Integrasi Sensor Multifungsi Accelerometer untuk Mendeteksi Kekuatan Benturan

dokumen-dokumen yang mirip
SISTEM INFORMASI KECELAKAAN KENDARAAN TERINTEGRASI BERBASIS MIKROKONTROLER TUGAS AKHIR. Oleh : Emilio Santos Abdullah

I. PENDAHULUAN. Tingginya angka kecelakaan di Indonesia sering sekali menjadi topik pembicaraan

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

BAB IV PENGUJIAN DAN ANALISA ALAT

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

Rancang Bangun Smart Vehicle untuk Mendeteksi Dini Kecelakaan dan Keadaan Darurat

Kendaraan Otonom Berbasis Kendali Teaching And Playback Dengan Kemampuan Menghindari Halangan

PERENCANAAN SISTEM PENGEREMAN OTOMATIS SEPEDA MOTOR DENGAN MENGGUNAKAN AKTUATOR REM TROMOL

RANCANG BANGUN SMART VEHICLE UNTUK MENDETEKSI DINI KECELAKAAN DENGAN PELAPORAN VISUAL PADA GOOGLE MAPS

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

KOTAK HITAM SEBAGAI PENCATAT PENGEREMAN, KECEPATAN, DAN TEMPERATUR MESIN SEPEDA MOTOR DENGAN MEDIA SECURE DIGITAL CARD

BAB III METODOLOGI 3.1 Metode Analisis Analisis Kebutuhan Alat dan Bahan

BAB IV IMPLEMENTASI DAN PENGUJIAN

BAB I PENDAHULUAN. 1 Universitas Kristen Maranatha

BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang

BAB III PERANCANGAN SISTEM. PU yang berfungsi mengatur dan bekerja sebagai kunci dari semua komponen

LANGGAR ATURAN SANKSI MENUNGGU TAHAP II

BAB II DASAR TEORI 2.1. Konsep Dasar Sistem Gambar 2.1

RANCANG BANGUN SISTEM MONITORING PARKIR BERBASIS MIKROKONTROLER AT89S52. Laporan Tugas Akhir. Oleh: Aditya Ari Murdani J0D007004

Laporan Tugas Akhir BAB I PENDAHULUAN

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

IMPLEMENTASI BLUETOOTH HC-05 UNTUK MENGURANGI TINGKAT KECELAKAAN PADA PENGENDARA SEPEDA MOTOR

Cooperative Driving Pada Perempatan Jalan Berbasis Fuzzy Logic Menggunakan Komunikasi Antar Kendaraan

PRESENTASI TUGAS AKHIR. Oleh : M. NUR SHOBAKH

Palang Pintu Kereta Api Otomatis Berbasis Data Global Positioning System (GPS)

I. PENDAHULUAN. Salah satu peralatan yang sangat penting pada bagian distribusi yaitu

PROTOTIPE KUNCI REM CAKRAM SEPEDA MOTOR MENGGUNAKAN PENGENDALI JARAK JAUH BERBASIS MIKROKONTROLER ARDUINO

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang

Rancang Bangun PLC ( Programmable Logic Control ) Dengan Mempergunakan Mikrokontroler ATmega8

BAB I PENDAHULUAN. Mikrokontroler merupakan pengontrol mikro atau disebut juga Single Chip

BAB 1 PENDAHULUAN. Perkembangan teknologi instrumentasi elektronika sekarang mengalami

BAB I PENDAHULUAN. Kebutuhan dan perkembangan sistem tracking antena pada komunikasi

BAB I PENDAHULUAN. ini berpengaruh pula pada pembuatan alat-alat canggih, yaitu alat yang

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

BAB III PERANCANGAN SISTEM

BAB III PERANCANGAN ALAT

BAB I PENDAHULUAN. jalan sebagai alat untuk mengatur kelancaran lalu lintas. Cara kerja dari lampu

Sistem Kendali dan Pemantauan Kursi Roda Elektrik

SISTEM PENJEJAK POSISI OBYEK BERBASIS UMPAN BALIK CITRA

BAB IV HASIL DAN UJI COBA

BAB I PENDAHULUAN. bermotor semakin meningkat. Kasus pencurian kendaraan bermotor di kota Bandung

Kotak Surat Pintar Berbasis Mikrokontroler ATMEGA8535

APLIKASI TEKNOLOGI GSM/GPRS PADA SISTEM DETEKSI KEBAKARAN BERBASIS MIKROKONTROLLER ATMEGA 8535 ABSTRAK

BAB IV PERANCANGAN. Gambar 4.1 Blok diagram program

BAB III PERANCANGAN ALAT

BAB IV PENGUJIAN DAN ANALISIS. pengukuran sensor yang sudah diolah oleh arduino dan dibandingkan dengan

