Keterlambatan pertumbuhan dan perkembangan

dokumen-dokumen yang mirip
I Gusti Ayu Trisna Windiani, Soetjiningsih Bagian Ilmu Kesehatan Anak, Fakultas Kedokteran Universitas Udayana RS Sanglah Denpasar

Kualitas anak masa kini merupakan penentu

Anak memiliki ciri khas yaitu selalu tumbuh

Masalah perkembangan anak cenderung

SAMPUL LUAR... i SAMPUL DALAM...ii. PERSETUJUAN PEMBIMBING... iii

BAB III METODE PENELITIAN. perbandingan (comparative study) dengan jenis penelitian cross sectional.

Salah satu fungsi utama sistem endokrin adalah

BAB I PENDAHULUAN UKDW. perkembangan fase selanjutnya (Dwienda et al, 2014). Peran pengasuhan tersebut

Faktor-faktor yang berhubungan dengan keterlambatan perkembangan bayi usia 9 bulan

Hubungan Mengikuti Kelompok Bermain dan Perkembangan Anak

BAB I PENDAHULUAN. badan kurang dari 2500 gram saat lahir 1, sedangkan Berat Badan Lahir

1 DETEKSI DINI PERTUMBUHAN ANAK. Debora S.Liana, dr., Sp.A FK UNDANA 2016

BAB I PENDAHULUAN. perkembangan yang dimulai dari bayi hingga remaja. Anak usia prasekolah adalah

BAB 1 PENDAHULUAN. (overweight) dan kegemukan (obesitas) merupakan masalah. negara. Peningkatan prevalensinya tidak saja terjadi di negara

HUBUNGAN TINGKAT PENGETAHUAN ORANG TUA TENTANG STIMULASI VERBAL DENGAN PERKEMBANGAN BAHASA PADA ANAK PRASEKOLAH DI TK PGRI 116 BANGETAYU WETAN

PERBEDAAN PERKEMBANGAN MOTORIK ANTARA ANAK TAMAN KANAK-KANAK DI DAERAH PERKOTAAN DAN PERDESAAN MENGGUNAKAN INSTRUMEN DENVER II

Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Perkembangan Balita di Kelurahan Baros Wilayah Kerja Puskesmas Baros Kota Sukabumi

Jurnal Ilmu Kesehatan Anak

BAB I PENDAHULUAN. kejadian anak yang mengalami keterlambatan bicara (speech delay) cukup tinggi.

Fiva A Kadi, Herry Garna, Eddy Fadlyana Bagian Ilmu Kesehatan Anak Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran Bandung.

LAMPIRAN. Surat Pernyataan Persetujuan untuk Ikut Serta dalam Penelitian (Informed Consent)

ABSTRAK. Kata kunci: anak balita, perkembangan, indeks antropometri, pertumbuhan, motorik kasar

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang

Nidya A. Rinto; Sunarto; Ika Fidianingsih. Abstrak. Pendahuluan

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang

BAB 1 PENDAHULUAN. serius karena termasuk peringkat kelima penyebab kematian di dunia.sekitar 2,8 juta

HUBUNGAN LINGKAR KEPALA DENGAN PERKEMBANGAN MOTORIK ANAK USIA 1-24 BULAN DI RUMAH SAKIT IBU DAN ANAK PERTIWI MAKASSAR

BAB IV METODE PENELITIAN. Ilmu Penyakit Dalam sub bagian Reumatologi. Penelitian ini dilakukan di poliklinik Penyakit Dalam sub bagian

PERBANDINGAN PERKEMBANGAN BAHASA ANAK USIA 0-3 TAHUN DI PANTI ASUHAN DAN KELUARGA

BAB I PENDAHULUAN. Perkembangan adalah salah satu ciri khas pada. anak yang pasti terjadi, dimulai dari masa konsepsi

BAB I PENDAHULUAN. manusia (SDM). SDM yang baik dapat diperoleh dengan mengoptimalkan. <3 tahun atau 0-35 bulan atau belum mengalami ulang tahun

BAB 3 METODOLOGI PENELITIAN Desain Penelitian Desain yang akan digunakan dalam penelitian ini adalah metode potong lintang (cross-sectional).

