POTENSI KOMBINASI PERASAN DAUN KUMIS KUCING

dokumen-dokumen yang mirip
DAYA MELARUTKAN BATU GINJAL DENGAN INFUSA DAUN MANGGA ARUM MANIS (Mangifera indica L.) SECARA IN VITRO ARTIKEL ILMIAH

ANALISIS KALIUM DAN PROSENTASE DAYA LARUT CALSIUM OKSALAT OLEH KALIUM DALAM AIR TEH DAUN SUKUN (Artocarpus altilis)

BAB III METODE PENELITIAN. Jenis penelitian yang dilakukan adalah penelitian eksperimen. Karena

BAB III METODOLOGI PENELITIAN

BAB III METODOLOGI PENELITIAN

BAB III METODE PENELITIAN

BAB III METODOLOGI PENELITIAN. FPMIPA Universitas Pendidikan Indonesia dan Laboratorium Kimia Instrumen

LAPORAN PRAKTIKUM KIMIA FARMASI ANALISIS II KLOROKUIN FOSFAT

BAB III METODE PENELITIAN

dimana a = bobot sampel awal (g); dan b = bobot abu (g)

POWER TO DISSOLVE Ca OXALATE BY LEMON JUICE (Citrus lemon) ON VARIATION OF CONCENTRATION AND IMMERTION TIMES

BAB III METODOLOGI PENELITIAN

BAB IV PROSEDUR PENELITIAN

BAB III METODOLOGI PENELITIAN

BAB III METODE PENELITIAN. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Maret sampai dengan Juni 2012.

BAB III MATERI DAN METODE. Kimia dan Gizi Pangan, Departemen Pertanian, Fakultas Peternakan dan

DIURETIC EFFECT OF MULBERRY LEAF INFUSION (Morus alba L.) TOWARD POTASSIUM AND SODIUM CONCENTRATION IN URINE ON THE WHITE MALE RATS WISTAR

Lampiran 1. Prosedur kerja analisa bahan organik total (TOM) (SNI )

PHARMACY, Vol.06 No. 01 April 2009 ISSN

BAB III METODE PENELITIAN. 3.1 Lokasi Pengambilan Sampel, Waktu dan Tempat Penelitian. Lokasi pengambilan sampel bertempat di sepanjang jalan Lembang-

Lampiran 1. Surat Keterangan Determinasi

BAB III METODOLOGI PENELITIAN. Penelitian dilakukan di laboratorium kimia D-3 Analis Kesehatan Fakultas Ilmu

LAPORAN PRAKTIKUM KIMIA ANALISIS BAHAN MAKANAN ANALISIS KADAR ABU ABU TOTAL DAN ABU TIDAK LARUT ASAM

BAB V HASIL DAN PEMBAHASAN

METODE. Materi. Rancangan

BAB IV PROSEDUR KERJA

BAB III BAHAN DAN CARA KERJA. Departemen Farmasi FMIPA UI dari Januari 2008 hingga Mei 2008.

BAHAN DAN METODE. Penelitian dilaksanakan di Laboratorium Ilmu Tanah dan di Laboratorium Limbah

BAB III METODE PENELITIAN. Ubi jalar ± 5 Kg Dikupas dan dicuci bersih Diparut dan disaring Dikeringkan dan dihaluskan Tepung Ubi Jalar ± 500 g

BAB III METODOLOGI PENELITIAN. Oktober Penelitian dilaksanakan di Laboratorium Teknik Pengolahan

BAB III METODOLOGI PENELITIAN. polyanthum) asal NTB. Untuk memastikan identitas dari tanaman salam

BAB III METODOLOGI PENELITIAN. Sampel atau bahan penelitian ini adalah daun M. australis (hasil

BAB III METODOLOGI PENELITIAN. Sampel atau bahan yang digunakan dalam penelitian ini adalah daun

BAB III METODE PENELITIAN

BAB III METODOLOGI PENELITIAN. Penelitian ini dilakukan di Laboratorium Riset, Jurusan Pendidikan Kimia,

BAB III METODOLOGI PENELITIAN. waterbath, set alat sentrifugase, set alat Kjedalh, AAS, oven dan autoklap, ph

EFEK EKSTRAK METANOL DAUN SALAM (SYZYGIUM POLYANTHUM) TERHADAP PERUBAHAN UKURAM BATU GINJAL

BAB III METODOLOGI PENELITIAN. Instrumen Jurusan Pendidikan Kimia FPMIPA Universitas Pendidikan

setelah pengeringan beku) lalu dimasukan ke dalam gelas tertutup dan ditambahkan enzim I dan enzim II masing-masing sebanyak 1 ml dan aquadest 8

GRAVIMETRI PENENTUAN KADAR FOSFAT DALAM DETERJEN RINSO)

Penetapan Kadar Sari

Gambar 2. Daun Tempuyung

BAB III METODE A. Tempat dan Waktu Penelitian B. Bahan dan Alat

BAB III. Penelitian ini dilakukan di Laboratorium Riset, Jurusan Pendidikan Kimia,

BAB III METODE PENELITIAN. mengujikan L. plantarum dan L. fermentum terhadap silase rumput Kalanjana.

