Terminal kargo bandar udara

dokumen-dokumen yang mirip
Terminal penumpang bandar udara

SI-40Z1 TUGAS AKHIR PERENCANAAN GEDUNG TERMINAL BARANG BANDARA INTERNASIONAL JAWA BARAT BAB II DASAR TEORI

Kriteria penempatan pemancar sinyal ke segala arah berfrekuensi amat tinggi (VHF Omnidirectional Range / VOR)

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB I PENDAHULUAN. memperlancar perekonomian sebagai pendorong, penggerak kemajuan suatu wilayah.

Bandara Internasional Ahmad Yani Semarang 1

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. Kota Semarang merupakan ibu kota propinsi Jawa Tengah. Kota

BAB II TINJAUAN PUSTAKA Bandar Udara dan Sistem Lapangan Terbang. Menurut Annex 14 dari ICAO (International Civil Aviation Organization):

MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA PERATURAN MENTERI KEUANGAN NOMOR 70/PMK.04/2007 TENTANG KAWASAN PABEAN DAN TEMPAT PENIMBUNAN SEMENTARA

BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 70 TAHUN 2001 TENTANG KEBANDARUDARAAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 70 TAHUN 2001 TENTANG

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (1986), Bandar Udara adalah. operator pelayanan penerbangan maupun bagi penggunanya.

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 70 TAHUN 2001 TENTANG KEBANDARUDARAAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

Pemberian tanda dan pemasangan lampu halangan (obstacle lights) di sekitar bandar udara

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Menurut PP RI NO 70 Tahun 2001 Tentang Kebandarudaraan Pasal 1

Kriteria penempatan fasilitas komunikasi darat - udara berfrekuensi amat tinggi (VHF Air-Ground/ VHF A/G)

2015, No Peraturan Presiden Nomor 40 Tahun 2015 tentang Kementerian Perhubungan (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2015 Nomor 75); 5

Standar dan Regulasi terkait Perencanaan, Perancangan, Pembangunan, dan Pengoperasian Bandar Udara Juli 28, 2011

TENTANG PETUNJUK DAN TATA CARA PENGAWASAN KEAMANAN PENERBANGAN DIREKTUR JENDERAL PERHUBUNGAN UDARA,

Advisory Circular 92-01

2012, No.71 2 BAB I KETENTUAN UMUM Pasal 1 Dalam Peraturan Pemerintah ini yang dimaksud dengan: 1. Kebandarudaraan adalah segala sesuatu yang berkaita

- 1 - PEMERINTAH DAERAH PROVINSI JAWA TIMUR PERATURAN DAERAH PROVINSI JAWA TIMUR NOMOR 10 TAHUN 2012 TENTANG

TINJAUAN PUSTAKA Transportasi. Transportasi adalah usaha memindahkan, menggerakkan, mengangkut,

TAMBAHAN LEMBARAN NEGARA RI

3. Peraturan Presiden Nomor 47 Tahun 2009 tentang Pembentukan dan Organisasi Kementerian Negara;

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Menurut PP RI No.70 Tahun 2001 tentang Kebandar udaraan, Pasal 1 Ayat

KEPUTUSAN MENTERI PERHUBUNGAN NOMOR : KM 14 TAHUN 1989 TENTANG PENERTIBAN PENUMPANG, BARANG DAN KARGO YANG DIANGKUT PESAWAT UDARA SIPIL

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 70 TAHUN 2001 TENTANG KEBANDARUDARAAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

[[PERANCANGAN INTERIOR BANDARA INTERNASIONAL KERTAJATI MAJALENGKA]] BAB I PENDAHULUAN

BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA

LEMBARAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA

Direktur Jenderal Perhubungan Udara tentang Penataan

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 40 TAHUN 2012 TENTANG PEMBANGUNAN DAN PELESTARIAN LINGKUNGAN HIDUP BANDAR UDARA

BAB V HASIL DAN PEMBAHASAN. A. Spesifikasi Bandara Radin Inten II

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

2017, No Peraturan Pemerintah Nomor 61 Tahun 2009 tentang Kepelabuhanan (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2009 Nomor 151, Tambahan L

Kriteria penempatan Distance Measuring Equipment (DME)