BAB III METODE PENELITIAN. Penelitian ini menggunakan desain penelitian observasional analitik

Kuesioner Praskrining Perkembangan (KPSP) Anak

HUBUNGAN PEMBERIAN ASI EKSKLUSIF DENGAN TIDAK ASI EKSKLUSIF TERHADAP PERKEMBANGAN ANAK USIA 3-12 BULAN NASKAH PUBLIKASI

BAB II TINJAUAN TEORI. suatu rumah tangga. Keluarga inti terdiri dari ayah, ibu, dan anak-anaknya. deteksi dan intervensi dini (Soetjiningsih, 2014).

BAB 1 PENDAHULUAN. menjadi sumber daya yang berkualitas tidak hanya dilihat secara fisik namun

BAB I PENDAHULUAN. yang bisa merangsang motorik halus anak. Kemampuan ibu-ibu dalam

BAB III METODOLOGI PENELITIAN. pasien penyakit ginjal kronik ini mencakup ilmu penyakit dalam.

BAB V PEMBAHASAN. Pengolahan data berdasarkan kumpulan data yang diperoleh diupayakan dapat

BAB I PENDAHULUAN. sangat penting. Untuk menilai tumbuh kembang anak banyak pilihan cara. Penilaian

BAB I PENDAHULUAN A. LATAR BELAKANG

BAB III METODE PENELITIAN. Ruang lingkup penelitian ini adalah Ilmu Kesehatan Anak, khususnya

JUMAKiA Vol 3. No 1 Agustus 2106 ISSN

Kata kunci :pengetahuan orang tua perkembangan bahasa anak prasekolah

HUBUNGAN ANTARA TINGKAT PENDIDIKAN FORMAL IBU DENGAN PERKEMBANGAN ANAK BALITA 1

PERKEMBANGAN MOTORIK KASAR BAYI MELALUI STIMULASI IBU DI KELURAHAN KEMAYORAN SURABAYA

BAB III METODE PENELITIAN. mengkaji hubungan antara variabel dengan melibatkan minimal dua variabel

BAB I PENDAHULUAN. metabolik dengan karakteristik hiperglikemia yang terjadi karena kelainan

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN. penyakit kronis telah terjadi di Indonesia seiring dengan kemajuan teknologi dan

ABSTRAK HUBUNGAN GANGGUAN PEMUSATAN PERHATIAN DAN HIPERAKTIFITAS (GPPH) TERHADAP STATUS GIZI ANAK DI KLINIK TUMBUH KEMBANG RSUP SANGLAH DENPASAR

BAB 1 PENDAHULUAN. semakin lama stimulasi dilakukan, maka akan semakin besar manfaatnya

Jurnal Keperawatan, Volume XI, No. 2, Oktober 2015 ISSN HUBUNGAN PEMBERIAN STIMULASI IBU DENGAN PERKEMBANGAN BALITA DI POSYANDU

BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang

JURNAL ILMU KESEHATAN MASYARAKAT PEMANTAUAN PERTUMBUHAN BALITA DI POSYANDU

PENELITIAN PEMBERIAN STIMULASI OLEH IBU UNTUK PERKEMBANGAN BALITA. Nurlaila*, Nurchairina* LATAR BELAKANG

BAB I PENDAHULUAN. Anak dalam perkembangannya dapat berkembang normal atau mengalami

BAB III METODE PENELITIAN. Jenis penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah deskriptif

Tedy Candra Lesmana. Susi Damayanti

Hubungan Pengetahuan Ibu Dan Status Gizi pada Anak Usia Bawah Dua Tahun yang Diberi Susu Formula Di Daerah Tanjung Raja, Kabupaten Ogan Ilir 2015

DDST (DENVER DEVELOPMENT SCREENING TEST)

Keterlambatan Perkembangan Umum (Global Developmental Delayed)

LEMBAR PENJELASAN KEPADA CALON SUBJEK PENELITIAN

HUBUNGAN PERKEMBANGAN KEMAMPUAN BAHASA DENGAN PENDIDIKAN ANAK USIA DINI NONFORMAL LAPORAN HASIL PENELITIAN KARYA TULIS ILMIAH

FAKTOR RISIKO OBESITAS PADA ANAK USIA 5-15 TAHUN. Sri Kartini. Program Studi Anafarma Universitas Abdurrab ABSTRAK