Preparasi Sampel. Disampaikan pada Kuliah Analisis Senyawa Kimia Pertemuan Ke 3.

III. TATA CARA PENELITIAN. A. Tempat Dan Waktu Penelitian. Pertanian Universitas Muhammadiyah Yogyakarta. Penelitian dilakukan selama

PENGARUH KONSENTRASI NaOH PADA PROSES PEMBUATAN ASAM OKSALAT DARI AMPAS TEBU

BAB 3 METODE PERCOBAAN Penentuan Kadar Kebutuhan Oksigen Kimiawi (KOK) a. Gelas ukur pyrex. b. Pipet volume pyrex. c.

BAB III METODE PENELITIAN. Jenis penelitian yang dilakukan adalah penelitian eksperimen. Penelitian dilakukan di laboratorium Kimia Universitas

OPTIMASI PEMBUATAN KOPI BIJI PEPAYA (Carica papaya)

BAB III METODE PENELITIAN

BAB III METODE PENELITIAN

METODE. Waktu dan Tempat Penelitian

BAB III METODE PENELITIAN. Subjek penelitian ini adalah ekstrak etanol daun pandan wangi.

BAB III METODE PENELITIAN

BAB III METODE PENELITIAN

TATA CARA PENELITIAN. A. Tempat dan Waktu Penelitian. Penelitian ini telah dilakukan di Laboratorium Pasca Panen Universitas

BAB III METODOLOGI PENELITIAN

EFEK DIURETIK DAN DAYA LARUT BATU GINJAL DARI EKSTRAK TALI PUTRI (Cassytha filiformis L.)

PEMURNIAN GARAM DAPUR MELALUI METODE KRISTALISASI AIR TUA DENGAN BAHAN PENGIKAT PENGOTOR NA 2 C 2 O 4 NAHCO 3 DAN NA 2 C 2 O 4 NA 2 CO 3

Lampiran 1. Gambar tanaman dan wortel. Tanaman wortel. Wortel

LAMPIRAN A PROSEDUR ANALISIS

BAB III METODE PENELITIAN Lokasi Pengambilan Sampel, Waktu dan Tempat Penelitian

BAB III METODOLOGI PENELITIAN

BAB III METODE PENELITIAN. salam dan uji antioksidan sediaan SNEDDS daun salam. Dalam penelitian

BAB III METODOLOGI PENELITIAN. Dalam pembuatan dan analisis kualitas keju cottage digunakan peralatan

BAB III MATERI DAN METODE. Penelitian ini dilaksanakan pada Bulan November Desember 2016 di

III. METODOLOGI PENELITIAN. Penelitian ini akan dilakukan pada bulan Mei sampai dengan Agustus 2014, yang

Lampiran 1. Penentuan kadar ADF (Acid Detergent Fiber) (Apriyantono et al., 1989)

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang

BAB III METODOLOGI PENELITIAN

BAB III METODE PENELITIAN

Lampiran 1. Prosedur Karakterisasi Komposisi Kimia 1. Analisa Kadar Air (SNI ) Kadar Air (%) = A B x 100% C

BAB III METODOLOGI PENELITIAN. Muhammadiyah Semarang di Jalan Wonodri Sendang Raya 2A Semarang.