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 40 TAHUN 2012 TENTANG PEMBANGUNAN DAN PELESTARIAN LINGKUNGAN HIDUP BANDAR UDARA

BAB I PENDAHULUAN. mempunyai kemampuan untuk mencapai tujuan dalam waktu cepat, berteknologi

BAB I PENDAHULUAN. Internasional Soekarno-Hatta terus meningkatkan pelayanan untuk. Soekarno-Hatta menimbulkan dampak positif dan negatif terhadap

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Menurut Annex 14 dari ICAO (International Civil Aviation

BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA

2016, No Peraturan Presiden Nomor 7 Tahun 2015 tentang Organisasi Kementerian Negara (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2015 Nomor 8

ICAO (International Civil Aviation Organization)

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Bandara atau bandar udara yang juga populer disebut dengan istilah airport

Menimbang: a. bahwa dalam rangka mendukung kegiatan Layanan Tunggal

BAB I PENDAHULUAN. Seiring dengan perkembangan teknologi yang semakin maju dari masa ke

PERATURAN DIREKTUR JENDERAL PERHUBUNGAN UDARA. Nomor : SKEP / 195 / IX / 2008 TENTANG PETUNJUK PELAKSANAAN PERSETUJUAN TERBANG (FLIGHT APPROVAL)

BAB 2 STUDI PUSTAKA. Sastranegara Bandung, data fasilitas sisi darat (landside) berupa detail gedung

BAB II BATASAN DAN PENGERTIAN TENTANG BANDAR UDARA

I. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

KANTOR OTORITAS BANDAR UDARA WILAYAH II KEMENTERIAN PERHUBUNGAN REPUBLIK INDONESIA YOGYAKARTA, 21 S.D 22 APRIL 2016

BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA

UNDANG-UNDANG NOMOR 1 TAHUN 2009 TENTANG PENERBANGAN [LN 2009/1, TLN 4956] Pasal 402

BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang Pengadaan proyek

Berdasarkan, Juknis LLAJ, Fungsi Terminal Angkutan Jalan dapat ditinjau dari 3 unsur:

BELAWAN INTERNATIONAL PORT PASSANGER TERMINAL 2012 BAB I. PENDAHULUAN

BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA MENTERI PERHUBUNGAN REPUBLIK INDONESIA,

Peraturan Pemerintah No. 71 Tahun 1996 Tentang : Kebandarudaraan

BAB 1 PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Terminal dibangun sebagai salah satu prasarana yang. sangat penting dalam sistem transportasi.

STUDI PENGEMBANGAN BANDAR UDARA HANG NADIM BATAM

PENYUSUNAN RENCANA INDUK BANDAR UDARA KABUPATEN BLITAR PENYUSUNAN RENCANA INDUK BANDAR UDARA KABUPATEN BLITAR

1 BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang

BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA

BAB III LANDASAN TEORI

DIREKTORAT JENDERAL PERHUBUNGAN UDARA KEMENTERIAN PERHUBUNGAN

2013, No Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2009 tentang Penerbangan (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2009 Nomor 1, Tambahan Lembaran Negar

2 Ke Dan Dari Wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia; Mengingat : 1. Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2009 tentang Penerbangan (Lembaran Negara Republi

PENGEMBANGAN TERMINAL PENUMPANG BANDAR UDARA AHMAD YANI SEMARANG

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 40 TAHUN 2012 TENTANG PEMBANGUNAN DAN PELESTARIAN LINGKUNGAN HIDUP BANDAR UDARA

BAB I PENDAHULUAN. Tenggara Timur yang terletak di daratan Pulau Flores. Wilayah Kabupaten

7 TINGKAT PEMANFAATAN KAPASITAS FASILITAS DISTRIBUSI HASIL TANGKAPAN

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA MENTERI PERHUBUNGAN REPUBLIK INDONESIA,

SATUAN ACARA PERKULIAHAN ( SAP ) Mata Kuliah : Rekayasa Lalulintas Kode : CES 5353 Semester : V Waktu : 1 x 2 x 50 menit Pertemuan : 12 (Duabelas)

