berpengaruh terhadap kinerja auditor eksternal Menurut teori yang dikemukakan oleh Ikatan Komite Audit Indonesia Gambar 2.1 : Bagan Kerangka Pemikiran 2.3 Hipotesis Berdasarkan kerangka pemikiran di atas, penulis menarik hipotesis sebagai berikut. Independensi auditor eksternal berpengaruh terhadap kinerja auditor eksternal pada enam Kantor Akuntan Publik di Bandung. Ho : Independensi auditor eksternal tidak berpengaruh terhadap kinerja auditor eksternal pada tujuh Kantor Akuntan Publik di Bandung. Ha : Independensi auditor eksternal berpengaruh terhadap kinerja auditor eksternal pada tujuh Kantor Akuntan Publik di Bandung.