BAB I PENDAHULUAN. Pertumbuhan dan perkembangan pada masa pra sekolah merupakan tahap

BAB 1 : PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang Gagal ginjal kronik (Chronic Kidney Disease) merupakan salah satu penyakit

Nurin Fauziyah Akademi Kebidanan Pamenang Pare Kediri

A-PDF OFFICE TO PDF DEMO: Purchase from to remove the watermark BAB I PENDAHULUAN

SKRIPSI Untuk memenuhi sebagian persyaratan Mencapai derajat sarjana kedokteran. Diajukan Oleh: ROHMILIA KUSUMA J

BAB I PENDAHULUAN. Periode lima tahun pertama kehidupan anak (masa balita) merupakan masa

KPSP & PEMERIKSAAN DENVER II. Nurlaili Muzayyanah Departemen IKA FK UII-

PERBEDAAN TINGKAT PERKEMBANGAN ANAK USIA PRASEKOLAH YANG SEKOLAH TK DAN ANAK YANG TIDAK SEKOLAH TK DI DESA BANJARSARI KEC. BANTARBOLANG PEMALANG

PERKEMBANGAN BAHASA ANAK USIA PRASEKOLAH (4-6 TAHUN) DENGAN PENDIDIKAN IBU

HUBUNGAN LINGKAR KEPALA DAN PERKEMBANGAN BAYI DI POLI BAYI & TUMBUH KEMBANG RSUP PROF. DR. R. D. KANDOU

DENVER II. Click Subdivisi to edit Pedsos Master subtitle style BIKA RSWS 4/28/12

Visi Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI)

Stroke merupakan penyebab kematian ketiga terbanyak di Amerika Serikat. Pada 2002, stroke membunuh sekitar orang. Jumlah tersebut setara

PERBEDAAN ASPEK PERKEMBANGAN ANAK USIA PRASEKOLAH ANTARA SISWA BARU DAN SISWA LAMA DI SATUAN PAUD SEJENIS (SPS) CUT NYAK DIEN KRETEK, BANTUL

HUBUNGAN RIWAYAT KELUARGA, OBESITAS DAN KEBIASAAN MEROKOK DENGAN KEJADIAN DIABETES MELITUS TIPE II. Siti Novianti, Nur Lina RINGKASAN

Program Stimulasi, Deteksi dan Intervensi Dini Tumbuh Kembang (SDIDTK) 1. Pengertian Program SDIDTK merupakan program pembinaan tumbuh kembang anak

BAB I PENDAHULUAN. berkualitas, deteksi, intervensi dini penyimpangan tumbuh kembang (Depkes

BAB III KERANGKA TEORI DAN KERANGKA KONSEP

METODE PENELITIAN Desain, Tempat, dan Waktu Penelitian Populasi dan Sampel Penelitian n = (zα² PQ) / d²

BAB 1 PENDAHULUAN. Acquaired Immunodefeciency Syndrome (AIDS) adalah penyakit yang

BAB I PENDAHULUAN. sesuai dengan perkembangannya (Hariweni, 2003). Anak usia di bawah lima tahun (Balita) merupakan masa terbentuknya

BAB I PENDAHULUAN. pada anak yang meliputi seluruh perubahan, baik perubahan fisik, perkembangan kognitif, emosi, maupun perkembangan psikososial yang

BAB I PENDAHULUAN UKDW. organ-organ dan sistemnya yang terorganisasi (IDAI, 2002). personal social (kepribadian dan tingkah laku),

BAB III METODE PENELITIAN. Penelitian ini termasuk dalam lingkup Ilmu Kesehatan Anak, khususnya

Transkripsi:

Artikel Asli Karakteristik Tumbuh Kembang Anak di Tempat Penitipan Anak Werdhi Kumara 1, Kodya Denpasar I Nyoman Budi Hartawan, I G A Trisna Windiani, Soetjiningsih Bag/SMF Ilmu Kesehatan Anak Fakultas Kedokteran Universitas/RSUP Sanglah Latar belakang. Skrining pertumbuhan dan perkembangan terhadap seluruh anak untuk mengidentifikasi gangguan pertumbuhan dan keterlambatan perkembangan harus dilaksanakan secara rutin. Skrining tidak harus dilaksanakan di tempat pelayanan kesehatan, namun dapat dilaksanakan dimana saja seperti di tempat penitipan anak (TPA). Tujuan. Untuk mengetahui angka kejadian gangguan pertumbuhan dan dugaan keterlambatan perkembangan. Metode. Desain penelitian potong lintang di TPA Werdhi Kumara 1 Kodya Denpasar pada September 2007. Subjek penelitian adalah anak sehat yang berusia kurang atau sama dengan 6 tahun. Skrining pertumbuhan dengan menentukan status gizi berdasarkan indek massa tubuh dan berat badan terhadap tinggi badan sedangkan skrining perkembangan menggunakan Denver II. Hasil. Tujuh puluh sembilan subjek ikut dalam penelitian. Karakteristik subjek adalah overweight dan underweight pada anak di atas atau sama dengan 2 tahun masing-masing 14,5% dan 16,1%, sedangkan 29% subjek di bawah usia 2 tahun dikategorikan underweight. Proporsi perawakan pendek 8,9% dan kelompok tersangka keterlambatan perkembangan 13,9%. Pendidikan ayah maupun ibu tidak signifikan mempengaruhi hasil skrining Denver II (p=0,25 dan 0,37), Juga tidak berbeda bermakna antara anak perempuan dibandingkan dengan anak laki-laki (p=0,06). Kesimpulan. Gangguan pertumbuhan dan suspek keterlambatan perkembangan ditemukan di TPA Werdhi Kumara 1, Kodya Denpasar (Sari Pediatri 2008;10(2):134-8). Kata kunci: Skrining pertumbuhan dan perkembangan, tersangka keterlambatan perkembangan, skrining Denver II Alamat Korespondensi: Dr. I Nyoman Budi Hartawan. Bag/SMF Ilmu Kesehatan Anak FK UNUD/RSUP Sanglah Denpasar Jl. Pulau Nias Denpasar Bali. Telepon/ Fax: 0361-244038. E-mail: mangdut@gmail.com Keterlambatan pertumbuhan dan perkembangan merupakan masalah yang sering ditemukan oleh tenaga kesehatan. 1 Di Amerika Serikat (AS) 17% bayi dan anak memiliki masalah keterlambatan perkembangan. 2 134