TATANAN KEPELABUHAN NASIONAL KEPUTUSAN MENTERI PERHUBUNGAN NOMOR KM 53 TAHUN 2002 MENTERI PERHUBUNGAN,

2015, No Tahun 2009 Nomor 1, Tambahan Lembaran Negara Nomor 4956); 2. Peraturan Pemerintah Nomor 40 Tahun 2012 tentang Pembangunan dan Pelestar

Terminal Darat, Laut, dan

PENGENALAN ANALISIS OPERASI & EVALUASI SISTEM TRANSPORTASI SO324 - REKAYASA TRANSPORTASI UNIVERSITAS BINA NUSANTARA 2006

TERMINAL BUS PURWOKERTO (Pendekatan Konsep Post Modern)

DEPARTEMEN KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA DIREKTORAT JENDERAL BEA DAN CUKAI

KEPUTUSAN MENTERI PERHUBUNGAN NOMOR 31 TAHUN 1995 TENTANG TERMINAL TRANSPORTASI JALAN

BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA MENTERI PERHUBUNGAN REPUBLIK INDONESIA,

BAB I PENDAHULUAN 1.1 LATAR BELAKANG

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BUPATI JEPARA PROVINSI JAWA TENGAH PERATURAN DAERAH KABUPATEN JEPARA NOMOR 5 TAHUN 2017 TENTANG PEMANFAATAN BAGIAN JALAN DAERAH

BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

BAHAN PAPARAN. Disampaikan pada : BIMBINGAN TEKNIS AUDIT

KETENTUAN DAN SYARAT PENGANGKUTAN DHL EXPRESS ( Ketentuan dan Syarat ) PEMBERITAHUAN PENTING

TERMINAL BANDAR UDARA INTERNASIONAL DI YOGYAKARTA DENGAN PENDEKATAN ARSITEKTUR HIJAU

BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

Pengemasan ular hidup melalui sarana angkutan udara

BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA

BAB I PENDAHULUAN. nasional. Kendaraan bermotor dalam perkembangannya setiap hari

Transkripsi:

Standar Nasional Indonesia Terminal kargo bandar udara ICS 93.120 Badan Standardisasi Nasional

Daftar isi Daftar isi... i Prakata... ii 1 Ruang lingkup... 1 2 Acuan normatif... 1 3 Istilah dan definisi... 1 4 Tata letak terminal kargo... 1 5 Bentuk bangunan terminal kargo... 3 6 Dasar-dasar perencanaan terminal kargo... 4 6.1 Persyaratan keselamatan dan keamanan penerbangan... 4 6.2 Konsep tata ruang... 4 7 Sistem sirkulasi kargo... 5 8 Kelengkapan ruang dan fasilitas... 6 8.1 Ruang fungsional dan/atau operasional (konversi / sortir/ periksa)... 6 8.2 Fasilitas penyimpanan... 7 8.3 Kantor dan pendukungnya... 7 8.4 Area penyimpanan... 7 9 Persyaratan bangunan (arsitektur/ struktur/ utilitas)... 7 9.1 Pintu dan jalan masuk... 7 9.2 Kolom bangunan... 8 9.3 Lantai... 8 9.4 Pencahayaan / penerangan... 8 9.5 Utilitas... 8 10 Luas terminal kargo... 8 Daftar Gambar Gambar 1 Tata letak terminal kargo berdasarkan letak terminal penumpang 120 m2. 2 Gambar 2 Tata letak terminal kargo berdasarkan letak terminal penumpang 240 m2. 2 Gambar 3 Tata letak terminal kargo berdasarkan letak terminal penumpang 600 m2. 3 Gambar 4 Tampak atas konsep bentuk bangunan terminal kargo... 3 Gambar 5 Potongan konsep bentuk bangunan terminal kargo... 4 Gambar 6 Contoh tampak atas konsep tata ruang bangunan terminal kargo... 5 Gambar 7 Alur dokumen di dalam terminal kargo... 6 Bibliografi... 10 i

Prakata Standar Nasional Indonesia Terminal kargo di bandar udara disusun dengan maksud untuk memberikan pedoman dalam membangun/menyediakan fasilitas terminal kargo di bandar udara, sehingga dihasilkan suatu terminal kargo di setiap bandar udara yang standar sesuai dengan kelas bandar udara, sehingga kegiatan penerbangan dapat berjalan dengan lancar, aman dan selamat. SNI ini dirumuskan oleh Panitia Teknis Persyaratan Sarana dan Prasarana, Pengoperasian serta Pelayanan Transportasi Udara (74F). Standar ini telah dibahas dalam konsensus pada tanggal 21 Januari 2004 di Jakarta. ii