DISAIN DAN IMPLEMENTASI PENGENDALI LAMPU JARAK JAUH DAN DEKAT PADA KENDARAAN BERMOTOR SECARA OTOMATIS

BAB I PENDAHULUAN. Indonesia dengan sistem robot tanpa awak yang dapat dikendalikan secara otomatis

BAB III PERENCANGAN DAN PEMBUATAN ALAT

Active Steering Assistane For Turned Road Based On Fuzzy Logic

BAB I PENDAHULUAN. segala peralatan elektronik. Akan tetapi, energi-energi tersebut berbeda dengan

BAB IV PENGUJIAN ALAT DAN ANALISA

KONTROL KECEPATAN FAN DAN MONITORING ONLINE SUHU PADA RAK SERVER POLITEKNIK NEGERI BATAM

BAB 1 PENDAHULUAN. yang ada sekarang ini baik di perkantoran, gedung-gedung bertingkat dan tempattempat

BAB 2 LANDASAN TEORI

BAB I PENDAHULUAN BAB I PENDAHULUAN

BAB III METODE PENELITIAN. Dibawah ini merupakan flowchart metode penelitian yang digunakan,

MODEL SISTEM PENGATURAN LALU LINTAS SECARA NIRKABEL PADA PINTU PERLINTASAN KERETA API

Penggunaan Sensor Kesetimbangan Accelerometer dan Sensor Halangan Ultrasonic pada Aplikasi Robot Berkaki Dua

BAB II KONSEP DASAR ALAT PENGERING CENGKEH BERBASIS MIKROKONTROLER

BAB III ANALISIS DAN DESAIN SISTEM

PENGARUH SUDUT PEDAL GAS TERHADAP BUKAAN THROTTLE SIMULATOR THROTTLE-BY-WIRE

BAB I PENDAHULUAN. SIM yang dikeluarkan yaitu SIM A, BI, BII, C dan D. Lulus ujian teori dan ujian praktik merupakan syarat-syarat untuk

PROTOTIPE SISTEM KENDALI PENGGUNAAN PERALATAN LISTRIK BERBASIS SUARA

BAB III METODE PENELITIAN. mengerjakan tugas akhir ini. Tahap pertama adalah pengembangan konsep

BAB III PERENCANAAN PERANGKAT KERAS DAN LUNAK

2 METODE PENELITIAN. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Januari 2015 hingga Oktober 2015

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB IV. PERANCANGAN. Blok diagram menggambarkan cara kerja semua sistem E-dump secara keseluruhan yang terdiri dari beberapa komponen:

RANCANG BANGUN DATA AKUISISI TEMPERATUR 10 KANAL BERBASIS MIKROKONTROLLER AVR ATMEGA16

IMPLEMENTASI SENSOR AKSELEROMETER DAN MODUL GPS UNTUK RANCANG BANGUN SMARTBIKE Faisal Alfaeru, Aries Boedi Setiawan, Nachrowie 5

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang

Alat Pendeteksi Kebocoran Gas LPG Pada Sistem Rumah Tangga Berbasis Mikrokontroler

Gambar 3.1 Diagram Blok Sistem

III. METODOLOGI PENELITIAN

Clamp-Meter Pengukur Arus AC Berbasis Mikrokontroller

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

BAB III METODE PENELITIAN. diperlukan dengan beberapa cara yang dilakukan, antara lain:

PROTOTYPE KEBAKARAN HUTAN MENGGUNAKAN MODEL WARNA CMY DAN CMYK

MESIN PENYAJI BERAS SECARA DIGITAL

BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang

PENGUKUR PERCEPATAN GRAVITASI MENGGUNAKAN GERAK HARMONIK SEDERHANA METODE BANDUL

Jurnal Coding Sistem Komputer Untan Volume 05, No.2 (2017), hal ISSN : X

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

PERANCANGAN DAN PEMBUATAN SISTEM INFORMASI SLOT PARKIR MENGGUNAKAN VISUAL BASIC BERBASIS ARDUINO UNO

Oleh : Pembimbing : Rachmad Setiawan, ST.,MT. NIP

PERANCANGAN DAN PEMBUATAN ALAT PENGERING KAIN OTOMATIS DENGAN MEMANFAATKAN MIKROKONTROLER ATMega8535 dan SENSOR SHT11

BAB I PENDAHULUAN. kunci pintu rumah yang ada sekarang ini sebagian besar masih menggunakan