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang. Kalsium oksalat (CaC 2 O 4 ) dan kalsium karbonat (CaCO 3 ) adalah bahan

BAB III METODOLOGI PENELITIAN. di Laboratorium Kimia Riset Makanan dan Material Jurusan Pendidikan

BAB IV PROSEDUR PENELITIAN

BAB III METODOLOGI PENELITIAN. Sampel dari penelitian ini adalah daun murbei (Morus australis Poir) yang

LAMPIRAN C. Skrining Kandungan Kimia

METODE PENELITIAN. Penelitian ini telah dilaksanakan pada bulan April sampai September 2015 dengan

MATERI DAN METODE. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Mei 2015 dari survei sampai

BAHAN DAN METODE. Penelitian ini dilaksanakan di Laboratorium Analisis Hasil Pertanian,

BAB III METODE PENELITIAN

BAB III METODE PENELITIAN. adalah dengan metode maserasi menggunakan pelarut etanol 95%. Ekstrak yang

BAB III METODE PENELITIAN

BAB III METODOLOGI PENELITIAN. Objek yang digunakan dalam penelitian ini adalah daun Artocarpus

LAPORAN PRAKTIKUM KIMIA ANALITIK DASAR PENENTUAN KADAR NIKEL SECARA GRAVIMETRI. Pembimbing : Dra. Ari Marlina M,Si. Oleh.

BAB III. METODE PENELITIAN. Penelitian ini dilaksanakan dari Bulan Januari sampai dengan bulan Juni 2015

3 Metodologi Penelitian

III. BAHAN DAN METODE. Penelitian ini dilaksanakan di laboratorium Balai Riset dan Standardisasi Industri

BAB III METODE PENELITIAN. Jenis penelitian yang digunakan adalah penelitian eksperimen. Termasuk

BAB III METODE PENELITIAN. Penelitian ini dilaksanakan berdasarkan bagan alir yang ditunjukkan pada gambar 3.1

UJI EFEKTIVITAS EKSTRAK ETANOL DAUN RANDU (Ceiba pentandra Gaertn.) TERHADAP PENURUNAN KADAR GULA DARAH PADA TIKUS PUTIH JANTAN GALUR WISTAR

BAB III METODE PENELITIAN. Bahan yang digunakan dalam penelitian ini antara lain kulit jengkol, larva

BAB III METODE PENELITIAN. Lokasi pengambilan sampel bertempat di daerah Cihideung Lembang Kab

LAMPIRAN A PROSEDUR ANALISIS

KARAKTERISASI SIMPLISIA DAN EKSTRAK ETANOL DAUN BERTONI (Stevia rebaudiana) DARI TIGA TEMPAT TUMBUH

Bab III Metodologi. III. 2 Rancangan Eksperimen

Transkripsi:

POTENSI KOMBINASI PERASAN DAUN KUMIS KUCING (Orthosiphon aristatus) DAN PERASAN DAUN ALPUKAT (Persea Americana Mill) SEBAGAI PELURUH KALSIUM OKSALAT SECARA IN VITRO ARTIKEL Oleh EVA WANIALISZA HANUM NIM. 050112A025 PROGRAM STUDI FARMASI SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN NGUDI WALUYO UNGARAN AGUSTUS, 2016

POTENSI KOMBINASI PERASAN DAUN KUMIS KUCING (Orthosiphon aristatus) DAN PERASAN DAUN ALPUKAT (Persea Americana Mill) SEBAGAI PELURUH KALSIUM OKSALAT SECARA IN VITRO ARTIKEL diajukan sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Farmasi (S.Farm) Oleh EVA WANIALISZA HANUM NIM. 050112A025 PROGRAM STUDI FARMASI SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN NGUDI WALUYO UNGARAN AGUSTUS, 2016

POTENSI KOMBINASI PERASAN DAUN KUMIS KUCING (Orthosiphon aristatus) DAN PERASAN DAUN ALPUKAT (Persea Americana Mill) SEBAGAI PELURUH KALSIUM OKSALAT SECARA IN VITRO Eva Wanialisza Hanum Program Studi Farmasi STIKES Ngudi Waluyo Ungaran, Email : evahanumw@gmail.com ABSTRAK Latar Belakang : Urolithiasis merupakan penyakit batu ginjal yang disebabkan oleh adanya akumulasi zat-zat yang terkandung di dalam urine, sehingga membentuk seperti batu. Batu saluran kemih masih menjadi salah satu masalah kesehatan yang paling sering terjadi pada bagian urologi di dunia, termasuk di Indonesia.Tujuan : Untuk mengetahui daya melarutkan batu Ca oksalat dengan menggunakan perasan daun kumis kucing dan daun alpukat secara tunggal dan kombinasi. Metode : Metode penelitian yang dilakukan adalah pelarutan Ca oksalat dalam bentuk sediaan perasan daun Orthosiphon aristatus (Blume) Miq dan daun Persea americana Mill. segar yang diinkubasi pada suhu 37ºC selama 4 jam. Kelarutan batu Ca oksalat diketahui dengan metode gravimetri. Analisis data menggunakan program Statistic Package for the Social Science (SPSS). Hasil : Nilai rata-rata daya melarutan Ca oksalat pada kontrol positif sebesar 82,00 ± 8,37, perasan daun Orthosiphon aristatus (Blume) Miq sebesar 68,00 ± 10,95, perasan daun Persea americana Mill sebesar 50,00 ± 7,07, dan perlakuan kombinasi (perasan daun Orthosiphon aristatus (Blume) Miq dan daun Persea americana Mill.) sebesar 74,00±11,40. Hasil dari uji ANOVA untuk variabel daya larut diperoleh F hitung 10,000 > F tabel 3,24 dengan p-value 0,001< α (0,05). Simpulan : Hasil uji menunjukkan bahwa kelompok perlakuan kombinasi (perasan daun Orthosiphon aristatus (Blume) Miq dan daun Persea americana Mill.) memiliki daya melarutkan Ca oksalat lebih baik dari pada daun alpukat secara tunggal, dan memiliki daya melarutkan Ca oksalat berbeda tidak bermakna (p-value 0,207) dengan kontrol positif. Kata Kunci : Perasan, Orthosiphon aristatus (Blume) Miq, Persea americana Mill, Kalsium Oksalat. Kepustakaan : 60 (1979-2013)