Terminal kargo bandar udara 1 Ruang lingkup Standar ini merupakan pedoman dalam menentukan standar luas terminal kargo yang didasarkan luas standar terminal penumpang 120 m 2, 240 m 2, 600 m 2. Standar ini bertujuan untuk memperlancar proses kargo keluar maupun kedalam dan memenuhi persyaratan keamanan dan keselamatan penerbangan. 2 Acuan normatif International Civil Aviation Organisation, Annex 9, Facilitation, Second Edition, July 1989. International Civil Aviation Organisation, Annex 17, Security, Second Edition, July 1989. International Civil Aviation Organisation, Annex 18, The Safe Transport of Dangerous Goods by Air, Second Edition, July 1989. 3 Istilah dan definisi 3.1 terminal kargo salah satu fasilitas pokok pelayanan di dalam bandar udara untuk memproses pengiriman dan penerimaan muatan udara, domestik maupun internasional yang bertujuan untuk kelancaran proses kargo serta memenuhi persyaratan keamanan dan keselamatan penerbangan 4 Tata letak terminal kargo Untuk memperjelas uraian mengenai tata letak terminal kargo dapat dilihat dalam gambar dibawah. 1 dari 10

jumlah penumpang/tahun: 10.001-25.000 penumpang luas terminal penumpang: 120 m 2 Kapasitas apron: 3 DHC 6 Gambar 1 Tata letak terminal kargo berdasarkan letak terminal penumpang 120 m 2 jumlah penumpang / tahun: 25.001-50.000 penumpang luas terminal: 240 m 2 Kapasitas apron: 3 DHC 6 Gambar 2 Tata letak terminal kargo berdasarkan letak terminal penumpang 240 m 2 2 dari 10

jumlah penumpang/tahun: 50.001-100.000 penumpang luas terminal: 600 m 2 Kapasitas apron: 3 DHC 6 / 2 DHC 6 1 F-28 / 2 F 28 Gambar 3 Tata letak terminal kargo berdasarkan letak terminal penumpang 600 m 2 5 Bentuk bangunan terminal kargo Gambar 4 Tampak atas konsep bentuk bangunan terminal kargo 3 dari 10

Gambar 5 Potongan konsep bentuk bangunan terminal kargo 6 Dasar-dasar perencanaan terminal kargo 6.1 Persyaratan keselamatan dan keamanan penerbangan Secara umum keamanan yang berkaitan dengan kargo meliputi tiga daerah pengamanan, yaitu: a) lingkungan terminal kargo, lahan parkir dan apron b) terminal kargo c) kargo 6.2 Konsep tata ruang Agar dapat beroperasi sesuai dengan fungsinya, terminal kargo mempunyai konsep ruang sebagai berikut: a) Ruang konversi (peralihan dan pertukaran) Ruang ini berfungsi menampung pertukaran moda, dari sisi darat ke sisi udara atau sebaliknya dalam rangka penanganan kargo. Untuk memudahkan penanganan, paket barang dengan ukuran kecil dikumpulkan kedalam satuan yang lebih besar, seperti pallet atau kontainer. b) Ruang penyortiran Didalam ruang ini terjadi proses penyortiran yaitu pemisahan muatan-muatan kargo dengan tujuan yang berbeda dan menyatukannya untuk tujuan tertentu. c) Ruang penyimpanan Ruang ini berfungsi untuk keperluan penyimpanan kargo yang mempunyai waktu simpan (dwell time) maksimal, biasanya, dua hari. Selain fasilitas simpan sementara tersebut, 4 dari 10