Transkripsi:

Integrasi Sensor Multifungsi Accelerometer untuk Mendeteksi Kekuatan Benturan Iman Fahruzi 1, Emilio Santos Abdullah 2 1,2 Jurusan Teknik Elektro, Politeknik Negeri Batam 1,2 Parkway St- Batam Centre, Batam, 29461 1 iman@polibatam.ac.id Abstrak Sensor multifungsi accelerometer adalah salah satu perangkat yang dapat digunakan untuk mendeteksi atau mengekstrak informasi penting akibat dari adanya benturan atau guncangan yang disebabkan adanya tabrakan kendaraan bermotor atau berbenturan dengan benda padat. Sinyal yang diperoleh saat sensor mendeteksi adanya sumber goncangan atau benturan selanjutnya akan diproses oleh mikrokontroler dan sistem akan secara otomatis mengirimkan peringatan melalui SMS yang berisi koordinat lokasi kejadian dan waktu terjadinya benturan atau goncangan melalui jaringan GSM ke Traffic Management Center(TMC) sehingga koordinasi antara pihak terkait segera bisa dilakukan dan yang lebih penting penanganan korban kecelakaan bisa diselesaikan dengan cepat oleh tenaga medis. Hasil penelitian awal ini memperlihatkan semangkin tinggi perubahan kecepatan akan mengakibatkan efek benturan yang besar baik dari arah samping kiri-kanan dan arah depan-belakang. Pada pengujian sistem dilakukan pada mobil rakitan dengan bobot saat uji coba sebesar ± 200 Kg dengan laju kecepatan 15-30 Km/jam, efek goncangan yang dihasilkan cukup berdampak dan merusak objek yang berbenturan. Kata kunci : accelerometer, benturan, mikrokontroler, GSM, Mobile Network 1. Pendahuluan Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi (IPTEK) sekarang ini yang begitu cepat baik teknologi perangkat lunak maupun perangkat keras saling berlomba-lomba untuk memenuhi kebutuhan manusia, oleh karena itu tidak heran lagi pada umumnya semua jenis sarana dan prasarana banyak yang menggunakan teknologi tepat guna untuk mempermudah manusia dalam menjalankan aktivitas, karena mudah diakses, mudah digunakan dan bisa digunakan kapan dan dimana saja. Salah satu yang perkembangannya sangat dinamis adalah sarana dan prasarana transportasi yang terintegrasi dengan sistem informasi. Transportasi pada era modern ini merupakan kebutuhan primer untuk semua orang. Jumlah alat transportasi yang semakin banyak berbanding lurus dengan tingkat kejadian kecelakaan lalu lintas. Kecelakaan lalu lintas masih sering banyak terjadi yang mana efek dari kecelakaan tersebut dapat menyebabkan kerugian besar baik luka-luka atau bahkan kematian bagi pengendara, hal ini terjadi karena kurangnya fasilitas darurat yang memadai dan tidak adanya sistem yang baku jika terjadi kecelakaan sehingga koordinasi antara instansi tidak maksimal dan merugikan pihak-pihak yang mengalami kecelakaan. Hasil penelitian menyebutkan bahwa 9 dari 10 kematian di jalan terjadi di negara-negara berkembang. Menurut WHO dan UNICEF, kecelakaan menimpa anak-anak muda berusia 10 sampai 24 tahun dan pada tahun 2015 hal ini diprediksi menjadi faktor utama kematian dan cacat dalam usia muda di dunia. Data juga menyebutkan sekitar 260.000 anak-anak meninggal dan 10.000.000 lainnya terluka karena kecelakaan. Tiap enam detik, satu nyawa menjadi korban dari kecelakaan jalan di dunia. Dalam tiap tahun, sebanyak 1,3 juta orang meninggal karena

