BAB II STUDI PUSTAKA

dokumen-dokumen yang mirip
BAB II TINJAUAN PUSTAKA

TUGAS AKHIR PERBANDINGAN BIAYA DAN WAKTU PEMAKAIAN ALAT BERAT TOWER CRANE DAN MOBIL CRANE PADA PROYEK RUMAH SAKIT. Oleh : Muhammad Ridha

BAB 2 STUDI PUSTAKA. 2.1 Pengertian, Prinsip Kerja, Serta Penggunaan Tower Crane Pada

BAB III METODOLOGI PENELITIAN

BAB IV TINJAUAN BAHAN BANGUNAN DAN ALAT-ALAT. sesuai dengan fungsi masing-masing peralatan. Adapun alat-alat yang dipergunakan

PERBANDINGAN BIAYA DAN WAKTU PEMAKAIAN ALAT BERAT TOWER CRANE DAN MOBIL CRANE PADA PROYEK RUMAH SAKIT HAJI SURABAYA

Perbandingan Produktivitas Static Tower Crane dan Mobile Crane dengan Modifikasi Posisi Titik Supply

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

PROGRAM PERHITUNGAN EFEKTIVITAS WAKTU DAN BIAYA PEMAKAIAN TOWER CRANE

MONITORING PENJADWALAN PROYEK & EVALUASI JUMLAH TOWER CRANE PADA PROYEK CONDOMINIUM & PODIUM SEBUAH PLAZA DI TENGAH KOTA

BAB II PEMBAHASAN MATERI. dalam setiap industri modern. Desain mesin pemindah bahan yang beragam

MEKANISME KERJA JIB CRANE


Jurnal Ilmiah Teknik Sipil No. 1, Vol. 1, Maret 2014

M SIN PENGANGKAT PENGANGKA ( o h ist s ing n machi h ne n )

BAB V PERALATAN DAN MATERIAL

Dosen Pembimbing : Tri Joko Wahyu Adi, ST, MT, PhD Yusroniya Eka Putri, ST, MT ARIEF HADI PRANATA

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

BAB 3 STUDI LAPANGAN. Gambar 3.1 Kerangka pemikiran studi lapangan. pelaksanaannya segala sesuatu perlu direncanakan dengan tepat dan cermat.

BAB IV PERALATAN DAN MATERIAL. Dalam setiap pekerjaan proyek konstruksi selalu diperlukan peralatan guna

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB II STUDI PUSTAKA

BAB VII TINJAUAN KHUSUS PEMBONGKARAN TOWER CRANE

PENGERTIAN CRANE. 1. Crane Beroda Crawler

BAB IV PERALATAN YANG DIGUNAKAN. Pada setiap pelaksanaan proyek konstruksi, alat-alat menjadi faktor yang sangat

BAB IV PERALATAN DAN MATERIAL

BAB V PERALATAN DAN MATERIAL

BAB 4 STUDI KASUS. Untuk studi kasus mengenai tinjauan jumlah tower crane yang digunakan pada

BAB 1 PENDAHULUAN. Dewasa ini penggunaan alat berat jenis Tower Crane pada proyek-proyek

BAB IV PERALATAN DAN MATERIAL

BAB IV ALAT DAN BAHAN

BAB II TINJAUAN PUSTAKA


BAB 1 PENDAHULUAN. Crane konstruksi pertama kali diciptakan oleh orang Yunani kuno dan didukung

Kata kunci : metode bekisting table form

BAB II PEMBAHASAN MATERI

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

ALAT PENGANGKAT CRANE INDRA IRAWAN

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

II. TINJAUAN PUSTAKA. Menurut Nugraha dkk, 1995 dalam tugas akhir Perbandingan Biaya dan

BAB IV TINJAUAN BAHAN BANGUNAN DAN ALAT-ALAT. manajemen yang baik untuk menunjang kelancaran

Tujuan Pembelajaran. Setelah melalui penjelasan dan diskusi 1. Mahasiswa dapat menjelaskan mekanisme sistem mesin