terminal kargo juga mempunyai fasilitas penyimpanan khusus yang diperuntukkan untuk barang-barang berharga, barang-barang yang berbahaya (B3) dan lainnya. d) Ruang pemeriksaan Ruang ini digunakan untuk menampung fungsi pemeriksaan. Hal ini dilakukan karena adanya pemindahan barang kargo dari moda transportasi darat ke moda tansportasi udara atau sebaliknya dan kelengkapan administrasi yang terkait dengan fungsi pemerintahan, seperti bea dan cukai. Di bawah ini dapat dilihat sebuah contoh sederhana denah terminal kargo domestik/ internasional yang mencerminkan konsep tata ruang seperti yang tersebut diatas. Untuk terminal kargo domestik tidak diperlukan pemeriksaan bea cukai, akan tetapi masih perlu dilakukan pemeriksaan barang di ruang pemeriksaan. Gambar 6 Contoh tampak atas konsep tata ruang bangunan terminal kargo 7 Sistem sirkulasi kargo a) Tempat proses pemuatan/penurunan kargo antara pesawat terbang kargo dan pesawat terbang kombinasi (penumpang dan kargo) harus dipisahkan. b) Sirkulasi kargo dari pesawat ke terminal kargo dan sebaliknya, harus lancar dan melalui rute terpendek. Selain itu akses menuju terminal kargo, baik dari apron maupun sisi darat, harus langsung dan nyaman. c) Halangan yang bersifat fisik diantara area proses ekspor dan impor sedapat mungkin dihindari agar bangunan kargo, terutama area penyimpanan, dapat digunakan secara optimum. d) Tersedianya ruang yang memadai diantara parkir truk dan bangunan terminal kargo dan diantara pesawat dan terminal kargo untuk menampung/ penanganan kontainer/pallet berukuran besar Dibawah ini dapat dilihat skema dari aliran yang terjadi pada bangunan terminal kargo 5 dari 10

Pintu keluar Ekspor pesawat penumpang Pintu keluar Ekspor pesawat kargo Jalur tranfer Pintu masuk Impor pesawat penumpang Pintu masuk impor pesawat kargo Area Pengiriman Area penyimpanan check in Persiapan penerbangan kargo pesawat Persiapan penerbangan kargo pesawat Pemilahan kargo dan check in Persiapan untuk penerbangan dan penyimpanan sementara Jalur koneksi kargo menuju area persiapan penyimpanan kargo yang masuk Penimbangan Pengukuran Pelabelan Pemeriksaan Bea dan cukai Pemeriksaan Penghitungan Identifikasi jalur interline menuju area Penyimpanan sebelum pengiriman Penyimpanan kargo yang telah diperiksa Penerimaan kargo Penerimaan interline Pengiriman interline Pengiriman domestik Pengiriman kargo yang telah diperiksa Kargo dengan pelayanan khusus Pintu masuk Ekspor Pintu keluar Impor Gambar 7 Alur dokumen di dalam terminal kargo 8 Kelengkapan ruang dan fasilitas Jenis, luas dan kelengkapan dari bangunan terminal kargo disesuaikan jumlah barang yang dilayani dan kompleksitas fungsi dan pengguna yang ada. Berikut ini beberapa fasilitas dasar di dalam terminal kargo: 8.1 Ruang fungsional dan/ atau operasional (konversi/sortir/periksa) a) Area yang dialokasikan bagi pemisahan untuk pengiriman kedalam (impor) harus dapat diakses dari/ menuju ruang perakitan untuk pengiriman keluar (ekspor) akses ini ditujukan untuk mengakomodasi pergerakan antar pengiriman impor-ekspor. b) Ruangan yang mencukupi untuk kegiatan presentasi, pembukaan dan pengecekan bagi kepentingan bea cukai kargo udara. c) Ruangan yang cukup dan dekat dengan area pengiriman akhir, untuk pengepakan ulang barang kargo udara setelah pemeriksaan bea cukai. d) Area gudang yang memadai pada kawasan, baik berikat maupun tidak, yang terdiri atas area untuk persiapan sebelum pengiriman atau bongkar-muat dari pesawat yang datang, termasuk penanganan pallets atau barang yang disatukan. e) Area dan fasilitas untuk menimbang kargo. 6 dari 10

