Susu segar-bagian 1: Sapi

dokumen-dokumen yang mirip
Sarden dan makerel dalam kemasan kaleng

Air demineral SNI 6241:2015

Tuna dalam kemasan kaleng

SNI 4482:2013 Standar Nasional Indonesia Durian ICS Badan Standardisasi Nasional

Telur ayam konsumsi SNI 3926:2008

Kepiting (Scylla Serrata) kulit lunak beku Bagian 1: Spesifikasi

Air mineral SNI 3553:2015

Sosis ikan SNI 7755:2013

Cara uji fisika Bagian 2: Penentuan bobot tuntas pada produk perikanan

Biji kakao AMANDEMEN 1

Bibit induk (parent stock) umur sehari/kuri (day old chick) Bagian 1: Ayam ras tipe pedaging

Bibit niaga (final stock) umur sehari/kuri (day old chick) Bagian 2: Ayam ras tipe petelur

Mutu karkas dan daging ayam

Tuna loin segar Bagian 1: Spesifikasi

Kayu gergajian Bagian 3: Pemeriksaan

TINJAUAN PUSTAKA. Susu

Bibit sapi potong Bagian 1: Brahman Indonesia

Air mineral alami SNI 6242:2015

Siomay ikan SNI 7756:2013

Analisis kadar abu contoh batubara

SNI 3165:2009. Standar Nasional Indonesia. Copy SNI ini dibuat oleh BSN untuk Panitia Teknis Perumusan SNI Pertanian.

SNI 4230:2009. Standar Nasional Indonesia. Pepaya

Kulit masohi SNI 7941:2013

SNI Standar Nasional Indonesia. Ikan tuna dalam kaleng Bagian 1: Spesifikasi

Gaharu SNI 7631:2011. Hak Cipta Badan Standardisasi Nasional, Copy standar ini dibuat untuk penayangan di website dan tidak untuk dikomersialkan

Semen portland komposit

Terasi udang SNI 2716:2016

Kayu lapis indah jenis jati Bagian 1: Klasifikasi, persyaratan dan penandaan

Kawat baja tanpa lapisan untuk konstruksi beton pratekan (PC wire / KBjP )

Ikan beku Bagian 1: Spesifikasi

Bibit rumput laut kotoni (Eucheuma cottonii )

Bambu lamina penggunaan umum

Ikan lele dumbo (Clarias sp.) Bagian 3 : Produksi induk

Metode uji residu aspal emulsi dengan penguapan (ASTM D , IDT)

ZULISTIA Air dan air limbah Bagian 80: Cara uji warna secara spektrofotometri SNI :2011

Minyak terpentin SNI 7633:2011

Spesifikasi aspal emulsi kationik

SNI Standar Nasional Indonesia. Filet kakap beku Bagian 1: Spesifikasi

Semen beku Bagian 3 : Kambing dan domba

SNI Standar Nasional Indonesia. Sari buah tomat. Badan Standardisasi Nasional ICS

Bibit induk (parent stock) itik Mojosari meri

Bibit sapi perah holstein indonesia

SNI Standar Nasional Indonesia. Susu pasteurisasi. Badan Standardisasi Nasional ICS

Minuman sari buah SNI

Cara uji kadar air total agregat dengan pengeringan

Bibit induk (parent stock) itik Alabio meri

Ikan segar - Bagian 3: Penanganan dan pengolahan

Pupuk kalium klorida

Air dan air limbah Bagian 10: Cara uji minyak nabati dan minyak mineral secara gravimetri

Metode uji pengendapan dan stabilitas penyimpanan aspal emulsi (ASTM D , MOD.)