Analisa Perbandingan Penggunaan Bekisting Semi Konvensional Dengan Bekisting Sistem Table Form Pada Konstruksi Gedung Bertingkat

BAB IV PERALATAN DAN MATERIAL. Dalam melaksanakan proyek pembangunan dapat dipastikan digunakan alat-alat

ANALISA WAKTU PENGECORAN PADA LANTAI EMPAT PROYEK GEDUNG SEKOLAH DI SURABAYA

BAB V METODE PELAKSANAAN PEKERJAAN

BAB I PENDAHULUAN PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang

Analisa Biaya dan Waktu Bekisting Metode Konvensional dengan Sistem PERI pada Proyek Puncak Kertajaya Apartemen

BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang. Proyek konstruksi telah menjadi kompleks pada beberapa tahun terakhir ini. Hal ini

Tabel 5.7 Waktu Total Pelaksanaan Pengecoran Tower Crane. = Rp ,00 /jam. Harga Sewa Genset

Tabel 5.7 Perhitungan Biaya dan Waktu Pondasi Tiang Pancang

STUDI TENTANG PEMILIHAN JENIS CRANE UNTUK PROYEK BANGUNAN INDUSTRI

BAB IV ANALISA DAN PEMBAHASAN

BAB IV TINJAUAN BAHAN BANGUNAN DAN ALAT ALAT YANG DIGUNAKAN

PENERAPAN MODEL TRANSPORTASI DALAM RANGKA EFISIENSI BIAYA PENEMPATAN TOWER CRANE PADA MULTI PROYEK

JURNAL TEKNIK POMITS Vol. 1, No. 1, (2013) 1-6 1

Optimasi Penempatan Group Tower Crane pada Proyek Pembangunan My Tower Surabaya

ANALISA PERBANDINGAN WAKTU DAN PRODUKTIVITAS PENGECORAN MENGGUNAKAN CONCRETE BUCKET

BAB IV ANALISIS PERBANDINGAN

BAB IV PERALATAN DAN MATERIAL

BAB 2 TINJAUAN KEPUSTAKAAN

BAB IV TINJAUAN BAHAN BANGUNAN DAN ALAT-ALAT. Penyediaan dan pemenuhan bahan bangunan serta alat kerja pada suatu proyek

BAB IV TINJAUAN BAHAN BANGUNAN DAN ALAT-ALAT

PELAKSANAAN PEKERJAAN CORE LIFT DAN PELAT LANTAI PADA PROYEK TOWER C APARTEMEN THE ASPEN PEAK RESIDENCES, FATMAWATI, JAKARTA SELATAN

Kata kunci : bekisting Table Form System, zoning, siklus, biaya, waktu

BAB I PENDAHULUAN. tersebut menimbulkan masalah bagi para pekerja dibidang kontruksi. Karena

8,70 menit perlantainya untuk semua pekerjaan. Kata kunci : Tower Crane, Konflik Indek (NC), Keseimbangan Beban Kerja (σ).

BAB VIl TINJAUAN KHUSUS (KOLOM UTAMA) pada suatu kolom merupakan lokasi kritis yang dapat menyebabkan

BAB IV TINJAUAN KONDISI PROYEK ALAT DAN BAHAN BANGUNAN

BAB IV PERALATAN DAN MATERIAL

4- PEKERJAAN PERSIAPAN

BONDEK DAN HOLLOW CORE SLAB

TINJAUAN BAHAN BANGUNAN DAN ALAT-ALAT. Penyediaan alat kerja dan bahan bangunan pada suatu proyek memerlukan

BAB IV PERALATAN DAN MATERIAL

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB IV ALAT-ALAT DAN BAHAN KONSTRUKSI

BAB IV PERALATAN DAN MATERIAL. 1. Staff teknik dengan staff logistik dan peralatan, memberikan data-data

BAB V PELAKSANAAN PEKERJAAN. Kolom merupakan suatu elemen struktur yang memikul beban Drop Panel dan

BAB IV PERALATAN DAN MATERIAL. Dalam pelaksanaan pekerjaan konstruksi dibutuhkannya peralatan peralatan