Kepedulian orangtua terhadap perkembangan anak serta diikuti pemeriksaan skrining perkembangan merupakan cara untuk mendeteksi masalah perkembangan secara dini dan selanjutnya dapat melakukan intervensi secara tepat. 3-5 Tujuh puluh persen anak dengan keterlambatan tidak teridentifikasi tanpa skrining, sedangkan 70%-80% anak dengan dengan keterlambatan perkembangan teridentifikasi dengan skrining perkembangan yang baik. 6 American Academy of Pediatrics (AAP) menyaran kan skri ning secara rutin dengan menggunakan instrumen yang valid dan reliabel. 1 Penelitian di AS mendapatkan ha nya 23% dari dokter spesialis anak melakukan skrining per kembangan dan terbanyak meng gunakan Denver II. 7 Pemeriksaan skrining Denver II juga digunakan di poliklinik Tumbuh Kembang RSUP Sanglah Denpasar. Monitoring pertumbuhan juga merupakan bagian integral dari pelayanan kesehatan. Dengan melakukan pemantauan pertumbuhan secara rutin maka dapat dilakukan intervensi dini jika didapatkan gangguan pertumbuhan. 8,9 Skrining pertumbuhan dan perkembangan tidak harus dilaksanakan di tempat pelayanan kesehatan, namun dapat dilaksanakan di tempat penitipan anak (TPA). Menurut pasal 28 UU No.20 tahun 2003, TPA merupakan jalur pendidikan nonformal untuk pendidikan anak usia dini (PAUD). Pendidikan anak usia dini merupakan suatu upaya pembinaan yang ditujukan kepada anak sejak lahir sampai dengan usia enam tahun yang dilakukan melalui pemberian stimulasi pendidikan untuk membantu pertumbuhan dan perkembangan jasmani dan rohani agar anak memiliki kesiapan dalam memasuki pendidikan lebih lanjut. 10 Tidak seluruh TPA menerapkan program PAUD dan menggunakan tenaga yang terlatih,10,11 TPA Werdhi Kumara 1 adalah salah satu TPA di Denpasar telah menerapkan program PAUD. Rasio tenaga pengasuh dengan anak yang dititipkan adalah 1:10. Dari latar belakang tersebut maka skrining pertumbuhan dan perkembangan merupakan kegiatan yang sangat penting sebagai bagian dari pelayanan kesehatan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui angka kejadian gangguan pertumbuhan serta dugaan keterlambatan perkembangan dari anak di TPA Werdhi Kumara 1, juga bertujuan untuk mengetahui hubung an antara pendidikan orangtua dan jenis kelamin dengan hasil pemeriksaan Denver II. Manfaat penelitian adalah dengan deteksi dini gangguan pertumbuhan dan keterlambatan perkembangan maka intervensi dapat dilaksanakan segera sehingga tercapai tumbuh kembang anak yang optimal. Metode Rancangan penelitian adalah potong lintang/cross sectional. Penelitian dilaksanakan bulan September 2007 di TPA Werdhi Kumara 1 Kodya Denpasar. Subjek penelitian adalah seluruh anak sehat yang dititipkan pada TPA Werdhi Kumara 1 yang berusia ku rang atau sama dengan 6 tahun dan orangtua ber se dia un tuk mengikuti penelitian dengan menandatangani informed consent. Heteroanamnesis terhadap orangtua dan pemeriksaan fisik, skrining Denver II dan pengukuran antropometri dilaksanakan oleh peneliti dan seorang pembantu peneliti. Saat pemeriksaan Denver II subjek didampingi pengasuh dan orangtua. Hasil pengujian inter observer agreement dari peneliti dan pembantu peneliti terhadap penggunaan Denver II mendapatkan hasil 0,75. Definisi operasional variabel - Bayi/anak sehat adalah diagnosis berdasarkan anamnesis dan pemeriksaan fisik, tidak menderita sakit. - Berat badan diukur dengan menggunakan timbangan portable dengan tingkat kepekaan 0,1 kg. Tinggi badan/panjang badan adalah hasil pengukuran menggunakan meteran dengan tingkat kepekaan 0,1 cm. Lingkar kepala diukur dengan meteran dinyatakan dalam centimeter dan dipetakan dalam kurva Nellhaus. - Pendidikan orangtua adalah pendidikan terakhir dari orangtua sampai tamat dibagi menjadi tidak sekolah, tamat SD, tamat SMP, tamat SMA, tamat diploma atau sarjana. - Perkembangan suspek dalam Denver II adalah bila didapat lebih dari atau sama dengan 2 caution dan atau lebih dari atau sama dengan 1 keterlambatan. 12 - Perkembangan normal dalam Denver II adalah semua yang tidak tercantum dalam kriteria suspek dan bila tidak ada keterlambatan atau paling banyak 1 caution. 12 - Overweight, underweight, maupun perawakan pendek ditentukan dengan menggunakan kurva CDC (centers for disease control and prevention) 2000. 13 135