kecelakaan[4]. Kematian di jalan dapat melebihi kematian karena penyakit malaria atau tuberkulosis. Hal yang perlu diperhatikan bahwa korban kecelakaan tidak hanya korban yang tewas pada saat kejadian, justru yang paling penting adalah banyak korban luka berat dan luka ringan dari suatu kecelakaan lalu lintas yang jika tidak mendapatkan pertolongan keamanan dan medis dengan segera, maka akan berakibat pada kematian ataupun cacat seumur hidup. Keterlambatan penanganan kecelakaan sering terjadi dikarenakan keterlambatan informasi yang diterima oleh kepolisian dan rumah sakit terdekat. Saat ini pihak kepolisian dan rumah sakit hanya bergantung pada informasi dari masyarakat. Hal tersebut mempunyai kekurangan pada sisi kecepatan memberikan informasi dan ketergantungan kepada manusia untuk melapor, sedangkan ada kalanya kecelakaan terjadi pada daerah yang sepi dan jauh dari masyarakat sehingga pola penanganannya tidak bisa secara tradisional. Oleh karena itu diperlukan suatu sistem yang dapat secara mandiri mendeteksi terjadinya kecelakaan dan melakukan pelaporan secara cepat, guna membantu terciptanya penanganan kecelakaan yang lebih responsif dan tepat. 2. Bahan dan Metode Penelitian 2.1 Mikrokontroller Mikrokontroler[5] merupakan sebuah prosessor yang digunakan untuk kepentingan mengendalikan peralatan, seperti pada gambar 2.1. Meskipun mempunyai bentuk yang jauh lebih kecil dari bentuk suatu komputer, mikrokontroller dibangun dari elemen-elemen dasar yang sama. Seperti umumnya komputer, mikrokontroller adalah alat yang mengerjakan instruksi-instruksi yang diberikan kepadanya. Artinya bagian terpenting dan utama dari suatu sistem terkomputasi adalah program itu sendiri dibuat oleh programmer. Program ini mengintruksikan komputer/mikrokontroller untuk melakukan tugas yang lebih kompleks yang diinginkan programmer. Gambar 2.1. Mikrokontroler Arduino 2.2 Sensor Accelerometer Sensor accelerometer[5,6] adalah sebuah sensor yang digunakan untuk mengukur percepatan linier, mengukur dan mendeteksi getaran (vibrasi) dan mengukur percepatan akibat gravitasi (inklinasi). Sensor accelerometer mengukur percepatan akibat gerakan benda yang melekat padanya. Percepatan merupakan suatu keadaan berubahnya kecepatan terhadap waktu, bertambahnya suatu kecepatan dalam suatu rentang waktu disebut juga percepatan(acceleration), jika kecepatan semakin berkurang dari pada kecepatan ssebelumnya disebut deceleration. Sensor accelerometer dapat digunakan untuk mengukur getaran pada mobil, mesin, bangunan, dan instalasi pengaman. Sensor accelerometer juga dapat di aplikasikan pada pengukuran aktifitas gempa bumi dan peralatan-peralatan elektronik, seperti permainan tiga dimensi, mouse komputer, dan telepon. Untuk aplikasi yang lebih lanjut sensor ini banyak digunakan untuk keperluan navigasi. Adapun sensor yang digunakan pada penelitian ini adalah model Combo 3000, seperti gambar 2.2. Gambar 2.2. Sensor Combo 3000 Accelerometer yang diletakan di permukaan bumi dapat mendeteksi percepatan 1g(ukuran gravitasi bumi) pada titik vertikalnya, untuk percepatan yang dikarenakan oleh pergerakan horizontal maka accelerometer akan mengukur percepatannya secara langsung ketika bergerak secara horizontal. Hal ini sesuai dengan tipe dan jenis sensor accelerometer yang digunakan karena setiap jenis sensor berbeda-beda sesuai dengan spesifikasi yang dikeluarkan oleh perusahaan pembuatnya. Saat ini hampir semua sensor accelerometer sudah dalam bentuk digital (bukan sistem mekanik) sehingga cara kerjanya hanya berdasarkan temperatur yang diolah secara digital dalam satu chip. 2.3 Diagram Blok Sistem Secara garis besar, sistem ini terdiri dari 3 blok utama yaitu : Unit masukan/input :