Oleh : AGUSTINA DWI ATMAJI NRP DAHNIAR ADE AYU R NRP

BAB V METODE PELAKSANAAN KONSTRUKSI

RENCANA ANGGARAN BIAYA DAN METODE PELAKSANAAN PADA PROYEK PEMBANGUNAN JEMBATAN LAMNYONG KOTA BANDA ACEH

Universitas Sumatera Utara

TINJAUAN PUSTAKA. lokasi konstruksi, lokasi industri, tempat penyimpanan, bongkaran muatan dan

Analisa Time Cost-Trade Off Pada Pembangunan Perluasan Rumah Sakit Petrokimia Gresik

STUDI PERBANDINGAN ANALISA DESAIN FOURANGLE TOWER CRANE DENGAN ANALISA DESAIN TRIANGLE TOWER CRANE MENGGUNAKAN PROGRAM ANSYS 12.0

BISMILLAHIRRAHMANIRRAHIM. Assalamu alaikum Wr. Wb

PRODUKTIVITAS PEKERJA PADA PEKERJAAN BETON BERTULANG PROYEK BANGUNAN BERTINGKAT (Studi Kasus Proyek Bangunan Condominium TP6)

BAB I PENDAHULUAN. Dewasa ini proyek konstruksi semakin banyak dijumpai. Dalam

BAB I PENDAHULUAN. pada saat ini. Truck crane dipergunakan untuk memindahkan bahan-bahan, alatalat

BAB IV MATERIAL DAN PERALATAN

MODEL PENGUKURAN TINGKAT KESELAMATAN KERJA PENGGUNAAN TOWER CRANE. KATA KUNCI: tower crane, keselamatan kerja, model pengukuran

BAB V PELAKSANAAN PEKERJAAN

Jurnal Teknik Sipil Untag Surabaya 163

JURNAL TUGAS AKHIR PERHITUNGAN STRUKTUR BETON BERTULANG PADA PEMBANGUNAN GEDUNG PERKULIAHAN FAPERTA UNIVERSITAS MULAWARMAN

PERBANDINGAN PRODUKTIVITAS LUFFING CRANE DENGAN HAMMER HEAD CRANE PADA PROYEK HIGH RISE BUILDING STUDI KASUS: MENARA ASTRA PROJECT, JAKARTA

BAB V PELAKSANAAN PEKERJAAN STRUKTUR ATAS

Transkripsi:

BAB II STUDI PUSTAKA 2.1 Konsep Biaya 2.1.1 Biaya proyek Biaya proyek merupakan hal yang penting selain waktu, kedua hal ini berkaitan erat dan dipengaruhi oleh metode pelaksanaan, pemakaian peralatan, bahan, dan tenaga kerja yang dipakai. Dengan adanya persaingan harga dalam suatu tender maka perlu adanya perkiraan yang tepat dan akurat, dan harus dimulai sejak pelaksanaan tender dimulai, sebab biaya yang telah disetujui dalam kontrak pelaksanaan tidak dapat diubah, semua kekurangan yang disebabkan oleh kesalahan dalam perkiraan biaya akan menjadi resiko kontraktor. Untuk itu diperlukan perhitungan analisa dan pengalaman kerja yang cukup banyak agar tidak mengalami kerugian dalam pelaksanaan proyek. Menurut Ervianto (2002), biaya konstruksi dapat dibagi menjadi dua macam, yaitu biaya langsung dan tidak langsung, sebagai berikut : 1. Biaya Langsung Adalah biaya yang langsung berhubungan dengan konstruksi atau bangunan dengan mengalikan volume pekerjaan dengan harga satuan pekerjaan tersebut. Biaya langsung terdiri atas : a. Biaya bahan bangunan ( Material) b. Upah c. Biaya peralatan 2. Biaya Tak Langsung a. Biaya overhead, adalah biaya untuk menjalankan suatu usaha di lapangan. II - 1