8.2 Fasilitas penyimpanan a) Ruang pendingin (Cold storage) b) Ruang yang diperlukan untuk tempat alat penyimpanan dengan suhu rendah seperti vaksin, bahan makanan atau sistem pendinginan lain yang diperlukan oleh perusahaan penerbangan. c) Ruang brankas (Vault) d) Ruang penyimpanan bagi barang berharga seperti emas batangan dan permata. e) Ruang penyimpanan bagi jasad manusia Karena adanya fasilitas ini, maka bangunan terminal kargo harus dilengkapi dengan prosedur dan sarana pendukung untuk mengantisipasi adanya upacara penjemputan bagi jenazah, sehingga tidak mengganggu kegiatan pengiriman dan penerimaan kargo. Akomodasi dan ruang sementara yang didesain khusus untuk menangani kargo-hidup (live -stock) f) Ruang penyimpanan untuk barang yang berbahaya 8.3 Kantor dan pendukungnya a) Ruang penerimaan bagi pelayanan masyarakat umum. b) Kantor bagi petugas yang berwenang untuk melakukan kontrol, sesuai dengan kebutuhan. c) Tempat yang cukup untuk fungsi manajemen, akunting, pengolahan pengambilan data dan kebutuhan keamanan. d) Ruang penyimpanan bagi pesawat dan alat pendukungnya di daerah yang aman. e) Ruang bagi awak pesawat udara, termasuk untuk kebutuhan toilet dan sawer. 8.4 Area penyimpanan a) Tempat untuk meyimpan pallets atau kontainer yang kosong dan lain sebagainya b) Parkir dan tempat penyimpanan bagi alat pemuatan dan alat lainnya. c) Ruang kerja untuk alat penanganan kargo termasuk fasilitas untuk mengisi ulang baterai. Desain dan kontruksi dari bangunan terminal maupun apron kargo harus dapat memberikan keamanan maksimum bagi kargo dari perampokan, pencurian ataupun pemindahan tanpa ijin. Hal yang sama berlaku untuk pemasangan alat mekanik dan peralatan elektronik yang sesuai dengan prosedur keamanan kargo terbaru. 9 Persyaratan bangunan (arsitektur/ struktur/ utilitas) 9.1 Pintu dan jalan masuk a) Jalan masuk dari sisi darat/ sisi udara kedalam terminal harus mempunyai tinggi dan lebar sesuai dengan peralatan yang digunakan/ beroperasi. Pada sisi udara harus dapat menampung forklift, dollies atau peralatan lain yang dipergunakan. Secara umum tinggi 5 meter dan lebar 5 meter dapat dipergunakan. Sedangkan untuk sisi darat, terutama pada daerah dok truk biasanya mempunyai tinggi 4 meter dengan lebar 3 meter. b) Penggunaan kanopi untuk melindungi dari cuaca buruk sangat direkomendasikan terutama pada daerah dok truk. Penggunaan pintu lipat (folding door) yang dapat dioperasikan dengan cepat untuk proses tutup dan buka dapat direkomendasikan. c) Setiap pintu harus mempunyai sistem kunci yang baik dan mencukupi sesuai dengan standar keamanan untuk mencegah adanya aksi ilegal. d) Setiap pintu, baik pada sisi darat maupun sisi udara, harus dilengkapi dengan kode identifikasi tertentu untuk memudahkan penanganan kargo dan meminimalkan kesalahan antar. 7 dari 10