Embrio ternak - Bagian 1: Sapi

Cara uji berat jenis aspal keras

SNI Standar Nasional Indonesia. Udang beku Bagian 3: Penanganan dan pengolahan

Cara uji daktilitas aspal

Metode uji persentase partikel aspal emulsi yang tertahan saringan 850 mikron

Atmosfer standar untuk pengondisian dan/atau pengujian - Spesifikasi

TINJAUAN PUSTAKA. Sapi Friesian Holstein (FH)

SNI Standar Nasional Indonesia. Kecap kedelai. Badan Standardisasi Nasional ICS

Bakso ikan SNI 7266:2014

SNI Standar Nasional Indonesia. Saus cabe

Filet kakap beku Bagian 3: Penanganan dan pengolahan

TINJAUAN PUSTAKA Sifat Umum Susu

Es untuk penanganan ikan - Bagian 1: Spesifikasi

Tuna loin segar Bagian 2: Persyaratan bahan baku

Pengemasan benih udang vaname (Litopenaeus vannamei) pada sarana angkutan darat

Udara ambien Bagian 10: Cara uji kadar karbon monoksida (CO) menggunakan metode Non Dispersive Infra Red (NDIR)

Cara uji sifat tahan lekang batu

Ikan kerapu bebek (Cromileptes altivelis, Valenciences) - Bagian 2: Benih

Cara uji titik lembek aspal dengan alat cincin dan bola (ring and ball)

Cara uji kandungan udara dalam beton segar dengan metode tekan

Produksi bibit rumput laut kotoni (Eucheuma cottonii) Bagian 1: Metode lepas dasar

TINJAUAN PUSTAKA. bahan pangan yang sehat, tanpa dikurangi komponen-komponennya (Hadiwiyoto,

Cara uji penetrasi aspal

Metode uji penentuan campuran semen pada aspal emulsi (ASTM D , IDT)

Analisis Kadar Seng (Zn) dan Penentuan Angka Lempeng Total (Alt) Mikroba pada Susu Segar di Peternakan Kawasan Arjasari Kab. Bandung.

Pengemasan benih udang vaname (Litopenaeus vannamei) pada sarana angkutan udara

Bibit sapi potong - Bagian 3 : Aceh

Ikan lele dumbo (Clarias sp.) Bagian 2 : Benih

Semen beku Bagian 1: Sapi

Kayu bundar jenis jati Bagian 3: Pengukuran dan tabel isi

Metode uji penentuan ukuran terkecil rata-rata (UKR) dan ukuran terbesar rata-rata (UBR) butir agregat

Ikan tuna dalam kaleng Bagian 3: Penanganan dan pengolahan

SNI Standar Nasional Indonesia. Saus tomat ICS Badan Standardisasi Nasional

Pakan konsentrat Bagian 5 : Ayam ras pedaging (broiler concentrate)

Bibit sapi potong Bagian 6: Pesisir

Tata cara pengambilan contoh uji campuran beraspal

Kayu lapis - Klasifikasi. Plywood - Classification

Cara uji kemampuan penyelimutan dan ketahanan aspal emulsi terhadap air

Rambu evakuasi tsunami

Metode penyiapan secara kering contoh tanah terganggu dan tanah-agregat untuk pengujian

Mesin pemecah biji dan pemisah kulit kakao - Syarat mutu dan metode uji

Kayu bundar Bagian 2: Pengukuran dan tabel isi

Bibit induk (parent stock) itik Alabio muda

Semen cair babi SNI 8034: Hak Cipta Badan Standardisasi Nasional, Copy standar ini dibuat untuk penayangan di dan tidak untuk di

Bibit babi Bagian 4 : Hampshire

Kertas, karton dan pulp Cara uji kadar abu pada 525 o C

Perpustakaan umum kabupaten/kota

I. PENDAHULUAN. mengandung sejumlah mikroba yang bermanfaat, serta memiliki rasa dan bau

Metode uji penentuan persentase butir pecah pada agregat kasar

SNI Standar Nasional Indonesia. Gambir. Badan Standardisasi Nasional ICS

Transkripsi:

Standar Nasional Indonesia Susu segar-bagian 1: Sapi ICS 67.100.01 Badan Standardisasi Nasional

Copyright notice Hak cipta dilindungi undang undang. Dilarang menyalin atau menggandakan sebagian atau seluruh isi dokumen ini dengan cara dan dalam bentuk apapun dan dilarang mendistribusikan dokumen ini baik secara elektronik maupun hardcopy tanpa izin tertulis dari BSN BSN Gd. Manggala Wanabakti Blok IV, Lt. 3,4,7,10. Telp. +6221 5747043 Fax. +6221 5747045 Email: dokinfo@bsn.go.id www.bsn.go.id Diterbitkan di Jakarta