b. Biaya tak terduga, adalah biaya untuk kejadian yang mungkin terjadi atau tidak terjadi. c. Keuntungan, adalah hasil jerih payah keahlian. 2.1.2. Biaya Peralatan Biaya peralatan meliputi biaya sewa alat, biaya mobilisasi dan demobilisasi, biaya pasang (erection), biaya bongkar (dismantle), biaya penunjang dan biaya pengoperasian alat. 1. Biaya sewa alat Biaya yang dikeluarkan untuk menyewa alat yang dipakai dengan satuan rupiah per bulan. 2. Biaya mobilisasi dan demobilisasi Biaya yang dibutuhkan untuk pengadaan alat ke proyek konstruksi dan pengembalian alat setelah tidak dipergunakan. 3. Biaya pasang (erection ) dan bongkar (dismantle) Biaya yang dibutuhkan untuk pemasangan dan pembongkaran di lapangan menggunakan jasa tenaga orang dan dengan alat bantu mobil crane. 4. Biaya operasional Biaya untuk pembelian suku cadang dan perbaikan apabila terjadi kerusakan atau penggantian komponen pada saat pelaksanaan, biaya operator dan rigger meliputi biaya upah dan biaya lembur, biaya bahan bakar dan pelumas untuk penggunaan sumber daya listrik untuk tower crane menggunakan genset kapasitas 150 kva. 2.2. Konsep Waktu Penjadwalan adalah kegiatan untuk menentukan waktu yang dibutuhkan dan urutan kegiataan serta menentukan waktu proyek dapat diselesaikan. Penjadwalan dibutuhkan untuk membantu : II - 2

a. Menunjukan hubungan tiap kegiatan dan terhadap keseluruhan proyek. b. Mengidentifikasikan hubungan yang harus didahulukan di antara kegiatan. c. Menunjukan perkiaraan biaya dan waktu yang wajar untuk tiap kegiatan. d. Membantu penggunaan tenaga kerja, uang dan sumber daya lainnya. Fakto-faktor yang harus dipertimbangkan dalam membuat penjadwalan : a. Kebutuhan dan fungsi proyek tersebut. b. Alasan sosial politik, misalnya proyek tersebut didanai dari APBN/APBD. c. Kondisi alam dan lokasi proyek. d. Ketersediaan dan keterkaitan sumber daya material, peralatan, tenaga kerja dan penunjang lainnya. e. Produktivitas peralatan dan tenaga kerja selama pelaksanaan berlangsung. f. Cuaca, musim dan gejala alam lainnya. g. Referensi hari kerja efektif. 2.3. Peralatan 2.3.1. Pemilihan peralatan Pemilihan peralatan menurut Rostiyanti (2008) ada beberapa faktor yang dapat mempengaruhi : 1. Spesifikasi alat disesuaikan fungsi pemakaiannya. 2. Kapasitas peralatan yang berdasarkan pada volume atau berat material yang akan dikerjakan. 3. Cara operasi alat berdasarkan arah, horisontal atau vertikal. 4. Pembatasan dari metode yang akan dipakai. 5. Berdasarkan keekonomisan tergantung dari biaya sewa, biaya operasi dan perawatan. II - 3

6. Berdasarkan jenis proyek. 7. Lokasi proyek. 8. Jenis dan daya dukung tanah. 9. Kondisi medan lapangan pekerjaan. 2.3.2. Sumber Peralatan Dalam pelaksanaan pembangunan, suatu proyek dapat memperoleh peralatan dengan jalan menyewa ataupun membeli. Pada kondisi tertentu, pembelian peralatan akan menguntungkan secara financial, sedangkan pada kondisi yang lain akan lebih ekonomis dan efesien untuk menyewanya. 2.3.3. Tower Crane 2.3.3.1.1. Definisi Tower Crane Menurut Rostiyanti (2008) tower crane merupakan suatu alat yang digunakan untuk mengangkat material secara vertikal dan horisontal ke suatu tempat yang tinggi pada ruang gerak terbatas. Disebut tower karena memiliki rangka vertikal dengan bentuk standar dan didudukan pada perletakan. Fungsi utama tower crane adalah mendistribusikan material dan peralatan yang dibutuhkan oleh proyek baik dalam arah horizontal maupun vertikal. Tower crane merupakan alat elektromotor, artinya menggunakan tenaga listrik untuk menggerakannya, tenaga listrik yang digunakan dapat menggunakan listrik PLN ataupun menggunakan generator set. 2.3.3.2. Jenis-Jenis Tower Crane Menurut Rostiyanti (2008), jenis-jenis tower crane dibagi berdasarkan cara berdirinya : 1. Free standing crane II - 4