Memberikan masukan untuk diproses oleh unit pemroses (mikrokontroler). Unit Pemrosesan : Melakukan pemrosesan terhadap data-data yang diterima untuk selanjutnya ditampilkan pada bagian keluaran/output. Unit keluaran/output : Menampilkan hasil pemrosesan sebagai hasil akhir dari sistem. Modul sistem yang akan digunakan pada pengujian deteksi benturan ini berbasis Mikrokontroller ini terdiri dari: Gambar 3.1. Penempatan Sensor Accelerometer saat Pengujian Input : 1. Sensor accelerometer. 2. Modul GPS. 3. Power Supply. Keluaran : Modul GSM. Pelengkap: Tampilan LCD dan simulator kendaraan. Gambar 3.2. Posisi Modul pada Kendaraan Uji Power Supply LCD SWITCH SYSTEM MIKROKONTROLLER SENSOR ACCELEROMETER Pengujian berikutnya adalah uji coba berdasarkan perubahan kecepatan dan efek yang dihasilkan ketika terjadi benturan dengan objek lain. Tabel 3.1. Data Pengujian 15 20 Km/jam 15-20 Km/Jam 3G+ GPS dan GSM Serial Communication Gambar 2.3 Diagram Blok Prototipe Berdasarkan Gambar 2.3, prinsip kerja sistem ini adalah apabila terjadi suatu kecelakaan atau tabrakan pada kendaraan maka sensor accelerometer akan membaca, dan data dari sensor accelerometer akan dibaca oleh mikrokontroller, kemudian mikrokontroller akan mengirimkan data ke modul gsm yang berupa sms, informasi isi pesan didalam sms berupa koordinat dari tempat lokasi kecelakaan, kemudian sms ini akan dikirimkan ke rumah sakit dan kantor polisi. 3. Hasil Pengujian Pengujian modul sensor accelerometer berikutnya dilakukan secara terintegrasi, dengan menempatkannya pada bagian mobil dengan arah pergerakkan seperti pada gambar 3.1 dan gambar 3.2. Pengujian tabrakan dilakukan dengan menabrakan mobil rakitan dengan benda padat(dinding beton). NO x y z 1-4 -8 226 2-1 -9 223 3-1 -10 225 4-2 -10 225 5 0-8 220 6 0-25 224 7 30-25 286 8 18-75 160 9 53 7 184 10-68 63-22 11-21 -87-249 12 11-178 192 13 17 38 42 14 95-10 260 15-128 145 190 16 6-4 245 17 0-5 216 18 52 0 272

19 20 21 22 23 24 25 15-20 Km/Jam 6 2 231 12-2 237 5-1 227 4-1 227 8-2 226 5 0 227 3-1 227 50 8-5 228 51 7-5 226 52 8-6 226 53 8-4 226 54 7-6 225 55 7-5 226 56-7 -2 225 57 7-12 216 58 8-5 239 59 5-6 227 60 11-6 212 61 7-6 225 62 5-6 226 63 6-6 226 64 9-8 226 65 4-8 227 Gambar 3.3. 15-20 km/jam Hasil pengujian pada tabel 3.1 dan gambar 3.3 memperlihatkan bahwa pergerakan pada sumbu z lebih responsif terhadap benturan. Tabel 3.2. Data Pengujian 20 30 Km/jam 25-30 Km/Jam 33 12 3 218 34 35 36-15 -13 202 4-27 217-21 88 204 37 44-77 152 38-20 9 511 39-80 -12 358 40-165 -70 33 41 42 43 44 45 46 108-98 194-119 21 279-198 -275 51-47 109 331 18-61 193 13-10 256 47 7-1 224 48 5-18 224 49 9-8 227 Gambar 3.4. 22-30 km/jam Sedangkan pada pengujian berikutnya seperti pada table 3.2 dan gambar 3.4, memperlihatkan sumbu z dan sumbu z lebih resposif terhadap perubahan kecepatan akibat dari benturan dengan objek padat. 4. Kesimpulan Percepatan meningkat atau menurun secara proportional dengan gaya atau dengan kata lain bisa diartikan, semakin besar percepatan gravitasi, semakin besar gaya yang dirasakan (semakin berat). Pada pengujian sistem ini dengan bobot mobil yang digunakan untuk uji coba ± 200 Kg dengan laju kecepatan 15-30 Km/jam, akan menghasilkan efek goncangan yang besar dan akan dampaknya cukup merusak terhadap objek yang berbenturan. Semangkin tinggi perubahan kecepatan akan mengakibatkan efek benturan yang besar baik dari arah samping kiri-kanan dan arah depan dan belakang.

Pada Pengujian ini, kekuatan gaya yang dihasilkan atau dirasakan oleh sensor menentukan seberapa besar nilai g- force. Daftar Pustaka: [1] Abidin, ZA, Penentuan Posisi Dengan GPS Dan Aplikasinya, Jakarta, 2007. [2] Dian Artanto, 60 Aplikasi PLC-Mikro, PT. Elex Media Komputindo, Jakarta, 2012 [3] Pebrianto Budi Prabowo, Rancang Bangun Aplikasi Pemantau Penyelewengan Kendaraan Dinas Dengan Menggunakan Modul GPS, Jurusan Teknik Informatika, Sekolah Tinggi Manajemen Informatika dan Komputer Yogyakarta, 2010. [4] http://zona-opensource.blogspot.com /2012_04_01_archive.html, diakses Januari 2013 [5] https://www.sparkfun.com/products/10252, diakses Maret, 2013 [6] http://www.cooking- hacks.com/documentation/tutorials/arduino- 3g-gprs-gsm-gps, diakses Februari, 2013