Analisis Statistik Data dianalisis dengan menggunakan komputer. Uji Chi square digunakan untuk menentukan pengaruh pendidikan orangtua terhadap hasil Denver II dan pengaruh jenis kelamin terhadap hasil Denver II. Hasil Jumlah bayi dan anak yang dititipkan di TPA Werdhi Kumara I 87 orang. Tujuh puluh sembilan anak tercatat ikut serta sebagai subjek dalam penelitian, karena 2 anak berumur lebih dari 6 tahun, 3 anak sakit dan 3 anak dengan orangtua tidak dapat dite mui. Karakteristik subjek penelitian tertera pada Tabel 1. Perbandingan laki-laki terhadap perempuan adalah 8:10. Sebagian besar subjek (59,5%) berada pada kelompok umur 36-72 bulan. Tabel 2 menunjukkan hasil perhitungan IMT (untuk anak 2 tahun) 14,5% subjek digolongkan overweight, 16,1% underweight, sedangkan subjek <2 tahun 29% (5 dari 17 subjek) dikategorikan underweight dan tidak ada yang termasuk kategori overweight. Tabel 3 menunjukkan 68 subjek (86,1%) dengan hasil skrining Denver II normal dan 11 subjek (13,9%) tersangka terlambat perkembangan. Hasil pemeriksaan antropometri mendapatkan 7 subjek (8,9%) dikategorikan perawakan pendek/short stature (tinggi/panjang badan terhadap umur berada di bawah persentil 3). Pendidikan ayah secara statistik tidak signifikan mempengaruhi hasil skrining Denver II dengan masing masing nilai (X 2 =1,33, df=1, p=0,25), sedangkan pendidikan ibu tidak signifikan mempengaruhi hasil skrining Denver II dengan masing masing nilai (X 2 =0,81, df=1, p=0,37). Hasil skrining Denver II secara statistik tidak berbeda bermakna berdasarkan jenis kelamin (X 2 =3,8, df=1, p=0,06). Diskusi Sebagian besar anak yang dititipkan di TPA Werdhi Kumara 1 berada pada kelompok umur 36-72 bulan. Hasil penelitian kami sama dengan penelitian sebelumnya yang mendapatkan bahwa kelompok umur 3-5 tahun adalah yang terbanyak. 11 Pada penelitian ini 14,5 % subjek digolongkan overweight, berdasarkan penelitian di rumah sakit Dr. Cipto Mangunkusumo tahun 1988 insiden overweight Tabel 1. Karakteristik subjek penelitian Karakteristik % Umur (bulan) 0-12 13-35 36-72 Jumlah anak Satu Lebih dari satu Laki-laki Perempuan Pendidikan ayah Tamat SLTA Tamat diploma/sarjana Pendidikan ibu Tamat SLTA Tamat diploma/sarjana Orang tua tunggal Pekerjaan orang tua Ayah bekerja Ibu bekerja 5 27 47 53 26 36 43 8 69 15 64 2 77 79 6,3 34,2 59,5 67,1 32,9 45,6 54,5 10,4 89,6 19 81 2,5 100 100 Tabel 2. Status gizi subjek penelitian n % Umur <2 tahun (n=17) Underweight* 5 29 Umur 2 tahun (n=62) Underweight** 10 16,1 Overweight** 9 14,5 Lingkar kepala (n=79) -2 sampai 2 SD 78 98,7 >2 SD 1 1,3 Keterangan: Underweight* <2 tahun = BB/PB < persentil 5 Underweight** = IMT < persentil 5 Overweight** = IMT > persentil 95 Tabel 3. Hasil skrining Denver II Variabel % Perkembangan normal 68 86,1 Laki-laki 29 42,6 Perempuan 39 43,5 Usia (bulan) 0-12 4 5 >12-35 21 26,6 >35-72 43 54,5 Tersangka perkembangan terlambat 11 13,9 Laki-laki 8 10,1 Perempuan 3 3,8 Usia (bulan) 0-12 1 1,3 13-35 6 7,5 36-72 4 5,1 136