Tower crane yang berdiri bebas diatas pondasi yang khusus dipersiapkan untuk alat tersebut. 2. Rail mounted crane Tower crane berdiri pada rel yang telah dipersiapkan, sehingga dapat bergerak sepanjang rel tersebut. Rel harus dipasang pada permukaan yang datar dan membutuhkan area yang luas untuk pemasangannya. 3. Climbing crane Tower crane diletakan di dalam struktur gedung bangunan pada core atau inti bangunan. Bergerak naik bersamaan dengan naiknya struktur, naiknya crane ini dimungkinkan dengan adanya sistem hydraulics jack. 4. Tied in crane Tower crane diikat secara horisontal dengan bangunan struktur yang ada. Free standing crane Gambar 2.1 Free standing crane (sumber : Rostiyanti, 2008 ) II - 5

Gambar 2.2 Rail mounted crane (sumber : http://www.enr.com/ext/resources/archives/images2/2008/10/081015-33.jpg ) Gambar 2.3 (a) Tied-in crane, (b) climbing crane (sumber : Rostiyanti, 2008 ) Menurut Rostiyanti (2008), jenis-jenis tower crane berdasarkan jenis lengan pada crane yang disebut jib : 1. Saddle jib tower crane Merupakan tower crane dengan lengan yang mendatar membentuk sudut 90 0 terhadap tiang tower crane atau mast. 2. Luffing jib tower crane Merupakan tower crane yang mernpunyai jib yang dapat diatur lebih dari sudut 90 0 terhadap tiang tower crane atau mast. II - 6

Gambar 2.4 Saddle jib tower crane (sumber: http://indotowercrane.com/wpcontent/uploads/2012/10/jl5015-tower-crane-stationary-500x440.jpg) Gambar 2.5 Luffing crane (sumber: manual book SCM D-160 ) II - 7

2.3.3.3. Bagian-bagian Tower Crane Tower crane memiliki bagian-bagian yang mempunyai fungsi sama : 1. Base (Pondasi) Merupakan tempat kedudukan yang berfungsi menahan gaya aksial dan gaya tarik. 2. Base Section Bagian / segmen paling dasar dari badan tower crane yang langsung dipasang ke pondasi. 3. Mast Section Bagian dari badan tower crane yang berupa segmen kerangka dipasang untuk menambah ketinggian. 4. Climbing Frame Bagian dari tower crane yang berfungsi sebagai penyangga saat penambahan ketinggian dengan mast. 5. Support Seat Merupakan kedudukan atau tumpuan yang menyokong slewing ring dalam mekanisme putar, terdiri dari bagian atas dan bagian bawah. 6. Slewing Ring Mast yang ikut berputar 360 derajat, terletak dibawah cat head. 7. Slewing Mast Mast yang ikut berputar bersama jib, terletak dibawah cat head. 8. Cat Head Puncak tower crane yang berfungsi sebagai tumpuan kabel. 9. Jib Lengan pengangkut beban dengan panjang bermacam-macam tergantung kebutuhan. 10. Counter Jib II - 8

Lengan penyeimbang terhadap momen. 11. Counter Weight Blok beton yang merupakan pemberat sebagai penyeimbang. 12. Cabin Set Ruang untuk operasional operator. 13. Acces Ladder Tangga vertikal sebagai akses bagi operator menuju cabin set. 14. Trolley Trolley hanya ada pada tipe sadle jib, yaitu alat untuk membawa hook sehingga dapat bergerak secara horisontal sepanjang jib, pada tipe luffing tidak ada trolley karena hook hanya terkait pada ujung jib dan pergerakan hook mengikuti pergerakan jib yang dapat naik atau turun dengan membentuk sudut dengan mast. 15. Hook Alat pengait beban. Gambar 2.6 Bagian-bagian tower crane (sumber : Rostiyanti, 2008 ) II - 9