Daftar Isi Daftar Isi... i Prakata... ii Pendahuluan... iii 1 Ruang lingkup... 1 2 Acuan normatif... 1 3 Istilah dan definisi... 1 4 Persyaratan mutu... 2 5 Pengambilan contoh... 2 6 Pengujian... 2 7 Pengemasan... 3 8 Pelabelan... 3 9 Rekomendasi... 3 Bibliografi... 4 Tabel 1 - Syarat mutu susu segar... 2 i

Prakata Standar ini merupakan revisi SNI 01-3141-1998, Susu segar. Revisi diutamakan pada persyaratan mutu dengan alasan sebagai berikut: a) Meningkatkan posisi tawar peternak sapi perah nasional b) Menyediakan bahan baku berkualitas bagi industri pengolahan susu dalam negeri c) Melindungi konsumen d) Meningkatkan kinerja agribisnis dan agroindustri e) Menunjang ekspor non migas Standar ini terdiri atas beberapa bagian yang secara umum berjudul susu segar. Bagian 1 menjelaskan tentang standar susu sapi segar dan bagian selanjutnya menjelaskan standar susu segar sesuai jenis ternak perah yang akan disusun mengikuti perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. Standar ini disusun oleh Panitia Teknis 67-03:Peternakan dan Produk Peternakan. Standar ini telah dibahas dalam rapat teknis dan terakhir disepakati dalam rapat konsensus di Jakarta pada tanggal 5 April 2010. Hadir dalam konsensus tersebut anggota Panitia Teknis 67-03:Peternakan dan Produk Peternakan serta instansi terkait lainnya. Standar ini juga telah melalui jajak pendapat pada tanggal 27 Juli 2010 sampai dengan 26 September 2010 dan disetujui menjadi Rancangan Akhir Standar Nasional Indonesia (RASNI). ii

Pendahuluan Susu merupakan sumber protein hewani yang dibutuhkan dalam pertumbuhan dan perkembangan tubuh serta dalam menjaga kesehatan. Susu sapi segar merupakan unsur penting dalam industri pengolahan susu. Sebagai pangan asal hewan, susu bersifat mudah rusak (perishable food). Dalam rangka meningkatkan peran susu segar dalam negeri dan perlindungan terhadap konsumen dan produsen, telah ditetapkan standar nasional SNI 01-3141-1998 mengenai standar susu segar. Dengan perkembangan ilmu pengetahuan, teknologi dan seni, maka SNI 01-3141-1998 Susu segar perlu direvisi sebagai acuan dalam pembinaan kualitas maupun kuantitas produksinya. iii

1 Ruang lingkup Susu segar - Bagian 1:Sapi Standar ini menetapkan persyaratan mutu, pengambilan contoh, pengujian, pengemasan, dan pelabelan susu sapi segar. Standar ini digunakan hanya untuk susu sapi segar sebagai bahan baku pengolahan lanjut. 2 Acuan normatif Untuk acuan bertanggal berlaku edisi yang tertulis dan untuk acuan tidak bertanggal edisi terakhir yang berlaku (termasuk revisi dan amandemennya). SNI 0429, Petunjuk pengambilan contoh cairan dan semi padat. SNI 2782, Metoda pengujian susu segar. SNI 2896, Cara uji cemaran logam dalam makanan. SNI 2897:2008, Metode pengujian cemaran mikroba dalam daging, telur dan susu, serta hasil olahannya. SNI 7424:2008, Metode uji tapis (screening test) residu antibiotika pada daging, telur dan susu secara bioassay. Joint IDF/ISO Standard-IDF 148-1-ISO/13366-1, Milk-Enumeration of somatic cell-part 1. Microscopic method (reference method). 3 Istilah dan definisi Untuk tujuan penggunaan standar ini, istilah dan definisi berikut digunakan: 3.1 susu segar (raw milk) cairan yang berasal dari ambing sapi sehat dan bersih, yang diperoleh dengan cara pemerahan yang benar, yang kandungan alaminya tidak dikurangi atau ditambah sesuatu apapun dan belum mendapat perlakuan apapun kecuali pendinginan 3.2 Nomor Kontrol Veteriner (NKV) sertifikat sebagai bukti tertulis yang sah telah dipenuhinya persyaratan higiene-sanitasi sebagai kelayakan dasar jaminan keamanan pangan asal hewan pada unit usaha pangan asal hewan 1 dari 4