9.2 Kolom bangunan Bangunan terminal dengan bentang lebar (tanpa kolom) sesuai dengan volume rencana merupakan hal yang ideal. Sebagai pendekatan, jarak antarkolom sebesar 15 meter dapat digunakan dan dianggap cukup memadai. 9.3 Lantai a) Ketinggian lantai haruslah sama, mulai dari sisi udara hingga sisi darat untuk memudahkan kendaraan pengangkut kargo bergerak secara efektif dan efisien. b) Lantai yang berdekatan dengan pintu/ titik masuk harus dilengkapi dengan saluran keluar air (floor drain) untuk mencegah air masuk ke dalam terminal c) Kekuatan lantai harus dapat menopang pergerakan kendaraan pengangkut kargo dengan beban maksimum dan dapat menampung berat setempat rak penumpukan barang. Beban desain (design load) sebesar 5.000 kg per m 2 dapat dipergunakan sebagai pendekatan. Adapun kekuatan yang diperlukan, sesuai dengan kebutuhan, harus dihitung kembali oleh perancang. 9.4 Pencahayaan/penerangan a) Pencahayaan pada daerah sisi udara harus memungkinkan para operator mengoperasikan kendaraan pengangkut barang dengan baik, dan pencahayaan tersebut tidak mengganggu awak pesawat untuk mengoperasikan pesawatnya. b) Pencahayaan pada daerah dok truk harus memungkinkan para pekerja dapat melihat keterangan/ label barang dan juga cukup terang untuk proses pemeriksaan keamanan. c) Pencahayaan terminal keseluruhan (general lighting) harus memungkinkan operasi penanganan kargo dan lalu lintas kargo dapat berjalan dengan normal dan baik. d) Penerangan tambahan diperlukan pada area bekerja dan area penyimpanan untuk memungkinkan pembacaan keterangan/ label kargo. e) Semua pencahayaan yang digunakan harus dapat memperlihatkan warna asli (true color reading) f) Secara umum tingkat penerangan pada daerah lantai adalah sekitar 200-300 lux g) Penerangan kantor harus sesuai dengan peraturan yang diterbikan pemerintah daerah. h) Kantor dan bangunan terminal harus didesain sedemikian rupa sehingga memungkinkan cahaya luar masuk secara maksimal untuk tujuan penghematan energi. 9.5 Utilitas a) Sedikitnya utilitas air, listrik, dan telepon harus disediakan. b) Utilitas listrik harus dilengkapi dengan cadangan daya untuk memelihara segi keamanan dan pelayanan, sesuai dengan sifat barang (sebagai contoh ruang pendingin) c) Utilitas air, listrik, dan telepon dilengkapi dengan saluran, penampungan dan pengelolaan limbah (apabila dimungkinkan) d) Untuk keperluan tertentu dapat ditambahkan utilitas lain seperti fasilitas gas. 10 Luas terminal kargo Dalam menentukan luas terminal kargo harus diperhitungkan terlebih dahulu luas gudang airline, luas gudang agen kargo, lebar terminal kargo, luas area sisi udara, luas area sisi darat. a) Luas gudang airline Q = N / p b) Luas gudang agen kargo S = Q x r 8 dari 10

c) Lebar teminal kargo U = (Q + S) / t d) Luas area sisi udara Y = U x w e) Luas area sisi darat X = U x v Dari perhitungan di atas dapat ditentukan kebutuhan total luas terminal kargo, yaitu: Z = Q + S + X +Y Keterangan : Q = luas gudang airline (m 2 ) N = volume kargo tahunan (ton/tahun) p = volume kargo tahunan/unit luasan gudang (ton/m 2 ) Volume kargo tahunan P (ton/m 2 ) 1.000 ton 2,0 2.000 ton 3,3 5.000 ton 6,8 10.000 ton 11,5 50.000 ton 15,0 S = luas gudang agen kargo (m 2 ) r = luas gudang agen kargo / luas gudang airline (0,5 m 2 ) U = lebar terminal kargo (m) t = kedalaman standar terminal kargo (m) Bentuk Gudang airline Gudang agen kargo Menyatu 15 20 m Terpisah 15 30 m 10 15 m v = kedalaman standar sisi darat Bentuk Gudang airline Gudang agen kargo Menyatu 20-25 m Terpisah 40 m 15 m w = kedalaman standar sisi udara ( 10 15 m) X = luas area sisi darat (m 2 ) 9 dari 10

Bibliografi 1. Keputusan Menteri Perhubungan NO. KM 14 1989, Penertiban penumpang, barang dan kargo yang diangkut pesawat udara sipil, Departemen Perhubungan, 1989. 2. Surat Keputusan Direktur Jenderal Perhubungan Udara NO. SKEP/40/II/ 1995, Petunjuk Pelaksanaan Keputusan Menteri Perhubungan nomor : KM. 14 Tahun 1989 tentang penertiban penumpang, barang dan kargo yang diangkut pesawat udara sipil, Departemen Perhubungan, 1995. 3. Surat Keputusan Direktur Jenderal Perhubungan Udara NO. SKEP/ 347/ XII/ 1999, Standar rancang bangun dan/atau rekayasa fasilitas dan peralatan bandar udara, Departemen Perhubungan, 1999. 10 dari 10