2.3.3.4. Mekanisme Kerja Mekanisme kerja tower crane terdiri dari : 1. Hoisting Mechanism ( mekanisme angkat ) Mekanisme ini digunakan untuk mengangkat beban. Gerakan ini adalah gerakan naik/ turun beban yang telah dipasang pada kait diangkat atau diturunkan dengan menggunakan drum/hook, dalam hal ini putaran drum disesuaikan dengan drum/hook yang sudah direncanakan. Hook digerakkan oleh motor listrik dan gerakan drum/hook dihentikan dengan rem sehingga beban tidak akan naik atau turun setelah posisi yang ditentukan sesuai dengan yang direncanakan. 2. Slewing Mechanism ( mekanisme putar ) Mekanisme ini digunakan untuk memutar jib dan counter jib sehingga dapat mencapai radius yang diinginkan. 3. Trolley Traveling Mechanism ( mekanisme jalan trolley ) Mekanisme ini hanya digunakan pada tipe saddle jib untuk menjalankan trolley maju dan mundur sepanjang jib. 4. Traveling Mechanism ( mekanisme jalan ) Mekanisme ini digunakan untuk menjalankan bogie (kereta) untuk traveling tower crane. 2.3.3.5. Kapasitas Alat Besarnya muatan yang dapat diangkat oleh tower crane telah diatur dan didapatkan dalam manual operasi yang dikeluarkan oleh pabrik pembuatnya. Prinsip dalam penentuan beban yang bisa diangkat adalah berdasarkan prinsip momen. Jadi pada jarak dan ketinggin tertentu memilik momen batas yang tidak boleh dilewati. Panjang lengan muatan dan daya angkut muatan merupakan suatu perbandingan yang bersifat liniear. II - 10

Perkalian panjang lengan dan daya angkat maksimum pada setiap titik adalah sama dan menunjukan kemampuan momen yang bisa diterima oleh tower crane tersebut. 2.4. Produktivitas Alat 2.4.1 Dasar-dasar Perhitungan Produktivitas Dalam Merencanakan proyek yang dikerjakan dengan alat alat berat, suatu hal yang sangat penting adalah menghitung kapasitas operasi peralatan tersebut. Hal ini karena kapasitas operasi merupakan komponen utama dalam perhitungan waktu pelaksanaan disamping beban kerja alat ( volume pekerjaan ). Pada umumnya peralatan yang digunakan dibagi menjadi dua, yaitu : 1. Peralatan bertenaga non mesin Adalah peralatan yang dalam melakukan fungsinya menggunakan tenaga manusia. 2. Peralatan bertenaga mesin Adalah peralatan yang dalam melakukan fungsinya menggunakan tenaga mesin. Ada beberapa faktor yang harus dilihat dalam menghitung produktivitas peralatan : 1. Kapasitas Produksi ( Angkat ) Metode dalam menentukan kapasitas operasi peralatan, yaitu kapasitas angkat, perhitungan kapasitas angkat didasarkan pada volume yang dikerjakan persiklus waktu dan jumlah siklus dalam satu jam. Rumus produksi perjam menurut Rochmanhadi (1984). = 60 Dimana : Q = Produksi perjam II - 11

q cm E = produksi dalam satu siklus = waktu siklus = efisien kerja 2. Volume Pekerjaan Volume pekerjaan adalah jumlah kapasitas pekerjaan yang harus diselesaikan dalam setiap pekerjaan. 3. Waktu Siklus Jumlah waktu dalam satu waktu yang dipakai pada operasi individual atau kombinasi dengan peralatan lain tiap satu siklus yang tergantung pada : a. Lintasan operasi b. Kecepatan pada berbagai gerakan c. Tinggi pengangkatan d. Kehilangan waktu untuk percepatan dan perlambatan e. Waktu menunggu f. Waktu yang dihabiskan untuk pindah posisi ke posisi berikutnya, dan sebagainya 4. Efesiensi Kerja Efisiensi kerja dinyatakan dalam suatu besaran faktor koreksi (Fk) yang merupakan suatu faktor yang diperhitungkan pengaruh unsur yang berkaitan dengan mesin, manusia dan keadaan cuaca dan faktor waktu kerja efektif terhadap pengoperasian peralatan yang dapat dilihat pada tabel tabel berikut ini : II - 12