THE POWER OF DISSOLVING Ca OXALATE BY USING KUMIS KUCING (Orthosiphon aristatus) LEAVES JUICE AND AVOCADO (Persea americana Mill) LEAVES JUICE BY IN VITRO. Eva Wanialisza Hanum Pharmacy Study Program Ngudi Waluyo School of Health Email : evahanumw@gmail.com ABSTRACT Bacground : Urolithiasis is a kidney stone disorder caused by the accumulation of substances in the urine causing stone formation. Urolithiasis still becomes one of global issues worldwide, including in Indonesia. Objectives : to know the power of dissolving Ca oxalate by using kumis kucing leaves and avocado leaves juice in single and combination methods. Method : The research method used the dissolution of Ca oxalate in the form of the preparation of Orthosiphon (Blume) Miq leaves juice and Persea americana Mill leaves juice, freshly incubated at 37 C for 4 hours. The solubility of Ca oxalate stones was known through gravimetric method. Statistic correlation was calculated by Statistic Package for the Social Science (SPSS). Results : The average value of dissolving Ca oxalate in the positive control was 82.00 ±8.37, Orthosiphon aristatus (Blume) Miq leaves juice was 68.00±10.95, Persea americana Mill leaves juice was 50.00±7.07, and the combination treatment (Orthosiphon leaf juice aristatus (Blume) Miq and Persea americana Mill) leaves was 74.00±11.40. The results of ANOVA test for solubility variable obtained F count 10,000 > F table 3,24 with p-value 0.001 < α (0,05). Conclusion : The test results show that the combination treatment (juice of the Orthosiphon aristatus (Blume) Miq leaves and Persea americana Mill leaves) has the better power to dissolve Ca oxalate than the avocado leaves through single method, and has the power to dissolve Ca oxalate which is not different significantly by (p-value 0.207) with the positive control. Keywords : Juice, Orthosiphon aristatus (Blume) Miq, Persea americana Mill, Calcium Oxalate. Biliographies : 60 (1979-2013)