sekitar 16% dari pasien rawat jalan. 15 Jadi angka kejadian overweight antara penelitian ini dan RSCM tidak jauh berbeda. Overweight merupakan masalah kesehatan yang patut mendapat perhatian mengingat overweight pada anak sering dihubungkan dengan penyakit kardiovaskular, diabetes, dan beberapa penyakit metabolik yang lain. 16 Hal yang sama terdapat pada 16,1% anak di atas 2 tahun dan 29% anak di bawah 2 tahun dengan underweight. Penelitian sebelumnya terhadap dua TPA di Jakarta didapatkan 19,1% anak dengan underweight. 11 Data epidemilogi perawakan pendek sangat sedikit. Prevalensi perawakan pendek di negara barat adalah 1:4000 anak karena defisiensi hormon pertumbuhan dan 1:3000 karena hipotiroidisme. 17 Etiologi perawakan pendek sangatlah beragam, namun secara umum dapat dibedakan menjadi 4 yaitu variasi normal, gangguan pertumbuhan primer, gangguan pertumbuhan sekunder dan kelainan endokrin. Kejadian perawakan pendek 8,9% (7 dari 79 subjek), namun tidak dikelompokkan berdasarkan penyebabnya. Skrining gangguan perkembangan sangat penting, namun hasil skrining bukan diagnosis melainkan hanya berupa kecurigaan adanya gangguan atau penyimpangan perkembangan. Sedangkan untuk menegakkan diagnosis diperlukan pemeriksaan lanjutan yang lebih spesifik dan mendalam. 14 Skrining perkembangan menggunakan Denver II yang dapat menilai 4 aspek perkembangan yaitu motorik kasar, motorik halus (aspek koordinasi mata dan tangan, manipulasi benda-benda kecil serta pemecahan masalah), berbahasa (aspek pendengaran, penglihatan, pemahaman dan komunikasi verbal), personal sosial (aspek penglihatan, pendengaran, komunikasi, gerak halus dan kemandirian). Sampai tahun 1990 metode Denver II telah digunakan lebih dari 54 negara dan telah dimodifikasi di lebih dari 15 negara, dan memiliki reliabilitas tinggi (test-retest reliability=0,90). 14 Hasil interobserver agreement pada penelitian ini 0,75, hal ini menunjukkan adanya konsistensi yang tinggi dari hasil pemeriksaan Denver II diantara peneliti dan pembantu peneliti. 18 Dari penelitian ini dijumpai 13,9% anak mendapatkan hasil tersangka dengan menggunakan Denver II. Hasil penelitian ini lebih rendah dari penelitian sebelumnya yang dilaksanakan di Thailand terhadap anak di bawah 6 tahun yang diskrining dengan menggunakan Denver II yaitu 22,8% anak di bawah 3 tahun dan 36,7% anak di atas 3 tahun mempunyai keterlambatan perkembangan. 19 Penelitian di Amerika Serikat mendapatkan 17% bayi dan anak-anak menderita keterlambatan perkembangan, sedangkan penelitian di Jakarta terhadap dua TPA didapatkan suspek keterlambatan sebanyak 17%. 2,11 Pendidikan orangtua merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi tumbuh kembang anak, karena dengan pendidikan yang baik maka orangtua dapat menerima informasi dari luar terutama cara pengasuhan anak yang baik, bagaimana menjaga kesehatan, pendidikannya dan sebagainya. 9 Pada penelitian ini pendidikan ayah dan ibu tidak mempengaruhi hasil Denver II, hal ini tidak sesuai dengan penelitian sebelumnya di Thailand anak yang diasuh oleh orangtua yang berpendidikan rendah memiliki risiko tiga kali menderita keterlambatan perkembangan dibandingkan orangtua berpendidikan tinggi. 19 Hal ini akibat pendidikan orangtua pada penelitian ini meskipun terbagi menjadi 5 kategori namun hasil penelitian ternyata 80% lebih orangtua berpendidikan tinggi (sarjana atau diploma) dan sisanya tamatan SMA. Kedua orangtua bekerja untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari memang merupakan fenomena saat ini. Di satu sisi pendapatan keluarga yang memadai akan menunjang tumbuh kembang anak. Di sisi lain hubungan yang erat, selaras, mesra antara orangtua khususnya ibu dan anak serta stimulasi men tal yang merupakan syarat mutlak untuk menja min per kembangan anak berkurang. Keberadaan pengganti ibu/pengasuh memegang peranan yang sangat penting. Pada TPA pengasuh memegang peranan yang sangat penting. 9 Kelemahan dari penelitian kami skrining perkembangan hanya dilakukan sekali, seharusnya dilakukan pemeriksaan ulangan untuk memastikan kelompok tersangka keterlambatan perkembangan. Penelitian dilaksanakan pada satu tempat sehingga kurang menggambarkan keadaan yang sebenarnya. Dari angka kejadian berbagai hasil penelitian serta tidak adanya observasi terhadap lingkungan rumah dan di sekitar rumah serta etiologi seperti gangguan pertumbuhan, obese, underweight, dan perawakan pendek juga tidak ditelusuri dari penelitian ini. Kesimpulan dan saran Didapatkan 13,9% angka kejadian suspek keterlambat an perkembangan di TPA Werdhi Kumara 137