Tabel 2.1 Tabel faktor kondisi kerja dan manajemen/ tata laksana BAB II STUDI PUSTAKA Sumber : Rochmanhadi, ( 1984) Tabel 2.2 Waktu kerja efektif Kondisi Waktu Kerja Efektif Efesiensi Kerja Baik Sekali 55 menit / jam 0,92 Baik 50 menit / jam 0,83 Sedang 45 menit / jam 0,75 Jelek 40 menit / jam 0,67 Sumber : Rochmanhadi, (1984) Tabel 2.3 Keadaan Cuaca Keadaan Cuaca Cerah 1,0 Efesiensi Kerja Mendung/gerimis / berdebu 0,8 Sumber : Rochmanhadi, (1984) Tabel 2.4 Keterampilan Operator dan Crew Keterampilan Operator dan Crew Sempurna 1,0 Rata-rata Baik 0,75 Kurang 0,60 Sumber : Rochmanhadi, (1984) Efesiensi Kerja II - 13

2.5. Penelitian Terdahulu Penelitian terdahulu adalah sebagai berikut : No Nama Judul Hasil 1 Muhammad Ridha, Institut Teknologi Sepuluh November, Surabaya 2011. Perbandingan Biaya Dan Waktu Pemakaian Alat Berat Tower Crane Dan Mobil Crane Pada Proyek Rumah Sakit Haji Surabaya Waktu tercepat untuk pekerjaan pengecoran dan pengangkat material adalah kombinasi Tower Crane dan Concrete Pump dengan selisih 161,35 jam dan biaya termurah adalah kombinasi Mobile Crane dengan selisih biaya Rp. 215.713.000,00. 2 Hari Jamato, Muhamad Aswanto,Trijeti, Universitas Muhammdiyah, Jakarta 2015 3 Arif Wibowo, Universitas Gajah Mada, Yogyakarta 2014. 4 Zulfi Nihayatun N, Universitas Gajah Mada, Yogyakarta 2014. Perbandingan penggunaan tower crane dengan mobil crane ditinjau dari efisiensi waktu dan biaya sebagai alat angkat utama pada pembangunan gedung. Analisis waktu dan biaya pemasangan dan pembongkaran tower crane Perhitungan produktivitas estimasi pengecoran menggunakan crane dan waktu kolom tower Pekerjaan struktur oleh Tower crane pada gedung ini adalah 326,53 jam dengan biaya Rp505.751500,00,sedangkan waktu yang diperlukan untuk menyelesaikan pekerjaan struktur oleh Mobil crane pada gedung ini adalah 455,56 jam dengan biaya Rp 325.247.500,00 Waktu pembongkaran 675 menit dan waktu pemasangan 790 menit, biaya total pembongkaran dan pemasangan Rp. 234,865,000,00 Produktivitas adalah kemampuan untuk menghasilkan sesuatu, yang dapat mempengaruhi waktu dan efektifitas kerja di dalam pelaksanaan pekerjaan. Hasil produktivitas 6,67 ton/jam dan estimasi waktu pengangkatan 0,576 jam. II - 14