PENDAHULUAN Nefrolitiasis adalah batu ginjal yang ditemukan didalam ginjal, dan merupakan pengkristalan mineral yang mengelilingi zat organik, misalnya nanah, darah, atau sel yang sudah mati (Baradero, 2009). Batu ginjal bisa timbul dikarenakan infeksi di ginjal, atau banyak mengkonsumsi kalsium tapi kurang minum. Terlalu tinggi asam urat bisa pula memicu terbentuknya batu ginjal, karena menimbulkan endapan dalam ginjal yang makin lama makin membatu (Margatan, 1996). Faktor lain adalah bila zat inhibitor (zat pencegah terjadinya kristal) kadarnya berkurang, misal sitrat, faktor keasaman urin (ph) serta infeksi (Saputra, 2009). Kandungan batu ginjal lebih dari 80% terdiri atas batu kalsium,baik yang berikatan dengan oksalat maupun dengan fosfat, membentuk batu kalsium oksalat dan kalsium fosfat, sedangkan yang lain berasal dari batu asam urat, batu magnesium amonium fosfat (struvite), sistein atau kombinasi (David, 2008). Di Indonesia sendiri angka kejadian batu saluran kemih yang sesungguhnya masih belum bisa diketahui, tetapi diperkirakan terdapat 170.000 kasus/tahunnya. Di Jawa Barat, menurut data Riskesdas tahun 2013, bahwa prevalensi batu ginjal 15 tahun berdasarkan diagnosis dokter, Jawa Barat berada di urutan ke 5 dari 33 provinsi di Indonesia. Ini menunjukkan bahwa kasus batu saluran kemih masih tinggi. Oleh karena itu perlu dikembangkan pengobatan untuk menanggulangi masalah ini. Gaya hidup kembali ke alam (back to nature) menjadi cukup popular saat ini, sehingga masyarakat kembali memanfaatkan berbagai bahan alam termasuk pengobatan dengan tumbuhan obat. Tanaman yang sering digunakan dalam pengobatan tradisional adalah daun kumis kucing (Orthosiphon aristatus) yang bermanfaat untuk pengobatan radang ginjal, batu ginjal (Direktorat Pengolahan dan Pemasaran Hasil Pertanian, 2013). Sedangkan daun alpukat (Persea Americana Mill) bermanfaat untuk memperlancar pengeluaran air seni, penghancuran air seni, penghancuran batu saluran air kemih, dan obat sariawan (Maryani, 2003). Kumis kucing memiliki kandungan kimia berupa alkaloid, saponin, flavonoid dan polifenol (Departemen Kesehatan Republik Indonesia, 1987), zat samak, orthosiphon glikosida, minyak lemak, sapofonin, garam kalium (0,6-3,5%) dan myoinositol (Hariana, 2005), serta minyak atsiri sebanyak 0,02-0,06 % yang terdiri dari 6 macam sesquiterpenes dan senyawa fenolik, glikosida flavonol, turunan asam kaffeat. Hasil ekstraksi daun kumis kucing ditemukan methylripariochromene A atau 6-(7, 8-dimethoxyethanone) dan juga ditemukan 9 macam golongan senyawa flavon dalam bentuk aglikon, 2 macam glikosida flavonol, 1 macam senyawa coumarin, scutellarein, 6-hydroxyluteolin, sinensetin (Yulaikhah, 2009). Sedangkan daun alpukat mengandung zat kimia alkaloid, saponin, polifenol, kuersetin, dan gula alkohol persiit (Waluyo, 2009), mengandung senyawa flavonoid yang tinggi (Astawan, 2008), serta mengandung kalium yang tinggi (Ismiyati, 2013). Sehingga peneliti ingin mengetahui apakah potensi kombinasi perasan daun kumis kucing (Orthosiphon aristatus) dan

perasan daun alpukat (Persea Americana Mill) sebagai peluruh batu ginjal lebih baik dari pada tunggal. METODE PENELITIAN A. Alat dan Bahan Alat : Juicer, kain flanel, pipet tetes, ayakan no. 40-60 mesh, stemper dan mortir, tabung reaksi, erlenmeyer, kertas saring Whatman no 42, timbangan analitik, inkubator, oven. Bahan : Daun Kumis Kucing (Orthosiphon aristatus), daun Alpukat (Persea Americana Mill), Batugin Elixir, serbuk batu ginjal kalsium oksalat, aquadest, asam sitrat, FeCl 3, KMnO 4, HCl pekat, HCl 10%, H 2 SO 4 encer dan pekat, metanol, HNO 3 pekat, dan Asam pikrat. B. Cara Penelitian 1. Determinasi Tanaman Determinasi daun kumis kucing (Orthosiphon aristatus) dan daun alpukat (Persea Americana Mill) dilaksanakan di Laboratorium Ekologi dan Biositematik fakultas MIPA jurusan biologi Universitas Diponegoro Semarang untuk mengidentifikasi tumbuhan yang akan diteliti berdasarkan ciri-ciri fisik sehingga kesalahan dalam pengambilan tanaman yang akan diteliti dapat dihindari. 2. Penyiapan Serbuk Batu Ginjal Batu ginjal yang diperoleh dari pasien di RSI SULTAN AGUNG, digerus dalam mortir, kemudian serbuk diayak dengan ayakan 40-60 mesh. Sedangkan pembuatan perasan. 3. Penyiapan Perasan Daun (Alpukat dan Kumis Kucing) Pengumpulan daun sebanyak 0,5 kg daun kumis kucing dan daun alpukat yang masih segar.masing-masing tanaman dilakukan sortasi basah, ditiriskan, dirajang, kemudian di juicer. 4. Identifikasi Senyawa Tanaman dan Kandungan Batu Ginjal a. Identifikasi Flavonoid Perasan Daun Alpukat dan Daun Kumis Kucing Perasan daun kumis kucing dan daun alpukat ditambahkan metanol sampai terendam, dipanaskan lalu disaring, filtrat ditambah H 2 SO 4 pekat akan terjadi perubahan warna merah. b. Identifikasi Kalium Perasan Daun Alpukat dan Daun Kumis Kucing abu daun kumis kucing dan daun alpukat dimasukkan dalam labu takar ukuran 50 ml. Kemudian ditambah sedikit aquadest, ditambah 3 ml HNO 3 pekat disaring. Hasil penyaringan (filtrat) di tambahkan asam pikrat, maka akan terbentuk kristal jarum besar. c. Identifikasi Kalsium Serbuk batu ginjal 100 mg ditambahkan H 2 SO 4 encer terbentuk endapan putih CaSO 4, endapan putih CaSO 4 bisa larut setelah penambahan H 2 SO 4 pekat dan ammonium sulfat.