4 Persyaratan mutu Persyaratan mutu susu segar dapat dilihat pada Tabel 1 berikut ini : Tabel 1 - Syarat mutu susu segar No. Karakteristik Satuan Syarat a. Berat Jenis (pada suhu 27,5 g/ml 1,0270 o C) minimum b. Kadar lemak minimum % 3,0 c Kadar bahan kering tanpa % 7,8 lemak minimum d Kadar protein minimum % 2,8 e Warna, bau, rasa, kekentalan - Tidak ada perubahan f Derajat asam SH 6,0 7,5 g ph - 6,3 6,8 h Uji alkohol (70 %) v/v - Negatif i Cemaran mikroba, maksimum: 1. Total Plate Count 2. Staphylococcus aureus 3. Enterobacteriaceae j Jumlah sel somatis maksimum k Residu antibiotika (Golongan penisilin,tetrasiklin, Aminoglikosida, Makrolida) CFU/ml CFU/ml CFU/ml 1x10 6 1x10 2 1x10 3 sel/ml 4x10 5 - Negatif l Uji pemalsuan - Negatif m Titik beku o C -0,520 s.d - 0,560 n Uji peroxidase - Positif o Cemaran logam berat, maksimum: 1. Timbal (Pb) 2. Merkuri (Hg) 3. Arsen (As) µg/ml µg/ml µg/ml 0,02 0,03 0,1 5 Pengambilan contoh Cara pengambilan contoh sesuai dengan SNI 0429. 6 Pengujian 6.1 Cara pengujian berat jenis, kadar lemak, kadar bahan kering tanpa lemak, kadar protein, warna, bau, rasa, kekentalan, derajat asam, ph, uji alkohol, uji pemalsuan, titik beku dan uji peroxidase sesuai dengan SNI 2782. 6.2 Cara pengujian cemaran mikroba sesuai dengan SNI 2897-2008. 6.3 Cara pengujian sel somatis sesuai dengan Joint IDF/ISO Standard-IDF 148-1- ISO/13366-1. 6.4 Cara pengujian residu antibiotik sesuai dengan SNI 7424:2008. 2 dari 4

6.5 Cara pengujian cemaran logam berat sesuai dengan SNI 2896. 7 Pengemasan Susu segar dikemas dalam wadah tertutup yang terbuat dari bahan yang tidak toksik dan tidak mengakibatkan penyimpangan/kerusakan susu segar selama penyimpanan dan pengangkutan. 8 Pelabelan Informasi pada label kemasan primer minimal mencantumkan nama produk, nama produsen, berat bersih atau isi bersih, dan NKV. 9 Rekomendasi Karakteristik mutu cemaran logam berat dipersyaratkan jika diperlukan dan pengujiannya sesuai dengan SNI 2896. 3 dari 4

Bibliografi Undang-undang Nomor 18 Tahun 2009 tentang Peternakan dan Kesehatan hewan; Peraturan Pemerintah No. 69 Tahun 1999 tentan Label dan Iklan Pangan; Peraturan Menteri Pertanian Nomor 381/Kpts/OT.140/10/2005 tentang Pedoman Sertifikasi Kontrol Veteriner Pada Unit Usaha Pangan Asal Hewan; CAC/RCP 57-2004 Code Of Hygienic Practice For Milk And Milk Products; SNI 7387:2009, Batas maksimum cemaran logam berat dalam pangan; SNI 7388:2009, Batas maksimum cemaran mikroba dalam pangan. 4 dari 4