No Nama Judul Hasil 5 Liony Dwi Putri Takaredas,Arfan Utiarahman, Universitas Negeri Gorontalo, Gorontalo 2014. 6 Asri Dwi Lestari, Institut Teknologi Bandung, Bandung 2012. 7 Agnes Maria Wijaya, Ayu Wirastuti, Paulus Nugraha, Sandra Loekita, Universitas Kristen Petra, Surabaya 2015. Efisiensi penggunaan alat berat pada pembangunan gedung training centre universitas negeri gorontalo Identifikasi faktor yang mempengaruhi produktivitas tower crane. Monitoring penjadwalan proyek & evaluasi jumlah tower crane pada proyek condominium & podium sebuah plaza di tengah kota Durasi normal yang diperoleh berdasarkan volume pekerjaan dengan menggunakan kombinasi Tower Crane dan Truck Mixer yaitu 31 hari kerja dan biaya Rp.302.585.855,45. Hasil analisis dari berbagai metode yang dilakukan didapatkan kombinasi alat yang paling efisien yaitu dengan menggunakan penambahan Truck Mixer. Setelah dilakukan penambahan Truck Mixer maka dihasilkan durasi 29 hari kerja dengan biaya Rp. 301.440.690,36 Dari faktor-faktor yang diperoleh, terdapat beberapa faktor yang memiliki keterkaitan satu sama lain, yaitu: 1. Faktor alat dengan faktor material yang diangkat, 2. Faktor alat dengan faktor manajemen, 3. Faktor SDM dengan faktor lingkungan, 4. Faktor SDM dengan faktor manajemen, dan 5. Faktor material yang diangkat dengan faktor manajemen. Hasil analisa dari penelitian menunjukkan bahwa untuk monitoring penjadwalan proyek jika dibandingkan antara rencana dan realisasinya, maka proyek tersebut tidak berjalan sesuai dengan II - 15

8 Braham Soemartomo, Drs.Ir.Sutikno,MT., Universitas Negeri Surabaya, Surabaya 2014. Studi tentang pemilihan jenis crane untuk proyek bangunan industri BAB II STUDI PUSTAKA jadwal rencana serta mengalami kemunduran, baik untuk area Condominium maupun Podium. Kemunduran dapat dilihat dari zona pengecoran tiap lantai dimana besarnya kemunduran berkisar antara 17 hingga 52 hari. Alternatif skenario evaluasi jumlah grup TC yang paling optimal adalah skenario 3, dimana pada skenario tersebut TC1 tidak digunakan untuk mengangkut material. Hasil dari penelitian dapat disimpulkan bahwa pihak kontraktor menggunakan tower crane diperuntukan untuk sebuah proyek mall dan apartemen yang memiliki lingkup area yang luas (> 100.000 m²). Pihak kontraktor dalam memilih alat berat jenis crane ini memperhatikan faktor luasan area proyek yang akan dikerjakan, kemudian disesuaikan dengan kapasitas crane yang akan dipakai.biaya yang harus dikeluarkan untuk menyewa tower crane dalam satu bulan mencapai Rp. 61.830.000, sedangkan untuk mobile crane biaya yang harus dikeluarkan 58.200.000. Rp. II - 16

9 Robertus R. Sunur, Adi Kurniawan, Universitas Petra Surabaya, Surabaya 2007. Program perhitungan efektivitas penggunaan tower crane pada bangunan bertingkat. BAB II STUDI PUSTAKA Pada Program Perhitungan Efektivitas Penggunaan Tower Crane menghasilkan durasi total penggunaan TC, dimana durasi ini dipakai untuk memperkirakan efektivitas penggunaan TC. Program Perhitungan Efektivitas TC bisa digunakan untuk mencari efektivitas penggunaan TC yang paling optimal yaitu dengan cara trial and error dengan mengubah data-data yang dapat diubah seperti jenis TC, jam kerja per hari, ukuran buket, dan letak sumber material. Program Perhitungan Efektivitas TC dapat digunakan dengan mudah oleh pemakai program karena program ini diproses dengan menggunakan software Microsoft Excel XP sehingga pemakai program dapat langsung mengoperasikan tanpa harus meng-install software lain. II - 17

Posisi penelitian ini : Luffing Tower crane Waktu Biaya PENELITIAN INI Loekita et all,2015 Sunur et all,2007 Lestari,2014 Nihayatun,2014 Wibowo,2014 Sumartomo, 2014 Saddle Tower crane Tower crane Ridha,2011 Takaredas,2014 Jamato et all,2015 Mobile crane Gambar 2.7 : Posisi penelitian II - 18