d. Identifikasi Oksalat Serbuk batu ginjal 100 mg ditambahan KMnO 4 terbentuk warna kuning kecoklatan dan warna kuning kecoklatan itu akan hilang saat ditambahkan H 2 SO 4. Dan saat serbuk batu ginjal ditambahkan FeCl 3, maka akan terbentuk warna kuning kenari. 5. Perendaman Batu Ginjal Ditimbang 100 mg serbuk batu ginjal, dimasukan ke dalam erlenmeyer yang berisi 10 ml larutan perasan daun kumis kucing, 10 ml perasan daun alpukat, kombinasi perasan daun kumis kucing 5 ml dengan perasan daun alpukat 5 ml, dan 10 ml batugin elixir sebagai kontrol (+). Diinkubasi pada suhu 37 o C selama 4 jam, dengan penggojogan setiap 15 menit. Setelah direndam, larutan disaring dengan kertas saring. Endapan yang diperoleh dipergunakan untuk analisis kadar kalsium dengan metode Gravimetri. 6. Analisis Kadar Kalsium dan Oksalat yang Terlarut dengan Metode Gravimetri Hasil dari perendaman batu ginjal dengan perasan dari masing-masing daun tersebut disaring dengan kertas Whatman 42, kemudian endapan dibilas dengan aquadest dan di oven pada suhu 105ºC selama 2 jam, kemudian didinginkan dalam desikator selama 10-15 menit. Berat endapan ditimbang sampai bobot konstan dan daya larut kalsium oksalat pada perasan daun alpukat dan daun kumis kucing dihitung. Perhitungan persentase daya larut Ca Oksalat pada masing-masing kelompok perlakuan: Daya larut Ca Oksalat (%) = HASIL DAN PEMBAHASAN 1. Determinasi Tanaman Hasil determinasi tanaman daun kumis kucing adalah sebagai berikut: 1b-2b- 3b-4b-6b-7b-9b...14b-16b.Golongan 10 : Daun-daun tunggal berhadapan, 239b-243b-244b-248b-249b-250b-266b-267b-273b-276a-277b. Famili 44: Lamiaceae-1a. Genus : Orthosiphon, Spesies : Orthosiphon stamineus Benth. Hasil determinasi tanaman daun alpukat adalah sebagai berikut: 1b-2b-3b-4b- 6b-7b-9b...15a. Golongan 8 : Tanaman dengan daun tunggal tersebar, 109b- 119b-120b-128b-129b-135b-136b-139b-140b-142b-143b-146b-154b-155b- 156b-162b-163a-164b-165b. Famili 52 : Lauraceae-1a-2b. Genus : Persea, Spesies : Persea americana Mill. 2. Identifikasi Senyawa Tanaman dan Kandungan Batu Ginjal a. Identifikasi Flavonoid Perasan Daun Alpukat dan Daun Kumis Kucing Perasan daun kumis kucing dan daun alpukat akan terjadi perubahan warna merah setelah penambahan H 2 SO 4 pekat, hal ini menunjukkan bahwa perasan daun alpukat dan daun kumis kucing positif mengandung flavonoid.