1. Overweight, underweight, dan perawakan pendek didapatkan dalam proporsi kecil (14,5%, 16,1%, dan 29%, serta 8,9%). Perlu dilakukan penelusuran etiologi gangguan pertumbuhan pada subjek penelitian, sehingga intervensi dini dapat segera dilakukan. Subjek yang terdeteksi tersangka mengalami keterlambatan perkembangan perlu dilakukan pemeriksaan Denver II ulangan 1-2 minggu setelah pemeriksaan pertama un tuk memastikan dugaan keterlambatan perkembangan. Penelitian lebih lanjut diperlukan untuk mengetahui angka kejadian keterlambatan perkembangan dan pertumbuhan pada anak di Kodya Denpasar pada khususnya dan Propinsi Bali pada umumnya. Ucapan Terima Kasih Peneliti menyampaikan banyak terima kasih atas bantuan dan kerjasama yang baik kepada pengurus, pengasuh TPA Werdhi Kumara 1 serta orangtua subjek yang telah bersedia mengikuti penelitian. Daftar Pustaka 1. Committee on Children with Disabilities. Developmental survaillance and screening of infants and young children. Pediatrics 2001;108:192-6. 2. Boyle CA, Decoufle P, Yeargin-Allsopp M. Prevalence and health impact of developmental disabilities in US children. Pediatrics 1994;93:399-403. 3. Glascoe FP. Parents' concerns about children's development: prescreening technique or screening test. Pediatrics 1997;99:522-8. 4. Glascoe FP, Shapiro HL. Developmental and behavioral screening [cited 12 Mar 2007]. Didapat dari: URL:http// www.dbpeds.org/articles/detail.cfm?id=52004. 5. Centers for Diseases Control and Prevention.. Using developmental screening to improve children s health [cited 12 Mar 2007]. Didapat dari: URL:http//www.cdc. gov/ncbddd. 6. Schor EL. Best practices in developmental screening and services [cited 12 Mar 2007]. Didapat dari: URL:http// www.earlychildhoodnm.com/documents/5-05. 7. Sand N, Silverstein M, Glascoe FP. Pediatricians' reported practices regarding developmental screening: do guidelines work? Do they help? Pediatrics 2005; 116;174-9. 8. Departement of Health (Provincial Government of the Western Cape). Child developmental screening and growth monitoring [cited 12 Mar 2007]. Didapat dari: URL:http//www.dbpeds.org/articles/detail.cfm?id=52004. 9. Soetjiningsih. Penilaian pertumbuhan fisik anak. Dalam: Ranuh IGN, penyunting. Tumbuh kembang anak. Edisi pertama. Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran EGC; 1997. h. 37-62. 10. Departemen Pendidikan Nasional. Pedoman penyelenggaraan pendidikan pada anak pada taman penitipan anak. Jakarta: Departemen Pendidikan Nasional; 2001. 11. Widyastuti SB, Soedjatmiko, Firmansyah A. Growth and development profile of children in two day care centers in Jakarta. Paediatr Indones 2005;45:275-9. 12. Frankenberg WK, Doddss J, Archer P. Denver II screening manual. Colorado: Denver Development Materials; 1990. h. 1-48. 13. Centers for Diseases Control and Prevention. Use and interpretation of the CDC growth charts [cited 12 Mar 2007]. Didapat dari: URL:http//www.CDC.com. 14. Damayanti RS. Obesitas pada anak dan permasalahannya. Dalam: Partini PT, Purnamawati S, Damayanti RS, penyunting. Hot Topics in Pediatrics. Naskah Lengkap Pendidikan Kedokteran Berkelanjutan Ilmu Kesehatan Anak FKUI XLV. FKUI; 18-19 Februari 2002; Jakarta: Balai Penerbit FKUI; 2002. 15. Slyper AH. Childhood obesity, adipose tissue distribution, and the pediatrics practitioner. Pediatrics 1998; 102;1-9. 16. Lifshitz F, Carventes CD. Short stature. Dalam: Lifshitz F, penyunting. Pediatrics Endocrinology. Edisi ketiga. New York: Marcel Dekker Inc; 1996. h. 1-15. 17. Soejatmiko. Skrining gangguan perilaku anak dengan pediatric symptoms checklist. Dalam: Tridjaja BAAP, Trihono PP, Ifran EB, penyunting. Pediatrics Update 2005. Edisi pertama. Jakarta: Ikatan Dokter Anak Cabang Jakarta; 2005. h. 53-8. 18. Santoso S. Menguasai statistik di era informasi dengan SPSS 12. Edisi pertama. Jakarta: PT Gramedia; 2005. h. 254-61. 19. Isaranurug S, Nanthamongkolchai S, Kaewsiri D. Factors influencing development of children aged one to under six years old. J Med Assoc Thai 2005;88:86-90. 138