b. Identifikasi Kalium Perasan Daun Alpukat dan Daun Kumis Kucing Filtrat daun kumis kucing dan daun alpukat akan terbentuk kristal jarum besar setelah penambahan asam pikrat, hal ini menunjukkan bahwa perasan daun alpukat dan daun kumis kucing positif mengandung kalium. c. Identifikasi Kalsium Serbuk batu ginjal akan terbentuk endapan putih CaSO 4 setelah ditambahkan H 2 SO 4 encer, endapan putih CaSO 4 bisa larut setelah penambahan H 2 SO 4 pekat dan ammonium sulfat. Hal ini menunjukkan batu ginjal positif mengandung kalsium. e. Identifikasi Oksalat Serbuk batu ginjal ditambahkan FeCl 3 terbentuk kuning kenari dan jika asam oksalat ditambahkan KMnO 4 terbentuk warna kuning kecoklatan serta warna tersebut akan hilang jika ditambahkan H 2 SO 4. Hal ini menunjukkan batu ginjal positif mengandung oksalat. 3. Hasil Uji Kelarutan Batu Ginjal Kalsium Oksalat Perendaman serbuk batu ginjal dengan larutan uji dilakukan dalam inkubator pada suhu 37 o C dengan alasan agar sesuai dengan kondisi suhu tubuh normal manusia. Perendaman dilakukan selama 4 jam dan digojog setiap 15 menit, dengan alasan karena urin normal keluar setiap 4 jam sekali sedangkan alasan dilakukan penggojokan setiap 15 menit karena batu ginjal di dalam tubuh mengalami gerakan-gerakan akibat aliran urin, aliran air ataupun gerakan akibat aktivitas dari tubuh manusia (Nisma, 2011). Hasil rendaman disaring dengan kertas Whatman nomor 42 yang umumnya cocok digunakan untuk analisa gravimetri karena permukaannya yang licin dan berkecepatan aliran sedang (Pudjaatmaka, 2002). Endapan batu ginjal tersebut dicuci dengan aquadest 2 sampai 3 kali pencucian hingga tidak ada serbuk batu ginjal yang menempel pada erlenmeyer dan hingga endapan pada kertas saring murni batu ginjal. Pencucian dilakukan untuk menghilangkan dan mencegah terkontaminasinya larutan sampel dengan endapan batu ginjal, karena dapat mempengaruhi hasil penelitian. Hasil penyaringan endapan batu ginjal yang sudah tidak terkontaminasi dengan larutan uji, di masukkan ke dalam oven dengan suhu 105ºC selama 2 jam untuk menghilangkan kadar air yang masih ada pada kertas Whatman nomor 42. Suhu harus bertahap tidak langsung 105ºC, hal ini dikarenakan agar tidak terjadi case hardening dimana proses pengeringan tidak berjalan sempurna sehingga menyebabkan pengeringan yang tidak merata. Setelah dilakukan pemanasan dengan oven, endapan serbuk batu ginjal tersebut dan kemudian ditimbang. Hasil penimbangan dicatat dan dimasukkan kembali dalam oven selama 30 menit, didinginkan kembali pada suhu ruang dan baru dilakukan penimbangan sampai didapat bobot konstan. Yang dimaksud bobot konstan yaitu dua kali penimbangan berturut-turut berbeda tidak lebih dari 0,5 mg tiap gram sisa yang ditimbang. Penimbangan dilakukan setelah zat dikeringkan atau dipijarkan lagi selama 1 jam. Dengan pernyataan bobot yang dapat diabaikan, dimaksudkan bobot yang tidak lebih dari 0,5 mg (Anonim,1979).

4. Hasil uji Tabel 1. Uji Normalitas Saphiro Wilk Kelompok perlakuan p-value Kesimpulan Kontrol positif 0,314 Normal Daun kumis kucing 0,135 Normal Daun alpukat 0,325 Normal Kombinasi 0,814 Normal Berdasarkan hasil uji normalitas dengan Saphiro Wilk menunjukkan data terdistribusi normal dengan p- value > 0,05. Tabel 2. Uji Homogenitas Levene Test Variabel Levene statistic p-value Daya larut 0,583 0,635 Berdasarkan hasil uji homogenitas dengan Levene Test menunjukkan varian populasi homogen dengan p- value > 0,05. Tabel 4.6 Uji Oneway Anova Variabel dependent F-hitung p-value Daya larut 10,000 0,001 Hasil uji ANOVA menunjukkan bahwa ada perbedaan bermakna antar kelompok perlakuan dengan p-value < 0,05. Tabel 2. Hasil Uji Post Hoc Perbandingan tiap perlakuan p-value Kesimpulan Kontrol (+) vs Kumis Kucing 0,035 Berbeda signifikan Kontrol (+) vs Alpukat 0,000 Berbeda signifikan Kontrol (+) vs Kombinasi 0,207 Berbeda tidak signifikan Kumis Kucing vs Alpukat 0,009 Berbeda signifikan Kumis Kucing vs Kombinasi 0,339 Berbeda tidak signifikan Alpukat vs Kombinasi 0,001 Berbeda signifikan Keterangan : Kontrol positif Kombinasi : Batugin Elixir (daun tempuyung dan daun keji beling) : Daun kumis kucing dan daun alpukat Hasil penelitian pada kontrol positif dengan kombinasi memiliki p- value 0,207 > 0,05 yang menunjukkan bahwa kontrol positif tidak ada perbedaan yang bermakna dengan kombinasi. Pada perasan daun kumis kucing dengan kombinasi p-value 0,339 > 0,05 yang menunjukkan bahwa kumis

kucing tidak ada perbedaan yang bermakna dengan kombinasi. Sehingga masyarakat bisa memilih perasan daun kumis kucing secara tunggal, karena perasan daun alpukat hanya sedikit memberikan efek peluruhan kalsium oksalat pada batu ginjal. KESIMPULAN 1. Hasil penelitian didapatkan nilai rata-rata daya melarutkan Ca Oksalat untuk kontrol positif (Batugin elixir) sebesar 82,00 ± 8,37 %, perasan daun alpukat (Persea americana Mill) sebesar 50,00 ± 7,07 %, daun kumis kucing (Orthosiphon aristatus) sebesar 68,00 ± 10,95 %, dan kelompok kombinasi sebesar 74,00 ± 11,40 %. 2. Kombinasi (daun alpukat dan daun kumis kucing) memiliki perbedaan tidak bermakna dengan Batugin Elixir (daun tempuyung dan daun keji beling) p- value 0,207 > 0,05, dan kombinasi (daun alpukat dan daun kumis kucing) dengan daun kumis kucing memiliki perbedaan tidak bermakna p-value 0,339 > 0,05. SARAN 1. Perlu dilakukan penelitian daya melarutkan batu ginjal secara in vivo dengan menggunakan tanaman daun kumis kucing dan daun alpukat. 2. Perlu dilakukan penelitian lebih lanjut tentang toksisitas daun kumis kucing (Orthosiphon aristatus) dan daun alpukat (Persea americana Mill) terhadap ginjal sebagai obat alternatif peluruhan kalsium oksalat pada batu ginjal. DAFTAR PUSTAKA Baradero, M. dkk. 2009. Klien Gangguan Ginjal. Jakarta : EGC. Margatan, A.1996. Kencing Batu dapat Memicu Gagal Ginjal. CV Aneka:Solo. Saputra, A.A.H. 2009.Uji aktifitas Anti Lithiasis Ekstrak Etanol Daun Alpukat (Persea americana Mill) Pada Tikus Putih Jantan. Skripsi.Institut Pertanian Bogor. David A. B. dkk. Nephrolithiasis in The Kidney, 8th Edition. Philadelphia : Saunders Elsevier. 2008. Anonim. 2013. Riset Kesehatan Dasar 2013. Badan Penelitian dan Pengembangan dan Kesehatan Kementrian Kesehatan RI. Jakarta : Bakti Husada. Direktorat Pengolahan dan Pemasaran Hasil Pertanian. 2013. Pekarangan dan Persediaan Obat. http://bbppbatu.bppsdmp.deptan.go.id. diakses tanggal 28 April 2016. Maryani, H.S. 2003. Tanaman Obat untuk Mengatasi Penyakit pada Usia Lanjut. Jakarta: PT Agromedia Pustaka. Depkes RI. 1987. Analisis Obat Tradisional, Edisi ke-1. Departemen Kesehatan Republik Indonesia : Jakarta. Hariana, A. 2005. Tumbuhan Obat dan Khasiatnya, Seri 2. Penebar Swadaya: Jakarta. Yulaikhah, Y. U. 2009. Pengaruh Kadar Bahan Pengikat Polivinil Pirolidon Terhadap Sifat Fisik Tablet Effervescent Campuran Ekstrak Daun Salam

(Syzygium polyanthum Wight.) dan Kumis Kucing (Orthosiphon aristatus [Blume] Miq.). Skripsi. Fakultas Farmasi, Universitas Muhammadiyah Surakarta : Surakarta. Waluyo, S. 2009. 100 questions & answer diabetes. Jakarta: PT Elex Media Komputindo. Astawan, M. 2008. Khasiat warna-warni makanan. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama. Ismiyati. 2013. Aktivitas Antihipertensi Ekstrak Etanol Daun Salam (Syzgium polyantum [Wight] Walp) pada Tikus Wistar, Profil Kromatografi Lapis. Skripsi. Anonim. 1979. Farmakope Indonesia Edisi III. Jakarta : Departemen Kesehatan Republik Indonesia.